Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada
kelompok usia produktif maupun tidak produktif. Sebagian besar cedera kepala terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas. Di samping penanganan di lokasi kejadian dan tindakan selama
transportasi korban saat dibawa ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat
darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya.
Tindakan resusitasi, anamnesis dan pemeriksaan fisik umum serta neurologis harus
dilakukan secara serentak dan tepat. Pendekatan yang sistematis dapat mengurangi kemungkinan
terlewatnya evaluasi unsur vital. Tingkat keparahan cedera kepala, harus segera ditentukan saat
pasien tiba di rumah sakit.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 IDENTITAS PASIEN
!ama " Tn. S # $
!o. %ekam &edik " '(()**+
,mur " -. tahun
Tempat, Tanggal lahir " /akarta, + #pril )-0
Pekerjaan " $uli bangunan
#gama " 1slam
Status Pernikahan " &enikah
Suku " /awa
Pendidikan " Tamat SD
#lamat " 2
&asuk %umah Sakit " . /uni ('+
Pengambilan data " . /uni ('+
2.2 ANAMNESIS (9/6/14)
#namnesis dilakukan secara alloanamnesis dengan adik pasien hari Senin, tanggal )
/uni ('+, pukul -.*' 314 di ruang tunggu lantai . teratai %S,P 5atmawati.
#. $eluhan ,tama
Pasien tidak sadar sejak jam sebelum masuk rumah sakit 6S&%S7.
4. $eluhan tambahan" 2
C. %iwayat Penyakit Sekarang "
(
Pasien datang ke 18D %S,P 5atmawati dengan keadaan tidak sadar sejak
jam S&%S. Pasien didapati tidak sadar setelah jatuh ke tanah dari ketinggian * meter
saat bekerja di sebuah proyek bangunan. Tidak diketahui bagaimana proses pasien
saat terjatuh, namun saat posisi pasien adalah telungkup setelah jatuh. Selama pasien
dibawa ke 18D, pasien tidak sadar, tidak kejang, dan tidak muntah mendadak, yang
terihat hanyalah luka di kepala sebelah kanan pasien. Saat di dalam 18D, selama
perawatan, pasien sempat muntah namun bukan muntah yang muncrat mendadak.
Sesak nafas, berbicara meracau atau pelo, demam, sakit kepala hebat, lumpuh
atau lemas seluruh atau separuh badan disangkal.
D. %iwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Selama ini,
pasien belum pernah dirawat di %umah Sakit ataupun ke poliklinik. $alau selama ini
sakit, pasien hanya ke puskesmas atau klinik (+ jam saja. Pasien tidak memiliki
riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, maag ataupun alergi.
9. %iwayat $eluarga
Pasien adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara, dimana semua
saudaranya tidak ada yang pernah mengalami hal yang serupa dengan pasien.
$eluarga pasien tidak ada yang pernah di rawat di %umah Sakit. %iwayat lumpuh
separuh atau seluruh badan, bicara pelo, tekanan darah tinggi, kencing manis, asma,
maag atau alergi disangkal.
5. %iwayat $ebiasaan
Pasien bukan seorang perokok dan bukan seorang peminum kopi berat. Dalam
kesehariannya pasien biasa mengonsumsi makanan yang sehat.
2.3 PEMERIKSAAN FISIK (6/6/14)
#. $eadaan ,mum " Tampak sakit sedang
$esadaran " Sopor
*
Sikap " 4erbaring
$ooperatif " Tidak kooperatif
$eadaan 8i:i " Cukup
Tanda ;ital
Tekanan darah" ''<=' mm>g
!adi " ). ?<menit
Suhu " *.,=
o
C
Pernapasan " (( ?<menit
8CS " 9 ;( &- 607
4. $eadaan @okal
Trauma Stigmata " vulnus ekskoriatum pada kepala bagian pertengahan
fronto2temporal sepanjang A -cm. terpasang collar neck.
Pulsasi #.Carotis " Teraba, kanan B kiri, reguler, eCual
Perdarahan Perifer " Capillary refill time D ( detik
Columna ;ertebralis " @etak ditengah, skoliosis 627, lordosis 627
$ulit " 3arna sawo matang, sianosis 627, ikterik 627
$epala " !ormosefali, simetris, rambut hitam, distribusi merata,
tidak mudah dicabut, tidak ada alopesia, benjolan 627, nyeri
tekan 627. Tidak ada kesan fraktur impresi.
&ata " >ematoma kacamata 64rill hematom7 2<2, konjungtiva
anemis 2<2, ptosis 2<2, lagoftalmus 2<2, pupil bulat isokor
(mm<(mm, refleks cahaya langsung E<E, refleks cahaya
tidak langsung E<E.
Telinga " !ormotia E<E, hematoma retroaurikuler 64attleFs sign7 2<2,
perdarahan 2<2
>idung " Deviasi septum 2<2, perdarahan 2<2
&ulut " 4ibir edema 627, lidah kotor 627, perdarahan 627
Tenggorok " Sulit dinilai
+
@eher " 4entuk simetris, trakea lurus di tengah, tidak teraba
pembesaran $84 dan tiroid. Terpasang collar neck.
Pemeriksaan /antung
1nspeksi " 1ctus cordis tidak tampak
Palpasi " 1ctus kordis teraba pada 1CS ; &C@ sinistra
Perkusi " batas jantung kanan pada 1CS ; linea parasternal dekstraG batas
jantung kiri pada 1CS ; ( jari lateral linea midklavikula sinistraG
Pinggang jantung di 1CS 111 linea parasternal sinistra
#uskultasi " S 1 dan S 11 reguler, murmur 627, gallop 627
Pemeriksaan Paru
1nspeksi " Pergerakkan naik2turun dada simetris kananBkiri
Palpasi " ;ocal fremitus T;D, tidak ada benjolan.
Perkusi " Perkusi di seluruh lapang paru sonor
#uskultasi " Suara nafas vesikuler, %honki 2<2, whee:ing 2<2.
Pemeriksaan #bdomen
1nspeksi " Datar
Palpasi " !yeri tekan 627, hepar<lien tidak teraba membesar
Perkusi " Timpani di seluruh lapangan abdomen
#uskultasi " 4ising ,sus 6E7 normal
Pemeriksaan 9kstremitas
#tas " akral hangat E < E, edema E < 2, sianosis 2<2, deformitas E < 2
4awah " akral hangat E < E, edema 2 < 2
2.4 PEMERIKSAAN NEUROLOGIS (6/6/14)
A. Ran!an S"#a$%& O&!' Kanan K()(
$aku $uduk " 2
@asegue " H ='
I
H ='
I
$ernig " H *-
I
H *-
I
-
4rud:inski 1 " 2
4rud:inski 11 " 2 < 2
B. P"n(n'a&an T"'anan In&)a')an(a#
&untah proyektil " 2
Sakit kepala hebat " 2
Papil edema " tidak dilakukan pemeriksaan
*. Sa)a+,Sa)a+ K)an(a#(!
N. I (-#+a'&-)(%!) . sulit dinilai
N. II (-$&('%!)
#cies visus " T;D
;isus campus " T;D
@ihat warna " T;D
5unduskopi " tidak dilakukan
N. III/ I0/ 0I (O11%#-2-&-)(%!/ T)-13#"a)(!/ A45%1"n)
$edudukkan bola mata " ortopforia E < E
Pergerakkan bola mata " T;D
9?opthalmus " 2 < 2
!ystagmus " T;D
Pupil
4entuk " bulat, isokor, (mm<(mm
%eflek cahaya langsung " E<E
%eflek cahaya tidak langsung " E<E
%eflek akomodasi " E<E
%eflek konvergensi " E<E
.
N. 0 (T)("2(n%!)
Cabang &otorik " T;D
Cabang sensorik
Iphtalmikus " T;D
&aksilaris " T;D
&andibularis " T;D
N. 0II (Fa!(a#(!)
&otorik orbitofrontalis " baik < baik
&otorik orbikularis " normal
Pengecapan lidah " T;D
N. 0III (0"!&(4%#-1-13#"a)(!)
;estibular " ;ertigo " T;D
!istagmus " T;D
$oklearis " Tuli $onduktif " T;D
Tuli Perseptif " T;D
N. I6/ 6 (G#-!!-$3a)7n"%!/ 0a%!)
&otorik " T;D
Sensorik " T;D
N. 6I (A11"!-)(%!)
&engangkat bahu " T;D
&enoleh " T;D
N. 6II (H7$-#-!!%!)
Pergerakkan lidah " T;D
#trofi " T;D
=
5asikulasi " T;D
Tremor " T;D
D. S(!&"2 M-&-)('
9kstremitas atas proksimal J distal " T;D
9kstremitas bawah proksimal J distal " T;D
E. S(!&"2 S"n!-)(' " Propioseptif " T;D
9ksteroseptif " T;D
F. G")a''an In8-#%n&")
Tremor " 2 < 2
Chorea " 2 < 2
#tetose " 2 < 2
&iokloni " 2 < 2
Tics " 2 < 2
G. T)-+( " eutrofi E < E
H. T-n%! " normotonus E < E
I. F%n!( S")"4"#a)
#ta?ia " Tidak dilakukan
Tes %omberg " Tidak dilakukan
Disdiadokokinesia " Tidak dilakukan
/ari2jari " Tidak dilakukan
/ari2hidung " Tidak dilakukan
Tumit2lutut " Tidak dilakukan
>ipotoni " 2 < 2
9. F%n!( L%3%)
#stereognosia " T;D
#pra?ia " T;D
#fasia " 2
0
K. F%n!( O&-n-2
&iksi " kateter
Defekasi " baik
Sekresi keringat " baik
L. R"+#"'! F(!(-#-(!
$ornea " T;D
4iceps " EE < EE
Triceps " EE < EE
@utut " EE < EE
Tumit " EE < EE
$remaster " 6tidak dilakukan7

M. R"+#"'! Pa&-#-(!
>offman Tromer " 2 < 2
4abinsky " 2 < 2
Chaddok " 2 < 2
8ordon " 2 < 2
Schaefer " 2 < 2
$lonus lutut " 2 < 2
$lonus tumit " 2 < 2
N. K"a5aan P!('(!
1ntelegensia " T;D
Tanda regresi " T;D
Demensia " T;D
)
2.: PEMERIKSAAN LABORATORIUM (6/6/14)
Pemeriksaan >asil Satuan >asil
HEMATOLOGI
>emoglobin *,) g<d@ *.( J =.*
>ematokrit +* K ** J +-
@eukosit 11.: ribu<u@ -.' J '.'
Trombosit (.) ribu<u@ -' J ++'
9ritrosit +..( juta<u@ +.+' J -.)'
0ER/HER/KHER/RD;
;9% )(.. fl 0'.' J ''.'
>9% *'. pg (..' J *+.'
$>9% *(.- g<d@ *(.' J *..'
%D3 +. K .- J +.-
FUNGSI HATI
S8IT <= ,<1 ' J *+
S8PT == ,<1 ' J +'
FUNGSI GIN9AL
,reum darah *( mg<d@ (' J +'
$reatinin darah '.) mg<d@ '.. J .-
GLUKOSA DARAH SE;AKTU
8lukosa darah sewaktu (' mg<d@ =' 2 +'
'
ANALISA GAS DARAH
p> =.44= =.*=' J =.++'
PCI( *0.= *-.' J +-.'
PI( 11<.> mm>g 0*.' J '0.'
4P =+).' mm>g 2
>CI* (.. mmol<@ (.' J (0.'
I( Saturasi )0.- K )-.' J )).'
49 64ase 9?cess7 (. mmol<@ 2(.- J (.-
Total CI( 2=.3 mmol<@ ).' J (+.'
ELEKTROLIT DARAH
!atrium darah *= mmol<@ *- 2 +=
$alium darah *.(- mmol<@ *.' J -.'
$lorida darah '= mmol<@ )- 2 '0
SERO , IMUNOLOGI
8olongan Darah 4<%hesus 6E7

2.6 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS


CT2Scan kepala potongan a?ial 6tanpa kontras, slice *2'mm7
Tak tampak hematom epidural, subdural, subaraknoid, maupun intraparenkimal
secara CT2Scan saat ini. 5raktur sphenoid wing kanan. >ematosinus maksilaris kanan
dan sinusitis ethmoidalis bilateral.
(
Thora? P#
/antung dan paru
dalam batas normal.
Tidak tampak
pneumothoraks,
contusion paru,
maupun fraktur
tulang dinding dada
Cervical #P<@ateral
*
Straight cervical. Tidak tampak fraktur maupun listhesis pada vertebra cervicalis yang
tervisualisasi
Pelvis #P
Tidak tampak kelainan radiologis pada tulang2tulang pelvis. Tidak tampak fraktur
pada tulang2tulang pelvis.
#ntebrachii kanan #P<lateral
+
Tampak fraktur linier komplit, intraartikular epifisis distal os radius kanan dengan
displacement fragmen distal fraktur ke dorsal. Tampak pula fraktur inkomplit di
epifisis distal os ulna kanan yang melibatkan intraartikular. Celah sendi tidak tampak
menyempit.
3rist joint kanan #P<lateral
Tampak fraktur linier komplit, intraartikuler epifisis distal os radius kanan dengan
displacement fragmen distal fraktur ke dorsal. Tampak pula fraktur inkomplit di
epifisis distal os ulna kanan yang melibatkan intraartikuler. Celah sendi
carpometacarpal, intercarpalia, radiocarpalia dan ulnarcarpalia tidak tampak
menyempit.
2.= RESUME
Pasien datang ke 18D %S,P 5atmawati dengan keluhan tidak sadarkan diri sejak
jam S&%S. &enurut keterangan dari keluarga, saat itu pasien sedang bekerja,
kemudian tidak diketahui apa penyebabnya sehingga pasien terjatuh ke tanah dari
ketinggian * meter. Pasien ditemukan sudah dalam posisi telungkup dan tidak sadarkan
diri. Selama pasien dibawa ke 18D, pasien tidak kejang dan tidak sadarkan diri. Saat
perawatan di 18D, pasien sempat muntah namun tidak proyektil sebanyak kali.
-
Pemeriksaan 5isik"
$esadaran " Sopor, tampak sakit sedang
$ooperatif " Tidak kooperatif
$eadaan 8i:i " Cukup
Tekanan Darah " ''<=' mm>g
!adi " ). ?<menit
Suhu " *.,=
o
C
Pernapasan " (( ?<menit
8CS " 9 ;( ;- 607
Status !eurologis"
Pupil " 4ulat, isokhor, L (mm< (mm, %C@ E<E, %CT@ E<E
T%& " $$ 627, H='
o
<H='
o
, H*-
o
<H*-
o

Peningkatan T1$ " 627
!ervus cranialis " !.111, 1;, ;1 normalG !.;11, M11 sulit dinilai
&otorik " T;D
Sensorik " T;D
5ungsi cerebellar N koordinasi " Tidak dilakukan
5ungsi luhur " T;D
5ungsi otonom " Terpasang kateter
%efleks fisiologis" 6E7
%efleks patologis " 627
$eadaan psikis " T;D
P"2")('!aan P"n%n?an.
@aboratorium
leukositosis, peningkatan S8IT<S8PT. p>, PI(, dan CI( total meningkat
5oto rontgen
.
Tampak fraktur linier komplit, intraartikuler epifisis distal os radius kanan dengan
displacement fragmen distal fraktur ke dorsal. Tampak pula fraktur inkomplit di
epifisis distal os ulna kanan yang melibatkan intraartikuler.
CT Scan $epala
Tak tampak hematom epidural, subdural, subaraknoid, maupun intraparenkimal
secara CT2Scan saat ini. 5raktur sphenoid wing kanan. >ematosinus maksilaris
kanan dan sinusitis ethmoidalis bilateral.
2.< DIAGNOSIS KER9A
D(an-!(! '#(n(!.
Penurunan kesadaran, fraktur tertutup os radius dan os ulna de?tra, vulnus ekskoriatum
D(an-!(! "&(-#-(.
Trauma kapitis 6post kecelakaan kerja7, Cedera kepala sedang
D(an-!(! &-$(!.
Sistem saraf pusat, os ulna dan radius
2.9 PENATALAKSANAAN
&edikamentosa"
1;5D !acl ',)K -'' cc<( jam
Citicolin (?''' mg iv
&anitol +?'' cc iv
$etorolac *?*' mg iv
Ceftria?on (? gr iv
!on2medikamentosa"
Pasien tirah baring
9levasi kepala *'
'
2.1> REN*ANA LAN9UTAN
$onsul Sejawat Spesialis Irthopedi untuk fraktur pada antebrachii de?tra
=
2.11 PROGNOSIS
#d vitam " dubia ad bonam
#d functionam " dubia ad malam
#d sanationam " bonam
BAB III
TRAUMA KAPITIS
DEFINISI
Trauma kapitis adalah suatu trauma mekanik yang secara langsung atau tidak langsung
mencederai kulit kepala, tengkorak, atau otak. Trauma dapat menyebabkan cedera ringan pada
tengkorak atau mengakibatkan gangguan fungsi neurologis karena cedera otak. Trauma kapitis
dapat tertutup atau terbuka. Sinonim dari trauma kapitis adalah antara lain cedera kepala,
craniocerebral trauma, head injury.
67
PATOFISIOLOGI
(1)
4erat atau ringannya suatu daerah otak yang mengalami cedera akibat trauma kapitis
bergantung pada "
. 4esar dan kekuatan saat benturan
(. #rah dan tempat saat benturan
*. Sifat dan keadaan kepala sewaktu menerima benturan
Sehubungan dengan berbagai aspek benturan tersebut, maka benturan atau trauma kepala dapat
mengakibatkan lesi otak berupa "
0
@esi bentur 6Coup7
@esi antara 6akibat pergeseran tulang, dasar tengkorak yang menonjol<fal? dengan
otak, peregangan dan robeknya pembuluh darah dan lain2lain B lesi media7
@esi kontra 6counter Coup7
@esi benturan otak dapat menimbulkan beberapa kejadian berupa "
. 8angguan neurotransmitter sehingga terjadi blok depolarisasi pada sistem #%#S
6#scending %eticular #ctivating System yang bermula dari batang otak7
(. %etensi cairan dan elektrolit pada hari pertama kejadian
*. Peningkatan tekanan intra kranial 6E edema serebri7
+. Perdarahan berupa petechiae parenchymal sampai perdarahan besar
-. $erusakan otak primer berupa cedera pada akson yang bisa merupakan peregangan
ataupun sampai robeknya akson di substansia alba yang bisa meluas secara difus ke
hemisfer sampai ke batang otak
.. $erusakan otak sekunder akibat proses desak ruang yang meninggi dan komplikasi
sistemik hipotensi, hipoksemia dan asidosis
#kibat adanya cedera otak, maka pembuluh darah otak akan melepaskan serotonin bebas
yang berperan akan melonggarkan hubungan antara endotel dinding pembuluh darah sehingga
lebih permeabel, maka 4lood 4rain 4arrier 6sawar darah otak7 pun akan terganggu, dan
terjadilah edema otak regional atau difus 6vasogenik oedem serebri7.
9dema serebri lokal akan terbentuk *' menit sesudah mendapat trauma dan kemudian
edema akan menyebar membesar. 9dema otak lebih banyak melibatkan sel2sel glia, terutama
pada sel astrosit 6intraseluler7 dan ekstraseluler di substansia alba. 4ila edema serebri itu meluas
berturut2turut akan mengakibatkan meningkatnya tekanan intra kranial, kemudian terjadi
kompresi dan hipoksia iskemik hemisfer dan batang otak dan akibat selanjutnya bisa
menimbulkan herniasi transtentorial ataupun serebellar yang berakibat fatal.
)
#da sekitar .'20' K pasien yang meninggal dikarenakannya herniasi transtentorial dan
kelainan batang otak tanpa adanya lesi primer akibat trauma langsung pada batang otak.
$erusakan yang hebat yang disertai dengan kerusakan batang otak akibata proses diatas
mengakibatkan kelainan patologis nekroskortikal, demielinisasi difus, banyak neuron yang rusak
dan proses gliosis, sehingga jika penderita tidak meninggal maka bisa terjadi suatu keadaan
vegetatif dimana penderita hanya dapat membuka matanya tanpa ada daya apapun 6akinetic2
mutism<coma vigil, apallic state, locked in syndrome7.
Sistem peredaran darah otak mempunyai sistem autoregulasi untuk mempertahankan
Cerebral 4lood 5low 6C457 yang optimal sehingga Tekanan Perfusi Itak 6TPI7 juga adekuat
6TPI minimal adalah sekitar +'2-' mm>g untuk mensuplai seluruh daerah otak7. /ika Tekanan
1ntra $ranial 6T1$7 meninggi maka akan menekan kapiler serebral sehingga terjadi hipoksia
serebral yang difus dan mengakibatkan penurunan kesadaran.
Peninggian T1$ mengakibatkan C45 dan TPI menurun, maka akan terjadi kompensasi
6Cushing respons7, penekanan pada daerah medulla oblongata, hipoksia pusat vasomotor,
sehingga mengakibatkan kompensasi vasokonstriksi perifer 6peninggian tekanan darah sistemik7
bradikardi, pernafasan yang melambat dan muntah2muntah.
T1$ yang meninggi mengakibatkan hipoksemia dan alkalosis respiratorik 6PI( menurun
dan PCI( meninggi7 akibatnya terjadi vasodilatasi kapiler serebral. Selama pembuluh darah
tersebut masih sensitif terhadap tekanan CI(, maka C45 dan TPI akan tercukupi.
/ika kenaikan T1$ terlalu cepat maka Cushing respons tidak selalu terjadi. Demikian pula
jika penurunan tekanan darah sistemik terlalu cepat dan terlalu rendah maka sistem autoregulasi
tidak dapat berfungsi dan C45 pun akan menurun sehingga fungsi serebral terganggu.
Selain yang tersebut diatas peninggian T1$ juga dapat menyebabkan gangguan konduksi
pada pusat respirasi dan pusat kardiovaskuler di batang otak. #kibatnya pons berubah cepat dan
lemah serta tekanan darah sistemik akan drops menurun secara drastis. %espirasi akan berubah
menjadi irreguler, melambat dan steatorous.
Pada cedera otak berat terjadi gangguan koordinasi di antara pusat pernafasan volunter di
korteks dengan pusat pernafasan automatik di batang otak. Ternyata bahwa herniasi serebellar
('
tonsil ke bawah yang melewati foramen magnum hanya mempunyai efek yang minimal terhadap
sistem kecepatan dan ritme pernafasan, kecuali jika herniasinya memang sudah terlalu besar
maka tiba2tiba saja bisa terjadi respiratory arrest.
MONITORING KLINIS
(1/:)
,ntuk memonitor keadaan dan kesadaran pasien, dapat dilakukan secara kualitatif dan
kuantitatif. !amun penilaian kesadaran secara kualitatif 6compos mentis, somnolen, spoor,
coma7 tidaklah cukup karena penilaian ini sangat subyektif, sehingga tidak memiliki acuan yang
pasti. ,ntuk memonitor kesadaran pasien, digunakanlah 8lasgow Coma Scale 68CS7 atau skala
koma 8lasgow 6oleh 4ryan /ennett7, dimana indikator yang dinilai adalah respon visual, repons
verbal dan respons motorik. /ika pengamatan tingkat kesadaran penderita trauma kapitis tidak
cukup lengkap atau hanya dengan 8CS, maka belumlah dapat menggambarkan keadaan
neurologik penderita yang sebenarnya.
Ibservasi neurologik terus menerus penderita koma haruslah disertai dengan "
. &onitor fungsi batang otak
4esar dan reaksi pupil
%espon okulosefalik 6DollFs eye phenomenon7
%espon okulovestibular<okuloauditorik
(. &onitor pola pernafasan 6untuk melihat lesi2proses lesi7
Cheyne Stokes " lesi di hemisfer atau mesensefalon atas
Central neurogenic hyperventilation " lesi dibatas mesensefalon dengan pons
#pneustic breathing " lesi di pons
#ta?ic breathing " lesi di medulla oblongata
*. Pemeriksaan fungsi motorik
$ekuatan otot
(
%efleks tendon, tonus otot
+. Pemeriksaan funduskopi
-. Pemeriksaan radiologi " rontgen foto tengkorak, CT2Scan, &%1 atau kalau perlu 998
GLASGO; *OMA S*ALE
(1/4/:)
!ilai
%espon ;isual Spontan +
#tas perintah *
Terhadap nyeri (
Tak ada reaksi
%espons ;erbal Irientasi baik -
4ingung2bingung +
$ata2kata ngawur *
$ata2kata tak dimengerti (
Tak ada reaksi
%espons &otorik 8erak turut perintah .
&enghindari terhadap nyeri -
5le?i withdrawal +
5le?i abnormal *
9kstensi terhadap nyeri (
Tak ada reaksi
Dengan bantuan pemeriksaan radiologi M foto polos<4rain CT2Scan<&%1 dapat melihat
kelainan2kelainan berupa fraktur, edema, kontusio jaringan, hematoma intrakranial dan lain2lain.
((
KLASIFIKASI
(1/3/4)
#da beberapa jenis klasifikasi trauma kapitis, tetapi dengan pelbagai pertimbangan dari
berbagai aspek, maka bagian neurologi menganut pembagian sebagai berikut "
a. Trauma kapitis yang tidak membutuhkan tindakan operatif 6)-K7 terdiri atas "
. $omosio serebri
(. $ontusio serebri
*. impressi fraktur tanpa gejala neurologis 6D cm7
+. 5raktur basis kranii
-. 5raktur kranii tertutup
b. Trauma kapitis yang memerlukan tindakan operatif 62-K7
. >ematoma intra kranial yang lebih besar dari =- cc
9pidural
Subdural
1ntraserebral
(. 5raktur kranii terbuka 6 E laserasio serebri7
*. 1mpressi fraktur dengan gejala neurologis 6 H cm7
+. @ikuorrhoe yang tidak berhenti dengan pengobatan konservatif
Sebagai penambah pengetahuan perlu dijelaskan bahwa ada beberapa sentra yang
membagi klasifikasi atas dasar sehubungan dengan 8lasgow Coma Scale2nya yaitu "
&ild head injury 8CS score " *2-
&oderate head injury 8CS score " )2*
Severe head injury 8CS score " D 0
(*
/ika angka S$8 dibawah 0 dan komanya lebih dari . jam maka menunjukkan kerusakan
otak yang parah dan prognosa biasanya jelek. @ebih dalam dan lama komanya juga
menggambarkan atau mempunyai korelasi dengan lebih dalamnya letak kerusakan otaknya.
1. KOMOSIO SEREBRI
(1/2)
6gegar otak, insiden " 0' K7
$omosio serebri yaitu disfungsi neuron otak sementara yang disebabkan oleh trauma kapitis
tanpa menunjukkan kelainan mikroskopis jaringan otak.
Patologi dan Simptomatologi
4enturan pada kepala menimbulkan gelombang tekanan di dalam rongga tengkorak yang
kemudian disalurkan ke arah lobang foramen magnum ke arah bawah canalis spinalis dengan
demikian batang otak teregang dan menyebabkan lesi iritatif<blokade sistem reversible
terhadap sistem #%#S. Pada komosio serebri secara fungsional batang otak lebih menderita
daripada fungsi hemisfer. $eadaan ini bisa juga terjadi oleh karena tauma tidak langsung
yaitu jatuh terduduk sehingga energi linier pada kolumna vertebralis diteruskan ke atas
sehingga juga meregangkan batang otak.
#kibat daripada proses patologi di atas maka terjadi gangguan kesadaran 6tidak sadar kurang
dari (' menit7 bisa diikuti sedikit penurunan tekanan darah, pols dan suhu tubuh. &untah
dapat juga terjadi bila pusat muntah dan keseimbangan di medula oblongata terangsang.
8ejala "
2 pening<nyeri kepala
2 tidak sadar<pingsan kurang dari (' menit
2 amnesia retrograde " hilangnya ingatan pada peristiwa beberapa
lama sebelum kejadian kecelakaan 6beberapa jam sampai beberapa hari7. >al ini
menunjukkan keterlibatan<gangguan pusat2pusat di korteks lobus temporalis.
(+
2 Post trumatic amnesia " 6anterograde amnesia7 lupa peristiwa
beberapa saat sesudah trauma.
Derajat keparahan trauma yang dialaminya mempunyai korelasi dengan lamanya
waktu daripada retrograde amnesia, post traumatic amnesia dan masa2masa confusionnya.
#mnesia ringan disebabkan oleh lesi di hipokampus, akan tetapi jika amnesianya berat dan
menetap maka lesi bisa meluas dari sirkuit hipokampus ke garis tengah diensefalon dan
kemudian ke korteks singulate untuk bergabung dengan lesi diamigdale atau proyeksinya ke
arah garis tengah talamus dan dari situ ke korteks orbitofrontal. #mnesi retrograde dan
anterograde terjadi secara bersamaan pada sebagian besar pasien 6pada kontusio serebri =. K
dan komosio serebri - K7. #mnesia retrograde lebih sering terjadi daripada amnesia
retrograde. #mnesia retrograde lebih cepat pulih dibandingkan dengan amnesia anterograde.
8ejala tambahan " bradikardi dan tekanan darah naik sebentar, muntah2muntah, mual,
vertigo. 6vertigo dirasakan berat bila disertai komosio labirin7.
4ila terjadi keterlibatan komosio medullae akan terasa ada transient parestesia ke empat
ekstremitas.
8ejal2gejala penyerta lainnya 6sindrom post trauma kapitis7, adalah nyeri kepala,
nausea, di::iness, sensitif terhadap cahaya dan suara, iritability, kesukaran konsentrasi
pikiran, dan gangguan memori.
Sesudah beberapa hari atau beberapa minggu G bisa di dapat gangguan fungsi kognitif
6konsentrasi, memori7, lamban, sering capek2capek, depresi, iritability. /ika benturan
mengenai daerah temporal nampak gangguan kognitif dan tingkah laku lebih menonjol.
Prosedur Diagnostik "
(-
T%#,&#
%etrograde amnesia unconscious confused recovered
Post traumatic amnesia T1&S
. M foto tengkorak
(. @P, jernih, tidak ada kelaina
*. 998 normal
Terapi untuk komosio serebri yaitu " istirahat, pengobatan simptomatis dan mobilisasi
bertahap. Setiap penderita komosio serebri harus dirawat dan diobservasi selama minimal =(
jam. #wasi kesadarannya, pupil dan gejala neurologik fokal, untuk mengantisipasi adanya
lusid interval hematom.
2. KONTUSIO SEREBRI
(1/2/3)
6memar otak, insiden " -2) K7
$ontusio serebri yaitu suatu keadaan yang disebabkan trauma kapitis yang
menimbulkan lesi perdarahan intersitiil nyata pada jaringan otak tanpa terganggunya
kontinuitas jaringan dan dapat mengakibatkan gangguan neurologis yang menetap.
/ika lesi otak menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan, maka ini disebut
laserasio serebri.
Patofisiologi dan 8ejala " Pasien tidak sadar H (' menit
5ase 1 B fase shock
$eadaan ini terjadi pada awal ( ? (+ jam disebabkan "
2 kolaps vasomotorik dan kekacauan regulasi sentral vegetatif
2 temperatur tubuh menurun, kulit dingin, ekstremitas dan muka
sianotik
2 respirasi dangkal dan cepat
2 nadi lambatsebentar kemudian berubah jadi cepat, lemah dan
iregular
(.
2 tekanan darah menurun
2 refleks tendon dan kulit menghilang
2 babinsky refleks positif
2 pupil dilatasi dan refleks cahaya lemah
5ase 11 B fase hiperaktif central vegetatif
2 temperatur tubuh meninggi
2 pernafasan dalam dan cepat
2 takikardi
2 sekret bronkhial meningkat berlebihan
2 tekanan darah menaik lagi dan bisa lebih dari normal
2 refleks2refleks serebral muncul kembali
5ase 111 B cerebral oedema
5ase ini sama bahayanya dengan fase shock dan dapat mendatangkan kematian jika tidak
ditanggulangi secepatnya.
5ase 1; B fase regenerasi<rekonvalesens
Temperatur tubuh kembali normal, gejala fokal serebral intensitas berkurang atau
menghilang kecuali lesinya luas.
8ejala lain "
5okal neurologik "
>emiplegia, tetraplegia, decerebrate rigidity
4abinsky refleks
(=
#fasia, hemianopsia, kortikal blindness
$omplikasi saraf otak "
2 fraktur os criribroformis " gangguan !. 1 6olfaktorius7
2 fraktur os orbitae " gangguan !. 111, 1; dan ;1
2 herniasi uncus, gangguan !. 111
2 farktur os petrosum 6hematotympani7 " gangguan !. ;11 dan !.
;111
2 perdarahan tegmentum " batang otak G opthalmoplegia total
2 fraktur basis kranii post " gangguan !. M, M1, M11
Tanda rangsang meningeal " akibat iritasi daerah yang mengalir ke arachnoid
8angguan organik brain sindroma " delirium
$ontusio Serebri pada #nak2anak
$ontusio serebri pada anak2anak dibawah . tahun kadang2kadang gejalanya berbeda dengan
dewasa antara lain "
. adanya fase latent, dimana anak tersebut tak menunjukkan kelainan kesadaran dan
tingkah laku. 5ase latent ini dapat berlangsung dampai . jam.
(. sesudah fase latent, diikuti serangan akut gejala fokal serebral serta kehilangan
kesadaran dan kejang2kejang.
*. jika kondisi kontusionya tidak berat maka sesudah + hari sang anak pulih normal
bermain2main seakan tidak ada apa2apa lagi.
(0
>al ini disebabkan anak2anak tidak melalui fase 1 shock, tapi langsung ke fase 11. Di duga hal
tersebut dikarenakan tulang kranium anak masih elastis sehingga berfungsi sebagai shock
absorber yang baik terhadap trauma.
Diagnostik bantu "
. M foto tengkorak polos, 4rain CT2Scan, &%1
(. @P bercampur darah
*. 998 abnormal
3. EPIDURAL HEMATOM
(1/2/3)
>ematoma terjadi karena perdarahan antara tabula interna kranii dengan duramater.
1nsiden terjadinya 2* K.
Patofisiologi dan Simptomatologi
>ematoma ini disebabkan oleh "
. pecahnya arteri dan atau vena meningea media
(. perdarahan sinus venosus " misalnya sinus sphenoparietalis, sinus sagitalis posterior.
Perdarahn sinus ini bisa bersifat progresif.
4erhubung perdarahannya kebanyakan massif atau arteriil maka lucid interval cepat
antara beberapa menit, beberapa jam sampai 2( hari. ;olume darah biasanya setelah
mencapai =- cc dan melepaskan duramater dari ikatannya pada periost baru tampak ada
gejala nyata penurunan kesadaran. @ucid interval adalah waktu sadar antara terjadinya
trauma sampai timbulnya penurunan kesadaran ulang. /adi biasanya epidural hematoma
sering bersamaan dengan komosio serebri atau kontusio serebri. /ika bersamaan dengan
kontusio serebri berat, lusid interval tidak tampak karena gejalanya berhubungan antara
superposisi dengan kontusionya.
()
Pada anak2anak jarang terjadi epidural hematom sebab duramaternya masih melekat
erat pada dinding periosteum kranium. Pada dewasa perlekatan duramater paling lemah di
daerah temporal.
Tanda2tanda yang paling dapat dipercaya suatu epidural hematom apabila ada gejala2
gejala seperti dibawah "
. adanya lucid interval
(. kesadarn yang makin menurun
*. hemiparese yang terlambat kontralateral lesi
+. pupil anisokor. ,nilateral midriasis terjadi karena lesi !. 111 pada sisi akibat
penekanan daripada herniasi uncus gyrus hipokampus lobus temporalis sehingga !.
111 terjerat
-. babinsky unilateral kontralateral lesi 6bisa juga bilateral7
.. fraktur kranii yang menyilang pada sisi 6sering di temporal7
=. kejang
0. bradikardi
/ika epidural hematom terletak pada fossa kranii posterior gejalanya tidak sama dengan
yang di atas, tapi sebagai berikut "
. lusid interval tidak jelas
(. fraktur kranii daerah oksipital
*. kehilangan kesadarannya terjadi cepat
+. terjadi gangguan pernafasan dan serebellum
-. pupil isokor
biasanya disebabkan oleh karena sinus transversus atau confluence sinuum pecah maka
prognosanya jelek.
*'
Diagnosa bantu
. M foto tengkorak " ada fraktur yang menyilang
(. 4rain CT2Scan
*. #rteriografi karotis
+. 998 abnormal
-. @P tekana meninggi jernih
4. SUBDURAL HEMATOMA
(1/2/3)
>ematoma yang terbentuk karena adanya perdarahn di antara duramater dan
arakhnoid. >ygroma subdural yaitu subdural hematom yang diikuti perobekan arakhnoid dan
darah bergabung dengan likuor serebrospinal
Penyebabnya adalah robeknya bridging vein 6vena2vena yang menyebrang dari
korteks ke sinus2sinus sagitalis superior7 antara lain "
. trauma kapitis
(. kaheksia
*. gangguan diskrasia darah
lokasi " sering di daerah frontal, parietal dan temporal.
Subdural hematom sering bersamaan dengan kontusio serebral. @usid interval pada subdural
hematoma lebih lama daripada epidural hematom karena yang mengalami perdarahan adalah
pembuluh darah venous kecil akibatnya perdarahannya tidak masif bahkan hematomanya itu
sendiri bisa sebagai tampon bagi vena2vena yang robek dimana perdarahan dapat berhenti
sendir.
$lasifikasi "
a. #kut Subdural >ematoma 6SD>7 " lusid interval '2- hari
*
#kut SD> biasanya bersamaan dengan kontusio berat akibatnya lusid interval dan gejala
subdural tidak terdeteksi. 4iasanya diketahui pada diagnosa postmortem atau pada saat
otopsi. Penderita akut SD> langsung jatuh koma, pupil anisokor dan hemiplegia
kontralateral. Prognosisnya fatal.
Diagnosis bantu "
2 CT2Scan
2 @P berdarah
2 #rteriografi karotis
2 998 abnormal

b. Subakut Subdural >ematoma " lusid interval -2- hari
8ejala nyeri kepala, kesadaran makin lama makin menurun, pelan2pelan visus makin
kabur disebabkan papil oedema. /arang bersamaan dengan kontusio serebri. $emudian
timbul hemiplegia secara perlahan.
Diagnosa bantu " sama dengan akut SD>
Prognosis sangat baik jika operatif pada subdural yang besar cepat dilakukan =- K
kembali sembuh sempurna.
c. $ronik Subdural >ematoma " lusid interval - hari sampai bertahun2tahun
Pecahnya bridging vein makin lama makin besar dan hematomanya sendiri berfungsi
sebagai tampon bagi vena2vena yang pecah akibatnya perdarahn berhenti, hematoma
kemudian membeku dan dinding hematoma membentuk jaringan ikat kapsula sebagai
pembatas di sekitar hematoma. 8umpalan darah kemudian lisis dengan osmolaritas lebih
tinggi dari cairan intersitiil di sekitarnya yang bisa menarik cairan sekitarnya atas dasar
beda osmolaritas. @ama kelamaan cairan jumlahnya bertambah sehingga mengakibatkan
proses desak ruang dan tekanan intrakranial meninggi.
8ejala awal "
*(
. sefalgia terus menerus intermiten, sebab tertariknya duramater dan kompresi
jaringan otak di daerah sekitar hematoma
(. kesadaran makin lama makin menurun samapi koma
*. terjadi perubahan mental dan fungsi intelelek
+. papil oedem, pandangan makin kabur dan diplopia parese !. ;1
-. hemiparesis yang pelan2pelan
.. pupil bisa anisokor
=. tekanan @P meninggi
:. INTRASEREBRAL HEMATOMA
(1/2/3)
Perdarahan dalam jaringan otak karena pecahnya arteri yang besar di dalam jaringan
otak, sebagai akibat trauma kapitis berat, kontusio berat. >ematoma dapat hanya satu saja
ataupun multiple.
/ika hematoma tunggal dan letaknya di permukaan korteks, tindakan operatif dapat
dilakukan. Pada semua kasus intra kranial hematoma, bila hematomanya kecil, pengobatan
konservatif dapat dipertimbangkan tanpa memerlukan tindakan operatif.
6. FRAKTUR BASIS KRANII
(1/2/3)
5raktur basis kranii dapat dilakukan tanpa diikuti kehilangan kesadaran, kecuali
memang diserta adanya komosio ataupun kontusio serebri. 8ejala tergantung letak
frakturnya.
. 5raktur basis kranii media biasanya fraktur terjadi pada os petrosum
2 keluar darah dari telinga dan likuorrhoe
2 parese !. ;11 dan ;111 sering dijumpai
(. 5raktur basis kranii posterior
**
2 unilateral<bilateral orbital hematom 64rillFs hematom7
2 gangguan !. 11 jika fraktur melalui foramen optikum
2 perdarahan melalui hidung dan likuorrhoe dan diikuti " #nosmia,
anosmia akibat trauma bisa persistent, jarang bisa sembuh sempurna.
*. 5raktur basis kranii posterior
2 gejala lebih berat, kesadaran menurun
2 tampak belakang telinga berwarna biru 64attle sign7
Diagnosa bantu " -' K fraktur basis tidak dapat dilihat pada M foto polos basis.
PEMERIKSAAN RADIOLOGIS PADA TRAUMA KAPITIS
(1)
R-n&"n F-&- T"n'-)a'
5raktur tengkorak pada trauma kapitis hanya *2- K saja dan kasus2kasus yang ada fraktur tidak
ada selalu ada kelainan intra kranial yang berarti. !amun demikian M foto polos rutin dilakukan
untuk setiap kasus trauma kapitis. 1ni penting sebab "
. Dari semua kematian akibat trauma kepala 0' K didapati fraktur tengkorak
(. Pembuatan M foto tengkorak diperlukan untuk kepentingan medikolegal
*. Tindakan atau pengawasan klinik ditentukan dengan melihat jenis dan lokasi fraktur
/enis foto "
. 5oto antero2posterior
(. 5oto lateral
*. 5oto Towne " foto ini dibuat seperti foto #P tetapi dengan tabung rontgen diarahkan
*' derajat kraniokaudal. 5oto ini penting untuk melihat fraktur di daerah oksipital
yang sulit di lihat dengan foto #P
+. 5oto 3aters " dibuat bila curiga ada fraktur tulang muka
*+
-. 5oto basis kranii " dibuat bila curiga ada fraktur basis
.. 5oto tangensial " dibuat bila ada fraktur impresi, untuk melihat kedudukan pas
fragmen tulang yang melesak masuk
$eterangan gambar "
. epidural hematoma<subdural hematom
(. intra serebral hematoma
*. impresio<depressed fraktur
+. herniasi uncus
/enis2jenis fraktur tengkorak "
(1/2/3)
. 5raktur linier " garis fraktur terlihat lebih radiolusen dibandingkan dengan gambaran
pembuluh darah dan sutura, dan biasanya melebar pada bagian tengah dan menyempit pada
ujung2ujungnya. Perhatikan juga lokasi pembuluh darah dan sutura mempunyai lokasi
anatomis tertentu.
(. 5raktur impressi " jika impressi melebihi cm dapat merobek duramater dan atau
jaringan otak dibawahnya. 5raktur impressi terlihat sebagai garis atau daerah yang
radiopaCue dari tulang sekitarnya disebabkan bertumpuknya tulang.
*. 5raktur diastasis sutura " tampak sebagai pelebaran sutura 6dalam keadaan normal sutura
tidak melebihi ( mm7
*T,S1an O&a'
(1)
Tidak semua penderita trauma kepala dilakukan CT2Scan otak, penguasaan klinis mengenai
trauma kapitis yang kuat dapat secara seleksi menentukan kapan penderita secara tepat dilakukan
CT2Scan. Dari CT2Scan dapat dilihat kelainan2kelainan berupa " oedema serebri, kontusio
jaringan otak, hemaroma intraserebral, epidural, subdural, fraktur dan lain2lain.
An(-)a+(
(1)
*-
Sistem rapid serial film ' film<detik
&emakai kontras " angiografin .- K, conray .', hypaCue sodium dan lain2lain
/enis angiografi "
2 karotis 6paling sering7
2 vertebralis 6jarang7
Cara melakukan dengan G
. 5ungsi langsung 6pada a. karotis komunis, sedikit dibawah bifurcatio7
(. 5ungsi tak langsung 6dengan kateter dari daerah a. femoralis7 angiografi pada trauma
kapitis penting untuk memperlihatkan epidural atau subdural hematomanya.
PENATALAKSANAAN
(4)
P"5-2an R"!%!(&a!( 5an P"n(#a(an a@a#
. &enilai jalan napas" bersihkan jalan napas, lepaskan gigi palsu, pertahankan tulang servikal
segaris dengan badan, pasang guedel, bila perlu intubasi.
(. &enilai pernapasan" tentukan apakah pasien bernapas spontan atau tidak.
*. &enilai sirkulasi" otak yang rusak tidak mentolerir hipotensi. >entikan semua perdarahan.
Pasang jalur intravena yang besar, ambil darah vena untuk pemeriksaan darah perifer
lengkap, ureum, elektrolit, glukosa, dan analisis gas darah arteri. 4erikan larutan koloid,
larutan kristaloid 6dekstrosa atau dekstrosa dalam salin7 dapat menimbulkan eksaserbasi
edema otak pasca cedera kepala.
+. Ibati kejang" &ula2mula berikan dia:epam ' mg intravena perlahan2lahan dan dapat
diulangi sampai * kali bila masih kejang. 4ila tidak berhasil dapat diberikan fenitoin -
mg<kg44 diberikan intravena perlahan2lahan dengan kecepatan tidak melebihi -' mg<menit.
-. &enilai tingkat keparahan
P"5-2an P"na&a#a'!anaan
*.
. Pada sernua pasien dengan cedera kepala dan atau leher, lakukan foto tulang belakang
servikal 6proyeksi antero2posterior. lateral, dan odontoid7, kolar servikal baru dilepas setelah
dipastikan bahwa seluruh tulang servikal Cl 2C= normal.
(. Pada semua pasien dengan cedera kepala sedang dan berat, lakukan prosedur berikut"
2 Pasang jalur intravena dengan larutan salin normal 6!aC1 ',)K7 atau larutan %inger
laktat" cairan isotonis lebih efektif mengganti volume intravaskular daripada cairan
hipotonis, dan larutan ini tidak menambah edema serebri.
2 @akukan pemeriksaan" hematokrit, periksa darah perifer lengkap, trombosit, kimia
darah" glukosa, ureum, dan kreatinin, masa protrombin atau masa tromboplastin parsial,
skrining toksikologi dan kadar alkohol bila perlu
*. @akukan CT Scan dengan jendela tulang" foto rontgen kepala tidak diperlukan jika CT2 Scan
dilakukan, karena CT Scan ini lebih sensitif untuk mendeteksi fraktur. Pasien dengan cedera
kepala ringan, sedang, atau berat, harus dievaluasi adanya"
2 >ematoma epidural
2 Darah dalarn subaraknoid dan intraventrikel
2 $ontusio dan perdarahan jaringan otak
2 9dema serebri
2 Ibliterasi sisterna perimesensefalik
2 Pergeseran garis tengah
2 5raktur kranium, cairan dalarn sinus, dan pneumosefalus.
+. Pada pasien yang korna 6skor 8CS D 07 atau pasien dengan tanda2tanda hemiasi, lakukan
tindakan berikut ini "
2 9levasi kepala *'
o
2 >iperventilasi
*=
2 4erikan manitol (' K g<kgbb intravena dalarn ('2*' menit. Dosis ulangan dapat
diberikan +2. jam kemudian <+ dosis semula setiap . jam sampai maksimal +0 jam
pertama
2 Pasang kateter 5oley
2 $onsul bedah saraf bila terdapat indikasi operasi
P"na&a#a'!anaan K3%!%!
. Cedera kepala ringan" pasien dengan cedera kepala ini umumnya dapat dipulangkan ke
rumah tanpa perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan bila memenuhi kriteria berikut"
2 >asil pemeriksaan neurologis 6terutama status mini mental dan gaya berjalan7 dalam
batas normal
2 5oto servikajelas normal
2 #da orang yang bertanggung2jawab untuk mengamati pasien selama (+ jam pertama,
dengan instruksi untuk segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala
perburukan
$riteria perawatan di rumah sakit"
2 #danya darah intrakranial atau fraktur yang tampak pada CT Scan
2 $onfusi, agitasi, atau kesadaran menurun
2 #danya tanda atau gejala neurologis fokal
2 1ntoksikasi obat atau alkohol
2 #danya penyakit medis komorbid yang nyata
2 Tidak adanya orang yang dapat dipercaya untuk mengamati pasien di rumah.
*0
(. Cedera kepala sedang" pasien yang menderita konkusi otak 6komosio otak7, dengan skala
korna 8lasgow - dan CT Scan normal, tidak pertu dirawat. Pasien ini dapat dipulangkan
untuk observasi di rumah, meskipun terdapat nyeri kepala, mual, muntah, pusing, atau
amnesia. %isiko timbu1nya lesi intrakranial lanjut yang bermakna pada pasien dengan cedera
kepala sedang adalah minimal.
*. Cedera kepala berat" Setelah penilaian awal dan stabilisasi tanda vital, keputusan segera pada
pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah saraf segera 6hematoma
intrakranial yang besar7. /ika ada indikasi, harus segera dikonsulkan ke bedah saraf untuk
tindakan operasi. Penatalaksanaan cedera kepala berat seyogyanya dilakukan di unit rawat
intensif.
2 Penilaian ulang jalan napas dan ventilasi
2 &onitor tekanan darah
2 Pemasangan alat monitor tekanan intrakranial pada pasien dengan skor 8CS D 0, bila
memungkinkan.
2 Penatalaksanaan cairan" hanya larutan isotonis 6salin normal atau larutan %inger
laktat7 yang diberikan kepada pasien dengan cedera kepala karena air bebas tambahan
dalam salin ',+-K atau dekstrosa - K dalam air 6D-37 dapat menimbulkan eksaserbasi
edema serebri.
2 !utrisi" cedera kepala berat menimbulkan respons hipermetabolik dan katabolik,
dengan keperluan -'2''K lebih tinggi dari normal.
2 Temperatur badan" demam mengeksaserbasi cedera otak dan harus diobati secara
agresif dengan asetaminofen atau kompres dingin.
2 #ntikejang" fenitoin -2(' mg<kg44 bolus intravena, kemudian *'' mg<hari
intravena. /ika pasien tidak menderita kejang, fenitoin harus dihentikan setelah =2 ' hari.
Steroid" steroid tidak terbukti mengubah hasil pengobatan pasien dengan cedera kepala
dan dapat meningkatkan risiko infeksi, hiperglikemia, dan komplikasi lain. ,ntuk itu,
*)
Steroid hanya dipakai sebagai pengobatan terakhir pada herniasi serebri akut
6deksametason ' mg intravena sebap +2. jam selama +02=( jam7.
2 Profilaksis trombosis vena dalam
2 Profilaksis ulkus peptik
2 #ntibiotik masih kontroversial. 8olongan penisilin dapat mengurangi risiko
meningitis pneumokok pada pasien dengan otorea, rinorea cairan serebrospinal atau
udara intrakranial tetapi dapat meningkatkan risiko infeksi dengan organisme yang lebih
virulen.
2 CT Scan lanjutan
K-2$#('a!( *"5")a K"$a#a B")a&
. $ebocoran cairan serebrospinal
(. 5istel karotis2kavemosus ditandai oleh trias gejala" eksolftalmos, kemosis, dan bruit orbita,
dapat timbul segera atau beberapa hari setelah cedera.
*. Diabetes insipidus oleh kerusakan traumatik pada tangkai hipofisis.
+. $ejang pasca trauma
PROGNOSIS
(4)
Prognosis setelah cedera kepala sering mendapat perhatian besar, terutama pada pasien
dengan cedera berat. Skor 8CS waktu masuk rumah sakit memiliki nilai prognostik yang besar"
skor pasien *2+ memiliki kemungkinan meninggal 0-K atau tetap dalam kondisi vegetatif,
sedangkan pada pasien dengan 8CS ( atau lebih kemungkinan meninggal atau vegetatif hanya
- 2 'K. Sindrom pascakonkusi berhubungan dengan sindrom kronis nyeri kepala, keletihan,
pusing, ketidakmampuan berkonsentrasi, iritabilitas, dan perubahan kepribadian yang
berkembang pada banyak pasien setelah cedera kepala. Sering kali berturnpang2tindih dengan
gejala depresi.
+'
DAFTAR PUSTAKA
. >asan Sjahrir, 1lmu Penyakit Saraf !eurologi $husus, Dian %akyat, /akarta, (''+
(. >arsono, $apita Selekta !eurologi, 8adjah &ada ,niversiti Press, Oogyakarta, (''-
*. &ahar &ardjono, Priguna Sidharta, !eurologi $linis Dasar, dian %akyat, /akarta, (''+
+. #rif &ansjoer dkk 9ditor, Trauma Susunan Saraf dalam $apita Selekta $edokteran edisi
$etiga jilid (, &edia #esculapius, /akarta, ('''
-. %obert @. &artu:a, Telmo &. #Cuino, Trauma dalam &anual of !eurologic Therapeutics
3ith 9ssentials of Diagnosis, *th ed, @itle 4rown N Co, ('''
+