Anda di halaman 1dari 6

BAHAN LBM 1 BLOK 20 ISTIANAH/112110202

Pemilihan warna gigi : sesuai dengan warna gigi tetangga dengan bantuan pedoman warna (shade guide)
untuk menentukan value (tingkat warna gelap ke terang), chroma(kepekatan warna), hue (merah atau
kuning)
warna memiliki dimensi Hue, Gchroma, dan Value, yang umumnya kurang dipahami. Hue diartikan sebagai
warna dasar sebuah obyek, chroma diartikan sebagai tingkat kejenuhan hue dan value diartikan
sebagaikecerahan.

Klasifikasi dasar dari garis senyum dapat dibagi menjadi empat tipe.
Garis senyum rendah: kurang dari 50% dari tinggi insisal gigi anterior atas, dan tidak ada margin
gingiva yang terlihat pada senyuman natural. pada tipe garis senyum ini, simetri lebar adalah
penting.
Garis senyum medium: diantara 50% dan 100% dari tinggi insisal dari gigi anterior atas, dan papila
terlihat pada senyuman natural. Marginal gingiva, namun tidak tampak,lagi-lagi simetri lebar adalah
penting, walaupun tinggi juga relevan jika terdapat kehilangan papila.
Garis senyum tinggi: seluruh tinggi dari gigi anterior atas juga papila dan marginal gingiva terlihat
pada senyum natural. Baik lebar dan tinggi adalah penting dan posisi jaringan lunak dan simetri
harus selalu dipertimbangkan.
Senyum gusi (gummy smile): seluruh tinggi dari gigi anterior atas dan sejumlah besar dari jaringan
lunak terlihat.

ETIOLOGI DISKOLORISASI GIGI
Perubahan
warna gigi dapat digolongkan:
1. Perubahan warna ekstrinsik yaitu pewarnaan gigi yang terdapat pada permukaan gigi, biasanya
disebabkan oleh the, rokok tembakau.
2. Perubahan warna intrinsic yaitu perubahan warna pada gigi jika ada discoloring agent yang berpenetrasi
ke dalam struktur gigi.
Perubahan warna oleh tetracycline
Tetracycline membentuk khelat dengan ion hidroksiapatit dentin yang sedang mengalami mineralisasi dan
membentuk tetracycline ortofosfat yang berwarna.
Perubahan warna oleh fluor
Kandungan fluor yang berlebih dalain air minum (1 ppm) terutama jika dikonsumsi selama pembentukan
email menyebabkan hipoplasia email. Gambaran kliniknya berupa : titik-titik putih/coklat, perubahan putih
opak diseluruh permukaan email sampai dengan lekukan-lekukan yang disertai perubahan warna pada dasar
lekukan.
Perubahan warna oleh karena trauma
OIeh karena trauma pembuluh darah pecah dan berdisfusi ke tubuli dentinalis.
Perdarahan Intrapulpa, akibat trauma pada gigi dapat menyebabkan terputusnya pembuluh darah pada pulpa
dan terjadi lisis sel darah merah. Adanya perubahan warna ini pada beberapa kasus ternyata gigi tetap vital
dan proses pemutihan gigi berhasil baik.
Perubahan warna oleh karena sisa jaringan pulpa/pulpa nekrosis
Jaringan nekrotik terurai menjadi berbagai produk degradasi protein dan berdisfusi ke
tubuli dentinalis.
Pada nekrosis pulpa, noda yang terjadi secara alamiah atau terjadi saat atau setelah email/ dentin terbentuk
kadang akibat cedera traumatik. Adanya iritasi mekanis, bakteri maupun kimiawi yang menyebabkan
penumpukan produk nekrosis di dalam tubulus dentin dan perubahan warna ini dapat diputihkan secara
bleaching internal dengan hasil yang baik.

Perubahan warna oleh karena bahan di kedokteran gigi
Bahan Kedokteran Gigi yang dapat menyebabkan perubahan warna:
1. Bahan tumpatan/ restorasi misalnya : amalgam, pin
2. Obat-obatan intra kanal, misalnya golongan fenol
3. Semen saluran akar
Perubahan warna Iatrogenik merupakan perubahan warna akibat penggunaan bahan-bahan kimia untuk
perawatan gigi, misalnya material obturasi pada kamar pulpa yang tidak bersih, sisa jaringan pulpa saat
ekstirpasi, obat-obat intrakanal golongan fenol dapat penetrasi ke dentin secara perlahan, adanya restorasi
korona, adanya tumpatan amalgam sulit diputihkan dan pada komposit dapat dilakukan restorasi ulang.
Perubahan warna oleh karena penyakit sistemik
1. Eritroblastosis fetalis
2. Porfiria
3. suhu tubuh yang tinggi saat pembentukan gigi
Metamorfosis kalsium
Pembentukan dentin sekunder ireguler secara ekstensif di dalam kamar pulpa atau pada dinding saluran
akar, disebabkan oleh karena suatu cedera yang kuat. Biasanya gigi tetap vitaI.
Metamorfosis kalsium, merupakan pembentukan dentin sekunder ireguler secara ekstensif akibat trauma dan
menyebabkan odontoblast rusak. Translusensi gigi akan berkurang hingga menyebabkan gigi kekuningan
namun pulpa tetap vital.

INDIKASI BLEACHING
1. Indikasi
Bleaching ekstra koronal biasa dilakukan terhadap gigi vital yang mengalami perubahan warna (baik
kongenital maupun perkembangan). Pemutihan pada gigi vital dapat dilakukan pada keadaan :
- pewarnaan tetrasiklin yang ringan pada gigi yang saluran akarnya telah menutup sempurna
- fluorosis ringan
- gigi dengan saluran akar yang telah menutup sempurna dengan tujuan fungsi estetis (Heasman, 2003)
- Dapat pula digunakan pada saat sebelum prosedur restorasi gigi (Paravina dan Powers, 2004).
1. Ketidak puasan pasien terhadap warna gigi
2. Memperpanjang pemenuhan estetik dari mahkota tiruan yang akan lebih terang dibandingkan gigi
asli sesuai warna mahkota tiruan.
3. Merawat gigi yang secara tunggal lebih gelap, baik pada keadaan vital / nonvital.

Indikasi Non vital Bleaching
Beberapa kasus perubahan warna yang disebabkan oleh:
Perdarahan karena trauma
Preparasi kavitas ruang pulpa yang tidak baik
Obat sterilisasi saluran akar
Bahan pengisi saluran akar
Bahan tumpatan amalgam

KONTRAINDIKASI BLEACHING
Gigi vital yang tidak dapat dilakukan pemutihan adalah gigi vital dengan kondisi :
- Ruang pulpa besar dimana mengakibatkan gigi sensitif
- Saluran akar yang masih terbuka
- Adanya pengikisan email
- Restorasi yang luas
- Alergi peroksida (Goldstein, 1998)
- Gigi yang mengalami karies yang tidak direstorasi
- Restorasi yang rusak
- Sensitivitas gigi yang sudah dirasakan sebelumnya (Paravina dan Powers, 2004).
1. Pasien dengan hipersensitivitas pada gigi.
2. Anak-anak dengan pulpa yang lebar
3. Gigi yang mengalami keretakan.
4. Wanita hamil dan menyusui.
5. Seseorang yang alergi terhadap bahan bleaching.
6. Pasien dengan restorasi estetik.
7. Pasien dengan riwayat kelainan TMJ.
8. Pasien yang mengalami bruxism.

Kontra Indikasi Non Vital Bleaching
Gigi dengan karies yang besar
Gigi dengan pengisian saluran akar yang tidak baik
Gigi dengan pengisian Ag Point
Kekurangan non vital Bleaching kemungkinan terjadi eksternal cervical root Resorbtion
Rediscoloration

EVALUASI UMUM SEBELUM PERAWATAN BLEACHING
1. Warna gigi
2. Cek : karies, restorasi yang rusak
3. Kondisi email : ketebalan, tekstur, erosi/abrasi/atrisi
4. Kondisi gingival : iritasi, Inflainasi
5. Sensitivitas gigi
6. Rontgent photo : ukuran pulpa, patologi apical

TEKNIK-TEKNIK PERAWATAN BLEACHING
Teknik Termokalitik
Dilakukan pada gigi non vital pasca perawatan saluran akar dengan prosedur sebagai berikut:
1. Dilakukan rontgent foto untuk melihat kondisi periapikal dan perawatan saluran akar.
2. Gigi di foto sebagai bahan perbandingan.
3. Gingiva dioles dengan vaseli/petroleum jelly, gigi yang akan diputihkan diisolasi dengan rubber dam.
4. Tumpatan pada kavitas akses dibuka sampai bersih.
5. Selapis tipis dentin yang berubah warna dibuang secara hati-hati ke arah labial.
6. Semua bahan diangkat sampai sedikit di bawah tepi gingival.
7. Letakkan pelapis tipis semen basis yang cukup (polikarboksilat/seng phosphat/SIK) minimal 2 mm di atas
bahan pengisi.
8. Kavitas dibersihkan dengan semprotan air untuk menghilangkan serbuk dentin, kemudian dikeringkan.
9. Masukkan bulatan-bulatan kapas yang telah dibasahi superoxol, larutan diaktifkan dengan:
- Cahaya dan panas dengan lampu photoflood
- Atau dengan instrumen yang dipanasi dengan nyala api spirtus
Ulangi tindakan pemanasan sampai kapas kering, jika sudah kering dapat ditambahkan superoxol lagi.
Tahap ini diulang-ulang sampai didapatkan warna yang diharapkan.
10. Jika warna yang diharapkan sudah diperoleh, kavitas ditumpat dengan resin komposit.
Teknik Walking Bleach
Dilakukan pada gigi non vital pasca perawatan saluran akar dengan prosedur sebagai berikut:
1. Dilakukan rontgent foto untuk melihat kondisi periapikal dan perawatan saluran akar.
2. Gigi di foto sebagai bahan perbandingan.
3. Gingiva dioles dengan vaselin/petroleum jelly, gigi yang akan diputihkan diisolasi dengan rubber dam.
4. Tumpatan pada kaVitas akses dibuka sampai bersih.
5. Selapis tipis dentin yang berubah warna dibuang secara hati-hati ke arah labial.
6. Semua bahan diangkat sampai sedikit di bawah tepi gingival.
7. Letakkan pelapis tipis semen basis yang cukup (polikarboksilat/seng phosphat/SlK) minimal 2 mm di atas
bahan pengisi.
8. Kavitas dibersihkan dengan semprotan air untuk menghilangkan serbuk dentin, kemudian dikeringkan.
9. Sodium perborat + (air / salin / cairan anasthesif / superoxol) membentuk konsistensi seperti pasir basah
kemudian dimasukkan dalam kamar pulpa.
10. Buang kelebihan pasta, ditutup dengan tumpatan sementara dan dievaluasi setelah 7 hari, jika hasilnya
kurang memuaskan dapat diulang.
Teknik pumis asam
Merupakan teknik dekalsifikasi dan pembuangan selapis tipis email yang berubah warna. Biasanya
dilakukan pada gigi yang mengalami fluorosis.
1. Gigi difoto
2. Gingiva dilindungi dengan vaselin, gigi diisolasi dengan rubber dam dan diikat dengan dental floss.
3. Bagian yang terbuka dari muka pasien ditutup dengan handuk.
4. HCL 36% + air HCL 18%, kemudian ditambah pumis sampai membentuk pasta padat.
5. Pasta tersebut diletakkan pada permukaan email dengan spatel kayu dan digerakkan memutar dengan
tekanan kuat 5 detik kemudian dicuci dengan air I0 detik.
6. Prosedur no. 5 diulang sanipai didapatkan warna yang dikehendaki.
7. Gigi dinetralkan dengan Na bikarbonat. + air.
8. Isolator diangkat, gigi dipumis dengan pasta profilaktik yang halus.
Teknik eksternal dengan lampu pemanas
Dilakukan pada gigi vital yang berubah warna oleh karena tetracycline
1. Gigi difoto
2. Gingiva dilindungi dengan vaselin, gigi diisolasi dengan rubber dam dan diikat dengan dental floss.
3. Permukaan gigi digosok dengan pumice kemudian dicuci dan dikeringkan.
4. Etsa permukaan labial dan lingual dengan asam phosphat 37% selama 20 detik dicuci dengan air 30 detik,
dikeringkan.
5. Potong kasa 2 x 2 inci (bisa menutup permukaan labial dan lingual dengan melewati bagian incisal).
6. Kasa dibasahi dengan superoxol, diletakkan pada permukaan gigi dengan bantuan pinset.
7. Pasang lampu pemanas 30 cm dari permukaan gigi
8. Kain kasa dijaga tetap basah dengan meneteskan lar.superoxol tiap 4-5 menit, tahap ini diulang-ulang
sampai 30 menit.
9. Kasa dilepas, gigi dicuci dengan air hangat.
10. Rubber dam dilepas.
11. Pasien dibiaiican silcat gigi untuk menghilangkan sisa-sisa protective base.
12. Gigi dipolish dengan rubber polisher.

EFEK SAMPING BLEACHING
Kerugian dari penggunaan bleaching eksternal adalah (Goldstein 1995, p. 18):
1. Sifatnya tidak permanen, apabila dibandingkan dengan crown dan veneer
Hal ini juga dipengaruhi kebiasaan buruk pasien yang tidak dihentikan, seperti merokok, minum kopi,
dan teh.
2. Bleaching eksternal hanya efektif untuk menghilangkan stain ekstrinsik
3. Iritasi gingiva dan gigi sensitif
Keduanya merupakan efek samping yang paling sering dijumpai, dan biasanya sembuh setelah
beberapa hari. Iritasi gingiva biasanya disebabkan karena bahan bleaching mengenai gingiva. Gigi
sensitif dapat disebabkan tray terlalu kaku atau penggunaan bahan bleaching dalam jangka waktu
panjang.
4. Berpotensi menyebabkan kanker
Bahan bleaching yang mengandung peroksida menghasilkan radikal bebas, radikal bebas dapat
berhubungan dengan kanker. Perlu memperingatkan pasien yang memiliki faktor resiko (Gladwin
2009, p. 219).
5. Perubahan morfologi enamel
Pada penelitian nampak perubahan gambaran email menjadi lebih kasar, berpori-pori, dan ada bercak
berwarna putih jika dilihat secara mikroskopis. Ada satu laporan kasus mengenai perusakan non
reversible pada struktur gigi yang sehat setelah penggunaan home bleaching yang berlebihan selama 2
bulan (Farahanny 2009, p. 9).
6. Pada penelitian dengan menggunakan bleaching overnight pada gigi anterior dengan karbamid
peroksida 10%, mengakibatkan pulpitis ringan yang dapat sembuh dalam waktu 2 minggu (Ingle 2008,
p. 484)
7. Gangguan sendi TMJ, nausea, timbul lesi jaringan lunak, dan batuk akibat bahan bleaching yang
tertelan (Powers 2008, p. 136).

MEKANISME PENYEMPITAN KAMAR PULPA HINGGA SALURAN AKAR
Pulpa adalah organ formatif gigi dan membangun dentin primer selama perkembangan gigi, dentin sekunder
setelah erupsi, dan dentin reparative sebagai respon terhadap stimulasi selama odontoblas masih utuh.
Primer dentin adalah dentin yang dibentuk sewaktu masih dalam kandungan. Sekunder dentin (irregular
dentin) adalah dentin yang terbentuk karena pacuan-pacuan yang dialami oleh odontoblast misalnya oleh
rangsangan mekanis, panas, kimia atau yang paling utama rangsangan oleh karena karies gigi. Tertier dentin
adalah dentin yang terbentuk oleh karena adanya rangsangan terhadap odontoblast pada perawatan
endodontic seperti pulp capping direct atau amputasi vital.

Mekanisme Pembentukan Dentin Sekunder
Dentin Sekunder
Pembentukan dentin berlangsung sepanjang hidup, dan dentin yang terbentuk setelah gigi-gigi terkalsifikasi
seluruhnya dan berfungsi disebut dentin sekunder. Dentin sekunder memberi tambahan pada dentin semula
dan cenderung muncul dalam suatu lapisan di atas dentin pada pertautan pulpanya.
Dentin sekunder disusun setelah erupsi gigi. Dapat dibedakan dari dentin primer karena tubuli membengkok
tajam dan menghasilkan suatu garis demarkasi. Dentin sekunder ditumpuk secara tidak rata pada dentin
primer dengan suatu kecepatan rendah dan mempunyai pola inkremental dan struktur tubular kurang teratur
dibandingkan dentin primer. Misalnya, dentin sekunder ditumpuk dalam kuantitas lebih besar pada dasar
dan atap ruang pulpa daripada pada dinding pulpa. Deposisi yang tidak rata ini menerangkan pola reduksi
kamar pulpa dan tanduk pulpa kalau gigi menua. Deposisi dentin sekunder ini melindungi pulpa.

Dentin Reparatif
Dentin reparatif, juga dikenal sebagai dentin iregular atau dentin tersier, disusun oleh pulpa sebagai suatu
respon protektif terhadap rangsangan yang membahayakan. Rangsangan ini dapat diakibatkan karies,
prosedur operatif, bahan restoratif, abrasi, erosi, atau trauma. Dentin reparatif ditumpuk pada daerah yang
dipengaruhi dengan rata-rata kecepatan yang meningkat dengan rata-rata 1,5 m tiap hari. Kecepatan,
kualitas, dan kuantitas dentin reparatif yang ditumpuk tergantung dari keparahan dan lamanya injuri pada
odontoblas dan biasanya dihasilkan oleh odontoblas pengganti.
Jika suatu rangsangan ringan dikenakan pada odontoblas untuk periode waktu yang panajang, seperti abrasi,
dentin reparatif mungkin ditumpuk pada suatu kecepatan lambat. Jaringan ini ditandai oleh tubuli yang agak
tidak teratur. Sebaliknya, suatu lesi karies yang agresif atau suatu rangsangan mendadak lain akan
merangsang produksi dentin reparatif dengan tubuli yang lebih sedikit dan lebih tidak teratur. Sebaliknya,
suatu lesi karies yang agresif atau suatu rangsangan mendadak lain akan merangsang produksi dentin
reparatif dengan tubuli yang lebih sedikit dan lebih tidak teratur. Bila odontoblas terkena injuri yang tidak
dapat diperbaharui, odontoblas yang hancur akan meninggalkan tubuli kosong, yang disebut dead tract
kecuali kalau pulpa terlalu atrofik. Karena dentin reparatif mempunyai lebih sedikit tubuli, meskipun kurang
bermineral, dentin reparatif mampu berfungsi sebagai lapisan yang akan merintangi masuknya produk atau
zat yang membahayakan ke dalam pulpa. Bila karies berkembang dan bila lebih banyak odontoblast terkena
injuri yang tidak dapat di perbaiki, lapisan dentin reparatif akan menjadi lebih lebih atubular dan dapat
mempunyai inklusi ( inclusion) sel, yaitu odontoblast yang terjebak. Inklusi selular tidak umum pada gigi
manusia. Pada penghilangan karies, sel mesenkim daerah kaya sel akan berkembang menjadi odontoblast
untuk mengganti yang mengalami nekrosis. Odontoblast yang baru terbentuk ini dapat menghasilkan dentin
yang teratur atau suatu dentin amorfus, pengapurannya jelek dan permebel. Daerah demarkasi antara dentin
sekunder dan dentin reparatif disebut garis kalsiotraumatik.
Sepanjang hidup dentin akan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, termasuk keausan normal, karies,
prosedur operatif, dan restorasi. Perubahan ini seringkali menyebabkan timbulnya respons protektif melalui
terdepositnya dentin reparatif, tetapi pembentukan dentin ini akan terbatas pada tubulus yang berkaitan
dengan daerah iritasi. Komposisi dentin reparatif dan dentin sekunder adalah sama, dan keduanya hanya
berbeda pada lokasi deposisinya.
Bila gangguan lingkungan cukup kuat, odontoblas dan prosesus tubularnya akan mati, sehingga tubulus akan
menjadi kosong. Bila terjadi pengumpulan tubulus-tubulus yang kosong, tubulus akan kelihatan gelap pada
gambaran mikroskopis dan disebut sebagai saluran yang mati. Ujung pulpa dari tubulus biasanya tertutup
oleh dentin reparatif, dan setelah waktu tertentu tubulus akan terkalsifikasi dan pola tubular pada dentin
yang terpotong akan tersumbat. Istilah lain yang digunakan untuk menyebut tubulus yang mengalami
kalsifikasi adalah dentin sklerotik.
Pertahanan terhadap karies yeng dalam berlanjut terjadi dalam bentuk dentin reparatif yang terdeposit dalam
kamar pulpa dan tubulus dentin. Jika proses karies melebihi kecepatan dari respons pulpa, dasar dentin keras
tidak akan terbentuk. Atau jika kondisi ini parah, dentin lunak berhubungan langsung dengan pulpa itu
sendiri.
Gigi dengan kavitas yang dalam pada ekskavasi dari dentin yang nekrosis, akan menunjukkan daerah dentin
yang mengalami dekalsifikasi (tebal 0,5 mm) dan lunak, tetapi tetap utuh. Jika lapisan dentin semi-solid ini
disingkirkan dan bila pulpa berhasil menahan serangan proses karies yang hebat, biasanya akan dijumpai
selapis dentin yang keras dengan permukaan licin dan mengkilap. Meskipun demikian, semua karies dentin
yang berbatasan dengan pulpa tidak harus disingkirkan.
MEKANISME METAMORFOSIS KALSIUM
Pembentukan dentin sekunder ireguler secara ekstensif di dalam kamar pulpa atau pada dinding saluran akar
menyebabkan translusensi mahkota gigi berkurang atau warna gigi berubah menjadi kekuningan atau kuning
kecoklatan.
Pada pasien yang sudah tua,perubahan warna gigi terjadi secara fisiologis sebagai akibat aposisi dentin
secara berlebihan disamping karena penipisan dan perubahan optik dalam email.

MEKANISME PEMUTIHAN GIGI
Hidrogen peroksida berdifusi melalui matriks organik pada enamel dan dentin. Radikal bebas tidak
memiliki elektron pasangan, mereka bersifat sangat elektrofilik dan tidak stabil dan akan memecah molekul
organik lainnya agar stabil, menghasilkan radikal lainnya. Setelah terbentuk HO
2
dalam jumlah besar, maka
radikal bebas ini akan bereaksi dengan ikatan tidak jenuh, menyebabkan perpecahan konjugasi elektron dan
perubahan penyerapan energi dari molekul organik pada enamel. Molekul yang lebih sederhana yang
memantulkan cahaya terbentuk, menjadikan proses pemutihan gigi berhasil. Proses ini terjadi ketika bahan
pengoksidasi (hidrogen peroksida) bereaksi dengan material organik pada jarak antara garam anorganik
dalam enamel gigi.
Hidrogen perokside (H2O2) pada keadaan alami bersifat cair, sedikit asam dan bila terurai secara
alami akan menghasilkan air dan oksigen. H2O2 juga bersifat oksidator karena mampu menghasilkan
oksigen aktif (radikal bebas). Proses pemutihan akan terjadi apabila pada bahan peroksida dilakukan
pengubahan pH, suhu, cahaya untuk mendapatkan oksigen aktif, yang dalam hal ini bersifat elektrofilik.
Elektrofilik berarti hanya memiliki satu elektron pada susunan kimianya dan berusaha mendapatkan
kestabilan. Oksigen aktif akan tertarik kepada daerah yang kaya dengan ikatan ganda, memutuskan ikatn
tersebut menjadi ikatan yang lebih sederhana, dan secara visual nampak perubahan warna menjadi lebih
terang.

FAKTOR2 YANG MEMEPENGARUHI PERUBAHAN WARNA
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan warna gigi sebelum prosedur perawatan dimulai, diantaranya
warna gigi yang normal, gigi sulung putih kebiruan, dan gigi permanen putih kekuningan. Warna gigi
ditentukan oleh translusensi dan ketebalan email dan warna dentin dibawahnya. Bertambahnya umur email
menjadi lebih tipis dan dentin jadi lebih tebal karena deposisi dentin sekunder
PERAWATAN GARIS SENYUM TINGGI

PERAWATAN PERUBAHAN WARNA
Penanggulangan gigi yang mengalarni discolorasi:
- Mahkota jaket
- Pelapisan dengan resin komposit
- Bleaching