Anda di halaman 1dari 18

TRANSAKSI JUAL BELI ORGAN

UNTUK TRANSPLANTASI ORGAN TUBUH MANUSIA



(Disusun Dalam Rangka Penugasan Blok Medikolegal)



Disusun oleh:
Nama : Galan Sepdiar P
NIM : 08711053
Kelompok :18
Tutor : dr. Prima


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2011



BAB I
1.1 Ilustrasi Kasus
Jaringan Bisnis Ginjal Orang Terbongkar
Kompas: Senin, 28 Januari 2008
NEW DELHI, SENIN - Polisi India melakukan razia terhadap sejumlah rumah
sakit dan penginapan yang diduga menjadi tempat transaksi ilegal ginjal
manusia. Razia hari Senin (28/1) itu merupakan rangkaian dari penyelidikan
kasus jaringan bisnis ginjal yang menyasar orang-orang miskin sebagai korban.
Daerah yang menjadi incaran polisi adalah Gurgaon, daerah mewah yang
berada di pinggiran ibukota, New Delhi. Di situ sejumlah rumah mewah
dijadikan tempat perawatan dan operasi pasien yang membutuhkan ginjal
pengganti, karena ginjalnya sendiri sudah rusak.
Dari hasil razia itu polisi mendapati sekitar 40 orang yang tengah menunggu
cangkok ginjal dari orang lain. Sebagian orang itu berasal dari Amerika Serikat,
dan Yunani. Sebagian terbesar adalah orang India sendiri. Mereka tergolong
orang kaya.
Jaringan bisnis ginjal itu dijalankan secara canggih. Anggota sindikat mencari
mangsa dengan menggunakan mobil mewah yang di dalamnya dilengkapi
dengan peralatan penguji darah. Mereka berkeliling kota. Begitu mendapatkan
sasaran orang miskin antara lain gelandangan, mereka langsung menyekap
orang nahas itu. Orang itu langsung diuji darahnya.
Salah satu modus operasi dari jaringan tersebut terungkap setelah salah
seorang korban membuat pengakuan yang disiarkan oleh televisi NDTV. Orang
itu bernama Mohd Salim. Ia mengaku didekati oleh seorang yang tak
dikenalnya. Orang itu menawarinya pekerjaan.
Ia mengikuti orang itu. Begitu sampai di sebuah rumah ia digiring oleh sejumlah
orang bersenjata api ke dalam sebuah ruangan. "Mereka menguji golongan
darah saya. Setelah itu saya disuntik, dan tak sadarkan diri. Setelah terbangun,
lambung saya terasa sakit. Mereka bilang, salah satu ginjal saya sudah
diambil."
Salim mengaku diberi uang, namun ia tidak menyebut jumlahnya. Koran
Hindustan Times mengabarkan, korban seperti Salim biasanya dibayar antara
50.000 sampai 100.000 rupee (sekitar Rp11 juta - Rp22 juta).
Berdasarkan hukum India, jual-beli organ tubuh dilarang, namun donor secara
sukarela dibolehkan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang miskin
yang menjual salah satu ginjalnya untuk menyambung hidup.
Namun, jaringan penjual ginjal secara paksa baru bisa dibongkar polisi New
Delhi pada Kamis lalu yang penyelidikannya masih terus berlangsung. Dari
hasil penyelidikan sementara, jaringan itu telah melakukan cangkok ginjal
terhadap 400 sampai 500 orang sepanjang sembilan tahun terakhir. Selain para
pengatur pengadaan ginjal, jaringan itu melibatkan pula sejumlah dokter, dan
klinik.
Hanya saja, polisi terlambat. Komisaris Polisi Mohinder Lal yang membawahi
wilayah Gurgaon mengaku, para tersangka utama kemungkinan sudah kabur
ke luar negeri.








BAB II
II. 1. Fakta Biomedis
Transplantasi adalah suatu tindakan operatif untuk memindahkan organ
dan jaringan tubuh manusia yang asalnya dari tubuh orang lain ke tubuh target
dalam kepentingan pengobatan untuk menggantikan organ atau jaringan tubuh
yang sudah tidak berfungsi dengan baik.
Transplantasi berdasarkan sumber organnya dapat dibagi menjadi
empat macam, yakni:
Autotransplantasi, bilamana dilakukan pada individu yang sama
(transplantasi autolog) dan dilakukan pada jaringan yang berlebih
yang dapat beregenerasi atau jaringan yang terdekat, seperti pada
skin graft atau vein extraction, pada coronary artery bypass surgery
(CABG).
Isotransplantasi, transplantasi antara dua individu yang genetiknya
sama, kembar identik (transplantasi isolog) sehingga tidak ada
penolakan organ pada resipien.
Alotransplantasi, dilakukan pada dua individu yang tidak sama secara
genetik tapi spesiesnya sama sehingga ada kendala penolakan organ.
Pada manusia disebut homotransplantasi atau transplantasi alogen.
Xenotransplantasi, bilamana dilakukan antara dua individu yang berbeda
spesiesnya (heterotransplantasi/ transplantasi xenogen). Transplantasi
ini sangat berbahaya, terutama masalah non-incompatibility,
penolakan, dan penyakit yang dibawa organ atau jaringan tersebut.
Untuk melakukan suatu transplantasi organ ada beberapa hal yang
harus dipertimbangkan baik itu dari sisi pendonornya maupun dari tubuh
resipiennya agar rangkaian transplantasi dapat berjalan sesuai harapan. Organ
yang dapat diambil tanpa mengganggu funsi vital tubuh, misalnya kulit atau
ginjal dapat dicangkok dari donor hidup atau dari orang yang sudah mati otak.
Sedangkan untuk organ yang banyak vaskularisasinya, misal kornea, tulang
dapat digunakan seorang yang mati klinis.
Untuk tiap organ pendonor juga berlaku seleksi khusus yang secara
umum tidak mempunyai suatu kelainan yang mendasar pada organ yang
dimaksud. Untuk donor mati otak tidak lebih dari 50 tahun sehingga diharapkan
fungsi organ tubuh yang akan ditanamkan masih berfungsi baik.
Harus diperkirakan resiko kemungkinan penerimaan kejadian penyakit
infeksi atau keganasan dari donor. Karena sistem imun tubuh pasti akan dapat
membedakan mana yang merupakan sel tubuh sendiri dan mana yang
merupakan sel asing, maka diperlukan suatu manipulasi sistem imun pada
suatu rangkaian transplantasi organ apapun itu. Seperti yang diungkapkan
Muchlisin (2004), bahwa tanpa memanipulasi sistem imun maka yang terjadi
adalah penolakan yang akan berakibat fatal pada pasien, sehingga perlu obat
yang menekan sistem imun (imunosupresan) dalam melakukan transplantasi
organ. Imunosupresan yang dapat diberikan seperti cyclosporine dan
kortikosteroid. Dimana cara kerja dari cyclosporine adalah mencegah produksi
IL-2 melalui calcineurin inhibition (berikatan dengan protein cyclophilin).
Sedangkan kortikosteroid dengan mencegah produksi IL-1 dan IL-6 oleh
makrofag dan menghambat semua tahapan aktivasi sel-T.
Sedangkan syarat dari resipien secara umum menurut Gani (2007), yaitu
keadaan dari organnya menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan
dengan cara lain, keadaan penyakit sudah mencapai stadium terminal, akan
tetapi tidak ada kelainan pada organ tubuh lainnya. Selain itu seorang harus
mempunyai stabilitas mental dan keluarga yang mendukung sehingga pasca
cangkok ada jaminan perawatan terhadapnya. Dan berkaitan dengan
manipulasi sistem imun seperti yang diterangkan diatas, maka pasca
pencangkokan resipien tetap harus meminum imunosupresan seumur
hidupnya.



II. 2. Fakta Bioetika
Menurut Hanafiah (2009), dalam memandang suatu kasus menurut
bioetik kita harus dapat mempertimbangkan dari empat prinsip keetikaan yang
ada, yakni dari manfaatnya (beneficience), sesuai dengan indikasi atau tidak
(nonmaleficience), keadilan (justice), serta kewenangan (autonomy).
Bioetik transplantasi organ manusia diatur dalam medical ethic, yang
lebih mengarah pada aturan suatu organisasi profesi, yaitu kode etik
kedokteran, yang mengatur hubungan dokter-pasien-keluarga pasien
(Rotgers, 2007). Beberapa pihak yang ikut terlibat dalam usaha
transplantasi adalah (a) donor hidup, (b) jenazah dan donor mati, (c) keluarga
dan ahli waris, (d) resepien, (e) dokter dan pelaksana lain, dan (f)
masyarakat, dan (g) mafia penjual organ yang menjadi marak belakangan ini.
Hubungan pihak pihak itu dengan masalah etik dan moral dalam
transplantasi akan dibicarakan dalam uraian dibawah ini.
a. Donor Hidup
Adalah orang yang memberikan jaringan / organnya kepada orang lain
(resepien). Sebelum memutuskan untuk menjadi donor, seseorang harus
mengetahui dan mengerti resiko yang dihadapi, baik resiko di bidang
kesehatan, pembedahan, maupun resiko untuk kehidupannya lebih lanjut
sebagai kekurangan jaringan / organ yang telah dipindahkan. Disamping itu,
untuk menjadi donor, sesorang tidak boleh mengalami tekanan psikologis.
Hubungan psikis dan omosi harus sudah dipikirkan oleh donor hidup tersebut
untuk mencegah timbulnya masalah.
b. Jenazah dan donor mati
Adalah orang yang semasa hidupnya telah mengizinkan atau
berniat dengan sungguh-sungguh untuk memberikan jaringan / organ
tubuhnya kepada yang memerlukan apabila ia telah meninggal kapan
seorang donor itu dapat dikatakan meninggal secara wajar, dan apabila
sebelum meninggal, donor itu sakit, sudah sejauh mana pertolongan dari
dokter yang merawatnya. Semua itu untuk mencegah adanya tuduhan dari
keluarga donor atau pihak lain bahwa tim pelaksana transplantasi telah
melakukan upaya mempercepat kematian seseorang hanya untuk mengejar
organ yang akan ditransplantasikan
c. Keluarga donor dan ahli waris
Kesepakatan keluarga donor dan resipien sangat diperlukan untuk
menciptakan saling pengertian dan menghindari konflik semaksimal mungkin
atau pun tekanan psikis dan emosi di kemudian hari. Dari keluarga
resepien sebenarnya hanya dituntut suatu penghargaan kepada donor dan
keluarganya dengan tulus. Alangkah baiknya apabila dibuat suatu ketentuan
untuk mencegah timbulnya rasa tidak puas kedua belah pihak.
d. Resipien
Adalah orang yang menerima jaringan / organ orang lain. Pada
dasarnya, seorang penderita mempunyai hak untuk mendapatkan
perawatan yang dapat memperpanjang hidup atau meringankan
penderitaannya. Seorang resepien harus benar benar mengerti semua hal
yang dijelaskan oleh tim pelaksana transplantasi. Melalui tindakan
transplantasi diharapkan dapat memberikan nilai yang besar bagi kehidupan
resepien. Akan tetapi, ia harus menyadari bahwa hasil transplantasi terbatas
dan ada kemungkinan gagal. Juga perlu didasari bahwa jika ia menerima untuk
transplantasi berarti ia dalam percobaan yang sangat berguna bagi kepentingan
orang banyak di masa yang akan datang.
e. Dokter dan tenaga pelaksana lain
Untuk melakukan suatu transplantasi, tim pelaksana harus
mendapat parsetujuan dari donor, resepien, maupun keluarga kedua belah
pihak. Ia wajib menerangkan hal hal yang mungkin akan terjadi setelah
dilakukan transplantasi sehingga gangguan psikologis dan emosi di
kemudian hari dapat dihindarkan. Tanggung jawab tim pelaksana adalah
menolong pasien dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk umat
manusia. Dengan demikian, dalam melaksanakan tugas, tim pelaksana
hendaknya tidak dipengaruhi oleh pertimbangan pertimbangan kepentingan
pribadi.
f. Masyarakat
Secara tidak sengaja masyarakat turut menentukan perkembangan
transplantasi. Kerjasama tim pelaksana dengan cara cendekiawan,
pemuka masyarakat, atau pemuka agama diperlukan unutk mendidik
masyarakat agar lebih memahami maksud dan tujuan luhur usaha
transplantasi. Dengan adanya pengertian ini kemungkinan penyediaan organ
yang segera diperlukan, atas tujuan luhur, akan dapat diperoleh.
g. Mafia penjual organ
Tujuan mulia mendonorkan organ untuk menolong orang yang
membutuhkan, sering disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab, dengan memperdagangkan organ tubuh manusia,
bahkan sudah membentuk suatu jaringan penjualan organ manusia.
Pemahaman bioetik dengan memperhatikan hak hidup setiap organisme,
sehingga dapat memperlakukan makhluk hidup, terutama manusia dengan
benar. Sikap ini diharapkan menjadi pembatas manusia untuk tidak
melakukan penjualan organ manusia, tetapi terkadang pertimbangan
ekonomi lebih dikedepankan daripada pertimbangan hak hidup seseorang.
Orang rela melakukan kejahatan demi uang yang diperoleh. Dalam kasus
transplantasi organ yang paling berperan adalah dokter, dia yang
mendiagnosa, menangani operasi dan merawat setelah transplantasi
organ. Jadi penyalahgunaan organ tubuh manusia, pertama-tama terletak
pada dokter yang menanganinya. Jika dokter ingin mendapat uang
sebanyak-banyaknya, maka dokter akan menempuh segala cara untuk
mendapat organ dengan mudah dan murah. Dokter terikat kode etik profesi
dokter, izin praktek akan dicabut bila melakukan kecerobohan, jadi dalam hal
ini organisasi profesi menjadi penting untuk menangani dokter yang
melakukan kecurangan.
II. 3. Fakta Hukum
Beberapa hukum di Indonesia yang mengatur mengenai transplantasi
organ yakni:
Pasal 64 UU No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Peraturan Pemerintah No.18 Tahun 1981 Tentang Bedah Mayat Klinis
dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi dan atau Jaringan
Tubuh Manusia
Pasal 80 UU No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan
Didalam kedua hukum diatas telaah dijelaskan dan diatur apakah
transplantasi organ itu, bagaimana prosedurnya, bagaimana perjanjiannya
sampai pelarangan terhadap jual beli organ pun tertera disana. Sebagaimana
yang tercantum dalam Pasal 64 ayat (2) dan ayat ( 3 ) Undang-Undang
No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan adalah : (1) Transplantasi organ dan /
atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan hanya
untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersilkan. (2) Organ
dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun.
Serta menurut Pasal 17 Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1981 juga
melarang dalam praktek jualbeli organ, yang menyatakan bahwa: Dilarang
memperjualbelikan alat dan atau jaringan tubuh manusia. Di dalam
transplantasi, organ atau jaringan yang dapat diambil dari donor hidup adalah
kulit, ginjal, sum-sum tulang dan darah (transfusi darah), sedangkan organ dan
jaringan yang dapat diambil dari jenazah adalah jantung, hati, kornea,
pankreas, paru-paru, dan sel otak.
Untuk sanksi diatur dalam pasal 80 ayat 3 UU No. 23 Tahun 1992 yang
menyatakan bahwa, barangsiapa dengan sengaja melakukan perbuatan
dengan tujuan komersial dalam pelaksanaan transplantasi organ tubuh atau
jaringan tubuh atau tranfusi darah dipidana dengan pidana penjara paling lama
15 tahun dan pidana denda paling banyak 300 juta rupiah.

II. 4. Fakta Hukum Islam
Dalam menentukan boleh tidaknya melakukan transplantasi organ , perlu
diperhatikan kapankah pelaksanaannya. Ada tiga keadaan dimana
transplantasi dilakukan yaitu pada saat donor masih hidup sehat, donor
ketika sakit (koma) dan diduga kuat akan meninggal dan donor dalam keadaan
sudah meninggal. Berikut hukum transplantasi sesuai keadaannya masing-
masing.
Pertama, apabila pencangkokan tersebut dilakukan, di mana donor dalam
keadaan sehat walafiat, maka hukumnya menurut Prof Drs. Masyfuk Zuhdi,
dilarang (haram) berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
Firman Allah dalam surat Al-Baqarah: 195
Artinya:Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan
Contoh dari kasus ini, orang yang menyumbangkan sebuah mata atau
ginjalnya kepada orang lain yang buta atau tidak mempunyai ginjal, ia
mungkin akan menghadapi resiko sewaktu-waktu mengalami tidak
normalnya atau tidak berfungsinya mata atau ginjalnya yang tinggal
sebuah itu.
Kaidah hukum Islam:
Artinya:Menolak kerusakan harus didahulukan atas meraih
kemaslahatan
Dalam kasus seperti ini, pendonor mengorbankan dirinya dengan cara
melepas organ tubuhnya untuk diberikan kepada dan demi
kemaslahatan orang lain, yakni resipien.
Kaidah Hukum Islam:
Artinya Bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya lainnya.
Dalam kasus ini bahaya yang mengancam seorang resipien tidak boleh
diatasi dengan cara membuat bahaya dari orang lain, yakni pendonor.
Kedua, apabila transplantasi dilakukan terhadap donor yang dalam
keadaan sakit (koma) atau hampir meninggal, maka hukum Islam pun tidak
membolehkan berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
Hadits Rasulullah:
Artinya:Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh
membayakan diri orang lain. (HR. Ibnu Majah).
Dalam kasus ini adalah membuat madaharat pada diri orang lain, yakni
pendonor yang dalam keadaan sakit (koma).
Orang tidak boleh menyebabkan matinya orang lain. Dalam kasus ini
orang yang sedang sakit (koma) akan meninggal dengan diambil organ
tubuhnya tersebut. Sekalipun tujuan dari pencangkokan tersebut adalah
mulia, yakni untuk menyembuhkan sakitnya orang lain (resipien).
Ketiga, apabila pencangkokan dilakukan ketika pendonor telah
meninggal, baik secara medis maupun yuridis, maka menurut hukum Islam
ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Yang membolehkan
menggantungkan pada dua syarat sebagai berikut:
Resipien dalam keadaan darurat, yang dapat mengancam jiwanya dan ia
sudah menempuh pengobatan secara medis dan non medis, tapi tidak
berhasil.
Pencangkokan tidak menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih berat
bagi repisien dibandingkan dengan keadaan sebelum pencangkokan.
Adapun alasan membolehkannya adalah sebagai berikut:
Al-Quran Surat Al-Baqarah 195 di atas.
Ayat tersebut secara analogis dapat difahami, bahwa Islam tidak
membenarkan pula orang membiarkan dirinya dalam keadaan bahaya
atau tidak berfungsi organ tubuhnya yang sangat vital, tanpa usaha-
usaha penyembuhan termasuk pencangkokan di dalamnya.
Surat Al-Maidah: 32.
Artinya;Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia
seluruhnya.
Ayat ini sangat menghargai tindakan kemanusiaan yang dapat
menyelematkan jiwa manusia.
Dalam kasus ini seseorang yang dengan ikhlas menyumbangkan organ
tubuhnya setelah meninggal, maka Islam membolehkan. Bahkan
memandangnya sebagai amal perbuatan kemanusiaan yang tinggi
nilainya, lantaran menolong jiwa sesama manuysia atau membanatu
berfungsinya kembali organ tubuh sesamanya yang tidak berfungsi.
(Keputusan Fatwa MUI tentang wasiat menghibahkan kornea mata).
Hadits
Artinya:Berobatlah wahai hamba Allah, karen sesungguhnya Allah tidak
meletakkan penyakit kecuali Dia meletakkan jua obatnya,
kecuali satu penyakit yang tidak ada obatnya, yaitu penyakit
tua.
Dalam kasus ini, pengobatannya adalah dengan cara transplantasi organ
tubuh.
Kaidah hukum Islam
Artinya:Kemadharatan harus dihilangkan
Dalam kasus ini bahaya (penyakit) harus dihilangkan dengan cara
transplantasi.
Menurut hukum wasiat, keluarga atau ahli waris harus melaksanakan
wasiat orang yang meninggal.Dalam kasus ini adalah wasiat untuk donor
organ tubuh. Sebaliknya, apabila tidak ada wasiat, maka ahli waris tidak
boleh melaksanakan transplantasi organ tubuh mayat tersebut.
Pendapat yang tidak membolehkan kornea mata adalah seperti
Keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah.
Pendonor tidak akan mendapat pahala dan dosa akibat perbuatan
repisien, berdasarkn dalil-dalil berikut ini:
Firman Allah:
Artinya:Dan sesungguhnya, tidaklah bagi manusia itu kecuali
berdasarkan perbuatannya. Dan perbuatannya itu akan dilihat.
Kemudian akan dibalas dengan balasan yang sempurna.
Firman Allah:
Artinya:Tidaklah seseorang disiksa karena dosa orang lain.
Hadits Rasulullah:
Artinya:Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah semua
amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang
berguna dan anak yang shaleh yang mendoakan kepadanya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Transplantasi organ taubuh yang dilakukan ketika pendonor hidup sehat
maka hukumnya haram.
2. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor sakit (koma),
hukumnya haram.
3. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor telah
meninggal, ada yang berpendapat boleh dan ada yang berpendapat
haram.
















BAB III
III. 1. Pembahasan
Transplantasi organ adalah pemindahan organ dari satu tubuh ke
tubuh yang lainnya atau pemindahan organ dari donor ke resipien yang
organnya mengalami kerusakan. Organ yang sudah dapat ditransplantasi
adalah jantung, ginjal, hati, pancreas, intestine dan kulit, sedangkan jaringan,
adalah kornea mata, tulang, tendo, katup jantung, dan vena. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi transplantasi organ, di satu sisi banyak membantu
orang-orang yang mengalamai kegagalan fungsi organ, tetapi disisi lain
menjadi industri penjualan organ, yang cukup menjanjikan.
Penjualan organ menjadi bisnis besar, bahkan menjadi mafia bisnis
dan sasarannya adalah orang-orang tidak mampu, yang rela menjual organnya
demi uang. Kasus penjualan organ banyak terjadi di negara India, China, Brazil,
Afrika. Bahkan beberapa sendikat penjualan organ manusia berani
memasang iklan untuk mencari pendonor dengan berani akan memberi
sejumlah uang dan bagi penerima organ, asalkan memiliki uang yang banyak,
maka sendikat ini akan mencarikan organ yang dibutuhkan (India abroad
News Service, 2001).
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang baik di bidang
kedokteran, tetapi tidak diikuti dengan pemahaman bioetik yang baik, maka
akan terjadi banyak penyalahgunaan, yang tadinya bertujuan menolong
pasien, bergeser menjadi mencari keuntungan sebesar-besarnya, dengan
mengeksploitasi organ manusia.
Kebutuhan akan organ yang sangat tinggi berdampak pada
semakin banyaknya jual-beli organ tubuh manusia di pasar gelap. Menurut
jurnal kesehatan The Lancet, harga ginjal di pasaran dapat mencapai
15.000 dollar AS. Kesulitan mencari donor di Indonesia membuat
penderita gagal ginjal harus mencari ginjal sampai ke negeri Cina ataupun
India. Walaupun tidak murah, persediaan organ yang sangat banyak membuat
mereka tertarik menjalani transplantasi di sana.
Sindikat penjualan organ manusia ternyata sudah lama diketahui,
akan tetapi seperti tidak ada penyelesaian yang berarti, pemerintah setempat
seperti tidak berdaya, badan dunia seperti WHO, terlihat berusaha
mengatasinya dengan memberikan rambu-rambu prosedur transplantasi
organ, yang diatur dalam suatu deklarasi di Istambul yang mengatur
transplantasi dan penjualan organ (International Summit, 2008).
Dengan melibatkan semua pihak, seperti tim medis, peneliti,
pemerintah, organisasi sosial, permasalahan penjualan organ ini dapat diatasi
dengan baik. Karena transplantasi sebenarnya diperlukan dalam rangka
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan, sebagaimana dituangkan
di dalam Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan, yang berbunyi sebagai berikut: Penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui transplantasi organ dan / atau
jaringan tubuh, implan obat dan / atau alat kesehatan, bedah plastik dan
rekonstruksi, serta penggunaan sel punca. Namun demikian, cara untuk
memperoleh organ tubuh harus dilakukan sesuai dengan aturan hukum yang
berlaku agar tindakan ini tidaklah masuk dalam tindakan melawan hukum atau
dapat disebut kriminal.









BAB IV
IV. 1. Kesimpulan
Transplantasi organ adalah hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang patut disyukuri, karena harapan untuk sembuh setelah
divonis kegagalan fungsi organ dapat terwujud. Hukum pelaksanaan
transplantasi organ itu bergantung pada alasan mengapa harus
melakukan hal tersebut. Jika alasannya tidak mendukung maka kegiatan
transplantasi tesebut sangat dilarang dan hukumnya haram serta ilegal.
Program transplantasi organ ini pun membawa dampak negatif, dengan
munculnya penjualan organ manusia.
IV. 2. Saran
Jika kita harus melakukan transplantasi organ, maka seharusnya
memenuhi persyaratan-persyaratan yang tidak merugikan pihak-pihak yang
berkaitan, baik dari pendonor maupun resipien, serta harus memenuhi kaidah
atau syarat-syarat Islam. Pemahaman bioetik pada semua pihak yang terlibat
dalam transplantasi organ diharapkan dapat menghentikan penjualan
organ manusia, dan pengawasan badan yang berkompeten.








Daftar Pustaka
Gani, H. M. 2007. Hukum Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang.
Hanafiah, Jusuf M. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. EGC.
Jakarta.
Harian Umum Kompas, Tanggal 28 Januari 2008. Jaringan Bisnis Organ Ginjal
Orang Terbongkar.
India Abroad News Service (2001). Adoption Body Suspects Organ Sale racket
in Andhra Pradesh. http://www.vachss.com/
International Summit (2008). The Declaration of Istambul on Organ
Trafficking and Transplant Tourism. The Council of American
Society of Nehprology.
Muchlisin, Achmad., dkk. 2004. Transplantasi Organ dan Immunosupressant.
Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1981 Tentang Bedah Mayat Klinis
dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau
Jaringan Tubuh Manusia.
Rotgers, F. 2007. Bioethics and Addiction Treatment. ProQues Healt and
Medical complete (5): 29-33.
Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan