Anda di halaman 1dari 11

0

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I


Topik : SETTING TIME BAHAN CETAK ALGINAT BERDASARKAN
VARIASI SUHU AIR (REVISI)
Kelompok : B5b
Tgl. Praktikum : 11 Maret 2014
Pembimbing : Titien Hary Agustantina, drg., MKes.
No. Nama NIM
1 DEA AISYAH 021311133107
2 MEIDIANA ADININGSIH 021311133108
3 DINDA KHAIRUNNISA R 021311133109
4 JERRY SAIFUDIN 021311133110
DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
1
1. TUJUAN
Mampu memanipulasi dengan tepat bahan cetak alginat serta membedakan
pengaruh suhu terhadap setting time.
2. CARA KERJA
2.1. Bahan yang digunakan:
a. Bubuk alginat merek Jeltrate regular setting
b. Air
Gambar 2.1. Bahan yang digunakan A. bubuk alginat, B. Air
2.2. Alat yang digunakan:
a. Mangkuk karet/bowl
b. Spatula
c. Sendok takar alginat
d. Gelas penakar air
e. Gelas ukur
f. Gelas plastik untuk menimbang alginat
g. Sendok bebek untuk mengambil air
h. Sendok kecil untuk menambah dan mengurangi alginat yang ditimbang
i. Stopwatch
B A
2
j. Timbangan digital
k. Cetakan bentuk cincin dari paralon dengan dalam 3 cm dan tinggi 16 mm
l. Alat uji setting time berupa batang akrilik 6 mm dan panjang 10 cm
m. Lempeng kaca
n. Termometer digital
Gambar 2.2. Alat-alat yang digunakan A. mangkuk karet, B. spatula, C. sendok
takar, D. gelas penakar air, E. gelas ukur, F. timbangan digital, G. termometer
digital, H. stopwatch, I. alat uji setting time, J. lempengan kaca, K. cincin
paralon sebagai cetakan alginat
2.3. Cara kerja
a. Alat dan bahan yang dibutuhkan disiapkan.
b. Cetakan bentuk cincin diletakkan di atas lempeng kaca.
c. Gelas bubuk diletakkan di atas timbangan dalam keadaan mati, lalu timbangan
distabilkan.
d. Timbangan dimatikan.
e. Satu takar sendok alginat peres diambil kemudian diratakan dengan spatula
tanpa tekanan dalam posisi spatula yang tegak lurus,dan posisi yang lebih
lurus yang digunakan untuk meratakan.
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
3
f. Gelas diambil dari timbangan dan bubuk alginat yang telah ditakar
dimasukkan ke dalam gelas bubuk kemudian diletakkan kembali diatas
timbangan.
g. Timbangan dinyalakan kemudian bubuk alginat diukur hingga 7 gram.
Matikan timbangan.
h. Air dengan suhu kamar disiapkan dan diukur sebanyak 19 ml (sesuai petunjuk
pabrik) kemudian suhu air diukur dan dicatat. Suhu air yang didapatkan adalah
25,9
o
C pada percobaan pertama dan 25,5
o
C pada percobaan kedua.
i. Air dituang ke dalam bowl, lalu tuang bubuk alginat (nyalakan stopwatch)
j. Adonan alginat diaduk memutar menggunakan spatula hingga adonan
tercampur.
k. Adonan diaduk dengan gerakan figure-8 mottion membentuk putaran 180C
terus menerus dan cepat serta adonan alginat ditekan ke dinding bowl. Adonan
alginat diaduk hingga homogen selama 30 detik.
l. Jika telah homogen adonan alginat dikumpulkan di satu titik pada bowl.
m. Adonan alginat dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk cincin hingga
berlebih. Spatula yang masih terdapat sisa adonan dibersihkan untuk
meratakan adonan alginat.
n. Adonan di dalam bowl disisakan untuk menguji apakah alginat mulai
memasuki tahap setting sempurna.
o. Adonan diratakan menggunakan spatula dengan kondisi spatula datar dengan
cara diratakan dari tengah ke pinggir.
p. Ujung alat uji disentuhkan dengan tekanan rendah pada sisa adonan alginat di
mangkuk karet/bowl, sampai sekiranya adonan tidak menempel pada ujung
alat uji akrilik. Jika masih membekas, ujung alat uji akrilik dibersihkan
dengan tisu.
q. Jika adonan alginat sudah tidak menempel pada ujung alat uji akrilik, alat uji
disentuhkan dengan tekanan rendah pada adonan alginat yang ada pada
cetakan cincin dengan interval 5 detik hingga tidak ada bekas tekanan dari
ujung alat uji pada adonan berbentuk cincin.
r. Jika sudah tak berbekas, stopwatch dimatikan.
4
s. Waktu yang tertera pada stopwatch dicatat mulai dari alginat dimasukkan ke
dalam air hingga final setting.
t. Tahap pengerjaan diulang dengan menggunakan air suhu lebih tinggi dar ipada
suhu kamar. Suhu yang digunakan pada percobaan pertama adalah 36
o
C dan
suhu yang digunakan pada percobaan kedua juga menggunakan suhu 36
o
C.
(Untuk menaikkan suhu air dapat dilakukan dengan mencelupkan gelas ukur
berisi air yang telah diukur ke dalam wadah berisi air yang telah dipanaskan.
Kemudian suhu air dalam gelas ukur diukur menggunakan thermometer
hingga mencapai suhu yang diinginkan)
u. Tahap pekerjaaan diulang dengan menggunakan air suhu lebih rendah daripada
suhu kamar. Suhu yang digunakan pada percobaan pertama adalah 14,7
o
C dan
suhu yang digunakan pada percobaan kedua menggunakan suhu 15
o
C. (Untuk
menurunkan suhu dapat dilakukan dengan mencampurkan air es dengan air
bersuhu kamar sambil suhunya diukur hingga mencapai suhu yang
diinginkan).
3. HASIL PRAKTIKUM
Tabel 3.1. Setting Time Bahan Cetak Alginat yang Dimanipulasi dengan
Air Bersuhu Ruang
Percobaan ke . . . Suhu Air (
o
C) Setting Time (menit : detik)
1 25,9 03 : 33
2 25,3 03 : 50
Tabel 3.2. Setting Time Bahan Cetak Alginat yang Dimanipulasi dengan
Air Bersuhu Lebih Tinggi dari Suhu Ruang
Percobaan ke . . . Suhu Air (
o
C) Setting Time (menit : detik)
1 36,0 03 : 00
2 36,0 03 : 33
Tabel 3.3. Setting Time Bahan Cetak Alginat yang Dimanipulasi dengan
Air Bersuhu Lebih Rendah dari Suhu Ruang
5
Percobaan ke . . . Suhu Air (
o
C) Setting Time (menit : detik)
1 14,7 04 : 40
2 15,0 04 : 40
4. PEMBAHASAN
4.1 Landasan Teori
Alginat atau hidrokoloid irreversible adalah bahan cetak yang paling
sering digunakan karena relative murah, mudah dimanipulasi, dan cukup akurat
untuk membuat cetakan gigi untuk keperluan diagnosa. (Hatrick 2011, 179)
Bahan ini terbuat dari bahan alam yang diperoleh dari hasil ekstrak gangang
coklat. Bahan tersebut adalah anhydro--d-mannouric acid atau asam alginic.
(Anusavice 2003, 239)
Bubuk bahan cetak alginat tersusun dari bahan aktif potassium atau
sodium alginat dengan prosentase 15% sampai 20%. Komposisi yang lain adalah
kalsium sulfat dihidrat, potassium sulfat, trisodium sulfat, dan tanah diatom.
Proporsi bahan penyusun tersebut dapat bervariasi tergantung dari pabrik
pembuat maupun tipe ssetting-nya. (Hatrick 2011, 179)
Prosentasi dan Fungsi Komposisi Bubuk Bahan Cetak Alginat
Komposisi Prosentase Berat Fungsi
Kalium Alginat 15 Agar alginat larut dalam air
Kalsium Sulfat 16 Reaktor
Oksida Seng 4 Partikel Pengisi
Kalium Titanium Fluorid 3 Pemercepat
Tnah Diatom 60 Partikel Pengisi
Natrium Fosfat 2 Bahan Pelambat
(Sumber: Annusavice 2003, 240)
Kalsium-alginat (alginat tidak larut air / insoluble calsium alginat)
terbentuk dari reaksi antara potassium-alginat (alginat larut air / soluble alginat)
dan kalsium sulfat. Reaksi ini terjadi sangat cepat, sehingga tidak cukup waktu
untuk melakukan proses pencetakan. Maka dari itu diperlukan penghambat
6
(retarder) untuk memperlambat reaksi supaya ada cukup waktu untuk
melakukan proses pencetakan yang baik dan memberikan hasil yang baik pula.
Reaksi pembentukan kalsium-alginat terjadi melalui dua reaksi.
2 Na
3
PO
4
+ 3 CaSO
4
Ca
3
(PO
4
)
2
+ 3 Na
2
SO
4
( 1 )
Pada reaksi pertama, trisodium fosfat berperan sebagai penghambat atau
retarder terhadap reaksi kedua. Trisodium fosfat lama-kelamaan akan habis
bereaksi, sedangkan kalsium sulfat masih tersisa.
K
2n
Alg +
n
CaSO
4
n K
2
SO
4
+ Ca
n
Alg ( 2 )
Ion kalsium dari kalsium sulfat yang masih sisa itu kemudian bereaksi dengan
potassium alginat membentuk kalsium alginat. Keseluruhan reaksi ini
dinamakan proses gelatinasi. (Anusavice 2003, 241).
Dalam memanipulasi bahan cetak alginat, terdapat hal-hal yang perlu
diperhatikan untuk mendapatkan campuran yang tepat. Pencampuran harus
dilakukan hingga campuran memiliki tekstur yang lembut, creamy, dan bebas
dari tekstur yang kasar selama kurang dari 1 menit (normal setting) dan harus
cocok untuk dibuat cetakan di dalam mulut. (Powers 2009, 176) Untuk
mendapatkan tekstur yang diinginkan, diperlukan cara manipulasi yang tepat.
Mulai dari cara pengadukan hingga perbandingan antara air dan bubuk alginat.
Diperlukan pengadukan yang cepat untuk mendapatkan campuran alginat
yang rata dan tekstur yang creamy. (Mc Cabe2009, 158-159) Pengadukan dapat
dilakukan dengan cara memutar bowl dengan salah satu tangan, dan tangan yang
lain mengaduk. Terkadang pengadukan dilakukan dengan menggunakan mesin
untuk proses pencampuran yang lebih cepat. Campuran air dan bubuk alginat
harus ditekan ke dinding bowl. Selain cara tersebut, alginat juga biasa diaduk
dengan cara figure-8 motion, yang membuat adonan tertekan oleh spatula pada
dinding bowl dengan putaran 180
o
. Kedua cara ini sangat tepat untuk
menggabungkan bubuk dengan air serta mengeluarkan udara yang terjebak di
dalam adonan. (Hatrick 2011, 181) (Anusavice 2003, 243)
7
Karena proses setting terjadi karena reaksi kimia, maka peningkatan
temperatur dapat mempercepat reaksi yang berakibat pula pada pemendekan
setting time. (Powers 2009, 176) Air yang dingin dapat memperlambat setting
time sedangkan air yang lebih hangat dapat memperlambatnya. (Hatrick 2011,
181) Sehingga setting time dapat diatur dengan mengubah temperatur air.
Semakin tinggi temperatur, setting time menjadi lebih pendek. Yaitu setiap
kenaikan suhu 10
o
C, setting time akan berkurang 1 menit. (Anusavice 2003,
242)
4.2 Analisis
4.2.1 Manipulasi dengan Air Bersuhu Normal
Pada percobaan pertama dengan air bersuhu 25,9
o
C (suhu ruang)
mengalami final setting time setelah 3 menit 33 detik sejak pencampuran. Pada
percobaan kedua dengan air bersuhu 25,3
o
C (suhu ruang yang sudah mulai
turun) mengalami final setting time setelah 3 menit 50 detik sejak pencampuran.
4.2.2. Manipulasi dengan Air yang Lebih Panas
Pada percobaan pertama dengan air bersuhu 36
o
C (lebih tinggi dari suhu
ruang) mengalami final setting time yang lebih cepat dari pada yang
dimanipulasi dengan air pada suhu ruang, yaitu setelah 3 menit sejak
pencapuran. Pada percobaan kedua dengan air yang juga bersuhu 36
o
C (lebih
tinggi dari suhu ruang) mengalami final setting time yang lebih cepat dari pada
yang dimanipulasi dengan air pada suhu ruang, yaitu setelah 3 menit 33 detik
sejak pencampuran. Perbedaan setting time pada kondisi suhu normal dan
kondisi suhu panas ini karena proses manipulasi material cetak alginat
merupakan suatu reaksi kimia, maka peningkatan temperatur dapat mempercepat
reaksi yang berakibat pula pada pemendekan setting time. (Powers 2009, 176)
Pada sebagian besar reaksi kimia, peningkatan suhu akan menyebabkan
terjadinya peningkatan pada laju reaksi. (Cairns 2004, 202) Percobaan kedua
memiliki setting time yang sama dengan percobaan yang menggunakan air
bersuhu 25,9
o
C. Hal ini menyimpang dengan teori yang sudah tertulis
8
sebelumnya. Kemungkinan yang menyebabkan hal ini adalah terjadi kesalahan
saat memperhatikan stopwatch selama proses setting.
4.2.3. Manipulasi dengan Air yang Lebih Dingin
Pada percobaan pertama dengan air bersuhu 14,7
o
C (lebih rendah dari
suhu ruang) mengalami final setting time yang lebih lambat dari pada yang
dimanipulasi dengan air pada suhu ruang, yaitu setelah 4 menit 40 detik. Pada
percobaan kedua dengan air yang bersuhu 15
o
C (lebih rendah dari suhu ruang)
juga mengalami final setting time yang lebih lambat dari pada yang dimanipulasi
dengan air pada suhu ruang, yaitu setelah 4 menit 40 detik sejak pencampuran.
Perbedaan setting time pada material cetak alginat yang dimanipulasi dengan air
bersuhu lebih rendah dari suhu ruang terjadi karena penurunan laju reaksi
sebagai akibat dari penurunan suhu. Hal ini merupakan kebalikan dari teori yang
sebelumnya, yaitu peningkatan temperatur dapat mempercepat reaksi yang
berakibat pula pada pemendekan setting time. (Powers 2009, 176) karena
peningkatan suhu akan menyebabkan terjadinya peningkatan pada laju reaksi.
(Cairns 2004, 202)
5. SIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan yang telah dilakukan, didapatkan
kesimpulan sebagai berikut:
Bahan cetak alginat yang dimanipulasi dengan air bersuhu lebih tinggi memiliki
setting time lebih cepat dari pada bahan cetak alginat yang dimanipulasi dengan
air bersuhu ruang.
Bahan cetak alginat yang dimanipulasi dengan air bersuhu lebih rendah memiliki
setting time lebih lambat dari pada bahan cetak alginat yang dimanipulasi
dengan air bersuhu ruang.
9
6. DAFTAR PUSTAKA
Anusavice KJ. 2003. Science of Dental Materials. 11
th
ed. St Louis: Saunders
Elsevier. p: 239, 241-3
Cairns D. 2004. Intisari Kimia Farmasi. 2
nd
ed. EGC. p: 202.
<http://books.google.co.id/books?id=5DM534zfzzcC&dq=pengaruh+laj
u+reaksi+terhadap+suhu&hl=id&source=gbs_navlinks_s>. Diakses
pada 18 Maret 2014.
Hatric CD et al. 2011. Dental Material Clinical Application for Dental
Assistants and Dental Hygienists. 2
nd
ed. Missouri: Saunder Elsevier. p:
179, 181.
Mc Cabe JF dan Walls A WG. 2009. Applied Dental Materials. 9
th
ed. Victoria:
Blackwell Publishing Asia. p: 158-9
Powers JM dan Wataha JC. 2009. Dental Materials: Properties and
Manipulation. Missouri: Mosby Elsevier. p: 176.
10
Cairns D. 2004. Intisari Kimia Farmasi. 2
nd
ed. EGC. p: 202.
<http://books.google.co.id/books?id=5DM534zfzzcC&dq=pengaruh+laju+reaksi+terha
dap+suhu&hl=id&source=gbs_navlinks_s>. Diakses pada 18 Maret 2014.