Anda di halaman 1dari 17

KONTRAKSI OTOT JANTUNG IKAN NILA

(Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air)








Oleh
PUJI LESTARI
1214111051
KELOMPOK 1






JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
I.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Jantung pada ikan merupakan organ yang membantu dalam peredaran
darah dan sifatnya tertutup. Jantung ikan terletak pada ruang perikardial
disebelah posterior insang. Kontraksi otot jantung ikan merupakan salah satu
sarana untuk mengkonversi energi kimia menjadi energi mekanik dalam
bentuk tekanan dalam aliran darah. Jantung ikan terdiri dari dua ruang yaitu
atrium yang mempunyai dinding yang tipis dan ventrikel yang mempunyai
dinding yang tebal. Secara garis besar jalannya aliran darah pada jantung ikan
yaitu ductus cuvieri, vena hepaticus, sinus venosus, atrium, ventrikel, dan
corus arteriosus.
Kontraksi otot jantung ikan merupakan salah satu sarana untuk
mengkonversi energi kimia menjadi energi mekanik dalam bentuk tekanan
dalam aliran darah. Mekanisme kerjanya dimulai dari pemompaan darah
keluar selama kontraksi ventrikel (systole) dan diikuti periode relaksasi dan
pengisian kembali (diastole). Sinus venosus dan atrium membantu mengisi
ventrikel dan bulbus yang memiliki katub elastis menjaga aliran selama
ventrikulasir berelaksasi.
Jantung sangat berperan penting. sebab kita tahu bahwa kerja jantung
adalah Memompa darah ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah.
Sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan
penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam,
antibodi (kekebalan) dan senyawa N, dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh
sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran darah sampai
ke bagian-bagian jaringan-jaringan tubuh (Groman 1982 inAffandi dan Tang
2002).

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum yaitu untuk mengetahui kerja jantung tanpa pengaruh organ
tubuh lain, mengetahui ketahanan jantung ikan diluar tubuh dan membuktikan
bahwa otot jantung adalah otot lurik tetapi bekerja seperti otot polos.




II.TINJAUAN PUSTAKA

1.3 Klasifikasi Ikan Nila
Menurut Trewavas (1982), klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pises
Sub Kelas : Acanthopterigii
Ordo : Percomorphi
Sub Ordo : Percoidea
Famili : Chiclidae
Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis niloticus

1.4 Morfologi Ikan Nila
Ikan nila mempunyai bentuk tubuh memanjang dan ramping dengan rasio
perbandingan 3 : 1 antara panjang total dengan tinggi badan. Tubuh ditutupi
Sisik berukuran besar dan kasar dengan gurat sisi terputus di bagian tengah
badan kemudian berlanjut dengan letak lebih rendah. Ikan ini memiliki lebar
dan panjang batang ekor dengan ukuran yang sama. Warna pada musim
pemijahan menunjukkan sirip dada, punggung dan ekor akan menjadi agak
kemerahan. Rahang dari ikan jantan dewasa agak membesar (panjang dari
rahang bawah berkisar antara 29 37% dari panjang kepala). Sedangkan pada
betina berbentuk agak meruncing. Ikan jantan dan betina dewasa dapat
dibedakan dengan melihat beberapa ciri-ciri yang tidak sama. Pada ikan jantan
dewasa, alat kelamin berupa tonjolan yang agak meruncing. Sedangkan betina
berbentuk lubang genital. Sisik di bawah dagu ikan jantan berwarna gelap dan
pada betina berwarna putih atau cerah (suyanto, 1994).
Ikan nila termasuk golongan ikan pemakan segala atau lazim disebut
omnivore. Namun larva ikan nila tidak sanggup memakan makanan dai luar
selama masih tersedia makanan cadangan berupa kuning telur yang melekat di
bawah perut larva yang baru menetas. Hal ini berbeda dengan jenis ikan air
tawar pada umumnya yang sesaat setelah menetas lubang mulut sudah
terbuka. Setelah rongga mulut terbuka, larva ikan nila memakan tumbuh-
tumbuhan dan hewan air berupa plankton. Jenis-jenis plankton yang biasa
dimakan antara lain yaitu alga bersel tunggal maupun benthos dan krustase
berukuran kecil. Makanan ini diperoleh dengan cara menyerapnya dalam air
(Djarijah, 1995).

2.3 Habitat Ikan Nila
Ikan nila merupakan ikan konsumsi yang umum hidup di perairan tawar.
Meskipun kadang-kadang ikan nila juga ditemukan hidup di perairan yang agak
asin (payau). Oleh karena itu ikan nila dikenal juga sebagai ikan yang bersifat
euryhaline (dapat hidup pada kisaran salinitas yang lebar). Ikan nila mendiami
berbagai habitat air tawar, termasuk saluran air yang dangkal, kolam, sungai dan
danau. Ikan nila dapat menjadi masalah sebagai spesies invasif pada habitat
perairan hangat, tetapi sebaliknya pada daerah beriklim sedang karena
ketidakmampuan ikan nila untuk bertahan hidup di perairan dingin, yang
umumnya bersuhu di bawah 21 C. Ikan nila dapat hidup dan berkembangbiak
pada suhu 14-38 C, pH 6,5-8,5,oksigen terlarut minimal 5 ppm, NH
3
kurang dari
1 ppm (suyanto, 1994).

2.4 Pengertian Jantung
Jantung merupakan suatu pembesaran otot yang spesifik dari pembuluh darah
atau suatu struktur muskular berongga yang bentuknya menyerupai kerucut dan
dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan
terdapat dibagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut (Afandi
dan Tang, 2002).

Jantung ikan terletak di ruang pericardinal disebelah posterior insang. Jantung
ikan terbagi menjadi dua bagian, yaitu: Atrium merupakan ruang yang berdinding
tipis, dan ventricle yaitu ruang yang berdinding tebal. Pada jantung terdapat ruang
yang berdinding tipis disebut sinus venosus, yang berfungsi sebagai penampang
darah dari ductus cuvieri dan vena hepaticus serta mengirimnya ke atrium. Antara
sinus venosus dan atrium terdapat katub sinuatrial.
Jantung memiliki peranan yang penting dalam siklus peredaran darah pada
ikan dalam kerjanya memompa darah dari dan keseluruh tubuh agar system
metabolisme dan energi berjalan dengan baik. Jantung merupakan otot lurik yang
bekerja seperti otot polos. Jantung terdiri dari 2 ruang yaitu atrium (dinding yang
tipis) dan ventrikel (dinding yang tebal) dimana sistem peredaran darah yang
terjadi dimulai dari jantung, seluruh tubuh, kembali ke jantung. (Fujaya,
yushinta.2004)

Gambar oragan jantung ikan :

Berawal dari jantung, darah menuju insang untuk melakukan pertukaran
gas. Selanjutnya darah dialirkan ke dorsal aorta dan terbagi kesegenap organ-
organ tubuh melalui saluran-saluran kecil. Selain itu, sebagian darah dari insang
kadang langsung kembali ke jantung. Hal ini terjadi bilamana tidak semua output
cardiac dibutuhkan untuk menuju kedalam dorsal aorta dan pembuluh efferent
yang lain
Ada tiga rute pengambilan darah ke jantung, yakni
1. Dari otak, darah kembali ke jantung melalui vena cardinal anterior yang
berhubungan dengan vena cardinal umum. Disini juga bertemu darah dari
vena cava posterior, yakni darah dari vena caudal yang telah melalui system
renal portal.
2. Dari organ visceral, darah kembali ke jantung melalui vena hepatic.
3. Dari insang darah dikembalikan ke jantung melalui vena branchial.

Ada dua jenis energi yang disalurkan ke darah pada setiap kontraksi jantung, yaitu
(1) energi kinetik yang menyebabkan darah mengalir
(2) energi potensial yang tersimpan dalam pembuluh darah dan menimbulkan
tekanan darah.
Otot jantung merupakan otot lurik yang bentuknya melintang dan bercabang. Sifat
otot ini tidak sadar (involuntary), karena kontraksinya tidak bisa diatur oleh
kemauan kita. Selain otot jantung terdapat juga :
1. Otot polos (berbentuk seperti spindle). Kontraksi otot polos lebih lambat
dibandingkan otot lurik, namun mereka mampu kontraksi dalam waktu
lebih lama. Otot polos bersifat tidak sadar (involuntary). Otot polos
ditemukan pada banyak organ tubuh, diantaranya terdapat pada dinding
pembuluh darah dan melapisi organ dalam seperti usus dan uterus.
2. Otot lurik (struktur bergaris melintang), berfungsi untuk menggerakkan
rangka. Otot ini bersifat sadar (voluntary), karena mampu diatur oleh
kemauan kita. (Marsandre.2007)

2.5 Peranan atau Fungsi Jantung
Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan
darah keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi darah adalah
sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi,
oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi dan senyawa N, dari tempat asal
keseluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin
aliraqn darah sampai ke bagain-bagian jaringan jaringan tubuh (Groman dalam
Afandi dan Tang, 2002).
Menurut Fujaya (2004) sistem peredaran darah pada ikan bersifat tunggal,
artinya hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran darah, yakni dari jantung
darah dipompa ke insang untuk melakukan pertukaran ke gas kemudian
keberbagai organ tubuh, setelah itu darah kembali lagi kejantung. untuk menjamin
aliran darah terus berlangsung, maka daerah dipompa dengan perbedaan tekanan.
tekanan jantung lebih besar dari tekanan arteri, dan tekanan arteri lebih besar dari
tekanan arterionale, akibat adanya perbedaan tekanan maka aliran darah dapat
terjadi. Ada dua jenis energi yang disalurkan ke darah pada setiap kontraksi
jantung yaitu energi kinetik yang menyebabkan darah mengalir dan energi yang
tersimpan dalam pembuluh darah dan menimbulkan tekanan darah.

2.6 Larutan NaCl
Nacl merupakan cairan fisiologis karena dianggap memiliki kandungan
cairan yang menyerupai kandungan cairan tubuh. Dalam keadaan tertentu missal
kadar natrium dalam darah menurun, maka Nacl dapat digunakan untuk
meningkatkan kadar natrium dalam darah dengan cara infus, tentunya dengan
menyesuaikan kadar Nacl yang dibutuhkan. Nacl juga dikenal dengan senyawa
yang mengandung garam yang mempenaruhi salinitas laut dan cairan ekstraseluler
pada banyak organism multiseluler, sebagai garam Nacl juga sering digunakan
sebagai bahan dapur dan pengawet makanan (Alyuwono, 2011).
Natrium Klorida 0,9 adalah larutan fisiologi yang ada diseluruh tubuh,
karena alasan ini tidak ada reaksi hipersensitivitas natrium klorida. Normal silane
aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley & Aucker,1999)
Natrium Klorida mempunyai Na dan Cl yang sama seperti plasma, larutan
ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Anderson, 1992)
Natrium Klorida tersedia dalam beberapa konsentrasi, yang paling sering
digunakan adalah Natrium Klorida 0,9 %. Ini adalah konsentrasi normal dari
larutan Natrium Klorida atau biasa disebut juga dengan normal saline
(Lilley & Aucker,1999)

2.7 Larutan Akuades
Aquades adalah hasil dari destilasi atau penyulingan (diuapkan dan
disejukkan kembali) sama dengan air murni atau

, karena

hampir tidak
mengandung mineral. Air suling atau aquades juga memiliki rumus kimia pada air
umumnya yaitu

yang berarti dalam 1 molekul terdapat 2 atom hydrogen


kovalen dan atom oksigen tunggal. Molekul pada

berbentuk asimeteris,
karena molekul air asimetris dan atom oksigen memiliki elektronegativitas lebih
tinggi daripada atom hidrogen, ia membawa muatan negatif sedikit, sedangkan
atom hidrogen sedikit positif (Wijaya, 2011).

2.8 Detergen
Deterjen merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari bahan turunan
minyak bumi. Deterjen tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Umumnya
mengandung bahan surfaktan (surface active agent) berfungsi menurunkan
tegangan permukaan air, builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi
pencuci dari surfaktan dengan menonaktifkan mineral penyebab kesadahan air,
filler (pengisi) berfungsi menambah kuantitas, additives bahan tambahan, misal
pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan seterusnya (Halang, 2004).
Deterjen dapat menurunkan pertumbuhan serta mengurangi kelangsungan
hidup ikan dan daya tarik terhadap pakan. Menurut Olsen and Hoglund surfaktan
dalam deterjen dapat mempengaruhi daya gerak ikan. Deterjen dalam badan air
dapat merusak insang dan organ pernafasan ikan yang mengakibatkan toleransi
ikan terhadap badan air yang kandungan oksigennya rendah menjadi menurun
(Arifin. 2008).




III.METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Fisiologi Hewan Air dilakukan pada tanggal 28 Mei 2014 di
Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan adalah cawan petri,pipet tetes,baki,alat
bedah,akuades,detergen,NaCl fisiologi dan ikan nila

3.3 Cara Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum kontraksi otot jantung ialah :
1. Terlebih dahulu ikan yang masih hidup dipingsankan terlebih dahulu dengan
cara menusuk bagian saraf otaknya dengan menggunakan jarum bertangkai
2. Kemudian ikan dibedah dengan menggunakan gunting bedah, dimulai dari
anus kearah depan sampai ke insang (lakukan dengan hati-hati jangan sampai
jantung terpotong)
3. Setelah itu organ jantung dipisahkan dan diletakkan dalam cawan petri yang
berisi masing-masing larutan NaCl fisiolgis, akuades dan detergen









IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Kel Perlakuan Detak jantung Menit
1 NaCl 312 20
2 Aquades 586 21
3 Detergen 187 21
4 NaCl 641 25
5 Aquades 166 24
6 Detergen 305 13

4.2 Pembahasan
Dari praktikum yang telah dilakukan didapat bahwa pada perlakuan NaCl
yang dilakukan kelompok 1 detak jantung ikan nila sebanyak 312 dalam waktu 20
menit dan perlakuan NaCl yang dilakukan kelompok 4 detak jantung ikan nila
sebanyak 641 dalam waktu 25 menit. Pada perlakuan pemberian aquades oleh
kelompok 2 detak jantung ikan nila sebanyak 586 dalam waktu 21 menit
sedangkan perlakuan aquades oleh kelompok 5 detak jantung ikan nila berdetak
sebanyak 166 dalam waktu 24 menit. Pada perlakuan pemberian detergen yang
dilakukan kelompok 3 ikan nila hanya mampu bertahan dalam waktu 21 menit
dengan detak jantung sebanyak 187 dan perlakuan detergen yang dilakukan
kelompok 6 ikan nila mampu bertahan dalam waktu 13 menit dengan detak
jantung sebanyak 305 detakan
Dari hasil pengamatan otot jantung masih tetap berkerja meski di luar
tubuh ikan itu membuktikan bahwa otot jantung adalah otot lurik tetapi bekerja
seperti otot polos, Menurut Fujaya (2004) Untuk menjamin aliran darah terus
berlangsung, maka daerah dipompa dengan perbedaan tekanan, tekanan jantung
lebih besar dari tekanan arteri, dan tekanan arteri lebih besar dari tekanan
arterionale, akibat adanya perbedaan tekanan maka aliran darah dapat terjadi.
Ada dua jenis energi yang disalurkan ke darah pada setiap kontraksi
jantung yaitu energi kinetik yang menyebabkan darah mengalir dan energi yang
tersimpan dalam pembuluh darah dan menimbulkan tekanan darah. pada
praktikum detak organ jantung terjadi perbedaan antara banyak dan kekuatan
detakan jantung. pada ikan besar detakan jantung lebih banyak dibandingkan ikan
kecil, karna ikan yang besar cenderung memiliki energi yang lebih besar
dibanding ikan kecil. Perbedaaan waktu bertahanya jantung ikan berbeda-beda
tiap perlakuan yang satu dengan dengan yang lain.
Pada larutan fisiologis jantung ikan berdetak lebih lama sedangkan pada
larutan bersalinitas gerakan denyut jantung cepat tapi lebih cepat berhenti pula.
Hal ini karena pada larutan fisiologis terkandung bahan yang komponenya lebih
mirip dengan cairan yang ada pada tubuh ikan tersebut. sehingga energi yang
digunakan jantung lebih sedikit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
sedangkan pada larutan bersalinitas berbeda dengan kondisi cairan dalam tempat
tinggal jantung sebelumnya sehingga jantung perlu menyesuaikan diri kembali
dengan lingkunganya. Akibatnya energi jantung banyak digunakan dan bekerja
lebih berat akhirnya daya tahan jantung lebih cepat habis. jantung ikan terus dapat
berdetak meskipun telah dikeluarkan hal ini karena jantung bekerja dibawah
kendali saraf otonom sehingga ikan sendiri tidak dapat mengontrol kerja otot
jantung.
Faktor faktor yang mempengaruhi detak jantung ikan diantaranya adalah
ukuran jantung, suhu, cairan isoosmotik dengan jantung (Wulangi, 1998).
Fungsi larutan fisiologis diantaranya untuk mengetahui daya tahan
maksimal detak jantung diluar tubuh yang dimanipulasi sehingga mirip dengan
didalam tubuh ikan diantaranya seperti zat nutrisi, natrium oksigen dll. Peranan
jantung sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan darah keseluruh
tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi
dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida,
garam-garam, antibodi dan senyawa N, dari tempat asal keseluruh bagian tubuh
sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke
bagain-bagian jaringan jaringan tubuh (Groman dalam Afandi dan Tang, 2002).


Pada praktikum kali ini menggunakan larutan akuades bertujuan
mengetahui detak jantung pada kondisi air murni tanpa bahan organik. pada l
arutan fisiologis digunakan untuk mengukur daya tahan jantung pada keadaan
yang mirip dengan lingkugan sebenarnya. sedangkan pada salinitas yang berbeda
beda digunakan untuk mengetahui reaksi yang ditimbulkan oleh jantung pada
berbagai salinitas.

V.PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Kontraksi otot jantung ikan merupakan salah satu sarana untuk
mengkonversi energi kimia menjadi energi mekanik dalam bentuk tekanan
dalam aliran darah
2. Jantung merupakan suatu pembesaran otot yang spesifik dari pembuluh
darah atau suatu struktur muskular berongga yang bentuknya menyerupai
kerucut dan dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial
(perikardium)
3. otot jantung masih tetap berkerja meski di luar tubuh ikan
4. Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan
darah keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan untuk perbaikan praktikum selanjutnya
adalah displin waktu dari asisten dosen dan praktikan sendiri









DAFTAR PUSTAKA

Affandi R dan Tang U.M. 2002.Fisiologi Hewan Air. Unri Press. Pekanbaru.
Alyuwono. 2011. Sistem Kerja Otot Jantung Pada Ikan. Media Pustaka. Jakarta.
Anderson D.P. 1992. Immunostimulants, Adjuvants And Vaccine Carriers In
Fish: Applicat ion To Aquaculture. Annual Rev. Of Fish Diseases. 2:281-
307
Arifin. 2008. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Jakarta :
Rineka Cipta
Djarijah, AS. 1995. Nila Merah Pembenihan dan Pembesaran Secara Intensif.
Kanisius. Yogyakarta.
Fujaya, Yushinta. 2004. FISIOLOGI IKAN Dasar Pengembangan Teknologi
Perikanan. Rineka Cipta : Jakarta.
Halang, Bunda. Januari 2004. Toksi-sitas Air Limbah Deterjen terhadap Ikan
Mas (Cyprinus carprio). FKIP Universitas Lambung Mangkurat
Lilley Aucker (1999). Pharmacoloy and the Nursing Process. Mosby, St.Louis
Marsandre Jatilaksono. 2007. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolahan Sumber
Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius
Suyanto, SR. 1994. Nila. penebar swadaya. Jakarta
Trewavas, F. 1982. Tilapias : Taxonomy and Spesification. P 3-13. In The
Biology and Culture of Tilapia (R.S.V; Polin and R.H Lowe M Canel
ed.). ICLARM Conference Proceedings 7. International Center of Living
Aquatic Resource Management : Manila, Piliphina.
Wijaya. 2011. Fisiologi Hewan Air. Bandung. Gramedia Pustaka.
Wulangi. S kartolo. 1998. Prinsip-prinsip fisiologi Hewan. DepDikBud :
Bandung.













LAMPIRAN















FOTO-FOTO KEGIATAN PRAKTIKUM

IKAN MULAI DIBEDAH
JANTUNG IKAN DIAMBIL
JANTUNG DI CAWAN PETRI