Anda di halaman 1dari 15

DERMATITIS KONTAK

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Sistem Integumen

Disusun oleh :

Lisdian Widowati 220110120088 Entri Aprilia 220110120096
Anggi Putri Ariyani 220110120102 Janna Nahdya Nurrozi 220110120110
Fiska Oktori 220110120116 Eka Ratnasari 220110120122
Maryam Jamilah 220110120129 Ulfathea Mulyadita 220110120135
Sellyan Septiani Berly 220110120142 Siti Hanifah Rahmawati F 220110120148
Widya Dahlia Juwita 220110120154 Wenda Rizki Putri 220110120162
Wita Lestari 220110120168











Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Padjadjaran
2013 / 2014
PENDAHULUAN
Kulit merupakan organ tubuh yang terpenting yang berfungsi sebagai sawar (barrier),
karena kulit merupakan organ pemisah antara bagian di dalam tubuh dengan lingkungan
di luar tubuh. Kulit secara terus-menerus terpajan terhadap faktor lingkungan, berupa
faktor fisik, kimiawi, maupun biologik.
Bagian terpenting kulit untuk menjalankan fungsinya sebagai sawar adalah lapisan paling
luar, disebut sebagai stratum korneum atau kulit ari. Meskipun ketebalan kulit hanya 15
milimikro, namun sangat berfungsi sebagai penyaring benda asing yang masuk ke dalam
tubuh. Apabila terjadi kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan melampaui
kapasitas toleransi serta daya penyembuhan kulit, maka akan terjadi penyakit.
Kulit adalah bagian tubuh manusia yang cukup sensisitif terhadap berbagai macam
penyakit. Penyakit kulit bisa disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya, faktor
lingkungan dan kebiasaan sehari-hari. Lingkungan yang sehat dan bersih akan membawa
efek yang baik bagi kulit. Demikian pula sebaliknya. Salah satu lingkungan yang perlu
diperhatikan adalah lingkungan kerja, yang bila tidak dijaga dengan baik dapat menjadi
sumber munculnya berbagai penyakit kulit.

Penyakit kulit akibat kerja adalah semua keadaan patologis kulit dengan pajanan pada
pekerjaan sebagai faktor penyebab utama atau hanya sebagai faktor penunjang.
Menurut Evita Halim dan Retno Widowati dalam buku Pedoman Diagnosis Penilaian
Cacat karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja, penyakit kulit akibat kerja adalah
setiap penyakit kulit yang disebabkan oleh pekerja atau lingkungan kerja. Meliputi
penyakit kulit baru yang timbul karena pekerjaan atau lingkungan kerja dan penyakit
kulit lama yang kambuh karena pekerjaan atau lingkungan kerja.
Sejak dahulu di seluruh dunia telah dikenal adanya reaksi tubuh terhadap bahan atau
material yang ada di lingkungan kerja. Dalam Ilmu Kesehatan Kulit dikenal, pada
individu atau pekerja tertentu baik yang berada di negara berkembang maupun di negara
maju, dapat mengalami kelainan kulit akibat pekerjaannya. Penyakit Kulit Akibat Kerja
(PAK) dikenal secara populer karena berdampak langsung terhadap pekerja yang secara
ekonomis masih produktif. Istilah PAK dapat diartikan sebagai kelainan kulit yang
terbukti diperberat oleh jenis pekerjaannya, atau penyakit kulit yang lebih mudah terjadi
karena pekerjaan yang dilakukan.
Apabila ditinjau lebih lanjut, penyakit kulit akibat kerja (PKAK) sebagai salah satu
bentuk penyakit akibat kerja, merupakan jenis penyakit akibat kerja terbanyak yang
kedua setelah penyakit muskulo-skeletal, berjumlah sekitar 22 persen dari seluruh
penyakit akibat kerja. Data di Inggris menunjukkan 1.29 kasus per 1000 pekerja
merupakan dermatitis akibat kerja. Apabila ditinjau dari jenis penyakit kulit akibat kerja,
maka lebih dari 95% merupakan dermatitis kontak.

















ISI
I. Definisi
Dermatitis kontak adalah kondisi peradangan pada kulit yang disebabkan oleh faktor
eksternal, substansi-substansi partikel yang berinteraksi dengan kulit (National
Occupational Health and Safety Commision, 2006).
Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan dan
dermatitis kontak alergik, keduanya dapat bersifat akut maupun kronis (Djuanda,
2003).
- Dermatitis Kontak Iritan adalah akibat luka langsung yang terjadi pada kulit oleh
iritan, misalnya pelarut atau detergen. Dermatitis iritan tidak melibatkan sistem
imun, hanya respon peradangan.
- Dermatiti Kontak Alergi adalah reaksi imunologi pada kulit dan cenderung lebih
berat. Dermatitis kontak alergi terjadi karena sel Langerhans mengolah dan
menyajikan suatu alergen ke sel T di dekatnya. Sel T menanggapinya dengan
respons hipersensitivitas tipe IV terhadap alergen. Respons tersebut bersifat
lambat yaitu memerlukan waktu beberapa jam atau beberapa hari muncul.
Tidak seperti iritan, alergen cenderung memicu timbulnya dermatitis secara langsung,
walaupun jumlah alergen sangat kecil dan kadarnya rendah.


II. Etiologi
Penyebab munculnya Dermatitis Kontak Iritan adalah yang sering dijumpai adalah
bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam alkali, serbuk kayu, bahan abrasif,
enzim, minyak, larutan garam konsentrat, plastik berat molekul rendah atau bahan
kimia higroskopik.
Penyebab munculnya Dermatitis Kontak Alergi yang sering dijumpai adalah
poison ivy atau poison oak dan bahan-bahan kimia yang terdapat pada perhiasan.
Beberapa makanan dan cabe juga dapat menyebabkan dermatitis kontak.
Kelainan kulit yang muncul bergantung pada beberapa faktor, meliputi faktor dari
iritan itu sendiri, faktor lingkungan dan faktor individu penderita (Strait, 2001;
Djuanda, 2003).


III. Faktor Resiko

Dermatitis Kontak Alergen
potensi sensitisasi alergen
dosis per unit area
luas daerah yang terkena
lama pajanan, oklusi, suhu dan kelembapan lingkungan, vehikulum serta pH
Faktor individu juga berperan dalam penyakit ini misalnya keadaan kulit pada
lokasi kontak (keadaan atratum korneum, ketebalan epidermis), status imunologik
misalnya sedang menderita sakit, terpajan sinar matahari.

Dermatitis Kontak Iritan
Ketebalan kulit relatif kurang
Anak-anak berusia kurang dari 8 tahun dan usia lanjut lebih mudah teriritasi
Wanita lebih sering terkena dibanding pria
Kulit putih
Ada penyakit kulit yang sedang atau pernah dialami
Suhu dan kelembapan lingkungan juga ikut berperan
Faktor individu juga ikut berpengaruh pada DKI, misalnya perbedaan ketebalan kulit
di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas
usia misalnya anak di bwah 8 tahun dan usia lanjut lebih mudah teriritasi
ras (kulit hitam lebih tahan daripada kulit putih
jenis kelamin (DKI lebih banyak terjadi pada wanita)
penyakit kulit yang pernah atau sedang di alami misalnya dermatitis atopik.


IV. Manifestasi
Dermatitis Kontak Alergen:
umumnya gatal
pada dermatitis kontak yang akut gejalanya ditandai bercak eritematosa
yang berbatas jelas kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau
bula. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi
(basah). Pada dermatitis kontak yang kronis terlihat kulit kering,
berskuama, papul, likenifikasi dan mungkin juga fisur, batasnya tidak
jelas. DKA dapat meluas ke tempat lain, misalnya dengan cara
autosensitisasi

Dermatitis Kontak Iritan:
eritema
edema
panas
nyeri, terutama jika iritan kuat
Jika iritan lemah, kelainan pada kulit dapat terjadi pada kontak berulang.
Awalnya terjadi kerusakan stratum korneum karena delipidasi yang
menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya. Akibatnya terjadi
kerusakan sel di bawahnya oleh iritan tersebut.

V. Komplikasi
Adapun komplikasi DKI adalah sebagai berikut:
a. DKI meningkatkan risiko sensitisasi pengobatan topikal
b. lesi kulit bisa mengalami infeksi sekunder, khususnya oleh Stafilokokus aureus
c. neurodermatitis sekunder (liken simpleks kronis) bisa terjadi terutapa pada
pekerja yang terpapar iritan di tempat kerjanya atau dengan stres psikologik
d. hiperpigmentasi atau hipopigmentasi post inflamasi pada area terkena DKI
e. jaringan parut muncul pada paparan bahan korosif atau ekskoriasi.


VI. Patofisiologi
Fase Sensitisasi
Alergen atau hapten diaplikasikan pada permukaan kulit dan diambil oleh sel
Langerhans. Anti gen akan terdegradasi atau diproses dan di ikat pada Human
Leucocyte Antigen - DR(HLA-DR), dan kompleks yang diekspresikan pada
permukaan sel Langerhans. Sel Langerhans akanbergerak melaluijalurlimfatik ke
kelenjar regional, dimana akan terdapat kompleks yang spesifik terhadap sel T dengan
CD4-positif.Kompleks antigen-HLA-DR ini berinteraksi dengan reseptor T-sel
tertentu (TCR) dan kompleks CD3. Sel Langerhans juga akan mengeluarkan
Interleukin-1(IL-1). Interaksi antigen dan IL-1mengaktifkan sel T. Sel T mensekresi
IL-2 dan mengekspresikan reseptor IL-2padapermukaannya.Hal ini menyebabkan
stimulasi autokrin dan proliferasi sel T spesifikyang beredar di seluruh tubuh dan
kembali kekulit.
Tahap elisitasi
Setelah seorang individu tersensitisasi oleh antigen, sel T primer atau memori dengan
antigen-TCR spesifik meningkat dalam jumlah dan beredar melalui pembuluh darah
kemudian masuk ke kulit. Ketika antigen kontak pada kulit,antigen akan diproses dan
dipresentasikan dengan HLA-DR pada permukaan sel Langerhans. Kompleks akan
dipresentasikan sel T4 spesifik dalam kulit (atau kelenjar, atau keduanya), dan elisitasi
dimulai. Kompleks HLA-DR-antigen berinteraksi dengan kompleks CD3-TCR
spesifik untuk mengaktifkan baik sel Langerhans maupun sel T. Ini akan menginduksi
sekresi IL-1 oleh sel Langerhans dan menghasilkan IL-2 dan produksi IL-2R oleh sel
T.Hal ini menyebabkan proliferasi sel T.Sel T yang teraktivasi akan mensekresi IL-3,
IL-4, interferon-gamma, dan granulocyte macrophage colony stimulating
factor(GMCSF).Kemudian sitokin akan mengaktifkan sel Langerhans dan keratinosit.
Keratinosit yang teraktivasi akan mensekresi IL-1, kemudian IL-1 mengaktifkan
phospolipase. Hal ini melepaskan asam arakidonik untuk produksi prostaglandin(PG)
dan leukotrin (LT). PG dan LT menginduksi aktivasi sel mast dan pelebaran
pembuluh darah secara langsung dan pelepasan histamin yang melalui sel mast.
Karena produk vasoaktif dan chemoattractant, sel-sel dan protein dilepaskan dari
pembuluh darah. Keratinosit yang teraktivasi juga mengungkapkan intercellular
adhesion molecule-1(ICAM-1) danHLA-DR, yang memungkinkan interaksi seluler
langsung dengan sel-sel darah.

VII. Pengobatan
Pengobatan Dermatitis Kontak
Secara umum dermatitis kontak dibagi dua, yaitu dermatitis kontak iritan dan
dermatitis kontak alergi.
Untuk pengobatan dan penanganan dermatitis kontak iritan adalah sebagai
berikut :
Upaya pengobatan dermatitis kontak iritan yang terpenting adalah menyingkirkan
pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik, fisik maupun kimiawi. Bila hal
ini dapat dilaksanakan dengan sempurna, dan tidak terjadi komplikasi, maka
dermatitis iritan tersebut akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan
topikal, mungkin cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering.
Apabila diperlukan, untuk mengatasi peradangan dapat diberikan kortikosteroid
topikal, misalnya hidrokortison, atau untuk kelainan yang kronis bisa diawali
dengan kortikosteroid yang lebih kuat. Pemakaian alat pelindung yang adekuat
diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan, untuk mencegah kontak
dengan bahan tersebut.
Yang terpenting adalah menghindari pajanan bahan iritan, baik yang bersifat
mekanik, fisis atau kimiawi serta menyingkirkan faktor yang memperberat. Bila
dapat dilakukan dengan sempurna dan tanpa komplikasi, maka tidak perlu
pengobatan topikal dan cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang
kering (Djuanda, 2003). Apabila diperlukan untuk mengatasi peradangan dapat
diberikan kortikosteroid topikal. Pemakaian alat perlindungan yang adekuat
diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan sebagai upaya
pencegahan (Djuanda, 2003; Kampf, 2007).
Sasaran Terapi
Sasaran terapi dermatitis kontak iritan adalah :
- menghilangkan inflamasi, rasa sakit saat kulit ditekan dan iritasi
- mencegah pemaparan lebih lanjut pada agen iritan
- edukasi pada pasien mengenai metode untuk mencegah recurrent
Strategi Terapi
Pendekatan terapi dermatitis kontak iritan tergantug keparahan reaksi. Selain
itu, area yang terpapar pada substansi iritan, seharusnya dicuci dengan air dan
dibersihkan dengan sabun hipoalergenik ringan. Pencegahan iritan dapat menjadi
edukasi pada pasien.
Terapi non-farmakologi
Pencucian sesegera mungkin pada area yang terpapar agen iritan akan
mengurangi waktu kontak agen iritan dengan kulit, dan jika terjadi respon kulit,
hal ini akan membantu untuk mencegah penyebaran dermatitis.
Beberapa substansi yang dapat menyebabkan respon iritasi pada kulit sebaiknya
dihindari. Mengedukasikan kepada pasien bagaimana cara untuk mengurangi
resiko terpapar merupakan hal yang sangat penting.
Penggunaan baju pelindung, sarung tangan, dan peralatan proteksi lainnya akan
mengurangi pemaparan iritan dan sebaiknya penggunaan alat proteksi diganti
secara periodik.
Hidropel dan pelembab penghalang kulit hollister dapat digunakan untuk
mencegah dermatitis kontak iritan jika digunakan sebelum kontak dengan iritan.
Terapi Farmakologi
Penggunaan kompres basah dengan astringent alumunium asetat dapat
digunakan untuk mendinginkan dan mengeringkan lesi. Hidrokortison dan Iosin
Kalamin, membantu untuk meringankan rasa gatal. Penggunaan topikal anestesi
lokal tipe caine perlu dihindari atau diawasi karena dapat menyebabkan kontak
dermatitis yang lebih luas.

Untuk pengobatan dan penanganan dermatitis kontak alergi adalah sebagai
berikut :
Pengobatan DKA (dermatitis kontak alergi)
Hal yang perlu diperhatikan pada pengobatan dermatitis kontak adalah upaya
pencegahan terulangnya kontak kembali dengan alergen penyebab, dan menekan
kelainan kulit yang timbul (Brown University Health Services, 2003; Djuanda,
2003; Health and Safety Executive, 2009). Kortikosteoroid dapat diberikan dalam
jangka pendek untuk mengatasi peradangan pada dermatitis kontak alergi akut
yang ditandai dengan eritema, edema, bula atau vesikel, serta eksudatif.
Umumnya kelainan kulit akan mereda setelah beberapa hari. Kelainan kulitnya
cukup dikompres dengan larutan garam faal.Untuk dermatitis kontak alergik yang
ringan, atau dermatitis akut yang telah mereda (setelah mendapat pengobatan
kortikosteroid sistemik), cukup diberikan kortikosteroid topikal (Djuanda, 2003).
Apabila dicurigai ada dermatitis kontak alergi dan agen yang menyebabkannya
dikenali serta disingkirkan, erupsinya akan sembuh. Biasanya, pengobatan
menggunakan glukokortioid topikal berpotensi kuat yang difluorinasi cukup
meredakan gejala. Pasien yang terutama penyakitnya menyebar luas atau
penyakitnya melibatkan wajah dan genitalia, dapat diberikan pengobatan
glukokortioid oral. Karena perjalanan penyakit dermatitis kontak alergi adalah 2
sampai 3 minggu maka terapi harus dilanjutkan sepanjang waktu tersebut.
Penemuan alergen kontak mungkin sulit dan memakan waktu banyak. Pasien
dermatitis yang tidak berespons terhadap pengobatan konvensional atau dengan
pola penyebaran yang tidak lazim harus dicurigai menderita dermatitis kontak
alergi. Tanyakan pada pasien mengenai lingkungan tempat kerja, pengobatan
topikal, dan obat yang diminum. Zat alergen umum terdapat pada bahan pengisi
obat-obat topikal, nikel sulfat, kalium dikromat, neomisin sulfat, wangi-wangian,
formaldehida, dan zat pengawet karet. Uji tempel standar membantu untuk
mengidentifikasi zat-zat tersebut, tetapi tidak boleh dipakai pada pasien dermatitis
aktif yang luas atau pada pasien yang mendapatkan pengobatan glukokortikoid
sistemik.
Pengobatan farmakologi
Hal yang perlu di perhatikan pada pengobatanDKA adalah upaya pencegahan
terulangnyakontak kembali dengan alergi penyebab,danmenekan kelainan kulit
yang timbul.
- Kortikosteroid dapat di berikan dalan jangka pendek untuk mengatasi
peradangan,misalnya prednison 30 mg/hr
- Untuk dermatitis alergi yang telah mereda(setelah mendapat
pengobatankortikosteroid sistemik),cukup diberikankortikosteroid topikal.
- Pada keadaan tertentu pemberian anti histamin bisa meringankan gatal-gatal
- Gunakan astringent untuk mempercepat pengeringan luka yag basah sehingga
memberi penutup pelindung kulit yang mengalami inflamasi.
- sesering mungkin gunakan antiseptik untuk melindungi dari infeksi sekunder.
Pengobatan non-farmakologi
Terapi non farmakologi yang di berikan padaDKA dapat berupa
- mengidentifikasi dan mengeliminasi faktor-faktor pencetus.
- Daerah yang terkena harus di bersihkan secarateratur drngan air sabun yang
lembut,lepuhantidak boleh di pecah,perban kering juga bisamencegah terjadinya
infeksi.
- Daun selada (latuca sativa) selain biasa di santapsebagai lalapan ternyata juga
bisa juga dapat berfungsi sebagai obat radang kulit (Dermatitis).
- membersihkan bagian yang teriritasi dilakukan dengan cara mengompres kulit
yang teriritasi dengan air hangat (32,2
o
C) atau lebih dingin. Jangan menggunakan
air panas 40,5
o
C atau lebih karena akan memperparah luka, dan bahkan akan
menyebabkan luka bakar tingkat dua.
- Pencucian menggunakan sabun hipoallergenik dan jangan menggosok bagian
yang ruam.

Hal yang perlu diperhatikan pada pengobatan dermatitis kontak adalah upaya
pencegahan terulangnya kontak kembali dengan alergen penyebab, dan menekan
kelainan kulit yang timbul.
Kortikosteoroid dapat diberikan dalam jangka pendek untuk mengatasi
peradangan pada dermatitis kontak alergi akut yang ditandai dengan eritema,
edema, bula atau vesikel, serta eksufatif (madidans), misalnya prednison 30
mg/hari. Umumnya kelainan kulit akan mereda setelah beberapa hari. Kelainan
kulitnya cukup dikompres dengan larutan garam faal.
Untuk dermatitis kontak alergik yang ringan, atau dermatitis akut yang telah
mereda (setelah mendapat pengobatan kortikosteroid sistemik), cukup diberikan
kortikosteroid topikal.














Tatalaksana Terapi Dermatitis Kontak
Berikut adalah jenis terapi untuk dermatitis kontak


VIII. Pencegahan
Pencegahan dermatitis kontak berarti menghindari berkontak dengan bahan yang
telah disebutkan di atas. Program perawatan kulit sebaiknya diikutsertakan dalam
program pendidikan, memuat informasi tentang kulit sehat dan penyakit kulit
yang terkait dengan pekerjaan. Juga pengenalan diri penyakit kulit dan kegunan
prosedur perlindungan, sebagai contoh program perlindungan kulit pada pekerja di
pekerjaan basah, yaitu mencuci tangan dengan air biasa, lalu bilas dan
keringkan tangan dengan sempurna setelah mencuci, karena kulit yang tidak
dilindungi lebih mudah terkena iritasi, maka disarankan memakai sarung tangan
untuk melindungi kulit terhadap air, kotoran, deterjen, sampo, dan bahan
makanan.
Yang juga penting diperhatikan, hindari pemakaian cincin selagi bekerja, karena
dermatitis umumnya dimulai pada jari yang memakai cincin sebagai reaksi
terhadap iritan yang terjebak dibawah cincin. Pemakaian disinfektan sebaiknya
disesuaikan dengan kebutuhan tempat kerja. Sebab, umumnya disinfektan bersifat
iritan dan turut berperan terhadap perkembangan menjadi dermatitis kontak di
tangan.
Cara lainnya gunakan pelembab sewaktu bekerja atau setelah bekerja. Pilih
pelembab yang banyak mengandung lemak dan bebas parfum, serta bahan
pengawet berpotensi alergenik terendah. Pelembab terbukti dapat mempermudah
regenerasi fungsi sawar kulit dan kandungan lemak berhubungan dengan
kecepatan proses regenerasi tersebut. Pelembab sebaiknya dipakai diseluruh
tangan, termasuk sela jari, ujung jari, dan punggung tangan. Pekerja yang
mempunyai riwayat alergi pada kulit cenderung terkena dermatosis daripada yang
tidak mempunyai riwayat alergi kulit. Pekerja yang kebersihan perorangannya
buruk lebih banyak yang dermatosis daripada yang kebersihan perorangannya
baik atau sedang.
Strategi pencegahan meliputi:
Bersihkan kulit yang terkena bahan iritan dengan air dan sabun. Bila
dilakukan secepatnya, dapat menghilangkan banyak iritan dan alergen dari kulit.
Gunakan sarung tangan saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga untuk
menghindari kontak dengan bahan pembersih.
Bila sedang bekerja, gunakan pakaian pelindung atau sarung tangan untuk
menghindari kontak dengan bahan alergen atau iritan.
Pekerja dengan usia di atas 40 tahun atau usia lanjut sebaiknya
mengurangi kontak dengan bahan kimia. Karena semakin tua usia kulit menjadi
semakin menipis dan kehilangan kelenturan. Hal ini memudahkan terjadinya
dermatitis (Occupational Safety and Health Branch, 2004).



IX. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis gangguan
integument yaitu :
a) Biopsi kulit
Biopsi kulit adalah pemeriksaan dengan cara mengambil cintih jaringan dari kulit
yang terdapat lesi.
Biopsi kulit digunakan untuk menentukan apakah ada keganasan atau infeksi yang
disebabkan oleh bakteri dan jamur.
b) Uji kultur dan sensitivitas
Uji ini perlu dilakukan untuk mengetahui adanya virus, bakteri, dan jamur pada kulit.
Kegunaan lain adalah untuk mengetahui apakah mikroorganisme tersebut resisten
pada obat obat tertentu.
Cara pengambilan bahan untuk uji kultur adalah dengan mengambil eksudat pada lesi
kulit.
c) Pemeriksaan Darah
Hb, leoukosit, hitung jenis, trombosit, elektrolit, protein total, albumin, globulin.
d) Uji tempel
Uji ini dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi. Untuk mengetahui apakah
lesi tersebut ada kaitannya dengan factor imunologis, mengidentifikasi respon alergi.
Uji ini menggunakan bahan kimia yang ditempelkan pada kulit, selanjutnya dilihat
bagaimana reaksi local yang ditimbulkan. Apabila ditemukan kelainan pada kulit,
maka hasilnya positif.



Sumber :
Sularsito SA, Djuanda S. Dermatitis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6thed.
Jakarta: Badan Penerbit FKUI;2013. p.129-33.
(Jeyaratnam, J dan David Koh. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. 2009. Jakarta :
EGC).
(Elizabeth J.Corwin. Buku Saku Patofisiologi Ed.3. 2009. Jakarta : EGC).
http://medicastore.com/penyakit/74/Dermatitis_Kontak.html
Harrison.2000. Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam: (Harrison's Principles
of Internal Medicine); Volume 1.EGC:Jakarta
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25718/4/Chapter%20II.pdf
http://www.scribd.com/doc/35138983/Dermatitis-Kontak-Alergi
Sumber : http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/viewFile/6113/4604