Anda di halaman 1dari 10

TUGAS TERSTRUKTUR

MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI




KARAKTERI STI K DAS






Oleh :

RIZKYANA N.D. 115040201111245


KELAS D



MINAT MANAJEMEN SUMBER DAYA LAHAN
JURUSAN TANAH
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN

Daerah aliran sungai (DAS) didefinisikan sebagai hamparan wilayah yang dibatasi oleh
pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen, dan
unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik. Ekosistem
DAS biasanya dibagi menjadi daerah hulu, tengah, dan hilir. Secara biogeofisik, daerah hulu
merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi, dengan kemiringan
lereng lebih besar dari 15%, bukan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola
drainase, dan jenis vegetasi umumnya tegakan hutan. Sementara daerah hilir DAS merupakan
daerah pemanfaatan dengan kemiringan lereng kecil (kurang dari 8%), pada beberapa tempat
merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi, dan jenis
vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian kecuali daerah estuaria yang didominsi hutan
gambut/bakau.
DAS bagian tengah merupakan daerah transisi dari kedua karakteristik biogeofisik DAS
yang berbeda tersebut di atas. Perubahan tataguna lahan dibagian hulu DAS seperti reboisasi,
pembalakan hutan, deforestasi, budidaya yang mengabaikan kaidah-kaidah konservasi akan
berdampak pada bagian hilirnya, sehingga DAS bagian hulu mempunyai fungsi perlindungan
dari segi tata air. Oleh karena itu yang menjadi fokus perencanaan pengelolaan DAS sering kali
DAS bagian hulu, mengingat adanya keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Pengelolaan
DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit
pengembangannya. Ada tiga aspek utama yang selalu menjadi perhatian dalam pengelolaan DAS
yaitu jumlah air (water yield), waktu penyediaan (water regime) dan sedimen.
DAS dapat dipandang sebagai suatu sistem hidrologi yang dipengaruhi oleh peubah presipitasi
(hujan) sebagai masukan ke dalam sistem. Disamping itu DAS mempunyai karakter yang
spesifik serta berkaitan erat dengan unsur-unsur utamanya seperti jenis tanah, topografi, geologi,
geomorfologi, vegetasi dan tataguna lahan. Karakteristik DAS dalam merespon curah hujan yang
jatuh di tempat tersebut dapat memberi pengaruh terhadap besar kecilnya evapotranspirasi,
infiltrasi, perkolasi, aliran permukaan, kandungan air tanah, dan aliran sungai (Seyhan, 1977).
Dalam hal ini air hujan yang jatuh di dalam DAS akan mengalami proses yang dikontrol oleh
sistem DAS menjadi aliran permukaan (surface runoff), aliran bawah permukaan (interflow) dan
aliran air bawah tanah (groundwater flow). Ketiga jenis aliran tersebut akan mengalir menuju
sungai, yang tentunya membawa sedimen dalam air sungai tersebut. Selanjutnya, karena daerah
aliran sungai dianggap sebagai sistem, maka perubahan yang terjadi disuatu bagian akan
mempengaruhi bagian yang lain dalam DAS (Grigg, 1996).
Bagian hilir dari DAS pada umumnya berupa kawasan budidaya pertanian, tempat
pemukiman (perkotaan), dan industri, serta waduk untuk pembangkit tenaga listrik, perikanan
dan lain-lain. Daerah bagian hulu DAS biasanya diperuntukan bagi kawasan resapan air. Dengan
demikian keberhasilan pengelolaan DAS bagian hilir adalah tergantung dari keberhasilan
pengelolaan kawasan DAS pada bagian hulunya. Kerusakan DAS dapat ditandai oleh perubahan
perilaku hidrologi, seperti tingginya frekuensi kejadian banjir (puncak aliran) dan meningkatnya
proses erosi dan sedimentasi. Kondisi ini disebabkan belum tepatnya sistem penanganan dan
pemanfaatan DAS (Brooks et al, 1989).

BAB II
ISI

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Tujuan umum pengelolaan DAS adalah keberlanjutan yang diukur dari pendapatan,
produksi, teknologi dan erosi. Teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang dapat dilakukan
oleh petani dengan pengetahuan lokal tanpa intervensi dari pihak luar dan teknologi tersebut
dapat direplikasi berdasarkan faktor-faktor sosial budaya petani itu sendiri. Erosi harus lebih
kecil dari erosi yang dapat ditoleransikan agar kelestarian produktivitas dapat dipertahankan
(Sinukaban, 2007).
Tujuan akhir pengelolaan DAS adalah terwujudnya kondisi yang lestari dari sumber daya
vegetasi, tanah dan air sehingga mampu memberikan manfaat secara optimal dan
berkesinambungan bagi kesejahteraan manusia. Manfaat yang optimal dan berkesinambungan
akan tercapai apabila sumber daya alam dan lingkungan dikelola dengan baik. Hal yang sama
dikemukakan oleh Haeruman (1985) yang mendefinisikan pengelolaan DAS sebagai pengelolaan
sumberdaya lahan, hutan dan air untuk tujuan produksi air secara optimum baik kuantitas
maupun kualitasnya, meningkatkan stabilitas tanah, dan melindungi lahan.
Untuk mencapai tujuan akhir dari pengelolaan DAS yaitu terwujudnya kondisi yang
optimal dari sumberdaya hutan, tanah dan air, maka kegiatan pengelolaan DAS meliputi empat
upaya pokok, yaitu : 1) Pengelolaan lahan melalui usaha konservasi tanah dalam arti yang luas;
2) Pengelolaan air melalui pengembangan sumberdaya air; 3) Pengelolaan hutan, khususnya
pengelolaan hutan yang memiliki fungsi perlindungan terhadap tanah dan air; 4) Pembinaan
kesadaran dan kemampuan manusia dalam penggunaan sumberdaya alam secara bijaksana
melalui usaha penerangan dan penyuluhan.
Dasar pertimbangan pentingnya penggunaan daerah aliran sungai (DAS) sebagai unit
pengelolaan sumberdaya alam tanah, air dan hutan, adalah bahwa DAS merupakan unit hidrologi
yang memiliki unsur-unsur biogeosistem dan manusia dengan aktivitas budidayanya. Oleh
karena itu DAS tepat sekali digunakan sebagai unit perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan
evaluasi konservasi pengelolaan sumberdaya alam
Selanjutnya, upaya yang dapat dilakukan untuk memperlambat proses degradasi fungsi
DAS dalam pengembangan dan pengelolaannya, pada dasarnya ditujukan untuk; memelihara dan
meningkatkan fungsi hidrologis DAS agar diperoleh hasil air yang tinggi dan merata sepanjang
tahun, tingkat erosi dan sedimentasi rendah, produktivitas lahan tinggi, DAS lentur terhadap
goncangan perubahan yang terjadi (resillient), dan membina terlaksananya unsur-unsur
pemerataan (equity) bagi petani. Untuk mencapai upaya tersebut, dapat ditempuh dengan cara
memaksimalkan fungsi sejumlah komponen yang bekerja dalam sistem DAS, seperti vegetasi,
tanah, air dan faktor penggunaan lahan.
Indikator Pengelolaan DAS Berkelanjutan
Seperti telah dijelaskan, bahwa fungsi hidrologis DAS adalah debit yang stabil, tingkat
erosi dan sedimentasi rendah, serta produktivitas lahan yang tinggi. Untuk itu maka suatu DAS
yang berkelanjutan adalah DAS dengan fungsi hidrologis dengan indikator yang dimaksud.
Berikut akan dijelaskan indikator-indikator DAS berkelanjutan tersebut.
1. Debit
Respon hidrologi suatu DAS dapat berupa produksi air yang dinilai dari kontribusi aliran
langsung terhadap debit total yang besar kecilnya tergantung dari sifat hujan dan karakteristik
fisik DAS/sub DAS. Tanggapan aliran sungai terhadap masukan air hujan merupakan wujud
respon hidrologi yang dapat dilihat pada kurva hidrograf, yang sangat ditentukan oleh sifat hujan
dan karakter sifat fisik DAS.
2. Erosi
Di daerah beriklim basah seperti di Indonesia kerusakan lahan oleh erosi terutama disebabkan
oleh hanyutnya tanah terbawa oleh air hujan. Erosi oleh air sangat membahayakan tanah-tanah
pertanian di Indonesia, terutama yang terletak di daerah dengan kemiringan yang besar. Selain
iklim dan kemiringan lahan (topografi), besarnya erosi dipengaruhi pula oleh faktor-faktor
vegetasi, pengolahan tanah dan manusia.
Model USLE (Universal Soil Loss Equation) merupakan model prediksi erosi empirik yang
paling populer dan secara luas digunakan sebagai referensi/acuan dalam perencanaan konservasi
tanah dan air (Wischmeier dan Smith, 1978). Model tersebut dikembangkan berdasarkan
pengamatan erosi jangka panjang pada skala plot dan dirancang untuk memprediksi erosi rata-
rata tahunan dari suatu lahan dengan penggunaan dan pengolahan tertentu. Model USLE
disajikan sebagai berikut:
A = R K L S C P
A : Jumlah tanah tererosi per unit area (ton/ha/tahun).
R : faktor erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : faktor panjang lereng
S : faktor kemiringan lereng : rasio erosi tanah dari plot erosi dengan kemiringan lereng
tertentu terhadap erosi dari plot erosi dengan kemiringan 9% danpengelolaan yang identik.
C : faktor tanaman dan pengelolaan : rasio erosi dari erosi dengan tanaman dan pengelolaan
tertentu terhadap erosi dari plot erosi yang diolah bersih dan diberakan.
P : faktor tindakan konservasi tanah : rasio erosi dari plot dengan tindakan konservasi
tertentu terhadap erosi dari plot erosi yang ditanami secara barismenurun lereng.
Pada hakikatnya USLE dikembangkan sebagai alat perencanaan konservasi tanah (soil
conservation plainning tool). Namun karena belum adanya model prediksi erosi skala DAS maka
model ini tetap digunakan untuk memprediksi erosi DAS tanpa dibarengi modifikasi yang
berarti.
3. Hasil Sedimen
Hasil sedimen (sediment yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi yang terjadi di
daerah tangkapan air yang diukur pada periode waktu dan tempat tertentu. Hasil sedimen
biasanya diperoleh dari pengukuran sedimen terlarut dalam sungai (suspended sediment) atau
dengan pengukuran langsung di dalam waduk. Bentuk hubungan antara erosi yang berlangsung
di daerah tangkapan dan besarnya sedimen yang terukur di daerah hilir mempunyai mekanisme
kausalitas yang rumit dan belum banyak dimengerti.
4. Sistem Hidrology DAS
Konsep daur air (hydrology cycle) menjadikan dasar pemikiran untuk mempelajari siklus
hidrologi DAS sebagaimana siklus hidrologi yang continental dalam skala luas (benua).
Pendekatan geografik yang memandang DAS sebagai suatu sistem yang alami, dimana DAS
menjadi wadah tempat berlangsungnya proses-proses fisik hidrologis maupun kegiatan sosial
ekonomi masyarakat yang kompleks dengan dibatasi oleh punggung bukit dapat menjadi sarana
untuk mempelajari respon hidrologi yang terjadi.
5. Pemodelan
Model adalah suatu gambaran abstrak dari sistem dunia nyata (real world system) yang
mempunyai kelakuan seperti sistem dunia nyata dalam hal-hal tertentu. Suatu model yang baik
biasanya akan menggambarkan dengan baik semua segi-segi yang penting dari kelakuan dunia
nyata dalam masalah-masalah tertentu. Penyederhanaan dari sebuah sistem di dunia nyata (real
world) tidak selalu mudah karena selalu dibayangi oleh distorsi terhadap sistem yang
sebenarnya.
Model Hidrologi Daerah Aliran Sungai
Model hidrologi adalah sebuah sajian sederhana (simple representation] dari sebuah sistem
hidrologi yang kompleks (Harto, 1993). Selanjutnya Brooks et al. (1989) menyebutkan bahwa
model hidrologi merupakan gambaran sederhana dari suatu sistem hidrologi yang aktual. Model
hidrologi biasanya dibuat untuk mempelajari fungsi dan respon suatu DAS dari berbagai
masukan DAS. Melalui model hidrologi dapat dipelajari kejadian-kejadian hidrologi yang pada
gilirannya dapat digunakan untuk memprediksi kejadian hidrologi yang akan terjadi.
Konsep dasar yang digunakan dalam setiap sistem hidrologi adalah siklus hidrologi (Harto,
1993). Persamaan dasar yang menjadi landasan bagi semua analisis hidrologi adalah persamaan
neraca air (water balanced equation). Persamaan neraca air dari suatu daerah aliran sungai untuk
suatu periode dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:
I - O = AS
dimana :
I = masukan (inflow)
O = keluaran (outflow)
AS = perubahan tampungan (storage change)
Sebagai suatu sistem hidrologi, daerah aliran sungai meliputi jasad hidup, lingkungan fisik dan
kimia yang berinteraksi secara dinamik, yang didalamnya terjadi kesetimbangan dinamik antara
energi dan meterial yang masuk dengan energi dan material yang keluar. Dalam keadaan alami,
energi matahari, iklim diatas DAS dan unsur-unsur endogenik dibawah permukaan DAS
merupakan masukan (input). Sedangkan air dan sedimen yang keluar dari muara DAS serta air
yang kembali ke udara melalui evapotranspirasi adalah keluaran (output) DAS (Sinukaban,
1997).
Model tersebut struktur neraca air yang menyangkut parameter-parameter input dan output
diuraikan secara ringkas. Fungsi yang dirumuskannya diuji dengan simulasi komputer yang
disebut Hydrocomp Simulation Program (Biswas, 1976 dalam Murdiyarso, 1979). Untuk analisis
DAS, model hidrologi dapat dibedakan dalam "lumped" dan "distributed". Model lumped
parameter mentransformasi curah hujan (input) ke dalam runoff (output) dengan konsep bahwa
semua proses dalam DAS terjadi pada satu titik spasial. Lumped parameter memperlakukan DAS
sebagai himpunan parameter-parameter yang berperilaku seragam. Sebaliknya, model distributed
parameter berusaha menggambarkan proses dan mekanisme fisik dan keruangan.Distributed
parameter memperlakukan masing-masing komponen DAS atau proses sebagai komponen
mandiri dengan sifatnya masing-masing.
Dengan simulasi hidrologi dapat dengan jelas digambarkan proses curah hujan dan limpasan
permukaan melalui satu seri fungsi-fungsi matematik di mana setiap komponen digambarkan
dalam satu proses yang khusus dan seluruh proses sistem alam dalam simulasi gabungan.
Program simulasi hidrologi dirancang dengan curah hujan sebagai masukan utama dan aliran
sungai (streamflow) sebagai keluaran utama. Jadi dengan simulasi hidrologi dimungkinkan untuk
menggambarkan data curah hujan historis ke dalam nilai-nilai aliran sungai yang menunjukkan
pengaruh dari lahan dan saluran-saluran terhadap fluktuasi aliran dan membantu pengertian
tentang siklus hidrologi dalam suatu Daerah Aliran Sungai.
Keuntungan menggunakan simulasi adalah dapat melakukan eksperimentasi atas suatu sistem
atau ekosistem tanpa harus mengganggu atau mengadakan perlakukan terhadap sistem yang
diteliti.Secara lebih terperinci lagi tahapan kerja dalam melakukan simulasi dengan analisis
sistem sebagai berikut:
1. Masalah yang akan disimulasikan harus ditentukan dengan jelas, demikian pula ruang lingkup,
pentingnya masalah dan manfaat dari hasil simulasi yang dilakukan.
2. Setelah ditentukan masalah yang akan disimulasi kemudian dibuat model yang didasarkan
pada masalah dan keadaan dari sistem atau dengan kata lain model tersebut harus mewakili
sistem yang nyata tetapi tetap berada dalam ruang lingkup masalah yang akan disimulasi.
3. Karena simulasi akan dilakukan pada komputer, maka model yang dibuat tersebut harus dapat
digambarkan dalam suatu model matematis.
4. Berdasarkan model yang telah dibuat tersebut sudah harus ditentukan, data apa yang
diperlukan untuk simulasi. Data yang dikumpulkan harus dapat dipercaya kebenarannya dan
yang lebih penting harus bersifat kuantitatif agar dapat digunakan dalam model matematis yang
telah dibuat.
5. Model matematis yang telah dibuat tersebut harus dapat ditransfer menjadi program komputer.
Dengan bantuan flowchart (diagram alir), program komputer dapat dibuat.
6. Model yang telah diprogramkan tadi, masih harus diuji apakah sudah mewakili sistem yang
sebenarnya dan masalah yang akan disimulasi. Apabila data yang digunakan dapat dipercaya
kebenarannya, maka pengujian model ini dapat dilakukan dengan menganalisis model simulasi.
Hasil simulasi ini dibandingkan dengan kenyataan yang ada (dengan data yang ada). Jika hasil
simulasi sudah sesuai dengan kenyataan yang ada, maka model yang digunakan sudah tepat,
tetapi bila belum sesuai, maka model yang dibuat tersebut masih harus diperbaiki, sampai
diperoleh model yang benar-benar tepat.
7. Bila pengujian telah dilakukan dan ternyata model yang digunakan sudah dapat mewakili
sistem yang nyata, maka untuk tahap selanjutnya simulasi dapat dilakukan dengan menggunakan
model tersebut dengan catatan tidak ada perubahan pada sistem.
Oleh karena itu apabila suatu sistem digambarkan dalam model-model mulai dari kondisi awal
sampai pada akhir dari sistem ini, yang diikuti oleh suatu waktu yang singkat maka teknik ini
disebut Simulasi. Dengan berkembangnya penggunaan komputer maka penerapan simulasi
dalam sistem-sistem yang rumit lebih dimungkinkan. Para ahli bidang hidrologi menyadari
sepenuhnya bagaimana pentingnya digital computer untuk suatu Analisis hidrologi melalui
pendekatan simulasi hidrologi.

BAB III
PENUTUP

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan hamparan wilayah yang dibatasi oleh pembatas
topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen, dan unsur hara
serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik. Tingkat keragaman
pada suatu DAS ditunjukkan dari ciri-cirinya yakni dari aspek fisik, demografi, penggunaan
lahan, aktivitas manusia dan juga dampak lingkungannnya. sumber keragamannya ini berasal
dari DAS yang cakupannya sangat luas. yakni tidak hanya meliputi daerah hulu saja tetapi juga
meliputi daerah hilir.
Tujuan akhir pengelolaan DAS adalah terwujudnya kondisi yang lestari dari sumber daya
vegetasi, tanah dan air sehingga mampu memberikan manfaat secara optimal dan
berkesinambungan bagi kesejahteraan manusia. Untuk mencapai tujuan akhir dari pengelolaan
DAS yaitu terwujudnya kondisi yang optimal dari sumberdaya hutan, tanah dan air, maka
kegiatan pengelolaan DAS meliputi empat upaya pokok, yaitu : 1) Pengelolaan lahan melalui
usaha konservasi tanah dalam arti yang luas; 2) Pengelolaan air melalui pengembangan
sumberdaya air; 3) Pengelolaan hutan, khususnya pengelolaan hutan yang memiliki fungsi
perlindungan terhadap tanah dan air; 4) Pembinaan kesadaran dan kemampuan manusia dalam
penggunaan sumberdaya alam secara bijaksana melalui usaha penerangan dan penyuluhan.
Namun sebelum melaksanakan ini hendaknya haruslah kita pertimbangkan baik-baik.
terlalu gegabah dan kurang hati-hati dalam mengelola DAS akan menyebabkan masalah yang
timbul tidak hanya akan berpengaruh pada salah satu bagian saja, tapi juga akan mempengaruhi
lainnya. maka dari itu dibutuhkan suatu sistem pemodelan sebagai simulator sebelum kita
melakukan suatu tindakan pengelolaan DAS. salah satu model yang bisa kita terapkan adalah
USLE dan Model Hidrologi Daerah Aliran Sungai.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, F., N. Sinukaban., A. N. Ginting., H. Santoso, dan Sutadi., 2007. Bunga Rampai
Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan
Air Indonesia 2004-2007. Jakarta.
Br, Sri Harto., 1993. Analisis Hidrologi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Brooks, P.D., J.M. Stark, B.B. McInteer, and T. Preston. 1989. Diffusion method to prepare soil
extracts for automated nitrogen-15 analysis. Soil Sci. Soc. Am. Proc.53:1707-1711.
Grigg, Neil S., Water Resources Management: Principles, Regulations, and Cases, McGraw-Hill,
New York, 1996.
Murdiyarso, D. 1979. Perhitungan dan Model Neraca Air Daerah Aliran Sungai Solo Hulu.
Sekolah Pasca SarjanaInstitut Pertanian Bogor. Thesis. 119p. (Unpublished).
Seyhan, Ersin. 1977. Dasar-dasar Hidrologi. Editor Soenardi Prawirohat mojo. Yogyakarta:
UGM Press.
Wischmeier, W.H. and D.D. Smith. 1978. Predicting rainfal erosion losses, A guide to
conservation planning. USDA. Agric. Handbook. 537. Washington DC.