Anda di halaman 1dari 12

PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL

Definisi
Perdarahan uterus disfungsional (PUD) adalah perdarahan uterus abnormal yang didalam
maupun diluar siklus haid, yang semata-mata disebabkan gangguan fungsional mekanisme kerja
hipotalamus-hipofisis-ovarium-endometrium tanpa kelainan organik alat reproduksi. PUD paling
banyak dijumpai pada usia perimenars dan perimenopause.
Batasan Perdarahan Uterus Abnorma
BATASAN POLA ABNOR!ALITAS PERDARAHAN
Oi"omenorea Perdarahan uterus yang terjadi dengan interval > !
hari dan disebabkan oleh fase folikuler yang
memanjang.
Poimenorea Perdarahan uterus yang terjadi dengan interval " #$
hari dan disebabkan oleh defek fase luteal.
!enora"ia Perdarahan uterus yang terjadi dengan interval
normal ( #$ % ! hari) namun jumlah darah haid >
&' ml atau > ( hari.
!enometrora"ia Perdarahan uterus yang tidak teratur, interval non-
siklik dan dengan darah yang berlebihan (>&' ml)
dan atau dengan durasi yang panjang ( > ( hari).
Amenorea )idak terjadi haid selama * bulan berturut-turut pada
+anita yang belum masuk usia menopause.
!etrora"ia atau
#erdarahan antara
haid
Perdarahan uterus yang tidak teratur diantara siklus
ovulatoir dengan penyebab a.l penyakit servik,
,-D., endometritis, polip, mioma submukosa,
hiperplasia endometrium, dan keganasan.
Ber$a%
intermenstrua
/er0ak perdarahan yang terjadi sesaat sebelum
ovulasi yang umumnya disebabkan oleh penurunan
kadar estrogen.
Perdarahan #as$a
meno#ause
Perdarahan uterus yang terjadi pada +anita
menopause yang sekurang-kurangnya sudah tidak
mendapatkan haid selama $# bulan.
Perdarahan uterus
abnorma a%ut
Perdarahan uterus yang ditandai dengan hilangnya
darah yang sangat banyak dan menyebabkan
gangguan hemostasisis (hipotensi , takikardia atau
renjatan).
Perdarahan uterus
disfun"si
Perdarahan uterus yang bersifat ovulatoir atau
anovulatoir yang tidak berkaitan dengan kehamilan,
pengobatan, penyebab iatrogenik, patologi traktus
genitalis yang nyata dan atau gangguan kondisi
sistemik.
E#idemioo"i
Perdarahan uterus disfungsional tidak memiliki kegemaran untuk ras, namun dari segi
umur yang paling umum yaitu pada usia ekstrim tahun reproduksi +anita, baik di a+al atau
mendekati akhir, tetapi mungkin terjadi pada setiap saat selama hidup reproduksinya.
1ebagian besar kasus perdarahan uterus disfungsional pada remaja putri terjadi selama # tahun
pertama setelah onset menstruasi, ketika sumbu de+asa mereka hipotalamus-hipofisis mungkin
gagal untuk merespon estrogen dan progesteron.
Etioo"i
Perdarahan uterus disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara menar0he dan
menopause. )etapi, kelainan ini lebih sering dijumpai pada masa permulaan dan pada mssa akhir
fungsi ovarium. Pada usia perimenars, penyebab paling mungkin adalah faktor pembekuan darah
dan gangguan psikis
$
.
Pada masa pubertas sesudah menarche, perdarahan tidak normal disebabkan oleh
gangguan atau terlambat proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bah+a
pembuatanreleasing factor dan hormon gonadotropin tidak sempurna. Pada +anita dalam masa
premenopasuse proses terhentinya proses ovarium tidak selalu berjalan lan0ar
Perdarahan Uterus Disfungsional dapat dibedakan menjadi penyebab dengan siklus 2vulasi dan
penyebab yang berhubungan dengan siklus anovulasi. 3amun ada beberapa kondisi yang
dikaitkan dengan perdarahan rahim disfungsional, antara lain 4
- -egemukan (obesitas)
- 5aktor keji+aan
- ,lat kontrasepsi hormonal
- ,lat kontrasepsi dalam rahim (intra uterine devi0es)
- /eberapa penyakit dihubungkan dengan perdarahan rahim (DU/), misalnya4 trombositopenia
(kekurangan trombosit atau faktor pembekuan darah), -en0ing 6anis (diabetus mellitus), dan
lain-lain
- 7alaupun jarang, perdarahan rahim dapat terjadi karena4 tumor organ reproduksi, kista
ovarium (poly0ysti0 ovary disease), infeksi vagina, dan lain-lain.
Pato"enesis
Patologi PUD bervariasi. 8ambaran penting salah satunya yaitu gangguan pada hipotalamus %
pituitari % ovarium sehingga menimbulkan siklus anovulatorik. -urangnya progesteron
meningkatkan stimulasi esterogen terhadap endometrium. 9ndometrium yang tebal berlebihan
tanpa pengaruh progestogen, tidak stabil dan terjadi pelepasan irreguler. 1e0ara umum, semakin
lama anovulasi maka semakin besar resiko perdarahan yang berlebihan. :ni adalah bentuk DU/
yang paling sering ditemukan pada gadis remaja.1ekitar ;'< perdarahan uterus difungsional
(perdarahan rahim) terjadi tanpa ovulasi (anovulation) dan $'< terjadi dalam siklus ovulasi.
Pada si%us o&uasi
Perdarahan rahim yang bisa terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan dengan
+aktu menstruasi. Perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormon estrogen, sementara
hormon progesteron tetap terbentuk.
2vulasi abnormal ( DU/ ovulatori ) terjadi pada $! % #' < pasien DU/ dan mereka memiliki
endometrium sekretori yang menunjukkan adanya ovulasi setidaknya intermitten jika tidak
reguler. Pasien ovulatori dengan perdarahan abnormal lebih sering memiliki patologi organik
yang mendasari, dengan demikian mereka bukan pasien DU/ sejati menurut definisi tersebut.
1e0ara umum, DU/ ovulatori sulit untuk diobati se0ara medis.
Pada si%us tan#a o&uasi 'ano&uation(
Perdarahan rahim yang sering terjadi pada masa pre-menopause dan masa reproduksi. =al ini
karena tidak terjadi ovulasi, sehingga kadar hormon estrogen berlebihan sedangkan hormon
progesteron rendah. ,kibatnya dinding rahim (endometrium) mengalami penebalan berlebihan
(hiperplasi) tanpa diikuti penyangga (kaya pembuluh darah dan kelenjar) yang memadai. -ondisi
inilah penyebab terjadinya perdarahan rahim karena dinding rahim yang rapuh.
Patofisioo"i
Pasien dengan perdarahan uterus disfungsional telah kehilangan siklus endometrialnya
yang disebabkan oleh gangguan pada siklus ovulasinya. 1ebagai hasilnya pasien mendapatkan
siklus estrogen yang tidak teratur yang dapat menstimulasi pertumbuhan endometrium,
berproliferasi terus menerus sehingga perdarahan yang periodik tidak terjadi.
10hroder pada tahun $;$!, setelah penelitian histopatologik pada uterus dan ovarium pada +aktu
yang sama, menarik kesimpulan bah+a gangguan perdarahan yang dinamakan metropatia
hemoragika terjadi karena persistensi folikel yang tidak pe0ah sehingga tidak terjadi ovulasi dan
pembentukan korpus luteum. ,kibatnya, terjadilah hiperplasi endometrium karena stimulasi
estrogen yang berlebihan dan terus-menerus.
Penelitian lain menunjukkan pula bah+a perdarahan disfungsional dapat ditemukan
bersamaan dengan berbagai jenis endometrium, yaitu endometrium atrofik, hiperplastik,
proliferatif dan sekretoris, dengan endometrium jenis non sekresi merupakan bagian terbesar.
Pembagian endometrium menjadi endomettrium sekresi dan non sekresi penting artinya, karena
dengan demikian dapat dibedakan perdarahan ovulatoar dari yang anovulatoar. -lasifikasi ini
memiliki nilai klinik karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini memiliki dasar etiologi
yang berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda. Pada perdarahan disfungsional yang
ovulatoar gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor neuromuskular, hematologi dan
vasomotorik, yang mekanismenya belum seberapa dimengerti, sedang perdarahan anovulatoar
biasanya dianggap bersumber pada gangguan endokrin
Gambaran )ini%
Perdarahan rahim yang dapat terjadi tiap saat dalam siklus menstruasi. >umlah perdarahan bisa
sedikit-sedikit dan terus menerus atau banyak dan berulang. Pada siklus ovulasi biasanya
perdarahan bersifat spontan, teratur dan lebih bisa diramalkan serta seringkali disertai rasa tidak
nyaman sedangkan pada anovulasi merupakan kebalikannya.
$
1elain itu gejala yang yang dapat
timbul diantaranya seperti mood ayunan, kekeringan atau kelembutan ?agina serta juga dapat
menimbulkan rasa lelah yang berlebih.
Pada si%us o&uasi
-arakteristik PUD bervariasi, mulai dari perdarahan banyak tapi jarang, hingga spotting atau
perdarahan yang terus menerus.
Perdarahan ini merupakan kurang lebih $'< dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek
(polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk menegakan diagnosis perlu dilakukan
kerokan pada masa mendekati haid. >ika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur sehingga
siklus haid tidal lagi dikenali maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat
menolong.
>ika sudah dipastikan bah+a perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi
tanpa ada sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologi 4
$. korpus luteum persistens 4 dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang bersamaan
dengan ovarium membesar. Dapat juga menyebabkan pelepasan endometrium tidak teratur.
#. :nsufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia atau
polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan @=
releasing faktor. Diagnosis dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak 0o0ok
dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.
. ,popleksia uteri4 pada +anita dengan hipertensi dapat terjadi pe0ahnya pembuluh
darah dalam uterus.
A. -elainan darah seperti anemia, purpura trombositopenik dan gangguan dalam mekanisme
pembekuan darah.
Pada si%us tan#a o&uasi 'ano&uation(
Perdarahan tidak terjadi bersamaan. Permukaan dinding rahim di satu bagian baru sembuh lantas
diikuti perdarahan di permukaan lainnya. >adilah perdarahan rahim berkepanjangan.
Perdarahan ovulatoar
Perdarahan ini merupakan kurang lebih $'< dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek
(polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk menegakkan diagnosis perdarahan ovulatoar,
perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. >ika karena perdarahan yang lama dan tidak
teratur siklus haid tidak dikenali lagi, maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat
menolong. >ika sudah dipastikan bah+a perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa
adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologiya 4
$. -orpus luteum persistensB dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang bersamaan
dengan ovarium membesar. 1indrom ini harus dibedakan dari kehamilan ektopik karena ri+ayat
penyakit dan hasil pemeriksaan panggul sering menunjukkan banyak persamaan antara
keduanya. -orpus luteum persisten dapat pula menyebabkan pelepasan endometrium tidak
teratur (irregular shedding). Diagnosa irregular shedding dibuat dengan kerokan yang tepat pada
+aktunya, yakni menurut 60 @ennon pada hari ke-A mulainya perdarahan. Pada +aktu ini
dijumpai endometrium dalam tipe sekresi disamping tipe nonsekresi.
#. :nsufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia atau
polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan LH
releasing factor. Diagnosis dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak 0o0ok
dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.
. ,popleksia uteriB pada +anita dengan hipertensi dapat terjadi pe0ahnya pembuluh darah
dalam uterus.
A. -elainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik dan gangguan dalam mekanisme
pembekuan darah.
Perdarahan anovulatoar
1timulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunnya kadar
estrogen diba+ah tingkat tertentu, timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklis,
kadang-kadang tidak teratur sama sekali.
5luktuasi kadar estrogen ada sangkut-pautnya dengan jumlah folikel yang pada suatu +aktu
fungsional aktif. 5olikel-folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum mengalami atresia, dan
kemudian diganti oleh folikel-folikel baru. 9ndometrium diba+ah pengaruh estrogen tumbuh
terus, dan dari endometrium yang mula-mula proliferatif dapat terjadi endometrium bersifat
hiperplasia kistik. >ika gambaran itu dijumpai pada sediaan yang diperoleh dengan kerokan,
dapat diambil kesimpulan bah+a perdarahan bersifat anovulatoar.
7alaupun perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap +aktu dalam kehidupan
menstrual seorang +anita, tapi paling sering pada masa pubertas dan masa premenopause. /ila
pada masa pubertas kemungkinan keganasan ke0il sekali dan ada harapan bah+a lambat laun
keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovulatoar, pada seorang +anita de+asa
terutama dalam masa premenopasue dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan
untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas.
Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit
metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun, tumor-tumor
ovarium dan sebagainya. Disamping itu stress dan pemberian obat penenang juga dapat
menyebabkan perdarahan anovulatoar yang bisanya bersifat sementara.
Pemeri%saan Fisi%
Pada pemeriksaan umum dinilai adanya hipoChipertiroid dan gangguan homeostasis
seperti ptekie, selain itu perlu diperhatikan tanda-tanda yang menunjuk kearah kemungkinan
penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit menahun dan lain-lain.
Pada pemeriksaan ginekologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainan-kelainan organik,
yang menyebabkan perdarahan abnormal (polip, ulkus, tumor, kehamilan terganggu).
Pemeri%saan #enun*an"
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah biopsi endometrium (pada +anita
yang sudah menikah), laboratorium darah dan hemostasis, U18, serta radio immuno assay
,namnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap harus dilakukan dalam pemeriksaan pasien.
>ika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya penyakit sistemik, maka
penyelidikan lebih jauh mungkin diperlukan. ,bnormalitas pada pemeriksaan pelvis harus
diperiksa dengan U18 dan laparoskopi jika diperlukan.
Perdarahan siklik (reguler) didahului oleh tanda premenstruasi (mastalgia, kenaikan berat badan
karena meningkatnya 0airan tubuh, perubahan mood, atau kram abdomen ) lebih 0enderung
bersifat ovulatori. 1edangkan, perdarahan lama yang terjadi dengan interval tidak teratur setelah
mengalami amenore berbulan % bulan, kemungkinan bersifat anovulatori.
Peningkatan suhu basal tubuh ( ', % ',* D ), peningkatan kadar progesteron serum ( > ngC ml )
dan atau perubahan sekretorik pada endometrium yang terlihat pada biopsi yang dilakukan saat
onset perdarahan, semuannya merupakan bukti ovulasi.
Pemeriksaan penunjang4
$. Pemeriksaan darah 4 =emoglobin, uji fungsi thiroid , dan kadar =D8, 51=, @=, Prolaktin dan
androgen serum jika ada indikasi atau skrining gangguan perdarahan jika ada tampilan yang
mengarah kesana.
#. Deteksi patologi endometrium melalui (a) dilatasi dan kuretase dan (b) histeroskopi. 7anita
tua dengan gangguan menstruasi, +anita muda dengan perdarahan tidak teratur atau +anita muda
( " A' tahun ) yang gagal berespon terhadap pengobatan harus menjalani sejumlah pemeriksaan
endometrium. Penyakit organik traktus genitalia mungkin terle+atkan bahkan saat kuretase.
6aka penting untuk melakukan kuretase ulang dan investigasi lain yang sesuai pada seluruh
kasus perdarahan uterus abnormal berulang atau berat. Pada +anita yang memerlukan
investigasi, histeroskopi lebih sensitif dibandingkan dilatasi dan kuretase dalam mendeteksi
abnormalitas endometrium.
. @aparoskopi 4 @aparoskopi bermanfaat pada +anita yang tidak berhasil dalam uji 0oba
terapeutik.
Dia"nosa Bandin" Perdarahan Uterus Abnorma.
)ehamian dan Pen+a%it sistemi% , Patoo"i tra%tus "enitais ,
%om#i%asi
%ehamian ,
1olusio plasenta
-ehamilan
ektopik
,bortus
Plasenta previa
Penyakit
trofoblas
!edi%asi -
#en+ebab
iatro"eni%,
,ntikoagulan
,ntipsikotik
-ortikosteroid
1uplemen herbal
)erapi sulih
hormon
,-D.
Pil kontrasepsi
)amoEifen
=iperplasi adrenal dan
penyakit Dushing
F/lood Dys0rasiaG
(leukemia dan
trombositopenia)
-oagulopatia
Penyakit hepar
1upresi hipotalamik
(stress, penurunan berat
badan berlebihan, olah
raga berlebihan)
- 1indroma
ovaripolikistik
- Penyakit ginjal
- Penyakit tiroid
- :nfeksi (servisitis,
miometritis, endometritis)
- 3eoplasia
- -elainan anatomi
jinak4 (adenomiosis, mioma
uteri, polip servik)
- @esi pra-ganas
(displasia servik, hiperplasia
endometrium)
- @esi ganas 4 (karsinoma
servik sel skuamosa,
adenokarsinoma
endometrium, tumor ovarium
penghasil estrogen, tumor
ovarium penghasil
testosteron, leiomiosarkom)
- )rauma, benda asing,
abrasi, kekerasan atau
penyimpangan seksual
Perdarahan uterus
disfun"si (diagnosa per
eksklusionum)
E&auasi Perdarahan Uterus Abnorma
Lan"%ah
dia"nosti%
Ge*aa. tanda dan tes )eainan
Anamnesa 3yeri panggul
6ual, berat badan bertambah,
sering buang air ke0il, lesu
,bortus, kehamilan
ektopik, penyakit radang
panggul (P:D) ,
penyimpangan atau
kekerasan seksual.
-ehamilan
/erat badan bertambah, rasa
dingin berlebihan, sembelit,
lesu.
/erat badan menurun,
berkeringat banyak, palpitasi
8usi mudah berdarah
:kterus, ri+ayat hepatitis
=irsuitisme, jera+at,
a0athoisis nigri0ans, obesitas
Perdarahan pas0a sanggama
8alaktorea, nyeri kepala,
gangguan visual
/erat badan turun, stress, olah
=ipotiroidisme
=ipertiroidisme
-oagulopatia
Penyakit hepar
PD21
Displasia servik, polip
endoservik
,denoma hipofise
1upresi hipotalamus
raga berlebihan
Pemeri%saan
Fisi%
)iromegali, berat badan
naik,edema
)iroid mengeras, takikardia,
berat badan turun, kelainan
kulit
:kterus, hepatomegali
Uterus membesar
Uterus kaku dan melekat pada
jaringan dasarnya.
6asa adneksa
Uterus tegang, gerakan servik
terbatas
=ipotiroidisme
=ipertiroid
Penyakit hepar
-ehamilan, mioma uteri,
karsinoma uterus
-arsinoma uterus
)umor ovarium, kehamilan
ektopik, kista ovarium
.adang panggul,
endometritis
Pemeri%saan
aboratorium
H hD8
Darah lengkap dan
pemeriksaan faal pembekuan
darah
)es fungsi hepar,
prothrombine time
)hyroid 1timulating =ormon-
)1=
Prolaktin
8ula darah
D=9,-s, testosteron bebas, $(
a hidroEyprogesteron (bila
hiperandrogenik)
Papani0uloau smear
)es pemeriksaan infeksi servik
-ehamilan
-oagulopatia
Penyakit hepar
=ipo C hipertiroid
,denoma hipofise
D6
)umor ovarium C adrenal
Displasia servik
1ervisitis, P:D
Pen$itraan dan
#en"ambian
sediaan
*arin"an
/iopsi endometrium atau D I
D
U18 transvaginal
1onohisterografi (saline
infusion)
=isteroskopi
=iperplasia, atipia atau
adenokarsinoma
-ehamilan, tumor ovarium
C uterus
@esi intra uterus, polip
endometrium, mioma
submukosa
@esi intra uterus, polip
endometrium, mioma
submukosa
Penataa%saaan
)ujuan penanganan perdarahan uterus disfungsional adalah untuk mengontrol perdarahan
yang keluar, men0egah komplikasi, memperbaiki keadaan umum pasien, memelihara fertilitas
dan menginduksi ovulasi bagi pasien yang menginginkan anak
)erkadang pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak. 1ehingga penderita
harus bed rest dan diberi transfusi darah. Pada usia premenars, pengobatan hormonal perlu bila
tidak dijumpai kelainan organik maupun kelainan darah, gangguan terjadi selama * bulan atau #
tahun setelah menar0he belum dijumpai siklus haid yang berovulasi, perdarahan yang terjadi
sampai mebuat keadaan umum memburuk.
1etelah pemeriksaan ginekologik menunjukkan bah+a perdarahan berasal dari uterus dan
tidak ada abortus inkomplitus, perdarahan untuk sementara +aktu dapat dipengaruhi dengan
hormon steroid. Dapat diberikan 4
a. 9strogen dosis tinggi, supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan berhenti.
Dapat diberikan estradiol dipropionat #,!mg atau estradiol benJoat $,!mg se0ara intramuskular.
-ekurangan terapi ini adalah setelah suntikan dihentikan, perdarah timbul lagi.
b. Progesteron, dengan pertimbangan bah+a sebagian besar perdarahan fungsional bersifat
anovulatoar, sehingga pemberian progesteron mengimbangi pengaruh estrogen terhadap
endometrium. Dapat diberikan kaproas hidroksi-progesteron $#!mg, se0ara intamuskular atau
dapat diberikan peroral sehari norethindrone $!mg atau medroksi-progesteron asetat (provera)
$'mg, yang dapat diulangi. )erapi ini berguna pada +anita masa puberas.
,ndrogen berefek baik terhadap perdarahan disebabkan oleh hiperplasia endomentirum. )erapi
ini tidak boleh diberikan terlalu lama, karena bahaya virilisasi. Dapat diberikan testosteron
propionat !' mg intramuskular yang dapat diulangi * jam kemudian. Pemberian metiltestosteron
peroral kurang dapat efeknya. ,ndrogen berguna pada perdarahan disfungsional berulang, dapat
diberikan metil testosteron ! mg sehari. 9rapi oral lebih baik dari pada suntikan, dengan
pedoman pemberian dosis seke0il-ke0ilnya dan sependek mungkin.
-e0uali pada masa pubertas, terapi paling baik adalah dilatase kuretae. )indakan ini penting
untuk diagnosis dan terapi, agar perdarahan tidak berulang. /ila ada penyakit lain maka harus
ditangani pula.
,pabila setelah dilakukan kerokan perdarahan disfungsional timbul lagi, dapat diusahakan terapi
hormonal. Pemberian estrogen saja kurang bermanfaat karena sebagian besar perdarahan
disfungsional disebabkan oleh hiperestrenisme. Pemberian progesteron saja berguna apabila
produksi estrogen se0ara endogen 0ukup. Dalam hubungan hal-hal tersebut diatas, pemberian
estrogen dan progesteron dalam kombinasi dapat dianjurkan, untuk keperluan ini pil-pil
kontrasepsi dapat digunakan. )erapi ini dpat dilakukan mulai hari ke-! perdrahan terus untuk #$
hari. Dapat pula diberikan progeseteron untuk ( hari, mulai hari ke ke-#$ siklus haid.
Pil kontrasepsi dapat menekan pertumbuhan endometrium, mengontrol sifat perdarahan,
menurunkan perdarahan terus-menerus dan menurunkan resiko anemia defesiensi besi

.
/ila setelah dialakukan kerokan masih timbul perdarahan disfungsional, dapat diberikan terapi
hormonal. Pemberian kombinasi estrogen dan progestron, seperti pemberian pil kontrasepsi
dapat digunakan. )erapi ini dapat dilakukan mulai hari ke ! perdarahan sampai #$ hari. Dapat
diberikan progesteron untuk ( hari, mulai hari ke #$ siklus haid.,
1ebagai tindakan terakhir pada +anita dengan peredarahan disfungsional terus-menerus (meski
telah kuretase) adala histerektomi.
1etelah menegakkan diagnosa dan setelah menyingkirkan berbagai kemungkinan kelainan organ,
teryata tidak ditemukan penyakit lainnya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan prinsip-
prinsip pengobatan sebagai berikut4
$. 6enghentikan perdarahan.
#. 6engatur menstruasi agar kembali normal
. )ransfusi jika kadar hemoglobin (=b) kurang dari & gr<.
P9.D,.,=,3 U)9.U1 D:15U381: K,38 ,32?U@,)2:.
Pil kontrasepsi oral digunakan untuk mengatur siklus haid dan kontrasepsi. Pada
penderita dengan siklus haid tidak teratur akibat anovulasi kronik (oligo ovulasi), pemberian pil
kontrasepsi men0egah resiko yang berkaitan dengan stimulasi estrogen berkepanjangan terhadap
endometrium yang tidak diimbangi dengan progesteron (Funopposed estrogen stimulation of the
endometriumG). Pil kontrasepsi se0ara efektif dapat mengendalikan perdarahan anovulatoir pada
penderita pre dan perimenopause. /ila terdapat kontraindikasi pemberian pil kontrasepsi
( perokok berat atau resiko tromboflebitis) maka dapat diberikan terapi dengan progestin se0ara
siklis selama ! % $# hari setiap bulan sebagai alternatif.
P9.D,.,=,3 U)9.U1 D:15U381: 2?U@,)2:.
)erapi medikamentosa untuk kasus menoragia terutama adalah 31,:D (asam
mefenamat) dan ,-D.-levonorgesterel (6irena)
9fektivitas asam mefenamat, pil kontrasepsi, naproEen, danaJol terhadap menoragia adalah
setara.
9fek samping dan harga dari androgen (DanaJol atau 8n.= agonis) membatasi
penggunaannya bagi kasus menoragia, namun obat-obat ini dapat digunakan dalam jangka
pendek untuk menipiskan endometrium sebelum dikerjakan tindakan ablasi endometrium.
2bat antifibrinolitik se0ara bermakna mengurangi jumlah perdarahan, namun obat ini
jarang digunakan dengan alasan yang menyangkut keamanan ( potensi menyebabkan
tromboemboli).
Penataa%sanaan !edi%amentosa PUD ano&uatoir
Obat Dosis !a%sud
Pi %ontrase#si 9tinil estradiol #' % !
m0g L progestin
monofasik tiap hari
Pil ! m0g # % A kali
sehari selama ! % ( hari
sampai perdarahan
berhenti dan diikuti
dengan penurunan
se0ara bertahap sampai
$ pil $ kali perhari dan
dilanjutkan dengan
pemberian pil
kontrasepsi selama
siklus
- 6engatur siklus haid
- -ontrasepsi
- 6en0egah hiperplasia
endometrium
Penatalaksanaan
perdarahan yang banyak
namum tidak bersifat
ga+at darurat
Pro"estin ,
!edro/+#ro"esteron
asetat 'Pro&era.
Proth+ra(
! % $' mg C hari selama
! % $' hari setiap bulan
- 6engatur siklus haid
- 6en0egah hiperplasia
endometrium
/ila terapi medis gagal atau terdapat kontraindikasi maka dilakukan intervensi
pembedahan. )erapi pilhan pada kasus adenokarsionoma adalah histerektomi, tindakan ini juga
dipertimbangkan bila hasil biopsi menunjukan atipia.
Penataa%sanaan #embedahan #ada #erdarahan uterus abnorma
Tinda%an Aasan
=isteroskopi operatif ,bnormalitas struktur intra uteri.
6imektomi (abdominal,
laparoskopik,histeroskopik)
6ioma uteri.
.eseksi endometrial transervikal )erapi menoragia atau menometroragia
resisten.
,blasi endometrium (thermal
balloonCroller ball)
)erapi menoragia atau menometroragia
resisten dalam rangka penatalaksanaan
perdarahan uterus akut yang resisten
9mbolisasi arteri uterina 6ioma uteri.
=isterektomi =iperplasia atipikal, karsinoma
endometrium.
6enghentikan perdarahan.
@angkah-langkah upaya menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut4
- -uret (0urettage).
=anya untuk +anita yang sudah menikah.
2bat (medikamentosa)
$. 8olongan estrogen.
Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya4 estradiol valerat (nama
generik) yang relatif menguntungkan karena tidak membebani kinerja liver dan tidak
menimbulkan gangguan pembekuan darah. >enis lain, misalnya4 etinil estradiol, tapi obat
ini dapat menimbulkan gangguan fungsi liver.
Dosis dan 0ara pemberian4
M 9strogen konyugasi (estradiol valerat)4 #,! mg diminum selama (-$' hari.
M /enJoas estradiol4 #' mg disuntikkan intramuskuler. (melalui bokong)
M >ika perdarahannya banyak, dianjurkan nginap di .1 (opname), dan diberikan
9strogen konyugasi (estradiol valerat)4 #! mg se0ara intravenus (suntikan le+at selang infus)
perlahan-lahan ($'-$! menit), dapat diulang tiap -A jam. )idak boleh lebih A kali sehari.
9strogen intravena dosis tinggi ( estrogen konjugasi #! mg setiap A jam sampai perdarahan
berhenti ) akan mengontrol se0ara akut melalui perbaikan proliferatif endometrium dan melalui
efek langsung terhadap koagulasi, termasuk peningkatan fibrinogen dan agregasi trombosit.
)erapi estrogen bermanfaat menghentikan perdarahan khususnya pada kasus endometerium
atrofik atau inadekuat. 9strogen juga diindikasikan pada kasus DU/ sekunder akibat depot
progestogen ( Depo Provera ).# -eberatan terapi ini ialah bah+a setelah suntikan dihentikan,
perdarahan timbul lagi.
#. 2bat -ombinasi
)erapi siklik merupakan terapi yang paling banyak digunakan dan paling efektif. Pengobatan
medis ditujukan pada pasien dengan perdarahan yang banyak atau perdarahan yang terjadi
setelah beberapa bulan amenore. Dara terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral B obat ini
dapat dihentikan setelah % * bulan dan dilakukan observasi untuk melihat apakah telah timbul
pola menstruasi yang normal. /anyak pasien yang mengalami anovulasi kronik dan pengobatan
berkelanjutan diperlukan.
. 8olongan progesterone
Pertimbangan di sini ialah bah+a sebagian besar perdarahan fungsional bersifat anovulatoar,
sehingga pemberian obat progesterone mengimbangi pengaruh estrogen terhadap endometrium.
2bat untuk jenis ini, antara lain4
M 6edroksi progesteron asetat (6P,)4 $'-#' mg per hari, diminum selama (-$' hari.
M 3orethisteron4 N$ tablet, diminum selama (-$' hari.
M -aproas hidroksi-progesteron $#! mg se0ara intramuskular.
A. 2,:31
6enorragia dapat dikurangi dengan obat anti inflamasi non steroid. 5raser dan 1hearman
membuktikan bah+a 2,:31 paling efektif jika diberikan selama ( hingga $' hari sebelum onset
menstruasi yang diharapkan pada pasien DU/ ovulatori, tetapi umumnya dimulai pada onset
menstruasi dan dilanjutkan selama espisode perdarahan dan berhasil baik. 2bat ini mengurangi
kehilangan darah selama menstruasi ( mensturual blood loss C 6/@ ) dan manfaatnya paling
besar pada DU/ ovulatori dimana jumlah pelepasan prostanoid paling tinggi.#
6engatur menstruasi agar kembali normal 1etelah perdarahan berhenti, langkah selanjutnya
adalah pengobatan untuk mengatur siklus menstruasi, misalnya dengan pemberian4 8olongan
progesteron4 #N$ tablet diminum selama $' hari. 6inum obat dimulai pada hari ke $A-$!
menstruasi.
)ransfusi jika kadar hemoglobin kurang dari & gr<.
)erapi yang ini diharuskan pasiennya untuk menginap di .umah 1akit atau klinik. 1ekantong
darah (#!' 00) diperkirakan dapat menaikkan kadar hemoglobin (=b) ',(! gr<. :ni berarti, jika
kadar =b ingin dinaikkan menjadi $' gr< maka kira-kira perlu sekitar A kantong darah.
Pro"nosis
)erapi hormon biasanya mengurangi gejala. 1elama tidak
ada masalah dengan anemia(jumlah darah rendah),pengobatan dini menunjang prognosis yang
baik.
- =indari pen0etus 2besitas
- 8aya hidup sehat
)om#i%asi
- :nfertilitas dari kurangnya ovulasi
- Parah anemia dari perdarahan haid berkepanjangan atau berat
- Penumpukan dinding rahim tanpa perdarahan haid yang
0ukup (faktor kemungkinandalam perkembangan kanker endometrium)