Anda di halaman 1dari 26

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

TEORI DAN APLIKASI


BAB 1
NETWORK COMPETITION ERA
BUSINESS NETWORKING : MEMBANGUN DAYA SAING DALAM NETWORK COMPETITION ERA
TREND BISNIS DALAM ERA GLOBALISASI
Kondisi persaingan bisnis dalam pasar global saat ini sangat bergejolak dan tidak dapat diprediksi, dan
perkembangan pesat teknologi. Perusahaan global berkelas dunia yang beroprasi dalam pasar global harus
mampu memiliki kinerja berkelas dunia. Memiliki produk yang tepat pada tempat dan waktu yang tepat akan
memungkinkan perusahaan untuk memenangkan persaingan yang ada. Tetapi sumber daya dan kompetensi
yang dibutuhkan seringkali tidak dimiliki oleh perusahaan secara individu, sehingga kerjasama atau kolaborasi
dengan perusahaan lain dalam suatu jejaring bisnis sangat diperlukan untuk mencapai efektivitas bisnis.
Menghadapi kondisi persaingan yang makin tidak dapat diprediksi diperlukan perencanaan bisnis yang tepat
melalui proses transformasi bisnis dari simulasi model sistem pendukung pengambil keputusan bisnis ke dalam
kapabilitas analisis keputusan berkaitan dengan pendapatan dan pembagian keuntungan.
Perusahaan menghadapi tekanan yang harus dihadapi tidak hanya dari sisa permintaan konsumen yang tidak
dapat diantisipasi oleh kemajuan pesat teknologi komunikasi dan informasi, tetapi disebabkan oleh penigkatan
kompetisi antar satu jejaring bisnis dengan jejaring bisnis lain dan meningkatnya pengenalan produk pesaing
yang mengakibatkan makin pendeknya siklus hidup produk (Browne, 1995)
Trend globalisasi ekonomi telah menggeser paradigma dalam persaingan bisnis antar perusahaan secara
individu menjadi persaingan bisnis antar jejaring bisnis (business networking). Kondisi ini berimbas pada
perlunya transformasi perusahaan dalam pelayanan dan penciptaan nilai pelanggan melalui manufaktur,
sehingga mayoritas perusahaan perlu diorientasikan untuk menciptakan jejaring bisnis (Rudberg dan olhager,
2003).
Konsep kolaborasi dalam suatu jejaring bisnis menjadi isu yang menarik dalam kondisi persaingan yang
semakin kompetitif (Clark & Hammond, 1997). Konsep ini menekan pada integrasi aliran informasi maupun
material untuk proses inovasi perusahaan untuk mencapai peningkatan kapabilitas perusahaan dalam
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen (Lee & Whang, 2000).
Navi Radjou, seorang analis pada Forrester Research menyatakan banyak perusahaan besar mengambil
keputusan bahwa sukses pada abad 21. Perusahaan mengembangkan kemampuan inovasi internal dan
eksternal untuk mengoptimalkan laba dan mempercepat peluncuran produk ke pasar (Hamm, 2007).
Fleksibilitas dan kapabilitas perusahaan untuk merespon permintaan konsumen terhadap produk yang lebih
bervariasi dapat dilakukan dengan sistem produksi kustomisasi masa dan menerapkan desain produk untuk
mencapai segmentasi pasar yang lebih luas.
Tulisan ini membahas bagaimana perusahaan mencapai kesuksesan dan sustainabilitas jejaring bisnis dengan
mencari cara yang paling efektif dan efisien, dan peningkatan kemampuan kompetitif secara bersama-sama.
MEMBANGUN JEJARING BISNIS
MELALUI KEMITRAAN BISNIS BERBASIS KOORDINASI
Memperbaiki daya saing untuk semua patner merupakan tujuan utama dibentuknya kemitraan bisnis.
Kemitraan merupakan mekanisme koordinasi untuk para pemasok dan perusahaan dalam suatu penciptaan
nilai jejaring bisnis.
Dua alasan utama dibangunnya hubungan antar perusahaan dalam suatu jejaring bisnis berbasis koordinasi
adalah: 1) untuk menghadapi perbedaan antar produk dalam jejaring bisnis yang berbeda yang mempengaruhi
konsumen dan untuk melengkapi sistem bersaing satu sama lain. 2) untuk meningkatkan efesiensi dan strategi
yang efektif sehingga tidak berdampak negatif pada kualitas dan reabilitas produk.
Untuk membangun hubungan kemitraan bisnis berbasis koordinasi dapat dilakukan evaluasi terhadap partner
potensial. Fokus evaluasi mitra bisnis potensial adalah untuk mendapatkan kemitraan yang bersifat negatif.
Hubungan integratif memberikan nilai tambah bagi penawar pasar. Penciptaan nilai ini tergantung pada
kapabilitas inti perusahaan yang cenderung terbatas karena teknologi yang diperlukan untuk memproduksi
produk memerlukan biaya yang cenderung tinggi dan lingkungan bisnis yang kompleks.
PERAN E-COMMERCE DALAM PROSES PENCIPTAAN NILAI DALAM JEJARING BISNIS
Teknologi merupakan media yang berperan penting dalam penciptaan nilai dalam jejaring bisnis (Upton dan
Mc. Affe, 1996). Salah satu bentuk manfaat teknologi dalam dunia bisnis adalah adanya aplikasi e-commerce.
E-commerce merupakan pengunaan teknologi internet untuk mengelola proses bisnis, seperti penjualan dan
pembelian,rantai pasok, dan hubungan dengan konsumen. Melalui aplikasi e-commerce memungkinkan
perusahaan menggunakan internet untuk memperbaiki proses bisnisnya dan memiliki lebih banyak dan luas
mitra bisnis maupun vendor.
Aplikasi e-commerce berperan dalam mendefinisikan kembali nilai jejaring bisnis atau rantai nilai yang
memudahkan perusahaan dalam mempengaruhi pasar. Keuntungan aplikasi e-commerce menurut
Kathandaraman dan Wilson (2001), 1) memperluas pangsa pasar perusahaan dan kesempatan untuk meraih
konsumen potensial, 2) memungkinkan perusahaan untuk menurunkan biaya pemeliharaan persediaan fisik
karena waktu yang dibutuhkan dalam proses pemesanan lebih pendek dan dapat memperbaiki tingkat respon
sistem dan menurunkan persediaan, 3) Biaya pelayanan konsumen lebih rendah karena konsumen dapat
secara langsung mengakses spesifikasi kebutuhan mereka dan memesannya melalui web, 4) spesifikasi
maupun harga pengenalan produk baru atau pengembangan produk yang sudah ada dapat secara mudah
diakses melalui web-server.
KISAH SUKSES IBM DALAM MENGEMBANGKAN JEJARING BISNIS
Gambaran rill tentang proses penciptaan nilai dalam jejaring bisnis dapat dijelaskan melalui kisah sukses IBM,
perusahaan yang dikenal sebagai raksasa teknologi dan para mitra bisnisnya dalam meningkatkan kapabilitas
manufaktur dan desain produknya melalui implementasi jejaring bisnis. Strategi tersebut pertama kali
dicetuskan oleh john kelly pada tahun 2003 ketika memimpin divisi semi konduktor dan IBM sedang
mengalami kerugian akibat kegagalan bisnis chip mereka dan menghadapi desakan para investor untuk
menghentikan Big Blue.
Ditengah perdebatan sengit, John Kelly berhasil membangun penelitian dan pengembangan cip ekosistem
terbuka bersama sembilan mitra bisnisnya termasuk Advance Micro Device (AMD), Sony, Toshiba,Freescale
Semiconductor, dan Albany NanoTech.
Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa sukses pada abad 21 menuntut kerjasama dengan perusahaan-
perusahaan lain dan juga para peneliti individual guna menciptakan apa yang disebut jejaring inovasi.
Jejaring-jejaring tersebut memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan kemampuan inovasi internal dan
eksternal untuk mengoptimalkan laba dan mempercepat peluncuran produk ke pasar(Hamm, 2007).
Perusahaan harus memikirkan bagaimana berkolaborasi dalam membangun jejaring bisnis dan tidak hanya
memfokuskan bersaing satu sama lain. Hal ini dikarenakan , melalui kolaborasi perusahaan akan memperoleh
banyak hal yang lebih bernilai.
Kolaborasi yang dilakukan IBM memberikan keuntungan besar dan sangat berarti karena perusahaan mampu
menghemat miliaran dollar. Untuk mencapai kesuksesan kolaborasi dalam jejaring bisnis semua perusahaan
yang terlibat harus mau membuat kesepakatan tujuan bersama dan menentukan aturan main sejak awal
dibentuknya kesepakatan.
PELAJARAN BERHARGA BAGI PERUSAHAAN DI INDONESIA
Salah satu kinci sukses perusahaan dalam persaingan bisnis adalah memiliki dan mempertahankan keunggulan
kompetitif yang terletak pada kemampuan perusahaan untuk membedakan diri dengan pesaingnya dan
kemampuan melakukan produksi dengan biaya lebih rendah.
Beberapa aktivitas yang dapat mendukung pencapaian produktivitas tinggi diantaranya adalah mengurangi
persediaan sampai pada tingkat yang direncanakan , menggunakan kapasitas yang ada semaksimal
mungkin,melakukan perencanaan bersama dengan semua mata rantai yang ada, dan fungsi distribusi, yang
kesemuanya dapat dicapai melalui kolaborasi dengan mitra bisnis dalam suatu jejaring bisnis.
Beberapa pelajaran berharga yang bisa diambil dari konsep jejaring bisnis yang diterapkan oleh IBM dan
beberapa mitra bisnisnya adalah bahwa untuk mencapai kemitraan bisnis yang sukses beberapa hal atau
pendekatan yang diperhatikan meliputi : 1) pemikiran radikal, 2) meningkatkan kemampuan kompetitif secara
bersama-sama, 3) memadukan budaya korporasi atau bahkan budaya bangsa yang berbeda, 4) pengembangan
fasiitas litbang atau jaringan riset.
Berpikir radikal merupakan pendekatan umum untuk mencapai keberhasilan inovasi dalam jejaring bisnis.
Salah satu contohnya Boeing yang mampu memanfaatkan jaringan global para pemasok untuk menangani
banyak pekerjaan desain untuk jet Dreamliner 787.
Pendekatan kedua, meningkatkan kemampuan kompetitif secara bersama-sama. Contoh perusahaan yang
berhasil dalam mengelola jejaring bisnisnya dengan pendekatan ini adalah P&G. Dalam memasarkan
Dreamliner 787, P&G mampu meningkatkan produktivitas litbang mereka 60% melalui program Connect and
Develop, dimana mereka bekerjasama dengan para penemu perorangan dari seluruh dunia. Pendekatan ketiga
memadukan budaya korporasi atau bahkan budaya bangsa yang berbeda. Kolaborasi antar beberapa
perusahaan sudah pasti memerlukan penyesuaian dan kesepakatan karena masing-masing perusahaan
memiliki budaya korporasi yang berbeda-beda.
Pendekatan keempat, pengambilan fasilitas litbang atau jaringan riset. Perusahaan tidak bisa hanya berusaha
untuk menjadi yang terbaik saat ini dengan menghasilkan produk yang sudah ada, melainkan perusahaan
harus berpikir bagaimana menjadi market leader di masa mendatang dengan cara meninggalkan cara lama
yang sudah kuno dan serta terus melakukan inovasi produk yang berbasiskan teknologi canggih serta informasi
untuk konsumen yang berkaitan kualitas, produktivitas, selera dan efisiensi biaya. Sebagai contoh kerjasama
IBM dengan mitra bisnis seperti Albany NanoTech, AMD, dan Freescale telah memberikan hasil positif dengan
berkembangnya ekosistem inovasi yang melibatkan para pemasok bahan cip, perusahaan kimia, dan
perusahaan piranti lunak untuk mendesain cip dengan teknologi inovatif.
LEARNING NETWORK :
STARTEGI MENUJU PERUSAHAAN KELAS DUNIA
KONSEP JEJARING BISNIS DALAM ERA GLOBALISASI
Seiring dengan makin kompleksnya persaingan bisnis, pangsa pasar saat ini menjadi semakin dinamis dan tidak
dapat diprediksi. Globalisai mengakibatkan lingkungan bisnis menjadi semakin dinamis dan tidak dapat
diprediksi yang diindikasikan oleh perubahan konsumen dan pentingnya aplikasi teknologi. Kecepatan,
kualitas, dan fleksibilitas menjadi sumber keunggulan kompetitif dalam merespon kebutuhan konsumen dan
permintaan pasar. Perusahaan global yang beroprasi dalam pasar global harus memiliki kinerja tinggi atau
mencapai world-class performance.
Perusahaan perlu melakukan kerjasama dengan perusahaan lain untuk mendapatkan sumber daya dan
kompetensi yang tidak dimiliki melalui teknologi berbasis internet. Kesuksesan implementasi teknologi
informasi dalam aktivitas bisnis memerlukan keahlian manajemen, ketersediaan dana, serta sumber daya
manusia yang kompeten.
Jejaring bisnis memiliki makna konektivitas dengan siapapun, dimanapun, baik internal maupun eksternal
perusahaan menjadi anggota dalam jejaring bisnis. Alter dan hage (1993) mendefinisikan jejaring bisnis sebagai
suatu tindakan untuk membentuk cluster organisasi dan memelihara hubungan antar anggota dalam jejaring
bisnis, baik yang terkait dengan produksi maupun pedagang. Keputusan ini didasarkan pada beberapa
pertimbangan keputusan strategik yang mencakup kompleksitas proses, pengembangan pasar, dan
pengembangan penduduk. Jejaring bisnis tersebut dikembangkan berdasarkan hubungan antar perusahaan
dalam rantai nilai.
Era ekonomi digital merupakan era ekonomi yang berbasis teknologi digital yaitu mencakup penggunaan
jaringan komunikasi digital seperti internet, intranets, komputer, software, dan teknologi informasi lain.
Tantangan utama yang harus dihadapi perusahaan adalah untuk menentukan teknologi mana yang relevan,
mengembangkan kekuatan potensial. Jika teknologi tersedia dan dapat diimplementasikan diperlukan
keterlibatan manajerial dan pembelajaran teknologi terkait dengan konsep, pendekatan baru, dan
pengetahuan. Kesemua proses tersebut harus teroganisir dalam suatu inter-firm learning networks.
VALUE NETWORKS: PENCIPTAAN NILAI DALAM BISNIS GLOBAL
Globalisasi ekonomi yang diindikasikan oleh makin kompleksnya lingkungan bisnis dan persaingan bisnis yang
makin kompetitif dan tidak dapat diprediksi, telah membawa dampak pada perubahan fokus persaingan telah
mengalami perubahan dari persaingan antar perusahaan individual menjadi antar jejaring bisnis melalui
penciptaan niali dalam jejaring bisnis (value network). Value Network merupakan jejaring fasilitas, yang dimiliki
oleh organisasi yang berbeda, dimana produk memiliki kegunaan waktu, kegunaan tempat, atau kegunaan
bentuk dan nilai konsumen dapat ditingkatkan.
Kondisi persaingan bisnis global yang ditandai dengan dinamika pasar yang makin kompleks dan cepat berubah
mengakibatkan sulitnya pencapaian tujuan dan sasaran perusahaan. Pada kondisi persaingan yang masih
belum ketat, startegi deversifikasi dapat dipakai untuk mengarahkan unit bisnis perusahaan ke arah pasar
produk akhir dan membawa menjadikannya sebagai world leader.
Dua dimensi penting dalam jejaring bisnis kekuatan hubungan antar pihak dan peran penting pihak-pihak yang
terlibat dalam jejaring bisnis. Easton dan Araujo (1986) berpendapat bahwa hubungan antar pihak dalam
jejaring bisnis yang kuat sangat diperlukan. Hubungan yang kuat dibangun atas dasar kepercayaan dan
keterlibatan pihak-pihak yang bekerjasama. Tindakan yang harus dilakukan didasarkan pada norma dan
peraturan-peraturan yang ada. Jejaring bisnis membawa dampak pada pengembangan perusahaan yang
inovatif dan perbaikan daya saing manufaktur. Dasar pengembangan perusahaan yang inovatif adalah
kemampuan untuk berfikir dan bertindak secara startegik dan menguasai kompetensi inti terkait dengan
informasi, pengetahuan, keahlian, dan konseptualisasi yang dimiliki oleh komunitas yang ada. Pengetahuan,
keahlian, ide-ide individu, organisasi dibagikan antar perusahaan yang ada, dan kemudian dilakukan
pengembangan ide-ide baru.
PENCIPTAAN NILAI DALAM JEJARING BISNIS : KONSEP DAN PERSPEKTIF
Ativitas dan isu dalam jejaring bisnis dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu manufacturing
network dan supply chain yang keduanya memfokuskan pada penciptaan nilai dalam jejaring bisnis tetapi
menggunakan pendekatan yang berbeda. Teori jejaring manufaktur dilihat dari sudut pandang manajemen
operasi suatu perusahaan tunggal sedangkan rantai pasokan dilihat dari sudut pandang manajemen logistik.
Penelitian manajemen logistik berakar pada distribusi fisik manajemen material dan memfokuskan pada
keterkaitan antar nodes, sedangkan jejaring manufaktur memfokuskan pada manufacturing nodes.
Perusahaan yang berbasis internasional menyebarkan nilai jejaring perlu mengintegrasikan kedua perspektif
tersebut tidak hanya fokus pada perspektif jejaring manufaktur atau rantai pasok saja, tetapi mengintegrasikan
kedua perspektif tersebut.
Selama akhir tahun 1970-1980 awal, literatur mencatat pentingnya mengelola tidak hanya perusahaan secara
individu tetapi juga multiplant organization. Sehingga dapat disimpulkan mekipun pasar telah bersifat global,
perusahaan masih berbasis geografis dan penelitian manajemen operasi masih fokus pada perusahaan secara
individu dan bukan sebagai suatu jejaring bisnis.
Pada akhir 1980-1990an terjadi pergeseran fokus penelitian manajemen operasi dari multiplan organization ke
dalam isu jejaring bisnis dimana perusahaan bersaing pada basis internasional. Skinner (1996) berpendapat
bahwa peusahaan menekankan pada rantai nilai realisasi produk termasuk penelitian dan pengembangan,
procurement produksi, distribusi, pelayanan konsumen, dan layanan purna jual.
Pada fase manajemen fungsional, dibagi dalam dua fungsi yaitu pengelolaan material yang memfokuskan pada
pergerakan material dalam organisasi mencakup isu-isu pembelian, inbound transportaction, persediaan
bahan mentah, dan kontrol persediaan. Fungsi kedua memfokuskan pada pergerakan barang atau produk
akhir dengan produksi akhir ke konsumen akhir. Pengelola material dan distribusi fisik serta perkiraan
permintaan, pelayanan konsumen dan proses pemesanan.
MODEL PENCIPTAAN NILAI DALAM JEJARING BISNIS
Teknologi informasi memberikan infrastruktur komunikasi yang luas dan memungkinkan perusahaan untuk
mencapai biaya yang efektif, konektivitas yang luas bagi pengguna. Peningkatan kepercayaan berbagai pihak
terhadap teknologi informasi seperti internet, dan meningkatnya penggunaan ekstranet dan intranet dalam
perusahaan, tidak hanya mengubah cara perusahaan melakukan bisnis tetapi juga telah mengubah
pendekatan yang digunakan untuk menjamin keamanan jaringan kerja.
Peningkatan penggunaan internet dalam dunia bisnis dan peningkatan koordinasi antar perusahaan melalui
konsep jejaring memerlukan pemahaman akan pentingnya bisnis hubungan kerjasama antar perusahaan
dalam skala yang lebih luas. Kapabilitas inti perusahaan merupakan sumber daya yang dimiliki suatu
perusahaan yang tidak dimiliki oleh perusahaan lainnya, misalnya kapabilitas teknologi dan proses bisnis.
Kapabilitas ini sangat berpengaruh pada cara perusahaan dan mengelola informasi dari konsumen, sistem
logistik, dan sistem data elektronik.
MENINGKATKAN DAYA SAING PERUSAHAAN MELALUI LEARNING NETWORK
Tantangan utama menciptakan nilai dalam jejaring bisnis adalah menentukan teknologi mana yang relevan
untuk diimplementasikan berdasarkan kekuatan, kemampuan, dan kapabilitas perusahaan untuk
mengimplementasikan teknologi tersebut. Jika teknologi tersedia dan dapat diimplementasikan tetapi tidak
didukung oleh kemampuan SDM, dukungan oihak manajemen, dan proses pembelajaran teknologi yang tepat,
perusahaan tidak akan dapat mengambil manfaat dari investasi teknologi yang dilakukan. Imlementasi ini
menuntut memerlukan konsep, pengetahuan, dan pendekatan baru yang tepat yang dapat diperoleh melalui
inter-firm learning networks.
learning networks didefinisikan sebagai suatu jejaring bisnis formal yang dibentuk dengan tujuan utama
meningkatkan pengetahuan dan kapabilitas untuk melakukan sesuatu. Klob and Fry (1975) menjelaskan bahwa
proses pembelajaran dapat dipandang sebagai siklus proses yang mencakup kombinasi pengetahuan, refleksi,
formasi dan eksperimen konsep.
INTEGRASI STRATEGI MANUFAKTUR DAN STRATEGI PEMASARAN : MANAJEMEN BISNIS DALAM NETWORK
COMPETITION ERA
PENTINGNYA INTEGRASI STRATEGI
Persaingan bisnis semakin kompetitif dan perkembangan pesat teknologi informasi maupun komunikasi,
menuntut perusahaan untuk dapat menerapkan strategi yang tepat dalam menghadapi lingkungan bisnis yang
turbulen, yang diindikasikan oleh proses inovasi secara terus menerus dan tingginya tingkat perubahan selera
konsumen. Perusahaan perlu menetapkan standar kualitas, pencapaian kepuasan konsumen, dan program
loyalitas konsumen sehingga tetap dapat bersaing dalam lingkungan bisnisnya.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh perusahaan dalam menghadapi lingkungan yang tidak pasti dan makin
kritisnya konsumen adalah dengan melakukan integrasi strategi pemasaran dan strategi manufaktur.
Kesuksesan implementasi strategi manufaktur yang terintegrasi dengan strategi pemasaran memerlukan
perubahan dalam pemikiran model bisnis yang dilakukan perusahaan maupun intergrasi fungsi-fungsi bisnis
dalam organisasi.
TEKANAN BISNIS DAN KEKUATAN KOMPETITIF DALAM SERVICE-DRIVEN ECONOMY
Persaingan bisnis yang makin kompetitif dan perkembangan pesat teknologi informasi maupun komunikasi
mengakibatkan makin pendeknya siklus hidup produk karena perusahaan berlomba-lomba untuk menawarkan
sesuatu yang baru dan bernilai bagi konsumen. Persaingan tidak lagi bersifat inventory-driven system tetapi
lebih bersifat service-driven system, dimana permintaan konsumen menjadi faktor pengendali dalam
persaingan bukan lagi didorong oleh sistem persediaan(Boubekri, 2001). Untuk meraih keunggulan bersaing,
pelayanan harus menjadi suatu bagian terintergrasi dalam pelaksanaan bisnis untuk mewujudkan superior
customer value.
Disisi lain perusahaan juga dihadapkan pada tantangan perubahan dan perkembangan teknologi yang pesat.
Perubahan dalam teknologi informasi, komunikasi, proses pabrikan, material science, maupun teknologi
telekomunikasi memungkinkan perusahaan yang terlibat dalam bisnis untuk berpikir kembali bagaimana
melakukan perubahan dalam model bisnis mereka. Perusahaan harus bisa menemukan cara strategis untuk
memelihara hubungan baik dengan konsumen.
FLEKSIBILITAS TEKNOLOGI : DIMENSI STRATEGIK POST INDUSTRIAL MANUFACTURING
Dalam kontinum strategik tradisional terdapat trade-off antara scale dan scope. Trade-off ini dijumpai dalam
classical mass manufacturing enocomis of scale disertai dengan kekakuan yang dapat mengurangi penawaran
macam produk yang diperlukan pasar.
Transisi dalam post industrial manufacturing telah mengurangi pentingnya trade-off scale dan scope. Untuk
merespon tekanan konsumen, diperlukan implementasi advance technology management akan membantu
perusahaan untuk merespon permintaan pasar melalui pengembangan produk-produk baru dengan variasi
yang beragam dan diproduksi pada biaya yang lebih rendah. Oleh karna itu, dalam post industrial
manufacturing, dimana teknologi menjadi pengendali dalam pasar, teknologi tidak hanya memoderasi trade-
off antara scale dan scope, melainkan menjadi satu dimensi strategik dalam trade-off.
POTENTIAL GROWTH STRATEGY : KUNCI SUKSES INTEGRASI STRATEGI
Untuk mencapai tujuan dari pengintegrasian stratregi manufaktur dan strategi pemasaran perlu diidentifikasi
berbagai syarat dalam pendekatan market-driven manufacturing. Identifikasi faktor-faktor tersebut diperlukan
untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memberikan kontribusi terhadap kesuksesan perusahaan dalam
persaingan bisnis dan faktor yang berhubungan dengan upaya pencapaian tujuan manufaktur. Melalui
identifikasi faktor penentu kesuksesan integrasi kedua tersebut memungkinkan perusahaan untuk membuat
pilihan strategik terkait dengan inisiatif pemasaran dalam kondisi sumber daya manufaktur yang ada,
mengembangkan kapabilitas manufaktur untuk menentukan strategi pemasaran.
Sebelum melakukan spesifikasi syarat kesuksesan tersebut, perusahaan diklasifikasikan dalam 3 jenis yaitu
pertumbuhan intensif, pertumbuhan integrativ, dan diversifikasi. Perusahaan dikatakan dalam pertumbuhan
intensif yaitu jika perusahaan mencari kesempatan dalam skala operasinya, artinya perusahaan bergantung
pada produk dan segmen pasar yang dilayani. Pertumbuhan integratif yaitu jika perusahaan berusaha untuk
mengintegrasikan kegiatan operasinya dengan bagian lain pada rantai pasokan atau sistem distribusi
perusahaan. Sedangkan Diversifikasi, melibatkan kesempatan pertumbuhan diluar scope operasi perusahaan.
Dalam pertumbuhan intensif terdapat tiga pendekatan yang dapat diadopsi oleh perusahaan. Pertama
penetrasi pasar, yang mencakup mencari kesempatan untuk meningkatkan penjualan produk perusahaan
dalam segmen pasar yang dilayani saat ini. Untuk mensukseskannya diperlukan peningkatan pemakai produk
oleh konsumen dalam segmen pasar, atau mendorong pergantian merek pada konsumen yang loyal terhadap
perusahaan pesaing, atau memasarkan produk pada segmen pasar yang lebih banyak dengan profil segmen
pasar yang mirip dengan pasar yang dilayani perusahaan. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan level
penjualan dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan interval.
Strategi pertumbuhan intensif yang kedua, pengembangan pasar, perusahaan berusaha untuk meningkatkan
penjualan dengan memasarkan produk yang ada pada segmen pasar yang baru. Untuk itu perusahaan harus
menggembangkan marketing mix (produk, harga, promosi, dan distribusi) yang berbeda dengan pangsa pasar
sebelumnya. Dalam hal ini kualitas produk merupakan hal penting yang harus diperhatikan perusahaan dalam
memasarkan produk dalam segmen pasar baru, Tetapi biaya dan pengurangan waktu tunggu serta
penambahan kapasitas dapat memberikan intensif bagi konsumen dan kemampuan memberikan pelayanan.
Startegi pertumbuhan intensif ketiga adalah pengembangan produk. Perusahaan berusaha untuk
meningkatkan penjualan melalui pengembangan dan pemberian produk baru untuk melayani segmen pasar
tertentu. Pengembangan kualitas produk dapat membentuk basis keunggulan kompetitif dalam pasar yang
dilayani, baik melalui perbaikan reliabilitas produk. Kesuksesan implementasi strategi akan ditentukan oleh
siklus hidup produk dimana perusahaan akan memasuki segmen pasar yang baru.
Pertumbuhan integratif melibatkan akusisi perusahaan terhadap rantai pasok maupun kompetitornya. Kontrol
rantai pasok dapat terjadi baik melalui backward integration maupun forward integration. Untuk
mensukseskan strategi pertumbuhan diperlukan koordinai produksi dan distribusi yang efektif. Keputusan
yang terkait dengan koordinasi aktivitas produksi dan distribusi dan desain sistem informasi.
Pendekatan lain dalam strategi pertumbuhan integrativ adalah integrasi horizontal yang bertujuan untuk
mencari kepemilikan dan meningkatkan control perusahaan kompetitor. Fokus manufaktur memainkan peran
penting untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui proritas kompetitif yang terkait dengan biaya, kualitas,
fleksibilitas, dan pengiriman. Diversifikasi terjadi karena segmen pasar dari lini produk tidak tampak
memberikan pertumbuhan yang sesuai, perusahaan dapat memutuskan untuk melakukan diversifikasi dalam
produk baru baik melalui adopsi teknologi baru maupun marketing mix.
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) DALAM NETWORK COMPETITION AREA
INTEGRASI RANTAI PASOKAN DALAM PERSAINGAN ANTAR JEJARING BISNIS
BAB 2
Persaingan bisnis saat ini diindikasikan oleh adanya perkembangan teknologi yang cepat. Kondisi persaingan
memaksa organisasi untuk mencari cara baru dalam mencapai keunggulan yang kompetitif. Untuk lebih
responsif terhadap kebutuhan konsumen dan permintaan pasar, perusahaan tidak hanya memerlukan strategi
pengiriman yang cepat dan kualitas produk yang tinggi.
Peran perusahaan manufaktur telah mengalami perubahan dari menyediakan kebutuhan dan melayani pasar
domestik menjadi melayani pasar internasional melalui jejaring bisnis ataupun rantai pasokan. Williamson Etal
mendefinisikan manajemen rantai pasokan sebagai pengeloalaan atau manajemen organisasi yang saling
berkaitan dan saling berhubungan satu sama lain. Perusahaan juga memerlukan integrasi dalam rantai
pasokannya.
Integrasi rantai pasokan menciptakan link antara perusahaaan dengan konsumen, pemasok, dan anggota
saluran distribusi lainnya. Integrasi ini mendukung adanya perubahaan paradigma dari hubungan konvensional
ke arah kooperatif, kemitraan bisnis jangka panjang, dan aliansi stratejik.
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN: PENGERTIAN DAN AREA CAKUPAN
Manajemen rantai pasokan merupakan strategi alternatif yang memberikan solusi dalam menghadapi
ketidakpastian lingkungan. Lee & Whang (2000) mendefinisikan manajemen rantai pasokan sebagai integrasi
proses bisnis dari pengguna akhir melalui pemasok yang memberikan produk, jasa, informasi, dan bahkan
peningkatan nilai untuk konsumen dan karyawan. Satu hal terpenting dalam manajemen rantai pasokan
adalah saling berbagi informasi, dalam aliran material, aliran kas, dan aliran informasi merupakan keseluruhan
elemen dalam rantai pasokan yang diintegrasikan (Chen et al., 2004).
Prinsip manajemen rantai pasokan pada dasarnya merupakan sinkronisasi dan koordinasi aktivitas-aktivitas
yang terkait dengan aliran material/produk, seperti ditunjukkan pada gambar 1. Sebuah rantai pasokan tidak
selamanya merupakan rantai lurus.
Gambar 1.
Struktur Rantai Pasokan
End Customer
Supplier
Manufaktur
Distribution Center
Wholesaler
Retailer
Aliran Produk
Aliran Biaya
Aliran Informasi
Sebuah industri manufaktur bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pemasok, dan produk-produk yang dihasilkan
oleh sebuah industri didistribusikan ke beberapa pusat yang melayani ratusan bahkan ribuan wholesaler,
retail, pedagang kecil, maupun konsumen.
Aplikasi manajemen rantai pasokan pada dasarnya memiliki tiga tujuan utama yaitu penurunan biaya (cost
reduction), penurunan modal (capital reduction), dan perbaikan pelayanan (service iprovement).Tabel 1
menunjukkan empat area cakupan manajemen rantai pasokan yang terkait dengan fungsi-fungsi utama rantai
pasokan.
Tabel 1.
Area Cakupan Manajemen Rantai Pasokan
Bagian Cakupan Kegiatan
Pengembangan Produk Melakukan riset pasar, merancang produk baru, melibatkan pemasok dalam
perancangan produk baru.
Pengadangan Memilih pemasok, mengevaluasi kinerja pemasok, melakukan pembelian bahan
baku dan komponen, memonitor resiko pemasok, membina dan memelihara
hubungan dengan pemasok.
Perencanaan dan Perencanaan permintaan, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas,
Pengendalian perencanaan produksi danpersediaan.
Operaasi dan Produksi Eksekusi produksi dan pengendalian kualitas.
Pengiriman/Distribusi Perencanaan jaringan distribusi, penjadwalan, pengiriman, mencari dan
memelihara hubungan dengan perusahaan, jasa pengiriman, memonitor tingkat,
pelayanan pada tiap pusat distribusi.
Sumber: Pujawan (2005)
Pengelolaan rantai pasokan melibatkan sangat banyak pihak didalam maupun diluar sebuah perusahaan serta
menangani cakupan kegiatan yang sangat luas. Beberapa tantangan yang harus dihadapi perusahaan dalam
mengelola rantai pasokan:
1. Kompleksitas struktur supply chain
Suatu rantai pasokan biasanya sangat kompleks dan melibatkan banyak pihak di dalam maupun diluar
perusahaan. Kompleksitas suatu rantai pasokan juga dipengaruhi oleh perbedaan bahasa, zona waktu, dan
budaya antara satu perusahaan dengan perusahaan lain.
1. Ketidakpastian menimbulkan ketidakpercayaan diri terhadap rencana yang sudah dibuat sehingga
perusahaan perlu menciptakan antisipasi pengamanan di sepanjang rantai pasokan baik berupa
persediaan (safety stock), waktu (safety time), ataupun kapasitas produksi maupun transportasi.
Ketidakpastian dapat berasal dari tiga sumber yang meliputi ketidakpastian permintaan; arah
pemasok yang berupa ketidakpastian pada lead time pengiriman, harga bahan baku atau komponen,
ketidakpastian kualitas, serta kuantitas material yang dikirim; dan ketidakpastian internal.
INTEGRASI RANTAI PASOKAN: DEFINISI DAN PRAKTIK INTEGRATIF
Untuk dapat bertahan hidup dalam persaingan antar jejaring bisnis saat ini, perusahaan harus mau dan
mampu memperbaiki daya saing mereka. Perusahaan harus meningkatkan fleksibilitas bahkan mencapai
kondisi agility shingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar secara cepat dengan kualitas
pelayanan yang tinggi (Anatan, 2006).
Oleh karena itu perusahaan harus bisa menciptakan nilai dengan mengintegrasikan rantai pasokan sehingga
dapat dicapai kualitas produk yang lebih tinggi, meningkatkan produksivitas, efisiensi penggunaan mesin, dan
meningkatkan efisiensi serta fleksibilitas logistik (Kim and Narasimhan, 2002).
Aktivitas integratif dapat dikembangkan dalam berbagai area yang berbeda seperti pergerakan barang,
perencanaan dan kontrol, organisasi, dan pergerakan informasi (Donk and Van Der Vanet, 2005). Bowersox
(1989) mengemukakan bahwa proses rantai pasokan dimulai dari integrasi dengan pemasok dan konsumen.
Beberapa dimensi manajemen rantai pasokan adalah sebagai berikut: 1) Dimensi pergerakan barang, meliputi
packaging customization, common containers, vendor management inventory, 2) Dimensi perencanaan dan
control, meliputi joint activity atau planning, multilevel supply control, 3) Dimensi organisasi, meliputi
partnership, quasi firm, virtual firm and just in time, 4) Dimensi pergerakan informasi meliputi Sharing
production plan, Electronic Data Interchange (EDI), Internet.
TEKNOLOGI INFORMASI DALAM INTEGRASI RANTAI PASOKAN
Globalisasi telah menciptakan kondisi lingkungan bisnis baru yang dikenal dengan ekonomi digital. Pada
abad 21 ini, perusahaan harus mampu mengembangkan strategi global untuk mengkoordinasikan kegiatan
operasi mereka. Koordinasi antar perusahaan global sangat penting, sehingga diperlukan suatu pendekatan
kerjasama baru seperti terbentuknya virtual enterprises, global manufacturing, jaringan kerja, dan aliansi
perusahaan (DAmours et al., 1999).
Memiliki produk yang tepat yang tersedia pada tempat yang tepat da pada waktu yang tepat memungkinkan
perusahaan untuk bersaing dalam kondisi pasar yang tidak dapat diprediksi saat ini (Anatan, 2006). Untuk
memberikan dukungan yang efektif bagi integrasi rantai pasokan, arsitektur sistem informasi harus mampu
menghubungkan dan mengkoordinasikan sistem informasi untuk masing-masing individu secara keseluruhan.
Implementasi sistem informasi memberikan fasilitas untuk sharing informasi dan koordinasi antar mitra bisnis
internal dan eksternalyang dikenal dengan sistem informasi interorganisasional. Sistem ini memberikan
kerangka kerja untuk kerjasama antar perusahaan dengan menggunakan media elektronik.
Sistem informasi interorganisasional dalam rantai pasokan memiliki dampak positif untuk semua mitra bisnis.
SYARAT DAN PEMILIHAN MITRA BISNIS POTENSIAL
Kemitraan (partnership) merupakan sesuatu yang special karena dapat mempengaruhi penciptaan nilai dalam
suatu rantai pasokan. Untuk menentukan mitra bisnis yang tepat dalam melakukan integrasi rantai pasokan
kemitraan berbasis koordinasi. Beberapa aspek dipertimbangkan untuk memilih mitra bisnis yang tepat.
Pertama tingkat investasi spesifik, level skala ekonomis mitra potensial. Makin besar skala ekonomis makin
besar kemungkinan kesempatan menciptakan nilai dalam kemitraan bisnis. Kedua, kualitas perbedaan antara
pemasok dan pesaingnya. Jika terdapat perbedaan berarti mitra potensial tersebut akan dapat memberikan
kontribusi yang signifikan.
Mitra bisnis potensial harus memiliki komitmen dan keterbukaan dalam hal biaya-biaya yang terkait. Literatur
manajemen rantai pasokan mendiskusikan beberapa keterampilan yang harus dimiliki perusahaan yang dapat
dijadikan toalk ukur untuk menjadi mitra bisnis potensial, salah satunya adalah pentingnya penguasaan
pengetahuan khusus (Ashton et al., 1999).
Pembelajaran melalui pengalaman dapat meningkatkan kapabilitas kepemimpinan yang memberikan
pengaruh motivasional dalam kemitraan bisnis. Briscoe et al. (2001) mengemukakan bahwa seorang pemimpin
kelompok harus dapat melatih pihak lain dalam perusahaan dengan memperkenalkan metode kerja baru yang
tepat.
Kemitraan bisnis dalam suatu rantai pasokan memerlukan pengetahuan untuk menyelesaikan setiap
permasalahan yang muncul tidak hanya dari perubahan metode tetapi juga perubahan teknologi dan
lingkungan bisnis.
PENGELOLAAN KEMITRAAN BERBASIS KOORDINASI MELALUI LEARNING NETWORK
Model bisnis yang terintegrasi dan kolaboratif, yaitu suatu pendekatan bisnis yang memungkinkan perusahaan
untuk mengkombinasikan informasi lokal dan global untuk mencapai proses yang multifokus dan fleksibel.
DAmours et al (1999) mengemukakan bahwa pendekatan kolaborasi lebih menguntungkan dibandingkan
alternatif lain.
Tantangan utama yang harus dihadapi perusahaan adalah untuk menentukan teknologi mana yang relevan,
mengembangkan kekuatan potensial. Ke semua proses tersebut harus terorganisir dalam suatu inter-firm
learning networks (Bessant andFrancis, 1999).
Pemahaman tentang pentingnya kapabilitas pembelajaran mendasari munculnya konsep learning
organization melalui suatu mekanisme dimana kapabilitas tersebut dapat dikembangkan (Leonard-Barton,
1988).
Kolb and Fry (1975) menjelaskan bahwa proses pembelajaran dapat dipandang sebagai siklus proses yang
mencakup kombinasi pengetahuan, refleksi, formasi dan eksperimen konsep. Bukti empiris dari berbagai
penelitian menyarankan bahwa proses pembelajaran dapat didukung oleh struktur, prosedur untuk
memfasilitasi siklus kegiatan operasi seperti yang dijelaskan oleh Kolb and Fry (1975).
Tugas utama dalam proses pembelajaran adalah mengkodifikasikan pengetahuan untuk mendukung
pembelajaran eksplisit (Nonaka, 1991). Investasi dalam pelatihan dan pembelajaran individual akan membawa
perbaikan dalam proses pembelajaran. Kesuksesan pengembangan dan implementasi learning network
membawa dampak pada peningkatan daya saing rantai pasokan, sehingga keunggulan kompetitif dapat
dicapai.
NETWORK COMPETITION: PARADIGMA BARU PERSAINGAN BISNIS MODERN
Persaingan bisnis modern yang dikarakteristikan dalam persaingan antar jejaring bisnis muncul karena adanya
akselerasi perubahan lingkungan bisnisyang berkembang secara cepat dalam berbagai faktor. Faktor-faktor
tersebut meliputi: (Ceha, 2006)
1. Tuntutan konsumen yang semakin kritis akan produk dan jasa yang berkualitas denga harga yang rendah
serta diperoleh dengan mudah dan cepat.
2. Infrastruktur telekomunikasi, informasi, dan perbankan yang semakin canggih sehingga memungkinkan
berkembangnya model-model baru dalam manajemen aliran material.
3. Kesadaran akan pentingnya aspek sosial dan lingkungan baik atas instruksi pemerintah maupun kesadaran
kalangan bisnis.
Dalam era ekonomi digital, internetworking merupakan salah satu karakteristik penting dimana tidak ada satu
perusahaan pun yang dapat bekerja dengan sendiri tanpa menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Daya
saing perusahaan dalam persaingan antar jejaring bisnis sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan
dalam menciptakan efisiensi dan efektifitas persaingan bisnis.
Konsep rantai pasokan merupakan konsep baru dalam memandang persoalan logistik dalam suatu
perusahaan. Dalam konsep baru yaitu manajemen rantai pasokan, masalah logistik dilihat sebagai masalah
yang lebih luas yang muncul sejak dari penyediaan bahan dasar sampai barang jadi yang akan dipakai oleh
konsumen akhir yang merupakan mata rantai penyediaan barang.
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DAN DAYA SAING PERUSAHAAN
Istilah SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) pertama kali dikemukakan oleh Oliver dan Weber pada tahun
1982. Badan Manajemen Logistik Internasional memberikan definisi SCM sebagai koordinasi stratejik dan
tersistematis antar perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang-
barang, dan mengirimkan sampai pada konsumen akhir. Lee dan Whang (2000) mendefinisikan SCM sebagai
suatu sistem jaringan yang terdiri atas beberapa perusahaan yang memiliki tujuan sama sebagai tempat
organisasi menjalankan barang dan jasa kepada pelanggan.
Dalam SCM, semua pihak yang terlibat didalamnya bekerjasama dalam suatu tim yang dikenal dengan cross
functional project team (Ceha, 2006). Supply Chain memiliki dua fungsi utama dalam bisnis yaitu menkonversi
bahan baku menjadi produk jadi dan menyampaikan produk jadi tersebut kepada konsumen, dan sebagai
mediasi pasar untuk memastikan bahwa apa yang dipasok oleh rantai apsokan benar-benar mencerminkan
aspirasi pelanggan dan pemakai akhir. Untuk menciptakan keberhasilan koordinasi antar mitra perusahaan
perlu diperhatikan beberapa prinsip utama perumusan keputusan strategis dalam SCM. Ketujuh keputusan
tersebut mencakup:
1. Segmentasi pelanggan berdasarkan kekebutuhan.
2. Sesuaikan jaringan logistik untuk melayani kebutuhan pelanggan yang berbeda.
3. Dengarkan signal pasar dan jadikan pasar tersebut sebagai dasar dalam perencanaan kebutuhan.
4. Diferensiasi produk pada titik yang lebih dekat dengan konsumen dan mempercepat kontroversi di
sepanjang rantai pasokan.
5. Mengelola sumber-sumber pasokan secara strategis untuk mengurangi ongkos kepemilikan dari material
dan jasa.
6. Kembangkan strategis teknologi secara keseluruhan. Rantai pasokan yang mendukung pengambilan
keputusan hierarki dan berikan gambaran yang jelas dari aliran produk, jasa, maupun informasi.
7. Adopsi pengukuran kinerja untuk sebuah rantai secara keseluruhan dengan maksud untuk meningkatkan
pelayanan konsumen akhir.
Konsep manajemen rantai pasokan memperlihatkan proses ketergantungan antar berbagai pihak. DAmours
(1999) mengemukakan bahwa persaingan akan cenderung berubah, perusahaan bersaing dengan perusahaan
tetapi rantai pasokan bersaing dengan rantai pasokan. Dalam proses integrasi tersebut, teknologi informasi (TI)
dan sistem-sistem yang terkait diperlukan untuk mentransformasi cara perusahaan dalam menggunakan rantai
pasokan sehingga memberikan perbedaan dalam prioritas kompetitif Kim dan Narasimhan (2000).
Terdapat dua alasan mendasar mengapa perlu dibangun suatu hubungan antar perusahaan dalam jejaring
bisnis berbasis koordinasi: 1) untuk menghadapi perbedaan yang berbeda yang mempengaruhi konsumen dan
untuk melengkapi sistem bersaing satu sama lain. 2) untuk meningatkan efisiensi pemasok dalam
mengembangkan strategi yang efektif sehingga tidak berdampak negatif pada kualitas dan reliabilitas produk.
Dengan kata lain, setiap perusahaan yang terlibat dalam rangkaian rantai pasokan tersebut harus saling
berkolaborasi dalam suatu kemitraan strategik dengan menghubungkan sistem masing-masing sehingga
tercipta sistem korporat terpadu (Boubekri, 2001).
STRATEGI SUPPLY CHAIN: LEAN SUPPLY CHAIN DAN AGILE SUPPLY CHAIN
Dalam konteks suatu rantai pasokan, strategi operasional dalam SCM lebih dikenal dengan strategi supply
chain (SC). Strategi ini didefinisikan sebagai kumpulan kegiatan dan aksi strategis di sepanjang supply chain
yang menciptakan rekonsiliasi antara apa yang dibutuhkan pelanggan akhir dengan kemampuan sumber daya
yang ada pada supply chain (Pujawan, 2005).
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut perusahaan harus memiliki kemampuan untuk beroperasi secara
efisien. Chopra and Miendl (2004) mengemukakan dua strategi supply chain yaitu lean supply chain (efficient
supply chain) dan agile supply chain ( responsive supply chain). Efficient supply chain menitikberatkan pada
upaya memenuhi permintaan konsumen pada harga terendah dengan cara meminimumkan biaya total.
Responsive supply chain menitikberatkan pada upaya merespon permintaan perusahaan secara cepat.
Lanny et al (2000) mengemukakan tiga hal yang menjadi key drivers dalam rantai pasokan: inovasi produk,
keunikan produk, dan produk inovatif. Produk dikategorikan dalam dua klasifikasi yaitu:
1. Produk fungsional: memiliki siklus hidup yang panjang, lead time singkat, volume tinggi, dan variabilitas
rendah.
2. Produk inovatif: memiliki siklus hidup pendek, lead time panjang, keunikan, dan dan kompleksitas rendah.
Strategi pada produk fungsional menitikberatkan pada upaya menekan ongkos-ongkos fisik di sepanjang rantai
pasokan. Dengan perkataan lain strategi yang paling tepat untuk produk-produk fungsional adalah efisiensi.
Dalam upply chain, strategi ini disebut sebagai Efficient supply chain atau Lean supply chain.
Strategi produk inovatif menitikberatkan pada kemampuan rantai pasokan untuk merespon kebutuhan pasar
yang cepat berubah. Strategi supply chain untuk produk inovatif lebih dikenal dengan strategi responsive
supply chain (agile supply chain).
Pemilihan strategi supply chain dengan pendekatan produk akan mempengaruhi pilihan strategi peusahaan
dari tahap mendesain produk, menyimpan produk, strategi harga, hingga pengiriman barang samapai ke
tangan konsumen.
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT:
STRATEGI BERSAING MELALUI
COMPETITIVE EXCELLENCE
PERSAINGAN BISNIS ABAD 21
Kondisi lingkungan bisnis abad 21 sangat dinamis dan tidak dapat diprediksi. Perusahaan perlu memfokuskan
pada harga dan keunggulan kualitas dalam menghadapi ketidakstabilan pasar yang identik dengan perubahan
kebutuhan konsumen dan perkembangan pesat teknologi. Mendapatkan produk yang tepat,dan pada waktu
yang tepat tidak hanya penting untuk mencapai kesuksesan perusahaan tetapi juga menjadi kunci kemampuan
perusahaan untuk bertahan hidup dalam persaingan bisnis.
IMPLEMENTASI SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
Konsep manajemen rantai pasokan muncul melalui tiga tahapan evolusi dalam bidang logistik (Coyle et al.,
1996).
Konsep manajemen rantai untuk mengelola pergerakan distribusi dari pemasok pada konsumen akhir.
Menurut Langly dan Holcomb (1992) terdapat beberapa cara untuk memberikan pelayanan konsumen
mencakup kemampuan untuk mengelola informasi secara distribusi efektif, hubungan jangka panjang, dan
keunggulan kompetitif berkelanjutan.
Perusahaan dapat mengembangkan kapabilitas Konsep manajemen rantai pasokan muncul melalui tiga
tahapan evolusi dalam bidang logistik (Coyle et al., 1996). Manajemen rantai pasokan didefinisikan sebagai
filosofi yang terintegrasi strategik (mencakup kemampuan responsif pasar, biaya total yang rendah, kecepatan,
dan pengiriman yang handal) melalui aliansi strategik, hubungan antara dua entitas dalam bidang logistik
untuk mencapai tujuan dan keuntungan spesifik (La Londe and Cooper, 1989).
AGILITY DAN LEANNESS HUBUNGAN ANTARA
Agility merupakan kapabilitas bisnis yang luas yang mencakup struktur organisasi, sistem informasi, proses
logistik dan mindsets (Power et.al., 2001). Agility didefinisikan sebagai kemampuan organisasi untuk merespon
permintaan secara cepat.
Lean berkaitan erat dengan mengerjakan sesuatu yang lebih banyak dengan menggunakan sumber daya lebih
sedikit (doing more with less). Lean manufacturing menunjukkan pentingnya eliminasi aktivitas yang tidak
memberikan nilai tambah dalam memperbaiki kinerja bisnis mereka.
Paradigma lean dan agility meskipun berbeda dapat dikombinasikan dengan desain yang sukses dan
dioperasikan dalam rantai pasokan secara keseluruhan
SUPPLY CHAIN MODELS
Perusahaan perlu mengimplementasikan strategi rantai pasokan yang terkait dengan isu-isu strategik dan
kepuasan konsumen untuk menghadapi perubahan cepat dalam lingkungan bisnis, organisasi yaitu lean supply
chain dan agile supply chain.
Baik lean supply chain maupun agile supply chain memerlukan kualitas produk yang tinggi dan total waktu
tunggu yang minimum.
Dapat disimpulkan bahwa lean supply chain memfokuskan pada pengurangan biaya dan fleksibilitas untuk
produk yang tersedia.
SUMBER KEUNGGULAN KOMPETITIF
Agility merupakan suatu pendekatan strategik untuk mencapai keberhasilan perusahaan dengan peraturan-
peraturan baru dan berbeda dalam kondisi lingkungan bisnis modern dan post modern.
Responsiveness bisa mencakup: 1) Sensing, merasakan atau mengantisipasi perubahan 2) Secara langsung
memberikan reaksi terhadap perubahan yang terjadi, 3) Recovery dari perubahan yang terjadi.
Fleksibilitas merupakan kemampuan untuk memproses produk-produk yang berbeda dan mencapai tujuan
yang berbeda dengan fasilitas yang sama.
TEKNOLOGI INFORMASI DALAM IMPLEMENTASI SUPPLY CHAN MANAGEMENT
BAB 3
TEKNOLOGI SEBAGAI FASILITATOR BISNIS
Teknologi manufaktur dan teknologi informasi merupakan faktor penting yang mewarnai bisnis saat ini .
teknologi didesain untuk melengkapi kemampuan sumber daya manusia (SDM) dan membantu seseorang
untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka sehingga adopsi teknologi dappat mendukung ketrampilan
seseorang dan bukan menggantikannya.
Supply chain management (manajemen rantai pasokan ) merupakan strategi yang memberikan solusi dalam
menghadapi ketidakpastian lingkungan untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui kepuasan konsumen
.manajemen rantai pasokan menawaarkan mekanisme yang mengatur proses bisnis , meninggkatkan
produktifitaas dan mengurangi biaya oprasional perusahaan .
TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BISNIS
Pilihan teknologi melalui penggunaan komputer metode fundamental untuk menetapkan strategi dan
keunggulan kompetitif .hal ini dikarnakan pilihan teknologi akan mempengaruhi semua keputusan dalam
kegiatan oprasi dan ssemua fungsi fungsi dalam bisnis .
Apalikasi teknologi informasi di gunakan untuk mendukung aktifitas utama dan aktifitas penunjang dalam
organisasi . perkembangan teknologi informasi di satu sisi memang menguntungkan tetapi disisi lain dapat
menimbulkan beberapa masalah karna adopsi teknologi informaasi di perlukan biaya yang tinggi ,
pengetahuan dan kemampuan teknis , selain itu sistem dan teknologi informasi dapat di terima oleh orang
orang yang mengunakannya .
Berbagai masalah tersebut dapat di atasi dengan melakukan komunikasi , prograkm pembelajaran , melibatkan
karyawan atau individu , penerapan peraturan dan prosedur prosedur yang baru .dan di lain pihak usaha
meningkatkan inverstasi teknologi informasi harus didukung untuk menunjang kesuksesan perusahaan melalui
peningkatkan kinerja perusahaan .
TEKNOLOGI INFORMASI DALAM SUPPLY CHAIIN
Teknologi informasi memberikan sesuatu kerangka kerja untuk kerjasama antar mitra bisnis melalui media
elektronik baik maupun komunikasi sehingga dapat mendirikan manfaat dalam meningkatkan keunggulan
kompetitif , menurunkan biaya oprasional dan mencapaidan koordinasi yang lebih tinggi diantara mitra bisnis
dalam rantai pasokan .
Internet merupakan jaringan komputer global yang terdiri atas beberapa sub jaringan yang ada di seluruh
dunia yang dapat di akses oleh siapapun ,dimanapun dan kapanpun .
Internet merupakan jaringan yang menghubungkan seluruh karyawan dalam satu perusahaahan tanpa
mengenal batas geografis .ekstranet merupakan jaringan komputer yang menghubungkan sistem jaringan
perusahaan dengan sistem jaringan mitra bisnisnya , berkembangnya teknologi informasi yang pesat
memberikan banyak peluang bagi terselenggarannya aktivitas bisnis terutama yang berbasis elektroniknya e-
commerce , e-customer dan e-market yang merupakan menifestasi ide ide bisnis dalam perekonomian digital .
dalam kondisi ini , kepercayaan dan sikap profesionalisme harus di jaga dengan baik untuk menghasilakan
kinerja saling menguntungkan antar berbagai pihak .
TEKNOLOGI INFORMASI : FASILIATATOR DALAM SCR
Manajemen rantai pasokan merupakan wujud implementasi strategi sistem jejaring bisnis dalam membangun
hubungan antar perusahaan yang berbasis pada oordanasi. Dua alasan utama di bangunnya hubungan antar
perusahaan dalam suatu jejaring bisnis berbasis koordinasi adalah :
1 . untuk menghadapi perbedaan atau ketidaksesuaian antar produk dalam jejaring bisnis yang berbeda yang
mempengaruhi konsumen dan untuk melengkapi sistem bersaing satu sama lain.
2. untuk meningkatkanefisiensi pemasok dalam mengembangkan srategi yang efektif sehingga tidak
berdampak negatif pada kualitas dan realibilitas produk .
DAmours et al. (1996) mengemukakan bahwa teknologi informasi dan sistem sistem yang terkait telah
menstransformasi cara perusahaan dalam menggunakan rantai pasokan sehingga memberikan perbedaan
dalam prioritas kompetitif .menurutnya persaingan akan berubah , tidak lagi perusahaan bersaing dengan
perusahaan tetapi rantai pasokan bersaing dengan rantai pasokan .
Dalam persaingan bisnis saat ini , perusahaan tidak lagi di pandang sebagai peruhaan secara individu
melainkan sekumpulan patner dalam perdagangan yang melakukan kontrak dengan perusahaan , perusahaan
logistik, dan organisasi distribusi. Pada level intraorganisasional ,intregasi dapat di capai dengan lebih mudah
jika perusahaan mengadopsi sistem ERPkarena sistem ini memberikan perbaikan kepuasan konsumen , dan
meningkatkan produktifitas.
PENGEMBANGAN SISTEM KORPORAT TERPADU
Konsep supply chain memperlihatkan proses ketergantungan antar berbagai perusahaan yang terkait dalam
sebuah sistem bisnis yang mencakup tiga aliran utama yaitu aliran produk dan jasa ,aliran uang ,dan aliran
dokumen .
Teknologi informasi merupakan sat set proses ,alat ,metode dan alat pelengkap yang di gunakan untuk
memproduksi barang dan jaasa dalam kegiatan oprasional yang digunakan untuk memproduksi barang dan
jasa dalam kegiatan operasional perusahaan . tugas utama teknologi informasi dalam sistem informasi terpadu
adalah mengumpulkan menciptakan dan mengelolah data mentah yang berasal dari transaksi atau aktivitas
bisnis sehingga menjadi informasi danpengetahuan yang berguna bagi para stakeholder.
Mengingat pentingnnya peran teknologi informasi dalam mencapai agile supply chain management , perlu
dikembangkan suatu arsitektur sistem informasi korporat terpadu .konsumen merupakan faktor penentu
keberaan sebuah bisnis, sehingga mereka membuthkan informasi yang terkait dengan produk atau jasa yang
mereka beli .
Tahap croos functional business unit merupakan pekembangan modul aplikasi untuk fungsi bisnis tertentu
seperti keperluan transaksi pembelian ,penyusunan laporan keuangan , dan pencetakan slip gaji pegawai.
Tahap inter enterprise community merpakan hasil dari berbagai hubungan terintegrasi sistem informasi antar
perusahaan yang ada dalam komunitas bisnis , sehingga membentuk jejaringan sistem informasi yang sangat
besar dan luas cakupannya .
REVIEW PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP MENCAPAI KEUNGGULAN KOMPETITIF
Perkembanganteknologi memiliki peran penting dalam perkembangan lingkungan bisnis tertama pada era
globalisasi ekonomi . perkembangan tersebut membawa pergeseran paradigma teknologi dari competing
appoarch , dominant apporch , competing basic design , dan dominant designt yang masing masing memiliki
fitur fitur yang berbeda beda .
Terkait dengan isu isu di bidang manajemen operasi , manajer operasi memiliki tugas dan tanggung jawab
untuk memilih untuk memilih teknologi yang tidak hanya efisiensi tetapi dapat memberikan perlindungan
terhadap lingkungan dan memenuhi kebutuhan sosial . aplikasi komputer dalam bisnis dalam bisnis meliputi
beberapa ha diantaranya pengenalan produk terpadu , desain proses , forecasting , dan pengendalian produksi
dan persediaan .
Pentingnya peran teknologi berbasis komputer inilah yang mendasari aliansi antara IBM dan apple yang
semula merupakan persaingan dan menjadi patner bisnis .melihat pentingnya aplikasi teknologi dalam
kegiatan operasional perusahaan , maka satu hal penting yang di perlukan adalah strategi teknologi .
SISTEM INFORMASI INTERORGANISASIONAL : STRATEGI MEMINIMALKAN BLL WHP EFFECT
KONSEP SPPY CHAIN MANAGEMENT
Konsep supply chains management SCM bukan merupakanisu baru dalam bidang manajemen operasi .konsep
ini merupakan pengembngan dari sistem logistik , yang menkankan pada bagaimana perusahaan menjamin
tesediannya barang untuk konsumen .
Tujuan membangun SCM adalah untuk memperkuat hubungan hubungan baik antara manufaktur dengan
pemasok dan saluran distribusinya .artinya manufaktur perlu menyertakan mereka baik dalam resiko ataupun
peluang bisnis denga pembagian respobility sebagai sesama produsen .
Seluruh elemen dalam SCM tidak dapat berjalan secara terpisah , tetapi harus merupakan satu kesatuan
sehingga akan menghasilkansinergi .dalam rantai pasokan yang terpenting adalah saling berbagai informasi ,
oleh karna itu dalam aliran material aliran kas dan aliran informasi merupakan keseluruhan elemen dalam
supply chain yang perlu diintegrasikan.
BULLWHIP EFFECT DALAM SUPPLY CHAIN
Information sharing merupakan masalah penting dalam pengelolaan rantai pasokan (dagherly dan slank 1995
pramkumar 2000) .aliran informasi dari hilir yang tidak tepat dapat menimbulkan banyak masalah yang
berdampkak pada total biaya prodksi , misalnya kemungkinan stcok out yang dapat menyebabkan rush order ,
terjadinya kelebihan stock out yang menyebabkan phantom order .
Dihadapka pada permasalahan bullwhip effect yang tidak mungkin dapat di hindari oleh perusahaan
,perusahaan yang tergabung dalam suatu rantai pasokan dapat saling berbagi informasi tentang data
penjualan yang nyata ,data pemesanan , dan data penggunaan kpasitas pabrik dan jadwal pengiriman .
Beberapa faktor penentu kesuksesasan yang harus di perhaikan dalam penelolaaan manajemen rantai pasokan
, diantarannya adalah :
1 . proses informasi
Aliraan inforamsi baik dari hulu ataupun hilir sangat penting , sehingga proses pembagian informasi di
sepanjang rantai pasokan perlu di perhatikan untuk dapat mengatasi masalah bullwhip effect .
2. biaya transaksi
Ketidakpastian permintaan yang semakin tinggi akan menimbulkan biaya interaksi yang lebih tinggi . hal ini
terjadi karna kemngkinan akan timbul rush order ataupun stock out lebih besar .
3. integrasi aliran persediaan
Strategi aliran persediaan dalam rantai pasokan strategi aliran persediaan yang terintegrasi untuk mencegah
timbulnya optimasi lokal
4. information sharin
Aliran information downstream mencakup perubahan informasi tentang kapasitas pabrik , jadwal pengiriman
dan informasi produk .dan aliran informasi upstream mencaku pemesanana, peramalan penjualan ,informasi
penjualan dan matrik kinerja supply shains.
PERAN SISTEM INFORMASI RANTAI PASOKAN
Merebaknya pengaruh globalisasi , pergeseran paradigma ke arah konvergensi teknologi digital , intellectual
property , dan supremasi pelanggan dalam kehidupan organisasi perusahaan organisasi peruhaan , semakin
ketatnya perssaingan bisnis da semakin singkatnya siklus hidup produk dan jasa yang di tawarkan serta
meningkatnya tuntutan selera konsumen terhadap produk dan jasa yang di tawarkan mengakibatkan
pentingnya aplikasi teknologi informasi dalam aktivitas bisnis.
Perkembanga teknologi informasi di satu sisi memeang menguntungkan tetapi di sisi lain dapat menimbulkan
beberapa masalah .untuk pengadaan teknologi informasi di perlukan biaya yang tidak sedikit , tidak hanya
membutuhkan pengetahuan dan kemampuan teknis namun sistem dan teknologi informasi tersebut harus
acceptable artinya dapat di terima orang orang yang akan mengunakannya.
Pada level interorganisasional , integrasi dapat di capai dengan lebih mudah jika menggantikansistem
informasi modal ERP .sistem ERP memberikan perbaikan kepuasan konsumen dan meningkatkan produktivitas
. tapi ERP juga punya keterbatasan yaitu kustomisasi dalaam mendukung proses bisnis dan rantai pasokan
dalam mendukung proses bisnis dan rantai pasokan secara keseluruhan .
INFORMATION SHARING : SOLUSI MASALAH BULLWHIP EFFECT
Keterlibatan banyak pihak dalam rantai pasokan termasuk patner bisnis menimbuikan masalah terkait dengan
respon konsumen maupun penghantaran solusi inovation . integrasi rantai pasokan memerlukan penyelesain
sekuritas , fleksiibilitas dan interoperability sehingga tercapai trantai pasokan yang efektif dan efisien .
Peran sistem informasi dalam mensuksesan integrasi rantai pasokan tidak dapat dipungkiri .sistem informasi
menciptakan kesuksesaan link antara konsumen dan pemasok secara langsung yang memungkinkan pemasok
untuk respon perubahan pasar shingga permintaan dan penawaran dalam pasar dapat seimbang .
TEKNOLOGI DALAM RANTAI PASOKAN
Globalisai telah mengubah prespekit manajemen dari pandangan berbasis pasar kepada pndangan berbasis
sumber daya . pandangn berbasis pasar menetapkan bahwa perusahaan harus mendefinisikan pasar mereka
ssecara luas .
Tujuan utama manajemen teknologi adala untuk menciptakan nilai mengembangkan kapabilitas dan
mencapain keunggulan kompetitif .hal ini snagat tergantung pada bagaimana sebuah perusahaan dapat
menciptakana pelanggan baik dalam hal baik dalam hal penawar harga yanglebih rendah maupun pemberian
keuntungan yang unik bagi konsumen .
TEKNOLOGI MANUFAKTUR : STRATEGI MEMPERBAIKKI KAPABILITAS TEKNOLOGI
Teknologi menjadi elemen penting dalam persaingan bisnis saat ini . melalui implementasi teknologi ,
perusahaann dapat bersaing dalam persaingan bisnis dengan pemahaman dan pemenuhan keingingan dan
kebutuhan konsumen .
Teknologi produk adalah teknologi yang telah di gunakan untuk menerjemahkan ke dalam produk maupun jasa
bagi konsumen . hal ini membutuhkan kerjasama yang erat dengan bidng pemasaran untuk menenmukan apa
yang sebenarnya diinginkan bagaimana barang dan jasa dapat di prosuksi secara efektif .
MRP merupakan program komputer untuk mengelola barang dan aktifitas dalam proses .tujuan utama adalah
untuk memenimalkan persediaan pada setiap tahapan akuisisi proses distribusi .pengembangan teknologi
dapat diaplikasikan melalui beberapa cara seperti memperkenalkan teknologi baru untk mengadopsi dan
memperbaiki kapabilitas operasional dan teknikal ,mengingatkan keterampilan dan keahlian melalui pelatihan
dan pendidikan atau menugaskan karyawan untuk mengikuti seminar dan workshop .
TEKNOLOGI INFORMASI SEBAGAI FASILITAS INFORMATTION
IT enabler sebagai faktor intraorganisasional yang memiliki pengaruh terhadap information sharing dan
kualitas informasi dalam manajemen rantai pasokan .beberapa peneliti menegaskan bahwa dukungan
manajemen puncak merupakan faktor penentu yang paling penting untuk menjamin terjadingnya perubahan
dan menjamin kelancaran information sharing di sepanjang rantai pasokan .
Dalam penelitian ini di gunakan lima IT enabler yang didentifikasi sebagai faktor yang mempengaruhi
information sharing dan kualitas . keliama IT enabler tersebut adalah :
1. ELEKTRONIK DATA INTERCHANGE (EDI)
Berperan dalam proses transfer data dalam format elektroik dari satu program komputer suatu perusahaan ke
salah sat atau lebih program organisasi.
1. ELECTRONIC FUND TRANSFER (EFT)
Berperan dalam proses transfer sejumlah uang dari satu rekening ke rekening lain melalui value added
network (van) ATAU INTERNET
1. INTERNET
Sebuah jaringan umum dan global yang memberikan konektivitas secara langsung kepada satiap oarang dalam
suatu local area network (LAN) ATAU INTERNET SERVICE PROVIDER (ISP)
1. INTRANET
Suatu LAN dalam perusahaan atau wide area network WAN yang menggunakan teknologi intranet dan
menjamin keamanan data dan informasi perusahaan .intranet mendukung proses information sharing dan
proses bisnis internal perusahaan .
1. EKSTRANET
Suatu jaringan kerja yang terkait dan menggunakan tekknologi internet untuk dapat melakukan link dengan
mitra bisnis dan dapat memberikan keamannan dan privasi
Internet merupakan jaringan komputer global yang terdiri atas beberapa sub jaringan yang ada di seluruh
dunia yang dapaat di aksses oleh siapapun dimanapun kapanpun .internet merupakan jaringan komputer yang
menghubungkan seluruh karyawan dlam suatu perusahaan tanpa mengenal batas geografis ,misalnya satu
perusahaan dengan dengan kantor pusat di jakarta dan memiliki kantor kantor cabang di surabaya yogyakarta
semarang dan bandung tergabung dalam suatu jaringan komputer di bawah aplikasi internet meningkatkan
efisiensi dan efektifitas proses komunikasi.
TECHNOLOGY INTELENGENCE UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING PERUSAHAAN
Perusahaan seeringkali melakukan investasi teknologi baru dengan harapan dapat memperoleh keunggulan
diabndingkan para pesaingnnya. Teknologi intelegencememberikan penggambaran tentang perubahan
teknologi dimasa yang akan datang ,TI memberikan dukungan bagi perusahaan untuk mengidentifikasikan
memehami dan mengadopsi perubahan teknologi yang terjadi untuk mengantisipasi tren perubahan teknologi.
Technology intelligency memiliki beberapa fungsi utama .pertama memberikan pemahaman tentang
perubahan saat ini dan perubahan potensional yang terjadi dalam suatu lingkungan bsinis .intellegencce
technology merupakan sumber ide pemahaman yang kaya dalam konteks dimana perusahaan beroprasi .
Pada akhirnya kesimbangan antara pengembangan teknologi dalam internal dan eksternal perusahaan penting
dalam menciptakan dan menetapkan kapabilitas teknollogi organisasi .adopsi teknologi dan teknik oprasi baru
telah terbukti memiliki pengaruh posotif pada kinerja perusahaan seperti pada payroll size ,asset size ,financial
rating and operating problem . kesuksesan implementasi strategi dan operasional menignkat tergantung pada
kemampuan pemasaran dan operasional untuk bekerjasama secara harmonis .
PERAN RESERCH AND DEVELOPMENT DALAM PENINGKATAN KAPABILITAS TEKNOLOGI
Penentuan suatu kebijakan teknologi selama ini banyak didasarkan pada anggapan bahwa produktifitas suatu
negara sangat tergantung pada kegiatan penelitian dan pengembangan .fakta fakta empiris mengenai
hubungan prilaku antara teknologi impor dan lokal menghasilkan kesimpulan yang tidak kuat .
Di samping itu menurut mansfield ,mode alih teknologi juga dapat menjadi faktor yang penting dalam
menentukan pola hubungan antara teknologi impor clan r&d ,misalnya pengaruh impor teknologi melalui
lisensi (kolaborasi teknologi yang murni) oleh perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dan di kontrol oleh pemilik
lokal terhadap r&d lokal
Aktivitas r&d tidak memainkan peran yang signifikan dalam tahap tahap awal perkembangan industri .peranan
r&d baru akan menjadi penting ketika kapabilitas teknolgi semakain besar dan menjadi penting ketika
kapabilitas teknologi semakain besar dan perusahaan perusahaan menggunakan teknologi yang lebih maju .
Banyak studi telah menemukan bahwa r&d memberikan rate of retrun yang tinggi ,lebih tinggi dari rate of turn
yang dihasilkan oleh bangunan mesin dan peralatan .dengan melakukan perdagangan suatu negara
berkembang dapat meningkat produktifitasnya dengan cara mengekspor dan mengimpor sejumlah variasi
barang antara dana peralatan kapital yang mengandung [engetahuan asing hasil dari akumulasi aktivitas r&d di
negara negara industri maju.
ISU-ISU KONTEMPORER SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
AGILE SUPPLY CHAIN MANAGEMENT : STRATEGI BERBASIS COMPETITIVE EXCELLENCE
BAB 4
ISU BARU DALAM SUPPLY CHAIN
Persaingan bisnis dalam era globalisasi yang diwarnai dengan ketidakstabilan pasar, menuntut prusahaan
untuk memiliki keunggulan kompetitif baik dalam hal harga maupun kualitas. Dalam kegiatan operasionalnya,
perusahaan dihadapkan pada kenyataan bahwa kompetensi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai
tujuan tersebut sulit diperoleh. Untuk mengatasinya, perusahaan dituntut meelakukan kerjasama dalam
sumber daya atau kompetensi yang dibutuhkan masing-masing perusahaan dalam menghasilkan kebutuhan
sesuai permintaan dan kebutuhan konsumen melalui manajemen rantai pasokan (supply chain management ).
Selain itu, melalui kerjasama antar perusahaan diharapkan proses inovasi dapat ditingkatkan.
Kemampuan dalam memenuhi permintaan konsumen dan pasar dengan waktu tunggu dan waktu pengiriman
yang pendek merupakan tolak ukur untuk menilai tingkat respon perusahaan terhadap permintaan konsumen.
Agile supply chain memberikan suatu alternative strategi dalam memenangkan persaingan global dengan
berbasis competitive excellence yaitu fokus konsumen, kualitas, dan agility yang didukung kompetensi
perusahaan seperti keterlibatan konsumen, manajemen persediaan, teknologi, pengembangan produk, dan
tanggung jawab terhadap lingkungan.
Teknologi informasi mnjadi salah satu pendorong bagi terciptanya integrasi rantai pasokan termasuk juga
makin kompleksnya permintaan konsumen, makin kompetitifnya kompetisi global dan peningkatan keinginan
perusahaan untuk menjadi perusahaan yang inovatif dan mampu menjadi yang pertama dalam mengenalkan
produk baru sesuai kebutuhan pasar. Tulisan ini membahas agile supply chain sebagai suatu stratgi alternatif
dalam memenangkan persaingan global dengan berbasis pada competitive excellence.
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN DALAM ERA BISNIS TEKNOLOGI MAJU
Perencanaan bisnis dalam lingkungan bisnis teknologi tinggi sangat dinamis dan kompleks sehingga dalam
pengambilan keputusan bisnis di perlukan perubahan dari suatu simulasi model dalam sistem pendukung
keputusan. Hal tersulit dihadapi pemanufaktur adalah bagaimana mengintegrasikan fungsi upstream dan
downstream. Seiring perkembangan dan tuntutan dalam kompetisi bisnis, praktik-praktik manajemen rantai
pasokan telah mengalami pergeseran paradigma dari tradisional supply chain, lean supply chain, hingga agile
supply chain. Tradisional supply chain menitikberatkan pada upaya melakukan proteksi dan menekankan pada
biaya dan keuntungan, bukan pada proses untuk mencapai tujuan kompetitif perusahaan. Lean supply chain
merupakan integrasi upstream dan downstream antara pemasok dan konsumen yang memiliki sasaran
kompetitif yang signifikan. Agile supply chain menitikberatkan pada tingginya kerjasama tidak hanya dengan
pemasok dan konsumen tetapi juga dengan pesaing, integrasi data,dan kerjasama perusahaan dalam proses
pabrikasi.
Pergeseran paradigma ke arah agile supply chain yang menekankan pada integrasi tersebut, memungkinkan
penciptaan nilai dan transfr proses dari pemasok ke konsumen akhir dengan pergerakan aset fisik, informasi,
pengeetahuan, dan peralatan seperti penggunaan teknologi dalam proses produksi secara baik. Penciptaan
nilai pelanggan yang superior sangat tergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan yang terlibat
dalam rantai pasokan, dalam meningkatkan kinerja perusahaan yang merupakan sasaran yang hendak dicapai
perusahaan.
Selain itu kondisi hubungan atau kerjasama antar peerusahaan juga memiliki pengaruh kuat dalam
mewujudkan terciptanya superior customer value. Oleh karena itu kualitas hubungan memfasilitasi penciptaan
nilai superior bagi pelanggan. Hubungan kerjasama antar perusahaan ini juga membantu perusahaan dalam
memelihara dan memperbaiki kapabilitas kompetitif perusahaan.
AGILITY : DEFINISI DAN ATRIBUT
Agility merupakan kapabilitas bisnis mencakup struktur organisasi, sistem informasi, proses logistik, dan juga
pola pikir organisasi yang cakap/tangkas dan fleksibel untuk merespon setiap perubahan yang terjadi secara
cepat. Karakteristik inti organisasi yang agile adalah fleksibel dan dapat mererspon secara cepat permintaan
konsumen, perubahan volume produk dan jadwal. Agility terkait dengan perubahan harga, kualitas,
kustomisasi, dan pengiriman tepat waktu. Agility memiliki empat prinsip dasar yaitu memberikan nilai bagi
konsumen, kesiapan untuk berubah, penilaian terhadap pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia,
dan pembentukan virtual partnership. Untuk menjadi organisasi yang agile diperlukan agility capabilities
sebagai competitive excellence, yang dapat dicapai melalui empat area yaitu organisasi, sumber daya manusia,
teknologi, dan inovasi.
Kapabilitas agility dibagi dalam empat kategori atribut yaitu responsiveness, competencies, flexibility, dan
quickness. Responsiveness merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi perubahan dan merespon
perubahan tersebut secara cepat. Competencies merupakan kemampuan untuk memberikan produktivitas,
efisiensi, dan efektivitas aktivitas bisnis untuk mendapat tujuan perusahaan. Flexibility merupakan
kemampuan memproses produk yang berbeda dengan fasilitas yang sama yaitu mencakup fleksibilitas volume
produk, model produk, dan isu organisasi. Quickness merupakan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-
tugas dan kegiatan operasi dalam waktu yang paling pendek mencakup pengenalan produk baru, kecepatan
pengiriman produk dan jasa, dan kecepatan waktu operasi.
AGILE SUPPLY CHAIN : DEFINISI DAN DIMENSI
Rantai pasokan menggambarkan serangkaian aktivitas yang paling terkait diantara perusahaan-perusahaan
yang memberikan kontribusi dalam proses desain, pabrikasi, dan pengiriman produk atau jasa ke konsumen
akhir. Tujuan utama agile supply chain adalah penciptaan nilai dan kepuasan pelanggan atau konsumen
melebihi kompetitor, mencapai kustomisasi masa pada biaya produksi masa, dan meningkatkan peran dan
keterlibatan sumbr daya manusia dalam pengugnaan teknologi informasi.
Mengidentifikasi empat dimensi agile supply chain, yaitu . 1) Customer sensitivity memfokuskan pada upaya
untuk mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah. 2) Virtual integration,
menekankan pada respon cepat dalam pergerakan produksi yang stabil. 3) Process Integration melalui
pengelolaan tim. 4) Network Intergration .
Customer sensitivity memiliki arti bahwa rantai pasokan harus memiliki kapabilitas dalam membaca dan
merespon permintaan pasar. Penggunaan teknologi informasi diperlukan untuk berbagai data antara pemasok
dan pembeli yang dapat mempengaruhi penciptaann virtual supply chain yang berbasis informasi. Integrasi
virtual, dimensi ketiga mencakup akses informasi, pengetahuan, dan kompetensi peerusahaan melalui
internet.
PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENCAPAI AGILE SUPPLY CHAIN
Untuk mengantisipasi semua perubahan dan perkembangan tersebut perusahaan mencari cara-cara dan
terobosan-terobosan baru melalui aplikasi teknologi informasi. Peningkatan integrasi otomatisasi proses bisnis
akan membawa dampak pada pengurangan tugas manual. Demikian juga infrastruktur teknologi informasi
yang terintegrasi diharapkan dapat menurunkan biaya terkait dengan biaya pemeliharaan, manajemen,
operasional dan mendukung pencapaian keunggulan kompetitif melalui perbaikan real time respon. Semula
teknologi informasi digunakan hanya trbatas pada pemrosesan data, dengan berkembangnya teknologi
tersebut hampir semua aktivitas organisasi telah dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi.
Penggunaan teknologi informasi pada aktivitas perusahaan seperti pada rantai nilai (value chain) dapat
mengatasi berbagai masalah yang muncul seprti penghematan biaya, mempercepat waktu oprasi,
meningkatkan produktivitas, mempercepat pengiriman produk maupun jasa pada pelanggan. Selama
beberapa tahun sebelum munculnya teknologi enterprise resources planning (ERP) sebagai suatu pendekatan
terintegrasi dalam integrasi sistem, perusahaan memfokuskan pada teknologi EDI untuk memperbaiki proses
otomatisasi proses bisnis dan rantai pasok antar perusahaan. Sisteem ERP membrikan perbaikan kepuasan
konsumeen dan meningkatkan produktivitas. Tapi ERP juga punya keterbatasan yaitu kustomisasi dalam
mendukung proses bisnis dan rantai pasokan dalam meendukung proses bisnis dan rantai pasokan secara
keseluruhan.
Perkembangan teknologi informasi disatu sisi memang menguntungkan tetapi disisi lain dapat menimbulkan
beberapa masalah. Untuk pengadaan teknologi informasi diperlukan biaya yang tidak sedikit, tidak hanya
membutuhkan pengetahuan dan kemampuan teknis namun sistem dan teknologi informasi tersebut harus
acceptable artinya dapat diterima oleeh orang-orang yang akan menggunakannya. Permasalahan lain yang
muncul dengan semakin canggihnya teknologi adalah adanya kejahatan-kejahatan teknologi informasi,
misalnya pencurian data perusahaan yang berakibat serius pada kelangsungan hidup perusahaan. Peran
penting teknologi informasi dalam merespon perkembangan lingkungan bisnis yang dinamis dan makin
kompetitif menuntut perusahaan untuk mampu mengatasi seemua permasalahan yang timbul dengan adanya
teknologi informasi dan melakukan investasi dibidang teknologi informasi sehingga kinerja perusahaan dapat
ditingkatkan.
TAHAPAN DALAM MENCAPAI AGILE SUPPLY CHAIN
Untuk tetap bersaing, perusahaan harus responsif dan fleksibel dalam memenuhi perubahan permintaan
pasar. Memperbaiki daya saing dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis internal seperti
pembelian, pergudangan, pengelolaan material, dan distribusi yang cenderung memerlukan waktu banyak dan
sumber daya finansial yang besar juga sangat diperlukan.
Venkatraman dan Henderson berpendapat bahwa agility dan kapabilitas rantai pasokan dapat dinilai melalui
tahapan yang dicapai bila tiga dimensi rantai pasokan yaitu interaksi konsumen, konfigurasi aset, dan
knowledge leverage.
Ketiga tahapan dalam rantai pasokan dapat digunakan untuk mengevaluasi ketiga dimensi tahapan rantai
pasokan. Dimensi pertama adalah interaksi konsumen. Tujuan utama pada tahap ini adalah membantu
perusahaan untuk mengidentifikasi prefensi unik untuk dynamic customization pada tahapan selanjutnya.
Dimensi kedua adalah asset configuration, menekankan pada perubahan outsourching ke dalam proses bisnis
yang independen, yang kemudian berkembang dalam koalisi sumber daya. Dimensi ketiga, knowledge
leverage, memerlukan pengembangan dari penekanan pada keahlian kerja unit atau kompetensi kerja
individual dan struktur kedalam aset perusahaan atau tim.
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan sebelumnya adalah bahwa target yang hendak dicapai dalam
setiap dimensi agile supply chain dimulai pada tingkat perusahaan secara individual kemudian meluas pada
tingkat organisasi dan unit interorganisasional dalam ketiga tahapan pencapaian agile supply chain.
PENERAPAN AGILE SCM DI BERBAGAI NEGARA
Paradigma persaingan antar jejaring bisnis yang marak berkembang saat ini makin meningkatkan kesadaran
akan pentingnya penerapan konsep Agile SCM sebagai suatu strategi untuk meningkatkan aktivitas pemasaran
dan perekonomian dalam artian yang lebih luas. Terdapat empat strategi yang ingin ditemputh oleh
pemerintah negara tersebut yaitu : pengembangan efisiensi industri-industri, mempromosikan secara intensif
aktivitas investasi.
Praktek penerapan konsep SCM dilakukan dalam berbagai industri yang menyangkut : industri tekstil, consumr
goods, otomotif, rokok, furniture, dan juga pasar swalayan. Tujuan penerapan konsep anatara lain : pada
kepuasan pelanggan, pengurangan biaya baik biaya yang terjadi pada tingkat inventory maupun pada proses
distribusi yang bisa dilakukan secara cepat sehinggak pada akhirnya pula bisa memberikan tanggapan secara
tepat atas keluhan konsumen.
Implementasi konsep SCM sangat bergantung pada berbagai hal yang muncul dari lingkungan eksternal seperti
: dukungan sosial politik, persiapan infrastruktur (telkomunikasi, transportasi), pendidikan masyarakat, dan
sebagainya. Diakui bahwa masalah infrastruktur akan menjadi hambatanluar biasa bagi penerapan teknologi
informasi. Di berbagai negara Asia masalah distribui, atau pengiriman produk terganggu oleh adanya
peraturan-peraturan yang tidak perlu yang muncul dari pihak pemerintah setempat.
Perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan konsep SCM mengakui bahwa pelaksanaan konsep ini tidak
akan berjalan dengan lancar manakala tidak didukung oleh berbagai hal yang muncul dari lingkungan
organisasi. Perusahaan dengan berbagai produk andalan seperti Milks, Instants Drinks, Culinary, Chocolates,
dan sebagainya, sejak menerapkan SCM pada empat tahun lalu mengalami banyak perbaikan dalam bidang
distribusi yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan.
PENUTUP
Agile supply chain menawarkan solusi dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan bisnis melalui
pengurangan bisnis operasi dan perbaikan pelayanan dan kepuasan konsumen.
Melalui rantai pasokan, perusahaan dapat membangun kerjasama melalui penciptaan jaringan kerja yang
terkoordinasi dalam penyediaan barang dan jasa bagi konsumen secara efisien. Sistem integrasi rantai pasokan
bisa dilakukan baik secara internal maupun eksternal.
NETWORKED SUPPLY CHAIN : PARADIGMA BARU DALAM NETWORK COMPETITION ERA
PERUBAHAN PARADIGMA PERSAINGAN BISNIS
Supply chain management (SCM) merupakan konsep pengembangan manajemen distribusi produk untuk
memenuhi permintaan konsumen yang menekankan pada pola terpadu menyangkut proses aliran produk dari
supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen akhir. Penerapan konsep ini dilakukan dalam mencapai
tujuan antara lain : pada kepuasan pelanggan, pengurangan biaya baik biaya yang terjadi pada tingkat
inventory maupun pada proses distribusi yang bisa dilakukan secara cepat sehingga pada akhirnya pula bisa
memberikan tanggapan secara tepat atas keluhan konsumen.
Informasi sangat diperlukan dalam pembuatan keputusan manajemen rantai pasokan melalui perputaran
produk maupun jasa di sepanjang jalur rantai pasokan. Pengelolaan network supply chain, selain memerlukan
adopsi teknologi informasi dan komunikasi, diperlukan pula adanya unsur kepercayaan, komitmen kerjasama
untuk dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan secara keseluruhan dan membangun daya saing rantai
pasokan. Kerjasama antar perusahaan dalam suatu jejaring bisnis dibentuk berdasarkan koordinasi sangat
diperlukan untuk dapat menghasilkan produk berkualitas tinggi sesuai permintaan dan kebutuhan pasar pada
waktu yang tepat dalam merespon tantangan bisnis yang ada.
LINIER SUPPLY CHAIN VS NETWORKED SUPPLY CHAIN
Pengelolaan suatu perusahaan akan semakin kompleks karena adanya banyak pihak yang terlibat dalam
persaingan bisnis, tidak hanya mitra bisnis perusahaan dan perusahaan sendiri, tetapi makin prusahaan
pesaing yang makin banyak dan masing-masing memiliki keunggulan dan daya saing yang berbeda. Untuk
mencapai efisiensi dan efektivitas dalam kegiatan operasional perusahaan diperlukan adanya jaminan
ketersediaan bahan baku untuk mnjamin kelancaran produksi dan ketersediaan barang jadi dalam memebuhi
tuntutan keinginan dan kebutuhan konsumen.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yangsangat pesat membawa dampak pada
perubahan anatomi rantai pasokan dari yang linier (linier supply chain/LSC) menjadi jejaring rantai pasokan
(networked supply chain/NSC). Dalam Linier Supply Chain, produk dan informasi mengalir secara linier dari
pemasok menuju pabrik sampai ke distributor dan retailer yang kemudian disampaikan kepada konsumen.
Berbeda dengan konsep linier supply chain, dalam konsep networked supply chain, produk dan informasi
dapat mengalir bebas dari satu entitas ke entitas lain tanpa hambatan dan dengan kecepatan yang sangat
tinggi karena adanya peran internet atau teknologi informasi didalamnya sehingga hubungan keterkaitan
anatar entitas perusahaanmenjadi sangat dinamis.
TEKNOLOGI INFORMASI DALAM NETWORKED SUPPLY CHAIN
Dalam networked supply chain, perusahaan tidak lagi dipandang sebagai suatu perusahaan secara individu
melainkan sekumpulan mitra bisnis yang melakukan kontrak dengan perusahaan, perusahaan logistic, dan
organisasi distribusi. Infrastruktur teknologi informasi yang terintegrasi akan menurunkan biaya terkait dengan
biaya pemeliharaan, manajemen, operasional dan mendukung pencapaian keunggulan kompetitif melalui
perbaikan real time respon.
SCM memerlukan dukungan teknologi informasi yang menjadi tulang punggung proses pendistribusian
informasi dari satu pihak ke pihak lain. Selama beberapa tahun sebelum munculnya teknologi enterprise
resource planning (ERP) sebagai suatu pendekatan terintegrasi dalam integrasi system, perusahaan
memfokuskan pada teknologi EDI untuk memperbaiki proses otomatisasai proses bisnis dan rantai pasok antar
perusahaan.
Sistem ERP memberikan perbaikan kepuasan konsumen dan meningkatkan produktivitas. Tapu ERP juga punya
keterbatasan yaitu kustomisasi dalam mendukung proses bisnis dan rantai pasokan dalam mendukung proses
bisnis dan rantai pasokan secara keseluruhan. Penggunaan sistem informasi dalam aktivitas nilai
memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan diferensiasi untuk mencapai keunggulan
kompetitif.
IMPLIKASI STRATEGIS NETWORKED SUPPLY CHAIN
Kemampuan perusahaan untuk memiliki dan mempertahankan keunggulan kompetitif merupakan salah satu
kunci keberhasilan perusahaan. Keunggulan produktivitas dicapai saat perusahaan mencapau produktivitas
tinggi yaitu jika melakukan produksi dengan volume produksi lebih tinggi sehingga biaya per satuan makin kecil
karena biaya tetap makin kecil jika dibagi dengan volume produksi makin besar, sedangkan biaya variable
tetap, sehingga biaya total makin kecil.
Keunggulan kompetitif melalui keunggulan nilai sangat menentukan kesuksesan perusahaan dalam persaingan
bisnis. Beberapa aktivitas yang mendukung keunggulan nilai diantaranya adalah mencari jenis dan tingkat
layanan yang dikehendaki oleh para konsumen, menciptakan dan mengembangkan pelayanan yang lebih baik
berdasarkan kehendak konsumen, dan layanan penyediaan barang, waktu pengiriman yang cepat, dan
pencapaian reliabilitas dan lebih responsive terhadap kebutuhan konsumen.
Dalam kondisi persaingan bisnis saat ini, kunci sukses suatu perusahaan terletak pada the triangular linkage of
company yang meliputi customers, the competitions, dan the company. Berkembangnya teknologi informasi
yang pesat dalam ekonomi digital saat ini memberikan banyak peluang bagi terselenggaranya aktivitas bisnis
terutama yang berbasis elektronik misalnya, e-commerce, e-procurement, e-customer, dan e-market yang
merupakan manifestasi ide-ide bisnis dalam perekonomian digital.
KUNCI SUKSES NETWORKED SUPPLY CHAIN: KISAH SUKSES CISCO
Salah satu kunci sukses keberhasilan perusahaan dalam persaingan adalah dengan memiliki dan
mempertahankan keunggulan kompetitif yang terletak pada kemampuan perusahaan untuk membedakan
dirinya dengan pesaingnya dan kemampuan melakukan produksi dengan biaya lebih rendah. Keunggulan
kompetitif melalui keunggulan nilai sangat menentukan kesuksesan perusahaan dalam persaingan bisnis. Pada
kenyataannya, konsumen bukan membeli barang tetapi membeli manfaat tertentu yang berada dalam suatu
barang tersebut. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu membedakan produknya dengan produk
competitor. Beberapa kunci sukses implementasi networked supply chain dapat di rangkum dalam beberapa
hal yaitu:
1) Listen to customers need and requirement,
Dengan mendengarkan suara pelanggan secara sistematik akan membantu perusahaan dalam mengarahkan
pembuatan keputusan yang berhubungan dengan atribut pelayanan dan memperbaiki sistem pelayanan
perusahaan yang kurang baik.
2) Continuously improve,
Perusahaan perlu melakukan perbaikan kinerja secara terus menerus baik dari segi operasional penguasaan
teknologi hingga pengelolaan sumber daya manusia yang terlibat dalam kegiatan operasi perusahaan.
3) Collaborate, dont just compete,
Menghadapi kondisi persaingan bisnis yang makin kompetitif khususnya dalam era persaingan antar jejaring
bisnis, perusahaan harus mampu bekerjasama dengan perusahaan lain tidak peduli apakah perusahaan
tersebut merupakan pesaing atau bukan.
4) Trust and commitment,
Kepercayaan dan komitmen merupakan salah satu syarat utama tercapainya kerjasama jangka panjang antar
perusahaan yang terlibat dalam suatu rantai pasokan.
5) Information and Communication Technologies Adoption (ICTs adoption).
Adopsi teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan karena memiliki peran besar sebagai fasilitator
yang memberikan fasilitas terjalinnya kerjasama antar perusahaan yang terlibat dalam suatu rantai pasokan.
Salah satu contoh kesuksesan implementasi networked supply chain dalam era persaingan antar jejaring bisnis
saat ini adalah kasus CISCO. CISCO merupakan sebuah perusahaan global yang menghasilkan produk berupa
operating software yaitu IOS (Internet Operating System). Dalam perkembangannya, CISCO telah banyak
mengalami perubahan dari waktu ke waktu untuk memberikan pelayanan yang memuaskan bagi karyawan.
Pemesanan konsumen disimpoan dalam ERP (Enterprise Resource planning) data base dan dikirim melalui
virtual private network. Pemasok CISCO dapat melihat pemesanan pada perusahaan CISCO karena jadwal
produksi mereka terkoneksi dengan sistem ERP CISCO. Untuk mempertahankan kualitas pelayanan terhadap
konsumen, terdapat tiga kunci sukses perusahaan yang menawarkan nilai-nilai pelanggan potensial melalui
pengembangan : Architecture, Ecosystem, dan Expertise.
PENUTUP
Perusahaan dihadapkan pada tantangan makin kompetitifnya persaingan bisnis dan kondisi lingkungan bisnis
yang turbulen dan tidak dapat diprediksi. Efisiensi dan efektivitas bisnis perusahaan harus ditingkatkan
sehingga perusahaan perlu meninjau kembali kegiatan operasi bisnis internalnya seperti pembelian,
manajemen persediaan, dan distribusi. Manajemen rantai pasokan didefinisikan sebagai integrasi proses bisnis
dari pengguna akhir melalui pemasok yang memberikan produk, jasa, informasi, dan bahkan peningkatan nilai
untuk konsumen dan karyawan. Keunggulan kompetitif melalui keunggulan nilai sangat menentukan
kesuksesan perusahaan dalam persaingan bisnis.
INTERGRAED SUPPLY CHAIN DAN DAYA SAING PERUSAHAAN : SEBUAH TELAAH LITERATUR
ERA KOMPETISI ANTAR JEJARING BISNIS
Karakteristik utama bisnis abada 21 adalah perubahan pola kompetisi dari kompetisi antar perusahaan secara
individu menjadi kompetisi antar jejaring, artinya kompetisi yang terjadi adalah antar jejaring bisnisyang
terkoordinasi dalam suatu rantai pasokan. Dalam kondisi persaingan saat ini, perusahaan harus memiliki visi
yang jelas tentang bagaimana perusahaan menjadi berbeda dengan perusahaan lain melalui produk atau jasa
yang mereka tawarkan. Untuk dapat bersaing dan memenangkan persaingan dalam kondisi bisnis saat ini,
perusahaan harus mencari dan mengimplementasikan strategi terbaik untuk aktivitas bisnis mereka tanpa
mengabaikan pesaing mereka.
Dalam hal merespon perubahan yang terjadi, perusahaan memiliki dua pilihan apakah mereka berdiam diri
menghadapi perubahan yang terjadi ataukah mengambil tindakan untuk berkembang dengan menyesuaikan
diri terhadap perubahan yang terjadi. Dalam era kompetisi antar jejaring bisnis dimana kompetisi tidak hanya
antara perusahaan secara individual, tetapi antar rantai pasokan, kemitraan berbasis koordinasi melalui suatu
rantai nilai yang terintegrasimenjadi pilihan yang terbaik. Rantai nilai yang terintegrasi didefinisikan sebagai
suatu pengembangan strategi yang dapat memenuhi keinginan konsumen. Untuk memfasilitasi aktivitas yang
terintegrasi dan proses integrasi, perusahaan perlu memfokuskan pada investasi teknologi informasi untuk
meningkatkan efisiensi operasi dan produktivitas dalam area fungsional rantai pasokan.
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN DAN RANTAI PASOKAN YANG TERINTEGRASI
Manajemen rantai pasokan dibutuhkan untuk mencapai keunggulan kompetitif, karena rantai pasokan
memberikan bermacam kesempatan untuk mengurangi biaya dan memperbaiki pelayanan terhadap
konsumen dan kepuasan konsumen. Literatur manajemen rantai pasokan seringkali memfokuskan pada
pergerakan material dan informasi untuk menyampaikan barang maupun jasa ke tangan konsumen, feedback
dari konsumen juga perlu untuk dipelajari dan dipahami tetapi jarang sekali didiskusikan. Terdapat beberapa
tujuan yang harus dicapai untuk mengimplementasikan suatu rantai pasokan yang terintegrasi yaitu
mengurangi persediaan dan biaya, meningkatkan nilai produk, meningkatkan sumber daya, akselerasi time to
market, dan mempertahankan konsumen.
Pergerakan informasi diperlukan untuk menghubungkan setiap pihak dalama rantai pasokan dan
memungkinkan aktivitas ekonomi terjadi di sepanjang rantai pasokan. Dalam rantai pasokan, semua
stakeholder memeiliki peran, bukan hanya perusahaan seperti pemasok saja. Manajemen rantai pasokan
membahas hubungan antar perusahaan dalam suatu rantai pasokan melalui kolaborasi vertical. Sedangkan
rantai pasokan terintegrasi memiliki perspektif lebih luas yang mengakibatkan lebih luasnya kerjasama, tidak
hanya kolaborasi vertical, kolaborasi horizontal, bahkan kolaborasi lateral.
INTERGRATED SUPPLY CHAIN AND MANUFACTURING COMPETITIVENESS
Integrasi rantai pasokan dikembangkan atas dasar dua keputusan. Pertama, pergerakan material yang memiliki
efek pada aktivitas ekonomi, dan kedua, kerangka krja institusional yang membentuk proses produksi dan
konsumsi yang mendukung proses pergerakan informasi. Untuk mendukung semua aktivitas fungsional yang
terintegrasi dalam rantai pasokan, arsitektur sistem informasi harus dapat mengkoordinasi sistem informasi
dalam setiap perushaan yang terlibat di dalamnya. Sangatlah mustahil untuk mencapai keefektifan dalam
pengelolaan rantai pasokan tanpa peran teknologi informasi.
Suatu sistem informasi interorganisasional memiliki efek positif pada semua perusahaan yang tergabung
dalam suatu rantai pasokan untuk melakukan proses penyebaran informasi. Penggunaan teknologi informasi
akan memperbaiki pelayanan konsumen dalam hal penyediaan informasi tentang produk, pelayanan, dan
informasi yang sangat diperlukan dalam kondisi persaingan bisnis saat ini. Keunggulan kompetitif dapat dicapai
jika perusahaan memiliki produktivitas tinggi, artinya jika perusahaan memproduksi pada volume lebih tinggi
sehingga biaya produksi rata-rata dapat dikurangi, sementara biaya tetap nilainya tetap, maka total biaya yang
akan ditanggung oleh perusahaan akan lebih rendah.
Terdapat beberapa aktivitas yang harus dipertimbangkan untuk mengelola keunggulan kompetitif perusahaan
melalui nilai-nilai konsumen seperti menciptakan dan mengembangkan pelayanan konsumen yang berkualitas
berdasarkan pada kebutuhan dan keinginan konsumen untuk menjamin ketersediaan barang dan jasa,
pengiriman tepat waktu, dan responsif terhadap konsumen. Kolaborasi dalam rantai pasokan memerlukan
koordinasi semua aktivitas yang berbeda dan adanya saling keterkaitan dalam rantai pasokan.
Untuk mengatasi dan mengendalikan ketidakpastian yang ada, penting bagi perusahaan untuk
mengidentifikasi dan memahami penyebabnya, menentukan bagaimana ketidakpastian akan mempengaruhi
setiap aktivitas dalam suatu rantai pasokan. Perusahaan harus mampu mengidentifikasi, merekrut, dan
mengelola kerjasama yang dikembangkan. Pengelolaan ini memerlukan dukungan komunikasi antar
perusahaan yang terlibat dalam kerjasama.