Anda di halaman 1dari 16

PERCOBAAN III

SEDIAAN VOLUME BESAR DOSIS TUNGGAL INFUS RINGER


I. TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk mengetahui penyusunan formula infuse Ringer
Untuk mengetahui cara pembuatan dan proses sterilisasi sediaan
Untuk mengetahui cara pengujian infus Ringer
II. PRAFORMULASI
A.TINJAUAN SEDIAAN INFUS
Ringer injeksi adalah suatu larutan steril dari Natrium klorida,Kalium klorida
dan Kalsium klorida dalam Aqua pro injeksi. Ringer injeksi tidak mengandung
pengawet (anti microbial agent).
a) NATRIUM KLORIDA
Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraselular dan
memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya, juga pada
pembentukan perbedaan potensial (listrik) yang perlu bagi kontraksi otot dan
penerusan impuls di saraf.
Penggunaannya selain pada defisiensi Na, juga dalam bilasan 0,9%
(larutan garam fisiologis) dan dalam infuse dengan elektrolit lain. Sebagai
tetes mata 5% NaCl digunakan pada udema kornea.
Dosis: untuk kompensasi kehilangan Na akibat kerja berat dan terlalu
banyak minum air: 5-10 g NaCl, sebaiknya sebagai larutan 1 g per liter. ( Tan
Hoan Tjay, 2007 : 871 )
b) KALIUM KLORIDA
Kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan
intraseluler sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam basa serta
isotonic sel. Selain itu K juga mengaktivasi banyak reaksi enzim dan proses
fisiologi, seperti transmisi impuls di saraf dan otot dan metabolisme
karbohidrat.
Efeksamping dari overdose adalah gangguan saluran cerna, nyeri
setempat pada injeksi dan radang vena (phlebitis). Gejala hiperkalemia dapat
terjadi bila K digunakan bersamaan dengan diuretic penghemat kalium. Juga
sebagai efek samping penggunaan obat, seperti kaptopril, indometasin,
sitostatika dan digoksin (pada dosis tinggi).
Dosis: profilaksis 2 dd 0,6-1 g KCl (tablet retard) p.c., pada
hipokalemia dimulai dengan 2 g sampai gejalanya hilang, kemudian 2 dd 1 g.
( Tan Hoan Tjay, 2007 : 871 )
c) KALSIUM KLORIDA
Kalium terdapat sebanyak 99% dalam tulang kerangka dan sisanya
dalam cairan antarsel dan plasma. Dalam bahan makanan terutama dalam susu
dan telur, juga gandum dan sayur- mayor, antara lain bayam. Resorpsinya dari
usus memerlukan adanya vitamin D dalam bentuk aktifnya yaitu kalsitriol.
Fungsinya selain sebagai bahan bangun bagi kerangka, juga sebagai
pemeran penting pada regulasi daya rangsang dan kontraksi otot serta
penerusan impuls saraf. Lagi pula Ca mengatur permeabilitas membrane sel
bagi K dan Na dan mengaktifasi banyak reaksi enzim, seperti pembekuan
darah.
Interaksi: Pemberian i.v. pada pasien yang menggunakan digoksin
harus berhati-hati, karena toksisitas digoksin diperkuat. Resorpsi tetrasiklin
dihambat akibat terbentuknya kompleks dengan Ca; doksisiklin dan
minosiklin tidak terganggu resorpsinya.
Dosis: pada defisiensi, oral 2 2,5 g Ca sehari dalam 3-4 kali dosis
sewaktu makan. Pada osteoporosis dan prevensinya 1 1,5 g Ca malam hari,
bersamaan dengan vitamin D3 dan bifosfonat. Pada hipokalsemia hebat, i.m.
atau i.v. (perlahan-lahan) Ca glukonat 1-2 g (larutan 10%). ( Tan Hoan Tjay,
2007:871)
d) CARBO ADSORBEN (ARANG JERAP)
Carbo adalah arang halus(nabati atau hewani) yang telah di aktifkan
melalui proses tertentu.Obat ini memiliki daya serap pada
permukaannya(adsorpsi) yang kuat,terutama pada zat- zat yang molekulnya
besar seperti alkaloida, toksin bakteri atau zat-zat beracunyang berasal dari
makanan.Begitu pula banyak obat dapat di absorpsi pada carbo invivo,antara
lain asetosal ,parasetamol, phenobarbotal, fenitoin, digoksin dll.( Obat obat
penting edisi VI )
e) AQUA PRO INJECTION
Aqua pro injection adalah air untuk injeksi yang di sterilkan dan di
kemas dengan cara sesuai, tidak mengandung bahan anti mikroba atau bahan
tambahan lainnya. (Farmakope Indonesia edisi IV ;112)
B.TINJAUAN SIFAT FISIKA KIMIA BAHAN OBAT
a. Natrium Klorida (NaCl)
Pemerian :Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk
hablur putih, rasa asin.
Kelarutan :Mudah larut dalam air, sedikit mudah larut dalam air
mendidih, larut dalam gliserin, sukar larut dalam
etanol. (FI.edisi IV, 1995:584)
pH : 4,5 -7 (Drug Information, 2003:1415)
Stabilitas :Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat
menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas.
(Hand Book of Excipient, 2000:672)
b. Kalium Klorida (KCl)
Pemerian :Hablur bentuk memanjang, prisma atau kubus, tidak
berwarna atau serbuk granul putih, tidak berbau, rasa
garam, stabil di udara, larutan bereaksi netral terhadap
lakmus.
Kelarutan :Mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air
mendidih, tidak larut dalam etanol.
Wadah & penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. (FI.edisi IV,
1995:478)
pH :4 8
Konsentrasi :2,5 11,5%
Stabilitas :Stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat,
ditempat sejuk dan kering. (Hand Book of Excipient,
2000:385)
c. Kalsium Klorida (CaCl2)
Pemerian :Hablur, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak pahit.
Kelarutan :Larut dalam 0,25 bagian air, mudah larut dalam etanol
95%.
Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. (FI.edisi IV,
1995:160)
pH :4,5 9,2 (5% larutan air)
Stabilitas :Injeksi Kalsium dilaporkan inkompatibel dengan
larutan i.v yang mengandung zat aktif. (Drug
Information, 2003:1392)
d. Aqua pro injection
Pemerian : Cairan jernih,tidak berwarna,tidak berbau.
Penyimpann : Dalam wadah dosis tunggal dari kaca/plastic, tidak lebih
dari 1 L.wadah kaca sebaiknya dari kaca type I/II. (FI
Ed IV, 1995 :1113)
C.CARA STERILISASI MASING-MASING BAHAN
Kalium Klorida (KCl)
Sterilisasi :Larutan disterilisasi dengan autoklaf atau
filtrasi. (Martindale 28, hal 29)
Natrium Klorida (NaCl)
Sterilisasi :Larutan disterilisasi dengan autoklaf atau
filtrasi. (Martindale 28, hal:29)
Kalsium Klorida (CaCl2)
Sterilisasi :Larutan disterilisasi dengan autoklaf atau
filtrasi. (Martindale 28, hal:21)
D.OBAT TIDAK TERCAMPURKAN (OTT)
Kalium Klorida (KCl)
Inkompatibilitas dengan protein hidrosilat, perak, dan garam
merkuri. (Hand Book of Excipient, 2000:385)
Natrium Klorida (NaCl)
Inkompatibilitas dengan logam Ag, Hg, dan Fe. (Hand Book of
Excipient, 2000:440)
Kalsium Klorida (CaCl2)
Inkompatibilitas dengan karbonat yang terlarut sulfat, fosfat, dan
tartat dengan sefalotin sodium, CTM, Klortetracyclin hidroklorid,
oksitetracyclin hidroklorid, dan tetracycline hidroklorid
III. FORMULASI
A. PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN
Permasalahan Penyelesaian
Umumnya infus ringer digunakan wadah
yang terbuat dari plastik, namun karena
alat yang ada adalah dengan metode
stirilisasi akhi ( outoklaf 121 15 menit )
ditakutkan wadah lastik akan rusak.
Wadah plastik diganti botol kaca.
Infus volume besar harus diperhitungkan
osmolaritasnya dan harus isotonis.
Sediaan dibuat isotonis. ( FI.ed
III,1979:12)
pH stabil sediaan 5-7,5 , sehingga Dibuat pH 7 sesuai pH fisiologis.
sediaan infus dibuat dengan pH 7,4
(pH fisiologis tubuh)
Sediaan infus harus bebas pirogen.( FI
edisi III , Monografi Umum )
Ditambah carbo adsorben 0,1 %
yang telah diaktifkan.
Carbo adsorben bersifat menyerap zat
termasuk bahan o
bat.
Maka tiap bahan yang akan
dikocok dengan carbo adsorben
diberi kelebihan 5 %.
Ringer pada umumnya dikemas dalam
wadah dosis tunggal dari gelas atau
plastik.
Maka tidak diberi penambahan
pengawet.
( USP, 28,2008 : 1735 )
B. FORMULA
Formula Ringer menurut Martindale 31, hal 2257 :
R/ NaCL 8,6 g
KCL 0,3 g
CaCL2.2H2O 0,33 g
Aqua p.i ad 1000 ml
Formula yang dibuat saat praktek :
R/ NaCL 4,3g
KCL 0,15 g
CaCL2.2H2O 0,165 g
Aqua p.i ad 500 ml
PERHITUNGAN OSMOLARITAS
Nilai mOsm/L=


1000
NaCl =
, ,
,
1000 2
= 294,0171 mOsm/L
KCL =
, ,
,
1000 2
=8,0537 mOsm/L
CaCl2 =
, ,
,
1000 2
=4,4873 mOsm/L
Nilai osmolaritas =294,0171mOsm/L + 8,0537mOsm/L+4,4873 mOsm/L
=306,5581 mOsm/L
Tabel osmolaritas-tonisitas
Osmolaritas Isotonisitas
350 Hipertonis
329 350 Slighty hipertonis
270 328 Isotonis
250 269 Slighty hipotonis
0 249 Hipotonis
(Pharmaceutical Dosage Form,hal 60)
1. Perhitungan berat dan volume
Volume infus =500 ml + (2% x 500 ml)
= 510 ml
Adanya penyaringan, maka volume dilebihkan 20%
Volume pembuatan =510 ml + (20% x 510ml)
=510 ml + 102 ml
=612 ml
Sediaan infuse yang ditambah carbo adsorben diberi kelebihan 5%
untuk tiap zat yang akan dicampur dengan carbo adsorben.
2. Penimbangan Bahan :
Bahan Perhitungan Jumlah
NaCl 4,3 g 5,530 g
KCl
150 mg x x
195 mg
CaCl2.2H2O 165 mg 215 mg
Aqua p.i ad. 612 ml ad. 612 ml
Carbo adsorben 1% x 612 ml 6,12mg
E.CARA PEMBUATAN
CARA PEMBUATAN SEDIAAN
Beaker glass
dikalibrasi 612 ml dengan aqua p.i
+ Nacl ( dengan kaca arloji )
+ KCl ( dengan kaca arloji )
+ CaCl2.2H2O ( dengan kaca arloji )
dilarutkan dengan aqua p.i
Larutan dalam beaker glass
Di cek pH 7
Dipanaskan suhu 60-70C
+ Carbo adsorban 0,1 % ( dengan kaca arloji )
( sudah diaktifkan suhu 100C selama 30 menit )
500 ml
100
Dipanaskan 15 menit, suhu 60-70C, diaduk
Disaring ,masuk botol infus (telah dikalibrasi dengan aqua
p.i 510 ml)
Dipasang tutup botolnya
Disterilkan dengan otoklaf 121C selama 15 menit.
Sediaan infus
Evaluasi sediaan
CARA STERILISASI SEDIAAN
Infus Ringer dilakukan sterilisasi akhir dengan menggunakan
otoklaf pada suhu 121C selama 30 menit
CARA EVALUASI SEDIAAN
a. Uji PH sebelum dan sesudah sterilisasi
Larutan infuse diuji pH sebelum dimasukkan ke dalam
botol infuse. Diatur pH 7 (sesuai dengan pH normal tubuh).
Diambil secukupnya beberapa tetes dengan pipet tetes steril
dan diteteskan pada plat tetes.
Dimasukkan kertas indicator pH universal dalam plat tetes.
Dibaca pH nya.
Di lakukan uji pH pada saat sediaan infuse selesai di
sterilisasi akhir
b. Uji kejernihan (pengotor tidak larut dan bahan melayang)
Secara visual : ditujukan untuk pengotor tidak larut.
Khususnya bagi bahan melayang dan serpihan gelas.
Botol infus diputar secara vertical 180 secara berulang
ulang pada sisi pencahayaan di depan latar belakang yang
gelap.
Serpihan gelas akan berjatuhan, yang mula mula jatuh
dan berkumpul di dasar botol.
Bahan berkilau bila terkena cahaya, kotoran berwarna
terlihat pada latar belakang putih sedangkan kotoran tidak
berwarna terlihat pada latar belakang hitam.
IV.PENYIAPAN ALAT
No. Alat Jumlah Ukuran Sterilisasi Waktu
1. GelasUkur 1 100 ml Otoklaf 15 menit
2. GelasUkur 1 10 ml Otoklaf 15 menit
3. Erlenmeyer 1 1000 ml Otoklaf 15 menit
4. Erlenmeyer 1 100 ml Otoklaf 15 menit
5. Beaker Glass 1 1000 ml Otoklaf 15 menit
6. Beaker Glass 1 250 ml Otoklaf 15 menit
7. CorongKacaBesar 2 Otoklaf 15 menit
8. BatangPengaduk 2
9. Plat Tetes 1
10. Termometer 1
11. Mortir, Stamper 1
12. SendokLogam 1
13. Bunsen 1
14. Kaki Tiga 1
15. Asbes 1
16. Cawan 1 250 ml
17. BotolInfus 1 Oven 1 jam
18. TutupBotolInfus 1 Otoklaf 15 menit
19. KertasSaring 3 Otoklaf 15 menit
1. Pencucian dan Pembungkusan Alat
a. Alat Gelas
1. Alat-alat gelas direndam dalam larutan teepol 0,5%, kemudian
direbus 15 menit setelah mendidih.
2. Alat-alat tersebut disikat sampai bersih (alat-alat setelah disikat,
dibilas dengan air kran mengalir sebanyak 3x ).
3. Alat-alat dibilas dengan air bebas pirogen sebanyak 3x.
4. Alat-alat dikeringkan dengam menggunakan hairdryer.
5. Alat yang telah kering dilakukan pengecekan terhadap noda,
apabila masih kotor dilakukan pencucian lagi.
6. Alat yang bersih dan kering kemudian dibungkus rangkap 2 dan
dilakukan sterilisasi menggunakan metode yang cocok (alat gelas
tahan pemanasan dengan oven suhu 170C/ 180C selama 30 menit
atau dengan menggunakan otoklaf suhu 121C selama 15 menit ).
b. Alat Karet
1. Alat-alat karet direbus dengan teepol 1% dan Na2CO3 selama 15
menit.
2. Setelah direbus kemudian dibilas dengan air kran dan disikat.
3. Dibilas dengan HCL 0,25% lalu dibilas lagi denga aqua pro
injeksi.
4. Alat-alat tersebut dibungkus rangkap 2 dan dilakukan sterilisasi
dengan otoklaf pada auhu 121C selama 15 menit.
c. Alat Aluminium
1. Alat aluminium dididihkan dalam larutan detergent/ teepol selama
10 menit ( bila perlu direndam dalam larutan Na2CO3 5% selama 5
menit ).
2. Alat dibilas dengan aquadest panas mengalir.
3. Dibilas dengan aquadest sebanyak 3x.
4. Dikeringkan dengan menggunakan hairdryer.
5. Alat dibungkus dengan rangkap 2 dan disterilkan dengan otoklaf
pada suhu 121 C selama 15 menit.
2. Pemasangan Label
Label ditempel di luar dinding botol infus.
I. Hasil
1. UJI PH
Sebelum Sterilisasi Sesudah Sterilisasi
PH 6 6
2. Uji kejernihan
Infus jernih karena tidak ada partikel asing/partikel melayang
Data Sterilisasi Alat
Menggunakan Otoklaf I (Suhu 121 selama 15 menit)
Waktu Jam
Waktu Pemanasan 10.20 -10.48
Waktu Pengeluaran Udara 10.48-10.50
Waktu Menaik 10.50-10.57
Waktu Kesetimbangan 10.57-11.12
Waktu Sterilisasi 11.12-11.42
Waktu Jaminan Sterilisasi 11.42-11.57
Waktu Pendinginan 11.57-12.12
Menggunakan Oven untuk wadah infus suhu 200 selama 1 jam
Waktu Jam
Waktu Pemanasan 12.10-12.13
Waktu Penurunan 12.13-12.19
Waktu Kesetimbangan 12.19-12.26
Waktu Sterilisasi 12.26-12.41
Waktu Jaminan Sterilisasi 12.41-12.49
Waktu Pendinginan 12.49-12.53
Menggunakan Otoklaf untuk sterilisasi sediaan infus ringer
Waktu Jam
Waktu Pemanasan 13.27-13.31
Waktu Pengeluaran Udara 13.31-13.34
Waktu Menaik 13.34-13.38
Waktu Kesetimbangan 13.38-13.45
Waktu Sterilisasi 13.45-14.00
Waktu Jaminan Sterilisasi 14.00-14.08
Waktu Pendinginan 14.08-14.11
I. DAFTAR PUSTAKA
Departeman Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia ed III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
Departeman Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia ed IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
Depkes RI. 1972. Formularium Indonesia. Jakarta : Bagian Penerbitan Depkes RI
Martindale. 1982. The Extra Pharmacopoeia Martindale 28. London : Royal
Pharmaceutical Society
Handbook Of Pharmaceutical Excipient.2000
Tjay, Tan Hoan. 2002. Obat-Obat Penting edisi ke 6. Jakarta : PT Elex Media
Komputindo