Anda di halaman 1dari 33

TERJEMAH KITAB MABADI AL-AWALIYAH ( kaidah Ushul Fiqh )

SEKAPUR SIRIH


"
"

Puji syukur, kami haturkan kepada Allah 'azza wa jalla. Shalawat serta salam dari Allah semoga
tercurahkan kepada beliau uswah al-hasanah Muhammad SAW. Al-nabiy, al-rosul 'ala al-
alamiin.

Berawal dari sebuah obrolan ma'a ashabiy alias bareng teman-teman sambil ngopi dan nyete 76
diwarung selatan pondok putra Ponpes An-nawawi, kemudian berlanjut pada bahasan yang lebih
serius untuk belajar ushul fiqh dengan metode diskusi -walaupun diskusinya belum berjalan
seperti yang diinginkan-, kami dan teman-teman mencoba untuk belajar membaca dan
memahamui kitab usul fiqh Mabadi' al-Awaliyah. Kemudian kami berniat untuk
menterjemahkannya. Termotivasi oleh semangat beliau mas H. M. Khoirul Fata (al-marhum)
"ghofara Allah lah" dalam belajar ketika beliau masih bersama-sama kami (fi hayati al-dunya)
serta dengan harapan semoga kami dan teman-teman santri PP. An-Nawawi bisa mempunyai
semangat seperti beliau dalam belajar. Dan yang pasti beliau KH. Achmad Chalwani beserta
zdurriyahnya ridho pada kita sehingga Allah pun ridha pada kita.

Harapan kami, terjemahan kitab Mabadi' al-Awaliyah ini dapat menjadi motivasi para santri
khususnya teman-teman di PP. An-Nawawi Berjan Purworejo dalam bwelajar baik dengan
metode membaca, menulis atau lainnya. Dan semoga bisa menjadikan washilah bagi kami untuk
mendapatkan ilmu yang nafi' fiy al-dunya wa al-akhirat.

Tidak lupa ucapan terimakasih kami kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses
penterjemahan ini. Terlebih guru fan kitab Mabadi' al-Awaliyah kami yaitu bapak Sahlan, S.Ag.,
MSI.dan mustahiq kelas II MDU yang senantiasa memberi suport dan membesarkan hati kami
sehingga dengan kemampuan yang kami miliki akhirnya dapat terselesaikan apa yang telah
menjadi harapan kami. Terakhir, untuk koreksi, tentunya dalam terjemahan ini tidak sesempurna
sesuai apa yang diharapkan. Apabila ditemukan kekurangan sangat kami harapkan masukan dan
saran dari para pembaca yang budiman.



Berjan, 9 juni 2009-06-09
TTM

DAFTAR ISI
Halaman Judul I
Sambutan Mustahiq II
Sekapur sirih III
Daftar isi IV
1. Al-Qism al-awwal Ushul al-Fiqh 1
2. Al-Ahkam 2
3. Al-Mabhats al-awwal fiy al-Amr 4
4. Al-Mabhats al-tsani fiy al-Nahyi 5
5. Al-Mabhats al-talits fiy al-'Am 7
6. Al-Mabhats al-al-rabi' fiy al-Khas wa al-Takhshis 8
7. Al-Mabhats al-khamis fiy al-Naskh 12
8. Al-Mabhats al-sadis fiy al-Mujmal 15
9. Al-Mabhats al-sabi' fiy al-Muthlaq wa al-Muqayyad 16
10. Al-Mabhats al-tsamin fiy al-Mafhum wa al-Mantuq 17
11. Al-Mabhats al-tasi' fiy Fi'l shahib al-syari'ah 19
12. Al-Mabhats al-'asyir fiy Iqrar shahib al-syari'ah 20
13. Al-Mabhats al-hadiy 'asyara fiy al-Ijma' 21
14. Al-Mabhats al-tsani 'asyara fiy al-Qiyas 22
15. Al-Mabhats al-tsalits 'asyara fiy al-Ijtihad, al-Ittiba', al-Taqlid 23
16. Al-Qism al-tsani Qawa'id al-Fiqh 25
17. Kaidah ke-1 25
18. Kaidah ke-2 25
19. Kaidah ke-3 25
20. Kaidah ke-4 26
22. Kaidah ke-6 27
21. Kaidah ke-5 26
23. Kaidah ke-7 27
24. Kaidah ke-8 27
25. Kaidah ke-9 28
26. Kaidah ke-10 28
27. Kaidah ke-11 28
28. Kaidah ke-12 29
29. Kaidah ke-13 30
30. Kaidah ke-14 30
31. Kaidah ke-15 30
32. Kaidah ke-16 31
33. Kaidah ke-17 31
34. Kaidah ke-18 31
35. Kaidah ke-19 32
36. Kaidah ke-20 32
37. Kaidah ke-21 33
38. Kaidah ke-22 33
39. Kaidah ke-23 33
40. Kaidah ke-24 34
41. Kaidah ke-25 34
42. Kaidah ke-26 35
43. Kaidah ke-27 35
44. Kaidah ke-28 35
45. Kaidah ke-29 36
46. Kaidah ke-30 36
47. Kaidah ke-31 37
48. Kaidah ke-32 37
49. Kaidah ke-33 37
50. Kaidah ke-34 38
51. Kaidah ke-35 38
52. Kaidah ke-36 38
53. Kaidah ke-37 39
54. Kaidah ke-38 39
55. Kaidah ke-39 39
56. Kaidah ke-40 40







...
...
:


" " .

.
:
:
:

:


BAGIAN AWAL
USHUL FIQH
Asal (al-ashlu) secara bahasa adalah sesuatu yang menjadi sandaran. Seperti akar yang menjadi
dasar tumbuhnya sebuah pohon dan ushul al-fiqh yang menjadi pondasi fiqh. Sedangkan cabang
(al-far') adalah sesuatu yang dididrikan diatas sesuatu yang lain. Seperti cabang-cabang pohon
(batang dan lainnya) yang berdiri diatas akarnya, dan fiqh yang berdiri diatas ushul-nya.
Menurut istilah asal adalah dalil dan kaidah kulliyat. Seperti perkataan ulama' bahwa dasar
wajibnya shalat adalah al-Kitab (al-Quran). Maksudnya dalil yang mewajibkan shalat adalah al-
Quran. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah (2): 43.
c_ ... #-9'=vu4ov u&e0u#(
Artinya : .dan dirikanlah shalat
Pendapat ulama' yang menyatakan diperbolehkannya memakan bangkai dalam kondisi darurat
(emergency), adalah bertentangan dengan kaidah kulliyat yang berbunyi; "kullu mayyitah
harm" artinya : setiap bangkai haram hukumnya. Kaidah ini bersumber dari firman Allah SWT.
Yang berbunyi :
" "
Ushul fiqh merupakan dalil fiqh global. Seperti kemutlakan amr (perintah) menunjukkan makna
wajib, mutlaknya nahi (larangan) menunjukkan keharaman, mutlaknya perbuatan Nabi (af'al al-
Nabi), mutlaknya ijma', dan mutlaknya qiyas yang kesemuanya itu merupakan hujjah.
lafal fiqh dalam bahasa Arab mempunyai arti faham (al-fahm). Sedangkan dalam terminologi
syar'iy, fiqh ialah mengetahui hukum-hukum syari'at yang diperoleh dengan jalan ijtihad. Seperti
mengetahui bahwa niat dalam wudhu merupakan suatu kewajiban, dan berbagai permasalahan
lain yang masuk dalam ranah ijtihadiyah. Fiqh, berbeda dengan hukum-hukum syari'at yang
diketahui tanpa menggunakan metode ijtihad. Seperti mengetahui bahwa shalat lima waktu
adalah wajib, perbuatan zina adalah haram, dan berbagai permasalahan lain yang ditetapkan
dengan dalil qath'iy. Ilmu seperti ini tidak dinamakan fiqih.
Sedangkan ilmu () adalah sifat yang dengannya sesuatu yang di kehendaki bisa diketahui
dengan sempurna. bodoh () adalah tidak adanya pengetahuan akan sesuatu perkara. Dzan
() adalah menilai sesuatu yang lebih kuat dari dua perkara. Wahm () adalah menemukan
sesuatu yang kurang kuat dari dua perkara. Syak () adalah menemukan persamaan pada dua
perkara.
Keraguan yang timbul tentanga antara apakah seseorang bernama Zaid sedang berdiri atau tidak
yang sama-sama kuat dinamakan syak, jika lebih unggul salah satunya dinamakan dzan, dan
ketika mengunggulkan salah satu antara keadaan Zaid sedang berdiri atau tidak sedang berdiri
dinamakan wahm. Dalam kaitan ini, ilmu dalam pengertian fiqih mengandung pengertian dzan
(prasangka). Maksudnya, sebagaimana dalam pembahasan selanjutnya, akan diketemukan
adanya kaidah yang menyatakan bahwa produk ijtihad sebagai salah satu mekanisme metode
penggalian hukum dalam islam masuk dalam kategori zdanniy (prasangka) dan bukannya qath'iy
(pasti).



: .
: . .
: . .
: .
: .
: . .
:
:
: .
: . .
: .

: .

PEMBAGIAN HUKUM SYARI'AT

Al-Ahkam al-Syariy (hukum-hukum syariat) dibagi menjadi sembilan, yaitu: wajib, mandub,
mubah, haram, makruh, sahih, bathil, rukhshah dan 'azimah. Adapun definisi masing-masing
sembilan hukum tersebut adalah sebagai berikut:
1. Wajib, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan ketika ditinggalkan akan
disiksa. Seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.
2. Mandub, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan apabila ditinggalkan
tidak akan disiksa. Seperti shalat tahiyat masjid.
3. Haram, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan akan diberi pahala dan apabila dikerjakan
akan disiksa. Seperti riba dan melakukan kerusakan.
4. Makruh, yaitu sesuatu yang diberi pahala apabila ditinggalkan, tapi tidak disiksa apabila
dikerjakan. Seperti mendahulukan bagian yang kiri dalam wudhu.
5. Mubah, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan dan dikerjakan tidak mendapat pahala dan
siksa. Seperti tidur siang hari.
6. Shahih, yaitu sesuatu yang didalamnya mencakup rukun dan syarat.
7. Bathil, yaitu sesuatu yang didalamnya tidak mencakup rukun dan syarat.
Rukun adalah sesuatu yang menyebabakan sahnya sesuatu (pekerjaan) dan ia merupakan bagian
(juz) dari sesuatu (pekerjaan) itu. Seperti membasuh wajah dalam berwudhu dan takbiratul ihram
dalam shalat. Adapun syarat adalah sesuatu yang menyebabkan sahnya sesuatu (pekerjaan),
namun ia bukanlah bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) tersebut.
8. Rukhshah, yaitu perubahan hukum dari berat menjadi ringan, sedangkan sebab hukum asalnya
masih tetap. Seperti diperbolehkannya membatalkan puasa bagi musafir meskipun ia tidak
merasa keberatan untuk melanjutkan puasanya. Dan diperbolehkan memakan bangkai bagi orang
yang terpaksa.
9. Azimah, yaitu hukum seperti kewajiban shalat lima waktu dan haramnya memakan bangkai
bagi yang tidak terpaksa.





:
. ...
...! u#-9.\K|tov #-:.ttk' u&?e0u#(.

. . .
. . .
...T(Z+- 9e=+- u\u9'u#(. .
.

. .
.

Pembahasan Ke - 1
AL-AMR
Al-Amr (perintah) yaitu tuntutan untuk mengerjakan dari atasan kepada bawahannya. Dalam
pembahasan amr ini terdapat beberapa kaidah sebagai berikut :
1. Perintah (amr) pada dasarnya menunjukkan wujub, kecuali ada dalil yang menunjukkan
selainnya.
Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2): 43.
c_ ... u'u#?\u#( #-9'=vu4ov u&e0u#(

Artinya: dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat
2. Perintah (amr) pada dasarnya tidak memiliki konsekuensi pengulangan, kecuali ada dalil yang
menunjukkan selainnya.
Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2):196.
e_ ..4 ! u#-9.\K|tov #-:.ttk' u&?e0u#(
Artinya : dan sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah
3. Perintah (amr) pada dasarnya tidak memiliki konsekuensi untuk segera dikerjakan. Tujuan amr
(perintah) adalah terwujudnya suatu pekerjaan tanpa adanya pengkhususan dengan waktu awal.
4. Perintah (amr) terhadap sesuatu berarti juga perintah kepada hal-hal yang menjadi wasilah
(medium) timbulnya sesuatu tersebut.
Contoh perintah shalat berarti perintah untuk bersuci.
5. Perintah terhadap sesuatu berarti larangan (nahi) terhadap hal-hal yang berlawanan dengan
sesuatu tersebut.
Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2):83.
cV .. T(Z+- 9e=+- u\u9'u#(
Artinya : .dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia...
6. Ketika suatu perintah telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuannya maka orang yang dikenai
perintah telah terbebas dari ikatan (perjanjian) amr tersebut. seperti ketika seseorang yang tidak
menemukan air (untuk wudhu) kemudian tayamum dan mengerjakan shalat, maka ia tidak wajib
qadha (mengulang) shalat ketika menemukan air.




:
. .
&B.uu9o3'N ?o(.'=\u)#( ue. . #-:.t6-Oe )e<v
/e-! u?\(9'u#( /e--9.6t~:e~ /t|+o3'N u&PuO( /e--}MO.O #-9+-
&B.uuA Bie( (oc)Z- 9eIt(2^=\u#( ?o\|=v0u|t
. . .
.

.
. . Pue )eo#
'u#BtZu)#( #-!vet t~+kt- . #-! e..c )e<v4
(o--(\u|#( #-9.|^0\te tu|Oe Be 9e='=vu4o_ ... .
.4 #-9.7t. uo#( .

Pembahasan Ke - 2
AL-NAHY
Al-Nahy (larangan) adalah tuntutan untuk meninggalkan (suatu pekerjaan) dari atasan kepada
bawahannya. Pembahasan larangan (al-nahy) meliputi beberapa kaidah sebagai berikut:
1. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan keharaman (sesuatu yang dilarang), kecuali
adanya petunjuk (dalil) sebaliknya.
2. Larangan (al-nahy) akan suatu hal (dapat diartikan sebagai) perintah akan hal-hal yang
berlawanan atau kebalikan dari yang dilarang. Allah berfirman QS. al-Baqarah (2):188.
N ?o(.'=\u)#( ueu?\(9'u#( /e--9.6t~:e~ /t|+o3'N &B.uu9o3'
#-9+- &B.uuA Bie( (oc)Z- 9eIt(2^=\u#( #-:.t6-Oe )e<v /e-!
VV_ ?o\|=v0u|t u&PuO( /e--}MO.O
Artinya: Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu
dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,
supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan
berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.
3. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang dalam ibadah.
Seperti shalat dan puasanya perempuan yang haidh.
4. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang dalam
muamalah. Hal ini terjadi ketika larangan itu dikembalikan kepada kondisi akad (nafs al-'aqd),
seperti bai' al-hashot (jual beli dengan cara melemparkan batu kecil atau spekulasi). Namun
ketika larangan itu dikembalikan kepada sesuatu yang keluar dari transaksi (faktor eksternal)
yang tidak tetap, maka sesuatu yang dilarang tersebut tidak rusak. Seperti hanya jual beli pada
waktu adzan jum'at.
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Jumah (62):9.
tu|Oe Be 9e='=vu4o_ Pue )eo# 'u#BtZu)#( #-!vet t~+kt- 4
#-9.7t. uo#( #-! e..c )e<v4 (o--(\u|#( #-9.|^0\te
?o\|=v0u|t .'+IO( )e| 9v3'N| ,| o9e3'N|
Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih
baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. al-Jum'ah 9).



. :
... "#BtZu#( #-!vet )ee ,'s( A 9o #-}MET,~, )e|
"
#-! 6e~ e u&Pe)^u#( " )e| T
u&(TZu)#( T #-90|k|=\3ote )e<v /e|e3'/| ?\=()^u#( ue
"#-9.0o(TZet 'te= #-!v
...v.- P+.+< t Pt.+ B.c e tu|B+- u#-?)^u#(

BeO|)o-At t\|0~| (o0 " /t7 u#-!+ "
" ttv ,.# o+o> " "

?o\|0=\u|t /e0-
?o3'uPu#( &|+o0- ... " " ... " .
#-9.0u|l (_.3N
Pembahasan Ke - 3
AL-'AM
Al-' Am () adalah sesuatu yang meliputi dua hal atau lebih tanpa adanya batasan. Lafazd-
lafazd yang digunakan untuk menunjukkan makna 'am ada empat, yaitu:
1. Isim wahid (mufrod) yang di-ma'rifat-kan dengan huruf lam. Seperti QS. al-Ashr (103): 2-3.
..'u#BtZu#( #-!vet )ee ,'s(A 9o #-}MET,~, )e|
Artinya : "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali mereka yang
beriman"
2. Isim jama' yang di-ma'rifat-kan dengan huruf lam. Contoh QS. al-Baqarah (2):195.
)e<v /e|e3'/| ?\=()^u#( ue #-! 6e~ e u&Pe)^u#( e_
#-9.0o(TZet 'te= #-!v )e| T u&(TZu)#( T #-90|k|=\3ote
Artinya : Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik.
3. huruf la yang me-nafi-kan pada isim nakiroh. Contoh QS. al-Baqarah(2): 48.
).6t~ ue v.- P+.+< t Pt.+ B.c e tu|B+- u#-?)^u#(
V_ Z,|t o\N| ue t(A Be||kt- o|{o' ue v~\t Be||kt-
Artinya: Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat
membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari
padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.
4. Isim-isim mubham
a) Lafal bagi sesuatu yang berakal. Contoh firman Allah QS. al-Zalzalah (99): 7.
Z ttv. ,.# o+o> BeO|)o-At t\|0~| (o0
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya.
b) Lafal bagi yang tidak berakal. Contoh firman Allah QS. al-Hujarat (49): 18.
V_ ?o\|0=\u|t /e0- /t7 u#-!+ 4 u#-{u|v #-9TT0~uuNe .=,
t\|=vO #-!v )e|
Artinya: Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha
melihat apa yang kamu kerjakan.
c) Lafal . Contoh :

..
d) Lafal

yang menunjukkan tempat. Contoh QS. al-Nisa' (4): 78.


#-9.0u|l (_.3N ?o3'uPu#( &|+o0-
Artinya: Dimanapun kamu berada kematian akan mendapatkan kamu
e) Lafal yang menunjukkan zaman. Contoh :





:
:
:
:
... "e('u#BtZu# #-!vet )ee ,'s(A 9o #-}MET,~, )e| .
"
... "Bo|Be+ot7 uo7tt7 (oIto(c . "
... "( t:(||t A4 ?o).t/uo\s ue . "
. " ... "
:
#-9.0>(e.~Me ?oZ3ou#( ue. . " ... "
..." ... "
e) #-!+ u=e3'O. . " ... " 4 #-{OPou|
(c Be|~ 9e#v.c ( &|9o~e2^N| "
"
. , " " "
... "
. " " " "
. , " ... "
t?v Bt- Pe(# (o\=v|k_s /e~ott7 &?o|(
(o-e||" ... " 4 #-9.\#> BeC #-9.0o(,+o~Me

. " "
?o)^~ (o " ... "
&-c7 ;0-!

Pembahasan Ke - 4
AL-KHAS DAN AL-TAKHSHIS
Al-khas () adalah sesuatu yang tidak mengandung dua makna atau lebih tanpa adanya
batasan. Sedangkan al-takhshish () adalah mengeluarkan sebagian yang ditunjukkan 'am.
Takhshis dibagi menjadi dua, yaitu; takhshis muttashil (bersamaan) dan takhshis munfashil
(terpisah).
Macam-macam takhshis muttasil :
1) Pengecualian (al-Istisna'). Contoh: QS. al-Ashr (103): 2-3.
..'u#BtZu#( #-!vet )ee ,'s(A 9o #-}MET,~, )e|
Artinya: Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali mereka yang
beriman
2) Pembatasan (al-taqyid) dengan sifat. Contoh firman Allah SWT dalam QS. al-Nisa' (4): 96.
...Bo|Be+ot7 uo7tt7 (oIto(c
Artinya: (Hendaklah) Ia memerdekakan seorang hamba yang beriman
3) Pengecualian dengan dengan batas (ghayah). Contoh QS. al-Baqarah (2): 222.
... .. ( t:(||t A4 ?o).t/uo\s ue
Artinya: Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci
4) Pengecualian dengan pengganti (badal). Contoh QS. Ali Imron(3): 97.
Z ...4 6eO )e9o.e #-(It:o-t Bt #-9.7t.Me ek #-9Z-
t?v u!
Artinya: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah...
Macam-macam takhshish munfashil:
1) Pengecualian al-kitab (al-Quran) dengan al-kitab (al-Quran). Firman Allah SWT dalam QS.
al-Baqarah (2): 221.
0>(e.~Me ?oZ3ou#( ue_.. ...#-9.
Artinya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik
ayat ini ditakhsis dengan Firman Allah SWT dalam QS. al-Maidah (5): 5,
... ...
&?\u#( #-!vet uo\-H ( #-9:vq_6t~M^ 9o3'N &e~ #-9.uu|Ht
u#-O(Po(,+o~M^ ( ;N| e~~ uo\-B3'N| 9v3'/| e~~ #-9.3It~=,
&?\u#( #-!vet Be, u#-O(Po(,+o~M^ #-9.0o|Be+o~Me Be,
&uuo\s 'u#?o|u0uo\s )eo#! o6|=e3'N| Be #-9.3It~=, uBt 3
&{|#|5 BI|e ue BT,~eot |u X\t.+et Be,
#-u,to_ e uo\uu t0#&. 6el (o)o( /e--}MKu~ t3]^|
e #-:.o~se,

Artinya: Pada hari ini dihalalkan sampai pada firman Allah ta'ala- Dan wanita-wanita yang
menjaga kehormatan di antara orang-orang yang di beri al-kitab sebelum kamu
2) Pengecualian al-kitab (al-Quran) dengan al-sunah (al-Hadits). Firman Allah dalam QS. al-
Nisa' (4):11.
__... 4 #-{OPou| (c Be|~ 9e#v.c ( &|9o~e2^N| e) #-!+
u=e3'O
Artinya: Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pustaka untuk) anak-anakmu, yaitu
bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan
Ayat diatas mengandung pengertian bahwa yang mendapat waris termasuk anak kafir tapi ayat
tersebut ditakhsis dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim:

Artinya: Seorang anak muslim tidak mendapatkan warisan dari orang tua kafir dan anak kafir
tidak mendapatkan warisan dari orang tua muslim.
3) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Kitab (al-Quran). Seperti hadits riwayat
Bukhari Muslim yang menerangkan bahwa Allah SWT tidak akan menerima shalat seseorang
yang masih dalam keadaan hadats sampai dia berwudhu.

Artinya : Allah tidak menerima shalat kalian, ketika berhadast sehingga kalian berwudhu.
Hadits ini di takhsis dengan firman Allah QS.al-Nisa' (4): 43.
Bie+3'N &vt -!'u &| ~ t?v4 &| As(c# .'+'A u)e|
Bt-!'| B#( (o=vN| #-9+ieT,-!'u 9o~0T('A &| #-9.(t-!_l Bie,
c_... (outu0s0u#(
Artinya: Dan jika kamu sakit sampai pada firman Allah- kemudian kamu tidak mendapat air,
maka bertayamumlah
4) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Sunnah (al-Hadits). Contoh hadits Riwayat
Bukhari dan Muslim:

Artinya: Setiap (zar') yang disirami dengan air hujan zakatnya sebesar seper sepuluh.
Hadits ini ditakhsis dengan hadits riwayat Bukhori dan Muslim :

Artinya: Setiap (zar') yang kurang dari lima wasaq tidak ada zakat.
5) Pengecualian al-kitab (al-Quran) dengan Qiyas. Contoh QS. al-Nur (24):3.
Be-(oto Bie||k0- uve7 .'~ (o--(#e-^#( u#-9#Te #-9#Peut\
.'Z'A| )e| #-! e e u&((ot 5_k_0- ?o({\].'/ ue ( #(-to;
t#5uk0- u9.uc(kt( ( #-u,c u#-9.uu|Oe /e--! ?\o|BeZu|t
. #-9.0o|BeZet Bie, o-!_t
Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk
(menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah
(pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
Ayat tersebut di takhsis dengan ayat yang menerangkan hukum derap/jilid terhadap budak
perempuan (amat) yang hanya dijilid separuh dari ketentuan ayat. Allah SWT. berfirman QS. al-
Nisa' (4):25.
e. ... #-9.\#> BeC #-9.0o(,+o~Me t?v Bt- Pe(#
(o\=v|k_s /e~ott7 &?o|( (o-e||
Artinya: Kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas mereka separo
hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami
Adapun untuk seorang budak (abd) di-qiyas-kan kepada amat yaitu setengah dari ketentuan
yang telah disebutkan diatas.
6) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Qiyas. Contoh sabda Rasulullah SAW. :

Artinya: Orang kaya yang berpaling dari membayar hutang maka halal kehormatan dan
keperwiraannya (HR. Ahmad dan Ibn Majjah.)
Dikecualikan dari ketentuan hadits diatas, yaitu orang tua yang menunda-nunda membayar
hutang pada anaknya meskipun sudah mampu untuk membayarnya. Maka bagi orang tua yang
berpaling dari membayar hutang tidak dihalalkan kehormatan dan keperwiraannya karena
dengan memakai qiyas awla tidak diperbolehkannya mengucapkan kata-kata kasar kepada
mereka yang telah ditetapkan dalam QS. Al-Isra' (17):23.
c. ... &-c7 ;0-! ?o)^~ (o
Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"


.

: . :
. . .
. .
. . " u#-!vet
... " " /eP^Tes tItu/|(, &.u| ut|t
BeZ3'N| utuu(vu||t ... "ut>(Z# &|(k9 &|/t\to
. "

"
. .
. .
... "#-9.ot#Oe #-9.0T(|e v:(t u(7
(ouuAc "
. " "
" ... " "
" .
Pembahasan Ke - 5
NASIKH DAN MANSUKH
Al-Nsikh () secara bahasa berarti menghilangkan, menghapus, atau memindah. Dalam
tinjauan syara', al-nsikh adalah menghilangkan atau membatalkan hukum syara' yang telah
ditetapkan terdahulu dengan dalil syara' yang baru. Al-Nsikh menurut sebagian ulama' terbagi
menjadi:
1) Menghapus tulisan (al-rasm) dan menetapkan hukum.
Contoh hadits Nabi SAW:

Sahabat umar RA berkata bahwa sesungguhnya kami telah membaca hadits dan bahwasanya
nabi SAW telah memberlakukan hukum ranjam terhadap dua orang yang berzina muhshon.
Maksud lafal dalam hadits diatas adalah
2) Menghapus hukum dan menetapkan tulisan (al-rasm).
Contoh QS. al-Baqarah (2): 240.
u=e+tZ &.u| ut|t Be+6^N| Ituu(vu|_ u#-!vet (o-e||
4 )e,|t#8 |u #-9.u|A )e<v BIt~\- {.ueO Be &P^TeC
e) (o\=(C Bt- e |t=v.6^N| +o- (o ,t(, _. 6A
t_ u#-!+ 3 B\|-7
Artinya: Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri,
hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan
tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada
dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf
terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat ini di nasikh dengan QS. al-Baqarah (2): 234.
_c. ... ut>(Z# &|(k9 &|/t\to /eP^Tes tItu/|(,
&.u| ut|t BeZ3'N| utuu(vu||t u#-!vet

Artinya: Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri
(hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari.
3) Menghapus dua perkara (hukum dan tulisan) secara bersamaan.
Seperti hadits riwayat Muslim dari 'aisyah ra.


Hadits yang menerangkan bahwa yang dapat menyebabkan haramnya sebuah pernikahan sepuluh
kali susushan yang diketahui ini kemudian dinasikh dengan hadits yang menerangkan lima kali
susuan yang mengharamkan:

Me-nasikh al-Kitab (ayat Al-Quran) dengan al-Kitab (ayat al-Quran lain) juga diperbolehkan,
seperti dalam ayat tentang 'iddah perempuan sebagaimana yang diterangkan diatas.
4) Menghapus al-Sunah dengan al-Kitab.
Seperti menghadap Baitul maqdis dalam shalat yang ditetapkan dengan sunah fi'liyah (perbuatan
Nabi). Dalam hadits riwayat Bukhori Muslim disebutkan "bahwasahnya Nabi SAW menghadap
baitul maqdis dalam shalatnya selama 16 bulan ". Hadits kemudian dinasikh dengan firman
Allah QS. al-Baqarah (2): 144.
(o=v+uu9eu+7 ( #-9TT0-!'e e u(e7 ?o)o==, Ptt3 o( 4
#-9.ot#Oe #-9.0T(|e v:(t u(7 (ouuAc 4 ?o|_,9- e7|#o
#-!vet u)e| 3 v:(tv. uo3'N| (ouu9u#( .'ZuO( Bt- u.| 3
+/veeN| Be #-9.o, &P+ 9ou\|=v0u|t #-9.3It~=, &?\u#( ___
t\|0=\u|t t0s- /e(t~e~~ #-!+ uBt-
Artinya: Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langi, Maka sungguh kami
akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil
Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya
orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui,
bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak
lengah dari apa yang mereka kerjakan.
5) Nasikh al-Sunah dengan al-Sunah. Seperti hadits riwayat imam Muslim:

Artinya: (dulu) Aku (Nabi) melarang kalian ziarah kubur. Maka (sekarang) Berziarahlah kalian.

Sebagian ulama' juga ada yang berpendapat tentang diperbolehkannya menasikh al-kitab dengan
al-sunah. Seperti firman Allah QS al-Baqarah :(2) 180,
,|# ?ot8 )e| #-9.0u|N &vt.'N ,u )eo# |t=v.3'N| .'Ie=,
)- ( /e--9.0\|- u#-{u.t/et 9e=(uu9e| #-9.uu=e+t\
V_ #-9.0u|)t t?v

Artinya: Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut,
jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara
ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.
Ayat diatas dinaskh oleh sabda Nabi SAW:

Artiny: Tidak ada wasiat bagi ahli waris. (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Majjah.)



: " "
.
: :
. " "
.
. , .
. " " ,
.
Pembahasan Ke - 6
MUJMAL DAN BAYAN
Mujmal () adalah sesuatu yang membutuhkan penjelasan. Contoh seperti lafal pada
ayat:

karena ada persekutuan makna dalam lafal al-quru' maka memungkinkan lafal tersebut
mempunyai arti haidh dan suci.
Bayan () adalah mengeluarkan sesuatu dari kondisi musykil kepada kondisi jelas. Bayan
dibagi menjadi:
1) Bayan (penjelas) dengan ucapan (bi al-qawl) seperti pada firman Allah SWT. yang
menerangkan puasa tamatu' QS. Al-Baqarah (2): 196.
e_... 3 .Be#o t>,uo ?e=(7 3 u\|uN| )eo# u7|\t>
#-:.ttkoC e &|-O5 O=v~Oote (ou-H
Artinya: Maka wajib puasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kalian semua
telah pulang. Itulah sepuluh hari yang sempurna...
2) Bayan dengan perbuatan atau pekerjaan. seperti pekerjaan Nabi yang menjelaskan tata cara
shalat dan lainnya.
3) Bayan dengan tulisan (kutub). Seperti bayan akan kadar zakat, dan diyat anggota badan
sebagaimana yang telah dijelaskan Nabi SAW. melalui hadits-haditsnya.
4) Bayan dengan isyarat, seperti isyarat nabi SAW sambil menunjukkan semua jari tangan dalam
satu isyarat satu bulan adalah seperti ini, seperti ini dan seperti ini. Maksudnya 30 hari.
Kemudian nabi memebrikan isyarat lagi dengan telapak tangannya sampai tiga kali, dan pada
urutan ketiga beliau tidak menunjukkan ibu jarinya sebagai isyarat bahwa dalam bulan terkadang
ada yang hanya sejumlah 29 hari.


:
:
.
...
Bo|Be+ot7 uo7tt7 (oIto(c

Pembahasan Ke - 7
MUTLAQ DAN MUQOYYAD
Mutlaq () adalah lafal yang menunjukkan hakikat sesuatu hal tanpa adanya batasan.
Sedangkan muqoyyad () adalah lafal yang menunjukkan suatu hal dengan adanya batasan
(taqyid).
Penting diketahui bahwa apabila terdapat perintah (khithab) yang bersifat mutlak atau umum,
maka ia harus diberlakukan seperti keumumannya. Begitupun ketika terdapat perintah yang
dibatasi (muqoyyad) atau bersifat khusus, maka ia harus diberlakukan berdasarkan kadar
pembatasan atau kekhususannya tersebut. Namun ketika perintah itu bersifat mutlak pada satu
sisi dan muqoyyad pada sisi yang lain, maka sisi kemutlakannya harus ditangguhkan dan
diberlakukan sisi kekhususannya. Contohnya seperti lafal roqobah (budak) yang dibatasi
dengan sifat beriman dalam hal kafarat membunuh. Allah SWT berfirman QS. al-Nisa' (4): 96.
...Bo|Be+ot7 uo7tt7 (oIto(c
Artinya : (Hendaklah) Ia memerdekakan seorang hamba yang beriman
Dalam bagian lain, lafal roqobah berlaku umum seperti pada kafarat zhihar dalam firman Allah
SWT QS. al-Mujadalah )58): 3.
9e0- t\u|t O\N+ EteT,-!k_N| Be ^o~e|t u#-!vet
o9e3'/| 4 tut0-!'- &| o6|~ Bie uo7tt7 (oIto(c o-9'u#(
c ,7e ?o\|0=\u|t /e0- u#-!+ 4 /ee ?\ut^lu_
Artinya: Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali
apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua
suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan."


:
:
:
: , , "
... "
u#-9TTKu-!'u : , , " ... "
/e|&7 /tt.+o~-
:
: ... " &-c7 ;0-! ?o)^~
(o " t(2^=\u|t #-!vet )e| "
/:'uPeeN| e t(2^=\u|t )eP+0- ^=(0- #-9.uIt~04 &B.uuAt ...
Pt-+#
: ,
"

" . . " k ... ."


B\|=\uBt~M &v(\ #-:.tt Pue )eo# 'u#BtZu)#(
#-!vet t~+kt- . " #-! e..c )e<v4 (o--(\u|#(
#-9.|^0\te tu|Oe Be 9e='=vu4o_ ... "#-9.7t. uo#(


Pembahasan Ke - 8
MANTUQ DAN MAFHUM
Mantuq () adalah penunjukan lafal terhadap suatu hal (hukum) ketika diucapkan,
sedangkan Mafhum () adalah penunjukan lafal terhadap hukum yang tidak diucapkan.
Pembagian Mantuq
1. Al-Nash. Yaitu lafal yang tidak mengandung takwil. Seperti firman Allah SWT. QS. al-
Baqarah (2):196.
e_... 3 .Be#o t>,uo ?e=(7 3 u\|uN| )eo# u7|\t>
#-:.ttkoC e &|-O5 O=v~Oote (ou-H
Artinya: Maka wajib puasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kalian semua
telah pulang. Itulah sepuluh hari yang sempurna.
2. Al-Zahir. Yaitu lafal yang mengandung takwil atau perlu takwil. Contohnya seperti firman
Allah QS. al-Dzariyat (51):47.
Z_ 9o0u\u|t u)eP+- /e|&7 /tt.+o~- u#-9TTKu-!'u
Artinya: Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-
benar berkuasa.
Lafal adalah bentuk jamak dari lafal yang berarti tangan, dan hal itu (tangan) mustahil bagi
Allah SWT. Maka dari itu lafal dalam ayat tersebut dipalingkan ke makna yang berarti
kekuatan.
Pembagian Mafhum
1. Mafhum muwafaqoh. Yaitu penunjukan hukum yang tidak disebutkan mempunyai kesamaan
dengan hukum yang diucapkan. Seperti pencegahan atau larangan memukul kedua orang tua
yang dapat dipahami dari firman Allah QS. al-Isra' (17):23.
u/e--9.uu!e-t. )e|-v )eeH ?o\|7#( &e u/7 uo,4 &|
&vto\0-! #-9.69u e+8 t7|=\(ts )eB- 4 )e(T,~Z- 9v0-
u\~ ?o||kt|o\0- ue &-c7 ;0-! ?o)^~ (o .eo\0- c. 2c0-
ou|eZ
Artinya: Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-
kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Larangan membakar (atau hal-hal yang sifatnya merusak) harta anak yatim yang dapat dipahami
dari firman Allah QS. al-Nisa' (4): 10.
)eP+0- ^=(0- #-9.uIt~04 &B.uuAt t(2^=\u|t #-!vet )e| _
\eZ# uu(=vu|_ ( Pt-+# /:'uPeeN| e t(2^=\u|t
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya
mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-
nyala (neraka).
2. Mafhum mukholafah. Yaitu lafal yang disebutkan tidak sama dengan yang diucapkan.
Contohnya antara lain adalah sebagai berikut:
1) Tidak adanya kewajiban zakat bagi hewan yang digunakan untuk bekerja yang dipahami dari
sabda Nabi SAW:


Artinya: Pada hewan-hewan yang digembalakan terdapat (wajib) zakat.
2) Tidak adanya haji kecuali pada bulan-bulan tertentu yang telah masyhur dari pemahaman
firman Allah QS. al-Baqarah (2):197.
(o #-:.ttk' (eeC (otvu (o0 4 B\|=\uBt~M &v(\ #-:.ttk Be(
?o.\=\u#( uBt- 3 #-9.okoC e #At ue (\Tlu ue u(o| #-9#e
,|u (o-e_ u?ot#( 3 #-!+ t\|=v0( ,|9 Z_ #-{u9.6t~=
t~+<_ u#-?)^u| 4 #-9I|).uu3
Artinya: Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-
bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan,
niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa
dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.
3) Diperbolehkannya jual beli pada hari Jum'at sebelum dikumandangkannya azdan yang
dipahami dari firman Allah QS. al-Jum'ah (62): 9.
tu|Oe Be 9e='=vu4o_ Pue )eo# 'u#BtZu)#( #-!vet t~+kt- 4
#-9.7t. uo#( #-! e..c )e<v4 (o--(\u|#( #-9.|^0\te
?o\|=v0u|t .'+IO( )e| 9v3'N| ,| o9e3'N|
Artinya: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih
baik bagimu jika kamu mengetahui.



.
. "
... ."
. .
. " ... "T,Zut &(uuo #-!
uuA e 9o3'N| .|t 9v)o(
: .
Pembahasan Ke - 9
PERBUATAN NABI SAW.
Perbuatan Nabi SAW. terkadang bersifat qurbah (ibadah taqorrub) dalam artian taat dan kadang
juga tidak bersifat demikian. Ketika perbuatan Nabi bersifat taqorrub atau taat serta adanya dalil
yang menunjukkan kekhususan pada diri Nabi maka hal itu berlaku khusus untuk Nabi SAW.
Seperti memiliki istri lebih dari empat. Allah berfirman QS al- Nisa' (4): 3.
c ... u/t~ uO\=v~| BtO|o4 #-9+ieT,-!'e Bie, 9o3'N o->, Bt-
(o--P3ou#(
Artinya: Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu sengangi dua, tiga, atau empat
Namun ketika perbuatan Nabi SAW. tidak disertai dalil yang menunjukkan kekhususannya pada
diri Nabi SAW. maka perbuatan tersebut tidak berlaku khusus pada Nabi SAW., tetapi juga
meliputi umatnya. Alllah berfirman QS. al-Ahzab (33): 21.
.eZ# #-!v uo.t #-u,t u#-9.uu|Ht #-!v t|u#( .|t 9e0
T,Zut &(uuo #-! uuA e 9o3'N| .|t 9v)o(
Artinya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa hukum asal semua perbuatan Nabi SAW. itu
untuk diikuti kecuali ada dalil yang menunjukkan kekhususan pada Nabi SAW. saja dalam suatu
perbuatan.



.
, .
,
. .

. .
\ .
Pembahasan Ke - 10
KETETAPAN NABI SAW.
Ketetapan Nabi SAW. atas ucapan seseorang memiliki kedudukan yang sama dengan ucapan
Nabi SAW. sendiri. Begitu juga ketetapan Nabi SAW. atas pekerjaan seseorang memiliki
kedudukan yang sama dengan pekerjaan Nabi SAW. hal itu karena Nabi SAW. bersifat maksum
(terjaga) untuk mengakui perbuatan ingkar seseorang. Contoh dari keterangan diatas adalah
pengakuan Nabi SAW. pada sahabat Abu Bakr RA. yang memberikan harta rampasan perang
orang kafir yang terbunuh kepada pasukan muslim yang berhasil membunuhnya dan pengakuan
Nabi SAW terhadap sahabat Khalid bin Walid RA. yang memakan biawak.
Sesuatu yang dikerjakan atau diucapkan tidak dihadapan (majlis) Nabi SAW. namun terjadi atas
sepengetahuan Nabi SAW. mengetahui dan tidak pula mengingkarinya maka memiliki
kedudukan hukum yang sama dengan pekerjaan atau perkataan yang dilakukan dihadapan Nabi
SAW. Seperti pengetahuan Nabi SAW. Dengan sahabat Abu Bakr RA. yang pada saat murka
bersumpah untuk tidak makan, namun kemudian melanggar sumpahnya sendiri setelah meyakini
adanya kebaikan dalam makan, yakni menjaga kesehatan tubuh
berdasarkan contoh dan keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan diperbolehkannya melanggar
sumpah, bahkan disunatkan untuk melanggar sumpah ketika hal itu mengandung sesuatu yang
lebih baik.



:
: .
. "
"
, ,
. .

.
Pembahasan Ke - 11
IJMA'
Ijma' menurut bahasa adalah kesepakatan atau konsensus. Sedangkan menurut pengertian istilah,
Ijma berarti kesepakatan umat islam setelah wafatnya Nabi SAW. pada suatu masa terhadap satu
dari beberapa perkara atau permasalahan. Ijma' menurut jumhur ulama' adalah hujjah. Hal ini
didasarkan pada sabda Nabi SAW.:
" "
Artinya: Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Pertolongan Allah atas jamaah.
Ijma' bisa atau sah terjadi dengan ucapan sebagian ulama' dan perbuatan sebagian yang lain,
tersiarnya kabar mengenai perkataan atau perbuatan tersebut. Adapun sikap diamnya sebagian
ulama' yang lain terhadap terjadinya kesepakatan itu disebut dengan ijma sukutiy. Para ulama'
telah bersepakat bahwa sesuatu yang biasa keluar dari dubur (anus) dan qubul (kelamin) yaitu
kencing dan buang air besar adalah membatalkan wudhu.
Perlu juga diketahui bahwa imam Syafi'i RA. telah menetapkan qiyas dan hadits ahadd untuk
kegiatan penetapan (istinbat) hukum, sebagaimana telah dilakukan oleh sebagian sahabat dan
tanpa adanya pengingkaran dari sahabat yang lain. Dengan demikian, hal ini juga dinamakan
ijma' sukutiy.


. " "
: .
: . .
: , , , .
:
. . .
" "
. .
. :

. .

.
Pembahasan Ke - 12
QIYAS
Qiyas adalah hujjah. Allah SWT. berfirman QS. al-Hasyr (59):2.
. #-{u/|,~c t~+<_ (o--(ut9#(
Artinya: Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang
mempunyai wawasan.
Al-Qiyas () menurut bahasa adalah mengukur atau memperkirakan sesuatu atas sesuatu
yang lain untuk mengetahui persamaan diantara keduanya, seperti mengukur pakaian dengan
lengan. Sedangkan menurut istilah, qiyas berarti mengembalikan hukum cabang (far') kepada
hukum asal karena adanya illat (alasan) yang mempertemukan keduanya dalam hukum. Seperti
menqiaskan beras terhadap gandum dalam harta ribawiy dengan titik temu berupa keduanya
sama-sama makanan pokok.
Rukun Qiyas ada empat yaitu:
1) far',
2) asal,
3) hukum asal, dan
4) illat hukum asal.
Macam-macam qiyas, di bagi menjadi tiga:
a. Qiyas al-illat
Yaitu sesuatu yang illat didalamnya menetapkan hukum. Seperti menqiyaskan memukul dengan
ucapan yang tercela kepada kedua orang tua dalam keharamannya dengan alasan menyakitkan
hati orang tua. Allah berfirman QS. Al-Isra' (17):23.
c. ... &-c7 ;0-! ?o)^~ (o
Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "Ah".
b. Qiyas al-dilalah
Yaitu sesuatu yang illat didalamnya menunjukkan pada hukum akan tetapi illat tersebut tidak
menetapkan pada hukum. Seperti menqiyaskan harta anak kecil dengan harta orang dewasa
dalam kewajiban zakat dengan adanya titik temu bahwa harta anak kecil termasuk harta yang
sempurna (al-ml al-tmm). Boleh juga mengatakan tidak wajib zakat -seperti yang dikatakan
Abu Hanifah- dengan menqiyaskan pada haji yang mana, haji wajib bagi orang dewasa adapun
anak kecil tidak wajib untuk haji.
c. Qiyas al-syibh
Yaitu mempersamakan hukum cabang (far') yang masih diragukan antara dua asal dengan
mengambil keserupaan yang lebih banyak dari asal tersebut. Contohnya dalam pembahasan
budak yang dibunuh, apakah sipembunuh wajib dikenai hukum qishas karena budak juga
termasuk manusia, ataukah cukup hanya dengan membayar ganti rugi dengan alasan adanya
keserupaan budak dengan binatang, bahwa budak adalah harta. Dalam hal ini budak lebih banyak
keserupaannya dengan binatang (harta) sebab, budak bisa diperjual-belikan, diwariskan, dan
diwakafkan.






.
. .
. .
. .
...7=vZu- 9o|ok|et|kN| (eZu- ~#( u#-!ve, :
:

"
"
...+/ve3'O( Bie )e9o.3'N &PcAt Bt-! #-?7e\u#( :
#-!+ &PtAt Bt-! )e<v4 ?o\-9ou|#( ;O( e~ u)eo# : t=v.e
u(Pt- Bt- T(6Zu- o-9'u#( #-9+uA u)e<v ue v.-
t\(=v0u|t e 'u#/t-!t'o\N| .|t &u9ou| 4 'u#/t-!'uPt-! uk|It|t
B(It|t 'u#O~coeN t?v# u)eP+- &Bt7 t?v# 'u#/t-!'uPt-
u(Pt-! )eP+- o-9'u)#( /t~| :
Pembahasan Ke - 13
IJTIHAD, ITTIBA' DAN TAQLID
Ijtihad ialah mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan hukum syara' dengan jalan
menyandarkan hukum (istinbath) kepada al-Quran dan al-Sunah. Orang yang melakukan ijtihad
disebut dengan mujtahid.
Ittiba' adalah menerima ucapan orang lain serta mengetahui sumbernya, dan orang yang
melakukan ittiba disebut dengan muttabi'.
Taqlid adalah menerima ucapan seseorang tanpa mengetahui dasarnya, dan orang yang
melakukan taqlid disebut dengan muqollid.
Ijtihad dalam permasalahan agama sangat dibutuhkan. Begitupun dengan ittiba'. Sedangkan
taklid dalam agama dianggap sebagai suatu pekerjaan yang hina, karena berdampak lebih jauh
terhadap kemunduran umat.
Dalil-dalil untuk ketentuan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
QS. al-Ankabut (2): 69.
e #-9.0o(TZet 9o0 #-!v u)e| 4 7=vZu- 9o|ok|et|kN|
(eZu- ~#( u#-!ve,
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan
kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik.
Hadist Nabi SAW. :

" "
Artinya: Jika seorang hakim membuat keputusan (menghukumi) dengan berijtihad kemudian
benar, maka baginya dua pahala, jika menghukumi dengan berijtihad dan ternyata salah, maka
baginya satu pahala." (HR. Bukhari dan Muslim).
QS. al-A'raf (7): 3.
c ?o.v|t B- o=eO 3 &|9eu-!'u Pee Be ?ou|7e\u#(
ue +/ve3'O( Bie )e9o.3'N &PcAt Bt-! #-?7e\u#(
Artinya : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti
pemimpin-pemimpin selain-Nya. amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).
QS. al-Maidah (5): 104.
u)e<v #-!+ &PtAt Bt-! )e<v4 ?o\-9ou|#( ;O( e~ u)eo# 4
'u#/t-!'uPt-! t=v.e u(Pt- Bt- T(6Zu- o-9'u#( #-9+uA
uk|It|t ue v.- t\(=v0u|t e 'u#/t-!t'o\N| .|t &u9ou|
__
Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan
mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak
kami mengerjakannya". dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun
nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.
QS. al-Zukhruf (43): 22.
.. B(It|t 'u#O~coeN t?v# u)eP+- &Bt7 t?v# 'u#/t-!'uPt-
u(Pt-! )eP+- o-9'u)#( /t~|
Artinya: Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut
suatu agama, dan Sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti)
jejak mereka".

BAGIAN KEDUA
QOWA'ID AL-FIQH
Sabda Rasulullah SAW. :

Artinya: Segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan apa yang didapatkan ialah apa yang telah
diniatkan. (HR. Bukhari).
Kaidah ke-1

Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.
Contoh kaidah:
1. Diwajibkannya niat dalam berwudhu, mandi, shalat dan puasa.
2. Penggunaan kata kiasan (kinayah) dalam talak. Seperti ucapann seorang suami kepada
istrinya: (engkau adalah wanita yang terasing). Jika suami bertujuan menceraikan dengan
ucapannya tersebut, maka jatuhlah talak kepada istrinya, namun jika ia tidak berniat menceraikan
maka tidak jatuh talak-nya.
Kaidah ke-2

Sesuatu yang memerlukan penjelasan, maka kesalahan dalam memberikan penjelasan
menyebabkan batal.
Contoh kaidah:
1. Seseorang yang melakukan shalat dhuhur dengan niat 'ashar atau sebaliknya, maka shalatnya
tersebut tidak sah.
2. Kesalahan dalam menjelaskan pembayaran tebusan (kafarat) zhihar kepada kafarat qatl
(pembunuhan).
Kaidah ke-3



Sesuatu yang memerlukan penjelasan secara global dan tidak memerlukan penjelasan secara
rinci, maka ketika kesalahan dalam penjelasan secara rinci membahayakan.
Contoh kaidah :
Seseorang yang bernama Gandung S.P. Towo niat berjamaah kepada seorang imam bernama
mbah Arief. Kemudian, ternyata bahwa yang menjadi imam bukanlah mbah Arief tapi orang lain
yang mempunyai panggilan Seger (Khoirul Mustamsikin), maka shalat Gandung tidak sah
karena ia telah berniat makmum dengan mbah Arief yang berarti telah menafikan mengikuti
Seger. Perlu diketahui, bahwa dalam shalat berjamah hanya disyaratkan niat berjamaah tanpa
adanya kewajiban menentukan siapa imamnya.
Kaidah ke-4

Sesuatu yang tidak disyaratkan penjelasannya secara global maupun terperinci ketika dita'yin dan
salah maka statusnya tidaklah membahayakan.
Contoh kaidah :
Kesalahan dalam menentukan tempat shalat. Seperti mbah Muntaha (pengelolah kantin Asyiq)
niat shalat di Kemranggen Bruno Purworejo, padahal saat itu dia berada di Simpar (suatu daerah
yang di Kecamatan Kalibawang Wonosobo). Maka shalat mbah Muntaha tidak batal karena
sudah adanya niat. sedangkan menentukan tempat shalat tidak ada hubungannya dengan niat baik
secara globlal atau terperinci (tafshil).
Kaidah ke-5

Maksud sebuah ucapan tergantung pada niat yang mengucapkan.
Contoh kaidah :
1. Temon adalah seorang pria perkasa (berasal dari daerah Babadsari Kutowinangun Kebumen).
Teman kita yang satu ini konon katanya mempunyai seorang istri bernama Tholiq dan seorang
budak perempuan bernama Hurrah. Suatu saat, Temon berkata; Yaa Tholiq, atau Yaa Hurrah.
Jika dalam ucapan Yaa Tholiq Temon bermaksud menceraikan istrinya, maka jatuhlah talak
kepada istrinya, namun jika hanya bertujuan memanggil nama istrinya, maka tidak jatuh
talaknya. Begitu juga dengan ucapan Yaa Hurrah kepada budaknya jika Temon bertujuan
memerdekakan, maka budak perempuan itu menjadi perempuan merdeka. Sebaliknya jika ia
hanya bertujuan memanggil namanya, maka tidak menjadi merdeka.
2. Menambahkan lafal masyiah (insya Allah) dalam niat shalat dengan tujuan menggantungkan
shalatnya kepada kehendak Allah SWT. maka batal shalatnya. Namun apabila hanya berniat
tabarru maka tidak batal shalatnya, atau dengan menambahkan masyiah dengan tanpa adanya
tujuan apapun, maka menurut pendapat yang sahih, shalatnya menjadi batal.
Kaidah ke-6

Keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keraguan.
Contoh kaidah :
1. Seorang bernama Doel Fatah ragu, apakah baru tiga atau sudah empat rakaat shalatnya? maka,
Doel Fatah harus menetapkan yang tiga rakaat karena itulah yang diyakini.
2. Santri bernama Maid baru saja mengambil air wudhu di kolam depan komplek A PP. Putra
An-Nawawi. Kemudian timbul keraguan dalam hatinya; "batal durung yo..? kayane aku nembe
demek..." maka hukum thaharah-nya tidak hilang disebabkan keraguan yang muncul kemudian.
3. seseorang meyakini telah berhadats dan kemudian ragu apakah sudah bersuci atau belum,
maka orang tersebut masih belum suci (muhdits).
Dibawah ini ialah kaidah yang esensinya senada dengan kaidah di atas:

Sesuatu yang tetap dengan keyakinan, maka tidak bisa dihilangkan kecuali dengan adanya
keyakinan yang lain.
Kaidah ke-7

Pada dasarnya ketetapan suatu perkara tergantung pada keberadaannya semula.
Contoh kaidah :
1. Seseorang yang makan sahur dipenghujung malam dan ragu akan keluarnya fajar maka puasa
orang tersebut hukumnya sah. Karena pada dasarnya masih tetap malam (al-aslu baqa-u al-lail).
2. Seseorang yang makan (berbuka) pada penghujung siang tanpa berijtihad terlebih dahulu dan
kemudian ragu apakah matahari telah terbenam atau belum, maka puasanya batal. Karena
asalnya adalah tetapnya siang (al-ashl baqa-u al-nahr).
Kaidah ke-8

hukum asal adalah tidak adanya tanggungan.
Contoh kaidah:
Seorang yang didakwa (muddaa alaih)melakukan suatu perbuatan bersumpah bahwa ia tidak
melakukan perbuatan tersebut. Maka ia tidak dapat dikenai hukuman, karena pada dasarnya ia
terbebas dari segala beban dan tanggung jawab. Permasalahan kemudian dikembalikan kepada
yang mendakwa (muddai).
Kaidah ke-9

Hukum asal adalah ketiadaan
Contoh kaidah :
1. Kang Khumaidi mengadakan kerjasama bagi hasil (mudharabah) dengan Bos Fahmi. Dalam
kerjasama ini Kang Khumaidi bertindak sebagai pengelola usaha (al-'amil), sedangkan Bos
Fahmi adalah pemodal atau investornya. Pada saat akhir perjanjian, Kang Khumaidi melaporkan
kepada Bos Fahmi bahwa usahanya tidak mendapat untung. Hal ini diingkari Bos Fahmi. Dalam
kasus ini, maka yang dibenarkan adalah ucapan orang Bruna yang bernama Kang Khumaidi,
karena pada dasarnya memang tidak adanya tambahan (laba).
2. Tidak diperbolehkannya melarang seseorang untuk membeli sesuatu. Karena pada dasarnya
tidak adanya larangan (dalam muamalah).
Kaidah ke-10

Asal segala sesuatu diperkirakan dengan yang lebih dekat zamannya.
Contoh kaidah :
1. Mungkin karena kesal dengan seseorang wanita hamil yang kebetulan juga cerewet, maka
tanpa pikir panjang Ipin -cah Jiwan Wonosobo- memukul perut si wanita hamil tersebut. Selang
beberapa waktu si wanita melahirkan seorang bayi dalam keadaan sehat. Kemudian tanpa
diduga-duga, entah karena apa si jabang bayi yang imut yang baru beberapa hari dilahirkan
mendadak saja mati. Dalam kasus ini, Ipin tidak dikenai tanggungan (dhaman) karena kematian
jabang bayi tersebut adalah disebabkan faktor lain yang masanya lebih dekat dibanding
pemukulan Ipin terhadap wanita tersebut.
2. Seorang santri kelas II MDU bernama Soekabul alias Kabul Khan ditanya oleh teman
sekamarnya; Kang Kabul, aku melihat sperma di bajuku, tapi aku tidak ingat kapan aku mimpi
basah. Gimana solusinya, Kang?. Dengan PD-nya, karena baru saja menemukan kaidah al-aslu
fi kulli wahidin taqdiruhu bi-aqrobi zamanihi saat muthalaah Kitab Mabadi' Awwaliyah, santri
yang demen banget lagu-lagu Hindia ini spontan menjawab; Siro -red: kamu- wajib mandi besar
dan mengulang shalat mulai sejak terakhir kamu bangun tidur sampai sekarang.
Kaidah ke-11

Kesulitan akan menarik kepada kemudahan.
Contoh kaidah :
1. Seorang bernama Godril yang sedang sakit parah merasa kesulitan untuk berdiri ketika shalat
fardhu, maka ia diperbolehkan shalat dengan duduk. Begitu juga ketika ia merasa kesulitan
shalat dengan duduk, maka diperbolehkan melakukan shalat dengan tidur terlentang.
2. Seseorang yang karena sesuatu hal, sakit parah misalnya, merasa kesulitan untuk
menggunakan air dalam berwudhu, maka ia diperbolehkan bertayamum.
3. Pendapat Imam Syafi'i tentang diperbolehkannya seorang wanita yang bepergian tanpa
didampingi wali untuk menyerahkan perkaranya kepada laki-laki lain.
Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas, antara lain:
Perkataan Imam al-Syafi'i:

Sesuatu, ketika sulit, maka hukumnya menjadi luas (ringan).
Perkataan sebagian ulama:

Ketika keadaan menjadisempit maka hukumnya menjadi luas.

Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 185.
eV_ ... #-9.\s(>>>>>u /e6^N c ue #-9.T(t /e6^N #-!+
c

Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
KERINGANAN HUKUM SYARA
Keringanan hukum syara (takhfifat al-syar'i), meliputi 7 macam, yaitu:
1. Takhfif Isqat, yaitu keringanan dengan menggugurkan. Seperti menggugurkan kewajiban
menunaikan ibadah haji, umrah dan shalat jumat karena adanya 'uzdur (halangan).
2. Takhfif Tanqis, yaitu keringanan dengan mengurangi. Seperti diperbolehkannya menqashar
shalat.
3. Takhfif Ibdal, yaitu keringanan dengan mengganti. Seperti mengganti wudhu dan mandi
dengan tayammum, berdiri dengan duduk, tidur terlentang dan memberi isyarat dalam shalat dan
mengganti puasa dengan memberi makanan.
4. Takhfif Taqdim, yaitu keringanan dengan mendahulukan waktu pelaksanaan. Seperti dalam
shalat jama' taqdim, mendahulukan zakat sebelum khaul (satu tahun), mendahulukan zakat fitrah
sebelum akhir Ramadhan.
5. Takhfif Takhir, yaitu keringanan dengan mengakhirkan waktu pelaksanaan. Seperti dalam
shalat jama' takhir, mengakhirkan puasa Ramadhan bagi yang sakit dan orang dalam perjalanan
dan mengakhirkan shalat karena menolong orang yang tenggelam.
6. Takhfif Tarkhis, yaitu keringanan dengan kemurahan Seperti diperbolehkannya menggunakan
khamr (arak) untuk berobat.
7. Takhfif Taghyir, yaitu keringanan dengan perubahan. Seperti merubah urutan shalat dalam
keadaan takut (khauf).
Kaidah ke-12

Sesuatu yang dalam keadaan lapang maka hukumnya menjadi sempit.
Contoh kaidah :
Sedikit gerakan dalam shalat karena adanya gangguan masih ditoleransi, sedangkan banyak
bergerak tanpa adanya kebutuhan tidak diperbolehkan.
Dari dua kaidah sebelumnya (kaidah ke-11 dan ke-12) Al-Gazali membuat sintesa (perpaduan)
menjadi satu kaidah berikut ini:

Setiap sesuatu yang melampaui batas kewajaran memiliki hukum sebaliknya.
Kaidah ke-13

Bahaya harus dihilangkan.
Contoh kaidah:
1. Diperbolehkan bagi seorang pembeli memilih (khiyar) karena adanya 'aib (cacat) pada barang
yang dijual.
2. Diperbolehkannya merusak pernikahan (faskh al-nikah) bagi laki-laki dan perempuan karena
adanya 'aib.

Kaidah ke-14

Bahaya tidak dapat dihilangkan dengan bahaya lainnya.
Contoh kaidah:
Mbah Yoto dan Lutfi adalah dua orang yang sedang kelaparan, keduanya sangat membutuhkan
makanan untuk meneruskan nafasnya. Mbah Yoto, saking tidak tahannya menahan lapar nekat
mengambil getuk Asminah (asli produk gintungan) kepunyaan Lutfi yang kebetulan dibeli
sebelumnya di warung Syarof CS. Tindakan mbah Yoto -walaupun dalam keadaan yang sangat
menghawatirkan baginya- tidak bisa dibenarkan karena Lutfi juga mengalami nasib yang sama
dengannya, yaitu kelaparan.
Kaidah ke-15

Kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang.
Contoh kaidah:
1. Ketika dalam perjalan dari Sumatra ke pondok pesantren An-Nawawi, ditengah-tengah hutan
Kasyfurrahman alias Rahman dihadang oleh segerombolan begal, semua bekal Rahman ludes
dirampas oleh mereka yang tak berperasaan -sayangnya Rahman tidak bisa seperti syekh Abdul
Qadir al-Jailany yang bisa menyadarkan para begal- karenanya mereka pergi tanpa
memperdulikan nasib Rahman nantinya, lama-kelamaan Rahman merasa kelaparan dan dia tidak
bisa membeli makanan karena bekalnya sudah tidak ada lagi, tiba-tiba tampak dihadapan
Rahman seekor babi dengan bergeleng-geleng dan menggerak-gerakkan ekornya seakan-akan
mengejek si-Rahman yang sedang kelaparan tersebut. Namun malang juga nasib si babi hutan
itu. Rahman bertindak sigap dengan melempar babi tersebut dengan sebatang kayu runcing yang
dipegangnya. Kemudian tanpa pikir panjang, Rahman langsung menguliti babi tersebut dan
kemudian makan dagingnya untuk sekedar mengobati rasa lapar.
Tindakan Rahman memakan daging babi dalam kondisi kelaparan tersebut diperbolehkan.
Karena kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang.
2. Diperbolehkan melafazdkan kalimat kufur karena terpaksa.
Kaidah lain yang kandungan maknanya sama adalah kaidah berikut:

Tidak ada kata haram dalam kondisi darurat dan tidak ada kata makruh
ketika ada hajat
Kaidah ke-16

Sesuatu yang diperbolehkan karena keadaan darurat harus disesuaikan dengan kadar daruratnya.
Contoh kaidah:
1. Dengan melihat contoh pertama pada kaidah sebelumnya, berarti Rahman yang dalam kondisi
darurat hanya diperbolehkan memakan daging babi tangkapannya itu sekira cukup untuk
menolong dirinya agar bisa terus menghirup udara dunia. selebihnya (melebihi kadar kecukupan
dengan ketentuan tersebut) tidak diperbolehkan.
2. Sulitnya shalat jumat untuk dilakukan pada satu tempat, maka shalat jumat boleh dilaksanakan
pada dua tempat. Ketika dua tempat sudah dianggap cukup maka tidak diperbolehkan dilakukan
pada tiga tempat.
Kaidah ke-17

Kebutuhan (hajat) terkadang menempati posisi darurat.
Contoh kaidah:
1. Diperbolehkannya Ji'alah (sayembara berhadiah) dan Hiwalah (pemindahan hutang piutang)
karena sudah menjadi kebutuhan umum.
2. Diperbolehkan memandang wanita selain mahram karena adanya hajat dalam muamalah atau
karena khithbah (lamaran).
Kaidah ke-18

Ketika dihadapkan pada dua mafsadah (kerusakan) maka tinggalkanlah mafsadah yang lebih
besar dengan mengerjakan yang lebih ringan.
Contoh kaidah:
1. Diperbolehkannya membedah perut wanita (hamil) yang mati jika bayi yang dikandungnya
diharapkan masih hidup.
2. Tidak perbolehkannya minum khamr dan berjudi karena bahaya yang ditimbulkannya lebih
besar daripada manfaat yang bisa kita ambil.
3. Disyariatkan hukum qishas, had dan menbunuh begal, karena manfaatnya (timbulnya rasa
aman bagi masyarakat) lebih besar daripada bahayanya.
4. Diperbolehkannya seorang yang bernama Junaidi yang kelaparan, padahal ia tidak memiliki
cukup uang untuk membeli makanan, untuk mengambil makanan Eko Setello yang tidak lapar
dengan sedikit paksaan.
Kaidah ke-19

Menolak mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.
Contoh kaidah:
1. Berkumur dan mengisap air kedalam hidung ketika berwudhu merupakan sesuatu yang
disunatkan, namun dimakruhkan bagi orang yang berpuasa karena untuk menjaga masuknya air
yang dapat membatalkan puasanya.
2. Meresapkan air kesela-sela rambut saat membasuh kepala dalam bersuci merupakan sesuatu
yang disunatkan, namun makruh dilakukan oleh orang yang sedang ihram karena untuk menjaga
agar rambutnya agar tidak rontok.
Kaidah ke-20

Hukum asal farji adalah haram.
Contoh kaidah:
1. Ketika seorang perempuan sedang berkumpul dengan beberapa temannya dalam sebuah
perkumpulan majlis taklim, maka laki-laki yang menjadi saudara perempuan tersebut dilarang
melakukan ijtihad untuk memilih salah satu dari mereka menjadi istrinya. Termasuk dalam
persyaratan ijtihad adalah asalnya yang mubah, sehingga oleh karenanya perlu diperkuat dengan
ijtihad. Sedangkan dalam situasi itu, dengan jumlah perempuan yang terbatas, dengan mudah
dapat diketahui nama saudara perempuannya yang haram dinikahi dan mana yang bukan.
Berbeda ketika jumlah perempuan itu banyak dan tidak dapat dihitung, maka terdapat
kemurahan, sehingga oleh karenanya, pintu pernikahan tidak tertutup dan pintu terbukanya
kesempatan berbuat zina.
2. Seseorang mewakilkan (al-muwakkil) kepada orang lain untuk membeli jariyah (budak
perempuan) dengan menyebut cirri-cirinya. Ternyata, sebelum sempat menyerahkan jariyah yang
dibelinya tersebut, orang yang telah mewakili (wakil) tersebut meninggal. Maka sebelum ada
penjelasan yang menghalalkan, jariyah itu belum halal bagi muwakkil karena walaupun memiliki
cirri-ciri yang disebutkannya, dikhawatirkan wakil membeli jariyah untuk dirinya sendiri.
Allah SWT. berfirman QS. Al-Mukminun (23) 5-7.
&| &.ueN| t?v# )ee ~e^lu|t 9e^eN| o\N| u#-!vet
(o0 Bt=\uBe( | (o-ekN| &|0~|kN| Bt=v3oM( Bt-
#-9.\-|t o\N (o9o~+_7 o9e7 uu#!'u #-/|It|4
Artinya: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka
atau budak yang mereka miliki Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.
Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
Lebih jelasnya sesuai dengan ayat quran tersebut bahwa seorang budak halal bagi tuannya tetapi
berhubung belum ada indikasi yang jelas mengenai kehalalannya sebagaimana contoh di atas
maka budak tersebut belum halal bagi muwakkil (orang yang mewakilkan).
Kaidah ke-21

Adat bisa dijadikan sandaran hukum.
Contoh kaidah:
1. Seseorang menjual sesuatu dengan tanpa menyebutkan mata uang yang dikehendaki, maka
berlaku harga dan maat uang yang umum dipakai.
2. Batasan sedikit, banyak dan umumnya waktu haidh, nifas dan suci bergantung pada kebiasaan
(adapt perempuan sendiri).
Kaidah ke-22


Sesuatu yang berlaku mutlak karena syara' dan tanpa adanya yang membatasi didalamnya dan
tidak pula dalam bahasa,maka segala sesuatunya dikembalikan kepada kebiasaan (al-"urf) yang
berlaku.
Contoh kaidah :
1. Niat shalat cukup dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram, yakni dengan menghadirkan
hati pada saat niat shalat tersebut.
Terkait dengan kaidah di atas, bahwasanya syara telah menentukankan tempat niat di dalam
hati, tidak harus dilafalkan dan tidak harus menyebutkan panjang lebar, cukup menghadirkan
hati; aku niat shalatrakaaat. itu sudah di anggap cukup.
2. Jual beli dengan meletakan uang tanpa adanya ijab qobul, menurut syara adalah tidak sah.
Dan menjadi sah, kalau hal itu sudah menjadi kebiyasaan.
Kaidah ke-23

Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya.
Contoh kaidah:
1. Apabila dalam menentukan arah kiblat, ijtihad pertama tidak sama dengan ijtihat ke dua, maka
digunakan ijtihad ke dua. Sedangkan ijtihad pertama tetap sah sehingga tidak memerlukan
pengulangan pada rakaat yang dilakukan dengan ijtihad pertama. Dengan demikian, seseorang
mungkin saja melakukan shalat empat rakaat dengan menghadap arah yang berbeda pada setiap
rakaatnya.
2. Ketika seorang hakim berijtihad untuk memutuskan hukum suatu perkara, kemudian
ijtihadnya berubah dari ijtihad yang pertama maka ijtihad yang pertama tetap sah (tidak rusak).
Kaidah ke-24

Mendahulukan orang lain dalam beribibadah adalah dilarang.
Contoh kaidah:
1. Mendahulukan orang lain atau menempati shaf awal (barisan depan) dalam shalat.
2. Mendahulukan orang lain untuk menutup aurat dan menggunakan air wudhu. Artinya, ketika
kita hanya memiliki sehelai kain untuk menutup aurat, sedangkan teman kita juga
membutuhkannya, maka kita tidak boleh memberikan kain itu kepadanya karena akan
menyebabkan aurat kita terbuka. Begitu pula dengan air yang akan kita gunakan untuk bersuci,
maka kita tidak boleh menggunakan air tersebut. Karena hal ini berkaitan dengan ibadah.
Firman Allah SWT dalam Qs. Al-Baqarah (2):148.
...#-9.|uNe (o--(ut7e)^u#(
Artinya: Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan

Kaidah ke-25

Mendahulukan orang lain dalam selain ibadah dianjurkan.
Contoh kaidah:
1. Mendahulukan orang dalam menerima tempat tinggal (Almaskan).
2. Mendahulukan orang lain untuk memilih pakaian.
3. Mempersilahkan orang lain untuk makanan lebih dulu.
Firman Allah SWT. Dalam QS. Al-Hasr (59):9.
'te7u|t o7|=e/| Be u#-}M0~, #-!-#u ?o7tu+' u#-!vet
Bie0s-! vttZ =_oeN| e o|t ue )e9o|k_N| o-t Bt( 4
,,-=,t 5_k_N| .|t u9ou| &P^]k_N| t?v# uo|Oe_ &?\u#(
#-9.0.=eou_ o\N (o9o~+_ Pt.Te v's uo uBt
Artinya: Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor)
sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah
kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-
orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.

Kaidah ke-26

Kebijakan pemimpin atas rakyatnya dlakukan berdasarkan pertimbangan kemaslahatan.
Contoh kaidah:
1. Seorang pemimpin (imam) dilarang membagikan zakat kepada yang berhak (mustahiq)
dengan cara membeda-bedakan diantara orang-orang yang tingkat kebutuhannya sama.
2. Seorang pemimpin pemerintahan, sebaiknya tidak mengankat seorang fasiq menjadi imam
shalat. Karena walaupun shalat dibelakangnya tetap sah, namun hal ini kurang baik (makruh).
3. Seorang pemimpin tidak boleh mendahulukan pembagian harta baitul mal kepada seorang
yang kurang membutuhkannya dan mengakhirkan mereka yang lebih membutuhkan.
Rasulullah SAW. bersabda :

Artinya : Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan setiap dsari kalian akan dimintai
pertanggung jawaban atas kepemimpinan.
Kaidah ke-27

Hukum gugur karena sesuatu yang syubhat.
Contoh kaidah:
1. Seorang laki-laki tidak dikenai had, ketika melakukan hubungan seksual dengan wanita lain
yang disangka istrinya (wathi syubhat).
2. Seseorang melakukan hubungan seks dalam nikah mut'ah, nikah tanpa wali atau saksi atau
setiap pernikahan yang dipertentangkan, tidak dapat dikenai had sebab masih adanya perbedaan
pendapat antara ulama, sebagian membolehkan nikah mut'ah dan nikah tanpa wali dan sebagian
lagi berpendapat sebalikannya.
3. Orang mencuri barang yang disangka sebagai miliknya, atau milik bapaknya, atau milik
anaknya, maka orang tersebut tidak dikenai had.
4. Orang meminum khamr (arah) untuk berobat tidak dikenai had karena masih terdapat khilaf
antar ulama'.
:
Artinya: Nabi SAW. bersabda: Tinggalkanlah oleh kamu sekalian had-had dikarenakan (adanya)
berbagai ketidak jelasan.
Kaidah ke-28

Sesuatu yang karena diwajibkan menjadi tidak sempurna kecuali dengan keberadaannya,maka
hukumnya wajib.
Contoh Kaidah:
1. Wajib membasuh bagian leher dan kepala pada saat membasuh wajah saat berwudhu.
2. Wajibnya membasuh bagian lengan atas dan betis (wentis) pada saat membasuh lengan dan
kaki.
3. Wajibnya menutup bagian lutut pada saat menutup aurat bagi laki-laki dan wajibnya dan
wajibnya menutup bagian wajah bagi wanita.
Kaidah ke-29

Keluar dari perbedaan pendapat hukumnya sunat (mustahab).
Contoh kaidah:
1. Disunatkan menggosok badan (dalk) ketika bersuci dan memeratakan air ke kepala dengan
mengusapkannya, dan tujuan keluar dari khilafdengan imam malik berpendapat bahwa dalk dan
isti'ab al-ro'sy (meneteskan kepala dengan air) adalah wajib hukumnya.
2. Disunatkan membasuh sperma, yang menurut imam malik wajib hukumnya.
3. Sunah men-qashar shalat dalam perjalanan yang mencapai tiga marhalah, karena keluar dari
khilaf dengan Abu hanifah yang mewajibkannya.
4. Disunatkan untuk tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat ketika membuang hajat,
walaupun dalam sebuah ruangan atau adanya penutup, karena untuk keluar dari khilaf imam
Tsaury yang mewajibkannya.
Untuk mengatasi perbedaan diperlukan beberapa syarat sebagai berikut:
a. Upaya mengatasi perbedaan tidak menyebabkan jatuh pada perbedaan lain. Seperti lebih
diutamakan memisahkan shalat witir (tiga rakaat dengan dua salam) dari pada melanjutkanya.
Dalam hal ini pendapat Imam Abu Hanafiah tidak dipertimbangkan karena adanya ulama yang
tidak membolehkan witir dengan digabungkan
b. Tidak bertentangan dengan sannah yang tepat (al-sannah al-tsabilah). Seperti disunatkannya
mengangkat kedua tangan dalam shalat, walaupun seorang ulama Hanafiah menganggap hal ini
dapat membatalkan shalat. Menurut riwayat lima puluh orang sahabat, Nabi SAW sendiri
melakukan shalat dengan mengangkat kedua tangannya.
c. Kautnya temuan tentang bukti perbedaan, sehingga kecil kemungkinan terulangnya keslahan
serupa. Dengan alas an itu, maka berpuasa bagi musafir yang mampu menahan lapar dan dahaga
aladah utama, dan tidak dipertimbangkan adanya pendapat para kaum Zahiruasa musafir itu tidak
sah.
Kaidah ke-30

Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan maksiat.
Contoh kaidah:
1. Orang yang bepergian karena maksiat, tidak boleh mengambil kemurahan hukum karena
berpergiannya, seperti; mengqashar dan menjama shalat, dan membatalkan puasa.
2. Orang yang berpergian karena maksiat, walaupun dalam kondisi terpaksa juga tidak
diperbolehkan memakan bangkai dan daging babi.
Kaidah ke-31

Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan keraguan.
Contoh kaidah:
1. Dalam perjalanan pulang ke Grabag Magelang, Abdul Aziz merasa ragu mengenai jauh jarak
yang ditempuh dalam perjalan tersebut, apakah sudah memenuhi syarat untuk meng-qashar
shalat atau belum. Dalam kondisi semacam ini, kang Aziz tidak boleh meng-qashar shalat.
2. Seorang yang bimbang apakah dirinya hadats pada waktu dhuhur atau ashar, maka yang harus
diyakini adalah hadats pada waktu dhuhur.
Kaidah ke-32

Sesuatuyang banyak aktifitasnya, maka banyak pula keutamaanya.
Contoh kaidah:
1. Shalat witir dengan fashl (tiga rakaat dengan dua salam) lebih utama dari pada wasl (tiga
rakaat dengan satu salam) karena bertambahnya niat,takbir dan salam.
2. Orang melakulan shalat sunah dengan duduk, maka pahalanya setengan dari pahala orang
yang shalat sambil berdiri. Orang yang shalat tidur mirung, maka pahalanya adalah setengah dari
orang yangh shalat dengan duduk.
3. Memishkan pelaksanaan antara ibadah haji dengan umrah adalah lebih utama dari pada
melaksanakan bersama-sama.
Rasulullah SAW. bersabda:

Artinya: Besarnya pahalamu tergantung pada usahamu. (HR. Muslim)
Kaidah ke-33

Jika tidak mampu mengerjakan secara keseluruhan
maka tidak boleh meninggalkan semuanya
Contoh kaidah:
1. Seorang yang tidak mampu berbuat kebajikan dengan satu dinar tetapi mampu dengan dirham
maka lakukanlah.
2. Seserang yang tidak mampu untuk mengajar atau belajar berbagai bidang studi (fan) sekaligus,
maka tidak boleh meninggalkan keseluruhannya.
3. Seseorang yang merasa berat untuk melakukan shalat malam sebanyak sepuluh rakaat, maka
lakukanlah shalat malam empat rakaat.
Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas, adalah perkataan ulama ahli fiqh:

Sesuatu yang tidak dapat ditemukan keseluruhannya, maka tidak boleh tinggalkan sebagiannya.
Kaidah ke-34

Sesuatu yang mudah tidak boleh digugurkan dengan sesuatu yang sulit.
Contoh kaidah:
1. Seorang yang terpotong bagian tubuhnya, maka tetap wajib baginya membasuh anggota badan
yang tersisah ketika bersuci.
2. Seseorang yang mampu menutup sebagian auratnya, maka ia wajib menutup aurat berdasarkan
kemampuannya tersebut.
3. Orang yang mampu membaca sebagian ayat dari surat Al-Fatihah, maka ia wajib membaca
sebagian yang ia ketahui tersebut.
4. Orang yang memiliki harta satu nisab, namun setengah darinya berada ditempat jauh (ghaib)
maka harus dikeluarkan untuk zakat adalah harta yang berada ditangannya.
Nabi SAW. bersabda :
.
Artinya: Sesuatu yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. (HR. Bukhari
Muslim)
Kaidah ke-35

Sesuatu yang haram untuk dikerjakan maka haram pula mencarinya.
Contoh kaidah:
1. Mengambil riba atau upah perbuatan jahat.
2. Mengambil upah dari tukang ramal risywah (suapan). Begitu pula dengan upah orang-orang
yang meratapi kematian orang lain.
Kaidah ke-36

Sesuatu yang haram diambil,maka haram pula memberikannya.
Contoh kaidah :
1. Memberikan riba atau upah perbuatan jahat kepada orang lain.
2. Memberikan upah hasil meramal dan risywah kepada orang lain. Termasuk juga upah
meratapi kematian orang lain.
Kaidah ke-37

kebaikan yang memiliki dampak banyak lebih utama daripada yang manfaatnya sedikit
(terbatas).
Contoh kaidah:
1. Mengajarkan ilmu lebih utama daripada shalat sunah.
2. Orang yang menjalankan fardhu kifayah lebih istimewa karena telah menggugurkan dosa umat
daripada orang yang melakukan fardhu 'ain.
Kaidah ke-38

Rela akan sesuatu berarti rela dengan konsekuensinya.
Contoh kaidah:
1. Menerima suami istri dengan kekurangan yang dimiliki salah satu dari keduanya. Maka tidak
boleh mengembalikan kepada walinya.
2. Seseorang memita tangannya di potong dan berakibat kepada rusaknya anggota tubuh yang
lain, maka orang tersebut tidak boleh menuntut kepada pemotong tangan.
3. Memakai wangi-wangian sebelum melaksanankan ihram, teapi wanginya bertahan sampai
waktu ihram maka tidak dikenahi fidyah.
Kaidah yang memiliki makna sama dengan kaidah di atas yaitu :

Hal-hal yang timbul dari sesuatu yang telah mendapat ijin
tidak memiliki dampak apapun.
Kaidah ke-39

Hukum itu berputar beserta 'illatnya, baik dari sisi wujudnya maupun ketiadaannyaillatnya.
Contoh kaidah :
1. Alasan diharamkannya arak (khamr) adalah karena memabukkan. Jika kemudian terdeteksi
bahwa arak tidak lagi memabukkan seperti khamr yang telah berubah menjadi cuka maka halal.
2. Memasuki rumah orang lain atau memakai pakaiannya tanpa adanya ijin adalah haram
hukumnya. Namun ketika namun ketika diketahui bahwa pemiliknya merelakan, maka tidak ada
masalah didalamnya (boleh).
3. Alasan diharamkannya minum racun karena adanya unsur merusakkan. Andaikata unsure
yang merusakkan itu hilang, maka hukumnya menjadi boleh.

Nabi SAW. bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr hukumnya
haram.
Kaidah ke-40

Hukum ashal (pada dasarnya) segala sesuatu itu diperbolehkan.
Contoh kaidah :
1. Dua sahabat bernama Lukman dan Rahmat Taufiq jalan-jalan ke Jakarta. Setelah lama muter-
muter sambil menikmati indahnya ibu kota, perut kedua bocah ndeso tersebut protes sambil
berbunyi nyaring alias kelaparan. Akhirnya setelah melihat isi dompet masing-masing keduanya
memutuskan untuk mampir makan di restourant yang lumayan mewah tapi kemudian keduanya
ragu apakah daging pesenannya itu halal atau haram. Dengan mempertimbangkan makna kaidah
diatas, maka daging itu boleh dimakan.
2. Tiba-tiba ada seekor merpati yang masuk ke dalam sangkar burung milik Koci. ketika pemilik
sangkar (Koci) melihat merpati tersebut dia merasa tertarik dan ingin memilikinya, namun Koci
masih ragu apakah dia boleh memeliharanya atau tidak. Maka hukumnya burung merpati
tersebut boleh atau bebas untuk dimiliki.
3. Ketika ragu akan besar kecilnya kadar emas yang digunakan untuk menambal suatu benda
maka hukum benda tersebut boleh untuk digunakan.
4. Memakan daging Jerapah diperbolehkan, sebagaimana al-Syubki berkata sesungguhnya
memakan daging Jerapah hukumnya mubah.

Nabi SAW. bersabda : Sesuatu yang dihalalkan Allah adalah halal dan sesuatu yang diharamkan
Allah adalah haram. Sedangkan hal-hal yang tidak dijelaskan Allah merupakan pengampunan
dari-Nya.




reff : http://www.nanamaulana225.co.cc