Anda di halaman 1dari 22

PENCEMARAN LINGKUNGAN

PESTISIDA



OLEH:
KELOMPOK 3
KELAS D REGULER


JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014


NAMA KELOMPOK 3:
MASHAR ISAN SHARIL A. F1D2 10 083
MUHAMMAD ARIF MAOLA J1A1 12 206
MUHAMMAD FEYZAR RASMANTO J1A1 12 208
SISILIA ADOLFINA PAMIKIRAN J1A1 12 221
SITI NURUL AINUN I. J1A1 12 223
SRI WULANDARI J1A1 12 224
SURIYANTI J1A1 12 227
VERA RESKI J1A1 12 229
WA ODE ASLIATI J1A1 12 230
WA ODE TUTI NURMANINGSIH J1A1 12 232
ZIKRA ANDRIANI J1A1 12 236
MAGHFIRAH JABIR J1A1 12 237

i

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata
kuliah Pencemaran Lingkungan dan juga untuk menambah pengetahuan
penyusun dan pembaca.
Makalah ini berisikan informasi seputar pestisida dan pencemaran yang
disebabkan oleh pestisida. Kami menyadari bahwa sebagai manusia biasa
memiliki banyak keterbatasan dalam segala hal. Oleh karena itu, tidak ada hal
yang dapat diselesaikan dengan sangat baik dan sempurna.
Akhir kata semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca untuk menambah wawasan serta ilmu pengetahuan terutama
pengetahuan mengenai pestisida dan dampak pengunaannya bagi lingkungan.
Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna perbaikan
kedepannya.
Wasalammualaikum Wr. Wb

Kendari, Juni 2014


Penyusun


ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI .. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang .. 1
1.2 Rumusan masalah . 2
1.3 Tujuan penulisan .. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pestisida . 3
2.2 Jenis-Jenis Pestisidsa ... 4
2.3 Manfaat Penggunaan Pestisida 5
2.4 Dampak Pencemaran oleh Pestisida 9
2.5 Pencegahan Pencemaran oleh pestisida .. 15
2.6 Penanggulangan Pencemaran Pestisida ... 15
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .. 17
3.2 Saran 17
DAFTAR PUSTAKA 18





1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencemaran lingkungan merupakan faktor yang berperan penting dalam
mengubah komponen-komponen yang ada dalam lingkungan menjadi sebuah
faktor yang dapat menggangu kesehatan masyarakat karena berubahnya tatanan
dalam lingkungan, sehingga tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Hampir
bisa dikatakan sebagian besar sektor yang berperan dalam menyediakan bahan
mentah makanan menggunakan zat-zat berbahaya yang akhirnya merusak bahan
itu sendiri dan tidak layak di konsumsi oleh manusia karena jika terus-menerus
dikonsumsi oleh masyarakat akan menyebabkan gangguan kesehatan bagi
masyarakat. Salah satunya adalah sektor pertanian.
Sektor pertanian adalah sektor yang dapat menjadi lahan investasi bagi
negara maupun orang-orang dengan modal yang besar. Dengan meningkatnya
pembangunan sektor pertanian, maka diperlukan alat dan bahan atau sarana yang
membantu mempercepat hasil produksi pertanian, misalnya teknologi pertanian,
pupuk dan salah satunya adalah pestisida. Pestisida merupakan suatu bahan yang
dapat mempercepat pertumbuhan tanaman dan membuat hasil produksi
meningkat, sehingga lebih bersifat ekonomis. Namun, pestisida merupakan bahan
yang berpotensi besar dalam mencemari lingkungan karena dapat membuat
masyarakat untuk menggunakan pestisida di atas ambang batas normal
penggunaan pestisida. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang hal ini
masih sangat kurang, karena lebih banyak keuntungan yang didapatkan.

2

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang
akan kami bahas dalam makalah ini adalah
1. Apa definisi dari pestisida?
2. Apa saja jenis-jenis dan penggolongan pestisida ?
3. Bagaimana manfaat penggunaan pestisida?
4. Apa saja dampak pencemaran oleh pestisida?
5. Bagaimana cara mencegah pencemaran karena pestisida?
6. Bagaimana cara menanggulangi pencemaran yang di sebabkan oleh pestisida?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi dari pestisida
2. Untuk mengetahui dan memahami jenis dan penggolongan pestisida
3. Untuk mengetahui manfaat penggunaan pestisida
4. Untuk mengetahui dan memahami dampak pencemaran oleh pestisida
5. Untuk mengetahui cara mencegah pencemaran pestisida.
6. Untuk mengetahui dan memahami cara-cara penanggulanagan pencemaran
pestisida






3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pestisida
Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan sida yang
berasal dari kata caedo berarti pembunuh. Jadi, secara bahasa pestisida
sebagai pembunuh hama.
Menurut PP RI No.6 tahun 1995, pestisida juga didefinisikan sebagai zat
atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh dan perangsang tubuh, bahan lain, serta
mikroorganisme atau virus yang digunakan untuk perlindungan tanaman.
Sedangkan pestisida menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973
dalam Kementrian Pertanian (2011) dan Permenkes
RI No.258/Menkes/Per/III/1992 adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad
renik dan virus yang dipergunakan untuk :
1. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman,
bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian
2. Memberantas rerumputan
3. Mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan
4. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan atau
ternak
5. Memberantas atau mencegah hama-hama air
6. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam
bangunan rumah tangga alat angkutan, dan alat-alat pertanian
4

7. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi dengan
penggunaan tanaman, tanah dan air.
Menurut PP RI No.6 tahun 1995, pestisida juga didefinisikan sebagai zat
atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh dan perangsang tubuh, bahan lain, serta
mikroorganisme atau virus yang digunakan untuk perlindungan tanaman.
Menurut Depkes (2004), pestisida kesehatan masyarakat adalah pestisida
yang digunakan untuk pemberantasan vektor penyakit menular (serangga, tikus)
atau untuk pengendalian hama di rumah-rumah, pekarangan, tempat kerja, tempat
umum lain, termasuk sarana nagkutan dan tempat penyimpanan/pergudangan.
Pestisida terbatas adalah pestisida yang karena sifatnya (fisik dan kimia) dan atau
karena daya racunnya, dinilai sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dan
lingkungan, oleh karenanya hanya diizinkan untuk diedarkan, disimpan dan
digunakan secara terbatas.
2.2 Jenis-Jenis Pestisidsa
Pestisida yang biasa digunakan para petani dapat digolongkan menurut
beberapa hal berikut :
2.2.1 Berdasarkan Fungsi/Sasaran Penggunaannya
1. Insektisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga
seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat dan juga Insektisida digunakan untuk
memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk,
kutu busuk, rayap, dan semut.
2. Fungisida adalah pestisida untuk memberantas dan mencegah pertumbuhan
jamur/cendawan seperti bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun.
5

3. Bakterisida adalah pestisida yang berfungsi untuk memberantas bakteri atau
virus. Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas.
Pemberian obat biasanya segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih
sehat sesuai dengan dosis tertentu.
4. Rodentisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama
tanaman berupa hewan pengerat seperti tikus. Umumnya digunakan sebagai
umpan. Penggunaa jenis ini harus dapat dikontrol karena dapat mematikan
hewan ternak yang memakannya.
5. Nematisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman
berupa nematoda (cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan
umbi tanaman. Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau
lada.
6. Herbisida adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman
pengganggu (gulma) seperti alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dll.
2.2.2 Berdasarkan Bahan Aktifnya
1. Pestisida organik adalah bahan organik yang berasal dari bagian tanaman
atau binatang.
2. Pestisida elemen adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari alam.
3. Pestisida kimia/sintetis (syntetic pesticide), pestisida ini berasal dari
campuran bahan-bahan kimia.
2.2.3 Berdasarkan Cara Kerjanya
1. Pestisida sistemik adalah pestisida yang diserap dan dialirkan ke seluruh
bagian tanaman sehingga akan menjadi racun bagi hama yang memakannya.
6

Kelebihannya tidak hilang karena disiram. Kelemahannya, ada bagian
tanaman yang dimakan hama agar pestisida ini bekerja.
2. Pestisida kontak langsung adalah pestisida yang reaksinya akan bekerja bila
bersentuhan langsung dengan hama, baik ketika makan ataupun sedang
berjalan. Jika hama sudah menyerang lebih baik menggunakan jenis pestisida
ini. Sebagian besar pestisida kimia termasuk ke dalam jenis ini.
2.2.4 Berdasarkan Cara Penggunaan
a. Penyemprotan (Spraying)
Penyemprotan merupakan cara penggunaan pestisida yang paling banyak
dipakai oleh petani. Sekitar 75 % penggunaan pestisida dilakukan dengan cara
penyemprotan. Awalnya, penyemprotan larutan pestisida (pestisida diatambah air)
dipecah oleh nozzel (spuyer) atau atomizer menjadi butiran semprot atau droplet.
Bentuk sediaan (formulasi) yang digunakan dengan cara penyemprotan meliputi
E.C; W.P; WS atau SP. Sedangkan penyemprotan dengan volume ultra rendah
(Ultra low volume) digunakan formulasi ULV. Dengan menggunakan alat khusus
yang disebut mikroner.
b. Pengasapan atau Fogging
Pengasapan adalah penyemprotan pestisida dengan volume rendah dengan
ukuran droplet yang halus. Perbedaannya dengan penyemprotan biasa adalah yang
dibuat pencampur pestisida adalah minyak solar dan bukan air. Campuran tersebut
kemudian dipanaskan sehingga menjadi semacam kabut asap yang kemudian
dihembuskan. Fogging banyak digunakan untuk mengendalikan hama gudang,
hama tanaman perkebunan serta vektor penyakit dilingkungan misalnya untuk
mengendalikan nyamuk malaria.
7

c. Penghembusan (Dusting)
Penghembusan merupakan cara penggunaan pestisida yang diformulasikan
dalam bentuk tepung hembus (D, dust) dengan menggunakan alat penghembus
(duster). Jadi penggunaannya dalam bentuk kering.
d. Penaburan (broadcasting) pestisida butiran (Granuler)
Penaburan pestisida butiran adalah cara penggunaan pestisida yang
diformulasikan dalam bentuk butiran dengan cara ditaburkan. Penaburan dapat
dilakukan dengan tangan langsung atau dengan menggunakan alat penabur
(granule broadcaster).
e. Perawatan benih (Seed dressing , Seed treatment, Seed coating)
Perawatan benih adalah cara penggunaan pestisida untuk melindung benih
sebelum benih ditanam agar kecambah dan tanaman muda tidak diserang oleh
hama atau penyakit. Pestisida yang digunakan adalah formulasi SD atau ST.
f. Pencelupan (Dipping)
Pencelupan adalah penggunaan pestisida untuk melindung tanaman (bibit,
cangkok, stek) agar terhindar dari serangan hama maupun penyakit. Pencelupan
dilakukan dengan mencelupkan bibit atau stek ke dalam larutan pestisida.
g. Fumigasi (Fumigation)
Fumigasi adalah aplikasi pestisida fumigan baik yang berbentuk padat,
cair maupun gas dalam ruangan tertutup. Fumigasi umumnya digunakan untuk
melindungi hasil panen dari kerusakan karena serangan hama atau penyakit
ditempat penyimpanan. Fumigan dimasukkan ke dalam ruangan gudang yang
selanjutnya akan berubah kedalam bentuk gas (fumigan cair maupun padat) yang
beracun untuk membunuh OPT sasaran yang ada dalam ruangan tersebut.
8

h. Injeksi
Injeksi adalah penggunaan pestisida dengan cara memasukkan kedalam
batang tanaman, baik dengan alat khusus (injeksi ataupun infus) maupun dengan
jalan mengebor tanaman. Pestisida yng diinjeksikan akan tersebar keseluruh
tanaman bersamaan dengan aliran makanan dalam jaringan tanaman. Injeksi dapat
juga digunakan untuk sterilisasi tanah.
i. Penyiraman (Drenching, Pouring On).
Penyiraman adalah penggunaan pestisida dengan cara dituangkan disekitar
akar tanaman untuk mengendalikan hama atau penyakit di daerah perakaran atau
dituangkan pada sarang semut atau sarang rayap.
2.3 Manfaat Penggunaan Pestisida
Di bidang pertanian, penggunaan pestisida telah dirasakan manfaatnya
untuk meningkatkan produksi. Adanya pestisida memberi manfaat dan
keuntungan. Diantaranya, dapat mempercepat menurunkan populasi jasad
penganggu tanaman dengan periode pengendalian yang lebih panjang, mudah dan
praktis cara penggunaannya, mudah diproduksi secara besar-besaran serta mudah
diangkut dan disimpan. Manfaat yang lain, secara ekonomi penggunaan pestisida
relatif menguntungkan. Namun, bukan berarti penggunaan pestisida tidak
menimbulkan dampak buruk. Secara singkat, manfaat pestisida yaitu
1. Pestisida berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam
bidang pertanian.
2. Dalam bidang kehutanan pestisida digunakan untuk pengawetan kayu dan
hasil hutan yang lainnya.
9

3. Dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan vektor
(penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan
lingkungan.
4. Dalam bidang perumahan untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga
yang lain.
2.4 Dampak Pencemaran oleh Pestisida
2.4.1 Pestisida berpengaruh negatif terhadap kesehatan manusia
Jika penggunaan pestisida tanpa diimbangi dengan perlindungan dan
perawatan kesehatan, maka orang yang sering berhubungan dengan pestisida
kemungkinan besar akan berpengaruh pada kesehatannya. Pestisida dapat
meracuni manusia pada saat pestisida itu digunakan, dan saat mempersiapkan,
atau sesudah melakukan penyemprotan.
Kecelakaan akibat pestisida pada manusia sering terjadi, terutama dialami
oleh orang yang langsung melaksanakan penyemprotan. Mereka dapat mengalami
pusing-pusing ketika sedang menyemprot maupun sesudahnya, atau muntah-
muntah, mulas, mata berair, kulit terasa gatal-gatal dan menjadi luka, kejang-
kejang, pingsan, dan tidak sedikit kasus berakhir dengan kematian. Kejadian
tersebut umumnya disebabkan kurangnya perhatian atas keselamatan kerja dan
kurangnya kesadaran bahwa pestisida adalah racun.
Dampak kronis
Gejala yang mungkin terjadi pada paparan pestisida jangka panjang yaitu:
1. Peningkatan risiko kanker
2. Kerusakan syaraf
3. Gangguan perkembangan
10

4. Gangguan reproduksi
5. Kerusakan organ tubuh
6. Intrusi ke sistem hormon
Dampak akut
Beberapa dampak kesehatan dari pestisida dapat terjadi dalam waktu
singkat setelah terjadinya paparan. Gejala tersebut berupa:
1. Iritasi mata dan pengeluaran air mata terus menerus
2. Luka tertentu pada kulit, memar, pembengkakan, luka bakar, berkeringat, dan
sebagainya
3. Sakit kepala, depresi, kejang otot, kurang koordinasi antara otak dan otot,
hingga kehilangan kesadaran jika paparan menyentuh sistem syaraf
4. Sakit tenggorokan, rhinorrhea, batuk, pulmonary edema, kesulitan bernafas,
hingga kegagalan bernafas jika pestisida terhirup
5. Cardiac arrhythmia, tidak teraturnya denyut jantung
6. Mual, muntah, diare, nyeri perut jika pestisida tertelan ke saluran pencernaan
Keracunan akut dapat terjadi pada berbagai situasi, bisa melalui makanan
yang mengandung residu pestisida, termasuk tidak sengaja tertelan ketika
melakukan aktivitas pertanian bersama keluarga di pekarangan rumah. Anak-anak
merupakan yang paling rentan terhadap keracunan karena antibodi mereka belum
berkembang untuk melawan berbagai jenis bahaya toksisitas.
2.4.2 Pestisida berpengaruh buruk terhadap kualitas lingkungan
Pestisisda sebagai saalah satu agen pencemaran kedalam lingkungn baik
melalui udara, air maupun tanah dapat berakibat langsung terhadap komunitas
hewan, tumbuhan terlebih manusia. Pestisida yang masuk ke lingkungan melalui
11

beberapa proses baik pada tataran permukaan tanah maupun dibawah permukaan
tanah. Masuk kedalam tanah berjalan melalui pola biotransformasi dan
biokumulasi oleh tanaman, proses reabsorbsi oleh akar serta masuk langsung
pestisida melalui infiltrasi tanah. Gejala ini akan mempengaruhi kandungan bahan
pada sistem air tanah hingga proses pencucian zat pada tahap penguraian baik
secara biologi maupun kimiawi dalam tanah (Sulistiono: 2004).
Proses pencucian bahan-bahan kimiawi tersebut akhirnya akan
mempengaruhi kualitas air tanah baik setempat maupun secara region dengan
berelanjutan. Apa bila proses pemurnian unsur-unsur pestisida berjalan dengan
baik dan tervalidasi hingga aman pada wadah-wadah penampungan air tanah
misalnya, sumber mata air, sumur resapan dan sumur gali untuk kemudian
dikonsumsi oleh penduduk, maka fenomena pestisida kedalam lingkungan bisa
dikatakan aman. Namun demikian jika proses tersebut kurang berhasil atau
bahkan tidak berhasil, maka kondisi sebaliknya akan terjadi. Penurunan kualitas
air serta terjangkitnya penyakit akibat pencemaran pestisida pada air merupakan
implikasi langsung dari masuknya pestisida kedalam lingkungan air. (Sulistiono:
2004).
2.4.3 Pestisida meningkatkan perkembangan populasi jasad penganggu
tanaman
Tujuan penggunaan pestisida adalah untuk mengurangi populasi hama.
Akan tetapi dalam kenyataannya, sebaliknya malahan sering meningkatkan
populasi jasad pengganggu tanaman, sehingga tujuan penyelamatan kerusakan
tidak tercapai. Hal ini sering terjadi, karena kurang pengetahuan dan perhitungan
tentang dampak penggunaan pestisida. Beberapa dampak buruk penggunaan
12

pestisida, khususnya yang mempengaruhi peningkatan perkembangan populasi
hama.
1. Munculnya Ketahanan (Resistensi) Hama Terhadap Pestisida
Timbulnya ketahanan hama terhadap pemberian pestisida yang terus
menerus, merupakan fenomena dan konsekuensi ekologis yang umum dan logis.
Munculnya resistensi adalah sebagai reaksi evolusi menghadapi suatu
tekanan (strees). Karena hama terus menerus mendapat tekanan oleh pestisida,
maka melalui proses seleksi alami, spesies hama mampu membentuk strain baru
yang lebih tahan terhadap pestisida tertentu yang digunakan petani. Pada tahun
1947, dua tahun setelah penggunaan pestisida DDT, diketahui muncul strain
serangga yang resisten terhadap DDT. Saat ini, telah didata lebih dari 500 spesies
serangga hama telah resisten terhadap berbagai jenis kelompok insektisida.
Mekanisme timbulnya resistensi hama dapat dijelaskan sebagai berikut.
Apabila suatu populasi hama yang terdiri dari banyak individu, dikenakan pada
suatu tekanan lingkungan, misalnya penyemprotan bahan kimia beracun, maka
sebagian besar individu populasi tersebut akan mati terbunuh. Tetapi dari sekian
banyak individu, ada satu atau beberapa individu yang mampu bertahan hidup.
Tidak terbunuhnya individu yang bertahan tersebut, mungkin disebabkan
terhindar dari efek racun pestisida, atau sebahagian karena sifat genetik yang
dimilikinya. Ketahanan secara genetik ini, mungkin disebabkan kemampuan
memproduksi enzim detoksifikasi yang mampu menetralkan daya racun pestisida.
Keturunan individu tahan ini, akan menghasilkan populasi yang juga tahan secara
genetis. Oleh karena itu, pada generasi berikutnya anggota populasi akan terdiri
dari lebih banyak individu yang tahan terhadap pestisida. Sehingga muncul
13

populasi hama yang benar-benar resisten. Hampir setiap individu memiliki
potensi untuk menjadi tahan terhadap pestisida. Hanya saja, waktu dan besarnya
ketahanan tersebut bervariasi, dipengaruhi oleh jenis hama, jenis pestisida yang
diberikan, intensitas pemberian pestisida dan faktor-faktor lingkungan lainnya.
Oleh karena sifat resistensi dikendalikan oleh faktor genetis, maka fenomena
resistensi adalah permanent, dan tidak dapat kembali lagi. Bila sesuatu jenis
serangga telah menunjukkan sifat ketahanan dalam waktu yang cukup lama,
serangga tersebut tidak akan pernah berubah kembali lagi menjadi serangga yang
peka terhadap pestisida.
Di Indonesia, beberapa jenis-jenis hama yang diketahui resisten terhadap
pestisida antara lain hama Kubis Plutella xylostella, hama Kubis Crocidolomia
pavonana, hama penggerek umbi Kentang Phthorimaea operculella, dan Ulat
Grayak Spodoptera litura. Demikian juga hama hama-hama tanaman padi seperti
wereng coklat (Nilaparvata lugens), hama walang sangit (Nephotettix inticeps)
dan ulat penggerek batang (Chilo suppressalis). Dilaporkan mengalami
peningkatan ketahanan terhadap pestisida. Dengan semakin tahannya hama
terhadap pestisida, petani terdorong untuk semakin sering melakukan
penyemprotan dan sekaligus melipat gandakan tinggkat dosis. Penggunaan
pestisida yang berlebihan ini dapat menstimulasi peningkatan populasi hama.
Ketahanan terhadap pestisida tidak hanya berkembang pada serangga atau
binatang arthropoda lainnya, tetapi juga saat ini telah banyak kasus timbulnya
ketahanan pada pathogen/penyakit tanaman terhadap fungisida, ketahanan gulma
terhadap herbisida dan ketahanan nematode terhadap nematisida.

14

2. Resurgensi Hama
Peristiwa resurgensi hama terjadi apabila setelah diperlakukan aplikasi
pestisida, populasi hama menurun dengan cepat dan secara tiba-tiba justru
meningkat lebih tinggi dari jenjang polulasi sebelumnya. Resurgensi sangat
mengurangi efektivitas dan efesiensi pengendalian dengan pestisida.
Resurgensi hama terjadi karena pestisida, sebagai racun yang berspektrum
luas, juga membunuh musuh alami. Musuh alami yang terhindar dan bertahan
terhadap penyemprotan pestisida, sering kali mati kelaparan karena populasi
mangsa untuk sementara waktu terlalu sedikit, sehingga tidak tersedia makanan
dalam jumlah cukup. Kondisi demikian terkadang menyebabkan musuh alami
beremigrasi untuk mempertahankan hidup. Disisi lain, serangga hama akan berada
pada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Sumber makanan tersedia dalam
jumlah cukup dan pengendali alami sebagai pembatas pertumbuhan populasi
menjadi tidak berfungsi. Akibatnya populasi hama meningkat tajam segera
setelah penyemprotan.
3. Ledakan Populasi Hama Sekunder
Dalam ekosistem pertanian, diketahui terdapat beberapa hama utama dan
banyak hama-hama kedua atau hama sekunder. Umumnya tujuan penggunaan
pestisida adalah untuk mengendalikan hama utama yang paling merusak.
Peristiwa ledakan hama sekunder terjadi, apabila setelah perlakuan pestisida
menghasilkan penurunan populasi hama utama, tetapi kemudian terjadi
peningkatan populasi pada spesies yang sebelumnya bukan hama utama, sampai
tingkat yang merusak. Ledakan ini seringkali disebabkan oleh terbunuhnya musuh
alami, akibat penggunaan pestisida yang berspektrum luas. Pestisida tersebut tidak
15

hanya membunuh hama utama yang menjadi sasaran, tetapi juga membunuh
serangga berguna, yang dalam keadaan normal secara alamiah efektif
mengendalikan populasi hama sekunder.
2.5 Pencegahan Pencemaran oleh pestisida
1. Peraturan dan Pengarahan Kepada Para Pengguna
Peraturan dan cara-cara penggunaan pestisida dan pengarahan kepada para
pengguna perlu dilakukan, karena banyak dari pada pengguna yang tidak
mengetahui bahaya dan dampak negatif pestisida terutama bila digunakan pada
konsentrasi yang tinggi, waktu penggunaan dan jenis pestisida yang digunakan.
Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan
alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan
efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973.
2. Penggunaan Pestisida dengan Memperhatikan Kondisi Lingkungan
Untuk menghindari terjadinya pencemaran udara oleh adanya pestisida
maka pada saat penggunaan pestisida, pengguna harus memperhatikan beberapa
hal yang mampu mempengaruhi pendispersian polutan tersebut di udara. Faktor
lingkungan seperti temperatur, kecepatan dan arah angin, dan kelembaban udara
sangat berperan dalam mempercepat dan atau meringakan proses terjadinya
pencemaran.
2.6 Penanggulangan Pencemaran Pestisida
1. Pengendalian Hayati Menggunakan Biokontrol
Petani harus belajar dan meninggalkan metode produksi yang memakai
banyak bahan kimia. Memakai cara rotasi tanam, menanam kacangan dan rumput
16

untuk mengisi persediaan, merawat tanah dengan pupuk dan kompos, serta
mendaur ulang bahan organik. Pendekatan ini akan melindungi tanah dan
mencegah pencemaran dan pencucian pupuk/bahan kimia dari tanah ke aliran
sungai. Dengan semakin ketatnya peraturan pemakaian bahan kimia, pengendalian
hayati atau biokontrol merupakan salah satu strategi untuk mengatasi dampak
pencemaran lingkungan akibat pemakaian bahan kimia untuk proteksi pertanian.
Pengendalian suatu penyakit melalui biokontrol membutuhkan
pengetahuan detail tentang interaksi patogen inang dan antara patogen dengan
mikroba-mikroba sekitarnya. Pengetahuan ini sangat penting karena prinsip
biokontrol adalah pengendalian dan bukan pemberantasan patogen. Keberhasilan
suatu biokontrol ditentukan oleh kemampuan hidup agen biokontrol tersebut
dalam lingkungannya.
2. Metode Bioremediasi Sebagai Tindakan Perbaikan
Sebagai tindakan korektif bagi lahan yang telah tercemar oleh residu
pestisida, saat ini juga banyak dikembangkan metode Bioremediasi.
Bioremediasi dikenal sebagai usaha perbaikan tanah dan air permukaan dari
residu pestisida atau senyawa rekalsitran lainnya dengan menggunakan jasa
mikroorganisme. Mikroorganisme yang digunakan berasal dari tanah namun
karena jumlahnya masih terbatas sehingga masih perlu pengkayaan serta
pengaktifan yang tergantung pada tingkat rekalsitran senyawa yang dirombak.




17

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pestisida adalah bahan-bahan kimia yang tidak terlepas dari
penggunaannya untuk mengendalikan hama dan jasad pengganggu lainnya.
Pestisida tidak saja membawa manfaat terhadap peningkatan produk pertanian,
tapi juga membawa dampak negatif terhadap kesehatan manusia juga berpengaruh
buruk terhadap kualitas lingkungan serta meningkatkan perkembangan populasi
jasad penganggu tanaman. Pengarahan dan penggunaan yang lebih tepat kepada
para penggunaan dalam hal pemberian dosis, waktu aplikasi, cara kerja yang
aman, akan mengurangi ketidakefisienan penggunaan pestisida pada lingkungan
dan mengurangi sekecil mungkin pencemaran yang terjadi.
3.2 Saran
Di diharapkan penggunaan pestisida akan berkurang dan lebih selektif dan
didukung oleh adanya penemuan-penemuan baru yang lebih efektif dalam
mengatasi gangguan dari jasad pengganggu ini.








18

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Residu_pestisida
http://www.scribd.com/doc/221053437/Pengertian-Pestisida
http://kesmas-unsoed.info/2011/05/makalah-pengertian-dan-penggolongan-
pestisida.html
http://himka1polban.wordpress.com/chemlib/makalah/makalah-pencemaran-
pestisida/
http://usitani.wordpress.com/2009/02/26/dampak-negatif-penggunaan-pestisida/
http://julhasratman.blogspot.com/2012/01/upaya-penanggulangan-
pencemaran.html