Anda di halaman 1dari 6

I.

Latar Belakang
Oil Losses dalam kegiatan operasi perminyakan merupakan hal biasa dan sering
terjadi karena sifat fisis minyak, terutama minyak ringan, pengaruh
handling/dipindahkan, proses pemurnian di kilang, proses custody transfer dan
adanya perbedaan hasil pengukuran antara pengirim dan penerima yang semula
disebut discrepancy. Descrepancy negative maupun positive mempunyai batas
toleransi sehingga semua perusahaan minyak berusaha menjaga agar discrepancy
tetap pada batas toleransi yang diberikan. bila discrepancy negative yang terjadi
melebihi batas yang disepakati/ditentukan maka berpotensi menimbulkan
kerugian bagi perusahaan penerima minyak.
Oil Losses adalah kekurangan/selisih dalam transaksi minyak yang di hitung
dalam satuan sama, secara internasional dihitung dalam angka standard
(60F/15C). Sangat berbeda dibandingkan dengan benda/barang2 lain. Minyak
jika dikirim dengan angka Barrel 60 F maka maka harus diterima dengan angka
barrel 60 F. Suhu angka kirim vs terima yang tidak sama akan menunjukan
besaran yang sangat berbeda.
Oil Losses dapat dikategorikan dalam losses fisik dan Non Fisik (semu). Oil
Losses fisik terjadi karena sifat fisik minyak yang mudah menguap, kerusakan
peralatan (Tanki timbun, kebocoran seal pompa, Valve/kerangan, ullage tanki
yang tinggi, kerusakan PV Valve, cat tanki, dll). Oil Losses semacam ini dapat
diperhitungkan dan dapat dikendalikan.
Oil Losses semu terjadi kebanyakan karena kesalahan yang terkait pada faktor
manusia sebagai personal yang melaksanakan kegiatan pengukuran,
mengkalkulasi dan pelaporan.
Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja operator seperti pemahaman tentang
sifat fisis minyak, ketaatan pada prosedur kerja/peralatan kerja serta ketrampilan
personal dalam menggunakan alat ukur, melakukan kalkulasi menggunakan table
konversi dll.
Oil Losses semu sulit diatasi namun dapat dilakukan upaya penekanan Oil losses
antara lain menyesuaikan peruntukan dan kondisi alat tampung dan
aliran/transportasi minyak serta melakukan pengawasan dan pelatihan bagi para
operator secara berkisinambungan. Kesulitan bagi Perusahaan minyak adalah
mencari instruktur yang relevance dan menentukan provider professional yang
sesuai untuk melakukan training. Banyaknya Perusahaan yang menawarkan diri
sebagai penyelenggara Pelatihan, tapi sering mereka melaksanakan pelatihan
tanpa tanggung jawab sehingga membuat peserta pelatihan tidak serius mengikuti
dan akhirnya setelah mengeluarkan biaya besar perusahaan tidak mendapatkan
apa yang diharapkan.
Untuk mengatasi kerugian, akibat dari adanya Oil losses ini, pada umumnya
Perusahaan minyak mengansurasikan terutama dalam pengangkutan(kapal laut
dll).
Sebelum tahun 1993 Pertamina mengasuransikan Oil loss pengangkutan dengan
system partial yaitu apabila terjadi oil losses pada pengangkutan minyak mentah
dengan kapal laut melebihi 0,5 % Pertamina dapat melakukan klaim, namun
karena oil losses selalu melebihi batas toleransi (melebihi 0.5%) maka Pihak
Asuransi tidak berani mengambil resiko dan system resiko oil losses partial
diganti dengan system resiko Total loss only dimana akan memberikan
penggantian apabila terjadi Total Loss Only (TLO), artinya klaim hanya diberikan
bila muatan 1 (satu) kapal atau 75% cargo hilang. Karena resiko losses partial
tidak bisa diasursansikan maka diperlukan pengendalian oil losses dengan cara
membentuk Tim Pengendalian oil Losses di Dit. Hilir pada tahun 2001, yang
anggotanya terdiri dari Karyawan Pertamina Hilir sendiri. Tugas dari Tim ini
adalah melaksanakan Pelatihan secara berkesinambungan dan melakukan fact
finding ke lokasi-lokasi operasionil yang bermasalah. Pada tahun 2003 kerja Tim
ini menghasilkan penurunanan oil losses yang cukup signifikan dari total losses
pertahun sebesar 1,42 Triliyuns menjadi hanya 52 Milyards. Namun Tim
pengendalian ini bubar tahun 2004 karena anggotanya pensiun dan sebagian
lainnya dipindahkan ke pekerjaan lain.
II. Penyebab terjadinya Oil Losses
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya Oil Losses sebagai berikut:
1. Sifat Minyak
Minyak dibagi dua bagian yaitu minyak ringan dan minyak berat. Minyak ringan
mempunyai sifat mudah menguap sehingga sering terjadi oil losses selama
handling yaitu mulai dari produksi Minyak Mentah dari lapangan produksi sektor
Hulu atau KPS, Pengolahan di kilang dan transportsi dari Kilang sampai ke Depo-
Depo Pemasaran dan konsumen.
2. Peralatan
Peralatan yang mempengaruhi oil losses meliputi
(i) PD Meter sebagai sarana transaksi klas 1 yang memerlukan kalibrasi secara
berkala dan harus mendapatkan perijinan dari Metrologi/ Departemen
Perdagangan. Peralatan ini memerlukan perawatan sehingga dapat berfungsi saat
digunakan untuk transaksi
(ii) Automatic Tank Gauging (ATG) merupakan alat transaksi klas 2 yang harus
di kalibrasi dan perawatan agar berfungsi saat digunakan untuk transaksi.
(iii) Tanki timbun, kondisi tanki yang berpotensi menyebabkan losses yaitu
dipergunakan untuk dua atau lebih jenis crude, mengalami kebocoran pada :
Tutup tanki lubang ukur dan man hole tidak rapat, PV Valve tidak berfungsi,
drain valve bocor, Ullage/kosongan tanki tinggi serta konstruksi bottom tanki
yang mengalami penurunan.
(iv) Perpipaan, panjang/jauhnya jarak pengirim dan penerima, kondisi naik turun
dan banyaknya hubungan dengan pipa lain, lamanya jarak antara satu proses
custody dengan custody transfer lainnya
(v) Tanki kapal, kondisi tanki kapal karena kebocoran pada lubang ukur dan man
hole tidak rapat.
(vi) Pompa transfer, mengalami kebocoran pada oil seal.
(vii) Peralatan Ukur, kondisi meteran dan bob/pemberatnya, pasta untuk
mengukur kandungan air, thermometer
Peralatan sampling laboratorium, kondisi sampling apparatus, kondisi perlatan
ukur (thermometer, Hydrometer, botol/kaleng sample
3. Prosedur kerja
Prosedur kerja harus baku /standar untuk transaksi antara angka kirim dengan
angka terima apalagi antara pihak pemasok/ pengirim maupun
penerima/konsumen meliputi :
i. Prosedure serah terima. Sampai saat ini masih menggunakan angka kirim
sebagai angka transaksi. Mekipun kondisi proses custody transfer menghendaki
diberlakukan angka terima.
ii. Prosedur Sampling dan test ASTM/IP.
iii. Prosedur test laboratorium ASTM/IP
iv. Table konversi (Temperatur, Satuan volume dan satuan berat)
v. Table Tanki Darat dan tangki kapal dll.
vi. Prosedur dan SOP hendaknya selalu diupdate, disesuaikan dengan kondisi
operasional yang sering berubah.
4. Sumberdaya manusia
SDM yang bekerja pada operasi arus minyak harus memahami secara lengkap
pengetahuan, ketaatan, ketrampilan dan kejujuran dalam penanganan Arus
Minyak.
i. Mengetahui dan Mempelajari
Pengetahuan dan pemahaman para operator tentang sifat minyak yang mudah
menguap, mudah terbakar, toxis, minyak berat mudah membeku. Disamping itu
perlunya memahami Product Supply Specification tentang Minyak Mentah dan
produk minyak.
ii. Mentaati Prosedur Operasional
Bekerja berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) meliputi langkah-langkah
yang harus dilakukan untuk kelancaran operasional dan keselamatan kerja dan
lingkungan. Prosedur handling minyak mentah dan produk minyak yang ada harus
dipahami oleh para operator. Pada prosedur handling Pertamina tahun 2007 untuk
transaksi menggunakan meteran (klas 1), kemudian ATG (klas 2) dan terakhir
Manual Tank Gauging (klas 3) Kenyataan sampai saat ini transaksi sebagian besar
masih menggunakan Tank Gauging karena kondisi peralatan PD meter dan ATG
yang masih banyak dalm kondisi rusak
iii. Ketaatan penggunaan peralatan yang tepat
Untuk menghindari kesalahan pengukuran, operator harus melaksanakan prosedur
yaitu urut-urutan pelaksanaan pengukuran/berapa kali mengukur disamping
peralatan harus selalu tersedia dan dalam kondisi prima. Demikian juga dalam
mengkalkulasi harus menggunakan table konversi yang tepat (temperature,
volume ke berat atau sebaliknya). Meskipun saat ini untuk menghindarkan
kesalahan sudah menggunakan sarana electronic namun tetap diperlukan asal-usul
kalkulasinya sehingga sangat diperlukan saat terjadi discrepancy memudahkan
dalam penulusurannya (trasir)
iv. Terampil dalam bekerja
a. Penggunaan PD Meter
Operator harus memahami tentang pengoperasian peralatan, kapan kalibrasi
dilakukan, penggantian meter factor untuk mengkalkulasi dan pelaporan dan
perawatan
b. Automatic Tank Gauging (ATG)
Operator harus mengetahui bagaimana ATG berfungsi sebagai alat ukur pengganti
Manual. Perlunya kalibrasi dan perawatan.
c. Pengukuran manual.
v. Jujur dalam bekerja
Mental yang baik sangat diperlukan sebagai karyawan perminyakan, kejujuran ,
tegar terhadap godaan untuk melakukan pencurian dan iming2 materi dari para
penjahat sangat-sangat diperlukan.
a. Untuk mendapatkan angka isi tanki diperlukan kegiatan pengukuran sebanyak
11 kali meliputi: Mengukur tinggi cairan 1X, mengukur tinggi air bebas 1X;
mengukur suhu minyak 3X (top , middle, bottom); mengukur suhu sample 1X;
mengukur density 1X ; pengambilan sample 3X ( upper, middle, lower) dan
pengukuran S&W 1X
Masing2 harus dilakukan minimal 2X pengukuran maka kegiatan ini akan
berpotensi mengalami kesalahan 22 kali.
b. Perhitungan manual
Dalam kegiatan transaksi antara pihak penjual/pengirim dan pembeli/penerima
menggunakan acuan standar internasional. Yang berlaku hingga saat ini adalah
system Metrik, British dan Amerika. Data Density 15o C (Metric), Spcific Gravity
60 o /60 o F (British) dan API 60 o F (Amerika). Untuk memenuhi hal tersebut
digunakan konversi menggunakan table konversi. Kegiatan meliputi: Membaca
tank table 6X; membaca table ASTM 10X; perhitungan Koreksi 14X; interpolasi
8X dan menghitung kuantitas 4X. Kemungkinan timbulnya kesalahan pembacaan
table akan berpengaruh pada kebenaran angka hasil ukur.
III. Pengendalian oil losses
Upaya pengendalian oil losses telah dilakukan oleh Perusahaan meliputi :
1. Pemasangan PD Meter dalam transaksi penerimaan dan pengiriman Minyak
Mentah dan Produk. Namun perlu perhatian terhadap Operasional dan peran
badan Metrologi yang menyatakan pemberlakuan peralatan. Masalah perawatan
harus menjadi prioritas agar peralatan beroperasi dalam jangka panjang
2. Automatic Tank Gauging (ATG), yaitu sarana pengukuran secara automatis
yang dipasang pada Tanki penimbun. Sarana ini memerlukan presisi yang
mengharuskan melakukan kalibrasi dan perawatan ekstra. Namun untuk transaksi
sebagian besar masih menggunakan system Manual.
3. Kalkulasi system elektronik, data ATG langsung dimasukkan dalam system
sehingga diperoleh angka Volume dan dapat dikonversi ke satuan standar.
4. Dengan system Automatic banyak operator yang tidak mengetahui mekanisme
system kerja sarana Automatic tersebut. Apabila terjadi discrepancy tidak
mengetahui letak kesalahannya. Sehingg diperlukan pengawasan yang intensive.
5. Menyewa surveyor untuk pengawasan R3 di Dit. Pengolahan
6. Membentuk Tim Oil Loss di Dit Pengolahan dengan anggotanya dari Karyawan
Pertamina Pengolahan sendiri.
IV. Kesimpulan dan saran
Oil Losses yang terjadi dikatagorikan dua bagian yaitu Oil losses fisik dan Oil
Losses semu.
Oil Losses akan selalu terjadi karena sifat fisis minyak, kegagalan peralatan,
peruntukan peralatan/tangki minyak mentah dan peralatan ukur yang tidak
dilaksanakan sesuai prosedur atau menggunakan prosedur yang perlu diupdate
serta pelaksana/operator yang kurang terlatih.
Upaya yang sudah dilakukan adalah memaksimalkan penggunaan alat ukur
automatic (Metering system dan ATG), meningkatkan keterampilan SDM dalam
pengukuran, perhitungan dan penanganan arus minyak, memperbaiki peralatan
dan mengupdate prosedur yang ada.
Namun mengingat permasalahan oil losses ini sangat komlex, sedangkan jumlah
karyawan terbatas utk bisa bekerja total untuk satu Tim Pengendalian oil losses
maka diperlukan satu Tim diluar Pertamina yang berpengalaman, Indefendent,
professional dan dapat menjaga kerahasiaan Perusahaan. Menggunakan Tim OMR
(exs. Tim pengendalian oil losses pertamina) kami pandang sangat tepat karena
disamping menghargai kemampuan bangsa sendiri, penggunaan tenaga asing
selama ini disamping kontraknya terlalu mahal juga tidak menghasilkan seperti
yang diharapkan. OMR TEAM adalah Tim yang solit, pengalaman, professional
yang sudah diakui kemampuannya dan sangat baik bila digunakan dalam bidang
Pelatihan dan Konsultasi.