Anda di halaman 1dari 15

SASARAN BELAJAR ( LI DAN LO )

LI.1. Memahami dan menjelaskan Sumpah Hippocrates


1.1 Memahami dan menjelaskan Sumpah Hippocrates

LI.2. Memahami dan menjelaskan Rahasia Medis
2.1 Memahami dan menjelaskan definisi rahasia medis
2.2 Memahami dan menjelaskan Yang berkewajiban menyimpan rahasia medis
2.3 Memahami dan menjelaskan kapan rahasia medis dapat dibuka
2.4 Memahami dan menjelaskan sanksi hukum yang berhubungan dengan rahasia
medis

LI.3. Memahami dan menjelaskan Informed consent dan Rekam medis
3.1 Memahami dan menjelaskan informed consent
3.2 Memahani dan menjelaskan rekam medis

LI.4. Memahami dan menjelaskan tentang hukum membeberkan rahasia medik dari
perspektif hukum islam











LI. 1. Memahami dan menjelaskan Sumpah Hippocrates
LO. 1.1 Memahami dan Menjelaskan Sumpah Hippocrates

Hippocrates (460-355 SM ), seorang dokter/ guru besar sebuah sekolah kedokteran
yang terkenal pada saat itu.
Perintah-perintah yang terdapat dalam Sumpah Hippocrates adalah :
1. Tidak melakukan tindakan yang merugikan pasien
2. Memperlakukan pasien menurut tingkat : kemampuan, penilaian dokter yang terbaik
3. Tidak pernah meracuni pasien
4. Tidak pernah melakukan abortus
5. Tidak pernah melakukan pembedahan yang ia tidak terlatih
6. Tidak pernah melukai pasien secara pribadi dan melakukan kesalahan seksual
terhadap pasien
7. Tidak pernah membocorkan rahasia tentang diri pasien
( www. kalbe.co.id)
Sumpah Hippocrates berbunyi :
Saya bersumpah demi Apollo dewa penyembuh dan Aesculapius dan Hygeia, dan Panacea
dan semua dewa-dewa sebagai saksi, bahwa sesuai dengan kemampuan dan fikiran saya, saya
akan mematuhi janji-janji berikut :
1. Saya akan memperlakukan guru yang telah mengajarkan ilmu ini dengan penuh kasih
sayang sebagaimana terhadap orang tua saya sendiri, jika perlu akan saya bagikan
harta saya untuk dinikmati bersamanya.

2. Saya akan memperlakukan anak-anaknya sebagai saudara kandung saya dan saya
akan mengajarkan ilmu yang telah saya peroleh dari ayahnya, kalau mereka memang
mau mempelajarinya tanpa imbalan apapun.


3. Saya akan meneruskan ilmu pengetahuan ini kepada anak-anak saya sendiri dan
kepada anak-anak guru saya, dan kepada mereka yang telah mengikat diri dengan
janji dan sumpah untuk mengabdi kepada ilmu pengobatan, dan tidak kepada hal-hal
lainnya.

4. Saya akan mengikuti cara pengobatan yang menurut pengetahuan dan kemampuan
saya akan membawa kebaikan bagi penderita, dan tidak akan merugikan siapapun.


5. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun
diminta atau dianjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. Atas dasar yang sama, saya
tidak akan memberikan obat untuk menggugurkan kandungan.

6. Saya ingin menempuh hidup yang saya baktikan kepada ilmu saya ini dengan tetap
suci dan bersih.


7. Saya tidak akan melakukan pembedahan terhadap seseorang, walaupun ia menderita
penyakit batu , tetapi akan menyerahkan kepada mereka yang berpengalaman dalam
pekerjaan ini.

8. Rumah siapapun yang saya masuki, kedatangan saya itu saya tujukan untuk
kesembuhan yang sakit dan tanpa niat-niat buruk atau mencelakakan, dan lebih jauh
lagi tanpa niat berbuat cabul terhadap wanita ataupun pria , baik merdeka maupun
hamba sahaya.


9. Apapun yang saya dengar dan saya lihat tentang kehidupan seseorang yang tidak patut
disebarluaskan , tidak akan saya ungkapkan karena saya harus merahasiakannya.

10. Selama saya tetap mematuhi sumpah ini, izinkanlah saya menikmati hidup dalam
mempraktekkan ilmu saya ini, dihormati oleh semua orang, disepanjang waktu!
Tetapi jika sampai saya mengkhianati sumpah ini, balikkanlah nasib saya.

( Buku Etika kedokteran dan Hukum Kesehatan )















LI.2. Memahami dan Menjelaskan Rahasia Medis
LO.2.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Rahasia Medis
Sejak zaman Hippocrates, kewajiban memegang teguh rahasia pekerjaan dokter harus
senantiasa dipenuhi, untuk menciptakan suasana percaya mempercayai yang mutlak
diperlukan dalam hubungan dokter dengan pasien. Hippocrates merumuskan sumpah yang
harus diucapkan murid-muridnya tentang rahasia pekerjaan dokter berbunyi: Apapun yang
saya dengar atau lihat, tentang kehidupan seseorang yang tidak patut
disebarluaskan,tidak akan saya ungkapkan, karena saya harus merahasiakannya.
Namun dalam perkembangan iptek kedokteran selanjutnya, terdapat pengecualian-
pengecualian untuk membuka rahasia jabatandan pekerjaan dokter, demi memelihara
kepentingan umum dan mencegah hal-hal yang dapat merugikan orang lain.
Salah satu ayat Lafal Sumpah Dokter Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 26 Tahun 1960, berbunyi: Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya
ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.
Dalam Bab II KODEKI tentang kewajiban dokter terhadap pasien dicantumkan antara
lain: Seorang dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang
pasien karena kepercayaan yang diberikan kepadanya, bahkan juga setelah pasien
meninggal dunia.
Rahasia adalah sesuatu yang disembunyikan dan hanya diketahui oleh satu orang, oleh
beberapa orang saja, atau kalangan tertentu.
Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran, pada pokoknya ialah moril yang telah ada
sebelum zaman Hippocrates terlebih zaman undang-undang ataupun peraturan.
>> Rahasia Jabatan: Kewajiban dokter menjaga rahasia sebagai pejabat struktural (pensiun,
sudah tidak praktik)
>> Rahasia Pekerjaan: Kewajiban dokter menjaga rahasia pada saat dia menjalankan
praktiknya

LO.2.2. Memahami dan Menjelaskan Yang berkewajiban menyimpan rahasia medis
Berdasarkan peraturan pemerintahan No.10 tahun 1966 pasal 3 :
Wajib simpan rahasia kedokteran diperluas bagi tenaga kesehatan lainnya, seperti perawat,
bidan, mahasiswa kedokteran, ahli farmasi, analisis laboratorium, radiologi dan lain-lainnya.




LO.2.3. Memahami dan Menjelaskan Kapan rahasia medis dapat dibuka.

KUHAP tentang hak undur diri terdapat pasal-pasal 120 dan 168,dan secara khusus
tercantum pada pasal 170 KUHAP :
1. Mereka karena pekerjaan,harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan
rahasia,dapat dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi,yaitu
tentang hal yang dipercayakan lepada mereka
2. Hakim menetukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan
tersebut,pengadilan negeri memutuskan apakah alasan yang dikemukakan oleh saksi
atau saksi ahli untut tidak berbicara itu,layak dan dapat diterima atau tidak

Pasal 48 UU No. 29 tahun 2004 , tentang praktik kedokteran pada paragraf 4
mengenai rahasia Kedokteran dinyatakan bahwa :
Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib
menyimpan rahasia.Rahasia Kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan
pasien,memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum,permintaan pasien sendiri atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Atas izin / otoritas pasien
Undang-undang Wabah dll, KUHAP, JO PP 10/66
Pasal 48 KUHP : Daya paksa
Pasal 50 KUHP : Menjalankan Undang-undang
Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang,
tidak di pidana.
Pasal 51 KUHP : Perintah jabatan
Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan
oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana.
Keilmuan, kepentingan umum yang lebih tinggi dan atas kepentingan pasien.



LO.2.4. Memahami dan Menjelaskan sanksi hukum yang berhubungan dengan rahasia medis.
Hukum pasal 322 KUHP :
1. Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena
jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang terdahulu, diancam
dengan pidana paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak enam ratus
rupiah.
2. Jika kejahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat
dituntut atas pengaduan orang itu ( dalam undang-undang dikenal sebagai delik
aduan ).
Pasal 1365 KUH perdata
Barang siapa yang berbuat salah sehingga orang lain menderita kerugian, berwajib
mengganti kerugian itu.
DILEMA RAHASIA MEDIS
Pasal 224 KUHP
Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau juru
bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia
harus melakukannya :
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.

Pasal 522 KUHP
Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.

PEMBELAAN
KUHP Pasal 48 ( overmach )
Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.
KUHP Pasal 49 ( nood toetana = daya paksa )
Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri
maupun orang lain, kehormatan/kesusilaan/harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada
serangan yang dekat pada saat itu yang melawan hukum.


Pasal 50 KUHP
Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak
dipidana.
Pasal 51 KUHP
Barang siapa yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang
diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana.

HAK UNDUR DIRI
KUHAP Pasal 170

1. Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan
menyimpan rahasia, dapat minta di bebaskan dari kewajiban untuk memberikan
keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.
2. Hakim menentukan sah/tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.

LI.3. Memahami dan Menjelaskan Informed Consent dan Rekam Medis
LO.3.1. Memahami dan Menjelaskan Informed Consent
Informed adalah telah diberitahukan, telah disampaikan, atau telah diinformasikan.
Sedangkan consent adalah persetujuan yang diberikan seseorang untuk berbuat sesuatu. Jadi
informed consent adalah persetujuan yang diberikan pasien kepada dokter setelah diberi
penjelasan. Menurut Permenkes No. 585 tahun 1989 dijelaskan bahwa yang dimaksud
dengan persetujuan tindakan medik adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarga
atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien
tersebut. Dan menurut Appelbaum seperti dikutip Guwandi (1993) menyatakan bahwa
informed consent bukan sekedar formulir persetujuan yang didapat dari pasien, melainkan
proses komunikasi. Tercapainya kesepakatan antara dokter-pasien merupakan dasar dari
seluruh proses informed consent.

Terdapat dua macam bentuk informed consent, yaitu:
1. Tersirat atau dianggap telah diberikan (Implied consent)
Implied consent adalah persetujuan yang diberikan pasien secara tersirat, tanpa
pernyataan tegas. Misalnya pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium,
melakukan suntikan pada pasien, dan melakukan penjahitan. Implied consent bentuk
lain adalah bila pasien dalam keadaan gawat darurat sedangkan dokter memerlukan
tindakan segera, sementara pasien dalam keadaan tidak bisa memberikan persetujuan
dan keluarganyapun tidak ada ditempat, dokter dapat melakukan tindakan medik
terbaik menurut dokter (PERMENKES No. 585 tahun 1989, pasal 11) dan dapat juga
disebut presumed consent. Artinya bila pasien dalam keadaan sadar, dianggap
menyetujui tindakan yang akan dilakukan dokter.

2. Expressed consent
Expressed consent adalah persetujuan yang dinyatakan secara tulisan atau lisan, bila
yang akan dilakukan lebih dari prosedur pemeriksaan dan tindakan yang biasa. Dalam
keadaan demikian, sebaiknya kepada pasien disampaikan terlebih dahulu apa tindakan
yang akan dilakukan supaya tidak sampai terjadi kesalah pengertian. Misalkan
pemeriksaan dalam rektal atau pemeriksaan dalam vaginal, mencabut kuku dan
tindakan lain yang melebihi prosedur pemeriksaan dan tindakan umum.

Bagian yang terpenting dalam informed consent adalah mengenai informasi atau
penjelasan yang disampaikan kepada pasien atau keluarga pasien. Masalahnya adalah
informasi mengenai apa (what) yang perlu disampaikan, kapan (when) disampaikan, siapa
(who) yang harus menyampaikan, dan informasi mana (which) yang perlu disampaikan.
Mengenai apa (what) yang harus disampaikan tentulah segala sesuatu tentang penyakit
pasien, tindakan apa yang akan dilakukan, prosedut tindakan yang akan dijalani pasien baik
diagnostik, terapi, dan lain sebagainya. Sehingga pasien atau keluarga pasien dapat
memahaminya. Hal ini mencangkup bentuk, tujuan, risiko, manfaat dari terapi yang akan
dilaksankan dan alternatif terapi. Penyampaian informasi haruslah secara lisan. Mengenai
kapan (when) disampaikannya, bergantung pada jenis tindakan yang bersedia setelah dokter
memutuskan akan melakukan tindakan invasif yang dimaksud. Pasien atau keluarga harus
diberi waktu yang cukup untuk menentukan keputusannya. Yang menyampaikan (who)
informasi, bergantung pada jenis tindakan yang akan dilakukan. Dalam Permenkes dijelaskan
nahwa dalam tindakan bedah dan tindakan invasi lainnya harus diberikan oleh dokter yang
akan melakukan tindakan. Dalam keadaan tertentu dapat pula oleh dokter lain atas
sepengetahuan dan petunjuk dokter yang bertanggung jawab. Sedangkan informasi aman
(which) yang harus disampaikan dalam Permenkes dijelaskan haruslah selengkap-
lengkapnya, kecuali dokter menilai informasi tersebut dapat merugikan kepentinga kesehatan
pasien atau pasien menolak diberikan informasi. Bila perlu informasi dapat diberikan kepada
keluarga pasien.
Dalam UUPK tentang persetujuan tindakan kedoketeran atau kedokteran gigi,
sekurang-kurangnya harus mencankup:
Diagnosis dan tata cara tindakan medis
Tujuan tindakan medis yang dilakukan
Alternatif tindkan lain dan risikonya
Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan

Persetujuan haruslah didapat sesudah pasien mendapat informasi yang adekuat. Hal
yang harus diperhatikan adalah bahwa yangt berhak memberikan persetujuan adalah pasien
yang sudah dewasa (diatas umur 21 tahun atau sudah menikah) dan dalam keadaan sehat.
Selama ini penandatanganan persetujuan ini lebih sering dilakukan oleh keluarga pasien,
mungkinkarena berkaitan dengan kesangsian terhadap kesiapan mental pasien sahingga
beban diambil alih oleh keluarga pasien atau atas dasar lain. Begitu pula untuk pasien yang
berumur dibawah 21 tahun atau gangguan jiwa, yang menandatangani adalah orang tua atau
wali atau keluarga atau induk semang. Sedangkan pasien yang tidak sadar atau pingsan serta
tidak didampingi keluarga terdekat secara medik berada dalam keadaan gawat darurat yang
memerlukan tindakan medik segera, tidak diperlukan persetujuan dari siapapun (Pasal 11
Bab, IV PERMENKES No. 585)

Terdapat lima syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya persetujuan tindakan medik,
yaitu:
Diberikan secara bebas
Diberikan oleh orang yang sanggup membuat perjanjian
Telah dijelaskan bentuk tindakan yang akan dibuat sehingga pasien dapat memahami
tindakan itu perlu dilakukan
Mengenai sesuatu hal yang khas
Tindakan itu juga dilakukan disituasi yang sama

Penolakan sering terjadi didalam tindakan medik. Tidak selamanya pasien atau
keluarga pasien setuju dengan tindakan medik yang akan dilakukan dokter. Dalam hal ini
dokter maupun kalangan kesehatan lainnya harus memahami bahwa pasien atau keluarga
mempunyai hak untuk menolak usul tindakan yang akan dilakukan. Ini disebut juga dengan
Informed refusal. Bila gagal meyakinkan pasien dikemudian hari, sebaikanya dokter atau
rumah sakit meminta pasien atau keluarga menandatangani surat penolakan terhadap anjuran
tindakan medik yang diperlukan. Dengan demikian apa yang terjadi dikemudian hari tidak
menjadi tanggu jawab dokter atau rumah sakit lagi.


LO.3.2. Memahami dan Menjelaskan Rekam Medis
Rekam medis adalah kumpulan keterangan tentang identitas, hasil anamnesis,
pemeriksaan dan catatan segala kegiatan para pelayan kesehatan atas pasien dari waktu ke
waktu.
Menurut PERMENKES No. 794a/Menkes/XII/89, rekam medis adalah berkas yang berisikan
catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.


I. ISI REKAM MEDIS

Di rumah sakit terdapat 2 jenis Rekam Medis, yaitu :
1. Rekam Medis untuk Pasien rawat jalan
2. Rekam Medis untuk Pasein rawat inap
Untuk pasien rawat jalan, termasuk pasien gawat darurat, Rekam Medis mempunyai
informasi pasien antara lain :
a. Identitas dan formulir perizinan ( lembar hak kuasa )
b. Riwayat penyakit ( anamnesa ) tentang :
- Keluhan utama
- Riwayat sekarang
- Riwayat penyakit yang pernah diderita
- Riwayat keluarga tentang penyakit yang mungkin diturunkan
c. Laporan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan laboratorium, foto rontgen,
scanning, MRI, dan lain-lain.
d. Diagnosa dan atau diagnosis banding
e. Instruksi diagnostik dan terapeutik dengan tanda tangan pejabat kesehatan yang
berwenang.
Untuk pasien rawat inap, memuat informasi yang sama dengan yang terdapat dalam
rawat jalan, dengan tambahan :
- Persetujuan tindakan medik
- Catatan konsultasi
- Catatan perawat dan tenaga kesehatan lainnya
- Catatan observasi klinik dan hasil pengobatan
- Resume akhir dan evaluasi pengobatan.

RESUME AKHIR
Resume akhir atau evaluasi pengobatan dibuat setelah pasien dipulangkan. Isi resume
harus singkat, menjelaskan informasi penting tentang penyakit, pemeriksaan yang dilakukan.
Isinya antara lain menjelaskan :
1. Mengapa pasien masuk rumah dakit ( anamnesis )
2. Hasil penting pemeriksaan fisik diagnostik, laboratorium, rontgen dan lain-lain
3. Pengobatan dan tindakan operasi yang dilaksanakan
4. Keadaan pasien waktu keluar ( perlu berobat jalan, mampu untuk bekerja, dan lain-
lain )
5. Anjuran pengobatan dan perawatan ( nama obat dan dosisnya, tindakan pengobatan
lain, dirujuk kemana, perjanjian untuk datang lagi, dan lain-lain )



Tujuan pembuatan resume ini adalah :
1. Untuk menjamin kontinuitas pelayanan medik dengan kualitas yang tinggi serta bahan
yang berguna bagi dokter pada waktu menerima pasien untuk dirawat kembali.
2. Bahan penilaian staf medik rumah sakit
3. Untuk memenuhi permintaan dari badan-badan resmi atau perorangan tentang
perawatan seorang pasien
4. Sebagai bahan informasi bagi dokter yang bertugas, dokter yang mengirim dan dokter
konsultan

II. KEGUNAAN REKAM MEDIS
Secara umum kegunaan Rekam medis adalah :
1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ikut
mengambil bagian dalam memberikan pelayanan, pengobatab dan perawatan pasien.
2. Merupakan unsur dasar untuk perencanaan pengobatan/ perawatan yang harus
diberikan kepada pasien.
3. Sebagai bukti tertulis atas segala pelayanan, perkembangan penyakit dan pengobatan
selama pasien berkunjun/ dirawat di rumah sakit.
4. Sebagai dasar analisis, studi, evaluasi terhadap mutu pelayanan yang diberikan kepada
pasien.
5. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan tenaga
kesehatan lainnya.
6. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian dan
pendidikan.
7. Sebagai dasar didalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medik pasien.
8. Menjadi sumber ingatan yang harus di dokumentasikan, serta sabagai bahan
pertanggungjawaban dan laporan.


III. PEMILIK REKAM MEDIS

Standar Internasional menyatakan rekam medis adalah milik rumah sakit, sedangkan
isinya memang milik pasien. Begitu pula yang diatur dalam PERMENKES tahun 1989
tentang rekam medis pasal 9

IV. KERAHASIAAN REKAM MEDIS
Kewajiban dokter dan kalangan kesehatan untuk melindungi rahasia ini tertuang dalam
lafal sumpah dokter, KODEKI dan peraturan perundang-undangan yang ada.




V. LAMA PENYIMPANAN REKAM MEDIS
Berdasarkan PERMENKES tahun 1989 pasal 7 :
1. Lama penyimpanan rekam medis sekurang-kurangnya 5 ( lima ) tahun terhitung
tanggal terakhir pasien berobat.
2. Lama penyimpanan rekam medis yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat khusus
dapat ditetapkan tersendiri.
3.
Sebelum dimusnahkan maka berkas tersebut harus :
1. Diambil informasi-informasi utama.
2. Menyimpan berkas anak-anak hingga batas usia tertentu sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
3. Menyimpan berkas rekam medis dengan kelainan jiwa sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
Di Inggris, Dapartemen kesehatan merekomendasi masa retensi rekam medis minimum :
- Rekam medis obstetri, 25 tahun
- Rekam medis anak-anak dan usia muda, disimpan sampai ulang tahun ke-25, atau
8 tahun setelah kunjungan terakhir.
- Rekam medis gangguan mental, 20 tahun sesudah dokter yang merawat
menyatakan sudah sembuh.
- Rekam medis yang lain 8 tahun dan resume akhir dibuat.

LI.4. Memahami dan Menjelaskan tentang hukum membeberkan rahasia medik
dari perspektif hukum islam.

LO.4.1. Memahami dan Menjelaskan tentang hukum membeberkan rahasia medik dari
perspektif hukum islam.
QS. Al-Anfal : 27

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan
( juga ) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu
mengetahui.




QS. Al-Isra : 34

Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.

HR. Abu Daud
Majelis-majelis itu harus menjaga amanat kecuali dalam 3 hal : pertumpahan darah yang
haram, kemaluan yang diharamkan dan perampasan harta tanpa hak.
( www.zonastudi.co.cc )

QS. An-Nur : 19


Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di
kalangan orang-orang beriman bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat dan Allah
mengetahui sedang kamu tidak mengetahui .

















BLOK ETIKA, MORAL DAN PROFESIONALISME

Beberkan Rahasia Medik Disidik Polisi
Wrap up


Kelompok B-11
Ketua : Tamimiah Aini ( 1102010243 )
Sekretaris : Mutiara Kesuma Ningrum ( 1102010193 )

Mutiara Fadhila ( 1102010192 )
Mutiara Laras Debtianti ( 1102010194 )
Rininta Nurrahma Dwiputri ( 1102010243 )
Rinto Nugroho Putra Daya ( 1102010244 )
Rio Geraldi ( 1102010245 )
Teffi Widya Jani ( 1102010278 )
Yusra Dina ( 1102010306 )

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA
2010/2011

DAFTAR PUSTAKA

1. Hanafiah, Jusuf dan Amir, Amri.1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan.
Ed.3. Jakarta : EGC

2. Hanafiah, Jusuf dan Amir, Amri . 2008. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan.
Ed.4. Jakarta : EGC

3. www.zonastudi.co.cc

4. Konsil Kedokteran

5. www.theonlyquran.com