Anda di halaman 1dari 17

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

PROGRAM STUDI FARMASI



LAPORAN PRAKTIKUM
TITIK EUTEKTIKUM





OLEH :
NAMA : CHINDY HERINA NATU
NIM : 12.01.194
KELOMPOK : I
ASISTEN : ISELLA KALAMBO



SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
MAKASSAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Entalpi adalah istilah dalam termodinamika yang menyatakan jumlah
energi internal dari suatu sistem termodinamika ditambah energi yang
digunakan untuk melakukan kerja pada sebuah materi. Entalpi
digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu entalpi pembentukan standar,
entalpi penguraian standar, entalpi pembakaran standar, dan entalpi
pelarutan standar. Entalpi yang berperan disini adalah entalpi pelarutan,
yang dimaksud dengan entalpi pelarutan adalah jumlah kalor yang
diperlukan atau dibebaskan untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan
standar.
Pada larutan jenuh terjadi keseimbangan antara zat terlarut dalam
larutan dan zat yang tidak terlarut. Pada keadaan kesetimbangan ini
kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap dan konsentrasi
zat dalam larutan akan selalu tetap. Secara umum panas kelarutan adalah
positif (endotermis) sehingga menurut Vant Hoff makin tinggi temperatur
maka akan semakin banyak zat yang larut. Sedangkan untuk zat-zat yang
panas pelarutannya negatif (eksotermis), maka semakin tinggi suhu akan
makin berkurang zat yang dapat larut.



I. 2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I. 2. 1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami hasil perubahan suhu dari
perubahan reaksi kimia dan fisika.
I. 2. 1 Tujuan Percobaan
Mengetahui perubahan suhu pada pengenceran KBr
Menentukan panas reaksi dari larutan CaCO
3

I. 3 Prinsip Percobaan
Penentuan panas pelarutan dan panas reaksi dari larutan KBr dan
CaCO
3
dimana dilakukan penambahan jumlah mol air yang berbeda
dan penambahan HCl yang dibiarkan bereaksi dengan penambahan
jumlah mol zat yang berbeda.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum
Suatu sistem dapat mengalami perubahan karena berbagai hal,
misalnya akibat perubahan suhu, perubahan volume, maupun
perubahan tekanan. Bila sistem mengalami perubahan pada \ tekanan
tetap, maka perubahan kalor disebut dengan perubahan entalpi (H).
Satuan H adalah Joule / mol.
H = - qp
....................................................................................(1)
Besarnya perubahan entalpi suatu sistem dinyatakan sebagai selisih
besarnya entalpi sistem setelah mengalami perubahan dan sebelum
mengalami perubahan, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
H = Hakhir - Hawal
........................................................................(2)
Suatu reaksi kimia dibedakan menjadi reaksi eksoterm dan reaksi
endoterm. Reaksi dikatakan eksoterm bila sistem tersebut melepas
panas atau kalor sehingga H <0. Sedangkan suatu reaksi dikatakan
endoterm bilas istem menyerap kalor atau panas atau energi dari
lingkungannya untuk proses reaksi tersebut dan berarti H>0. Reaksi
netralisasi adalah reaksi asam dengan basa yang menghasilkan
garam. Umumnya reaksi netralisasi bersifat eksotermik. Perubahan
entalpi netralisasi atau Hn didefinisikan sebagai perubahan entalpi
pada reaksi asam dan basa yang menghasilkan 1 mol air (H2O).
Kalor merupakan bentuk energi yang terjadi akibat adanya perubahan
suhu. Jadi perubahan kalor suatu reaksi dapat diukur melalui
pengukuran perubahan suhu yang 2 terjadi. Jumlah kalor yang diserap
atau dilepas suatu sistem sebanding dengan massa, kalor jenis zat
dan perubahan suhunya.
II.2 Uraian Bahan
1. Air suling ( 2;96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Sinonim : Air suling
RM/BM : H
2
O /18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa ,
tidak berbau
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut



2. Kalium Bromida (2;328)
Nama resmi : KALII BROMIDUM
Sinonim : Kalium bromida
RM/BM : KBr/119,01
Pemerian : Hablur, tidak berwarna, transparan atau
buram,atau serbuk butir, tidak berbau, rasa
asin, dan agak pahit
Kelarutan : Larut dalam 1,6 bagian air dan dalam 200
bagian etanol (90%) P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai sampel
3. Asam klorida (2;53)
Nama resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM
Sinonim : Asam klorida
RM/BM : HCl /36,46
Pemerian : Tidak berwarna, berasap, bau merangsang,
jika diencerkan dengan dua bagian air,
berasap dan bau hilang
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


4. Kalsium Karbonat (2;120)
Nama resmi : CALCII CARBONAS
Sinonim : Kalsium karbonat
RM/BM : CaCO
3
/68,09
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau dan tidak
berasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sangat sukar larut
dalam air yang mengandung karbondioksida
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai zat tambahan











BAB III
METODE KERJA

III. 1 Alat dan Bahan
III. 1. 1 Alat
Alat yang digunakan yaitu gelas piala, batang pengaduk,
termometer, neraca Analitik, botol semprot, gelas ukur dan sendok
tanduk
III. 1. 2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah aquadest, CaCO
3
, HCl P, KBr
dan isolasi hitam.
III. 2 Cara Kerja
A. Panas pelarutan dan pengenceran integral
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang KBr yang setara dengan 0,1 mol zat, dimasukkan
ke dalam kalorimeter. Ditambahkan aquadest yang setara
dengan 1 mol H
2
O. Diaduk dan diukur suhu larutan.
3. Diulangi prosedur (1) dengan jumlah air yang berbeda, yaitu
digunakan 1, 2, 3, 4, 7; 8, 9, dan 10 mol.
4. Dibuat tabel dan grafik.


B. Panas reaksi
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang 1 mol CaCO
3
, dimasukkan dalam gelas piala yang
telah diberi isolate (dibungkus dengan solatif).
3. Dimasukkan 1 mol HCl p ke dalam gelas piala tersebut,
dibiarkan bereaksi dan diukur suhu larutan.
4. Diulangi dengan menggunakan 2 mol zat.
5. Dicatat dan dihitung panas reaksinya.












BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV. 1 Data
A. Panas pelarutan dan pengenceran
Penambahan aquadest
(mol)
Volume
aquadest (ml)
Suhu (
0
C)






.



Catatan : Bobot KBr = 1 mol = 11,9 gram






B. Panas reaksi





1 18,02 25C
2 36,04 24C
3 54,06 26C
4 72,08 28C
7 126,14 27C
8 144,16 28C
9 162,18 31C
10 180,20 31C
Jumlah HCl (ml)
Jumlah CaCO
3
(gram)
Suhu (
0
C)
10 5 38C
20 10 40C

IV. 2 Perhitungan
BM KBr = 119,01
0,1 mol KBr = 0,1 x 119,01
= 11,9 gram
H
2
O
1 mol =


gram = 18,02 x 1 mol
= 18,02 gram = 18,02 ml
2 mol =


gram = 18,02 x 2 mol
= 36,04 gram = 36,04 ml
3 mol =


gram = 18,02 x 3 mol
= 54,06 gram = 54,06 ml
4 mol =


gram = 18,02 x 4 mol
= 72,08 = 72,08 ml
7 mol =


gram = 18,02 x 7 mol
= 126,14 gram = 126,14 ml
8 mol =


gram = 18,02 x 8 mol
= 144,16 gram = 144,16 ml
9 mol =


gram = 18,02 x 9 mol
= 162,18 = 162,18 ml
10 mol =


gram = 18,02 x 10 mol
= 180,20 gram = 180,20 ml




BAB V
PEMBAHASAN

Termodinamika pada praktikum ini mempelajari perubahan panas
yang mengikuti reaksi kimia dan perubahan perubahan fisika.
Penentuan perubahan panas yang terjadi pada reaksi reaksi kimia
biasanya menggunakan kalorimetri. Besarnya panas reaksi dapat
dinyatakan pada tekanan tetap dan volume tetap.
Panas yang ditimbulkan atau diserap tergantung pada jumlah mol
pelarut dan zat terlarut. Sampel yang digunakan dalam percobaan ini
adalah KBr dan CaCO
3
yang dilarutkan dengan aquadest dan HCl. Untuk
larutan CaCO
3
yang ada dalam gelas piala dibungkus dengan
menggunakan isolasi hitam dan ditambahkan 1 mol HCl p.
Dalam praktikum ini dilakukan dengan 2 percobaan yaitu:
a. Panas pelarutan dan pengenceran integral
Pada percobaan ini digunakan sampel KBr yang setara
dengan 1 mol = 11,9 gram, lalu ditambahkan dengan aquadest
yang setara 1 mol kemudian diukur suhunya. Kemudian dilanjutkan
dengan penambahan air yang setara 2, 3, 4, 7, 8, 9, dan 10 mol,
lalu diukur suhunya kembali. Maka diperoleh data dimana terjadi
peningkatan suhu dari jumlah air yang paling sedikit suhunya
rendah hingga jumlah air yang paling banyak dimana suhunya
meningkat pula. Ini menunjukkan bahwa semakin encer KBr
semakin sulit terjadi penurunan suhu.
b. Panas reaksi
Pada percobaan ini menggunakan CaCO
3
dan HCl p dimana
suhunya masing masing pada 5 gram CaCO
3
dan 10 ml HCl adalah
38
0
C dan pada 10 gram CaCO
3
dan 20 ml HCl adalah 40
0
C. Dari hasil ini
maka dapat dikatakan bahwa HCl (pelarut) mempengaruhi kenaikan atau
penurunan suatu suhu larutan. Dalam hal ini HCl meningkatkan suhu
akibat peleburan dari CaCO
3
.








BAB VI
PENUTUP


VI. 1 Kesimpulan
Panas pelarutan dan pengenceran integral
Semakin banyak jumlah H
2
O, maka semakin naik suhu dari
KBr begitu juga sebaliknya.
Panas reaksi
Semakin banyak jumlah CaCO
3
dan HCl, maka semakin naik
suhu dari larutan dan semakin sedikit jumlah CaCO
3
dan HCl,
maka semakin menurun suhu dari larutan.
VI. 2 Saran
Alat dilengkapi demi kelancaran praktikum.






DAFTAR PUSTAKA

Alberty, Robert.A. 1991. Kimia Fisik. Jakarta : Erlangga.

Anonim. 2010. Asam Asetat. http://www.id.wikipedia.org/Asam-Asetat
diakses tanggal 22 oktober 2010.

Anonim. 2010. Natrium Hidroksida.
http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Hidroksida diakses tanggal 22
oktober 2010.

Anonim. 2010. Natrium Klorida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-
Klorida diakses tanggal 22 oktober 2010.

Anonim. 2010. Pheolptealein.
http://www.id.wikipedia.org/Phenolptealein diakses tanggal 22 oktober
2010.

Atkins, Pw. 1999. Kimia Fisika Jilid 1 edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.

Brady, James. 1998. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta :
Bina Rupa Aksara.

Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Rineka Cipta: Jakarta.















LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA
PERCOBAAN V
TERMODINAMIKA






OLEH :
NAMA : Nency J. Tangketasik
NIM : 0801015
KELOMPOK : I ( SATU )
ASISTEN : NURSAMSIAR S.Si,M.Si
TGL PRAK : 27 Mei 2009

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI KEBANGSAAN
MAKASSAR
2009