Anda di halaman 1dari 32

LBM 5 SGD 12

STEP 1
Bebat mata :
Mix injection : konjg.inj dan siliaris inj.

STEP 7
1. Apa kandungan pembersih lantai? Dan pengaruhnya bila terkena mata?

Ilyas, H. Sidarta. Luka Bakar Kimia. Kegawatdaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata.
Cetakan Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Ilyas, H. Sidarta. Luka Bakar Kimia. Kegawatdaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata.
Cetakan Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
2. Mengapa pandangan kabur, merah, berair, nyeri setelah terpercik pembersih lantai?
Perjalanan penyakit trauma alkali :
5,6,7

Keadaan akut yang terjadi ada minggu pertama :
Sel membrane rusak.
Bergantung pada kuatnya alkali akan mengakibatkan hilangnya epitel, keratosit, saraf
kornea dan pembuluh darah.
Terjadi kerusakan komponen vascular iris, badan siliar dan epitel lensa, trauma berat
akan merusak sel goblet konjungtiva bulbi.
Tekanan intra ocular akan meninggi.
Hipotoni akan terjadi bila terjadi kerusakan pada badan siliar
Kornea keruh dalam beberapa menit.
Terjadi infiltrasi segera sel polimorfonuklear, monosit dan fibroblast
Keadaan minggu kedua dan ketiga :
Mulai terjadi regenerasi sel epitel konjugtiva dan kornea.
Masuknya neovaskularisasi ke dalam kornea diserta dengan sel radang.
Kekeruhan pada kornea akan mulai menjernih kembali,
Sel penyembuhan berbentuk invasi fibroblast memasuki kornea.
Terbentuknya kolagen.
Trauma alkali berat akan membentuk jaringan granulasi pada iris dan badan siliar
sehingga terjadi fibrosis.
Keadaan pada minggu ketiga dan selanjutnya :
Terjadi vaskularisasi aktif sehingga seluruh kornea tertutup oleh pembuluh darah.
Jaringan pembuluh darah akan membawa bahan nutrisi dan bahan penyembuhan
jaringan seperti protein dan fibroblast.
Akibat terdapatnya jaringan dengan vaskularisasi ini, tidak akan terjadi perforasi
kornea.
Mulai terjadi pembetukan panus pada kornea.
Endotel yang tetap sakit akan mengakibatkan edema kornea.
Terdapat membaran retrokornea, iristis, dan membrane siklitik.
Dapat terjadi kerusakan permanen saraf kornea dengan gejala-gejala seperti tekanan
bola mata mata dapat rendah atau tinggi.
Kelainan pada jaringan lain akibat trauma alkali :
5,6,7

Kelopak Mata :
Trauma alkali akan membentuk jaringan parut pada kelopak.
Margo palpebra rusak sehingga mengakibatkan gangguan ada break up time air mata.
Lapisan air pada depan kornea atau tear film menjadi tidak normal.
Terjadinya pembentukan jaringan parut pada kelenjar asesori air mata yang
mengakibatkan mata menjadi kering.
Konjungtiva :
Terjadi kerusakan pada sel goblet.
Sekresi musin konjungtiva bulbi berkurang daya basahnya pada setiap kedipan kelopak.
Dapat terjadi simblefaron pada konjungtiva bulbi yang akan menarik bola mata
sehingga pergerakan mata menjadi terbatas.
Akibat terjadinya simblefaron penyebaran air mata menjadi tidak merata.
Terjadi pelepasan kronik daripada epitel kornea.
Terjadi keratinisasi (pertandukan) epitel kornea akibat berkurangnya mucin.
Lensa :
Lensa keruh diakibatkan kerusakan kapsul lensa.
Ilyas, H. Sidarta. Luka Bakar Kimia. Kegawatdaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata.
Cetakan Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
3. Mengapa pada pemeriksaan opthalmologis didapatkan vod 3/60 mix inj positif, udem
kornea, erosi kornea?

4. Mengapa dokter jaga melakukan irigasi dg aquabidest, salep antibiotik, bebat mata?
Irigasi : sebenarnya prinsip mengencerkan bahan kimia tsb

Salep antibiotic melindungi kornea karena ada defect epitel

Bebat mata supaya gak kontak dg dunia luar dan mengistirahatkan mata

Bebat mata menutupi luka dg cara memfiksasi mata .

Irigasi konsepnya menetralkan asam (natrium bikarbonat) basa
Basa asam asetat (asam) lebih baik garam fisisologis
Setelah 7 hari dikasih EDTA untuk mencegah kolagenase sifatnya apa? (mengikat
basa) I tetes/ 5 menit slm 2 jam proliferasi slm 7hari.
EDTA (Asam Etilen DiaminTetraasetat). EDTA 0,05 dapat bereaksi dengan CaOH yang melekat
pada jaringanmembersihkan zat kimia tsb pada mata.pH normal dari cairan mata =
7,4 tetapi PH yang masih dapat ditolerir oleh mata=3,5 10,5. PH < 6 atau
pH> 8 rasa tidak enak pada mata

Kalau asam proliferasi 24 jam.

Prinsip : mengencerkan mengeluarkan bahan kimia.

5. Salep antibiotic apa yang cocok pada pasien tsb? Indikasi dan kontraindikasinya?

Salep antibiotic biar tahan lama di mata
Gentamycin gram negative
Broadspectrum contohnya staphylococcus dan streptococcus gram (+)
Corynebacterium

Contoh : ciprofloksasin , klotrimoksazol, amoxisilin (broad) , ceftriakson gram (+)

Indikasi dan kontraindikasi salep antibiotiknya:
- Untuk keratitis jamur gak boleh dikasih antibiotic
-
6. Macam2 trauma mata?
Macam-macam Trauma
1) Trauma mekanik
a) Trauma tumpul
I. Definisi
II. Kelainan
Kelopak
Palpebra hematom
i. Penyebab
Trauma akibat pukulan tinju, atau benda-benda keras lainnya
ii. Penatalaksanaan
Pada hematoma kelopak dini dapat diberikan kompres dingin
untuk menghentikan perdarahan dan menghilangkan rasa sakit
Bila telah lama, untuk memudahkan absorbsi dapat dilakukan
kompres hangat pada kelopak
Bila perdarahan terletak lebih dalam dan mengenai kedua
kelopak dan berbentuk kaca mata yang sedang dipakai, maka
keadaan ini disebut sebagai hematoma kaca mata dan merupakan
keadaan sangat gawat. Hematoma kaca mata terjadi akibat
pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis
kranii. Darah masuk ke dalam kedua rongga orbita sampai pada
batas septum orbita kelopak mata, akan memberikan bentuk
hematoma ini.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Konjungtiva
Edema konjungtiva
Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat
menjadi kemotik pada setiap kelainannya, demikian pula
akibat trauma tumpul. Bila kelopak terpajan ke duania luar dan
konjungtiva secara langsung kena angin tanpa mengedip,
maka keadaan ini telah dapat mengakibatkan edema pada
konjungtiva.
Penatalaksanaannya : dapat diberikan dekongestan untuk
mencegah pembendungan cairan di dalam selaput lendir
konjungtiva.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)
Hematom subkonjungtiva
Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya
pembuluh darah yang terdapat pada atau di bawah
konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera.
Pecahnya pembuluh darah ini dapat akibat batuk rejan,trauma
tumpul basis kranii, atau pada keadaan pembuluh darah yang
rentan dan mudah pecah. Pembuluh darah akan rentan dan
mudah pecah pada usia lanjut, hipertensi, areriosklerosis,
konjungtiva meradang (konjungtivitis), anemia, dan obat-
oabatan tertentu.
Pengobatan dini yang dapat dilakukan kompres hangat.
Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorbsi dalam
1-2 minggu tanpa diobati
Bila perdarahan ini terjadi akibat trauma tumpul maka
perlu dipastikan bahwa tidak terdapat robekan di bawah
jaringn konjungtiva atau sklera. Kadang-kadang hematoma
subkonjungtiva menutupi keadaan mata yang lebih
burukseperti perforasi bola mata. Bila tekanan bola mata
rendah disertai tajam penglihatan menurun dengan hematoma
subkonjungtiva maka sebaiknya dilakukan eksplorasi bola mata
untuk mencari adanya ruptur sklera atauterlihatnya jaringan
kororid yang menonjol
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas.
SpM)

Kornea
Edema kornea
Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata
dapat mengakibatkan edema kornea ataupun malahan ruptur
daripada membran Descement. Edema kornea yang berat
dapat mengakibatkan serbukan sel radang dan
neurovaskularisaso masuk ke dalam jaringan stroma kornea.
Edema korne akan memberikan keluhan penglihatan kabur
dan terlihatnya pelangi sekitar bola lampu atau sumber cahaya
yang dilihat.kornea akan terlihat keruh, dengan uji plasido
yang positif.
Pengobatan yang diberikan adalah larutan
hipertonikseperti Nacl 5 %. Bila terdapat peninggian
tekananbola mata makadiberikan asetazolamida.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas.
SpM)

Erosi kornea
Erosi kornea merupakan keadaan terkelupasnya epitel
kornea yang dapat diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel
kornea. Hal yang dapat mengakibtkan erosi kornea adalah
lensa kontak, sinar ultra violet, debu, dan asap.
Akibatnya kornea yang mempunyai banyak serabut saraf
sensibel terkena, maka pasien akan merasa sakit sekali, dengan
blefarospasme, lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan akan
terganggu oleh media kornea yang keruh.
Pada kornea akan terlihat suatu defek epitel kornea yang
bila di beri pewarnaan fluoresein akan berwarna hijau. Hati-
hati bila memakai obat topikal untuk menghilangkan rasa sakit
pada pemeriksaan karena dapat menambah kerusakan epitel.
Pada erosi kornea yang perlu diperhatikan adalah adanya
infeksi yang timbul kemudian akibat barier epitel hilang.
Pengobatan biasanya diberikan sikloplegik untuk
menghilangkan rasa sakit ataupun untuk mengurangkan
gejala radang uvea yang mungkin timbul. Antibiotik
diberikan dalam bentuk tetes dan mata ditutup untuk
mempercepat tumbuh epitel baru dan mencegah infeksi
sekunder. Biasanya bila tidak terjadi infeksi sekunder erosi
kornea yang mengenai seluruh permukaan kornea yang
mengenai seluruh permukaan kornea akan sembuh dalam 3
hari. Pada erosi kornea tidak diberi antibiotik.
Gangguan erosi kornea terhadap penglihatan atau
pekerjaan, sangat tergantung pada satu atau kedua mata
terkena erosi. Walaupun pekerja berat, erosi kornea
menganggu pekerjaan akibat rasa sakit meksimum terganggu
selam 3 hari.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas.
SpM)


Erosi kornea rekuren
Uvea
Iridoplegia
Pada trauma tumpul dapat terjadi kelumpuhan otot
sfingter pupil sehingga pupil menjadi lebar atau midriasis.
Pupil ini tidak bereaksi terhadap sinar.
Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan
akomodasi, silau akibat gangguan pengaturan masuknya sinar
pada pupil, akan terlihat anisokoria pada pupil.
Iridoplegia ini akan berlangsung beberap hari sampai
beberapa minggu. Kadang-kadang tidak menjadi normal lagi.
Pada pasien dengan iridoplegia sebaiknya diberi istirahat
untuk mencegah terjadinya kelelehan sfingter disertai dengan
pemberian.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Iridodialisis
Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada
pangkal iris sehingga bentuk pupil menjadi berubah menjadi
lonjong. Biasanya iridodialisis terjadi bersama-sama dengan
terbentuknya hifema. Pasien akan melihat ganda dengan satu
matanya. Bila keluhan demikian maka pada pasien sebainya
dilakukan pembedahan dengan melakukan resposisi iris yang
terlepas.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Hifema
Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi
akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau
badan siliar. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul
di bagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi
seluruh ruang bilik mata depan
Penglihatan pasien akan sangat menurun. Kadang-kadang
terlihat iridoplegia dan iridodialisis. Pasien akan mengeluh
sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme.
Pasien dengan hifema harus tinggal dan dirawat di
rumah sakit. Pasien tidur dengan kepala miring 60 derajat,
diberi koagulansia, dan mata ditutup. Pada anak-anak yang
gelisah dapat diberikan obat penenang. Bila terjadi penyulit
glaukoma diberi asetazolamida.
Biasanya hifema akan hilang sempurna. Kadang-
kadang sesudah hifema hilang atau 7 hari setelah trauma dapat
terjadi perdarahan atau hifema baru yang disebut hifema
sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena
perdarahan lebih sukar hilang.
Parasentesis atau mengelaurkan darah dari bilik mata
depan dilakukan pada pasien dengan hifema bila terlihat
tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema
penuh dan berwarna hitam atau bila setelah 5 hari tidak
terlihat tanda-tanda gifema akan berkurang.
Glaukoma sekunder dapat terjadi akibat kontusi badan
siliar berakibat suatu reses sudut bilik mata sehingga terjadi
gangguan pengaliran cairan mata.
Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan
siderosis bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan
ftisis bulbi dan kebutaan.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Iridosiklitis
Pada trauma tumpul dapat terjadi reaksi jaringan uvea
sehingga menimbulkan iridosiklitis atau radang uvea anterior.
Pada mata akan terlihat mata merah, suar di dalam bilik mata
depan, dan pupil mengecil. Tajam penglihatan menurun. Pada
uveitis anterior diberikan tetes midriatik dan steroid topikal.
Bila terlihat radang berat maka dapat diberikan steroid
sistemik.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Lensa
Dislokasi lensa
Trauma tumpul lensa dapat mengakibatkan dislokasi lensa
akibat putusnya zonula zinn. Gangguan kedudukan lensa ini
dapat dalam bentuk ;
a) Subluksasi lensa dan luksasi lensa
Terjadi akibat zonula zinn putus sebagian sehingga lensa
berpindah tempat.
Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan
berkurang. Subluksasi lensa akan memberikan gambaran pada
iris berupa iridodonesis. Akibat pegangan lensa pada zonula
tidak ada maka lensa yang elastis akan menjadi cembung, dan
mata akan menjadi lebih miopia. Lensa yang menjadi sangat
cembung mendorong iris ke depan sehingga sudut bilik mata
tertutup. Bila sudut bilik mata menjadi sempit pada mata ini
mudah terjadi glaukoma sekunder.
Subluksasi lensa dapat juga terjadi spontan akibat pasien
menderita kelainan pada zonula zinn yang rapuh (sindrom
Marphan).
b) Luksasi lensa anterior
Bila seluruh zonula zinn di sekitar ekuator putus akibat
trauma maka lensa dapat masuk ke dalam bilik mata depan.
Akibat lensa terletak di dalam bilik mata depan ini maka akan
terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata sehingga
akan timbul glaukoma kongestif akut dengan gejala-gejalnya.
Pasien akan mengeluh penglihatan menurut mendadak,
disertai rasa sakit yang sangat, muntah, mata merah dengan
blefarospasme. Terdapat injeksi siliar yang berat, edema
kornea, lensa di dalam bilik mata depan. Iris terdorong ke
belakang dengan pupil yang lebar. Tekanan bola mata sangat
tinggi. Pasien secepatnya dikirim pada dokter mata untuk
dikeluarkan lensanya dengan terlihat dahulu diberikan
asetazolamida untuk menurunkan tekanan bola mata.
c) Luksasi lensa posterior
Pada keadaan putusnya zonulla zinn di seluruh lingkaran
ekuator lensa sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan
tenggelam di datarn bawah polus posterior fundus okuli. Mata
ini akan menunjukkan gejala mata tanpa lensa atau afakia.
Pasien akan melihat normal dengan lensa + 12.0 dioptri untuk
jauh, bilik mata depan dalam dan iris tremulans. Pasien akan
mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangannya akibat
lensa mengganggu kampus pasien.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas.
SpM)

Subluksasi lensa
Etiologi
Subluksasi lensa terjadi akibat putusnya sebagian zonula
Zinn sehingga lensa berpindah tempat. Subluksasi lensa
dapat juga terjadi spontan akibat pasien menderita
kelainan pada zonula Zinn yang rapuh (Sin( Marphan).
Tanda dan gejala
Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan
berkurang.
Subluksasi lensa akan memberikan gambaran pada iris
berupa iridodonesis.
Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada maka
lensa elastis akan meniadi cembung, dan mata akan
menjadi lebih miopik. Lensa yang menjadi sangat
cembung mendorong iris ke depan sehingga sudut bilik
mata tertutup. Bila sudut bilik mata menjadi sempit
pada mata mudah terjadi glaukoma sekunder.
komplikasi
Subluksasi dapat mengakibatkan glaukoma sekunder
dimana terjadi penutupan sudut bilik mata oleh lensa
yang mencembung.
Pengobatan
Bila tidak terjadi penyulit subluksasi lensa seperti
glaucoma atau uveitis maka tidak dilakukan
pengeluaran lensa dan diberi kacamatar koreksi yang
sesuai.


Katarak traumatic
Trauma tumpul dapat mengakibatkan katarak pungtata,
selain daripada dapat mengakibatkan katarak, yang biasanya
berjalan lambat, dan proses degenerasinya dapat berjalan
lanjut. Proses degenerasi lanjut ini dapat mengakibatkan
pencairan korteks lensa dan bocor melalui kapsul lensa. Bahan
lensa di luar kapsul sebagai benda asing menimbulkan reaksi di
dalam bilik mata depan sehingga menimbulkan reaksi uveitis
yang disebut sebagai uveitis fakotoksik dan glaukoma
fakolitik.
Bila katark telah menimbulkan reaksi fakolitik maka pasien
akan mengeluh mata sakit disertai dengan gejala uveitis
lainnya sehingga lensa perlu dikeluarkan dengan segera.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Retina dan koroid
Edema retina dan koroid
Trauma tumpul pada retina dapat mengakibatkan edema
retina. Edema retina akan memberiakn warna retina yang
lebih abu-abu akibat sukarnya melihat jaringan uvea melalui
retina yang sembab. Berbeda dengan oklusi arteri retina
sentral dimana terdapat edema retinakecuali daerah makula,
sehingga pada keadaan iniakan terlihat cherry red spot yang
berwarna merah. Edema retina akibat trauma tumpuljuga
mengakibatkanedema makula sehingga tidak terdapat cherry
red spot.
Pada trauma tumpul yang paling ditakutkan adalah
terjadi edema makula atau edema berlin. Pada keadaan ini akan
terjadi edema yang luas sehingga seluruh polus posterior
fundus okuli berwarna abu-abu.
Umumnya penglihatan akan normal kembali setelah
beberapa waktu, akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang
akibat tertimbunnya daerah makula oleh sel pigmenepitel.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Ablasi retina
Trauma diduga merupakan pencetus untuk terlepasnya
retina dari koroid pada penderita ablasi retina. Biasanya pasien
telah mempunyai bakat untuk terjadinya ablasi retina ini
seperti retina tipis akibat retinitis sanata, miopia, dan proses
degenerasi retina lainnya. Bila terjadinya ablasi retina setelah
suatu trauma tidak diketahui dengan jelas karena waktu
terjadinya tidak selalu sama.
Pada pasien ekan terdapat keluhan seperti adanya
selaput yang seperti tabir menganggu lapang pandangannya.
Bila terkena atau tertutup daerah makula maka tajam
penglihatan akan menurun. Pada pemeriksaan funduskopi
akan terlihat retina yang berwarna abu-abu dengan pembuluh
darah yang terlihat terangkat dan berkelok-kelok. Kadang-
kadang terlihat pembuluh darah seperti yang terputus-putus.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Rupture koroid
Pada trauma keras dapat terjadi perdarahan subretina yang
dapat merupakan akibat daripada ruptur koroid. Ruptur ini
biasanya terletak di polus posterior bola mata dan melingkar
konsentris di sekitar papil saraf optik. Bila ruptur koroid ini
terletak atau mengenai daerah makula lutea maka tajam
penglihatan akan turun dengan sangat.
Ruptur ini bila tertutup oleh perdarahan subretina agak
sukar dilihat akan tetapi bila darah tersebut telah diabsorbsi
maka akan terlihat bagian yang ruptur berwarna putih karena
sklera dapat dilihat langsung tanpa tertutup koroid.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)


Saraf optic
Avulse papilsaraf optic
Pada trauma tumpul dapat terjadi saraf optik terlepas dari
pangkalnya di dalam bola mata yang disebut sebagai avulsi
papil saraf optik. Keadaan ini akan mengakibatkan turunnya
tajam penglihatan yang berta dan sering berakhir dengan
kebutaan. Penderita perlu dirujuk untuk dinilai kelainan
fungsi retina dan saraf optiknya.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Optic neuropati traumatik
b) Trauma tajam
Penetran :menembus bolamata
Tanda
i. Trauma dapat mengakibatkan robekan pada konjungtiva saja. Bila robekan
konjungtiva ini atau tidak melebihi 1 cm, maka tidak perlu dilakukan penjahitan.
Bila robekan konjungtiva lebih 1 cm diperlukan tindakan penjahitan untuk
mencegah terjadinya granuloma. Pada setiap robekan konjungtiva perlu
diperhatikan terdapatnya robekan sclera bersama-sama dengan robekan
konjungtiva tersebut.
ii. Bila trauma disebabkan benda tajam atau benda asing masuk ke dalam bola
mata maka akan terlihat tanda-tanda bola mata tembus, seperti:
1. Tajam penglihatan yang menurun
2. Tekanan bola mata rendah
3. Bilik mata dangkal
4. Bentuk dan letak pupil yang berubah
5. Terlihatnya ada ruptur pada kornea atau sklera
6. Terdapat jaringan yang di proplaps seperti cairan mata, iris, lensa,
badan kaca, atau retina
7. Konjungtiva kemotis
Pengobatan
iii. Bila terlihat salah satu tanda di atas atau dicurigai adanya perforasi bola mata
maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotika topikal dan mata ditutup dan
segera dikirim pada dokter mata untulk dilakukan pembedahan.
iv. Pada setiap terlihat kemungkinan trauma perforasi sebaiknya dipastikan apakah
ada benda asing yang masuk ke dalam mata dengan membuat foto.
v. Pada pasien dengan luka tembus bola mata selamanya diberikan antibiotika
sistemik atau intravena dan pasien dipuasakan untuk tindakan pembedahan.
vi. Pasien juga diberi anti tetanus profilaktik, analgetika, dan kalau perlu penenang.
Sebelum dirujuk mata tidak diberi salep, karena salep dapat masuk ke dalam
mata. Pasien tidak boleh diberi steroid local dan beban yang diberikan pada
mata tidak menekan bola mata.
Etiologi
vii. Trauma tembus dapat terjadi akibat masuknya benda asing ke dalam bola mata.
Benda asing di dalam bola mata pada dasarnya perlu dikeluarkan. Benda asing
yang bersifat magnetik dapat dikeluarkan dengan alat magnit raksasa. Benda
yang tidak magnetik dikeluarkan vitrektomi.
Penyulit
viii. Penyulit yang dapat timbul pada terdapatnya benda asing intraokular adalah
endoftalmitis, panoftalmitis, ablasi retina, perdarahan intraokular dan ftisis
bulbi.


Non penetran : menggesekk bola mata
c) Trauma benda asing
Logam dan Non logam
Benda asing magnetik intraokular
ix. Diagnosis
1. Anamnesis
a. Pada keadaan diduga adanya benda asing magnetik intraokular
perlu diambil riwayat terjadinya trauma dengan baik.
2. Tanda dan gejala
a. Benda asing intraokular yang magnetik ataupun tidak akan
memberikan gangguan pada tajam penglihatan. Akan terlihat
kerusakan kornea, lensa iris ataupun sklera penglihatan. Akan
terlihat kerusakan kornea, lensa iris ataupun sklera yang
merupakan tempat jalan masuknya benda asing ke dalam bola
mata.
3. PP
a. Bila pada pemeriksaan pertama lensa masih jernih maka untuk
melihat kedudukan benda asing di dalam bola mata dilakukan
melebarkan pupil dengan midriatika.
b. Pemeriksaan funduskopi sebaiknya segera di lakukan karena
bila lensa terkena maka akan lensa menjadi keruh secara
perlahan-lahan sehingga akan memberikan kesukaran untuk
melihat jaringan belakang lensa.
c. Pemeriksaan radiologik akan memperlihatkan bentuk dan besar
benda asing yang terletak intraokular. Bila pada pemeriksaan
radiologik dipakai cincin Flieringa atau lensa kontak Comberg
akan terlihat benda bergerak bersama dengan pergerakan bola
mata.
d. Untuk menentukan letak benda asing ini dapat dilakukan
pameriksaan tambahan lain yaitu dengan metal locator.
e. Pemeriksaan ultrasonografi digunakan untuk pemeriksaan yang
lebih menentukan letak clan gangguan terhadap jaringan sekitar
lainnya.
x. Pengobatan
1. Pengobatan pada benda asing intraokular ialah dengan
mengeluarkannya dan dilakukan dengan perencanaan pembedahan
agar tidak memberikan kerusakan yang lebih berat terhadap bola mata.
2. Mengeluarkan benda asing melalui jalan melewati skiera merupakan
cara untuk tidak merusak jarinan lain.


2) Trauma non mekanik
a) Trauma Kimiawi
Reaksi kimia pada mata

b. Etiologi
i. Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di dalam
laboratorium, industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia, pekerjaan
pertanian, dan peperangan yang memakai bahan kimia di abad modern.
c. Bahan kimia
i. Dibedakan
1. Bahan kimia yang dapat mengakibaIkan kelainan pada mata dapat
dibedakan dalam bentuk:
a. Trauma Asam
b. Trauma Basa atau Alkali.
ii. Pengaruh bahan kimia sangat bergantung pada:
1. pH,
2. Kecepatan,
3. Jumlah bahan kimia tersebut mengenai mata.
4. Dibanding bahan asam, maka trauma oleh bahan alkali cepat dapat
merusak dan menembus kornea.
d. Pengobatan
i. Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan segera.
ii. lrigasi daerah yang terkena trauma kimia merupa tindakan yang segera harus
dilakukan karena dapat memberikan penyulit yang lebih berat.
iii. Pembilasan dilakukan dengan memakai garam fisiologi atau air bersih lainnya
selama mungkin dan paling sedikit 15-30 menit.
iv. Luka bahan kimia harus dibilas secepatnya dengan air yang tersedia pada saat
itu seperti dengan air keran, larutan garam fisiologik, dan asam berat.
v. Anestesi topikal diberikan pada keadaan dimana terdapat blefarospasme berat.
vi. Untuk bahan asam digunakan larutan natrium bikarbonat 3% sedang untuk basa
larutan asam borat, asam asetat 0.5% atau bufer as asetat pH 4.5% untuk
menetralisir. Diperhatikan kemungkinan terdapat benda asing penyebab luka
tersebut.
vii. Untuk bahan basa diberikan EDTA. Pengobatan yang diberi adalah antibiotika
topikal, sikioplegik dan bebat mata selama mata masih sakit.
viii. Regenerasi epitel akibat asam lemah dan alkali sangat lambat yang biasanya
sempurna setelah 3-7 hari.
e. klasifikasi
i. Trauma Asam
1. Etiologi
a. Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorga
organik (asetat, forniat),d an organik anhidrat (asetat).
2. Patofisiologi
a. Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi
pengendapan ataupun penggumpalan protein permukaan
sehingga bila konsentrasi tidak tinggi maka tidak akan bersifat
destruktif seperti trauma alkali. Biasanya akan terjadi kerusakan
hanya pada bagian superfisial saja. Bahan asam dengan
konsentrasi tinggi dapat bereaksi seperti terhadap trauma basa
sehingga kerusakan yang diakibatkannya akan lebih dalam.
3. Pengobatan
a. Pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang terkena
secepatnya dan selama mungkin untuk menghilangkan dan
melarutkan bahan yang mengakibatkan trauma.
b. Biasanya trauma akibat asam akan normal kembali, sehingga
tajam penglihatan tidak banyak terganggu.
ii. Trauma Basa atau Alkali
1. Patofisiologi
a. Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan akibat yang
sangat gawat pada mata. Alkali akan menembus dengan cepat
kornea, bilik mata depan, dan sampai pada jaringan retina. Pada
trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen
kornea. Bahan kimia alkali bersifat koagulasi sel dan terjadi
proses persabunan, disertai dengan dehidrasi. Bahan akustik
soda dapat menembus ke dalam bilik mata depan dalam waktu
7 detik.
b. Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang akan
menambah bertambah kerusakan kolagen kornea. Alkali yang
menembus ke dalam bola mata akan merusak retina sehingga
akan berakhir dengan kebutaan penderita.
2. Menurut klasifikasi Thoft maka trauma basa dapat dibedakan dalam :
a. Derajat 1 hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis
pungtata
b. Derajat 2 hiperemi konjungtiva disertai dengan hilang epitel
kornea
c. Derajat 3 :hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan
lepasnya epitel kornea
d. Derajat 4: konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%.
3. Pengobatan
a. Tindakan bila terjadi trauma basa adalah dengan secepatnya
melakukan irigasi dengan garam fisiologik. Sebaiknya irigasi
dilakukan selama mungkin. Bila mungkin irigasi dilakukan paling
sedikit 60 menit segera setelah trauma.
b. Penderita diberi sikloplegia, antibiotika, EDTA untuk mengikat
basa. EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma alkali diperlukan
untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ke
tujuh.
4. Penyulit
a. Penyulit yang dapat timbul trauma alkali adalah
i. Ssimblefaron,
ii. Kekeruhan kornea,
iii. Edema dan neovaskularisasi kornea,
iv. Katarak, disertai dengan terjadi ftisis bola mata.

2. Trauma Radiasi Elektromagnetik
a. Trauma radiasi yang sering ditemukan adalah
i. Sinar inframerah
ii. Sinar ultraviolet
iii. Sinar X dan sinar terionisasi
b. Trauma Sinar Infra Merah
i. Patofisiologi
1. Akibat sinar infra merah dapat terjadi pada saat menatap gerhana
matahari dan pada saat bekerja dipemanggangan. Kerusakan ini da
terjadi akibat terkonsentrasinya sinar inframerah terlihat. Kaca yang
mencair seperti yang ditemukan di tempat pemanggangan kaca akan
menggeluarkan sinar infra merah. Bila seseorang berada pada jarak kaki
sela satu menit di depan kaca yang mencair dan pupilnya lebar atau
midria maka suhu lensa akan naik sebanyak 9 derajat Celcius. Demikian
pula yang mengabsorpsi sinar infra merah akan panas sehingga
berakibat tidak baik terhadap kapsul lensa di dekatnya. Absorpsi sinar
infra merah oleh lensa akan mengakibatkan katarak dan eksfoliasi
kapsul lensa.
ii. Factor resiko terkena
1. Akibat sinar ini pada lensa maka katarak mudah terjadi pada pekerja
industri gelas dan pemanggangan logam.
iii. DD
1. Sinar infra merah akan mengakibatkan keratitis superfisial, katarak
kortikal anterior-posterior dan koagulasi pada koroid.
2. Bergantung pada beratnya lesi akan terdapat skotoma sement ataupun
permanen.
iv. Pengobatan
1. Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang sudah terjadi kecuali
mencegah terkenanya mata oleh sinar infra merah ini.
2. Steroid sistemik dan lokal diberikan uniuk mencegah terbentuk jaringan
parut pada makula atau untuk mengurangi gejala radang yang timbul.
c. Trauma Sinar Ultra Violet (Sinar Las)
i. Definisi
1. Sinar ultra violet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat
mempunyai panjang gelombang antara 350-295 nM.
ii. Patofisiologi
1. Sinar ultra violet banyak terdapat padd saat bekerja las, dan menatap
sinar matahari atau pantulan sinar matahari di atas salju. Sinar
ultraviolet akan segera merusak epitel kornea. Sinar ultra violet
biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea sehingga
kerusakan pada lensa dan retina tidak akan nyata terlihat. Kerusakan ini
akan segera baik kembali setelah beberapa waktu, dan tidak akan
memberikan gangguan tajam penglihatan yang menetap.
iii. Tanda dan gejala
1. Pasien yang telah terkena sinar ultra violet akan memberikan keluhan 4-
10 jam setelah trauma. Pasien akan merasa mata sangat sakit mata
seperti kelilipan atau kemasukan pasir, fotofobia, blefarospasme, dan
konjungtiva kemotik.
2. Kornea akan menunjukkan adanya infiltrat pada permukaannya, yang
kadang-kadang disertai dengan kornea yang keruh dan uji fluoresein
positif. Keratitis terutama terdapat pada fisura paipebra.
3. Pupil akan terlihat miosis. Tajam penglihatan akan terganggu.
4. Keratitis ini dapat sembuh tanpa cacat, akan tetapi bila radiasi berjalan
lama kerusakan dapat permanen sehingga akan memberikan kekeruhan
pada komea. Keratitis dapat bersifat akibat efek kumulatif sinar ultra
violet sehingga gambaran keratitisnya menjadi berat.
iv. Pengobatan
1. Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia, antibiotika lokal,
analgetik, dan mata ditutup untuk selama 2-3 hari. Biasanya sembuh
setelah 48 jam.
d. Sinar lonisasi dan Sinar X
i. Sinar ionisasi dibedakan dalam bentuk:
1. Sinar alfa yang dapat diabaikan
2. Sinar beta yang dapat menembus 1 cm jaringan
3. Sinar gama dan
4. Sinar X
ii. Patofisiologi
1. Sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan katarak dan rusaknya
retina. Dosis kataraktogenik bervariasi dengan energi dan tipe sinar,
lensa yang lebih muda dan lebih peka.
2. Akibat dari sinar ini pada lensa, terjadi pemecahan diri sel epitel secara
tidak normal. Sedang sel baru yang berasal dari set germinatif lensa
tidak menjadi jarang.
3. Sinar X merusak retina dengan gambaran seperti kerusakan yang
diakibatkan diabetes melitus berupa dilatasi kapiler, perdarahan,
mikroaneuris mata, dan eksudat.
4. Luka bakar akibat sinar X dapat merusak kornea yang mengakibatkan
kerusakan permanen yang sukar diobati. Biasanya akan terlihat sebagai
keratitis dengan iridosiklitis ringan. Pada keadaan yang berat akan
mengakibatkan parut konjungtiva atrofi set goblet yang akan
mengganggu fungsi air mata.
iii. Pengobatan
1. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topikal dengan steroid 3
kali sehari dan sikioplegik satu kali sehari.
2. Bila terjadi simblefaron pada konjungtiva dilakukan tindakan
pembedahan.



Komplikasi Trauma
e. Glaukoma Sekunder Pasca Truma
i. Trauma dapat mengakibatkan kelainan jaringan dan susunan di dalam mata
yang dapat mengganggu pengaliran cairan mata sehingga menimbulkan
glaukoma sekunder. Jenis kelainan yang menimbulkan glaukoma adalah kontusi
sudut.
ii. Glaukoma Kontusi Sudut
1. Etiologi
a. Trauma dapat mengakibatkan tergesernya pangkal iris ke
belakang sehingga terjadi robekan trubekulum dan gangguan
fungsi trubeklum ini akan mengakibatkan hambatan pengaliran
keluar cairan mata.
2. Pengobatan
a. Pengobatan biasanya dilakukan seperti mengobati glaukoma
terbuka yaitu dengan obat lokal atau sistemik. Bila tidak
terkontrol pengobatan maka dilakukan pembedahan.
iii. Glaukoma Dengan Dislokasi Lonsa
1. Patofisiologi
a. Akibat trauma tumpul dapat terjadi putusnya zonula Zinn, yang
mengakibatkan kedudukan lensa tidak normal. Kedudukan lensa
normal ini akan mendorong iris ke depan sehingga terjadi
penutupan bilik mata. Penutupan sudut bilik mata akan
menghambat pengaliran keluar cairan mata sehingga akan
menimbulkan glaukoma sekunder.
2. Pengobatan
a. Pengobatan yang dilakukan adalah mengangkat penyebab lensa
sehingga sudut terbuka kembali.

7. Klasifikasi trauma kimia? Dan pengaruhnya?
Kimiawi bahan asam HCl dan basa (ammonium hidroksida)
Asam hydrogen dan anion hydrogen merusak ph kalau anion denaturasi protein
dan koagulasi kekeruhan koagulasi mencegah asam yang lain untuk masuk

Basa hydrofilik dan lipofilik dugunakan untuk pembersih karena mengikat air
dan minyak saponifikasi jika membrane sel rusak basa mudah masuk ke dalam
sel.

8. DD? Pemeriksaan? Tatalaksana?
Trauma pada mata
- Fisik trauma tumpul (kena pukul kena kock), trauma tajam ( tususkan,
percikan kaca), trauma peluru

Trauma tumpul :
Edem konjungtiva, edem kornea, hematoma kelopak,
Bias disebabkan benda benda tumpul hifema ( perdarahan di COA)
diakibatkan 2 penyebab primer( spontan) dan sekunder (muncul lagi)
Grade I : kurang dr 1/3 COA
Grade II : 1/3 COA
Grade III ; - 2/3 COA
Grade IV : mengenai semua COA

Tatalaksana trauma tumpul : ada gumpalan darah posisi kepala harus lebih
tinggi 60 deraja (tirah baring) ,aktifitas mata dibatasi, steroid
Pengguanaan asam amino kalproad mengurang perdarahan berulang
Kalau terjadi peningkatan TIO dikasih timolol dan asetazolamid Kalau gak
bias operatif.

Kock, ketonjok,

Diberikan kompres dingin kompres hangat

Trauma tajam : jelas matanya rusak

- Kimiawi bahan asam HCl dan basa (ammonium hidroksida)

- Termal (sinar UV, percikan las ) dan radioaktif ( infrared)

Pemeriksaan : fluoresen, keratoskop plasido, visus, slitlamp,

9. Komplikasi trauma kimia pada mata?
Komplikasi : ada 3
Simblefaron: perlekatan konj. Bulbi dg konj.palpebra

Ankyloblefaron: perlekatan tepi pal.atas dan tepi palp.bawah

Iridosiklitis : radang iris dan korpus siliar akibat merembesnya bahan kimia tsb

Kebutaan ; karena bs sampe ke retina bila sampe retina

Ptisis bulbi ; mengempisnya bola mata

Katarak : karena kekeruhan lensa

10. Prognosis trauma kimia?
Tergantung seberapa berat mata korneanya mengalami kerusakan
- Ringan : prosgnosis baik erosi epitel dan keruh biasa korneanya tak terjadi
iskemik dan nekrosis
- Sedang : prognosis baik kekeruhan kornea shg susah melihat iris dan pupil
- Berat : kebutaan buruk, konj dan sclera pucat ada iskemik

11. Pertolongan pertama pada pasien yang terkena trauma kimia? Dan trauma mata!
Irigasi selama mungkin 15-30 menit
Pake garam fisiologi, aquabidest, dll

12. Teknik irigasi dan tujuan ?
posisi terbaik untuk irigasi:
Mata melihat ke arah kontralateral dan diberikan ke arah berseberangan dengan yang
pasien lihat sehingga tidak berkedip atau menghindar .
Irigasi
Berikan secepat mungkin, sebanyak mungkin
kepala miring ke arah temporal supaya tidak pindah ke mata sebelahnya. Posisi tiduran
lebih mudah untuk irigasi
Kertas lakmus bisa untuk menentukan apakah pH sudah normal atau belum
Kelopak mata di-eversi untuk memaparkan konjungtiva tarsal lengket dan bisa
symblepharon



13. Teknik bebat mata ? dan tujuan apa? Indikasi kasus apa?
14. Pertolongan pertama untuk semua jenis trauma mata apa?
15. Klasifikasi dicari yang lengkapDicari etiologi, mekanisme trauma kimia kasus apa?
Bahan bahan apa? Manfis apa?
Etiologi
Basa/Alkali
NH3 (pupuk, cairan pembersih)
KOH (pasta gigi)
NaOH (pembersih saluran)
MgOH(petasan)
CaOH (kapur, semen)
Asam
Sulfuric acid (accu),
Sulfurous acid (paling sering: bahan pemutih, pendingin)
Hydrofluoric acid (paling fatal : bahan pemoles/pembersih kaca)
Acetic acid (cuka)
Agen Iritan
Detergen
Pepper spray

Derajat Trauma Kimia Basa
Menurut Thoft :
Derajat 1 : hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata
Derajat 2 : hiperemi konjungtiva disertai dengan hilangnya epitel kornea
Derajat 3 : hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea
Derajat 4 :konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%

Klasifikasi Huges
1. Ringan :
Prognosis baik
Terdapat erosi epitel kornea
Pada kornea terdapat kekeruhan yang ringan
Tidak ada iskemia dan nekrosis kornea ataupun konjungtiva
2. Sedang :
Prognosis baik
Kekeruhan kornea sehingga sulit melihat iris & pupil secara jelas
Terdapat iskemia & nekrosis ringan kornea dan konjungtiva
3. Sangat berat :
Prognosis buruk
Kekeruhan kornea pupil tidak dapat dilihat
Konjungtiva dan sclera pucat


Manifestasi Trauma Okuli
Gejala klinis yang dapat terjadi pada trauma mata antara lain
6,7,8
:
1. Perdarahan atau keluar cairan dari mata atau sekitarnya
Pada trauma mata perdarahan dapat terjadi akibat luka atau robeknya kelopak mata atau
perdarahan yang berasal dari bola mata. Pada trauma tembus caian humor akueus dapat keluar
dari mata.
2. Memar pada sekitar mata
Memar pada sekitar mata dapat terjadi akibat hematoma pada palpebra. Hematoma pada
palpebra juga dapat terjadi pada pasien yang mengalami fraktur basis kranii.
3. Penurunan visus dalam waktu yang mendadak
Penurunan visus pada trauma mata dapat disebabkan oleh dua hal, yang pertama terhalangnya
jalur refraksi akibat komplikasi trauma baik di segmen anterior maupun segmen posterior bola
mata, yang kedua akibat terlepasnya lensa atau retina dan avulsi nervus optikus.
4. Penglihatan ganda
Penglihatan ganda atau diplopia pada trauma mata dapat terjadi karena robeknya pangkal iris.
Karena iris robek maka bentuk pupil menjadi tidak bulat. Hal ini dapat menyebabkan
penglihatan ganda pada pasien.
5. Mata bewarna merah
Pada trauma mata yang disertai dengan erosi kornea dapat ditemukan pericorneal injection
(PCI) sehingga mata terlihat merah pada daerah sentral. Hal ini dapat pula ditemui pada trauma
mata dengan perdarahan subkonjungtiva.
6. Nyeri dan rasa menyengat pada mata
Pada trauma mata dapat terjadi nyeri yang disebabkan edema pada palpebra. Peningkatan
tekanan bola mata juga dapat menyebabkan nyeri pada mata.
7. Sakit kepala
Pada trauma mata sering disertai dengan trauma kepala. Sehingga menimbulkan nyeri kepala.
Pandangan yang kabur dan ganda pun dapat menyebabkan sakit kepala.
8. Mata terasa Gatal, terasa ada yang mengganjal pada mata
Pada trauma mata dengan benda asing baik pada konjungtiva ataupun segmen anterior mata
dapat menyebabkan mata terasa gatal dan mengganjal. Jika terdapat benda asing hal ini dapat
menyebabkan peningkatan produksi air mata sebagai salah satu mekanisme perlindungan pada
mata.
9. Fotopobia
Fotopobia pada trauma mata dapat terjadi karena dua penyebab. Pertama adanya benda asing
pada jalur refraksi, contohnya hifema, erosi kornea, benda asing pada segmen anterior bola
mata menyebabkan jalur sinar yang masuk ke dalam mata menjadi tidak teratur, hal ini
menimbulkan silau pada pasien. Penyebab lain fotopobia pada pasien trauma mata adalah
lumpuhnya iris. Lumpuhnya iris menyebabkan pupil tidak dapat mengecil dan cenderung
melebar sehingga banyak sinar yang masuk ke dalam mata.


Gejala dan tanda ? tatalaksana (terapi definitive) ? prognosis? Dan kompetensi
tatalaksana dokter umum sejauh apa?







16. Patofis dan pathogen Rx.kimia yang terjadi itu apa ? yang terjadi pada trauma kimia?
17. Komplikasi trauma kimia apa saja? Bahan kimia apa saja yang bisa trauma mata?
Strateginya bagaimana? Bila kita tdk tahu itu asam dan basa
18. Trauma mekanik?hal2 apa saja yang dapat terjadi pada trauma mekanik dari depan
sampe belakang? Pembagian trauma mekanik?
19. Trauma tajam dan tumpul? hal2 apa saja yang dapat terjadi pada trauma tajam dan
tumpul dari depan sampe belakang? Pembagian trauma tajam dan tumpul?
20. Perbedaan trauma fisik dan mekanik? Bagaimana tatalaksana korpus alienum pada
mata?
21. Pemeriksaan penunjang pada kasus trauma?
















STEP 4








radioterapi kimia Fisik dan mekanik
Trauma mata
Benda asing