Anda di halaman 1dari 5

Kimia Organologam Logam Blok d

Kata Kunci: donasi balik, kimia organologam, logam blok D, penemuan ferosen, senyawa
logam karbonil
Ditulis oleh Taro Saito pada 29-11-2009
Kimia organologam logam transisi masih relatif baru. Walaupun kompleks etilena platina yang
disebut dengan garam Zeise, K[PtCl
3
(C
2
H
4
)], tetrakarbonilnikel, Ni(CO)
4
, dan pentakarboniliron,
Fe(CO)
5
, yang kini diklasifikasikan senyawa organologam, telah dipreparasi di abad ke-19,
ikatan dan strukturnya waktu itu belum dikeahui. Riset W. Hieber dkk pada senyawa karbonil
logam merupakan penanda penting di tahun 1930-an, tetapi hasil-hasil studi ini sangat terbatas
karena analisis struktur yang belum berkembang pada waktu itu.
Penemuan ferosen, Fe(C
5
H
5
)
2
, di tahun 1951 merupakan fenomena penting dalam kimia
organologam. Modus ikatan yang sangat unik dalam senyawa ini menjadi sangat jelas terlihat
dengan hasil analisis struktural kristal tunggal sinar-X, spektrum NMR, spektrum IR, dsb; dan
merupakan titik awal perkembangan selanjutnya di bidang ini. Merupakan penemuan besar
bahwa ferosen menunjukkan kestabilan termal yang tinggi walaupun ada anggapan umum ikatan
logam transisi-karbon akan sangat tidak stabil. Namun dengan jelas ditunjukkan bahwa senyawa
ini memiliki struktur berlapis dengan lima atom karbon gugus siklopentadienil terikat secara
simultan pada atom besi. Walaupun berbagai modus ikatan ligan hidrokarbon akhirnya
ditemukan satu demi satu, aplikasi industri senyawa organologam logam transisi meningkat
dengan penemuan katalis polimerisasi olefin (katalis Ziegler), katalis hidrogenasi homogen
(katalis Wilkinson), dan katalis sintetik asimetrik. Hadiah Nobel dianugerahkan pada Ziegler dan
Natta (1963), E. O. Fischer, dan G. Wilkinson (1973) sebagai penghargaan atas pentingnya
penemuan-penemuan ini.
Berdasarkan definisi, dalam senyawa organologam,paling tidak ada satu ikatan logam-karbon,
tetapi kompleks CN dan sebagainya biasanya dianggap bukan senyawa organologam. Senyawa
logam karbonil merupakan senyawa organologam; dalam berbagai aspek ikatan, struktur dan
reaksi, dan senyawa-senyawa ini merupakan sistem model yang baik untuk memahami esensi
kimia organologam logam transisi.
a Senyawa karbonil logam
Senyawa karbonil logam yang terdiri atas logam dan ligan CO biasanya dipreparasi dengan
reaksi langsung serbuk logam yang kereaktifannya tinggi dengan karbon monoksida, atau dengan
reduksi garam logam ke valensi nol diikuti dengan reaksi dengan karbon monoksida tekanan
tinggi. Namun, tetrakarbonilnikel, ditemukan pertamakali di akhir abad 19, terbentuk dengan
reaksi logam nikel dan karbon monoksida pada suhu kamar dan tekanan atmosfer. Preparasi
senyawa karbonil logam yang lain, di pihak lain memerlukan suhu dan tekanan tinggi.

Senyawa karbonil logam mononuklir memiliki struktur koordinasi polihedral yang bersimetri
tinggi. Kromium, molibdenum, dan tungsten heksakarbonil, M(CO)
6
, mempunyai struktur
oktahedral reguler, penta-koordinat pentakarbonilbesi, Fe(CO)
5
, berstruktur segitiga bipiramid,
dan tetrakarbonilnikel, Ni(CO)
4
, memiliki koordinasi tetrahedral reguler (Gambar 6.14). Atom
karbon ligan karbonil berkoordinasi dengan logam, dan lingkungan CO berorientasi searah
dengan sumbu logam-karbon. Karbonil logam binuklir Mn
2
(CO)
10
memiliki ikatan Mn-Mn yang
menghubungkan dua piramida bujur sangkar Mn(CO)
5
. Dalam Fe
2
(CO)
9
, dua sub satuan
Fe(CO)
3
dijembatani tiga ligan CO, dan dalam Co
2
(CO)
8
, dua satuan Co(CO)
3
digubungkan
dengan tiga jembatan CO dan sebuah ikatan Co-Co.
Ada sejumlah senyawa karbonil logam dengan ikatan logam-logam yang menghubungkan tiga
atau lebih logam, dan CO terminal, -CO (jembatan di antara dua logam), dan -CO (jembatan
yang menutupi tiga logam) berkoordinasi dengan kerangka logam (lihat bagian 6.3 (f)). Banyak
karbonil kluster yang dibentuk dengan reaksi senyawa karbonil mononuklir dan karbonil
binuklir. Senyawa karbonil logam khas dan sifatnya diberikan di Tabel 6.4.

Donasi balik
Senyawa karbonil logam terdiri dari karbon monoksida yang terkoordinasi pada logam
bervalensi nol. Untuk waktu yang lama, orang tidak dapat menjelaskan mengapa ikatan semacam
itu mungkin terjadi, dan apalagi ikatannya stabil. Kepercayaan bahwa ikatan koordinasi normal
dibentuk dengan donasi elektron dari ligan yang sangat basa kepada logam merupakan dasar
teori koordinasi A. Werner. Karena kebasaan karbon monoksida sangat rendah ikatan logam-
karbon biasanya tidak stabil, oleh karena itu penjeasan yang cocok untuk kestabilan senyawa
karbonil logam perlu dicari. Bila bentuk dan simetri orbital d logam dan orbital (anti ikatan)
CO untuk ikatan karbon-oksigen bond cocok untuk tumpang tindih, interaksi ikatan antara logam
dan karbon diharapkan dapat dibentuk. Skema ikatannya ditunjukkan di Gambar 6.15
berdasarkan pandangan ini. Mekanisme elektron didonasikan ke orbital * karbon monoksida
yang kosong dari orbital d logam disebut donasi balik. Karena akumulasi elektron yang terlalu
banyak dalam logam yang berbilangan oksidasi rendah dihindari, donasi balik menghasilkan
stabilisasi ikatan M-C.

Peningkatan dalam orde ikatan logam-karbon direfleksikan dalam peningkatan frekuensi ulur M-
C dan penurunan frekuensi ulur C-O dalam spektrum vibrasinya. Spektrum IR sangat bermanfaat
sebab frekuensi karbonil sangat mudah dideteksi. Penurunan bilangan oksidasi logam dengan
aliran muatan negatif dari ligan yang terkoordinasi tercerminkan dalam penurunan frekuensi ulur
C-O.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-anorganik-universitas/kimia-logam-transisi/kimia-
organologam-logam-blok-d/

GARAM ZEISE, SENYAWA
ORGANOLOGAM YANG PERTAMA
DILAPORKAN
February 11, 2014 ansarikimia Leave a comment
Garam Zeise, nama IUPACnya kalium trikloro(etena)platinat(II), ialah senyawa kimia dengan
rumus K[PtCl
3
(C
2
H
4
)] H
2
O. Anion ini udara-stabil, kuning, kompleks koordinasi mengandung
ligan
2
-etilen. Anion ini memiliki atom platinum dengan geometri planar persegi. Garam ini
adalah penting dalam sejarah bidang kimia organologam sebagai salah satu contoh pertama dari
sebuah kompleks alkena.
Garam Zeise memiliki rumus molekul C
2
H
4
Cl
3
KPt, dengan berat molekul 368,59 gr mol
1
.
Sejarah Penemuan
Garam Zeise merupakan salah satu dari senyawa oraganologam yang pertama kali dilaporkan.
Penemunya W.C. Zeise, seorang profesor pada Universitas Copenhagen, yang membuat senyawa
ini pada tahun 1820-an sambil menyelidiki reaksi PtCl
4
dengan etanol mendidih, dan melaporkan
bahwa senyawa yang dihasilkan mengandung etilena. Justus von Liebig, ahli kimia yang
berpengaruh di era itu, sering mengkritisi proposal Zeise, tetapi teori Zeise tegas mendukung
pada tahun 1868 ketika Birnbaum menyiapkan kompleks yang menggunakan etilena.
Garam Zeise mendapat banyak perhatian selama paruh kedua abad ke-19 karena ahli kimia tidak
bisa menjelaskan dengan benar struktur molekul garam ini. Pertanyaan ini tetap tak terjawab
sampai munculnya difraksi sina-X di abad ke-20.
Garam Zeise merangsang banyak riset ilmiah dalam bidang kimia organologam, dan merupakan
kunci dalam mendefinisikan konsep baru dalam kimia seperti Hapticity. Model Dewarp-Chatt-
Duncanson menjelaskan bagaimana logam itu berkoordinasi untuk ikatan rangkap.
Pembuatan
Senyawa ini tersedia secara komersial sebagai hidrat. Hidrat ini secara umum dibuat dari
K
2
[PtCl
4
] dan etilena dengan adanya sejumlah katalitik SnCl
2
. Air dari hidrasi ini dapat
disingkirkan secara in vacuo.
Struktur
Sebagai garam Zeise dan senyawa terkait, alkena berputar sekitar ikatan logam-alkena dengan
energi aktivasi sederhana. Analisis ketinggian penghalang menunjukkan bahwa ikatan- antara
kebanyakan logam dan alkena lebih lemah daripada ikatan-. Dalam anion Zeise, hambatan
rotasi ini tidak dapat diukur dengan spektroskopi NMR karena ke- empat protonnya setara.
Kompleks simetri yang lebih rendah dari etilena, misalnya CpRh (C
2
H
4
)
2
, yang, bagaimanapun,
cocok untuk analisis hambatan rotasi terkait dengan ikatan logam-etilen.

http://wawasanilmukimia.wordpress.com/2014/02/11/garam-zeise-senyawa-organologam-yang-
pertama-dilaporkan/