Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH FARMASI BAHARI

APLIKASI KITOSAN DALAM BIDANG FARMASI





Disusun oleh:
Karina Novita Sari 260110110153




FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014
APLIKASI KITOSAN DALAM BIDANG FARMASI


1. Pendahuluan
Kitosan adalah suatu polisakarida yang diperoleh dari hasil deasetilasi kitin,
yang umumnya berasal dari limbah kulit hewan Crustacea. Kitosan memiliki sifat
relatif lebih reaktif dari kitin dan mudah diproduksi dalam bentuk serbuk, pasta, film,
serat. (Agustini, 2007).
Kata kitin berasal dari bahasa Yunani, yaitu chiton, yang berarti baju
rantai besi. Kata ini menggambarkan fungsi dari material kitin sebagai jaket
pelindung pada invertebrata. Kitin pertama kali diteliti oleh Bracanot pada tahun
1811 dalam residu ekstrak jamur yang dinamakan fugine. Pada tahun 1823, Odier
mengisolasi suatu zat dari kutikula serangga jenis elytra dan mengusulkan nama
Chitin. Pada umumnya kitin dialam tidak berada dalam keadaan bebas, akan tetapi
berikatan dengan protein, mineral, dan berbagai macam pigmen.
Walaupun kitin tersebar di alam, tetapi sumber utama yang digunakan untuk
pengembangan lebih lanjut adalah jenis udang-udangan (Crustaceae) yang dipanen
secara komersial. Limbah udang sebenarnya bukan merupakan sumber yang kaya
akan kitin, namun limbah ini mudah didapat dan tersedia dalam jumlah besar sebagai
limbah hasil dari pembuatan udang.
Kitin adalah biopolimer polisakarida dengan rantai lurus, tersusun dari 2000-
3000 monomer (2-asetamida-2-deoksi-D-glukosa) yang terangkai dengan ikatan 1,4-
b-gliksida. Kitin memiliki rumus molekul [C
8
H
13
NO
5
]
n
dengan berat molekul 1,210-
6 Dalton ini tersedia berlebihan di alam dan banyak ditemukan pada hewan tingkat
rendah, jamur, insekta dan golongan Crustaceae seperti udang, kepiting dan kerang.
Kitin berbentuk serpihan dengan warna putih kekuningan, memiliki sifat tidak
beracun dan mudah terurai secara hayati (biodegradable).
Sebagai material pendukung Crustaceae, kitin terdapat sebagai
mukopolisakarida yang berdisosiasi dengan CaCO
3
dan berikatan secara kovalen
dengan protein. Pemisahan CaCO
3
dari protein lebih mudah dilakukan karena garam
anorganik ini terikat secara fisik. Menurut Knorr (1984), HCl dengan konsentrasi
lebih dari 10 % dapat secara efektif melarutkan mineral Ca dan menghasilkan CaCl
2
.
Kitosan adalah produk deasetilasi kitin yang merupakan polimer rantai
panjang glukosamin (2-amino-2-deoksi-D-Glukosa), memiliki rumus molekul
[C
6
H
11
NO
4
]
n
dengan bobot molekul 2,510-5 Dalton. Kitosan berbentuk serpihan
putih kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa. Kadar chitin dalam berat udang,
berkisar antara 60-70 persen dan bila diproses menjadi kitosan menghasilkan yield
15-20 persen.
Kitosan merupakan senyawa dengan rumus kimia poli(2-amino-2-dioksi--D-
Glukosa) yang dapat dihasilkan dengan proses hidrolisis kitin menggunakan basa
kuat. Saat ini terdapat lebih dari 200 aplikasi dari kitin dan kitosan serta turunannya
di industri makanan, pemrosesan makanan, bioteknologi, pertanian, farmasi,
kesehatan, dan lingkungan. (Balley, et al, 1977).
Khitosan merupakan bahan kimia multiguna berbentuk serat dan merupakan
kopopolimer berbentuk lembaran tipis, berwarna putih atau kuning, tidak berbau.
Kitosan merupakan produk diasetilasi kitin melalui proses kimia menggunakan enzim
kitin diacetilase (Rismana,2001).

Struktur molekul kitin dan kitosan

Cangkang kepala udang mengandung 20-30% senyawa kitin, 21% protein dan
40-50% mineral. Kitin merupakan polisakarida terbesar kedua setelah selulosa yang
mempunyai rumus kimia poli(2-asetamida-2-dioksi--D-Glukosa) dengan ikatan -
glikosidik (1,4) yang menghubungkan antar unit ulangnya. Struktur kimia kitin mirip
dengan selulosa, hanya dibedakan oleh gugus yang terikat pada atom C2. Jika pada
selulosa gugus yang terikat pada atom C2 adalah OH, maka pada kitin yang terikat
adalah gugus asetamida. (Muzzarelli, 1985)
Secara umum, cangkang kulit udang mengandung protein 34,9 %, mineral
CaCO
3
27,6 %, chitin 18,1 %, dan komponen lain seperti zat terlarut, lemak dan
protein tercerna sebesar 19,4 % (Suhardi, 1992). Chitin merupakan polisakarida yang
bersifat non toxic (tidak beracun) dan biodegradable sehingga chitin banyak
dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Lebih lanjut chitin dapat mengalami proses
deasetilasi menghasilkan kitosan.
Kitosan, mempunyai bentuk mirip dengan selulosa, dan bedanya terletak pada
gugus rantai C-2. Proses utama dalam pembuatan kitosan, katanya, meliputi
penghilangan protein dan kendungan mineral melalui proses kimiawi yang disebut
deproteinasi dan demineralisasi yang masing-masing dilakukan dengan menggunakan
larutan basa dan asam. Selanjutnya, kitosan diperoleh melalui proses deasetilasi
dengan cara memanaskan dalam larutan basa. Karakteristik fisiko-kimia kitosan
berwarna putih dan berbentuk kristal, dapat larut dalam larutan asam organik, tetapi
tidak larut dalam pelarut organik lainnya. Pelarut kitosan yang baik adalah asam
asetat.
Adanya gugus fungsi hidroksil primer dan sekunder mengakibatkan kitosan
mempunyai kereaktifan kimia yang tinggi. Gugus fungsi yang terdapat pada kitosan
memungkinkan juga untuk modifikasi kimia yang beraneka ragam termasuk reaksi-
reaksi dengan zat perantara ikatan silang, kelebihan ini dapat memungkinkannya
kitosan digunakan sebagai bahan campuran bioplastik, yaitu plastik yang dapat
terdegradasi dan tidak mencemari lingkungan.
Jika sebagian besar gugus asetil pada kitin disubsitusikan oleh hidrogen
menjadi gugus amino dengan penambahan basa konsentrasi tinggi, maka hasilnya
dinamakan kitosan atau kitin terdeasetilasi. Kitosan sendiri bukan merupakan
senyawa tunggal, tetapi merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan
derajat deasetilasi beragam. Kitin adalah N-asetil glukosamin yang terdeasetilasi
sedikit, sedangkan kitosan adalah kitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin, tetapi
tidak cukup untuk dinamakan poliglukosamin. Kitosan relatif lebih banyak digunakan
pada berbagai bidang industri kesehatan dan terapan karena kitosan dapat dengan
mudah berinteraksi dengan zat-zat organik lainnya seperti protein.
Kitosan dapat diperoleh dengan mengkonversi kitin, sedangkan kitin sendiri
dapat diperoleh dari kulit udang. Produksi kitin biasanya dilakukan dalam tiga tahap
yaitu: tahap demineralisasi, penghilangan mineral; tahap deproteinasi, penghilangan
protein; dan tahap depigmentasi, pemutihan. Sedangkan kitosan diperoleh dengan
deasetilasi kitin yang didapat dengan larutan basa konsentrasi tinggi. Purwatiningsih
(1992) melaporkan bahwa NaOH 50% dapat digunakan untuk deasetilasi kitin dari
limbah kulit udang.
Deproteinasi menggunakan natriun hidroksida lebih sering digunakan, karena
lebih mudah dan efektif. Pada pemisahan protein menggunakan natrium hidroksida,
protein diekstraksi sebagai natrium proteinat yang larut. Secara umum larutan NaOH
3-4% dengan suhu 63-65
o
C selama waktu ekstraksi 3-4 jam dapat mengurangi kadar
protein dalam kulit udang secara efektif. Sekalipun demikian proses deproteinasi
umum yang optimum tidak ada untuk setiap jenis Crustaceae.
Mineral kalsium karbonat pada kulit udang lebih mudah dipisahkan
dibandingkan protein, karena garam anorganik ini hanya terikat secara fisika.
Menurut Knorr (1984) asam klorida dengan konsentrasi lebih dari 10% dapat secara
efektif melarutkan kalsium sebagai kalsium klorida. Proses demineralisasi dengan
menggunakan asam klorida sampai CO2 yang terbentuk hilang kemudian didiamkan
24 jam pada suhu kamar.
Dalam beberapa metode, proses depigmentasi sesungguhnya telah
berlangsung saat pencucian residu sesuai proses deproteinasi atau demineralisasi yang
dilakukan. Menurut Purwatiningsih (1992) aseton dapat mereduksi astaksantin dari
kitin limbah udang windu (Penaeus monodon).
Pembuatan kitosan dilakukan dengan cara penghilangan gugus asetil (-
COCH
3
) pada gugusan asetil amino kitin menjadi gugus amino bebas kitosan dengan
menggunakan larutan basa. Kitin mempunyai struktur kristal yang panjang dengan
ikatan kuat antara ion nitrogen dan gugus karboksil, sehingga pada proses deasetilasi
digunakan larutan natrium hidroksida konsentrasi 40-50% dan suhu yang tinggi (100-
150
o
C) untuk mendapatkan kitosan dari kitin.

Kelebihan dan Kekurangan Kitosan
Berdasarkan sifat-sifat biologi dan kimianya, maka khitosan mempunyai sifat
fisik khas, yaitu mudah dibentuk menjadi spons, larutan, gel, pasta, membran, dan
serat yang sangat bermanfaat aplikasinya. Tidak seperti serat lam lain, kitosan
mempunyai sifat unik, karena memberikan daya pengikat lemak yang sanagt tinggi.
Pada kondisi normal kitosan mampu menyerap 4-5 kali lemak dibandingkan serat lain
(Rismana,2001).
Menurut Prasetiyo (2006) dari segi ekonomi, pemanfaatan khitin dari limbah
cangkang udang untuk bahan utama dan bahan pendukung dalam berbagai bidang dan
industri sangat menguntungkan karena bahan bakunya berupa limbah berasal dari
sumberdaya lokal (local content).
Khitosan merupakan polisakarida yang unik dan telah secara luas digunakan
dalam bermacam aplikasi biomedis disebabkan kemudah cocokannya dengan unsur
makhluk hidup, toxicitasnya rendah, mudah diuraikan, tidak bersifat imunogenik, dan
sifatnya non-karsinogenik (Irawan,2007).
Kelebihan dan kekurangan khitosan menurut Kusumawati (2006) bahwa
karena sifatnya yang dapat menarik lemak, kitosan bnayak dibuat untuk tablet/pil
penurun berat badan. Kitosan dapat menyyerap lemak dalam tubuh dengan cukup
baik. Dalam kondisi optimal, kitosan dapat menyerap lemak sejumlah 4-5 kali berat
kitosan. Beeberapa penelitian telah berhasil membuktikan bahwa kitosan dapat
menurunkan kolesterol tanpa menimbulkan efek samping. Hanya satu saja yang harus
diperhatikan, konsumsi kitosan harus tetap terkontrol, karena kitosan juga dapat
menyerap mineral kalsium dan vitamin yang ada di dalam tubuh. Selain itu, orang
yang biasanya mengalami alergi terhadap makanan laut sebaiknya menghindari dari
mengkonsumsi tablet/pil kitosan.

Manfaat dan Kegunaan Kitosan
Kitin mempunyai kegunaan yang samngat luas, tercatat sekitar 200 jenis
penggunaannya, dari industri pangan, bioteknologi, farmasi, dan kedokteran, serta
lingkungan. Di industri penjernihan air, kitin telah banyak dikenal sebagai bahan
penjernih. Kitin juga banyak digunakan di dunia farmasi dan kosmetik, misalnya
sebagai penurun kadar kolesterol darah, mempercepat penyembuhan luka, dan
pelindung kulit dari kelembaban.
Sifat kitosan sebagai polimer alami mempunyai sifat menghambat absorbsi
lemak, penurun kolesterol, pelangsing tubuh, atau pencegahan penyakit lainnya.
Kitosan bersifat tidak dapat dicernakan dan tidak diabsorbsi tubuh, sehinga lemak dan
kolesterol makanan terikat menjadi bentuk non absorbsi yang tak berkalori. Sifat khas
kitosan yang lain adalah kemampuannya untuk menurunkan kandungan LDL
kolesterol sekaligus mendorong meningkatkan HDL kolesterol dalam serm darah.
Peneliti Jepang menjuluki kitosan sebagai suatu senyawa yang menunjukkan zat
hipokolesterolmik yang sanagt efektif. Dengan kata lain, kitosan mampu menurunkan
tingkat kolesterol dalam serum denagn efektif dan tanpa menimbulkan efek samping
(Rismana,2001).
Beberapa tahun yang lkalu, kitosan dan beberapa tipe modifikasinya
dilaporkan penggunaannya untuk aplikasi biomedis, seperti artificial skin, penembuh
luka, anti koagulan, jahitan pada luka (suuture), obat-obatan, bahan vaksin, dan
dietary fiber. Baru-baru ini, penggunaan kitosan dan derivatnya telah diterima banyak
perhatian sebagai tempat penggantungan sementara untuk proses mineralisai, atau
pembentukan tulang stimulin endokrin (Irawan,2007).
Pada penelitian yang dilakukan Handayani (2004) menunjukkan bahwa chitin
dan kitosan dap[at digunakan sebagai bahan koagulasi pada sari buah tomat. Untuk
penggunaan chitin dan kitosan sebagai bahan koagulasi pada sari buah tomat
menunjukkan bahwa chitin dan kitosan dapat digunakan sebagai bahan koagulasi,
ditandai denagn uji vitamin C, viscositas, pH, dan TPT yang menunjukkan hasil yang
tidak berbeda jauh dengan bahan koagulasi yang umum digunakan pada sari buah
tomat. Kitosan choating telah terbukti meminimalisasi oksidasi, ditunjukkan oleh
angka peroksida, perubahan warna, dan jumlah mikroba pada sampel (Yingyuad et al,
2006).

2. Aplikasi Kitosan dalam Bidang Farmasi
2.1 Kitosan Sebagai Antibakteri dan Pengawet
Selama ini limbah kulit udang hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak atau
untuk industri makanan seperti pembuatan kerupuk udang. Limbah kulit udang dapat
diolah untuk pembuatan chitin yang dapat diproses lebih lanjut menghasilkan kitosan
yang memiliki banyak manfaat dalam bidang industri, antara lain adalah sebagai
pengawet makanan yang tidak berbahaya (non toksid) pengganti formalin. Kitosan
adalah bahan alami yang direkomendasikan untuk digunakan sebagai pengawet
makanan karena tidak beracun dan aman bagi kesehatan.
Kitosan memiliki sifat antimikroba, karena dapat menghambat bakteri patogen
dan mikroorganisme pembusuk, termasuk jamur, bakteri gram-positif , bakteri gram
negatif (Hafdani, 2011). Kitosan digunakan sebagai pelapis (film) pada berbagai
bahan pangan, tujuannya adalah menghalangi oksigen masuk dengan baik, sehingga
dapat digunakan sebagai kemasan berbagai bahan pangan dan juga dapat dimakan
langsung, karena kitosan tidak berbahaya terhadap kesehatan (Henriette, 2010).
Senyawa Kitosan mempunyai sifat mengganggu aktivitas membran luar bakteri gram
negatif (Helander, 2001). Pemakaian kitosan sebagai bahan pengawet juga tidak
menimbulkan perubahan warna dan aroma (Setiawan, 2012).
Kitosan dan turunannya telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang
misalnya dalam bidang pangan, mikrobiologi, pertanian farmasi, dan sebagainya.
Kitosan memiliki banyak keunggulan, diantaranya memiliki struktur yang mirip
dengan serat selulosa yang terdapat pada buah dan sayuran. Keunggulan lain yang
sangat penting adalah kemampuannya dalam menghambat dan membunuh mikroba
atau sebagai zat antibakteri, diantaranya kitosan menghambat pertumbuhan berbagai
mikroba penyebab penyakit tifus yang resisten terhadap antibiotik yang ada (Yadaf
dan Bhise, 2004 dalam Hardjito, 2006). Berbagai hipotesa yang sampai saat ini masih
berkembang mengenai mekanisme kerja kitosan sebagai antibakteri adalah sifat
afinitas yang dimiliki oleh kitosan yang sangat kuat dengan DNA mikroba sehingga
dapat berikatan dengan DNA yang kemudian mengganggu mRNA dan sintesa
protein. Sifat afinitas antimikroba dari kitosan dalam melawan bakteri atau
mikroorganisme tergantung dari berat molekul dan derajat deasetilasi. Berat molekul
dan derajat deasetilasi yang lebih besar menunjukkan aktifitas antimikroba yang lebih
besar.
Kitosan memiliki gugus fungsional amina (NH2) yang bermuatan positif
yang sangat reaktif, sehingga mampu berikatan dengan dinding sel bakteri yang
bermuatan negatif. Ikatan ini terjadi pada situs elektronegatif di permukaan dinding
sel bakteri. Selain itu, karena -NH2 juga memiliki pasangan elektron bebas, maka
gugus ini dapat menarik mineral Ca2+ yang terdapat pada dinding sel bakteri dengan
membentuk ikatan kovalen koordinasi. Bakteri gram negative dengan
lipopolisakarida dalam lapisan luarnya memiliki kutub negatif yang sangat sensitive
terhadap kitosan. Dengan demikian kitosan dapat digunakan sebagai bahan anti
bakteri/pengawet pada berbagai produk pangan karena aman, tidak berbahaya dan
harganya relatif murah (Hafdani, 2011).



Pengaruh konsentrasi kitosan terhadap pertumbuhan jamur dan ragi dalam keju
selama 21 hari
Sumber: Diasty. D.M. 2012



2.2 Kitosan Sebagai Adsorben
Kitosan merupakan polimer dengan kelimpahan terbesar kedua setelah
selulosa. Pada umumnya kitosan dapat diperoleh dari cangkang kpiting atau udang.
Pemanfaatan kitosan yang cukup luas dalam proses adsorpsi disebabkan karena
adanya gugus amina dan hidroksil, yang menyebabkan kitosan mempunyai reaktifitas
kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga berperan
sebagai penukar ion (ion exchange) dan dapat berperan sebagai adsorben untuk
mengadsorpsi logam berat ataupun limbah organic dalam air limbah (Marganof,
2007).
Optimalisasi pemanfaatan bentonit sebagai adsorben dapat dilakukan melalui
modifikasi dengan cara imobilisasi kitosan pada bentonit. Imobilisasi kitosan
terhadap bentonit bertujuan untuk memperkaya situs aktif adsorben sehingga dapat
meningkatkan kemampuan adsorpsi. Hasil imobilisasi kitosan terhadap bentonit akan
menghasilkan adsorben kitosan-bentonit. Kitosan-bentonit memiliki kinerja yang baik
sebagai adsorben untuk pestisida diazinon dengan nilai persen adsorpsi rata-rata
sebesar 79,04%. Nilai adsorpsi ini lebih besar dari pada adsorpsi oleh Ca-bentonit
(Aldiantono, 2009).
Kitosan memiliki gugus amino (NH2) merupakan sisi aktif yang dalam
kondisi asam berair, akan menangkap H+ dari lingkungannya sehingga gugus
aminonya terprotonasi menjadi NH3
+
. Muatan positif NH3
+
ini dapat dimanfaatkan
untuk mengadsorpsi zat warna anionik. Sementara adsorpsi zat warna kationik dan
kation logam memanfaatkan keberadaan pasangan elektron bebas pada gugus OH dan
NH3 yang bertindak sebagai ligan dan dapat berinteraksi dengan zat warna kationik
atau kation logam melalui mekanisme pembentukan ikatan kovalen koordinasi
(kompleks) (Sugita et al. 2009).

2.3 Kitosan Sebagai Penurun Kolesterol
Berdasarkan asalnya lemak dibedakan menjadi lemak hewani dan lemak
nabati. Lemak hewani berasal dari lemak hewan, seperti lemak sapi, lemak kambing,
lemak susu, keju, telur, dan lain-lain, sedangkan lemak nabati berasal dari lemak
tumbuhan seperti lemak yang berasal dari tumbuhan kacang tanah, buah alpokat,
buah durian, dan lain-lain. Lemak hewani banyak mengandung sterol yang disebut
sebagai kolesterol, sedangkan lemak nabati mengandung fitosterol dan lebih banyak
mengandung asal lemak tidak jenuh sehingga umumnya berujud cair. Berdasarkan
ikatan rangkap yang dimilikinya lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan
asam lemak tidak jenuh. Asam lemak jenuh tidak memiliki ikatan rangkap, titik lebur
tinggi sehingga seringkali dijumpai dalam ujud padatan. Asam lemak tidak jenuh
memiliki ikatan rangkap (Winarno,1977)
Salah satu upaya untuk menurunkan kadar kolesterol dalam lemak dengan
menggunakan biopolimer kitosan. Senyawa ini akan membawa muatan listrik positif,
dapat menyatu dengan zat asam empedu yang bermuatan negatif sehingga
menghambat penyerapan kolesterol, karena zat lemak yang masuk bersama makanan
harus dicerna dan diserap dengan bantuan zat asam empedu yang disekresi liver
(Hargono, 2008).
Kitosan paling baik diperoleh dengan derajat deasetilasi paling tinggi sebesar
82,98% yang diperoleh dengan proses deasetilasi menggunakan NaOH dengan
konsentrasi 50%, konsentrasi massa kitosan didalam volume lemak (g/v) berpengaruh
terhadap penyerapan kolesterol total. Dengan massa 5 gr kitosan didalam 50 ml
lemak berpengaruh terhadap prosentase penyerapan kolesterol sebanyak 30,93% dan
waktu operasi 60 menit menunjukkan derajad penyerapan kolesterol sebesar 45,46%
(Hargono, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Agustini, T.W. dan Surti, T., 2007. The Effect of Chitosan Concentration on Quality
Dried-Salted Anchovy (Stolephorus heterolobus) During Room Temperature
Storage. Jurnal Pasir Laut, 2(2): 54-66.
Aldiantono, Dimas. 2009. Sintesis Adsorben Kitosan-Bentonit dan Uji Kinerjanya
terhadap Diazinon dalam Air Minum. Skripsi Program Studi Kimia Jurusan
Pendidikan Kimia FPMIPA UPI, Bandung: Tidak Diterbitkan.
Balley, J.E., and Ollis, D.F., (1977), Biochemical Engineering Fundamental, Mc.
Graw Hill Kogakusha, ltd., Tokyo.
Hafdani, F.N. and Sadeghinia. N., 2011. A Review on Application of Chitosan as a
Natural Antimicrobial. World Academy of Science. Engineering and
Technology, 50.
Hargono, Abdullah dan Indro Sumantri. 2008. Pembuatan Kitosan dari Limbah
Cangkang Udang Serta Aplikasinya Dalam Mereduksi Kolesterol Lemak
Kambing. Tersedia di
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/reaktor/article/view/1503/1262 (diakses
pada tanggal 31 Mei 2014)
Helander, E.-L., Nurmiaho-Lassila, Ahvenainen, R., Rhoades J. and Roller, S., 2001.
Chitosan Disrupts The Barrier Properties of The Outer Membrane of Gram-
Negative Bacteria. International Journal of Food Microbiology, 71: 235244.
Henriette, M.C. Azeredo, de Britto, D. and Assis., O.B.G., 2010. Chitosan Edible
Films and Coating Review, Embrapa Tropical Agroindustry, Fortaleza, CE,
Brazil, ISBN 978-1-61728-831-9.
Marganof. 2007. Potensi Limbah Udang Sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal,
Kadmium, dan Tembaga) di Perairan. Institut Pertanian Bogor.
Muzzarelli, R.A.A., (1985), Chitin in the Polysaccharides, vol. 3, pp. 147,
Aspinall (ed) Academic press Inc., Orlando, San Diego
Sugita, P., Wukirsari, T., Sjahriza, A & Wahyono, D. 2009. Kitosan: Sumber
Biomaterial Masa Depan. Bogor: Penerbit IPB Press.
Winarno,F.G., (1977), Kimia Pangan dan Gizi, PT. Gramedia Pustaka Utama,
hlm.84-93, Jakarta,
Ying-chien Chung ,Ya-ping Su, Chiing-chang Chen, Guang JIA , Huey-lan Wang,
J.C. Gaston Wu, dan Jaung-geng Lin, 2004. Relationship Between
Antibacterial Activity of Chitosan and Surface Characteristics of Cell Wall,
Acta Pharmacol Sin. 25(7): 932-936.