Anda di halaman 1dari 3

547

TEKNIK
CDK-195/ vol. 39 no. 7, th. 2012
PENDAHULUAN
Uji latih jantung-paru atau cardiopulmonary
exercise testing (CPET) adalah suatu metode
uji kemampuan kapasitas latihan pasien de-
ngan kelainan jantung dan paru. Uji ini menilai
kemampuan sistem kardiovaskular, paru, dan
sistem otot pada tubuh manusia yang tidak
adekuat apabila hanya dinilai pada masing-
masing sistem organ tersebut. Metode pada
CPET relatif non-invasif. Uji ini mengukur per-
tukaran udara pernapasan (misalnya oxygen
uptake [VO
2
], carbon dioxide output [VCO
2
], ven-
tilasi semenit [VE], dan ambang anaerob) diser-
tai pemantauan elektrokardiograf, tekanan da-
rah, dan pulse oximetry selama uji latih toleransi
maksimal progresif. Pengambilan sampel darah
arteri juga dilakukan untuk memberikan infor-
masi lebih rinci mengenai pertukaran udara di
paru. Selain itu, uji ini memungkinkan evaluasi
respons latihan submaksimal dan puncak serta
dapat memberikan informasi yang relevan un-
tuk pengambilan keputusan klinis.
1,2

INDIKASI
Indikasi spesifk pemeriksaan uji latih jantung-
paru
3
:
1. Evaluasi toleransi latihan
Mengetahui gangguan kapasitas fung-
sional (puncak VO
2
)
Mengetahui keterbatasan latihan dan me-
kanisme patofsiologi
2. Evaluasi intoleransi latihan yang belum
terdiagnosis
Menilai kontribusi penyebab jantung-
paru pada penyakit yang saat ini diderita
Gejala-gejala yang tidak proporsional un-
tuk uji paru dan jantung saat istirahat
Sesak napas yang tidak terdiagnosis ketika
pemeriksaan awal dilakukan
3. Evaluasi pasien yang mempunyai penya-
kit kardiovaskular.
Evaluasi fungsi dan prognosis pada pasien
gagal jantung
Seleksi untuk transplantasi jantung
Pemantauan respons terhadap latihan un-
tuk rehabilitasi jantung (pada kondisi khusus,
misalnya alat pacu jantung)
4. Evaluasi gejala pada penyakit respirasi
Penilaian gangguan fungsi
PPOK: penentuan nilai hipoksemia untuk
terapi oksigen
Penyakit paru interstisial (interstitial lung
disease, ILD): penentuan nilai hipoksemia un-
tuk terapi oksigen
Pulmonary vascular disease
Fibrosis kistik
5. Evaluasi praoperasi
Pembedahan/reseksi paru
Pembedahan abdomen/laparotomi pada
orang tua
Lung volume reduction surgery untuk
pasien emfsema (masih dalam penelitian)
6. Evaluasi exercise dan rehabilitasi paru
7. Evaluasi impairment/kecacatan
8. Evaluasi paru, jantung, dan transplantasi
jantung-paru.
METODOLOGI
Dua modus latihan yang umum digunakan
dalam uji latih jantung-patu (CPET) adalah
treadmill dan cycle ergometer. Dalam klinis,
cycle ergometer lebih disukai; tergantung pada
alasan penggunaan uji latih jantung-paru dan
ketersediaan peralatan, pemeriksaan treadmill
dapat menjadi alternatif.
3
Variabel-variabel yang diukur pada uji latih
jantung-paru
6
:
1. Peak oxygen uptake (PKVO
2
): ambilan-pun-
cak oksigen saat latihan maksimal (mL/kg per
menit)
2. Maximal oxygen uptake (VO
2
max): ambi-
lan oksigen maksimal atau volume oksigen
maksimal yang dapat diserap yang nilainya
menetap selama satu menit walaupun beban
latihan terus ditingkatkan/ditambah; sama
dengan kapasitas aerobik puncak.
3. Breathing reserve (BR): kapasitas cadangan
ventilasi, dihitung dari 1 rasio dari puncak
ventilasi semenit (VE) dan ventilasi semenit
maksimal; nilainya 30%.
4. Anaerobic threshold (AT): ambilan oksigen
tertinggi yang tidak akan menimbulkan pe-
ningkatan asam laktat di darah atau rasio lak-
tat/piruvat.
5. Respiratory exchange ratio (RER): rasio
antara jumlah CO
2
yang diekshalasi dan jum-
lah O
2
yang diinhalasi dalam satu kali berna-
pas.
6. Saturasi oksigen: persentase hemoglobin
yang berikatan dengan besi di dalam darah.
7. Oxygen pulse: jumlah oksigen yang dikon-
sumsi tubuh dari sejumlah darah untuk tiap
denyut jantung; oxygen pulse = VO
2
per de-
nyut jantung.
8. Ventilation/carbon dioxide production ratio
(VE/VCO
2
)
9. Peak VO
2
lean: ambilan puncak oksigen
pada berat badan yang ideal.
Uji Latih Jantung-Paru
Fachrial Harahap, Ratih Pahlesia
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS Persahabatan, Jakarta, Indonesia
Gambar 1 Treadmill dan cycle ergometer
4,5
A
P
E
/
M
L
Y
/
1
2
0
3
/
I
n
s
-
1
CDK-195_vol39_no7_th2012 ok.indd 547 7/8/2012 12:29:17 PM
548
TEKNIK
CDK-195/ vol. 39 no. 7, th. 2012
Tabel 2 Peralatan minimal yang dibutuhkan untuk uji latih jantung-paru
3
Peralatan Rentang Akurasi Reproducibility (%)
O
2
analyzer
CO
2
analyzer
Flow meter
Cycle ergometer
Treadmill
0 100%
0 10%
0 14 L/detik
0 400 W
0 -10 mph
0 20% grade
1%
1%
3%
2%/3W di atas 25W
0,2 mph
0,5%
1
1
3
Tabel 1 Perbandingan antara cycle ergometer dan treadmill
3
Treadmill Cycle ergomener
VO
2
max
Pengukuran work rate
Pengambilan AGD (analisis gas darah)
Bebas artifact (tekanan darah, EKG)
Tidak berisik dan lebih murah
Aman (lebih sedikit terjadi cedera muskuloskeletal)
Berguna pada posisi supine
Beban pada orang obesitas
Derajat latihan otot kaki
Lebih cocok untuk
Portabilitas
Lebih tinggi
Tidak diukur
Lebih sulit
(-)
(-)
(-)
(-)
Lebih berat
Lebih banyak
Subjek normal yang aktif
(-)
Lebih rendah
Diukur
Lebih mudah
(++)
(++)
(+)
(+)
Kurang
Lebih sedikit
Pasien
(+)
Evaluasi kondisi klinis
Diagnosis klinis dan alasan pemeriksaan uji latih jantung-paru
Pengisian kuesioner kesehatan; profl aktivitas fsis
Riwayat medis dan pekerjaan serta pemeriksaan fsis
Foto toraks, EKG, dan pemeriksaan laboratorium
Menentukan indikasi dan kontraindikasi uji latih jantung-paru

Prosedur pretest
Tidak merokok minimal 8 jam sebelum uji dilakukan
Tidak melakukan olahraga 24 jam sebelum uji dilakukan
Minum obat sesuai instruksi
Mengisi informed consent
Melakukan uji
Pemeriksaan laboratorium
Quality control
Kalibrasi alat
Seleksi protokol
Incremental vs constant work rate; invasif vs noninvasif
Persiapan pasien
Pengenalan alat
EKG 12 sadapan, pulse oxymetry, tekanan darah
Pemasangan arterial line
Melakukan uji latih jantung-paru


Interpretasi hasil uji
Proses data
Kualitas dan konsistensi hasil
Membandingkan hasil pemeriksaan dengan nilai normal
Pendekatan terintegrasi untuk interpretasi hasil uji latih jantung-paru
Persiapan laporan hasil uji latih jantung-paru
Skema 1 Overview uji latih jantung paru
3
CDK-195_vol39_no7_th2012 ok.indd 548 7/8/2012 12:29:19 PM
549
TEKNIK
CDK-195/ vol. 39 no. 7, th. 2012
Tabel 4 Kriteria normal pada uji latih jantung-paru
3
Variabel Kriteria normal
- VO
2
maks/VO
2
peak
- Ambang anaerobik
- Denyut jantung (HR)
- Heart rate reserve (HRR)
- Tekanan darah
- O
2
pulse (VO
2
/HR)
- Ventilatory reserve (VR)
- Frekuensi pernapasan
- V
E
/V
CO2
- V
D
/V
T
- PaO
2
- P(A-a)O
2
>84% prediksi
>40% VO
2
maks prediksi; rentang normal (40-80%)
maksimum >90% prediksi berdasarkan umur
<15 kali/menit
<220/90 mmHg
>80%
MVV Vmaks >11 L atau Vmaks/MVV x 100; <85%; rentang normal 72 15%
<60 kali/menit
<34
<0,28; <0,3 untuk usia >40 tahun
>80 mmHg
<35 mmHg
Tabel 5 Respons uji latih jantung paru pada beberapa kelainan
3
Pengukuran Gagal jantung PPOK ILD Pulmonary vascular disease
VO
2
maks/VO
2
peak
Ambang anaerobik
Puncak HR
O
2
pulse
(V
E
/MVV)x100
V
E
/V
CO2

PaO
2
P(A-a)O
2
Menurun
Menurun
Normal pada kelainan ringan
Menurun
Normal/menurun
Meningkat
Normal
Biasanya normal
Menurun
Normal/menurun
Normal pada kelainan ringan, menurun
Normal/menurun
Meningkat
Meningkat
Bervariasi
Biasanya meningkat
Menurun
Normal/menurun
Menurun
Normal/menurun
Meningkat
Meningkat
Menurun
Meningkat
Menurun
Normal/sdkt menurun
Normal/sdkt menurun
Menurun
Meningkat
Meningkat
Menurun
Meningkat
Tabel 3 Kontraindikasi absolut dan relatif uji latih jantung-paru
3
Kontraindikasi absolut Kontraindikasi relatif
- Infark miokard akut dalam 3-5 hari
- Unstable angina
- Aritmia belum terkontrol
- Syncope
- Endokarditis aktif
- Perikarditis/miokarditis akut
- Stenosis aorta berat
- Gagal jantung yang tidak terkontrol
- Emboli paru akut/infark paru
- Trombosis ekstremitas bawah
- Curiga dissecting aneurysm
- Asma tidak terkontrol
- Desaturasi saat istirahat 85%
- Gagal napas
- Edema paru
- Kelainan non kardiopulmoner akut
(infeksi, tirotoksikosis, gagal ginjal)
- Gangguan mental
- Left main coronary stenosis
- Moderate stenotic valvular heart
disease
- Hipertensi berat (TD sistolik >
200 mmHg, TD diastolik > 120 mmHg)
- Takiaritmia/bradiaritmia
- Blok atrioventrikular derajat tinggi
- Kardiomiopati hipertrof
- Hipertensi pulmoner
- Kehamilan dengan komplikasi
- Gangguan elektrolit
- Kelainan ortopedi
DAFTAR PUSTAKA
1. Milani RV, Lavie CJ, Mehra MR, Ventura HO. Understanding the basics of cardiopulmonary exercise testing. Mayo Clin Proc. 2006;81:1603-11.
2. Cardiopulmonary exercise testing. CIGNA Medical Coverage Policy 2010. p.1-7.
3. Weisman IM, Marciniuk D, Martinez FJ, Sciurba F, Sue D, Myers J. Indication for cardiopulmonary exercise testing. Am J Respir Crit Care 2003;167:211-77.
4. Wasserman K, Hansen J, Sue D, Cassaburi R, Whipp B. Principles of exercise Testing and interpretation. How is CPX (CPET) testing performed?. 3
th
ed. New York: Lippincott Williams and
Wilkins, 1999.
5. Porszasz J, Stringer W, Casaburi R. Equipment, measurement and quality control in clinical exercise testing. Eur J Respir. 2007;40:108-28.
6. Milani RV, Lavie CJ, Mehra MR. Cardiopulmonary exercise testing: how we diferentiate the cause of dyspnea? Circulation 2004;110:27-31.
KRITERIA NORMAL DAN RESPONS UJI LATIH JANTUNG-PARU
KONTRAINDIKASI
Indikasi menghentikan latihan
3
:
Nyeri dada yang dicurigai disebabkan
oleh iskemia
Perubahan EKG: iskemia
Complex ectopy
Blok atrioventrikular derajat dua/tiga
Penurunan tekanan darah sistolik >20
mmHg dari nilai tertinggi selama melalukan
uji latih jantung-paru
TD sistolik >250 mmHg atau TD diastolik
>120 mmHg
Desaturasi berat 80% yang disertai ge-
jala dan tanda hipoksemia berat
Tiba-tiba pucat
Kehilangan koordinasi
Mental confusion
Pusing/pingsan
Tanda-tanda gagal napas
CDK-195_vol39_no7_th2012 ok.indd 549 7/8/2012 12:29:20 PM