Anda di halaman 1dari 17

Makalah Teknologi Pengolahan Limbah

Biodiesel : Bioenergi Masa Depan











Oleh :
Nova Sri Yanti
Tri Goval Putra Yuris
Vina Gita Utari

Dosen pembimbing:
Hasmalina nasution, M.Si


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU
PEKANBARU
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia dikenal dunia memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah, terutama minyak
bumi dan gas alam. Hal ini yang menjadikan Indonesia memanfaatkan sumber daya alam
tersebut dalam jumlah yang besar untuk kesejahteraan masyarakatnya. Indonesia termasuk
negara penyumbang minyak terbesar di dunia oleh karena itu hal ini dikhawatirkan
berdampak kepada sumber daya alam tersebut, dimana kita ketahui SDA minyak bumi dan
gas alam adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan lama-kelamaan akan
habis di gali. Kemungkinan Indonesia kehilangan SDA tersebut sangat besar, sehingga
menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang sekarang ini saja sudah terasa dampaknya,
dengan kelangkaan minyak tanah, dan harga minyak dunia yang semakin tinggi.
Permasalahan di atas menjadikan kita harus berpikir bagaimana caranya untuk mengganti
SDA tersebut dengan sumber daya energi yang murah dan tepat guna? Sebagai jawaban
dari permasalahan tersebut adalah bioenergi. Bioenergi sendiri merupakan sumber daya
alternatif yang dapat digunakan berulang-ulang, untuk mengganti sumber daya fosil yang
banyak digunakan di Indonesia saat ini.

Oleh karena itu pemerintah Indonesia mencari solusi bagaimana mensosialisasikan usaha
bioenergi yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas kepada para wirausahaan, dan dapat
membuka lapangan pekerjaan, bagi kesejahteraan hidup, dan dapat menemukan bioenergi
alternatif

Bioenergi ini sangat cocok diterapkan kepada masyarakat pedesaan yang umumnya masih
menggunakan BBM fosil sebagai bahan bakar pengepul dapur mereka, dengan
dilakukannya pengadaan bioenergi di pedasaan diharapkan dapat mengurangi penggunaan
BBM fosil yang sekarang mulai langka, dan harganya yang terus melonjak.

Bahan bakar minnyak bumi diperkirakan akan habis jika dieksploitasi secara besar-
besaran. Ketergantungan terhadap bahan bakar minyak bumi dapat dikurangi dengan cara
memanfaatkan bahan bakar biodiesel, dimana bahan bakunya masih sangat besar untuk
dikembangkan (Darmanto, Ireng, 2006). Berdasarkan hasil evaluasi kelayakan beberapa
bahan baku biodiesel, Ruhyat dan Firdaus (2006) telah menentukan bahwa jenis minyak
nabati yang paling layak digunakan sebagai bahan baku biodiesel adalah minyak goreng
bekas (minyak jelantah). Menurut Chhetri (2008), alasan utama untuk mencari sumber
alternatif bahan bakar mesin diesel dikarenakan tingginya harga produk minyak.Pengolahan
biodiesel dari minyak jelantah merupakan cara yang efektif untuk menurunkan harga jual
biodiesel karena murahnya biaya bahan baku (Zhang, Y., Dub_e, M.A., McLean, D.D.,
Kates, M., 2003). Selain itu pemanfaatan limbah minyak goreng dapat juga mengatasi
masalah pembuangan limbah minyak dan kesehatan masyarakat.
Minyak jelantah mempunyai kandungan asam lemak bebas yang cukup tinggi. Oleh karena
itu untuk menurunkan angka asam, pada umumnya diperlukan 2 (dua) tahap konversi
minyak jelantah menjadi biodiesel, yaitu proses esterifikasi dan transesterifikasi (Hambali,
dkk, 2008). Kelemahan proses ini adalah terjadinya blocking reaksi pembentukan biodiesel,
yaitu methanol yang seharusnya bereaksi dengan trigliserida terhalang oleh reaksi
pembentukan sabun, sehingga konsumsi methanol naik 2 (dua) kali lipat, katalis diperlukan
dalam jumlah besar, sulitnya memisahkan biodiesel dengan gliserol akibat terbentuknya
sabun sehingga rendemen yang dihasilkan menurun. Hal ini dapat mengurangi kualitas
biodiesel yang dihasilkan.
Beberapa penelitian tentang sintesis biodiesel dari minyak jelantah telah dilakukan.
Solikhah, dkk (2009) telah mensintesis biodiesel dari minyak jelantah dengan prosestrans-
esterifikasi, namun kualitas biodiesel yang diuji hanya meliputi viskositas, gliserol bebas, dan
gliserol total. Padahal untuk menghasilkan biodiesel yang b e r k u a l i t a s b a i k d a n m e
m p u n y a i karakteristik mirip dengan solar harus memenuhi semua persyaratan SNI 04-
7182-2006. Jaruyanon, P dan Wongsapai, W (2008); Suirta, I.W (2009) telah mensintesis
minyak jelantah menggunakan proses esterifikasi menggunakan katalis asam sulfat dan
transesterifikasi. Wang (2007) telah mensintesis biodiesel menggunakan proses katalisis 2
(dua) tahap, yaitu proses esterifikasi dengan katalis feri sulfat dan katalis basa potasium
hidroksida. Proses pengolahan biodiesel yang menggunakan 2 (dua) tahap, yaitu esterifikasi
dan transesterifikasi memerlukan konsumsi methanol dua kali lipat, rendemen biodiesel juga
menurun sebesar 20%-30% dan memerlukan waktu reaksi lebih lama
(http://aesigit.multiply.com/journal/item/1).

Buchori, L (2009) menilai proses produksi biodoesel berbahan baku minyak jelantah kurang
ekonomis jika menggunakan dua tahap esterifikasi dan transesterifikasi. Buchori, L (2009)
memproduksi biodiesel dengan proses perengkahan non kataliscatalytic cracking. Namun
perengkahan non katalis berlangsung pada suhu dan tekanan yang tinggi sehingga
membutuhkan energi yang besar. Saifuddin, et al (2009) telah mengembangkan teknik
pengolahan biodiesel minyak jelantah menggunakan proses enzimatis. Kelemahan dari
teknik ini yaitu memerlukan biaya produksi yang tinggi dan waktu reaksi yang lama.
Untuk menghasilkan biodiesel yang berkualitas tinggi, diperlukan suatupretreatment yang
tepat sebelum dilakukan tahap transesterifikasi (Gerpen, 2005). Asam lemak bebas yang
terkandung dalam minyak jelantah merupakan penyebab kerusakan pada minyak. Salah
satu cara menghilangkan sumber-sumber penyebab kerusakan minyak adalah dengan
menggunakan teknologi mikrofiltrasi. Mikrofiltrasi bertujuan untuk mengurangi atau
menghilangkan padatan tersuspensi dan senyawa organik seperti protein, karbohidrat, dan
asam lemak bebas (Nasir, dkk, 2002). Pada penelitian ini digunakan teknik pemurnian
biodiesel menggunakan metode dry washing untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas
biodiesel.

1.2 Rumusan masalah
Memecahakan masalah pemerintah dalam mencari energi alternatif pengganti bahan bakar
fosil yang ramah lingkungan, yang dapat dikelola kalangan masyarakat tingkat dasar
(ground level), agar dapat terlepas dari ketergantungan bahan bakar fosil yang lama-
kelamaan akan habis.

1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
a. Agar dapat mengenal biodiesel
b. Sumber bahan baku biodiesel
c. Teknologi teknologi proses biodiesel
d. Standar mutu biodiesel














BAB II
DASAR TEORI

2.1 Biodiesel
Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, baik
minyak baru maupun bekas penggorengan dan melalui proses transesterifikasi, esterifikasi,
atau proses esterifikasi-transesterifikasi. Biodiesel sebagi bahan bakar alternatif pengganti
BBM untuk motor diesel. Biodiesel dapat diaplikasikan baik dalam bentuk 100% (B100) atau
campuran dengan minyak solar pada tingkat konsentrasi tertentu (BXX), seperti 10%
biodiesel dicampur dengan 90% solar yang dikenal dengan nama B10 (Hambali, 2007).

Bahan bakar yang berbentuk cair ini bersifat menyerupai solar yakni :
- Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free
sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu - isu global
- Cetane number lebih tinggi (> 57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik
dibandingkan dengan minyak kasar
- Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai (biodegradable)
- Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui
- Meningkatkan indenpedensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal
Minyak jelantah juga dapat digunakan kembali sebagai minyak goreng yang bersih tanpa
kotoran, dengan cara minyak jelantah tersebut direndam bersama dengan ampas tebu,
maka nantinya warna coklat dan kotoran pada minyak jelantah akan terserap oleh ampas
tebu tersebut, sehingga minyak jelantah tersebut akan kembali bersih dan dapat dipakai
kembali (Ridhotulloh, 2008).

Tabel 1. Spesifikasi biodiesel
Parameter Satuan Nilai
Masa jenis pada suhu 40 Kg/m3 850-890
Viskositas kinematik pada 40 Mm2/s (cst) 2,3-6,0
Angka setana Min 51
Titik nyala (mangkok tertutup)
o
C Min 100
Titik kabut
o
C Maks 18
Korosi lempeng tembaga(3 jam pada suhu
50)
Maks no.3
Residu karbon
Dalam contoh asli
Dalam 10% ampas distilasi
%-massa Maks 0,05
Maks 0,30
Air dan sedimen %-vol Maks 0,05
Temperatur distilasi 90%
o
C Maks 360
Abu tersulfatkan %-massa Maks 0,02
Belerang Ppm-m (kg/mg) Maks 100
Fosfor Ppm-m (kg/mg) Maks 10
Angka asam Mg-KOH/g Maks 0,08
Gliserol bebas %-massa Maks 0,02
Gliserol total %-massa Maks 0,24
Kadar ester alkil %-massa Min 96,5
Kadar iodium %-massa( g-12 /100g) Maks 115
Uji harphen Negatif

Bahan bakar yang berbentuk cair ini bersifat menyerupai solar, sehingga sangat prosfektif
untuk dikembangakan. Apalagi biodiesel memiliki kelebihan lain dibanding dengan solar,
yakni:
Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free
sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global.
Cetane number lebih tinggi (>57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik dibandingkan
dengan minyak kasar.
Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai (biodegradable).
Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbaharui.
Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal
(Hambali, 2007).

Saat membandingkan biodiesel dengan solar, hal yang perlu diperhatikan juga adalah pada
tingkat emisi bahan bakar. Biodiesel menghasilkan tingkat emisi hidrokarbon yang lebih
kecil, sekitar 30% dibanding dengan solar, Emisi CO juga lebih rendah, -sekitar 18%-, emisi
particulate molecul lebih rendah 17%, sedang untuk emisi NOx lebih tinggi sekitar 10%,
sehingga secara keseluruhan, tingkat emisi biodiesel lebih rendah dibandingkan dengan
solar, sehingga lebih ramah lingkungan (Firdaus, 2010).
Berdasarkan uji laboratorium, campuran efektif biodiesel 5-30% per liter solar selain
berkarakter pelumas sehingga aman untuk mesin, sistem pembakaran pun menjadi lebih
sempurna. Untuk mengurangi polusi secara signifikan, penggunaan biodiesel bisa dicampur
solar dengan rasio 5-10%. Biodiesel dari jelantah tidak mengandung belerang (sulfur) dan
benzene yang bersifat karsinogen, serta dapat diuraikan secara alami (Ridhotulloh, 2008).

2.2 Sumber Bahan Baku Diesel
Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati, lemak binatang, dan ganggang. Minyak nabati
adalah bahan baku yang umum digunakan di dunia untuk menghasilkan biodiesel,
diantarannyarapeseed oil (Eropa), soybean oil (USA), minyak sawit (Asia), dan minyak
Kelapa (Filipina).

Pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel memiliki beberapa kelebihan,
diantaranya sumber minyak nabati mudah diperoleh, proses pembuatan biodiesel dari
minyak nabati mudah dan cepat, serta tingkat konversi minyak nabati menjadi biodiesel
tinggi (mencapai 95%). Minyak nabati memiliki komposisi asam lemak berbeda-beda
tergantung dari jenis tanamanya. Zat zat penyusun utama minyak-lemak (nabati maupun
hewani) adalah trigliserida, yaitu trimester gliserol dengan asam-asam lemak (C8-C24).
Komposisi asam lemak dalam minyak nabati menentukan sifat fisiko-kimia minyak

Tabel 1. Sifat sifat fisiko kimia beberapa minyak lemak nabati
Minyak Massa
Jenis
Kg/Liter
Viskositas
Kinematika
(38
0
C),cSt
DHc,
MJ/Kg
Angka
Setana
Titik Awan/
Kabut,
0
C
Titik
Tuang,
0
C
Jarak Kaliki 0,9537 297 37,27 ? Tak ada -31,7
Jagung 0,9095 34,9 39,50 37,6 -1,1 -40,0
Kapas 0,9148 33,5 39,47 41,8 +1,7 -15,0
Crambe 0,9044 53,6 40,48 44,6 10,0 -12,2
Biji rami 0,9236 27,2 39,31 34,6 +1,7 -15,0
Kacang
Tanah
0,9026 39,6 39,78 41,8 12,8 -6,7
Kanola 0,9115 37,0 39,71 37,6 -3,9 -31,7
Kasumba 0,9144 31,3 39,52 41,3 18,3 -6,7
Kasumba
OT*)
0,9021 41,2 39,52 49,1 -12,2 -20,6
Wijen 0,9133 35,5 39,35 40,2 -3,9 -9,4
Kedelai 0,9138 32,6 39,62 37,9 -3,9 -12,2
Bunga
Matahari
0,9161 33,9 39,58 37,1 7,2 -15,0
Diesel No. 2 0,8400 2,7 45,34 47,0 -15,0 -33,0
Sumber : Goering et al ., *) OT = (berkadar) oleat tinggi

a. minyak kelapa
Minyak kelapa dihasilkan dari buah kelapa tua, yakni diperoleh dari daging buah kelapa
yang diekstrak melalui pembuatan santan dan akhirnya menjadi minyak. Atau dihasilkan
melalui proses pengeringan buah Kelapa menjadi kopra dan selanjutnya diolah untuk
mendapatkan minyaknya. Minyak kelapa digolongkan ke dalam asam laurat karena
komposisi asam tersebut paling besar dibanding asam lemak lainya. Potensi Kelapa di
Indonesia sangat besar, pengolahan minyak kelapa menjadi biodiesel salah satu alternative
dalam memanfaatkan minyak kelapa.

b. minyak kelapa sawit
Minyak kelapa sawit diperoleh dari pengolahan buah kelapa sawit dengan kandungan asam
lemak yang bervariasi, baik dalam panjang rantai karbonnya, Minyak sawit mengandung
sejumlah kecil komponen non-trigliserida. Karotenoid, tokoperol, tokotrienol, sterol,
phospatida, dan alkhohol alipatik merupakan beberapa komponen non-trigliserida yang
terkandung dalam minyaksawit dan selanjutnya disebut sebagai komponen minor, jumlah
komponen minor dalam minyak sawit sekitar 1%.
Kelapa sawit merupakan sumber bahan baku penghasil minyak terefisien dibanding dengan
tanaman penghasil minyak nabati lainya karena trigliserida minyak kelapa sawit kaya asam
palmitat, stearat, linoeleat, dan gliserol.
Minyak sawit dapat digunakan untuk bahan makanan dan industrymelalui proses
ekstraksidan pemurnian, serta penjernihandan penghilangan bau atau dikenal dengan
RBDPO (refined, bleached, and deodorized palm oil ).
Selama ini minyak sawit digunakan sebagai bahan baku industry pangan (minyak goreng)
maupun industry pangan (oleokimia), penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku
biodiesel tentunya mempertegas hal tersebut, harapanya, konsumsi minyak sawit untuk
biodiesel tidak akan mengganggu ketersediaan minyak sawit untuk pangan maupun
oleokimia pada masa yang akan datang.

c. minyak jarak
Minyak Jarak dihasilkan dari tanaman jarak pagar. Jarak telah dikenal oleh masyarakat
Indonesia, tetapi selama ini masyarakat hanya mengetahui manfaat jarak (terutama jarak
pagar) sebagai tanaman obat tradisional dan pagar hidup.
Jarak pagar tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.000 m di atas permukaan
laut. Namun sifat jarak pagar yang adaptif memberi peluang bagi lahan kering dan daerah
marginal menjadi produktif. Minyak jarak dihasilkan dengan mengekstrak biji jarak, ada dua
teknik cara pengepresan mekanik cara ini paling sesuai untuk memisahkan minyak dari
bahan yang kadar minyaknya di atas 10% dua teknik itu yaitu pengepresan hidrolik dan
berulir, sebelumnya mnyak jarak dimurnikan terlebih dahulu menghilangkan senyawa
pengotor, seperti gum (getah), asam lemak, dll. Di Indonesia jarak belum dibudidayakan
secara besar-besaran dan bentuk perkebunan.

d. minyak goreng bekas (jelantah)
Minyak jelantah adalah minyak yang dihasilkan dari sisa penggorengan, baik dari minyak
kelapa maupun minyak sawit, minyak jelantah dapat menyebabkan minyak berasap atau
berbusa pada saat penggorengan, meninggalkan warna cokelat, serta flavor yang tidak
disukai dari makanan yang digoreng. Meningkatnya produksi dan konsumsi minyak goreng
ketersediaan minyak jelantah kian hari kian melimpah.

Sampai saat ini minyak jelantah belum dimanfaatkan dengan baik dan hanya dibuang
sebagai limbah rumah tangga ataupun industry. Meningkatnya produksi dan konsumsi
nasional minyak goreng, akan berkorelasi dengan ketersediaan minyak jelantah yang
semakin meningkat pula, dengan begitu pemanfaatan minyak goreng bekas sebagai bahan
baku biodiesel akan memberikan nilai tambah bagi minyak jelantah, dan ini dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar terbarukan.


Tabel 1. Salah satu contoh hasil uji ASTM biodiesel dari minyak goreng bekas (didanai oleh
DP2M-DIKTI)

2.3 Teknologi Teknologi Pengolahan Biodiesel
a. transesterifikasi

Proses transesterifikasi meliputi dua tahap. Transesterifikasi I yaitu pencampuran
antara kalium hidroksida (KOH) dan metanol (CH30H) dengan minyak sawit. Reaksi
transesterifikasi I berlangsung sekitar 2 jam pada suhu 58-65C. Bahan yang
pertama kali dimasukkan ke dalam reaktor adalah asam lemak yang selanjutnya
dipanaskan hingga suhu yang telah ditentukan. Reaktor transesterifikasi dilengkapi
dengan pemanas dan pengaduk. Selama proses pemanasan, pengaduk dijalankan.
Tepat pada suhu reactor 63C, campuran metanol dan KOH dimasukkan ke dalam
reactor dan waktu reaksi mulai dihitung pada saat itu. Pada akhir reaksi akan
terbentuk metil ester dengan konversi sekitar 94%. Selanjutnya produk ini
diendapkan selama waktu tertentu untuk memisahkan gliserol dan metil ester.
Gliserol yang terbentuk berada di lapisan bawah karena berat jenisnya lebih besar
daripada metil ester. Gliserol kemudian dikeluarkan dari reaktor agar tidak
mengganggu proses transesterifikasi II. Selanjutnya dilakukan transesterifikasi II
pada metil ester. Setelah proses transesterifikasi II selesai, dilakukan pengendapan
selama waktu tertentu agar gliserol terpisah dari metil ester. Pengendapan II
memerlukan waktu lebih pendek daripada pengendapan I karena gliserol yang
terbentuk relatif sedikit dan akan larut melalui proses pencucian.

b. Esterifikasi
Jika bahan baku yang digunakan adalah minyak dengan kadar FFA tinggi (>5%), seperti
mnyak jelantah, PFAD (palm fatty acid distilate), CPO low grade, dan minyak jarak, maka
proses transesterifikasi yang dilakukan untuk mengkonversi minyak menjadi biodiesel
menjadi tidak efisien. Oleh karena itu, bahan-bahan diatas perlu melalui tahap proses pra-
esterifikasi untuk menurunkan kadar FFA hingga dibawah 5%.
Pada umumnya, proses esterifikasi menggunakan katalis asam, seperti asam sulfat dan
asam klorida. Pada tahap ini akan diperoleh minyak dengan campuran metil ester kasar dan
metanol sisa yang kemudian dipisahkan. Lalu, proses esterifikasi dilanjutkan dengan proses
esterifikasi alkalin (transesterifikasi) terhadap produk tahap pertama diatas dengan
menggunakan katalis alkalin. Pada proses ini digunakan katalis sodium hidroksida 1 wt%
dan alkohol (umumnya metanol) 10 wt%. Kedua proses ini dilakukan pada temperatur 55
0
C.
Pada proses ini dihasilkan metil ester di bagian atas dan gliserol di bagian bawah. Kemudian
dilakukan pemisahan antara metil ester dan gliserol. Setelah dipisahkan, metil ester
kemudian dimurnikan dengan menggunakan air hangat dan dikeringkan untuk menguapkan
kandungan air yang ada pada metil ester. Metil ester yang telah dimurnikan ini selanjutnya
sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel

c. Produksi biodiesel dengan katalis biologis (biocatalyst)

katalis biologis merupakan jenis katalis yang sedang dikembangkan sebagai alternatif
sebagai alternatif lain dalam proses biodiesel. Pengembangan katalis biologis ditunjukan
untuk mengurangi konsumsi energi proses serta menghilangkan terikutnya senyawa
senyawa pengotor dalam biodiesel kasar seperti gliserol, air, katalis alkalin, dan sabun yang
umumnya timbul pada transesterifikasidengan menggunakan katalis kimia.
Ada beberapa macam katalis biologi yang sedang dikembangkan oleh berbagai peneliti dari
berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian yaitu Candida antartica B, rizhomucor
miehei dan pseudmonas cepacia. Pengunaan katalis biologis memiliki kelemahan
dibandingkan dengan katalis kimiawi sehubungan dengan harganya yang masih mahal.









d. Produksi biodiesel tanpa katalis
Pada proses produksi biodiesel tanpa katalis ini, proses transesterifikasi dilakukan pada
suhu dan tekanan yang sangat tinggi, yaitu sekitar 350
0
C dengan tekanan 43 Mpa. Proses
ini sering disebut dengan proses transesterifikasi superkritik metanol. Rasio mol antara
minyak dengan alkohol yang digunakan mencapai 1 : 42. Proses ini memiliki beberapa
kelebihan, yaitu tidak dipengaruhi oleh kondisi bahan karena asam lemak bebas (FFA) yang
terkandung dalam bahan akan teresterifikasi menjadi metil ester secara simultan, tingkat
konversi minyak menjadi metil ester tinggi, waktu proses lebih singkat, dan tidak dipengaruhi
oleh keberadaan air. Di dalam proses ini juga tidak ada sabun yang terbentuk sehingga
mengurangi biaya pengolahan limbah. Namun, kelemahan dari proses ini adalah
membutuhkan safety treatment karena prosesnya yang melibatkan suhu dan tekanan yang
tinggi
Untuk mengatasi kelemahan tersebut, saat ini peneliti telah mengembangkan metode
proses biodiesel tanpa katalis dengan menambahkan co-solvent CO
2
yang berfungsi untuk
menurunkan suhu dan tekanan pada saat proses transesterifikasi menjadi sekitar 280
0
C.
Tidak hanya itu, proses pengolahan biodiesel tanpa katalis juga sudah dikembangkan
dengan penggunaan reaktor kolom gelembung (bubble column reactor) yang dapat bekerja
pada tekanan 1 atm dengan suhu sekitar 300
0
C. Hal ini berkorelasi positif dengan energi
yang diperlukan dalam proses transesterifikasi menggunakan metanol superkritik.

















2.4 Standar Mutu Biodiesel













BAB III
PEMBAHASAN

Proses pembuatan biodisel diawali dengan proses pretreatment yaitu dengan cara
menyaring minyak jelantah dari sisa-sisa produk gorengan mengunakan saringan dari kasa
dan dilakukan berulang kali dengan tingkatan mesh yang berbeda. Setelah itu
diserap air yang ada dengan desikan, dapat berupa CaO, silika gel, CaCl
2
, dll. Setelah itu
disaring kembali guna mendapatkan minyak jelantah tanpa desikan tersebut. Tahapan
selanjutnya yaitu proses tansesterifikasi. Transesterifikasi adalah proses reaksi senyawaan
asam lemak bebas dengan methanol/ethnol (senyawaan gugus alkohol) menjadi ester.
Untuk mempercepat terjadinya reaksi digunakan katalis yaitu KOH (kalium hidroksida) yang
jumlahnya 1% dari jumlah trigliserida lalu dicampur dengan senyawaan dari gugus alkohol
yaitu methanol atau ethanol dan dipanaskan pada suhu 58-65 C agar terbentuk methil-
ester/ethil-ester dari trigliserida yang terdapat dalam minyak jelantah. Bahan yang pertama
kali dimasukan kedalam reaktor adalah minyak jelantah yang dipanskan hingga suhu 55 C.
Reaktor sebaiknya dilengkapi dengan pemanas dan pengaduk, agar saat dipanaskan
minyak dapat diaduk sehingga menjadi homogen. Setelah mencapai suhu 63 C campuran
methanol dan KOH dimasukan, maka reaksi transesterifikasi pun berjalan lalu dipanaskan
pada suhu 130 C selama 10 menit. Setelah itu didinginkan secara bertahap sampai 55
yang bertujuan untuk mencuci produk dari bahan-bahan lain seperti gliserol dan metanol.
Gliserol dapat dialirkan dari bawah karena perbedaan berat jenis dimana gliserol berada
dilapisan bawah dari methil-ester. Sedangkan metanol dapat dialirkan lewat atas karena
sifatnya yang mudah menguap dibandingakan gliserol dan metil ester. Pencucian dilakukan
sampai tiga kali sampai didapat pH normal (6,8-7,2). Setalah dicuci dilakukan pengeringan
yang menggunakan aluminium silikat 100% dan konsentrasi terbaik adalah 10% (Erliza
Hambali et al. 2008). Berikut merupakan diagram alir pembuatan biodiesel.



















BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Biodiesel bisa menjadi energi alternatif sebagai pengganti energi yang tidak dapat
terbarukan lagi. Ada banyak bahan baku yang bisa dijadikan biodiesel antara lain minyak
kelapa, minyak kelapa sawit, minyak jarak dan minyak jelantah (bekas). Selain bahan baku
pembuatan biodiesel banyak terdapat di indonesia, kita juga bisa mengurangi limbah dari
penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.

4.2 Saran
Pentingnya sosialisasi akan energi terbarukan dari pembuatan biodiesel ini kepada
masyarakat, agar masyarakat lebih membuka wawasan untuk ikut serta dalam memproduksi
biodiesel dalam skala kecil. Adanya sentra atau daerah khusus untuk membimbing para
penghasil biodiesel agar menghasilkan bidiesel yang lebih baik sesuai dengan standar
mutu.

DAFTAR PUSTAKA

Chhetri, A.B., Watts, K.W., Islam, M.R.,2008, Waste Cooking Oil as an Alternate Feedstock
for Biodiesel Production, Energies, ISSN 1996-1073

Hambali, Erliza, et al. 2007. Teknologi Bioenergi. Jakarta : AgroMedia Pustaka

http://aesigit.multiply.com/journal/item/1 diakses tanggal 19 Agustus 2011

Jayuranon, P, and Wongsapai, W, 2008, Biodiesel Technology and Management From Used
Cooking Oil in Thailand Rural Areas, Thailand

SNI 7182:2012 Biodiesel

Suirta, I.W., 2009, Preparasi Biodiesel dari Minyak Jelantah Kelapa Sawit, Universitas
Udayana

Wang, Y., Ou., S., Liu., P., Zhang, Z., 2007, Preparation of Biodiesel from Waste Cooking
Oil via Two-Step Catalyzed Process, Energy Conversion & Management, Elsevier

Zhang, Y., Dub_e, M.A., McLean, D.D., Kates, M., 2003, Biodiesel Production from Waste
Cooking Oil: 1. Process Design and Technological Assessment,Bioresource Technology 89
(2003):Elsevier