Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN
Persalinan lama, yang disebut juga dengan istilah distosia secara umum memaksudkan
persalinan yang abnormal atau sulit. Sementara itu, WHO secara lebih spesifik mendefinisikan
persalinan lama (prolonged labor/partus lama) sebagai proses persalinan yang berlangsung lebih
dari 24 jam. Waktu pemanjangan proses persalinan yang dimaksud adalah penambahan antara
kala I dan kala II persalinan. Dalam penentuan batas waktu, terdapat variasi sebuah sumber yang
menyatakan bahwa batasan waktu dalam penentuan partus lama adalah 18 jam.















2

BAB II
LAPORAN KASUS

A. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara auto-anammesis di kamar bersalin RSUD Karawang pada
tanggal 5 Juni 2014 pukul 16.10
Identitas
I. Identitas Pasien
Nama : Ny. TA
Usia : 25 tahun
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Dusun Karawang Tanjung Rt.03 Rw.01 Kelurahan
Gebangjaya, Kecamatan Cibuaya, Karawang
Tanggal masuk RS : 5 Juni 2014
Tanggal keluar RS : 8 Juni 2014
Dokter penanggung jawab : dr. David, Sp.OG

II. Identitas Suami
Nama : Tn. I
Usia : 25 tahun
3

Pendidikan : SD
Pekerjaan : Buruh
Agama : Islam
Alamat : Dusun Karawang Tanjung Rt.03 Rw.01 Kelurahan
Gebangjaya, Kecamatan Cibuaya, Karawang
Suku : Sunda

Keluhan utama
Pasien datang dirujuk oleh bidan dengan PK II lama.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien G2P1A0 mengaku hamil 10 bulan, dengan HPHT 05-08-2013, taksiran partus 12-
05-2014, usia kehamilan 43 minggu. Mulas-mulas pertama kali dirasakan sejak 1 hari SMRS
(pukul 06.00), dirasa teratur, semakin lama semakin sering, semakin lama durasinya, dan
semakin kuat, namun pasien tidak segera ke RS ataupun bidan. Keesokan harinya, 05-06-2014
pukul 02.30 keluar air-air, jumlah cukup banyak, tidak berwarna dan tidak berbau. Air yang
keluar disertai dengan lendir, namun darah dan flek-flek coklat atau merah disangkal. Pasien
memanggil paraji, lalu dikatakan sudah ada bukaan, kemudian pasien ke bidan dan pukul 04.00
dikatakan bukaan 6. Pukul 09.00 dikatakan bidan bukaan lengkap, kemudian pasien dipimpin
meneran, namun bayi tidak lahir juga. Pasien mengaku, saat dibidan kekuatannya untuk meneran
tidak kuat. Pukul 11.00 pasien dibawa ke puskesmas, dipersiapkan untuk dirujuk namun pasien
baru dapat RS rujukan dan sampai di VK RSUD Karawang pukul 15.45. Keluhan pandangan
kabur, nyeri ulu hati, mual, muntah, demam, menggigil, nyeri saat buang air kecil disangkal oleh
pasien. Sampai saat tiba di RS, pasien mengaku gerakan janin masih ada namun dirasa semakin
berkurang. Selama kehamilan ini, pasien kontrol di bidan, teratur 2 minggu sekali sejak usia
kehamilan 4 bulan dikarenakan pasien tidak tahu sedang hamil karena menstruasinya yang tidak
teratur, imunisasi TT (-), riwayat USG kehamilan ini tidak ada, saat kontrol di bidan, kondisi
selalu baik, tensi darah tidak pernah tinggi dan tidak ada keluhanyang berarti.
4

Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, alergi, dan jantung disangkal pasien
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat darah tinggi, kencing manis, jantung, asma, dan alergi juga disangkal ada dalam
keluarga pasien.
Riwayat Menstruasi
Menarche pada usia 14 tahun. Menstruasi awalnya teratur sebulan sekali, namun sejak
melahirkan anak pertama dan menggunakan KB, menstruasi jadi tidak teratur, bisa 3 bulan
sekali, lamanya 3-5 hari, ganti pembalut rata-rata 2x/hari, nyeri haid (-) hanya dirasakan linu-linu
namun masih bisa beraktifitas seperti biasa.
Riwayat Pernikahan
Pasien menikah 1x, diusia 20 tahun.
Riwayat Obstetri
I Laki-laki, 5 tahun, lahir di dokter, normal, berat badan lahir bayi 3.500 gr, panjang
badan lupa.
II Hamil ini.

B. PEMERIKSAAN FISIK
I. Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
BB/TB : 68 kg / 160 cm
Tanda Vital :
5

Tekanan darah : 160/100mmHg
Nadi : 88x/ menit
Suhu : 36.5
o
C
Pernafasan : 20x/ menit
Kepala : Normocephali, deformitas (-)
Mata : Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Leher : Kelenjar getah bening tidak teraba membesar
Kelenjar tiroid tidak teraba membesar
Thorax :
Paru : Suara nafas vesikuler ( + / + ), ronkhi ( - / - ), wheezing ( - / - )
Jantung : S1-S2 reguler, mumur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : Membuncit sesuai dengan usia kehamilan
Ekstremitas : Akral Hangat ( + / + ), Oedem ( - / - )
Genitalia : Vulva edema ( - )

II. Status Obstetri
Leopold
Leopold I : Bulat, tidak melenting (bokong)
Leopold II : Teraba rata disebelah kanan ibu (punggung kanan)
Teraba bagian-bagian kecil disebelah kiri
Leopold III : Bulat, melenting (kepala)
6

Leopold IV : Masuk PAP 1/5
TFU : 35 cm, punggung kanan, presentasi kepala
TBJ klinis : 3720 gram
DJJ : 155 bpm
His : 3x / 30 menit / 10 detik
Genitalia
Inspeksi : V/U tenang, perdarahan aktif (-)
Inspekulo : Tidak dilakukan
VT : Pembukaan lengkap, ketuban (-), kepala di Hodge III-IV

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium 05-06-2014 16:20
Hb : 11.5 g/dL
Leukosit : 23.760/mm3
Trombosit : 331.000/mm3
Hematokrit : 35.1%
Masa perdarahan/BT : 2
Masa pembekuan/CT : 11
Golongan darah : B
Rhesus : ( + )
HbSaG rapid : Non reaktif
7

GDS : 101 mg/dl
USG tidak dilakukan

D. DIAGNOSIS
PK II lama pada G2P1A0 hamil aterm , JPKTH
Syarat ekstraksi terpenuhi

E. PENATALAKSANAAN
Asuhan PK II Ibu dipimpin meneran, hiss tidak adekuat, bayi tidak lahir
Pukul 16.05, dengan ekstraksi vakum lahir bayi laki-laki dengan berat 3550 gram,
panjang 49 cm, Apgar Score 3/5, kelainan bawan ( - ), bayi tidak segera menangis, ketuban hijau
kental jumlah sedikit, caput succacedenum ( + ).
Ibu disuntik Oxcitocin 10 IU im dan drip Oxytocin 10 IU, tali pusat diklem dan dipotong.
Lahir plasenta lengkap, kontraksi uterus baik. Dilakukan eksplorasi dan didapat ruptur perineum
grade I dilakukan perineoraphy.
F. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam : Ad bonam
Ad Sanationam : Dubia ad bonam



8

Follow Up

S : Os tampak lemas, demam (+), sebelumnya tidak ada riwayat demam. O : CM/TSS
TD : 140/90 S : 39
o
C
N : 84x/menit RR : 20x/menit
Status Generalis
Mata : CA -/- ; SI -/-
Paru : Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : S1-S2 Reguler, murmur -, gallop
Abdomen : Supel, nyeri tekan -, BU + normal
Ekstremitas : Akral hangat ( + / + ), Oedem ( - / - )
Status Obstetri
TFU : setinggi umbilikus, kontraksi baik
Inspeksi V/P : Jahitan perineoraphy terjahit baik, perdarahan aktif (-), lochia rubra (+)
A : P2A0 post partus maturus dengan ekstraksi vakum + perineoraphy atas indikasi PK II
lama NH-0
P : Cek DPL post partum
Observasi tanda vital, kontraksi, perdarahan, suhu
Cefadroxil 2 x 500 mg
Asam Mefenamat 3x 500 mg
Hemobion 1 x 1 caps
Tanggal 5 Juni 2014 pukul 17.00, oleh koass Obsgyn
9

Paracetamol 500 mg selama demam ( + )
Mobilisasi bertahap
Folley catheter 1 x 24 jam


S : Pasien merasa nyeri pada perut ( + ), lemas ( + ), demam ( - ). Pasien mengaku kemarin
setelah minum sanmol 1x demam langsung turun, menggigil ( - ). Mobilisasi ( - ), buang air
kecil melalui selang kencing, BAB ( - ), ASI belum keluar karena belum dirangsang dan belum
memegang bayinya.
O : CM/TSS
TD : 130/70 S : 37.1
o
C
N : 104x / menit RR : 16 x/menit

Status Generalis
Mata : CA -/- ; SI -/-
Paru : Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : S1-S2 Reguler, murmur -, gallop
Abdomen : Supel, nyeri tekan positif pada region epigastrium, umbilical, dan
hipogastrium, bising usus ( + ) normal.
Ekstremitas : Akral hangat ( + / + ), Oedem ( - / - )

Status Obstetri
Tanggal 6 Juni 2014 pukul 06.00, oleh koass Obsgyn
10

TFU : 1 jari dibawah pusat, kontraksi baik
Inspeksi V/U : tenang, perdarahan aktif ( - ), lochia rubra ( + ), OUE terpasang cath urin,
urin jernih kekuningan, jumlah cukup.
A : P2A0 post partus maturus dengan ekstraksi vakum + perineoraphy atas
indikasi PK II lama NH-1
P : Observasi tanda vital, kontraksi, perdarahan, tanda-tanda infeksi
Cek DPL post partum
Cefadroxil 2 x 500 mg
Asam Mefenamat 3x 500 mg
Hemobion 1 x 1 caps
Mobilisasi bertahap
Aff folley catheter


S : Nyeri perut ( - ), ASI ( + ), mobilisasi ( + ) pasien sudah jalan ke kamar mandi, buang
air kecil ( + ) tidak ada rasa panas atau nyeri saat buang air kecil, urin warna
kekungingan, darah dari jalan lahir hanya tinggal flek, buang air besar ( - ), demam ( - ).
O : CM/TSS
TD : 120/80 mmHg S : 36.7
o
C
N : 92x / menit RR : 16 x/menit


Tanggal 7 Juni 2014 pukul 06.30, oleh koass Obsgyn
11

Status Generalis
Mata : CA -/- ; SI -/-
Paru : Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : S1-S2 Reguler, murmur -, gallop
Abdomen : Supel, nyeri tekan positif pada region epigastrium, umbilical, dan
hipogastrium, bising usus ( + ) normal.
Ekstremitas : Akral hangat ( + / + ), Oedem ( - / - )

Status Obstetri
TFU : 2 jari dibawah pusat, kontraksi baik
Inspeksi V/U : tenang, perdarahan aktif ( - ), lochia rubra ( + ), jahitan perineoraphy
tampak baik.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium darah 07-06-2014
Hb : 11.8 gr/dl
Leukosit : 15.670/mm
3


A : P2A0 post partus maturus dengan ekstraksi vakum + perineoraphy atas indikasi PK II
lama NH-2
P : Observasi tanda vital, kontraksi, perdarahan, tanda-tanda infeksi
Cek DPL post partum
12

Cefadroxil 2 x 500 mg
Asam Mefenamat 3x 500 mg
Hemobion 1 x 1 caps
Mobilisasi aktif
Boleh pulang
Motivasi ASI
Edukasi hygiene perineoraphy














13

BAB III
PEMBAHASAN
KASUS ANALISIS KASUS
Berdasarkan hasil
anamnesis
Pasien G2P1A0 dengan
riwayat persalinan sebelumnya
5 tahun yang lalu dengan
persalinan normal, berat badan
lahir bayi 3500 gr.
Dengan riwayat persalinan
sebelumnya, kemungkinan
distosia akibat faktor passage
dapat disingkirkan.
Pasien merasa mulas-mulas
sejak 1 hari SMRS dirasa
teratur, semakin lama semakin
sering, semakin lama
durasinya, dan semakin kuat,
namun pasien tidak segera ke
RS ataupun bidan.




13 jam SMRS, keluar air-air,
cukup banyak, tidak berwarna,
tidak berbau, lendir (+), darah
(-), 1.5 jam setelahnya pasien
ke bidan.
Tanda-tanda persalinan (+) pada
pasien berupa hiss (+) yang
secara fisiologis timbul pada
beberapa jam terakhir kehamilan
berupa kontraksi uterus yang
menyebabkan penipisan, dilatasi
serviks lalu pengeluaran janin
melalui jalan lahir.

Kontraksi
yang teratur, dapat merupakan
tanda awitan persalinan kala I
laten.
1

Keluarnya air-air dan lendir
menggambarkan pecahnya
ketuban yang fisiologis disertai
dengan pembukaan cerviks.
Kemungkinan pasien sedang
dalam kala I persalinan, namun
dikarenakan saat itu juga tidak
dilakukan pemeriksaan dalam
untuk menentukan bukaan
cervix, masih ada kemungkinan
pasien mengalami ketuban
14

pecah dini
12.5 jam SMRS pasien ke
bidan, dikatakan bukaan 6.



7.5 jam SMRS dikatakan
bukaan lengkap.








Pasien dipimpin meneran,
namun hingga 2 jam kemudian,
bayi belum lahir.
Kemungkinan ketuban pecah
dini disini dapat disingkirkan,
karena 0.5 jam setelah ketuban
pecah pasien masuk pada PK I
aktif.
PK I pada pasien belum dapat
dipastikan mengalami
pemanjangan, karena tidak tahu
secara pasti kapan PK I tepatnya
dimulai. Apabila diasumsikan
sejak timbulnya hiss, maka PK I
pasien memanjang, yakni selama
27 jam. Fisiologis pada
multigravida, PK I berlangsung
selama 12 jam .
Fisiologis PK II pada multipara
adalah 1 jam, jadi pasien
mengalami PK II memanjang.
Di VK RSUD Karawang
pasien kembali dipimpin
meneran, namun hiss tidak
adekuat, 20 menit kemudian
dilakukan vakum ekstraksi,
lahir bayi.
Kriteria persalinan lama telah
terpenuhi, sehingga dilakukan
tatalaksana pertolongan
persalinan pervaginam dengan
vakum ekstraksi, dkarenakan
hiss ibu (+), masih dapat
meneran, namun kekuatannya
kurang.
Lahir bayi laki-laki BBL
3500gr, ketuban hijau kental,
sedikit, bayi tidak langsung
menangis.
Berat badan bayi tidak
makrosomia, faktor passanger
sebagai penyebab distosia dapat
disingkirkan.
15

Ketuban hijau kental
menggambarkan adanya
mekonium pada ketuban, yang
dapat terjadi akibat keadaan
janin yang kurang baik seperti
hipoksia janin, kemungkinan
terjadinya infeksi intra uterin
juga dapat terjadi pada pasien
dikarenakan lamanya proses
sejak ketuban pecah sampai bayi
dilahirkan.
Sampai saat tiba di RS, pasien
mengaku gerakan janin masih
ada namun dirasa semakin
berkurang.
Kemungkinan kondisi janin
tidak baik (fetal distress).
Riwayat penyakit dahulu dan
keluarga tidak ada diabetes
mellitus.
Menyingkirkan kemungkinan
faktor passanger pada distosia ec
makrosomia.
TD : 160/100 mmHg Tingginya TD pada pasien
dikarenakan dilakukan
pengukuran sesaat setelah pasien
dipimpin meneran.
Kemungkinan HDK atau
preeklamsi tidak terpenuhi dari
riwayat ANC.
Tatalaksana Dilakukan ekstraksi vakum
setelah dinyatakan criteria VE
terpenuhi.
Pada kondisi Kala II
memanjang, perlu segera
dilakukan upaya janin.
1 ) Induksi : Oksitosin
2) Upaya pengeluaran janin :
Ekstraksi vakum , forsep
16


BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
4.1 DEFINISI
Persalinan lama, disebut juga distosia, didefinisikan sebagai persalinan yang abnormal/sulit.
1

4.2 EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan penelitian di Rumah Sakit Park Land, Amerika Serikat, pada tahun 2007,
didapatkan bahwa hanya sekitar 50 persen ibu dengan janin presentasi kepala yang mengalami
partus spontan fisiologi. Lima puluh persen lainnya, perlu mendapatkan intervensi untuk
pelahiran. Baik intervensi medis maupun intervensi bedah. Tingginya tingkat partus abnormal ini
juga menunjukkan tingginya tingkat persalinan lama. Persalinan lama yang kadang juga disebut
distosia, di Amerika Serikat distosia merupakan indikasi dilakukannya Sectio caesarea
emergensi pada 68% pasien yang menjalani operasi seksio sesar primer.

4.3 ETIOLOGI
Sebab-sebab terjadinya distosia dapat dibagi dalam 3 golongan berikut ini:
1. Kelainan tenaga (kelainan His) atau power. His yang tidak normal dalam kekuatan atau
sifatnya menyebabkan kerintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap
persalinan, tidak dapat diatasi sehingga persalinan mengalami hambatan atau kemacetan.
2. Kelainan janin atau passenger. Persalinan dapat mengalami gangguan atau kemacetan
karena kelainan pada janin. Kelainan tersebut dapat berupa kelainan letak, presentasi,
posisi, kehamilan ganda, bayi besar, dan cacat bawaan. Kelainan-kelainan ini akan
menyulitkan bayi melalui jalan lahir atau bahkan sama sekali tidak memungkinkan bayi
melalui jalan lahir, sehingga tidak jarang persalinan harus diselesaikan dengan seksio
sesarea.
3. Kelainan jalan lahir atau passage. Kelainan dalam ukuran atau bentuk jalan lahir bisa
menghalangi kemajuan persalinan atau menyebabkan kemacetan.
17


Kelainan His (Power)
Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida, khususnya primigravida tua. Pada multipara
lebih banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri. Faktor herediter mungkin
memegang peranan pula dalam kelainan his. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan
ganda ataupun hidramnion juga dapat menyebabkan inersia uteri yang murni.
4

Jenis-jenis kelainan His :
Inersia uteri
Di sini His bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu
daripada bagian-bagian lain, peranan fundus tetap menonjol. Kelainannya terletak dalam hal
kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang daripada biasa. Keadaan umu penderita biasanya
baik dan rasa nyeri tidak seberapa. Selama ketuban masih utuh umumnya tidak berbahaya, baik
bagi ibu maupun janin, kecuali persalinan berlangsung terlalu lama. Keadaan ini dinamakan
inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction. Kalau timbul setelah berlangsung his
kuat untuk waktu yang lama, dan hal itu dinamakan inersia uteri sekunder. Dalam menghadapi
inersia uteri, harus diadakan penilaian yang saksama untuk menentukan sikap yang harus
diambil. Diagnosis inersia uteri paling sulit ditegakkan pada masa laten. Kontraksi uterus yang
disertai rasa nyeri tidak cukup untuk menjadi dasar utama diagnosis bahwa persalinan sudah
dimulai.
His terlampau kuat
His terlampau kuat atau disebut juga hypertonic uterine contraction. His yang terlalu kuat dan
terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang sangat singkat. Partus yang
sudah selesai kurang dari 3 jam dinamakan partus presipitatus yang ditandai oleh sifat his yang
normal, tonus otot di luar his juga biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his. Bahaya partus
presipitatus pada ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir, khususnya vagina dan
perineum. Bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami
tekanan kuat dalam waktu yang singkat.
18


I ncoordinate uterine action
Di sini sifat his berubah. Tonus otot uters meningkat, juga di luar his, dan kontraksinya tidak
berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi kontraksi bagian-bagiannya. Tidak
adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien
dalam mengadakan pembukaan. Di samping itu, tonus otot uterus yang menaik akan
menyebabkan rasa nyeri yang keras dan lama bagi ibu dapat pula menyebabkan hipoksia pada
janin. His jenis ini juga disebut sebagai incoordinated hypertonic uterine contraction.
Dalam pemantauan kemajuan persalinan, his harus dinilai secara objektif dengan
melakukan penilaian manual, yakni palpasi abdomen sekurang-kurangnya selama 10menit.
Menurut WHO (The Partograph, WHO, 1988) his dinyatakan memadai bila terdapat his yang
kuat sekurang-kurangnya 3 kali dalam kurun waktu10 menit dan masing-masing lamanya >40
detik. Interval his yang terlampau pendek dan atau lamanya >50 detik dapat membahayakan
kesejahteraan janin. His yang terjadi terus-menerus tanpa istirahat di antara 2 his berturut-turut
disebut tetania uteri.
2

Kelainan Janin (Passenger)
1. Kelainan Posisi
Dalam kebanyakan persalinan dengan posisi oksipito poterior, kepala akan mengalami
putaran paksi, sehingga anak lahir dengan oksiput di bawah simfisis. Namu karena sudut
pemutaran besar (umumnya 135), kala II biasanya sedikit lebih lama. Putaran ini baru
terjadi di Hodge III (+) bahkan kadang-kadang beru terjadi di Hodge IV. Bila pada posisi
oksipito posterior ubun-ubun kecil berputar ke belakang kita menyebutnya sebagai posisi
oksipito posterior persisten. Peyebab tidak terjadinya putaran paksi ialah panggul
antropoid, panggul android, kesempitan bidag tengah panggul, ketuban pecah sebelum
waktunya, fleksi kepala kurang, inersia uteri. Hanya sebagian kecil (4%) posisi oksipito
posterior yang memerlukan pertolongan pembedahan.
2

2. Kelainan Presentasi
Letak defleksi terdiri dari presentasi muka dan presentasi dahi.
19

- Presentasi muka : Merupakan presentasi kepala dengan defleksi maksimal sehingga
oksiput menyentuh punggung dan muka terarah ke bawah (kaudal terhadap ibu).
Punggung dalam posisi lordosis dan biasanya terdapat di belakang. Penyebab yang
terpenting ialah panggu sempit dan anak yang besar.
2

- Presentasi dahi : Merupakan presentasi kepala dengan defleksi sedang, sehingga dahi
menjadi bagian terendah. Biasanya presentasi dahi bersifat sementara, dengan
majunya persalinan, presentasi ini berubah menjadi presentasi muka atau belakang
kepala. Presentasi dahi menetap agak jarang terjadi. Sebab-sebab presentasi dahi kira-
kira sama dengan sebab-sebab presentasi muka.
2

3. Kelainan Letak
- Letak Sungsang : Letak sungsang adalah letak memanjang dengan bokong sebagai
bagian yang terendah (presentasi bokong). Angka kejadiannya sekitar 3% dari
kehamilan.
- Letak Lintang (presentasi bahu) : Pada letak lintang, sumbu panjang anak tegak lurus
atau hampir tegak lurus sumbu panjang ibu. Pada presentasi bahu, bahu menjadi
bagian terendah dan disebut juga presentasi akromion; bila punggung terdapat di sisi
depan, disebut dorsoanterior; dan bila punggung terdapat di sisi belakang, disebut
dorsoposterior. Penyebab letak lintang yang terpenting ialah, dinding perut kendur,
kesempitan panggul, plasenta previa, prematuritas, kelainan bentuk rahim seperti
uterus arkuatus, mioma uteri dan kehamilan ganda.
4. Janin Besar (Makrosomia)
Anak dikatakan berukuran besar bila berbobot lebih dari 4000gr. Berbagai penyebab anak
besar antara lain diabetes mellitus, keturunan dan multiparitas. Kesukaran yang timbul
dalam persalinan disebabkan oleh besarnya kepala/bahu. Oleh sebab regangan dinding
rahim oleh anak yang sangat besar, dapat timbul inersia uteri. Resiko perdarahan
pascasalin akibat atonia uteri juga lebih besar.
5. Hidrosefalus
Hidrosefalus berarti terjadi pertambahan cairan otak di dalam ventrikel, sehingga ukuran
kepala menjadi besar. Hidrosefalus sering menimbulkan distosia, bahkan ruptur uteri, dan
anak sering dilahirkan dalam letak sungsang karena kepala terlalu besar untuk masuk ke
dalam pintu atas panggul.
2

20



Kelainan Jalan Lahir (Passage)
Dalam obstetri, makna panggul sempit secara anatomis tidak sepenting makna
panggul sempit secara fungsional, yang menunjukkan ketidakserasian perbandingan
antara kepala dan panggul. Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut :
1. Kesempitan pintu atas panggul
2. Kesempitan bidang tengah panggul
3. Kesempitan pintu bawah panggul
4. Kombinasi kesempitan pintu atas panggul, bidang tengah dan pintu bawah panggul
Kesempitan pintu atas panggul
Pintu atas panggul dianggap sempit bila konjugata vera <10cm atau bila diameter
transversa <12 cm. Konjugata vera dilalui diameter biparietalis yang panjangnya sekitar
9.5cm dan terkadang mencpai 10cm. oleh sebab itu, sudah jelas bahwa konjugata vera
<10cm dapat menimbulkan kesulitan. Kesukaran bertambah lagi bila kedua ukuran pintu
atas panggul, yakni diameter anterioposterior maupun diameter ransversa, sempit.
Kesempitan bidang tengah panggul
Bidang tengah panggul terbentang di antara pinggir bawah simfisis dan spina os ischii
serta momotong sakrum kira-kira di pertemuan ruas sakral ke-4 dan ke-5. Ukuran-ukuran
yang terpenting di bidang ini ialah :
1. Diameter transversa (antara kedua spina)--- 10,5cm
2. Diameter anteroposterior mulai dari pinggir bawah simfisis ke pertemuan ruas sakral
ke-4 dan ke-511,5cm
3. Diameter sagitalis posterior mulai dari pertengahan garis di antara kedua spina ke
pertemuan ruas sakral ke-4 dan ke-55cm


21


Bidang tengah panggul dikatakan sempit bila :
1. Jumlah diameter transversa dan sagitalis posterior <13,5cm (normal :
10,5+5cm=15,5cm)
2. Diameter antarspina <9cm
Ukuran-ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis, harus
diukur secara Rontgenologis. Akan tetapi, kita dapat juga menduga adanya
kesempitan bidang tengah panggul bila:
- Spina iskiadika sangat menonjol
- Dinding samping panggul konvergen
- Bila diameter antara tuber ischii 8.5 cm
Kesempitan pintu bawah panggul
Pintu bawah panggul terdiri atas 2 segitiga dengan jarak antara kedua tuber iskiadika
sebagai dasar bersama. Ukuran-ukuran yang penting ialah :
1. Diameter Transversa (antartuber iskiadika)- 11cm
2. Diameter anteroposterior mulai dari pinggir bawah simfisis hingga ke ujung os
sakrum- 11.5cm
3. Diameter sagitalis posterior mulai dari pertengahan diameter antartuber iskiadika ke
ujung os sakrum-7.5cm
Pintu bawah panggul dikatakan sempit bila jarak antara tuber os iscii <8cm. bila jarak ini
berkurang, arkus pubis sengan sendirinya akan meruncing. Dengan demikian, besar arkus
puis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul.
4.4 GAMBARAN KLINIS
Kelainan Kala Satu
1) Fase Laten Memanjang
22

Awitan persalinan laten didefinisikan sebagai saat ketika ibu mulai merasakan kontraksi
yang teratur. Selama fase ini orientasi kontraksi uterus berlangsung bersama perlunakan dan
pendataran serviks. Kriteria minimum Friedman untuk fase laten ke dalam fase aktif adalah
kecepatan pembukaan serviks 1,2cm/jam bagi nulipara dan 1,5cm/jam untuk ibu multipara.
Friedman dan Sachtleben mendefinisikan fase laten berkepanjangan apabila lama fase ini
lebih dari 20 jam pada nulipara dan 14 jam pada ibu multipara. Faktor-faktor yang
mempengaruhi durasi fase aten antara lain adalah anestesia regional atau sedasi yang
berlebihan, keadaan serviks yang buruk (misal tebal, tidak mengalami pendataran, atau tidak
membuka), dan persalinan palsu.
2) Fase Aktif Memanjang
Dalam hal ini, fase aktif persalinan, dari segi kecepatan pembukaan serviks tertinggi
secara konsistensi berawal saat serviks mengalami pembukaan 3 sampai 4 cm. Kemiripan
yang agak luar biasa ini digunakan untuk menentukan fase aktif dan memberi petunjuk bagi
penatalaksanaan. Dengan demikian pembukaan serviks 3-4cm atau lebih, disertai adanya
kontraksi uterus, dapat secara meyakinkan digunakan sebagai batas awal persalinan aktif.
Kecepatan penurunan janin diperhitungkan selain kecepatan pembukaan serviks, dan
keduanya berlangsung bersamaan. Penurunan dimulai pada saat akhir dilatasi aktif, dimulai
pada sekitar 7 sampai 8cm pada nuliparada paling cepat setelah 8cm. masalah pada fase
aktif dibagi lagi menjadi gangguan protraction (berkepanjangan/berlarut-larut) dan arrest
(macet, tidak maju). Protraksi merupakaan kecepatan pembukaan atau penurunan yang
lambat, yang untuk nulipara kecepatan pembukaan kurang dari 1,2cm/jam atau penurunan
kurang dari 1cm/jam. Untuk multipara, protraksi didefinisikan sebagai kecepatan
pembukaan kurang dari 1,5cm/jam atau penurunan kurang dari 2cm/jam. Kemacetan
pembukaan (arrest of dilatation) didefinisikan sebagai tidak adanya perubahan serviks
dalam 2 jam, dan kemacetan penurunan (arrest of descent) sebagai tidak adanya penurunan
janin dalam 1 jam. Prognosis persalinan yang berkepanjangan dan macet cukup berbeda.
30% ibu dengan persalinan berkepanjangan mengalami disporposi sefalopelvik, sedangkan
kelainan ini didiagnosis pada 45% ib yang mengalami gangguan kemacetan persalinan.
3) Penurunan Kepala Janin pada Persalinan Aktif
23

Penurunan diameter biparietal janin sampai setinggi spina ischiadica panggul ibu (station 0)
disebut sebagai engagement. Terdapat keterkaitan yang bermakna antara station (penurunan)
yang tinggi saat awitan persalinan dengan distosia pada tahap selanjutnya. Menurut
penelitian, terjadinya partus lama dan partus macet pada ibu dengan station kepala janin di
atas +1cm dan bahwa semakin tinggi station saat persalinan dimulai pada nulipara semakin
lama persalinan berlangsung. Penurunan janin saat persalinan macet juga merupakan faktor
resiko distosia. Namun, prognosis untuk distosia tidak berkaitan dengan penurunan kepala
janin yang lebih tinggi di atas bidang tengah panggul (station 0).
Kelainan Kala Dua
1) Kala Dua Memanjang
Tahap ini berawal saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir dengan keluarnya
janin. Media durasinya adalah 50menit untuk nulipara dan 20menit untuk multipara, tetapi
angka ini juga sangat bervariasi. Selama ini terdapat aturan-aturan yang membatasi durasi
kala II. Kala II persalinan pada nulipara dibatasi 2 jam dan diperpanjang sampai 3 jam
apabila digunakan analgesia regional. Untuk multipara satu jam adalah batasnya,
diperpanjang menjadi 2 jam pada penggunaan analgesia regional. Pada ibu dengan paritas
tinggi yang vagina dan perineumnya sudah lebar, dua atau tiga kali usaha mengejan seteah
pembukaan lengkap mungkin cukup untuk mengeluarkan janin. Sebaliknya pada seorang
ibu dengan panggul sempit atu janin besar, atau dengan kelainan gaya ekspulsif akibat
anestesia regional atau sedasi yang berat, maka kala dua dapat sangat memanjang.
2) Penyebab Kurang Adekuatnya Gaya Ekspulsif
Kekuatan gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot abdomen dapat terganggu secara
bermakna sehingga bayi tidak dapat lahir secara spontan melalui vagina. Sedasi berat atau
anestesia regional (epidural lumbal, kaudal, atau intratekal) kemungkinan besar mengurangi
dorongan refleks untuk mengejan, dan pada saat yang sama mungkin mengurangi
kemampuan pasien mengontraksikan otot-otot abdomen. Pada beberapa kasus, keinginan
alami untuk mengejan dikalahkan oleh menghebatnya nyeri yang timbul akibat mengejan.
Pada ibu yang kurang dapat mengejan dengan benar setiap kontraksi karena nyeri hebat,
analgesia mungkin akan memberikan banyak manfaat.
24



4.5 KRITERIA DIAGNOSIS
Adapun kriteria diagnosa dari tiap klasifikasi persalinan lama dan terapi yang disarankan
ditampilkan pada tabel dibawah ini.
3



4.6 PENATALAKSANAAN
Prinsip utama dalam penatalaksanaan pada pasien dengan persalinan lama adalah
mengetahui penyebab kondisi persalinan lama itu sendiri. Persalinan lama adalah sebuah
akibat dari suatu kondisi patologis. Pada akhirnya, setelah kondisi patologis penyebab
persalinan lama telah ditemukan, dapat ditentukan metode yang tepat dalam mengakhiri
persalinan. Apakah persalinan tetap dilakukan pervaginam, atau akandilakukan per
abdominam melalui seksio sesarea.
25

Secara umum penyebab persalinan lama dibagi menjadi dua kelainan yaitu
disproporsi sefalopelvik dan disfungsi uterus (gangguan kontraksi). Adanya disproporsi
sefalopelvik pada pasien dengan persalinan lamamerupakan indikasi utnuk dilakukannya
seksio sesarea. Disproporsi sefalopelvik dicurigai bila dari pemeriksaan fisik diketahui ibu
memiliki faktor risiko panggul sempit (misal: tinggi badan < 145 cm, konjugata diagonalis <
13 cm) atau janin diperkirakan berukuran besar (TBBJ > 4000gram, bayi dengan
hidrosefalus, riwayat berat badan bayi sebelumnya yang > 4000 gram). Bila diyakini tidak
ada disproporsi sefalopelvik, dapat dilakukan induksi persalinan.

Pada kondisi fase laten berkepanjangan, terapi yang dianjurkan adalah menunggu.
Hal ini dikarenakan persalinan semu sering kali didiagnosa sebagai fase laten
berkepanjangan. Kesalahan diagnosa ini dapat menyebabkan induksi atau percepatan
persalinan yang tidak perlu yang mungkin gagal. Dan belakangan dapat menyebabkan
seksio sesaria yang tidak perlu. Dianjurkan dilakukan observasi selama 8 jam. Bila his
berhenti maka ibu dinyatakan mengalami persalinan semu, bila his menjadi teratur dan
bukaan serviks menjadi lebih dari 4 cm maka pasien dikatakan berada dalam fase laten.
Pada akhir masa observasi 8 jam ini, bila terjadi perubahan dalam penipisan serviks atau
pembukaan serviks, maka pecahkan ketuban dan lakukan induksi persalinan dengan
oksitosin. Bila ibu tidak memasuki fase aktif setelah delapan jam infus oksitosin, maka
disarankan agar janin dilahirkan secara seksio sesarea.

Pada kondisi fase aktif memanjang, perlu dilakukan penentuan apakah kelainan yang
dialami pasien termasuk dalam kelompok protraction disorder (partus lama) atau arrest
disorder (partus tak maju). Bila termasuk dalam kelompok partus tak maju, maka besar
kemungkinan ada disproporsi sefalopelvik. Disarankan agar dilakukan seksion sesarea. Bila
yang terjadi adalah partus lama, maka dilakukan penilaian kontraksi uterus. Bila kontraksi
efisien (lebih dari 3 kali dalam 10 menit dan lamanya lebih dari 40 detik), curigai
kemungkinan adanya obstruksi, malposisi dan malpresentasi. Bila kontraksi tidak efisien,
maka penyebabnya kemungkinan adalah kontraksi uterus yang tidak adekuat. Tatalaksana
yang dianjurkan adalah induksi persalinan dengan oksitosin.

26

Pada kondisi Kala II memanjang, perlu segera dilakukan upaya janin. Hal ini
dikarenakan upaya pengeluaran janin yang dilakukan oleh ibu dapat meningkatkan risiko
berkurangnya aliran darah ke plasenta. Yang pertama kali harus diyakini pada kondisi kala
II memanjang adalah tidak terjadi malpresentasi dan obstruksi jalan lahir. Jika kedua hal
tersebut tidak ada, maka dapat dilakukan percepatan persalinan dengan oksitosin. Bila
percepatan dengan oksitosin tidak mempengaruhi penurunan janin, maka dilakukan upaya
pelahiran janin. Jenis upaya pelahiran tersebut tergantung pada posisi kepala janin. Bila
kepala janin teraba tidak lebih dari 1/5 diatas simfisis pubis atau ujung penonjolan kepala
janin berada di bawah station 0, maka janin dapat dilahirkan dengan ekstraksi vakum atau
dengan forseps. Bila kepala janin teraba diantara 1/5 dan 3/5 diatas simfisi pubis atau ujung
penonjolan tulang kepala janin berada diantara station ) dan station -2, maka janin dilahirkan
dengan ekstraksi vakum dan simfisiotomi. Namun jika kepala janin teraba lebih dari 3/5
diatas simfisi pubis atau ujung penonjolan tulang kepala janin berada diatas station -2, maka
janin dilahirkan secara seksio sesaria.

Ekstraksi vakum

Merupakan usaha untuk mengeluarkan janin dengan tarikan pada kepala, dengan
membuat tarikan negatif melalui suatu hub pada kepala janin sehingga terbentuk kaput
buatan. Indikasi melakukan ekstraksi vakumadalah terjadi pemanjangan persalinan kala II
dan indikasi profilaksis (waktu). Kontraindikasi ekstraksi vakum adalah presentasi muka,
disporporsi kepalapanggul, persalinan kurang bulan. Syarat:
1. Kepala sudah turun sampai station > +2
2. Presentasi belakang kepala atau presentasi muka dengan dagu didepan
3. Pembukaan lengkap
4. Ketuban telah pecah atau dipecahkan
5. Tidak ada disporporsi kepala panggul
6. Kontraksi uterus baik
7. Ibu tidak gelisah / kooperatif
8. Kepala dapat dipegang oleh cup vakum
27

Kriteria ekstraksi vakum gagal apabila tarikan dirasakan berat ataupun
bilapemasangan benar, cup terlepas. Bila ekstraksi vakum gagal, persalinan diakhiri
dengan secsio sessaria.


4.7 KOMPLIKASI
Persalinan lama dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi salah satu atau keduanya
sekaligus.
- Infeksi Intrapartum
Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya pada partus
lama,terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri di dalam cairan amnion menembusi
amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan
sepsis pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin akibat aspirasi cairan amnion yang
terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya. Pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan
memasukkan bakteri vagina ke dalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama
persalinan, terutama apabila dicuragai terjadi persalinan lama.
- Ruptura uteri
Penipisan abdominal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama,
terutama pada ibu dengan paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat seksio-sesarea.
Apabila disporposi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak
cakap (engaged) dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterus enjadi sangat teregang
kemudian dapat menyebabkan ruptura. Pada kasus ini, mungkin terbentuk cincin retraksi
patologis yang dapat diraba sebagai sebuah krista transversal atau oblik yang berjalan
melintang di uterus antara simfisi dan umbilikus. Apabila dijumpai keadaan ini,
diindikasikan persalinan perabdominan segera.
- Cincin Retraksi Patologis
Walaupun sangat jarang, dapat timbul kontraksi atau cincin lokal uterus pada peraslinan
yang berkepanjangan. Cincin ini sering timbul akibat persalinan yang terhambat, disertai
28

peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus. Pada situasi semacam ini cincin
dapat terlihat jelas sebagai suatu indentasi abdomen dan menandakan amcaman akan
rupturnya segmen bawah uterus.
- Pembentukan Fistula
Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas panggul, tetapi tidak maju untuk
jangka waktu yng cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak di antaranya dan dinding
panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, dapat terjadi
nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula
vesikovaginal, vesikoservikal, atau retrovginal.
- Cedera Otot-otot Dasar Panggul
Saat kelahiran bayi, dasar panggul mendapat tekana langsung dari kepala janin serta tekanan
ke bawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya ini meregangkan dan melebarkan dasar
panggul sehingga terjadi perubahan fungsional dan anatomik otot, saraf dan jaringan ikat.
Efek pada Janin
Partus lama itu sendiri dapat merugikan. Apabila panggul sempit dan juga terjadi ketubn
pecah lama serta infeksi intra uterin, resiko janin dan ibu akan muncul. Infeksi intrapartum
bukan saja merupakan penyulit yang serius pada ibu, tetapi juga merupakan penyebab
penting kematian janin dan neonatus.
- Kaput Suksedaneum
Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput suksedaneum yang besar di
bagian terbawah kepala janin. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabkan
kesalahan diagnostik yang serius. Kaput dapat hampir mencapai dasar panggul sementara
kepala sendiri belum cakap. Biasanya kaput suksedaneum, bahkan yang besar sekalipun,
akan menghilang dalam beberapa hari.

- Molase Kepala Janin
Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling bertumpang tindih
satu sama lain di sutura-sutura besar, suatu proses yang disebut molase (molding,moulage).
Biasanya batas median tulang parietal yang berkontak dengan promomtorium bertumpang
tindih dengan tulang di sebelahnya; hal yang sama terjadi pada tulang-tulang frontal. Namun
29

tulang oksipital terdorong ke bawah tulang parietal. Perubahan-perubahan ini sering terjadi
tanpa menimbulkan kerugian yang nyata. Di lain pihak, apabila distorsi yang terjadi
mencolok, molase dapat menyebabkan robekan tentorium, laserasi pembuluh darah janin,
dan perdarahan intrakranial pada janin.

4.8 PROGNOSIS
Friedman melaporkan bahwa memanjangnya fase laten tidak memperburuk mortalitas
dan morbiditas janin atau ibu, namun Chelmow dkk membantah anggapan bahwa
pemanjangan fase laten tidak berbahaya.















30



BAB V
KESIMPULAN
Persalinan lama, disebut juga distosia, didefinisikan sebagai persalinan yang
abnormal/sulit.

Disebabkan oleh ketidakserasian antara 3 komponen penting, yaitu power,
passage, dan passenger sehingga menimbulkan kesulitan jalannya persalinan.

Partus lama
merupakan persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primigravida, dan lebih dari 18
jam pada multigravida.
Persalinan lama dapat berdampak buruk bagi ibu maupun janin, Berbagai komplikasi
yang mungkin terjadi pada ibu seperti infeksi intrapartum, ruptura uteri, cincin retraksi patologis,
pembentukan fistula, cedera otot-otot dasar panggul. Sedangkan komplikasi pada janin seperti
kaput suksedaneum dan molase kepala janin.










31



DAFTAR PUSTAKA
1. Sarwono P. Buku Ajar Ilmu Kebidanan.2011.Edisi keempat.Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. P 562-579
2. Djamhoer M, Firman F, Jusuf S. Ilmu Kesehatan Reproduksi Obstetri Patologi. 2002. Edisi
ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. P 130-180
3. Cunningham F,Leveno K,Bloom S, et al. Williams Obstetrics. 23
rd
edition.2010. P.464-487
4. Hacker N. et al. Essentials of Obstetrics and Gynecology. Elsevier. Fifth Edition.
5. Hidayat W. dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi.RSUP Dr Hasan
Sadikin. P 37
6. Abnormal Labor. http://emedicine.medscape.com/article/273053-overview Accessed on 15th
January 2013. P. 139-145
7. Prolonged Labor. http://www.webmd.com/baby/guide/prolonged-labor-causes-treatments .
Accessed on 16
th
January 2013.
8. The Active Management of Prolonged Labor. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/.
Accessed on 16
th
January 2013.
9. Prolonged Labor. http://supportedbirth.com/articles/prolonged-labor-delivery . Accessed on
15
th
January 2013.

Anda mungkin juga menyukai