Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai adanya atrofi
progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Secara klinis
mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering sehingga
terbentuk krusta yang berbau busuk.
1,2,3,4,5,6,,!,"
#enyakit ini sering ditemukan dikalangan masyarakat dengan tingkat sosial
ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk, serta di negara sedang berkembang.
$eberapa kepustakaan menuliskan bah%a rinitis atrofi lebih sering mengenai %anita,
terutama pada usia pubertas.
1,2,3,4,5,6,
&e'ala klinis rinitis atrofi biasanya berupa hidung tersumbat, gangguan penghidu
(anosmia), napas berbau, epistaksis, hidung terasa kering dan sakit kepala. *anda
klinis adalah di'umpai rongga hidung yang dipenuhi krusta ber%arna kuning kehi'auan
terutama pada dinding lateral hidung.
1,2,3,4,5,6,
+tiologi mengenai penyakit rinitis atrofi ini masih dalam tahap penelitian,
beberapa pathogen penting yang berhubungan dengan penyakit ini adalah
Coccobacillus, Bacillus mucosus, Coccobacillus foetidus ozaenae, Diptheroid bacilli
dan Klebsiella ozaenae.
1,2,3
,leh karena etiologi yang belum pasti. -aka pengobatan belum ada yang baku.
#engobatan ditu'ukan untuk menghilangkan faktor penyebab, selain menghilangkan
ge'alanya. #engobatan dapat diberikan secara konser.atif atau 'ika tidak menolong
dapat dilakukan tindakan operasi.
"
BAB II
MASYURIDA (0810070100103) 1
ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG
2.1 ANATOMI HIDUNG
Gambar 1. Anatomi hidung
20
Secara anatomi hidung dibagi atas hidung luar dan hidung dalam.
1,6,
HIDUNG LUAR
/idung luar berbentuk piramid dengan bagian0bagiannya dari atas ke ba%ah,
yaitu 1
1. #angkal hidung (bridge)
2. $atang hidung (dorsum nasi)
3. #uncak hidung (tip)
4. 2la nasi
5. 3olumela
MASYURIDA (0810070100103) 2
6. 4ubang hidung (nares anterior)
/idung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang ra%an yang dilapisi oleh kulit,
'aringan ikat, dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung. 3erangka tulang terdiri dari
1,6,
1
1. ,s nasal
2. #rocessus frontalis os ma5illa
3. #rocessus nasalis os frontal

&ambar 2. *ulang ra%an pada hidung luar.
1
Sedangkan kerangka tulang ra%an terdiri dari beberapa pasang tulang ra%an yang
terletak di bagian ba%ah hidung, yaitu1
1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior ( kartilago ala mayor)
3. $eberapa pasang kartilago ala minor
4. *epi anterior kartilago septum.
HIDUNG DALAM
3a.um nasi berbentuk tero%ongan dari depan ke belakang yang dipisahkan oleh
septum nasi di bagian tengahnya men'adi ka.um nasi kanan dan kiri. 4ubang masuk
MASYURIDA (0810070100103) 3
ka.um nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares
posterior (koana) yang menghubungkan ka.um nasi dengan nasofaring.
$agian dari ka.um nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang
nares anterior disebut .estibulum. 6estibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai
banyak kelen'ar sebasea dan rambut0rambut pan'ang disebut .ibrise.
1,6
&ambar 3. 7inding 4ateral /idung.
1
*iap ka.um nasi mempunyai empat buah dinding, yaitu dinding medial, lateral,
inferior dan superior.
7inding medial hidung adalah septum nasi. Septum nasi dibentuk oleh tulang
dan tulang ra%an. $agian tulang adalah 1
1. 4amina perpendikularis os ethmoidalis
2. ,s .omer
3. 3rista nasalis os ma5illa
4. 3rista nasalis os palatina
2dapun bagian tulang ra%an adalah 1
MASYURIDA (0810070100103) 4
1. 3artilago septum nasi ( lamina kuadrangularis)
2. 3olumela
7inding lateral terdapat empat buah konka. 8ang terbesar dan letaknya paling
ba%ah adalah konka inferior, yang lebih kecil adalah konka media dan yang lebih kecil
lagi adalah konka superior serta yang terkecil adalah konka suprema.
1,
7iantara konka0konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang
disebut meatus. $erdasarkan letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior,
medius dan superior. #ada meatus inferior terdapat muara ( ostium) duktus
nasolakrimalis. #ada meatus medius terdapat muara sinus frontal, sinus ma5illa dan
sinus ethmoidalis anterior sedangkan pada meatus superior terdapat muara sinus
ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis.
1,
7inding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os ma5illa dan
os palatum. 7inding superior sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis yang
memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. 4amina kribriformis ini merupakan
lempeng tulang yang berasal dari os ethmoidalis. *ulang ini berlubang0lubang dan
tempat masukna serabut0serabut saraf olfaktorius.
1,
SUPLAI DARAH
9abang sfenopalatina dari arteri ma5illaris interna menyuplai konka, meatus dan
septum. 9abang ethmoidalis anterior dan posterior dari arteri oftalmika menyuplai sinus
frontalis dan ethmoidalis serta atap hidung. Sedangkan sinus ma5illa diperdarahi oleh
cabang arteri labialis superior dan cabang infraorbitalis serta al.eolaris dari arteri
ma5illaris interna.
1,
6ena0.ena membentuk suatu pleksus ka.ernosus yang rapat diba%ah
membrana mukosa. #leksus ini terlihat nyata diatas konka media dan inferior serta
bagian ba%ah septum yang membentuk 'aringan erektil. 7rainase .ena terutama
melalui .ena oftalmika, facialis anterior dan sfenopalatina.
1,
MASYURIDA (0810070100103) 5
&ambar 4. Suplai darah pada hidung.
1
PERSYARAFAN
8ang terlihat langsung adalah ner.us olfaktorius untuk penghidu, di.isi
oftalmikus dan ma5illaris dari saraf trigeminus untuk impuls afferen sensorik lainnya.
Syaraf facialis untuk gerakan otot0otot pernafasan pada hidung luar dan sistem syaraf
otonom. 3emudian ganglion sfenopalatina, guna mengontrol diameter .ena dan arteri
hidung dan 'uga produksi mukus yang dapat mengubah pengaturan hantaran, suhu dan
kelembapan aliran udara.
1,3
&ambar 5. #ersarafan hidung.
2:
MASYURIDA (0810070100103) 6
2.2 FISIOLOGI HIDUNG
$erdasarkan teori struktural, e.olusioner dan fungsional adapun fungsi fisiologis
hidung
dan sinus paranasal adalah 1
1. ;ungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara, penyaring udara, humidifikasi,
penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal.
2. ;ungsi penghidu karena terdapat mukosa olfaktorius dan reser.oir udara untuk
menampung stimulus penghidu.
3. ;ungsi fonetik yang berguna untuk resonansi udara, membantu proses bicara
dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang.
4. ;ungsi statik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap
trauma dan pelindung panas.
5. Refleks nasal seoerti iritasi mukosa hidung akan menyebabkan refleks bersin
dan nafas berhenti.
1,

Gambar 6. Bagian bagian hidung
20
MASYURIDA (0810070100103)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 DEFINISI
Rinitis atrofi adalah penyakit hidung kronik yang ditandai dengan atrofi progresif
dari mukosa dan tulang konka disertai adanya sekret kental yang cepat mengering dan
pembentukan krusta yang berbau busuk. Rinitis atrofi disebut 'uga rinitis sika, rinitis
krustosa atau o<aena.
1,4,5,6,,",1:,13,14,
&ambar . Rinitis 2trofi pada pemeriksaan hidung.
13
3.2 EPIDEMIOLOGI
Rinitis atrofi merupakan penyakit yang sering ditemukan pada masyarakat
dengan tingkat sosial ekonomi rendah dengan status higiene yang buruk dinegara yang
sedang berkembang, terutama didaerah subtropis yang bersuhu panas seperti 2sia,
2frika, +ropa *imur, dan -editerania.

#enyakit ini lebih sering mengenai %anita dengan
perbandingan 311 dan pada usia berkisar dari 1503" tahun terutama usia pubertas.
1,4,5,6,,",1:,13,14,15
MASYURIDA (0810070100103) !
3.3 ETIOLOGI
+tiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan
memuaskan. 2kan tetapi terdapat beberapa teori yang dikemukakan, antara lain 1
1. =nfeksi kronik spesifik
*erutama kuman Klebsiella ozaena. 3uman ini menghentikan aktifitas silia
normal pada mukosa hidung manusia. 3uman lain adalah Stafilokokus,
Streptokokus, Kokobasilus, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus mucosus,
Diphteroid bacili, Cocobacillus foetidus ozaena.
2. 7efisiensi ;e
3. 7efisiensi .it.2
4. Sinusitis kronik
5. 3etidakseimbangan hormon estrogen
6. #enyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun
. ;aktor herediter, yaitu diturunkan secara autosomal dominan
!. *rauma karena kecelakaan atau iatrogenik, yaitu efek lan'ut dari pembedahan
". *erapi radiasi pada hidung dan sinus paranasal, umumnya segera merusak
pembuluh darah dan kelen'ar penghasil mukus.
3,4,5,6,,1:,12,13,15,1!,1".
3.4 PATOLOGI DAN PATOGENESIS
$eberapa penulis menyatakan adanya metaplasia epitel kolumnar bersilia
men'adi epitel skuamous atau atrofi dan fibrosis dari tunika propria. *erdapat
pengurangan kelen'ar al.eolar baik dalam 'umlah maupun ukuran dan adanya
MASYURIDA (0810070100103) "
endarteritis dan periarteritis pada arteriol terminal. ,leh karena itu, secara patologi
rinitis atrofi dibagi men'adi dua tipe 1
1. *ipe 1
-erupakan tipe paling sering (5:0!: >) dari semua kasus. 7ikarakteristikkan
dengan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriol terminal akibat infeksi
kronis akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa, 'uga akan
ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. #asien akan membaik dengan efek
.asodilator dari terapi estrogen.
2. *ipe ==
*ipe ini terdapat pada 2:05:> kasus dimana terdapat .asodilatasi dari kapiler
sel endotel dari kapiler yang berdilatasi mempunyai sitoplasma yang lebih dari
normal dimana menun'ukkan reaksi alkaline phosphatase yang positif pada
proses reabsorbsi tulang. #ada tipe ini tidak dapat diterapi dengan estrogen
karena akan malah memperburuk.
12,13,15,1!
-etaplasia sel epitel torak bersilia men'adi epitel gepeng tak bersilia, akan
menyebabkan hilangnya kemampuan pembersihan debris hidung. 2kibatnya, kelen'ar
mukosa mengalami atrofi bahkan bisa menghilang, terbentuknya fibrosis epitel yang
luas, fungsi surfaktan akan men'adi abnormal. 7erfisiensi surfaktan merupakan
penyebab utama menurunya ketahanan hidup terhadap infeksi.
!,",1:,11,12
;ungsi surfaktan yang abnormal berpengaruh terhadap frekuensi gerakan silia
sehingga akan membuat menumpuknya lender. Semakin tipis epitel (atrofi konka) akan
membuat rongga hidung semakin membesar, maka akan ter'adi kekeringan serta
pembentukan krusta lalu iritasi mukosa semakin meluas.
!,",1:,11,12
?ika suplai darah tidak adekuat, maka akan ter'adi nekrosis sel dan 'aringan,
mengalami proses pembusukan apabila bercampur dengan toksin dari mikroorganisme
akan menghasilkan pus kehi'auan yang berbau busuk yang mongering dengan cepat
MASYURIDA (0810070100103) 1:
yang disebut krusta. 3rusta merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan
kuman. ?ika krusta terlepas akan menyebabkan epistaksis. Selain atrofi dari mukosa,
'uga bisa ter'adi atrofi dari mukosa olfaktoria yang bisa menyebabkan penderita
mengalami hiposmia atau anosmia.
!,",1:,11,12
3.5 GEJALA DAN TANDA KLINIS
&e'ala klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita rhinitis atrofi adalah hidung
tersumbat, gangguan penghidu (anosmia), sakit kepala, hidung terasa kering, adanya
secret hi'au kental serta krusta (kerak) ber%arna kuning kehi'auan atau kadang0kadang
ber%arna hitam dan berbau busuk.
Secara klinis, Sutomo dan Samsudin membagi rhinitis atrofi dalam tiga tingkatan,
yaitu 1
1. *ingkat 1
2trofi mukosa hidung, mkosa tampak kemerahan dan berlendir, krusta
sedikit.
2. *ingkat ==
2trofi mukosa hidung semakin 'elas, mukosa makin kering, %arna makin
pudar, krusta banyak, keluhan anosmia belum 'elas.
3. *ingkat ===
MASYURIDA (0810070100103) 11
2trofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis, rongga
hidung tampak lebar sekali, dapat ditemukan krusta di nasofaring, terdapat
anosmia yang 'elas.
3,4,5,6,,1:,12,13,15,1!,1".
3.6 DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
7iagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dengan
menggunakan rinoskopi anterior serta pemeriksaan penun'ang seperti pemeriksaan
darah rutin, foto rontgen dan 9* scan sinus paranasal, pemeriksaan ;e serum, u'i
mantou5 dan foto thoraks #2 apabila rhinitis atrofi diduga berhubungan dengan
tuberculosis, pemeriksaan histopatologi dan test serologi untuk menyingkirkan
sifilis.
1,,",16.
#ada 9* scan sinus paranasal, hilangnya 3ompleks ,steo -eatal (3,-) akibat
destruksi bulla ethmoid dan processus uncinatus, hipoplasia dari sinus ma5illaries,
pembesaran dari rongga hidung dengan destruksi dari dinding lateral hidung dan
destruksi tulang konka inferior dan konka media.
!,16
3.7 DIAGNOSIS BANDING
7iagnosis $anding rhinitis atrofi adalah sebagai berikut 1
1. Rhinitis kronik tuberculosis
*uberculosis pada hidung berbentuk noduler atau ulkus, terutama mengenai
tulang ra%an septum dan dapat mengakibatkan perforasi. #ada pemeriksan
klinis terdapat sekret mukopurulen dan krusta sehingga menimbulkan keluhan
hidung tersumbat. 7iagnosis ditegakkan dengan ditemukannya $asil *ahan
2sam ($*2) pada sekret hidung.
MASYURIDA (0810070100103) 12
2. Rhinitis kronik lepra
#enyebab rhinitis lepra adalah Mycobacterium leprae. 4esi pada hidung sering
terlihat pada penyakit ini. #asien mengeluhkan hidung tersumbat oleh karena
pembentukan krusta serta adanya bercak darah. -ukosa hidung pucat. 2pabila
infeksi berlan'ut dapat menyebabkan perforasi septum.
3. Rhinitis kronik sifilis
#enyebab rhinitis sifilis adalah kumah reponema pallidum. #ada rhinitis kronik
sifilis yang primer dan sekunder ge'alanya hanya adanya bercak pada mukosa.
Sedangkan pada rhinitis kronik tersier dapat ditemukan ulkus yang mengenai
septum nasi dan dapat mengakibatkan perforasi septum. #ada pemeriksaan
klinis didapati sekret mukopurulen yang berbau dan krusta. 7iagnosis pasti
ditegakkan dengan pemeriksaan mikrobiologik dan biopsi.
5
3.8 KOMPLIKASI
3omplikasi rhinitis atrofi dapat berupa 1
1. #erforasi septum
2. ;aringitis
3. Sinusitis
4. -iasis hidung.
5
$2$ =6
#+@2*2423S2@22@
MASYURIDA (0810070100103) 13
#ada rhinitis atrofi terdapat dua macam pentalaksanaan, yaitu secara konser.atif
dan pembedahan. #enatalaksanaan ini bertu'uan untuk menghilangkan faktor etiologi
dan meminimalisir terbentuknya krusta atau menghilangkan ge'ala.
3,4
a. 3onser.atif
1. 2ntibiotik spektrum luas sesuai u'i resistensi kuman dengan dosis adekuat
sampai tanda0tanda infeksi hilang. Ai<ilbash dan 7arf melaporkan hasil
yang baik pada pengobatan dengan Rifampisin oral 6:: mg satu kali
sehari selama 12 minggu.
2. ,bat cuci hidung, untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan
sekret serta menghilangkan bau, antara lain 1
$etadine solution dalam 1:: ml air hangat, atau campuran
@a9l
@/49l
@a/9,3 aaa "
2Bua ad 3:: cc
1 sendok makan dicampur " sendok makan air hangat.
4arutan garam dapur
9ampuran 1
@a bikarbonat 2!,4 g
@a dibonat 2!,4 g
MASYURIDA (0810070100103) 14
@a9l 56, g
7icampur " sendok makan air hangat. 4arutan dihirup ke dalam
rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat0
kuat melalui hidung dan air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan
melalui mulut. 7ilakukan dua kali sehari.
3. ,bat tetes hidung
Setelah krusta diangkat, diberi antara lain 1 glukosa 25> dalam gliserin
untuk membasahi mukosa, estradiol dalam minyak 2rachis 1:.::: uCml,
kamisetin anti o<aena solution dan streptomisin 1 g D @a9l 3: ml
diberikan tiga kali sehari, masing0masing 3 tetes.
4. 6itamin 2 3 5 1:.::: u selama 2 minggu
5. #reparat ;e
6. $ila ada sinusitis, diobati hingga tuntas.
Sinha, Sardana dan R'.anshi melaporkan ekstrak plasenta manusia secara
sistemik memberikan !: > perbaikan dalam 2 tahun dan in'eksi ekstrak plasenta
submukosa intranasal memberikan "3,3 > perbaikan pada periode yang sama. =ni
membantu regenerasi epitel dan 'aringan kelen'ar.
3,4
b. #embedahan
#ada kebanyakan kasus meskipun dengan terapi konser.atif yang maksimal, pasien
akan selalu mengeluhkan krusta yang terbentuk dan bau dari rongga hidung yang
muncul meskipun seringkali melakukan terapi lan'utan. Entuk mencegah pasien
bergantung pada terapi medikamentosa sepan'ang hidupnya perlu dilakukan terapi
pembedahan
MASYURIDA (0810070100103) 15
Secara umum terapi pembedahan terdiri dari 3 kategori antara lain 1 dener.asi,
reduksi .olume rongga hidung dan penutupan nasal. *u'uan terapi pembedahan adalah
untuk menyempitkan rongga hidung yang lapang, mengurangi pengeringan dan
pembentukan krusta, regenerasi mukosa hidung dan meningkatkan .askularisasi dari
ka.um nasi.
$eberapa teknik pembedahan yang dilakukan 1
!. "oung#s $peration
#rosedur ini adalah penutupan total salah satu rongga hidung dengan
flap.
*u'uan operasi ini untuk mencegah efek kekeringan, mengurangi krusta
dan membuat mukosa diba%ahnya tumbuh kembali. *ekanan negati.e
yang timbul pada lubang hidung yang tertutup menyebabkan .asodilatasi
dari pembuluh darah di sekitarnya. *eknik ini dilakukan dengan
menaikkan flap intranasal 1 cm dari cephalic ke lingkaran ala nasi. ;lap ini
akan menutup lubang hidung tepat di tengahnya.
3ekurangan teknik ini adalah sulitnya membuat flap oleh karena flap
mudah robek atau timbulnya parut yang dapat menyebabkan stenosis
.estibulum.
%. Modified "oung#s $peration
-odifikasi teknik ini dilakukan oleh +l 3holy. #rinsip teknik ini adalah menutup
lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm daerah yang terbuka.
&. 'auntenschlager $peration
#rinsip teknik ini dengan memobilisasi dinding medial antru dan bagian
dari ethmoidalis, kemudian dipindahkan ke lubang hidung.
MASYURIDA (0810070100103) 16
#ada operasi ini, antrum ma5illa dibuka dengan operasi 9ald%ell 4uc.
7inding medial antrum dimobilisasi kea rah medial dengan membuat
potongan berbentuk E dengan menggunakan bor, mukosa ka.um nasi
yang men'adi tipis ini di'aga agar tidak sampai rusak. 3emudian tulang
antrum medial dengan konka inferior diluksasi ke arah medial dengan
bertumpu pada area ethmoidalis.
4. =mplantasi Submukosa
=mplantasi submukosa dengan tulang ra%an, tulang, dermofit, bahan sintesis
seperti *eflon, campuran triosite dan fibrin glue.
(. )ittmack#s $peration
*ransplantasi duktus parotis ke dalam sinus ma5illa dengan tu'uan membasahi
mukosa hidung.
1,3,4,5,6
PROGNOSIS
$ila pengobatan konser.atif adekuat yang cukup lama tidak menun'ukkan
perbaikan, pasien diru'uk untuk dilakukan operasi penutupan lubang hidung. #rinsipnya
mengistirahatkan mukosa hidung pada nares anterior atau koana sehingga men'adi
MASYURIDA (0810070100103) 1
normal kembali selama 2 tahun atau dapat dilakukan implantasi untuk menyempitkan
rongga hidung. 7engan operasi diharapkan ter'adi perbaikan mukosa dan keadaan
penyakitnya. Rhinitis atrofi dapat menetap bertahun0tahun dan ada kemungkinan untuk
sembuh spontan pada usia pertengahan.
4,11,14
BAB V
KESIMPULAN
MASYURIDA (0810070100103) 1!
Rhinitis atrofi (o<aena) adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai
adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta.
+tiologi dan pathogenesis rhinitis atrofi sampai sekarang belum dapat
diterangkan dengan memuaskan. $eberapa pathogen penting yang berhubungan
dengan penyakit ini adalah Coccobacillus, Bacillus mucosus, Coccobacillus foetidus
ozaenae, Diptheroid bacilli dan Klebsiella ozaenae.
2pabila rhinitis atrofi tidak ditangani dengan cepat akan menimbulkan komplikasi,
seperti perforasi septum, faringitis, sinusitis dan miasis hidung.
#enatalaksanaan ditu'ukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk
mengurangi ge'ala. #enatalaksanaan dari rhinitis atrofi diberikan secara konser.atif
atau pembedahan, tergantung keadaan penyakit dan beberapa faktor lain, seperti
keadaan umum pasien, reaksi pasien terhadap pengobatan dan lain0lain.
Rhinitis atrifi 'uga dapat menimbulkan komplikasi seperti 1
1. #erforasi septum
2. ;aringitis
3. Sinusitis
4. -iasis hidung.
Rhinitis atrofi dapat menetap bertahun0tahun dan ada kemungkinan untuk
sembuh spontan pada usia pertengahan.
DAFTAR PUSTAKA
1. /ilger #2. /idung 1 2natomi dan ;isiologi *erapan. 7alam 1 $,=+S (ed), $uku
2'ar #enyakit */*. +disi ke 6. 2lih $ahasa 1 Fi'aya. ?akarta 1 +&9, 1"" G 130
222.
MASYURIDA (0810070100103) 1"
2. 9olman R, Somogyi R. $asic 2natomi Re.ie%. =n 1 *oronto @otes. ;irst +dition.
-c&ra%0/ill -edical, 2::! G ,*3.
3. 4ee 3?. 2trophic rhinitis (o<ena). 7alam 1 +ssential ,tolaryngology. /ead and
@eck Surgery. +ighth +dition. 2:13G :5.
4. $allantyne ', et.al. 2thropic Rhinitis. =n 1 Scott0$ro%nHs 7isease of *he +ar, @ose
and *hroat. ;ourth +dition. 4ondon 1 $uter%orths #ublisher, 1"" G 1501!:.
5. $harga.a 3$, et.al. 2thropic Rhinitis. =n 1 2 Short *e5tbook ,f +.@.*. 7iseases.
;or Students and #ractitioners. -umbai 1 ;ifth +dition, 1"!6 G 1":01"1.
6. Soet'ipto 7, dkk. Sumbatan /idung. 7alam 1 $uku 2'ar =lmu #enyakit *elinga
/idung *enggorok. +disi ke 6. ?akarta 1 ;3E=, 2:: G 11!0141.
. Soet'ipto 7, -angunkusumo +. /idung. 7alam 1 $uku 2'ar =lmu #enyakit *elinga
/idung *enggorok. +disi ke 5. ?akarta 1 ;3E=, 2::1 G "10"5, 113.
!. $alasubramanian *. 2thropic Rhinitis. 2:1:. 2.ailable from 1 http1CC2thropic0
rhinitis0by0drbalu.htmC (accessed 4 7ecember 2:13 ).
". -aBbool -. 9hronic Rhinitis. =n 1 *et5tbook ,f +ar, @ose and *hroat 7iseases.
Si5th +dition. @e% 7elhi 1+-92 /ouse, 1""3 G 2640266
1:. 9o%an 2, Ryan F. 2thropic Rhinitis. &rand Rounds #resentation, E*-$, 7ept.
of ,tolaryngology, 2::5. 2.ailable from 1 http1CC2thropic>2:Rhinitis.htmlC
(2ccessed 4 7ecember 2:13).
11. 7okumentasi $erita Sains (2::!02:13). Rhinitis 2trofi. 2.ailable from 1
http1CC%%%.kesimpulan.comC2::"C:5Crinitis0atrofi.htmlImJ: ( accessed 4
7ecember 2:13 ).
12. $ecker F, et.al. 2thropic Rhinitis and ,<aena. =n 1 +ar, @ose and *hroat
7iseases. 2 pocket Reference. Second +dition. @e% 8ork 1 &eorg *hieme
6erlag, 1""4 G 21!021".
MASYURIDA (0810070100103) 2:
13. /a%ke -, et.al. *he @ose. =n 1 7iagnostic /andbook of ,torhinolaryngology.
;irst +dition. 1"" G 114.
14. 3err &2. 2thropic Rhinitis. =n 1 Scott0$ro%nHs ,tolaryngology. Si5th +dition.
,5ford 1 $utter%orth0/einemann, 1"" G 4C!C26 K 4C!C2.
15. 9olman $/. 7iseases of the nose, throat and ear. 2 handbook for students and
practitioners. 4ondon. 1"! G 3"04:.
16. Fishart &. *he 7isease ,<aena. *he 9anadian -edical, *oronto. 2.ailable from
1 http1CCpubmedcentralcanada.caCarticlerender.cgiIaccidJ#-915!52:3
1. &ro.es ?, et.al. 2 synopsis of ,tolaryngology. ;ourth +dition. $ristol. Fright.
1"!5G 1"301"4.
1!. 9olman $/. 2thropic Rhinitis. =n 1 7isease of *he @ose, *hroat and ear, and
/ead and @eck. ;ourteenth +dition. ,5ford 1 +4$S, 1""6 G 2402.
1". Surgery 7oor G 2thropic Rhinitis Symptoms, 7iagnosis and *reatment. 2.ailable
from 1 http1CC2thropic0Rhinitis0symptoms,diagnosisLtreatment.html (accessed 4
7ecember 2:13).
2:. http1CC%%%.google.comCsearchIhlJanatomiDhidung .
MASYURIDA (0810070100103) 21