Anda di halaman 1dari 9

Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen

google-site-verification
Obat Yang Bagus Untuk Cacingan
10 September 2011 oleh sinarsejuk
Dulu saya pernah kena cacing kremi, saya langsung beli combatntrin aja,besoknya,sudah ga ada
lagit tuh cacing yang bergerak-gerak di dubur. Saran saya, klo cacingan, jangan berlama-lama deh
berpikirnya,. Beli saja obat cacing, mudah-mudahan cacing segera hilang dari tubuh anda,..
Combantrin dosis dewasa terdiri dari 2 tablet Pirantel Pamoat, berupa dosis tunggal,artinya
sekaligus 2 tablet tersebut sekali minum. Pada saat itu di apotek terdekat, harga obat cacing
inisekitar 10.000 rupiah.
Berikut blister yang ada di Combantrin :
Kegunaan :
Combantrin adalah obat cacing yang bekerja mengatasi
1. Cacing kremi
2. Cacing gelang
3. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale)
4. Cacing tambang (Necator americanus)
5. Cacing Trichostrongylus colubriformis dan Trichostrongylus orientalis
Pirantel pamoat dapat digunakan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh satu jenis cacing
atau lebih pada orang dewasa dan anak-anak. Obat inidapat ditoleransi dan tidak akan melekat
pada pakaian oleh kontaminasi feses. Apabila salah satu anggota keluarga menderita infeksi dari
salah satu dari 5 jenis cacing ini, maka besar kemungkinan anggota keluarga lainnya juga
terinfeksi yang tidak teridentifikasi. Oleh karena itu agar seluruh anggota keluarga mengkonsumsi
pirantel pamoat. ( Menjaga Kebersihan lingkungan akan mencegah terjadinnya infeksi kembali).
Cara Kerja Obat : Pirantel Pamoat melumpuhkan cacing dengan cara mendepolarisasi senyawa
penghambat neuromukuler dan mengeluarkannya dari dalam tubuh biasanya tanpa memerlukan
pencahar.
Peringatan dan Perhatian : sebaiknya hindarkan dari penggunaan Combantrin semasa hamil
dan anak di bawah usia 2 tahun karena keamanan penggunaannya belum banyak diteliti/banyak
diketahui. Penggunaan combantrin bagi penderita gangguan hati sebaiknya berhati-hati.
Pemberian dengan piperazine dapat menyebabkan efek antagonis.
Overdosis : belum pernah dilaporkan kasus overdosis. Jika terjadi overdosis dilakukan kuras
lambung dan pengobatan supportif.
Kontra Indikasi : Penderita hipersensitif.
Efek Samping : Anoreksia (nafsu makan hilang), mual, muntah, diare, sakit kepala, pusing,
mengantuk, merah-merah pada kulit, keringat dingin, berkeringat, pruritus, urtikaria.
Aturan minum : Perhatikan tabelaturan minim di bawah ini, untuk sekali pengobatan.
Combantrin cukup diminum sekali sebelum atau sesudah makan. Tidak Perlu berpantang makan.
Tidak perlu obat pencahar.
Aturan minum di bawah ini, untuk sekali pengobatan, cukup diminum sekali sebelum atau sesudah
makan.
Setiap tablet mengandung pirantel pamoate setara dengan pirantel base250mg.
Takaran tablet 250 mg untuk sekali pengobatan:
Umur 2-6 tahun : - 1 tablet
Umur 6-12 tahun : 1-1 tablet
>12 tahun : 1 -2 tablet.
Dulu pas minum obat cacing ini, Cuma kerasa pusing2 aja sehari, habis itu kembali normal.
Mungkin reaksi obatnya yang membunuh cacing-cacing, manusia nya yang minum aja bisa pusing,
apalagi cacing yang kecil-kecil itu, pasti dah mampus semua.
Berikut artikel tentang cacingan yang saya kutip dari www.kompas.com :
SEBAIKNYA jangan lagi menganggap infeksi cacingan sebagai perkara sepele. Meski memang
belum terkabarkan infeksi ini bisa menyebabkan kematian, namun tetap berbahaya. Infeksi
cacingansangat mengganggu kesehatan dan bisa membuat anak mudah sakit.
Peringatan tersebut disampaikan dr Adi Sasongko MA, Direktur Pelayanan Kesehatan di Yayasan
Kusuma Buana, saat ditemui Warta Kota seusai tampil dalam seminar Upaya
PengembanganProgram Pemberantasan Cacingan di DKI Jakarta, Yogyakarta, dan Denpasar,
pertengahan pekan lalu. Seminar ini diselenggarakan atas kerjasama Yayasan Kusuma Buana, ,
dan Pemda DKI Jakarta.
Cacingan, kata Adi, adalah jenis infeksi yang disebabkan karena adanya cacing dalam usus
manusia. Bukan hanya anak-anak yang bisa terkena infeksi ini, juga orang dewasa. Apalagi bila
orang itu tidak memedulikan kebersihan
Jumlah cacing yang ada di dalam tubuh manusia, yang menyebabkan infeksi cacingan, tidak 1-2
ekor. Jumlahnya bisa puluhan, atau bahkan ratusan ekor. Cacing-cacing ini menghisap sari
makanan dalam tubuh, hingga si penderita akan mengalami berbagai masalah kesehatan,
sambung Adi.
Bila terinfeksi cacingan, seseorang akan menderita 5 L: lemah, letih, loyo, lalai, dan lemas. Bila
hal ini menimpa anak, maka akan mengganggu pertumbuhannya. Kondisi 5 L akan membuat
anak mudah sakit.
Bila terus didiamkan, dalam jangka panjang anak bisa terserang berbagai penyakit yang
diakibatkan kekurangan gizi, seperti hepatitis, rabun mata, dan berambut ijuk. Selain itu,
kemampuan belajar anak juga akan menurun, karena daya tangkap anak cacingan lebih lemah
daripada anak yang tidak cacingan, ujar Adi lagi.
Sedangkan bila terjadi pada orang dewasa, maka orang itu terancam menderitaamenia. Akibat
lanjutannya, dalam kerangka lebih luas, akan menurunkan kualitas sumber daya manusia, karena
produktivitas penderita cacingan pasti menurun.
Cacing gelang paling banyak Menurut penelitian, sambung Adi, ada 3 jenis cacing yang sering
ditemukan dalam usus manusia, yaitu cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk
(Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus).
Setiap cacing memiliki ciri-ciri spesifik. Cacing gelang, misalnya, bisa mencapai panjang 15-35 cm,
meski berada dalam perut manusia. Cacing ini juga mampu bertelur hingga 200.000 butir per hari,
yang sebagian keluar bersama dengan tinja.
Sementara cacing cambuk (disebut begitu karena bentuknya seperti cambuk), panjangnya bisa
mencapai 45 milimeter dan hidup dalam usus besar. Cacing ini, kalau mengeram dalam perut, bisa
sangat merepotkan. Cacing ini bisa menyebabkan seseorang diare disertai ingus dan darah.
Keadaan ini bisa berlangsung berbulan-bulan. Cacing cambuk menghisap sari makanan dan
darah, papar Adi.
Lebih ganas lagi adalah cacing tambang. Cacing ini menghisap darah dari dinding usus.
Penularan cacing ini melalui telur yang keluar bersama tinja, untuk kemudian menetas menjadi
larva.
Pada saat berjalan tanpa alas kaki, larva ini dapat menembus kulit kaki dan selanjutnya terbawa
oleh pembuluh darah ke dalam usus dan menetap di usus halus. Ukuran cacing ini paling kecil bila
dibandingkan kedua cacing lainnya, hanya dapat mencapai 13 milimeter, kata Adi.
Tanpa kita sadari, telur cacing gelang dan cambuk sebenarnya ada di mana-mana. Di udara, telur
cacing yang berbahaya ini bercampur dengan debu, lalu diterbangkan angin. Telur cacing ini bisa
hinggap pada makanan atau minuman yang dibiarkan terbuka.
Jika makanan dan minuman itu dikonsumsi, maka ikut pula telur cacing itu. Dalam usus telur ini
berkembang menjadi larva, untuk kemudian menjadi cacing dewasa.
Karena itulah, kata Adi lagi, penderita infeksi cacingan sebenarnya sangat banyak. Menurut hasil
penelitian Departemen Kesehatan tahun 1995 yang dilakukan di Sumater Utara, diperoleh hasil
bahwa 60,2 persen anak-anak usia SD di sana menderita infeksi cacing gelang. Lainnya, 53,8
persen terinfeksi cacing cambuk dan 6,7 persen terinfeksi cacing tambang. Jadi cukup banyak
anak yang dala perutnya terdap[at dua jenis cacing.
Jangan asal minum obat
Sayangnya, kata Adi, masyarakat kerap salah mengerti. Banyak yang menganggap, kalau sudah
makan obat cacing yang banyak dijual di pasaran, maka semua cacing dalam perut akan mati.
Dengan demikian, tubuh pun akan bebas dari cacing.
Pada kemasan obat anti cacing umumnya tertulis, untuk menghindari cacingan, diharuskan
minum obat itu sebanyak dua sampai tiga kali dalam setahun. Sebenarnya membuat aturan
seperti itu tidak dibenarkan. Minum obat cacing sifatnya hanya membuang cacing dari dalam
tubuh, tapi tidak membuat tubuh kebal terhadap cacing, ujar Adi lagi.
Menurut Adi, meminum obat cacing bukanlah solusi untuk menghilangkan cacing. Cacing
memang hilang, tapi hanya sementara waktu. Pada kesempatan lain ia akan berbiak lagi.
Bila seseorang menderita cacingan, disarankan untuk melakukan pemeriksaan di laboratorium,
setelah sebelumnya memeriksakan diri ke dokter umum atau puskesmas. Tinja pasien akan
diperiksa, untuk mengetahui jenis cacing apa yang menyerang orang tersebut, ujarnya lagi.
Bila jenis cacing yang mengeram dalam perut sudah diketahui, dokter akan memberikan obat
cacing yang tepat. Dosisnya pun akan disesuaikan dengan berat badan pasien. Dan yang lebih
penting lagi, tubuh pasien akan kebal terhadap serangan jenis cacing tersebut.
Adi menyarankan pemeriksaan laboratorium ini dilakukan enam bulan sekali. Tapi pengobatan
secara laboratoris itu harus pula diimbangi menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kalau tidak,
cacing itu akan kembali menyerang, kata Adi.
Sumber:
http://www2.kompas.com/metro/news/0204/28/191053.htm
Berikut jenis-jenis cacing yang dapat menginfeksi tubuh kita, yang penulis kutip
dari majalahkesehatan.com, jangan khawatir, sebab cacing ini dapat dibasmi oleh obat cacing
combantrin.
Cacingan masih merupakan masalah utama kesehatan anak-anak Indonesia. Sanitasi yang buruk
dan kurangnya kesadaran pola hidup bersih adalah dua faktor penyebab utama tingginya
prevalensi cacingan. Berikut adalah empat jenis cacing yang paling umum menginfeksi manusia.
1. Cacing Gelang (Ascaris Lumbricoides)
Cacing gelang adalah cacing yang paling umum menginfeksi manusia. Cacing gelang dewasa
berukuran 10 30 cm dengan tebal sebesar pensil dan dapat hidup hingga 1 sampai 2 tahun.
Siklus hidup cacing gelang:
Cacing gelang menular melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi telurnya. Ketika
sekelompok telur cacing tertelan dan memasuki usus, mereka menetas menjadi larva. Larva
kemudian beredar melewati dinding usus, menuju paru-paru melalui aliran darah. Selama tahap
ini, gejala seperti batuk (bahkan batuk cacing) dapat terjadi. Dari paru-paru, larva memanjat
melalui saluran bronkial ke tenggorokan, di mana mereka kemudian tertelan melalui ludah. Larva
lalu kembali ke usus kecil hingga tumbuh menjadi dewasa, kawin, dan bertelur dalam 2 bulan
setelah telur menetas.
Seekor cacing betina dapat memproduksi hingga 240.000 telur dalam sehari, yang kemudian
dibuang ke dalam tinja dan menetas di dalam tanah. Anak-anak sangat rentan terhadap infeksi
cacing gelang karena mereka cenderung meletakkan segala sesuatu di mulut mereka, termasuk
tanah, dan sering kurang bisa menjaga kebersihan dibandingkan orang dewasa.
Cacingan ringan biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala baru muncul pada cacingan yang
parah. Anak-anak lebih mungkin dibanding orang dewasa untuk mengalami gangguan
gastrointestinal dan gejala kurang gizi. Perut buncit dan lesu/kurang semangat bisa menjadi
pertanda anak terkena infeksi cacing gelang yang parah.
2. Cacing kremi Enterobius vermicularis)
Seperti halnya cacing gelang, cacing kremi atau cacing kerawit hanya menginfeksi manusia, Anda
tidak bisa tertulari cacing ini dari hewan peliharaan.
Siklus hidup cacing kremi:
Telur cacing kremi dapat menempel pada tangan Anda melalui kotoran manusia. Ketika tangan
Anda yang tercemar masuk ke mulut Anda, telur dapat masuk ke dalam tubuh, menetas dalam
usus kecil dan bergerak turun ke usus besar. Di sana cacing kremi melekat pada dinding usus dan
makan. Ketika mereka siap bertelur, cacing pindah dan bertelur pada kulit berlipat di sekitar
dubur. Saat itulah Anda mungkin curiga terkena cacingan karena merasakan gatal-gatal di sekitar
anus (pruritus) yang biasanya lebih intens di malam hari. Dibutuhkan waktu sekitar satu bulan
dari menelan telur cacing ke merasakan gatal-gatal di anus. Cacing kremi dewasa berukuran 3-10
mm sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang.
Telur cacing kremi dapat bertahan hidup hingga tiga minggu. Karena bentuknya yang sangat kecil,
Anda tidak dapat melihatnya sehingga bisa tanpa sengaja tertulari ketika menggunakan baju,
kasur, bantal, mainan anak, uang kertas, peralatan makan, atau peralatan mandi/toilet.
Untuk memastikan apakah gatal-gatal disebabkan oleh cacing kremi, Anda dapat meletakkan
sepotong selotip di anus. Semua cacing atau telur akan menempel ke selotip. Lalu bawalah selotip
itu ke dokter untuk diperiksa.
3. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
Cacing tambang bisa menginfeksi manusia maupun mamalia lain seperti kucing dan anjing.
Siklus hidup cacing tambang:
Cacing tambang dewasa berada dalam usus kecil manusia, di mana mereka melekatkan diri di
dinding usus dengan mulut mereka. Mereka makan darah dan menyebabkan perdarahan di usus
yang ditempati.
Cacing betina memproduksi telur cacing, yang dikeluarkan lewat tinja. Jika tinja jatuh ke tanah,
dan cuaca hangat, telur cacing akan menetas menjadi larva dalam waktu sekitar dua hari. Larva
kemudian menjadi dewasa dalam seminggu, dan dapat bertahan untuk waktu yang lama jika
kondisi mendukung. Larva yang mendapatkan kontak dengan kaki telanjang manusia akan
menembus kulit kaki dan masuk ke paru-paru melalui sirkulasi darah. Larva kemudian bergerak ke
saluran udara menuju tenggorokan dan tertelan. Mereka menuju ke usus kecil. Larva lalu melekat
pada dinding usus dan berkembang menjadi cacing dewasa. Pada sekitar usia lima bulan, cacing
mulai memproduksi telur.
Infeksi cacing tambang biasanya tidak memberikan gejala spesifik. Anemia (kekurangan
darah) dan keluhan terkait peradangan usus seperti mual, sakit perut dan diare adalah beberapa
gejala yang mungkin timbul.
4. Cacing cambuk (trichinella spiralis)
Cacing cambuk ditularkan melalui konsumsi daging hewan yang mengandung larva cacing ini.
Cacing cambuk dewasa mencapai panjang sekitar 1- 2 mm.
Siklus hidup cacing cambuk:
Manusia terinfeksi karena memakan daging mentah atau setengah matang dari hewan yang
terinfeksi, terutama babi, babi hutan, dan beruang. Larva lalu masuk ke usus kecil, menembus
mukosa, dan menjadi dewasa dalam 6-8 hari. Cacing betina dewasa melepaskan larva yang bisa
bertahan hidup sampai 6 minggu. Larva yang baru lahir bermigrasi melalui aliran darah dan
jaringan tubuh, tetapi akhirnya hanya bertahan di sel otot rangka lurik. Larva mengkista (encyst)
sepenuhnya dalam 1-2 bulan dan tetap hidup hingga beberapa tahun sebagai parasit intraselular.
Larva yang mati akhirnya diserap kembali tubuh. Siklus ini terus berlanjut hanya jika larva
mengkista dicerna oleh karnivora lain.
Gejala awal infeksi cacing cambuk termasuk edema, nyeri otot, dan demam.
5. Cacing pita (Taenia saginata dan Taenia solium)
Cacing pita adalah parasit manusia dan hewan ternak. Ada dua jenis cacing pita yang menjadikan
manusia sebagai inang antara maupun inang permanen:
a. Cacing pita sapi (Taenia saginata)
Taenia saginata adalah raksasa di antara semua cacing parasit. Panjang taenia saginata bisa
mencapai 8 meter, hampir sepanjang saluran pencernaan manusia dewasa. Cacing pita ini
berwarna putih pucat, tanpa mulut, tanpa anus dan tanpa saluran pencernaan. Badannya tidak
berongga dan terdiri dari segmen-segmen berukuran 1X1,5 cm. Taenia saginata bisa hidup sampai
25 tahun di dalam usus inangnya.
Siklus hidup Taenia saginata:
Cacing pita sapi memiliki siklus yang rumit dan berakhir pada manusia sebagai inang tetapnya.
Cacing pita dewasa melepaskan telur-telurnya bersama segmen badannya. Segmen ini bila
mengering di udara luar akan melepaskan telur-telur cacing yang dapat termakan oleh sapi saat
merumput. Enzim pencernaan sapi membuat telur menetas dan melepaskan zigot yang kemudian
menembus lapisan mukosa saluran pencernaan untuk memasuki sirkulasi darah. Dari pembuluh
darah, zigot akan menetap di otot membentuk kista, seperti pada cacing cambuk. Bila daging sapi
berisi kista tersebut dimakan manusia dalam keadaaan mentah atau setengah matang, enzim-
enzim pencernaan akan memecah kista dan melepaskan larva cacing. Selanjutnya, larva cacing
yang menempel di usus kecil akan berkembang hingga mencapai 5 meter dalam waktu tiga bulan.
Selain masalah gizi, kehadiran cacing pita umumnya menyebabkan gejala perut ringan sampai
sedang (mual, sakit, dll).
b. Cacing pita babi (Taenia solium)
Taenia solium adalah kerabat dekat Taenia saginata yang memiliki siklus hidup hampir sama,
namun inang perantaranya adalah babi. Manusia terinfeksi dengan memakan daging babi berisi
kista Taenia solium. Cacing ini sedikit lebih kecil dari Taenia saginata (3-4 m panjangnya), tetapi
lebih berbahaya. Berbeda dengan Taenia saginata yang hanya membentuk kista di daging
sapi, Taenia solium juga mengembangkan kista di tubuh manusia yang menelan telurnya. Kista
tersebut dapat terbentuk di mata, otak atau otot sehingga menyebabkan masalah serius.
Selanjutnya, jika tubuh membunuh parasit itu, garam kalsium yang terbentuk di tempat mereka
akan membentuk batu kecil di jaringan lunak yang juga mengganggu kesehatan.
Berikut Obat cacing secara tradisonal (tanamanobat.com)
atau mungkin saja di tempat ada tidak ada yang menjual obat cacing, silahkan deh coba obat
cacing herbal ini :
Obat Herbal Cacingan
Gejala cacingan yaitu tubuh kurus dan perut membuncit. Cacingan disebabkan oleh telur cacing
yang masuk ke dalam perut dan menetas menjadi anak cacing (larva). Di dalam perut inilah larva
cacing mengisap sari makanan. Hal inilah yang menyebabkan orang yang mengidap cacingan
menjadi kurus meskipun banyak makan.
Pengobatan (Pilih Salah satu ramuan di bawah ini):
Ramuan Tanaman obat Herbal cacingan 1 :
25 gram bangle, 25 gram temu hitam, 10 gram biji ketumbar, dan 5 buah tangkai daun sirih
(diiris-iris tipis) direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc kemudian diminum selagi hangat,
untuk 2 kali minum.
Pemakaian : Konsumsi secara teratur 2 kali sehari
Ramuan Tanaman obat Herbal cacingan 2 :
60 gram krokot segar direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, kemudian airnya diminum
selagi hangat dan krokotnya dimakan.
Pemakaian : Konsumsi secara teratur 2 kali sehari
Ramuan Tanaman obat Herbal cacingan 3 (Khusus untuk Cacing Kremi):
1 pilah daun pepaya dan 15 gram akar pohon bunga melati direbus dengan 600 cc air hingga
tersisa 300 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
Pemakaian : Konsumsi secara teratur 2 kali sehari
Ramuan Tanaman obat Herbal cacingan 4 (Khusus untuk Cacing Kremi):
3 butir bawang putih, 30 gram akar pepaya, dan gula merah secukupnya (dipotong-potong)
direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Airnya diminum selagi masih hangat, untuk dua
kali minum.
Pemakaian : Konsumsi secara teratur 2 kali sehari
Ramuan Tanaman obat Herbal cacingan 5 (Khusus untuk Cacing Gelang):
2 sendok makan biji pepaya yang sudah dikeringkan digiling hingga menjadi bubuk, diseduh
dengan gelas air, tambahkan madu secukupnya, diaduk hingga rata, kemudian diminum.
Pemakaian : Konsumsi secara teratur 2 kali sehari
Ramuan Tanaman obat Herbal cacingan 6 :
3 gram biji ceguk , 2,5 gram rimpang temu hitam, 3 gram rimpang temu giring matang dihaluskan
campurkan dengan 110 ml air matang, peras.
Pemakaian : Minum 1 kali sehari sebanyak 100 ml dan diulang selama 3 hari.
Ramuan Tanaman obat Herbal cacingan 7 :
3-5 butir biji jeruju digiling sampai halus, lalu seduh dengan cangkir air panas. Dinginkan
Pemakaian : Minum sekaligus. Lakukan selama 2-4 hari berturut-turut.
Ramuan Tanaman obat Herbal Tradisional cacingan 8 :
butir buah kelapa dan 1 buah wortel diparut, lalu campur dengan segelas air. Setelah itu, peras
dan saring.
Pemakaian : Minum pada malam hari menjelang tidur.
Ramuan tanaman Obat Herbal Tradisional cacingan 9 :
7 gram akar delima kering diccuci,dipotong-potong, lalu direbus dengan satu gelas air selama 15
menit. Setelah dingin, saring.
Pemakaian : minum sekaligus.
Ramuan Tanaman obat Herbal Tradisional cacingan 10 :
15 gram kulit delima kering, 15 gram serbuk biji pinang, dan 3 gelas air bersih direbus hingga
mendidih dengan api kecil selama 1 jam. Setelah dingin, saring.
Pemakaian : Minum sekaligus sebelum makan pagi.
Air perasan (Jus) Nanas: dapat mengobati cacingan, radang tenggorokan, Beri-beri, menurunkan
berat badan, masalah pencernaan