Anda di halaman 1dari 127

EVALUASI PROGRAM KELAS AKSELERASI DI SMP

NEGERI 3 TANGERANG SELATAN



SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi
Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)












Oleh :
NANI MAYADIANTI
NIM : 104018200677


PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011 M/1432 M











iii
ABSTRAK

Nani Mayadianti, Nim: 104018200677, Evaluasi Program Kelas Akselerasi di
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Skripsi dibawah bimbingan Drs. Ahmad
Sofyan, M.Pd. Jurusan Kependidikan Islam. Program Studi Manajemen
Pendidikan. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2011.

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan untuk
mengevaluasi program kelas akselerasi yang telah diselenggarakan selama 7 tahun
terakhir. Penelitian meliputi 4 Dimensi, Yaitu dimensi Konteks, Masukan, Proses,
Produk.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif analisis, yaitu
penelitian dengan cara menganalisis data yang diarahkan untuk menjawab
rumusan masalah, tetapi tidak untuk menguji hipotesis. Dengan demikian data
utama dari penelitian ini dapat diketahui dengan jelas dari analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program kelas akselerasi yang dikelola
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan telah terselenggara dengan baik, dalam
melayani kebutuhan siswa cerdas dan berbakat istimewa. Dari ke-empat dimensi
tersebut, dimensi masuk dan produk berada dalam kategori sangat baik, dan
dimensi konteks serta proses berada dalam kategori baik.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut direkomendasikan bahwa program
akselerasi harus dilanjutkan pelaksanaannya karena mampu memberikan
pelayanan bagi siswa yang tergolong cerdas istimewa dan berbakat istimewa.
Pada proses seleksi dan penerimaan calon siswa kelas akselerasi, pihak sekolah
harus lebih selektif, dan harus sesuai dengan standar kualifikasi siswa cerdas
istimewa dan berbakat istimewa.

iv
KATA PENGANTAR




Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, Penulis panjatkan Kehadirat
ALLAH SWT atas rahmat dan hidayah Nya, sehingga skripsi ini dapat selesai
sebagaimana mestinya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada
Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya menuju jalan yang
diridhoi oleh Allah.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu tugas akademis di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dalam mencapai gelar Sarjana Pendidikan
(S.Pd). Penulis menyadari bahwa tanpa dukungan dari berbagai pihak, skripsi ini
tidak akan selesai dengan baik.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya atas dukungan yang diberikan pada penulis selama menyusun skripsi ini.
Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Drs. Rusydy Zakaria M.Ed, M.Phill, Ketua Jurusan Kependidikan Islam,
serta Fauzan MA, Sekretaris Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Drs. Muarif SAM, M.Pd, Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan.
4. Drs. Ahmad Sofyan, M.Pd, Dosen Pembimbing yang memberikan saran
produktif dan kritik membangun dalam penyelasaian skripsi ini.
5. Drs. H. Nurochim, MM, Dosen Penasehat Akademik.
6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Kependidikan Islam Program Studi
Manajemen Pendidikan, atas ilmu pengetahuan, bimbingan, pengalaman,
motivasi yang telah diberikan kepada penulis selama proses perkuliahan.
v
7. Kepala SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, Maryono, SE, M.M.Pd, serta
Koordinator Program Kelas Akselerasi Ibu Hj. Eni Subekti, S.Pd, M.Pd,
atas kesempatan dan informasi yang telah diberikan selama penulis
melakukan penelitian.
8. Pengelola perpustakaan utama dan perpustakaan Fakultas Ilmu dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terima kasih atas fasilitas dan
layanan yang diberikan selama penulis menyusun skripsi ini.
9. Untuk Kedua orang tua tercinta, Papa H. Didi Heryanto dan Mama
H. Umayah (Almh), Ibu Khoiriyah yang tiada hentinya memberikan
doa, kasih sayang, motivasi serta dukungan moriil maupun materiil kepada
penulis. Maaf Kalau Ananda sedikit terlambat Lulus nya.
10. Untuk Adik-adik ku tercinta Eva Riyatussholihah, Imam Ahmad
Nurkholis, Fadia Fikriyatunnuha, terima kasih atas doa, kasih sayang dan
segala dukungan yang selalu memberikan semangat kepada penulis.
11. Untuk Anggriawan Pranata yang selalu ku sayang, yang sabar
mendengarkan keluh kesah ku dan menemani penulis dalam segala hal,
terima kasih atas cinta dan kasih sayang, Thank You Soo Much.
12. Teman-teman Seperjuangan KIMP 04 B, Iin, Bu Haji Iie, Uphe, Rani,
Afif, Dede, Atni, Nia, Mumu, Lulu, Pipit, Ule, Naila, Nurhayati, Zumaroh
Mangaph Man, Coax, Abenk, Rohim, Zamzam, Lukman, Faisal, Arif,
Jaway, Pawpaw, Zaki, Fadli, Kang Irfan, Eko, Encep, Arofah, Insan.
Teman-Teman KIMP 06, Retya, Syafrina, Siti Nurseha, Jeung Papah,
Vivi, Ipah, Reta, semoga semua sukses dan jadi orang yang berguna bagi
diri sendiri maupun orang lain, Aamiin.
13. Segenap Senior dan Junior KI Manajemen Pendidikan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
14. Serta kepada semua yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, terima
kasih atas dukungan dan motivasinya, teruskan perjuangan Man jadda
wajada


vi
Penulis berharap, skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi yang
membutuhkannya khususnya penulis sendiri, rekan-rekan mahasiswa dan
masyarakat pada umumnya.
Semoga semua bantuan yang diberikan kepada penulis akan mendapatkan
balasan setimpal dari Allah SWT, Aamiin.





Wassalamualaikum Wr. Wb

Jakarta, 23 Juni 2011
Penulis


NANI MAYADIANTI


vii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ i
LEMBAR PERNYATAAN ........................................................................................ ii
ABSTRAK ....................................... iii
KATA PENGANTAR ............ iv
DAFTAR ISI ........... vii
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ...................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................... 1
B. Identifikasi Masalah ...... 6
C. Pembatasan Masalah ..................... 8
D. Perumusan Masalah ........... 8
E. Fokus Penelitian ........................................................................ 9
F. Tujuan Penelitian ....................................................................... 9
G. Manfaat Penelitian ......... 9

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL
A. Evaluasi Program
1. Pengertian Evaluasi Program ..................... 11
2. Tujuan Evaluasi Program ....... 13
3. Model-Model Evaluasi Program .... 15
B. Program Akselerasi
1. Pengertian Program Akselerasi ...................... 20
2. Tujuan Program Akselerasi ................................................ 27
3. Aspek aspek Program Akselerasi

1) Aspek Filosofis Program Akselerasi .............................
2) Aspek Psikologis Program Akselerasi ..........................
3) Aspek Empiris Program Akselerasi ..............................
4) Aspek Yuridis Program Akselerasi ...............................
28
30
31
33
viii

4. Bentuk Program Akselerasi ................................................ 35
5. Waktu Tempuh Belajar Program Akselerasi ...................... 37
6. Standar Kualifikasi Siswa Program Akselerasi .................. 37
7. Mekanisme Penyelenggaraan Program Akselerasi ............ 38
C. Kerangka Konseptual ................................................................ 49

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................... 51
B. Metode Evaluasi .................... 51
C. Teknik Pengambilan Sampel ..................................................... 51
D. Teknik Pengumpulan Data ........ 52
E. Teknik Pengolahan Data ........... 52
F. Teknik Analasis Data ........................................ 53
G. Tabel Perencanaan Evaluasi ...................... 55
H. Instrumen Penelitian .................................................................. 57

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian .......................................... 60

1. Sejarah Sekolah ....................................................................
2. Latar Belakang Penyelenggaraan Kelas Akselerasi .............
3. Proses Penerimaan Siswa Baru Program CI-BI Akselerasi
60
61
62
B. Deskripsi Data ........... 66
C. Analisis dan Interpretasi Data ....... 85

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ............ 95
B. Saran ...................... 97

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 98
LAMPIRAN


ix
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL

hlm
Gambar 1 Mekanisme Permohonan Penyelenggaraan Program Akselerasi 40
Gambar 2 Faktor Pendukung Sumber Daya Pendidikan 41
Tabel 1 Perencanaan Evaluasi Program Akselerasi. 56
Tabel 2 Kisi-Kisi Angket. 58
Tabel 3
Penerimaan Siswa Baru Program Kelas Akselerasi SMP Negeri 3
Tangerang Selatan Tahun Ajaran 2010 / 2011.
63
Tabel 4 Sosialisasi Tujuan Program Kelas Akselerasi. 66
Tabel 5 Sosialisasi Sasaran Program Akselerasi. 67
Tabel 6
Kenyamanan Ruang Kelas.
67
Tabel 7
Kelayakan Laboratorium.
67
Tabel 8
Ketidaklayakan Perpustakaan.
68
Tabel 9
Ketidaklayakan Ruang BK.
68
Tabel 10 Ketidaklayakan Tempat Ibadah. 69
Tabel 11
Professionalisme Guru Kelas Akselerasi.
69
Tabel 12
Professionalisme Petugas Laboratorium.
70
Tabel 13
Professionalisme Pustakawan.
70
Tabel 14
Ketidakprofesionalan Guru BK.
71
Tabel 15
Ketidakmampuan Sekolah Mengelola Program Akselerasi
71
Tabel 16
Program Pembelajaran Tersendiri/Khusus Kelas Akselerasi.
71
Tabel 17
Ketidaknyamanan Lingkungan Sekolah.
72
Tabel 18
Kesiapan Dana Sekolah Untuk Pelaksanaan Kelas Akselerasi.
72
Tabel 19
Pengelolaan Waktu Program Kelas Akselerasi.
72
Tabel 20
Ketidakmampuan Sekolah dalam Penyelenggaran Penerimaan
Siswa Baru.
73
Tabel 21
Uji Berkas Penerimaan Siswa Baru.
73
Tabel 22
Pelaksanaan Tes Masuk (Tes Akademik, Tes Psikologi dan Tes
Kesehatan).
74
Tabel 23
Persetujuan/kesediaan orang tua siswa.
74
Tabel 24
Perbedaan SPP antara kelas akselerasi dengan kelas regular.
74
Tabel 25
Perbedaan jadwal pendaftaran program antar wilayah.
75
Tabel 26
Kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran.
76
x
Tabel 27
Kemampuan guru mengatur waktu setiap mata pelajaran.
76
Tabel 28
Kemampuan guru menggunakan media dan metode pembelajaran
yang sesuai.
77
Tabel 29
Ketidakmampuan guru menciptakan kondisi pembelajaran yang
menyenangkan.
77
Tabel 30
Pemberian tugas, PR, dan kuis pada setiap pertemuan.
78
Tabel 31
Pelaksanaan Ulangan Harian.
78
Tabel 32
Pelaksanaan Ujian Tengah Semester.
79
Tabel 33
Pelaksanaan Ujian Akhir Semester.
79
Tabel 34
Pengawasan oleh Kepala Sekolah.
79
Tabel 35
Pengawasan oleh Komite Sekolah.
80
Tabel 36
Kesempatan menyampaikan kritik/masukan.
80
Tabel 37
Efek program kelas akselerasi terhadap kemampuan
berkompetisi.
81
Tabel 38
Peningkatan Prestasi Akademik Siswa.
81
Tabel 39
Manfaat Program dalam Memudahkan Siswa Mengikuti
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
82
Tabel 40
Manfaat Program Kelas Akselerasi dalam Membantu Siswa
Memilih Program Lanjutan.
82
Tabel 41
Kerjasama sekolah dengan orang tua siswa yang mengalami
masalah dalam pembelajaran.
83
Tabel 42
Manfaat Pemberian Jadwal Tambahan.
83
Tabel 43 Ketepatan Program Akselerasi Bagi Siswa CI-BI. 84
Tabel 44
Distribusi Frekuensi Evaluasi Program Akselerasi di SMP Negeri
3 Tangerang Selatan.
84
Tabel 45
Evaluasi Program Kelas Akselerasi Dilihat Dari Dimensi
Program.
85
Tabel 46
Profil guru yang mengajar di kelas akselerasi SMP Negeri 3
Tangerang Selatan.
87
Tabel 47
Nilai Mata Pelajaran Siswa Kelas IX Akselerasi Tahun Pelajaran
2010/2011.
93
Tabel 48
Nilai Ujian Nasional Siswa Kelas IX Akselerasi Tahun Pelajaran
2010/2011.
94

xi
DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1 Surat Permohonan Izin Penelitian
Lampiran 2 Surat Pernyataan Telah Melakukan Penelitian
Lampiran 3
Surat Pengantar Wawancara Dengan Koordinator Program Kelas
Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Lampiran 4
Berita Wawancara dan Hasil wawancara Dengan Koordinator
Program Kelas Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Lampiran 5 Pedoman Studi Dokumentasi
Lampiran 6 Profil SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Lampiran 7
Panduan Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru Program CI-BI
Akselerasi (Percepatan Belajar) SMP Negeri 3 Tangerang Selatan,
Tahun Pelajaran 2011/2012
Lampiran 8
Leger Sementara Semester VI Kelas IX Akselerasi Tahun Pelajaran
2010/2011
Lampiran 9
Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional Kelas IX Akselerasi Tahun
Pelajaran 2010/2011
Lampiran 10
Data Lulus Program CI-BI Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan Tahun (Angkatan I Angkatan V)
Lampiran 11
Angket Tentang Evaluasi Program Kelas akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan
Lampiran 12 Hasil Rekap Jawaban Angket
Lampiran 13 Hasil Hitungan Perdimensi Kisi-kisi Angket
Lampiran 14 Surat Pengajuan Judul Skripsi

1







BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kelas akselerasi merupakan sebuah terobosan dalam dunia pendidikan.
Program kelas akselerasi bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan
kualitas sumberdaya manusia dengan cara memberikan wadah kepada peserta
didik yang berbakat dan cerdas istimewa agar dapat mempercepat pendidikan
mereka. Baik pada jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama
(SMP), ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA).
Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Depdiknas, yang
menyatakan bahwa:
Program kelas akselerasi bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan
dan kualitas sumberdaya manusia dengan cara memberikan wadah kepada
peserta didik yang berbakat dan cerdas istimewa yang diidentifikasi oleh
tenaga profesional dan mempunyai pencapaian kinerja tinggi. Kinerja tinggi
ditunjukan dengan pencapaian dan mempunyai kemampuan dalam salah satu
area atau kombinasi beberapa area bidang studi. Adapun area kemampuan
yang ditunjukan oleh siswa cerdas istimewa adalah kemampuan kecerdasan
umum, bakat akademik khusus, berfikir kreatif dan produktif, kemampuan
kepemimpinan, kemampuan psikomotorik, dan seni peran dan visual.
1



1
Departemen Pendidikan Nasional, Bimbingan Teknis Penyusunan Kurikulum Mata
Pelajaran MIPA Siswa Cerdas Istimewa (Jakarta:Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa,
2009), hlm. 7.
2
Sedangkan U.S Office Of Education, sebagaimana dikutip oleh Utami
Munandar, mendefinisikan bahwa siswa istimewa dan berbakat adalah:
Anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai
kemampuan-kemampuan yang unggul, anak-anak tersebut memerlukan
program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar
jangkauan program sekolah biasa, agar dapat merealisasikan sumbangan
mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.
Kemampuan-kemampuan tersebut baik secara potensial maupun yang telah
nyata, meliputi kemampuan intelektual umum, kemampuan akademik khusus,
kemampuan berfikir kreatif-produktif, kemampuan memimpin, kemampuan
dalam salah satu bidang seni, dan kemampuan psikomotor (seperti
olahraga).
2


Departemen Pendidikan Nasional, menetapkan lima tujuan yang
mendasari diselenggarakannya program akselerasi bagi siswa berpotensi
tinggi dan berbakat istimewa, sebagaimana yang disebutkan dalam buku
pedoman penyelenggaraan akselerasi, yaitu:
1) Memberikan kesempatan pada peserta didik cerdas istimewa untuk
mengikuti program pendidikan sesuai dengan potensi kecerdasan yang
dimilikinya.
2) Memenuhi hak asasi peserta didik cerdas istimewa sesuai kebutuhan
pendidikan bagi dirinya.
3) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran bagi peserta
didik cerdas istimewa.
4) Membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual,
emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran
fisik.
5) Membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan
seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang
bertanggung jawab, serta mempersiapkan peserta didik mengikuti
pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.
3


Namun, seperti halnya penetapan kebijakan yang selalu menimbulkan pro
dan kontra, program akselerasi yang dikembangkan di sekolah-sekolah
Indonesia, juga mengalami pertentangan. Hal ini muncul dikarenakan adanya
anggapan bahwa program akselerasi hanya memperlebar jurang kesenjangan

2
Utami Munandar, Pemanduan Anak Berbakat : Suatu Studi Penjajakan, (Jakarta:PT.
Rajawali, 1998), hlm. 6-7.
3
Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Untuk
Peserta Didik Cerdas Istimewa, (Jakarta:Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, 2009),
hlm.10.

3
antar siswa. Sebagian kalangan menganggap pihak sekolah terlalu
memberikan pelayanan super spesial kepada siswa-siswa berbakat, sementara
siswa yang berada dalam tahap normal hanya diberikan pelayanan seperti
pelayanan pendidikan sewajarnya. Pihak sekolah juga dinilai tidak
memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan kecerdasan anak didik di
luar lingkungan siswa berbakat.
Keadaan ini menimbulkan segelintir pertanyaan, apakah program
akselerasi yang dicanangkan pemerintah ini akan benar-benar meningkatkan
mutu pendidikan yang akhirnya akan memunculkan sumber daya manusia
yang kompetitif? Apakah program akselerasi ini akan tepat sasaran dalam
mengklasifikasikan anak berbakat yang akan masuk dalam kelas percepatan
belajar ini? Atau kah dalam pelaksanaannya nanti akan terjadi penyimpangan
seperti penyalahgunaan kelas akselerasi yang tadinya ditujukan untuk anak
berbakat menjadi kelas percepatan belajar bagi anak-anak yang kaya, bukan
untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan istimewa?
Hal ini coba dijawab oleh para praktisi pendidikan dengan membuka
program akselerasi (percepatan belajar) di sekolahnya seperti Al-Azhar
Kebayoran Baru Jakarta Selatan
4
, Lab School Rawamangun
5
, SMA Negeri 1
Pamulang
6
, SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
7
dan lain sebagainya.
Dari semua penjelasan di atas, penulis tertarik untuk mengetahui apakah
penyelenggaraan program akselerasi yang dikembangkan oleh pemerintah
dan pihak sekolah sudah berjalan dengan baik dan benar-benar efektif untuk
meningkatkan mutu pendidikan, yang pada akhirnya akan menghasilkan
output dan sumber daya manusia yang terkualifikasi dan mampu bersaing di
dunia internasional. Dan sekolah yang dipilih penulis untuk menjadi objek
penelitian adalah SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.

4
Akses internet, http://smaia1.al-
azhar.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=50&Itemid=60, 3 Agustus 2011.
5
Akses internet, http://smplabschoojkt.blogspot.com/2008/03/kelas-akselerasi.html,
3 Agustus 2011.
6
Akses internet, http://iisnurhayati.wordpress.com/2009/09/28/sman-1-pamulang/,
3 Agustus 2011.
7
Akses internet, http://smpn3tangsel.com/viewpage.php?page_id=2 , 3 Agustus 2011.
4
Setiap program yang disusun berdasarkan rencana dan tujuan yang terarah
selayaknya memiliki kegiatan evaluasi yang dapat memberikan jawaban
apakah program itu berhasil mencapai sasaran atau tidak, khususnya
mengenai pendidikan anak berbakat atau Program Percepatan Belajar.
Evaluasi adalah penetapan mengenai seberapa jauh sebuah program mencapai
sasaran-sasarannya.
Sekolah yang berdiri sejak tahun 1976 ini mengalami perkembangan dan
peningkatan yang signifikan. Setelah berjalan sekitar 28 tahun atau tepatnya
pada tahun 2004 sekolah ini membuat sebuah kebijakan dalam program
peningkatan mutu sekolah mereka, yaitu program kelas akselerasi.
Adapun visi dan misi yang dijalankan oleh SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan, Visi: (1) Terunggul dalam prestasi, (2) Teladan dalam bersikap dan
bertindak, (3) Konsisten dalam menjalankan ajaran agama. Dan Misi : (1)
Mewujudkan peningkatan kualitas mutu lulusan, (2) Mewujudkan
peningkatan jumlah lulusan yang masuk SMA dan SMKN, (3) Membina
sikap percaya diri, semangat gotong royong dan cinta tanah air, (4)
Meningkatkan prestasi kerja yang diimbangi dengan penghargaan yang layak
serta dilandasi dengan semangat ketauladanan dan keikhlasan, (5)
Meningkatkan status sekolah menjadi sekolah unggulan. (lampiran 6)
Dengan misi meningkatkan kualitas mutu lulusan dan meningkatkan status
sekolah menjadi sekolah unggulan, pada tahun 2004 SMP Negeri 3
Tangerang Selatan memulai program kelas akselerasi. Pada saat itu sekolah
yang dipimpin oleh Drs. H. Kuswanda, M.Pd memulai program kelas
akselerasi dan terus berjalan hingga saat ini di bawah pimpinan Maryono,
S.E.M.M.Pd dan telah memiliki 5 angkatan lulusan program kelas akselerasi
(Lampiran 10, Data Lulus Program CI-BI Akselerasi SMP Negeri 3
Tangerang Selatan).
Dari 7 tahun berjalannya program kelas akselerasi di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan dan telah menghasilkan 5 angkatan lulusan, dapat
diketahui kualitas output (lulusan) dan juga efektifitas pelaksanaan program
kelas akselerasi ini dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 3
5
Tangerang Selatan. (Lampiran 10, Data Lulus Program CI-BI Akselerasi
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan).
Namun dalam pelaksanaan program akselerasi ini, ada beberapa fenomena
dan permasalahan yang menurut penulis harus menjadi pertimbangan dalam
mengevaluasi program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.
Di antaranya adalah proses penerimaan dan seleksi siswa program kelas
akselerasi. Selain proses pengklasifikasian, dan pengidentifikasian siswa
berbakat istimewa, serta tes masuk yang dilakukan sekolah, siswa-siswa
tersebut juga harus membayar uang sekolah/SPP yang lebih dibandingkan
dengan siswa kelas regular. Perbedaan biaya yang mencolok, sekitar Rp
150.000,-/bln untuk siswa kelas 7 reguler, dan Rp 300.000,-/bln untuk siswa
kelas 7 akselerasi membuat program percepatan belajar ini tidak bisa
dinikmati oleh semua siswa berbakat istimewa. Dengan kata lain program
akselerasi hanya bisa dinikmati oleh siswa yang memiliki kecerdasan dan
berbakat istimewa serta memiliki kemampuan finansial yang baik pula. Dan
apakah program percepatan belajar ini dapat juga diikuti oleh siswa yang
memiliki kemampuan finansial yang memadai tanpa harus diimbangi dengan
kecerdasan dan berbakat istimewa untuk mengikuti program kelas akselerasi?
Fenomena ini diperparah dengan perbedaan kalender pendidikan di setiap
daerah. Otonomi daerah dan otonomi pendidikan menyebabkan setiap daerah
menetapkan waktu yang berbeda-beda untuk tes masuk dan penerimaan siswa
baru. Perbedaan ini berdampak pada kualitas input/penerimaan siswa baru di
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Berada di daerah Tangerang menyebabkan
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan selalu melaksanakan proses penerimaan
siswa baru lebih awal dibandingkan dengan sekolah-sekolah di DKI Jakarta.
Siswa-siswa yang mendaftar di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan juga
mendaftarkan diri di sekolah-sekolah unggulan di DKI Jakarta. Dan jika
mereka yang telah lulus tes masuk baik untuk program regular maupun
program akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan juga diterima di
sekolah unggulan di DKI Jakarta, mereka akan lebih memilih untuk
bersekolah di DKI Jakarta dibanding dengan bersekolah di SMP Negeri 3
6
Tangerang Selatan. Keadaan ini merugikan pihak SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan dikarenakan mereka kehilangan beberapa siswa yang memiliki
kecerdasan dan intelegensi di atas rata-rata, serta berbakat istimewa untuk
program kelas akselerasi. Dengan kata lain SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
dijadikan pilihan terakhir dalam memilih sekolah, bukan menjadi pilihan
utama para calon siswa yang cerdas dan berbakat istimewa dalam
melanjutkan pendidikannya.
Untuk dapat mengetahui apakah penyelenggaraan program percepatan
belajar sudah berjalan dengan baik diperlukan suatu penilaian atau evaluasi
terhadap program tersebut.
Beberapa alasan tersebut yang menggugah penulis untuk meneliti di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan sebagai tempat penelitian skripsi. Apakah dengan
adanya beberapa masalah yang muncul baik dari dalam (persepsi siswa
regular tentang perbedaan pelayanan pendidikan) maupun luar sekolah
(kebijakan penetapan kalender pendidikan yang berbeda di setiap daerah)
serta permasalahan-permasalahan lain dapat diantisipasi pihak sekolah dalam
kelangsungan program kelas akselerasi sebagai alat peningkatan mutu
pendidikan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Apakah dengan keadaan
seperti itu program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
mampu berjalan dengan baik maka diperlukan evaluasi terhadap program
tersebut untuk menilai apakah pelaksanaan Program Akselerasi yang
diselenggarakan telah memenuhi standar yang telah ditetapkan.
Untuk mengetahui lebih lengkap, penulis mengambil judul skripsi, yaitu:
Evaluasi Program Kelas Akselerasi di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan

B. Identifikasi Masalah
Pada pelaksanaan Program akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan,
terdapat berbagai komponen yang perlu diamati dan dievaluasi untuk
dijadikan sebagai bahan untuk mengetahui ketercapaian tujuan program
tersebut. Pelaksanaan penelitian evaluasi terhadap program akselerasi
7
dilaksanakan dengan pendekatan sistem yang mengacu pada komponen
berikut, yaitu komponen konteks, komponen masukan, komponen proses, dan
komponen produk. Berdasarkan komponen itu, maka dapat diidentifikasi
sejumlah permasalahan terkait dengan program akselerasi, yaitu:
1. Permasalahan pada komponen konteks berkaitan dengan relevansi tujuan
program akselerasi dengan kebutuhan, masalah, dan sasaran.
2. Permasalahan pada komponen masukan berkaitan dengan kualitas strategi
program yang dibangun dari sejumlah unsur masukan yang
dikelompokkan dalam raw input dan instrumental input.
a. Bagaimana karakteristik peserta yang mengikuti program Akselerasi?
Seberapa tinggi minat mereka mengikuti program akselerasi? Seberapa
besar tingkat kebutuhan mereka terhadap program akselerasi? Seberapa
jauh pengalaman belajar yang dimiliki calon peserta yang relevan
dengan program akselerasi?
b. Bagaimana mutu kurikulum SMP Negeri 3 Tangerang Selatan?
Bagaimana mekanisme pengembangan dan penyusunan kurikulum
Akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan? Metode pengajaran
apa yang diterapkan? Apa saja bahan ajar yang digunakan? Bagaimana
koherensi antar komponen kurikulum kelas akselerasi?
c. Bagaimana kapabilitas guru dan tenaga pendidikan yang mengajar di
kelas akselerasi?
d. Bagaimana kualitas sarana prasarana yang disediakan SMP Negeri 3
Tangerang Selatan? Bagaimana tingkat ketercukupan sarana prasarana
tersebut? Bagaimana tingkat kebermanfaatan sarana prasarana tersebut
bagi program akselerasi?
3. Permasalahan pada komponen proses berkaitan dengan kesesuaian antara
implementasi program dan rencana program akselerasi.
a. Bagaimana kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas
akselerasi?
b. Bagaimana interaksi belajar yang terjadi di kelas akselerasi?
c. Bagaimana pemanfaatan media dan sumber belajar di kelas akselerasi?
8
d. Bagaimana kinerja sekolah dalam penyelenggaraan program kelas
akselerasi?
4. Permasalahan pada komponen produk berkaitan dengan hasil atau keluaran
program.
a. Bagaimana nilai hasil belajar peserta program kelas akselerasi?
b. Bagaimana nilai hasil Ujian Nasional peserta program kelas akselerasi?
c. Bagaimana perubahan sikap yang terjadi pada peserta program kelas
akselerasi?

C. Pembatasan Masalah
Mengingat permasalahan yang berkaitan dengan program akselerasi cukup
luas, maka masalah penelitian pada penelitian evaluasi perlu dibatasi.
Oleh karena itu, penelitian evaluasi dibatasi pada penilaian terhadap
komponen-komponen program akselerasi yang berpengaruh terhadap
efektivitas pelaksanaan program kelas akselerasi yang bertujuan pada
peningkatan mutu pendidikan. Mutu yang dimaksud di sini adalah pada
penyediaan pelayanan pendidikan yang diberikan SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan kepada siswa/i yang cerdas istimewa atau memiliki kemampuan di
atas rata-rata.
Penulis memberikan batasan terkait salah satu latar belakang masalah,
seputar penyelenggaraan program akselersi yang memunculkan banyak
pertentangan. Apakah program seperti ini masih layak digunakan sebagai
salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia? Dengan
mengikuti model evaluasi CIPP, maka komponen program yang dievaluasi
adalah komponen konteks, masukan, proses, dan produk.

D. Perumusan Masalah
Masalah penelitian atau pertanyaan evaluasi pada penelitian evaluasi ini
adalah apakah program kelas akselerasi efektif dalam meningkatkan mutu
pendidikan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan?

9
E. Fokus Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi yang menggunakan metode
riset evaluasi. Sasaran riset evaluasi adalah program kelas akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan, yang meliputi:
1. Latar belakang penyelenggaraan Program Akselersi
2. Perencanaan Program Akselerasi
3. Proses penerimaan siswa baru
4. Pelaksanaan program akselerasi
5. Pengawasan/evaluasi Program Akselerasi

F. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menilai ketepatan program akselerasi
sebagai salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan dalam hal, pelayanan pendidikan bagi siswa cerdas
istimewa dan berbakat istimewa.

G. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari skripsi ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagi penulis, penelitian ini sebagai informasi baru yang berguna untuk
meningkatkaan mutu dan profesionalisme dalam mengelola
penyelenggaraan program pendidikan dan dapat menambah wawasan ilmu
pengetahuan di bidang manajemen pendidikan.
2. Bagi lembaga pendidikan, penelitian ini dapat memberi ide atau gagasan
dalam upaya melakukan inovasi pengembangan program pendidikan dan
sebagai bahan rujukan (mekanisme) penyelenggaraan program kelas
akselerasi, sebagai langkah evaluasi dalam mengukur tingkat keberhasilan
program kelas akselerasi, serta untuk mengetahui apa yang menjadi
kekuatan dan kelemahan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan
khususnya di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, umumnya lembaga
pendidikan di Indonesia.
10
3. Bagi masyarakat, yaitu sebagai bahan rujukan (modul) jika ingin
menyelenggarakan program kelas akselerasi (program percepatan belajar)
dan dapat dijadikan program studi khusus sebagai langkah dunia
pendidikan untuk memperhatikan masyarakat yang memiliki potensi tinggi
sehingga dapat menikmati hasil dari pendidikan yang bermutu sesuai
dengan potensi, bakat dan minat siswa dan kebutuhan semua pihak.


11







BAB II
KAJIAN TEORETIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A. Evaluasi Program
1. Pengertian Evaluasi Program
Evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang memiliki
dasar kata value, yang berarti menilai.
1
Dalam Oxford Advanced
Learners Dictionary Evaluasi adalah to form an opinion of the amount,
value or quality of something after thinking about it carefully.
2
yang
artinya sebuah pendapat tentang nilai, jumlah atau kualitas sesuatu yang
telah dipikirkan dengan matang. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto,
evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang
bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk
menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
3
Worthen
dan Sanders Seperti yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto menambahkan,
evaluasi adalah kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu;
dalam mencari sesuatu tersebut juga termasuk mencari informasi yang
bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur,

1
John M. Echols & Hasan Sadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:PT.Gramedia
Pustaka Utama, 2005), Cet.XXVI, hlm.626.
2
A S Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary, (New York:Oxford University
Press, 2000), hlm.450.
3
Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan
Pedoman Toeritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara, 2009), hlm. 2.
12


serta alternatif strategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang sudah
ditentukan.
4
Selanjutnya Suharsimi mengutip Stufflebeam, menjelaskan
bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian, dan
pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan
dalam menentukan alternatif keputusannya.
5

Jelas Terlihat bahwa, dalam evaluasi terdapat tahap-tahap atau proses
yang dilalui yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi guna melihat
tingkat keberhasilan sebuah program. Dan penulis menyimpulkan bahwa
evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencari
informasi yang berguna bagi decision maker dalam mengambil keputusan.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, program diartikan sebagai
rancangan mengenai asas-asas serta usaha-usaha (di ketatanegaraan,
perekenomian, dsb) yang akan dijalankan.
6
Suharsimi arikunto
menambahkan bahwa program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu
secara umum dan khusus. Secara umum, program dapat diartikan sebagai
rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di
kemudian hari. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika
dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan
kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan,
berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu
organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
7

Menurut Isaac dan Michael seperti dikutip oleh Djunaidi Lababa
sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Hal ini dikarenakan kita
akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi
sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Isaac dan
Michael, ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan

4
Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan
Pedoman Toeritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, hlm.1-2.
5
Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan
Pedoman Toeritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, hlm.1-2.
6
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta:Balai Pustaka, 1988), Cet.I, hlm.702.
7
Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan
Pedoman Toeritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, hlm. 3-4.
13


pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh, (2)
mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan
informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan,
memperbaiki atau menghentikan program tersebut.
8

Dari beberapa penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa sebuah
program atau rencana sangat erat kaitannya dengan evalusi. Berhasil atau
tidaknya sebuah program yang dijalankan dapat dilihat dari hasil evaluasi
yang dilakukan. Bahkan menurut Suharsimi Arikunto dan Cepi Syafrudin
ada Empat kemungkinan kebijakan berdasarkan hasil evaluasi yaitu :
(1) Menghentikan program, karena dipandang bahwa program tersebut
tidak ada manfaatnya, atau tidak dapat terlaksana sebagaimana
diharapkan.
(2) Merevisi Program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai
dengan harapan (terdapat kesalahan, tetapi hanya sedikit).
(3) Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan
bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan
memberikan hasil yang bermanfaat.
(4) Menyebarluaskan program (melaksanakan program di tempat-tempat
lain atau mengulangi lagi program dilain waktu), karena program
tersebut berhasil dengan baik, maka sangat baik jika dilaksanakan lagi
di tempat dan waktu yang lain.
9


2. Tujuan Evaluasi Program
Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian
meskipun secara prinsip, antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang
sama. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Jika
penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi
bertujuan untuk mengembangkan (improve).

8
Akses Internet, http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/evaluasi-program-
sebuah-pengantar.html , 07 Oktober 2010.
9
Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan
Pedoman Toeritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, hlm. 22.
14


Implementasi program harus senantiasa dievaluasi untuk melihat
tingkat efektifitas program tersebut mencapai maksud pelaksanaan
program yang telah ditetapkan sebelumnya. Tanpa adanya evaluasi,
program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Dengan
demikian, kebijakan-kebijakan baru yang berhubungan dengan program itu
tidak akan didukung oleh data. Karenanya, evaluasi program bertujuan
untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil
kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan,
memperbaiki atau menghentikan sebuah program.
Senada dengan Suharsimi Arikunto, Fuddin menjelaskan bahwa Secara
umum alasan dilaksanakannya program evaluasi yaitu;
1) Pemenuhan ketentuan undang-undang dan peraturan pelaksanaannya,
2) Mengukur efektivitas dan efesiensi program,
3) Mengukur pengaruh, efek sampingan program,
4) Akuntabilitas pelaksanaan program,
5) Akreditasi program,
6) Alat mengontrol pelaksanaan program,
7) Alat komunikasi dengan stakeholder program,
8) Keputusan mengenai program ;
a) Diteruskan
b) Dilaksanakan di tempat lain
c) Dirubah
d) Dihentikan
Untuk mempermudah mengidentifikasi tujuan evaluasi program, kita
perlu memperhatikan unsur-unsur dalam kegiatan pelaksanaannya yang
terdiri dari:
a) What yaitu apa yang akan di evaluasi
b) Who yaitu siapa yang akan melaksanakan evaluasi
c) How yaitu bagaimana melaksanakannya
15


Dengan memperhatikan pada tiga unsur kegiatan tersebut, ada tiga
komponen paling sedikit yang dapat dievaluasi: tujuan, pelaksana kegiatan
dan prosedur atau teknik pelaksanaan.
Didalam evaluasi program pendidikan terdapat ketepatan model
evaluasi yang berarti ada keterkaitan yang erat antara evaluasi program
dengan jenis program yang dievaluasi. Dan jenis program ini dapat
dibedakan menjadi tiga yaitu:
a) Program pemrosesan, maksudnya adalah program yang kegiatan
pokoknya mengubah bahan mentah (input) menjadi bahan jadi sebagai
hasil proses (output).
b) Program layanan, maksudnya adalah sebuah kesatuan kegiatan yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu sehingga merasa
puas dengan tujuan program.
c) Program umum, maksudnya adalah sebuah program yang tidak tampak
apa yang menjadi ciri utamanya.
10


3. Model-Model Evaluasi Program
Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi
program khususnya program pendidikan. Meskipun terdapat beberapa
perbedaan antara model-model tersebut, tetapi secara umum model-model
tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi
obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil
kebijakan. Menurut Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabbar
model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi tujuh yaitu:
11

1) Goal Oriented Evaluation
Merupakan model yang paling awal muncul. Yang menjadi objek
pengamatan pada model ini adalah tujuan dari program yang sudah
ditetapkan jauh sebelum program dimulai. Evaluasi dilakukan secara

10
Fuddin Van Batavia, Wordpress Blog, http://fuddin.wordpress.com/2008/07/02/teori-
evaluasi-dengan-cipp/ 07 Oktober 2010.
11
Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan-
Pedoman Toeritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, hlm. 40-48.

16


berkesinambungan, terus-menerus, mencek sejauh mana tujuan tersebut
sudah terlaksana di dalam proses pelaksanaan program.
2) Goal Free Evaluation Model
Dikembangkan oleh Michel Scriven. Model ini disebut juga dengan
evaluasi lepas dari tujuan, tetapi bukannya lepas sama sekali dari tujuan
tetapi hanya lepas dari tujuan khusus. Model ini hanya
mempertimbangkan tujuan umum yang akan dicapai oleh program,
bukan secara rinci atau perkomponen.
3) Formatif - Summatif Evaluation Model
Evaluasi Formatif secara prinsip merupakan evaluasi yang
dilaksanakan ketika program masih berlangsung atau ketika program
masih dekat dengan permulaan kegiatan. Tujuan evaluasi formatif
tersebut adalah mengetahui sejauh mana program yang dirancang dapat
berlangsung, sekaligus mengidentifikasikan hambatan. Dengan
diketahuinya hambatan dan hal-hal yang menyebabkan program tidak
lancar, pengambil keputusan secara dini dapat mengadakan perbaikan
yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program
Evaluasi Sumatif dilakukan setelah program berakhir. Tujuan dari
evaluasi sumatif adalah untuk mengukur ketercapaian program.
4) Countenance Evaluation Model
Dikembangkan oleh Stake. Model ini menekankan pada adanya
pelaksanaan dua hal pokok, yaitu (1) deskripsi (description), dan (2)
perimbangan (judgements), serta membedakan adanya tiga tahap dalam
evaluasi program yaitu: (1) anteseden (antecedents/context), (2)
transaksi (transaction/process), (3) keluaran (output - outcomes).
5) CSE UCLA Evaluation Model
Ciri dari model ini adalah adanya 5 tahap yang dilakukan dalam
evaluasi, yaitu perencanaan, pengembangan, implementasi, hasil, dan
dampak. Hernandez, seperti yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto
menjelaskan ada 4 tahap dalam model ini, yaitu:
17


a. Needs Assessment, dalam tahap ini evaluator memusatkan perhatian
pada penentuan masalah pertanyaan yang diajukan:
Hal-hal apakah yang perlu dipertimbangkan sehubungan dengan
keberadaan program?
Kebutuhan apakah yang terpenuhi sehubungan dengan adanya
pelaksanaan program ini?
Tujuan jangka panjang apakah yang dapat dicapai melalui program
ini?
b. Program Planning, dalam tahap ini evaluator mengumpulkan data
yang terkait langsung dengan pembelajaran dan mengarah pada
pemenuhan kebutuhan yang telah diidentifikasi pada tahap kesatu.
c. Formative Evaluation, dalam tahap ketiga ini perhatian terpusat pada
keterlaksanaan program. Dengan demikian, evaluator diharapkan
betul-betul terlibat dalam program, karena harus mengumpulkan data
dan berbagai informasi dari pengembangan program.
d. Summative Evaluation, dalam tahap keempat evaluator diharapkan
dapat mengumpulkan semua data tentang hasil dan dampak dari
program.
6) CIPP Evaluation Model
Model evaluasi ini adalah model yang paling banyak dikenal,
dikembang oleh Stufflebeam. CIPP merupakan singkatan dari huruf
awal 4 buah kata, yaitu:
a) Context Evaluation/evaluasi terhadap konteks.
Evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan
merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan
sampel yang dilayani, dan tujuan proyek.
12
Evaluasi konteks
meliputi penggambaran latar belakang program yang dievaluasi,
memberikan perkiraan kebutuhan dan tujuan program, menentukan
sasaran program dan menentukan sejauh mana tawaran ini cukup

12
Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan
Pedoman Toeritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, hlm. 46.
18


responsif terhadap kebutuhan yang sudah diidentifikasi. Penilaian
konteks dilakukan untuk menjawab pertanyaan Apakah tujuan yang
ingin dicapai?
13

b) Input Evaluation/evaluasi terhadap masukan.
Evaluasi terhadap masukan menyediakan informasi tentang
masukan yang terpilih , butir-butir kekuatan dan kelemahan, strategi
dan desain untuk merealisasikan tujuan. Evaluasi masukan
dilaksanakan dengan tujuan dapat menilai relevansi rancangan
program, strategi yang dipilih, prosedur, sumber baik yang berupa
manusia (guru, siswa) atau mata pelajaran serta sarana prasarana
yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Singkatnya masukan (input) merupakan model yang digunakan
untuk menentukan bagaimana cara agar penggunaan sumberdaya
yang ada bisa mencapai tujuan serta secara esensial memberikan
informasi tentang apakah perlu mencari bantuan dari pihak lain atau
tidak. Aspek input juga membantu menentukan prosedur dan desain
untuk mengimplementasikan program.
14

Dalam hal pendidikan yang dimaksud dari evaluasi masukan
adalah kemampuan awal siswa.
c) Process Evaluation/evaluasi terhadap proses.
Evaluasi Proses dilaksanakan dengan harapan dapat memperoleh
informasi mengenai bagaimana program telah diimplementasikan
sehari- hari di dalam maupun di luar kelas, pengalaman belajar apa
saja yang telah diperoleh siswa, serta bagaimana kesiapan guru dan
siswa dalam implementasi program tersebut dan untuk memperbaiki
kualitas program dari program yang berjalan serta memberikan

13
Edison Blogspot, http://ed150n5.blogspot.com/2009/04/evaluasi-cipp.html, 09 Juni
2011.
14
Edison Blogspot, http://ed150n5.blogspot.com/2009/04/evaluasi-cipp.html, 09 Juni
2011.
19


informasi sebagai alat untuk menilai apakah sebuah proyek relatif
sukses/gagal.
15

Pada model ini, perhatian terpusat pada apa (what) kegiatan
yang dilakukan dalam program, siapa (who) orang yang ditunjuk
sebagai penanggung jawab program, kapan (when) kegiatan akan
selesai. Pada model ini juga, perhatian diarahkan pada seberapa jauh
kegiatan yang dilaksanakan di dalam program sudah terlaksanakan
sesuai dengan rencana.
d) Product Evaluation / evaluasi terhadap hasil.
Evaluasi produk meliputi penentuan dan penilaian dampak umum
dan khusus suatu program, mengukur dampak yang terantisipasi,
mengidentifikasi dampak yang tak terantisipasi, memperkirakan
kebaikan program serta mengukur efektifitas program.
16
Pada tahap
ini perhatian terpusat pada hal-hal yang menunjukan perubahan yang
terjadi.

Keunggulan CI PP Evaluation Model :
1. CIPP memiliki pendekatan yang holistik dalam evaluasi, bertujuan
memberikan gambaran yang sangat detail dan luas terhadap suatu
proyek, mulai dari konteknya hingga saat proses implementasi.
2. CIPP memiliki potensi untuk bergerak diwilayah evaluasi formative dan
summative sehingga sama baiknya dalam membantu melakukan
perbaikan selama program berjalan maupun memberikan informasi
final.
17

Dalam penulisan skripsi ini penulis memilih menggunakan CIPP
Evaluation Model sebagai acuan dalam menilai komponen-komponen
program akselerasi. Penulis memilih CIPP Evaluation Model

15
Edison Blogspot, http://ed150n5.blogspot.com/2009/04/evaluasi-cipp.html, 09 Juni
2011.
16
Edison Blogspot, http://ed150n5.blogspot.com/2009/04/evaluasi-cipp.html, 09 Juni
2011.
17
Edison Blogspot, http://ed150n5.blogspot.com/2009/04/evaluasi-cipp.html, 09 Juni
2011.
20


dikarenakan penulis lebih mudah memahami dan menilai komponen
program akselerasi.

B. Program Akselerasi
1. Pengertian Program Akselerasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia program ialah rancangan
rencana kegiatan mengenai asas-asas, serta usaha-usaha yang akan
dijalankan.
18
Dari pengertian tersebut sudah terlihat adanya unsur-unsur
pengelolaan atau manajemen dalam suatu program yang merupakan
serangkaian kegiatan dalam bentuk program yang dilaksanakan secara
bertahap dengan menyusun terlebih dahulu suatu rancangan rencana, asas-
asas dan usaha-usaha untuk diimplementasikan dilapangan.
Akselerasi diambil dari kata bahasa Inggris yaitu Accelerated bila
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti dipercepat.
19
Sedangkan
dalam kamus besar bahasa Indonesia, akselerasi diartikan Proses
mempercepat.
20
Menurut Dave Meier seperti yang dikutip Busro
akselerasi dapat dilakukan jika adanya suatu objek, dalam hal ini objeknya
adalah belajar, yaitu menjadi percepatan belajar/Accelerated learning.
Accelerated learning adalah Cara belajar yang alamiah. Akarnya telah
tertanam sejak zaman kuno.
21
Ini berarti model pembelajaran akselerasi
dilakukan secara alamiah sesuai dengan kebutuhan dan tingkat
kemampuan anak, dan pembelajaran akselerasi sudah dilakukan sejak
zaman dahulu sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak metodologi
pembelajaran dan pelatihan yang dikemas dalam sebuah program
pendidikan.

18
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta:Balai Pustaka, 1988), Cet.I, hlm. 702.
19
Jhon M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:PT.Gramedia
Pustaka Utama, 2005), Cet.XXVI, hlm. 5.
20
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia..., hlm. 16.
21
Busro, Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Program Kelas Akselerasi di SMA
Negeri 1 Pamulang, (Jakarta: Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2008), hlm. 21.
21


Ketika kata ini digunakan dalam dunia kependidikan maka dikenal
dengan istilah program akselerasi. Program ini sendiri ditujukan kepada
peserta didik yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, program akselerasi diartikan Seperangkat
kegiatan kependidikan yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat
dilaksanakan oleh anak didik dalam waktu yang lebih singkat dari
biasanya. Program ini berisikan seperangkat kegiatan pendidikan yang
telah dirancang khusus untuk peserta didik yang memiliki kemampuan dan
kecerdasan tinggi dibandingkan dengan siswa lainnya, sehingga proses
pembelajaran dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih cepat.
Herry Widyastono, seperti yang dikutip Veria Wulandari mengatakan
bahwa program percepatan belajar (accelerated) yaitu pemberian
pelayanan dengan membolehkan mereka (siswa) menyelesaikan program
reguler dalam jangka waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan
teman-temannya. Program ini cocok bagi anak yang berbakat dengan tipe
accelerated learner.
22

Depdiknas mendefinisikan bahwa program akselerasi adalah Program
layanan belajar diperuntukan bagi siswa yang diidentifikasikan memiliki
ciri-ciri keberbakatan intelektual dan program ini dirancang khusus untuk
dapat menyelesaikan program belajar lebih cepat dari waktu yang telah
ditetapkan.
23

Dari beberapa pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa program
akselerasi berisikan seperangkat kegiatan pelayanan pendidikan yang
dirancang khusus dan diperuntukan bagi siswa yang memiliki
keberbakatan istimewa dengan kecerdasan dan kemampuan serta bakat dan
minat luar biasa dibandingkan dengan siswa lain (siswa biasa), sehingga
kegiatan belajar dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih cepat dan
singkat.

22
Veria Wulandari, Pengelolaan Program Kelas Akselerasi-Studi Kasus di SD Panglima
Besar Jendral Sudirman Cijantung, (Jakarta Timur:FIP-UNJ, 2004), hlm. 2.
23
Depdiknas, Isu-isu Pendidikan: Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua,
(Jakarta:Balitbang Diknas, 2004), hlm. 87.
22


Karena program ini diberikan kepada siswa yang memiliki potensi
kecerdasan tinggi, dan bakat istimewa, maka pihak sekolah (guru/tenaga
kependidikan) harus mengetahui, mengamati dan menseleksi ciri dari
siswa tersebut, hal ini dilakukan agar penyelenggaraan program akselerasi
diberikan tepat sasaran kepada siswa yang benar-benar memiliki potensi
kecerdasan tinggi dan bakat istimewa.
Renzulli menjelaskan bahwa Keberbakatan menunjukan pada adanya
keterkaitan antara tiga kelompok ciri (Cluster) yaitu kemampuan umum,
kreatifitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (Task Commitment) di atas
rata-rata.
24

Dengan menggunakan konsep keberbakatan dari Renzulli di atas,
dengan disesuaikan dengan kondisi yang ingin dikembangkan oleh pihak
sekolah maka definisi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan
tinggi dan bakat istimewa dalam program akselerasi adalah:
Siswa yang diidentifikasi oleh tenaga professional dan mempunyai
pencapaian kinerja tinggi. Kinerja tinggi ditunjukan dengan pencapaian
dan mempunyai kemampuan dalam salah satu area atau kombinasi
beberapa area bidang studi. Adapun area kemampuan yang ditunjukan oleh
siswa cerdas istimewa adalah kemampuan kecerdasan umum, bakat
akademik khusus, berfikir kreatif dan produktif, kemampuan
kepemimpinan, kemampuan psikomotorik, dan seni peran dan visual.
25


Sedangkan U.S Office Of Education, sebagaimana yang dikutip oleh
Utami Munandar, mendefinisikan bahwa siswa istimewa dan berbakat
adalah:
Anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai
kemampuan-kemampuan yang unggul, anak-anak tersebut memerlukan
program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar
jangkauan program sekolah biasa, agar dapat merealisasikan sumbangan
mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.
Kemampuan-kemampuan tersebut baik secara potensial maupun yang
telah nyata, meliputi kemampuan intelektual umum, kemampuan

24
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, (Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, 2009),
hlm. 18.
25
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa ......... hlm. 7.
23


akademik khusus, kemampuan berfikir kreatif-produktif, kemampuan
memimpin, kemampuan dalam salah satu bidang seni, dan kemampuan
psikomotor (seperti olahraga).
26


Untuk mendapatkan peserta didik berbakat seperti yang disebutkan
dalam definisi di atas, Departemen Pendidikan Nasional, menyebutkan 14
ciri-ciri keberbakatan yang telah memiliki korelasi yang signifikan dengan
kemampuan umum, kreatifitas dan tanggung jawab terhadap tugas, yaitu:
1) Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pemikirannya).
2) Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
3) Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis.
4) Mau belajar/bekerja secara mandiri.
5) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
6) Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya.
7) Cermat atau teliti dalam mengamati.
8) Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan
masalah.
9) Mempunyai minat luas.
10) Mempunyai daya imajinasi yang tinggi.
11) Belajar dengan mudah dan cepat.
12) Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat.
13) Mampu berkonsentrasi.
14) Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.
27


Selain Depdiknas, Balitbang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
sebagaimana dikutip Rahmi Nurrahmah, secara rinci mengidentifikasi ciri-
ciri siswa berpotensi tinggi dan berbakat istimewa, yaitu:
1) Memiliki ciri-ciri belajar, antara lain; mudah menangkap pelajaran,
mempunyai ingatan baik, pembendaharaan kata yang luas, penalaran
tajam, berfikir kritis, logis, sering membaca buku bermutu, dan
mempunyai rasa ingin tahu yang bersifat intelektual.
2) Memiliki ciri-ciri tanggung jawab terhadap tugas, antara lain; tekun
terhadap tugas, ulet menghadapi kesulitan, mampu bekerja sendiri tanpa
bantuan orang lain. Ingin berprestasi sebaik mungkin, senang dan rajin
belajar, penuh semangat, dan bosan dengan tugas-tugas rutin.

26
Utami Munandar, Pemanduan Anak Berbakat : Suatu Studi Penjajakan, (Jakarta:PT.
Rajawali, 1998), hlm. 6-7.
27
Busro, Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Program Kelas Akselerasi di SMA
Negeri 1 Pamulang, hlm. 23-24.
24


3) Memiliki kreatifitas, antara lain; bersifat ingin tahu, sering
mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan
usulan-usulan terhadap suatu masalah, mampu menyatakan pendapat
secara spontan tanpa malu-malu, tidak mudah terpengaruh pendapat
orang lain, dan mampu mengajukan gagasan pendapat yang berbeda
dengan orang lain.
4) Memiliki ciri-ciri kepribadian, antara lain; disenangi oleh teman
sekolah, dipilih menjadi pemimpin, dapat bekerja sama, dapat
mempengaruhi teman-teman, banyak mempunyai inisiatif dan percaya
pada diri sendiri.
28


Siswa berpotensi tinggi dan berbakat istimewa merupakan asset
pembangunan nasional yang luar biasa, untuk itu diperlukan kesadaran
akan pentingnya pembinaan dan pengembangan siswa yang memiliki
kemampuan, kecerdasan tinggi, dan bakat istimewa secara optimal melalui
pelayanan pendidikan program akselerasi. Karena pada dasarnya tujuan
program akselerasi diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan siswa
yang memiliki potensi akademik dan bakat istimewa yang merupakan
bagian dari kebutuhan sekolah. Sebaliknya jika siswa tersebut
mendapatkan pelayanan pendidikan yang tidak sesuai dengan potensi
tingkat kecerdasan, kemampuan, dan bakat serta minat yang dimilikinya,
maka mereka tidak dapat mengoptimalkan potensinya dengan baik, atau
bahkan mereka bisa menjadi anak yang bermasalah (mengalami kesulitan
belajar) lebih dari itu mereka dapat mengganggu teman-teman dalam
kegiatan pembelajaran.
Persoalan yang perlu dipecahkan dalam kaitannya dengan upaya
peningkatan mutu pendidikan bagi siswa berpotensi tinggi dan bakat
istimewa adalah perlunya diciptakan sekolah unggulan, yang di dalamnya
terdapat berbagai program pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi

28
Rahmi Nurrahmah, Metodologi Pembelajaran Pada Program Akselerasi di SLTP Islam
Al-Azhar I Kebayoran Baru Jakarta Selatan, (Jakarta:Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Jakarta, 2005), hlm. 14-15.
25


kecerdasan, bakat, minat, serta kebutuhan siswa, sehingga potensi mereka
dapat dioptimalkan dengan baik.
Syafaruddin, mengidentifikasikan sekolah unggulan adalah Sekolah
yang efektif (mampu mencapai tujuan) dan efesien (menggunakan
sumberdaya dengan hemat) untuk mencapai tujuan dengan lulusan yang
terbaik, dalam keunggulannya secara kompetitif dan komparatif.
29
Lebih
jelas, Departemen Pendidikan Nasional mendefinisikan bahwa sekolah
unggulan pada hakikatnya adalah Sekolah yang membekali proses belajar
mengajar yang bermutu kepada siswa dengan kurikulum yang bermutu
pula.
30

Lebih lanjut Depdiknas, menyebutkan dimensi-dimensi sekolah
unggulan, yaitu:
1) Masukan (Input, Intake) berupa siswa yang diseleksi secara ketat
dengan menggunakan kriteria tertentu dan prosedur yang dapat
dipertanggungjawabkan.
2) Sarana dan prasarana yang menunjang guna memenuhi kebutuhan
belajar siswa serta dapat menyalurkan minat dan bakat, baik dalam
kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler.
3) Lingkungan belajar yang kondusif untuk terwujud dan berkembangnya
potensi keunggulan menjadi keunggulan yang nyata, baik lingkungan
dalam arti fisik maupun sosial-psikologi.
4) Guru dan tenaga kependidikan yang menanganinya harus guru/tenaga
kependidikan yang terpilih mutunya, baik dari segi penguasaan mata
pelajaran, penguasaan metode mengajar, maupun komitmen dalam
menjalankan tugas.
5) Kurikulum yang diperkaya.
6) Rentang waktu belajar di sekolah lebih panjang/lebih lama
dibandingkan dengan sekolah lain.

29
Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan Konsep, Strategi dan
Aplikasi, (Jakarta:PT Grasindo, 2002), hlm 95.
30
Departemen Pendidikan Nasional, Isu-isu Pendidikan di Indonesia: Enam Isu
Pendidikan Triwulan Ketiga, (Jakarta:Balitbang Diknas, 2004), hlm. 102.
26


7) Proses belajar mengajar yang berkualitas dan hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan (accountable) kepada siswa, lembaga dan
masyarakat.
8) Nilai lebih (plus) dari sekolah unggul terletak pada perlakuan tambahan
di luar kurikulum nasional melalui pengembangan materi kurikulum,
program pengayaan dan perluasan serta percepatan, pengajaran
remedial, pelayanan bimbingan dan penyuluhan/konseling yang
berkualitas, pembinaan kreatifitas, dan disiplin, sistem asrama dan
kegiatan ektrakurikuler lainnya.
9) Pembinaan kemampuan kepemimpinannya (leadership) yang menyatu
dalam keseluruhan sistem pembinaan siswa dan melalui praktek
langsung dalam kehidupan sehari-hari, bukan sebagai materi pelajaran.
10) Sekolah unggulan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.
11) Sekolah unggulan diproyeksikan untuk menjadi pusat keunggulan
(agent of excellence).
31

Dengan demikian siswa yang diperkenankan belajar pada program
unggulan harus memiliki kriteria tertentu seperti prestasi belajar siswa
yang superior berupa angka raport, nilai ujian nasional (UN), dan hasil tes
prestasi akademik lainnya, skor psiko-tes yang meliputi intelegensi dan
kreatifitas, tes fisik dengan baik (keterangan sehat dari dokter). Selain itu
perlu diberikan pula insentif tambahan bagi guru dan tenaga kependidikan
lainnya, baik berupa uang maupun fasilitas lainnya. Kurikulum yang
digunakan harus berpegang pada kurikulum nasional yang standar, dan
sekolah perlu mengimprovisasi kurikulum secara maksimal sesuai dengan
tuntutan kecepatan dan motivasi belajar siswa lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa seusianya. Selain itu sekolah perlu menyediakan sarana dan
prasarana penunjang seperti perpustakaan, laboratorium IPA, Bahasa,
komputer, kebutuhan olahraga, kebutuhan kesenian berbagai peralatan
praktek dan lain sebagainya.

31
Depdiknas, Isu-isu Pendidikan:Enam Isu Pendidikan Triwulan Ketiga, hlm. 103-104.
27


Dengan mengacu pada sekolah unggulan yang dijelaskan di atas, salah
satu bentuk program yang dapat menampung siswa berpotensi tinggi dan
berbakat istimewa adalah program percepatan belajar (program akselerasi),
dimana program tersebut hanya diberikan kepada siswa yang memiliki
potensi kecerdasan tinggi dan bakat istimewa. Hal ini dilakukan tidak lain
dalam rangka mengoptimalkan potensi siswa, meningkatkan hasil prestasi
belajar, baik prestasi akademik berupa nilai hasil belajar, maupun prestasi
non akademik berupa keterampilan hidup.
Untuk selanjutnya, dalam membahas program aksalerasi, penulis
menggunakan teori dari Depdiknas yaitu program akselerasi adalah
Program layanan belajar diperuntukan bagi siswa yang diidentifikasikan
memiliki ciri-ciri keberbakatan intelektual dan program ini dirancang
khusus untuk dapat menyelesaikan program belajar lebih cepat dari waktu
yang telah ditetapkan.

2. Tujuan Program Akselerasi
Departemen Pendidikan Nasional, menetapkan lima tujuan yang
mendasari diselenggarakannya program akselerasi bagi siswa berpotensi
tinggi dan berbakat istimewa, sebagaimana yang disebutkan dalam buku
pedoman penyelenggaraan akselerasi, yaitu:
1) Memberikan kesempatan pada peserta didik cerdas istimewa untuk
mengikuti program pendidikan sesuai dengan potensi kecerdasan yang
dimilikinya.
2) Memenuhi hak asasi peserta didik cerdas istimewa sesuai kebutuhan
pendidikan bagi dirinya.
3) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran bagi peserta
didik cerdas istimewa.
4) Membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual,
emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan
kebugaran fisik.
5) Membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan
dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat
yang bertanggung jawab, serta mempersiapkan peserta didik mengikuti
28


pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.
32


Selain tujuan di atas Dave Meier seperti yang dikutip Busro,
menjelaskan tujuan pembelajaran program akselerasi adalah Menggugah
sepenuhnya kemampuan belajar para pelajar, membuat belajar
menyenangkan, dan memuaskan bagi mereka, serta memberikan
sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, keberhasilan
mereka sebagai manusia.
33

Dari beberapa tujuan di atas, penulis berpendapat bahwa tujuan
diselenggarakannya program akselerasi adalah untuk memberikan
pelayanan pendidikan dalam rangka memenuhi kebutuhan siswa yang
berpotensi tinggi dan berbakat istimewa, sehingga siswa tersebut dapat
mengoptimalkan potensi yang dimilikinya secara maksimal yang
mengarah pada pencapaian peningkatan mutu pendidikan, dalam arti
peningkatan prestasi belajar siswa baik prestasi akademik maupun non
akademik.

3. Aspek-aspek Program Akselerasi
1) Aspek Filosofis Program Akselerasi
Penyelenggaraan program kelas akselerasi bagi siswa yang
memiliki potensi kecerdasan, kemampuan tinggi, dan bakat istimewa
didasari filosofis oleh berbagai faktor, yaitu:
a. Hakikat Manusia
b. Hakikat Pembangunan Nasional
c. Tujuan Pendidikan
d. Usaha Pencapaian Tujuan Pendidikan.
34


32
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, , hlm. 10.
33
Busro, Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Program Kelas Akselerasi di SMA
Negeri 1 Pamulang, hlm. 31.
34
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, , hlm. 24.
29


Penjelasan masing-masing filosofis di atas akan dijelaskan sebagai
berikut:
Hakikat Manusia, manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha
Esa telah dilengkapi dengan berbagai potensi dan kemampuan yang
merupakan anugrah yang semestinya dimanfaatkan dan
dikembangkan, jangan sampai disia-siakan. Dalam hal ini peserta
didik yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa juga mempunyai
kebutuhan akan keberadaan (eksistensinya), mereka membutuhkan
pelayanan pendidikan khusus yang sesuai dengan potensi yang
dimilikinya. Usaha untuk mewujudkan anugrah potensi tersebut secara
penuh merupakan konsekuensi dari amanah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Hakikat Pembangunan Nasional, dalam pembangunan nasional,
manusia memiliki peran sentral, yaitu sebagai subjek pembangunan.
Untuk dapat memainkan perannya sebagai subjek, maka manusia
Indonesia dikembangkan untuk menjadi manusia yang utuh, yang
berkembang segenap dimensi potensinya secara wajar, sebagaimana
mestinya. Pelayanan pendidikan yang kurang memperhatikan potensi
anak, bukan saja akan merugikan anak itu sendiri, melainkan akan
membawa kerugian yang lebih besar bagi perkembangan pendidikan
dan percepatan pembangunan Indonesia.
Tujuan Pendidikan, pendidikan nasional berusaha menciptakan
keseimbangan antara pemerataan kesempatan dan keadilan.
Pemerataan kesempatan berarti membuka kesempatan seluas-luasnya
kepada semua peserta didik dari semua lapisan masyarakat untuk
mendapat pendidikan tanpa dihambat perbedaan jenis kelamin, suku
bangsa, dan agama. Akan tetapi, memberikan kesempatan yang sama
pada akhirnya akan dibatasi oleh kondisi objektif peserta didik, yaitu
kepastian untuk dikembangkan. Untuk mencapai keunggulan dalam
pendidikan, maka diperlukan intensi yaitu memberikan perlakuan
yang sesuai dengan kondisi objektif peserta didik, perlakuan yang
didasarkan pada minat, bakat, dan kemampuan serta kecerdasan
30


peserta didik, kalau tidak demikian maka yang akan terjadi adalah
ketidakadilan pendidikan.
Usaha Pencapaian Tujuan Pendidikan, dalam upaya
pengembangan kemampuan peserta didik, pendidikan berpegang
kepada asas keseimbangan dan keselarasan, yaitu keseimbangan
antara kreatifitas dan disiplin, keseimbangan antara persaingan
(kompetisi) dan kerja sama (kooperatif), keseimbangan antara
pengembangan kemampuan berfikir holistik dengan kemampuan
berfikir atomistik, dan keseimbangan antara tuntunan dan prakarsa.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa program akselerasi didasarkan
pada pendidikan keadilan, seperti yang tertera pada Undang-undang
RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab
III, ayat 1 tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan yaitu:
Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan
serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia,
nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
35

Dari undang-undang tersebut terlihat jelas bagaimana seharusnya
pendidikan diselenggarakan, yaitu memberikan pelayanan,
pengalaman belajar sesuai dengan potensi kecerdasan, kemampuan,
dan bakat minat yang dimiliki setiap manusia sebagai anugrah Tuhan
untuk dimanfaatkan sebaik mungkin agar potensi tersebut berguna
bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (pembangunan nasional
dalam memajukan pendidikan).

2) Aspek Psikologis Program Akselerasi
Secara psikologis anak berbakat diidentikan dengan istilah anak
yang memiliki kecerdasan, kemampuan dan bakat istimewa.
Berkenaan dengan hal itu, maka teori-teori program percepatan ini
mengacu pada teori tentang anak berbakat:

35
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Sistem Pendidikan
Nasional No.20, Tahun 2003, (Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2006), hlm. 9.
31


Anak berbakat memiliki potensi kecerdasan yang berhubungan
dengan kemampuan intelektual, sedangkan bakat tidak hanya terbatas
pada kemampuan intelektual, namun berhubungan juga dengan
beberapa jenis seperti kecerdasan linguistic, kecerdasan musical,
kecerdasan kinestik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan
intrapersonal, teori ini dikenal dengan toeri (Multiple Intelligences).
(Gardner, 1983).
36
Pengertian potensi kecerdasan dan bakat istimewa
dalam program akselerasi ini dibatasi hanya pada kemampuan
intelektual umum saja.

Dalam skripsi ini dijelaskan satu pendekatan/acuan yang dapat
digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual umum siswa yang
berbakat, yaitu Pendekatan Multidimensional. Dalam pendekatan ini
kriteria yang digunakan adalah mereka yang memiliki dimensi
kemampuan umum pada taraf cerdas (ditetapkan skor IQ 130 ke atas
Skala Wechsler), dimensi kreatifitas cukup (ditetapkan skor CQ dalam
nilai cukup), dan pengikatan diri terhadap tugas baik (ditetapkan skor
TC dalam kategori nilai baku baik), (Renzuli, Reis dan Smith 1978).
37

Jadi secara psikologis siswa yang memiliki kemampuan,
kecerdasan dan bakat istimewa (anak berbakat) tingkat kemampuan
intelektual umumnya adalah mereka memiliki IQ 140 dengan kategori
(genius), dan mereka yang memiliki IQ 130 dengan kategori cerdas
dengan ditunjang oleh kreatifitas dan keterkaitan terhadap tugas dalam
kategori di atas rata-rata.

3) Aspek Empiris Program Akselerasi
Melihat ciri-ciri yang dijelaskan di atas, terkesan seakan-akan
siswa yang memiliki kemampuan, kecerdasan, dan bakat istimewa
hanya memiliki sifat dan perilaku yang positif saja. Sebetulnya tidak
demikian, sebagaimana anak pada umumnya, mereka membutuhkan

36
Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan
Belajar SD, SMP, dan SMA: Suatu Model Pelayanan Pendidikan Bagi Peserta Didik Yang
Memiliki Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa, (Jakarta:Balitbang Diknas, 2003), hlm. 12-13.
37
Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan
Belajar SD, SMP, dan SMA: Suatu Model Pelayanan Pendidikan Bagi Peserta Didik Yang
Memiliki Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa..., hlm.13.
32


pengertian, perhatian, penghargaan, dan perwujudan diri. Apabila
kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi mereka akan menderita
kecemasan, keragu-raguan, dan mungkin akan mengakibatkan
timbulnya masalah-masalah kesulitan belajar, seperti:
1) kemampuan berfikir kritis mengarah ke arah sikap meragukan
(skeptis) baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
2) Kemampuan kreatif dan minat untuk melakukan hal-hal yang baru
bisa menyebabkan mereka tidak menyukai atau lekas bosan dengan
tugas-tugas rutin.
3) Perilaku yang ulet dan terarah pada tujuan, dapat menjurus ke
keinginan untuk memaksakan atau mempertahankan pendapatnya.
4) Kepekaan yang tinggi dapat membuat mereka menjadi mudah
tersinggung atau peka terhadap kritik.
5) Semangat, kesiagaan mental dan inisiatifnya yang tinggi dapat
membuat kurang sabar dan kurang tenggang rasa jika tidak ada
kegiatan atau jika kurang tampak kemajuan dalam kegiatan yang
sedang berlangsung.
6) Dengan kemampuan dan minat yang beraneka ragam, mereka
membutuhkan keluwesan serta dukungan untuk dapat menjajaki
dan mengembangkan minatnya.
7) Keinginan mereka untuk mandiri dalam belajar dan bekerja, serta
kebutuhan akan kebebasan, dapat menimbulkan konflik karena
tidak mudah menyesuaikan diri atau tunduk terhadap tekanan dari
orang tua, sekolah, atau teman-temannya, bahkan mereka merasa
ditolak atau kurang dimengerti oleh lingkungannya.
8) Sikap acuh tak acuh dan malas, dapat timbul karena pengajaran
yang diberikan di sekolah kurang mengundang tantangan baginya.
9) Berdasarkan penelitian Henry (1993) mereka juga suka
mengganggu teman-teman sekitarnya, mengadakan aktifitas
33


sekehendaknya, berbuat usil misalnya mencubit atau melempar
benda-benda kecil/kapur ke teman kelasnya.
38

Masalah-masalah di atas dapat terjadi karena mereka belum
mendapat pelayanan pendidikan yang memadai. Untuk menghindari
sifat, perilaku, dan masalah tersebut, kita hendaknya berusaha
memberikan kepuasan rohaniah dalam kegiatan belajar mengajar,
yaitu dengan memberikan pelayanan pendidikan yang disesuaikan
dengan bakat minat, potensi kemampuan, dan kecerdasan siswa.
Dalam hal ini melalui program akselerasi agar mereka dapat
mengoptimalkan potensinya dengan baik sehingga berguna bagi
dirinya, investasi bagi masyarakat dan bangsa.

4) Aspek Yuridis Program Akselerasi
Kesungguhan pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan
bagi anak yang memiliki potensi kecerdasan, kemampuan dan bakat
istimewa secara tegas telah dinyatakan sebagai berikut:
a) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 5 Ayat 4, Pasal 3, Pasal 32 ayat 1dan Pasal 12 Ayat
1 Poin b dan f menegaskan bahwa:
Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. Sedangkan pasal
12 ayat 1, bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan
berhak: (b) Mendapatkan pelayanan sesuai dengan bakat, minat dan
kemampuannya; (f) Menyelesaikan program pendidikan sesuai
dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang
dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.
39

b) UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak pasal 52, anak yang
memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesbilitas untuk
memperoleh pendidikan khusus.

38
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, hlm. 22-23.
39
Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Sistem Pendidikan
Nasional No.20, Tahun 2003., hlm. 12.
34


c) PP No. 72/1991, tentang Pendidikan Luar Biasa.
d) Peraturan Presiden RI Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan
Tugas, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Negera
Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan peraturan
Presiden Nomor 62 Tahun 2005.
e) Peraturan Presiden RI Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit
Organisasi dan Tugas Eselon I Kementrian Negara Republik
Indonesia.
f) Keputusan Presiden RI Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai
pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah diubah
dengan keputusan Presiden Nomor 171/M Tahun 2005.
g) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 25 Tahun 2005
Tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan
Nasional.
h) Keputusan Mendiknas No. 053/2001 tentang Pedoman Penyusunan
Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang
Pendidikan Dasar dan Menengah.
i) Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
j) Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
k) Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan.
l) Peraturan mendiknas no. 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,
dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006
tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendididkan
Dasar dan Menengah.
m) Permendiknas no. 34/26 tentang pembinaan prestasi peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan istimewa.
35


n) Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tantang Pengelolaan
Pendidikan.
40


4. Bentuk Program Akselerasi
Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi siswa cerdas
istimewa dan berbakat istimewa dapat dilakukan dalam bentuk kelas
khusus, inklusif, dan satuan pendidikan khusus:
1) Kelas Khusus adalah kelas yang dibuat untuk kelompok peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan istimewa dalam satuan pendidikan
reguler pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mata pelajaran
yang diberikan pada saat peserta didik di kelas khusus adalah mata
pelajaran yang termasuk dalam rumpun matematika dan ilmu
pengetahuan alam.
2) Kelas Inklusif adalah kelas yang memberikan layanan kepada peserta
didik, peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa dalam
proses pembelajaran bergabung dengan peserta didik program reguler.
Mata pelajaran yang diberikan pada saat peserta didik di kelas khusus
adalah mata pelajaran lain diluar rumpun matematika dan ilmu
pengetahuan alam.
3) Satuan Pendidikan Khusus adalah lembaga pendidikan formal pada
jenjang pendidikan dasar (SD/ MI, SMP / MTs) menengah (SMA / MA,
SMK / MAK) yang semua peserta didik memiliki potensi kecerdasan
istimewa dan bakat istimewa.
41

Dan layanan pendidikan untuk peserta didik cerdas istimewa dapat
berupa program pengayaan (enrichment) dan gabungan program
percepatan dengan pengayaan (acceleration - enrichment).

40
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, hlm. 4-6.
41
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, hlm. 41.
36


a) Program Pengayaan (enrichment) adalah pemberian layanan
pendidikan pada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan
istimewa yang dimiliki, dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas
belajar tambahan yang bersifat perluasan / pendalaman, setelah yang
bersangkutan menyelesaikan tugas yang diprogramkan untuk peserta
didik lainnya. Program ini cocok untuk peserta didik yang bertipe
enriched learner.
42


Bentuk layanan ini antara lain dilakukan dengan memperkaya
materi melalui kegiatan-kegiatan penelitian dan sebagainya.
Disamping itu, ada kemungkinan juga peserta didik tersebut
mendapatkan pengayaan dengan pendalaman, terutama bila ia akan
mengikuti lomba kejuaraan untuk mata pelajaran tertentu (misal:
mengikuti olimpiade Matematika, Biologi, Fisika atau yang lainnya).
Penekanan (fokus) layanan untuk kelompok ini adalah pada
perluasan/pendalaman materi yang dipelajari dan bukan pada
kecepatan waktu belajar di kelas. Artinya siswa kelompok tetap
menyelesaikan pendidikan di SD / MI dalam jangka waktu 6 tahun
atau di SMP/MTs dan SMA/MA dalam waktu 3 tahun.
b) Gabungan program percepatan dan pengayaan (acceleration -
enrichment) adalah pemberian pelayanan pendidikan peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk dapat
menyelesaikan program reguler dalam jangka waktu lebih singkat
dibanding teman-temannya yang tidak mengambil program tersebut.
Artinya peserta didik kelompok ini dapat menyelesaikan pendidikan di
SD / MI dalam jangka waktu 5 tahun, di SMP / MTs atau SMA / MA
dalam waktu 2 tahun.
43


Dalam program ini, peserta didik tidak semata-mata memperoleh
percepatan waktu penyelesaian studi di sekolah, tetapi sekaligus
memperoleh eskalasi atau pengayaan materi dengan penyediaan
kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat
perluasan/pendalaman. Pemberian layanan akselerasi tanpa melakukan

42
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, hlm. 42-43.
43
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, hlm. 42-43.
37


eskalasi atau pengayaan materi pada dasarnya sangat merugikan
peserta didik.
Pengayaan dapat dilakukan secara horizontal maupun vertikal.
Pengayaan vertikal merujuk pada pengalaman belajar di tingkat
pendidikan yang sama, tetapi bersifat lebih luas, sedangkan yang vertikal
makin meningkatkan dalam kompleksitasnya. Bentuk layanan ini antara
lain melalui kegiatan-kegiatan penelitian ketika peserta didik tersebut
mengikuti lomba kejuaraan untuk mata pelajaran tertentu (misal :
mengikuti olimpiade matematika, biologi, fisika atau yang lainnya).
44



5. Waktu Tempuh Belajar Program Akselerasi
Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan program akselerasi bagi
siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa lebih cepat
dibandingkan dengan siswa regular, yaitu:
Pada satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD), dari 6 (enam) tahun
dipercepat menjadi 5 (lima) tahun. Sedangkan pada satuan pendidikan
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA)
masing-masing 3 (tiga) tahun dapat dipercepat menjadi 2 (dua) tahun.
45


6. Standar Kualifikasi Siswa Program Akselerasi
Standar kualifikasi yang diharapkan dapat dihasilkan melalui program
akselerasi adalah peserta didik yang memiliki kualifikasi sebagai berikut:
1) Kualifikasi perilaku kognitif meliputi; daya tangkap cepat, mudah dan
cepat memecahkan masalah, dan kritis.
2) Kualifikasi perilaku kreatif meliputi; rasa ingin tahu, imajinatif,
tertantang, berani ambil resiko.

44
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, hlm. 43.
45
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, hlm. 43.
38


3) Kualifikasi perilaku keterikatan terhadap tugas meliputi: tekun,
bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, keteguhan, dan daya juang.
4) Kualifikasi perilaku kecerdasan emosi meliputi; pemahaman diri
sendiri, pemahaman diri orang lain, pengendalian diri, penyesuaian diri,
harkat diri, dan berbudi pekerti.
5) Kualifikasi perilaku kecerdasan spiritual meliputi; pemahaman apa
yang harus dilakukan peserta didik untuk mencapai kebahagiaan bagi
diri sendiri dan orang lain.
46


Dari penjelasan di atas, jelas program akselerasi diberikan pada siswa
yang memiliki potensi kecerdasan tinggi dan bakat istimewa sesuai
kualifikasi yang dimiliki siswa dengan memberikan kesempatan belajar
dalam kelas/program khusus untuk dapat menyelesaikan program regular
dalam jangka waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan teman-
temannya. Arti sederhananya adalah tidak semua siswa dapat belajar pada
program akselerasi.

7. Mekanisme Penyelenggaraan Program Akselerasi
Mekanisme penyelenggaraan progam akselerasi melalui berbagai tahap,
sebagai berikut:
1) Tahapan Persiapan Penyelenggaraan Program Akselerasi
Dalam tahapan penyelenggaraan program akselerasi perlu dilakukan
berbagai persiapan, diantaranya yaitu:
a) Mengadakan konsultasi dan komunikasi intensif dengan sekolah-
sekolah yang sudah menyelenggarakan lebih dulu program
akselerasi, untuk mendapatkan berbagai informasi dan masukan.
b) Membentuk tim kecil program akselerasi di sekolah penyelenggara,
terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru-guru
senior yang memiliki kepedulian dan perhatian untuk memberikan

46
Busro, Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Program Kelas Akselerasi di SMA
Negeri 1 Pamulang.., hlm. 29.
39


layanan bagi anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar
biasa.
c) Memberikan pembekalan dan wawasan tentang progam percepatan
belajar dengan mengundang nara sumber atau sekolah yang sudah
menyelenggarakan program akselerasi, yang dihadiri oleh semua
unsure tenaga kependidikan di sekolah yang akan terlibat dalam
penyelenggaraan program akselerasi.
d) Melakukan seleksi terhadap guru-guru yang akan mengajar pada
program akselerasi untuk mengetahui kompetensi guru.
e) Menyusun program kerja.
f) Mengurus perijinan penyelenggaraan program akselerasi.
47

Setelah tahapan persiapan sudah direalisasikan, langkah selanjutnya
yang harus dilakukan oleh sekolah/madrasah adalah sebagai berikut:
a) Sekolah mengajukan usulan permohonan izin tertulis dengan
kelengkapan data dan informasi tentang sekolah diantaranya memiliki
sarana prasarana, manajemen, dan sumber daya pendidikan kepada
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
b) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota meneliti usulan sekolah yang telah
memenuhi kriteria penyelenggaraan program akselerasi (percepatan
belajar), selanjutnya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
memberikan rekomendasi untuk mendapatkan surat keputusan (SK)
dari Kepala Dinas Provinsi.
c) Dinas Pendidikan Provinsi melalui Tim Pengendalian Program
mengevaluasi usulan yang sudah memenuhi kriteria, kemudian
Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Tim Pengendalian Program
bersama-sama mengadakan observasi ke sekolah.
d) Dinas pendidikan Provinsi mengeluarkan Surat Keputusan (Sk)
penetapan sekolah penyelenggara program akselerasi.

47
Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan
Belajar SD, SMP, dan SMA: Suatu Model Pelayanan Pendidikan Bagi Peserta Didik Yang
Memiliki Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa..., hlm. 32.

40


e) Selanjutnya Dinas Pendidikan Provinsi mengirim statistik sekolah
penyelenggara program akselerasi yang berada di wilayahnya kepada
Direktur Jenderal Dikdasmen c. q. Direktur Pendidikan Luar Biasa dan
tembusan direktur terkait.
48

f) Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Pejabat
Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota secara periodik
melakukan monitoring dan evaluasi ke sekolah-sekolah dalam upaya
pengendalian mutu pendidikan.
49


Gambar mekanisme permohonan penyelenggaraan program akselerasi dapat
digambarkan dalam diagram sebagai berikut.
50




e f


b


a


Gambar 1
Mekanisme Penyelenggaraan Program Kelas Akselerasi





48
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Pedoman Penyelenggaraan
Pendidikan Untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa, hlm. 102-103.
49
Depdiknas, Isu-isu Pendidikan:Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua, hlm. 90.
50
Depdiknas, Isu-isu Pendidikan:Lima Isu Pendidikan Triwulan Kedua, hlm. 91.
Direktorat Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah
Dinas Pendidikan Provinsi
Dinas Pendidikan Kabupaten /
Kota
Sekolah (SD, SMP, SMA)
41


2) Tahapan Pelaksanaan Penyelenggaraan Program Akselerasi
Tahapan ini merupakan tahapan implementasi penyelenggaraan
program akselerasi, dimana segala sumber daya pendidikan sudah tersedia.
Adapun sumber daya dalam program akselerasi meliputi segala sumber
daya baik yang berasal dari internal sekolah maupun eksternal sekolah
yang mendukung terhadap penyelenggaraan program akselerasi.
Bila pendidikan bagi siswa berpotensi tinggi dan berbakat istimewa
(luar biasa), dikembangkan untuk mencapai keunggulan lulusan
pendidikan, maka akan tercapai keunggulan tersebut. (Henry, 1999),
sebagaimana dikutip oleh Anggriawan Pranata, setidaknya terdapat
Delapan faktor penunjang yang mempengaruhi tercapainya tujuan
pendidikan, meliputi; (1) masukan (input, intake), (2) kurikulum, (3)
tenaga kependidikan, (4) sarana prasarana, (5) dana, (6) manajemen, (7)
lingkungan, (8) proses belajar mengajar.
51






Input Output
Siswa Lulusan



Gambar 2
Faktor Pendukung Sumber Daya Pendidikan



51
Anggriawan Pranata, Efektifitas Program Kelas Akselerasi Dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan di SMP N 2 Ciputat, (Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009), hlm. 43.
Kurikulum Sarana dan Prasarana Manajemen
Guru Dana
Proses Belajar Mengajar
Lingkungan
Kondusif
Sistem
Evaluasi
Bimbingan
Konseling
42


Pertama, masukan (input, intake) siswa diseleksi secara ketat dengan
menggunakan kriteria dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kriteria yang digunakan adalah: (a) prestasi belajar, dengan indikator angka
raport, Nilai Ebtanas Murni/NEM (sekarang nilai UN), dan/atau hasil tes
prestasi akademik, (b) kesehatan jasmani bila diperlukan. Depdiknas, dalam
buku pedoman program kelas akselerasi, menyebutkan syarat dan kriteria
siswa pada program akselerasi yaitu:
a) Informasi Data Objektif, yaitu berupa skor akademis dan skor hasil
pemeriksaan psikologis meliputi:
(1) Nilai ujian nasional dengan rata-rata 8,0 ke atas baik untuk SMP,
SMA, sedangkan untuk SD tidak dipersyaratkan.
(2) Tes kemampuan akademis dengan nilai sekurang-kurangnya 8,0
(3) Rapor, dengan nilai rata-rata seluruh mata pelajaran tidak kurang
dari 8,0.
(4) Psikologis, yang diperoleh dari hasil pemeriksaan meliputi tes
intelegensi umum, tes kreatifitas, dan inventori keterikatan pada
tugas dengan skor (IQ 140) kategori jenius dan skor IQ125
kategori cerdas.
b) Informasi Data Subjektif, yaitu nominasi yang diperoleh dari diri
sendiri, teman sebaya, dan guru sebagai hasil dari pengamatan dari
sejumlah ciri keberbakatan.
c) Kesehatan Fisik, yaitu keterangan kesehatan jasmani dan rohani yang
ditunjukan dengan surat keterangan sehat dari dokter.
d) Kesediaan Siswa dan Persetujuan Orang Tua, yaitu pernyataan
tertulisdari pihak sekolah untuk siswa dan orang tuanya, tentang hak dan
kewajiban serta hal-hal yang dianggap perlu dipatuhi untuk menjadi
peserta program akselerasi.
52


Dari penjelasan di atas, jelas bahwa penerimaan siswa program kelas
akselerasi dilakukan seleksi secara ketat, melalui berbagai tahapan dan
kriteria serta syarat-syarat tertentu. Hal ini dilakukan agar program
penyelenggaraan kelas akselerasi tepat sasaran pada siswa yang memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa sehingga dalam proses
pembelajaran berjalan dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional yang
standar, namun dilakukan improvisasi alokasi waktu sesuai dengan

52
Busro, Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Program Kelas Akselerasi di SMA
Negeri 1 Pamulang, hlm. 40-41.
43


tuntutan belajar peserta didik yang memiliki kecepatan serta motivasi
belajar. Depdiknas menetapkan kurikulum program akselerasi adalah
kurikulum nasional dan muatan lokal yang dimodifikasi dan
berdiferensiasi dengan penekanan pada materi esensial (penting) dan
dikembangkan melalui sistem pembelajaran yang dapat memacu dan
mewadahi integrasi antara pengembangan spiritual, logika, etika, dan
estetika, serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir holistik
kreatif, dan sistematik, linear dan konvergen, untuk memenuhi tuntutan
masa kini dan masa mendatang dengan cara:
a) Modifikasi alokasi waktu, yang disesuaikan dengan kecepatan belajar.
b) Modifikasi isi/materi, dipilih yang esensial.
c) Modifikasi proses pembelajaran, yang menekankan pengembangan
proses berpikir tingkat tinggi (analisis, sintesis, evaluasi, dan
pemecahan masalah).
d) Modifikasi sarana-prasarana, yang disesuaikan dengan karakteristik
siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, senang
menemukan sendiri pengetahuan baru.
e) Memodifikasi lingkungan belajar, yang memungkinkan siswa yang
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dapat memenuhi
kehausan akan pengetahuan.
f) Memodifikasi pengelolaan kelas, yang memungkinkan siswa yang
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dapat bekerja di kelas
secara mandiri, berpasangan maupun kelompok.
g) Struktur program (jumlah jam setiap mata pelajaran) lebih dipercepat
daripada kelas regular dengan mengurangi pembahasan materi-materi
yang tidak esensial (tidak penting) dengan memperhatikan keselarasan
dan keseimbangan antara dimensi tujuan pembelajaran,
pengembangan kreatifitas dan disiplin, pengembangan persaingan dan
kerja sama, pengembangan kemampuan holistik dan kemampuan
44


berpikir elaborasi, dimensi pelatihan berpikir induktif dan dedukatif,
serta pengembangan IPTEK dan IMTAQ terpadu.
53

h) Komponen kurikulum, terdiri dari tujuan, isi atau materi, proses atau
sistem penyampaian dan media, serta evaluasi, harus tetap menjadi
perhatian pihak sekolah jika menginginkan mutu lulusan yang baik.
54

Ketiga, tenaga kependidikan/guru, karena siswanya memiliki
kemampuan dan kecerdasan luar biasa, maka tenaga kependidikan/guru
yang menanganinya terdiri atas tenaga kependidikan yang unggul, baik
dari segi penguasaan materi pelajaran, penguasaan metode, dan media
pembelajaran, maupun komitmen dalam melaksanakan tugas. Berkaitan
dengan ini, Depdiknas menyebutkan beberapa kriteria guru program
kelas akselerasi, yaitu:
a) Memiliki tingkat kependidikan yang dipersyaratkan sesuai dengan
jenjang sekolah yang diajarkan, sekurang-kurangnya Sarjana (S1)
untuk SD, SMP, dan SMA.
b) Mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
c) Memiliki pengalaman mengajar di kelas regular sekurang-kurangnya 3
(tiga) tahun dengan prestasi yang baik.
d) Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik siswa
yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (anak berbakat).
e) Memiliki karakteristik umum yang dipersyaratkan antara lain:
(1) Adil dan tidak memihak.
(2) Sikap kooperatif demokratis.
(3) Fleksibilitas.
(4) Rasa humor.
(5) Menggunakan penghargaan dan pujian.
(6) Minat yang luas.
(7) Memahami perhatian terhadap masalah anak.

53
Anggriawan Pranata, Efektifitas Program Kelas Akselerasi Dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan di SMP N 2 Ciputat,..... hlm. 45-46.
54
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,
(Bandung:Remaja Rosdakarya, 1997), hlm. 102.
45


(8) Penampilan dan sikap menarik.
f) Memenuhi sebagian besar persyaratan berikut:
(1) Memiliki pengetahuan tentang sifat dan kebutuhan anak berbakat.
(2) Memiliki keterampilan dalam mengembangkan kemampuan
berpikir tingkat tinggi.
(3) Memiliki pengetahuan tentang kebutuhan aktif dan kognitif anak
berbakat.
(4) Memiliki kemampuan untuk mengembangkan pemecahan masalah
secara kreatif.
(5) Memiliki kemampuan untuk mengembangkan bahan ajar untuk
anak berbakat.
(6) Memiliki kemampuan untuk menggunakan strategi mengajar
perorangan.
(7) Memiliki kemampuan untuk menunjukan teknik mengajar yang
sesuai.
(8) Memiliki kemampuan untuk bimbingan dan memberi konseling
kepada anak berbakat dan orang tuanya.
(9) Memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian.
55

Keempat, sarana dan prasarana yang menunjang diperlukan untuk
mendapat mendukung kegiatan belajar mengajar dalam program
akselerasi disesuaikan dengan kemampuan kecerdasan siswa, sehingga
dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar, serta
menyalurkan potensi kemampuan, kecerdasannya, termasik bakat dan
minatnya baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler.
Depdiknas menyebutkan sarana dan prasarana yang harus tersedia dalam
program akselerasi meliputi sarana belajar:
a) Ruang Kepala Sekolah, Ruang Guru, Ruang Bimbingan Konseling,
Ruang Tata Usaha, Ruangan Osis.

55
Anggriawan Pranata, Efektifitas Program Kelas Akselerasi Dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan di SMP N 2 Ciputat, hlm. 47.
46


b) Ruang kelas, dengan formasi tempat duduk yang mudah di pindah-
pindah sesuai dengan keperluan.
c) Ruang Lab IPA, Lab IPS, Lab Bahasa, Lab Kertakes, Lab Komputer,
dan Ruangan Perpustakaan.
d) Kantin Sekolah, Koperasi Sekolah, Musholla/Tempat ibadah dan
Poliklinik.
e) Aula Pertemuan
f) Lapangan Olah Raga.
g) Kamar Mandi/WC
Prasarana belajar meliputi:
a) Sumber belajar seperti: buku paket, buku pelengkap, buku referensi,
buku bacaan, majalah, Koran, modul, lembar kerja, kaset Video,
VCD, CDROM, dan sebagainya.
b) Media pembelajaran seperti radio, cassette recorder, TV, OHP,
Wireless, Slid Projector, LD/LCD/VCD/DVD Player, Komputer,
dan sebagainya.
c) Adanya sarana Information Technology , (IT): Jaringan Internet, dan
lain-lain.
Kelima, adalah dana. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
dalam program akselerasi perlu adanya dukungan dana yang cukup
memadai, termasuk perlunya disediakan intensif tambahan bagi tenaga
kependidikan yang terlibat dalam penyelenggaraan program kelas
akselerasi baik itu berupa uang maupun fasilitas lainnya.
Keenam, manajemen, berhubungan dengan strategi dan implementasi
seluruh sumberdaya yang ada dalam sistem sekolah untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu bentuk manajemen pada sekolah
dengan diselenggarakannya program akselerasi, harus memiliki tingkat
fleksibilitas yang tinggi, realitas dan berorientasi pada peningkatan mutu
pendidikan jauh kedepan.
Ketujuh, lingkungan belajar yang kondusif dibutuhkan untuk
mendukung terciptanya proses pembelajaran dengan baik. Hal ini
47


dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi keunggulan menjadi
keunggulan yang nyata. Lingkungan tersebut berupa lingkungan dalam
arti fisik maupun sosial di sekolah, di masyarakat, dan di rumah.
Maka dari itu, keluarga, sekolah, masyarakat dan semua pihak harus
menciptakan lingkungan yang kondusif supaya proses pembelajaran
dalam program kelas akselerasi berjalan dengan baik sehingga
menghasilkan lulusan yang bermutu sesuai dengan harapan semua pihak.
Kedelapan, proses pembelajaran yang bermutu hasilnya selalu dapat
dipertanggungjawabkan kepada siswa, orang tua, dan lembaga maupun
masyarakat.
56

Kesembilan, yang dimaksud dengan output pendidikan adalah
Bahan jadi (Siswa lulusan sekolah) yang dihasilkan dari oleh
transformasi (proses kegiatan belajar megajar).
57
Output program kelas
akselerasi merupakan siswa lulusan yang berprestasi tinggi dibandingkan
dengan siswa biasa/program regular baik dari segi kemampuan akademis,
psikologis, prilaku sosial, seni, olah raga, dan mereka di senangi oleh
banyak siswa.
Sedangkan Depdiknas, menyebutkan selain kesembilan faktor di atas
terdapat faktor-faktor lain yaitu:
1) Proses Evaluasi Belajar
Evaluasi dilakukan bertujuan untuk mengukur pencapaian belajar
dimaksud tingkat daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan.
Adapun bentuk evaluasi yang dilakukan dalam program akselerasi
meliputi:
a) Ulangan Harian
Dalam satu semester setiap guru minimal memberikan ulangan
harian sebanyak 3 kali. Bentuk soal yang disarankan adalah soal
uraian.



56
Anggriawan Pranata, Efektifitas Program Kelas Akselerasi Dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan di SMP N 2 Ciputat, hlm. 47-49.
57
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara, 2005),
Cet.IV. Edisi Revisi, hlm. 4-5.
48


b) Ulangan Umum
Ulangan umum diberikan lebih cepat dibandingkan siswa regular,
sesuai dengan kalender pendidikan program akselerasi. Soal
ulangan dibuat oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan dengan
menyusun kisi-kisi serta materi yang esensial.
c) Ujian Nasional
Ujian Nasional akan diikuti oleh siswa pada tahun kelima untuk
SD, tahun kedua untuk SMP, SMA bersamaan dengan pelaksanaan
ujian nasional regular.
d) Pembagian Buku Rapor
Pembagian laporan hasil belajar siswa program akselerasi diberikan
sesuai dengan kalender pendidikan program akselerasi yang telah
ditentukan secara khusus.
e) Evaluasi terhadap penyelenggaraan program kelas akselerasi
dilakukan oleh Ditjen Dikdasmen sekurang-kurangnya 1 (satu) kali
setahun dalam bentuk supervisi atau monitoring dan evaluasi.
58


2) Bimbingan dan Konseling
Bimbingan konseling program akselerasi dilakukan dengan tujuan
untuk membantu individu mengenali dan memahami diri dan
mengarahkan dirinya dengan tepat terhadap lingkungan mengatasi
masalah-masalah yang dialaminya yang berhubungan dengan teman
sebaya, keluarga, dan kepala sekolah, terlebih membimbing karirnya
yang perlu mendapatkan pelayanan yang tepat.
Dari apa yang telah dikemukakan di atas, penulis berpendapat bahwa
program kelas akselerasi merupakan satuan pelayanan pendidikan yang
diberikan kepada siswa yang memiliki kemampuan, kecerdasan tinggi, dan
bakat istimewa dibandingkan dengan siswa biasa, sehingga mereka dapat
mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Program kelas akselerasi
memberikan kesempatan belajar kepada mereka dalam menyelesaikan
pendidikan dengan jangka waktu yang lebih singkat dan cepat. Dengan
diselenggarakannya program kelas akselerasi, berarti kita sudah menjalankan
prinsip keadilan dalam pendidikan sesuai dengan potensi manusia sebagai
anugrah Tuhan.


58
Busro, Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Program Kelas Akselerasi di SMA
Negeri 1 Pamulang, hlm. 46.
49


C. Kerangka Konseptual
Evaluasi merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencari
informasi yang berguna bagi decision maker dalam mengambil keputusan.
Program atau rencana berkaitan erat dengan evaluasi. Berhasil atau tidaknya
sebuah program dalam mencapai tujuan dapat diukur melalui evaluasi.
Evaluasi program diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan
untuk mengetahui tingkat keberhasilan sebuah program dalam mencapai
tujuan.
Akselerasi dalam pendidikan merupakan seperangkat kegiatan pelayanan
pendidikan yang dirancang khusus dan diperuntukan bagi siswa yang
memiliki keberbakatan istimewa dengan kecerdasan dan kemampuan serta
bakat dan minat luar biasa dibandingkan dengan siswa lain (siswa biasa),
sehingga kegiatan belajar dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih cepat
dan singkat.
Tujuan utama program akselerasi adalah:
1) Memberikan kesempatan pada peserta didik cerdas istimewa untuk
mengikuti program pendidikan sesuai dengan potensi kecerdasan yang
dimilikinya.
2) Memenuhi hak asasi peserta didik cerdas istimewa sesuai kebutuhan
pendidikan bagi dirinya.
3) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran bagi peserta
didik cerdas istimewa.
4) Membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual,
emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran
fisik.
5) Membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan
seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang
bertanggung jawab, serta mempersiapkan peserta didik mengikuti
pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.
50


Evaluasi program kelas akselerasi diartikan sebagai serangkaian kegiatan
untuk mengetahui keberhasilan program akselerasi yang tujuan utamanya
adalah peningkatan mutu pendidikan dalam hal pelayanan kebutuhan siswa
cerdas istimewa.
CIPP Evaluation Model yang dikembangkan Stufflebeam merupakan
salah satu model evaluasi yang membagi komponen-komponen program
kedalam 4 bagian utama yaitu: Context, Input, Process, Product. (Konteks,
Masukan, Proses, Produk/Hasil).
Dimensi konteks program kelas akselerasi yaitu untuk memfasilitasi atau
memberikan kesempatan pada peserta didik cerdas istimewa untuk mengikuti
program pendidikan sesuai dengan potensi keserdasan yang dimilikinya.
Sedangkan dimensi input meliputi perencanaan penyelenggaraan program
akselerasi diawal dengan kegiatan rekruitmen siswa sesuai dengan kriteria
yang telah ditetapkan. Dimensi proses meliputi implementasi program
akselersasi kajian terhadap seberapa jauh pelaksanaan program ini akan
sedang dijalankan. Sedangkan dimensi produk merupakan tahap akhir dari
serangkaian evaluasi program. Evaluasi produk akselerasi meliputi prestasi
akademik siswa.

51







BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, Jl. Ir. H. Juanda
No.1 Cempaka Putih Tangerang - Banten 15412. Sedangkan waktu penelitian
ini dilaksanakan pada Bulan November 2010 M.

B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dan model evaluasi
CIPP, yaitu penelitian dengan cara menganalisis data yang diarahkan untuk
menjawab rumusan masalah, tidak untuk menguji hipotesis. Dengan demikian
data utama dari penelitian (Context/konteksInput/masukanProcess/proses
Product/produk) ini dapat diketahui dengan jelas dari analisis deskriptif.
Dengan demikian model evaluasi CIPP akan mampu menjawab masalah
penelitian yang diangkat dalam skripsi ini.

C. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan tujuan tertentu.
1

Dan sampel yang digunakan adalah siswa Kelas IX akselerasi yang berjumlah
19 orang. Kelas IX dipilih karena kelas IX memiliki lebih banyak informasi
seputar kelas akselerasi, karena mereka telah mengikuti program akselerasi

1
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D),
(Jakarta: CV. Alfabeta, 2008), Cet.IV, hlm.300.
52


lebih dari 1 tahun pelajaran, dibandingkan dengan kelas VIII yang belum 1
tahun mengikuti program kelas akselerasi.

D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, penulis
menggunakan beberapa cara antara lain:
1. Wawancara
Wawancara dilakukan secara langsung dengan koordinator program
kelas akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Wawancara bertujuan
untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai
penyelenggaraan program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan. Salah satunya adalah masalah nilai lulusan program akselerasi,
yang sudah 6 tahun diselenggarakan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.
2. Angket
Angket yaitu pengumpulan data dengan memberikan beberapa
pertanyaan berupa angket kepada siswa, untuk mengetahui tanggapan siswa
terhadap program kelas akselerasi.
3. Dokumentasi
Dokumentasi yang dimaksud adalah berupa arsip-arsip yang digunakan
untuk memperoleh data tentang kualitas output (siswa) yang mengikuti
program akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.

E. Teknik Pengolahan Data
Setelah data diperoleh maka selanjutnya data tersebut akan diolah dengan
menggunakan teknik pengolahan data sebagai berikut :
a. Editing
Mengedit adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh
para responden. Jadi setelah angket diisi oleh responden dan dikembalikan
kepada penulis, kemudian penulis segera memeriksa satu persatu angket yang
dikembalikan dari nomor satu sampai nomor terakhir.

53


b. Coding (Pengkodean)
Tahap pengkodean meliputi kegiatan mengubah data berbentuk huruf
menjadi data berbentuk angka atau bilangan hasil isian angket yang
diserahkan kepada responden.
c. Tabulating
Tabulating (menyusun data dalam bentuk tabel) merupakan tahap lanjutan
dalam proses editing, lewat tabulasi ini data lapangan akan tampak ringkas
dan tersusun dalam suatu tabel yang baik, sehingga dapat dipahami dengan
mudah.
d. Skoring (Penilaian)
Pada tahap skoring ini peneliti memberi nilai pada data sesuai dengan skor
yang telah ditentukan berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh responden.

F. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul melalui angket di analisa secara kuantitatif melalui
distribusi frekuensi dengan persentase, dalam hal ini penulis menggunakan
rumus sebagai berikut:

x 100%
F = Frekeunsi yang sedang dicari presentasenya
N= Number of case (jumlah frekeunsi/banyaknya individu)
P = Angka persentase
2

Setelah angket diolah menjadi angka, hasil angket dimasukan dalam
tabulasi, kemudian langkah selanjutnya adalah menghitung tingkat efektifitas
program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.
Untuk mengevaluasi program akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan, penulis menggunakan skala likert, dengan butir pernyataan positif dan
pernyataan negatif. Kemudian penulis melakukan langkah-langkah berikut :

2
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,
2005), hlm. 43.
54


1. Memberikan skor untuk setiap alternatif jawaban pada angket. Skor
tertinggi (4) diberikan pada jawaban yang merupakaan keadaan ideal dari
pelaksanaan program kelas akselerasi.
a. Skor untuk pernyataan positif :
Untuk jawaban A diberi skor 4
Untuk jawaban B diberi skor 3
Untuk jawaban C diberi skor 2
Untuk jawaban D diberi skor 1
b. Skor untuk pernyataan negatif :
Untuk jawaban A diberi skor 1
Untuk jawaban B diberi skor 2
Untuk jawaban C diberi skor 3
Untuk jawaban D diberi skor 4
2. Membuat rentang skor.
Skor maksimal dalam angket evaluasi program kelas akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan adalah jumlah dari butir soal pada angket (40)
dikalikan skor maksimal 4. Dan jumlah skor minimal adalah jumlah butir
soal pada angket (40) dikalikan 1. Dengan begitu dapat diketahui bahwa
skor minimal adalah 40, dan skor maksimal adalah 160. Kemudian dapat
dihitung daerah jangkauan (range) untuk membuat rentang skala, yaitu
dengan rumus :


Keterangan :
X Maks : Skor maksimal
X Min : Skor minimal
3

Dengan rumus di atas, maka akan didapat daerah jangkauan (range)
sebagai berikut :
R = 160-40
R = 120

3
M. Subana.et.all, Statistik Pendidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 2000), hlm.38.
R = X Maks X Min
sdfsdfsdfsdfsdfmMiMi
n
55


Dengan perhitungan tersebut kemudian dibagi menjadi 4 kelompok,
yaitu Sangat Baik, Baik, Kurang Baik, Tidak Baik, maka rentang skor
menjadi 4 tingkatan:
Tingkat Sangat Baik dengan rentang skor : 131 160
Tingkat Baik dengan rentang skor : 101 130
Tingkat Kurang Baik dengan rentang skor : 71 100
Tingkat Tidak Baik dengan rentang skor : 40 70
Selain mengukur distribusi frekuensi program kelas akselerasi secara
umum, penulis juga menghitung berdasarkan setiap dimensi program
(komponen konteks, masukan, proses, dan produk) kelas akselerasi,
dengan memberikan persentase perolehan skor dari hasil angket, sebagai
berikut:

Klasifikasi Nilai Rentang Interval
Klasifikasi Persentase Mean
Tidak Baik
0 % - 25 %
Kurang Baik
26 % - 50 %
Baik
51 % - 75 %
Sangat Baik
76 % - 100 %

G. Tabel Perancanaan Evaluasi
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode evaluasi CIPP Yaitu
(Context Input Process Product), maka komponen program akselerasi
yang dievaluasi adalah komponen konteks, masukan/siswa-calon siswa
program akselerasi, proses meliputi kegiatan pembelajaran, kurikulum-dll,
dan produk-lulusan program kelas akselerasi.
Berikut adalah Tabel Perencaan Evaluasi Program Kelas Akselerasi di
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, tahun pembelajaran 2010-2011:




56


Tabel 1
Perencanaan Evaluasi Program Akselerasi di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan
T.A 2010/2011
Dimensi
Evaluasi
Masalah Yang Diteliti
Instrumen
Penelitian
Sumber
Data
Konteks
a. Latar belakang penyelenggaraan
program Akselerasi
b. Tujuan penyelenggaraan program
Akselerasi
c. Sasaran program kelas akselerasi
d. Perencanaan program kelas akselerasi di
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
e. Permasalahan seputar fenomena yang
ditemukan penulis; seperti: perbedaan
kalender pendidikan antara daerah DKI
Jakarta dengan Tangerang Selatan,
anggapan siswa kelas reguler mengenai
perbedaan pelayanan yang diberikan
sekolah kepada siswa kelas akselerasi.
f. Uang Sekolah/SPP kelas akselerasi.
Wawancara
&
Angket
Koordinator
Program
Akselerasi
&
Sampel
penelitian
Masukan
a. Seleksi dan Tes masuk program kelas
akselerasi
b. Minat siswa terhadap program kelas
akselerasi
c. Persetujuan orang tua siswa kelas
akselerasi
d. Kesiapan sekolah dalam
menyelenggarakan program akselerasi
(dana, sarana-prasarana, laboratorium,
perpustakaan, ruang ibadah, fasilitas
pendukung pelaksanaan program
akselerasi)
e. Kualitas guru yang mengajar di kelas
akselerasi
f. Kualitas tenaga kependidikan seperti,
pustakawan, petugas laboratorium, guru
BK
g. Kelengkapan sarana pendukung
pembelajaran siswa
Wawancara
&
Angket
Koordinator
Program
Akselerasi
&
Sampel
penelitian
Proses
a. Kualitas pelayanan yang diberikan
sekolah kepada siswa kelas akselerasi,
meliputi kegiatan pembelajaran di kelas,
laboratorium, pelajaran tambahan
(persiapan menghadapi ujian), media dan
metode pembelajaran di kelas akselerasi,
Wawancara,
Angket
&
Dokumenrasi
Koordinator
Program
Akselerasi
&
Sampel
penelitian
57


kurikulum pembelajaran khusus kelas
akselerasi, pengelolaan waktu
pembelajaran kelas akselerasi
b. Kegiatan kontrol dan pengawasan yang
dilakukan oleh kepala sekolah
c. Kegiatan kontrol dan pengawasan yang
dilakukan oleh orang tua, komite
sekolah, pihak DEPDIKNAS
d. Kegiatan Evaluasi Pembelajaran
Produk/
Lulusan
a. Kualitas lulusan program akselerasi
selama 7 tahun penyelenggaraannya.
b. Nilai rata-rata ujian akhir nasional siswa
kelas akselerasi selama 7 tahun
penyelenggaraan.
c. Mutu/pelayanan sekolah setelah
pelaksanaan program kelas akselerasi
Wawancara,
Angket
&
Dokumenrasi
Koordinator
Program
Akselerasi
&
Sampel
penelitian

H. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk memperoleh data mengenai
evaluasi program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan dibuat
dalam bentuk non test dengan menggunakan angket. Jenis angket yang
digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, dengan jawaban sudah
disediakan oleh peneliti sehingga responden tinggal memilih. Kisi-kisi angket,
disusun berdasarkan teori pada bab II, namun sebelum membahas mengenai
kisi-kisi angket penelitian, penulis akan menjelaskan definisi konseptual dan
definisi operasinal dari variabel penelitian ini, yaitu :
1. Evaluasi program akselerasi.
a. Definisi konseptual
Evaluasi program akselerasi memiliki arti bagaimana pencapaian tujuan
dari penyelenggaraan program (program akselerasi/percepatan belajar)
sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan yang ditinjau
dari segi proses penyelenggaraan, yaitu penyediaan pelayanan pendidikan
bagi siswa cerdas istimewa, atau siswa yang memiliki kecerdasan di atas
rata-rata.


58


b. Definisi operasional
Evaluasi program akselerasi secara operasional didefinisikan sebagai
skor yang diperoleh dari responden yang telah menjawab angket/kuisioner
tentang evaluasi program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan, mengenai komponen yang dievaluasi yaitu komponen konteks,
masukan/siswa-calon siswa program akselerasi, proses meliputi kegiatan
pembelajaran, kurikulum-dll, dan produk-lulusan program akselerasi yang
telah diselenggarakan oleh SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.
Tabel 2
Kisi-kisi Angket
Respon Siswa Tentang Program Akselerasi
di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Dimensi Indikator
No. Item &
Keterangan Soal Jumlah
Positif (+) Negatif (-)
1. Context/
Konteks
A. Tujuan perencanaan program kelas
akselerasi
B. Sasaran perencanaan program kelas
akselerasi
C. Perbedaan Jadwal Kalender Pendidikan
di Tangerang Selatan dengan DKI
Jakarta
D. Perbedaan SPP antara Kelas Akselerasi
dengan Kelas Reguler
1






21


2

22
1

1

1


1
2. Input /
Masukan
A. Kegiatan Penerimaan Siswa Baru
Program Kelas Akselerasi
B. Kesiapan Pelaksanaan program kelas
akselerasi
1) Sarana prasarana
2) Tenaga Kependidikan
3) Manajemen
4) Kurikulum
5) Lingkungan yang kondusif
6) Dana
7) Waktu
19, 20,



3, 4
10, 11
38
13

15
16
17, 18,



5, 6, 7
8, 9
12, 39

14
4



5
4
3
1
1
1
1
3. Process /
Proses
A. Kegiatan pengawasan internal program
kelas akselerasi
B. Kegiatan pengawasan eksternal program
kelas akselerasi
C. Kegiatan Pembelajaran Siswa Program
Kelas Akselerasi
D. Kegiatan Evaluasi Belajar Siswa Kelas
31

32

23, 24, 25

27, 28, 29,




26
1

1

4

4
59


Akselerasi 30
4. Product /
Lulusan
A. Penilaian proses
B. Penilaian hasil
36
37
33, 34, 35
40
4
2
Jumlah 23 17 40

60







BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Sejarah Sekolah
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan beralamat di jalan Ir. H. Juanda No.1
(Samping UIN) Ciputat, Tangerang Selatan.
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan berdiri sejak tahun 1976 dengan
nama Kelas Jauh SMPN 2 Tangerang dan dikukuhkan menjadi SMPN 2
Filial tahun 1979. Bulan Februari 1983 menjadi sekolah mandiri dengan
nama SMP negeri 1 Ciputat.
Perubahan nomenkelatur pada tahin 1999 untuk kecamatan Ciputat
menjadikan SMPN 1 Ciputat berubah nama menjadi SMP negeri 2 Ciputat
hingga SMPN 3 Tangerang Selatan saat ini.
Sejak berdirinya SMP Negeri 3 Tangerang Selatan telah dipimpin oleh
7 orang kepala sekolah :
1. R. Soeharto : 1976
2. Drs. H. Wanhar : 1977 - 1989
3. Drs. H. Munadjat Indria : 1989 - 1996
4. Dra. Hj. Ade Halimatusa'diah : 1996 - 2000
5. Drs. H. Kuswanda MPd : 2000 - 2006
6. Drs. H. Nurhadi MM : 2006 - 2009
7. Maryono, SE : 2009 - sekarang


61
Adapun visi dan misi yang dijalankan oleh SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan, Visi: (1) Terunggul dalam prestasi, (2) Teladan dalam bersikap
dan bertindak, (3) Konsisten dalam menjalankan ajaran agama. Dan Misi :
(1) Mewujudkan peningkatan kualitas mutu lulusan, (2) Mewujudkan
peningkatan jumlah lulusan yang masuk SMA dan SMKN, (3) Membina
sikap percaya diri, semangat gotong royong dan cinta tanah air, (4)
Meningkatkan prestasi kerja yang diimbangi dengan penghargaan yang
layak serta dilandasi dengan semangat ketauladanan dan keikhlasan, (5)
Meningkatkan status sekolah menjadi sekolah unggulan. (lampiran 6)
2. Latar Belakang Penyelenggaraan Kelas Akselerasi
Dengan misi meningkatkan kualitas mutu lulusan dan meningkatkan
status sekolah menjadi sekolah unggulan, pada tahun 2004 SMP Negeri 3
Tangerang Selatan memulai program kelas akselerasi. Pada saat itu
sekolah yang dipimpin oleh Drs. H. Kuswanda, M.Pd memulai program
kelas akselerasi dan terus berjalan hingga saat ini di bawah pimpinan
Maryono, S.E.M.M.Pd dan telah memiliki 5 angkatan lulusan program
kelas akselerasi (Lampiran 10, Data Lulus Program CI-BI Akselerasi SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan).
Hasil wawancara dengan koordinator program kelas akselerasi
menambahkan bahwa ada beberapa alasan yang menjadi latar belakang
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan menyelenggarakan kelas Akselerasi,
diantaranya melihat potensi anak didik yang menonjol dalam
pembelajaran. Sering kali anak didik tersebut (anak didik yang menonjol)
dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka harus menunggu untuk
masuk ke materi baru, atau melewati materi yang telah mereka pahami, di
karenakan teman sekelas yang lain belum paham mengenai materi yang di
sampaikan. Dari keadaan inilah sekolah mulai berfikir untuk memberikan
wadah untuk memberikan pelayanan khusus pada anak didik yang
memiliki kecerdasaan istimewa tersebut. Selain itu pihak SMP Negeri 3
Tangerang Selatan juga merasa sudah mampu untuk menjalankan program
kelas akselerasi. (hasil wawancara)

62
3. Proses Penerimaan Siswa Baru Program CI-BI Akselerasi
a. Tujuan
1) Memberikan informasi dan promosi tentang Program Ci-Bi
Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan kepada masyarakat
luas, khususnya kepada lulusan SD/MI di wilayah tangerang selatan.
2) Menjaring bibit-bibit unggul yang potensial, khususnya dari lulusan
SD dan MI di wilayah Tangerang Selatan khususnya.
3) Memberikan kesempatan kepada lulusan SD dan MI negeri maupun
swasta, khususnya yang ada di wilayah Tangerang Selatan yang
selama ini kurang mendapatkan kesempatan menikmati pendidikan
yang bermutu.
4) Melakukan proses rekruitmen untuk menjaring calon peserta didik
yang memiliki ptensi kecerdasan yang tinggi dan berkualitas di
bidang akamedik, keimanan, dan ketakwaan.
(lampiran 7. Panduan sistem penerimaan peserta didik baru SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan)
b. Target
Peserta ditargetkan dalam penerimaan peserta didik baru ini adalah para
sisswa lulusan SD/MI, lebih diutamakan lulusan SD/MI yang ada di
wilayah Tangerang Selatan sebanyak 200 siswa. Dari jumlah tersebut
akan diseleksi dan diluluskan 40 peserta didik khusus untuk Program
Inklusif CI-BI Akselerasi (percepatan belajar).










63
c. Tahap-tahap penerimaan siswa baru
Tabel 3
Proses Penerimaan Siswa Baru Program Kelas Akselerasi SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan
Tahun Ajaran 2010 / 2011
Tahap-tahap Kegiatan
Penerimanaan Siswa
Kelas Akselerasi
Deskripsi Kegiatan
Tahap Persiapan 1. Penyusunan panduan penerimaan siswa baru
2. Penyiapan berkas formulir pendaftaran
3. Penyiapan software data base pendaftaran siswa
baru
4. Pembuatan brosur dan spanduk (banner)
5. Rapat koordinasi antara pengelola program dengan
panitia pelaksana
6. Rapat koordinasi antara pengelola program dengan
dinas pendidikan
Tahap Sosialisasi dan
Publikasi
1. Percetakan buku panduan penerimaan peserta didik
baru
2. Percetakan brosur penerimaan peserta didik baru
3. Pembuatan baliho dan banner penerimaan peserta
didik baru
4. Pemasangan iklan penerimaan peserta didik baru di
media cetak dan internet
5. Sosialisasi pemerimaan peserta didik baru kepada
kepala SD/MI yang ada di wilayah Tangerang
Selatan
6. Sosialisasi penerimaan peserta didik baru ke
beberapa satuan pendidikan yang petensial menjadi
calon peserta didik baru Program CI-BI Akselerasi
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Proses Pendaftaran 1. Persyataran Pendaftaran Calon Siswa Baru
A. Persyaratan Umum:
1) Siswa kelas VI SD/MI tahun pelajaran
2010/2011
2) Memiliki NISN (Nomor Induk Siswa Nasioanal)
3) Maksimal berusia 14 tahun pada tanggal 11 Juli
2011
4) Menyerahkan foto copy akta/kenal lahir
5) Surat keterangan peserta UASBN tahun
2010/2011
6) Mengisi formulir pendaftaran (F-A1 dan F-A2)
yang telah disediakan panitia PSB SMP Negeri 3
Tangerang Selatan
7) Bila dinyatakan diterima (lulus seleksi) sebagai

64
siswa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan,
melampirkan foto copy nilai UASBN tahun
2010/2011
8) Melampirkan foto copy sertifikat prestasi
akademik (jika memiliki).
B. Persyatan Khusus:
1) Aspek Akademik:
Nilai rata-rata ujian akhir SD/MI 8,00
Rata-rata nilai Rapor kelas VI 8,00
Tes potensial akademik (General Tes) 8,00
2) Aspek Psikologi:
Intellegent Quotient (IQ) 140 (Jenius)
Kreativitas baik, di atas skor 120
Komitmen pada tugas (TC) di atas 125
Spiritual Quotient (SQ) baik/taat
3) Aspek Kesahatan
4) Minat siswa dan persetujuan orang tua.

2. Cara pendafataran
a. Mengisi formulir pendaftaran penerimaan peserta
didik baru program CI-BI Akselerasi SMP Negeri
3 Tangerang Selatan Tahun Ajaran 2010 / 2011
yang dapat diperoleh di panitia penerimaan
peserta didik baru
b. Formulir pendaftaran yang sudah diisi dan
dilengkapi persyaratan diserahkan langsung
kepada panitia di SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan
Seleksi Berkas Untuk menjamin bahwa hanya calon peserta didik
baru yang memenuhi persyaratan saja yang berhak
mengikuti tes seleksi baik tes potensi akademik
maupun tes skolatik. Seleksi berkas dilakukan dengan
meneliti data dan bukti fisik data pendaftar apakah
sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.
Selanjutnya, pendaftar yang memenuhi syarat dan
berhak mengikuti tes seleksi akan ditetapkan dalam
bentuk surat pemberitahuan dari kepala SMP Negeri 3
Tangerang Selatan. Pendaftar yang lolos seleksi
berkas diumumkan di papan pengumuman SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan, surat pemberitahuan, dan
di upload di website (www.smpn3tangsel.com)
Pemanggilan Test Pendaftar yang lolos seleksi berkas akan mendapatkan
surat panggilan mengikuti tes seleksi dari Panitia
Penerimaan Peserta Didik Baru Pogram CI-BI
Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Surat
panggilan tes tersebut bukti untuk memperoleh kartu
peserta tes potensi akademik (TPA).

65
Pelaksanaan Seleksi 1. Materi Seleksi
Materi seleksi calon peserta didik baru Program CI-
BI Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan tes
potensi akademik (TPA) untuk mata pelajaran:
Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS, dan
tes skolastik (psikotest). Materi Tes Bakat:
Skolastik disusun oleh panitia penilai pendidikan
(Puspendik) Balitbang Depdiknas dan Lembaga
Psikologi UIN Jakarta, sedangkan tes potensi
akademik disusun oleh tim khusus SMP Negeri 3
Tangerang Selatan.
2. Tempat Seleksi
Seleksi peserta didik baru program CI-BI
Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
dilaksanakan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan,
Jl. Ir. H. Juanda No.1 (Samping UIN) Ciputat
15412 Telp./Fax (021) 740 1312
Pengolahan Hasil Tes 1. Pengolahan Hasil Tes
Pengolahan hasil tes potensi akademik (TPA)
dilakukan oleh panitia penerimaan peserta didik
baru, dan pengolahan tes bakat skolastik (TBA)
dilakukan oleh Lembaga Psikologi Fakultas
Psikologi UIN Jakarta.
2. Standar Kelulusan
Peserta tes dinyatakan lulus apabila:
a. Aspek Akademik:
Nilai rata-rata ujian akhir SD/MI 8,00
Rata-rata nilai Rapor kelas VI 8,00
Tes potensial akademik (General Tes) 8,00
b. Aspek Psikologi:
Intellegent Quotient (IQ) 140 (Jenius)
Kreativitas baik, di atas skor 120
Komitmen pada tugas (TC) di atas 125
Spiritual Quotient (SQ) baik/taat
c. Lulus dari satuan pendidikan SD/MI
3. Rapat Kelulusan
Rapat kelulusan peserta didik baru Program CI-BI
Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
dilaksanakan dan dihadiri oleh:
a. Unsur Kepala Sekolah dan para Pembantu Kepala
Sekolah (PKS)
b. Unsur Pengelola Program CI-BI Akselerasi
c. Unsur-unsur Panitia Penerimaan peserta didik
baru
d. Unsur komite sekolah


66
Pengumuman
Kelulusan dan Daftar
Ulang
Berdasarkan rapat kelulusan calon peserta didik baru
Program CI-BI Akselerasi, akan ditetapkan calon
peserta didik baru yang dinyatakan lulu. Penetapan
tersebut dituangkan dalam surat keputusan Kepala
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Pengumuman
kelulusan dapat dilihat di papan pengumuman di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan, surat pemberitahuan,
atau melalui website: www.smpn3tangsel.com
Bagi peserta yang dinyatakan lulus seleksi harus
segera melaksanakan proses daftar ulang dengan
melengkapi berkas daftar ulang yang telah disiapkan
panitia. Penyerahan berkas daftar ulang dapat
dilaksanakan secara langsung ke panitia penerimaan
peserta didik baru program CI-Bi akselerasi SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan. Salah satu berkas yang
wajib dilengkapi dalam proses daftar ulang adalah
rekaman medis hasil tes kesehatan calon siswa baru
sebagai bahan tes kesehatan. Jika sampai batas waktu
yang ditentukan calon siswa yang lulus tidak
melakukan daftar ulang, dianggap mengundurkan diri.
Posisi calon siswa yang menundurkan diri tersebut
selanjutnya digantikan calon siswa yang berada pada
posisi cadangan berdasarkan nomor urut.
(Lampiran 7. Panduan sistem penerimaan peserta didik baru SMP Negeri 3
Tangerang Selatan)

B. Deskripsi Data
Untuk mengetahui secara rinci hasil dari penelitian evaluasi program kelas
akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, maka akan dijelaskan dalam
bentuk tabel-tabel sebagai berikut :

Tabel 4
Sosialisasi Tujuan Program Kelas Akselerasi
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Jelas 4 21,1
Jelas 14 73,6
Kurang Jelas 1 5,3
Tidak Jelas - -
Total 19 100




Tabel di atas menunjukan bahwa, sekolah menjelaskan tujuan perencanaan
program akselerasi kepada peserta program kelas akselerasi. Hal ini dapat
dilihat dari jawaban siswa, yakni : (73,6%) siswa menjawab jelas, dan
(21,1%) siswa menjawab sangat jelas, (5,3%) siswa menjawab kurang jelas

67
dan tidak ada siswa yang menjawab tidak jelas.

Tabel 5
Sosialisasi Sasaran Program Akselerasi
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju 2 10,5
Kurang Setuju 13 68,4
Tidak Setuju 4 21,1
Total 19 100%
Tabel di atas menunjukan bahwa, sekolah menjelaskan sasaran perencanaan
program akselerasi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (68,4%)
siswa menjawab kurang setuju, (21,1%) siswa menjawab tidak setuju,
meskipun sekolah telah mensosialisasikan sasaran program akselerasi kepada
siswa, namun ada beberapa siswa yang kurang mengetahui tentang informasi
ini karena ada (10,5%) siswa yang menjawab setuju.

Tabel 6
Kenyamanan Ruang Kelas
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Nyaman 8 42,1
Nyaman 11 57,9
Kurang Nyaman - -
Tidak Nyaman - -
Total 19 100%

Tabel di atas menunjukan bahwa, sekolah memiliki ruang kelas yang
memadai dan memberikan kenyamanan kepada siswa untuk menerima pelajaran
yang disampaikan guru. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (42,1%)
siswa menjawab sangat nyaman, dan (57,9%) siswa menjawab nyaman, dan
tidak ada siswa yang menjawab kurang nyaman atau tidak nyaman.

Tabel 7
Kelayakan Laboratorium
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 1 5,3
Setuju 14 73,6
Kurang Setuju 4 21,1
Tidak Setuju - -
Total 19 100%
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa, sekolah memiliki laboratorium yang
memadai untuk menunjang proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari

68
jawaban siswa, yakni:(73,6%) siswa menjawab setuju,(5,3%) siswa menjawab
sangat setuju. Meskipun demikian sebagian siswa menganggap laboratorium
di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan kurang layak digunakan, hal ini dapat
dilihat dari (21,1%) siswa yang menjawab kurang setuju.

Tabel 8
Ketidaklayakan Perpustakaan
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju 2 10,5
Kurang Setuju 16 84,2
Tidak Setuju 1 5,3
Total 19 100 %

Tabel di atas menunjukan sebagian besar siswa menunjukan bahwa sekolah
memiliki perpustakaan yang lengkap dan nyaman. Hal ini dapat dilihat dari
jawaban siswa, yakni : (84,2%) siswa menjawab kurang setuju, (5,3%) siswa
yang menjawab tidak setuju. Namun meskipun tidak ada siswa yang
menjawab sangat setuju, ada (10,5%) siswa menjawab setuju, yang berarti
mereka menyatakan bahwa perpustakaan yang dimiliki sekolah kurang lengkap
dan tidak nyaman untuk digunakan.


Tabel 9
Ketidaklayakan Ruang BK
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju - -
Kurang Setuju 6 31,6
Tidak Setuju 13 68,4
Total 19 100 %

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa sekolah memiliki ruang BK
(bimbingan konseling) untuk siswa berkonsultasi. Hal ini dapat dilihat dari
jawaban siswa, yakni : (68,4%) siswa menjawab tidak setuju, dan (31,6 %)
siswa menjawab kurang setuju.







69
Tabel 10
Ketidaklayakan Tempat Ibadah
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju - -
Setuju - -
Kurang Setuju 13 68,4
Tidak Setuju 6 31,6
Total 19 100 %

Tabel di atas menunjukan bahwa sekolah memiliki tempat ibadah yang baik.
Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (68,4%) siswa menjawab
kurang setuju, dan (31,6%) siswa menjawab tidak setuju.
Tabel 11
Professionalisme Guru Kelas Akselerasi
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju - -
Kurang Setuju 9 47,3
Tidak Setuju 10 52,7
Total 19 100 %

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa guru-guru yang mengajar di Kelas
Akselerasi adalah guru-guru pilihan. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa,
yakni: (52,7%) siswa menjawab tidak setuju, dan (47,3%) siswa menjawab
kurang setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab setuju atau sangat
setuju.
Hasil wawancara dengan koordinator kelas Akselerasi di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan juga menegaskan bahwa, guru-guru yang mengajar di kelas
Akselerasi adalah guru-guru regular yang dipilih berdasarkan pertimbangan
tertentu, pertimbangan tersebut antara lain yaitu S1 di bidang materi yang
diajarkan, mampu mengelola proses pembelajaran peserta didik yang meliputi:
perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil belajar, dan juga memahami
psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan, tidak semua guru bidang
studi dapat mengajar di kelas Akselerasi. Hal ini merupakan salah satu bentuk
pelayanan pendidikan dalam program akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan yaitu dengan menyediakan guru yang memiliki kemampuan lebih dan
memenuhi persyaratan kriteria guru program akselerasi, sehingga mampu

70
mengimbangi kemampuan belajar siswa dengan kemapuan mengajarnya,
dengan begitu diharapkan hasil belajar siswa mencapai hasil yang memuaskan.
(Hasil wawancara, jawaban No.12).
Tabel 12
Professionalisme Petugas Laboratorium
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju - -
Setuju 2 10,5
Kurang Setuju 14 73,6
Tidak Setuju 3 15,9
Total 19 100 %

Tabel di atas menunjukan bahwa petugas laboratorium di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan mampu memberikan pelayanan pendidikan yang baik kepada
siswa. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (73,6%) siswa menjawab
kurang setuju, (15,9%) siswa menjawab tidak setuju. Meskipun demikian,
ada beberapa siswa yang menganggap bahwa petugas laboratorium di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan yang kurang mampu memberikan pelayanan
pendidikan yang baik kepada siswa, hal ini bisa dilihat dari (10,5%) siswa yang
menjawab setuju.
Tabel 13
Professionalisme Pustakawan
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 1 5,3
Setuju 17 89,4
Kurang Setuju 1 5,3
Tidak Setuju - -
Total 19 100 %

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tenaga pustakawan yang dimiliki SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan, bukanlah guru mata pelajaran. Hal ini dapat dilihat
dari jawaban siswa, yakni: (89,4%) siswa menjawab setuju, (5,3%) siswa
menjawab sangat setuju, sedangkan hanya (5,3%) siswa yang menjawab
kurang setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab tidak setuju.






71
Tabel 14
Ketidakprofesionalan Guru BK
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju 2 10,5
Kurang Setuju 16 84,2
Tidak Setuju 1 5,3
Total 19 100 %

Tabel di atas menunjukan bahwa petugas BK yang dimiliki oleh SMP Negeri
3 Tangerang Selatan, bukanlah guru mata pelajaran atau wali kelas. Hal ini
dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (10,5%) siswa menjawab setuju, dan
(5,3%) siswa menjawab tidak setuju, namun ada sebagian siswa yang
menganggap bahwa guru BK di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan adalah guru
kelas, hal ini bisa dilihat dari (84,2%) siswa yang menjawab kurang setuju.
Berarti sebagian guru telah mengembangkan profesionalisme dalam bekerja.
Tabel 15
Ketidakmampuan Sekolah Mengelola Program Akselerasi
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju - -
Kurang Setuju 15 78,9
Tidak Setuju 4 21,1
Total 19 100 %

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan,
mampu mengelola program kelas akselerasi dengan baik. Hal ini dapat dilihat
dari jawaban siswa, yakni: (78,9%) siswa menjawab kurang setuju, dan
(21,1%) siswa menjawab tidak setuju, sedangkan tidak ada siswa yang
menjawab sangat setuju atau setuju
Tabel 16
Program Pembelajaran Tersendiri/Khusus Kelas Akselerasi
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 6 31,6
Setuju 13 68,4
Kurang Setuju - -
Tidak Setuju - -
Total 19 100 %
Tabel di atas menunjukan bahwa kelas akselerasi di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan, memiliki program pembelajaran tersendiri/khusus. Hal ini

72
dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni : (68,4 %) siswa menjawab setuju, dan
(31,6 %) siswa menjawab sangat setuju, sedangkan tidak ada siswa yang
menjawab kurang setuju atau tidak setuju.
Tabel 17
Ketidaknyamanan Lingkungan Sekolah
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju 1 5,3
Kurang Setuju 14 73,6
Tidak Setuju 4 21,1
Total 19 100 %

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
memiliki lingkungan yang nyaman untuk proses pembelajaran siswa. Hal ini
dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (73,6%) siswa menjawab kurang
setuju, dan (21,1%) siswa menjawab tidak setuju, sementara hanya (5,3%)
siswa menjawab setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab sangat setuju.


Tabel 18
Kesiapan Dana Sekolah Untuk Pelaksanaan Kelas Akselerasi
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 1 5,3
Setuju 17 89,4
Kurang Setuju 1 5,3
Tidak Setuju - -
Total 19 100 %
Tabel di atas menunjukan bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan memiliki
dana yang cukup untuk menyelenggarakan program kelas akselerasi. Hal ini
dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (89,4%) siswa menjawab setuju, dan
(5,3%) siswa menjawab sangat setuju, sementara hanya (5,3%) siswa
menjawab kurang setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab tidak setuju.

Tabel 19
Pengelolaan Waktu Program Kelas Akselerasi

Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 2 10,5
Setuju 16 84,2
Kurang Setuju 1 5,3
Tidak Setuju - -
Total 19 100 %





73
Dari tabel tersebut, dapat dilihat bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
mampu mengatur/mengelola waktu penyelenggaraan program kelas akselerasi
dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (84,2%) siswa
menjawab setuju, dan (10,5%) siswa menjawab sangat setuju, sementara
hanya (5,3%) siswa yang menjawab kurang setuju, dan tidak ada siswa yang
menjawab tidak setuju.


Tabel 20
Ketidakmampuan Sekolah dalam Penyelenggaran Penerimaan Siswa Baru
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju - -
Kurang Setuju 5 26,4
Tidak Setuju 14 73,6
Total 19 100 %

Tabel di atas menunjukan bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan mampu
menyelenggarakan kegiatan pendaftaran program kelas akselerasi dengan baik.
Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (73,6%) siswa menjawab tidak
setuju, dan (26,4%) siswa menjawab kurang setuju, sedangkan tidak ada
siswa yang menjawab setuju atau sangat setuju.
Tabel 21
Uji Berkas Penerimaan Siswa Baru

Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju - -
Kurang Setuju 5 26,4
Tidak Setuju 14 73,6
Total 19 100 %

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
melakukan seleksi berkas calon siswa program kelas akselerasi pada saat
pendaftaran. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (73,6%) siswa
menjawab tidak setuju, dan (26,4%) siswa menjawab kurang setuju,
sedangkan tidak ada siswa yang menjawab sangat setuju atau setuju.



[

74
Tabel 22
Pelaksanaan tes masuk (tes akademik, tes psikologi dan tes kesehatan)
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 12 63,1
Setuju 6 31,6
Kurang Setuju 1 5,3
Tidak Setuju - -
Total 19 100

Dari tabel di atas dapat dilihat 63,1% siswa menjawab sangat setuju dan
31,6% siswa menjawab setuju. Sementara yang menjawab kurang setuju
5,3%. Untuk mengambil kesimpulan yang tepat, penulis melakukan wawancara
dengan koordinator program kelas akselerasi mengenai masalah ini. Dan dari
hasil wawancara tersebut diketahui bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
melakukan tes kesahatan, karena tes kesehatan merupakan persyaratan khusus
bagi siswa yang ingin masuk program kelas akselerasi.
Tabel 23
Persetujuan/kesediaan orang tua siswa
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju 11 57,9
Setuju 8 42,1
Kurang setuju - -
Tidak setuju - -
Total 19 100 %

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan,
meminta persetujuan dari orang tua calon siswa program kelas akselerasi pada
saat pendaftaran. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (57,9%) siswa
menjawab sangat setuju, (42,1%) siswa menjawab setuju, dan tidak ada
siswa yang menjawab kurang setuju atau tidak setuju.

Tabel 24
Perbedaan SPP antara kelas akselerasi dengan kelas reguler
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju 2 10,5
Setuju 17 89,5
Kurang setuju - -
Tidak setuju - -
Total 19 100 %



75
Tabel tersebut menunjukan bahwa perbedaan SPP kelas akselerasi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kelas reguler, tidak menjadi masalah siswa kelas
akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Hal ini dapat dilihat dari
jawaban siswa, yakni: (89,5%) siswa menjawab setuju, (10,5%) siswa
menjawab sangat setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab kurang setuju
atau tidak setuju.
Hal ini menjawab salah satu fenomena yang ditemukan penulis, sebelumnya
penulis melihat bahwa perbedaan SPP antara kelas Akselerasi dengan kelas
Reguler akan menimbulkan permasalahan, namun hasil penelitian ini
menunjukan bahwa fenomena tersebut adalah tidak benar atau salah. Hasil
penelitian ini diperkuat oleh hasil wawancara penulis dengan koordinator
program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, yang menyatakan
bahwa perbedaan SPP antara kelas Akselerasi dengan kelas Reguler tidak
menjadi permasalahan (hasil wawancara, pertanyaan No.10-11).

Tabel 25
Perbedaan jadwal pendaftaran program antar wilayah
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju - -
Setuju 9 47,3
Kurang setuju 10 52,7
Tidak setuju - -
Total 19 100 %

Dari di atas menunjukkan bahwa 47,3% siswa menjawab setuju, sementara
52,7% siswa menjawab kurang setuju. Untuk memberikan pernyataan yang
tepat, penulis melakukan wawancara dengan koordinator program kelas
akselerasi mengenai masalah ini. Dan dari hasil wawancara tersebut diketahui
bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan memang menghadapi kendala dalam
perbedaan kalendar pendidikan, tapi hanya untuk kelas reguler, tidak untuk
kelas akselerasi. Seluruh siswa/i yang mendaftar di kelas akselerasi diyakini
menjadikan SMP Negeri 3 Tangerang Selatan sebagai tempat melanjutkan
pendidikan. Keyakinan ini muncul karena kegiatan pendaftaran dan proses
seleksi calon siswa dilakukan sebelum pengumuman kelulusan Sekolah Dasar
dilakukan. Jadi dapat dinyatakan bahwa Kelas Akselerasi SMP Negeri 3

76
Tangerang Selatan menjadi pilihan utama calon siswa dalam melanjutkan
jenjang pendidikan.
Hasil angket dan wawancara tersebut juga menjawab salah satu fenomena
yang ditemukan penulis. Sebelumnya penulis melihat bahwa perbedaan kalender
akademik (jadwal penerimaan siswa baru) antara wilayah Tangerang dan DKI
Jakarta, akan menjadi masalah, khususnya dalam hal input siswa yang akan
masuk di kelas Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.

Tabel 26
Kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran
Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 1 5,3
Sering 17 89,4
Kadang-kadang 1 5,3
Tidak Pernah - -
Total 19 100 %


Tabel di atas menunjukan bahwa guru-guru di kelas akselerasi SMP Negeri 3
Tangerang Selatan, selalu menggunakan rencana pembelajaran yang sesuai
dengan program kelas akselerasi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa,
yakni: (89,4%) siswa menjawab sering, dan (5,3%) siswa menjawab selalu,
sementara hanya (5,3%) siswa yang menjawab kadang, dan tidak ada siswa
yang menjawab tidak pernah.

Tabel 27
Kemampuan guru mengatur waktu setiap mata pelajaran
Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 2 10,5
Sering 14 73,7
Kadang-kadang 3 15,8
Tidak Pernah - -
Total 19 100 %
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa, guru-guru di kelas akselerasi SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan, mengatur yang tepat untuk setiap mata pelajaran di
kelas akselerasi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (73,7%) siswa
menjawab sering, dan (10,5%) siswa menjawab selalu. Meskipun demikian
sebagian siswa menganggap bahwa guru di kelas akselerasi kurang mampu
mengatur waktu untuk setiap mata pelajaran, hal ini bisa dilihat dari (15,8%)

77
siswa menjawab kadang-kadang.


Tabel 28
Kemampuan guru menggunakan media dan metode pembelajaran yang
sesuai
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 2 10,5
Setuju 16 84,2
Kurang Setuju 1 5,3
Tidak Setuju - -
Total 19 100 %

Tabel di atas menunjukan bahwa, guru-guru kelas akselerasi di SMP Negeri
3 Tangerang Selatan, selalu menggunakan media dan metode pembelajaran yang
sesuai. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (84,2%) siswa menjawab
setuju, dan (10,5%) siswa menjawab sangat setuju, sementara hanya (5,3%)
siswa menjawab kurang setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab tidak
setuju.



Tabel 29
Ketidakmampuan guru menciptakan kondisi pembelajaran yang
menyenangkan
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 1 5,3
Setuju 3 15,8
Kurang Setuju 13 68,4
Tidak Setuju 2 10,5
Total 19 100 %


Tabel di atas menunjukan bahwa sebagian besar siswa kelas akselerasi
menganggap guru-guru kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan,
mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini dapat
dilihat dari jawaban siswa, yakni: (68,4%) siswa menjawab kurang setuju, dan
(10,5%) siswa menjawab tidak setuju, namun ada (15,8 %) siswa menjawab
setuju, dan (5,3 %) siswa menjawab sangat setuju, yang artinya, mereka
menganggap bahwa guru-guru di kelas akselerasi kurang mampu menciptakan
kondisi pembelajaran yang menyenangkan.




78

Tabel 30
Penberian tugas, PR, dan kuis pada setiap pertemuan
Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 1 5,3
Sering 9 47,3
Kadang-kadang 8 42,1
Tidak Pernah 1 5,3
Total 19 100 %

Dari tabel diatas, 5,3% siswa menjawab selalu, 47,3% siswa menjawab
sering, 42,1% siswa menjawab kadang-kadang, dan 5,3% siswa menjawab
tidak pernah. Persentase jawaban siswa hampir sebanding, dan untuk
memberikan pernyataan yang tepat penulis melakukan wawancara dengan
koordinator program kelas akselerasi. Dan dari hasil wawancara tersebut
diketahui bahwa hanya sebagian guru di kelas akselerasi yang selalu
memberikan tugas, PR, dan kuis pada setiap pertemuan. Bagi sebagian guru
lainnya, tugas, PR, dan kuis merupakan cara untuk mengetahui kesiapan belajar
dan pemahaman siswa terhadap materi yang akan ataupun yang telah diajarkan.
Sebagian guru tersebut melakukannya dengan cara yang berbeda, meskipun
kadang-kadang mereka memberikan tugas atau PR kepada siswa.
Jadi dapat dinyatakan bahwa guru di kelas akselerasi tidak selalu
memberikan tugas, PR, dan Kuis pada setiap pertemuannya.

Tabel 31
Pelaksanaan Ulangan Harian
Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 2 10,5
Sering 11 57,9
Kadang-kadang 5 26,3
Tidak Pernah 1 5,3
Total 19 100 %
Dari di atas menunjukkan bahwa sebagian besar menyatakan bahwa guru-guru
di kelas akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan selalu memberikan ulangan
harian. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (57,9%) siswa menjawab
sering, dan (10,5%) siswa menjawab selalu, meskipun demikian (26,3%)
siswa yang menjawab kadang-kadang, dan (5,3%) siswa menjawab tidak
pernah nmenyatakan bahwa guru di kelas akselerasi tidak memberikan ulangan
harian.

79

Tabel 32
Pelaksanaan Ujian Tengah Semester

Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 1 5,3
Sering 5 26,4
Kadang-kadang 13 68,3
Tidak pernah - -
Total 19 100 %


Tabel di atas menunjukan sebagian besar siswa kelas akselerasi menyatakan
bahwa guru-guru kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, tidak
selalu mengadakan ujian tengah semester. Hal ini dapat dilihat dari jawaban
siswa, yakni: (68,3%) siswa menjawab kadang-kadang, meskipun demikian
ada (26,4%) siswa menjawab sering, dan (5,3%) siswa menjawab selalu,
yang artinya mereka menyatakan bahwa guru kelas akselerasi menyatakan
bahwa guru-guru dikelas akselerasi mengadakan ujian tengah semester.
Tabel 33
Pelaksanaan Ujian Akhir Semester

Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 1 5,3
Sering 9 47,3
Kadang-kadang 8 42,1
Tidak pernah 1 5,3
Total 19 100 %

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa guru-guru dikelas akselerasi, tidak
selalu memberikan ujian akhir semester. Hal ini dapat dilihat dari persentase
jawaban siswa yang hampir sebanding antara selalu (5,3%) dan sering
(47,3%) dengan kadang-kadang (42,1%), dan tidak pernah (5,3%).
Tabel 34
Pengawasan oleh Kepala Sekolah
Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 1 5,3
Sering 16 84,1
Kadang-kadang 1 5,3
Tidak pernah 1 5,3
Total 19 100 %





80
Tabel tersebut menunjukan bahwa kepala SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
selalu melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kelas akselerasi, minimal
sebulan sekali. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (84,1%) siswa
menjawab sering, dan (5,3%) siswa menjawab selalu, namun ada beberapa
siswa yang tidak mengetahui bahwa kepala sekolah melakukan pengawasan, hal
ini bisa dilihat dari (5,3%) siswa yang menjawab kadang-kadang, dan (5,3%)
siswa yang menjawab tidak pernah.

Tabel 35
Pengawasan oleh Komite Sekolah
Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 1 5,3
Sering 14 73,6
Kadang-kadang 4 21,1
Tidak pernah - -
Total 19 100 %
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar siswa mengetahui
bahwa komite sekolah/orang tua melakukan pengawasan, terhadap pelaksanaan
program kelas akselerasi sekurang-kurangnya 1 kali dalam setahun. Hal ini
dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (73,6%) siswa menjawab sering, dan
ada sebagian siswa yang tidak mengetahui bahwa komite sekolah/orang tua
melakukan pengawasan, terhadap pelaksanaan program kelas akselerasi
sekurang-kurangnya 1 kali dalam setahun, hal ini bisa dilihat dari (5,3%) siswa
menjawab selalu, sementara hanya (21,1%) siswa menjawab kadang-
kadang, dan tidak ada siswa yang menjawab tidak pernah.

Tabel 36
Kesempatan menyampaikan kritik/masukan
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju 1 5,3
Kurang Setuju 18 94,7
Tidak Setuju - -
Total 19 100 %
Tabel di atas menunjukan bahwa, SMP Negeri 3 Tangerang Selatan selalu
memberikan kesempatan kepada siswa kelas akselerasi untuk memberikan
masukkan berupa saran maupun kritik kepada sekolah mengenai
penyelenggaraan program kelas akselerasi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban

81
siswa, yakni: (94,7%) siswa menjawab kurang setuju, sementara hanya (5,3%)
siswa yang menjawab setuju. Dan tidak ada siswa yang menjawab sangat
setuju atau tidak setuju.
Tabel 37
Efek program kelas akselerasi terhadap kemampuan berkompetisi
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju - -
Setuju 2 10,5
Kurang setuju 17 89,5
Tidak setuju - -
Total 19 100 %

Dari tabel di atas, dapat dilihat sebagian besar siswa menyatakan bahwa
program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan membuat siswa
menjadi lebih kompetitif/mampu bersaing. Hal ini dapat dilihat dari jawaban
siswa yakni: (89,5%) siswa menjawab kurang setuju, sementara ada (10,5%)
siswa yang menjawab setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab sangat
setuju atau tidak setuju, yang artinya mereka menyatakan bahwa kelas
akselerasi membuat mereka kurang kompetitif.
Tabel 38
Peningkatan Prestasi Akademik Siswa
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju - -
Setuju 1 5,3
Kurang Setuju 16 84,2
Tidak Setuju 2 10,5
Total 19 100 %

Tabel di atas menunjukan bahwa, melalui program kelas akselerasi SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan mampu meningkatkan prestasi akademik siswa
kelas akselerasi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (84,2%) siswa
menjawab kurang setuju, dan (10,5%) siswa menjawab tidak setuju,
sementara hanya (5,3%) siswa yang menjawab setuju, dan tidak ada siswa
yang menjawab sangat setuju.





82
Tabel 39
Manfaat Program dalam Memudahkan Siswa Mengikuti
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju 5 26,3
Setuju 13 68,4
Kurang Setuju 1 5,3
Tidak setuju - -
Total 19 100 %
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa Program Akselerasi yang
diselenggarakan SMP Negeri 3 Tangerang Selatan memudahkan siswa program
kelas akselerasi untuk mengikut pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari jawaban
siswa, yakni: (68,4%) siswa menjawab setuju, dan (26,3%) siswa menjawab
sangat setuju, sementara hanya (5,3%) siswa yang menjawab kurang setuju,
dan tidak ada siswa yang menjawab tidak setuju.
Tabel 40
Manfaat program kelas akselerasi dalam membantu siswa memilih
program lanjutan


Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat Setuju 11 57,9
Setuju 8 42,1
Kurang Setuju - -
Tidak setuju - -
Total 19 100 %

Tabel di atas menunjukan bahwa Program Akselerasi yang diselenggarakan
oleh SMP Negeri 3 Tangerang Selatan mampu memberikan jaminan kepada
siswanya untuk dapat melanjutkan ke sekolah-sekolah unggulan. Hal ini dapat
dilihat dari jawaban siswa, yakni: (57,9%) siswa menjawab sangat setuju, dan
(42,1%) siswa menjawab setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab kurang
setuju atau tidak setuju.
Dari hasil dokumentasi yang dilakukan penulis, sebagian besar alumni kelas
akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan dari 5 angkatan yang berjumlah
83 lulusan, 78 diantaranya diterima di SMAN-SMKN Negeri, dan selebihnya
memilih sekolah swasta unggulan.(Lampiran 10)



83
Tabel 41
Kerjasama sekolah dengan orang tua siswa yang mengalami masalah dalam
pembelajaran
Alternatif Jawaban F Persentase %
Selalu 7 36,8
Sering 11 57,9
Kadang-kadang - -
Tidak Pernah 1 5,3
Total 19 100 %
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
memanggil dan berdiskusi dengan orang tua siswa program kelas akselerasi
yang mengalami masalah dalam pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari
jawaban siswa, yakni: (57,9%) siswa menjawab sering, dan (36,8%) siswa
menjawab selalu, sementara hanya (5,3%) siswa yang menjawab tidak
pernah, dan tidak ada siswa yang menjawab kadang-kadang.
Tabel 42
Manfaat Pemberian Jadwal Tambahan
[
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju 1 5,3
Setuju 1 5,3
Kurang setuju 4 21
Tidak setuju 13 68,4
Total 19 100 %
Tabel di atas menunjukan sebagian besar siswa menyatakan bahwa SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan, memberikan pelajaran tambahan kepada siswa
program kelas akselerasi sebagai persiapan dalam menghadapi ujian. Hal ini
dapat dilihat dari jawaban siswa, yakni: (68,4%) siswa menjawab tidak setuju,
dan (21%) siswa menjawab kurang setuju, namun ada (5,3%) siswa yang
menjawab setuju, dan (5,3%) siswa yang menjawab sangat setuju, yang
artinya mereka menyatakan bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan tidak
memberikan pelajaran tambahan kepada siswa dalam menghadapi ujian.






84
Tabel 43
Ketepatan Program Akselerasi Bagi Siswa CI-BI
Alternatif Jawaban F Persentase %
Sangat setuju - -
Setuju - -
Kurang setuju 9 47,4
Tidak setuju 10 52,6
Total 19 100 %
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa Program Kelas Akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan adalah program yang tepat dalam hal memberikan
pelayanan pendidikan khususnya bagi siswa yang memiliki kecerdasan dan
bakat istimewa seperti siswa kelas akselerasi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban
siswa, yakni: (52,6%) siswa menjawab tidak setuju, dan (47,4%) siswa
menjawab kurang setuju, dan tidak ada siswa yang menjawab sangat setuju
atau setuju.
Secara keseluruhan, Evaluasi program akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan, akan dijelaskan melalui tabel berikut:

Tabel 44
Distribusi Frekuensi Evaluasi Program Akselerasi di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan
Klasifikasi Rentang Interval Frekuensi Persentase %
Sangat Baik 3 15,79
Baik 16 84,21
Kurang Baik - -
Tidak Baik - -
Total 19 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa pada umumnya siswa program kelas
akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan menyatakan bahwa program
akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan berada dalam tingkat baik. Hal
ini bisa dilihat dari distribusi frekuensi sampel yaitu siswa yang menjawab
dengan persentase 84,21 % atau sejumlah 16 orang. Sementara 3 orang lain nya
menjawab sangat baik. Namun jika dilihat dari persentase perolehan skor
angket, tingkat evaluasi program akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
berada dalam tingkat sangat baik dengan persentase perolehan skor mencapai
76,74%.


85
Selain itu, evaluasi program kelas akselerasi juga dapat dilihat dari 4 aspek
evaluasinya yaitu: Context/konteks, Input/Masukan, Process/Proses,
Product/produk, yang juga berada dalam tingkat sangat Baik. Hal ini bisa dilihat
dari tabel berikut:
Tabel 45
Evaluasi Program Kelas Akselerasi
Dilihat Dari 4 Aspek Evaluasi
Dimensi Persentase % Keterangan
Context/Konteks 68,75 Baik
Input/Masukan 87,5 Sangat Baik
Process/Proses 72,5 Baik
Product/Produk 83,33 Sangat Baik
Rata-rata 78,02 Sangat Baik

Tabel di atas menunjukan bahwa dimensi input/masukan dan product/Produk
program kelas akselerasi di SMPN Negeri 3 Tangerang Selatan berada dalam
tingkat sangat baik, sementara dimensi context/konteks dan process/proses
berada dalam tingkat baik. Dan jika dijumlahkan secara keseluruhan, keempat
dimensi ini mencapai rata-rata persentase sebesar 78,02 %, yang berarti berada
dalam tingkat sangat baik. Hal ini menunjukan bahwa SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan telah mampu merencanakan program akselerasi dengan baik, sesuai
dengan konteks, dan memiliki input serta proses yang baik, serta mampu
menghasilkan produk yang baik pula. Dengan kata lain, program kelas
akselerasi yang dilakukan SMP Negeri 3 Tangerang Selatan dapat
meningkatkan mutu pendidikan khususnya pelayanan kebutuhan pendidikan
siswa cerdas istimewa di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.

C. Analisis dan Interpretasi Data
Dari hasil angket di atas, dapat diketahui bahwa persiapan penyelenggaraan
program kelas akselerasi yang dilakukan pihak SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan tergolong baik. Sebagian besar siswa kelas askselerasi berpendapat
bahwa ketersedian sarana kelas yang ada, nyaman untuk melakukan
pembelajaran, laboratorium yang memadai, ruang perpustakaan yang lengkap,
dan ruang BK sebagai tempat siswa berkonsultasi, serta tempat ibadah,
mempermudah untuk melakukan kegiatan pendidikan dan pelaksanaan

86
program kelas akselerasi (lihat tabel 6,7,8,9,10), namun ada 21,1 % siswa
yang menganggap laboratorium SMP Negeri 3 Tangerang Selatan kurang
layak digunakan, dan 10,5% siswa menyatakan perpustakaan di SMP Negeri
Tangerang Selatan kurang lengkap dan tidak nyaman digunakan, hal ini harus
diperbaiki oleh SMP Negeri 3 Tangerang Selatan agar peran laboratorium dan
perpustakaan sebagai sumber belajar tambahan (selain kelas) dapat optimal
memberikan kontribusi terhadap peningkatan kemampuan intelektual siswa,
pelayanan kebutuhan siswa. Sebagai satu-satunya sekolah menengah pertama
di kawasan Tangerang Selatan yang menyelenggarakan program kelas
akselerasi, sewajarnya hal ini menjadi perhatian penting pihak SMP Negeri 3
Tangerang Selatan. SMP Negeri 3 Tangerang Selatan selalu menganggarkan
dana pemeliharaan dan perbaikan sarana prasana sekolah, seperti mengganti
bangku dan meja yang rusak, perbaikan white board, pengecatan dinding
kelas, penambahan dan perbaikan toilet, penambahan jumlah kelas, pengadaan
taman sekolah, perbaikan kantin, dan kebersihan, serta keindahan tata letak
bangunan sekolah (lihat tabel 17 & hasil penelitian lapangan).
Untuk tenaga kependidikan, khususnya guru, hanya guru-guru pilihan yang
dapat mengajar di kelas akselerasi (lihat tabel 11). Guru-guru ini dipilih
berdasarkan pengalaman dan kemampuan mengajar mereka. Guru-guru ini
dipilih langsung oleh kepala sekolah, sebagai penanggung jawab pelaksanaan
program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Berikut adalah
daftar nama-nama, guru, dan pendidikan terakhir, serta pengalaman mengajar
guru-guru yang mengajar di kelas akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan.








87
Tabel 46
Profil guru yang mengajar di kelas akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan
Tahun ajaran 2010 / 2011
No Nama & Jabatan
Pendidikan
Terakhir
Mata Pelajaran
1. Maryono, SE
Guru Pembina,
Kepala Sekolah
Sarjana ekonomi BP / BK
2. Hj. Eni Subekti, M.Pd
Koordinator Program
Kelas Akselerasi
S2 Magister
Pendidikan
Bahasa Inggris
3. H. M. Nasir Rinun, BA
Guru Pembina
Sarjana Agama
Pendidikan
Agama Islam
4. Drs. Syaifullah
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia
5. Drs. Junaidi
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan Penjaskes
6. Endar Suhendar, S.Pd
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris
7. Endang Hamidin, S.Pd,
M.Pd
Guru Pembina
S2 Magister
Pendidikan
Teknologi
Informasi &
Komunikasi
8. Nurzaidah
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan Tata Boga
9. Hazali, S.Pd
Guru Pembina
Sarjana pendidikan Pendidikan Seni
10. Hj. Neni Supriati
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan
Pendidikan
kewarganegaraan
11. Verdra Yoliska, S.Pd
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan IPA Fisika
12. Indah Pudji Rahayu,
S.Pd
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan IPA Fisika
13. Drs. Anwarudin
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan
Pendidikan
Agama Islam
14. Takhriyah Agustina,
S.Pd
Guru Dewasa Tk.I
Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia
15. Suparman, S.Pd
Guru Dewasa Tk.I
Sarjana Pendidikan Penjaskes
16. Hj. N. Ery Sueri
Guru Dewasa Tk.I
Sarjana Pendidikan Tata Boga
17. Dra. Lilis Susilawati
Guru Pembina
Sarjana pendidikan IPA Biologi

88
18. Netty Lutfiah
Guru Dewasa Tk.I
Sarjana Pendidikan Matematika
19. Hj. Siti Budaya, S.Pd
Guru Dewasa Tk.I
Sarjana Pendidikan Matematika
20. Hermanto, S.Pd
Guru Pembina
Sarjana Pendidikan Seni Budaya
21. Drs. Sholeh Fathoni
Guru Dewasa Tk.I
Sarjana Pendidikan IPS
21. Evi Syarfiatri, S.Pd
Guru Dewasa Tk.I
Sarjana Pendidikan IPA Biologi
23. Dadang Yohana
Guru madya TK.I
Sarjana Pendidikan
Pendidikan
Kewarganegaraan
24. Dra. Rr. Rini
Pramadani, S.Pd
Guru Madya
Sarjana Pendidika IPS


Selain guru, keseriusan SMP Negeri 3 Tangerang Selatan dalam
penyelenggaraan pendidikan juga terlihat dalam pengelolaan tenaga
kependidikan yang mereka miliki. Sebagian besar siswa kelas akselerasi
(89,95%) di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan menyatakan bahwa
laboratorium mereka dikelola oleh orang yang ahli dibidangnya (lihat tabel
12), namun masih ada 10,5% siswa yang menganggap bahwa petugas
laboratorium yang ada kurang profesional dalam melaksanakan tugasnya, hal
ini harus menjadi perhatian khusus bagi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
agar petugas laboratorium yang ada mampu memberikan pelayanan
pendidikan yang baik ketika pendidikan berlangsung atau berhubungan
dengan laboratorium. Pustakawan yang mereka miliki juga berkonsentrasi
pada pelayan pendidikan di perpustakaan, pustakawan mereka bukan guru
pelajaran atau bekerja rangkap (lihat tabel 13), namun ada 10,5% siswa yang
menganggap Pustakawan SMP Negeri 3 Tangerang Selatan bekerja rangkap
sebagai guru mata pelajaran. Menurut sebagian besar siswa kelas akselerasi
(89,95% siswa), Petugas BK yang bertugas untuk membantu siswa dalam
menghadapi masalah dalam kegiatan pembelajaran bukan guru pelajaran atau
wali kelas, namun 10,5% siswa tidak sependapat (lihat tabel 14), hal ini perlu
menjadi perhatian bagi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, khususnya dalam
hal memilih guru BK agar siswa dapat dengan leluasa mengutarakan masalah

89
yang mereka hadapi kepada guru BK (Bimbingan dan Konseling) yang pada
akhirnya permasalahan-permasalahan siswa di dalam ataupun di luar
pembelajaran dapat teratasi sehingga siswa mampu menerima pembelajaran
dengan optimal. Dan untuk menjaga mutu sekolah maupun menjaga kepuasan
pelanggan (costumer satisfication) pihak SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
akan mengganti tenaga kependidikan (pustakawan, petugas laboratorium,
guru) yang dianggap tidak ahli atau tidak kompeten. Bahkan siswa kelas
akselerasi berhak untuk tidak suka pada guru dan juga berhak untuk meminta
pengganti guru yang tidak disukai tersebut (hasil wawancara).
Proses seleksi dan penerimaan siswa baru program kelas akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan juga dapat tergolong baik (lihat tabel 20).
Kegiatan seleksi calon siswa tidak hanya sekedar seleksi berkas (tabel 21)
tetapi meliputi juga tes akademik (tabel 22) maupun tes IQ (hasil wawancara).
Meskipun tidak melakukan tes kesehatan secara langsung di sekolah, tetapi
calon siswa program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan juga
diminta untuk menyertakan surat keterangan sehat (hasil wawancara). Selain
itu, SMP Negeri 3 Tangerang Selatan juga meminta persetujuan dari orang tua
calon siswa (tabel 23). Persetujuan ini merupakan salah satu upaya kerjasama
pihak SMP Negeri 3 Tangerang Selatan dalam menyelenggarakan program
kelas akselerasi. Orang tua siswa dan komite sekolah, akan memegang fungsi
kontrol terhadap kinerja sekolah dalam menjalankan pendidikan.
Salah satunya adalah program kelas akselerasi yang harus mendapatkan
pengawasan setidaknya 1 kali dalam setahun (tabel 35). Selain kontrol dari
eksternal/luar sekolah, SMP Negeri 3 Tangerang Selatan juga melakukan
pengawasan secara internal sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 semester,
peran ini dipegang oleh kepala sekolah (tabel 34). Namun 21,1% siswa
menyatakan tidak megetahui bahwa komite sekolah dan kepala Sekolah
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program akselerasi.
Hubungan kerjasama antara sekolah dengan orang tua siswa tidak hanya
sebatas pengawasan. SMP Negeri 3 Tangerang Selatan akan melaporkan hasil
ulangan harian, ujian tengah semester, dan tugas, serta hasil penilaian kepada

90
orang tua siswa pada saat pembagian raport. Pihak sekolah yang diwakili oleh
wali kelas atau guru BK juga akan memanggil orang tua siswa yang
menghadapi masalah dalam pembelajaran untuk berdiskusi mencari jalan
penyelesaian yang terbaik (lihat tabel 41). SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
juga akan menyampaikan perubahan, pernyesuaian ataupun perbaikan seputar
program kelas akselerasi kepada orang tua siswa baik melalui surat ataupun
dalam rapat akhir tahun (hasil wawancara).
Dalam kegiatan pembelajaran, sebagian besar siswa kelas akselerasi
menyatakan bahwa guru-guru yang mengajar di kelas akselerasi SMP Negeri
3 Tangerang Selatan telah mampu menciptakan suasana yang menyenangkan,
namun ada 21,1% siswa yang menyatakan sebaliknya, hal ini harus menjadi
perhatian bagi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, khususnya bagi guru-guru
yang mengajar di kelas akselerasi, agar dapat menciptakan kenyamanan bagi
siswa dalam pembelajaran di kelas, maupun di luar kelas. Dalam hal
penggunaan metode, dan media pembelajaran, guru-guru di kelas akselereasi
telah mamppu menyediakan dan menggunakan metode dan media yang sesuai
dengan kelas akselerasi. Tidak hanya itu, guru-guru tersebut juga telah
menggunakan rencana pembelajaran, meskipun belum mampu mengatur
waktu yang tepat untuk setiap mata pelajaran. Meskipun sebagian guru tidak
selalu memberikan tugas, pekerjaan rumah, ataupun kuis pada setiap
pertemuannya, mereka tetap menguji kesiapan belajar dan pemahaman materi
siswa, dengan cara yang berbeda, misalnya dengan bertanya secara langsung
kepada siswa. Guru-guru di kelas akselerasi juga memberikan ulangan harian
dan ujian tengah semester, serta ujian akhir semester (lihat tabel
26,27,28,29,30,31,32,33).
Untuk remedial khusus kelas akselerasi, pada tahun ajaran 2009/2010 telah
dihilangkan, hal ini bertujuan agar siswa kelas akselerasi tidak menganggap
ujian sebagai hal yang mudah dan bisa di ulang (hasil wawancara). Meskipun
10,5% siswa menyatakan bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan tidak
memberikan pelajaran tambahan, namun pada kenyataannya untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa dan untuk persiapan menghadapi ujian,

91
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan memberikan tambahan jam pelajaran diluar
jam sekolah reguler (lihat tabel 42).
Biaya program kelas akselerasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
kelas reguler ternyata tidak menjadi permasalahan bagi siswa (lihat tabel 24).
Dan perbedaan kalender pendidikan antara wilayah Jakarta dengan tangerang
tidak membuat program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
menjadi pilihan kedua calon siswa (lihat tabel 25). Bahkan program kelas
akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan menjadi program unggulan
untuk menarik calon siswa.
Secara keseluruhan SMP Negeri 3 Tangerang Selatan mampu mengelola
program kelas akselerasi dengan baik (tabel 15). SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan juga memiliki dana yang memadai untuk menyelenggarakan program
percepatan belajar yang tergolong mahal ini (tabel 18). Waktu
penyelenggaraan (pendaftaran, seleksi, penerimaan, sampai dengan kelulusan
siswa) juga dikelola dengan baik oleh pihak SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
(tabel 19). Selain itu, kurikulum yang diterapkan SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan untuk kelas akselerasi adalah kurikulum khusus, yang berbeda dengan
kelas reguler. Dengan kata lain SMP Negeri 3 Tangerang Selatan menjalankan
dua kurikulum yang berbeda dalam 1 tahun ajaran (tabel 16).
Dengan segala kelebihan, maupun profesionalisme yang ditunjukan SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan dalam menyelenggarakan program kelas
akselerasi, pihak SMP Negeri 3 Tangerang Selatan tetap terbuka untuk saran
maupun kritik dari siswa. Hal ini mereka lakukan agar program yang mereka
jalankan benar-benar mampu memberikan pelayanan yang maksimal kepada
siswa-siswi yang berbakat istimewa tersebut, yang secara langsung akan
meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri yang mereka kelola. (tabel 36)
Dari hasil jawaban angket, dan wawancara yang dilakukan penulis pada
siswa dan koordinator program kelas Akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan, penulis menyimpulkan bahwa secara keseluruhan program kelas
akselerasi yang dilakukan oleh SMP Negeri 3 Tangerang Selatan dapat
dikatakan berjalan baik dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi siswa

92
cerdas istimewa.
Selain itu fenomena yang ditemukan penulis terjawab. Diantaranya adalah
masalah perbedaan SPP yang tidak menimbulkan masalah, perbedaan jadwal
penerimaan siswa baru antara wilayah Tangerang dan DKI Jakarta juga tidak
menjadi kendala bagi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan untuk mendapatkan
siswa-siswa yang berkualitas bagi kelas Akselersi. Adapun persepsi siswa
regular tentang perbedaan pelayanan pendidikan yang diberikan SMP Negeri
3 Tangerang Selatan tidaklah benar adanya. (Hasil wawancara no.9)
Jika ditinjau dari setiap dimensi programnya, dapat dilihat bahwa setiap
dimensi program tersebut memiliki rata-rata persentase sebesar 78,02% yang
berarti berada pada tingkat sangat baik dalam memberikan pelayanan
pendidikan siswa cerdas istimewa di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.
Dimensi input memiliki persentase yang paling tinggi yaitu 87,5%, hal ini
menunjukan bahwa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan telah mempersiapkan
dan merencanakan program kelas akselerasi dengan sangat baik. Dimensi
produk, atau lulusan program kelas akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan juga tergolong sangat baik, hal ini dapat dilihat dari jawaban angket
pada dimensi produk yang mencapai 83,33% (sangat baik). Untuk dimensi
konteks dan proses berada dalam tingkat baik, masing-masing sebesar 68,75%
dan 72,5%. Angka tersebut menunjukan bahwa SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan telah mampu menyelenggarakan proram akselerasi yang telah
direncanakan sebelumnya, serta mampu melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan program kelas akselerasi tersebut dengan baik pula. Pada
dimensi konteks pula telah terjawab fenomena-fenomena yang pada awalnya
dipertanyakan penulis tentang perbedaan kalender pendidikan di daerah
Tangerang Selatan dengan DKI Jakarta dan perbedaan SPP/Iuran Sekolah
kelas reguler dan kelas akselerasi. Perbedaan kalender pendidikan ini tidak
menjadi masalah bagi siswa kelas akselerasi, semua siswa yang masuk dalam
kelas akselerasi menjadikan SMP Negeri 3 Tangerang Selatan sebagai pilihan
utama sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Perbedaan iuran sekolah/SPP
juga tidak menjadi masalah bagi siswa akselerasi dalam menjalani proses

93
pendidikan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.
Melihat nilai output program akselerasi yang telah diselenggarakan SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan selama 7 tahun ini, ada sedikit perbedaan dari
tahun pertama penyelenggaraan hingga tahun terakhir ini. Tahun pertama
penyelenggaraan sampai saat ini masih menjadi angkatan terbaik dalam hal
nilai akademis, namun sangat minim dalam hal sikap, mereka terkesan acuh
dengan guru-guru yang tidak mengajar mereka. Berbeda dengan angkatan
setelahnya, meskipun nilai mereka sedikit rendah dibanding dengan angkatan
pertama, namun tetap di atas rata-rata sekolah, angkatan ke-2 sampai dengan
yang terakhir (ke-6), lebih unggul dalam hal interaksi, baik dengan guru-guru
yang tidak mengajar di kelas mereka, maupun dengan seluruh warga sekolah
lainnya (hasil wawancara).
Berdasarkan hasil dokumentasi nilai raport lulusan tahun pelajaran
2010/2011 nilai rata-rata kelas siswa terendah 83,82 dan rata-rata kelas siswa
tertinggi mencapai 89,00 dari 13 mata pelajaran.
Berikut adalah Nilai Rata-rata Mata Pelajaran Siswa Kelas Akselerasi
Tahun Ajaran 2010 / 2011:
Tabel 47
Nilai Mata Pelajaran Siswa Kelas IX Akselerasi
Tahun Pelajaran 2010/2011
Mata Pelajaran Rata-rata Kelas
Agama 85
PKn 95
Bahasa Indonesia 84
Bahasa Inggris 85
Matematika 90
IPA 81
IPS 84
Seni Budaya 82
Penjaskes 87
TIK 84
Tata Boga 84
Eng Con 87
Budi Pekerti 90
Jumlah 1118
Rata-rata Mata Pelajaran 86



94
Dari hasil raport terlihat bahwa nilai rata-rata mata pelajaran di kelas
akselerasi mencapai angka 86. Sebuah pencapaian yang sesuai mengingat
mereka adalah siswa yang teridentifikasi sebagai siswa yang memiliki
kecerdasan istimewa, dan bakat istimewa. (Lampiran 8)
Pada hasil ujian nasional tahun pelajaran 2010/2011 siswa kelas akselerasi
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan Lulus 100% dengan pencapaian nilai sebagai
berikut:
Tabel 48
Nilai Ujian Nasional Siswa Kelas IX Akselerasi
Tahun Pelajaran 2010 / 2011
Mata Pelajaran Nilai Terendah Nilai Tertinggi
Rata-rata Nilai
Ujian Nasional
Bahasa Indonesia 7.00 9.00 8.01
Bahasa Inggris 8.40 10.00 9.46
Matematika 7.75 10.00 8,70
IPA 6.50 8.50 7.80
Jumlah 33,97
Rata-rata Nilai Mata Pelajaran Ujian Nasional Siswa
kelas Akselerasi
8,49
(Lampiran Hasil Ujian Nasional Siswa kelas IX Akselerasi)
Berdasarkan data lulusan siswa program kelas akselerasi di SMP Negeri 3
Tangerang selatan dari angkatan pertama sampai dengan 5, hampir seluruh
lulusan di terima di SMA Negeri. Dari total 82 orang lulusan, 77 alumni kelas
akselerasi di terima di SMAN & SMKN, sementara 5 orang alumni lain nya
lebih memilih ke sekolah swasta unggulan. Alumni program akselerasi tahun
pelajaran 2005/2006 (angkatan I) yang berjumlah 18 orang, 14 orang
diantaranya tercatat diterima di perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia
(UI, ITB, IPB, UGM, UNSUD, UIN), 3 orang diterima di fakultas kedokteran
Universitas Veteran (UPN), dan 1 orang di Bina Nusantara (BINUS).
(Lampiran 10).
Data dari hasil dokumentasi ini mempertegas dan membuktikan hasil
penelitian pada dimensi produk yang memiliki persentase 83,33%, yang
menunjukan bahwa dimensi produk, atau lulusan program kelas akselerasi
berada dalam rentang interval yang sangat baik.

95








BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa pelaksanaan
program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan sangat efektif
dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dibidang pelayanan
kesiswaan. Program akselerasi yang di jalankan SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan mampu memenuhi kebutuhan peserta didik yang berbakat istimewa
dan memiliki kecerdasan akademik diatas rata-rata. Hal ini terlihat dari data
perdimensi berikut: Persentase pada dimensi program yaitu Input/masukan
dan dimensi product/produk yang masing-masing mencapai 87,5% dan
83,33%, dan pada dimensi context/konteks serta process/proses masing-
masing mencapai 68,75% & 72,5%. Dan jika dijumlah secara keseluruhan
maka persentase dimensi program (Konteks, Masukan, Proses, Produk) kelas
akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan mencapai rata-rata persentase
78,02 %, yang berarti berada dalam tingkat sangat baik. Hal ini diperkuat oleh
tidak terbuktinya fenomena-fenomena yang penulis lihat sebelumnya.
Permasalahan perbedaan SPP antara kelas akselerasi dan regular tidak menjadi
permasalahan. Perbedaan kalender akademik antara daerah Tangerang dengan
daerah DKI Jakarta tidak membuat SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
kehilangan siswa-siswi cerdas isitimewa untuk mengikuti program kelas


96
akselerasi. SMP Negeri 3 Tangerang Selatan juga tidak melakukan
diskriminasi pelayanan terhadap siswa reguler. Adapun nilai output / lulusan
program kelas akselerasi dari tahun pertama hingga saat ini terus membaik,
khususnya dalam sikap, dan interaksi.
Meskipun ada 11 sub komponen yang masih harus menjadi perhatian dan
perlu perbaikan dari SMP Negeri 3 Tangerang Selatan agar program kelas
akselerasi dapat terselenggara lebih baik. 11 sub kompenen tersebut, yaitu:
1. 10,5% siswa kelas akselerasi menyatakan siswa tidak mengetahui
sosialisasi sasaran program akselerasi.
2. 21,1% siswa kelas akselerasi menyatakan laboratorium SMP Negeri 3
Tangerang Selatan tidak memadai untuk menunjang proses pembelajaran.
3. 10,5% siswa kelas akselerasi menyatakan perpustakaan SMP Negeri 3
Tangerang Selatan kurang lengkap dan kurang nyaman dalam menunjang
proses pembelajaran.
4. 10,5% siswa kelas akselerasi menyatakan petugas laboratorium SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan kurang mampu dalam memberikan pelayanan
pendidikan kepada siswa kelas akselerasi.
5. 10,5% siswa kelas akselerasi menyatakan guru BK SMP Negeri 3
Tangerang Selatan kurang profesional menjalankan tugasnya karena masih
menjadi guru kelas.
6. Ketidakmampuan guru kelas akselerasi mengatur waktu setiap mata
pelajaran.
7. Ketidakmampuan guru menciptakan kondisi pembelajaran yang
menyenangkan.
8. 10,5% siswa kelas akselerasi menyatakan bahwa kepala sekolah SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan tidak melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan kelas akselerasi.
9. 21,1% siswa kelas akselerasi menyatakan komite sekolah SMP Negeri 3
Tangerang Selatan tidak melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan
kelas akselerasi.


97
10. 10,5% siswa menyatakan program kelas akselerasi menjadikan siswa tidak
kompetitif.
11. 10,5% siswa kelas akselerasi menyatakan SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan tidak memberikan pelajaran tambahan bagi siswa untuk persiapan
menghadapi ujian.
Penulis menyimpulkan bahwa program kelas akselerasi yang
diselenggarakan oleh SMP Negeri 3 Tangerang Selatan tepat sasaran dalam
hal meningkatkan mutu pendidikan khususnya pelayanan pendidikan bagi
siswa cerdas istimewa dan berbakat istimewa.
Program ini dapat dilanjutkan atau dikembangkan agar SMP Negeri 3
Tangerang Selatan dapat terus memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi
siswa yang cerdas istimewa dan berbakat istimewa, yang pada akhirnya akan
meningkatkan mutu lulusan, maupun mutu pendidikan di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan.

B. Saran
1. Pihak SMP Negeri 3 Tangerang Selatan sebaiknya mampu
mempertahankan prestasi yang telah mereka capai. Khususnya dalam
pelayanan kebutuhan siswa-siswi yang berbakat istimewa dan berkampuan
akademik di atas rata-rata.
2. SMP Negeri 3 Tangerang Selatan sebaiknya memperbanyak memberikan
pendidikan dan pelatihan guru, maupun pelatihan tenaga kependidikan
lain, agar dapat berkembang, baik kompetensi, maupun pengalamannya
sehingga mampu melayani kebutuhan siswa sesuai dengan perkembangan
zaman.
3. SMP Negeri 3 Tangerang Selatan sebaiknya mampu memperbaiki
kekurangan ataupun keterbatasan yang mereka miliki, khususnya masalah
penerimaan dan seleksi calon siswa baru program kelas akselerasi, agar
program tersebut tepat sasaran dan benar-benar mampu menghasilkan
bibit unggul yang mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
98
DAFTAR PUSTAKA
Akses Internet, http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/evaluasi-
program-sebuah-pengantar.html , 07 Oktober 2010.
Akses Internet Edison Blogspot, http://ed150n5.blogspot.com/2009/04/evaluasi-
cipp.html , 09 Juni 2011.
Akses Internet Fuddin, Wordpress Blog,
http://fuddin.wordpress.com/2008/07/02/teori-evaluasi-dengan-cipp/ 07
Oktober 2010.
Akses internet, http://smaia1.al-
azhar.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=50&Itemid
=60, 3 Agustus 2011.
Akses internet, http://smplabschoojkt.blogspot.com/2008/03/kelas-akselerasi.html,
3 Agustus 2011.
Akses internet, http://iisnurhayati.wordpress.com/2009/09/28/sman-1-pamulang/,
3 Agustus 2011.
Akses internet, http://smpn3tangsel.com/viewpage.php?page_id=2 , 3 Agustus
2011.
Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara,
Cetakan IV, Edisi Revisi, 2005.
Arikunto, Suharsimi & Syafrudin, Cepi Abdul Jabar, Evaluasi Program
Pendidikan Pedoman Toeritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, Jakarta:
Bumi Aksara, 2009.
Busro, Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Program Kelas Akselerasi
di SMA Negeri 1 Pamulang, Jakarta: Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidaytullah, 2008.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Basaha Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 1988.
Departemen Pendidikan Nasional, Isu-Isu Pendidikan di Indonesia: Enam Isu
Pendidikan Triwulan Ketiga, Jakarta: Balitbang Diknas, 2004.
99


____________________________, Isu-isu Pendidikan di Indonesia: Lima Isu
Pendidikan Triwulan Kedua, Jakarta: Balitbang Diknas, 2004.
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa,
Bimbingan Teknis Penyusunan Kurikulum Mata Pelajaran MIPA Siswa
Cerdas Istimewa Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, 2009.
______________________, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Untuk
Peserta Didik Cerdas Istimewa, Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah
Luar Biasa, 2009.
Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Penyelenggaraan Program
Percepatan Belajar SD, SMP, dan SMA: Suatu Model Pelayanan
Pendidikan Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Potensi Kecerdasan dan
Bakat Istimewa, Jakarta: Balitbang Diknas, 2003.
Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Sistem Pendidikan
Nasional No.20, Tahun 2003, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam,
2006.
Echols, Jhon M., Hasan, Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT.
Gramedia, 2006.
Hornby, A S Oxford Advanced Learners Dictionary, New York: Oxford
University Press, 2000.
Munandar, Utami, Pemanduan Anak Berbakat : Suatu Studi Penjajakan, Jakarta:
PT. Rajawali, 1998.
Nurrahmah, Rahmi, Metodologi Pembelajaran Pada Program Akselerasi di SLTP
Islam Al-Azhar I Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Jakarta: Perpustakaan
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta, 2005.
100


Pranata, Anggriawan, Efektifitas Program Kelas Akselerasi Dalam Meningkatkan
Mutu Pendidikan di SMP N 2 Ciputat, Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009.
Subana, M..et.all, Statistik Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2000.
Sudijono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT.RajaGrafindo
Persada, 2005.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D), Jakarta: CV. Alfabeta, Cet.IV, 2008
Syafaruddin, Soeratno, Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan Konsep,
Strategi dan Aplikasi, Jakarta: PT Grasindo, 2002.
Syaodih, Nana Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,
Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997.
Wulandari, Veria, Pengelolaan Program Kelas Akselerasi-Studi Kasus di SD
Panglima Besar Jendral Sudirman Cijantung, Jakarta Timur. Jakarta: FIP-
UNJ 2004.






Pedoman Wawancara
Nama Responden : Hj. Eni Subekti, M.Pd
NIP : 196307201985012001
Jabatan : Koordinator Program Kelas Akselerasi
Tempat wawancara : SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Hari/Tanggal : Rabu, 18 Mei 2011
Pokok Pembicaraan
1. Apa yang melatarbelakangi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan Membuka Kelas
Akselerasi?
2. Apakah tujuan dan sasaran utama penyelenggaraan kelas akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan?
3. Bagaimana mekanisme penerimaan perserta didik baru program akselerasi?
4. Bagaimana proses seleksi calon siswa baru program kelas akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan?
5. Apakah tes kesehatan menjadi salah satu bentuk tes masuk kelas akselerasi?
6. Hal-hal apa saja yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program kelas
akselerasi?
7. Sebelum masuk kelas akselarasi apakah siswa mendapat bimbingan dari BK?
8. Bagaimana tindakan sekolah/konsekuensi yang dilakukan sekolah terhadap
calon siswa yang mengikuti tes di kelas akselarasi, namun hasil tes siswa
tersebut berada dibawah standar? Apakah dimasukkan ke dalam kelas reguler?
Atau ada tindakan lain dari pihak sekolah?
9. Apakah perbedaan kalender pendidikan antara daerah DKI Jakarta dan
Tangerang membuat Kelas Akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Tidak menjadi pilihan utama calon siswa/i baru?
10. Apakah perbedaan biaya antara kelas akselerasi dan kelas regular menjadi
kendala bagi siswa kelas akselerasi dalam pelaksanaan pendidikan di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan?
11. Berapakah besar biaya uang sekolah / SPP siswa program kelas akselerasi, dan
berapa besar uang sekolah / SPP siswa reguler?
12. Apakah guru-guru yang mengajar di kelas akselarasi
dipilih/diminta/dilatih/dites?
13. Apakah Guru yang mengajar di kelas akselerasi selalu memberikan tugas, PR,
dan kuis pada setiap pertemuan?
14. Kurikulum seperti apa yang diterapkan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan?
15. Bagaimana output/hasil nilai Ujian Nasional siswa Kelas Akselerasi selama
penyelenggaraannya di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan? Setelah lulus dari
Kelas Akselarasi, mayoritas siswa diterima di sekolah apa?
16. Apa saja yang dilakukan oleh pihak SMP Negeri 3 Tangerang Selatan dalam
mengevaluasi, atau memperbaiki pelaksanaan program kelas akselerasi?
17. Bagaimana perbandingan kualitas output / hasil Ujian Nasional di SMP Negeri
3 Tangerang Selatan, sebelum dah sesudah menyelenggarakan program kelas
akselerasi?
18. Apakah program kelas akselerasi mampu meningkatkan mutu pendidikan di
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, baik dari segi input siswa, kualitas
pelayanan pendidikan, kompetensi guru, sarana-prasarana, manajemen
sekolah, kualitas lulusan?

Hasil Wawancara
Nama Responden : Hj. Eni Subekti, M.Pd
NIP : 196307201985012001
Jabatan : Koordinator Program Kelas Akselerasi
Tempat wawancara : SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Hari/Tanggal : Rabu, 18 Mei 2011
Pokok Pembicaraan
1. Apa yang melatarbelakangi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan Membuka Kelas
Akselerasi?
Jawaban:
Ada beberapa penyebab atau alasan yang melatarbelakangi SMP Negeri 3
membuka kelas akselerasi. Diantaranya melihat potensi anak didik yang
menonjol dalam pembelajaran. Sering kali anak didik tersebut (anak didik yang
menonjol) dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka harus menunggu untuk
masuk ke materi baru, atau melewati materi yang telah mereka pahami, di
karenakan teman sekelas yang lain belum paham mengenai materi yang di
sampaikan. Dari keadaan inilah sekolah mulai berfikir untuk memberikan
wadah untuk memberikan pelayanan khusus pada anak didik yang memiliki
kecerdasaan istimewa tersebut. Selain itu pihak SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan juga merasa sudah mampu untuk menjalankan program kelas
akselerasi.
2. Apakah tujuan dan sasaran utama penyelenggaraan kelas akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan?
Jawaban:
Tujuan penyelenggaraan program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan adalah memberikan wadah kepada siswa/i yang menonjol dalam
pembelajaran (berbakat istimewa).
Sasarannya adalah siswa/i yang menonjol dalam pembelajaran.
3. Bagaimana mekanisme penerimaan perserta didik baru program akselerasi?


Jawaban:
Pengrekrutan pertama kita adakan tes berupa:
a. Aspek Akademik:
Nilai rata-rata ujian akhir SD/MI 8,00
Rata-rata nilai Rapor kelas VI 8,00
Tes potensial akademik (General Tes) 8,00
b. Aspek Psikologi:
Intellegent Quotient (IQ) 140 (Genius)
Kreativitas baik, di atas skor 120
Komitmen pada tugas (TC) di atas 125
Spiritual Quotient (SQ) baik/taat
c. Aspek Kesahatan

4. Bagaimana proses seleksi calon siswa baru program kelas akselerasi di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan?
Jawaban:
Selain membuka pendaftaran dan tes masuk, SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
juga mencari bibit-bibit unggul (calon siswa) dari SD dengan melakukan
promosi, serta memberikan penawaran kepada siswa SD yang dianggap
memiliki kemampuan untuk masuk dan mengikuti pembelajaran di kelas
akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan.
5. Apakah tes kesehatan menjadi salah satu bentuk tes masuk kelas akselerasi?
Jawaban:
Tes kesehatan menjadi salah satu persyaratan khusus basi siswa yang ingin
masuk di program kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, pada
saat pendaftaran, calon siswa diharuskan menyertakan surat keterangan sehat,
baik dari dokter, rumah sakit, ataupun Puskesmas.
6. Hal-hal apa saja yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program kelas
akselerasi?
Jawaban:
Salah satu yang kendala yang sering dirasakan oleh pihak SMP Negeri 3
Tangerang Selatan dalam pelaksanaan kelas akselerasi datang dari siswa itu
sendiri (eksternal). Nilai tes akademik maupun tes IQ yang baik tidak menjadi
jaminan bagi siswa/i untuk mampu mengikuti pembelajaran di kelas akselerasi.
Sering kali siswa/i tersebut gagal untuk mengikuti pembelajaran di kelas.
Selain itu juga yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kelas akselerasi di
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan adalah perbedaan keinginan antara orang tua
dan calon siswa itu sendiri. Terkadang keinginan untuk mengikuti program
kelas akselerasi hanya datang dari orang tua siswa, tanpa diiringi keinginan
yang kuat, serta keseriusan anak. Atau sebaliknya, keinginan sang anak tidak
mampu dipenuhi orang tua, dikarenakan keragu-raguan orang tua terhadap
kelas akselerasi.
7. Sebelum masuk kelas akselarasi apakah siswa mendapat bimbingan dari BK?
Jawaban:
Tidak. Tidak ada bimbingan BK sebelum para calon siswa memasuki kelas
akselerasi.
8. Bagaimana tindakan sekolah/konsekuensi yang dilakukan sekolah terhadap
calon siswa yang mengikuti tes di kelas akselarasi, namun hasil tes siswa
tersebut berada dibawah standar? Apakah dimasukkan ke dalam kelas reguler?
Atau ada tindakan lain dari pihak sekolah?
Jawaban:
Sekolah tidak secara otomatis memasukan calon siswa yang tidak lulus seleksi
kelas akselerasi ke dalam kelas reguler. Jika mereka tidak lulus di kelas
akselerasi dan ingin masuk ke dalam kelas reguler, mereka harus mengikuti tes
masuk kelas reguler sebagaimana mestinya.
9. Apakah perbedaan kalender pendidikan antara daerah DKI Jakarta dan
Tangerang membuat Kelas Akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan
Tidak menjadi pilihan utama calon siswa/i baru?
Jawaban:
Perbedaan kalender pendidikan antara wilayah Jakarta dan Tangerang memang
menjadi salah satu kendala di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, dan terkadang
membuat SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, dijadikan pilihan alternatif/pilihan
kedua/tidak menjadi pilihan utama untuk melanjutkan pendidikan, tetapi
keadaan tersebut hanya berlaku untuk kelas-kelas reguler saja, tidak untuk
kelas akselerasi. Seluruh siswa/i yang mendaftar di kelas akselerasi SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan sudah menjadikan SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan sebagai pilihan utama, dikarenakan kegiatan pendaftaraan dan seleksi
calon siswa dilaksanakan jauh sebelum pengumuman kelulusan SD (sekolah
dasar).
10. Apakah perbedaan biaya antara kelas akselerasi dan kelas regular menjadi
kendala bagi siswa kelas akselerasi dalam pelaksanaan pendidikan di SMP
Negeri 3 Tangerang Selatan?
Jawaban:
Tidak, perbedaan uang sekolah tidak pernah menjadi kendala.
11. Berapakah besar biaya uang sekolah / SPP siswa program kelas akselerasi, dan
berapa besar uang sekolah / SPP siswa reguler?
Jawaban:
a. Uang sekolah untuk Kelas Reguler
Kelas VII, VIII, X = Rp 150.000,-
b. Uang sekolah untuk kelas Akselerasi
Kelas VII akselerasi = Rp 300.000,-
Kelas X akselerasi = Rp 375.000,- *

Terjadi peningkatan biaya ketika kenaikan kelas, jika ada siswa yang yang
tereliminasi dari kelas akselerasi sebab biaya dibebankan kepada siswa yang
masih melangsungkan pembelajaran di kelas akselerasi. (Sumber : Iskandar,
S.Pd bendahara program kelas akselerasi tata usaha SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan).
12. Apakah guru-guru yang mengajar di kelas akselarasi
dipilih/diminta/dilatih/dites?
Jawaban:
Sebagian besar guru yang mengajar di kelas akselerasi telah ditinjau terlebih
dahulu performance nya. Dilihat dari pengalaman mengajar, kemampuan
intelektual, metode pembelajaran, serta pencapaian ketuntasan belajar siswa
juga menjadi bahan pertimbangan. Guru-guru yang mengajar di kelas
Akselerasi adalah guru-guru regular yang dipilih berdasarkan pertimbangan
tertentu, pertimbangan tersebut antara lain yaitu S1 di bidang materi yang
diajarkan, mampu mengelola proses pembelajaran peserta didik yang meliputi:
perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil belajar, dan juga memahami
psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan, tidak semua guru bidang
studi dapat mengajar di kelas Akselerasi. Hal ini merupakan salah satu bentuk
pelayanan pendidikan dalam program akselerasi di SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan yaitu dengan menyediakan guru yang memiliki kemampuan lebih dan
memenuhi persyaratan kriteria guru program akselerasi, sehingga mampu
mengimbangi kemampuan belajar siswa dengan kemapuan mengajarnya,
dengan begitu diharapkan hasil belajar siswa mencapai hasil yang memuaskan.
13. Apakah Guru yang mengajar di kelas akselerasi selalu memberikan tugas, PR,
dan kuis pada setiap pertemuan?
Jawaban:
Sebagian guru melakukan hal tersebut, sebagian lain melakukan penilaian
terhadap persiapan maupun pemahaman siswa dengan cara yang berbeda,
sesuai dengan gaya pembelajaran siswa yang dimiliki masing-masing guru.
Tetapi guru-guru tersebut juga kadang-kadang memberikan tugas dan PR
kepada siswa/i.
14. Kurikulum seperti apa yang diterapkan di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan?
Jawaban:
Kurikulum yang diterapkan oleh SMP Negeri 3 Tangerang Selatan adalah
kurikulum KTSP. Namun pada saat penerapannya kurikulum inti dari KTSP ini
lebih dipadatkan, dengan tujuan mempercepat pembelejaran/proses akselerasi
siswa/i.
15. Bagaimana output/hasil nilai Ujian Nasional siswa Kelas Akselerasi selama
penyelenggaraannya di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan? Setelah lulus dari
kelas Akselarasi, mayoritas siswa diterima di sekolah apa?
Jawaban:
Out put/hasil ujian kelas akselerasi selama 7 tahun penyelenggaraan ini bisa
dikatan baik. Alumni pertama tahun 2005 merupakan lulusan dengan nilai
akademik terbaik, namun dalam hal sosialisasi baik dengan guru yang tidak
mengajar di kelas akselerasi maupun dengan masyarakat sekolah, mereka dapat
dikatakan acuh dan egoismenya tinggi. Untuk angkatan kedua dan hingga
lulusan terakhir pada 2010 ini, meskipun nilai akademik mereka sedikit berada
dibawah angkatan pertama, namun tetap dapat dikatakan baik karena nilai ujian
mereka berada di atas rata-rata dan memiliki kemampuan bersosialisasi dengan
masyarakat sekolah jauh lebih baik dari angkatan pertama. Data tertulis tentang
sekolah lanjutan para alumni siswa kelas akselerasi memang tidak ada, tapi
sepengetahuan saya, sebagian besar dari alumni siswa kelas akselerasi
melanjutkan dan diterima di sekolah-sekolah menengah unggulan.
16. Apa saja yang dilakukan oleh pihak SMP Negeri 3 Tangerang Selatan dalam
mengevaluasi, atau memperbaiki pelaksanaan program kelas akselerasi?
Jawaban:
Selalu diadakan rapat mengenai peningkatan mutu program kelas akselerasi di
SMP Negeri 3 pada akhir tahun pembelajaran. Bahkan untuk mengeliminasi
siswa/i ataupun menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di
kelas akselerasi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Rapat eliminasi melibatkan
kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, wali kelas akselerasi,
dan seluruh guru yang mengajar di kelas akselerasi. Dalam rapat ini, wali kelas
menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada guru yang mengajar di kelas
akselerasi. Biasanya siswa yang tereliminasi akan di transfer ke kelas
VII/VII/X regular, sesuai dengan ketuntasan materi mata pelajaran yang telah
ia dapatkan di kelas akselerasi. Hal ini dilakukan karena siswa/i tersebut
dianggap kurang mampu mengikuti pembelajaran di kelas akselerasi, sehingga
ditakutkan akan mengalami permasalahan belajar jika terus dipaksakan
mengikuti program kelas akselerasi.
Adapun SMP Negeri 3 Tangerang Selatan memberikan kesempatan pada
seluruh guru di SMP Negeri 3 Tangerang Selatan untuk mengajar di kelas
akselerasi, dengan catatan mampu memenuhi persyaratan serta kompetensi
yang telah di tetapkan. Selain itu pihak sekolah juga memberikan informasi-
informasi mengenai program kelas akselerasi dengan bekerja sama dengan
pihak UIN (Universitas Islam Negeri) yang bertujuan peningkatan mutu
program kelas akselerasi dan peningkatan mutu pendidikan di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan. Sekolah juga akan mengganti guru yang mengajar, atau
tenaga kependidikan lain yang dianggap tidak ahli atau tidak kompeten
dibidangnya.
17. Bagaimana perbandingan kualitas output/hasil Ujian Nasional di SMP Negeri 3
Tangerang Selatan, sebelum dah sesudah menyelenggarakan program kelas
akselerasi?
Jawaban:
Untuk nilai ujian nasional, baik sebelum maupun selama penyelenggaraan
akselerasi yang telah berjalan 7 tahun ini, nilai ujian nasional tertinggi selalu
dipegang oleh kelas regular. Meskipun begitu kelas akselerasi secara
keseluruhan dan rata-rata nilai ujian nasionalnya jauh lebih baik dibandingkan
dengan kelas regular. Karena meskipun nilai ujian nasional tertinggi dipegang
oleh kelas regular, tetapi di kelas regular juga banyak siswa yang nilainya
jelek, tidak seperti kelas akselerasi yang secara keseluruhan dapat dikatakan
bagus-bagus atau baik.
18. Apakah program kelas akselerasi mampu meningkatkan mutu pendidikan di
SMP Negeri 3 Tangerang Selatan, baik dari segi input siswa, kualitas
pelayanan pendidikan, kompetensi guru, sarana-prasarana, manajemen sekolah,
kualitas lulusan?
Jawaban:
Iya pastinya. Semua poin yang disebutkan mengalami peningkatan. Yang
paling menonjol adalah peningkatan kualitas pelayanan pendidikan dan
kompetensi guru, karena setiap guru berlomba-lomba ingin mengajar di kelas
akselerasi. Guru juga harus mampu melayani kebutuhan siswa kelas akselerasi
serta harus siap digantikan jika siswa kelas akselerasi tidak menginginkan guru
tersebut untuk mengajar mereka lagi.

Ciputat-Tangerang 18 Mei 2011
Koordinator Program Kelas Akselerasi



Hj. Eni Subekti, M.Pd
NIP : 196307201985012001


PEDOMAN STUDI DOKUMENTASI

NO ITEM Ada Tidak Ada
1 Profil Sekolah
2 Data Guru Kelas Akselerasi
3 Data Perkembangan Siswa Kelas Akselerasi
4 Sarana dan Prasarana Kelas Akselerasi
5 Kurikulum Sekolah
6 Tata Tertib Guru
7 Pedoman Kerja Kepala Sekolah
8 Pedoman Kerja Guru Kelas Akselerasi
9 Lembar Kerja Guru Piket
10 Lembar Kerja Guru Mata Pelajaran
11 Lembar Kerja Wali Kelas
12 Lembar Kerja Guru di Kelas
13 Jadwal Pelajaran Kelas Akselerasi
14 Tata Tertib Siswa
15 Data Kekosongan Kelas Akselerasi
16 Rencana Kerja Sekolah



NO. ANGKET


NO. SOAL
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Total
1 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 4 3 4 4 3 3 60
2 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 2 3 59
3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 65
4 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 2 3 54
5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 2 56
6 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 3 70
7 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 63
8 4 3 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 4 4 67
9 3 4 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 58
10 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 4 3 3 57
11 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 56
12 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 61
13 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 63
14 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 60
15 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 57
16 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 58
17 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 4 71
18 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 71
19 4 4 4 4 3 2 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 3 68
20 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 4 68
21 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 59
22 3 2 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 2 47
23 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 57
24 3 3 3 3 4 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 56
25 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 2 4 3 3 3 3 3 3 3 58
26 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 1 2 3 2 3 4 2 3 3 54
27 3 3 2 2 3 3 1 2 3 3 2 3 2 2 2 4 3 2 3 48
28 4 3 3 2 3 3 1 2 4 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 52
29 2 2 2 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 4 2 2 2 45
30 2 3 2 3 4 2 3 2 2 3 1 3 2 3 2 3 3 2 3 48
31 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 55
32 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 2 2 2 3 3 3 54
33 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 56
34 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 55
35 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 58
36 3 2 4 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 61
37 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 3 4 3 4 3 68
38 3 3 3 4 4 3 4 3 3 3 1 4 3 3 4 4 4 3 3 62
39 4 1 4 3 4 3 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 67
40 3 3 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 67
Total 129 124 122 120 143 118 133 122 129 124 111 129 122 113 120 140 127 120 123 2369
Keterangan :




: Dimensi Konteks



: Dimensi Masukan



: Dimensi Proses



: Dimensi Produk