Anda di halaman 1dari 3

PENGGUNAAN BATU APUNG SEBAGAI ADSORBEN

DALAM PENYERAPAN LOGAM NIKEL (Ni) DAN TEMBAGA (Cu)


DARI AIR LIMBAH PELAPISAN LOGAM

THE USE OF PUMICE AS AN ADSORBENT
IN THE ADSORPTION OF NICKEL AND COPPER
FROM METALS PLATING WASTEWATER

Muhammad Taufik

Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya
Jalan Srijaya Negara Bukit Besar, Palembang 30139
Email : m_taufik@polsri.ac.id

ABSTRACT

Pumice has the main content of Si and Al, porous and amorphous structures. Of the nature of the pumice stone, pumice
shows that have the ability to adsorb heavy metal ions. With its ability as an adsorbent material to be motivated to use a
pumice as adsorbent in the adsorption of nickel and copper from metals plating wastewater and is expected to reduce
environmental pollution. The adsorption process is begun by drying under the sunshine, pumice size reduction and thermally
activated at a temperature of 200
0
C for 2 hours. Adsorption is then performed with the variation of the contact time between
the metal plating wastewater with adsorbent for 20, 40, 60, 80 and 100 minutes with adsorbent weight variation 3, 5, 7, 9 and
11 gr.The research was aims to determine the adsorption efficiency with variation of the contact time and the amount of
adsorbent used to secure the metal plating wastewater discharged into the environment. The results showed that the optimal
adsorption of nickel and copper metals from metal plating wastewater occurs at 100 minutes contact time and adsorbent
weight of 11 gr. From the results of this study found that the pumice can be used to adsorb the metals nickel and copper from
metal plating wastewater.

Keywords: Pumice, porous, adsorbent, nickel, copper, metal plating wastewater
.
PENDAHULUAN

Kondisi perekonomian di Indonesia
yang cukup mendukung turut membuka
peluang industri untuk terus berkembang.
Pesatnya kemajuan industri telah memacu
tumbuhnya sektor industri pelapisan logam
baik pelapisan logam panas maupun
pelapisan logam secara listrik
(elektroplating). Namun dampak yang
terjadi selain positif juga timbul dampak
negatif yang mengikutinya.
Dampak negatif yang dihasilkan yaitu
air limbah yang mengandung bahan-bahan
kimia terutama logam-logam berat yang
sangat berbahaya dan beracun karena
mudah terbakar, mudah meledak dan
bersifat karsinogenik (penyebab kanker).
Logam berat yang ditemukan terkandung
dalam industri pelapisan logam
diantaranya seng (Zn
2+
), nikel (Ni
2+
),
tembaga (Cu
2+
), timbal (Pb
2+
), perak
(Ag
2+
), Cadmium (Cd
2+
) dan Krom (Cr
6+
)
(Kumar, 2008).
Bila bahan-bahan berbahaya tersebut
dibuang langsung ke lingkungan sebagai
bahan buangan maka akan mencemari
lingkungan di sekelilingnya. Walaupun
jumlah bahan buangan dari industri
pelapisan logam tidak terlalu banyak,
namun karena sifatnya yang sangat
beracun maka bahan buangan ini sangat
berbahaya bagi manusia serta dapat
mengancam kelestarian kehidupan alam di
sekelilingnya.
Adanya logam logam berat seperti
logam Ni dan Cu dalam limbah pelaspisan
logam yang melebihi ambang batas
diperbolehkan apabila dibuang langsung
ke perairan akan membahayakan kesehatan
manusia dan menyebabkan kerusakan
lingkungan.
Tingginya kadar nikel dalam jaringan
tubuh manusia bisa mengakibatkan
munculnya berbagai efek samping yaitu
akumulasi Ni pada kelenjar pituitari yang
bisa mengakibatkan depresi sehingga
mengurangi sekresi hormon prolaktin
dibawah normal. Akumulasi Ni pada
pankreas bisa menghambat sekresi hormon
insulin (Widowati, 2008).
Sedangkan adanya logam Cu dalam
air limbah pelapisan logam yang melebihi
batas yang diperbolehkan apabila dibuang
langsung ke perairan akan membahayakan
lingkungan karena dapat menyebabkan
kerusakan ekosistem. Konsentrasi Cu yang
berada dalam kisaran 2,5 - 3,0 ppm dalam
badan perairan dapat membunuh ikan-ikan
(Heryando; Palar, dalam Syahputra, 2012).
Cu merupakan salah satu logam esensial
yang dibutuhkan oleh manusia untuk
metabolisme besi dalam hemoglobin, akan
tetapi karena logam Cu dapat terakumulasi
di dalam jaringan tubuh maka apabila
konsentrasi logam ini sangat besar akan
meracuni manusia. Pengaruh racun yang
ditimbulkan yaitu muntah-muntah, rasa
panas di daerah lambung, kemudian
disusul dengan nekrosi hati dan koma.
Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah menentukan pengaruh penambahan
berat batu apung dalam air limbah
pelapisan logam dan waktu kontak
terhadap penyisihan logam Nikel dan
Tembaga.
Sedangakan manfaat yang didapat
dari penelitian ini adalah sebagai masukan
kepada Bengkel Volta Krom dalam
pengolahan air limbah pelapisan logam.
Sebagai sumber pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bagi
masyarakat setempat untuk menanggulangi
air limbah yang tercemar di lingkungan
masyarakat setempat.
Beberapa hal yang menjadi
permasalahan pada penelitian ini yaitu
untuk menentukan waktu penyerapan dan
banyaknya penambahan batu apung yang
dapat mempengaruhi kapasitas adsorpsi
batu apung terhadap logam Ni dan Cu.

Adsorpsi
Adsopsi adalah proses dimana
molekul-molekul fluida menyentuh dan
melekat pada permukaan padatan
(Nasruddin ,2005). Adsorpsi adalah
fenomena fisik yang terjadi saat molekul-
molekul gas atau cair dikontakkan dengan
suatu permukaan padatan dan sebagian
dari molekul-molekul tadi mengembun
pada permukaan padatan tersebut
(Suryawan, Bambang 2004).
Dalam adsorpsi digunakan istilah
adsorbat dan adsorban, dimana adsorbat
adalah substansi yang terserap atau
substansi yang akan dipisahkan dari
pelarutnya, sedangkan adsorban adalah
merupakan suatu media penyerap yang
dalam hal ini berupa batu apung.

METODOLOGI

Bahan dan Alat
Bahan utama yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu batu apung, limbah cair
dari bengkel pelapisan logam Volta Krom
dan Larutan Standar Ni dan Cu untuk
analisis. Sedangkan alat yang digunakan
yaitu gelas kimia, grinder, sheving shaker
dan spektrofotometri serapan atom (AA-
7000SHIMADZU).
Pada penelitian ini, proses adsorbsi
ion logam nikel dan tembaga akan
dilakukan melalui proses adsorpsi, yaitu
proses dimana padatan yang berasal dari
bahan alam digunakan untuk mengikat
logam berat krom dan besi. Bahan alam
yang akan digunakan yaitu batu apung.
Eksperimen yang dilakukan dibagi
menjadi tiga bagian besar, yaitu preparasi
adsorben, uji pengaruh waktu kontak
adsorben dan pengaruh banyaknya
adsorben yang digunakan.
Preparasi adsorben batu apung dimulai
dengan menjemur batu apung dengan sinar
matahari selama 1 hari dengan tujuan
mengurangi kadar airnya, kemudian
menghaluskan batu apung sehingga
didapatkan ukuran 170 mesh dan
mengaktifasi batu apung secara termal
dalam oven pada suhu 250C selama 2 jam
dengan tujuan menguapkan kadar air yang
terperangkap dalam pori-pori batuan
sehingga luas permukaan pori-porinya
bertambah.
Uji pengaruh waktu kontak dan
banyaknya adsorben dilakukan di dalam
beaker glass pada temperatur ruang
(25C). Sampel dari dalam beaker glass
diambil pada interval waktu kontak dan
banyaknya adsorben yang berbeda
dilakukan setiap 20, 40, 60, 80 dan 100
menit kemudian disaring. Kemudian
filtratnya diukur dengan spektrofotometer
serapan atom untuk mengetahui
konsentrasi logam nikel dan tembaga yang
masih tertinggal di dalam larutan tersebut.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisa Pengaruh Berat Adsorben
terhadap Adsorpsi Logam Nikel
Hasil analisa kadar Ni dan Cu dari air
limbah pelapisan logam Bengkel Volta
Krom, sebelum diolah menggunakan batu
apung sebagai adsorben adalah ppm dan
setelah air limbah pelapisan logam
Bengkel Volta Krom kontak dengan
adsorben diperoleh hasil bahwa
konsentrasi Ni dan Cu mengalami
penurunan. Penurunan konsentrasi Ni dan
Cu terdapat pada tabel 1 dan 2.
Tabel 1. Penurunan Konsentrasi Logam Nikel dengan Variasi Berat Adsorben
Batu Apung dan Waktu Kontak
Waktu Kontak (Menit) 3 gram 5 gram 7 gram 9 gram 11 gram
20 3.87 3.23 2.54 1.98 1.73
40 3.77 3.08 2.43 1.85 1.65
60 3.63 2.98 2.37 1.87 1.62
80 3.52 2.68 2.21 1.66 1.61
100 3.45 2.72 2.05 1.54 1.58