Anda di halaman 1dari 25

1

PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI DI RUANG NAKULA
RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA















Di Susun Oleh:

Andria Fistra Aryu Brata Dewi : 3213003
Feleria Alwer : 3213017
Lintiringsih Kristiana Dewi : 3213021



PROGRAM PROFESI NERS PERIODE I TA 2013 / 2014
STIKES JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2013
2
LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI DI RUANG NAKULA
RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA




Disusun Oleh :
Andria Fistra Aryu Brata Dewi : 3213003
Feleria Alwer : 3213017
Lintiringsih Kristiana Dewi : 3213021



Telah disetujui pada
Hari :
Tanggal :



Pembimbing Akademik



(Fajriyati Nur Azizah, S.Kep.,Ns)
Pembimbing Klinik



(Nurfaozin, S. Kep)

3
P R O P O S A L
PROGRAM TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. Latar Belakang
Klien yang mengalami gangguan jiwa saat ini semakin bertambah
banyak. Sebagian besar diantara mereka mengalami halusinasi terutama
pendengaran dan penglihatan. Tanda dan gejala yang dapat diamati pada klien
yang mengalam halusinasi adalah kadang tertawa dan bicara sendiri. Terdapat
berbagai metode atau teknik terapi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan
halusinasi. Selain terapi medis, dapat pula dilakukan terapi kognitif baik
berupa terapi kognitif individu maupun dalam bentuk terapi aktivitas
kelompok (TAK)
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu tindakan
keperawatan untuk klien gangguan jiwa. Terapi ini adalah terapi yang
pelaksanaannya merupakan tanggung jawab penuh dari seorang perawat. Oleh
karena itu seorang perawat khususnya perawaat jiwa haruslah mampu
melakukan terapi aktivitas kelompok secara tepat dan benar.
Untuk mencapai hal tersebut di atas perlu dibuat suatu pedoman
pelaksanaan terapi aktivitas kelompok seperti terapi aktivitas kelompok
sosialisasi, penyaluran energi, stimulasi sensori dan orientasi realitas.

B. PENGERTIAN
1. Penyakit
a. Definisi Halusinasi
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang salah atau pengalaman
persepsi yang tidak terjadi dalam realitas. Halusinasi dapat melibatkan
panca indera dan sensasi tubuh (Sheila L Videbeck, 2008).

Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera
tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh
4
dan baik. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat
menerima rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan
kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang
hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution,
2003).

Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu
penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu
penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa
stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2005).

b. Penyebab Halusinasi
Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya halusinasi menurut
Stuart (2007), adalah:
Faktor predisposisi
1). Biologis
Adanya perkembangan yang abnormal dari sistem saraf
yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang
maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh
penelitian-penelitian yang berikut:
a). Pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak
yang lebih luas pada perkembangan skizofrenia.
Adanya lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik
yang berhubungan dengan perilaku psikotik.
b). Adanya zat kimia di otak seperti dopamine,
neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah
pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan
terjadinya skizofrenia.
c). Adanya pembesaran pada ventrikel serta penurunan
massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang
5
signifikan pada otak manusia. Pada otak klien dengan
skizofrenia kronis, dapat ditemukan pelebaran lateral
ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak
kecil (cerebellum). Adanya penemuan kelainan pada
natomi otak tersebut didukung oleh hasil otopsi (post-
mortem).
2). Psikologis
Kondisi dari keluarga, orang yang mengasuh dan
lingkungan sekitar klien sangat mempengaruhi respon dan
kondisi psikologis klien itu sendiri. Salah satu sikap atau
kondisi yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi
realitas adalah penolakan ataupun tindakan kekerasan di
dalam kehidup klien.
3). Sosial Budaya
Beberapa faktor sosial budaya dapat mempengaruhi
gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik
sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan
kehidupan yang terisolasi disertai stress.

Faktor Presipitasi
Gangguan yang timbul pada klien dengan gangguan
halusinasi itu timbul setelah terjadinya hubungan yang
bermusuhan, isolasi, tekanan, perasaan tidak berguna, putus asa
dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan
masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan
kekambuhan (Keliat, 2006).
Sedangkan faktor-faktor presipitasi terjadinya gangguan
halusinasi menurut Stuart (2007) adalah:
1). Biologis
Adanya gangguan pada komunikasi serta putaran balik
otak, yang mengatur proses informasi serta mekanisme
6
yang abnormal pada pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk menanggapi
stimulus secara selektif yang akan diterima oleh otak untuk
diinterpretasikan.
2). Stress lingkungan
Adanya tingkat ambang dari toleransi terhadap stress
yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan sekitar yang
akan menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3). Sumber koping
Faktor dari sumber koping sangat mempengaruhi
respon individu dalam menanggapi stressor-stressor yang
ada.
c. Proses Terjadinya Masalah
Rendah diri dan kurangnya keterampilan mengakibatkan klien
menjadi menarik diri dari lingkungannya, dimana selanjutnya klien
akan terfokus pada dirinya sendiri. Stimulus internal yang lebih
dominan daripada stimulus eksternal dalam waktu lama akan membuat
klien kehilangan kemampuan untuk membedakan stimulus internal
dengan stimulus eksternal, inilah yang akan memicu terjadinya
halusinasi. (Stuart dan Laraia, 2007).
Halusinasi dapat terjadi dalam berbagai gangguan neorologis
dan kejiwaan serta sering dianggap sebagai salah satu gejala dari
skizofrenia. Apabila terjadi kerusakan lokal pada otak, halusinasi
biasanya berlangsung dalam waktu singkat dan sementara, tetapi dalam
beberapa kasus terutama neurologic, kerusakan yang melibatkan
batang otak, dapat membuat halusinasi menjadi kronis dan
berkelanjutan. Adanya kerusakan neurologis yang terjadi pada system
limbic, lobus temporal, lobus parietal, dan lobus oksipital
menyebabkan terjadinya halusinasi ( McGraw-Hill Encyclopedia
Tehcnology and Science).

7
d. Mekanisme Koping pada halusinasi
Pada klien dengan halusinasi, mekanisme koping yang
biasanya dipakai adalah proyeksi, withdrawal, represi, rasionalisasi,
denial.
1) Proyeksi adalah keinginan yang tidak dapat ditoleransi,
mencurahkan emosi kepada orang lain karena kesalahan yang
dilakukan sendiri.
2) Represi adalah menekan perasaan atau pengalaman yang
menyakitkan atau konflik atau ingatan dari alam sadar yang
cenderung memperkuat mekanisme ego lainnya.
3) Rasionalisasi adalah memberikan alasan yang dapat diterima
secara sosial, yang tampaknya masuk akal untuk membenarkan
kesalahan yang dilakukannya.
4) Denial adalah perilaku menolak realitas yang terjadi pada
dirinya, dengan berusaha mengatakan tidak terjadi apa-apa
pada dirinya.
5) Withdrawal adalah menghindari stressor.
e. Tanda dan Gejala
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) yang dikutip oleh Nasution
(2003), seseorang yang mengalami halusinasi biasanya
memperlihatkan gejala-gejala yang khas yaitu:
1) Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.
2) Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.
3) Gerakan mata abnormal.
4) Respon verbal yang lambat dan diam
5) Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang
mengasyikkan.
6) Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan
ansietas misalnya
7) Peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah.
8) Penyempitan kemampuan konsenstrasi.
8
9) Dipenuhi dengan pengalaman sensori.
10) Mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan
antara halusinasi dengan realitas.
11) Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh
halusinasinya daripada menolaknya.
12) Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
13) Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik.
14) Berkeringat banyak.
15) Tremor.
16) Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk.
17) Perilaku menyerang teror seperti panik.
18) Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh
orang lain.
19) Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti
amuk dan agitasi.
20) Menarik diri atau katatonik.
21) Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks.
22) Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.

2. TAK
a. Pengertian
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan
antara satu dengan yang lainnya, saling ketergantungan serta mempunyai
norma yang sama (Stuart & Sudden, 1991; dalam Purwaningsih, 2009).
Sedangkan kelompok terapeutik dapat memberI kesempatan untuk
bertukar tujuan (sharing).





9
b. Manfaat
1) Umum
Meningkatkan kemampuan uji realitas (reality testing) melalui
komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
Melakukan sosialisasi
Mengembangkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan
afektif.
2) Khusus
Meningkatkan identitas diri
Menyalurkan emosi secara konstruktif
Meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau social
3) Rehabilitasi
Meningkatkan ketrampilan ekspresi diri
Meningkatkan ketrampilan social
Meningkatkan kemampuan empati
Meningkatkan kemampuan/ pengetahuan pemecahan masalah

c. Tujuan TAK
1. Tujuan Umum
Terapi aktivitas kelompok adalah suatu upaya untuk memfasilitasi
psikoterapis terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama serta
memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antar
anggota.Meningkatkan kemampuan uji realitas melalui komunikasi
dan umpan balik dengan atau dari orang lain, melakukan sosialisasi,
meningkatkan kesadaran terhadap hubungan reaksi emosi dengan
tindakan atau perilaku denfensif, dan meningkatkan motivasi untuk
kemajuan fungsi kognitif dan afektif.

2. Tujuan Khusus
Meningkatkan identitas diri, menyalurkan emosi secara
konstruktif,
10
Meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau
social.
Meningkatkan ketrampilan ekspresi diri, social
meningkatkan kepercayaan diri, empati
Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pemecahan
masalah.
d. Kriteria Anggota
Pasien yang mengikuti terapi aktifitas kelompok adalah klien yang
kooperatif dan koheren saat diajak berinteraksi baik dengan perawat
maupun sesama teman dan bersedia untuk mengikuti terapi aktifitas
kelompok(TAK) serta klien yang dilibatkan dalam terapi aktivitas
kelompok ini adalah klien dengan masalah keperawatan seperti halusinasi

e. Waktu dan tempat pelaksanaan
Tempat pelaksanaan : Ruang Nakula ( ruang makan pasien)
Lama pelaksanaan : 30 menit
Waktu pelaksanaan : Pkl 10.00-10.30 WIB

f. Nama klien
1. Bapak M
2. Bapak R
3. Bapak B
4. Sdr. T
5. Sdr. A
6. Sdr R
7. Sdr. J
8. Sdr P
9. Sdr F



11
C. Metode
1. Kelompok social terapeutik
2. Kelompok insipirasi represif
3. Kelompok interaksi bebas
D. Media dan Alat
1. ATK
2. Laptop
3. Kertas
4. LCD
E. Susunan pelaksanaan
1. Leader : Andria Fistra Aryu Brata Dewi
2. Co Leader : Feleria Alwer
3. Fasilitator : Lintiringsih kristiana Dewi
4. Observer :
F. URAIAN TUGAS PELAKSANA
1. Leader
a. Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktifitas
kelompok sebelum kegiatan dimulai
b. Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan
memperkenalkan dirinya
c. Mampu memimpin terapi aktifitas kelompok dengan baik dan
tertib
d. Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok
e. Menjelaskan permainan
2. Co-Leader
a. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktifitas
klien
b. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
3. Fasilitator
a. Memfasilitasi klien yang kurang aktif
b. Berperan sebagai role play bagi klien selama kegiatan
12
4. Observer
a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan
b. Mencatat prilaku verbal dan non verbal klien selama kegiatan
berlangsung
c. Mengatur alur permainan (menghidupkan dan mematikan tape
recorder)

G. SETTING TAK









Keterangan :
Klien Leader
Fasilitator Co-Leader
Observer




H. TATA TERTIB DAN PROGRAM ANTISIPASI
1. Tata tertib :
a. Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK
b. Berpakaian rapi dan bersih
c. Peserta tidak diperkenankan makan, minum dan merokok
selama kegiatan TAK
13
d. Peserta tidak boleh meninggalkan ruangan sebelum tata tertib
dibacakan selama 5 menit, dan bila peserta tidak kembali ke
ruangan maka peserta tersebut diganti peserta cadangan.
e. Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan setelah
tata tertib dibacakan. Bila peserta meninggalkan ruangan dan
tidak bisa mengikuti kegiatan lain setelah dibujuk oleh
fasilitator, maka peserta tersebut tidak dapat diganti oleh
peserta cadangan.
f. Peserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai
g. Peserta yang ingin mengajukan pernyataan, mengangkat
tangan terlebih dahulu dan berbicara setelah dipersilahkan.
2. Program Antisipasi
a. Usahakan dalam keadaan terapeutik.
b. Anjurkan kepada terapis agar dapat menjaga perasaan
anggota kelompok, menahan diri untuk tertawa atau sikap
yang menyinggung.
c. Bila ada peserta yang direncanakan tidak bisa hadir, maka
diganti oleh cadangan yang telah disiapkan dengan cara
ditawarkan terlebih dahulu kepada peserta.
d. Bila ada peserta yang tidak menaati tata tertib, diperingatkan
dan jika tidak bisa diperingatkan, dikeluarkan dari kegiatan
setelah dilakukan penawaran.
e. Bila ada anggota cadangan yang ingin keluar, bicarakan dan
dimintai persetujuan dari peserta TAK yang lain.
f. Bila ada peserta TAK yang melakukan kegiatan yang tidak
sesuai dengan tujuan, leader memperingatkan dan
mengarahkan kembali bila tidak bisa, dikeluarkan dari
kelompok.
g. Bila peserta pasif, leader memotivasi dibantu oleh fasilitator


14

I. LANGKAH KEGIATAN
1. Fase Persiapan
a. Memilih klien Halusnasi yang sudah kooperatif
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Salam dari terapis kepada klien.
Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama )
Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama)
3. Evaluasi validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
Menanyakan masalah yang dirasakan.
4. Kontrak
Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenalkan kelompok,
harus minta izin pada terapis.
Menjelaskan aturan main berikut.

Jika klien ada yang ingin meninggalkan kelompok, harus
minta izin pada terapis.
Lama kegiatan 30 menit.
Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
3. Tahap kerja
Leader membacakan aturan permainan :
a) Memberikan beberapa macam ekspresi wajah, dan meminta klien
untuk menanggapinya
b) Salah satu peserta TAK memegang bola, sambil operator memainkan
musik.
c) Bila musik berhenti, dan ada salah satu peserta TAK yang memegang
15
bola berarti, ia harus menyebutkan tanda dan gejala Halusinasi dan
mendiskusikan
- Tanyakan pengalaman tiap klien
- Tulis di kertas
d) Memberikan contoh gambar ketika orang sedang halusinasi dan
meminta klien untuk memberikan pendapatnya tentang tanda dan
gejala ketika orang sedang berhalusinasi pada gambar tersebut
e) Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab apakah
memiliki tanda dan gejala yang sama dengan contoh gambar
f) Memberikan contoh gambar ekspresi halusinasi, Mendiskusikan klien
apakah pernah melakukan perilaku yang sama
- Tanyakan perilaku yang dilakukan saat berhalusinasi
- Tulis di kertas
g) Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain paran/stimulasi.
h) Memberikan reinforcement pada peran serta klien.
i) Dalam menjalankan kegiatan TAK upayakan semua klien terlibat.
j) Observer memberi kesimpulan/ evaluasi tentang jalannya TAK,
mengenai jawaban klien tentang penyebab, tanda dan gejala.
Selanjutnya observer memberikan pujian atas peran serta klien dalam
pelaksanaan TAK.
k) Menanyakan kesediaan klien untuk mempelajari cara baru yang sehat
ketika muncul halusinasi..
4. Tahap Terminasi
1. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Memberikan reinformennt positif kepada klien.

2. Tindak Lanjut
1) Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi
halusinasi, yaitu tanda dan gejala halusinasi.
2) Menganjurkan klien mengingat penyebab, tanda dan gejala
16
Halusinasi dan akibat yang belum diceritakan.
3. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati belajar cara baru yang sehat untuk mencegah
Halusinasi
2) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya
.
J. EVALUASI DIRI/ KEGIATAN
1. Evaluasi Proses
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada
tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
dengan tujuan TAK.Untuk TAK stimulasi persepsi Halusinasi Sesi
1, kemampuan yang diharapkan adalah mengetahui Halusinasi,
mengenal tanda dan gejala Halusiansi yang dilakukan dan akibat
Halusinasi. Formulir evaluasi sebagai berikut :
Sesi 1 TAK
Stimilasi Halusinasi
No. Nama klien
Penyebab
Halusinasi
Memberi Tanggapan Tentang
Tanda &
gejala
Halusinasi
Halusinasi Akibat
Halusinasi
Mempraktekkan cara
mengontrol
Halusinasi dengan
Menghardik
1. Bapak M
2. Bapak R
3. Bapak B
4. Sdr. T
5. Sdr. AP
6. Sdr R
7. Sdr. J
8 Sdr P
9 Sdr F

17
Petunjuk :
a. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
b. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mengetahui penyebab
Halusinasi, tanda dan gejala yang dirasakan, serta mempraktekkan cara
mengontrol Halusinasi dengan menghadik. Beri tanda (+) jika mampu dan
beri tanda (-) jika tidak mampu.
2. Evaluasi Hasil
Klien 85% dapat menyebutkan penyebab halusinasi, tanda dan gejala
Halusinasi dan akibat dari Halusinasi.

K. DAFTAR PUSTAKA
Purwaningsih dan Karlina. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: NuMed

18
1) Mengembangkan Stimulus kognitif
Tipe : Biblioterapi
Aktivitas : Menggunakan artikel, sajak, puisi, buku, surat
kabar untuk merangsang dan mengembangkan hubungan dengan
orang lain.
2) Mengembangkan stimulus sensoris
Tipe : Musik, Seni, Tari
Aktivitas : Menyediakan kegiatan, mengekpresikan perasaan
Tipe : Relaksasi
Aktivitas : Belajar tehnik relaksasi dengan benar dengan cara
nafas dalam, relaksasi otot, dan imajinasi
3) Mengembangkan orientasi realitas
Tipe : Kelompok orientasi realitas, kelompok Validitas
Aktivitas : Fokus pada orientasi waktu, tempat dan orang,
benar, salah, bantu memenuhi kebutuhan.
4) Mengembangkan sosialisasi
Tipe : Kelompok remotivasi
Aktivitas : Mengorientasikan klien yang menarik diri, regresi
Tipe : Kelompok Mengingatkan
Aktivitas : Fokus pada ingatkan untuk menetapkan arti positif.
4. Model Terapi Aktivitas Kelompok
1) Focal conflic model
Dikembangkan berdasarkan konflik yang tidak disadari dan
berfokus pada kelompok individu. Tugas leader adalah membantu
kelompok memahami konflik dan membantu penyelesaian
masalah. Misal ; adanya perbedaan pendapat antar anggota,
bagaimana masalah ditanggapi anggotadan leader mengarahkan
alternatif penyelesaian masalah.
2) Model komunikasi
Dikembangkan berdasarkan teori dan prinsip komunikasi, bahwa
tidak efektifnya komunikasi akan membawa kelompok menjadi
19
tidak puas. Tujuan membantu meningkatkan ketrampilan
interpersonal dan social anggota kelompok. Tugas leader adalah
memfasilitasi komunikasi yang efektif antar anggota dan
mengajarkan pada kelompok bahwa perlu adanya komunikasi
dalam kelompok, anggota bertanggung jawab terhadap apa yang
diucapkan, komunikasi pada semua jenis : verbal, non verbal,
terbuka dan tertutup, serta pesan yang disampaikan harus dipahami
orang lain.
3) Model interpersonal
Tingkah laku (pikiran, perasaan dan tindakan) digambarkan
melalui hubungan interpersonal dalam kelompok. Pada model ini
juga menggambarkan sebab akibat tingkah laku anggota
merupakan akibat dari tingkah laku anggota yang lain. Terapist
bekerja dengan individu dan kelompok, anggota belajar dari
interaksi antar anggota dan terapist. Melalui proses ini, tingkah
laku atau kesalahan dapat dikoreksi dan dipelajari.
4) Model psikodrama
Dengan model ini dapat memotivasi anggota kelompok untuk
berakting sesuai dengan peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa
yang lalu, sesuai peran yang diperagakan. Anggota diharapkan
dapat memainkan peran sesuai peristiwa yang pernah dialami.



5. Metoda
a. Kelompok didaktik

6. Fokus Terapi Aktivitas Kelompok
a. Orientasi realitas
Maksudnya adalah memberikan terapi aktivitas kelompok yang
mengalami gangguan orientasi terhadap orang, waktu dan tempat.
20
Tujuan adalah klien mampu mengidentifikasi stimulus internal
(pikiran, perasaan, sensasi somatic) dan stimulus eksternal (iklim,
bunyi, situasi alam sekitar), klien dapat membedakan antara
lamunan dan kenyataan, pembicaraan klien sesuai realitas, klien
mampu mengenal diri sendiri dan klien mampu mengenal orang
lain, waktu dan tempat. Karakteristik klien : gangguan orientasi
realita (GOR), halusinasi, waham, ilusi dan depersonalisasi yang
sudah dapat berinteraksi dengan orang lain, klien kooperatif, dapat
berkomunikasi verbal dengan baik, dan kondisi fisik dalam
keadaan sehat.
b. Sosialisasi
Maksudnya adalah memfasilitasi psikoterapist untuk memantau dan
meningkatkan hubungan interpersonal, memberi tanggapan
terhadap orang lain, mengekspresikan iden dan tukar persepsi dan
menerima stimulus eksternal yang berasal dari lingkungan. Tujuan
meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok,
berkomunikasi, saling memperhatikan, memberikan tanggapan
terhadap orang lain, mengekspresikan ide serta menerima stimulus
eksternal. Karakteritistik klien : kurang berminat atau tidak ada
inisiatif untuk mengikuti kegiatan ruangan, sering berada di tempat
tidur, menarik diri, kontak social kurang, harga diri rendah, gelisah
,curiga, takut dan cemas, tidak ada inisiatif memulai pembicaraan,
menjawab seperlunya, jawaban sesuai pertanyaan, dan dapat
membina trust, mau berinteraksi dan sehat fisik.
c. Stimulasi persepsi
Maksudnya adalah membantu klien yang mengalami kemunduran
orientasi, stimulasi persepsi dalam upaya memotivasi proses
berpikir dan afektif serta mengurangi perilaku mal adaptif. Tujuan
meningkatkan kemampuan orientasi realita, memusatkan perhatian,
intelektual, mengemukakan pendapat dan menerima pendapat
orang lain dan mengemukakan perasaannya. Karakteristik klien :
21
gangguan persepsi yang berhubungan dengan nilai nilai, menarik
diri dari realita, inisiati atau ide ide yang negatif, kondisi fisik
sehat, dapat berkomunikasi verbal, kooperatif dan mengikuti
kegiatan.
d. Stimulasi sensori
Maksudnya adalah menstimulasi sensori pada klien yang
mengalami kemunduran sensoris. Tujuan meningkatkan
kemampuan sensori, memusatkan perhatian, kesegaran jasmani,
dan mengekspresikan perasaan.
e. Penyaluran energy
Maksudnya adalah untuk menyalurkan energi secara konstruktif.
Tujuan menyalurkan energi dari destruktif menjadi konstruktif,
mengekspresikan perasaan dan meningkatkan hubungan
interpersonal.

7. Tahap tahap dalam terapi aktivitas kelompok.
Menurut Yalom yang dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1995, fase fase
dalam terapi aktivitas kelompok adalah sebagai berikut :
1) Pre kelompok
Dimulai dengan membuat tujuan, merencanakan, siapa yang
menjadi leader, anggota, dimana, kapan kegiatan kelompok tersebut
dilaksanakan, proses evaluasi pada anggota dan kelompok,
menjelaskan sumber sumber yang diperlukan kelompok seperti
proyektor dan jika memungkian biaya dan keuangan.
2) Fase awal
Pada fase ini terdapat 3 kemungkinan tahapan yang terjadi yaitu
orientasi, konflik atau kebersamaan.
i. Orientasi.
Anggota mulai mengembangkan system sosial masing masing,
dan leader mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil
kontrak dengan anggota.
22
ii. Konflik
Merupakan masa sulit dalam proses kelompok, anggota mulai
memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana
peran anggota, tugasnya dan saling ketergantungan yang akan
terjadi.
iii. Kebersamaan
Anggota mulai bekerja sama untuk mengatasi masalah, anggota
mulai menemukan siapa dirinya.
3) Fase kerja
Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim. Perasaan positif dan
engatif dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah
dibina, bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati,
kecemasan menurun, kelompok lebih stabil dan realistic,
mengeksplorasikan lebih jauh sesuai dengan tujuan dan tugas
kelompok, dan penyelesaian masalah yang kreatif.
4) Fase terminasi
Ada dua jenis terminasi (akhir dan sementara). Anggota kelompok
mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses.


8. Peran Perawat dalam terapi aktivitas kelompok.
1) Mempersiapkan program terapi aktivitas kelompok.
2) Sebagai leader dan co leader
3) Sebagai fasilitator
4) Sebagai observer

3. TUJUAN

4. KARAKTERISTIK PASIEN
Berdasarkan pengamatan dan kajian status klien maka karakteristik

23




TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK
SESI 1 : Mengenal Halusinasi
a. TUJUAN :
1. Tujuan Umum
Terapi aktivitas kelompok adalah suatu upaya untuk memfasilitasi
psikoterapis terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama untuk
memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota.
Secara umum tujuan terapi aktivitas kelompok adalah
meningkatkan kemampuan uji realitas melalui komunikasi dan umpan
balik dengan atau dari orang lain, melakukan sosialisasi, meningkatkan
kesadaran terhadap hubungan reaksi emosi dengan tindakan atau perilaku
denfensif, dan meningkatkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan
afektif.
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat menyebutkan stimulus penyebab kemarahan.
b. Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda
dan gejala marah )
c. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah
(perilaku kekerasan )
d. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan.

b. LATAR BELAKANG
Berdasarkan hasil observasi selama bertugas di Ruang Nakula klien
didapatkan 60% klien mempunyai masalah utama halusinasi. Dari fenomena
tersebut kelompok tertarik untuk melakukan terapi aktivitas kelompok dengan
topik pengenalan halusinasi yang biasa dilakukan.

24



c. LANDASAN TEORI
Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera
tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik.
Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima
rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan kata lain klien
berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh
klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution, 2003).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana
klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan
panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami
suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu
(Maramis, 2005).

d. KRITERIA KLIEN
Berdasarkan pengamatan dan kajian status klien maka karakteristik klien
yang dilibatkan dalam terapi aktivitas kelompok ini adalah klien dengan
masalah keperawatan seperti halusinasi

e. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
a. Tempat Pelaksanaan : Ruang Nakula
b. Lama Pelaksanaan : 30 menit
c. Waktu Pelaksanaan : 10. 00- 10.30 WIB

f. NAMA KLIEN
1. Bapak M
2. Bapak R
3. Bapak B
25
4. Sdr. T
5. Sdr. A
6. Sdr R
7. Sdr. J
8. Sdr P
9. Sdr F

g. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Bermain Peran
4. Nonton TV

h. MEDIA DAN ALAT