Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN LABORATORIUM ANALOG

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI







No. Percobaan : XIII
DESIGN PENGUAT COMMON EMITOR

KELOMPOK : 01
NAMA PRAKTIKAN : ARLITA KUSUMA DEWI
NAMA REKAN KERJA : 1. DINDA YANDITA
2. MUH. ARIF R.

KELAS / KELOMPOK : TT-3B / KELOMPOK 1
TANGGAL PELAKSANAAN PRAKTIKUM : 25,27 NOVEMBER 2013 &
2 DESEMBER 2013
TANGGAL PENYERAHAN LAPORAN : 8 DESEMBER 2013

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
8 DESEMBER 2013

2


DAFTAR ISI
DESIGN PENGUAT COMMON EMITOR
Halaman Judul ....................................................................................................................... 1
Daftar Isi ................................................................................................................................ 2
1. Tujuan ................................................................................................................................ 3
2. Dasar Teori ........................................................................................................................ 3
2.1. Penguat Common Emitor ............................................................................................ 4
2.2. Ciri-ciri Masukan Common Emitor ............................................................................ 5
2.3. Ciri-ciri Keluaran Common Emitor ............................................................................ 5
2.4. Karakteristik Penguat Common Emitor ...................................................................... 5
2.5. Pembalik Fasa ............................................................................................................. 6
2.6. Rangkaian Ekivalen AC dan DC ................................................................................ 7
3. Alat dan Komponen yang Digunakan ............................................................................. 10
4. Prosedur Percobaan ......................................................................................................... 11
4.1. Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Penguat Common Emitor ................................ 11
4.2. Rangkaian Penguat Common Emitor ........................................................................ 11
5. Data Hasil Percobaan....................................................................................................... 12
6. Analisa ............................................................................................................................. 15
6.1. Perhitungan I
B,
I
C
, I
E
, V
B
, V
BE
, V
CE
untuk Tabel 1

................................................ 15
6.2. Penguatan Tegangan dan Kepatuhan ac Rangkaian Penguat Common Emitor ...... 16
6.3. Bentuk Gelombang V
out
Pada Berbagai Nilai V
in
(ac) ............................................. 17
6.4. Perhitungan Vout rangkaian penguat common emitor dengan model ac Ebers Mole
................................................................................................................................. 17
6.5. Fasa

V
in
Terhadap V
out
............................................................................................ 19
7. Kesimpulan ...................................................................................................................... 19
Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 20
Lampiran .............................................................................................................................. 21

3


PERCOBAAN XIII
DESIGN PENGUAT COMMON EMITOR

1.TUJUAN
1. Menentukan titik kerja melalui pemberian tegangan bias sesuai dengan jenis
transistor dan arus output.
2. Mengamati tegangan output dan menghitung penguatan tegangan.
2. DASAR TEORI
Transistor sering digunakan untuk memperkuat sinyal input dalam radio, tel
evisi dan beberapa aplikasi lain. Rangkaian ini di desain untuk menaikkan arus atau
level tegangan. Penguatan daya dihasilkan oleh penguatan arus dan tegangan (P=V
*I). Cara menenukan kaki-kaki pada transistor dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
dengan menggunakan alat ukur dan dengan melihat tanda pada komponen. Cara
yang paling sering digunakan adalah dengan berdasarkan tanda pada komponen.
Untuk lebih mudah dapat dengan menggunakan data sheet dari komponen yang
bersangkutan.
Transistor merupakan komponen dasar untuk system penguat. Untuk
bekerja sebagai penguat , transistor harus berada dalam keadaan aktif. Kondisi aktif
dengan memberikan bias pada transistor.
Ada 3 Macam konfigurasi dari rangkaian penguat transistor yaitu :
Common-Emitter (CE) atau Emitter ditanahkan
Common-Base (CB) atau Basis Ditanahkan dan
Common-Collector (CC) atau Kolektor ditanahkan.




4

2.1. Penguat Common Emitor
Sesuai dengan namanya, penguat emitter ditanahkan (common emiter),
memiliki kaki emitor dari transistor bipolar dalam rangkaian penguat dihubungkan
dengan tanah (ground AC). Basis emitor berada dalam keadaan basis maju.
Rangkaian penguat common-emitter adalah yang paling banyak digunakan karena
memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitudo dari sinyal masukan. Faktor
penguatan dari transistor dilambangkan dengan simbol beta ().
Pada penguat common emitor , kaki emitor transistor di groundkan, lalu
input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat
Common Emitor juga mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.

Gambar 2.1. Penguat Common Emitor

Pada emitor ditanahkan isyarat masuk melalui basis dan emitor
dihubungkan dengan tanah, sedangkan keluaran diambil dari kolektor. Emitor
ditanahkan mempunyai impedansi masukan kali lebih besar daripada basis
ditanahkan, dan impedansi keluaran transistor lebih kecil daripada basis
ditanahkan. Impedansi masukan yang tak terlalu besar dan impedansi keluaran
yang tak terlalu kecil membuat emitor ditanahkan sangat baik digandengkan dalam
beberapa tahap tanpa banyak ketidaksesusian impedansi pada alih tegangan dari
satu tahap ke tahap berikutnya.

5


2.2. Ciri-ciri Masukan Common Emitor
Perhatikan beberapa hal berikut pada lengkungan ciri statik masukan transistor
dengan hubungsn emitor ditanahkan.
a. Sumbu tegak adalah arus basis i
B
yang mempunyai nilai dalamA dan sumbu datar
adalah V
BE
.
b. Pada V
CE
= 0 arus basis naik dengan cepat dibandingkan dengan nilai V
CE
yang
lain.
2.3. Ciri-ciri Keluaran Common Emitor
Lengkung ciri statik keluaran transistor jika dihubungkan emitor ditanahkan
adalah seperti berikut.
a. Sumbu tegak adalah arus kolektor i
C
, sumbu datar adalah beda tegangan antara
kolektor dan emitor V
CE
dengan parameter arus basis i
B
.
b. Nisbah , yang mempunyai nilai kira-kira 100, sehingga arus basis mempunyai
nilai kecil. Jika arus kolektor terdapat dalam orde 1 mA, maka arus basis yang
masuk adalah orde puluhan mikro amper.
c. Jika arus i
B
= 0, maka i
C
= 0.
d. Jika Lengkungan ciri statik masing-masing arus basis i
B
mempunyai kemiringan
yang benar, yang berarti impedansi keluaran transistor yang sebanding dengan
kebalikan kemiringan lengkungan ciri mempunyai nilai kecil, makin besar arus
basis i
B
makin besar kemiringannya.
2.4. Karakteristik Penguat Common Emitor
Penguat Common Emitor mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Sinyal outputnya berbalik fasa 180 derajat terhadap sinyal input.
Sangat mungkin terjadi osilasi karena adanya umpan balik positif, sehingga
sering dipasang umpan balik negatif untuk mencegahnya.
Sering dipakai pada penguat frekuensi rendah (terutama pada sinyal audio).
6

Mempunyai stabilitas penguatan yang rendah karena bergantung pada
kestabilan suhu dan bias transistor.
Jika tegangan keluaran turun oleh pertambahan arus beban , maka VBE
(tegangan basis emiter) bertambah dan arus beban bertambah besar pula ,
sehingga titik q (kerja) bergeser keatas sepanjang garis beban , dan V
EC
(tegangan
emiter colector) berkurang . Akibatnya Vo (tegangan keluaran) bertambah besar
melawan turunnya Vo oleh arus beban sehingga keluaran Vo akan tetap (Sutrisno,
1986 : 172).
Emiter menjadi bagian bersama untuk masukan dan keluaran . Resistansi
keluarannya adalah resistansi didalam penguat yang terlihat oleh beban , resistansi
keluaran, diperoleh dengan membuat Vs = 0 dan RL (hambatan beban) = .
Dengan menghubungkan pembangkit luar pada ujung keluaran , maka arus
mengalir kedalam penguat (Thomas sri widodo, 2002: 61-62).

2.5. Pembalik Fasa
Selama setengah siklus tegangan masuk yang positif arus basis naik,
mengakibatkan arus kolektor juga naik. Ini menimbulkan penurunan tegangan yang
lebih besar melintas tahanan kolektor. Sehingga, tegangan kolektor turun dan kita
memperoleh setengah siklus negatif yang pertama pada tegangan keluar.
Sebaliknya, pada setengah siklus tegangan masuk yang negatif arus kolektor lebih
sedikit mengalir dan penurunan tegangan melintas tahanan kolektor berkurang.
Dengan demikian, tegangan kolektor tanah naik dan kita memperoleh setengah
siklus positif pada tegangan keluar.
Phase output pada rangkaian penguat common emittor akan terbalik
sebesar 180 terhadap phase inputnya. Dan amplitudo dari output akan lebih besar
daripada amplitudo inputnya (terjadi penguatan). Dimana :


7


2.6. Rangkaian Ekivalen AC dan DC

Gambar 2.2 b memperlihatkan garis beban ac dan titik Q. tegangan masuk
ac menghasilkan perubahan ac pada arus basis. Hal ini mengakibatkan perubahan
sinusoidal di sekitar titik Q.
R
1
R
C
R
E
R
2
+V
CC
V
in
V
out
I
C
Q
(a)
(b)

Gambar 2.2. (a) Penguat emitter-ditanahkan. (b) Garis Beban ac
Cara yang paling sederhana untuk menganalisa rangkaian ini adalah dengan
membagi penelaahannya menjadi 2 bagian : analisa ac dengan dc, kita dapat
menggunakan dalil superposisi dalam menganalisa penguat-penguat transistor.

Berikut ini akan diuraikan langkah-langkah penerapan super posisi pada
rangkaian-rangkaian transistor :
1. Kurangilah sumber AC menjadi nol; ini berarti menghubung-singkat
sumber tegangan dan membuka sumber arus. Buka semua kapasitor.
Rangkaian yang tinggal disebut rangkaian ekivalen DC. Dengan rangkaian
ini, kita dapat menghitung semua arus dan tegangan DC yang kita inginkan.
2. Kurangilah sumber DC menjadi nol; ini berarti sama dengan menghubung-
singkat semua tegangan dan membuka sumber arus. Hubung-singkatkan
semua kapasitor penggandeng dan kapasitor pintas. Rangkaian yang tinggal
8

disebut rangkaian ekivalen AC. Rangkaian ini adalah rangkaian yang
digunakan untuk menghitung arus dan tegangan AC.
Arus keseluruhan disetiap cabang pada rangkaian itu adalah jumlah arus DC
dan arus AC yang mengalir pada cabang tersebut. Tegangan keseluruhan
melintas setiap cabang adalah jumlah tegangan DC dan tegangan AC melintas
tegangan tersebut.
Penggandeng
Penggandeng
R
1
R
C
R
E
R
2
Pintas
R
L
R
S
+V
CC
R
1
R
2
R
C
R
E
+V
CC
(a) (b)

R
1
R
C
R
2
R
L
R
S
(c)

Gambar 2.3. Dalil superposisi. (a) Rangkaian yang sebenarnya. (b) Rangkaian
ekivalen DC. (c) Rangkaian ekivalen AC.
Tegangan sebuah penguat adalah perbandingan tegangan keluar ac dengan
tegangan masuk ac. Persamaannya adalah sebagai berikut :


9

R
C
r'
e
i
e
= V
in
/r
e
R
1
R
2
R
C
V
in
(a) (b)
+
-
V
in
V
out
+
-

Gambar 2.4. (a) rangkaian ekivalen ac untuk penguat emiter-ditanahkan. (b)
model ac Ebers-Moll yang digunakan untuk transistor.
Hukum ohm mengatakan bahwa arus emitter ac adalah :

Karena arus arus kolektor hampir sama dengan arus emiter, maka

Arus kolektor ac mengalir melalui tahanan kolektor, menghasilkan
tegangan keluaran sebesar

Berarti tegangan dapat juga dicari dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut :







10


3. ALAT DAN KOMPONEN YANG DIGUNAKAN
No Alat dan Komponen yang Digunakan Jumlah
1 DC Power Supply 1
2 Resistor 220 1
3 Resistor 2,2 k 1
4 Resistor 200 1
5 Resistor 10 k 1
6 Resistor 1k 1
7 Resistor 1,5 k 1
8 Transistor BC 107 1
9 Kapasitor 22 F 3
10 Multimeter 1
11 Function generator 1
12 Osiloskop 1
13 Kabel kabel penghubung secukupnya







11


4. PROSEDUR PERCOBAAN
4.1. Rangkaian bias pembagi tegangan penguat common emitor
1. Mencatat karakteristik transistor BC 107 dari datasheet.

Gambar 4.1. Rangkaian bias pembagi tegangan penguat common emitor

2. Transistor BC 107 ini akan digunakan sebagai penguat common emitor
dengan bias pembagi tegangan. Menghitung nilai R
1
, R
2
, R
C
dan R
E
bila
diinginkan V
CC
= 10V dan I
C(Q)
= 1 mA.
3. Menghitung nilai V
CE(Q)
. Apakah V
CE(Q)
x I
C(Q)
< P
D(max)
?
4. Membuat rangkaian bias pembagi tegangan penguat common emitter seperti
gambar 1, dengan V
CC
= 10V dan nilai-nilai R
1
, R
2,
R
C
dan R
E
hasil
perhitungan langkah 2.
5. Mengukur I
B,
I
C
, I
E
, V
B
, V
BE
dan V
CE.

6. Memasukkan hasilnya pada Tabel 1.
4.2. Rangkaian penguat common emitor
1. Membuat rangkaian seperti Gambar 2 dengan V
in(ac)
= 80 mV gelombang
sinusoida, frekuensi 1kHz, R
S
= 1 k dan R
L
= 1,5 k. Mengamati dengan
menggunakan osiloskop V
B
, V
E
, V
BE
, V
CE
dan V
out
. Menggambarkan hasil
pengamatan tersebut.
12

2. Mengulangi langkah 1 dengan nilai V
in(ac)
= 0,2 V
PP
dan 1V pada frekuensi
yang sama.
3. Mencatat hasilnya pada Tabel 2.

Gambar 4.2. Rangkaian penguat common emitter
5. DATA HASIL PERCOBAAN
Tabel 1. Rangkaian bias pembagi tegangan penguat common emitor
I
B
I
C
I
E
V
B
V
BE
V
CE
Ukur 2 A 0,95 mA 0,9 mA 0,89 V 0,65 V 0,22 V
Hitung 3,3 A 1 mA 1,0033 mA 0,91 V 0,7 V 0,2 V

Tabel 2. Rangkaian penguat common emitor
Vin (ac)
Vout
Ukur Hitung
80 mV 1,08 V 0,89 V
0,2 V 2,1 V 2,22 V
1 V 2,9 V 11,13 V
Maks tidak cacat : 0,12 V 0,19 V 1,33 V
Sempurna : 22 mV 44 mV 0,245 V
13

Gambar hasil pengamatan untuk Tabel 2. Rangkaian Penguat Common Emitor
menggunakan osiloskop :

Vin (ac) Gambar Gelombang Vin dan Vout Keterangan
80 mV

Vin = Ain = 80 mV
Vout = Aout = 1,08 V
0,5 ms 1 ms/div
0,2 V








Vin = Ain = 0,2 V
Vout = Aout = 2,1 V
0,5 ms 1 ms/div
14

1 V

Vin = Ain = 1 V
Vout = Aout = 2,9 V
0,5 ms 1 ms/div
Saat input
& output
maksimal
tidak cacat :
0,12 V

Vin = Ain = 0,12 V
Vout = Aout = 0,19 V
0,5 ms 1 ms/div
Saat input
& output
sempurna :
22 mV


Vin = Ain = 22 mV
Vout = Aout = 44 mV
0,5 ms 1 ms/div


15


6. ANALISA
6.1. Perhitungan I
B
, I
C
, I
E,
V
B,
V
BE
, V
CE
untuk tabel 1.


Dimisalkan Vcc = 10 V ; R
1
= 2,2 k . Maka :


10 R
2
> 0,7 R
1
+ 0,7 R
2

9,3 R
2
> 0,7 R
1

R
2
>


R
2
> 0,075 R
1

R
2
> 0,075 2200
R
2
> 203,225
Jadi, R
2
yang dipakai adalah 220 .
R
BB
=






V
BB
= I
B
. R
BB
+ V
BE
+ I
B
(1+ ).R
E



=
( )


= 0,208847 k = 208,84 = 200

16

V
BB
=



=




V
CC
= I
C
. R
CC
+ V
CE
+ I
C
(

= 9798,9967 = 10 k

Jadi, nilai I
B
= 3,33 A ; I
C
= 1 mA ; I
E
= 1,00333 mA ;
V
B
= 0,91 V ; V
BE
= 0,7 V ; V
CE
= 0,2 V
Jika nilai perhitungan dengan pengukuran dibandingkan, tidak terdapat
perbedaan nilai yang jauh. Nilai yang dihasilkan hampir sama, walaupun tidak tepat
sama. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan faktor:
Nilai resistor yang digunakan untuk praktek tidak sesuai dengan nilai
resistor yang didapatkan pada saat perhitungan, dikarenakan nilai resistor
yang digunakan adalah nilai resistor yang umum berada di pasaran. Jadi,
digunakan nilai resitor yang mendekati hasil perhitungan.
Kondisi komponen yang kurang bagus dikarenakan komponen sudah sering
digunakan.
Ketelitian dalam pembacaan alat ukur.
6.2. Penguatan tegangan dan kepatuhan ac rangkaian penguat common emitor
Vin = 80 mV
Av = Vout / Vin = 1,08 V / 0,08 V = 13,5 kali
Vin = 0,2 V
Av = Vout / Vin = 2,1 V / 0,2 V = 10,5 kali
Vin = 1 V
Av = Vout / Vin = 2,9 V / 1 V = 2,9 kali
Vin = 0,12 V
Av = Vout / Vin = 0,19 V / 0,12 V = 1,58 kali
17

Vin = 22 mV
Av = Vout / Vin = 0,044 V / 0,022 V = 2 kali
6.3. Bentuk gelombang Vout pada berbagai nilai Vin (ac)
Dari bentuk gelombang yang ditampilkan pada osiloskop dengan Vin = 0,08
V ; 0,2 V dan 1 V menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai tegangan input (Vin)
yang diberikan, maka nilai tegangan keluaran dari V
out
akan semakin besar pula,
dikarenakan karakter penguat common emitor adalah sebagai penguat tegangan.
Jadi, semakin tinggi nilai input yang dimasukkan menyebabkan penguatannya
semakin besar dan amplitudo yang dihasilkan dari output akan lebih besar daripada
amplitudo inputnya pada saat kondisi tersebut maka terjadi penguatan.
Pada saat diberikan V
in
= 80 mV , 0,2 V dan 1V gelombang V
out
yang
dihasilkan adalah cacat. Karena gelombang yang dihasilkan bukan berbentuk
gelombang sinus yang sesuai dengan gelombang inputnya. Gelombang mulai
terlihat tidak cacat atau maksimal tidak cacat pada saat diberikan V
in
= 0,12 V dan
gelombang sempurna yaitu keluarannya adalah gelombang sinus yang sama dengan
masukannya dihasilkan pada saat V
in
= 22 mV.
6.4. Perhitungan Vout rangkaian penguat common emitor dengan model ac Ebers
Mole
berlaku untuk semua nilai input :



1. 80 mV

( )



2. 0,2 V

( )
18



3. 1 V

( )



4. 0,12 V

( )



5. 22 mV

)
0,022 m

( )



Setelah dibandingkan dengan hasil pengukuran yang telah dilakukan
sebelumnya, dapat terlihat adanya sedikit perbedaan dengan hasil
pengukuran.Hal tersebut dikarenakan adanya ketidaksesuaian nilai resistor yang
dipakai pada rangkaian dengan perhitungan.





19


6.5. Fasa V
in
terhadap V
out

Gelombang output yang dihasilkan berbalik fasa 180 derajat terhadap
gelombang inputnya. Dan amplitudo dari output menjadi lebih besar daripada
amplitudo inputnya pada kondisi tersebut menunjukkan terjadinya penguatan.
Pembalikan fasa terjadi karena selama setengah siklus tegangan masuk
yang positif arus basis naik, mengakibatkan arus kolektor juga naik. Hal tersebut
menimbulkan penurunan tegangan yang lebih besar melintas tahanan kolektor.
Sehingga, tegangan kolektor turun dan kita memperoleh setengah siklus negatif
yang pertama pada tegangan keluar. Sebaliknya, pada setengah siklus tegangan
masuk yang negatif arus kolektor lebih sedikit mengalir dan penurunan tegangan
melintas tahanan kolektor berkurang. Dengan demikian, tegangan kolektor tanah
naik dan kita memperoleh setengah siklus positif pada tegangan keluar.

7. KESIMPULAN
1. Penguat common emitor memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitudo dari
sinyal masukan.
2. Semakin tinggi nilai tegangan input (Vin) yang diberikan, maka nilai tegangan
keluaran dari V
out
akan semakin besar pula. Sehingga menyebabkan penguatannya
semakin besar.
3. Sinyal output yang dihasilkan berbalik fasa 180 derajat terhadap sinyal inputnya.









20


DAFTAR PUSTAKA

Indra. Penguat Common Emitor. www.swaraunib.com ( 4 Desember 2013)
Oktariana, Ririn. Fisika. http://fisika-ririn.blogspot.com ( 4 Desember 2013)
Wulansari, Rizqia. Dasar Elektronika. http://rizqiaawulansari.wordpress.com ( 7 Desember
2013)
Penguat Transistor. http://abisabrina.wordpress.com (7 Desember 2013)



















21


LAMPIRAN





22




23