Anda di halaman 1dari 5

Indikator Sistem

Informasi Manajemen
Kesehatan Ibu dan
Anak
Target global penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) MDGs (Millenium Development Goals sebesar
tiga-perempatnya pada tahun 2015 . Sementara target penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dan
Angka Kematian Balita (AKABA) sebesar dua-pertiga. Berdasarkan kesepakat global tersebut
Indonesia mempunyai komitmen untuk menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102/100.000
Kelahiran Hidup (KH), Angka Kematian Bayi dari 68 menjadi 23/1.000 KH, dan Angka Kematian
Balita 97 menjadi 32/1.000 KH pada tahun 2015. Kalau dilihat dari potensi untuk menurunkan Angka
kematian Ibu (AKI) masih on track walaupun diperlukan sumber daya yang kompeten (Pedoman
Pengawasan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak , Depkes RI. 2009).
Terkait dengan tujuan dan target diatas, kemudian diterapkan berbagai strategi untuk menurunkan
AKI<AKABA, maupun AKB, sehingga tetap on the track menuju target MDGs. Dan salah satu strategi
ini, diantaranya dengan penerapan system informasi manajemen kesehatan ibu dan anak, dengaan
penerapan pemantauan wilayan setempat (PWS) KIA.
Menurut Davis (1992), pada dasarnya, Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem manusia atau
mesin yang terpadu guna menyajikan informasi untuk mendukung fungsi operasional, manajemen
dan pengambilan keputusan di dalam suatu organisasi. Sementara menurut Jogiyanto (2009), sistem
informasi manajemen dapat digunakan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di
fungsifungsi bisnis. Sistem informasi di fungsi-fungsi organisasi yang memanfaatkan basis data
(data base) ini untuk pelaporan-pelaporan manajemen ini disebut dengan sistem informasi bisnis
(business information systems).

Alur Pencatatan,Pengolahan dan Pemanfaatan Data PWS KIA
Menurut Jogiyanto (2009), manajemen dengan menggunakan pendekatan sistem informasi
merupakan langkah yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja. Untuk menjadi
suatu sistem informasi maka hasil dari sistem itu harus berupa informasi yang berguna dan didukung
oleh tiga pilar sebagai berikut: tepat kepada orangnya atau relevan (relevance), tepat waktu
(timeliness) dan tepat nilainya atau akurat (accurate). Sistem informasi mempunyai enam komponen
yaitu input, model, output, teknologi, basis data dan control.
Terkait dengan sistem informasi tersebut, khusunya pada pelaksanaan proram KIA, sejak tahun 1985,
di Indonesia telah diaplikasikan alat pemantauan program dengan Pemantauan Wilayah Setempat
(PWS). Pemantauan Wilayah Setempat dapat digunakan sebagai alat manajemen untuk melakukan
pemantauan program di suatu wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut
yang cepat dan tepat. Program PWS KIA dapat memantau program KIA yang meliputi pelayanan ibu
hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir,
bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita. Adapun kegiatan PWS KIA terdiri dari
pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta penyebarluasan informasi ke
penyelenggara program dan pihak/instansi terkait dan tindak lanjut.
Beberapa indikator pemantauan program KIA yang dipakai untuk PWS KIA meliputi indikator yang
dapat menggambarkan keadaan dalam program pokok KIA sebagai, antara lain :
Akses pelayanan antenatal (K1)
Adalah cakupan ibu hamil yang pertama kali mendapat pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan di
suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Indikator akses ini digunakan untuk mengetahui
jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat.
Cakupan pelayanan ibu hamil (K4)
Adalah cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar, paling
sedikit empat kali dengan distribusi waktu 1 kali pada trimester ke-1, 1 kali pada trimester ke2 dan 2
kali pada trimester ke-3 disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Dengan indikator ini dapat
diketahui cakupan pelayanan antenatal secara lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menepati
waktu yang ditetapkan), yang menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah, di
samping menggambarkan kemampuan manajemen ataupun kelangsungan program KIA.

Alur Pencatatan Manual Pelayanan KIA oleh Bidan,
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (PN)
Adalah cakupan ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi kebidanan, di suatu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu. Dengan
indikator ini dapat diperkirakan proporsi persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan dan ini
menggambarkan kemampuan manajemen program KIA dalam pertolongan persalinan sesuai standar.
Cakupan pelayanan nifas oleh tenaga kesehatan (KF3)
Adalah cakupan pelayanan kepada ibu pada masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca bersalin sesuai
standar paling sedikit 3 kali dengan distribusi waktu 6 jam 3 hari, 8 14 har dan 36 42 har setelah
bersalin di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Dengan menggunakan indikator tersebut,
dapat diketahui cakupan pelayanan nifas secara lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menepati
waktu yang ditetapkan), yang menggambarkan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu nifas,
di samping menggambarkan kemampuan manajemen ataupun kelangsungan program KIA.
Cakupan pelayanan neonatus pertama (KN 1)
Adalah cakupan neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada 6 48 jam setelah lahir
di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Dengan indikator ini dapat diketahui
akses/jangkauan pelayanan kesehatan neonatal.
Cakupan pelayanan neonatus Lengkap (KN Lengkap).
Adalah cakupan neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar sedikitnya tiga kali yaitu 1 kali
pada 6 48 jam, 1 kali pada hari ke 3 har ke 7 dan 1 kal pada hari ke 8 har ke 28 setelah lahir
disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Dengan indikator ini dapat diketahui efektifitas dan
kualitas pelayanan kesehatan neonatal.
Deteksi faktor risiko dan komplikasi oleh Masyarakat
Adalah cakupan ibu hamil dengan faktor risiko atau komplikasi yang ditemukan oleh kader atau
dukun bayi atau masyarakat serta dirujuk ke tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun
waktu tertentu. Indikator ini menggambarkan peran serta dan keterlibatan masyarakat dalam
mendukung upaya peningkatan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas.
Cakupan Penanganan komplikasi Obstetri (PK)
Adalah cakupan Ibu dengan komplikasi kebidanan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu
yang ditangani secara definitif sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat
pelayanan dasar dan rujukan. Penanganan definitif adalah penanganan/pemberian tindakan terakhir
untuk menyelesaikan permasalahan setiap kasus komplikasi kebidanan. Indikator ini mengukur
kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara
professional kepada ibu hamil bersalin dan nifas dengan komplikasi.
Neonatus dengan komplikasi yang ditangani
Adalah cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani secara definitif oleh tenaga kesehatan
kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. Penanganan definitif adalah pemberian tindakan akhir pada setiap kasus komplikasi
neonatus yang pelaporannya dihitung 1 kali pada masa neonatal. Kasus komplikasi yang ditangani
adalah seluruh kasus yang ditangani tanpa melihat hasilnya hidup atau mati. Indikator ini
menunjukkan kemampuan sarana pelayanan kesehatan dalam menangani kasus kasus
kegawatdaruratan neonatal, yan kemudian ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangannya, atau dapat
dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi.
Cakupan kunjungan bayi (29 hari 11 bulan)
Adalah cakupan bayi yang mendapatkan pelayanan paripurna minimal 4 kali yaitu 1 kali pada umur
29 hari 2 bulan 1 kal pada umur 3 bulan, dan satu kali pada umur 6 8 bulan dan 1 kal pada umur
9 11 bulan sesuai standar di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Dengan indikator ini
dapat diketahui efektifitas, continuum of care dan kualitas pelayanan kesehatan bayi.
Cakupan pelayanan anak balita (12 59 bulan).
Adalah cakupan anak balita (12 59 bulan) yang memperoleh pelayanan sesuai standar, meliputi
pemantauan pertumbuhan minimal 8x setahun, pemantauan perkembangan minimal 2 x setahun,
pemberian vitamin A 2 x setahun
Sedangkan data yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan PWS KIA menurut Pedoman
Pengawasan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak ( PWS KIA (2009), meliputi data sasaran
(jumlah ibu hamil, jumlah ibu bersalin, jumlah ibu nifas, jumlah bayi, jumlah anak balita, jumlah
Wanita Usia Subur) dan data pelayanan KIA. Setiap bulan bidan di desa mengolah data yang
tercantum dalam buku kohort dan register kemudian dijadikan sebagai bahan laporan bulanan KIA.
Langkah pengolahan data meliputi pembersihan data (melihat kelengkapan dan kebenaran pengisian
formulir yang tersedia), validasi (melihat kebenaran dan ketepatan data) dan pengelompokan (sesuai
dengan kebutuhan data yang harus di laporkan)
Refference, antara lain : Depkes RI. 2009. Pedoman Pengawasan Wilayah Setempat Kesehatan
Ibu dan Anak ( PWS KIA); Jogiyanto, H.M. 2009. Sistem Teknologi Informasi. Andi.; Davis, G.1992.
Sistem Informasi Manajemen, Pustaka Binawan