Anda di halaman 1dari 5

Permeabilitas

Walaupun juga terkesan sederhana, namun permeabilitas memegang peranan dalam


menentukan laju aliran suatu fluida dalam media berpori, karena merupakan salah satu faktor
dalam rumus Darcy. Permeabilitas dapat diartikan sebagai kemampuan material berpori dilewati
fluida. Dengan kata lain, laju minyak atau gas yang diproduksi pada penurunan tekanan tertentu
sebanding dengan permeabilitas. Satuan permeabilitas yang umum digunakan adalah milidarcy,
satu satuan seperseribu darcy. Darcy didefi nisikan sebagai permeabilitas yang memungkinkan
fluida viskositas satu centipoise mengalir dengan kecepatan linier satu sentimeter perdetik pada
gradien tekanan satu atmosfir setiap sentimeter.



Laju aliran fluida ditentukan dengan menggunakan rumus

di mana
P = penurunan tekanan, atmosfir
A = luas penampang, cm
2

= viskositas fluida, sentipoise
L = panjang, cm
K = permeabilitas, darcy


Jadi, permeabilitas merupakan fungsi ukuran dan bentuk saluran pori batuan. Pasir
berbutir kasar dan bersih mempunyai permeabilitas tinggi, sebaliknya yang berbutir halus
permeabilitasnya rendah.
Gas mengalir berbeda dengan aliran cairan, sehingga permeabilitas udara berbeda sedikit
dengan permeabilitas cairan. Molekul gas mengalir pada laju yang seragam melalui pori yang
kecil. Sementara molekul cairan tidak demikian. Molekul cairan yang berada dekat dinding pori
selalu dalam keadaan diam. Kecepatan molekulnya bertambah pada pusat pori. Kinerja aliran
yang demikian disebut sebagai efek Klinkenberg.
Koreksi rata-rata Klinkenberg diterapkan pada permeabilitas udara yang diukur dan untuk
mengkonversikannya ada faktor ekivalensinya. Koreksi rata-rata berkisar antara sekitar 1% pada
formasi yang sangat permeable sampai 70% pada formasi permeabilitas rendah. Hukum Darcy
mengganggap bahwa:
- Tidak ada reaksi antara fluida yang mengalir dengan batuan
- Hanya ada satu fluida
Bila ada reaksi antara fluida dan batuan, maka permeabilitasnya akan berkurang. Bila
lebih dari satu fluida yang mengalir, maka kedua fluida akan saling mempengaruhi, sehingga
permeabilitasnya berkurang pada setiap fasanya.

Reaksi yang paling umum antara fluida reservoar dengan batuan reservoir adalah
mengembangnya jenis lempung tertentu, bila bersentuhan dengan air. Semakin segar airnya
semakin besar mengembangnya. Pengaruh salinitas air juga berpengaruh pada permeabilitas
udara di berbagai kandungan lempung.
-Permeabilitas spesifik, bila hanya ada satu fluida saja.
-Permeabilitas efektif, bila hadir fluida kedua yang mempengaruhi fluidan pertama,
menimbulkan permeabilitas pada masing-masing fasa
- Permeabilitas relatif = permeabilitas efektif dibagi permeabilitas spesifik. Di dalam reservoar
minyak sering dijumpai dua fluida atau lebih, yaitu gas, minyak, dan air, atau ketiganya.
- Proses pendorongan minyak oleh air berbeda dengan pendorongan minyak oleh gas. Perbedaan
utama dari keduanya adalah sifat kemampuan membasahi fluidanya. Air selalu membasahi
batuan, sedangkan gas sama sekali tidak demikian. Perbedaan ini tercermin dari sifat
permeabilitas relative batuan dengan fluida berbeda.

a. Pendesakan minyak oleh gas
Pendesakan minyak oleh air yang merupakan suatu fase yang membasahi mengalir
merambah hampir seluruh pori dalam batuan. Sewaktu gas masuk ke dalam reservoar akan
terbentuk saluran menerus melalui pori terbesar. Dan sewaktu tenaga dorong gas ini berlanjut
berhasil menembus saluran yang lebih kecil akan bergabung membentuk saluran menerus yang
lain. Aliran minyak turun drastis sejalan dengan meningkatnya aliran gas. Sejumlah besar
minyak akan tersisa dalam ruang berpori pada batas ekonomis produksi.

b. Minyak tersisa setelah penyapuan muncul sebagai butir-butir yang terjebak, dikenal sebagai
minyak tersisa.
Pengukuran Permeabilitas Udara
Metode permeameter



Untuk menentukan permeabilitas udara, conto batu inti perlu diukur dulu panjang dan
luas penampang batu inti, perbedaan tekanan sepanjang contoh, dan laju aliran udara yang
melewati conto tersebut. Viskositas udara pada temperatur pengujian sudah tersedia dalam buku
acuan. Alat untuk pengujian tersebut terdiri dari tabung batu inti (core holder), pencatat tekanan
(pressure gauge), dan meter aliran yang sudah dikalibrasi (orifi ce), seperti terlihat dalam
Gambar 6.5

Permeabilitas dihitung dengan rumus Darcy:
K
udara
= (2000 - P
a
..Q
a
.L)/(P
1
2
- P
2

2
).A = (C.Q
a
.L)/A,
di mana
C = (2000 - P
a
.)/(P
1
2
- P
2
2
)
K = permeabiltas, milidarcy
Q
a
= laju aliran udara ml/detik pada tekanan armosfir
= viskositas udara, sentipoise
L = panjang contoh, sentimeter
A = luas penampang melintang contoh, sentimeter persegi
P
1
= tekanan hulu, atmosfir
P
2
= tekanan hilir, atmosfir
P
a
= tekanan atmosfir, atmosfir

Penentuan permeabilitas batu inti utuh sama pentingnya dengan uji plug konvensional.
Perbedaannya hanya pada teknik pemegang batu intinya (core holder) yang umum digunakan
adalah dari jenis Hassler seperti pada Gambar 6.6.

Perbandingan hasil permeabilitas conto batu inti diameter penuh dengan ukuran
konvensional menunjukkan bahwa permeabilitasnya berbeda, bila conto batuannya terekah.
Dalam teknik batu inti diameter penuh pengukuran kapasitas aliran tidak saja di dalam rekahan,
tetapi juga di dalam matriks, sehingga harga permeabilitasnya lebih tinggi. Tetapi harga
keduanya hampir mendekati pada contoh batu inti yang seragam dan tidak ada rekahan.



Teknik lain pengukuran permeabilitas, yaitu pengukuran permeabilitas radial yang
dilakukan dalam analisis batu inti diameter penuh, yang kalau dilakukan dengan benar,
memberikan hasil yang baik. Teknik ini mengurangi panjang aliran dan mengurangi panjang
contoh yang akan dianalisa, dianggap bisa mengalahkan maksud analisis batu inti diameter
penuh. Yang sulit adalah membor pusat conto yang biasanya menimbulkan pecah dan merusak
contoh aslinya.

Uji keadaan tidak tetap dua fase untuk menentukan harga permeabilitas udara atau
permeabilitas spesifi k sangat sulit dilaksanakan dan sangat rumit untuk mendapatkan data yang
bias digunakan.

Pengukuran permeabilitas batu inti dinding sumur memberikan hasil yang sangat tinggi
pada batuan keras dengan permeabilitas kurang dari 20 milidarcy. Ini disebabkan oleh adanya
rekahan dan pemadatan conto oleh dampak tembakan peluru perforasi. Conto dari dinding sumur
pasir padat dengan permeabilitas lebih tinggi, sekitar 20 milidarcy, memberikan permeabilitas
terukur jauh lebih rendah. Ini disebabkan penyumbatan jalur aliran di pori oleh padatan lumpur
yang menyebabkan distorsi jalur aliran.





Permeabilitas empiris batu inti dinding sumur
Faktor-faktor yang mengontrol permeabilitas pasir adalah ukuran butiran, derajat
pemilihan, densitas contoh yang jenuh, dan porositas. Densitas dan porositas ditentukan melalui
analisis rutin conto dinding sumur, sedangkan ukuran butiran dan pemilihannya dapat dilakukan
dengan menggunakan analisis saringan. Untuk menentukan permeabilitasnya kedua faktor dapat
ditentukan dengan membandingkan terhadap conto yang baku. Data tersebut dapat digunakan
untuk menentukan permeabilitas dari hubungan empiris.

Keuntungan permeabilitas yang ditentukan secara empiris tersebut adalah diperoleh data
yang lebih realistis, karena interpertasinya didasarkan pada seluruh ukuran conto untuk
mengukur porositas dan saturasi yang lebih teliti.

Air purwa (connate water)
Air selalu ada dalam semua reservoar yang memproduksi minyak atau gas. Air yang
disebut sebagai air purwa ini menyelimuti butiran-butiran, menempati pori terkecil dan pojok
dan pinggiran pori-pori yang lebih besar sesuai dengan gaya tarik hidrostatis. Hidrokarbon juga
berada di tengah-tengah pori yang lebih besar.

Besarnya saturasi air tergantung distribusi ukuran pori pada ketinggian di atas permukaan
air. Pasir berbutir kasar dan karbonat dengan rongga yang besar mempunyai kandungan air
purwa kecil, sedangkan pasir berbutir halus air purwanya lebih besar. Saturasi air menurun
dengan naiknya ketinggian diatas permukaan air.

Tekanan kapiler
Besarnya saturasi air dalam reservoar pada ketinggian tertentu dikontrol oleh struktur
pori batuan, densitas fluida, dan karakter energi permukaan. Efek struktur pori tersebut
ditentukan di laboratorium dalam bentuk kurva-kurva tekanan kapiler. Kurva tersebut diperoleh
salah satu dari empat metode berikut: keadaan direstorasi kembali; injeksi air raksa; sentrifus;
dan penguapan. Pada penerapan data yang diperoleh dari lab adalah untuk menghitung
kandungan air dalam reservoar, sedangkan efek dari kedua faktor yang lain harus dihitung.
Rumus yang digunakan adalah:
P
c
= H.(d
w
d
o
)/144 x (L.cos L)/(R.cos R),
di mana
P
c
= tekanan kapiler, psi
H = ketinggian, kaki
d
w
= densitas air, pon/kaki
3

= tegangan antarmuka, dyne/cm
= sudut kontak, derajat
Sedangkan L dan R masing-masing menyatakan lab dan reservoar.
Interpertasi data tekanan kapiler berpengaruh pada saturasi air dan posisi struktural.