Anda di halaman 1dari 24

D DA AT TA AB BA AS SE E G GO OO OD D P PR RA AC CT TI IC CE E

AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol


Sektor Kesehatan
Sub-sektor Persalinan Aman
Provinsi Nusa Tenggara Barat
Kota/Kabupaten -
Institusi Pelaksana Dinas Kesehatan
Kategori Institusi Pemerintahan Provinsi
Kontak Bagian Kesekretariatan & PDE
Sekretariat Daerah Provinsi NTB
Jl. Pejanggik No. 12 Mataram
Telepon 0370-622373 ext. 1234
Fax 0370-632016
email : pde@ntbprov.go.id
Peneliti dan Penulis Nyssa Chairina [crnyssa@ymail.com]


Mengapa program/kebijakan tersebut muncul?
AKI melahirkan yang relatif tinggi terutama di sejumlah wilayah timur
Indonesia masih terjadi, salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB). Dari berbagai sebab pemicu AKI relatif tinggi di NTB, peran
keterlibatan dukun beranak dalam proses melahirkan secara langsung
dalam masyarakat masih menjadi salah satu alasan. Oleh karena itu,
AKINO muncul sebagai bentuk inovasi program penunjang prioritas.
Apa tujuan program/kebijakan tersebut?
Tujuan adanya program AKINO secara tidak langsung adalah untuk
mengurangi keterlibatan peran dukun beranak dalam proses melahirkan
secara langsung. Sedangkan tujuan dasar AKINO yaitu sebagai bentuk
komitmen Pusat dan Daerah untuk mendukung target pencapaian MDGs
2015 mendatang, yakni mempercepat penurunan AKI melahirkan.
Bagaimana gagasan tersebut bekerja?
Menggalakan persalinan gratis melalui jaminan persalinan bagi para ibu
hamil yang disertai dengan penerapan program prioritas sebagai program
lanjutan yang telah dilakukan sebelumnya seperti penyuluhan Keluarga
Berencana (KB) dan desa siaga.

University Network for
Governance Innovation
merupakan jaringan
beberapa universitas di
Indonesia sebagai wujud
kepedulian civitas
akademika terhadap upaya
pengembangan inovasi tata
pemerintahan dan pelayanan
publik yang lebih baik. Saat
ini terdapat lima institusi
yang tergabung yakni
FISIPOL UGM, FISIP
UNSYIAH, FISIP UNTAN, FISIP
UNAIR, DAN FISIP UNHAS.

Sekretriat
Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio-Justisia Bulaksumur
Yogyakarta 55281
email: igi.fisipol@ugm.ac.id

igi.fisipol.ugm.ac.id
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
2
http://igi.fisipol.ugm.ac.id



Siapa inisiatornya? Siapa saja pihak-pihak utama yang terlibat?
Gubernur dan Wakil Gubernur Dr. TGH. M. Zainul Majdi, MA dan Ir. H.
Badrul Munir, MM.
Apa perubahan utama yang dihasilkan?
Perubahan utama yang dihasilkan yaitu AKI melahirkan mampu ditekan.
Selain itu, keterlibatan para ibu hamil dalam proses melahirkan melalui
dukun beranak secara langsung setidaknya berkurang dengan beralih ke
unit kesehatan yang telah disediakan oleh Pemerintah Daerah.
Siapa yang paling memperoleh manfaat?
Manfaat yang paling diperoleh yakni bagi keselamatan dalam proses
melahirkan para ibu hamil di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Deskripsi Ringkas

Salah satu pencapaian target MDGs 2015 dan
komitmen Nasional Indonesia yaitu menurunkan
tingkat angka kematian ibu melahirkan yang relatif
tinggi. Terutama provinsi bagian timur Indonesia,
salah satunya Nusa Tenggara Barat (NTB). Di NTB
untuk membantu keberhasilan pencapaian target
MDGs 2015 yang tersisa waktu kurang dari tiga
tahun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) periode
2008-2013 yaitu Dr. TGH. M. Zainul Majdi, MA dan
Ir. H. Badrul Munir, MM selaku Gubernur dan Wakil
Gubernur mencanangkan AKINO (Angka Kematian
Ibu Menuju Nol) sebagai penunjang program
prioritas pada tahun 2008 lalu.
AKINO secara tidak langsung ditunjukan untuk
meminimalkan keterlibatan peran dukun beranak
dalam proses melahirkan secara langsung.
Implementasi AKINO yakni menggalakan persalinan
gratis melalui jaminan persalinan. Selain itu, disertai
berbagai program prioritas sebagai program
lanjutan yang telah dilakukan sebelumnya seperti
peran penyuluh Keluarga Bencana (KB), jaminan
kesehatan masyarakat daerah (jamkesmasda), dan
desa siaga.
Tidak dipungkiri AKINO memberi manfaat pada
berbagai pihak terutama keselamatan para ibu.
Adanya AKINO, tingkat AKI mampu ditekan dalam
rentang program dicanangkan. AKI NTB tahun 2008
tercatat 320/100.000 kelahiran hidup. Adanya
AKINO tahun berikutnya yaitu 2011 tercatat
280/100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan
hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2007 yaitu 228/100.000 kelahiran hidup, AKI
NTB masih relatif jauh. Namun, setidaknya hasil AKI
melalui AKINO memperlihatkan hal positif dimana
cukup mampu ditekan. Dari 1.031 desa di 10
kabupaten/kota di NTB, sebanyak 900 desa
dinyatakan AKINO. Beberapa desa AKINO
diantaranya terdapat di Kabupaten Lombok Barat.
Beberapa desa di Kab. Lombok Barat memiliki Ojek
Ambulans dan peraturan desa tentang persalinan
sebagai dukungan warga dalam program AKINO.



AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
3
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Rincian Inovasi

Grafik 1. Indeks Pembangunan Manusia NTB Tahun 1996-2008
Sumber: BPS 2010

Latar Belakang Masalah
Sejak awal kesehatan daerah NTB dikenal berkuali-
tas terburuk. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
NTB tahun 1996-2008 selalu berada di bawah rata-
rata posisi nasional, seperti ditunjukkan dalam grafik
1. Wakil Gubernur NTB mengungkapkan tidak bisa
dipungkiri bila indikator kesehatan masih menjadi
kendala dan mempengaruhi peringkat IPM NTB, se-
hingga dalam 6 tahun terakhir masih berada di posi-
si 32 dari 33 daerah dengan skor 65,2 atau sedikit
lebih baik dari Daerah Papua dengan nilai 64,94
1
.
Hal ini dipengaruhi salah satu indikator kesehatan
yang masih menjadi kendala yakni Angka Kematian
Ibu melahirkan (AKI). Relatif tingginya AKI di NTB,
ditinjau berdasarkan dari perbandingan hasil data
AKI secara nasional. Di antara beberapa kabupaten
di NTB, Lombok Barat adalah salah satu kabupaten
dengan AKI relatif tinggi yakni pada 2008 sebesar
20/100.000 kelahiran hidup. Tingginya AKI
disebabkan oleh berbagai permasalahan yang
cukup kompleks.
Berbagai permasalahan di antaranya seperti
kualitas kesehatan ibu hamil cenderung rendah
karena minim kesadaran dan informasi kesehatan

1
Data BPS, 2010 (dalam) AntaraMataram.com 2012.
NTB Optimistis IPM Bergeser Dari Peringkat 32.
http://mataram.antaranews.com/berita/index.php?rubrik=5
&id=22435 diakses pada 24 Desember 2012.
kehamilan. Kepala Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN), Sumarjati Arjoso,
menyatakan peluang kematian ibu semakin besar
karena banyak ibu hamil yang tidak melakukan
pemeriksaan rutin ke bidan atau tenaga medis
terlatih untuk mengetahui perkembangan janin
dalam kandungannya serta tidak mengkonsumsi
vitamin dan zat besi tambahan yang diperlukan
selama masa kehamilan
2
.

Tidak jarang pula ibu hamil tidak ingin me-
meriksakan kehamilan karena usia. Entah malu
terlalu tua ataupun dini untuk mengandung. Teru-
tama bagi kasus hamil di luar nikah atau pernikahan
dini. Terkait usia dini, pernikahan dini juga cukup
tinggi di NTB. Perempuan di Provinsi NTB yang
menikah pada umur 15 tahun ke bawah dijumpai
sebanyak 6,28 persen, paling banyak berada di
Kabupaten Lombok Tengah dan Kota Mataram,

2
Wawancara dilakukan oleh Kepala Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumarjati Arjoso,
ketika memiliki kesempatan yang sama dengan Dr Sri
Mulyani waktu semasa beliau masih menjabat sebagai
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
(BAPPENAS), saat seminar "Pemberdayaan Perempuan
dan Keluarga Berencana Dalam Mencapai Sasaran
MDGs" di Jakarta pada 14 Juli 2005 silam, (dalam) KBI
Gemari. 2005. Kurangi Penduduk Miskin.
http://kbi.gemari.or.id/beritadetail.php?id=3079 diakses
(secara online) pada 24 Desember 2012.
67,7
56,7
64,3
54,2
65,8
57,8
68,7
60,6
69,57
62,42
70,1
63,04
70,59
63,71
71,17
64,12
0
10
20
30
40
50
60
70
80
Indonesia (BPS) Nusa Tenggara Barat
1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
4
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


disusul perempuan Lombok Timur dan Sumbawa
3
.
.

Lebih lanjut, proses melahirkan relatif masih terjadi
dengan menggunakan jasa dukun beranak.
Berbagai faktor yang mempengaruhi di antaranya
yang paling utama yaitu pendapatan, di mana
ketidakmampuan untuk menjangkau biaya
persalinan melalui pelayanan kesehatan. Di sisi lain,
tradisi dan budaya proses kelahiran dengan dukun
beranak masih cukup kental. Menurut data BPS
tahun 2006, 48,73% ibu melahirkan dengan bantuan
dukun, 45,06% melahirkan di sarana kesehatan,
dan 6,20% melahirkan di sarana lainnya
4
.

Wakil Gubernur NTB menambahkan masih banyak
ibu yang mengandalkan tenaga dukun untuk
melahirkan, padahal sudah ada Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas)
5
. Dukun beranak kerap
dipercaya karena dianggap memahami dan
membantu dalam serangkaian upacara adat seperti
upacara beretes, molang mali, dan ngurisang
(upacara adat kehamilan dan kelahiran masyarakat
Lombok)
.
Serta pola pemikiran tradisional seperti
mitos kepercayaan terhadap pemberian ramuan,
pengalaman persalinan, dan perawatan serta
perilaku turun-menurun.
Berbagai faktor pendukung lain seperti
pendistribusian dan ketersediaan unit dan tenaga
kesehatan. Kepala Bidang Bina Kesehatan
Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi
NTB menyatakan di NTB sendiri dari sejumlah
1.031 desa yang ada, 103 desa belum memiliki
akses bidan desa
6
.
Ditambahkan Kepala Dinas
Kesehatan Lobar bahwa ketersediaan sarana
maupun tenaga kesehatan di Lobar masih terbatas,
hal itu terlihat dari 101 desa yang ada, jumlah
Poskesdes maupun bidan desa belum bisa

3
Kompas. 2012. Fenomena Pernikahan Dini Munculkan
"Kegalauan".
http://oase.kompas.com/read/2012/10/02/12113585/Feno
mena.Pernikahan.Dini.Munculkan.Kegalauan diakses
(secara online) pada 24 Desember 2012.
4
AntaraMataram.com. 2012. NTB Kesulitan Angkat IPM
Karena Faktor Kesehatan.
http://www.antaramataram.com/berita/?rubrik=5&id=2148
9 diakses (secara online) pada 24 Desember 2012.
5
Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB). 2008. Laporan Kajian: Meneropong Kebutuhan
Pencapaian MDGs Di Nusa Tenggara Barat (NTB).
http://www.batukar.info diakses (secara online) pada 22
Februari 2013.
6
Suara NTB. 2011. Bidan Desa Minim Tinggi, Angka
Kematian Ibu di NTB.
http://www.suarantb.com/2011/12/06/Sosial/detil1%202.ht
ml diakses (secara online) pada 24 Desember 2012.
dikatakan lengkap
7
.
Selain itu, keterbatasan
jangkauan pelayanan kesehatan daerah terpencil
turut diperhitungkan.
Tidak hanya disebabkan segi internal, melainkan
segi eksternal seperti visi, misi serta tindakan nyata
stakeholder di NTB belum terintegrasi secara utuh.
Hal ini merugikan berbagai pihak terutama
keselamatan para ibu dan Provinsi NTB terkait
pencapaian posisi IPM Provinsi secara nasional.
Dengan demikian, Angka Kematian Ibu Nol (AKINO)
muncul sebagai program inovasi dalam rangka
percepatan upaya penekanan AKI.

Inisiasi
Angka Kematian Ibu melahirkan masih cenderung
tinggi. Di sisi lain, tersisa tiga tahun dalam
pencapaian target tujuan Millennium Development
Goals (MDGs) 2015 dan komitmen Nasional
Indonesia. Butuh usaha keras dalam merealisasikan
pencapaian target MDGs 2015. Berbagai usaha
telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui
Pemerintah Daerah di tingkat provinsi maupun
kabupaten/kota untuk melakukan penempatan bidan
di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
Hal ini dilakukan melalui buku Kesehatan Ibu dan
Anak (KIA), program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) dan sebagainya.
Begitupun di NTB, AKI yang cenderung tinggi
sehingga turut mempengaruhi posisi IPM NTB
dalam bidang kesehatan di mana menjadi salah
satu posisi terendah secara nasional. Maka dari itu,
selaku Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yaitu Dr.
TGH.M. Zainul Majdi, MA dan Ir. H. Badrul Munir,
MM mencanangkan program AKINO bertepatan
pada perayaan ulang tahun NTB pada tanggal 17
Desember 2008.
Pada dasarnya, AKINO adalah bentuk komitmen
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah untuk
mendukung pencapaian MDGs 2015 mendatang, di
mana agar dapat mempercepat penurunan Angka
Kematian Ibu melahirkan. AKINO salah satu bagian
program inovasi unggulan dalam bidang sosial yang
diharapkan mampu memberikan dorongan tinggi
bagi percepatan pencapaian program prioritas
pembangunan NTB. Program prioritas
pembangunan NTB berdasarkan rancangan strategi
yang bertumpu salah satunya pada masyarakat
miskin, yaitu 3A AKINO (Angka Kematian Ibu Nol),
ABSANO (Angka Buta Aksara Nol), dan ADONO
(Angka Droup Out Nol).

7
Suara NTB. 2011. Minim, Sarana Kesehatan di Lobar.
http://www.suarantb.com/2011/03/07/Sosial/detil4%201.ht
ml diakses (secara online) pada 24 Desember 2012.
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
5
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Hal ini ditandai dengan upaya peningkatan
aksesibilitas dan kualitas pelayanan KIA hingga
tingkat desa. Melalui pembebasan biaya persalinan
guna mendukung berbagai program prioritas yang
telah dilakukan sebelumnya dalam upaya
penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu, AKINO
ditunjukkan sebagai upaya perbaikan dan
peningkatan posisi IPM NTB menjadi lebih baik
secara nasional. Serta, sebagai bentuk realisasi
terhadap tujuan utama dalam visi dan misi Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
tahun 2009-2013 dalam NTB BERSAING (Nusa
Tenggara Barat yang Beriman dan Berdayasaing).
Pelaksanaan AKINO sebagai penunjang program
prioritas bidang sosial dalam pembangunan NTB
secara dasar dilaksanakan sesuai pada prinsip
good governance sebagai tujuan utama. Penerapan
sesuai prinsip good governance yaitu melibatkan
secara keseluruhan stakeholders baik Pemerintah
Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, instansi non-
pemerintahan serta masyarakat dalam
pembangunan. Di sisi lain, agar percepatan
pencapaian program AKINO terealisasi dan sesuai
prinsip good governance, Pemerintah NTB
mempersiapkan strategi berupa sosialisasi dan
advokasi kepada seluruh pihak terkait. Seperti
badan eksekutif, legislatif, tokoh masyarakat,
lembaga pendidikan dan organisasi lainnya.
Sosialisasi dilakukan melalui promosi kesehatan
yang disusun sebagai buku pedoman program
AKINO sebagai acuan para stakeholder tersebut.
Promosi dilakukan melalui penyuluhan dan
kampanye serta pemberdayaan masyarakat tentang
kesehatan. Hal ini dilakukan guna mencapai
perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat yang
masih cenderung tradisional serta minimnya
mengenai informasi kesehatan terutama kehamilan.
Promosi kesehatan yang diselenggarakan oleh
pelayanan kesehatan (Puskesmas) dilakukan
melalui pendekatan melalui keterlibatan berbagai
pihak. Mulai dari lembaga pendidikan jenjang
menegah pertama hingga atas melalui sosialisasi
mengenai pendidikan kesehatan terutama tentang
reproduksi. Kemudian, di perguruan tinggi melalui
pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui
program kerja lapangan. Selain itu, tokoh
masyarakat dan agama turut berperan dalam
sosialisasi program AKINO. Para tokoh masyarakat
dan agama yang memberikan selipan pesan dalam
acara ceramah atau diskusi yang diadakan dengan
warga. Bahan selipan diskusi atau ceramah tersebut
yakni berbagai pesan yang mengarah pada
penerapan AKINO.
Lebih lanjut, dalam mensosialisasikan program
AKINO dapat melalui media massa (seperti radio,
koran ataupun melalui iklan televisi) dan acara
budaya (seperti wayang kulit dan balas pantun).
Pemuatan pesan sosialisasi program AKINO yang
dilakukan melalui media massa sebenarnya berasal
dari kontribusi para pengusaha media massa itu
sendiri. Pengusaha media massa memiliki
kepedulian dalam mendukung realisasi AKINO di
NTB. Hal ini dapat dikatakan secara tidak langsung
merupakan bagian dari program corporate social
responsibility (CSR). Di mana pesan mengenai
AKINO sampai pada masyarakat yang tersebar
melalui media cetak, elektronik dan sebagainya.
Salah satu bentuk rencana kerjasama dalam
mensosialisasikan program AKINO dengan media
massa yaitu melalui radio komunitas. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Suedaryanto selaku staf ahli
pendidikan dan kesehatan Kantor Gubernur Provinsi
NTB di Balai Latihan Kesehatan Mataram pada
acara pelatihan talk show dan penerbitan buletin,
pada tahun 2009 lalu. Suedaryanto akan
memanfaatkan radio komunitas (rakom) sebagai
media sosialisasi program 3A. Bila program 3A
berada di tempat berdirinya rakom, maka pihaknya
akan melakukan kerjasama yang bentuk
kerjasamanya dapat ditentukan, seperti Iklan
Layanan Masyarakat, mimbar informasi, berita atau
dialog
8
. Selain itu, berbagai buku pedoman
mengenai AKINO turut diberikan kepada
masyarakat dalam setiap kegiatan (seperti
posyandu, kelas ibu hamil, dan sebagainya) dan
memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan
program tersebut.
Pada dasarnya promosi kesehatan mengenai
sosialisasi AKINO yang diselenggarakan oleh
Puskesmas dengan melibatkan terutama media
massa, tokoh agama, dan masyarakat, secara
teknis kedua belah pihak akan melakukan
pertemuan terlebih dahulu. Hal ini ditujukan untuk
melakukan pembahasan mengenai pemberian
pedoman penyelenggaraan program AKINO yang
telah disusun dan dilengkapi dengan kumpulan
pesan terkait program AKINO
9
.
Sementara itu, tidak hanya dari elemen masyarakat
saja melainkan pada badan pemerintahan setiap
wilayah kabupaten di Provinsi NTB turut
mensosialisasikan program AKINO. Program AKINO
disosialisasikan melalui advokasi pada Pemerintah

8
Primadona FM. 2009. Rakom Miliki Potensi dan
Kekuatan yang Pasti.
http://m.suarakomunitas.net/baca/5216/rakom--miliki-
potensi-dan--kekuatan-yang-pasti.html diakses pada 11
April 2013.
9
Salah satu contoh bentuk pedoman penyelenggaraan
AKINO sebagaimana terlampir di bagian lampiran.
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
6
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Provinsi dan Kabupaten. Advokasi dilakukan berupa
penyelenggaraan sistem pencatatan dan pelaporan
kependudukan di setiap jenjang wilayah
administrasi pemerintahan. Terkait dengan sistem
pencatatan dan pelaporan kependudukan, Pemprov
NTB mengintegrasikan berbagai data yang terdapat
di setiap kabupaten secara keseluruhan melalui
jaringan internet.
Secara keseluruhan, mekanisme pemerintah NTB
pada awal pelaksanaan program AKINO lebih
mengutamakan keterlibatan pihak masyarakat
secara langsung. Sedangkan badan Pemerintah
Provinsi maupun kabupaten sebatas secara teknis
(seperti upaya peningkatan ketersediaan unit,
tenaga, dan anggaran kesehatan). Di sisi lain,
kendala dalam tahap ini mengarah pada lemahnya
koordinasi para stakeholder terkait sosialisasi awal
program dilakukan. Permasalahan sosialisasi belum
optimal terjadi justru bukan di tingkat masyarakat
melainkan tingkat badan pemerintahan daerah
sendiri. Hal ini ditandai melalui pengakuan bahwa
sejumlah kades tidak paham mengenai program
Pemprov NTB, khususnya mengenai BSS, AKINO,
ABSANO, dan ADONO
10
.
Maka dari itu, saat itu
Pemprov NTB berupaya keras dalam melakukan
sosialisasi program AKINO melalui peningkatan
koordinasi dan fasilitas pendukung sosialisasi baik
berupa anggaran maupun bahan materi sosialisasi
terhadap aparat pemerintahan daerah.

Implementasi
AKINO merupakan program penunjang prioritas
bagi para ibu hamil, bersalin, nifas (sampai 42 hari
pasca melahirkan), dan bayi baru lahir (sampai
umur 28 hari) melalui revitalisasi aksesbilitas dan
penggunaan pelayanan kesehatan antenatal.
Pelayanan antenatal meliputi pemeriksaan
kehamilan, persiapan persalinan, informasi tanda
bahaya, imunisasi, pencegahan kehamilan yang
tidak diinginkan, dan ketersediaan darah
11
.

Revitalisasi direalisasikan berupa persalinan bebas
biaya dan peningkatan pelayanan terhadap kualitas
kesehatan para ibu selama masa kehamilan hingga
pasca melahirkan. Hal ini dilakukan sebagai tujuan
awal yakni dukungan atas program AKINO untuk

10
Suara NTB. 2010. Melihat Program Unggulan Pemprov
NTB Masyarakat Lebih Paham Gosip Artis dan
Perkembangan Dunia.
http://www.suarantb.com/2010/04/26/Sosial/detil1%205.ht
ml diakses (secara online) pada 24 Desember 2012.
11
Atmawikarta, Arum. 2008. Penurunan Kematian Ibu:
Pencapaian MDG dalam Perspektif Pemerintah.
Rakernas dan Semiloka Aliansi Pita Putih Indonesia.
Jakarta.
percepatan penekanan AKI di NTB, salah satunya
Kabupaten Lombok Barat. Namun yang perlu
ditekankan bahwa analisis penulisan ini lebih
diarahkan pada program AKINO sebagai
percepatan penekanan AKI dalam lingkup sebagai
upaya secara tidak langsung dalam meminimalkan
peran dukun beranak dalam proses melahirkan.
Secara keseluruhan, pelaksanaan AKINO didukung
penuh Pemerintah Pusat dan Daerah. Berbagai
sumberdaya eksternal maupun internal memberi
dukungan positif dan berupaya memperoleh hasil
optimal. Berdasarkan hasil lapangan, program
AKINO dapat optimal disebabkan adanya hubungan
sinergitas pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Serta sinergitas visi dan misi program prioritas
(seperti desa siaga, dan sarana ojek ambulans) dan
penunjang (yaitu AKINO) sebagai keseriusan
komitmen percepatan penurunan AKI di NTB.
Seperti Desa Dasan Geria, Kecamatan Lingsar,
Kabupaten Lombok Barat. Pemerintah desa beserta
masyarakat mewujudkan Desa Siaga sendiri.
Konsep Desa Siaga memang ada sejak tahun 1990-
an, namun baru diadopsi Kementerian Kesehatan
pada tahun 2006. Konsep ini bentuk kontribusi
Pemerintah Jerman melalui lembaga Gesellschaft
fr Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dalam
mendukung strategi prioritas pembangunan
Pemerintah Indonesia sejak tahun 2000.
Gambar 1. Ojek Ambulans

Sumber: Suara NTB, 2012
Desa Siaga Dasan Geria berawal dari Gerakan
Sayang Ibu (GSI), yakni gerakan dukungan
melindungi ibu hamil agar bersalin dengan selamat
dan aman serta merealisasikan program AKINO.
Bentuk dukungan perlindungan tersebut di
antaranya ojek ambulans. Ojek ambulans terbentuk
atas kerjasama pejabat desa dengan tokoh
masyarakat. Alasan ojek ambulans terbentuk karena
letak geografis dan minim infrastruktur, di mana
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
7
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Grafik 2. Unit Kesehatan Lobar Tahun 2008-2010

Sumber: Nusa Tenggara Barat dalam Angka 2009-2011
.
jarak antara rumah penduduk dengan Puskesdes
yang jauh serta jalan utama desa yang hanya jalan
setapak. Beberapa tukang ojek di desa terpencil
tersebut direkrut sukarela untuk mengitari tiap
rumah ibu hamil secara rutin dan mengantarkan ke
Puskesdes bila hendak melahirkan. Umumnya,
rumah para ibu hamil dipasangkan bendera dengan
warna merah atau kuning atau tukang ojek
mencatat nama dan lokasi tempat tinggal mereka.
Selain itu, masyarakat dan aparat desa juga
membuat peraturan desa tentang
persalinan. Kepala Desa Dasan Geria memberikan
sanksi bagi dukun yang langsung menolong
persalinan sendiri dan tidak membawa pasiennya ke
bidan, sebesar Rp. 100.000,00
12
. Keterbatasan
pada transportasi, infrastruktur, dan letak geografis
tidak dijadikan sebagai hambatan besar oleh
pemerintah desa dan masyarakat. Justru mereka
mampu memanfaatkan potensi sekitar secara
bersama guna mendukung komitmen agar program
AKINO terealisasi secara baik.
Secara eksternal, dukungan pada beberapa aspek
utama seperti anggaran, ketersediaan unit, dan
tenaga kesehatan cukup mendukung pelaksanaan
AKINO. Dalam skema segi anggaran, Pemprov NTB
memberikan jaminan persalinan (Jampersal) secara
berkelanjutan yang merupakan bagian skema
jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas)
melalui sistem klaim bagi para ibu hamil. Tidak
hanya berlatarbelakang tidak mampu, melainkan
bagi keseluruhan peserta Jamkesmas. Fasilitas

12
Merdeka. Dukun Beranak Beraksi, Didenda Rp100 Ribu
http://www.merdeka.com/pernik/dukun-beranak-beraksi-
didenda-rp100-ribu-z4wern1.html diakses (secara online)
pada 19 Februari 2013.
yang diberikan melalui Jampersal di rumah sakit
umum dan daerah serta Puskesmas dan unit
pelayanan kesehatan lain dengan standar ruang
perawatan kelas III. Besaran biaya penanggungan
sesuai kesepakatan antara Dinas Kesehatan
kabupaten/kota dengan Dinas Kesehatan provinsi
berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.2562/Menkes/Per/Xii/2011 tentang Petunjuk
Teknis Jaminan Persalinan.
Pembiayaan tersebut dilatarbelakangi dukungan
anggaran Pemerintah Pusat berupa belanja bantuan
sosial dalam APBN yang tertuang menjadi satu
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dengan
anggaran pembiayaan Jamkesmas. Kemudian,
pembiayaan atas APBN dilanjutkan melalui APBD.
Mengingat, ketidakmampuan pemerintah pusat
dalam membiayai keseluruhan masyarakat miskin
NTB. Data versi Dinas Kesehatan NTB, jumlah
penduduk NTB sampai tahun 2007 sebanyak
4.292.491 jiwa dengan jumlah penduduk miskin
sebanyak 2.038.292 jiwa (53,8 persen). Namun
demikian, program Jamkesmas dengan dukungan
dana APBN bagi masyarakat miskin di wilayah NTB
baru membiayai sebanyak 2.028.491 jiwa atau 87,9
persen dari total penduduk NTB
13
.
Kekurangan
pembiayaan tersebut kemudian dibiayai Pemprov
melalui APBD berupa jaminan kesehatan
masyarakat daerah (Jamkesmasda).
Dari segi unit kesehatan dapat dilihat pada Grafik 2.
Jumlah ketersediaan rumah sakit dan unit
pelayanan kesehatan Lombok Barat mengalami

13
SumbawaBaratNews. 2012. NTB Terapkan Tujuh
Program Kesehatan Terkait Kemiskinan.
http://sumbawabaratnews.com/?p=6273 diakses (secara
online) pada 24 Desember 2012.
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
8
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Grafik 3. Ketersediaan Bidan di NTB Tahun 2008-2010

Sumber: NTB dalam Angka 2011.

fluktuasi pada beberapa unit pelayanan kesehatan.
Hal ini dapat dilihat dari besaran masing-masing
ketersediaan unit kesehatan pada jumlah unit
Puskesmas Pembantu, pos kesehatan desa dan
pos pelayanan terpadu. Fluktuasi jumlah unit
pelayanan kesehatan disebabkan di antaranya
keterbatasan modal dan upaya untuk melakukan
resistensi perubahan demi keberlangsungan unit
pelayanan kesehatan di lingkungan sekitar. Selain
itu, intensitas dan jumlah pasien maupun
pengunjung turut mempengaruhi.
Sedangkan tenaga kesehatan, ketersediaan tenaga
kesehatan berupa bidan secara keseluruhan
didominasi adanya peningkatan. Hal ini juga terjadi
di Rumah Sakit Umum Kabupaten Lobar yang
mengalami peningkatan. Di mana pada tahun 2008-
2009 jumlah bidan masih dalam keadaan stagnan
yakni 18 orang, namun pada 2010 adanya
tambahan bidan sebanyak 2 orang. Namun bila
dilihat keseluruhan, jumlah ketersediaan bidan di
Lombok Barat tidak sebanding dengan beberapa
rumah sakit umum seperti Mataram dan Praya.
Ketersediaan bidan di Rumah Sakit Umum Mataram
tiap tahun mengalami peningkatan rata-rata seba-
nyak 4-5 orang bidan. Di mana pada tahun 2008 se-
banyak 36 tenaga bidan, kemudian 2009 meningkat
sebanyak 41 orang dan diikuti tahun 2010 menjadi
sebanyak 45 orang. Begitupun dengan Rumah Sakit
Umum Praya yang mengalami peningkatan keter-
sediaan bidan rata-rata sebanyak 6-7 orang. Dima-
na tahun 2008 ketersediaan bidan berjumlah 13
orang, kemudian 2009 meningkat sebanyak 19
orang dan tahun 2010 kembali mengalami pening-
katan menjadi sebanyak 26 orang. Adanya ketidak-
seimbangan proporsi ketersediaan tenaga bidan di
tiap rumah sakit umum kabupaten disebabkan pen-
distribusian yang belum merata dan keterbatasan
dalam ketersediaan jumlah tenaga bidan.
Berdasarkan peninjauan dukungan pelaksanaan
AKINO di atas, hal ini menyiratkan masih memiliki
adanya keterbatasan terutama jumlah bidan.
Namun demikian, keterbatasan ini bukan karena
permasalahan biaya. Para Kepala Daerah di
wilayah NTB yakni Gubernur dan Bupati/Walikota
telah sepakat untuk membentuk Badan Kerjasama
Penyelenggara Jaminan Kesehatan Masyarakat
Daerah (BKPJKD) guna mengakomodir pelayanan
kesehatan gratis bagi seluruh masyarakat miskin,
yang ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota
kesepahaman (MoU), pada 28 Maret 2009
14
.

Pembentukan BKPJKD berdasarkan Mou adalah
bentuk realisasi sinergitas pemerintah provinsi dan
kabupaten. Selain itu, tindakan ini bukti penegasan
bahwa pembiayaan bukan masalah utama dalam
pelaksanaan program AKINO.
Keterbatasan bidan secara umum karena asumsi
dan minat mereka sebagai calon bidan dan bidan itu
sendiri yang lebih memilih bekerja di luar daerah
untuk mencari insentif lebih tinggi. Padahal
ketersediaan bidan sebagai salah satu aspek
penentu pelaksanaan persalinan bebas biaya
tersebut. Untuk mengatasi keterbatasan jumlah
bidan, pada tahun 2010 Pemprov NTB memperoleh
tambahan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes)

14
AntaraMataram.com. 2012. Warga Miskin NTB Tak
Perlu Takut Melahirkan.
http://mataram.antaranews.com/berita/index.php?rubrik=1
1&id=14634 diakses (secara online) pada 24 Desember
2012
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
9
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota
Dinas Kesehatan
Provinsi
Pusat - Kementerian
Kesehatan
Bagan 1. Mekanisme Pelaksanaan Program AKINO

Sumber: diolah dari data penelitian
RI guna merealisasikan program AKINO.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB pada tanggal 1
Juni 2010 lalu menerima sebanyak 191 bidan desa
Pegawai Tidak Tetap (PTT) dari Kementrian
Kesehatan (Kemenkes) RI. Diberikannya bidan PTT
itu setelah diajukan setiap kabupaten/kota se-NTB
sesuai dengan kebutuhan
15
.
Bidan tambahan akan
didistribusikan pada daerah prioritas seperti
pedesaan terpencil maupun terpinggirkan yang
belum memiliki bidan.
Adapun pemberitaan masih adanya pemungutan
biaya persalinan di salah satu unit pelayanan
kesehatan, namun hal ini segera diatasi dengan
mengembalikan hasil pungutan biaya tersebut
kepada pasien. Kepala Dinas Kesehatan Loteng, dr.
Nurhandini Eka Dewi, S.Pa mengakui ada beberapa
teman di beberapa tempat di mana bidan desa
menarik biaya persalinan kepada pasiennya.
Namun atas temuan itu, pihaknya sudah
memerintahkan yang bersangkutan untuk
mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan oleh
pasien. Tapi ada juga memang yang secara ikhlas
diberikan oleh pasien kepada bidan tanpa ada
paksaan oleh bidan bersangkutan. Baik dalam
bentuk uang maupun dalam bentuk barang
16
.
Hal ini
terjadi pada warga Loteng, NTB yang justru
memberikan bayaran baik barang maupun uang
sebagai rasa terima kasih mereka terhadap jasa
yang diberikan. Bila dinyatakan benar adanya
pungutan liar oleh bidan, maka akan dikenakan
sanksi berupa teguran bahkan ditindaklanjuti sesuai
aturan kepegawaian.
Sedangkan dari segi internal, permasalahan
pelaksanaan program cenderung terjadi pada
kepercayaan tradisi dan budaya para ibu hamil yang
masih melekat. Di mana masih mempercayakan
kelahiran melalui dukun beranak. dr. Wiwin

15
Global FM Lombok. 2010. NTB Terima 191 Bidan PTT
Desa dari Kemenkes RI. http://www.globalfmlombok.com
diakses (secara online) pada 24 Desember 2012.
16
Suara NTB. 2010. Kualitas Pelayanan Pendidikan dan
Kesehatan Memprihatinkan Kepemimpinan Mamiq Ngoh
Dinilai Gagal.
http://www.suarantb.com/2010/07/09/Sosial/detil5%201.ht
ml diakses pada 24 Desember 2012.
mengungkapkan masih adanya kepercayaan
masyarakat memilih dukun untuk melahirkan,
menurutnya terjadi karena fungsi dukun yang belum
bisa dilakukan oleh petugas kesehatan, seperti
mencuci dan membersihkan kain bekas darah dan
nifas, serta tetap melakukan perawatan terhadap
ibu dan bayi secara berkala setelah ibu
melahirkan
17
.
Maka dari itu, untuk mengubah tradisi
dan budaya warga NTB dalam pelaksanaan AKINO,
dilakukan sosialisasi berdasarkan kerjasama
Puskesmas dengan para tokoh agama dan
masyarakat.
Secara keseluruhan, tiap kendala yang dihadapi
dalam pelaksanaan program ini telah memiliki
alternatif dan sudah direalisasikan dalam tindakan
nyata. Hanya saja tinggal bagaimana kerjasama
dan dukungan sinergis antara pemerintah,
masyarakat dan lembaga lain untuk melakukan
monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.
Berbicara mengenai evaluasi, evaluasi program ini
dilakukan melalui pencatatan dan pelaporan yang
dilakukan secara rutin setiap bulan. Bagan 1
menunjukan mekanisme evaluasi yang dilakukan.
Dinas Kesehatan kabupaten melaporkan kegiatan
jampersal pada Dinas Kesehatan provinsi yang
kemudian dilaporkan ke pusat pada Kementrian
Kesehatan. Ketiga pihak ini wajib melakukan
rekapitulasi laporan sebagaimana tanggung jawab
masing-masing. Sedangkan untuk feedback
dilakukan sebaliknya sesuai dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2562/Menkes/Per/Xii/2011 tentang Petunjuk Teknis
Jaminan Persalinan.

Dampak Substantif
Dampak langsung terhadap kelompok sasaran
Dalam program AKINO, pada konteks ini sasaran
tujuan Jampersal lebih ditekankan bagi ibu hamil
dan bersalin. Dari segi perkembangan data statistik
dapat dilihat dalam Grafik 4.

17
Pemprov NTB. 2011. AKINO dan Tantangannya (3A).
http://www.ntbprov.go.id/baca.php?berita=866 diakses
pada (27 Desember 2012).
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
10
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Grafik 4. Jumlah Ibu Hamil di Kabupaten Lobar

Sumber: NTB dalam Angka 2009-2011.
Grafik 5. Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten Lobar

Sumber: NTB dalam Angka 2009-2011.
Data jumlah ibu hamil menunjukan adanya fluktuasi,
hal ini dapat dilihat dari besaran jumlah ibu hamil
tiap tahun. Di mana tahun 2008 adalah angka
tertinggi jumlah ibu hamil yaitu 19.635 orang. Lebih
lanjut dengan target ibu bersalin sebesar 18.742
orang yang kemudian melakukan persalinan melalui
pertolongan tenaga kesehatan hanya sebesar
14.747 orang. Yang berarti sebesar 3.725 ibu
bersalin lainnya diasumsikan tidak melalui
pertolongan pelayanan kesehatan dengan perkiraan
hal ini masih terkait maraknya persalinan
menggunakan tenaga dukun beranak. Sehingga
implikasi yang diperoleh dapat dilihat pula pada data
jumlah kematian ibu pada tahun 2008 mencapai
angka kematian tertinggi yaitu sebesar 20/100.000
kelahiran hidup.
Namun demikian, seiring dengan awal program
AKINO berlangsung tahun 2009 jumlah ibu hamil
sebesar 13.764. Di mana angka ini relatif lebih
rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang
19635
13764
16218
15632
18742
13138
14175
15218
14747
11392
12725
13080
11175
12533
12957
2008 2009 2010 2011
Jumlah Ibu Hamil di Kab Lobar
Ibu Hamil Ibu Bersalin Ditolong NaKes Persalinan di Faskes
20
18
17
12
2008 2009 2010 2011
Jumlah Kematian Ibu di Kab Lobar
Jumlah Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
11
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Grafik 6. Jumlah Ibu Hamil dan Bersalin serta Kematian Ibu Tahun 2009-2010

Sumber: NTB dalam Angka Tahun 2010 dan 2011.
memiliki target ibu bersalin sebesar 13.138 orang.
Lebih lanjut, para ibu yang melakukan persalinan
melalui pertolongan tenaga kesehatan sebesar
11.392 orang. Diikuti dengan yang melakukan
persalinan di fasilitas kesehatan (berupa rumah
sakit umum, Puskesmas utama dan Puskesmas
pembantu) yakni sebesar 11.175 orang. Kemudian
disertai dengan hasil awal penekanan Angka
Kematian Ibu di tahun 2009 sebesar 18/100.000
kelahiran hidup.
Sedangkan dalam masa perkembangan AKINO
dicanangkan, di tahun 2010, jumlah ibu hamil
kembali meningkat sebesar 16.218 orang. Dengan
target ibu bersalin sebesar 14.175 orang, dilakukan
persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan
sebesar 12.725 orang. Diikuti dengan sebesar
12.533 orang yang melalui persalinan di fasilitas
kesehatan. Di mana, selisihnya yaitu sebesar 192
orang dapat diindikasikan melakukan persalinan
diluar fasilitas kesehatan.
Di sisi lain, di tahun 2010 Angka Kematian Ibu
kembali menunjukkan hasil penekanan sebesar
17/100.000 kelahiran hidup. Sementara itu, pada
tahun 2011, besaran jumlah ibu hamil kembali
menurun yakni sebesar 15.632 orang. Di mana
dengan target sasaran ibu bersalin sebanyak
15.218 orang. Dari 15.218 orang ibu bersalin,
sebesar 13.080 orang mendapatkan pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan yang ditandai
sebesar 12.957 orang melalui fasilitas kesehatan. Di
sisi lain, Angka Kematian Ibu pada tahun 2011
menghasilkan penekanan sebesar 12/100.000
kelahiran hidup.
Data di atas menjelaskan bahwa dengan adanya
program AKINO jumlah kematian ibu di Kabupaten
Lobar setiap tahun dapat ditekan. Hal ini terlihat
adanya penekanan angka kematian di tahun 2009-
2011, di mana pada tahun 2011 angka kematian
menunjukan hasil penurunan relatif besar sebanyak
5 orang. Selain itu, pertolongan ibu hamil dan
bersalin yang mendapat pelayanan kesehatan rata-
rata telah mencapai 80% per tahun sehingga
menunjukan penggunaan dukun beranak berkurang.
Sementara perkembangan keseluruhan Provinsi
NTB dalam 2009-2010, ibu hamil dan bersalin
mengalami peningkatan sebesar 1230 dan 947 jiwa.
Ditambahkan, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Barat mencatat sepanjang 2011 sebanyak
118 ibu meninggal dunia ketika dalam proses
melahirkan
[18].
Dari berbagai sebab kematian
maternal, AKI melahirkan sebenarnya mampu
ditekan. Walaupun diakui belum signifikan di mana
setahun pelaksanaan program yaitu tahun 2010
mengalami penurunan sebesar 8 jiwa, namun pada
tahun 2011 kembali meningkat. Hal ini terjadi karena
jumlah besaran survey ibu hamil disertai
peningkatan jumlah komplikasi yang dialami
sehingga memiliki resiko kematian. Singkat kata,
sebelum pelaksanaan program AKINO angka
kematian ibu tahun 2009 sebesar 121 jiwa/tahun.
Setelah program AKINO dilaksanakan mampu
ditekan sebesar 8 jiwa/tahun.
Bukti lain program tersosialisasi dengan baik yaitu
dari 1.031 desa yang tersebar di 10 kabupaten/kota
di NTB, 900 desa dinyatakan bebas dari kematian
ibu melahirkan atau Angka Kematian Ibu Nol
18
.

Hanya sekitar 10 persen desa yang masih terdapat
kasus kematian ibu dan secara tidak langsung
sosialisasi AKINO memberikan hasil positif. Dari

18
Opcit,. Pemprov NTB. 2011. AKINO dan Tantangannya
(3A). http://www.ntbprov.go.id diakses pada 27 Desember
2012.
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
12
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


segi warga secara langsung hampir seluruh ibu
hamil telah mengakses program AKINO baik berupa
persalinan gratis, Posyandu, penyuluhan KB
ataupun terkait pelayanan antenatal lainnya.

Dampak Kelembagaan
Bila dalam dampak kelompok sasaran menunjukan
hasil positif, namun tidak bagi Pemprov NTB terkait
posisi IPM secara nasional. Hasil setahun
pelaksanaan program dalam menekan angka
kematian tidak semata-mata mampu secara
langsung mengantarkan IPM NTB sebagai
peningkatan. Mengingat selain masa pelaksanaan
program, masih terdapat berbagai indikator lain
sebagai perhitungan pembangunan IPM NTB
secara nasional yang perlu ditingkatkan.
Grafik 7. IPM NTB Tahun 2007-2010

Sumber: BPS 2010
Nilai IPM NTB apabila dibandingkan dengan IPM
Nasional dalam kurun waktu tahun 2007-2010 terus
mengalami peningkatan, walaupun diakui memang
masih berada di bawah rata-rata nasional. Namun
demikian, bila dikaitkan dengan adanya program
AKINO pada tahun 2009, tingkat IPM NTB
cenderung meningkat sebesar 5,4 persen
dibandingkan sebelumnya yaitu hanya 0,54 persen.
Tidak dipungkiri, adanya AKINO sebagai program
inovasi secara tidak langsung mengintepretasikan
NTB mampu dan memiliki komitmen tinggi untuk
mengubah image daerah kesehatan terburuk
menjadi lebih baik.
Lebih lanjut, hal ini ditandai dalam Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM)
Kabupaten Lombok Barat. Dalam konteks derajat
kesehatan masyarakat, Lombok Barat diakui
termasuk dalam kategori Daerah Bermasalah
Kesehatan (DBK). Dari 24 indikator dalam IPKM,
salah satu permasalahan dominan Lombok Barat
adalah KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Dalam
konteks penulisan ini, berikut beberapa indikator
yang termasuk dalam penentuan penilaian IPKM
terhadap KIA terutama AKI.
Berdasarkan sumber data yang ditemukan pada
situs Kementerian Kesehatan RI dan Dinas
Kesehatan Provinsi NTB yakni data pada tahun
2007 dan 2010, sebagai acuan perbandingan
sebelum dan setelah adanya program AKINO
dicanangkan. Sementara itu, dapat dilihat IPKM
masyarakat NTB bila dibandingkan pada 2007 dan
2010 secara keseluruhan mengalami peningkatan.
Berikut penjelasan IPKM berdasarkan data di atas.
Dari segi IPKM Provinsi
Rasio dokter pada tahun 2010 terhadap
penduduk meningkat sebesar 1,86 poin. Di
mana tahun 2010 sebesar 10,00 per 100.000
penduduk dibandingkan dengan tahun 2007
yang hanya 8,14 poin.
Rasio Puskesmas pada tahun 2010 terhadap
penduduk meningkat sebesar 0,23 poin. Di
mana tahun 2010 sebesar 3,38 per 100.000
penduduk dibandingkan dengan tahun 2007
hanya 3,15.
Rasio bidan pada tahun 2010 terhadap
penduduk meningkat 33,14 poin. Dimana tahun
2010 sebesar 59,26 per 100.000 penduduk
dimana dibandingkan tahun 2007 sebesar
26,12.
Presentase cakupan persalinan oleh tenaga
kesehatan pada tahun 2010 adalah 89,77
persen dibandingkan tahun 2007 sebesar 79,77
persen.
Dari segi IPKM Kabupaten
Rasio dokter tahun 2010 terhadap penduduk
meningkat sebesar 5,92 poin. Di mana tahun
2010 sebesar 7,17 dibandingkan dengan tahun
2007 yang hanya 1,25 per 100.000 penduduk.
Rasio bidan tahun 2010 terhadap penduduk
adalah 63,00 di mana dibandingkan tahun 2007
sebesar 1,21 per 100.000 penduduk.
Presentase cakupan persalinan oleh tenaga
kesehatan pada tahun 2010 adalah 84,32
persen dibandingkan tahun 2007 sebesar 76,45
persen.
Bila ditinjau dari beberapa aspek indikator IPKM
terkait AKI, berdasarkan hasil di atas dapat
diketahui bahwa secara provinsi, NTB menunjukan
komitmen keseriusan dalam mendukung MDGs
2015 dalam upaya percepatan penurunan AKI.
Peningkatan pada ketersediaan unit dan tenaga
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
13
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Tabel 1. Indikator IPKM Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Barat Tahun 2007 dan 2010
Tahun Daerah
Rasio Dokter
/Puskesmas (per
100.000
penduduk)
Rasio Bidan/Desa
(per 100.000
penduduk)
Cakupan
Persalinan oleh
Nakes
NTB
2007 8,41/3,15 26,12 79,77
2010 10,00 / 3,38 59,26 84,32

Lombok
Barat

2007 1,25 1,21 76,45
2010 7,17 63,00 89,77
Sumber: Data Kesehatan Provinsi NTB Tahun 2012 dan Profil Kesehatan Propinsi NTB Tahun 2007
kesehatan serta yang dapat digarisbawahi adalah
cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
juga semakin meningkat. Dengan demikian, dapat
diasumsikan juga bahwa keterlibatan secara
langsung dukun beranak dalam proses persalinan
mampu diminimalisir.

Dampak sistemik/lingkungan bersifat jangka
panjang
Dampak sistemik adanya AKINO sebagai progam
inovasi NTB, terkait pada hasil yang telah
direalisasikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa
sisi, yaitu sisi pertama mengenai besaran hasil
pencapaian AKI. Baik dampak dalam kelompok
sasaran maupun kelembagaan bahwa sebelum
AKINO dicanangkan, AKI cenderung tinggi bahkan
diakui hingga saat ini. Namun demikian, perlu
diperhatikan pada sisi besaran AKI. Walaupun
belum mampu ditekan secara signifikan tetapi
adanya program AKINO setidaknya dapat
diminimalisir.
Sisi kedua, tradisi-budaya dan pola pikir sebagian
besar ibu hamil yang cenderung tradisional kini
mampu beralih dengan adanya program AKINO.
Pada saat ini ibu hamil melahirkan menggunakan
jasa bidan. Sisi ketiga, adanya sinergitas AKINO
sebagai program penunjang dengan berbagai
program prioritas upaya penurunan AKI memuncul-
kan kesadaran masyarakat. Kesadaran dan kepen-
tingan kesehatan kehamilan di masyarakat luas
terutama ibu hamil meningkat. Hal ini dapat ditinjau
melalui AKI Kabupaten Lombok Barat yang seiring
waktu menurun. Walaupun data kehamilan dan
kelahiran secara dominan menurun karena penga-
ruh besaran survey ibu hamil di lapangan, namun
Kepala Dinas Kesehatan NTB, Dr. Moch. Ismail,
memperkirakan sekitar 12% dari total persalinan
yang ada di NTB masih menggunakan jasa dukun
atau tidak ditangani tenaga kesehatan
19
. Sehingga,
mengisyaratkan hampir 82% ibu hamil di NTB ter-
masuk Kabupaten Lombok Barat sudah memahami
resiko persalinan melalui dukun beranak.
Sisi keempat, meminimalisir berbagai faktor penye-
bab kematian ibu melahirkan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Faktor penyebab langsung
terhadap kematian ibu melahirkan seperti kualitas
pelayanan antenatal. Sedangkan penyebab tidak
langsung seperti aborsi, pernikahan dini, dan
pandangan tradisi dan budaya. Sisi terakhir yaitu,
aksesbilitas pelayanan kesehatan semakin terbuka
dan terjangkau bagi masyarakat berlatarbelakang
ekonomi tidak mampu. Secara tidak langsung, hal
ini turut memperbaiki upaya Pemrov dalam mem-
bangun dan meningkatkan mutu kesehatan terkait
aksesbilitas dan pelayanan kesehatan terutama
bagi kehamilan dan persalinan aman para ibu.
Dengan demikian, dari beberapa sisi pembahasan
dampak yang diperoleh dalam rentang program
AKINO berjalan, maka diharapkan pula agar dapat
mempengaruhi hasil secara ke depan. Hasil pada
jangka panjang tersebut salah satu di antaranya
yaitu dapat berdampak pada realisasi peningkatan
IPM NTB yang mampu bergeser ke posisi atas

19
Global FM Lombok. 2012. 12 Persen Masyarakat NTB
Melahirkan Dengan Dukun Beranak.
http://www.globalfmlombok.com diakses (secara online)
pada 22 Februari 2013.
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
14
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


secara nasional. Tentu bergesernya ke posisi atas
secara nasional juga perlu dilakukan upaya
perbaikan dan peningkatan terhadap berbagai
indikator IPM lainnya.

Institusionalisasi dan Tantangan
Tiga tahun program AKINO diimplementasikan,
hampir secara keseluruhan para ibu di NTB telah
mengakses program tersebut. Para ibu hamil
melakukan persalinan secara bebas biaya dan
berbagai pelayanan antenatal lainnya di rumah sakit
dan Puskesmas yang disediakan oleh Pemprov.
Dalam mekanisme sosial terkait pelembagaan
program AKINO, ditunjukkan bahwa tradisi dan
budaya sebelumnya masih kental. Namun demikian,
seiring terus dilakukannya sosialisasi melalui peran
di berbagai tingkat masyarakat seperti lembaga
pendidikan, peran media massa, dan tokoh
masyarakat serta agama, program AKINO dapat
berjalan dan diterima oleh masyarakat secara
keseluruhan. Lantas, peran dukun beranak pun
tidak semata-mata dilupakan begitu saja.
Pada tingkat badan pemerintahan, untuk terus
mendukung AKINO tetap berlangsung dan diterima
secara keseluruhan oleh masyarakat NTB, maka
peran dukun beranak tetap dilibatkan. Mengingat
warga NTB lebih mengenal dukun beranak sejak
lama, maka Pemprov beserta Dinas Kesehatan
melakukan kerjasama dengan para dukun beranak.
Dukun beranak berperan untuk membantu
mensosialisasikan serta mendampingi para ibu
hamil melakukan segala pelayanan antenatal
kepada bidan.
Hal ini ditunjukkan dengan pendekatan petugas
medis dengan dukun beranak melalui pertemuan
rutin. Ini dilakukan dengan mengalihkan fungsi
dukun yang sebelumnya membantu proses
kelahiran dan merawat bayi, kini peran mereka
adalah mengantarkan ibu yang akan melahirkan ke
Puskesmas. Saat ini dukun yang telah ikut aktif di
Puskesmas Tanjung Karang berjumlah 15 dukun.
Adanya kerjasama antara bidan dan dukun beranak
sebagai cara untuk mengubah perilaku warga yang
telah terbiasa dengan dukun beranak dalam
melakukan persalinan secara bertahap di mana
peran dukun beranak kini lebih sebagai pendamping
para ibu hamil dalam melakukan persalinan.
Sedangkan secara regulasi, terkait upaya
pelembagaan implementasi program AKINO yakni
melalui adanya kesepakatan melalui MoU. Hal ini
sebagai tanda upaya perlindungan dan peningkatan
kesehatan ibu, bayi dan anak balita antara Pemrov
dan Pemerintah Kabupaten seluruh NTB. Serta,
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 sebagai
dasar pelaksanaan program AKINO yang tertuang
dalam RPJM Pemerintah Provinsi NTB. Di mana
salah satu yang menjadi prioritas yakni
mengimplementasikan berbagai kebijakan yang
mendukung terhadap masyarakat miskin di mana
salah satunya melalui perlindungan dan
peningkatan kesehatan ibu, bayi, dan anak balita
tersebut.
Sementara itu, selama kurun waktu implementasi
dan pelembagaan AKINO terdapat berbagai
tantangan yang dimulai dari manajemen pelayanan
kesehatan yakni segi tenaga kesehatan, seperti
data pada pembahasan sebelumnya di mana
hingga saat ini NTB masih mengalami keterbatasan
bidan. Tidak dipungkiri, walaupun adanya antisipasi
penambahan bidan yang diperoleh dari
Kementerian Kesehatan RI, namun upaya ini belum
mampu menutupi besaran jumlah bidan yang
dibutuhkan. Selain itu, dari segi unit dan tenaga
kesehatan, serupa dalam pembahasan sebelumnya,
bahwa besaran unit dan tenaga kesehatan belum
merata dan juga tidak dipungkiri bila masih terbatas.
Sedangkan dari segi anggaran, seperti dalam
pembahasan yang telah dilakukan di atas bahwa
anggaran mengintepretasikan bukan sebagai
hambatan karena mendapatkan dukungan penuh
dari Pemerintah Pusat. Selain itu, terdapat berbagai
dukungan pemerintah asing yang turut mendukung
melalui investasi baik berupa program maupun
sekedar materi. Singkat kata, tantangan dalam
konteks ini bagaimana mengupayakan peningkatan
alokasi anggaran untuk kesehatan dan hubungan
koordinasi antarstakeholder dengan program
penunjang dan prioritas penurunan AKI.
Sedangkan tantangan dari sistem implementasi
AKINO, yakni dalam tahap sosialisasi program.
Penulis sempat menyinggung pada bahasan
sebelumnya, bahwa adanya implementasi AKINO,
di mana pada umumnya masyarakat sebagai
sasaran yang biasanya tidak mengetahui adanya
program tersebut dapat dimaklumi. Namun
demikian, dalam realitasnya justru pihak badan
pemerintahan sendiri ada yang tidak mengetahui
adanya implementasi program AKINO ataupun
berbagai program yang dicanangkan oleh Pemprov
kala itu. Hal ini menandakan sosialisasi mengalami
hambatan yang tidak hanya pada masyarakat
melainkan pada badan pemerintahan sendiri
sebagai pihak penyelenggara program.
Selain pada perspektif manajemen, tantangan pada
segi dukungan masyarakat yaitu tradisi dan budaya
yang masih kental pada para ibu hamil. Tidak
dipungkiri, bila meninjau data yang ada ibu hamil di
NTB, tampak secara keseluruhan sudah dapat
beralih menggunakan bidan untuk mengakses
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
15
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


segala bentuk pelayanan antenatal yang telah
disediakan. Namun, dengan demikian masih belum
semua para ibu hamil dapat beralih menggunakan
bidan. Pada kasus tahun 2011 lalu, satu kasus
merupakan kasus yang diakui Puskesmas
merupakan kasus kecolongan. Karena sejak
pemeriksaan hingga mendekati proses persalinan,
selalu pergi ke Puskesmas dan rajin memeriksakan
diri ke dokter spesialis. Namun saat proses
kelahiran, ibu memilih melahirkan dengan jasa
dukun
20
.

Terakhir, yaitu segi kepemimpinan sebagai ujung
tombak keberhasilan program. Tantangan yang
dihadapi berupa akumulasi secara keseluruhan
berbagai tantangan dari segala persepktif yang
terjadi. Berbagai tantangan dimulai bagaimana
merealisasikan solusi terkait penyediaan dan
pendistribusian bidan serta berbagai sarana dan
prasarana pelayanan kesehatan yang masih minim
dan belum merata. Selain itu, upaya untuk
meningkatkan alokasi anggaran terhadap program
pembangunan kesehatan salah satunya melalui
program AKINO ini. Dari segi dukungan masyarakat
pun yakni bagaimana memobilisasi masyarakat
yang masih kental pada tradisi dan budaya serta
minim pengetahuan mengenai pentingnya kualitas
kesehatan terutama tentang kehamilan dan
persalinan aman.

Lesson Learned
Program AKINO adalah program inovasi penunjang
sebagai upaya percepatan penurunan kematian ibu
yang relatif tinggi di NTB, kolaborasi antara program
penunjang dengan program prioritas sebagai
sebuah program pembangunan utuh, menunjukan
hasil yang diperoleh dan membuktikan sebagai
peluang untuk direplikasi ke daerah lain. Mengingat
hingga kini kematian ibu masih cenderung tinggi di
berbagai daerah di Indonesia. Berikut poin
pembelajaran program ini.
Inisiasi
Adanya hubungan sinergis pemerintah, swasta, dan
masyarakat. Untuk merealisasikan program AKINO,
kerjasama di antara pemerintah, swasta, dan
masyarakat adalah penting. Suatu program yang
ditunjukkan untuk masyarakat pada dasarnya tidak
akan berjalan baik apabila yang melakukan hanya
sebelah pihak dan tanpa melibatkan masyarakat

20
Suara NTB. 2011. Program 3A (1) Lebih Memilih Dukun
Beranak, Penghambat AKINO.
http://www.suarantb.com/2011/09/24/wilayah/Mataram/det
il2.html diakses (secara online) pada 24 Desember 2012.
sedikitpun. Program AKINO dapat berjalan optimal
dan diterima oleh masyarakat secara keseluruhan
karena seiring terus dilakukannya sosialisasi melalui
berbagai peran di tingkat masyarakat seperti
lembaga pendidikan, media massa, tokoh
masyarakat dan agama.
Implementasi
Sinergitas visi dan misi program prioritas dan
penunjang sebagai keseriusan komitmen
percepatan penurunan AKI. Sama halnya dengan
tahap inisiasi, program tidak berjalan optimal
apabila visi dan misi masing-masing program tidak
dapat mendukung satu sama lain sebagai suatu
program utuh. Seperti program AKINO dengan
Program Desa Siaga. Desa Siaga dibentuk untuk
mengurangi kematian ibu melalui pemberdayaan
masyarakat dengan membekali pengetahuan
kesehatan terutama kehamilan agar mereka turut
berpartisipasi dalam mendukung program AKINO.
Institusionalisasi
Keterlibatan peran masyarakat dan hadirnya
motivator adalah hal utama. Motivator penting agar
dapat memberikan motivasi pada masyarakat
terutama ibu hamil untuk berpartisipasi secara
langsung dalam proses merealisasikan program
AKINO. Pemberian motivasi berupa informasi
tentang manfaat serta pentingnya kesehatan ibu
terutama dalam masa kehamilan hingga persalinan
aman.
Evaluasi
Keberhasilan Program AKINO bergantung pada
keseriusan komitmen dan dukungan para
stakeholder secara sinergis agar program berjalan
optimal dan berkelanjutan. Seperti penguatan
terhadap monitoring internal (anggaran, kebijakan,
dsb) maupun eksternal (SDM, fasilitas, dsb) dan
evaluasi program yang perlu dilakukan agar
memberikan trust secara mendalam pada
masyarakat.

Peluang Replikasi
Berdasarkan hasil pembahasan mengenai program
AKINO dapat dikatakan bahwa program ini memiliki
peluang cukup besar untuk direplikasi di daerah
lain. Karena bertujuan merevitalisasi manajemen
pelayanan kesehatan terutama pelayanan antenatal
ibu hamil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam replikasi di antaranya.
Transformasi kehidupan dari masyarakat
tradisional menjadi masyarakat industri.
Pemikiran tradisional masyarakat umumnya
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
16
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


cenderung dapat menghambat pelaksanaan
suatu program pembangunan. Terlebih karena
pola pikir yang cenderung menutup dan kaku
terhadap perubahan.
Pengelolaan keuangan harus bertumpu pada
kepentingan publik. Besarnya alokasi anggaran
daerah terhadap kesehatan tidak hanya
dialokasikan sesuai dengan kepentingan publik,
tetapi juga memperhatikan besaran keterlibatan
peran masyarakat dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan anggaran
kesehatan daerah.
Adanya kerangka hukum dan adminstrasi
pembiayaan secara transparan dan
akuntabilitas. Guna memperoleh hasil optimal
dan terciptanya akuntanbilitas horizontal antara
pemerintah dan masyarakat dalam
merealisasikan program secara bersih, efektif,
efisien, dan akuntabel.
Monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan
program, peran masyarakat (ibu hamil), dan
aparat pemerintahan. Hal ini dilakukan guna
peninjauan pengembangan program melalui
penilaian kinerja aparat pemerintah dan
meningkatkan kepercayaan masyarakat
terhadap program pemerintah.
Dukungan dan sinergitas terhadap penguatan
sistem kesehatan. Diperlukan dukungan
anggaran, ketersediaan unit dan tenaga
kesehatan, motivasi, komitmen serta regulasi
yang sangat kuat agar program dapat berjalan
secara optimal dan berkelanjutan.
Sedangkan ketersediaan instrumen bagi replikasi
program ini di antaranya regulasi. Regulasi tentang
persalinan aman sebagai acuan dasar yaitu
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 yaitu
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB
No. 445/20/Yankesdas&Rujukan/I/2011 tentang
Petunjuk Teknis Sistem Rujukan Pelayanan
Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 2562/Menkes/Per/Xii/2011 tentang
Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Sedangkan
regulasi Desa Siaga yaitu Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No.
1529/MENKES/SK/X/2010 tentang Pedoman Umum
Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
Selain itu, tenaga pelatih sebagai mediator
peningkat kemampuan bidan dapat dilakukan
melalui kerjasama dengan Pemerintah Pusat
maupun swasta.


Referensi
AntaraMataram.com. 2012. NTB Kesulitan Angkat
IPM Karena Faktor Kesehatan.
http://www.antaramataram.com/berita/?rubrik=5
&id=21489 diakses 24 Desember 2012.
AntaraMataram.com. 2012. Warga Miskin Ntb Tak
Perlu Takut Melahirkan.
http://mataram.antaranews.com/berita/index.ph
p?rubrik=11&id=14634 diakses 24 Desember
2012
Atmawikarta, Arum. 2008. Penurunan Kematian Ibu:
Pencapaian MDG dalam Perspektif
Pemerintah. Rakernas dan Semiloka Aliansi
Pita Putih Indonesia. Jakarta.
Bappeda NTB. 2010. NTB dalam Angka 2009.
http://bappedantb.go.id/images/pdf/Publikasi/N
TBdalamAngka/NTBdalamAngka2009/dda2009
-12-babiv.pdf diakses pada 27 Desember 2012.
Bappeda NTB. 2011. NTB dalam Angka 2010.
http://bappedantb.go.id/images/pdf/Publikasi/N
TBdalamAngka/NTBdalamAngka2009/dda2009
-12-babiv.pdf diakses pada 27 Desember 2012.
-------------------------. 2012. NTB dalam Angka 2011.
http://bappedantb.go.id/images/pdf/Publikasi/N
TBdalamAngka/NTBdalamAngka2010/dda2010
-12-babiv.pdf diakses pada 27 Desember 2012.
BPS. 2011. Indeks Pembangunan Manusia dan
Provinsi 1996-2010. http://www.bps.go.id
diakses (secara online) pada 3 Januari 2012.
Data BPS, 2010 (dalam) AntaraMataram.com 2012.
NTB Optimistis IPM Bergeser Dari Peringkat
32.
http://mataram.antaranews.com/berita/index.ph
p?rubrik=5&id=22435 diakses pada 24
Desember 2012.
Departemen Kesehatan RI. 2011. Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2562/Menkes/Per/Xii/2011 tentang Petunjuk
Teknis Jaminan Persalinan.
http://www.depkes.go.id/downloads/PERATUR
AN_MENTERI_KESEHATAN_JUKNIS_JAMPE
RSAL.pdf diakses pada 26 Desember 2012.
Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat. 2012.
Data/Informasi Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Barat 2012. http://www.depkes.go.id
diakses pada 23 Maret 2013.
-----------------------. 2007. Profil Kesehatan Propinsi
Nusa Tenggara Barat 2007.
http://www.depkes.go.id diakses pada 23 Maret
2013.
Global FM Lombok. 2010. NTB Terima 191 Bidan
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
17
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


PTT Desa dari Kemenkes RI.
http://www.globalfmlombok.com diakses
(secara online) pada 24 Desember 2012.
Global FM Lombok. 2012. 12 Persen Masyarakat
NTB Melahirkan Dengan Dukun Beranak.
http://www.globalfmlombok.com diakses
(secara online) pada 22 Februari 2013.
IGHEALTH. 2009. Perkembangan Pembangunan
Kesehatan Provinsi NTB.
http://www.ighealth.org diakses 3 Januari 2013.
IGHEALTH. 2011. Pedoman Penyelenggaraan
Promosi Kesehatan dalam Percepatan
Pencapaian AKINO di Provinsi Nusa Tenggara
Barat. http://www.ighealth.org diakses pada 26
Desember 2012.
Komunitas Sasak. 2011. Ojek Ambulans, Dewa
Penolong Ibu Hamil Desa Dasan Geria
Lombok. http://www.sasak.org diakses (secara
online) pada 19 Februari 2013.
Kompas. 2012. Fenomena Pernikahan Dini
Munculkan "Kegalauan".
http://oase.kompas.com/read/2012/10/02/1211
3585/Fenomena.Pernikahan.Dini.Munculkan.K
egalauan diakses (secara online) pada 24
Desember 2012
KBI Gemari. 2005. Kurangi Penduduk Miskin.
http://kbi.gemari.or.id/beritadetail.php?id=3079
diakses (secara online) pada 24 Desember
2012.
Merdeka. Dukun Beranak Beraksi, Didenda Rp100
Ribu http://www.merdeka.com/pernik/dukun-
beranak-beraksi-didenda-rp100-ribu-
z4wern1.html diakses (secara online) pada 19
Februari 2013.
Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB). 2008. Laporan Kajian: Meneropong
Kebutuhan Pencapaian MDGs Di Nusa
Tenggara Barat (NTB). http://www.batukar.info
diakses (secara online) pada 22 Februari 2013.
Pemprov NTB. 2011. AKINO dan Tantangannya
(3A).
http://www.ntbprov.go.id/baca.php?berita=866
diakses pada (27 Desember 2012).
Primadona FM. 2009. Rakom Miliki Potensi dan
Kekuatan yang Pasti.
http://m.suarakomunitas.net/baca/5216/rakom--
miliki-potensi-dan--kekuatan-yang-pasti.html
diakses pada 11 April 2013.
Suara NTB. 2010. Kualitas Pelayanan Pendidikan
dan Kesehatan Memprihatinkan Kepemimpinan
Mamiq Ngoh Dinilai Gagal.
http://www.suarantb.com/2010/07/09/Sosial/det
il5%201.html diakses (secara online) pada 24
Desember 2012.
Suara NTB. 2010. Melihat Program Unggulan
Pemprov NTB Masyarakat Lebih Paham Gosip
Artis dan Perkembangan Dunia.
http://www.suarantb.com/2010/04/26/Sosial/det
il1%205.html diakses (secara online) pada 24
Desember 2012.
Suara NTB. 2011. Bidan Desa Minim Tinggi, Angka
Kematian Ibu di NTB.
http://www.suarantb.com/2011/12/06/Sosial/deti
l1%202.html diakses (secara online) pada 24
Desember 2012.
Suara NTB. 2011. Minim, Sarana Kesehatan di
Lobar.
http://www.suarantb.com/2011/03/07/Sosial/deti
l4%201.html diakses (secara online) pada 24
Desember 2012.
Suara NTB. 2011. Program 3A (1) Lebih Memilih
Dukun Beranak, Penghambat AKINO.
http://www.suarantb.com/2011/09/24/wilayah/M
ataram/detil2.html diakses (secara online) pada
24 Desember 2012.
SumbawaBaratNews. 2012. NTB Terapkan Tujuh
Program Kesehatan Terkait Kemiskinan.
http://sumbawabaratnews.com/?p=6273
diakses (secara online) pada 24 Desember
2012.
Opcit,. Pemprov NTB. 2011. AKINO dan
Tantangannya (3A). http://www.ntbprov.go.id
diakses pada 27 Desember 2012.
MelayuOnline. 2007. Kelahiran Dalam Pengetahuan
Orang Sasak, Nusa Tenggara Barat.
http://www.melayuonline.com diakses (secara
online) pada 19 Februari 2013.
Pemprov NTB. 2011. Pemprov NTB Dirikan Pusat
Data Program Unggulan.
http://www.ntbprov.go.id diakses (secara
online) pada 24 Desember 2012.
IGHEALTH. 2009. Petunjuk Teknis Sistem Rujukan
Pelayanan Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara
Barat.
http://www.ighealth.org/en/product/downloadfile
/127/Petunjuk-Teknis-Sistem-Rujukan-
Pelayanan-Kesehatan-Technical-Guide-for-
Health-Referral-System diakses pada26
Desember 2012.
Perpustakaan Nasional. 2010. Pedoman Umum
Desan dan kelurahan Siaga Aktif. Jakarta:
Pusat Promosi Kesehatan. (dalam)
Departemen Kesehatan. 2010. Pedoman
AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
18
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Umum Desa dan kelurahan Siaga Aktif. (secara
online) http://www.perpustakaan.depkes.go.id
pada 28 Februari 2013.
Suara NTB. 2012. Perkembangan Program
Mengurangi Angka Kematian Ibu di NTB
Bersiap Memecah Senyap.
http://www.suarantb.com diakses (secara
online) pada 19 Februari 2013.
Setda Lombok Barat. 2013. Dasan Gria Wujudkan
Desa Siaga. http://www.lombokbarat.go.id
diakses (secara online) pada 19 Februari 2013.
USAID. 2012. Upaya Percepatan Penurunan Angka
Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir.
http://www.selamatkanibudanbayi.org diakses
(secara online) pada 19 Februari 2013.
Wieczorek-Zeul, 2005 (dalam) Suharto, Edi. 2009.
Kemiskinan & Perlindungan Sosial di
Indonesia: Alfabeta. Bandung.

AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
19
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Lampiran: Salah Satu Contoh Pedoman Sosialisasi Program AKINO dalam Buku Pedoman
Penyelenggaraan Strategi Promosi Kesehatan Dalam Percepatan Pencapaian AKINO di Nusa
Tenggara Barat.

Lampiran 1.

AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
20
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Lampiran 2


AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
21
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Lampiran 3



AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
22
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Lampiran 4.








AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
23
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Lampiran 5.







AKINO: Angka Kematian Ibu Menuju Nol
24
http://igi.fisipol.ugm.ac.id


Lampiran 6.