Anda di halaman 1dari 33

Kembar siam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Kembar siam adalah keadaan anak kembar yang tubuh keduanya bersatu. Hal ini terjadi apabila
zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara sempurna. Kemunculan kasus kembar siam
diperkirakan adalah satu dalam 200.000 kelahiran. Yang bisa bertahan hidup berkisar antara 5%
dan 25%, dan kebanyakan (75%) berjenis kelamin perempuan.
Istilah kembar siam berawal dari pasangan kembar siam terkenal Chang dan Eng Bunker (1811-
1874) yang lahir di Siam (sekarang Thailand). Kasus kembar siam tertua yang tercatat adalah
Mary dan Eliza Chulkhurst dari Inggris yang lahir pada tahun 1100-an.
Daftar isi
1 Penyebab Kelahiran Kembar
2 Proses
3 Persentase hidup
4 Pembagian jenis kembar siam
5 Kasus kembar siam di Indonesia
o 5.1 Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani
o 5.2 Anandya Yoris Safadia dan Anindya Yoris Safadia
o 5.3 Perina Nurfarida dan Perani Nuraida
o 5.4 Nugroho Yuliana dan Nugroho Yuliani
o 5.5 Abdurrahman dan Abdurrohim
o 5.6 Manna dan Salwa
o 5.7 Siti Maryati dan Siti Maryani
o 5.8 Anggi dan Anjeli
o 5.9 Arda dan Ardi
o 5.10 Dwipayani dan Dwipayanti
o 5.11 Ahmad Mukti Abadi dan Amir Machmud
o 5.12 Mia Ayu Lestari dan Nia Ayu Lestari
o 5.13 Listiani 1 dan Listiani 2
o 5.14 Rochman dan Rochim
6 Pranala luar
Penyebab Kelahiran Kembar
Banyak faktor diduga sebagai penyebab kehamilan kembar. Selain faktor genetik, obat penyubur
yang dikonsumsi dengan tujuan agar sel telur matang secara sempurna, juga diduga ikut memicu
terjadinya bayi kembar. Alasannya, jika indung telur bisa memproduksi sel telur dan diberi obat
penyubur, maka sel telur yang matang pada saat bersamaan bisa banyak, bahkan sampai lima dan
enam. selain itu juga penyebab lahirnya bayi kembar siam adalah karena adanya proses
pembelahan sel telur yang tidak sempurna.
Proses
Secara garis besar, kembar dibagi menjadi dua. Monozigot, kembar yang berasal dari satu telur
dan dizigot kembar yang berasal dari dua telur. Dari seluruh jumlah kelahiran kembar,
sepertiganya adalah monozigot. Kembar dizigot berarti dua telur matang dalam waktu
bersamaan, lalu dibuahi oleh sperma. Akibatnya, kedua sel telur itu mengalami pembuahan
dalam waktu bersamaan. Sedangkan kembar monozigot berarti satu telur yang dibuahi sperma,
lalu membelah dua. Masa pembelahan inilah yang akan berpengaruh pada kondisi bayi kelak.
Masa pembelahan sel telur terbagi dalam empat waktu, yaitu 0 - 72 jam, 4 - 8 hari, 9-12 dan 13
hari atau lebih. Pada pembelahan pertama, akan terjadi diamniotik yaitu rahim punya dua selaput
ketuban, dan dikorionik atau rahim punya dua plasenta. Sedangkan pada pembelahan kedua,
selaput ketuban tetap dua, tapi rahim hanya punya satu plasenta. Pada kondisi ini, bisa saja
terjadi salah satu bayi mendapat banyak makanan, sementara bayi satunya tidak. Akibatnya,
perkembangan bayi bisa terhambat. Lalu, pada pembelahan ketiga, selaput ketuban dan plasenta
masing-masing hanya sebuah, tapi bayi masih membelah dengan baik.
Pada pembelahan keempat, rahim hanya punya satu plasenta dan satu selaput ketuban, sehingga
kemungkinan terjadinya kembar siam cukup besar. Pasalnya waktu pembelahannya kelamaan,
sehingga sel telur keburu berdempet. Jadi kembar siam biasanya terjadi pada monozigot yang
pembelahannya lebih dari 13 hari.
Dari keempat pembelahan tersebut, tentu saja yang terbaik adalah pembelahan pertama, karena
bayi bisa membelah dengan sempurna. Namun, keempat pembelahan ini tidak bisa diatur
waktunya. Faktor yang memengaruhi waktu pembelahan, dan kenapa bisa membelah tidak
sempurna sehingga mengakibatkan dempet, biasanya dikaitkan dengan infeksi, kurang gizi, dan
masalah lingkungan.
Persentase hidup
Sejumlah kesimpulan medis menyebutkan, terjadi satu kasus kembar siam untuk setiap 200 ribu
kelahiran. Jadi, jika Indonesia berpenduduk 200 juta, ada peluang 1.000 kasus kembar siam!.
Dari semua kelahiran kembar siam, diyakni tak lebih dari 12 pasangan kembar siam yang hidup
di dunia. Saat dilahirkan kebanyakan kembar siam sudah dalam keadaan meninggal, yang lahir
hidup hanya sekitar 40 persen.
Dari mereka yang lahir hidup, 75 persen meninggal pada hari-hari pertama dan hanya 25 persen
yang bertahan hidup. Itu pun sering kali disertai dengan kelainan bawaan dalam tubuhnya
(incomplete conjoined twins). Apakah itu organ pada bagian ekstoderm, yakni kulit, hidung dan
telinga, atau mesoderm yang mencakup otot, tulang dan saraf, atau bias juga indoderm, yakni
bagian organ dalam seperti hati, jantung, paru dan otak.
Pembagian jenis kembar siam
Kembar siam itu sendiri yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan, terbagi dalam beberapa
jenis kasus, yang didasari posisi pelekatan keduanya.
Dari seluruh kembar dempet, kebanyakan dempet terjadi pada empat anggota tubuh, yaitu dada
sebanyak 40 persen, perut 35 persen, kepala 12 persen dan panggul antara enam hingga sepuluh
persen.

Ada beberapa jenis kembar siam:
Thoracopagus: kedua tubuh bersatu di bagian dada (thorax). Jantung selalu terlibat dalam
kasus ini. Ketika jantung hanya satu, harapan hidup baik dengan atau tanpa operasi
adalah rendah. (35-40% dari seluruh kasus)
Omphalopagus: kedua tubuh bersatu di bagian bawah dada. Umumnya masing-masing
tubuh memiliki jantung masing-masing, tetapi biasanya kembar siam jenis ini hanya
memiliki satu hati, sistem pencernaan, diafragma dan organ-organ lain. (34% dari seluruh
kasus)
o Xiphopagous: kedua tubuh bersatu di bagian xiphoid cartilage.
Pygopagus (iliopagus): bersatu di bagian belakang. (19% dari seluruh kasus)
Cephalopagus: bersatu di kepala dengan tubuh yang terpisah. Kembar siam jenis ini
umumnya tidak bisa bertahan hidup karena kelainan serius di otak. Dikenal juga dengan
istilah janiceps (untuk dewa Janus yang bermuka dua) atau syncephalus.
o Cephalothoracopagus: Tubuh bersatu di kepala dan thorax. Jenis kembar siam ini
umumnya tidak bisa bertahan hidup. (juga dikenal dengan epholothoracopagus
atau craniothoracopagus)
Craniopagus: tulang tengkorak bersatu dengan tubuh yang terpisah. (2%)
o Craniopagus parasiticus - bagian kepala yang kedua yang tidak memiliki tubuh.
Dicephalus: dua kepala, satu tubuh dengan dua kaki dan dua atau tiga atau empat lengan
(dibrachius, tribrachius atau tetrabrachius) Abigail dan Brittany Hensel, adalah contoh
kembar siam dari Amerika Serikat jenis dicephalus tribrachius.
Ischiopagus: kembar siam anterior yang bersatu di bagian bawah tubuh. (6% dari seluruh
kasus)
Ischio-omphalopagus: Kembar siam yang bersatu dengan tulang belakang membentuk
huruf-Y. Mereka memiliki empat lengan dan biasanya dua atau tiga kaki. Jenis ini
biasanya memiliki satu sistem reproduksi dan sistem pembuangan.
Parapagus: Kembar siam yang bersatu pada bagian bawah tubuh dengan jantung yang
seringkali dibagi. (5% dari seluruh kasus)
Diprosopus: Satu kepala dengan dua wajah pada arah berlawanan.
Kasus kembar siam di Indonesia
Seperti halnya belahan dunia lain, kasus kembar siam juga terjadi di Indonesia. Kemajuan dan
kemampuan tenaga medis Indonesia berikut peralatan kedokteran yang cukup membanggakan,
membuat operasi bisa dilangsungkan di Tanah Air. Namun ada juga yang harus dibawa ke luar
negeri. Berikut beberapa kasus kembar siam lainnya yang terjadi di Indonesia.
Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani
Operasi pemisahan kembar siam dempet kepala Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani merupakan
kesuksesan besar dalam dunia kedokteran di Tanah Air karena dempet kepala pertama yang
berhasil dipisahkan di Indonesia.
Yuliana dan Yuliani lahir di RS Tanjung Pinang, Riau, pada 31 Juli 1987. Kondisinya saat itu
dempet kepala di bagian ubun-ubun (craniopagus vertical). Saat dioperasi selama 13 jam pada 21
Oktober 1987, mereka masih berusia 2 bulan 21 hari. Proses pemisahan yang dipimpin Prof. Dr.
R.M. Padmosantjojo dengan total 96 dokter, berlangsung di RS Cipto Mangunkusomo dengan
biaya Rp 42 juta. Saat ini keduanya tinggal bersama orangtuanya Tularji dan Hartini di
Tanjungpinang, Riau.
Kasus mereka menjadi momentum. Ini untuk pertama dokter Indonesia berhasil memisahkan
bayi kembar siam yang dempet pada tengkorak kepala. Jarang kembar siam dengan kondisi
seperti mereka yang selamat dari meja operasi. Termasuk yang tidak selamat itu adalah kembar
siam asal Iran Ladan-Laleh Bijani. Kelahiran bayi kembar siam memiliki rasio 1:200 ribu
kelahiran, tetapi kembar dengan bagian atas kepala menyatu atau craniopagus memiliki
persentasi dua persen dari rasio tersebut. Hanya 15 persen kembar craniopagus hidup hingga usia
lima tahun dan hanya satu yang mencapai usia dewasa.
Anandya Yoris Safadia dan Anindya Yoris Safadia
Bayi kembar siam Anandya Yoris Safadia dan Anindya Yoris Safadia yang dilahirkan 1 Juni
1998 dengan bagian tengah dada dan perut berdempet (thoraco-abdominopagus). Organ kedua
bayi tersebut terpisah. Bagian tubuh yang menyatu hanya lapisan dalam dinding perut
(peritoneum) dan lemak usus (omentum). Sedangkan jantung, hati, usus, dan organ dalam perut
lainnya terpisah.
Pemisahan kedua putri Muhammad Jumain dan Yuli Astuti ini berlangsung selama 1,5 jam di
Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang, pada 25 Mei 1999, dan berakhir sukses.
Anggota tim dokter yang terlibat antara lain Prof Dr dr H Faik Heyder, dr H Yulianto, dr FX
Soetoko dan dr Karsono.
Perina Nurfarida dan Perani Nuraida
Kembar siam Perina Nurfarida dan Perani Nuraida lahir di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta
pada tanggal 21 April 2002. Bayi pasangan Nunik dan Dian tersebut termasuk tipe omfalofagus
yang menyatu rongga perut dan panggulnya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan terjadi penyatuan hati dengan penampang perlengketan 11,5 x
11 cm. Selain itu, ujung usus halus dan usus besar menyatu dan bermuara pada kloaka, rongga
dalam tubuh bawah, bersama saluran dari kandung kemih. Pada masing-masing bayi terdapat
sepasang ginjal dengan sistem saluran kemih menyilang satu sama lain.
Meski kedua tulang panggul terpisah, mereka hanya memiliki satu ovarium dan satu uterus
rudimenter. Bayi tersebut menjalani operasi dua tahap. Namun, kemudian mereka meninggal
dunia setelah menjalani operasi tahap kedua, yakni pemisahan tubuh mereka pada tanggal 26
Februari 2003.
Nugroho Yuliana dan Nugroho Yuliani
Kembar siam Nugroho Yuliana dan Nugroho Yuliani merupakan anak pasangan Suyono dan Sri
Mariyati asal Desa Balerejo, Madiun, Jawa Timur. Keduanya lahir melalui operasi ceasar di
RSUD dr Soedono Madiun pada 3 Maret 2003. Pihak RSUD dr Soedono Madiun merujuk bayi
kembar siam tersebut ke RSUD Dr Soetomo Surabaya karena tidak mampu menanganinya.
Prof. Soegeng Soekamto Martprawiro, seorang ahli patologi turut serta memisahkan Yuliana dan
Yuliani pada Minggu 21 Maret 2003, beberapa jam setelah kembar siam itu meninggal dunia
sekitar pukul 04.50 Wib. Pemisahan tetap dilakukan atas permintaan orang tua si kembar siam,
lantas di masukkan dalam peti dan dimakamkan secara terpisah di desanya.
Tim dokter menyatakan Yuliana dan Yuliani meninggal akibat thorako ompalo fagus atau
mengalami kegagalan bawaan fungsi-fungsi organ secara multiple. Kelainan itu antara lain otak
bayi mengalami pembengkakan karena kekurangan oksigen. Selain itu, tulang dada dan leher
keduanya saling menarik. Kedua bayi ini pun hanya memiliki satu kantung jantung, sementara
paru-parunya mengembang tidak sempurna.
Faktor inilah yang antara lain membuat dokter sejak awal berkesimpulan bayi ini tak mungkin
dipisahkan. Kalaupun dipaksa dipisahkan bayi kembar ini akan meninggal di meja operasi. Saat
meninggal berat kedua bayi 5,5 kg dan mereka merupakan bayi kembar siam ke-16 yang pernah
ditangani RSUD Dr Soetomo.
Abdurrahman dan Abdurrohim
Seperti kembar siam lainnya, Abdurrahman dan Abdurrohim pun punya kelainan fisik saat
dilahirkan. Mereka dempet di bagian panggul, tanpa anus, jantung salah satu bayi terletak di
sebelah kanan, padahal harusnya di kiri. Rongga panggul juga cuma satu dan keduanya hanya
punya satu kelamin dan satu testis. Keduanya diperkirakan berjenis kelamin lelaki, karena
biasanya, kembar siam punya jenis kelamin sama, karena berasal dari satu telur.
Abdurrahman dan Abdurrohim merupakan anak ke delapan dan ke sembilan pasangan Rodiah
dan Asep, penduduk Sindang Palay, Desa Rahayu, Kec. Margaasih, Bandung, Jawa Barat. Proses
caesar membantu kelahiran mereka pada 12 Juli 2003 di RS Astana Anyar, Bandung. Sehari
berikutnya kedua kedua bayi langsung dibawa ke RS Hasan Sadikin, Bandung.
Namun dalam usia 13 hari, akhirnya meninggal dunia dalam perawatan di ruang Neonatal
Intensive Care unit (NICU) RS Hasan Sadikin sebelum sempat dioperasi. Bayi Abdurachman
meninggal lebih dulu sekitar pukul 07.00 Wib, disusul adiknya Abdurachim yang meninggal
sekitar pukul 09.10 Wib. Keduanya mengalami kesulitan spontanitas bernapas sehingga harus
memakai alat bantu pernapasan (ventolator) serta ditemukannya kuman yang sudah resisten
terhadap antibiotik. Selain itu kedua bayi itu mengalami kelainan dalam darahnya, kandungan
trombosit, lekosit dan haemoglobin berada di bawah normal.
Manna dan Salwa
Ketika melahirkan prematur pada 25 Juli 2003 Ani Aristin, warga Desa Gladak Kembar,
Purwoasri, Banyuwangi, Jawa Timur, mendapatkan tiga bayi kembar. Namun dua di antaranya
berdempet. Kembar siam yang belakangan diberi nama Manna dan Salwa, langsung dibawa sang
suami Muhammad Hakim Firman ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sementara Salma, kembar
satu lagi yang tidak dempet dengan seperti dua saudara kembarnya, tetap bersama sang ibu di RS
Perkebunan Bhakti Husada, Desa Krikilan, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.
Manna dan Salwa dempet dada hingga pinggang, dengan hanya memiliki sepasang kaki dan dua
pasang tangan. Tim dokter RSUD Dr Soetomo yang diketuai Prof dr Silvy Damanik SpA telah
memutuskan untuk tidak melakukan operasi pemisahan pada keduanya, karena risiko kematian
yang dihadapi cukup besar
Siti Maryati dan Siti Maryani
Proses kelahiran kembar siam Siti Maryati dan Siti Maryani dilakukan melalui operasi caesar
pada 17 Januari 2004, di RS Marga Husada, Wonogiri, Jawa Tengah. Keduanya anak pasangan
Daryono dan Luluk Kusnaeni, penduduk Desa Pencil, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri.
Mereka hanya dempet sangat tipis di perut sepanjang dua centimeter dan tidak ada organ dalam
yang menyatu. Pemisahan kembar siam ini berhasil dilakukan melalui operasi selama dua jam
pada 11 Februari 2004 oleh 40 dokter yang diketuai Prof Achmad Surjono, dari RSUP Sardjito,
Yogyakarta. Saat itu usia keduanya baru 24 hari dan dinyatakan dapat dibawa pulang pada usia
44 hari.
Ini adalah operasi kembar siam pertama yang dilakukan RSUP Dr Sardjito. Sebelumnya, rumah
sakit ini pernah menangani tiga kasus kembar siam sejak tahun 1970-an. Namun, mereka
umumnya meninggal terlebih dulu sebelum dioperasi dalam usia berkisar lima sampai tujuh hari.
Anggi dan Anjeli
Ketika akhirnya Anggi dan Anjeli di bawa ke Singapura untuk menjalani operasi, itu karena
sejumlah rumah sakit mengaku tidak mampu melakukan pemisahan. Di mulai dari RS Vita
Insani, Pematang Siantar dan RSUP Adam Malik Medan di Sumatera Utara, hingga RS Cipto
Mangunkusumo, Jakarta. Alasannya risiko kematian yang tinggi.
Maka kembar siam yang lahir 11 Februari 2004, ini pun menjalani operasi pemisahan di Rumah
Sakit Gleaneagles, Singapura. Jauh meninggalkan kampung halamannya di Desa Kampung Baru,
Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Simalungun, Sumatera Utara, sekitar 200 kilometer dari
Medan, untuk menjalani operasi berbiaya hingga Rp 5 miliar.
Seperti halnya pasangan pemilik bayi kembar siam, pasangan Subari dan Neng Harmanian
akhirnya bisa membawa anak kedua dan ketiganya ke Singapura atas bantuan sejumlah
dermawan. Saat operasi pemisahan selama sembilan jam pada Sabtu 21 Mei 2005, tim dokter
berjumlah 15 orang yang dipimpin dr Tan Kai Chah, dilakukan beberapa rekayasa medis pada
Anggi dan Anjeli karena memiliki kelainan lubang anus, kelamin, pinggul, perut besar, usus dan
lambung. Dari tiga kaki yang ada sedari lahir, akhirnya masing-masing hanya mendapat satu
kaki. Keduanya tiba di Tanah Air pada 18 Juli 2005.
Arda dan Ardi
Naas menimpa kembar siam Arda dan Ardi, anak pertama pasangan Sutikno dan Marlina, warga
Desa Kampung Wates, Kecamatan Teluknaga, Tangerang, Jawa Barat. Arda dan Ardi akhirnya
meninggal dunia pada 12 April 2004 sebelum menjalani operasi. Pihak keluarga menduga pihak
rumah sakit lamban dan tidak maksimal memberikan penanganan.
Ardi, meninggal sekitar 00.30 Wib, sedangkan Arda jam 09.00 Wib. Dempet dari leher sampai
perut ini lahir 9 April 2004 dengan bantuan bidan. Karena keadaannya dempet, lantas diujuk ke
RSUD Tangerang dan selanjutnya dirujuk lagi ke RS Cipto Mangunkusomo, Jakarta dan
meninggal di sana.
Dwipayani dan Dwipayanti
Kembar siam Dwipayani dan Dwipayanti merupakan putri pasangan I Gusti Ayu Ketut Sriyani
dan Gusti Eka Laya Kunta, seorang anggota polisi berpangkat Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda)
yang tinggal di Desa Mengwi, Denpasar, Bali. Kembar siam ini lahir pada 1 Mei 2004, dengan
kondisi dempet pada bagian dada hingga perut.
Operasi pemisahan berbiaya Rp 532 juta, dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr
Soetomo, Surabaya, Jawa Timur. Sebelum menjalani pemisahan, kembar siam ini terlebih dahulu
menjalani operasi tissue expander, memasukkan sebuah alat untuk pengembangan jaringan kulit
sebelum operasi pemisahan. Pada Sabtu, 29 Januari 2005, sekitar pukul 15.50 Wita, sebanyak 42
anggota tim dokter yang menangani operasi berhasil memisahkan keduanya. Ini merupakan
pasien kembar siam ke 17 yang ditangani RSUD Dr Soetomo.
Sayangnya, pada 3 Februari, atau lima hari pasca operasi, Dwipayani meninggal dunia saat
dalam perawatan di rumah sakit karena kebocoran di jantungnya. Dia dikuburkan di Setra
Kekeran, Mengwi, Bali. Sedangkan Dwipayanti dalam keadaan sehat hingga kini.
Ahmad Mukti Abadi dan Amir Machmud
Setelah menjalani operasi selama lebih dari lima jam, akhirnya tim dokter dari RSUD Dr.
Soetomo Surabaya berhasil memisahkan bayi kembar siam tidak sempurna (incomplete
conjoined twin), Ahmad Mukti Abadi dan Amir Machmud, putra M Rizqon dan Munatin. Dr
Teguh Sylvaranto SpAn KIC memimpin operasi pemisahan yang melibatkan 25 orang dokter itu
pada 2 Juni 2005, ketika kembar siam itu masih berusia 104 hari.
Saat lahir pada 15 Februari 2005, kondisi normal terlihat pada tubuh Abadi. Sementara kondisi
kembarannya Machmud tumbuh tidak lengkap. Amir disebut sebagai bayi parasit karena
menempel pada tubuh Abadi. Machmud hanya mempunyai liver, limpa, sepasang ginjal. Namun
belakangan Mahmud ternyata mengalami perkembangan pesat.
Mia Ayu Lestari dan Nia Ayu Lestari
Proses pemisahan kembar siam perempuan Mia Ayu Lestari dan Nia Ayu Lestari yang dilakukan
di Rumah Sakit (RS) Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sebenarnya berlangsung sukses. Kondisi
keduanya pasca operasi lumayan baik. Namun akhirnya anak kedua dan ketiga pasangan Nurlela
dan Mulyadi yang lahirkan pada 22 Maret 2005 ini meninggal dunia. Penyebabnya karena
kondisi beberapa organ tubuh menurun, terutama pernapasan dan pencernaan. Aliran darah dan
fungsi jantung juga mengalami kemunduran.
Operasi pemisahan dempet pada bagian perut ini berlangsung selama empat jam pada 11 Juni
2005. Mia Ayu Lestari atau Nurlela I akhirnya meninggal dunia pada 29 Juni 2005, dalam usia
tiga bulan atau 18 hari setelah operasi. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman keluarga di
Kecamatan Tanah Sareal, Bogor, Jawa Barat, persis di samping makam Nia Ayu Lestari atau
Nurlela II, saudara kembar siamnya yang meninggal terlebih dahulu pada 17 Juni 2005.
Listiani 1 dan Listiani 2
Dalam kasus terakhir, pada 19 September 2005 lalu lahir prematur kembar siam dempet di
bagian dada dan perut. Berat lahirnya 3,4 kilogram dan panjang 32 sentimeter. Kembar siam
laki-laki yang belum diberi nama itu merupakan anak pertama pasangan Made Yasa Antara dan
Wayan Listiani yang bermukim di Banjar Pengorekan, Ubud, Gianyar, Bali.
Diagnosa awal menunjukkan bayi Listiani hanya memiliki satu jantung yang ternyata juga
memiliki kelainan pula. Serambi yang dimiliki cuma satu, bilik dua dan ada kebocoran di dua
tempat. Kerja pembuluh darahnya juga tidak teratur. Darah kotor dan darah bersih bercampur,
sehingga kasus ini disebut juga bayi biru. Selain itu, hati atau livernya juga menyatu.
Karena belum diberi nama, kembar siam itu disebut Listiani 1 dan Listiani 2. Saat dalam
perawatan di RS Sanglah, Bali, keduanya meninggal dunia pada hari Kamis, 29 September 2005
sekitar pukul 14.00 WITA. Penyebab utamanya gagal jantung. Hal yang sudah diperkirakan
dokter sejak awal.
Rochman dan Rochim
Rochman dan Rochim, bayi kembar siam dengan nama asli Abdurrohman dan Abdurrohim,
dilahirkan di RSU Swadana, Jombang pada 4 September 2009 dengan berat 5,1 kilogram dan
panjang 39 centimeter. Kedua anak pasangan Anis Mulyo dan Supinah ini, berjenis kelamin laki-
laki dan dempet pada bagian pinggul. Seperti kembar siam lainnya, Rochman dan Rochim
mempunyai kelainan fisik saat dilahirkan. Selain dempet di bagian pinggul, mereka berdua hanya
memiliki satu alat kelamin laki-laki.
Operasi pemisahan dilakukan di Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSU dr. Soetomo,
Surabaya pada tanggal 9 April 2011. Operasi pemisahan ini melibatkan 100 dokter dari
berbagai bidang keahlian. Ketua Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu (PPKST), dr
Agus Harianto SpA(K) kepada wartawan, menjelaskan bahwa pemisahan keduanya akan
memakan waktu selama 27 jam. Sehari menjelang operasi, pihaknya sempat menemukan
adanya infeksi di daerah anus bayi di bayi berusia 19 bulan tersebut. Namun dokter telah
memberikan obat antiobiotika Distosia Kelainan Janin


DISTOSIA

Definisi
Distosia adalah kelambatan atau kesulitan dalam jalannya persalinan.
Etiologi
Distosia dapat disebabkan karena kelainan his ( his hipotonik dan his hipertonik ), karena
kelainan besar anak, bentuk anak ( hidrocefalus, kembar siam, prolaps tali pusat ), letak anak
(letak sungsang, letak melintang ), serta karena kelainan jalan lahir.
1. DISTOSIA KARENA KELAINAN HIS
Kelainan his dapat berupa inersia uteri hipotonik atau inersia uteri hipertonik.
a. I nersia uteri hipotonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah / tidak adekuat untuk melakukan pembukaan
serviks atau mendorong anak keluar. Di sini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering
dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu
teregang misalnya akibat hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara
atau primipara, serta pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik.
Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks, fase laten atau fase aktif, maupun pada kala
pengeluaran.
Inertia uteri hipotonik terbagi dua, yaitu :
1. Inersia uteri primer
Terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah terjadi his yang tidak adekuat ( kelemahan
his yang timbul sejak dari permulaan persalinan ), sehingga sering sulit untuk memastikan
apakah penderita telah memasuki keadaan inpartu atau belum.
1. Inersia uteri sekunder
Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II. Permulaan his baik, kemudian pada keadaan
selanjutnya terdapat gangguan / kelainan.
Penanganan :
1. Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan harus
diperhatikan.
2. Penderita dipersiapkan menghadapi persalinan, dan dijelaskan tentang
kemungkinan-kemungkinan yang ada.
3. Teliti keadaan serviks, presentasi dan posisi, penurunan kepala / bokong
bila sudah masuk PAP pasien disuruh jalan, bila his timbul adekuat
dapat dilakukan persalinan spontan, tetapi bila tidak berhasil maka akan
dilakukan sectio cesaria.
b. I nersia uteri hipertonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi
normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah uterus,
sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar.
Disebut juga sebagai incoordinate uterine action. Contoh misalnya tetania uteri karena obat
uterotonika yang berlebihan.
Pasien merasa kesakitan karena his yang kuat dan berlangsung hampir terus-menerus. Pada janin
dapat terjadi hipoksia janin karena gangguan sirkulasi uteroplasenter.
Faktor yang dapat menyebabkan kelainan ini antara lain adalah rangsangan pada uterus,
misalnya pemberian oksitosin yang berlebihan, ketuban pecah lama dengan disertai infeksi, dan
sebagainya.
Penanganan
Dilakukan pengobatan simtomatis untuk mengurangi tonus otot, nyeri, mengurangi ketakutan.
Denyut jantung janin harus terus dievaluasi. Bila dengan cara tersebut tidak berhasil, persalinan
harus diakhiri dengan sectio cesarea.
2. DISTOSIA KARENA KELAINAN LETAK
a) Letak Sungsang
Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala di fundus
uteri dan bokong dibawah bagian cavum uteri.
Macam Macam Letak Sungsang :
1. Letak bokong murni ( frank breech )
Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas.
2. Letak sungsang sempurna (complete breech)
Kedua kaki ada disamping bokong dan letak bokong kaki sempurna.
3. Letak sungsang tidak sempurna ( incomplete breech )
Selain bokong sebagian yang terendah adalah kaki atau lutut.
Etiologi Letak Sungsang :
1. Fiksasi kepala pada PAP tidak baik atau tidak ada ; pada panggul sempit, hidrocefalus,
anencefalus, placenta previa, tumor.
2. Janin mudah bergerak ; pada hidramnion, multipara, janin kecil (prematur).
3. Gemelli
4. Kelainan uterus ; mioma uteri
5. Janin sudah lama mati
6. Sebab yang tidak diketahui.
Diagnosis Letak Sungsang :
1. Pemeriksaan luar, janin letak memanjang, kepala di daerah fundus uteri
2. Pemeriksaan dalam, teraba bokong saja, atau bokong dengan satu atau dua kaki.
Syarat Partus Pervagina Pada Letak Sungsang :
1. Janin tidak terlalu besar
2. Tidak ada suspek CPD
3. Tidak ada kelainan jalan lahir
Jika berat janin 3500 g atau lebih, terutama pada primigravida atau multipara dengan riwayat
melahirkan kurang dari 3500 g, sectio cesarea lebih dianjurkan.

b) Prolaps Tali Pusat
Yaitu tali pusat berada disamping atau melewati bagian terendah janin setelah
ketuban pecah. Bila ketuban belum pecah disebut tali pusat terdepan.
Pada keadaan prolaps tali pusat ( tali pusat menumbung ) timbul bahaya besar, tali pusat terjepit
pada waktu bagian janin turun dalam panggul sehingga menyebabkan asfiksia pada janin.
Prolaps tali pusat mudah terjadi bila pada waktu ketuban pecah bagian terdepan janin masih
berada di atas PAP dan tidak seluruhnya menutup seperti yang terjadi pada persalinan ;
hidramnion, tidak ada keseimbangan antara besar kepala dan panggul, premature, kelainan letak.
Diagnosa prolaps tali pusat ditegakkan bila tampak tali pusat keluar dari liang senggama atau
bila ada pemeriksaan dalam teraba tali pusat dalam liang senggama atau teraba tali pusat di
samping bagian terendah janin.
Pencegahan Prolaps Tali Pusat :
Menghindari pecahnya ketuban secara premature akibat tindakan kita.
Penanganan Tali Pusat Terdepan ( Ketuban belum pecah ) :
Usahakan agar ketuban tidak pecah
Ibu posisi trendelenberg
Posisi miring, arah berlawanan dengan posisi tali pusat
Reposisi tali pusat
Penanganan Prolaps Tali Pusat :
Apabila janin masih hidup , janin abnormal, janin sangat kecil harapan hidup
Tunggu partus spontan.
Pada presentasi kepala apabila pembukaan kecil, pembukaan lengkap
Vacum ekstraksi, porcef.
Pada Letak lintang atau letak sungsang Sectio cesaria
1. DISTOSIA KARENA KELAINAN JALAN LAHIR
Distosia karena kelainan jalan lahir dapat disebabkan adanya kelainan pada jaringan
keras / tulang panggul, atau kelainan pada jaringan lunak panggul.
a) Distosia karena kelainan panggul/bagian keras
Dapat berupa :
1. Kelainan bentuk panggul yang tidak normal gynecoid, misalnya panggul jenis
Naegele, Rachitis, Scoliosis, Kyphosis, Robert dan lain-lain.
2. Kelainan ukuran panggul.
Panggul sempit (pelvic contaction). Panggul disebut sempit apabila ukurannya 1 2 cm
kurang dari ukuran yang normal.
Kesempitan panggul bisa pada :
1. Kesempitan pintu atas panggul
Inlet dianggap sempit apabila cephalopelvis kurang dari 10 cm atau diameter transversa
kurang dari 12 cm. Diagonalis (CD) maka inlet dianggap sempit bila CD kurang dari 11,5
cm.
2. Kesempitan midpelvis
Diameter interspinarum 9 cm
Kalau diameter transversa ditambah dengan diameter sagitalis posterior kurang dari 13,5
cm.
Kesempitan midpelvis hanya dapat dipastikan dengan RO pelvimetri.
Midpelvis contraction dapat member kesulitan sewaktu persalinan sesudah kepala
melewati pintu atas panggul.
1. Kesempitan outlet
Kalau diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm.
Kesempitan outlet, meskipun mungkin tidak menghalangi lahirnya janin,
namun dapat menyebabkan rupture perineal yang hebat. Karena arkus pubis
sempit, kepala janin terpaksa melalui ruang belakang.
Ukuran rata-rata panggul wanita normal
1. Pintu atas panggul (pelvic inlet) :
Diameter transversal (DT) + 13.5 cm. Conjugata vera (CV) + 12.0 cm. Jumlah rata-rata
kedua diameter minimal 22.0 cm.
2. Pintu tengah panggul (midpelvis) :
Distansia interspinarum (DI) + 10.5 cm. Diameter anterior posterior (AP) + 11.0 cm.
Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 20.0 cm.
3. Pintu bawah panggul (pelvic outlet) :
Diameter anterior posterior (AP) + 7.5 cm. Distansia intertuberosum + 10.5 cm. Jumlah
rata-rata kedua diameter minimal 16.0 cm.
Bila jumlah rata-rata ukuran pintu-pintu panggul tersebut kurang, maka panggul tersebut
kurang sesuai untuk proses persalinan pervaginam spontan.
b) Kelainan jalan lahir lunak
Adalah kelainan serviks uteri, vagina, selaput dara dan keadaan lain pada jalan lahir yang
menghalangi lancarnya persalinan.
1.Distosia Servisis
Adalah terhalangnya kemajuan persalinan disebabkan kelainan pada servik uteri. Walaupun
harus normal dan baik, kadang kadang permukaan servik menjadi macet karena ada kelainan
yang menyebabkan servik tidak mau membuka.
Ada 4 jenis kelainan pada servik uteri :
Servik kaku (rigid cervix)
Servik gantung (hanging cervix)
Servik konglumer (conglumer cervix)
Edema servik
2.Kelainan selaput dara dan vagina
Selaput dara yang kaku, tebal
Penanganannya : dilakukan eksisi selaput dara (hymen)
Septa vagina
Sirkuler
Anteris posterior
Penanganan :
- Dilakukan eksisi sedapat mungkin sehingga persalinan berjalan
Lancar
- Kalau sulit dan terlalu lebar, dianjurkan untuk melakukan sectio
Cesaria
3.Kelainan kelainan lainnya
Tumor tumor jalan lahir lunak : kista vagina ; polip serviks, mioma
uteri, dan sebagainya.
Kandung kemih yang penuh atau batu kandung kemih yang besar.
Rectum yang penuh skibala atau tumor.
Kelainan letak serviks yang dijumpai pada multipara dengan perut
gantung.
Ginjal yang turun ke dalam rongga pelvis.
Kelainan kelainan bentuk uterus : uterus bikorvus, uterus septus,
uterus arkuatus dan sebagainya.





DISTOSIA AKIBAT KELAINAN JANIN

DISTOSIA KELAINAN JANIN

A. BAYI BESAR

1. Definisi

Bayi besar atau istilah latin dikenal makrosomia, atau Giant Baby (bayi raksasa), adalah bayi
dengan berat badan diatas 4 kilogram. Kejadian sangat bervariasi antara 8 sampai 10 % total
kelahiran.

2. Etiologi
Penyebab bayi mengalami makrosomia adalah :
a) Diabetes Mellitus (DM)
DM mengakibatkan ibu melahirkan bayi besar (makrosomia) dengan berat lahir mencapai
4000-5000 gram atau lebih. Namun bias juga sebaliknya, bayi lahir dengan berat lahir rendah,
yakni di bawah 2000-2500 gram. Dampak yang lebih parah yaitu mungkin janin meninggal
dalam kandungan karena mengalami keracunan.
b) Keturunan (orang tuanya besar)
c) Multiparitas dengan riwayat makrosomia sebelumnya

3. Penanganan
a) Periksa kehamilan di pos bidan desa atau puskesmas baik itu dilakukan oleh bidan maupun
dokter umum akan menjadi tempat skrinning awal, ada tidaknya masalah kehamilan seorang ibu.
b) Dengan periksa hamil teratur dapat ditekan resiko komplikasi bagi ibu yang sering terjadi akibat
bayi besar.
c) Segea dirujuk ke rumah sakit untuk konfirmasi pemeriksaan sonografi/sesar pada saat menjelang
persalinan.
d) Pemeriksaan kadar gula darah.


4. Pencegahan

Pencegahan dilakukan dengan melakukan penimbangan berat badan ibu secara teratur,
pengukuran tinggi fundus uteri dan pola makan yang benar, ANC teratur, USG.

5. Persalinan dengan makrosomia

Menentukan besarnya janin secara klinis memang sulit. Kadang - kadang baru diketahui
adanya janin besar setelah tidak adanya kemajuan persalinan pada panggul normal dan hiss yang
kuat.
Periksa dalam panggul normal, janin dengan BB 4000 - 5000 gr pada umumnya tidak
mengalami kesulitan dalam melahirkan, tapi mengingat ibu hamil dengan makrosomia
mempunyai resiko besar pada saat persalinan maka lebih baik melahirkan dengan operasi sesar.

B. HYDROCHEPALUS

1. Definisi

Hydrochepalus adalah keadaan dimana terjadi penimbunan cairan serebrospinalis dalam
pentrikel otak, sehingga kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura - sutura dan ubun -
ubun. Cairan yang tertimbun dalam pentrikel biasanya antara 500 - 1500 ml, akan tetapi kadang -
kadang dapat mencapai 5 liter. Hidrosepalus sering kali disertai kelainan bawaan lain seperti
Spinabipida.

2. Etiologi

Penyebab hidrosepalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan cerebro spinalis (CSS)
pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat
absorbsi dalam ruang subarakhnoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS
diatasnya.
Hidrosepalus disebabkan oleh satu dari 3 faktor :
a. Produksi CSS yang berlebihan
b. Obstruksi jalur CSS
c. Gangguan absorpsi CSS

3. Tanda dan Gejala
Gejala yang tampak dapat berupa :
Muntah, nyeri kepala, edema pupil saraf otak
Pada bayi biasanya disertai pembesaran tengkorak
Kepala bayi terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan tubuh
Ubun - ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya teraba tegang dan mengkilat
dengan pelebaran vena di kulit kepala
Sutura tengkorak belum menutup dan teraba melebar
Terdapat sunset sign pada bayi ( pada mata yang kelihatan hitam - hitamnya, kelopak mata tertarik
ke atas )
Bola mata terdorong ke bawah oleh tekanan dan penipisan tulang suborbita
Pergerakan mata tidak teratur
Kerusakan syaraf yang memberi gejala kelainan neurologis berupa gangguan kesadaran motorik
atau kejang - kejang, kadang - kadang gangguan pusat vital

4. Penanganan

Persalinan pada wanita dengan janin hidrosepalus perlu dilakukan pengawasan yang seksama,
karena bahaya terjadinya rupture uteri mengancam. Pada hidrocepalus yang nyata, kepala janin
harus dikecilkan pada permulaan persalinan. Pada pembukaan 3 cm cairan cerebrospinalis
dikeluarkan dengan Pungsi pada kepala dengan menggunakan jarum spinal, setelah kepala
mengecil, bahaya regangan segmen bawah uterus hilang, sehingga tidak terjadi kesulitan
penurunan kepala kedalam rongga panggul. Bila janin dalam letak sungsang, pengeluaran cairan
dari kepala yang tidak dapat lahir dilakukan dengan pungsi atau perforasi melalui foramen
oksipitalis magnum atau sutura temporalis. Dianjurkan juga untuk mencoba melakukan
ventrikulosentesis trans abdominal dengan jarum spinal, kandung kencing harus dikosongkan
terlebih dahulu.

5. Persalinan dengan Hydrosephalus
Kita harus ingat akan kemungkinan hydrosephalus jika :
a) Kepala tetap tinggi walaupun panggul baik dan hiss kuat
b) Kepala tetap dapat digoyangkan dan sangat lebar pada perabaan
c) Nampak ada spina bifida pada tubuh yang sudah lahir pada letak sungsang


C. ANENCEPHALUS

1. Definisi

Anensefalus adalah suatu keadaan dimana sebagian besar tulang tengkorak dan otak tidak
terbentuk. Anensefalus merupakan suatu kelainan tabung saraf yang terjadi pada awal
perkembangan janin yang menyebabkan kerusakan pada jaringan pembentuk otak. Anensefalus
terjadi jika tabung saraf sebelah atas gagal menutup,, tetapi penyebabnya yang pasti tidak
diketahui.





2. Etiologi
Penyebab anencefalus antara lain :
a) Faktor mekanik
b) Faktor infeksi
c) Faktor obat
d) Faktor umur ibu
e) Faktor hormonal
f) Faktor radiasi
g) Faktor gizi

Faktor resiko terjadinya anensefalus adalah :
Faktor ibu usia resti, riwayat anensefalus pada kehamilan sebelumnya, hamil dengan kadar
asam folat rendah, fenilketonuria pada ibu yang tidak terkontrol kekurangan gizi (malnutrisi),
mengkonsumsi kafein, tar, alkohol selama masa kehamilan.

3. Gejala
Tidak adanya tengkorak
Tidak adanya otak ( belahan otak dan otak kecil )
Wajah fitur abnormal
Jantung cacat

4. Penanganan
Perawatan dan penanganan janin / bayi baru lahir dengan anensephalus :
Perawatan pada bayi anensephalus akan ditujukan untuk memberikan dukungan emosional
kepada keluarga. Karena tidak ada pengobatan untuk anenshepalus, kurangnya pembentukan
otak, sekitar 75 % dapat menyebabkan bayi lahir mati. Resiko terjadinya anenshepalus bisa
dikurangi dengan meningkatkan asupan asam folat minimal 3 bulan sebelum hamil dan selama
kehamilan bulan pertama.


5. Pengaruh pada Kehamilan
Sering menimbulkan kehamilan serotin, biasanya disertai hydramnion, anak sering lahir
dengan letak muka, badan anak kadang - kadang besar dan menimbulkan kesukaran waktu baru
lahir.

D. KEMBAR SIAM

1. Definisi

Siam adalah keadaan anak kembar yang kembar organ tubuh keduanya bersatu. Hal ini terjadi
apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara sempurna. Karena terjadinya
pemisahan yang lambat, maka pemisah anak tidak sempurna dan terjadi kembar siam.

Kembar identik / kembar Monozyangotik, yaitu kembar yang berasal dari satu telur.
Mempunyai gen yang sama, jenis kelamin yang sama, dan muka yang seruoa. Proses terjadinya
kembar identik yaitu karena pada masa pembuahan sebuah sel telur matang dibuahi oleh sebuah
sperma yang membentuk zygot, kemudian zygot akan membelah dan berkembang menjadi 2
individu.


E. GAWAT JANIN

1. Definisi
Gawat janin terjadi jika janin tidak menerima cukup oksigen, sehingga mengalami hipoksia.
Situasi ini dapat terjadi kronik ( dalam jangka waktu lama), atau akut selama persalinan
menunjukkan hipoksia (kurang oksigen) pada janin tanpa oksigen yang adekuat. Pengendalian
frekuensi denyut jantung janin secara fisiologis terdiri atas beragam mekanisme yang saling
berkaitan dan bergantung pada aliran darah serta oksigenasi. Selain itu, aktivitas mekanisme -
mekanisme pengendali ini dipengaruhi oleh keadaan oksigenasi sebelumnya, seperti tampak
pada insufisiensi plasenta kronik.

2. Etiologi

Etiologi gawat janin yaitu terdiri dari berbagai hal baik dari faktor ibu maupun faktor janin
sehingga memicu terjadinya gawat janin, berikut etiologinya :
a) Insufisiensi uteroplasenter akut (kurangnya aliran darah uterus plasenta dalam waktu singkat)
b) Insufisiensi uteroplasenter kronik (kurangnya aliran darah uterus plasenta dalam waktu lama)
c) Diabetes Mellitus
d) Isoiminisasi Rh, postmaturitas atau dismaturitas, kompresi (penekanan) tali pusat

3. Tanda dan gejala
Terdapat beberapa hal yang dapat mengindikasikan kemungkinana terjadinya gawat janin
yaitu :
Bradikardi
Takikardi
Varibilitas denyut jantung dasar yang menurun
Pola deselerasi
PH darah janin
Mekonium dalam cairan amnion

4. Penatalaksanaan

Prinsip - prinsip penatalaksanaan dalam kasus gawat janin terdiri atas prinsip umum dan
prinsip khusus, berikut penjelasannya secara umum :
Pasien dibaringkan miring kiri, berikan oksigen, nilai apakah persalinan dapat berlangsung
normal atau kelahiran segera merupakan indikasi, rencana kelahiran (pervaginam atau
perabdominam) didasarkan pada faktor - faktor etiologi, kondisi janin, riwayat obstetric pasien
dan jalannya persalinan.
Langkah - langkah khusus :
a) Posisi ibu diubah dari posisi terlentang ke posisi lateral sebagai usaha untuk memperbaiki aliran
darah balik, curah jantung dan aliran darah uteroplasenter. Perubahan dalam posisi juga dapat
membebaskan kompresi tali pusat.
b) Oksigen diberikan melalui masker muka 6 liter / menit sebagai usaha untuk meningkatkan
pergantian oksigen fetomaternal.Oksitosin dihentikan, karena kontraksi uterus akan mengganggu
curahan darah ke ruang intervilli.
c) Hipotensi dikoreksi dengan infus intravena dekstrosa 5 % dalam larutan ringer laktat. Transfusi
darah dapat diindikasikan pada syok hemoragik.
d) Pemeriksaan pervaginam menyingkirkan porlaps tali pusat dan menentukan perjalanan
persalinan.
e) Pengisapan mekonium dari jalan napas bayi baru lahir mengurangi resiko aspirasi mekonium.
Segera setelah kepala bayi lahir, hidung dan mulut dibersihkan dari mekonium dengan kateter
pengisap. Segera setelah kelahiran, pita suara harus dilihat dengan laringoskopi langsung sebagai
usaha untuk menyingkirkan mekonium dengan pipa endotakreal.
f) Jika denyut jantung janin diketahui tidak normal dengan atau tanpa kontaminasi mekonium
pada cairan amnion.
g) Lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab gawat janin. Jika terdapat pendarahan
dengan nyeri yang hilang tibul atau menetap pikirkan solutio plasenta. Jika terdapat tanda tanda
infeksi( demam, secret vagina berbau tajam) berikan antibiotik untuk amnionitis, jika terdapat
tali pusat di bawah janin atau vagina lakukan penangan prolaps tali pusat. Jika denyut jantung
janin tetap abnormal atau jika terdapat tanda tanda lain gawat janin ( mikonium kental pada
cairan amnion).
h) Rencana persalinan: jika serviks telah berdilatasi dan kepala janin tidak lebih dari 1/5 di atas
simphisis pubis atau bagian teratas tulang kepala janin pada stasion 0 lakukan persalinan dengan
ekstreksi vakum atau forceps.. Jika serviks tidak berdilatasi penuh dan kepala janin berada di atas
1/5 di atas simpisis atau bagian teratas tulang kepala janin berada di atas stasion 0 lakukan
dengan secsio cesaria.
Diposkan 26th November 2012 oleh nita ritonga
0
Tambahkan komentar
raktek asuhan kebidanan. Khususnya mengenai asuhan kebidanan ibu bersalin dengan
komplikasi seperti distosia bahu.
4. I nstitusi Pendidikan
Diharapkan dapat menjadi bahan kajian maupun referensi dalam menambah khazanah
perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA
http://onlinelibraryfree.com
Llwenllyn Jones, Derek. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Edisi 6 Jakarta : Hipokrates, 2001
Mochtar Rustam, (1998) Sinopsis Obstetri 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta: 2006
Winkjosastro, Hanifah. Ilmu Kebidanan. Edisi 3 Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta : 2006.
Winkjosastro, Hanifah. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : 2002.
Manuaba, Ida Bagus Gde. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstertri Ginekologi dan
Keluarga Berencana, EGC. Jakarta : 2005.







Bahu Macet (Dystocia Bahu) Komplikasi dan Penyulit Persalinan Kala II

Distosia Bahu Atau Bahu Macet
1) Pengertian

Shoulder Dystocia
Distosia bahu secara sederhana adalah kesulitan persalinan pada saat melahirkan bahu
(Varney, 2004). Pada presentasi kepala bahu anterior terjepit di atas simpisis pubis sehingga
bahu tidak dapat melewati panggul kecil atau bidang sempit panggul. Bahu posterior tertahan di
atas promontorium bagian atas. Distosia bahu terjadi jika bahu masuk ke dalam panggul kecil
dengan diameter biakromial pada posisi anteroposterior dari panggul sebagai pengganti
diameter oblik panggul yang mana diameter oblik sebesar 12,75 cm lebih panjang dari diameter
anteroposterior (11 cm). Waktu untuk menolong distosia bahu kurang lebih 5-10 menit.

2) Predisposisi distosia bahu
a) Ibu mengalami diabetes mellitus. Kemungkinan terjadi makrosomia pada janin. Makrosomia
adalah berat badan janin lebih besar dari 4000 gram.
b) Adanya janin gemuk pada riwayat persalinan terdahulu
c) Riwayat kesehatan keluarga ibu kandung ada riwayat diabetes mellitus
d) Ibu mengalami obesitas sehingga ruang gerak janin ketika melewati jalan lahir lebih sempit
karena ada jaringan berlebih pada jalan lahir dibnding ibu yang tidak mengalami obesitas.
e) Riwayat janin tumbuh terus dan bertambah besar setelah kelahiran.
f) Hasil USG mengindikasikan adanya makrosomia/janin besar. Dengan ditemukannya diameter
biakromial pada bahu lebih besar daripada diameter kepala.
g) Adanya kesulitan pada riwayat persalinan yang terdahulu
h) Terjadi Cephalo Pelvic Dispropotion (CPD) yaitu ketidaksesuaian antara kepala dan panggul
yang diakibatkan karena :
(1) Diameter anteroposterior panggul dibawah ukuran normal
(2) Abnormalitas panggul sebagai akibat dari infeksi tulang panggul (rakhitis) dan kecelakaan.
i) Fase aktif yang lebih panjang dari keadaan normal. Fase aktif yang memanjang menandakan
adanya CPD.
j) Penurunan kepala sangat lambat atau sama sekali tidak terjadi penurunan kepala.
k) Mekanisme persalinan tidak terjadi rotasi dalam (putar paksi dalam) sehingga memerlukan
tindakan forcep atau vakum. Hal ini menunjukkan adanya CPD dan mengindikasikan
pertimbangan dilaksanakan seksiosesarea.

3) Komplikasi distosia bahu
a) Bagi janin
(1) Terjadi peningkatan insiden kesakitan dan kematian intrapartum. Pada saat persalinan
melahirkan bahu beresiko anoksia sehingga dapat mengakibatkan kerusakan otak.
(2) Kerusakan syaraf. Kerusakan atau kelumpuhan pleksus brakhialis dan keretakan bahkan
sampai fraktur tulang klavikula.
b) bagi ibu
(1) Laserasi daerah perineum dan vagina yang luas
(2) Gangguan psikologi sebagai dampak dari pengalaman persalinan yang traumatik
(3) Depresi jika janin cacat atau meninggal

4) Penatalaksanaan distosia bahu (APN 2007)
a) Mengenakan sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril.
b) Melaksanakan episiotomi secukupnya dengan didahului dengan anastesi lokal.
c) Mengatur posisi ibu Manuver Mc Robert.
(1) Pada posisi ibu berbaring terlentang, minta ibu menarik lututnya sejauh mungkin kea rah
dadanya dan diupayakan lurus. Minta suami/keluarga membantu.
(2) Lakukan penekanan ke bawah dengan mantap diatas simpisis pubis untuk menggerakkan bahu
anterior di atas simpisis pubis. Tidak diperbolehkan mendorong fundus uteri, beresiko menjadi
ruptur uteri.


d) Ganti posisi ibu dengan posisi merangkak dan kepala berada di atas.
(1) Tekan ke atas untuk melahirkan bahu depan.
(2) Tekan kepala janin mantap ke bawah untuk melahirkan bahu belakang.
5) Penatalaksanaan distosia bahu menurut Varney (2007)
a) Bersikap relaks. Hal ini akan mengkondisikan penolong untuk berkonsentrasi dalam menangani
situasi gawat darurat secara efektif.
b) Memanggil dokter. Bila bidan masih terus menolong sampai bayi lahir sebelum dokter adatang,
maka dokter akan menangani perdarahan yang mungkin terjadi atau untuk tindakan resusitasi.
c) Siapkan peralatan tindakan resusitasi.
d) Menyiapkan peralatan dan obat-obatan untuk penanganan perdarahan.
e) Beritahu ibu prosedur yang akan dilakukan.
f) Atur posisi Mc Robert.

Mc Robert

g) Cek posisi bahu. Ibu diminta tidak mengejan. Putar bahu menjadi diameter oblik dari pelvis atau
anteroposterior bila melintang. Kelima jari satu tangan diletakkan pada dada janin, sedangkan
kelima jari tangan satunya pada punggung janin sebelah kiri. Perlu tindakan secara hati-hati
karena tindakan ini dapat menyebabkan kerusakan pleksus syaraf brakhialis.
h) Meminta pendamping persalinan untuk menekan daerah supra pubik untuk menekan kepala ke
arah bawah dan luar. Hati-hati dalam melaksanakan tarikan ke bawah karena dapat
menimbulkan kerusakan pleksus syaraf brakhialis. Cara menekan daerah supra pubik dengan
cara kedua tangan saling menumpuk diletakkan di atas simpisis. Selanjutnya ditekan ke arah
luar bawah perut.
i) Bila persalinan belum menunjukkan kemajuan, kosongkan kandung kemih karena dapat
menganggu turunnya bahu, melakukan episiotomy, melakukan pemeriksaan dalam untuk
mencari kemungkinan adanya penyebab lain distosia bahu. Tangan diusahakan memeriksa
kemungkinan :
(1) Tali pusat pendek.
(2) Bertambah besarnya janin pada daerah thorak dan abdomen oleh karena tumor.
(3) Lingkaran bandl yang mengindikasikan akan terjadi ruptur uteri.
j) Mencoba kembali melahirkan bahu. Bila distosia bahu ringan, janin akan dapat dilahirkan.

k) Lakukan tindakan perasat seperti menggunakan alat untuk membuka botol (corkcrew) dengan
cara seperti menggunakan prinsip skrup wood. Lakukan pemutaran dari bahu belakang menjadi
bahu depan searah jarum jam, kemudian di putar kembali dengan posisi bahu belakang
menjadi bahu depan berlawanan arah dengan jarum jam putar 180. Lakukan gerakan
pemutaran paling sedikit 4 kali, kemudian melahirkan bahu dengan menekan kepada ke arah
luar belakang disertai dengan penekanan daerah suprapubik.
l) Bila belum berhasil, ulangi melakukan pemutaran bahu janin seperti langkah 11.
m) Bila tetap belum berhasil, maka langkah selanjutnya mematahkan klavikula anterior kemudian
melahirkan bahu anterior, bahu posterior, dan badan janin.
n) Melakukan maneuver Zavenelli, yaitu suatu tindakan untuk memasukkan kepala kembali ke
dalam jalan lahir dengan cara menekan dinding posterior vagina, selanjutnya kepala janin di
tahan dan dimasukkan, kemudian dilakukan SC.







Kelainan Bentuk Janin
A. Pertumbuhan Janin yang Berlebihan
1. Pendahuluan
Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 dan jarang melebihi 5000 gram. Yang
dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000 gram. Frekuensi berat badan
lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3 % dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4 %. Pada
panggul normal,janin dengan berat badan 4000-5000 gram pada umumnya tidak mengalami
kesulitan dalam melahirkannya. Pada janin besar, faktor keturunan memegang peranan penting.
Selain itu, janin besar dijumpai pada wanita hamil dengan diabetes mellitus, pada postmaturitas
dan pada grande multipara. Hubungan antara ibu hamil yang makannya banyak dan bertambah
besarnya janin, masih diragukan.
A. Pertumbuhan Janin yang Berlebihan
1. Pendahuluan
Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 dan jarang melebihi 5000 gram. Yang
dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000 gram. Frekuensi berat badan
lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3 % dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4 %. Pada
panggul normal,janin dengan berat badan 4000-5000 gram pada umumnya tidak mengalami
kesulitan dalam melahirkannya. Pada janin besar, faktor keturunan memegang peranan penting.
Selain itu, janin besar dijumpai pada wanita hamil dengan diabetes mellitus, pada postmaturitas
dan pada grande multipara. Hubungan antara ibu hamil yang makannya banyak dan bertambah
besarnya janin, masih diragukan.
2. Diagnosis
Menentukan besarnya janin secara klinis memang sulit. Kadang-kadang baru diketahui
adanya janin besar setelah tidak adanya kemajuan persalinan pada panggul normal dan his yang
kuat. Pemeriksaan yang teliti tentang adanya disproporsi sefalopelvik dalam hal ini perlu
dilakukan. Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur pula secara teliti dengan menggunakan
alat ultrasonik.
3. Prognosis
Pada panggul normal, janin dengan berat badan kurang dari 4500 gram pada umumnya
tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar atau
kepala yang lebih keras (pada postmaturitas) tidak dapat memasuki pintu atas panggul, atau
karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul. Bahu yang lebar selain dijumpai pada janin
besar juga dijumpai pada anensefalus. Apabila kepala anak sudah lahir tetapi kelahiran bagian-
bagian lain macet karena lebarnya bahu, janin dapat meninggal akibat asfiksia. Menarik kepala
ke bawah terlalu kuat dalam pertolongan melahirkan bahu yang sulit dapat berakibat perlukaan
pada nervus brakhialis dan muskulus sternokleidomastoideus.
4. Penanganan
Pada disproporsi sevalopelvik karena janin besar, seksio sesarea perlu dipertimbangkan.
Kesulitan melahirkan bahu tidak selalu dapat diduga sebelumnya. Apabila kepala sudah lahir
sedangkan bahu sulit dilahirkan, hendaknya dilakukan episiotomi mediolateral yang cukup luas,
hidung serta mulut janin dibersihkan, kemudian kepala ditarik curam ke bawah secara hati-hati
dengan kekuatan yang terukur. Bila tidak berhasil, tubuh janin diputar dalam rongga panggul,
sehingga bahu belakang menjadi bahu depan dan lahir di bawah simfisis. Bila dengan cara ini
pun belum berhasil, penolong memasukkan tangannya ke dalam vagina dan berusaha melahirkan
lengan belakang janin dengan menggerakkan di muka dadanya. Untuk melahirkan lengan kiri
digunakan tangan kanan penolong, dan sebaliknya. Kemudian bahu depan diputar ke diameter
miring dari panggul guna melahirkan lengan depan.
Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan, dapat dilakukan
kleidotomi pada satu atau kedua klavikula untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir.

B. Hidrosefalus
1. Defenisi
Hidrosefalus ialah keadaan di mana terjadi penimbunan cairan serebrospinal dalam
ventrikel otak, sehingga kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-
ubun. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel biasanya antara 500 sampai 1500 ml, akan tetapi
kadang-kadang dapat mencapai 5 liter. Hidrosefalus seringkali disertai kelainan bawaan lain
seperti spina bifida. Karena kepala janin terlalu besar dan tidak dapat berakomodasi di bagian
bawah uterus, maka sering ditemukan dalam letak sungsang. Bagaimana pun letaknya,
hidrosefalus akan menyebabkan disproporsi sefalopelvik dengan segala akibatnya.
2. Diagnosis
Bila janin dalam presentasi kepala, diagnosis tidak terlalu sulit. Untuk memudahkan
pemeriksaan, kandung kencing harus dikosongkan lebih dahulu. Pada palpasi ditemukan kepala
yang jauh lebih besar daripada biasa serta menonjol di atas simfisis. Karena kepala janin besar
dan tidak dapat masuk ke dalam panggul, denyut jantung paling jelas terdengar pada tempat yang
lebih tinggi. Pada pemeriksaan dalam diraba sutura-sutura dan ubun-ubun yang melebar dan
regang, sedangkan tulang kepala sangat tipis dan mudah ditekan. Pemeriksaan rontgenologik
menunjukkan kepala janin sangat besar dengan tulang-tulang yang sangat tipis. Diagnosis
hidrosefalus pada letak sungsang lebih sulit dan sering baru dibuat setelah dialami kesulitan
dalam kelahiran kepala, di mana teraba kepala yang besar menonjol di atas simfisis. Pemeriksaan
rontgenologik pada hidrosefalus dengan janin dalam letak sungsang tidak dapat memberi
kepastian, karena kepala normal pada letak sungsang dapat memberi gambaran seolah-olah
sangat besar. Untuk menghindarkan kesalahan pada pemeriksaan rontgenologik harus
diperhatikan beberapa hal : 1) muka janin sangat kecil bila dibandingkan dengan tengkorak; 2)
kepala berbentuk bulat, berbeda dengan kepala biasa yang berbentuk ovoid; 3) bayangan tulang
kepala sangat tipis.
Untuk menghilangkan keragu-raguan dapat pula dibantu dengan pemeriksaan secara
ultrasonik atau M.R.I. Kemungkinan hidrosefalus harus dipikirkan apabila :
1) kepala tidak masuk ke dalam panggul, pada persalinan dengan panggul normal dan his kuat.
2) kepala janin teraba sebagai benda besar di atas simfisis.
3. Prognosis
Apabila tidak segera dilakukan pertolongan, bahaya ruptura uteri akan mengancam
penderita tersebut. Ruptura uteri pada hidrosefalus dapat terjadi sebelum pembukaan serviks
menjadi lengkap, karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah uterus.
4. Penanganan
Persalinan pada wanita dengan janin hidrosefalus perlu dilakukan pengawasan yang
seksama, karena bahaya terjadinya ruptura uteri selalu mengancam. Pada hidrosefalus yang
nyata, kepala janin harus dikecilkan pada permulaan persalinan. Pada pembukaan 3 cm cairan
cerebrospinalis dikeluarkan dengan pungsi pada kepala menggunakan jarum spinal;setelah
kepala mengecil, bahaya regangan segmen bawah uterus hilang, sehingga tidak terjadi kesulitan
penurunan kepala ke dalam rongga panggul. Bila janin dalam letak sungsang, pengeluaran cairan
dari kepala yang tidak dapat lahir dilakukan dengan pungsi atau perforasi melalui foramen
oksipitalis magnum atau sutura temporalis. Dianjurkan pula untuk mencoba melakukan
ventrikulosentesis transabdominal dengan jarum spinal; dalam hal ini kandung kencing harus
dikosongkan lebih dahulu.

C. Kelainan Bentuk Janin yang Lain.
1. Janin Kembar-Melekat (Double Monster)
Janin kembar melekat adalah keadaan di mana terdapat perlekatan antara 2 janin pada
kehamilan kembar. Janin yang satu dapat jauh lebih kecil daripada yang lain, tetapi dapat pula
kedua janin kira-kira sama besarnya. Pada jenis pertama kadang-kadang janin yang satu sangat
kecil dan tidak lengkap, sehingga seolah-olah merupakan parasit pada yang lain. Bentuknya tidak
simetris dan penyatuan kedua janin tidak terjadi antara dua bagian yang sama (misalnya antara
kepala dengan dada). Pada jenis kedua, penyatuan terjadi secara longitudinal atau secara lateral.
Pada penyatuan longitudinal kepala yang satu berhubungan dengan kepala yang lain
(kraniopagus), atau panggul yang satu dengan panggul yang lain (pigopagus). Penyatuan lateral
bisa terjadi pada dada (torakopagus) atau pada daerah perut (omfalopagus). Kemungkinan dapat
terjadi penyatuan bagian bawah tubuh seluruhnnya dengan dua kepala (disefalus) dan dengan
satu kepala (sinsefalus)
Diagnosis janin kembar melekat sukar ditentukan antepartum. Kadang-kadang
pemeriksaan rontgenologik yang dilakukan atas dugaan adanya hamil kembar dapat
menunjukkan adanya penyatuan kedua janin. Pada umumnya diagnosis baru dapat ditegakkan
bila persalinan macet dan pada pemeriksaan jalan lahir kelainan tersebut kebetulan ditemukan
oleh tangan penolong. Kelahiran janin kembar melekat dengan satu janin yang jauh lebih kecil
daripada yang lain dan janin kembar dengan penyatuan janin secara longitudinal biasanya
berlangsung tanpa kesukaran. Kesukaran persalinan biasanya terjadi pada janin kembar melekat
dengan penyatuan janin secara lateral. Meskipun demikian, terdapat banyak kasus biasanya
terjadi persalinan prematur, atau hubungan antara kedua janin tidak seberapa erat, sehingga
kelahiran yang satu dapat mendahului yang lain. Torakopagus merupakan janin kembar melekat
yang paling sering menimbulkan kesukaran persalinan.
Apabila terjadi kemacetan, dapat dilakukan tindakan vaginal dengan merusak janin, atau
melakukan seksio sesarea. Tindakan pertama dapat dilakukan lebih mudah pada letak sungsang
karena janin dapat digunakan sebagai pegangan dalam melaksanakan tindakan tersebut. Pada
umumnya seksio sesarea lebih aman untuk melahirkan janin kembar melekat daripada
melakukan pembedahan vaginal yang sukar. Pada antenatal care yang baik dengan
mempergunakan USG pada 16-18 minggu kehamilan atau MRI kiranya lebih dini dapat
ditentukan apakah kehamilan dapat dilangsungkan atau dihentikan mengingat prognosis dari
monster tersebut tidak selalu baik.
2. Janin dengan perut besar
Pembesaran perut yang menyebabkan distosia, akibat dari asites, atau tumor hati, limpa,
ginjal dan ovarium jarang sekali dijumpai. Kandung kencing yang sangat penuh dapat pula
menimbulkan gejala yang sama. Diagnosis dapat dibuat dengan memasukkan tangan ke dalam
uterus, dan meraba perut janin. Apabila terjadi kesukaran persalinan, bila perut berisi cairan
(asites, tumor kistik), dapat dilakukan pungsi perut, akan tetapi bila disebabkan oleh tumor padat,
sebaiknya dilakukan seksio sesarea atau pengecilan tumor per varginam.
3. Tumor-tumor lain pada janin
Di samping tumor-tumor dalam perut yang sudah dibahas di atas, masih ada tumor-
tumor pada bagian lain bagian lain tubuh janin yang dapat menyebabkan distosia. Tumor pada
glandula tireoidea jarang sekali demikian besar sehingga menimbulkan distosia. Tetapi bila
dijumpai, terapi yang terbaik ialah seksio sesarea. Tumor pada daerah pelvis janin, biasanya
merupakan jenis teratoma atau janin kembar melekat jenis pigomelus parasitikus. Pada presentasi
kepala, tumor pelvis biasanya tidak menimbulkan kesukaran persalinan; kesukaran lebih sering
terjadi bila janin dalam letak sungsang, dan untuk ini perlu dilakukan pengecilan tumor per
vaginam.

D. Prolapsus Funikuli
1. Defenisi
Prolapsus funikuli ialah keadaan di mana tali pusat berada di samping atau melewati
bagian terendah janin di dalam jalan lahir setelah ketuban pecah.
Apabila tali pusat dapat diraba di samping atau lebih rendah dari bagian bawah janin
sedang ketuban belum pecah, keadaan itu dinamakan tali pusat terdepan. Pada presentasi kepala,
prolapsus funikuli sangat berbahaya bagi janin, karena setiap saat tali pusat dapat terjepit antara
bagian terendah janin dengan jalan lahir dengan akibat gangguan oksigenasi janin. Pada tali
pusat terdepan, sebelum ketuban pecah, ancaman terhadap janin tidak seberapa besar, tetapi
setelah ketuban pecah bahaya kematian janin sangat besar. Myles melaporkan hasil penelitiannya
dalam kepustakaan dunia, bahwa angka kejadian prolapsus funikuli berkisar antara 0,3 % sampai
0,6 % persalinan.
2. Etiologi
Keadaan-keadaan yang menyebabkan gangguan adaptasi bagian bawah janin terhadap
panggul, sehingga pintu atas panggul tidak tertutup oleh bagian bawah janin tersebut, merupakan
predisposisi turunnya tali pusat dan terjadinya prolapsus funikuli. Dengan demikian prolapsus
funikuli sering ditemukan pada letak lintang dan letak sungsang, terutama presentasi bokong
kaki. Pada presentasi kepala, antara lain dapat terjadi pada disproporsi sefalopelvik. Pada
kehamilan prematur lebih sering dijumpai, karena kepala anak yang kecil tidak dapat menutupi
pintu atas panggul.
3. Diagnosis
Adanya tali pusat menumbung atau tali pusat terdepan pada umumnya baru dapat
diketahui dengan pemeriksaan dalam setelah terjadi pembukaan ostium uteri. Pada tali pusat
terdepan, dapat diraba bagian yang berdenyut di belakang selaput ketuban, sedangkan pada
prolapsus funikuli tali pusat dapat diraba dengan dua jari; tali pusat yang berdenyut menandakan
bahwa janin masih hidup. Oleh karena diagnosis pada umumnya hanya dapat dibuat berdasarkan
pemeriksaan dalam, maka pemeriksaan dalam mutlak harus dilakukan pada saat ketuban pecah
bila bagian terendah janin belum masuk ke dalam rongga panggul. Pemeriksaan dalam perlu pula
dilakukan apabila terjadi kelambatan denyut jantung janin tanpa adanya sebab yang jelas.
4. Penanganan
Pada prolapsus funikuli, janin menghadapi bahaya hipoksia, karena tali pusat akan
terjepit antara bagian terendah janin dan jalan lahir, sedangkan pada tali pusat terdepan ancaman
bahaya tersebut sewaktu-waktu dapat terjadi.
Pada prolapsus funikuli dengan tali pusat yang masih berdenyut, tetapi pembukaan belum
lengkap, maka hanya terdapat 2 pilihan, yakni melakukan reposisi tali pusat atau menyelamatkan
persalinan dengan seksio sesarea. Cara yang terbaik untuk melakukan reposisi adalah dengan
memasukkan gumpalan kain kasa yang tebal ke dalam jalan lahir, melilitkannya dengan hati-hati
ke tali pusat, kemudian mendorong seluruhnya perlahan-lahan ke kavum uteri di atas bagian
terendah janin. Tindakan ini lebih mudah dilakukan bila wanita yang bersangkutan ditidurkan
dalam posisi Trendelenburg.
Apabila diambil keputusan untuk melakukan seksio sesarea, maka sementara menunggu
persiapan perlu dijaga agar tali pusat tidak mengalami tekanan dan terjepit oleh bagian terendah
janin. Untuk hal itu, selain meletakkan wanita dalam posisi Trendelenburg, satu tangan
dimasukkan ke dalam vagina untuk mencegah turunnya bagian terendah di dalam rongga
panggul. Pada multipara dengan ukuran panggul normal, pada waktu pembukaan lengkap, janin
harus segera dilahirkan. Pada letak sungsang janin dilahirkan dengan ekstraksi kaki, pada letak
lintang dilakukan versi ekstraksi, sedangkan pada presentasi belakang kepala dilakukang tekanan
yang cukup kuat pada fundus uteri pada waktu his, agar supaya kepala janin masuk ke dalam
rongga panggul dan segera dapat dilahirkan, bilamana perlu, tindakan ini dapat dibantu dengan
melakukan ekstraksi cunam.
Pada keadaan di mana janin sudah meninggal, tidak ada alasan untuk menyelesaikan
persalinan dengan segera. Persalinan diawasi sehingga berlangsung spontan, dan tindakan hanya
dilakukan apabila diperlukan demi kepentingan ibu. Pada tali pusat terdepan penderita ditidurkan
dalam posisi Trendelenburg dengan harapan bahwa ketuban tidak pecah terlalu dini dan tali
pusat masuk kembali ke dalam kavum uteri. Selama menunggu, denyut jantung janin diawasi
dengan seksama sedangkan kemajuan persalinan hendaknya selalu dinilai dengan pemeriksaan
dalam untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetri: obstetri fisiologi, obstetri patologi, Jilid 1, Edisi 2. EGC: Jakarta.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetri: obstetri fisiologi, obstetri patologi, Jilid 2, Edisi 2. EGC: Jakarta.
Tahir, Mardiah dan Farid, Retno Budiati. 2007. Buku Panduan Kerja, Keterampilan Pemeriksaan Obstetri.
FK-UH: Makassar.
Winkjosastro H.,dkk. 2007. Ilmu Kandungan Edisi Kedua. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardho.
Diposkan oleh Ismirayanti di 06.41
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest