Anda di halaman 1dari 18

1

AKAD NIKAH

A. Pendahuluan
Pernikahan adalah suatu ikatan yang dapat menyatukan dua insan
antara laki-laki dan wanita untuk hidup bersama. Tetapi untuk melaksanakan
pernikahan, ada rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Karena rukun dan
syarat menentukan suatu perbuatan hukum, terutama yang menyangkut
dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua kata
tersebut mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan
sesuatu yang harus diadakan.
Dalam suatu acara perkawinan umpamanya rukun dan syaratnya
tidak boleh tertinggal, dalam arti perkawinan tidak sah bila keduanya tidak
ada atau tidak lengkap. Dalam hal hukum perkawinan, dalam menempatkan
mana yang rukun dan mana yang syarat terdapat perbedaan, tetapi perbedaan
di antara pendapat tersebut disebabkan oleh karena berbeda dalam melihat
fokus perkawinan itu. Tetapi semua ulama sependapat dalam hal-hal yang
terlibat dan yang harus ada dalam suatu perkawinan salah satunya yaitu akad
nikah atau perkawinan.
Pada kesempatan kali ini kami pemakalah diberikan kepercayaan
untuk sedikit mengulas tentang rukun pernikahan dalam hal ini adalah akad
nikah. Kami akan membahas tentang definisi, lafadz yang boleh digunakan
dalam akad nikah dan dalam hal ini para ulama banyak mengeluarkan
pendapat tentang hal tersebut dan hal-hal lain yang terkait dengan akad nikah.
2

Semoga apa yang pemakalah sajikan dapat bermanfaat bagi
pemakalah sendiri dan umumnya untuk kita semua, hal-hal yang kurang
sempurna dan banyak kesalahan baik dalam penulisan maupun pembahasan
kami memohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami menerima setiap
komentar, kritik dan saran untuk dapat memperbaiki makalah kami yang kami
sadari penuh dengan kekurangan.


B. Pembahasan
1. Pengertian Akad Nikah
Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua
pihak yang melangsungkan perkawinan dalam bentuk ijab dan qabul.1 Ijab
adalah lafadz yang berasal dari wali atau orang yang mewakilinya, sedangkan
qabul adalah lafadz yang berasal dari suami atau orang yang mewakilinya.

2. Syarat Ijab Qabul
Untuk terjadinya aqad yang mempunyai akibat-akibat hukum pada
suami istri haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :2
a. Kedua mempelai sudah tamyiz.
Bila salah satu pihak ada yang gila atau masih kecil dan belum tamyiz,
maka pernikahan tidak sah.
b. Ijab qabulnya dalam satu majlis..

1 Amir Syarifuddin. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. (Jakarta: Kencana,
2007). Hal. 61
2 Sayyid Sabiq. Fikih Sunnah Jilid 6. (Bandung: PT. Almaarif, 1980). Hal. 53
3

Yaitu ketika mengucapkan ijab qabul tidak boleh diselingi dengan kata-
kata lain, atau menurut adat dianggap ada penyelingan yang menghalangi
peristiwa ijab dan qabul. Hal ini diperkuat di dalam KHI Pasal 27,3 bahwa
ijab dan qabul antara wali dan calon mempelai pria harus jelas, beruntun dan
tidak diselangi waktu. Hal ini juga didukung oleh Syafii dan Hanbali,
sementara Maliki penyelingan yang sekedarnya, misalnya oleh khutbah nikah
yang pendek tidak apa-apa. Sedangkan mazhab Hanafi tidak mensyaratkan
segera.4
c. Hendaklah ucapan qabul tidak menyalahi ucapan ijab.
d. Pihak-pihak yang melakukan aqad harus dapat mendengarkan
pernyataan masing-masingnya. Dikuatkan pula di dalam KHI Pasal 27 bahwa
ijab dan qabul harus jelas sehingga dapat didengar.
3. Lafadz Dalam Ijab Qabul
Ibnu Taimiyah mengatakan, aqad nikah ijab kabulnya boleh
dilakukan dengan bahasa, kata-kata atau perbuatan apa saja yang oleh
masyarakat umumnya dianggap sudah menyatakan terjadinya nikah.
Para Ulama Mazhab sepakat bahwa nikah itu sah bila dilakukan
dengan menggunakan redaksi aku mengawinkan atau aku menikahkan
dari pihak yang dilamar atau orang yang mewakilinya dan redaksi aku
terima atau aku setuju dari pihak yang melamar atau orang yang

3 Tim Redaksi FOKUSMEDIA. Kompilasi Hukum Islam. (Bandung:
FOKUSMEDIA, 2007). Hal. 13.
4 Abdur Rahman al-Jaziri. Kitabul Fiqh alal Madzahib al-Arbaah Juz 4. (Beirut:
Daarul Fikr, 2003). Hal. 14.
4

mewakilinya.5 Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang sahnya akad
nikah yang tidak menggunakan redaksi fiil madhi atau menggunakan lafadz
selain nikah atau kawin.
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa akad boleh dilakukan dengan
segala redaksi yang menunjukan maksud menikah, bahkan sekalipun dengan
lafadz at-tamlik (pemilikan), al-hibah (penyerahan), al-bay (penjualan), al-
atha (pemberian), al-ibahah (pembolehan), dan al-ihlal (penghalalan),
sepanjang akad tersebut disertai dengan qarinah yang menunjukkan arti
nikah. Akan tetapi akad tidak sah jika dilakukan dengan lafadz al-ijarah
(upah) atau al-ariyah (pinjaman), sebab kedua kata tersebut tidak memberi
arti kelestarian atau kontinuitas.6
Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa akad nikah dianggap sah
jika menggunakan lafadz al-nikah dan al-zawaj. Juga dianggap sah dengan
lafadz al-hibah, dengan syarat harus disertai penyebutan mas kawin, selain
kata-kata tersebut di atas tidak dianggap sah.
Sementara itu, mazhab Syafii berpendapat bahwa redaksi akad
harus merupakan kata dari lafadz al-tazwij dan al-nikah saja, selain itu tidak
sah.7


4. Ijab Qabul Orang Bisu

5 Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Lima Mazhab. (Jakarta: LENTERA, 2005).
Hal. 309.
6 Abdur Rahman al-Jaziri. Op.Cit. Hal. 13.
7 Muhammad Jawad Mughniyah. Op.Cit. Hal. 311.
5

Ijab qabul orang bisu sah dengan isyaratnya, bilamana dapat
dimengerti, sebagaimana halnya dengan akad jual belinya yang sah dengan
jalan isyaratnya. Tetapi Pengadilan Agama (Mesir) dalam pasal 28
menetapkan bahwa orang bisu yang bisa menulis, pernyataan dengan isyarat
dianggap tidak sah.8

5. Mendahulukan Pihak Perempuan Atau Laki-Laki
Dalam akad nikah itu tidak disyaratkan harus mendahulukan salah
satu pihak. Jadi mendahulukan pihak laki-laki atau perempuan itu sama saja
(sah). Sebagaimana dimaklumi dalam kitab-kitab fiqh dan andaikata salah
satu akad tersebut tidak benar, maka dalam kitab Syarkhur Raudahh9
diterangkan bahwa kesalahan dalam susunan kata-kata tidak merusakkan.
Sesungguhnya kesalahan dalam redaksional selama tidak merusak
pengertian yang dimaksud, seyogyanya disamakan dengan kesalahan dalam
tata bahasa, sehingga tidak berpengaruh pada keabsahannya.
Di dalam kitab mughni muhtaj pun dikatakan bahwa ijab boleh
dilakukan oleh sang calon suami, sedangkan qabulnya diucapkan oleh wali
sang mempelai wanita.

C. Shigat akad yang dikaitkan dengan persyaratan
Terkadang ucapan ijab qobul itu diembel-embeli dengan suatu syarat,
atau dengan menangguhkan pada sesuatu yang akan datang, atau untuk waktu

8 Amir Syarifuddin. Op.Cit. hal. 59.
9 Ahkamul Fuqaha: Solusi Problematika Aktual Hukum Islam. (Surabaya: LTN NU
Jawa Timur, 2004). Hal. 120.
6

tertentu, atau dikaitkan dengan suatu syarat. Dalam keadaan yang seperti ini
maka aqad nikahnya dianggap tidak sah,berikut penjelasan lebih rincinya.
1. Ijab qobul yang disyaratkan dengan suatu syarat tertentu
Ijab qobul yang disyartkan dengan suatu syarat tertentu yaitu bahwa
pernikahannya dihubung-hubungkan dengan sesuatu syarat lain, umpamanya
peminang mengatakan :
Kalau saya sudah dapat pekerjaan, puteri bapak saya kawin.
Lalu ayahnya menjawab ;
Saya terima .
Maka akad nikah seperti ini tidak sah, sebab pernikahanya dihubung-
hubungkan dengan sesuatu yang akan terjadi yang boleh jadi tidak terwujud.
Padahal ijab qobul itu berarti telah memberikan kekuasaan untuk
menikmatinya sekarang, yang oelh karena itu tidak boleh ada tenggang waktu
antara syaratnya, yang di sini dengan contoh mendapat pekerjaan, yang
ketikan diucapkan belum ada., sedang menghubungkan kepada sesuatu yang
belum ada berarti tidak ada.Jadi, berarti pernikahanya pun tidak ada.
Jika akad nikahnya dikaitkan dengan sesuatu yang dapat diwujudkan
seketika itu juga, maka akad nikahnya sah, umpamanya peminang
mengatakan :
Jika puteri bapak umurnya sudah 20 tahun, saya kawini dia, lalu
ayahnya menjawab:
Saya terima.dan ketika itu mamang anaknya sudah berumur 20 tahun.
Begitu pula jika puterinya mengatakan :
7

Kalau ayah setuju, saya mau kawin dengan kamu.Lalu laki-lakinya
menjawab saya terima dan ayahnya yang ada di majlisnya itu mengatakan :
Saya terima. Sebab embel-embel yang terjadi di sini bersifat formalitas,
sedangkan apa yang diucapkan dalam kenyataannya sudah terbukti ketika itu
juga.10
2. Ijab qobul yang dikaitkan dengan waktu yang akan datang
Contohnya : Peminang berkata :
Saya kawini puteri bapak besok atau bulan depan.
Lalu ayahnya menjawab :
Saya terima.
Ijab qobul dengan ucapan seperti ini tidak sah, baik ketika itu maupun
kelah setelah tibanya waktu yang ditentukan itu.
Sebab mengaitkan dengan waktu akan datang berarti meniadakan ojab
qobul yang memberikan hak (kakuasaan) menikmati sekeriak itu dari
pasangan yang mengadakan akad nikah.
3. Akad nikah untuk sementara waktu
Jika akad nikah dinyatakan untuk sebulan atau lebih atau kurang, amka
pernikahannya tidak sah, sebab kawin itu dimaksudkan untuk bergaul secara
langgeng guna mendapatkan anak, memelihara keturunan dan mendidik
mereka. Karena itu para ahli menyatakan bahwa kawin mutah dan kawin
cina buta tidak sah. Karena yang pertama bermaksud bersenang-senang

10 Moh. RifaI, Ilmu Fiqih Islam Lengkap. Semarang:Toha Putra,1978.hlm, 63
8

sementara saja, sedang yang kedua bermaksud menghalalkan bekas suami
perempuan tadi dapat kembali kawin dengannya.

D. Nikah Syigar
Nikah syigar yaitu seorang wali mengawinkan puterinya dengan seorang
laki-laki dengan syarat agar laki-laki tadi mengawini puternya dengan tanpa
bayar mahar. Rasul melarang kawin semacam ini. Beliau bersabda :
Tidak ada Syigar dalam Islam(HR. Muslim dan Ibnu Umar)
Berdasar hadits tadi, jumhur ulama berpendapat pada pokoknya kawin
syigar itu tidak diakui, karena hukumnya batal. Tetappi ibnu Hanifah
berpendapat kawin syigar itu sah, hanya tiap-tiap anak perempuan yang
bersangkutan wajjib mendapatkan mahar yang sepadan dari masing-masing
suaminya karena kedua laki-laki yang menjadikan pertukaran anak
perempuannya sebagai mahar tidaklah tepat, sebab wanita itu bukan sebagai
barang yang dapat dipertukarkan sesama mereka . dalam perkawinan ini yang
batal adalah segi maharnya, bukan pada akadnyya.
Sebab larangan nikah Syigar :11
a. Sifatnya masih menggantung, umpamanya dikatakan begini ; Tidaklah
saudara dapat menjadi istri anakku sebelum anak saudara jadi istri saya.
b. Karena menjadikan kelamin sebagai hak bersama, dimana kelamin
masing-masing pihak dijadikan sebagi pembayaran mahar yang satu
kepada yang lain, padaha perempuan tidak mendapat faedahnya.

11 Abd Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat.Bogor:Kencana,2003.hlm, 27
9

Hal itu tentu mendholimi kedua perempuan tersebut dan merampas hak
mahar dari perkawinanya. Kata Ibnul Qoyyim : Oendapat ini sesuai dengan
asal kata Syigar.

E. Nikah Mutah
Nikah mutah mengemuka setelah beberapa orang terkenal di negeri ini
melakukannya secara diam-diam, namun tercium oleh pers, sehingga
menimbulkan kontroversi di kalangan ummat Islam. Nikah Mutah atau lebih
dikenal dengan kawin kontrak adalah perkawinan antara seorang lelaki dan
wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang
berakhir dengan habisnya masa tersebut. Suami tidak berkewajiban
memberikan nafkah dan tempat tinggal kepada isteri serta tidak menimbulkan
pewarisan antara keduanya.
Ada 6 (enam) perbedaan prinsip antara nikah mutah dan nikah sunni,
sebagaimnana dikutip oleh Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam
Indonesia LPPI, yaitu:12
a. Nikah mutah dibatasi oleh waktu, sedangkan nikah sunni tidak dibatasi
b. Nikah mutah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam
akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau
meninggal dunia
c. Nikah mutah tidak berakibat saling mewarisi antara suami isteri,
sedangkan nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya

12 Rusyd,Ibnu.Biddayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid Jilid 2.Bandung:
Trigenda Karya,1996, hlm, 118
10

d. Nikah mutah tidak membatasi jumlah isteri, sedangkan nikah sunni
dibatasi dengan jumlah isteri hingga maksimal empat orang
e. Nikah mutah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, sedangkan nikah
sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi
f. Nikah mutah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada
isteri Nikah mutah atau kawin kontrak sebenarnya merupakan tradisi
Kaum Syiah.
Hal ini dimungkinkan karena adanya salah penafsiran atau
pemutarbalikan ayat-ayat al-Quran maupun hadits Rasulullah s.a.w. oleh
para mufassirin (ahli tafsir) Syiah. Mufassirin Syiah yang sangat terkenal
dalam membela dihalalkannya nikah mutah adalah Fathullah Al-Kasyani,
sebagaimana ditulis dalam kitab Tafsir Manhaj, Dikatakan oleh beliau bahwa
nikah mutah adalah keistimewaan yang diberikan kepada Rasulullah, dan
barang siapa melakukan mutah sekali dalam hidupnya, maka ia akan menjadi
ahli surga, dan orang yang mengingkari mutah dianggap kafir murtad.
Sedangkan Abu Jafar Asth-Thusi dalam kitabnya At-Tahdzif menyatakan
bahwa Abu Abdillah a.s. (Imam Syiaah yang dianggap suci) memberikan
pernyataan bahwa kawinlah (secara mutah) dengan seribu orang dari
mereka karea mereka adalah wanita sewaan, tidak ada talak dan tidak ada
waris dia hanya anita sewaan. Fathullah al-Kasyani menyatakan bahwa
rukun nikah mutah adalah suami, isteri, mahar, pembatasan waktu (taukit)
dan shighat ijab kabul. Sedangkan syaratnya adalah cukup dengan akad
(transaksi) antara dua orang yang ingin bersenang-senang (mutah) tanpa ada
11

saksi, terbebas dari beban nafkah, tanpa dibatasi jumlah wanita (boleh dengan
seribu wanita sekalipun), tidak ada hak mewarisi, tidak diperlukan wali, tidak
dibatasi waktu, wanita yang dimutah statusnya sama dengan wanita sewaan
atau budak (Risalah Dakwah Al-Hujjah No. 48 tahun IV Shafar 1423).
Hukum Nikah Mutah
Majelis Ulama Indonesia dalam fatwanya tanggal 25 Oktober 1997
menetapkan bahwa Nikah Mutah hukumnya HARAM, dan pelaku nikah
mutah dihadapkan ke pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-
perundangan yang berlaku. Dasar pertimbangannnya adalah pertama bahwa
nikah mutah mulai banyak dilakukan terutama dilakukan oleh kalangan
pemuda dan mahasiswa. Kedua, praktek nikah mutah telah menimbulkan
keprihatinan, kekhawatiran dan keresahan bagi para orang tua, ulama,
pendidik, tokoh masyarakat dan ummat Islam, serta dipandang sebagai alat
propaganda paham Syiah di Indonesia. Ketiga, bahwa mayoritas ummat
Islam Indonesia adalah penganut paham Sunni yang tidak mengakui dan
menolak paham Syiah.
Adapun dalil-dalil yang menjadi dasar keharaman nikah mutah adalah
sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mukminun ayat 5 dan 6 serta
hadits Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Pengharaman nikah mutah oleh Nabi s.a.w. disabdakan sebanyak 2 (dua)
kali, yaitu tatkala terjadi perang Khaibar pada tahun 7 Hijrah dan kedua pada
Fathu Makkah pada tahun 8 Hijrah. Dari Ali ibn Abi Thalib r.a. ia berkata
kepada Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi s.a.w. melarang nikah mutah dan
12

memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar. Diriwayatkan dari
Sabrah bin Mabad Al-Juhani, ia berkata: kami bersama Rasulullah s.a.w.
dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara
sepupu kami dan bertemu dengan wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita
tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh
saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: ada selimut seperti selimut.
Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan
harinya aku pergi ke Masjidil Haram dan tiba-tiba aku melihat Nabi s.a.w.
sedang berpidato di antara pintu Kabah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda:
Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk
melakukan nikah mutah, maka sekarang yang memiliki isteri dengan cara
nikah mutah haruslah ia menceraikannya dan segala sesuatu yang telah
kalian berikan kepadanya janganlah kalian ambil lagi, karena Allah Azza wa
Jalla telah mengharamkan nikah mutah sampai hari Qiyamat.
Semua madzhab, baik madzhab Hanafi, madzhab Maliki, Madzhab
Syafii dan Madzhab Hambali juga mengharamkan nikah mutah, karena
memang telah dilarang Allah dan Rasul-Nya, dan hadits-hadits yang
mengharamkan nikah mutah dianggap telah mencapai peringkat mutawatir.
Nikah Mutah dan Martabat Wanita
Hikmah dilarangnya nikah mutah, khususnya di kalangan kaum Sunni
adalah untuk menjaga martabat wanita itu sendiri. Dengan melihat syarat dan
rukun nikah mutah yang sangat sederhana, maka wanita tak ubahnya bagai
barang mainan, yang pada akhirnya dapat menjerumuskan seorang wanita
13

dalam lembah pelacuran terselubung. Karena wanita yang dinikahi dengan
menggunakan cara nikah mutah pada hakikatnya hanya untuk pemuas nafsu
belaka (bersenang-senang dalam waktu sesaat).Padahal dalam Islam, lembaga
pernikahan dibentuk dalam rangka menjunjung harkat dan martabat wanita.
Syarat dan rukun nikah adalah salah satu bentuk nyata bagaimana Islam
memuliakan wanita. Tanpa memenuhi syarat dan rukun nikah, maka seorang
laki-laki tak akan bisa menikahi seorang wanita dan membentuk sebuah
lembaga pernikahan. Tujuan disyariatkannya lembaga pernikahan adalah
untuk mewujudkan keluarga yang bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah.
Usaha mewujudkan keluarga bahagia, sakinah mawadah wa rahmah tidak
dapat diwujudkan hanya dalam waktu sesaat atau dalam waktu singkat (sehari
atau dua hari), namun diperlukan rentang waktu yang panjang dengan
pembinaan yang simultan antara suami dan isteri. Karena pada tahapan
selanjutnya, tugas lembaga pernikahan adalah membentuk peradaban dan
menjadi khalifah di muka bumi (dunia).

F. Nikah Tahlil
Yaitu seorang laki-laki mengawini perempuan yang telah ditalak tiga kali
sehabis masa iddahnya kemudian mentalaknya dengan maksud agar bekas
suaminya yang pertama dapat kawin lagi dengan dia kembali.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud r.a, bawha Rasulullah saw.
melaknat muhalil, yaitu orang yang menikahi wanita dengan tujuan
menghalalkan wanita itu bagi suaminya yang telah menjatuhkan talaq tiga
14

atasnya dan juga melaknat muhalal lahu, yaitu seorang suami yang telah
mentalak tiga isterinya lalu menyuruh orang lain dengan tujuan
menghalalkannya untuk dirinya.
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir r.a, ia berkata, Rasulullah saw.
bersabda, Maukah kalian aku beritahu tentang kambing penjantan? Tentu
saja wahai Rasulullah! sahut mereka. Rasul Bersabda, Yaitu muhallil, Allah
melaknat muhallil dan muhallil lahi, (Shahih, HR at-Tirmidzi [1120] dan
an-Nasai [VI/149]).
Kandungan Bab:
a. Kerasnya pengharaman nikah tahlil. Karena biasanya laknat dijatuhkan
atas dosa besar. At-Tirmidzi berkata, Inilah yang diamalkan oleh ahli
ilmu dari kalangan sahabat r.a, diantaranya adalah Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan, Abdullah bin Umar dan lainnya. Dan ini juga pendapat
para fuqaha dari kalangan tabiin serta pendapat yang dipilih oleh Sufyan
ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, asy-Syafii, Ahmad dan Ishaq.
b. Wanita yang telah ditalak tiga tidak halal bagi suami yang telah
mentalaqnya hingga ia menikah dengan laki-laki lain dan menyetubuhinya.
Ia mencicipi madu laki-laki itu dan sebaliknya. Hubungan nikah yang
disertai hasrat birahi. Jika kemudian laki-laki itu mentalaqnya barulah ia
halal dinikahi oleh suaminya yang pertama tadi. Jika laki-laki itu tetap
mempertahankannya (tidak mentalaqnya) maka tidak halal bagi suami
pertamanya tadi untuk menuntut agar laki-laki itu menceraikan mantan
isterinya.
15

c. Barangsiapa menikahi wanita yang telah ditalaq tiga untuk
menghalalkannya bagi mantan suami yang telah mentalaqnya maka ia
jatuh dalam laknat. Berdasarkan riwayat shahih dari Abdullah bin Umar
r.a, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya bertanya tentang seorang
laki-laki yang mentalaq tiga isterinya lalu saudara laki-lakinya menikahi
mantan isterinya itu dengan tujuan menghalalkan mantan isterinya itu
untuknya tanpa ada kesepakatan antara keduanya. Apakah hal itu boleh
dilakukannya? Abdullah bin Umar menjawab, Tidak boleh, kecuali
pernikahan yang disertai dengan hasrat birahi. Kami menganggap
perbuatan itu seperti perzinaan pada masa Rasulullah saw, (Shahih, HR
al-Hakim [II/199] dan al-Baihaqi [VII/208]).
Ibnu Umar pernah ditanya tentang nikah tahlil untuk menghalalkan
seorang wanita dengan mantan suaminya. Beliau menjawab, Itu adalah
perzinaan, kalaulah Umar mengetahui kalian melakukannya niscaya ia akan
menghukum kalian, (Shahih, HR Ibnu Abi Syaibah [IV/294]).
Akan tetapi ashabur rayi menyelisihinya, mereka mengatakan, Ini
adalah perbuatan baik untuk saudaranya seislam dan niat baik untuk merajut
kembali hubungan mereka, anak-anak mereka dan keluarga mereka. Ia
termasuk orang yang berbuat baik, dan tidak ada cela atas orang yang berbuat
baik, apalagi dijatuhi laknat Rasulullah atas mereka!
Sebagaimana yang dikatakan oleh at-Tirmidzi bahwa sebagian ahli ilmu
mengatakan, Pendapat ashabur rayi dalam masalah ini harus dibuang jauh-
jauh.
16

Asy-Syaukani berkata dalam kitab Nailul Authar (VI/277), Tentu tidak
samar lagi perkataan itu jauh sekali dari kebenaran, bahkan termasuk jidal
dengan kebatilan dan dusta. Bantahannya tidak samar lagi atas orang yang
berilmu.
1. Sebagian ahli ilmu mengatakan, Jika seorang laki-laki menikahi
wanita dengan tujuan menghalalkannya (untuk manta suaminya) kemudian ia
berubah pikiran untuk tetap mempertahankannya sebagai isteri maka halal
baginya sehingga ia memperbarui akad nikahnya dengan wanita tersebut.
Saya katakan, Pendapat yang benar adalah sebaliknya, ia boleh
mempertahankannya sebagai isteri tanpa harus memperbarui akad nikahnya.
Sebagaimana yang dinukil secara shahih dari Umar bin Khattab r.a, bahwa
ada seorang wanita menikahkan dirinya sendiri dengan seorang laki-laki
untuk menghalalkannya dengan mantan suaminya. Umar bin Khattab
memerintahkan agar laki-laki itu tetap mempertahankan si wanita dan tidak
mentalaknya dengan mengancam akan menghukumnya bila ia mentalaknya.
Hal itu berarti nikah mereka sah tanpa harus memperbarui akad, wallahu
alam.
G. Kesimpulan
Para ahli fiqih mensyaratkan ucapan ijab qobul itu dengan lafadz fiil
madhi atau salah satunya dengan fiil madhi dan yang lain fiil mustaqbal.
Ijab qobul brsifat muthlaq, dan kata-kata yang digunakan dapat dipahami oleh
masing-masing pihak.
17

Nikah yang dikaitkan dengan syarat tertentu, ada yang dianggap sah dan
ada yang tidak, tergantung pada hal apa syarat itu.
Nikah syigar yaitu seorang wali mengawinkan puterinya dengan seorang
laki-laki dengan syarat agar laki-laki tadi mengawini puternya dengan tanpa
bayar mahar.
Nikah Mutah adalah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita
dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir
dengan habisnya masa tersebut.
Nikah tahlil yaitu seorang laki-laki mengawini perempuan yang telah
ditalak tiga kali sehabis masa iddahnya kemudian mentalaknya dengan
maksud agar bekas suaminya yang pertama dapat kawin lagi dengan dia
kembali.











18

Daftar Pustaka

A.B., Afif Muhammad, Idrus al-Kaff. Jakarta: LENTERA, Ahkamul Fuqaha :
Solusi Problematika Aktual Hukum Islam. Penerjemah, Ibnu Khatib
Asy-Syarbini, 2005.
Al-Jaziri, Abdur Rahman. Kitabul Fiqh Al-Arbaah. Beirut: Daarul Fikr, 2003.
Ghazali, Abd Rahman. Fiqh Munakahat.Bogor:Kencana,2003.
Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih Lima Mazhab. Penerjemah, Masykur
RifaI,Moh. Ilmu Fiqih Islam Lengkap. Semarang:Toha Putra,1978.
Rusyd,Ibnu.Biddayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid Jilid 2.Bandung:
Trigenda Karya,1996
Sabiq, Sayyid. Fikih Sunnah. Penerjemah Moh. Tholib. Bandung : PT.
Almaarif, 1980.
Syamsuddin Muhammad. Mughni Muhtaj. Beirut: Daarul Marifah, 1997.
Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta:
Kencana, 2007.
Tim Redaksi. Kompilasi Hukum Islam. Bandung: FOKUSMEDIA, 2007.