Anda di halaman 1dari 25

UJI TRIANGLE

Oleh :

Nama : Pika Apriyance
NRP : 113020094
No. Meja : 4 (Empat)
Kelompok : E
Tanggal Praktikum : 18 Maret 2014
Asisten : Nur Laila Shaumi














JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2014
I PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Tujuan percobaan,
(3) Prinsip Percobaan, (4) Aplikasi dalam Bidang Pangan.
1.1 Latar Belakang
Uji Triangle merupakan salah satu bentuk pengujian pembeda, dimana
dalam pengujian ini sejumlah contoh disajikan tanpa menggunakan pembanding.
Uji Triangle ini ada yang bersifat sederhana, artinya hanya untuk mengetahui ada
tidaknya perbedaan antara dua macam sampel, tetapi ada pula yang bersifat lebih
terarah, yaitu untuk mengetahui sejauh mana perbedaan antara dua sampel
tersebut (Kartika, 1987).
Uji segitiga (triangle test) digunakan untuk mendeteksi perbedaan yang
kecil. Pengujian ini lebih banyak digunakan karena lebih peka daripada uji
pasangan. Uji ini mula-mula diperkenalkan oleh 2 ahli statistik Denmark pada
tahun 1946, dalam uji ini tidak ada contoh, baku atau pembanding. Dalam meberi
penilaian tidak boleh ragu-ragu, harus memilih atau menerka salah satu yang
dianggap paling berbeda. Demikian pula jika panelis tidak dapat membedakan
ketiga contoh tersebut. Karena tiga contoh sekaligus maka harus disiapkan agar
ketiga ukuran, bentuk, warna atau sifat-sifat contoh yang tidak dimiliki dibuat
sama (Soekarto, 1985).
Di dalam pelaksanaan uji segitiga, panelis dimimta memilih satu di antara
3 contoh yang berbeda dengan yang lain. Karena contoh yang dinilai ada 3 maka
peluang secara acak adalah 1/3 atau 33 1/3%. Sebagaimana halnya uji pasangan,
dalam uji segitiga dapat pula ditanyakan lebih lanjut tingkat perbedaan. Tetapi
hasil mengenai tingkat perbedaan tidak lagi peka atau kurang menyakinkan, dalam
uji segitiga keseragaman ketiga contoh sangat penting atau dapat dihindari
pengaruh penyajian (Soekarto, 1985).
Uji triangle ini ada yang bersifat sederhana, artinya hanya untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua macam sampel, tetapi ada pula
yang bersifat lebih terarah, yaitu untuk mengetahui sejauh mana perbedaan antara
dua sampel tersebut (Kartika, 1987).
Pembedaan berarah jika dalam pembedaan contoh-contoh itu disertai arah
perbedaan yaitu lebih kecil atau lebih besar dari bahan baku. Jika dalam
pembedaan itu digunakan bahan pembanding maka sifat-sifat organoleptik yang
ingin dibedakan harus betul-betul jelas dan dipahami para panelis. Keandalan
(realialibility) dari uji pembedaan tergantung dari pengenalan sifat mutu yang
diinginkan, tingkat latihan, dan kepekaan masing-masing anggota panelis
(Soekarto, 1985).
Pengujian pembedaan digunakan untuk menetapkan apakah ada perbedaan
sifat sensorik atau organoleptik antara dua contoh. Meskipun dalam pengujian
dapat saja sejumlah contoh disajikan bersama tetapi untuk melaksanakan
perbedaan selalu ada dua contoh yang dapat dipertentangkan. Dalam hal ini
panelis diminta mengingat kembali sifat itu dan mengecamkan betul-betul
sebelum melakukan penginderaan (Soekarto, 1985).
Proses penginderaan terjadi karena adanya rangsangan yang sesuai dengan
deseptor alat indera. Jadi rangsangan adalah suatu penyebab yang menggertak
proses penginderaan dan menyebabkan tanggapan, kesan atau kesadaran. Benda
yang mengeluarka rangsangan disebut benda perangsang (Soekarto, 1985).
1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan Uji Triangle adalah untuk menguji kemampuan
fisio-psikologis panelis khususnya kemampuan membedakan (descrimination)
dan dapat digunakan untuk memilih atau menyeleksi panelis.
1.3 Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan Uji Triangle adalah berdasarkan sensitivitas dari penelis
dalam membedakan antara 2 sampel yang sifatnya terarah.
1.4 Aplikasi dalam Bidang Pangan
Uji triangle didalam industri pangan dapat digunakan salah satunya adalah
untuk reformulasi suatu produk baru. Sehingga dapat diketahui ada atau tidaknya
perbedaan antara produk lama dan baru. Manfaat dari pengujian triangle adalah
dapat melatih sensitifitas inderawi panelis dan tentunya dapat mengetahui
dan mendeteksi perbedaan sifat sampel (Soekarto, 1985).
Uji triangle di dalam industri pangan dapat digunakan untuk pengendalian
mutu dan riset produk yang diproduksi, untuk membedakan produk yang sejenis
namun berbeda merk atau mendeteksi perbedaan sifat yang tingkat pembedaannya
hanya sedikit dan dapat juga digunakan untuk seleksi panelis (Kartika, 1987).



II BAHAN, ALAT, DAN METODE PERCOBAAN
Bab ini membahas mengenai : (1) Bahan - Bahan yang Digunakan,
(2) Alat-Alat yang digunakan, dan (3) Metode Percobaan.
2.1. Bahan Bahan yang Digunakan
Bahan - bahan yang digunakan dalam Uji Triangle adalah coklat choki-
choki (970) dan gerry pasta (342 dan 750).
2.2. Alat Alat yang Digunakan
Alat-alat percobaan yang digunakan dalam penentuan Uji Triangle
adalah nampan, sendok plastik, gelas, wadah sampel.
2.3. Metode Percobaan
2.3.1. Deskripsi Percobaan
Pada pengujian dengan menggunakan uji triangle, disajikan tiga macam
sampel, diatara tiga sampel tersebut ada dua diantaranya memiliki kesamaan rasa,
dan warna, dan konsistensi. Pada percobaan ini panelis menentukan dua sampel
yang memiliki kesamaan tersebut dengan memberikan tanda nilai
0 untuk sampel yang memiliki kesamaan, warna, aroma, rasa, dan konsistensi
sedangkan nilai 1 untuk sampel yang tidak memiliki kesamaan, warna, aroma,
rasa, dan konsistensi.
2.3.2. Analisis Perhitungan
Berdasarkan tabel Triangle Test dengan jumlah panelis 21 didapatkan
5% dan 10% jumlah minimum yang benar dengan ketentuan :
1. Jika tanggapan yang benar minimum yang benar pada taraf
5 % dan 1 %., maka tiap- tiap perlakuan dinyatakan Tidak Berbeda Nyata.
2. Jika tanggapan yang benar minimal yang benar pada taraf
5 % dan 1 %, maka tiap-tiap perlakuan dinyatakan Sangat Berbeda Nyata.
3. Jika tanggapan yang benar minimal yang benar pada taraf 5 % tapi
minimal yang benar pada taraf 1 %, maka tiap-tiap perlakuan dinyatakan
Berbeda Nyata.
















IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan membahas mengenai : Hasil Percobaan dan pembahasan.
3.1. Hasil Percobaan dan Pembahasan
Tabel 1. Hasil Pengamatan Uji Triangle
Panelis Tanggapan Benar
Jumlah Panelis Rasa Konsistensi Warna
15 14 15
(Sumber : Pika Apriyance, Meja 4, Kelompok E, 2014)
Berdasarkan dari tabel hasil pengamatan didapat tanggapan yang benar
untuk warna, rasa dan konsistensi adalah 15, 14 dan 15, sedangkan hasil tabel
triangle test diperoleh minimum tanggapn yang benar pada taraf 5% adalah 10
dan taraf 1% adalah 11 sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel coklat choki-
choki (970) dalam hal rasa, konsistensi dan warna sangat berbeda nyata dengan
sampel gerry pasta (342 dan 750).
Uji triangle adalah merupakan salah satu bentuk pengujian pembedaan
pada uji organoleptik, dimana dalam pengujian sejumlah contoh disajikan hanya
jika dalam pengujian duo trio menggunakan pembanding sedangkan dalam uji
triangle dengan tanpa menggunakan pembanding. Uji triangle digunakan untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan antar sampel (makanan) yang disajikan, baik
dari warna, rasa, maupun pembauan. Dalam pengujian triangle panelis diminta
untuk memilih salahsatu sampel yang berbeda dari tiga sampel yang disajikan,
sehingga dapat diketahui perbedaan sifat diantara ketiga sampel yang disajikan
(Anonim, 2010).
Uji triangle ini ada yang bersifat sederhana, artinya hanya untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua macam sampel, tetapi ada pula
yang bersifat lebih terarah, yaitu untuk mengetahui sejauh mana perbedaan antara
dua sampel tersebut (Anonim, 2010).
Uji segitiga atau uji triangle ini digunakan untuk mendeteksi perbedaan
yang kecil dengan sifat yang lebih terarah. Pengujian ini lebih banyak digunakan
karena lebih peka dari pada uji pasangan. Dalam pengujian ini kepada masing-
masing panelis disajikan secara acak tiga contoh berkode. Pengujian ketiga contoh
itu biasanya dilakukan bersamaan tetapi dapat pula berturut-turut. Dua dari tiga
contoh itu merupakan contoh yang sama, dan yang ketiga berlainan. Panelis
diminta untuk memilih satu dari tiga contoh yang berbeda dari dua lainnya. Dalam
uji ini tidak menggunakan ataupun tidak disediakan contoh baku atau pembanding
(Anonim, 2010).
Kelebihan uji triangle adalah lebih akurat dibanding uji duo trio karena
peluang kesalahannya sebesar 33,3 %, kekurangannya pada uji triangle jika
panelis kurang teliti panelis akan mengalami kesulitan membandingkan sampel
satu dengan sampel yang laiinya karena semua sampel disajikan. Kelebihan uji
duo trio adalah para panelis mudah membandingkan sampel satu dengan sampel
yang lain karena adanya pembanding dan peluang kesalahannya 50% sedangkan
kekurangannya adalah panelis kadang lupa dengan sifat karakteristik sampel
pembanding.
Aroma merupakan sifat bahan (makanan) dan juga mekanisme reseptor
orang yang makan makanan. Aroma telah mencakup susunan senyawa dalam
makanan yang mengandung rasa atau bau, dan juga interaksi senyawa-senyawa ini
dengan reseptor alat indera, rasa dan bau. Setelah terjadi interaksi, organ
menghasilkan sinyal yang dihantar ke sistem syaraf pusat, dengan demikian
menciptakan apa yang kita kenal sebagai aroma (bau). Aroma biasanya akibat dari
adanya campuran beberapa, kadang-kadang banyak, sebagai senyawa yang
berbau. Efek gabungan menciptakan kesan yang dapat sangat berbeda dengan
aroma komponen satu-persatu. Banyak aroma makanan baik yang alami maupun
yang buatan bersifat gabungan (DeMan, 1997).
Warna penting bagi banyak makanan, baik bagi makanan yang tidak
diproses maupun makanan yang dimanufaktur. Bersama-sama dengan bau, rasa
dan tekstur, warna memegang peranan penting dalam keterterimaan makanan.
Selain itu warna dapat memberi petunjuk mengenai perubahan kimia dalam
makanan, seperti pencoklatan dan pengkaramelan(DeMan, 1997).
Warna merupakan nama umum untuk semua penginderaan yang berasal
dari aktivitas retina mata. Jika cahaya mengenai retina, mekanisme syaraf mata
menanggapi, salah satunya memberi sinyal warna. Cahaya adalah energi radiasi
dengan rentang panjang gelombang sekitar 400-800 nm. Menurut definisi ini,
warna (seperti bau dan tekstur) tidak dapat dipelajari tanpa sistem penginderaan
manusia (DeMan, 1997).
Cara untuk penetralan aroma yaitu saat pengujian tidak terlalu dekat jarak
indera penciuman dengan sampel, sampel yang diuji tidak terlalu menyengat,
diistirahatkan sampai aroma pada indera penciuman netral. Cara penetralan warna
yaitu warna yang terdapat dalam sampel tidak terlalu mencolok dan
penerangantidak terlalu tajam dalam ruangan.
Jenis rangsangan pada umumnya dapat digolongkan dalam kelompok
fisik, mekanik dan kimiawi. Rangsangan tersebut menggertak atau mengenai alat
indera dengan besaran atau intensitas tertentu. Besarnya rangsangan dapat diukur
dengan satuan-satuan fisik yang lazim untuk mengukur fenomena fisik.
Sebaliknya kesan atau tanggapan yang dihasilkan oleh rangsangan mempunyai
dimensi-dimensi. Beberapa dimensi dapat mempunyai satuan fisik tetapi beberap
yang lain tidak dapat diukur dengan satuan fisik dan harus dinyatakan dalam
dimensi psikologik. Beberapa dimensi dari tanggapan atau kesan, yaitu jenis
kesan, intensitas kesan, luas daerah kesan, lama kesan dan kesan hedonik
(Soekarto, 1985).
Jenis kesan yang dihasilkan dari rangsangan garam ialah asin buah pisang
menghasilkan kesan warna kuning. Satu benda perangsang, misalnya buah tomat
dapat menghasilkan beberapa jenis kesan misalnya rasa asam, warna merah halus
pada permukaannnya.
Intensitas kesan mencakup ringan atau beratnya kesan. Mencicip larutan
garam 30% memberi intensitas rasa asin yang lebih tinggi dibandingkan
dengan mencicip larutan garam 0,05%.
Luas daerah kesan yang juga disebut sensation magnitude adalah
kesadaran akan luasnya daerah yang terkena rangsangan. Misalnya menempelkan
sebutir kristal garam diujung lidah akan dirasakan satu daerah sempit di tempat
butir kristal diletakkan. Sebaliknya berkumur dengan larutan garam akan
dirasakan asin ditempat yang lebih luas, meskipun tidak diseluruh permukaan
rongga mulut.
Lama kesan berbeda-beda tergantung pada jenis rangasangan dan jenis alat
indera. Kesan dapat tertinggal lama dirasakan oleh indera tetapi dapat juga
sebentar. Rasa pahit dapat lebih lama dirasakan oleh pangkal lidah sebaliknya rasa
manis akan cepat hilang segera setelah benda perangsangnya hilang. Kesan
yang lama tertinggal disebut kesan kemudian (aftertaste).
Kesan hedonik meliputi tanggapan pribadi yang menyangkut kesan senang
atau tidak senang. Lama kesan dapat diukur dengan satuan waktu, sedang dimensi
yang lain hanya dapat diukur secara psikologik. Hubungan antara rangsangan
dan kesan disebut hubungan psiko-fisik (Soekarto, 1985).
Berdasarkan pengamatan uji triangle diatas, dapat dilihat terdapat
beberapa panelis yang melakukan kesalahan dalam melakukan pengujian, hal ini
mungkin disebabkan karena kurang pekanya panelis terhadap sampel yang
disajikan sehingga menimbulkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan, selain
itu dapat pula disebabkan karena akibat panelis tidak atau kurang mengenal
metode pengujian dan produk yang dinilainya. Seorang panelis yang sudah
berpengalaman sangat kecil kemungkinannya untuk membuat kesalahan seperti
diatas. Berdasarkan hasil pengamatan sebagian panelis sudah mengenal sampel
yang diuji dengan baik, sehingga dapat mengenali perbedaan antara kedua sampel
kecap tersebut, serta faktor psikologis dan faktor fisiologi yang dapat
mempengaruhi hasil penginderaan.
Probability level yang digunakan yaitu 0,5 % dan 0,1 % hal ini disebabkan
karena pada uji duo-trio kita akan memilih panelis terlatih dan panelis stabil.
Untuk 0,5% termasuk panelis terlatih karena panelis terlatih harus melewati
pelatihan kembali agar kepekaannya atau sensitivitasnya lebih teliti dan 0,1%
untuk panelis stabil karena panelis stabil memiliki sensitivitas atau kepekaan yang
sangat teliti, sehingga memakai probability 0,1%. Menggunakan tabel triangle test
karena sampel yang disajikan sekaligus 3 macam sampel.
Dalam menggunakan tabel triangle test yang dipakai adalah probabilitas
5% dan 1%. Sebenarnya itu hanya opsi atau pilihan saja, tidak ada aturan yang
mengharuskan memakai kedua probabilitas tersebut. Tetapi tergantung dari
derajat konfidensi atau tignkat kepercayaan yang diinginkan. Misalnya bila
mengiginkan tingkat kepercayaan 95%, maka tingkat kesalahan atau taraf nyata
memakai 5%. Begitu juga bila menginginkan tingkat kepercayaan 99%, maka
tingkat kesalahan memakai 1% yang biasa digunakan oleh para panelis ahli.
Sedangkan panelis biasa sudah cukup emgnggunakan probabilitas 5% saja.
Sedangkan probabilitas 0,1% biasanya dipakai dalam bidang farmasi atau
kedokteran, karena memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi lagi, sedangkan
dalam bidnag pangan tidak diperlukan suatu tingkat ketelitian yang begitu tinggi
lagi.
Uji pasangan juga disebut paired comparison, paired test atau dual
comparition. Cara pengujian ini termasuk paling sederhanadan paling tua, karena
itu juga sering digubakan. Dalam pengujian dengan uji pasangan, dua contoh
disajikan bersamaan atau berurutan dengan nomor kode berlainan. Masing-masing
anggota panel yang diminta menyatakan ada atau tidak ada perbedaan dalam hal
sifat yang diujikan. Agar pengujian ini efektif, sifat atau criteria yang diujikan
harus jelas dan dipahami panelis (Soekarto, 1985).
Uji pembanding ganda adalah uji pembanding ganda juga disebut dual
standards. Bentuk-bentuk pengujian pembanding ganda menyerupai uji duo trio.
Jika pada uji duo trio digunakan satu contoh baku sebagai pembandimg itu
disuguhkan berbanding yaitu A dan B. Kedua contoh pembanding itu disuguhkan
bersamaan sebelum contoh-contoh yang diujikan, misalnya jika bau tengik yang
diujikan maka panelis harus sudah betul-betul mengenali dan hafal bau tengik itu
dari pembauan. Setelah semua panelis yang akan melaksanakan uji bau itu betul-
betul mengetahui bau tengik pada contoh pembanding, barulah dua contoh yang
akan diujikan disuguhkan secara acak (Soekarto, 1985).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dari suatu pengujian antara
lain adalah motivasi untuk memperoleh hasil pengujian yang berguna sangat
bergantung pada terpeliharanya tingkat secara memuaskan, satu faktor penting
yang dapat membantu tumbuhnya motivasi yang baik ialah dengan mengusahakan
agar panelis merasa bertanggung jawab dan berkepentingan pada pengujian yang
sedang dilakukan. Setelah pengujian selesai dilakukan dan telah diperoleh hasil
analisis datanya, panelis diberitahu tentang hasil pengujian tersebut (Kartika,
1987).
Kesalahan psikologis mungkin saja terjadi bagi seorang panelis sehingga
mempengaruhi terhadap keberhasilan penilaian dan mungkin saja kesalahan ini
yang menjadikan sebab terjadinya kekeliruan pada pengujian.
Kekeliruan yang mungkin terjadi diantaranya adalah hallo efect. Hal ini
disebabkan panelis dalam waktu yang sama menilai akan beberapa karakteristik
dari suatu bahan, misalnya dari segi warna, rasa, bau dan aroma. Hal ini dapat
menjadikan kekeliruan karena pengujian yang dilakukan secara bersama-sama
dalam rasa, warna, bau dan aroma akan berbeda jika dinilai satu aspek saja,
misalnya masalah warna saja, atau aroma saja (Kartika, 1987).
Faktor lain yang berpengaruh adalah sensitivitas physiologis, Untuk
menjaga sensitivitas panelis berada pada suatu tingkatan yang diharapkan, perlu
dilakukan pencegahan terhadap faktor-faktor yang dapat mencampuri fungsi
indera teruatama perasa dan pembauan (Kartika, 1987).
Menjaga sensitivitas panelis berada pada suatu tingkatan yang diharapkan,
perlu dilakukan pencegahan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi indera
terutama perasa dan pembauan. Beberapa ketentuan yang telah ditetapkan :
1). Jangan melakukan pengujian dalam periode waktu satu jam setelah makan,
2). Bila panelis seorang perook tunggulah selama kurang lebih satu jam,
3). Menyarankan agar paneis tidak makan bahan makanan yang pedas pada saat
pengujian akan dilakukan,
4). Pengujian bau jangan sampai panelis mempergunakan kosmetik, lipstick dan
wangi-wangian,
5). Pengujian rasa, disarankan pada panelis untuk berkumur dengan air tawar
sebelum mulai pengujian.
Sampel yang digunakan dalan uju triangle ini adalah coklat choki-choki dan
gerry pasta, dimana yang igin diuji dari rasa, konsistensi dan warna.

Gambar 1. Coklat Choki-choki
Komposisi dar coklat choki-coki diantaranya : GulaMinyak nabati, Whey
bubuk, Maltodekstrin, Susu bubuk, Kakao bubuk, Kacang mede, Pengemulsi,
Perisa strawberry, Garam, Vanili, Asam malat, Perisa Vanili, Pewarna makanan
(Erythrosine Cl 45430) (Anonim, 2008).

Gambar 2. Gery Pasta
Komposisi dar coklat gery pasta diantaranya : GulaMinyak nabati, Whey
bubuk, Maltodekstrin, Susu bubuk, Kakao bubuk, Kacang mede, Pengemulsi,
Perisa strawberry, Garam, Vanili, Asam malat, Perisa Vanili, (Anonim, 2012).








IV KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini membahas mengenai : (1) Kesimpulan dan (2) Saran.
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan dari tabel hasil pengamatan didapat tanggapan yang benar
untuk warna, rasa dan konsistensi adalah 15, 14 dan 15, sedangkan hasil tabel
triangle test diperoleh minimum tanggapn yang benar pada taraf 5% adalah 10
dan taraf 1% adalah 11 sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel sampel coklat
choki-choki (970) dalam hal rasa, konsistensi dan warna sangat berbeda nyata
dengan sampel gerry pasta (342 dan 750).
4.2. Saran
Ketika kita merasakan kesulitan dalam membedakan ketiga sampel tersebut
maka pengujian dilakukan dengan konsentrasi dan aspek penilaian lebih spesifik
dan tidak terburu-buru. Praktikan harus dalam keadaan fisik yang baik (sehat),
karena kesehatan dari praktikan sangat berpengaruh dalam menentukan hasil
pengujian. Dan selain itu praktikan harus dapat memberikan kesannya masing-
masing, tanpa dipengaruhi oleh orang lain.








DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (2008). Komposisi Choki-Choki.
http://prastia.wordpress.com/2008/02/23/obsesi-choki-choki/ .
Akses : 24 Maret 2014.
Anonim, (2012). Komposisi Gery Pasta.
http://prastia.wordpress.com/2012/02/23/obsesi-gery-pasta/ .
Akses : 24 Maret 2014.
Anonim. (2010). Uji Triangle. http://id.wikipedia.org/wiki/Uji_Triangle.
Akses : 24 Maret 2014.
deMan, J. M. (1997). Kimia Makanan. Edisi Kedua.Institut Teknologi Bandung,
Bandung.
Kartika, B., Pudji ,H., Wahyu, S,. (1987). Pedoman Uji Inderawi Bahan
Pangan. Universitas Gajah Mada,Yogyakarta.
Soekarto, Soewarno, T.. (1985). Penilaian Organoleptik untuk Industri
Pangan dan Hasil Pertanian. Penerbit Bhratara Karya Aksara, Jakarta.
Anonim, (2013), Uji Triangel, http://id.wikipedia.org/wiki/Uji_Triangle, Akses
15 Maret 2013.








LAMPIRAN









UJI TRIANGLE
Nama : Pika Apriyance
Tgl Pengujian : 18 Maret 2014
Jenis Contoh : Coklat
Instruksi : Pilihlah salah satu contoh yang berbeda dengan contoh
baku dengan memberikan notasi (1) untuk contoh yang
berbeda dan (0) untuk contoh yang tidak berbeda.
Kode Sampel
Nilai Atribut Mutu
Warna Rasa Konsistensi
342 0 1 0
970 1 0 1
750 0 0 0

Komentar : Sulit untuk membedakan ketiga sampel ini.
























HASIL PENGAMATAN UJI TRI ANGLE KELOMPOK E
Panelis
Kriteria Penilaian
Warna Rasa Konsistensi
324 970 750 324 970 750 324 970 750
1 0 1 0 0 1 0 1 1 0
2 0 1 0 0 1 0 0 1 0
3 0 1 0 0 1 0 0 1 0
4 0 1 0 1 0 0 0 1 0
5 0 1 0 0 1 0 0 1 0
6 0 1 0 0 1 0 0 1 0
7 0 1 0 0 1 0 0 1 0
8 0 1 0 0 1 0 0 1 0
9 0 1 0 0 1 0 0 1 0
10 1 1 0 0 1 0 1 0 0
11 1 1 0 1 0 0 0 1 0
12 0 0 0 0 1 0 0 1 0
13 0 1 0 0 1 0 0 1 0
14 0 1 0 0 1 0 0 1 0
15 0 1 0 0 1 0 0 1 0
16 0 1 0 0 1 0 0 1 0
17 1 0 0 0 0 0 1 0 0
Jumlah 2 15 0 3 14 0 2 15 0

Berdasarkan Tabel Duo Trio
5 % jumlah minimum yang benar = 10
1 % jumlah minimum yang benar = 11

Ketentuan :
1. Jika tanggapan yang benar minimum yang benar pada taraf 5 %
dan 1 %., maka tiap- tiap perlakuan dinyatakan Tidak Berbeda Nyata.
2. Jika tanggapan yang benar minimal yang benar pada taraf 5 % dan 1
%, maka tiap-tiap perlakuan dinyatakan Sangat Berbeda Nyata.
3. Jika tanggapan yang benar minimal yang benar pada taraf 5 % tapi
minimal yang benar pada taraf 1 %, maka tiap-tiap perlakuan dinyatakan
Berbeda Nyata.
Kesimpulan :
Berdasarkan dari tabel hasil pengamatan didapat tanggapan yang benar
untuk warna, rasa dan konsistensi adalah 15, 14 dan 15, sedangkan hasil tabel
triangle test diperoleh minimum tanggapn yang benar pada taraf 5% adalah 10
dan taraf 1% adalah 11 sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel sampel coklat
coki-coki (970) dalam hal rasa, konsistensi dan warna sangat berbeda nyata
dengan sampel gerry pasta (342 dan 750).

































LAMPIRAN PERTANYAAN DISKUSI MODUL
1. Tentukan peluang panelis akan memberikan tanggapan dengan tepat, jelaskan.
2. Manakah yang lebih teliti uji pembedaan dengan metode Duo-Trio atau
Triangle, beri argumentasi.
Jawab :
1. Panelis dengan kelompok yang sesuai akan memberikan tanggapan yang
sesuai karena sensitivitas yang dimiliki oleh masing-masing kelompok panelis
itu sendiri.
2. Lebih teliti dengan menggunakan uji triangle karena tidak ada acuan
pembandingnya sehingga panelis bisa membedakan secara langsung melalui
bahan-bahan yang berbeda lainnya dimana sifat pengujiannya lebih terarah.



























TABEL UJI TRI ANGLE
Numbe
r
of
tasters
Number of correct answers
necessary to establish
significant differentiation
Numb
er
of
tasters
Number of correct answers
necessary to establish
significant differentiation

Probability level

Probability level
5% 1% 0.1% 5% 1% 0.1%
7 5 6 7 57 27 29 31
8 6 7 8 58 27 29 32
9 6 7 8 59 27 30 32
10 7 8 9 60 28 30 33
11 7 8 9 61 28 30 33
12 8 9 10 62 28 31 33
13 8 9 10 63 29 31 34
14 9 10 11 64 29 32 34
15 9 10 12 65 30 32 35
16 10 11 12 66 30 32 35
17 10 11 13 67 30 33 36
18 10 12 13 68 31 33 36
19 11 12 14 69 31 34 36
20 11 13 14 70 32 34 37
21 12 13 15 71 32 34 37
22 12 14 15 72 32 35 38
23 13 14 16 73 33 35 38
24 13 14 16 74 33 36 39
25 13 15 17 75 34 36 39
26 14 15 17 76 34 36 39
27 14 16 18 77 34 37 40
28 15 16 18 78 35 37 40
29 15 17 19 79 35 38 41
30 16 17 19 80 35 38 41
31 16 18 19 81 36 38 41
32 16 18 20 82 36 39 42
33 17 19 20 83 37 39 42
34 17 19 21 84 37 40 43
35 18 19 21 85 37 40 43
36 18 20 22 86 38 40 44
37 18 20 22 87 38 41 44
38 19 21 23 88 39 41 44
39 19 21 23 89 39 42 45
40 20 22 24 90 39 42 45
41 20 22 24 91 40 42 46
42 21 22 25 92 40 43 46
43 21 23 25 93 40 43 46
44 21 23 25 94 41 44 47
45 22 24 26 95 41 44 47
46 22 24 26 96 42 44 48
47 23 25 27 97 42 45 48
48 23 25 27 98 42 45 49
49 23 25 28 99 43 46 49
50 24 26 28 100 43 46 49
51 24 26 28 200 80 84 89
52 25 27 29 300 117 122 127
53 26 27 29 400 152 158 165
54 26 28 30 500 186 191 303
55 26 28 30 2000 300 372 383