Anda di halaman 1dari 20

TUMOR KULIT YANG BERASAL DARI

MELANOCYTES SYSTEM


dr. Imam Budi Putra, SpKK










DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP H. ADAM MALIK
M E D A N

Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
TUMOR KULIT YANG BERASAL DARI
MELANOCYTES SYSTEM

Pendahuluan
Melanosit adalah sel berdendrit yang terdapat di epidermis dan dermis. Pada
semua spesies mamalia melanosit kebanyakan terdapat didermis dan tersebar
diberbagai tempat diseluruh badan. Melanosit yang memegang peran utama pada
pembentukan melanin. Melanosit mudah dikenal karena tidak mempunyai tonofibril
dan desmosom, tetapi mempunyai dendrit terutama yang terletak di epidermis.
Dendrit berfungsi memindahkan melanin ke keratinosit yang dibawa oleh
melanosom. Melanosit dianggap sebagai kelenjar bersel satu yang produknya
(melanin) dipindahkan ke sel / jaringan sekitarnya.
1,2
Melanosit dermal tidak mempunyai nilai biologis yangberarti untuk manusia,
kecuali dalam hal-hal tertentu, misalnya ada bercak mongoloid didaerah sakral yang
terdapat pada waktu lahir. Melanosit dermal juga terdapat pada keganasan (tumor)
dan dalam keadaan tertentu dapat berubah dengan cepat.
2
Pigmen dermal memberi warna kulit biru tua yang umumnya tidak disenangi.
Bila pigmen dermal tersebut adalah melanin, umumnya terdapat sebagai nevus atau
melanoma. Pada orang-orang dengan kelainan endokrin atau neoplasma, sering
terdapat melanosis yang berat di epidermis dan dermis. Hal itu mungkin disebabkan
oleh prekursor melanin yang tinggi dalam sirkulasi darah atau melanin terbentuk oleh
metastasis melanosit yang tersebar.
1,2
Hiperpigmentasi dapat suatu tanda dari tumor jinak atau ganas. Tumor jinak
(nevo celluler nevi) disebabkan oleh proliferasi sel nevus dalam kulit. Tumor ganas
(melanoma) disebabkan oleh transformasi maligna dari melanosit atau sel nevus.
1,2


Klasifikasi
Tumor yang berasal dari melanocytes system terbagi atas:
3,4

I. Tumor Benigna
1. Dari sel nevus
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
- Nevus pigmentosus.
- Congenital melanocytic nevi.
- Halo nevus.
- Nevus spilus.
- Spindle cell nevus (spitz nevus).
- Labial melanotic macules.
- Displasticn evi.
2. Dari sel melanosit
- Becker's nevus.
- Freckles.
- Lentigines.
- Lentiginous syndrome.
- Caf au lait syndrome.
- Mc cune - Albright syndrome.
- Mongolian spots.
- Nevus of Ota.
- Nevus of Ito.
- Blue nevi.
II. Tumor Maligna
- Melanoma Maligna

TUMOR BENIGNA DARI SEL NEVUS
Nevus Pigmentosus (Common Moles, Nevocelluler Nevi, Moles Pigmentosus)
Nevus pigmentosus adalah tumor jinak melanosit yang tersusun dari sel-sel
nevus, yang berpotensi berkembang menjadi Melanoma Maligna. Degenerasi maligna
nevus pigmentosus terjadi pada pasien diatas 35 tahun harus dipikirkan kemungkinan
melanoma. Transformasi maligna ditandai dengan adanya pembesaran, khususnya
bila asimetris, perubahan warna, perubahan permukaan, terjadi penebalan, adanya
nyeri, tanda-tandain flamasi atau timbulnya pigmentasi satelit.
3,4,5

Nevus pigmentosus berdasarkan t mpatnya dibagi menjadi :
3,4,5,6

Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
1. J unction Nevi
Secara umum tidak berambut makulanya terang sampai coklat kehitaman, ukuran
bervariasi dari 1 mm ke 1 cm (diameter), permukaan halus dan rata. Lesi bisa
berbentuk bulat, elips, ada yang berbentuk kecil, irregular. Lokasi sering di
telapak tangan, telapak kaki dan genitalia.
J unction nevi jarang setelah lahir dan biasanya berkembang setelah berumur 2
tahun. Pembentukan aktif sel nevusnya hanya pada pertemuan epidermis dermis.
2. Compound Nevi
Hampir sama dengan junctional nevi tetapi sedikit menonjol dan ada yang
berbentuk papillomatous. Warnanya seperti warna kulit sampai ke warna coklat.
Permukaan halus, lokasi banyak di wajah dan biasanya ditumbuhi rambut. Sel
nevusnya berada pada epidermis dan dermis.
3. Intradermal Nevi
Bentuk papel (kubah), ukuran bervariasi dari beberapa mm hingga 1 cm atau lebih
(diameter). Lokasi dimana-mana tetapi paling banyak di kepala, leher dan
biasanya ditumbuhi rambut kasar, berwarna coklat kehitaman. Sel nevusnya
berada pada dermis.
Penatalaksanaan nevus pigmentosus biasanya sehubungan dengan segi kosmetik,
ataupun adanya kemungkinan nevus berubah menjadi suatu keganasan. Kebanyakan
lesi melanositik tidak membutuhkan terapi khusus. Pengangkatan nevus melalui
tehnik biopsi eksisi ataupun shave eksisi electro desiccation atau ekstirpasi ellips
komplit (tergantung pada ukuran, bentuk dan lokasi lesi).

Congenital Melanocytic Nevi
Suatu nevus kongenital yang sudah ada sejak lahir, yang bervariasi
ukurannya, bisa berambut dan didominasi oleh warna hitam dan coklat. Biasanya
rata, pada waktu lahir, tetapi dapat menebal pada masa anak-anak.3,4,5
Penatalaksanan khusus dilakukan pada orang-orang dengan nevus congenital yang
besar yang mempunyai kecenderungan untuk menjadi melanoma dan harus diterapi
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
dengan bedah plastik. J ika tidak diangkat dengan terapi bedah, harus dilakukan
evaluasi secara berkala.
3,4,5


Halo Nevi (Sutton's Nevus, Leukoderma Acquisitum Centrifugum)
Suatu nevus yang berkembang membentuk batas putih, biasanya simetris,
bulat, dengan batas tegas (daerah halo). Tidak dijumpai sel melanosit pada daerah
halo tersebut. Secara histologis, tanda-tanda inflamasi kronis sering dijumpai,
biasanya terdapat di leher, dan tidak pernah di telapak tangan dan telapak kaki.
3,4

Halo nevi timbul spontan, terutama pada usia remaja. Kelainan halo dapat
hilang sendiri sehingga tidak diperlukan terapi eksisi. Berdasarkan hipotesis 30 %
pasien dengan halo nevi cenderung untuk menjadi vitiligo.
3,4,5,6


Nevus Spilus (Speckled Lentiginous Nevus)
Berbentuk oval, melingkar, irreguler, berwarna coklat dan berbintik-bintik
kehitaman. Biasanya tidak berambut. Area yang berwarna coklat biasanya datar,
sedangkan bintik-bintik hitam sedikit menonjol dan terdiri dari sel nevus tipikal.
Ukurannya bervariasi antara 1 sampai 20 cm dan biasa terdapat pada semua
umur. Lokasi lesi ; wajah, punggung, ekstremitas, tidak berhubungan dengan daerah
pada tubuh yang terpapar dengan sinar matahari.
Penatalaksanaan sehubungan dengan kosmetik adalah dengan bedah
eksisi.
3,4,5,6


Spinale Cell Nevus (Spitz Nevus, Benigna Juvenile Melanoma)
Lesi berupa papul atau nodul dengan permukaan yang halus atau kasar,
berukuran 0,3 - 1,5 cm, tidak berambut, berwarna merah atau coklat kemerahan yang
disebabkan oleh vaskularisasi dan perdarahan setelah trauma. Biasanya soliter tapi
dapat juga multiple.
3,4
Penatalaksanaan dilakukan eksisi komplet (full excision) dan dilakukan
pemeriksaan histopatologi.
3,4,5


Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Labial Melanocytic Macules
Biasanya berwarna coklat dan terdapat pada bibir bawah, terutama pada gadis
remaja. Secara histologis menyerupai bintik-bintik, bukan lentigo, dan tidak semakin
gelap pada pemaparan dengan sinar matahari. Penatalaksanaan dengan cryotherapi,
infra red coagulator, laser therapy, memberikan hasil yang efektif.
4

Displactic Nevi, Atypical Moles Syndrome (AMS)
Distribusi nevus ini biasanya pada lengan dan tungkai, daerah tubuh yang tak
terpapar sinar matahari, payudara, kulit kepala, dan pantat. J umlahnya antara l0 tetapi
dapat mencapai lebih dari 100 buah. Biasanya timbul pada usia antara 2 sampai 6
tahun, insidensinya meninggi pada usia pubertas, dan selanjutnya dapat timbul nevus
baru sepanjang hidunya.Ukuran biasanya 5 mm, tetapi dapat juga lebih dari 10 mm.
Lesi berbentuk macula ireguler berwarna hitam, coklat, merah ataupun pink.
3,4,5

Penatalaksanaan untuk nevus ini, sesuai dengan rekomendasi Nasional
Institutes of Health Consensus Development Conference 1983, adalah :
4

1. Evaluasi total permukaan AMS setiap 3 sampai 12 bulan sejak pubertas.
2. Gunakan hair blower untuk memeriksa kepala.
3. Pertimbangkan seluruh dasar gambaran kulit.
4. Eksisi lesi yang dianggap sebagai melanoma.
5. Pelatihan pasien untuk mampu mengenal kelainan pada kulitnya sendiri.
6. Memakai tabir surya.
7. Menganjurkan pemeriksaan oftalmologi secara berkala (pada kasus nevus okular
dan melanoma okular).
8. Menganjurkan pemeriksaan darah untuk skrining Atlpical Mole dan Malignant
Melanoma.

TUMOR BENIGNA DARI SEL MELANOSIT
Becker's Nevus
Biasaya ruam berupa irreguler yang berwarna coklat dan berambut, timbul
pada bahu orang dewasa, punggung, dan area sub mammae. Ukurannya bervariasi
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
dan dapat menutupi seluruh bahu dan lengan atas, berbatas tidak tegas dan tidak
pernah berubah kearah keganasan.
3,,7

Penatalaksanaan lakukan murni untuk tujuan kosmetik yaitu dengan laser
atau eksisi dengan split thickness skin grafts. Hanya sebagian memberikan hasil yang
baik. Becker's nevus biasanya terlalu besar untuk dieksisi, dan membiarkannya adalah
pilihan yang terbaik. Yang dilakukan hanyalah memotong rambut di lesi secara
berkala.
3,4,7


Freckles (ephelides)
Lesi berupa makula merah atau coklat muda berbatas tegas, diameter (5 mm)
mengenai daerah kulit yang terpapar sinar matahari, dimulai pada masa anak-anak
dan cenderung memudar setelah dewasa. Umumnya pada umur 2 - 4 tahun, tidak
dijumpai pada bayi. Diduga diturunkan secar autosomal dominant.
3,4,7
Pada pemeriksaan histopaatologi tidak dijumpai peningkatan jumlah
melanosit tetapi banyak ditemukan melanosom. Penatalaksanaan dengan menghindari
pajanan sinar matahari atau dengan memakai covering make up.
Dengan pengelupasan memakai Trichloroacetic acid 50% atau cryotherapi
CO
2
atau liquid Nitrogen dengan pemutih (Benoquin atau Ecoquin) sebagian
memberikan hasil yang efektif. Hati-hati kemungkinan terjadi kontak dermatitis atau
hipo pigmentasi permanen (leukoderma).
3,4,5,6,7


Lentigenis
Kelainan kulit berupa makula berwarna coklat sampai coklat tua, bulat atau
oval, ukuran kurang dari 5 mm. Dapat ditemukan pada seluruh permukaan kulit
termasuk telapak tangan, telapak kaki dan membrana mukosa. Disebabkan karena
bertambahnya jumlah melanosit pada taut dermo epidermal tanpa adanya proliferasi
lokal. Penatalaksanaan untuk kepentingan kosmetik dengan eksisi, shaving,
cryosurgeryl, aser atau electrodesiccatnio.
3,4,5,6,7



Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Lentiginous Syndrome
- Lentiginosis Generalisata
Lesi lentigo umumnya multipel, timbul satu demi satu atau dalam kelompok
kecil, sejak masa kanak-kanak. Dibagi menjadi :
Lentiginosis eruptif ; timbul sangat banyak dan dalam waktu singkat. Lesi mula
berupa telengiektasis yang dengan cepat mengalami pigmentasi dan lambat laun
berubah jadi melanositik selular.
3,4,5,7

Sindrom lentiginosis multipel ; merupakan sindroma lentiginosis yang
dihubungkan dengan berbagai kelainan perkembangan. Autosomal dominan,
timbul pada waktu lahir dan bertambah sampai masa pubertas. Pada daerah leher,
badan bagian atas, dapat diseluruh tubuh.
Sering disertai kelainan jantung, stenosis pembuluh nadi paru atau sub aorta.
Pertumbuhan badan akan terhambat. Adanya kelainan mata berupa hipertelorisme
okular dan kelainan tulang prognatisme mandibular. Kelainan yang menetap
adalah tuli dan kelainan genital yaitu hipoplasia gonad dan hipospadia. Sindroma
tersebut dikenal sebagai Sindrom Leopard yaitu
3,4,5,7

L entigenes
E CG abnormalities
O cular hypertelorism
P ulmonary stenosis
A bnormality of the genitalia
R etardation of growth
D eafness
Lenti ginosis Sentrofasial
Lesi biasanya makula kecil berwarna coklat atau hitam, timbul pada waktu tahun
pertama kehidupan dan bertambah jumlahnya pada umur 8 10 tahun. Diturunkan
secara autosomal dominan. Distribusi terbatas pada garis horisontal melalui
sentral muka tanpa mengenai membrane mukosa. Tanda-tanda efek lain adalah
retardasi mental dan epilepsi, arkus palatum yang tinggi, bersatunya alis, gigi seri
atas tidak ada, hipertrikosis sakral, spina bifida dan skoliosis.
3,4

Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Syndroma Peutz J eghers (Lentiginosis periorificial)
Lesi berupa makula hiperpigmentasi yang timbul sejak lahir dan berkembang
pada masa anak-anak. Selalu mengenai selaput lendir mulut, bulat, oval atau tidak
teratur, berwarna coklat kehitaman, berukuran 1 - 5 mm. Letaknya pada mukosa
bukal, gusi, palatum durum dan bibir. Pigmentasi mukosa adalah khas untuk
sindroma Peutz- J eghers.Gejala lain ; adanya polip diusus, penderita biasanya
mengalami melena. Polip dapat menjadi ganas dan kematian disebabkan oleh
adanya metastassi dari karsinoma tersebut.
3,4,7

Cafe'au Lait Spots
Lesi berupa makula berwarna coklat muda, bulat, oval, pinggir tidak teratur ;
multipel. Diameter terkecil +1,5 cm dan terbesar 15 - 20 cm. Dapat timbul setelah
lahir dan berkembang setelah itu. Meskipun banyak individu dengan cafe'au lait spots
adalah normal, tapi makula ini dapat merupakan tanda dari neurofibromatosis dan
penyakit neurocutaneuous yang lain. Cafe'au lait spots banyak ditemukan pada
penderita tuberosklerosis, polyostatic fibrous displasia (Albright's symdrom).
3,4,5,7

Secara histologi ditemukan peningkatan jumlah melanosit. Tidak ada
kecenderungan menjadi ganas. Penatalaksanaan tidak terlalu penting, bahan
depigmentasi tidak bermanfaat dan bedah eksisi juga tidak praktis. Dapat dilakukan
pemakaian kosmetik untuk kamuflase atau dengan terapi laser.
3,4,5,7


Mc Cune - Albright's Syndrome
Bentuk yang lengkap dari trias cafe'au lait spots, polyostotic fibrous displasia
dan endocrine dysfuntion sering bermanifestai pada precocious pubertas.
3,4,5,7


Mongolian Spot
Kelainan ini dijumpai sejak lahir, berupa bercak kebiru-biruan atau coklat keabu-
abuan pada daerah lumbosakral bagian sentral. Ukuran bercak mencapai maksimal
pada usia 2 tahun, sedangkan intensitas warna maksimal pada umur 1 tahun. Ukuran
lesi bervariasi dari beberapa milimeter sampai sentimeter. Lesi dapat soliter maupun
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
multipel. Pada kebanyakan kasus dapat mengalami regresi spontan, namun ada juga
yang persisten. Pigmen melanin yang terdapat pada bercak ini terletak didalam
melanosit yang berbentuk fusiform, dopa positif dan dijumpai pada dermis bagan
tengah (mid dermis).
3,4,5,6,7


Nevus of Ota (Oculodermal melanocytosis)
Nevus ota adalah hiperpigmentasi yang dijumpai pada daerah yang
dipersyarafi oleh cabang pertama dan kedua nervus trigeminus. Pertama kali
dicetuskan oleh Ota (1939) yang membagi kelainan ini atas beberapa tipe berdasarkan
distribusi perubahan pigmen. Keadaan ini dapat mengenai kelopak mata atas dan
bawah, pelipis, dahi serta alis, umumnya unilateral dan pada 2/3 kasus disertai
kelainan pada sklera dan conjunctiva.
Wanita lebih banyak (80 %) terutama pada ras oriental. Kelainan pigmentasi
ini biasanya berbintik seperti efelid dan berw arna hitam kebiruan atau coklat. Biopsi
kulit menunjukkan adanya melanosit pada dermis pars retikularis, sekitar pembuluh
darah serta kelenjar minyak. Kadang-kadang disertai dan banyak dijumpai
melanosom stadium empat.
3,4,5,6,7,8


Nevus of ho
Merupakan variasi dari nevus Ota yang dicetuskan oleh Ito (1954). Kedua
nevus ini dapat terjadi pada seorang penderita. Pada nevus Ito, kelainan kulit terdapat
pada daerah yang dipersyarafi n. supra klavikula lateralis, dan n. brakhial lateralis.
Pigmentasi pada nevus Ito tampak lebih difus. Laser therapy memberikan manfaat
dan cosmeticc over-up diperlukan pada nevus of Ota dan nevus of Ito.
3,4,5,6,78


Blue Nevus
Blue nevus terdiri dan 2 tipe yaitu :
1. Common blue nevus
Berupa nevus yang kecil, bulat, berwarna biru atau biru kehitaman. Permukaan
licin, berbentuk flat atau nodul. Secara umum berukuran antara 2 sampai 10 mm.
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Biasanya tunggal tetapi dapat juga multipel. Lesi bisa timbul pada waktu lahir dan
insiden pada wanita 2 kali lebih tinggi daripada pria. Lesi biasanya bertahan
seumur hidup.
3,4,5,6

2. Celluler blue nevus
Merupakan bentuk yang jarang ditemui, cenderung lebih besar dan berukuran
lebih dari 1 cm. Biasanya berlokasi di daerah sacrococcigeal, dorsal tangan dan
kaki.
34,5,6

Blue nevus pada umumnya merupakan tumor yang jinak. Perubahan ke arah
keganasan jarang dijumpai. Penatalaksanaan dari kedua tipe nevus ini mencakup
eksisi bedah konservatif dengan eksaminasi histologis.
3,4,5,6


TUMOR MALIGNA
Melanoma Maligna
Adalah tumor ganas kulit yang berasal dari sel melanosit dengan gambaran
berupa lesi kehitam-hitaman pada kulit. Penyebabnya belum diketahui, sering terjadi
pada usia 30 sampai 60 tahun. Frekwensi sama pada pria maupun wanita.
4

Berbagai faktor yang diperkirakan sebagai faktor penting dalam mekanisme
karsinogenesis keganasan adalah sebagai berikut
3,4,5,6,9-17

l. Faktor genetik.
Adalah keluarga yang menderita keganasan ini meningkatkan risiko 200 kali
terjangkitnya Melanoma Maligna. Ditemukan Melanoma Maligna familial pada
8% kasus baru. Terjadinya Melanoma Maligna jugu dihubungkan dengan
terjadinya keganasan lainnya misalnya retinoblastoma dan beberapa sindroma
keganasan dalam keluarga.
2. Melanocytic nevi
Keadaan ini dapat timbul berhubungan dengan kelainan genetik atau dengan
lingkungan tertentu. J umlah nevi yang ditemukan berkaitan dengan jumlah
paparan sinar matahari pada masa kanak-kanak dan adanya defek genetik tertentu.
Sejumlah 30 - 90% Melanoma Maligna terjadi dari nevi yang sudah ada
sebelumnya.
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
3. Faktor biologik
Trauma yang berkepanjangan merupakan risiko terjadinya kegansan ini, misalnya
pada iritasi akibat ikat pinggang. Keadaan biologik lainnya yang mempengaruhi
adalah berkurangnya ketahanan imunologik, misalnya pada penderita
pengangkatan ginjal dan juga M. Hodgkin akan meningkatkan kejadian
Melanoma Maligna. Perubahan keadaan hormonal juga meningkatkan kejadian
Melanoma Maligna dan juga meningkatkan kekambuhan setelah pengobatan pada
penderita Melanoma Maligna.
4. Faktor lingkungan
Paparan sinar UV dari matahari merupakan faktor penting yang dikaitkan dengan
peningkatan terjadinya Melanoma Maligna, terutama bila terjadi sun burn yang
berulang pada orang yang berpigmen rendah. Gejala dan tanda-tanda spesifik
ditemukan pada Melanoma Maligna yang telah dikenal secara luas, adalah sebagai
berikut (ABCDEF dari Melanoma Maligna)
9,10,14,17,19

- A-Symetry, yaitu bentuk tumor yang tidak simetris.
- Border irregularity, yaitu garis batas yang tidak teratur.
- Colour variation, dari yang tidak berwarna sampai hitam pekat dalam satu lesi.
- Diameter tumor lebih besar dari 6mm.
- Evolution/change dari lesi dapat diperhatikan sendiri oleh penderita atau keluarga.
- Funny looking lesions.

Gambaran Klinik
Terdapat 3 jenis Melanoma Maligna (Clark, 1967;1969 dan Mc Govern,
1970) dengan l jenis tambahan baru (Reed, 1976 dan Seiji, M. dkk., 1977). Keempat
jenis Melanoma Maligna tersebut terdiri atas:
3,4,5,6,9-17

1. Superficial spreading melanoma (SSM) merupakan jenis yang terbanyak dari
melanoma (70%) di Indonesia merupakan jenis kedua terbanyak.
Pada umumnya timbul dari nervus atau pada kulit normal (de novo). Berupa plak
archiformis berukuran 0,5 - 3 cm dengan tepi meninggi dan ireguler. Pada
permukaannya terdapat campuran dari bermacam-macam warna, seperti coklat,
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
abu-abu, biru, hitam dan sering kemerahan. Meluas secara radial. Pada umumnya
lesi mempunyai ukuran 2 cm dalam waktu 1 tahun, untuk melanjutkan tumbuh
secara vertikal dan berkembang menjadi nodula biru kehitaman. Dapat
mengalami regresi spontan dengan meninggalkan bercak hipopigmentasi.
Predileksinya pada wanita dijumpai di tungkai bawah, sedangkan pada pria di
badan dan leher.
Epidermis : - Melanosit berbentuk epiteloid, dapat tersusun sendiri-sendiri atau
berkelompok
- Pada umumnya sel-sel tersebut tidak menunjukkan bentuk yang
pleomorfik.
Dermis : - Sarang-sarang tumor yang padat dengan melanosit berbentuk
epiteloid yang besar serta berkromatin atipik.
- Di dalam sel-selt ersebut erdapatb utir-butir melanin.
- Kadang-kadang dapat ditemukan melanosit berbentuk kumparan
(spindle) dan sel-sel radang.
2. Nodular Melanoma (NM) merupakan jenis melanoma kedua terbanyak (15-30%)
sifatnya lebih agresif. Di Indonesia ini merupakan jenis yang tersering. Timbul
pada kulit normal (de novo) dan jarang dari suatu nevus. Berupa nodul berbentuk
setengah bola (dome shaped), atau polipoid dan eksofitik, berwarna coklat
kemerahana tau biru sampai kehitaman. Pertumbuhannya secara vertikal (invasif).
Dapat mengalami ulserasi, perdarahan, dan timbul lesi satelit. Metastasis
limfogen dan hematogen, dapat timbul sejak awal terutama dijumpai pada pria
dengan predileksi dipunggung. Perbandingan antara pria dan wanita 2 : 1.
Epidermis : - Melanosit berbentuk epiteloid dan kumparan atau campuran kedua
bentuk tersebut, dapat ditemukan pada daerah dermo-epidermal.
Dermis : - Sejak semula sel-sel tersebut mempunyai kemampuan untuk meluas
secara vertikal. Menginvasi lapisan retikularis dermis, pembuluh
darah dan subkutis.
3. Lentigo Maligna Melanoma (LML) merupakan kelainan yang jarang ditemukan
(4-10%).
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Pertumbuhan vertikal, sangat lambat dengan lokasi terbanyak di daerah muka
yang terpapar sinar matahari.
Timbul dari Hutchinson's freckle yang terdapat pada muka (pipi, pelipis) atau
pada bagian lain tubuh terutama daerah yang terkena sinar matahari. Berupa
makula coklat sampai kehitaman, berukuran beberapa sentimeter dengan tepi
tidak teratur. Meluas secara lambat pada bagian tepi lesi (radial). Pada permukaan
dapat dijumpai adanya bercak-bercak yang berwarna lebih gelap (hitam) atau
biru, tersebar secara tidak teratur. Dapat berkembang menjadi nodul biru
kehitaman yang invasif dan agak hiperkeratotik. Terutama terdapat pada wanita
usia lanjut. Perbandingan antara pria dan wanita l : 2-3.
Epidermis : - Melanosit atifik sepanjang membrana basalis, berbentuk pleomorfik
dengan inti yang atipik.
- Sel-sel yang sering dijumpai berbentuk kumparan (spindleshaped
melanocyt).
Dermis : - Infiltrasi limfosit dan makrofage yang mengandung melanin.
- Kadang-kadang pada tempat tertentu ditemukan sarang-sarang
tumor.
4. Acral Lentiginous Melanoma (ALM) I Palmar-Plantar-Subungual Melanoma
(PPSM)
Pada umumnya timbul pada kulit normal (de novo).
Berupa nodul dengan warna yang bervariasi dan pada permukaannya dapat timbul
papula, nodul serta ulserasi. Kadang-kadang lesinya tidak mengandung pigmen
(amelanoticm elanoma).
Predileksinya : pada telapak kaki, tumit, telapak tangan, dasar kuku, terutama ibu
jari kaki dan tangan. Merupakan tipe yang banyak dijumpai pada orang negro dan
bangsa lain yang tinggal pada daerah tropik. Di Afrika, plantar melanoma
dijumpai pada 70% kasus.
Acral Lentinginous Melanoma (ALM) merupakan jenis yang lebih banyak
ditemukan pada penderita kulit berwarna (35-60%).
Menyerupai gambaran Melanoma Maligna, SSM, atau campuran keduanya.
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Sistem Klasifikasi
Pada Melanoma Maligna digunakan sistem klasifikasi klinik (stadium klinik)
dan klasifikasi histologik (tingkat invasi Clark & kedalaman Breslow).
3,4,5,6,9,14,16

Kegunaan atau kepentingan sistem klasifikasi tersebut, yaitu :
- Untuk menentukan tindakan pengobatan.
- Untuk menentukan prognosis.
- Untuk membandingkan hasil pengobatan antara berbagai klinik.

Klasifikasi Klinik
Sampai saat ini digunakan Stadium Klinik (dengan beberapa modifikasi) sebagai
klasifikasi standar Melanoma Maligna, terdiri atas 3 stadium
3,4,5,6,9,14,16

Stadium I : MelanomaM aligna lokal tanpam etastasijsa uh atauk e kelenjarl imfe
regional.
Termasuk stadium I :
Melanoma primer yang belum diobati atau telah dilakukan biopsi
eksisi.
Melanoma rekuren lokal yang berada dalam jarak 4 sentimeter dari
lesi primer.
Melanoma primer multipel.
Stadium II : Sudah terjadi metastasis yang terbatas pada kelenjar limfe regional.
Termasuk Stadium II :
Melanomap rimer yang mengadakan metastasis secara simultan.
Melanoma primer yang terkontrol dan kemudian terjadi metastasis.
Melanoma rekuren lokal dengan metastasis.
Metastasis in-transit yang berada di luar jarak 4 sentimeter dari lesi
primer.
Melanoma primer yang tidak diketahui dengan metastasis.
Stadium III : Melanomad iseminata, dimana sudah terjadi metastasis jauh.
Termasuk Stadium III :
Bila sudah terjadi metastasis ke alat- alat dalam dan atau subkutan.
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Pada kira-kira 25-30% penderita Melanoma Maligna sudah menunjukkan
adanya metastasis ke kelenjar limfe regional, walaupun secara klinik belum teraba
pembesaran kelenjar limfe. Hal ini menerangkan bahwa untuk menentukan prognosis
dan tindakan pengobatannya tidak cukup hanya didasarkan pada klasifikasi Stadium
Klinik saja, tetapi perlu disertai dan ditentukan berdasarkan histologik.

Klasifikasi Histologik
Klasifikasi histologik didasarkan pada perangai biologik Melanoma Maligna.
Dikenal dua klasifikai histologik standar yang digunakan, yaitu .3,4,5,6,9,14,16
- Klasifikasi tingkat invasi menurut Clark.
- Klasifikasi kedalaman menurut Breslow

Klasifikasi Tingkat Invasi Menurut Clark
Clark (1969) membagi Melanoma Maligna menurut invasinya didalam lapisan
kulit atas lima tingkat
3,4,5,6,9,14,16

Tingkat I : Sel melanoma terletak di atas membrana basalis epidermis
(melanoma in situ : intraepidermal). Sangat jarang dan tidak
membahayakan.
Tingkat II : Invasi sel melanoma sampai dengan lapisan papilaris dermis
(dermis bagian superfisial).
Tingkat III : Invasi sel melanoma sampai dengan perbatasan antara lapisan
papilaris dan lapisan retikularis dermis. Sel melanoma mengisi
papila dermis.
Tingkat IV : Invasi sel melanoma sampai dengan lapisan retikularis dermis.
Tingkat V : Invasi sel melanoma sampai dengan jaringan subkutan.

Klasifikasi kedalaman (ketebalan) tumor menurut Breslow
Breslow (1970) membagi Melanoma Maligna dalam tiga golongan
3,4,5,6,9,14,16

Golongan I : Dengan kedalaman (ketebalan) tumor kurang dari 0,76 mm
Golongan II : Dengan kedalaman (ketebalan) tumor antara 0,76mm - 1,5mm
Golongan III : Dengan kedalaman (ketebalan) tumor lebih dari 1,5 mm.

Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Beberapa penulis mengemukakan variasi sebagai berikut :
- Kedalaman (ketebalan) tumor kurang dari 0,85 mm.
4,9

- Kedalaman (ketebalan) tumor antara 0,85 mm - 1,69 mm.
- Kedalaman (ketebalan) tumor antara 1,70 mm- 3,64 mm.
- Kedalaman (ketebalan) tumor lebih dari 3,65 mm.
Kedalaman (ketebalan) tumor menurut Breslow, diukur secara langsung
menggunakan mikrometer okuler (dinyatakan dalam NM) dan merupakan metode
yang objektif untuk menentukan prognosis. Sedangkan Tingkat Invasi menurut Clark
merupakan aara pengukuran ketebalan tumor secara tidak langsung.
Hubungan antara tingkat menurut Clark dan kedalaman (ketebalan) tumor menurut
Breslow : Melanoma Maligna dengan kedalaman sampai 0,65 mm menurut
klasifikasi Breslow, sesuai dengan Tingkat II menurut klasifikai Clark. Lesi
Melanoma Maligna dengan kedalaman 1,5 mm atau lebih menurut klasifikai Breslow,
sesuai dengan tingkat IV dan V menurut klasifikasi Clark. Sedangkan kedalaman
antara 0,65 mm dan 1,5 mm menurutk lasifikasi Clark.

Diagnosis Banding
Nevus pigmentosus
Blue nevus
Keratosis seboroika
Karsinoma sel basal jenis nodula dan berpigmen
Penyakit Bowen
Dermatofibroma
Granuloma piogenikum
Subungual hematoma
9


Diagnosa ditegakkan dengan Biopsi dengan mengangkat semua pertumbuhan
yang mencurigakan. Apabila jaringan terlalu besar untuk diangkat, maka cukup
diangkat contoh jaringannya saja.
3,4,5,6,9,10,11,14,15,16
Penatalaksanaan pada Melanoma Maligna meliputi
3,4,5,6,9,10,11,14,15,16

Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
A. Eksisi bedah.
Dilakukan pada melanoma stadium I dan IL Zitelli dkk. Menyarankan untuk
mengambil sampai 1,5 cm diluar tepi lesinya, kecuali bila dilakukan Moh's
microsurgery. Pada melanoma yang terdapat pada kuku dianjurkan untuk
dilakukan amputasi pada seluruh jari yang terkena.
B. Elective Lymph Node Dessection( ELND)
Dilakukan pada melanoma stadium III, dimana telah terdapat metastase ke
kelenjar lymph. Hal ini dibuktikan dengan terabanya pembesaran kelenjar lymph.
ELND masih merupakan terapi yang kontroversial. Cara yang lebih dianjurkan
adalah dengan intraoperative lymphatic mapping.
C. Interferon a 2b
Dapat digunakan sebagai terapi adjuvan pada melanoma yang berukuran lebih
dari 4 mm (stadium V), tetapi harus dipertimbangkan tingkat toksisitasnya yang
masih tinggi. Tujuan terapi ini diharapkan dapat menghambat metastasis yang
lebih jauh lagi.
D. Kemoterapi
Dikatakan tidak terlalu bermanfaat pada terapi melanoma. J enis kemoterapi yang
paling efektif adalah dacarbazine (DTIC = Dimethyl Triazone Imidazole
Carboxamide Decarb zine).
E. Kemoterapi Perfusi
Cara ini bertujuan untuk menciptakan suasana hipertermis dan oksigenasi pada
pembuluh-pembuluh darah pada sel tumor dan membatasi distribusi kemoterapi
dengan menggunakan torniquet.
Cara ini diharapkan dapat menggantikan amputasi sebagai suatu terapi.
F. Terapi Radiasr
Digunakan hanya sebagai terapi simptomatis pada melanoma dengan metastasis
ke tulang dan susunan syaraf pusat (SSP). Meskipun demikian hasilnya tidak
begitu memuaskan.
Tanpa pengobatan, kebanyakan melanoma akan bermetastase dan
mengakibatkan kematian pasien. Saat ini, karena diagnosis klinik yang dini, lebih dari
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
80% melanoma diterapi dengan bedah eksisi sederhana dan dengan edukasi yang
lebih baik mengenai tanda-tanda kinik melanoma, angka kesembuhannya menjadi
95%.
3,4,5,6,9,10,11,14,15,16


Daftar Pustaka
1. Thody. A.J , Skin Pigmentation and Its Regulation, dalam ; Molecular Aspects
Dermatology, Priestley G.C. editor, J hon Wiley & Sons Ltd, Baffins Lane,
ChichesterW, est SussexP O19 lUD, England, 1993, p : 55 - 73.
2. Tranggono. R.I.S, Patofisologi Melanogenesis, dalam Simposium Kelainan
Pigmentasi Kulit dan Penanggulangannya, Sugito T.et all, J akarta, p : 14 - 24.
3. Hurwitz S. Cutaneus Tumors in Childhood. Dalam : Clinical Pediatric
Dermatology, 2
nd
Edition, Philadelphia, WB Saunders Company, 1993, p : 199-
203.
4. Habif TP. Nevi and Malignant Melanoma. Dalam : Clinical Dermatology, A
Color Guide to Diagnosis and Therapy, 3
rd
Mosby Year Book, 1996, h : 688 -
720.
5. Odom RB, J ames WD, Berger TG. Melanocytic Nevi and Neoplasma. Dalam :
Diseases of the Skin, 9
th
Edition, Philadelphia, 2000, p : 869 - 89.
6. Mackie R.M. Melanocytic Naevi and Malignant Melanoma. Dalam : Rook /
Wilkinson / Ebling Textbook of Dermatology, Champion R.H et all editor, Yol.2,
Sixth Edition, Blackwell Science Ltd, 1998, United Kingdom, p : 1717- 52.
7. Soepardiman L, Kelainan Hiperpigmentasi dan Melasma, dalam : Simposium
Kelainan Pigmentasi Kulit dan Penanggulangannya, Sugito T. et all, J akarta, p :
25 - 39.
8. Lui H, Nevi of Ota and Ito, dalam : eMedicine J ournal, Vol. 2 Number 11,
November 15 2001.
9. Budidahjono S. Prekanker dan Kanker Kulit dalam Penyakit Kulit, Harahap M.
Editor, PT. Gramedia J akarta, 1990, p : 262 - 72.
10. Mukhtar A. Kanker Kulit, dalam : Deteksi Dini Kanker, Ramli HM et all editor,
Balai PenerbitF K - UI J akarta, 2002, p : 76 - 85.
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
Imam Budi Putra : Tumor Kulit Yang Berasal Dari Melanocytes System, 2008
USU e-Repository 2008
11. Hamzah M, Deteksi Dini Kanker Kulit, dalam Pertemuan Ilmiah Berkala :
Deteksi dan Penatalaksanaan Kanker Kulit Dini, Cipto H et all editor, Balai
PenerbitF K - UI, J akarta , 2001, p : 19 - 2l .
12. SuriadiredjaA .S.D, Kresno S.B, CornainS . Biologi Molekuler Melanoma, dalam
: Melanoma Dari Biologi Molekuler Sampai D engan P enatalaksanaan, Cipto H
et all editor, Balai Penerbit FK-UI, J akarta, 2002, p : 1 11
13. Darwis E.R. Faktor Risiko dan Lesi Prekursor Melanoma, dalam : Melanoma
Dari Biologi Molekuler Sampai Dengan PenatalaksanaanC, ipto H et all editor,
Balai Penerbit FK-UI, J akarta, 2002, p : 27 - 30.
14. Toruan T.L, Melanoma Gambaran Klinik dan Diagnostik, dalam : Melanoma
Dari Biologi Molekuler Sampai Dengan Penatalaksanaan, Cipto H et all editor,
Balai PenerbitF K-UI, J akarta,2002, p : 31 - 40.
15. McCalmont T. Melanoma, avaiable http://www.cancwr.gov/publication
16. Brick W. What Do You Need To Know About Melanoma. avaiable at
http://www.cancer.gov/moles
17. Hazen B.P et all, The Clinical Diagnosis of Early Malignant Melanoma :m
Expansion of the ABCD Criteria to Improve Diagnostic Sensitivity, dalam :
Dermatology Online J ournal, 1999.