Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCELUPAN I

PENCELUPAN KAPAS 100% DENGAN ZAT WARNA BEJANA LARUT

Disusun oleh:
Nama

: Yuli Rinendahwati (10.K40083)


Mita Arini (10.K40085)
Yusuf Rochmat (10.K40069)
Ratu Khoerunnisa (10.K40087)

Kelompok

:1

Grup

: K-4

Dosen/asisten : M. Ichwan AT,.Msi


Ir. Elly Koesneliawati Bk,Teks
Priatna

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL BANDUNG


2012

I.

Maksud dan Tujuan


Maksud

: Mencelup kain kapas dengan zat warna bejana larut

Tujuan

: - mencelup kain kapas dengan zat warna bejana larut menggunakan


variasi metoda pencelupan
-

mencelup kain kapas dengan zat warna bejana larut dengan


menggunakan variasi H2SO4

II.

Teori dasar
Kapas
Kapas merupakan satu serat yang paling banyak digunakan sebagai serat tekstil.
Kapas diperoleh dari tanaman semak dengan tinggi sekitar 30-120 cm. kapas dapat
dipungut

dengan

tangan

atau

mesin.

Setelah

dipungut

serat

kapas

dibersihkan(ginning), untuk memisahkan serta dari bijinya. Serat-serat kapas yang


telah dipisahkan disewbut lint, dimampatkan menjadi bal kapas dengan berat 400
pound.
Analisa serat kapas menunjukan bahwa serat kapas terutama tersusun dari
selulosa. Selusosa merupakan polimer linier yang tersusun dari kondensasi molekulmolekul glukosa.

Derajat polimerisasi selulosa pada kapas 2.000- 10.000 dengan berat molekul
1.580.000. Hasil analisa pada serat kapas menunjukanbahwa serat kapas terdiri dari:

Selulosa

:94,0%

Protein

:1,3%

Pektat

:1,2%

Lilin

:0,6%

Abu

Pigmen dan zat lain :1,7*

:1,2%

Kekuatan serat kapas terutama dipengaruhi oleh kadar sellulosa dalam serat,
panjang rantai dan orientasinya. Kekuatan serat kapas dalam keadan basah lebih tinggi
dibandingkan dalam keadan kering.
Mulur serat kapas termasuk tinggi diantara serat selulosa alam, yaitu kira-kira
dua kali mulur rami. Mulur serat kapas berkisar antara 4-17 % dengan rata-rata 7%
yang tergantung dari jenisnya. MR kapas pada kondisi standar 7-8,5 %. Sedangkan
berat jenis serat kapas yaitu 1.5-1,56.
Beberapa zat pengoksidasi dan penghidrolisa akan merusak kapas sehingga
kekuatanya menjadi turun. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksi
selulosa, biasanya terjadi pada pengelantanganyang erlebihan, penyinaran dalam
keadaan lembab atau pemanasan yang lama pada suhu diatas 140 oC
Asam akan merusak kapas dan membentuk hidroselulosa. Alkali yang pekat
akan menyababkan penggelembungan yang besar pada serat seperti pada proses
merserisasi, yang menyebabkan serat menjadi lebih mengkilap dan kekuatannya
menjadi lebih tinngi.
Pelarut yang biasa digunakan adalah kuproamonium hidroksida dan
kuproatelina diamina. Kapas mudah diserang oleh jamur dan bakteri, terutama pada
keadan lembab dan suhu hangat.Kapas memiliki beberapa sifat istimewa misalmya
mudah dicuci, enak dipakai dan murah, sehingga kapas lebih unggul disbanding serat
lainnya.
Zat warna bejana larut
Zat warna bejana larut merupakan pengembangan zat warna bejana, berupa
leuco zat warna bejana yang distabilkan dalam suasana alkali, sehingga dalam
pemakaiaannya lebih mudah karena larut dalam air.
Zat warna bejana larut yang berasal dari zat warna bejana jenis antrakuinon
disebut antrasol, sedang yang berasal dari zat warna bejana jenis indigo disebut
indigososl. Zat warna bejana larut yang dibuat umumnya berasal dari zat warna jenis
IK yang molekulnya tidak terlalu besar, sehingga hasil celupnya mudah rata.

OSO3 H

O
CIOSO3 H
H
N
O

H
N

N
H

N
H

O2SO

OSO3 H

OSO3 H

NaOH

CI Vat Blue 4
(Zat Warna Bejana)

Asam Leuco
Zat Warna Bejana

OSO3Na
H
N

NaO3 S

OSO3Na

N
H
OSO3Na

CI Solubilized Vat Blue 4


(Zat Warna Bejana Larut)
Skema pembuatan zat warna bejana larut

Dalam pemakaiannya zat warna bejana tidak memerlukan proses pembejanaan


sehingga tidak ada proses yang kondisinya alkalis, maka zat warna ini cocok digunakan
untuk pencelupan sutera atau wool yang tidak tahan suasana alkalis. Hasil pencelupan
dengan zat warna bejana larut tahan luntur terhadap pencuciannya tinggi, tetapi harganya
sangat mahal, sehingga jika pun digunakan untuk mencelup bahan kapas, itu pun
menggunakan bahan kapas yang berkualitas tinggi.
Tahapan Proses Pencelupan
1. Persiapan larutan celup
Dengan perhitungan yang tepat, larutan pencelupan disiapkan sesuai resep pencelupan.
2. Pencelupan
Afinitas zat warna bejana larut relatif kecil, sehingga perlu dibantu dengan
penambahan NaCl sebagai penderong penyerapan zat warna baejana larut akan masuk
ke pori-pori serat kapas.

Selulosa + ZW selulosa. ZW
3. Pembangkitan Warna
Zat warna bejana larut tidak dapat langsung dioksidasi, melainkan harus dirubah
dahulu menjadi asam leuco dngan cara dihidrolisis dengan asam sulfat, leuco
selanjutnya dioksidasi menjadi bentuk zat warna bejaa yang tidak larut dan berikatan
dengan serat.
4. Pencucian
Untuk meningkatka tahan lunturnya maka terhadap hasil celup dilakukan pencucian
dengan sabun untuk menghilangkan sisa-sisa zat warna yang hanya menempel di
permukaan serat.
III.

Percobaan

3.1 Alat

Gelas porselen

Pengaduk kaca

Beaker glass

Termometer

Timbangan

Gelas ukur

Kaki tiga dan bunsen

3.2 Bahan :
-

Zat warna bejana larut (ZW Sol Biru)

Pembasah

H2SO4

NaCl

Na2CO3

NaNO2

Sabun

Kain kapas 100%

III.3

Resep:

Resep
Orang keResep Pencelupan:
Zat warna (ZW Sol

(Yuli R)

(Mita Arini)

(Yusuf

(Ratu K)

R)
2%

Biru)
Pembasah
Na2CO3
NaCl
Vlot
Resep Pembangkitan
Warna:
H2SO4
NaNO2
Vlot
Suhu
Waktu
Resep Pencucian:
Sabun
Na2CO3
Vlot
Suhu
Waktu
Skema proses

1 ml/L
2 g/L
50 g/L
1 : 20

10 ml/L

10 ml/L

20 ml/L
2 g/L
1 : 20
40oC
10 menit

20 ml/L

1 g/L
2 g/L
80oC
15 menit
Metoda 1 Metoda 2
Metoda 1 Metoda 2

3.4. Fungsi Zat


Zat warna bejana larut: sebagai zat yang akan mewarnai kain/bahan
Na2CO3

: untuk mendapatkan suasana alkalis agar kelarutan zat warna


bejana larut makin baik.

NaCl

: berfungsi untuk mendorong penyerapan zat warna

H2SO4

: untuk menghidrolisis zat warna larut agar menjadi asam leuco

NaNO2

: untuk mengosidasi asam leuco zat warna bejana larut agar


menjadi zat warna yang tidak larut

Pembasah

: untuk meratakan dan mempercepat proses pembasahan kain

Sabun

: untuk proses pencucian setelah proses pencelupan guna


menghilangkan meghilangkan zw yang menempel di
permukaan serat.

3.5. Diagram Alir


Proses
ProsesPencelupan
Pencelupan

Persiapan
Persiapanlarutan
larutanceup
ceup

Pembangkitan
Pembangkitanwarna
warna
( Hidrolisis
( Hidrolisisdan
dan
oksidasi)
oksidasi)

Proses
ProsesPencucian
Pencucian

Evaluasi
Evaluasi

3.6. Skema Proses


1. Metoda Standar (two bath two stage)
ZW
Pembasah
Na2CO3

NaCl
60 - 70 oC
40 oC H2SO4 NaNO2

T (oC)

30oC
10
T (menit)

40

70

90

10

2. Metoda Modifikasi (one bath two stage)


ZW
Pembasah
60 - 70 oC

Na2CO3
NaNO2

NaCl

H2SO4

30oC

40oC

T (oC)
10

40

60

70

T (menit)
3. Perhitungan Resep

Resep 1 (Yuli Rinendahwati)


Berat bahan

: 3,93

Keb. Air

: 3,93 x 20 = 78,6

Keb. Zw

= 7,86

Pembasah

x 78,6 = 0,078

H2SO4

x 78,6 = 0,786

NaCl

x 78,6 = 3,93

Na2CO3

x 78,6 = 0,15

NaNO2

x 78,6 = 0,15

80

Sabun

Resep 2 (Mita Arini)


Berat bahan

: 3,85

Keb. Air

x 78,6 = 0,078

: 3,85 x 20 = 77

Keb. Zw

= 7,7

Pembasah

x 77 = 0,07

H2SO4

x 77 = 0,77

NaCl

x 77 = 3,85

Na2CO3

x 77= 0,15

NaNO2

x 77= 0,15

Sabun

x 77= 0,07

Resep 3 (Yusuf Rochmat)


Berat bahan

: 4,46

Keb. Air

: 4,46 x 20 = 89,2

Keb. Zw

Pembasah

= 8,92

x 89,2 = 0,089

H2SO4

x 89,2 = 1,7

NaCl

x 89,2 = 4,46

Na2CO3

x 89,2= 0, 1784

NaNO2

x 89,2 = 0,15

Sabun

x 89,2 = 0,089

Resep 4 (Ratu khoerunnisa)


Berat bahan

: 4,31

Keb. Air

: 4,31 x 20 = 86,2

Keb. Zw

Pembasah

x 4,31 = 0,0862

H2SO4

x 4,31 = 1,724

NaCl

x 4,31 = 4,31

Na2CO3

x 4,31 = 0,1724

NaNO2

x 4,31 = 0,1724

= 8,62

Sabun

III.4

x 4,31 = 0,0862

Tabel Pengamatan
Sampel Bahan

Ranking
Kerataan

Ketuaan
Warna

Resep 1

Resep 2

Resep 3

Resep 4

Ket: skala 1-5 semakin tinggi rangking semakin tua warnanya

III.5

Ranking

Grafik

IV.

Diskusi

Ketuaan warna

Metoda standar (two bath two stage)


Pada metoda ini antara proses pencelupan dan pembangkitan zat warna
dilakukan pada bak yang terpisah. Metoda ini digunakan untuk resep 1 dan 3 dengan
variasi konsentrasi H2SO4 (10 g/L, 20 g/L,) untuk menghidrolisis zat warna pada
proses pembangkitan warna.
Dari hasil yang diperoleh ternyata dapat dibandingkan bahwa untuk resep 3
yang menggunakan asam sulfat paling banyak (20 g/L) memperoleh hasil ketuaan
warna yang paling baik. Ini disebabkan karena zat warna bejana yang dihidrolisis
menjadi asam leuco oleh asam sulfat lebih banyak. Sehingga asam leuco yang
dioksidasi oleh NaNO2 menjadi bentuk zat warna yang tidak larut dan berikatan
dengan serat lebih banyak. Sehingga warna yang dihasilkan akan menjadi lebih tua.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah penggunaan bak/beakerglass. Luas
permukaan bak tidak boleh terlalu kecil karena bisa menghambat reaksi oksidasi
sehingga akan menimbulkan warna belang pada bahan. Untuk menghindarinya,
gunakan bak yang memiliki luas permukaan yang cukup luas.

Metoda modifikasi (metoda 1 bak 2 tahap)


Metoda pencelupan modifikasi ini dilakukan untuk menghemat air dan
mempercepat waktu proses. Karena metoda ini menggunakan 1 bak sekaligus untuk
proses pencelupan dan pembangkitan warna. Meskipun demikian, hasil yang
diperoleh dari proses pencelupan dengan metoda modifikasi ini hasilnya kurang baik
apabila dibandingkan dengan hasil celupan metoda standar. Untuk memperoleh hasil
celupan yang sama antara hasil celup metoda standar dan metoda modifikasi maka
pada metoda standar, H2SO4 yang diberikan harus lebih banyak. Hal itu disebabkan
karena H2SO4 yang berlebih dapat menetralkan sisa alkali yang berasal dari larutan
celup sebelumnya dan dapat menghidrolisis zat warna lebih banyak, sehingga asam
leuco yang dioksidasi oleh NaNO2 akan lebih banyak pula. Hasilnya warna yang
dihasilkan akan lebih tua.

Kerataan warna
Kerataan warna yang dihasilkan pada proses pencelupan yang menggunakan
metoda standar dan metoda modifikasi, umumnya baik. Ini disebabkan karena zat warna
bejana yang diubah menjadi zat warna bejana larut umumnya adalah zat warna bejana
jenis IK yang molekulnya relatif kecil. Karena molekulnya kecil, maka afinitas zat
warna relatif kecil. sehingga dengan afinitas yang kecil , pencelupannya akan mudah
rata. Meskipun afinitas yang kecil menyebabkan daya tahan luntur yang kurang baik,
tetapi karena pada akhir proses pencelupan zat warna bejana larut diubah kembali
menjadi zat warna bejana yang tidak larut, maka diperoleh tahan luntur terhadap
pencuaciannya menjadi lebih baik.

V.

Keimpulan

Zat warna bejana larut memiliki sifat tahan luntur yang baik

Semakin banyak H2SO4 60% ketuaan warna semakin tinggi.

Metoda standar menghasilkan warna lebih tua daripada metoda modifikasi

VI.

Daftar Pustaka
Isminingsih, dkk. 1979. Kimia Zat Warna. Bandung : ITT
Karyana, Dede. Dkk, 2005. Pedoman Praktikum Pencelupan 1. Bandung :
STTT