Anda di halaman 1dari 20

1

Sistem dan Mekanisme Respirasi



Marlina Putri Purnamasari Pekpekai
10.2013.041
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna no. 6. Jakarta 11510
Marlina.2013fk041@civitas.ukrida.ac.id


Abstrak
Sistem respirasi pada manusia memiliki stuktur dan mekanisme kerja yang saling menunjang.
Struktur pernafasan tersebut terdiri dari jalan nafas yang di mulai dari hidung (kavum nasal),
faring, laring, trakea, bronkus, masuk ke paru, bronkiolus dan udara tersebut bertukar pada
membran alveous. Struktur tersebut terbagi menjadi saluran yang hanya menyalurkan udara dan
saluran yang permukaanya berfungsi sebagai pertukaran O
2
dan CO
2
. Mekanismenya sendiri
berupa pengaturan pernapasan yang mengatur kerja otot pernapasan yang berperan dan respon
terhadap perubahan tekanan PO2 atau PCO2 dan keasaman tubuh; dan pertukaran O2 dan
CO2 dalam alveolus.
Kata kunci : Respirasi , Struktur , Mekanisme


Abstract
Respiratory system in humans has the structure and mechanism of action are mutually supportive
each other. The structure consists of respiratory airway at the start of the nose (nasal cavity),
pharynx, larynx, trachea, bronchi, into the lungs, the bronchioles air exchange in the
alveous membrane. The structure is divided into a channel that only transmits the air and
surface channel which serves as the exchange of O
2
and CO
2
. Its own mechanism of
regulation that regulates breathing and respiratory muscle work in response to pressure
changes in PO
2
or PCO
2
and acidity, and the exchange of O
2
and CO
2
in the alveoli.
Key words: respiration, structure, mechanism.





2
Pendahuluan
Respirasi ( pernapasan ) melibatkan keseluruhan proses yang menyebabkan pergerakan
pasif O
2
dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta pergerakan pasif CO
2
selanjutnya yang merupakan produk sisa metabolisme dari jaringan ke atmosfer. Sistem
pernapasan ikut berperan dalam homeostasis dengan mempertukarkan O
2
dan CO
2
antara
atmosfer dan darah. Darah mengangkut O
2
dan CO
2
antara system pernapasan dan jaringan.
System ini melibatkan kinerja dari organ organ tertentu yang saling beranastomosis agar proses
respirasi dapat berjalan dengan baik . apabila terdapat kerusakan pada organ- organ tersebut ,
maka kinerja dan hasil dari pada respirasi sendiri akan terganggu.
1
Seperti pada kasus dimana seorang laki-laki , usia 20 tahun tengah menonton televisi
ketika tiba-tiba merasa nyeri pada bahu, sulit bernapas , dan lemas. Ayahnya segera membawa
putranya ke UGD. Pemeriksaan radiologi toraks memperlihatkan tanda pneumothoraks.
Berhubungan dengan itu, di makalah ini akan dibahas mengenai struktur anatomi makro mikro
system pernapasan , mekanisme system respirasi , difusi dan transport gas , pengendalian
pernapasan, keseimbangan asam-basa dan sedikit membahas tentang pneumothoraks.

Struktur Sistem Pernapasan
Secara sistematis sistem pernafasan dibagi menjadi dua, yaitu saluran pernafasan atas dan
saluran pernafasan bawah. Organ saluran pernafasan atas terletak di luar toraks, atau rongga
dada, sementara saluran pernafasan bawah terletak hampir seluruhnya di dalam toraks. Saluran
pernafasan atas terbagi atas bagian hidung, nasofaring, orofaring, laringofaring, dan laring. Lalu,
saluran pernafasan bagian bawah terbagi atas trakea, semua segmen percabangan bronkus, dan
paru-paru. Sedangkan jika dilihat dari fungsinya, sistem pernafasan juga mencakup beberapa
struktur aksesori, termasuk rongga mulut, sangkar iga, dan diafragma.
1

Anatomi komponen system pernapasan memungkinkan terjadinya pendistribusian udara dan
pertukaran gas pernapasan , bagian dari system respirasi yang tidak mengalami pertukaran gas di
sebut bagian konduksi yang meliputi hidung sampai dengan bronkiolus terminalis ( hanya
berfungsi sebagai saluran, sedangkan bagian yang mengalami proses pertukaran gas disebut
bagian respiratory yang meliputi bronkiolus respiratory dan alveolus .
1,2



3
Saluran Pernapasan Atas
Rongga Hidung
Hidung merupakan pintu masuk pertama udara yang kita hirup . Udara masuk dan keluar
system pernapasan melalui hidung , yang terbentuk dari dua tulang hidung dan beberapa
kartilago . Terdapat dua pintu pada dasar hidung nostril (lubang hidung ) , atau nares eksternal
yang di pisahkan oleh septum nasal di bagian tengahnya.
2
Lapisan mukosa hidung adalah epitel bersilia , dengan sel goblet yang menghasilkan lender.
Udara yang melewati rongga hidung dihangatkan dan dilembabkan. Bakteri dan partikel polusi
udara akan terjebak dalam lender ; silia pada lapisan mukosa secara kontinu menyapu lender
kearah faring. Sebagian besar lender ini pada akhirnya akan tertelan , dan setiap bakteri yang ada
akan di hancurkan oleh asam hidroklorida dalam getah lambung .
2
Hidung eksternal berbentuk piramid disertai dengan suatu akar dan dasar. Bagian ini
tersusun dari kerangka kerja tulang , kartilago hialin, dan jaringan fibroareolar. Terdiri atas
Septum nasal , yang membagi hidung menjadi sisi kanan dan kiri dan membentuk rongga nasal
dan pada bagian depan dari septum ini adalah kartilago. Lantai dari pada nasal adalah palatum
keras yang terbentuk dari tulang maksila dan palatinum, dan pada sisi medial terbentuk dari
lempeng kibriform, tulang etmoid , pada sisi anterior dari tulang frontal dan nasal , dan pada sisi
posterior terdapat tulang sphenoid.
2,3
Konka nasalis superior , tengah dan inferior menonjol pada sisi medial dinding lateral
rongga nasal . setiap konka dilapisi membran mukosa ( epitel kolumnar bertingkat bersilia ) yang
berisi kelenjar pembuat mukus dan banyak mengandung pembuluh darah. Meatus superior,
medial dan inferior merupakan jalan udara rongga nasal yang terletak di bawah konka.
2,3
Terdapat empat pasang sinus paranasal ( frontal , etmoid , maksilar , dan sphenoid ) yang
merupakan kantong tertutup pada bagian frontal etmoid , maksilar dan sphenoid.
2,3
Sinus paranasal berfungsi untuk meringankan tulang tengkorak dan memberikan resonansi suara.
Rongga ini berhubungan dengan rongga nasal melalui saluran kecil yang juga dilapisi oleh
membran mukosa. Karena saluran ini sempit , maka mudah tersumbat apabila ada proses
inflamasi dan infeksi. Lendir dan cairan lainnya menjadi terperangkap dan menumpuk di dalam
sinus yang tersumbat , menimbulkan tekanan yang terasa nyeri disebut sinusitis.



4
Faring
Merupakan tabung muskular berukuran 12,5 cm yang merentang dari bagain dasar tulang
tengkorak sampai esofagus . Faring terbagi menjadi nasofaring , orofaring dan laringofaring.
2-4
Nasofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka ke arah rongga nasal
melalui dua naris internal ( koana) . Terdapat dua tuba Eustachius ( auditorik ) menghubungkan
nasofaring dengan telinga tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada
kedua sisi gendang telinga. Amandel ( anedoid ) faring adalah penumpukan jaringan limfatik
yang terletak di dekat naris internal . Pembesaran anedoid dapat menghambat aliran udara.
5-6
Orofaring merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring, disini terdapat pula pangkal lidah.
Pada dinding lateralnya terdapat tonsilla palatina yang masing-masingnya terletak disinus
tonsillaris. Berhubungan dengan rongga mulut melalui isthmus oropharingeum. Makanan dalam
bentuk bolus dari rongga mulut didorong masuk ke orofaring. Bolus menekan uvula (tekak) yang
merupakan processus kerucut ( cortical kecil yang menjulur kebawah dari bagian tengah tepi
bawah palatum mole, sehingga menutup saluran menuju ke hidung. Hal ini menjaga supaya
makanan yang masuk tidak keluar ke hidung. Proses dilanjutkan dengan menurunnya epiglotis
yang menutup glotis. Bolus melalui laringofaring dan masuk ke esophagus.

Orofaring tersusun
atas epitel berlapis gepeng tidak bertanduk.
5,6

Laringopharing mengelilingi mulut esophagus dan laring, yang merupakan gerbang untuk
system respiratorik selanjutnya. Laringopharing merupakan bagian paling inferior dari faring,
yang membuka kearah anterior kedalam laring dan ke arah posterior ke dalam esophagus.
Kontraksi dinding muscular orofaring dan laringofaring merupakan bagian dari refleks menelan.
2


Laring
Laring adalah tabung tidak teratur yang menghubungkan faring dan trakea. Di dalam
lamina propia , terdapat sejumlah tulang rawan laring . Tulang rawan yang lebih besar ( tiroid ,
koroid dan kebanyakan kartilago aritenoidea ) merupakan tulang rawan hialin. Tulang rawan
yang lebih kecil ( epiglottis, kuneformis, kornikulatum dan ujung aritenoid) merupakan tulang
rawan elastic. Tulang rawan ini berfungsi sebagai alat penghasil suara untuk fungsi konasi.
Laring berada diantara orofaring dan trakea, dianterior laringofaring. Tersusun atas epitel
bertingkat thorak bersilia bersel gepeng kecuali ujing plika vokalis meerupakan epitel berlapis
gepeng tidak bertanduk.
5


5
Laring dapat ditutup oleh katup pangkal tenggorok (epiglotis). Epiglotis atau kartilago
epligotik adalah kartilago yang paling atas, bentuknya seperti lidah dan keseluruhannya dilapisi
oleh membran mukosa. Epiglotis yang terjulur keluar dari tepian laring , meluas ke dalam faring
dan memiliki permukaan lingual dan laryngeal.
7
Dibawah epiglotis, mukosanya membentuk 2 pasang lipatan yang meluas ke dalam lumen
laring. Bagian atas membentuk pita suara palsu (plika vestibularis ) yang ditutupi epitel respirasi
yang dibawahnya terdapat banyak kelenjar serosa di dalam lamina propria. Bagian bawah
membentuk pita suara sejati ( Plica vocalis ) untuk mengatur terbentuknya suara dengan
frekuensi yang berbeda beda.
1-4
Selama menelan, laring bergerak ke atas dan epiglotis tertekan ke bawah menutup glotis.

Gerakan ini mencegah masuknya makanan atau cairan ke dalam laring.
1

Saluran Pernapasan Bawah
Trakea
Trakea merupakan pipa silinder dengan panjang kurang lebih 11cm, berbentuk cincin
tulang rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh membran fibroelastik yang
menempel pada bagian depan oesofagus. Trakea berjalan dari cartilago cricoidea ke bawah pada
bagian depan leher dan di belakang manubrium sterni, berakhir pada setinggi angulus sternalis
(taut manubrium dengan corpus sterni) tempatnya berakhir, membagi menjadi bronkus kiri dan
kanan. Di dalam leher, trakea disilang di bagian depan oleh isthmus glandula thyroidhea dan
beberapa vena.

Trakea terdiri dari 16-20 cartilago berbentuk C yang dihubungkan oleh jaringan
fibrosa. Konstruksi trakea sedemikian rupa sehingga tetap terbuka pada semua posisi kepala dan
leher.
6,7
Trakea diperdarahi oleh arteri thyreodea inferior sedangkan ujung thoracalnya didarahi
oleh cabang arteri bronchiales. Persarafan trakea berasal dari cabang tracheal nervus vagus,
nervus recurrens dan truncus symphaticus.
8

Bronkus dan bronkiolus
Trakea bercabang menjadi 2 bronkus primer dan memasuki paru. Setelah memasuki paru
maka akan berjalan dan mempercabangkan 2 bronkus pada paru kiri dan 3 pada paru kanan dan
masing- masing membuat lobus baru , yang kemudian bercabang menjadi lebih kecil lagi yaitu

6
bronkiolus. Setiap bronkious baru memasuki lobulus baru , dan bercabang-cabang 5-7 menjadi
bronkiolus terminalis.
5,7
Pada bronkus, Tulang rawannya tidak teratur dari pada tulang trakea ; pada bagian
bronkus yang lebih besar , cincin tulang rawan mengelilingi seluruh lumen. Dengan mengecilnya
garis tengah bronkus, cincin tulang rawan mengelilingi seluruh lumen. Memperlihatkan epitel
respirasi dengan sel goblet dan sel-sel silindris bersilia. Jaringan ikat lamina propria mengandung
kelenjar serosa dan otot polos.
5,7
Bronkiolus merupakan jalan napas intralobular , tidak memiliki tulang rawan maupun
kelenjar mukosa. Memiliki lapisan epitel selapis silindris bersilia. Epitel pada bronkiolus
terminalis juga mengandung sel clara yang berfungsi untuk mengsekresikan protein untuk
melindungi lapisan bronkiolus. Lamina propia bronkiolus sebagian besar terdiri atas otot polos
dan serat elastin. Berada di bawah kendali nervus vagus dan simpatis, dimana stimulasi vagus
mengurangi diameter bronkiolus sedangkan simpatis melakukan yang sebaliknya.
5,7

Bronkiolus Respiratory adalah percabangan dari tiap bronkiolus terminalis, yang berfungsi
sebagai daerah peralihan antara konduksi dan bagian respirasi. Mukosanya mirip dengan
bronkiolus tereminalis akan tetapi dindingnya berbeda karena di sini sudah ada banyak alveolus
tempat terjadinya pertukaran gas dan dilapisi oleh epitel kubus bersilia dan sel clara. Pada bagian
distal dari pada bronkiolus respiratory ini terdapat duktus alveolaris.
5,7

Alveolus
Alveoolus merupakan penonjolan (evaginasi) mirip kantung di bronkiolus respiratorius ,
duktus alveolaris , dan sakus alveolaris. Alveoli bertanggung jawab untuk struktur berongga
dalam paru. Disini berlangsung pertukaran CO
2
dan O
2
antara udara dalam paru dan
darah.struktur dinding yang sangat tipis di antara tiap alveolus di namakan dinding intraalveolar
yang memudahkan difusi di alveolus. Kumpulan dari alveolus disebut sakus alveolaris.Tersusun
atas lapisan endotel kapiler yang bersifat kontinu dan tidak bertingkap. Terdapat dua jenis sel
yaitu sel tipe 1 yang melapisi permukaan dari pada alveolus dan sel tipe 2 yang terdapat badan
lamela yang menghasilkan surfaktan pada paru untuk menurunkan tegangan permukaan alveolus
agar tidak mengalami kolaps.
5,7

Pleura

7
Masing masing pleura mempunyai dua bagian : (1) lapisan parietal , yang membatasi
dinding thorax , meliputi permukaan thoracal diaphragma dan permukaan lateral mediastinum,
dan meluas sampai ke pangkal leher untuk membatasi permukaan bawah membrana suprapleura
pada apertura thoracis superior, dan (2) lapisan viceral , yang meliputi seluruh permukaan luar
paru-paru dan meluas ke dalam fissura interlobaris.
9
Kedua lapisan ini satu sama lain saling bersambungan pada manset pleura yang
mengelilingi struktur struktur yang masuk dan keluar paru- paru pada hillus paru-paru . Agar
hillus paru-paru dapat bergerak waktu bernapas , manset pleura tergantung sebagai lipatan
longgar yang dinamakan ligamentum pulmonale.
9
Lapisan parietal dan viceral pleura dipisahkan satu sama lain oleh suatu ruangan sempit , cavitas
pleuralis . Rongga ini normal mengandung mengandung sedikit cairan jaringan , cairan pleura ,
yang meliputi permukaan pleura sebagai lapisan tipis dan memungkinkan kedua lapisan pleura
bergesekan minimal waktu bergerak. Pleura parietal diperfarafi oleh n. intercostalis pada pleura
costalis , n . phrenicus untuk pleura bagian mediastenalis, dan n. phrenicus mempersarafi kubah
dari pada pleura diafragmatica dan pada bagian pinggirnya oleh 5 n. intercostalis bagian bawah.
Pleura viceralis yang meliputi paru paru dipersarafi oleh sistem otonom , tetapi tidak peka
terhadap sensasi umum nyeri dan raba.
9

Paru-paru
Paru-paru bersifat lunak dan berongga. Paru- paru sangat elastis dan bila rongga thorax
dibuka , paru-paru segera volumenya mengecil sampai1/3 nya atau kurang . Paru terletak
sedemikian rupa sehingga setiap paru paru terletak di samping mediastinum. Bagian paru kanan
dan kiri dipisahkan oleh jantung , pembuluh darah dan struktur lain yang berada pada
mediastinum. Paru dilapisi oleh pleura viceralis. Masing-masing paru mempunyai apex yang
tumpul, yang menjorok ke atas , masuk ke leher sekitar 2,5 cm di atas clavicula, facies costalis
yang konveks, yang berhubungan dengan dinding dada , dan facies mediastinalis yang konkaf,
yang membentuk cetakan pada pericardium dan struktur struktur mediastinum lain. Sekitar
pertengahan permukaan kiri , terdapat hillus pulmonis , suatu lekukan di mana bronchus,
pembuluh darah dan saraf masuk ke paru-paru untuk membentuk radix pulmonis. Pinggir
anterior paru adalah tipis dapat di temui incisura cardiaca, dan tebal pada bagian posterior .
9

8
Pada bagian paru kanan terdiri atas 3 lobus : superior , medius dan inferior , serta terdapat
2 fisura : fisura horizontal dan fisura oblique. Sedangkan paru kiri hanya terdiri atas 2 lobus dan
1 fisura yaitu lobus superior dan inferior yang dibatasi oleh fisura oblique. Radiks pulmonis
dibentuk oleh struktur-struktur yang masuk atau meninggalkan paru-paru . Struktur tersebut
terdiri atas bronkus, av. Pulmonis, pembuluh limfe , av. Bronchialis, dan saraf-saraf . struktur ini
membentuk fillus pulmonalis.
9

Pendarahan pembuluh paru.
Bronchus , jaringan ikat paru-paru , dan pleura visceralis menerima darah dari aa.
Bronchialis , yang bercabang dari aorta decendens. Vv. Bronchiales ( yang berhubungan dengan
v. pulmonalis) memasukan darah ke vena azygos dan vena hemiazygos . Alveoli menerima darah
terdeoksigenasi dari cabang cabang terminal a. pulmonalis. Darah teroksigenasi meninggalkan
kapiler-kapiler alveoli masuk ke cabang-cabang v. pulmonalis , yang mengikuti jaringan ikat
septum intersegmentalis ke radix pulmonalis. Dua vena pulmonalis meninggalkan setiap radiks
pulmonalis.
9
Persarafan paru pada paru di kendalikan oleh plexus pulmonalis anterior dan posteior
yang terbentuk dari cabang- cabang traktus symphaticus vertebra torakal 1-3 dan parasymphatis
dari nervus vagus.
9

Otot otot pernapasan
Selain sebagai pembentuk dinding dada , otot skelet juga berfungsi sebagai otot
pernapasan.
Menurut kegunaanya , otot otot pernapasan dibedakan menjadi otot untuk inspirasi ,
mencakup otot inspirasi utama dan tambahan , serta otot untuk ekspirasi tambahan.
Otot inspirasi utama ( principal ) , yaitu :
10
Muskulus interkostalis eksterna ,
Muskulus interkartilaginus parasternal dan
Otot diaframga



9
Otot inspirasi tambahan ( accessory respiratory muscle ) yang sering juga disebut sebagai otot
bantu napas , yaitu :
10
Muskulus sternocleidomastoideus
Muskulus skalenus anterior
Muskulus skalenus medius
Muskulus skalenus posterior
Saat bernapas biasa , untuk ekspirasi tidak diperlukan kegiatan otot, cukup daya elastis paru saja
udara di dalam paru akan keluar saat ekspirasi. Namun , ketika ada serangan asma , sering
diperlukan active beathing : dalam keadaan ini , untuk ekpirasi diperlukan konstribusi kerja otot-
otot berikut :
10
Muskulus interkostalis interna
Muskulus interkartilaginus parasternal
Muskulus rektus abdominis
Muskulus oblikus abdominis eksternus
Otot otot untuk ekspirasi juga berperan untuk mengatur pernapasan saat berbicara ,
menyanti , batuk , bersin.

Diafragma
Diafragma adalah suatu septum berupa jaringan muskulotendineus yang memisahkan
rongga toraks dengan rongga abdomen. Dengan demikian , diafragma menjadi dasar dari rongga
toraks.
Ada tiga apertura pada diafragma , yaitu :
10
Hiatus aortikus yang dilalui oleh aorta desendens , vena azygos dan duktus torasikus ;
Hiatur esofageus yang dilalui esoefagus
Apertura yang satu lagi di lewati oleh vena kava inferior.

Mekanisme Respirasi
Proses respirasi atau pernafasan, secara harfiah berarti pergerakan oksigen (O
2
) dari
atmosfer menuju ke sel, dan keluarnya karbon dioksida (CO
2
) dari sel ke udara bebas.Frekuensi
bernapas bervariasi , 16-20 x / menit dalam keadaan istirahat , biasanya pada anak-anak lebih

10
cepat dan pada orang tua lebih lambat. Dikenal sebagai Ventilasi Paru-paru (Pulmonary
ventilation).
1 ,9-11
Ventilasi paru-paru merupakan peristiwa masuk dan keluarnya udara pernapasan antara
atmosfer dan paru-paru. adalah proses pernafasan dimana gas mengalir/bergerak antara atmosfer
(udara luar) dan paru. Pergerakan udara ini di sebabkan oleh perubahan tekanan udara dalam
paru. Perbedaan tekanan yang disebabkan oleh perubahan kapasitas paru akan memaksa udara
masuk ketika inpirasi dan keluar ketika ekspirasi. Dua Proses penting dalam Ventilasi paru-paru :

1, 4,9-11

a. Inspirasi - Proses pergerakan udara masuk ke paru (menghirup).
Agar udara masuk ke dalam paru, tekanan di alveoli harus lebih rendah daripada tekanan
di atmosfer. Maka dari itu rongga thoraks (dada) mengembang untuk meningkatkan
kapasitas paru dan merendahkan tekanan udara di rongga dada. Apabila kapasitas rongga
toraks meningkat, kapasitas paru juga meningkat dan tekanan alveolarpun menurun.
Perubahan tekanan ini menyebabkan udara bergerak dari luar ke dalam paru.
b. Ekspirasi Proses pergerakan udara keluar paru ( menghembuskan).
Disebabkan oleh perubahan tekanan, tekanan di dalam paru lebih tinggi daripada tekanan
di atmosfer. Ekspirasi adalah hasil daripada elastic recoil yang berlaku pada dinding
thorax dan paru, yaitu hal yang secara alami terjadi setelah rongga dada mengembang.
Apabila otot external intercostal relaks, tulang rusuk akan menurun. Oleh karena itu
tekanan dalam paru akan meningkat. Maka udara akan bergerak keluar dari tekanan
tinggi ke daerah tekanan rendah.

Proses ventillasi ini melibatkan beberapa organ tubuh yang sangat penting dalam pernapasan.
Organ tersebut adalah hidung , faring, laring, trekhea , bronkus , bronkiolus , alveolus , dan paru.
Udara yang masuk dari atmosfer ke dalam rongga hidung mengalami tiga proses penting
yaitu menyaring ( filtrasi ), menghangatkan ( heating), dan melembapkan ( humidifikasi ). Pada
proses filtrasi pertikel partikel yang berdiameter > 2mm. Proses heating terhadap udara
pernapasan dilakukan oleh pembuluh darah yang ada di lapisan mukosa hidung . Humidifikasi
udara pernapasan dilakukan oleh mukosa hidung terhadap udara yang kering dengan tujuan agar
tidak mengiritasi saluran pernapasan.
1,3,4,9-11


11
Setelah melewati cavum nasal ( rongga hidung ) kemudian udara menuju ke faring .
Faring merupakan saluran penghubung ke saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Faring
terbagi ke dalam tiga bagian yaitu nasofaring, orofaring , dan laringofaring. Setelah melewati
faring , udara selanjutnya menuju ke laring yang berada di atas trakea. Pada laring terdapat kotak
suara yang mengandung pita suara . Di antara pita suara tersebut terdapat ruang berbentuk segi
tiga dengan nama glotis yang bermuara ke dalam trakea. Selanjutnya udara melewati trakhea
yang berada di depan esofagus. Trakea kemudian bercabang menjadi bronkus kanan dan kiri.

1,3,4,9-11

Bronkus- bronkus tersebut kemudian bercabang lagi menjadi segmen lobus yang
kemudian menjadi bronkiolus. Pada bronkiolus kanan terdiri atas tiga bronkiolus sedangkan
bronkiolus kiri hanya dua bronkiolus. Nanti akan bercabang menjadi bronkiolus primer ,
bronkiolus sekunder , bronkiolus tersier , sampai pada cabang terkecil yang di namakan
bronkiolus terminalis, yang mengandung alveolus. Setiap paru-paru terdapat sekitar 300 juta
alveolus dengan luas permukaan total seluas sebuah lapangan tenis. Disinilah akan terjadi
pertukaran gas. Adapun bagian yang disebut ruang rugi fisiologi dimana pada bagian ini tidak
terjadi pertukaran gas.
1,3,4,9-11


Pertukaran dan transportasi gas
Setelah alveoli diventilasi dengan udara segar, langkah selanjutnya difusi O
2
dari alveoli
ke pembuluh darah paru dan difusi CO
2
dalam arah sebaliknya, keluar dari pembuluh darah.
Dimana darah bekerja sebagai system tranpor untuk O
2
dan CO
2
antara paru dan jaringan ,
dengan sel jaringan menyerap O
2
dan mengeluarkan CO
2
sebagai hasil dari metabolisme.
Pertukaran gas ditingkat kapiler paru dan kapiler jaringan berlangsung secara difusi pasif
sederhana O
2
dan CO
2
menuruni gradient tekanan parsial.
12
Tekanan parsial adalah tekanan yang ditimbulkan secara independen oleh masing-masing
gas dalam suatu campuran gas, perbedaan tekanan parsial antara kapiler darah dan struktur
disekitarnya dikenal sebagai gradient tekanan parsial. Dimana terdapat gradient tekanan parsial
antara udara alveolus dan darah kapiler paru , juga antara kapiler darah sistematik dan jaringan
sekitar. Suatu gas akan berdifusi dari gradient tekanan parsial yang tinggi ke rendah.
12
Difusi O
2
dan CO
2

12
Darah yang masuk ke kapiler paru adalah vena sistematik yang dipompa ke dalam paru
melalui arteri-arteri paru. Darah ini, yang baru kembali dari jaringan tubuh , relative kekurangan
O
2
dengan Po
2
40 mmHg , dan relatif kaya CO
2
dengan Pco
2
45 mmHg. Po
2
alveolus berkisar
104 mmHg, maka O
2
berdifusi menuruni gradient tekanan parsialnya dari alveolus ke dalam
darah pada kapiler paru, hingga terjadi kesetimbangan. Gradient tekanan parsial untuk CO
2
memiliki arah yang berlawanan. Darah yang masuk ke kapiler paru memiliki Pco
2
45 mmHg,
sementara Pco
2
alveolus hanya 40 mmHg . Karena itu CO
2
berdifusi dari darah kedalam
alveolus sampai terjadi keadaan setimbang . Karena itu darah yang mengalir keluar dari paru
membawa Po
2
Berkisar 95- 104 mmHg dan Pco
2
sekitar 40 mmHg . Darah akan kembali di bawa
ke jantung , kemudian dipompa ke jaringan tubuh sebagai darah arteri sistemik.
12
Tekanan Po
2
lebih rendah dan Pco
2
lebih tinggi di jaringan yaitu Po
2
sekitar 40 mmHg
dan Pco
2
45 mmHg. Hal ini disebabkan oleh karena hasil metabolisme dari sel jaringan.
Akibatnya , gradient tekanan parsial untuk pertukaran gas di tingkat jaringan mendorong
perpindahan pasif O
2
keluar darah menuju sel untuk menunjang kebutuhan metabolik sel-sel
tersebut dan juga mendorong pemindahan atau berdifusinya CO
2
ke kapiler darah. Hal ini terus
terjadi hingga terjadi kesetimbangan dengan sel-sel jaringan . setelah demikian , maka darah
yang di bawa dari jaringan mengandung lebih banyak CO
2
ketimbang O
2
.
12

Transpor O
2
Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan
hemoglobin ( Hb) . 3 % oksigen sisanya larut dalam plasma darah. Hemoglobin adalah suatu
molekul protein yang mengandung besi dan terdapat di dalam sel darah merah. Ketika O
2
tidak
berikatan dengan Hb maka akan di sebut deoksi hemoglobin ( HHb) . Setiap molekul dalam
keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan dengan satu molekul oksigen untuk
membentuk oksihemoglobin ( HbO
2
) yang berwarna merah tua :
3,12






Hb + O
2


HbO
2



13
Transport CO
2

Karbon dioksida yang berdifusi ke dalam darah dari jaringan dibawa ke paru paru
melalui : (1) sejumlah kecil karbon dioksida ( 7 % sampai 8 %) tetap terlarut dalam plasma ; (2)
Karbon dioksida yang tersisa bergerak ke dalam sel darah merah , di mana 25 %-nya bergabung
dalam bentuk reversible yang tidak kuat dengan gugus amino di bagian globin pada hemoglobin
untuk membentuk karbaminohemoglobin ; (3) sebagian besar karbon dioksida dibawa dalam
bentuk bikarbonat ( HCO
3
- ) terutama dalam plasma. Karbon dioksida dalam sel darah merah
berikatan dengan air untuk membentuk asam karbonat dalam reaksi bolak balik yang di
katalisis oleh enzim eritrosit karbonat anhidrase.
3,12

Dalam reaksi pertama CO
2
berikatan dengan H
2
O untuk membentuk asam karbonat ( H
2
CO
3
).
Reaksi ini berlangsung cepat di sel darah merah. Sesuai sifat asam , sebagian dari molekul asam
karbonat secara spontan terurai menjadi ion hydrogen ( H
+
) dan ion bikarbonat ( HCO
3
).
HCO
3
lebih mudah larut dalam darah di bandingkan dengan CO
2
. Reaksinya adalah :
12



Reaksi di atas berlaku dua arah , bergantung konsentrasi senyawa. Jika konsentrasi CO
2

meningkat , seperti di jaringan ,maka reaksi akan berlangsung ke kanan . sedangkan apabila
rendah seperti dalam paru, reaksi akan bergeser ke kiri dan melepas CO
2.
3

Pergeseran Klorida
Sewaktu reaksi ini berlangsung , HCO
3
dan H
+
mulai menumpuk di dalam sel darah merah di
kapiler sistematik . Membran sel darah merah memiliki pembawa HCO
3
- Cl
-
yang secara
pasif mempermudah difusi ion ion ini dalam arh berlawanan menembus membrane. Membrane
relative impermeable terhadap H
+
dari pada HbO
2
. Karena itu , HCO
3
, bukan H
+
, berdifusi
menuruni gradient konsentrasinya keluar eritrosit menuju plasma. Keluarnya HCO
3

menghasilkan adanya gradient listrik yang menyebabkan ion klorida ( Cl

), anion plasma yang
utama , berdifusi kedalam sel darah merah dengan menuruni gradient ini untuk menetralkan.
Ion H
+
yang terlepas akibat disosiasi asam karbonat , berikatan dengan hemoglobin dalam sel
darah merah untuk meminimalisasi perubahan pH.
12

CO
2
+ H
2
O H
2
CO
3


H
+
+ HCO
3


14
Mekanisme Pengendalian Pernapasan
Mekanisme pernapasan diatur dan dikendalikan oleh dua factor utama (a) kimiawi , dan
(b) pengendalian oleh saraf. Beberapa faktor tertentu merangsang pusat pernapan yang terletak di
dalam medulla oblongata , dan kalau dirangsang maka pusat itu mengeluarkan implus yang
disalurkan oleh saraf spinalis ke otot pernapasan yaitu otot diafragma dan otot interkostalis.
13

Pengendalian secara kimiawi
Faktor kimiawi ini ialah faktor utama dalam pengendalian dan pengaturan frekuensi ,
kecepatan dan dalamnya gerakan pernapasan . Karbon dioksida adalah produk asam dari
metabolisme , dan kimia yang asam ini merangsang pusat pernapasan untuk mengirim eluar
implus saraf yang bekerja atas otot pernapasan. Kemoreseptor mendeteksi perubahan kadar
oksigen , karbon dioksida dan ion hydrogen dalam darah arteri dan cairan spinalis serta
menyebabkan penyesuaian yang tepat antara frekuensi dan kedalaman repirasi. Terdapat dua
jenis kemoreseptor , sentral dan perifer.
13

Pengendalian oleh saraf.
Pusat pernapasan ialah suatu pusat otomatik di dalam medulla oblongata yang
mengeluarkan implus efferent ke otot pernapasan. Melalui beberapa radix saraf cervicalis implus
ini diantarkan ke diafragma oleh saraf frenikus : Dan di bagian yang lebih rendah pada sumsum
belakang , implusnya berjalan dari daerah torax melalui saraf interkostalis untuk merangsang
otot intercostalis . Implus ini menimbulkan kontraksi ritmik pada otot diafragma dan interkostal
yang kecepatan kira-kira lime belas kali setiap menit.
Implus aferen yang dirangsang oleh pemekarann gelembung udara , di antarkan oleh
Nervus Vagus ke pusat pernapasan di dalam medulla. Pada bagian dorsal untuk Inspirasi dan
pada bagian Ventral untuk Ekspirasi , dan pada bagian atas dari batang otak ( Pons) merupakan
bagian yang membatasi inspirasi tetapi meningkatkan respirasi.
13
Kedua pengendalian , melalui saraf dan secara kimiawi , adalah penting. Tanpa salah
satunya orang tak dapat bernapas terus . Dalam hal paralisa otot pernapasan ( interkostal dan
diafragma ), di gunakan ventlasi paru-paru atau suatu alat pernapasan buatan lainnya untuk
melanjutkan pernapasan , sebab dada harus bergerak supaya udara dapat dikeluarmasukan paru-
paru .
13

15
Faktor tertentu lainnya menyebabkan penambahan kecepatan dan dalamnya pernapasan .
Gerakan badan yang kuat memakai banyak oksigen dalam otot untuk member energy yang
diperlukan untuk pekerjaan , akan menimbulkan kenaikan pada jumlah karbon dioksida di dalam
darah dan akibatnya pembesaran ventilasi paru-paru.Emosi , rasa sakit dan takut misalnya ,
menyebabkan implus yang merangsang pusat pernapasan dan menimbulkan penghirupan udara
yang sangat kut dengan frekuensi yang lebih cepat. Pengendalian secara sadar atas gerakan
pernapasan mungkin , tetapi tidak dapat dijalankan lama , oleh sebab gerakannya otomatik. (
menahan napas ).
13

Perubahan Tekanan Pada Paru
Udara mengalir masuk dan keluar paru selama tindakan bernapas karena perpindah
mengikuti gradient tekanan antara alveolus dan atmosfer yang berbalik arah secara bergantian
dan ditimbulkan oleh aktivitas siklik otot pernapasan. Terdapat tiga tekanan yang berperan
penting dalam ventilasi, yaitu :
12
- Tekanan atmosfer ( Barometrik )
Tekanan yang timbulkan oleh berat udara di atmosfer pada benda di permukaan bumi.
Pada ketinggian permukaan laut tekanan ini sama dengan 760 mmHg. Tekanan atmosfer
berkurang seiring dengan penambahan ketinggian di atas permukaan laut karena lapisan-
lapisan udara di atas permukaan bumi semakin menipis . Pada setiap ketinggian terjadi
perubahan minor tekanan atmosfer karena perubahab kondisi cuaca ( yaitu , tekanan
barometric naik atau turun).
- Tekanan intra-alveolus ( tekanan intraparu )
Merupakan tekanan yang ada di dalam alveolus. Karena alveolus berhubungan dengan
atmosfer melalui saluran napas pengahantar , udara sepat mengalir menuruni gradient
tekanannya setiap tekanan intra-alveolus berbeda dari tekanan atmosfer ; udara terus
mengalir sampai kedua tekanan seimbang ( ekuilibrium ).
- Tekanan Intrapleura
Merupakan tekanan di dalam kantung pleura. Tekanan ini , yang juga dikenal sebagai
tekanan intrathoraks, adalah tekanan yang ditimbulkan di luar paru di dalam rongga
thoraks. Tekanan intrapleura biasanya lebih rendah daripada tekanan atmosfer , rerata
756 mmHg saat istirahat. Seperti tekanan darah yang dicatat dengan menggunakan

16
tekanan atmosfer sebagai titik referensi ( yaitu, tekanan darah sistolik 120 mmHg adalah
120 mmHg lebih besar daripada tekanan atmosfer 760 mmHg atau , dalam kenyataan,
880 mmHg ), 756 mmHg kadang- kadang disebut sebagai tekanan -4 mmHg menjadi
negative karena di bandingkan dengan tekanan atmosfer normal sebesar 760 mmHg.
Untuk menghindari kebingungan , kita akan menggunakan nilai positif absolute
sepanjang pembahasan kita mengenai pernapasan.
Tekanan intrapleura tidak menyeimbangkan diri dengan tekanan atmosfer atau intra-
alveolus karena tidak ada komunikasi langsung antara rongga pleura dan atmosfer atau
paru. Karena kantung pleura adalah suatu kantung tertutup tanpa lubang , maka udara
tidak dapat masuk atau keluar meskipun mungkin terdapat gradient tekanan antara
kantung pleura dan sekitarnya.

Keseimbangan Asam- Basa
Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan pengaturan konsentrasi ion H bebas
dalam cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4. pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35.
Jika pH darah < 7,35 dikatakan asidosis, dan jika pH darah > 7,45 dikatakan alkalosis. Ion H
terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh.
12-14
Bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti
nilai semula dengan cara:
14
mengaktifkan sistem dapar kimia
mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernapasan
mekanisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan
Ada 4 sistem dapar kimia, yaitu:
14
Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel teutama untuk perubahan
yang disebabkan oleh non-bikarbonat.
Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel.
Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam
karbonat.
Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. Sistem
dapar kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementera. Jika dengan
dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan

17
dilanjutkan oleh paru-paru yang berespons secara cepat terhadap perubahan kadar ion H
dalam darah akibat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernapasan, kemudian
mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut.
Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan mensekresikan
ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat
dan ammonia
Jumlah total H
2
CO
3
dalam darah dapat menurun/meningkat oleh pernapasan, ginjal
mengatur kadar HCO
3
-
darah dan ekskresi H
+
melalui mekanisme reabsorbi bikarbonat di tubuli
distal.
3,12
Asidosis dan alkalosis respiratorik terjadi karena sejak awal terjadi perubahan [H
2
CO
3
],
sedangkan asidosis dan alkalosis metabolic terjadi karena sejak awal terjadi perubahan [HCO
3
-
].
Paru dan ginjal memainkan peran penting dalam mempertahankan pH darah dalam batas normal,
bila ada asidosis/alkalosis respiratorik maka tubuh akan mengkompensasi melalui ginjal supaya
pH darah kembali normal. Bila ada asidosis/alkalosis metabolic, maka tubuh akan
mengkompensasi melalui pernapasan/paru supaya pH kembali normal melalui
Hipoventilasi/Hiperventilasi.
3
Kompensasi oleh ginjal adalah mekanisme pengasaman urine: (1)
Pembentukkan ammonia dari asam amino glutamine dengan enzim glutaminase menngikat H
+

menjadi NH
4
+
dan (2) Penyimpanan kation dalam tubuh melalui pertukaran dengan H
+
.
14

Tabel 3. Asidosis/Alkalosis, Respiratorik/Metabolik.
12-14
No Asidosis Repiratorik Asidosis Metabolik Alkalosis
Respiratorik
Alkalosis
Metabolik
1 Keadaan [H
2
CO
3
]
meningkat
mengakibatkan rasio
menjadi <20
Keadaan [HCO
3
-
]
menurun, sehingga
rasio menjadi <20
Keadaan [H
2
CO
3
]
menurun sehingga
rasio menjadi >20
Keadaan [HCO
3
-
]
meningkat
sehingga rasio
menjadi >20
2 Kompensasi dengan
cara meningkatan
reabsorbsi bikarbonat
di ginjal
Kompensasi
dengan
menurunkan asam
Karbonat dengan
cara hiperventilasi
Kompensasi dengan
cara menurunan
reabsorbsi
bikarbonat di tubuli
ginjal
Kompensasi
dengan cara
meningkatkan
asam Karbonat
dengan cara
hipoventilasi
3 CO
2
content nantinya CO
2
content nanti CO
2
content CO
2
content akan

18
akan meningkat
sehingga urine
menjadi asam
akan menurun
karena
hiperventilasi
tersebut sehingga
urine menjadi asam
nantinya akan
menurun/kurang
sehingga urine akan
menjadi alkalis
meningkat
sehingga urine
akan alkalis kecuali
pada keadaan
hipokalemia.
4 Dapat terjadi pada:
- Setiap gangguan
fungsi paru
(pneumonia,
emfisema,
bronchitis, edema
paru, asma)
- Depresi pusat
pernapasan
(keracunan
morfin)
Dapat terjadi pada:
- DM tidak
terkontrol
- Ketoasidosis
- Payah/gagal
ginjal (fungsi
ginjal adalah
mengasamkan
urine)
- Diare Berat
Dapat terjadi pada:
- Histeris
(Hiperventilasi)
- Stimulasi pusat
pernapasan
(keracunan
salisilat)
- Pendaki
gunung, koma
hepaticum
Dapat terjadi pada:
- Stenosis
pylorus,
muntah berat
- Hiperemesis
gravidarum
(alkalosis
hipokloremik)
- Konsumsi
antasida >>
- Sindrome
Chusing

Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa, yaitu:
14

Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Pembentukan
H2CO3 meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H.
Alkalosis respiratori, disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat
hiperventilasi. Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukan ion H menurun.
Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru. Diare
akut, diabetes mellitus, olahraga yang terlalu berat, dan asidosis uremia akibat gagal
ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas
meningkat.
Alkalosis metabolik, terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defisiensi asam
non-karbonat. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal ini terjadi karena
kehilangan ion H karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. Hilangnya ion H

19
akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat, sehingga
kadar bikarbonat plasma meningkat.

Untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut, fungsi pernapasan dan
ginjal sangat penting.
12

Pneumothorax
Dalam keadaan normal udara tidak masuk ke dalam rongga pleura karena tidak ada
komunikasi antara rongga dan atmosfer atau alveolus. Namun jika , dinding dada tertusuk (
misalnya oleh luka tusuk atau iga yang patah ) , udara mengalir menuruni gradient tekanan dari
tekanan atmosfer yang tinggi ke dalam ruangan pleura. Keadaan abnormal masuknya udara ke
dalam rongga pleura dikenal sebagai pneumothoraks ( udara dalam darah ) . Tekanan
intrapleura dan intra-alveolus kini menjadi seimbang dengan tekanan atmosfer sehingga gradient
tekanan transmural tidak lagi ada di dinding paru maupun dinding dada. Tanpa gaya yang
meregangkan paru maka paru akan kolaps ke keadaan tak teregangnya. Daya rekat cairan
intrapleura tidak mampu menahan paru dan dinding toraks . Dinding toraks juga akan
mengembang keluar , hal ini dapat menimbulkan konsekuensi serius daripada kolapsnya paru.
Demikian juga pneumotoraks dan kolaps paru dapat terjadi jika udara masuk ke rongga pleura
melalui lubang di paru yang ditimbulkan misalnya oleh proses suatu penyakit.
12

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas respirasi ( pernapasan ) melibatkan keseluruhan proses
yang menyebabkan pergerakan pasif O
2
dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang
metabolisme sel, serta pergerakan pasif CO
2
selanjutnya yang merupakan produk sisa
metabolisme dari jaringan ke atmosfer. Merupakan suatu proses yang terjadi secara otomatis
walau dalam keadaan tertidur sekalipun karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan
saraf autonom di medulla ( pons) . Adapun anatomi dari sistem pernapasan itu meliputi
hidung(nasal), faring(tekak), laring(pangkal tenggorokan), trakea(batang tenggorokan),
bronkus(cabang tenggorokan), alveoli, paru-paru dan pleura. Dalam proses respirasi terjadi
pertukaran gas antara O
2
dan CO
2
yang terjadi baik di dalam alveoli ataupun di jaringan, dengan
cara difusi . Pada keadaan ini tubuh dapat menyeimbangkan konsentrasi asam basa dalam

20
tubuh. Pada kasus , Pneumotoraks dapat menyebabkan sesak napas dikarenakan adanya udara
yang masuk dalam pleura yang disebabkan adanya cedera.
1-14



Daftar Pustaka
1. Sherwood L . Fisiologi manusia : dari sel ke system . Edisi 2. Jakarta : EGC ; 2001 . h.
410-1
2. Asih NGY, Effendy C. Keperawatan medikal bedah: klien dengan gangguan sistem
pernafasan. Jakarta: Penerbit EGC; 2004.h. 2-7.
3. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula . Jakarta : EGC ; 2003.h.267-77
4. Don W, Fawcett. Buku ajar histologi . EGC : Jakarta ; 2003 .h.629-37
5. Singh I. Teks dan atlas histologi manusia. Jakarta: Binarupa Aksara; 2006.h.115-20.
6. Woodburne RT. Essential of human anatomy. 6
th
ed. New York: Oxford Universty;
2007.h.181-200.
7. Junqueira CL. Carneiro J. Histologi dasar : teks dan atlas. Jakarta : EGC ; 2007 .h. 340-
52
8. Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Grays anatomy for students. 1
st
ed. Philadelpia:
Elsevier Churchill Livingstone; 2005.h.102-52.
9. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta : EGC ; 2006 . h. 90-9
10. Djojodibroto D. Respirologi. Jakarta : EGC ; 2009.h. 8-9
11. Asmadi .Teknik procedural keperawatan : konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien .
Jakarta : Salemba Medika ; 2008.h.14-6
12. Sherwood L. Fisiologi manusia : dari sel ke system . Edisi 6. Jakarta : EGC .h. 499-529.
13. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta : PT Gramedia ; 2009.h. 221-
2
14. Kuntarti . Keseimbangan cairan, elektrolit , asam dan basa . FIK-UI . Published : 14 juni
2005, di unduh dari
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/kuntarti/publication/fluidbalance.pdf , 17 Mei 2014.