Anda di halaman 1dari 14

Sistem Penunjang Keputusan | 1

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Setiap organisasi, baik dalam skala besar maupun kecil,dapat terjadi perubahan-
perubahan kondisi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan eksternal dan internal
organisasi. Dalam menghadapi perkembangan dan perubahan yang terjadi maka diperlukan
pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Proses pengambilan keputusan yang cepat
dan tepat dilakukan agar organisasi dapat terus berjalan dan mencapai tujuannya.
Pengambilan keputusan tersebut dilakukan oleh seorang manajer atau pimpinan..
Kegiatan pembuatan keputusan meliputi pengindentifikasian masalah, pencarian alternatif
penyelesaian masalah, evaluasi daripada alternatif-alternatif tersebut, dan pemilihan
alternatif keputusan yang terbaik. Kemampuan seorang pimpinan dalam membuat
keputusan dapat ditingkatkan apabila ia mengetahui dan menguasai teori dan teknik
pembuatan keputusan. Dengan peningkatan kemampuan pimpinan dalam membuat
keputusan maka diharapkan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang dibuatnya,
sehingga akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja organisasi.

1) Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, dapat ditarik rumusan
masalah sebagai berikut :
A. Seberapa pentingkah pengambilan keputusan dalam manajemen ?
B. Apa pengertian dari pengambilan keputusan ?
C. Apa saja yang mempengaruhi pengambilan keputusan ?
D. Bagaimana langkah-langkah dalam mengambil keputusan ?

2) Tujuan
A. Memahami pentingnya pengambilan keputusan dalam manajemen .
B. Memahami arti dari pengambilan keputusan.
C. Mengetahui faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan.
D. Mengetahui langkah-langkah dalam mengambil keputusan.

Sistem Penunjang Keputusan | 2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENTINGNYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MANAJEMEN
Dalam manajemen, pengambilan keputusan ( decision making ) memegang peran
sangat penting, oleh karena keputusan yang diambil oleh seorang manajer merupakan hasil
pemikiran akhir yang harus dilaksanakan oleh bawahannya atau mereka yang bersangkutan
dengan organisasi yang ia pimpin. Penting, oleh karena menyangkut semua aspek
managemen. Kesalahan dalam mengambil keputusan bisa merugikan organisasi, mulai dari
kerudian citra sampai kepada kerugian uang.
Pengambilan keputusan dijadikan sebagai solusi dalam penyelsaian suatu masalah.
Baik masalah yang mudah dipecahkan, masalah yang sukar, ada juga yang sangat sulit,
tergantung pada besarnya masalah, dan luasnya sangkut-paut dengan berbagai faktor. Atas
dasar itulah, maka keputusan yang dihasilkan ada yang tidak mengandung resiko apa-apa,
ada yang resikonya kecil saja, ada pula yang resikonya besar, bahkan sangat besar.
Seseorang yang dalam mengambil keputusan menghadapi resiko besar, harus mempunyai
keberanian untuk memikul tanggung jawab, seandainya keputusannya itu menimbulkan
kerugian.
Disitulah pentingnya informasi, sebab keputusan yang diambil adalah hasil akhir
dari pemilihan sejumlah alternatif. Dan yang diambil adalah alternatif yang terbaik, dalam
arti kata yang paling kecil resikonya. Dalam mengahadapi pilihan itu, setiap alternatif perlu
ditunjang oleh informasi selengkap-lengkapnya. Semakin lengkap, semakin baik dengan
demikian si pengambil keputusan akan mendapat wawasan yang luas dan dalam. Dengan
begitu, maka keputusan yang diambil tidak akan begitu meleset,
Menurut Dr. Sondang P. Siagian, MPA, Ph.D., semakin tinggi kedudukan
seseorang dalam suatu organisasi, semakin banyak memerlukan manajerial skill dan
semakin kurang membutuhkan technicalskill, oleh karena semakin berkurang
keterlibatannya dalam kegiatan kegiatan yang bersifat operasional.
1
Untuk jelasnya lihat
gambar 1.



1 Sondang P. Siagian, MPA, Ph.D., Sistem Informasi Untuk Pengambilan Keputusan, Gunung Agung,
Jakarta MCMLXXVI, 1967, hlm. 83.
Sistem Penunjang Keputusan | 3


Manajemen Puncak


Manajemen Tengah


Manajemen Pengawasan

Petugas Operasional
(K.T)

K.M = Keterampilan Managerial
K.T = Keterampilan Teknikal
Gambar 1

Semakin luas keterampilan manajerial seorang manajer, semakin banyak yang
harus diketahui olehnya aspek-aspek manajemen. Aspek-aspek manajemen ini meliputi
berbagai faktor organisasi, dan berbagai faktor ekstern organisasi. Aksioma yang berlaku
dalam bidang ini ialah bahwa semakin tinggi kedudukan seseoreang dalam organisasi, ia
semakin kurang memerlukan technical skills dan semakin banyak manajerial skill.
Sebaliknya, semakin rendah kedudukan seseorang dalam organisasi, ia semakin
memerlukan lebih banyak technical skills dibandingkan manajerial skill. Dengan perkataan
lain, semakin tinggi kedudukan seseorang didalam organisasi ia harus semakin menjadi
seorang generalist, sedangkan semakin rendah kedudukannya didalam organisasi ia harus
menjadi specialist.
Alasannya ialah apabila seseorang menduduki jabatan pimpinan yang rendah, ia
masih berhadapan langsung dengan petugas-petugas operasional dan karenanya tugas
utamanya ialah memberikan bimbingan langsung kepada petugas-petugas tersebut.
Karenanya ia masih harus menguasai seluk beluk daripada kegiatan-kegiatan yang operatif
sifatnya. Sebaliknya, apabila seseorang berhasil menduduki jabatan pimpinan yang lebih
tinggi ia semakin terpisah jauh dengan kegiatan-kegiatan operasional dan sifat tugasnya
beralih dari pemberian bimbingan kepada petugas operatif menjadi tugas penentuan tujuan,
perumusan kebijakan, dan memikirkan hal-hal yang sifatnya menyeluruh.

(K.M) K.T

(K.M) (K.T)

K.M (K.T)
Sistem Penunjang Keputusan | 4

2.2 PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A. Definisi Keputusan
Menurut Ralp C. Davis
memberikan definisi atau atau pengertian keputusan sebagai hasil pemecahan
masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang
pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan
tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan
dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari
rencana semula.
Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo
Keputusan adalah pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atau
problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi
masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.
B. Definisi Pengambilan Keputusan
Menurut George R. Terry
Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif prilaku (kelakuan) tertentu dari
dua atau lebih alternatif yang ada .
Menurut S.P. Siagian
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat
alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitugan
merupakan tindakan yang paling tepat.
2


Intisari pengambilan keputusan yaitu perumusan beberapa alternatif tindakna dalm
menggarap situasi yang dihadapi, serta menetapkan pilihan yang tepat antara beberapa
alternatif yang tersedia setelah diadakan evaluasi mengenai efektivitas alternatif tersebut
untuk mencapai tujuan para pengambil keputusan.
Pengambilan keputusan memiliki fungsi sebagai berikut :
Pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik
secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun
secara organisasional.
Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa
akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.

2 Iqbal, M. Hasan, 2002, Pokok Materi Pengambilan Keputusan, Hlm. 10.
Sistem Penunjang Keputusan | 5

Sedangkan tujuan dari pengambilan keputusan, yaitu :
Tujuan yang bersifat tunggal, terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya
menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak ada kaitannya
dengan masalah lain.
Tujuan yang bersifat ganda, terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu
menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa keputusan yang diambil itu
sekaligus memcahkan dua maslah (atau lebih), yang bersifat kontradiktif atau yang
tidak kontradiktif.
3

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Dalam proses pengambilan keputusan sutu organisasi maupun perusahaan tidak
terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu :
1. Posisi/kedudukan.
Dalam rangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan dapat dilihat dalam hal:
(1) letak posisi; dalam hal ini apakah ia sebagai pembuat keputusan (decision
maker), penentu keputusan (decision taker), ataukah staf (staffer). (2) tingkatkan
posisi; dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peratura, organisasional,
operasional, teknis.
2. Masalah
Masalah atau problem adalah apa yang menjadi peng-halang untuk tercapainya
tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan,
direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan. Masalah dapat dibagi
menjadi dua, yaitu: (1) Masalah rutin, yaitu masalah yang sifatnya sudah tetap,
selalu dijumpai dalam hidup sehari-hari. (2) Masalah insidentil, yaitu masalah yang
sifatnya tidak tetap, tidak selalu dijumpai dalam hidup sehari-hari.
3. Situasi
Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama
lain, dan yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta
apa yang hendak kita perbuat.
Faktor-faktor itu dapat dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut:
a. Faktor-faktor yang konstan (C), yaitu faktor-faktor yang sifatnya tidak
berubah-ubah atau tetap keadaanya.

3 Manurung, Adler, Haymans, 1991, Pengambilan Keputusan Pendekatan Kuantitatif, hlm. 10.
Sistem Penunjang Keputusan | 6

b. Faktor-faktor yang tidak konstan, atau variabel (V), yaitu faktor-faktor yang
sifatnya selalu berubah-ubah, tidak tetap keadaannya.
4. Kondisi
Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama
menentukan daya gerak, daya ber-buat atau kemampuan kita. Sebagian besar
faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya-sumber daya.
5. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan
organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/ telah ditentukan.
Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara
atau objective.
Pendapat lain mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan
keputusan adalah:
a. Keadaan Internal Organisasi
Keadaan intern organisasi antara lain meliputi dana yang tersedia, keadaan
sumber daya manusia, kemampuan karyawan, kelengkapan dari peralatan
organisasi, struktur organisasi.
b. Keadaan Eksternal Organisasi
Keadaan ekstern organisasi bersangkut paint dengan apa yang ada di luar
organisasi tersebut. Keadaan ekstern organisasi antara lain meliputi keadaan
ekonomi, sosial, politik, hukum, budaya, dan sebagainya.
c. Tersedianya Informasi yang Diperlukan
Dalam pengambilan keputusan, informasi yang diperJukan haruslah lengkap
dan memiliki sifat-sifat tertentu, sehingga keputusan yang dihasilkan dapatlah
berkualitas dan baik. Sifat-sifat informasi, yaitu :
Akurat, artinya informasi harus mencerminkan atau sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya.
Up to date, artinya informasi tersebut harus tepat waktu.
Komprehensif, artinya informasi harus dapat mewakili.
Relevan, artinya informasi harus ada hubungannya dengan masalah yang
akan diselesaikan.
Memiliki kesalahan baku kecil, artinya informasi itu memiliki tingkat
kesalahan yang kecil.

Sistem Penunjang Keputusan | 7

d. Kepribadian dan Kecakapan Pengambil Keputusan
Kepribadian dan kecakapan dari pengambil keputusan meliputi: penilaiannya,
kebutuhannya, intelegensinya, keterampilannya, kapasitasnya, dan sebagainya.
Nilai-nilai kepribadian dan kecakapan ini turut juga mewarnai tepat tidaknya
keputusan yang diambil. Jika pengambil keputusan memiliki kepribadian dan
kecakapan yang kurang, maka keputusan yang diambil juga akan kurang,
demikian pula sebaliknya.
D. Model Pengambilan Keputusan
Sebelum melakukan pengambilan keputusan, maka pengambil keputusan terlebih
dahulu harus menentukan langkah-langkah model, agar proses pengambilan keputusan
sesuai dengan pemecahan masalah yang dihadapi, Robbin memberikan petunjuk langkah-
langkah model pengambilan keputusan, yaitu melalui :
1) Kejelasan masalah, masalahnya harus jelas dan tidak menunda. Pengambilan
keputusan diasumsikan memiliki informasi lengkap sehubungan dengan situasi
keputusan.
2) Pilihan- pilihan diketahui, diasumsikan bahwa pengambilan keputusan dapat
mengidentifikasikan semua kriteria yang relevan dan dapat mendaftarkan semua
alternatif yang dapat dilihat. Lagipula, pengambilan keputusan sadar akan semua
konsekuensi yang mungkin dari setiap alternatif.
3) Pilihan yang jelas, Rasional mengasumsikan bahwa kriteria dan alternatif dapat
diperingkatkan dan ditimbang untuk mencerminkan arti pentingnya.
4) Pilihan yang konstan, diasumsikan bahwa kriteria keputusan yang spesifik itu
konstan dan bahwa beban yang ditugaskan kepada mereka itu stabil sepanjang
waktu.
5) Tidak ada batasan waktu dan biaya, pengambilan keputusan rasional dapat
memperoleh informasi lengkap tentang kriteria dan alternatif kerana
diasumsikan bahwa tidak ada pembatasan waktu dan biaya.
6) Pelunasan maksimum, pengambilan keputusan rasional akan memilih alternatif
yang menghasilkan nilai yang dirasakan paling tinggi.





Sistem Penunjang Keputusan | 8

Herbert A. Simon, mengklasifikasikan keputusan menjadi dua yaitu :
1) Keputusan Terpogram (progammed decision)
Bersifat repetitif dan rutin, dalam hal prosedur tertentu digunakan untuk
menanganinya sehingga keputusan tersebut tidak perlu dianggap de novo (baru)
setiap kali terjadi.
4
Untuk penyelesaian masalah melalui hal-hal berikut:
a. Prosedur, yaitu serangkaian langkah yang berhubungan dan berurutan yang
harus diikuti oleh pengambil keputusan.
b. Aturan, yaitu ketentuan yang mengatur apa yang harus dan apa yang tidak boleh
dilakukan oleh pengambil keputusan.
c. Kebijakan, yaitu pedoma yang menentukan parameter untuk membuat
keputusan.
2) Keputusan Tidak Terpogram (nonprogammed decision)
Bersifat baru, tidak terstruktur, dan penuh konsekuensi. Tidak terdapat metode
yang pasti untuk menangani masalah seperti ini karena masalah tersebut belum
pernah muncul sebelumnya, atau karena sifat dan strukturnya sulit dijelaskan dan
kompleks, atau karena masalah tersebut demikian penting sehingga memerlukan
penanganan khusus.
5

E. Langkah-Langkah Dalam Proses Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan tergantung pada luasnya ruang lingkup permasalahan yang
bersangkutan dengan permasalahan tersebut.
Proses pengambilan keputusan dapat dibagi kedalam dua kategori, yaitu :
Keputusan terstruktur (programable impersonalitic)
Keputusan terstruktur (programable impersonalitic) adalah keputusan yang
dispesifikasikan sebelumnya sebagai seperangkat aturan atau prosedur
keputusan. Keputusan terstruktur dianggap dapat ditangani oleh sebuah program
komputer karena aturan untuk mencapai suatu keputusan telah didefinisikan
secara lengkap.
Keputusan tidak terstruktur (unprogramable personalitic)
Keputusan tidak terstruktur (unprogramable personalitic) adalah keputusan yang
terjadi hanya satu kali atau berubah setiap saat diperlukan. Keputusan dalam

4 Herberty A. Simon, The New Science Of Management Decision, Edisi Revisi. (Englewood Cliffs, New
Jersey, Prentice Hall, 1977 )
5 Simon, op. Cit, 1977
Sistem Penunjang Keputusan | 9

suatu sistem keputusan yang tidak terstruktur adalah tidak terprogram karena
tidak mungkin menspesifikasikan semua faktor sebelumnya.

2.3 PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Proses pengambilan keputusan akan mempengaruhi perancangan sistem
informasi. Sebuah model terkenal mengenai proses pengambilan keputusan yang
diketengahkan oleh Hebert A. Simon terdiri dari tiga tahap, yaitu :
TAHAP
PROSES
PENJELASAN
Penyelidikan
(Inteligence)
Mempelajari lingkungan atas kondisi yang memerlukan
keputusan. Data mentah diperoleh, diolah, dan diuji untuk
dijadikan petunjuk yang dapat mengindentifikasi persoalan
Perancangan
(Design)
Mendaftar, mengembangkan, dan menganalisis arah tindakan yang
mungkin. Hal ini meliputi proses-proses untuk memahami
persoalan, menghasilkan pemecahan, dan menguji kelayakan
pemecahan tersebut
Pemilihan
(Choice)
Memilih arah tindakan tertentu dari semua yang ada. Pilihan
ditentukan dan dilaksanakan

Jadi proses pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai arus dari intelegensi ke
rancangan lalu ke pilihan. tahap-tahap tersebut merupakan model yang berkesinambungan.










Intelegasi
Pilihan

Rancangan
Sistem Penunjang Keputusan | 10

Aliran Proses Pengambilan Keputusan
Selain itu ada juga Proses pengambilan keputusan menurut C.J. Haberstroh, yang
menitikberatkan pada arus balik (feedback) dari hasil keputusan, yaitu :
1. Pengenalan masalah atau kebutuhan akan keputusan
2. Analisa dari pernyataan alternatif-alternatif
3. Pilihan diantara alternatif-alternatif
4. Komunikasi dan implementasi keputusan
5. Tindak lanjut dan arus balik hasil-hasil keputusan
Kedua model tersebut tidak bertentangan, model Simon pada hakikatnya menyatakan
bahwa pelaksanaan adalah keputusan dan keputusan lain diperlukan untuk tindak lanjut.
Langkah-langkah pengambilan
keputusan dalm rangka memecahkan
masalah yang rumit dan sulit, yaitu :
1. Identifikasi Masalah
Dalam proses pengambilan keputusan,
masalah yang dihadapi harus benar-benar
jelas, harus jelas pula rumusannya. Didalam
proses ini dilihat tingkat kerumitan dari
permasalahan yang dihadapi tersebut
kemudian mengidentifikasi faktor-gaktor
penyeban munculnya suatu permasalahan,
sehingga dalam memecahkan masalah
dapat ditentukan cara terbaik yang efektif
dan efisien.

2. Pengumpulan Data
Untuk memecahkan suatu permasalahan data sangat diperlukan, data ini harus
relevan.oleh karena itu pentingnya suatusistem informasi dalam suatu manajemen. Data
bukan saja informasi yang masuk, kemudian disimpan untuk dijadikan lagi informasi
keluar, tetapi juga hasil pemecahan masalah di waktu yang lampau/ permasalahan yang
sebelumnyakemudian disimpan untuk dijadikan bahan perbandinagan dan landasan
pemecahan masalah yang sama dimasa yang akan datang.
Sistem Penunjang Keputusan | 11

3. Analisis Data
Pada tahap ini, data yang terkumpul diolah dengan sistematis , sesuai dengan
perumusan pada tahap identifikasi masalah. Dat yang sudah dikumpulkan tersebut kini
menjadi informasi, dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
4. Penentuan Alternatif
Data yang telah dianalisa itu akan menimbulkan beberapa alternatif yang harus
ditentukan. Dalam penentuan alternatif ini harus berdasarkan pertimbangan yang matang,
berlandaskan pemikirtan yang logis.
5. Pelaksanaan alternatif
Jika alternatif telah diputuskan,maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan alternatif
tersebut yang menghendaki direalisasikan dalam bentuk kegiatan kegiatan. Palaksanaana
harus sesuai denagn strategi yang telah ditentukan.
6. Penilaian
Penilaian atau evaluasi merupakan tahap akhir proses pengambilan keputusan.
Penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
perencanaan atau tidak , jika tidak sesuai maka harus segera mengambil tindakan-tindakn
untuk memperbaikinya. Penilaian harus dilakukan secara obyektif.

2.4 SARANA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Dalam memecahkan masalah tertentu ada baiknya seorang pemimpin
mengikutsertakan bawahannya dalm mengambil suatu keputusan.dengan menerapkan hal
ini, mencerminkan bahwa seseseorang memiliki sifat kepemimpnan yang tinggi, karena
jika dilihat dari teori kepemimpin ia tealah melaksanakan gaya kepemimpinan yang
demokratis.
1. Rapat (meeting)
Rapat apapun juga dalam suatu organisasi harus ada yang memimpin dengan otoritas
sang pemimpin yang bervariasi sesuai dengan formal atau tisak formalnya suatu rapat.
Otoritasnya tersebut tergantung pada tujuan yangakan dicapai.
Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari rapat, yaitu :
Masalah yang akan dipecahkan menjadi lebih jelas, karena dikupas dalam forum
terbuka
Pertukaran pengetahuan dan pengalaman diantara peserta rapatakan dapat
menghasilkan cara yangfalebih efektif
Sistem Penunjang Keputusan | 12

Akan timbul lebih banyak alternatif, sehingga dapat dipilih salh satu yang
terbaik.
Menanamkan rasa keterikatan diantara para pegawai, sehingga menumbuhkan
rasa tanggung jawab yang lebih besar.
Dapat mengembangkan jiwademokrasi, karena para peserta rapat terlatih untuk
menerima pendapat oranglain .
2. Curah Saran
Curah saran atau brainstroming adalah suatu cara untuk mendapatkan banyak
gagasan dari sekelompok manusia dalam waktu yang sangat singkat. Cuarah saran
merupakan tatacara untuk mengembangkan kreatifitas dalam suatu kelompokdaengan
menghilangakan atau meangurangi faktor-faktoryang merintangi pengekspresian gagasan-
gagasan baru yang kreatif. Austin J. Freeley mengatakan curah saran adlah untuk
menciptakan suatu situasi yang mengadakan jalan pintas dalam proses logis dan untuk
memepruduksi sejumlah besar gagasan dalam waktu singkat.dalam curah saran suasana
yang dibangun lebih santai dibandingkan dengan rapatn pesertanya tidak lebih dari 15
orang.
Hasil keputusan pentiung, karena merupakan informasi bagi manajemen, baik untuk
tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pengawaqsan. Penyampaian dan penyebaran
informasi kepada khalayak yang dilaksanakan dengan sistem yang mapan dan mantap akan
merupakan bantuan yang besar bagi lancarnya manajemen.











Sistem Penunjang Keputusan | 13

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

pengambilan keputusan ( decision making ) memegang peran sangat penting, oleh
karena keputusan yang diambil oleh seorang manajer merupakan hasil pemikiran akhir
yang harus dilaksanakan oleh bawahannya atau mereka yang bersangkutan dengan
organisasi yang ia pimpin. Tujuan dari pengambilan keputusan, ada yang bersifat tunggal
dan bersifat ganda. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan diantaranya:
posisi/kedudukan, masalah, kondisi, situasi, tujuan. Herbert A. Simon membagi keputusan
menjadi dua, yakni: keputusan terpogram (progammed decision), dan keputusan tidak
terpogram (nonprogammed decision).
langkah-langkah dalam pengambilan keputusan diawali dengan intelegensi, lalu
rancangan, setelah itu pilihan. Sarana dalam pengambilan keputusan diantaranya melalui
rapat (meeting), curah saran, dll.

















Sistem Penunjang Keputusan | 14

DAFTAR PUSTAKA

Rochaety, Ridwan .Z, Setyowati. 2013. Sistem Informasi Manajemen Edisi 2. Jakarta:
Penerbit Mitra Wacana Media.

Mcleod Jr. Raymon, & Schell George P. 2008. Sistem Informasi Manajemen Edisi
kesepuluh..Jakarta: Salemba Empat.

Siagian, Sondang P. 2011. Filsafat Administrasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Effendy, Onong Uchiana. 1989. Sistem informasi manajemen. Bandung: Mandar Maju

Iqbal, M. Hasan. 2002. Pokok Materi Pengambilan Keputusan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Manurung, Adler, Haymans, 1991, Pengambilan Keputusan Pendekatan Kuantitatif,
Jakarta: Rineka Cipta.