Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

Cybercrime
Cyber Porsttuton













Disusun oleh :
Fajar Sidiq (H1L012032)
Ekananda Pandhu Setyawan (H1L012039)
Waise Fajar Baruna (H1L012044)
Hanif Ahmadin Siregar (H1L012060)
Meiko Bayu Luxyana (H1L012064)




















Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Universitas Jenderal Soedirman
Fakultas Sains dan Teknik
Teknik Informatka
2013



BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Aktvitas berbasis teknologi internet, kini bukan lagi menjadi hal baru dalam
masyarakat informasi ( informaton society ). Internet bahkan telah digunakan oleh anak-
anak usia prasekolah, orang tua, kalangan pembisnis, instansi, karyawan hingga ibu
rumah tangga. Media komunikasi digital interaktf ini mampu menghubungkan
masyarakat informasi ( informaton society ) secara cepat, mudah dan tanpa mengenal
batas wilayah. Negara yang menguasai internet di era milenium dipastkan menjadi
negara yang maju jika internet dipergunakan secara bijak terutama dalam bidang riset,
pendidikan, administrasi, sosialisasi, networking dan bisnis. Para neter (pengguna
internet) dapat mengetahui secara cepat perkembangan riset teknologi di berbagai
belahan dunia. Dengan hanya berpanduan mesin pencari sepert Google, pengguna di
seluruh dunia mempunyai akses internet yang mudah atas bermacam-macam informasi.
Dibanding dengan buku dan perpustakaan, internet melambangkan penyebaran
(decentralizaton), pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrim.
Internet hanya sebuah alat yang bersifat netral, para pengguna internetlah yang
menjadi penentu sifat baik atau buruknya internet. Hal negatf yang merupakan efek
sampingannya antara lain adalah kejahatan di dunia cyber atau cybercrime. Cybercrime
adalah kejahatan di dunia maya (internet) atau juga bisa diartkan kejahatan di bidang
komputer diartkan sebagai penggunaan komputer secara ilegal.
Fenomena cybercrime memang harus diwaspadai karena kejahatan ini agak berbeda
dengan kejahatan lain pada umumnya. Cybercrime dapat dilakukan tanpa mengenal batas
teritorial dan tdak diperlukan interaksi langsung antara pelaku dengan korban kejahatan.
Bisa dipastkan dengan sifat global internet, semua negara yang melakukan
kegiatan internet hampir past akan terkena imbas perkembangan cyber crime ini.
Salah satu jenis dari cybercrime adalah cyber prosttuton. Kejahatan cyber prosttusi
di Indonesia pertama kali terungkap pada bulan Mei 2003 dimana pada waktu itu Satuan
Reskrimsus cybercrime Polda Metro Jaya berhasil menangkap mucikari cyber. Pelakunya
adalah sepasang suami istri, Ramdoni alias Rino dan Yant Sari alias Bela. Cyber prosttusi



ini adalah modus baru yakni dengan menawarkan wanita melalui sebuah alamat web.
Pemilik web ini memajang foto-foto wanita tersebut dengan busana minim yang siap
melayani customer. Para peminat hanya cukup menghubungi Nomor HP para mucikari
tersebut yang ditampilkan di halaman web, kemudian mucikari inilah yang mengantarkan
pesanan ke kamar hotel atau ke apartemen sesuai dengan keinginan pelanggan.
Setelah diundangkannya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik yang menjadi payung hukum dari penanggulangan cyber
prosttusi, aparat kepolisian semakin leluasa dalam menjaring praktek prosttusi yang
dilakukan via internet ini. Pada November 2008, Polda Metro Jaya berhasil mengungkap
bisnis prosttusi. Polisi berhasil mengamankan seorang mucikari Albert Timotus dan
menahan tga wanita penghibur yang kemudian berstatus sebagai saksi. Polisi pun terus
melakukan penyelidikan kasus serupa yang diduga banyak beredar di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah penegakan hukum terhadap cyber prostitusi?
2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penegakan hukum terhadap cyber
prostitusi?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan umum dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
permasalahan hukum dan isu-isu aktual mengenai cyber prostitusi, menelusuri
faktor-faktor penyebab hingga mencari solusi atas masalah tersebut.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah:
a. Untuk menganalisis penegakan hukum terhadap cyber prostitusi.
b. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum
terhadap cyber prostitusi.




BAB II
Tinjauan Pustaka

A. Pengertan Cybercrime
Cybercrime atau kejahatan dunia maya merupakan istlah yang menunjukan
aktvitas kejahatan yang dilakukan dengan perantara komputer atau jaringan komputer
dan memanfaatkan perkembangan teknologi komputer khususnya internet. Contoh
yang Termasuk ke dalam kejahatan dunia maya antara lain adalah penipuan lelang
secara online, pemalsuan cek, penipuan kartu kredit / carding, confdence fraud,
penipuan identtas, pornograf anak, dll. Namun istlah ini juga digunakan untuk
kegiatan kejahatan tradisional di mana komputer atau jaringan komputer digunakan
untuk mempermudah atau memungkinkan kejahatan itu terjadi. Contoh kejahatan
dunia maya di mana komputer sebagai alat adalah spamming dan kejahatan
terhadap hak cipta dan kekayaan intelektual. Contoh kejahatan dunia maya di mana
komputer sebagai sasarannya adalah akses ilegal (mengelabui kontrol akses),
malware dan serangan DoS. Contoh kejahatan dunia maya di mana komputer sebagai
tempatnya adalah penipuan identtas. Sedangkan contoh kejahatan tradisional dengan
komputer sebagai alatnya adalah pornograf anak dan judi online.
Jadi, Pengertan Cybercrime adalah Suatu perbuatan melawan hukum yang
dilakukan dengan memakai jaringan computer sebagai samara/ alat untuk computer
sebagai objek, baik untuk memperoleh keuntungan ataupun tdak, dan dengan
merugikan pihak lain.

B. Sejarah Singkat Cybercrime
Cybercrime dimulai dari kegiatan hacking yang telah ada lebih dari satu abad yang
lalu. Pada tahun 1870-an, beberapa remaja telah merusak sistem telepon baru negara
dengan merubah otoritas. Berikut akan ditunjukan seberapa sibuknya para hacker telah
ada selama 35 tahun terakhir. Awal 1960 Fasilitas universitas dengan kerangka utama
komputer yang besar, sepert laboratorium kepintaran buatan (artfcial intelligence)



MIT, menjadi tahap percobaan bagi para hacker. Pada awalnya, kata hacker berart
positf untuk seorang yang menguasai komputer yang dapat membuat sebuah program
melebihi apa yang dirancang untuk melakukan tugasnya.
Pada tahun 1963, Kevin mitnick melakukan hacking pada komputer COSMOS
(Computer System Mainstrem Operaton) milik perusahaan telepon Pasifc Bell di Los
Angeles, yang merupakan sentral data base Amerika.
Pada tahun 1970 John Draper membuat sebuah panggilan telepon jarak jauh secara
grats dengan meniupkan nada yang tepat ke dalam telepon yang memberitahukan
kepada sistem telepon agar membuka saluran, nada tersebut berupa siulan. Dari
kegiatan hacking itu John Draper di juluki sebagai Captain Crunch, Beliau ditangkap
berkali-kali karena hal tersebut
Akhir 1980 Penipuan komputer dan tndakan penyalahgunaan memberi kekuatan
lebih bagi otoritas federal. Computer Emergency Response Team dibentuk oleh agen
pertahanan. Amerika Serikat bermarkas pada Carnegie Mellon University di Pitsburgh,
misinya untuk menginvestgasi perkembangan volume dari penyerangan pada jaringan
komputer.
Kembali lagi dengan si Hacker legendaris Kevin Mitnick, Pada tahun 1983 dia
dituduh membobol system keamanan Pentagon, Setelah menghilang beberapa tahun
Kevin tuduh telah menyusup diperusahaan Santa Cruz Organizaton, perusahaan
sofware yang bergerak di sistem operasi unix. Pada akhirnya Kevin menjalanin hidup
normal dengan bekerja di mailing list di Las Vegas. Namun FBI kembali mencurigai Kevin
karena mengacak acak system computer Tel Te Detectve, yang merupakan perusahaan
tempat mitnick bekerja. Dan akhirnya membuat The Condor kembali menjadi The Most
Wanted Hacker atau buronan nomor 1 FBI.
Pada Oktober 2008 muncul suatu virus baru yang bernama Confcker (juga disebut
Downup, Downandup dan Kido) yang terkategori sebagai virus jenis worm. Confcker
menyerang Windows dan paling banyak ditemui dalam Windows XP. Microsof merilis
patch untuk menghentkan worm ini pada tanggal 15 Oktober 2008. Heinz Heise
memperkirakan Confcker telah menginfeksi 2.5 juta PC pada 15 Januari 2009,



sementara The Guardian memperkirakan 3.5 juta PC terinfeksi. Pada 16 Januari 2009,
worm ini telah menginfeksi hampir 9 juta PC, menjadikannya salah satu infeksi yang
paling cepat menyebar dalam waktu singkat.

C. Penyebab Terjadinya Cybercrime
1. Akses internet yang tdak terbatas.
2. Kelalaian pengguna komputer. Hal ini merupakan salah satu penyebab utama
kejahatan komputer.
3. Mudah dilakukan dengan resiko keamanan yang kecil dan tidak diperlukan peralatan
yang super modern. Walaupun kejahatan komputer mudah untuk dilakukan tetapi
akan sangat sulit untuk melacaknya, sehingga ini mendorong para pelaku kejahatan
untuk terus melakukan hal ini.
4. Para pelaku merupakan orang yang pada umumnya cerdas, mempunyai rasa ingin
tahu yang besar, dan fanatik akan teknologi komputer. Pengetahuan pelaku
kejahatan komputer tentang cara kerja sebuah komputer jauh diatas operator
komputer.
5. Sistem keamanan jaringan yang lemah.
6. Kurangnya perhatian masyarakat. Masyarakat dan penegak hukum saat ini masih
memberi perhatian yang sangat besar terhadap kejahatan konvensional. Pada
kenyataannya para pelaku kejahatan komputer masih terus melakukan aksi
kejahatannya.

D. Jenis-Jenis Menurut Motf Operasi Cybercrime
1. Cybercrime sebagai tndak kejahatan murni adalah kejahatan yang pelakunya
melakukan kejahatan yang dilakukan secara di sengaja, dimana pelaku tersebut



secara sengaja dan terencana untuk melakukan pengrusakkan, pencurian,
tndakan anarkis, terhadap suatu system informasi atau system computer.

2. Cybercrime sebagai tndakan kejahatan abu-abu adalah kejahatan yang pelakunya
tdak jelas antara kejahatan criminal atau bukan karena dia melakukan pembobolan
tetapi tdak merusak, mencuri atau melakukan perbuatan anarkis terhadap system
informasi atau system computer tersebut.

3. Cybercrime yang menyerang individu adalah kejahatan yang dilakukan terhadap
orang lain dengan motf dendam atau iseng yang bertujuan untuk merusak nama
baik, mencoba ataupun mempermaikan seseorang untuk mendapatkan kepuasan
pribadi. Contoh : Pornograf, cyberstalking, dll.

4. Cybercrime yang menyerang hak cipta (Hak milik) adalah kejahatan yang dilakukan
terhadap hasil karya seseorang dengan motf menggandakan, memasarkan,
mengubah yang bertujuan untuk kepentngan pribadi/umum ataupun demi
materi/nonmateri.

5. Cybercrime yang menyerang pemerintah adalah kejahatan yang dilakukan dengan
pemerintah sebagai objek dengan motf melakukan teror, membajak ataupun
merusak keamanan suatu pemerintahan yang bertujuan untuk mengacaukan
sistem pemerintahan, atau menghancurkan suatu Negara.



E. Jenis-Jenis Menurut aktvitas Cybercrime
Kejahatan yang berhubungan erat dengan penggunaan teknologi yang berbasis
komputer dan jaringan telekomunikasi ini dikelompokkan dalam beberapa bentuk
sesuai modus operandi yang ada, antara lain:
1. Unauthorized Access to Computer System and Service



Kejahatan yang dilakukan dengan memasuki/menyusup ke dalam suatu sistem jaringan
komputer secara tdak sah, tanpa izin atau tanpa sepengetahuan dari pemilik sistem
jaringan komputer yang dimasukinya. Biasanya pelaku kejahatan (hacker) melakukannya
dengan maksud sabotase ataupun pencurian informasi pentng dan rahasia. Namun
begitu, ada juga yang melakukannya hanya karena merasa tertantang untuk mencoba
keahliannya menembus suatu sistem yang memiliki tngkat proteksi tnggi. Kejahatan ini
semakin marak dengan berkembangnya teknologi Internet/intranet.
2. Illegal Contents
Merupakan kejahatan dengan memasukkan data atau informasi ke Internet tentang
sesuatu hal yang tdak benar, tdak ets, dan dapat dianggap melanggar hukum atau
mengganggu ketertban umum. Sebagai contohnya, pemuatan suatu berita bohong atau
ftnah yang akan menghancurkan martabat atau harga diri pihak lain, hal-hal yang
berhubungan dengan pornograf atau pemuatan suatu informasi yang merupakan
rahasia negara, agitasi dan propaganda untuk melawan pemerintahan yang sah dan
sebagainya.
3. Data Forgery
Merupakan kejahatan dengan memalsukan data pada dokumen-dokumen pentng yang
tersimpan sebagai scripless document melalui Internet. Kejahatan ini biasanya ditujukan
pada dokumen-dokumen e-commerce dengan membuat seolah-olah terjadi "salah
ketk" yang pada akhirnya akan menguntungkan pelaku karena korban akan
memasukkan data pribadi dan nomor kartu kredit yang dapat saja disalah gunakan.
4. Cyber Espionage
Merupakan kejahatan yang memanfaatkan jaringan Internet untuk melakukan kegiatan
mata-mata terhadap pihak lain, dengan memasuki sistem jaringan komputer (computer
network system) pihak sasaran. Kejahatan ini biasanya ditujukan terhadap saingan bisnis
yang dokumen ataupun data pentngnya (database) tersimpan dalam suatu sistem yang
computerized (tersambung dalam jaringan komputer)
5. Cyber Sabotage and Extorton



Kejahatan ini dilakukan dengan membuat gangguan, perusakan atau penghancuran
terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer yang terhubung
dengan Internet. Biasanya kejahatan ini dilakukan dengan menyusupkan suatu logic
bomb, virus komputer ataupun suatu program tertentu, sehingga data, program
komputer atau sistem jaringan komputer tdak dapat digunakan, tdak berjalan
sebagaimana mestnya, atau berjalan sebagaimana yang dikehendaki oleh pelaku.
6. Ofense against Intellectual Property
Kejahatan ini ditujukan terhadap hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki pihak lain di
Internet. Sebagai contoh, peniruan tampilan pada web page suatu situs milik orang lain
secara ilegal, penyiaran suatu informasi di Internet yang ternyata merupakan rahasia
dagang orang lain, dan sebagainya.
7. Infringements of Privacy
Kejahatan ini biasanya ditujukan terhadap keterangan pribadi seseorang yang tersimpan
pada formulir data pribadi yang tersimpan secara computerized, yang apabila diketahui
oleh orang lain maka dapat merugikan korban secara materil maupun immateril, sepert
nomor kartu kredit, nomor PIN ATM, cacat atau penyakit tersembunyi dan sebagainya.














BAB III
Pembahasan


A. Pengertan Cyber Prosttuton

Cyber prosttuton merupakan bagian dari cyber crime yang menjadi sisi gelap
dari aktvitas di dunia maya. Tindak pidana atau kejahatan mayantara adalah sisi
buruk yang amat berpengaruh terhadap kehidupan modern dari masyarakat
informasi akibat kemajuan teknologi informasi yang tanpa batas. Barda Nawawi
Arief bahkan dengan tegas menggolongkannya sebagai cyber crime di bidang
kesusilaan atau secara sederhana diistlahkan dengan cyber sex. Lebih lanjut beliau
dengan mengutp pendapat dari Peter Davif Goldberg mengatakan bahwa cyber
sex adalah penggunaan internet untuk tujuan-tujuan seksual (the use of the internet
for sexual purposes). Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh David Greenfied
yang mengatakan bahwa cyber sex adalah menggunakan komputer untuk setap
bentuk ekspresi atau kepuasan seksual (using the computer for any form of sexual
expression or gratfcaton).
Cyber prosttuton berasal dari dua kata yang masing-masing dapat berdiri
sendiri yakni prosttusi dan cyber. Prosttusi berasal dari Bahasa Inggris
yaitu prosttuton. Frank E. Hagan dalam Introducton Criminology Theories,
Method and Criminal Behavior menyatakan bahwa:
Prosttuton can be defned as the practce of having sexual relatons with
emotonal indiference on a promiscuous and mercenary basis. In some countries
and most U.S. states, prosttuton itself is not a criminal ofense; it is the act of
solicitng, selling, or seeking paying customers which is prohibited. Altough



sometmes referred to in jest as the worlds oldest profession, prosttuton certainly
has been widespread in societes, both ancient and modern.
(Prosttusi dapat didefnisikan sebagai praktek melakukan hubungan seksual
dengan ketdakpedulian emosional yang labil dan didasarkan pada pembayaran. Di
beberapa negara dan sebagian besar negara bagian di AS, prosttusi itu sendiri
bukan merupakan tndak pidana; itu adalah tndakan meminta, menjual, atau
mencari pelanggan membayar yang dilarang. Meskipun kadang-kadang disebut
sebagai profesi tertua di dunia namun prosttusi telah meluas di masyarakat, baik
kuno dan modern.)
Prosttusi menurut James A. Inciardi sebagaimana dikutp oleh Topo
Santoso merupakan The ofering of sexual relatons for monetary or other gain
(penawaran hubungan seksual untuk memperoleh uang atau keuntungan lainnya).
Dalam prosttusi terlibat tga komponen pentng yakni pelacur (prosttute), mucikari
atau germo (pimp) dan pelanggannya (client) yang dapat dilakukan secara
kovensional maupun melalui dunia maya.

Mengenai kejahatan ini, Herbert L. Packer mengatakan:
The ofense of prosttuton bears the same relaton to the sin of fornicaton
that the ofense of commercially disseminatng obscene material bears to the sin
of obscenity. Both represent an atempt to secularize an essentally moralistc
judgment about human conduct by fxing upon its commercial aspect as the harm
to be eliminated.

(Kejahatan prosttusi bertalian sama dengan dosa dari percabulan dimana
tndak pidana komersial ini telah menyebarluaskan bahan cabul dengan dosa dari
kecabulan. Keduanya merupakan sebuah upaya untuk menyekulerkan penilaian
moralistk esensial tentang perilaku manusia dengan perbaikan pada aspek
komersial sebagai membahayakan untuk dihilangkan.)



Sedangkan cyber prosttuton atau prosttusi dunia maya adalah kejahatan
prosttusi yang menggunakan media internet atau kejahatan prosttusi yang terjadi
di dunia maya (cyber space).


B. Upaya Penanggulangan Cyber Prosttusi Melalui Online Internet

Anak-anak dan remaja merupakan target yang paling mudah dimanfaatkan
oleh perusahaan yang melakukan bisnis secara online untuk mengorek informasi
pribadinya, karena sebagian besar anak-anak menggunakan internet untuk mencari
informasinya. Secara tdak sadar informasi pribadi mereka telah berhasil diperoleh
oleh pihak industri baik secara aktf maupun pasif oleh perusahaan-perusahaan
tersebut. Selain aktvitas anak-anak dalam internet seringkali dimanfaatkan oleh
orang-orang yang tdak bertanggungjawab sepert kejahatan phedofli baik melalui
aktvitas chatng sehingga kejahatan kaum pedofli dimulai dari hubungan secara
online. Sehingga perlu upaya guna meminimalisasi perkembangan cyberporn
melalui internet.

Upaya penanggulangan ditnjau dari budaya hukumnya dengan cara
pencegahan tndak cyberporn melalui pendekatan social antara lain:

1. Sekolah
Kurikulum penggunaan internet yang efektf pun semestnya dapat
dijadikan standar pengajaran. Pendidikan Internet di sekolah yang meliput
penggunaan internet yang efektf, terutama dalam bidang-bidang
pengembangan ilmu pengetahuan. Sebaiknya dibuat kurikulum mata pelajaran
yang menekankan pada Pendidikan moral kognitf yang konkret. Remaja
membutuhkan pendidikan moral kognitf yang secara tdak langsung
menekankan agar remaja mengambil nilai-nilai selama penalaran moral mereka
terbentuk. Tujuan dari program pembelajaran ini adalah agar anak-anak
memiliki kewaspadaan dini terhadap internet.




2. Keluarga
Pengawasan yang berlebihan tampaknya bukan jawaban yang tepat karena
itu malah membuat anak menjadi semakin memberontak. Sesuai dengan kondisi
umum mental remaja yang tdak suka dikekang, maka ia akan bertndak
berlawanan dengan kehendak orang tuanya. Hal itu dilakukan agar ia dapat
merasa menjadi dirinya tanpa dipengaruhi orang lain.
Orang tua adalah signifcant other yang paling dekat dengan anak.
Sayangnya dalam pergelutan kehidupan modern, perlahan-lahan posisi itu
tergantkan oleh pembantu, baby siter ataupun teman. Namun, tdak ada yang
lebih berhak mengarahkan perilaku anak selain orang tuanya sendiri. Orang tua
bertanggung jawab untuk membenarkan tndakan yang salah. Oleh karena itu
orang tua seyogyanya bertndak sebagai Pemberi contoh. Orang tua bertanggung
jawab untuk memberitahu anak mengenai perilaku yang diharapkan dari dirinya.
Regulator yang membatasi perilaku anak-anak sesuai dengan norma agama dan
sosial.


C. Upaya Pemerintah dalam Penegakan Hukum Terhadap Cyber Prosttuton

Meskipun pengaturan mengenai larangan cyber prosttuton telah dirumuskan
dengan jelas dalam hukum positf Indonesia yakni dalam UU No. 11 Tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, namun penegakan hukum dalam
kasus cyber prosttuton ini sangat sulit dilakukan. Hal ini disebabkan karena sulitnya
menentukan yurisdiksi dari cyber prosttuton. Berkat kemajuan informasi
para neter dapat bertransaksi prosttusi secaraonline yang melintasi batas lintas
negara (borderless). Karakteristk lintas batas negara ini menjadikan cyber
prosttuton berada dalam anatomi kejahatan transnasional. Cyber
prosttuton sebagai kejahatan transnasional tentu membutuhkan optmalisasi
penegakan hukum di setap negara di dunia.



Dalam kerangka penegakan hukum, yuridiksi menjadi suatu hal yang berlaku
secara fakultatf sehingga penegakannya tergantung dari kebijakan masing-masing
negara. Hal ini disebabkan karena ketentuan-ketentuan dalam hukum internasional
(termasuk mengenai yurisdiksi) oleh sebagian pakar hukum masih dipandang sebagai
sekadar kaidah moral saja. Apabila setap negara masih mengakui yurisdiksi teritorial
hukum pidana nasional suatu negara, maka setap penanggulangan kejahatan-
kejahatan yang bersifat transnasional atau internasional dengan sendirinya hampir
tdak dapat dilaksanakan tanpa bantuan atau kerjasama antara negara satu dengan
lainnya, sepert kerja sama bilateral atau multlateral. Sehingga penegakan hukum
terhadap cyber prosttuton sangat bergantung pada kerjasama internasional
disamping aparat penegak hukum yang handal dan budaya hukum masyarakat.
Misalnya saja sudah selayaknya Indonesia membuat sebuah kerjasama internasional
dengan Negara Thailand mengenai kejahatan prosttusi lewat dunia maya ini. Hal ini
disebabkan karena banyaknya kasus cyber prosttuton yang melibatkan kedua
Negara ini.
Mengingat bahwa cyber crime utamanya cyber prosttuton tdak mengenal
batas-batas negara maka dalam upaya penanggulangannya memerlukan suatu
koordinasi dan kerjasama antarnegara. Cyber crime memperlihatkan salah satu
kondisi yang kompleks dan pentng untuk diadakannya suatu kerjasama
internasional. Secara hukum hal tersebut telah mengalami kemajuan sebab di
Budapest, Hongaria, 30 negara telah sepakat untuk menandatangani Conventon on
Cybercrime, yang merupakan kerjasama internasional untuk penanggulangan
penyebaran aktvitas kriminal melalui internet dan jaringan komputer lainnya.
Selain itu menyadari adanya kekhawatran akan ancaman dan bahaya dari cyber
crime, PBB telah mengadakan kongres mengenai The Preventon of Crime and the
Treatment of Ofenders, melalui Kongres VIII/1990 di Havana dan Kongres X/2000 di
Wina. Sementara itu, pada tanggal 23 November 2001, negara-negara yang
tergabung dalam Dewan Eropa(Council of Europe) telah menghasilkan
konvensi cybercrime (Council of Europe Cyber Crime Conventon) yang ditandatangani
di Budapest (Hongaria) oleh berbagai negara, termasuk Kanada, Jepang, Amerika,
dan Afrika Selatan. Berbagai hasil kongres dan konvensi internasional tersebut telah



memperlihatkan bahwa salah satu bentuk cyber crime yang sangat meresahkan
sekaligus mendapatkan perhatan dari berbagai kalangan adalah cyber crime di
bidang kesusilaan.
Meski demikian efektvitas dan efsiensi pelaksanaannya masih perlu dicari
format yang tepat, karena sepert kasus-kasus sebelumnya banyak konvensi
internasional yang terbentur dalam pelaksanaannya. Salah satu unsur yang akan
menjadi tantangan dalam menerapkan suatu konvensi adalah perbedaan persepsi
terhadap masalah yang bermuara dari perbedaan kepentngan dan pengalaman.
Walaupun nampaknya belum ada suatu bentuk kerjasama internasional yang
benar-benar efektf menghilangkan perilaku kejahatan dalam dunia maya, tetapi
konfrensi di Budapest telah menjadi landasan pentng bagi adanya kerjasama
lanjutan berkaitan dengan cyber crime. Kemudian ketka masalah praktk kejahatan
dalam dunia maya telah menjadi isu politk, maka peluang ke arah kerjasama yang
melibatkan negara-negara menjadi lebih terbuka.
Penegakan hukum terhadap kejahatan transnasional jelas akan bersinggungan
dengan masalah yurisdiksi di ruang maya. Dalam prinsipnya yurisdiksi tradisional
dikenal 3 katagori yaitu :
1. Yurisdiksi Legislatf.(jurisdicton to precribe)
2. Yurisdiksi Yudisial.(jurisdicton to adjudicate)
3. Yurisdiksi Eksekutf.(jurisdicton to enforce)
Dari ketga jenis yurisdiksi tradisional tersebut, Barda Nawawi Arief menyatakan
bahwa problem yurisdiksi yang lebih menonjol dalam cyber crime adalah pada
yurisdiksi yudisial dan yurisdiksi eksekutf daripada yurisdiksi legilatf atau formulatf.
Karena yurisdiksi yudisial dan yurisdiksi eksekutf sangat terkait dengan kedaulatan
wilayah dan kedaulatan hukum masing-masing negara. Oleh karena hal tersebut
maka harmonisasi, kesepakatan, dan kerjasama antar negara mengenai masalah
yurisdiksi ini menjadi sangat pentng dalam hal penegakan hukum cyber prosttuton.




BAB IV
Penutup

A. Simpulan

Berdasarkan analisis yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Penegakan hukum terhadap cyber prostitusi dalam anatomi kejahatan
transnasional dilakukan karena kejahatan ini memiliki karakteristik lintas batas
negara dan diakui oleh hukum internasional sebagai transnational organized
crime. Pertanggungjawaban pidana dan pemidanaan terhadap pelaku cyber
prostitusi (mucikari online) dapat dijatuhkan baik dalam kapasitasnya sebagai
orang-perorangan maupun sebagai korporasi dengan pidana penjara dan/ atau
denda. Penegakan hukum terhadap cyber prostitusi dalam anatomi kejahatan
transnasional ini baru dapat dilakukan jika antara negara yang satu dengan
negara yang lain terdapat perjanjian internasional baik yang bersifat bilateral,
regional maupun multilateral. Sehingga penegakan hukumnya sangat tergantung
pada ada atau tidaknya perjanjian internasional dan kemauan negara untuk
bekerjasama dalam penegakan hukum. Hal ini menjadi kelemahan dalam
penegakan hukum terhadap cyber prostitusi.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum terhadap prostitusi cyber
meliputi faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor sarana dan fasilitas dalam
penegakan hukum, faktor masyarakat dan faktor kebudayaan. Dari kelima faktor
tersebut, maka faktor yang paling berpengaruh pada lemahnya penegakan
hukum terhadap prostitusi cyber dalam anatomi kejahatan transnasional adalah
faktor penegak hukum. Hal ini disebabkan karena tidak semua penegak hukum
(penyidik) memiliki latar belakang pendidikan hukum, kurangnya mekanisme
kontrol dari komponen peradilan pidana dalam setiap proses pemeriksaan
perkara, penegak hukum yang kurang menunjukkan keteladanan, tidak adanya



unit cyber dalam institusi penegak hukum, penguasaan teknologi yang masih
kurang, kerjasama penegak hukum antar negara yang belum efektif, kendala
dalam penguasaan bahasa asing dan bahasa hukum oleh penegak hukum yang
menyulitkan komunikasi dalam penegakan hukum, serta rendahnya komitmen
para penegak hukum di masing-masing negara untuk bekerjasama dalam
menanggulangi prostitusi cyber.



B. Saran

Berdasarkan simpulan di atas, maka dapat disarankan sebagai berikut:
1. Komitmen moral merupakan hal yang penting dalam penegakan hukum terhadap
kejahatan transnasional, sebab tanpa bantuan dari negara lain, penegakan
hukum tidak mungkin dilakukan. Format pidana penjara yang dijatuhkan kepada
mucikari online perlu diarahkan pada upaya resosialisasi dan edukasi agar
kejahatan ini tidak terulang kembali. Penjatuhan pidana pengganti bagi korporasi
yang tidak dapat membayar denda perlu diatur. Dalam kerangka penegakan
hukum terhadap prostitusi cyber ini, diperlukan adanya perjanjian internasional
yang berlaku efektif, kerjasama antara penegak hukum serta peningkatan
kualitas dan kuantitas sarana dan prasana dalam penegakan hukum. Disamping
itu, diperlukan sinergi antara kesadaran hukum dan kesadaran moral dari
masyarakat dalam penegakan hukum terhadap prostitusi cyber sehingga para
netter selalu berpegang pada hukum, cyber ethics, nilai-nilai, moral dan agama
yang mereka anut.

2. Mengingat faktor yang paling mempengaruhi lemahnya penegakan hukum
terhadap prostitusi cyber dalam anatomi kejahatan transnasional adalah faktor
penegak hukum maka diperlukan peningkatan kualitas sumber daya penegak
hukum baik dalam penguasaan terhadap hukum, penggunaan bahasa asing dan
bahasa hukum maupun penguasaan terhadap sarana dan fasilitas dalam



penegakan hukum. Pola perilaku dari penegak hukum juga perlu diperbaiki agar
senantiasa menjadi teladan bagi masyakat. Selain itu juga diperlukan
penambahan jumlah unit cyber pada institusi penegak hukum. Untuk mengatasi
kesulitan dalam memformulasikan bahasa hukum yang tepat terhadap prostitusi
cyber, maka penegak hukum yang berkepentingan diharapkan dapat merinci
dengan jelas tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku sehingga penegak hukum
di negara lain dapat memahami maksud serta mengetahui tindakan apa yang
seharusnya dilakukan dalam penegakan hukum terhadap kejahatan transnasional
tersebut.



























Daftar Pustaka
1. http://albatrozz.wordpress.com/2012/03/07/upaya-penanggulangan-prostitusi-
online-internet-berdasarkan-undang-undang-nomor-11-tahun-2008-tentang-
informasi-dan-transaksi-elektronik/
2. http://andinuzul.wordpress.com/
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Internet