Anda di halaman 1dari 24

1 Faktor Fisik dan Psikologis Yang Mempengaruhi Kehamilan

A FAKTOR FISIK
1 Status Kesehatan/ Penyakit
Ada dua klasifikasi dasar yang berkaitan dengan status kesehatan atau penyakit yang dialami ibu
hamil:
a Penyakit atau komplikasi akibat langsung kehamilan. Termasuk dalam klasifikasi ini adalah
Hyeperemesis gravidarum, preeklampsial eklampsia, kelainan lamanya kehamilan, kehamilan
ektopik, kelainan plasenta atau selaput janin, perdarahan anterpartum, gemelli.
b Penyakit atau kelaianan yang tidak langsung berhubungan dengan kehamilan. Terdapat
hubungan timbale balik dimana penyakit ini dapat memperberat serta mempengaruhi kehamilan
atau penyakit ini dapat diperberat oleh karena kehamilan. Contoh yang termasuk dalam kategori ini
adalah:
1) Penyakit atau kelainan alat kandungan; varises vulva, kelainan bawaan, edema vulva,
hematoma vulva, perdangan, Gonorea, Trikomononas vaginalis, kandidiasis, amoebasis, DM,
bartholinitis, kista bartholini, kondilomata akuminata, fistula bagina, kista vagina, kelainan bawaan
uterus, kelainan letak uterus, Prolapsus uteri, Tumor uteri, mioma uteri, Karsinoma servik,
Karsinoma korpus uteri, dan lain-lain.
2) Penyakit kardiovaskuler misalnya penyakit jantung, hipertensi, stenosis aorta, mitral
isufisiensi, jantung rematik, endokarditis.
3) Penyakit darah missal anemia dalam kehamilan, leukemia, penyakit Hodgkin, hemostasis
dan kelainan pembekuan darah, purpura trombositopeni, hipofbrinogenemia, iso-imunisiasieri-
troblastosis fetalis.
4) Penyakit saluran nafas misalnya influenza, bronchitis, pneumonia, asma bronkiale, TB paru.
5) Penyakit traktus digestivus misalnya ptialismus, karies, gingivitis, pirosis, hernia
diafragmatikagastritis, ileus, valvulusta, hernia, appendiksitis, colitis, megakolom, tumor usus,
hemorrhoid, dan lain-lain.
6) Penyakit hepar dan pankreas, misalnya hepatitis, ruptur hepar, sirosis hepatis, ikterus, atrofi
hepar, penyakit pankreas, dan lain-lain.
7) Penyakit ginjal dan saluran kemih misalnya infeksi saluran kemih, bakteriuria, sistisis,
pielonefritis, glomerulonefritis, sindroma nefrotik, batu ginjal, gagal ginjal, TBC ginjal, dan lain-lain.
8) Penyakit endokrin misalnya diabetes dalam kehamilan, kelainan kelenjar gondok dan anak
ginjal, kelainan hipofisis, epilepsia, perdarahan intrakarnial, tumor otak, poliomileitis, sklerosis
multipleks, miastenia gravis, otosklerosis, dan lain-lain.
9) Penyakit menular misalnya IMS (penyakit akibat hubungan seksual), AIDS, Kondilomata
akuminata, thypus, kolera, tetanus, erysipelas, difteri, lepra, TORCH, morbili, campak,
parotitis,variola, malaria, dan lain-lain.
Beberapa pengaruh penyakit terhadap kehamilan adalah terjadi abortus, intra uterin fetal death
(IUFD), anemia berat, infeksi transplasental, partus prematurus, dismaturitas, asfiksia neonatorum,
shock, perdarahan. Pemahaman mengenai konsep penyakit-penyakit tersebut akan menjadi dsar
dalam indentifikasi faktor resiko sehingga mampu melakukan deteksi.
2 Gizi
Status gizi merupakan hal yang penting diperhatikan pada masa kehamilan, karena faktor gizi sangat
berpengaruh terhadap status kesehatan ibu selama hamil serta guna pertumbuhan dan
perkembangan janin. Hubungan antara gizi ibu hamil dan kesejahteraan janin merupakan hal yang
penting untuk diperhatikan. Keterbatasan gizi selama hamil sering berhubungan dengan faktor
ekonomi, pendidikan, sosial atau keadaan lain yang meningkatkan kebutuhan gizi ibu seperti ibu
hamil dengan penyakit infeksi tertentu termasuk pula persiapan fisik untuk persalinan.
Kebutuhan zat gizi pada ibu hamil secara garis besar adalah sebagai berikut :
a Asam folat.
Menurut konsep evidence bahwa pemakaian asam folat pada pre dan perikonsepsi menurunkan
resiko kerusakan otak, kelainan neural, spina bifida dan anensepalus, baik pada ibu hamil yang
normal maupun beresiko. Asam folat juga berguna untuk membantu produksi sel darah merah,
sintesis DNA pada janin dan pertumbuhan plasenta. Pemberian multivitamin saja tidak terbukti
efektif untuk mencegah kelainan neural. Minimal pemberian suplemen asam folat dimulai dari 2
bulan sebelum konsepsi dan berlanjut hingga 3 bulan pertama kehamilan. Dosis pemberian asam
folat untuk preventif adalah 5 mikrogram atau 0,5-0,8 mg, sedangkan untuk kelompok deng faktor
resiko adalah 4 mg/hari.
b Energi
Diit pada ibu hamil tidak hanya difokuskan pada tinggi protein saja tetapi pada susunan gizi
seimbang energi dan juga protein. Hal ini juga efektif untuk menurunkan kejadian BBLR dan
kematian perinatal. Kebutuhan energi ibu hamil adalah 285 kalori untuk proses tumbuh kembang
janin dan perubahan pada tubuh ibu.
c Protein
Pembentukan jaringan baru dari janin dan untuk tubuh ibu dibutuhkan protein sebesar 910 gram
dalam 6 bulan terakhir kehamilan. Dibutuhkan tambahan 12 gram protein sehari untuk ibu hamil.
d Zat besi (Fe)
Pemberian suplemen tablet tambah darah atau zat besi secara rutin adalah untuk membangun
cadangan besi, sintesa sel darah merah, dan sintesa darah otot. Setiap tablet besi mengandung
FeSO4 320 mg (zat besi 30 mg), minimal 90 tablet selama hamil. Dasar pemberian zat besi adalah
adanya perubahan volume darah atau hydraemia (peningkatan sel darah merah 20-30% sedangkan
peningkatan plasma darah 50%). Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi karena
mengandung tanin atau pitat yang menghambat penyerapan zat besi.
e Kalsium.
Untuk pembentukan tulang dan gigi bayi. Kebutuhan Kalsium ibu hamil adalah sebesar 500 mg
sehari.
f Pemberian suplemen vitamin D terutama pada kelompok beresiko penyakit seksual (IMS)
dan di negara dengan musim dingin yang panjang.
g Pemberian Yodium pada daerah dengan endemik kretinisme
h Tidak ada rekomendasi rutin untuk pemberian Zinc, Magnesium, dan minyak ikan selama
hamil.
Pada wanita hamil dengan gizi buruk perlu mendapat gizi yang adekuat baik jumlah maupun susunan
menu atau kualitasnya serta mendapat akses pendidikan kesehatan tentang gizi. Akibat malnutrisi
pada kehamilan yaitu berat otak dan bagian-bagian otak serta jumlah sel otak kurang dari normal.
Setelah lahir akan menjadi Inteligensia (IQ) dibawah rata-rata. Karena adanya malnutrisi pada ibu
hamil, volume darah menjadi berkurang, aliran darah ke uterus dan plasenta berkurang, ukuran
plasenta berkurang dan transfer nutrient melalui plasenta berkurang sehingga janin tumbuh lambat
atau terganggu (IUGR). Ibu hamil dengan kekurangan gizi cenderung melahirkan prematur atau
BBLR. Rata-rata kenaikan berat badan selama hamil adalah 10-20 ke atau 20% dari berta badan idela
sebelum hamil. Proporsi kenaikan berat badan hamil adalah sebagai berikut :
a Kenaikan berat badan trimester I lebih kurang 1 kg. Kenaikan berat badan ini hampir
seluruhnya merupakan kenaikan berat badan ibu.
b Kenaikan berat badan trimester 11 adalah 3 kg atau 0,3 kg/ Sebesar 60& kenaikan berat
badan ini dikarenakan perturn jaringan pada ibu.
c Kenaikan berat badan trimester III adalah 6 kg atau 0,3-0,5 minggu. Sekitar 60 % kenaikan
berat badan ini karena pertumbuhan jaringan janin. Timbunan lemak pada ibu lebih kurang 3 kg.
Gizi sangat berpengaruh pada tumbuh kembang otak otak yang pesat terjadi 2 fase. Fase pertama
pada usia kehamilan 15-20 minggu dan fase kedua, adalah 30 minggu sampai 18 bulan setelah lahir
(perinatal). Pada umur 0-1 tahun terjadi pertumbuhan otak 25% dari saat hamil. Pada usia 2 tahun
pertumbuhan otak kurang dari 10%. Berat otak pada saat lahir 25% otak dewasa, pada umur 6 bulan
50%, pada saat umur 2 tahun 75% otak dewasa, pada saat 5 tahun 90% otak dewasa dan pada umur
10 tahun 95% otak dewasa. Pengaturan komposisi makanan terdiri dari protein 10-15%, lemak 20%
dan karbohidrat 60-70%.
Dasar pengaturan gizi ibu hamil adalah adanya penyesuaian faali selama kehamilan, yaitu sebagai
berikut :
a Metabolisme umum, terjadi peningkatan basal metabolisme dan kebutuhan kalori
meningkat. Metabolisme basal pada masa 4 bulan pertama mengalarni peningkatan dan kemudian
menurun 20-25% pada 20 minggu terakhir. Karena adanya peningkatan growth hormon sehingga
penggunaan protein meningkat. Terjadi peningkatan Parathyroid hormon sehingga metabolisme
Kalsium meningkat.
b Fungsi alat pencernaan, terjadi perubahan hormonal, peningkatan HCG, hormon estrogen
dan progesteron menimbulkan berbagai perubahan. Misalnya perubahan pola makan diakibatkan
keluhan mual muntah, adanya morning sickness, keluhan anoreksia. Juga muncul perubahan
motilitas lambung sehingga penyerapan makanan lebih lama, terjadi peningkatan absorpsi nutrien,
glukosa dan zat besi, dan terjadi perubahan motilitas uses hingga kadang timbal obstipasi.
c Fungsi ginjal, terjadi peningkatan Glomurelo Filtration rate (GFR) 50%, sehingga banyak
cairan yang diekskresi pada pertengahan kehamilan dan sedikit cairan diekskresi pada bulan-bulan
terakhir kehamilan.
d Volume darah atau plasma darah rata-rata meningkat hingga 50%, dan jumlah erytrosit
meningkat 20-30% sehingga terjadi hemodilusi dan konsentrasi Hemoglobin menurun.
Penilaian status gizi ibu hamil adalah dari :
a Berat badan dilihat dari Quatelet atau body mass index (Indek Masa Tubuh = IMT). Ibu hamil
dengan berat badan dibawah normal sering dihubungkan dengan abnormalitas kehamilan, berat
badan lahir rendah. Sedangkan berat badan overweight meningkatkan resiko atau komplikasi dalam
kehamilan seperti hipertensi, janin besar sehingga terjadi kesulitan dalam persalinan.
b Ukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA)
Standar minimal untuk ukuran Lingkar Lengan Atas pada wanita dewasa atau usia reproduksi adalah
23,5 cm. Jika ukuran LiLA kurang dari 23,5 cm maka interpretasinya adalah Kurang Energl. Kronis
(KEK).
c Kadar Hemoglobin (HB)
3 Gaya Hidup
a Kebiasaan minum jamu
Minum jamu merupakan salah satu kebiasaan yang beresiko bagi wanita hamil, karena efek minum
jamu dapat membahayakan tumbuh kembang janin seperti menimbulkan kecacatan, abortus, BBLR
partus prematurus, kelainan ginjal dan jantung janin, asfiksia neonatorum , kematian janin dalam
kandungan dan malformasi organ janin. Hal ini terjadi terutama apabila minum jamu pada trimester
I. Selain efek pada janin juga terdapat kemungkinan efek pada ibu hamil, misalnya keracunan,
kerusakan jantung dan ginjal, shock, dan perdarahan. Efek tersebut dapat terjadi dikarenakan
kandungan zat-zat tertentu pada jamu baik berupa bahan herbal maupun bahan lain yang mungkin
tidak aman bagi ibu. Karena kenyataan yang ada di masyarakat menunjukkan bahwa tidak semua
jamu yang beredar di pasaran Indonesia mencantumkan bahan atau komposisi jamu, termasuk tidak
mencantumkan hasil riser evidence mengenai zat--zat yang digunakan untuk membuat jamu, bahkan
kadang ada yang mencampur jamu, dengan jenis obat tertentu yang membahayakan kehamilan.
Menurut standar konsep pengobatan tradisional sebenarnya diperbolehkan dan dibenarkan dengan
persyaratan bahwa zat-zat atau bahan yang dipergunakan dalam pengobatan tradisional tersebut
sudah terbukti efektif dan bermanfaat dan tidak membahayakan kehamilan.
b Aktivitas Seksual
Nasehat atau pendidikan kesehatan yang berkaitan dengan aktivitas seksual ibu selama hamil sangat
jarang diberikan selama antenatal care.
Seringkali pemberian pendidikan kesehatan mengenai seksual selama hamil sangat minim diberikan,
bahkan kadang informasi diberikan secara tidak jelas, implisit, dengan bahasa kias serta
menimbulkan salah pengertian. Berdasarkan konsep evidence bahwa ibu hamil tidak harus
menghentikan aktivitas seksual ataupun secara khusus mengurangi aktivitas seksual. Mengenai
aktivitas seksual jarang sekali diklarifikasi ataupun didiskusikan dengan ibu hamil. Bahkan ada
sebagian kalangan yang menganggap bahwa hal ini tabu untuk dibicarakan. Beberapa hasil
penelitian menunjukkan bahwa, efek dari aktivitas seksual selama hamil. Larangan dalam aktivitas
seksual pada ibu hamil merupakan hal yang tidak tepat atau tidak evidence. Terdapat perubahan
yang cukup jelas mengenai kenyamanan seksual selama hamil, mungkin terjadi peningkatan atau
penurunan libido. Beberapa pendapat mengenai hubungan seksual selama hamil didnsari pada
beberapa konsep bahwa dalam cairan sperma terkandung prostaglandin sehingga merangsang
munculnya kontraksi, dimungkinkan merangsang mulainya persalinan, maka muncul pendapat
bahwa coitus mendekati usia kehamilan aterm menyebabkan kemungkinan insiden kehamilan
postterm atau serotimus. Namun menurut konsep evidence based menyatakan bahwa pengaruh
aktiviitas seksual selama masa kehamilan tidak terbukti signifikan berhubungan dengan peristiwa
mulainya persalinan (Enkin, 2000).
c Pekerjaan atau aktivitas sehari-hari
Menurut analisis profesional bahwa maksud pekerjaan atau aktivitas ibu hamil bukan hanya
pekerjaan ke luar rumah atau institusi tertentu, tetapi juga pekerjaan atau aktivitas sebagai ibu
rumah tangga di dalam rumah, termasuk pekerjaan sehari- hari di rumah dan mengasuh anak. Sering
ada rekomendasi untuk mengurangi aktivitas pada ibu hamil dengan riwayat melahirkan BBLR,
namun hal ini tidak terbukti efektif. Tidak ada rekomendasi dalam asuhan kehamilan dimana ibu
hamil sama sekali tidak boleh melakukan aktivitas pekerjaan rumah ataupun bekerja diluar rumah.
yang penting diperhatikan adalah keseimbangan dan toleran dalam pekerjaan. Karena pada
kenyataannya pekerjaan selain berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan juga berhubungan
dengan penghasilan keluarga dan kesejahteraan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan
atau aktivitas bagi ibu hamil adalah apakah aktivitasnya berisiko bagi kehamilan. Contoh aktivitas
yang berisiko bagi ibu hamil adalah aktivitas yang meningkatkan stress, berdiri lama sepanjang hari,
mengangkat sesuatu yang berat, paparan terhadap suhu atau kelembaban yang ekstrim tinggi atau
rendah, pekerjaaan dengan paparan radiasi. Nasehat yang penting disampaikan adalah bahwa ibu
hamil tetap boleh melakukan aktivitas atau pekerjaan tetapi cermati apakah pekerjaan atau aktivitas
yang dilakukan berisiko atau tidak untuk kehamilan dan ada perubahan dalam aktivitas atau
pekerjaan karena berhubungan dengan kapasitas fisik ibu dan perubahan sistem tubuh, nasehatkan
pula dari sisi keuntungan dan resiko bagi ibu hamil.
d Exercise atau senam hamil
Senam hamil atau latihan memberi keuntungan untuk mempertahankan dan meningkatkan
kesehatan fisik ibu hamil, memperlancar peredaran darah, mengurangi keluhan kram atau pegal-
pegal, dan mempersiapkan pernafasan, aktivitas otot dan panggul untuk menghadapi proses
persalinan. Komponen gerakan senam ada beberapa modifikasi yang berbeda-beda tetapi ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu adanya pemanasan, latihan pernafasan, latihan otot,
dan latihan panggul. Perhatikan mengenai kontraindikasi untuk melakukan senam hamil, misalnya
kehamilan dengan abortus berulang, dengan penyakit hipertensi atau kehamilan dengan penyakit
tertentu sehingga menimbulkan resiko bagi kehamilannya.
4 Substance Abuse
Pengertian dari substance abuse adalah perilaku yang membahayakan bagi ibu hamil termasuk
penyalahgunaan atau penggunaa obat atau zat-zat tertentu yang membahayakan ibu hamil.
a Penggunaan obat-obat selama hamil
Pengaruh obat terhadap janin selama hamil tidak hanya tergantung dari macam obat, akan tetapi
juga tergantung dari saat obat diberikan. Obat-obat yang diberikan kepada ibu hamil dapat
menimbulkan efek pada janin seperti:
1) Kelainan bentuk anatomik atau kecacatan pada janin, penggunaan obat pada trimester
pertama.
2) Kelainan faal alat tubuh.
3) Gangguan pertukaran zat dalam tubuh.
Kadang-kadang pengaruh obat yang diberikan pada waktu hamil baru akan terlihat pada bayi yang
dilahirkan ketika sudah menginjak usia remaja atau dewasa. Sebagai contoh pemberian estrogen
pada ibu hamil dapat menyebabkan tumor alat kandungan bila bayi telah berusia remaja atau
dewasa. Hampir semua obat yang diberikan pada wanita hamil melalui plasenta dan mencapai janin
dan beberapa diantaranya dapat mengganggu perkembangan janin. Maka sebaiknya berhati-hati
memberikan obat sewaktu hamil.
b Merokok
Berdasarkan konsep evidence menunjukkan bahwa merokok menimbulkan efek yang sangat
membahayakan bagi janin. Ibu hamil perokok akan beresiko menurunkan berat bayi lahir. Efek
merokok terhadap kejadian pre eklampsia, kelainan perinatal tidak cukup terbukti. Hasil riset
menunjukkan satu atau lima diantara wanita hamil dilaporkan merokok. Hingga seperempat wanita
hamil yang merokok, berhenti pada pemeriksaan kunjungan antenatal yang pertama. Kebiasaan
merokok sering terjadi pada kelompok sosial ekonomi rendah, paritas tinggi, status un marital,
penghasilan rendah, atau ibu dengan problem psikologis seperti depresi, stress, pekerja berat, dan
lain-lain. Merokok merupakan salah satu isu penting yang sangat bagus dicermati saat kehamilan
karena efek yang muncul diakibatkan merokok adalah kelahiran BBLR, persalinan preterm, kematian
perinatal. Merokok juga sering dihubungkan dengan kejadian keberhasilan masa menyusui atau
laktasi dan memperpendek masa menyusui, meskipun dalam hubungan ini penyebabnya belum
diketahui dengna pasti. Faktor lingkungan yang baik dan strategis merupakan salah satu upaya
penting untuk menghentikan kebiasaan merokok bagi ibu daripada pemberian konseling tentang
bahaya merokok. Pengaruh nikotin terhadap janin menimbulkan efek kenaikan tekanan pada otak
janin peningkatan denyut jantung janin. Merokok selain mempunyai efek membahayakan janin juga
membahayakan ibu berkaitan dengan penyakit- penyakit yang muncul sebagal akibat merokok,
misalnya penyakit paru, jantung, hipertensi, arteriosklerosis, kanker paru dsb. Para bidan, dokter
spesialis kebidanan harus mendukung upaya untuk menghentikan merokok melalui kegiatan
antenatal care, kelas antenatal bagi perokok mengurangi periklanan tentang rokok, area bebas
merokok, dan mengembangkan serta mendukung kebijaksanaan tentang upaya mengurangi
merokok di institusi atau tempat kerja masing-masing.
c Alkohol dan kafein
Alkohol yang dikonsurnsi ibu hamil dapat membahayakan jantung hamil dan merusak janin,
termasuk menimbulkan kecacatan dan kelainan pada janin dan menyebabkan kelahiran prematur.
Tidak hanya pada peminum atau pemakai alkohol rutin, tetapi juga pada pemakai alkohol yang tidak
rutin atau insidental. Efek pemakaian alkohol dalam kehamilan adalah pertumbuhan janin
terhambat, retardasi mental, kecacatan, kelainan jantung dan kelainan neonatal. Munculnya efek
ketidaknormalan pada ibu hamil dengan konsumsi alkohol minimal 28.5 ml perhari dan terutama
konsumsi alkohol pada trimester pertama. Konsumsi kafein yang berlebihan mengakibatkan bayi
lahir mati, abortus dan persalinan prematur.
d Hamil dengan ketergantungan obat/ pengguna NAPZA
Pemakaian obat-obatan pada wanita hamil sangat mempengaruhi ibu maupun janinnya, terutama
pada masa konsepsi dan trimester I kehamilan karena tahap ini merupakan tahap organogenesisi
atau pembentukan organ. Contoh obat-obatan tersebut adalah ganja, morfin, heroin, pethidin, jenis
barbiturate, alkohol, dan lain-lain akan menimbulkan gangguan pada ibu dan janinnya. Janin akan
mengalami cacat fisik, kelahiran premaatur dan BBLR, serta cacat mental dan sosial. Ibu hamil
dengan ketergantungan obat umumnya takut melahirkan bayi cacat, merasa gehsah, bingung dan
takut terhadap akibat yang akan dialami oleh bayinya dengan minum obat-obatan tersebut.
e Sinar rontgen atau radiasi
Pengaruh sinar rontgen atau radiasi terhadap kehamilan terutama adalah pada trimester I (umur 4
sampai 9 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir). Pada kehamilan trimester I merupakan
tahap dasar pembentukan organ termasuk organ vital otak, sumsum tulang belakang, jantung, ginjal
dan pernafasan, sehingga paparan sinar X-ray pada umur kehamilan ini akan menimbulkan resiko
kecacatan janin, malformasi janin, retardasi mental pada janin, abortus dan persalinan prematurus.
Efek radiasi terhadap janin tergantung dari umur kehamilan berapa saat paparan radiasi berlangsung
dan seberapa besar jumlah radiasi yang diterima.
B FAKTOR PSIKOLOGIS/ KELAINAN JIWA DALAM KEHAMILAN
Status emosional dan psikologis ibu turut menentukan keadaan yang timbul sebagai akibat atau
diperburuk oleh kehamilan, sehingga dapat terjadi pergeseran dimana kehamilan sebagai proses
fisiologis menjadi kehamilan patologis.
Peristiwa kehamilan adalah peristiwa fisiologis, namun proses alami tersebut dapat mengalami
penyimpangan sampai berubah menjadi patologis.
Ada dua macam stressor, yaitu:
1 Stessor internal, meliputi kecemasan, ketegangan, ketakutan, penyakit, cacat, tidak percaya
diri, perubahan penampilan, perubahan peran sebagai orang tua, sikap ibu terhadap kehamilan,
takut terhadap kehamilan persalinan, kehilangan pekerjaan.
2 Stressor eksternal: status marital, maladaptasi, relationship, kasih sayang, support mental,
broken home.
Support keluarga
Ibu merupakan salah satu anggota keluarga yang sangat berpengaruh, sehingga perubahan apapun
yang terjadi pada ibu akan mempengaruhi keluarga. Kehamilan merupakan krisis bagi kehidupan
keluarga dan diikuti oleh stress dan kecemasan. Kehamilan dapat dikatakan sebagai maturasi dan
suatu kejadian yang biasa dalam tumbuh kembang keluarga.
9. Tanda tanda bahaya kehamilan
a Tanda bahaya dini kehamilan muda
1) Perdrahan pervaginam
2) Hipertensi gravidarum
3) Nyeri perut bagian bawah
A Perdarahan pervaginam
a) Abortus
Abortus spontan adalah penghentian kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas (usia kehamilan
22 minggu). Tahapan abortus spontan meliputi :
1. Abortus imminens (kehamilan dapat berlanjut).
2. Abortus insipiens (kehamilan tidak akan berlanjut dan akan berkembang menjadi abortus
inkomplit atau abortus komplit).
3. Abortus inkomplit (sebagian hasil konsepsi telah dikeluarkan).
4. Abortus komplit (seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan).
Abortus yang disengaja adalah suatu proses dihentikannya kehamilan sebelum janin mencapai
viabilitas.
Abortus tidak aman adalah suatu prosedur yang dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman
atau dalam lingkungan yang tidak memenuhi standar medis minimal atau keduanya.
Abortus septik adalah abortus yang mengalami komplikasi berupa infeksi-sepsis dapat berasal dari
infeksi jika organisme penyebab naik dari saluran kemih bawah setelah abortus spontan atau
abortus tidak aman. Sepsis cenderung akan terjadi jika terdapat sisa hasil konsepsi atau terjadi
penundaan dalam pengeluaran hasil konsepsi. Sepsis merupakan komplikasi yang sering terjadi pada
abortus tidak aman dengan menggunakan peralatan.
Etiologi
a Faktor zigot
Kelainan kromosom
Ovum patologis misalnya blight ovum ( telur kosong )
Klainan sperma
b Faktor ibu
Penyakit kronis
Infeksi
Kelainan hormonal
Kelainan alat reproduksi
Gangguan nutrisi
Obat obat aninkompatibilitas
Trauma fisik / mental
Penanganan
Abortus iminens
a Bila kehamilan masih utuh
Rawat jalan
Tidak diperlukan tirah baring total
Anjurkan untuk tidak melakukan aktivitas berlebihan atau hubungan sexual
Bila perdarahan berhenti dilanjutkan jadwal pemeriksaan selanjutnya
Bila perdarahan terus berlangsung, nilai ulang kondisi janin ( USG )1 mg kemudian.
b Bila hasil USG meragukan, ulangi pemeriksaan USG 1 2mg kemudian
c Bila USG tidak baik : evakuasi tergantung umur kehamilan.
Abortus insipien
Evakuasi
Uteroonika pasca evakuasi
Antibiotik selama 3 hari
Abortus inkomplit
Bila ada syok, atasi dahulu syok ( perbaiki keadaan umum )
Transfusi bila HB < 8 gr%
Evakuasi
Uterotonika
Beri antibiotik berspektrum luas selama 3 hari
Abortus komplit
Antibiotik selama 3 hari
Uterotonika

b) Kehamilan ektopik terganggu
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, Sebagian besar
wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30
tahun, frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila
tidak diatasi atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi
sipenderita.
Etiologi
Kehamilan ektopik terjadi karena hambatan pada perjalanan sel telur dari indung telur (ovarium) ke
rahim (uterus). Dari beberapa studi faktor resiko yang diperkirakan sebagai penyebabnya adalah:
1. Infeksi saluran telur (salpingitis), dapat menimbulkan gangguan pada motilitas saluran telur.
2. Riwayat operasi tuba.
3. Cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang.
4. Kehamilan ektopik sebelumnya.
5. Aborsi tuba dan pemakaian IUD.
6. Kelainan zigot, yaitu kelainan kromosom.
7. Bekas radang pada tuba; disini radang menyebabkan perubahan-perubahan pada
endosalping, sehingga walaupun fertilisasi dapat terjadi, gerakan ovum ke uterus terlambat.
8. Operasi plastik pada tuba.
9. Abortus buatan
Patofisiologi
Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam
perjalanannya menuju kavum uteri. Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat
terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa kemungkinan akibat dari
hal ini yaitu :
a Kemungkinan tubal abortion, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke ujung distal
(fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan ampulla, darah
yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak begitu banyak karena
dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.
b Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai akibat dari distensi
berlebihan tuba.
c Faktor abortus ke dalam lumen tuba.
d Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada
kehamilan muda.
e Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma koitus dan pemeriksaan vaginal.
Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit hingga banyak,
sampai menimbulkan syok dan kematian.
Penanganan
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pada laparotomi perdarahan
selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang menjadi sumber perdarahan.
Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dalam rongga perut sebanyak mungkin
dikeluarkan. Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu: kondisi
penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik.
Hasil ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan bagian tuba yang
terganggu) pada kehamilan tuba. Dilakukan pemantauan terhadap kadar HCG (kuantitatif).
Peninggian kadar HCG yang berlangsung terus menandakan masih adanya jaringan ektopik yang
belum terangkat.
c) Mola hidatidosa
(atau hamil anggur) adalah kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang terbentuk akibat kegagalan
pembentukan janin. Bakal janin tersebut dikenal dengan istilah mola hidatidosa. Istilah hamil anggur
digunakan karena bentuk bakal janin tersebut mirip dengan gerombolan buah anggur. Mola
hidatidosa juga dapat didefinisikan sebagai penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan calon
plasenta (trofoblas plasenta) dan diserai dengan degenerasi kistik villi serta perubahan hidropik.
Trofoblas adalah sel pada bagian tepi ovum (sel telur) yang telah dibuahi dan nantinya akan melekat
di dinding rahim hingga berkembang menjadi plasenta serta membran yang memberi makan hasil
pembuahan. Penyebab penyakit ini belum diketahui pasti, amun diduga karena kekurangan gizi dan
gangguan peredaran darah rahim.
Etiologi
Hamil anggur atau mola hidatidosa dapat terjadi karena:
Tidak ada buah kehamilan (agenesis) atau ada perubahan (degenerasi) sistem aliran darah terhadap
buah kehamilan, pada usia kehamilan 3-4 minggu. Aliran darah yang terus berlangsung tanpa bakal
janin, sehingga terjadi peningkatan produksi cairan sel trofoblas. Kelainan substansi kromosom
(kromatin) seks. Pemeriksaan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan HCG (human chorionic
gonadotrophin) urin atau serum untuk pemeriksaan kehamilan, USG (ultrasonografi), dan uji Sonde.
Gejala
Pada mulanya, gejala mola hidatosa atau hamil anggur mirip dengan gejala kehamilan normal, yaitu
terlambat haid, mual, tes kehamilan positif, dan muntah. Namun, pada penderita hamil anggur,
gejala awal tersebut dialami dengan lebih berat. Tanda-tanda lainnya adalah tidak ada gerakan janin,
rahim lebih besar dari umur kehamilan, dan keluar gelembung cairan mirip buah anggur bersamaan
dengan perdarahan.
Pengobatan
Untuk wanita yang masih ingin punya anak, pengobatan dapat dilakukan dengan membersihkan
rahim (kuret). Sedangkan untuk yang tidak ingin punya anak, dapat dilakukan dengan pengangkatan
rahim.
B Hipertensi gravidarum
Biasanya terjadi hipertensi kronik, dimana hipertensi ini menetap oleh sebab apapun, biasanya
ditemukan pada kehamilan kurang dari 20 minggu.
Preeklamsi adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuri akibat kehamilan, setelah umur
kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan.
Eklamsi kelainan akut pada preeklamsi, dalam kehamilan, persalinan atau nifas.yang ditandai
dengan timbulnya kejang dengan atau tanpa kesadaran ( gangguan sistem saraf pusat)>
Hipertensi kronik adalah hipertensi pada ibu hamil yang sudah ditemukan sebelum hamilan
atau yang ditemukan pada umur kehamilan kurang dari umur 20 minggupascapersalinan.
Hipertensi gestasional adalah timbulnya hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang
tekanan darah sebelumnya normal dan tidak disertai proteinuri.
10 Asuhan Kehamilan Pada Kunjungan Awal
Kunjungan awal kehamilan adalah kunjungan yang dilakukan oleh ibu hamil ke tempat bidan pada
trimester pertama yaitu pada minggu pertama kehamilan hingga sebelum minggu ke-14.
Tujuan Kunjungan
Tujuan dari kunjungan awal ini yaitu sebagai berikut:
a Mendapatkan perawatan kehamilan
b Memperoleh rujukan konseling genetik
c Menentukan apakah kehamilan akan dilanjutkan atau tidak.
d Menentukan diagnosis ada/tidaknya kehamilan
e Menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan
f Menentukan status kesehatan ibu dan janin
g Menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada/tidaknya faktor risiko kehamilan
h Menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan selanjutnya
Pengkajian Data
Sebelum menganamnesa klien, bidan terlebih dahulu melakukan hal-hal berikut.
a Menyambut klien dengan seseorang yang menemani klien
b Memperkenalkan diri kepada klien
Setelah hal-hal di atas dilakukan, selanjutnya bidan mulai melakukan pengambilan data yaitu dengan
cara menganamnesa klien. Langkah-langkahnya yaitu sebagai berikut.
1 Menanyakan identitas, yang meliputi :
Nama Isteri / Suami
Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk memperlancar komuniksi dalam asuhan sehingga
tidak terlihat kaku dan lebih akrab.
Umur
Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam kehamilan yang beresiko atau tidak. Usia
dibawah 16 tahun dan di atas 35 tahun merupakan umur-umur yang beresiko tinggi untuk hamil.
Umur yang baik untuk kehamilan maupun persalinan adalah 19-25 tahun.
Suku / Bangsa / Etnis / Keturunan
Ras, etnis, dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka memberikan perawatan yang peka
budaya kepada klien dan mengidentifikasi wanita atau keluarga yang memiliki kondisi resesif otosom
dengan insiden yang tinggi pada populasi tertentu. Jika kondisi yang demikian diidentifaksi, wanita
tersebut diwajibkan menjalani skrining genetik.
Agama
Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait agama yang harus diobservasi. Informasi
ini dapat menuntun ke suatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan klien, tradisi
keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran, perasaan tentang jemis kelamin tenaga kesehatan, dan
pada beberapa kasus, penggunaan produk darah.
Pendidikan, Minat, Hobi
Tanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan juga minat, hobi, dan tujuan jangka panjang.
Informasi ini membantu klinisi memahami klien sebagai individu dan memberi gambaran
kemampuan baca-tulisnya. Kadang-kadang bahaya potensial dari hobi, seperti melukis, memahat,
mengelas, membuat mebel, piloting, balap, menembak, stained glass, membuat keramik, dan
berkebun akan diidentifikasi. Materi yang digunakan dalam kegiatan seni dan kerajinan tangan dapat
mengandung silikon, talek, pelarut, dan logam berat. Semua ini berpotensi membahayakan.
Pekerjaan
Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam keadaan
utuh dan untuk mengkaji potensi kelahiran, prematur dan pajanan terhadap bahaya lingkungan
kerja, yang dapat merusak janin.
Alamat bekerja
Alamat bekerja klien perlu diketahui juga sebagai pelengkap identitas diri klien.
Alamat rumah
Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih memudahkan saat pertolongan persalinan dan
untuk mengetahui jarak rumah dengan tempat rujukan.
No. RMK (Nomor Rekam Medik)
Nomor rekam medik biasanya digunakan di Rumah Sakit, Puskesmas, atau Klinik.
2 Menanyakan keluhan utama klien (KU)
Keluhan utama adalah alasan kenapa klien datang ke tempat bidan. Hal ini disebut tanda atau gejala.
Dituliskan sesuai dengan yang diungkapkan oleh klien serta tanyakan juga sejak kapan hal tersebut
dikeluhkan oleh klien.

Mendengar keluhan klien sangat penting untuk pemeriksaan. Pertanyaan yang sangat sederhana
seperti Untuk apa Nyonya datang kemari ? atau Apa keluhan Anda? dapat memberikan
keterangan banyak ke arah diagnosis. Misalnya apakah wanita mengatakan bahwa ia mengeluarkan
darah dari kemaluannya setelah haid terlambat, bahwa peranakannya turun / keluar, bahwa ia
mengalami perdarahan tidak teratur dan berbau busuk, maka dalam hal-hal demikian kiranya tidak
sulit untuk menduga kelainan apa yang sedang dihadapi oleh bidan, yaitu berturut-turut abortus,
prolapsus uteri dan serviks uteri. Namun, pemeriksaan lebih lanjut tetap harus dilakukan karena
diagnosis tidak boleh berdasarkan atas anamnesis semata.
3 Menanyakan Riwayat Kehamilan Sekarang, yang meliputi :
Riwayat Haid
Menarche (Usia pertama datang haid)
Usia wanita pertama haid bervariasi, antara 12-16 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh keturunan,
keadaan gizi, bangsa, lingkungan, iklim dan keadaan umum.
Siklus
Siklus haid terhitung mulai hari pertma haid hingga hari pertama haid berikutnya, siklus haid perlu
ditanyakan untuk mengetahui apakah klien mempunyai kelainan siklus haid atau tidak. Siklus normal
haid biasanya adalah 28 hari.
Lamanya
Lamanya haid yang normal adalah +- 7 hari. Apabila sudah mencapai 15 hari berarti sudah abnormal
dan kemungkinan adanya gangguan ataupun penyakit yang mempengaruhinya.
Banyaknya
Normalnya yaitu 2 kali ganti pembalut dalam sehari. Apabila darahnya terlalu belebih, itu berarti
telah menunjukkan gejala kelainan banyaknya darah haid.
Dismenorhoe (Nyeri haid)
Nyeri haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah klien menderitanya atau tidak di tiap haidnya.
Nyeri haid juga menjadi tanda bahwa kontrakasi uterus klien begitu hebat sehingga menimbulkan
nyeri haid.
Riwayat Hamil Sekarang
HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)

Bidan ingin mengetahui tanggal hari pertama dari menstruasi terakhir klien untuk memperkirakan
kapan kira-kira sang bayi akan dilahirkan.

TP (Taksiran Persalinan) / Perkiraan Kelahiran

Gambaran riwayat menstruasi klien yang akurat biasanya membantu penetapan tanggal perkiraan
kelahiran (estimated date of delivery [EDC]) yang disebut taksiran partus (estimated date of
confinement [EDC]) di beberapa tempat. EDD ditentukan dengan perhitungan internasional menurut
hukum Naegele. Perhitungan dilakukan dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari pada hari pertama
haid terakhir (HPHT) atau dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan 7 hari dan 1
tahun. Contoh : Jika HPHT adalah 10 Januari, dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari, diperoleh
tanggal 17 Oktober. Jika HPHT adalah 18 November, perhitungan akan lebih mudah dilakukan
mundur, yakni dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan 7 hari dan 1 tahun
sehingga EDD-nya 25 Agustus. Kadang-kadang perhitungan bergeser ke bulan berikutnya. Anggap
saja HPHT adalah 26 September. Hitung mundur dengan mengurangi 3 bulan, maka diperoleh bulan
Juni tanggal 26. Sekarang tambahkan 7 hari dan 1 tahun, maka akan didapat 3 juli (bulan juni hanya
30 hari).

Kehamilan yang ke-

Jumlah kehamilan ibu perlu ditanyakan karena terdapatnya perbedaan perawatan antara ibu yang
baru pertama hamil dengan ibu yang sudah beberapa kali hamil, apabila ibu tersebut baru pertama
kali hamil otomatis perlu perhatian ekstra pada kehamilannya.

Masalah-masalah
Trimester I
Tanyakan kepada klien apakah ada masalah pada kehamilam trimester I, masalah-masalah tersebut
misalnya hiperemesis gravidarum, anemia, dan lain-lain.
Trimester II
Tanyakan kepada klien masalah apa yang pernah ia rasakan pada trimester II kehamilan pada
kehamikan sebelumnya. Hal ini untuk sebagai faktor persiapan kalau-kalau kehamilan yang sekarang
akan terjadi hal seperti itu lagi.
Trimester III
Tanyakan kepada klien masalah apa yang pernah ia rasakan pada trimester III kehamilan pada
kehamikan sebelumnya. Hal ini untuk sebagai faktor persiapan kalau-kalau kehamilan yang sekarang
akan terjadi hal seperti itu lagi.
ANC (Antenatal Care / Asuhan Kehamilan)

Trimester I
Tanyakan kepada klien asuhan kehamilan apa saja yang pernah ia dapatkan selama kehamilan
trimester I.
Trimester II
Tanyakan kepada klien asuhan apa yang pernah ia dapatkan pada trimester II kehamilan sebelumnya
dan tanyakan bagaimana pengaruhnya terhadap kehamilan. Apabila baik, bidan bisa memberikan
lagi asuhan kehamilan tersebut pada kehamilan sekarang.
Trimester III
Tanyakan kepada klien asuhan apa yang pernah ia dapatkan pada trimester III kehamilan
sebelumnya dan tanyakan bagaimana pengaruhnya terhadap kehamilan. Apbila baik, bidan bisa
memberikan lagi asuhan khamilan tersebut pada kehamilan sekarang.
Tempat ANC
Tanyakan kepada klien di mana tempat ia mendapatakan asuhan kehamilan tersebut.
Penggunaan obat-obatan
Pengobatan penyakit saat hamil harus selalu memperhatikan apakah obat tersebut tidak
berpengaruh terhadap tumbang janin. Pengaruh obat terhadap janin dapat digolongkan sebagai
berikut.
Obat yang tergolong tidak boleh diberikan saat hamil
Obat yang dapat diberikan saat hamil dengan keamanan terbatas umumnya aman diberikan setelah
hamil trimester II.
Obat yang aman diberikan namun tidak ada keterangan tertulis yang lengkap.
Obat atau bahan kimia yang pemberiannya saat hamil memerlukan pertimbangan dengan seksama.
Obat atau bahan kimia yang aman jika diberikan pada kehamilan, yaitu vitamin khusus untuk
ibu hamil.
Tanyakan klien riwayat pemakaian obat-obatan resep dan obat bebas. Tanyakan juga tentang alergi
obat, mencakup berbagai reaksi yang terjadi setelah obat ditelan Tanyakan secara spesifik suplemen
vitamin dan pengobatan bukan tradisional. Minta klien membawa kotak vitamin pada saat
kunjungan pranatal supaya kandungan vitamin tersebut didokumentasikan.
Imunisasi : TT (Tetanus Toxoid) I
TT (Tetanus Toxoid) II
Tanyakan kepada klien apakah sudah pernah mendapatkan imunisasi TT. Apabila belum, bidan bisa
memberikannya. Imunisasi tenatus toxoid diperlukan untuk melindungi bayi terhadap penyakit
tetanus neonatorum, imunisasi dapat dilakukan pada trimester I atau II pada kehamilan 3-5 bulan
dengan interval minimal 4 minggu. Lakukan penyuntikan secara IM (intramusculer), dengan dosis
0,5ml.
Penyuluhan yang didapat
Penyuluhan apa yang pernah didapat klien perlu ditanyakan untuk mengetahui pengetahuan apa
saja yang kira-kira telah didapat klien dan berguna bagi kehamilnnya.
4 Menanyakan Riwayat Kehamilan Lalu, yang meliputi :
Jumlah kehamilan (Gravid / G)
Jumlah kehamilan ditanyakan untuk mengetahui seberapa besar pengalaman klien tentang
kehamilan. Apabila klien mengatakan bahwa saat ini adalah kehamilan yang pertama, maka bidan
harus secara maksimal memberikan pengetahuan kepada klien tentang bagiaamana merawat
kehamilannya dengan maksimal.
Jumlah anak yang hidup (L)
Untuk mengetahui pernah tidaknya klien mengalami keguguran, apabila pernah maka pada
kehamilan berikutnya akan beresiko mengalami keguguran kembali. Serta apabila jumlah anak yang
hidup hanya sedikit dari kehamilan yang banyak, berarti kehamilannya saat ini adalah kehamilan
yang sangat diinginkan.
Jumlah kelahiran prematur (P)
Untuk mengidentifikasi apabila pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya maka dapat
menimbulkan resiko persalinan prematur berikutnya.
Jumlah keguguran (A)
Tanyakan kepada klien apakah ia pernah kegguguran atau tidak. Sebab apabila pernah mengalami
keguguran dalam riwayat persalinan sebelumnya akan beresiko untuk mengalami keguguran pada
kehamilan berikutnya (keguguran berulang).
Persalinan dengan tindakan (operasi sesar, vakum, forsep)
Catat kelahiran terdahulu, apakah pervaginam, melalui bedah sesar, dibantu forsep atau vakum. Jika
wanita pada kelahiran terdahulu menjalani bedah sesar, untuk kehamilan saat ini ia mungkin
melahirkan pervaginam. Keputusan ini biasanya bergantung kepada lokasi insisi di uterus,
kemampuan unit persalinan di rumah sakit untuk berespon segera ruptur uterus terjadi, dan
keinginan calon ibu.

Dapatkan salinan catatan medis persalinan dan pembedahan, bila memungkinkan, untuk
mendokumentasikan penyempitan jaringan parut uterus. Catatan tentang alat bantu lahir juga harus
diperoleh jika kelahiran dibantu forsep atau vakum. Catatan ini memfasilitasi klien memahami alasan
pemakaian alat bantu dalam persalinan dan membantu instruktur persalinan menghindari masalah
selama proses persalinan dan melahirkan pada kehamilan saat ini.
Riwayat perdarahan pada persalinan atau pascapersalinan
Tanyakan kepada klien apakah pernah mengalami perdarah pascapersalinan sebelumnya.
Perdarahan antepartum atau intrapartum misalnya placenta previa, solosio placenta, retensio
placenta, atonia uteri, ruptur uteri, dan lain-lain cenderung dapat berulang pada kehamilan
berikutnya.
Kehamilan dengan tekanan darah tinggi
Pertanyaan ini perlu ditanyakan untuk mendiagnosis apakah klien beresiko mengalami preeklampsi /
eklampsi yang tanda dan gejalanya merupakan tingginya tekanan tensi darah klien saat hamil.
Kehamilan dengan eklampsia perlu mendapatkan perawatan yang intensif.
Berat bayi < 2,5 atau 4 kg
Berat lahir sangat penting untuk mengidentifikasi apakah bayi kecil untuk masa kehamilan (BKMK)
atau bayi besar untuk masa kehamilan (BBMK), suatu kondisi yang biasanya berulang. Apabila
persalinan pervaginam, berat lahir mencerminkan bahwa bayi dengan ukuran tertentu berhasil
memotong pelvis maternal.
Masalah lain
Setiap komplikasi yang terkait dengan kehamilan harus diketahui sehingga dapat dilakukan antisipasi
terhadap komplikasi berulang. Sebagai contoh, kehamilan ektopik cenderung berulang. Kondisi lain
yang cenderung berulang adalah anomali kongenital, diabetes gestasional, dan lainnya. Apabila
kondisi-kondisi ini dilaporkan, sedapat mungkin dapatkan salinan catatan medis.
5 Menanyakan Riwayat Kesehatan, yang meliputi :
Riwayat kesehatan ibu
Penyakit yang pernah diderita
Tanyakan kepada klien penyakit apa yang pernah diderita klien. Apabila klien pernah menderita
penyakit keturunan, maka ada kemungkinan janin yang ada dalam kandungannya tersebut beresiko
menderita penyakit yang sama.
Penyakit yang sedang diderita
Tanyakan kepada klien penyakit apa yang sedang ia derita sekarang. Tanyakan bagaiaman urutan
kronologis dari tanda-tanda dan klasifikasi dari setiap tanda penyakit tersebut. Hal ini diperlukan
untuk menentukan bagaimana asuhan berikutnya. Misalnya klien mengatakan bahwa sedang
menderita penyakit DM, maka bidan harus terlatih memberikan asuhan kehamilan klien dengan DM.
Apakah pernah dirawat
Tanyakan kepada klien apakah pernah dirawat di rumah sakit. Hal in ditanyakan untuk melengkapi
anamnesa.
Berapa lama dirawat
Kalau klien menjawab pernah, tanyakan berapa lama ia dirawat. Hal ini ditanyakan untuk
melengkapi data anamnesa.
Dengan penyakit apa dirawat
Kalau klien menjawab pernah pada pertanyaan apakah ia pernah dirawat, tanyakan dengan penyakit
apa ia di rawat. Hal ini diperlukan karena apabila klien pernah dirawat dengan penyakit itu dan
dalam waktu yang lama hal itu menunjukkan bahwa klien saat itu mengalami penyakit yang sangat
serius.
Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit menular
Tanyakan kepada klien apakah mempunyai keluarga yang saat ini sedang menderita penyakit
menular. Apabila klien mempunyai keluarga yang sedang menderita penyakit menular, sebaiknya
bidan menyarankan kepada kliennya untuk menghindari secara langsung atau tidak langsung
bersentuhan fisik atau mendekati keluarga tersebut untuk smentara waktu agar tidak menular pada
ibu hamil dan janinnya. Berikan pengertian terhadap keluarga yang sedang sakit tersebut agar tidak
terjadi kesalahpahaman.
Penyakit keturunan / genetik
Tanyakan kepada klien apakah mempunyai penyakit keturunan. Hal ini diperlukan untuk
mendiagnosa apakah si janin berkemungkinan akan menderita penyakit tersebut atau tidak, hal ini
bisa dilakukan dengan cara membuat daftar penyakit apa saja yang pernah diderita oleh keluarga
klien yang dapat diturunkan (penyakit genetik, misalnya hemofili, TD tinggi, dsb). Biasanya dibuat
dalam silsilah keluarga atau pohon keluarga.
6 Menanyakan Riwayat Sosial ekonomi, yang meliputi :
Status pernikahan
Menikah
Tanyakan status klien, apakah ia sekarang sudah menikah ataukah belum menikah. Hal ini penting
untuk mengetahui status kehamilan tersebut apakah dari hasil pernikahan yang resmi atau hasil dari
kehamilan yang tidak diinginkan. Status pernikahan bisa berpengaruh pada psikologis ibunya pada
saat hamil.
Usia saat menikah
Tanyakan kepada klien pada usia berapa ia menikah. Hal ini diperlukan karena apabila klien
mengatakn bahwa ia menikah di usia muda sedangkan klien pada saat kunjungan awal ke tempat
bidan tersebut sudah tak lagi muda dan kehamilannya adalah yang pertama, ada kemungkinan
bahwa kehamilannya saat ini adalah kehamilan yang sangat diharapkan. Hal ini akan berpengaruh
bagaiman asuhan kehamilannya.
Lama pernikahan
Tanyakan kepada klien sudah berapa lama ia menikah. Apabila klien mengatakan bahwa telah lama
menikah dan baru saja bisa mempunyai keturunan, maka kemungkinan kehamilannya saat ini adalah
kehamilan yang sangat diharapkan
Dengan suami sekarang
Tanyakan kepada klien sudah berapa lama menikah dengan suami sekarang, apabila mereka
tergolong pasangan muda, maka dapat dipastikan dukungan suami akan sangat besar terhadap
kehamilannya.
Isteri keberapa dengan suami sekarang
Tanyakan kepada klien istri keberapa dengan suami sekarang. Apabila klien emngatakan bahwa ia
adalah istri ke-2 dari suami sekarang, maka hal itu bisa mempengaruhi psikologis klien saat hamil.
Riwayat KB
Metode
Tanyakan kepada klien metode KB apa yang selama ini ia gunakanan. Riwayat kontrasepsi diperlukan
karena kontrasepsi hormonal dapat mempengaruhi EDD, dan karena penggunaan metode lain dapat
membantu menanggali kehamilan. Seorang wanita yang mengalami kehamilan tanpa menstruasi
spontan setelah menghentikan pil, harus menjalani sonogram untuk menentukan EDD yang akurat.
Sonogram untuk penanggalan yang akurat juga diindikasikan bila kehamilan terjadi sebelum
mengalami menstruasi yang dikaitkan dengan atau setelah penggunaan metode kontrasepsi
hormonal lain (misalnya, Norplant dan Depo-Provera).

Ada kalanya kehamilan terjadi ketika IUD masih terpasang. Apabila ini terjadi, lepas IUD jika talinya
tampak. Prosedur ini dapat dilakukan oleh perawat praktik selama trimester pertama, tetepi lebih
baik dirujuk ke dokter bila kehamilan sudah berusia 13 minggu. Pelepasan IUD menurunkan risiko
keguguran, sedangkan membiarkan IUD tetap terpasang meningkatkan aborsi septik pada
pertengahan trimester. Riwayat penggunaan IUD terdahulu meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
Lama
Tanyakan kepada klien berapa lama ia telah menggunakan alat kontrasepsi tersebut.
Masalah
Tanyakan kepada klien apakah ia mempunyai masalah saat menggunakan alat kontrasepsi tersebut.
Apabila klien mengatakan bahwa kehamilannya saat ini dikarenakan kegagalan kerja alat
kontrasepsi, berikan pandangan-pandangan klien terhadap alat kontrasepsi lain.
Kebiasaan hidup sehat
Pola Nutrisi
Jenis makanan
Tanyakan kepada klien, apa jenis makanan yang biasa ia makan. Anjurkan klien mengkonsumsi
makan yang mengandung zat besi (150 mg besi sulfat, 300 mg besi glukonat), asam folat (0,4-0,8
mg/hari), kalori (ibu hamil umur 23-50 tahun perlu kalori sekitar 2300 kkal), protein (74 gr/hari),
vitamin, dan garam mineral (kalsium, fosfor, magnesium, seng, yodium).
Porsi
Tanyakan bagaimana porsi makan klien. Porsi makanan yang terlalu besar kadang bisa membuat ibu
hamil mual, terutama pada kehamilan muda. Anjurkan klien untuk makan dengan porsi sedikit
namun sering.
Frekuensi
Tanyakan bagaimana frekwensi makan klien per hari. Anjurkan klien untuk makan dengan porsi
sedikit dan dengan frekwensi sering.
Pantangan
Tanyakan apakah klien mempunyai pantangan dalam hal makanan.
Alasan pantang
Diagnosa apakah alasan pantang klien terhadap makanan tertentu itu benar atau tidak dari segi ilmu
kesehatan, kalau ternyata tidak benar dan bahkan dapat mengakibatkan klien kekurangan nutrisi
saat hamil, bidan harus segera memberitahukannya kepada klien.

Personal Hygiene
Frekwensi mandi
Tanyakan kepada klien sebera sering ia mandi. Mandi diperlukan untuk menjaga kebersihan atau
hygien terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah. Dianjurkan
menggunakan sabun lembut atau ringan. Mandi berendam tidak di anjurkan. Hal yang perlu di
perhatikan :
Tidak mandi air panas
Tidak mandi air dingin
Pilih antara shower dan bak mandi sesuai dengan keadaan personal
Pada kehamilan lanjut, shower lebih aman dari pada bak mandi.
Frekwensi gosok gigi
Tanyakan kepada klien seberapa sering ia menyikat giginya. Kebersihan gigi sangat penting karena
saat hamil sering terjadi karies yang berkaitan dengan emesis hiperemesis gravidarum,
hipersalivasi dapat menimbulkan timbunan kalsium di sekitar gigi. Memeriksakan gigi saat hamil di
perlukan untuk mencari kerusakan gigi yang dapat menjadi sumber infeksi.
Frekwensi ganti pakaian
Tanyakan kepada klien, seberapa sering ia mengganti pakaiannya. Pakaian yang di kenakan harus
longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut. Selain itu wanita di anjurkan
mengenakan bra yang menyokong payudara dan memakai sepatu dengan hak yang tidak terlalu
tinggi, karena titik berat wanita hamil berubah. Pakaian dalam yang dikenakan harus bersih dan
menyerap keringat. Di anjurkan pula memakai pakaian dan pakaian dalam dari bahan katun yang
dapat menyerap keringat.
Kebersihan vulva
Tanyakan kepada klien apakah ada masalah terhadap daerah vulvanya. Beri anjuran klien untuk lebih
menjaga kebersihan vulvanya, hal ini dianjurkan karena untuk menghindari datangnya penyakit-
penyakit yang diakibatkan karena kurangnya kebersihan vulva. Pada kehamilan trimester III,
kebersihan vulva harus dijaga lebih ekstra, mengingat daerah tersebut akan dilalui bayi saat proses
melahirkan. Hal ini sebagai proses pencegahan penularan penyakit dari ibu terhadap BBL.
Pola aktifitas
Tanyakan bagaimana pola aktivitas klien. Beri anjuran kepad klien untuk menghindari mengangakat
beban berat, kelelahan, latihan yang berlebihan dan olah raga berat. Anjurkan klien untuk
melakukan senam hamil. Aktivitas harus dibatasi bila didapatkan penyulit karena dapat
mengakibatkan persalinan prematur, KPD, dan sebagainya
Pola Eliminasi
BAB (Buang Air Besar) :
Frekwensi
Tanyakan kepada klien, apakah BABnya tertatur. Apabila klien mengatakan terlalu sering, bisa
dicurigai klien mengalami Diare (sering dan feses cair), Inkontinensia usus (sering dan pengeluaran
feses tidak disadari). Sebaliknya, apabila klien mengatakan terlalu jarang BAB, bisa dicurigai klien
mengalami Konstipasi (jarang, feses kering dan keras), Fecal impaction (masa feses keras dilipatan
rektum).
Warna
Tanyakan kepada klien, apa warna fesesnya.Normalnya feses berwarna kuning kecoklatan coklat
muda).
Masalah
Tanyakan kepada klien apakah ada masalah-masalah dalam eliminasi feses seperti yang telah
disebutkan pada poin frekwensi di atas. Tinadakan-tindakan yang bisa dilakukan bidan untuk
mengatasi masalah eliminasi feses diantaranya memberikan gliserin (memasukkan cairan gliserin ke
dalam poros usus dengan menggunakan spuit gliserin, bertujuan merangsang peristaltik usus,
sehingga klien dapat BAB, menganjurkan mengkonsumsi sayur-sayuran yang penuh serat.
Pola tidur dan istirahat
Tidur siang
Kebiasaan tidur siang perlu ditanyakan karena tidur siang menguntungkan dan baik untuk
kesehatan. Apabila ternyata klien tidak terbiasa tidur siang, anjurkan klien untuk mencoba dan
membiasakannya.
Tidur malam
Pola tidur malam perlu ditanyakan karena wanita hamil tidak boleh kurang tidur, apalagi tidur
malam, jangan kurang dari 8 jam. Tidur malam merupakan waktu dimana proses pertumbuhan janin
berlangsung. Apabila ternyata klien mempunyai pola tidur malam yang tidak mencapai 8 jam,
anjurkan klien untuk mencoba dan membiasakan tidur malam dengan pola 8 jam.
Masalah
Masalah klien dalam pola istirahat terutama tidur perlu ditanyakan karena mengingat wanita hamil
perlu istirahat yang cukup untuk menjaga kehamilannya. Apabila bidan telah mengetahui apa
masalah klien dalam istirahat, maka tugas bidan adalah membentu memecahkan persoalan apa yang
menjadi penyebab klien susah istirahat. Lingkungan tempat hiburan yang terlau ramai, sesak dan
panas lebih baik dihindari karena dapat menyebabkan ibu hamil jatuh pingsan.
Pola seksual : Frekwensi / masalah
Berdasarkan beberapa penelitian, terdapat perbedaan respons fisiologis terhadap seks antara ibu
hamil dengan wanita tidak hamil. Terdapat empat fase selama siklus respons seksual, antara lain :
7 Menanyakan tempat untuk persalinan
Tempat yang diinginkan klien sebagai tempat persalinan perlu ditanyakan karena untuk
memperkirakan layak tidaknya tempat yang diinginkan klien tersebut. Misalnya klien menginginkan
persalinan di rumah, bidan harus secara detail menanyakan kondisi rumah dan lingkungan sekitar
rumah klien, apakah memungkinkan atau tidak untuk melaksanakan proses persalinan. Apabila tidak
memungkinkan, bidan bisa menyarankan untuk memilih tempat lain misalnya rumah sakit atau klinik
bersalin sebagai alternatif lain tempat persalinan.
8 Menanyakan petugas untuk persalinan
Petugas persalinan yang diingankan klien perlu ditanyakan karena untuk memberikan pandangan
kepada klien tentang perbedaan asuhan persalinan yang akan didapatkan antara dokter kandungan,
bidan dan dukun beranak. Apabila ternyata klien mengatakan bahwa ia lebih memilih dukun
beranak, maka tugas bidan adalah memberikan pandangan-pandangan bagaimana perbedaan
pertolongan persalinan antara dukun beranak dengan tenaga medis dan paramedis yang sudah
terlatih. Jangan memaksakan klien untuk memilih salah satu. Biarkan klien menentukan pilihannya
sendiri, tentunya setelah kita beri pandangan-pandangan yang jujur tentang perbedaan-perbedaab
pertolongan persalinan tersebut