Anda di halaman 1dari 135

Runner-Up Girl

MIRA berlari keeil sambi! bersenandung. Gadis tomboi


berambut pendek itu mengayun kakijenjangnya dengan riang.
Pagi masih dingin, walau terkonntaminasi deru mesin dan asap
kendaraan yang berseliweran. Bising dan semrawutPagi selalu
menjadi saat sibuk bagi Mira, dan dia sadar betul hal itu.
maka"nya dla selalu mengisi kegiatan pagi dengan
bersenandungdung. Selain untuk menyamarkan suara bising
disekelilingnya, juga untuk menjaga suasana hatinya tetapriang.
Mlra biasa ke sekolah berjalan kaki. Sesekali ia selingi
bersepeda. Selain bugar, juga mengurangi dampak pemanasan
global. Mira memang peduli kelestarian lingkungan Lagi pula
sekolahnya dekat, jalan jelas hemat dan sehat.
Dari rumah Mira tidak langsung ke sekolah. Dia Mampir ke
rumah Kelly, sahabatnya, yang hanya jarak tiga ratus meter dari
rumahnya. Kadang Mira ikut sarapan bersama keluarga Kelly
yang hangat. Tak heran bila Mira betah meluangkan waktu
bersama mereka, bahkan kadang mampir hanya untuk menyapa
adik Kelly yang tueu. Selanjutnya Mira dan Kelly akan berlari-
lari kedl di trotaar sambil bereanda ria menuju sekolah."Wah,
siapa yang mendandani rambutmu, Kel? Oikepang satu di atas
begitu jadi sangat eantik Iho," puji Mira.
Kelly tersipu. "Ah, kamu bisa aja." "Betul. Pita pink yang kamu
pakai membuat penampilanmu semakin manis," lanjut Mira.
Tanpa sadar dia meraba rambutnya yang pendek dan keriting.
Sudah pasti tak bisa diikat.~ Bahkan tidak eoeok diberi aksesori
apa
pun. Bukannya bertambah eantik, hiasan rambut justru
membuatnya kelihatan konyo!. Maklum, Mira tomboi abis.
"Kamu juga cantik! Aku memang memiliki rambut panjang, tapi
tidak punya mata lebar, berbinar, dan bening seperti matamu,
Mir!"
"Mmm... t api kamu memiliki adik lucu!"
"Kamu punya rumah megah dengan segala macam fasilita s
kamplet," sahut Kelly tak mau kalah.
"Kamu punya ibu yang pintar memasak dan sangat
baik!"
"Kamu punya ibu dan ayah kaya raya!" sahut Kelly
lagi.
"Ah, sudahlah, kita memang nggak sarna, dan karena itulah
persahabatan kita langgeng. Iya, kan?" Mira tidak ingin
melanjutkan perdebatan. Kelly tidak menyahut. Oia justru
menghentikan langkahnya. Matanya melotot ke satu arah. Mira
ikut berhenti
dan memandang Kelly dengan heran. Karena Kelly bergeming,
Mira segera mengalihkan pandangan ke arah yang sarna dengan
tatapan Kelly. Oi depan rumah megah di tepi jalan searang
cowok tengah memperhatikanmereka. Gelagatnya seolah
menunggu Kelly dan Mira lewat. Tanpa dikomanda, jantung
Kelly dan
Mira beradu cepat.
Kelly jadi grogi. "5epertinya dia menunggu kita deh."
"Udah, cuek aja!" sahut Mira sambil menggamit pergelangan
tangan Kelly. "Yuk jalan!"
Langkah Kelly mendadak canggung. Walau menunduk, Dia
masih mencuri pandang ke arah cowok bertubuh jangkung yang
masih berdiri di depan mereka. Semakin mendekat kearah
cowok itu, Kelly semakin salah tingkah. " hai' sapa cowok itu
begitu Mira dan Kelly berada
dalamjarak satu meter dari tempat dia menjejakan kaki
Mira dan Kelly menghentikan langkah, menatap cowok itu
penuh penasaran"Boleh bergabung? tanya si cowok berkulit
hitam dan berhidung mancung itu sambil tersenyum ramah.
Mira mengangkat bahu. la menoleh pada Kelly. Yang
ditoleh tersenyum malu-malu. Tangan Kelly meremas rok, tanda
grogi.
"Tiap pagi kulihat kalian ke sekolah jalan kaki, kayaknya asyik
banget. Makanya pagi ini aku mau ikutan.
Boleh, kan? Lagian seragam kita sama, berarti kita satu sekolah
dong!" cerocos cowok itu.
"Mmm.. . boleh saja, asal kamu nggak lebih cerewet daripada
Kelly, sahabatku ini," balas Mira sambil tertawa
ked l, lalu sedetik kemudian dibalas cubitan Kelly di lengannya.
Si cowok hitam manis tertawa renyah. Kemudian dia
mengulurkan tangan. "Aku Riku," ujarya memperkenalkandiri. "
Kalian?"
"Aha! Riku!" Kelly memekik. "Iya... aku tahu kamu. Kamu yang
jago main sepak bola itu, kan? Wah, aku senang sekali bisa
berkenalan denganmu. Namaku Kelly." Kelly tersenyum riang,
kemudian menjabat tangan
Riku lama.
Mira melirik Kelly. Rupanya sahabatnya sudah mampu
menguasai diri. Bahkan terkesan sok akrab pada Riku.
"Aduh, t angan kalian ada lemnya ya?" tegur Mira karena Kelly
tak juga menarik tangannya dan genggaman Riku.
Kelly dan Riku langsung melepas tangan mereka. Wajah Kelly
memerah. Dia melirik jutek pada Mira.
"Udah yuk, berangkat! Keburu telat nih!" Mira mengandeng
Kelly, lalu kedua cewek itu berjalan dengan langkah cepat.
Riku berjalan di belakang kedua gadis itu. "Namamu siapa?"
tanya Riku pada Mira.
"Aku Mira," balas Mira tanpa menoleh pada Riku.Riku
tersenyum. Dia mempercepat langkah agar tidaktertinggal dua
gadis yang berjalan supercepat itu.hampir saja mereka telat .
Begitu melewati gerbang sekolah, bel berbunyi. Riku beda
angkatan-kelas beda setahun di atas Mira dan Kelly.
" Dadaaah, Riku!" seru Kelly saat mereka berpisah menuju kelas
masing-masing. .
"ih... kegenit an deh, Kel!" tegur Mira pelan.
"Aduh, Mir. Riku cakep banget! Kulit cokelat, sorot Mata tajam,
hidung mancung, dan tubuhnya atletis banget !" Kelly mulai
nyerocos. Anak itu memang nggak pernah lihat cowok ganteng.
Bawaannya suka histeris, kayak melihat aktor-aktor Korea di
film Korea kegemanranya.
papamu juga berkulit cokelat, bermata tajam, dan Hidung
mancung. Tubuhnya atletis!" kata Mira yang sekarang duduk di
bangkunya dan sedang memasukkan tas ke atas meja.
"lh, Mira!" sungut Kelly sewot.
"Mmm, apa kelak aku juga akan menyukai cowok seperti
papaku? Tinggi, kalem,berkacamata, rapi, dan...punya otak?"
ucap Mira, nyaris bergumam.
"Emang Riku nggak punya otak?"
"Vee, sewot amat. Aku kan tidak sedang membandingkan
papaku dengan Riku. Lagian, kamu udah lupa ya. ada tujuh
kecerdasan majemuk. Nah, pada Riku jelas kecerdasan
kinestetiknya yang dominan dan kayaknya interpersonalnya juga
bagus tuh!"
Kelly mengangguk-angguk. Kelly sadar betul bahwa Mira anak
yang sangat cerdas, suka berpikir, dan gemar membaca.
Sedangkan Kelly lebih suka mengurus rumah, melakukan hal-
hal yang berhubungan dengan keterampilan tangan dan
ketekunan. Va, sifat Kelly dan Mira bertolak belakang. Namun
itu bukan halangan bagi mereka untuk bersahabat. Mereka justru
saling melengkapi.
***
Saat istirahat, Kelly dan Mira bertemu kembali dengan Riku di
pinggir lapangan sepak bola. Kali ilu Riku lidak sendirian. Dia
bersama seorang cowok.
"Hai, Mira, Kelly!" sapa Riku ketika mereka berpapasan.
"Mau menyantap bekal, ya? Kita barengan yuk!" ajak Riku.
Mereka duduk di sebangku semen di tepi lapangan.
"Kenalkan,ini Aoi, teman sekelasku," Riku memperkenalkan
cowok yang sedari tadi diam membisu di sampingnya.
Kelly dan Mira segera menjabat tangan Aoi. Wajah Aoi tak
berhias senyum sama sekali. Jabatan tangannya pun terasa kaku,
seolah dia tidak tulus melakukannya.
Mata Aoi sipit. Kacamata minus bertengger di hidungnya yang
mungil. Rambut Aoi lurus dan dipangkas sangat pendek,
memberi kesan rapi. Sebenamya Aoi ' tampan. Sayang, raut
wajahnya yang kaku memberi kesan tidak ramah. Juga bibimya
yang mungil tanpa senyum menambah ekspresi sinis cowok itu.
"Wah, untung aku nggak seangkatan dan sekelas denganmu.
Kalau sampai sekelas, aku lebih baik pindah kelas," kata Mira
pada Aoi saat mereka tengah menikmati bekal.
Aoi menoleh pada Mira sambil mengerutkan dahi
"Wajahmu mengganggu pemandangan. Memang kalau
tersenyum, bibirmu bisa gatal-gatal ya?" tanya Mira cuek
dengan mulut penuh makanan.
Aoi diam saja, sementara Kelly dan Riku terbahak. MIra
memang suka ceplas-ceplos. Apa saja yang ada di plklrannya
sering keluar tanpa pertimbangan.
"oi memang pendiam, Mir. Tapi otaknya encer banget .Dia
mencalonkan diri jadi ketua osis tahun ini,"ucap riku
"Apa peduliku, " balas Mira sambi! Menggigit sandwich tuna
kesukaannya.
"Mmm... oyam...." Riku cuma bisa geleng-geleng.
Sementara itu, Kelly segera memuji Aoi karena merasa tidak
enak dengan sikap Mira.
'Wah, Aoi hebat. Semoga kamu terpilih jadi ketua osis, ya."
Kelly tersenyum sambil menatap Aoi. Tapi Aoi diam saja seraya
menikmati snack-nya, tak menanggapi sedikit pun ucapan
simpatik Kelly. Aoi seolah hanya sendirian di tepi lapangan.
Kelly terlihat agak kecewa karena tak mendapatkan respons.
gadis manis itu
mendesah lirih ketika memalingkan wajah dan Aoi. Suasana
seketika menjadi kaku.
"Eh, nanti pulangnya kita bareng, kan?" tanya Riku pada Mira,
mencoba mencairkan suasana.
"Mmm, aku dan Kelly mau mampir ke apatek dulu," balas Mira
tanpa ekspresi sambil mengernasi wadah bekalnya.
"Ada yang sakit dan butuh obat, ya?" Riku bertanya lagi.
"Iya. Ternan di sebelah kamu itu kan butuh obat khusus.Siapa
tahu aku bisa nemuin obat yang bisa membuat wajahnya lebih
enak dilihat. Krim anticemberut, mungkin. Atau kalau mau
cepat sih aku bisa beliin puyer dosis tinggi sekalian!"Riku dan
Kelly lagi-Iagi terbahak.

Kini aoi menatap tajam mata Mira. Namun, bukan Mira
namanya kalau dia lantas rikuh atau gentar. Gadis tombai itu
justru membalas tatapan Aai dengan lebih tajam. Mereka berdua
bertatapan bagai dua musuh Padahal, mereka baru saja
berkenalan.
"Apa sih maumu?cari perhatian, ya?" tanya Aoi ketus. Sontak
Mira ternganga mendengar suara yang akhirnya keluar dari
mulut Aoi. "Aha! Akhimya aku berhasil memancingmu
mengeluarkan suara. Wah... suara kamu cocok tuh untuk cari
receh di perempatan!" ejek Mira.Aoi menatap Mira kesal.
Sebenamya emosi Aoi sudah tersulut sedari tadi. Rasarasanya
dia ingin menonjok wajah Mira. Tapi itu tak mungkin
dHakukannya karena MIra cewek. Hanya cowak tak bermartabat
yang bisa melakukan hal serendah itu. Untuk melampiaskan
kesalannya, Aoi menyepak kerikil yang menempel digulung
sepatunya.
"Hei... hei! Biasanya cowak dan cewek yang saling membenci
lama-lama jadi saling cinta Ioh!" goda Kelly, Mira dan Aoi
masih bertatapan dengan ekspresi tidak bersahabat.
" Ih, mana mungkin aku jatuh cinta sarna cowok robot kayak
gitu!" sambar Mira sambil pura-pura bergidik.
"Apalagi aku, balas Aoi. "Mending aku jomblo daripada punya
cewek .cabe rawit kayak kamu! Mulut kamupedes, tau!"
"Mending cabe rawit," Mira tak mau kalah.
" Biarpunpedes, banyak orang butuh dan suka cabe rawit.
Rumah makan yang banyak menu sambalnya malah lagi musim
dan laris manis. Nggak kayak robot, yang cuma bisa
menjalankan perintah, kaku kayak benda mati, dan nggak semua
orang butuh!"
Aoi makin kesal pada Mira. Dia ingin membalas katakata Mira,
tapi Riku keburu berdiri dan melerai pertikaian mereka. "Hei,
sudah... sudah! Kok malah bertengkar sih?" Riku geleng-geleng
melihat kelakuan dua temannya. "Sebentar lagi bel. Yuk kita ke
kelas!"
Kelly segera berdiri, lalu menarik tangan Mira. Sebenamya Mira
belum puas. Dia masih ingin berbalas kata-kata pedas dengan
Aoi. Namun bel istirahat berakhir bakal terdengar sebentar lagi.
Pelajaran berikutnya biologi. Guru biologi mereka t idak
memberikan toleransi
sedikit pun kepada anak yang terlambat masuk pelajarannya.
Mau takmau Mira mengikuti langkah Kelly yang bergegas
menuju kelas.
"Ih... aku nggak nyangka kamu punya teman seperti Lucifer
gitu!" kata Aoi pada Riku sepeninggal keduacewek itu.
Riku hanya tertawa sambil merangkul bahu Aoi. Kemudian
mereka juga berjalan menuju kelas.
MIRA duduk di tepi kolam renang sambi! Mendengarkan musik
dan menatap langit.
langit terlihat cerah. Wrna biru dan awan-awan putih yang
menghiasinya terlihat begitu serasi. Indah sekali. Sayang, hati
Mira tengah mendung. Dia kesepian.
Di rumahnya yang besar dan megah hanya ada dia dan beberapa
pembantu rumah tangga. Kadang rumahnya ramai kala para
pembantu bekerja sambil bersenda gurau. Sesekali Mira terlibat
dalam canda mereka, tapi di lubuk hati, tetap ia merasa
kesepian. la menginginkan
kehadiran mama-papanya. Orangtuanya kerap ke luar kota.
Kalaupun ada di rumah, sedikit sekali waktu yang di luangkan
mereka untuk Mira. Papa terlalu sibuk mengurus perusahaan,
sementara Mama lebih suka mengatur dan menekan Mira untuk
selalu berprestasi optimal.
Mengapa Mama tak seperti ibu Kelly ya? Ibu Kelly baik,
lembut, selalu di rumah untuk memasak, merawat tanaman, dan
mendengarkan apa pun kisah yang diceritakan
Kelly. Beruntung banget Kelly punya ibu seperti itu, batin Mira.
Jika berada di tengah keluarga Kelly, Mira merasa senang
sekaligus iri. dia rindu berada
dalam keluarga yang hangat dan saling mempematikan seperti
keluarga Kelly.
Huh... mengapa aku melamun saja han ini?! Mama
bisa marah kalau tahu aku di rumah hanya melamun.
Bisa habis telinga terbakar amarah Mama! keluh Mira dalam
hati. Dia pun bangkit dan menuju kamamya. Ada sesuatu yang
harus dikerjakannya segera.
Mira menyalakan laptop. Dia memeriksa ulang karya ilmiah
yang sudah dia kirimkan ke Kementerian lingkungan Hidup. dua
minggu lalu gadis itu mengirimkan
tulisannya untuk lomba tersebut. Walau naskahnya sudah
terkirim, Mira selalu membaca ulang karyanya.ditelitinya lagi
setiap kata yang ia tulis. Jangan-jangan ada kesalahan. Sedikit
saja kekeliruan membuat hatinya tak tenang.
Kali itu Mira sangat yakin akan kesempurnaan tulisannya.
Banyak waktu yang sudah dia korbankan untuk meneliti dan
menyusun subjek pilihannya menjadi karya ilmiah yang benar-
benar valid. Kalimat demi kalimat yang dituangkan berkali-kali
dia baca dan perbaiki hingga menjadi kalimat yang baik dan
enak dibaca. Mira yakin karyanya bakal menang. dia sudah
membayangkan, betapa senang mamanya bila dia menjadi juara
lomba tersebut. Hal itu memang dia lakukan demi mamanya.
Tolong aku, Tuhan. Karyaku sangat bagus dan aku
berjuang keras membuatnya. Besok hari istimewa ka
rena koran mengumumkan pemenangnya. Tuhan, aku
sungguh berharap, akulah juaranya. Bantu aku, Tuhan,
pliiis, Mira berdoa khusyuk. Setelah capek memelototi layar
laptop, Mira rebah di kasur. Terbayang di otaknya senyum
Mama yang akan mengembang lebar jika ia jadi juara nanti.
Mama pasti sangat bangga dengan prestasinya. Mama memang
perfeksionis dan sangat gila prestasi. Mira-Iah yang jadi sasaran
obsesi Mama. Mira dituntut berprestasi setinggi mungkin dalam
segala bidang. Sejak Mira kenyang mengikuti berbagai
perlombaan. di rumah sampai ada ruang khusus untuk
menyimpan piala dan piagam hasil
perlombaan yang diikuti Mira. Terkadang Mira tertekan
mengingat hal itu.
Semalaman Mira tak bisa terpejam. la terus memikirkan hari
esok. Berita baik atau berita burukkah yang di terimanya besok?
Baik bila dia menjuarai lomba itu,atau buruk bila namanya
sama sekali tak tercantum pada deretan pemenang.
Duh, aku menyesal telah memberitahu Mama dan
Papa bahwa aku ikut lomba. Kalau aku kalah, mereka
pasti san
gat kecewa. Harusnya kuberitahu kalau sudah
jelas aku menang! Mira mendadak gugup.
Duh, ada mesin waktu nggak sih? Teknologi sudah
begitu maju, tetapi mengapa nggak ada mesin waktu
ya? Saking gelisah, pikiran Mira mulai melantur. Kayaknya
aku harus jadi ilmuwan deh. Aku ingin membuat alat canggih
yang bisa membawa manusia ke masa lalu. Jadi, semua orang
bisa memperbaiki kesalahan masa lalunya. Ah, pasti
menyenangkan bila ada alat semacam
itu. Mira ngikik membayangkan ada alat secanggih itu.
Hampir tengah malam saat Mira baru saja terpejam, sebuah
ketukan halus di pintu kamar membuatnya urung tidur. Ternyata
Mama, yang baru pulang dari luar kota.
"Hai, Sayang," sapa Mama sambi! mengecup kening Mira
sekilas.
"Lho, kok pulang, Ma? Tengah malam begini?" tanya Mira
heran. "Mira kirain masih beberapa hari lagi."

"Besok pengumuman lomba karya tulis yang kamu ikuti, bukan?
Mama yakin kamu juaranya,Mir!"kataMama.
"Mama khusus pulang untuk menyiapkanmu pada acara
penerimaan hadiah bagi pemenang. Kita harus belanja baju baru
untuk han istimewamu itu."
"Jangan berharap tertalu banyak, Ma. Saingan Mira juga banyak,
kan?"
"Mir, jadi orang optirnis dong! Mau jadi apa kamu kalau sedikit-
sedikit berpikiran negatif dan menyerah begitu? Kamu hidup
dalam generasi yang kejam dan penuh persaingan. Kalau lembek
dan santai, kamu akan terlindas kehidupan. Kamu mati sia-sia
dan tak punya apa-apa Camkan itu baik-baik! Besok kamulah
juaranya!" tegas mama Mira.
Kata-kata Mama yang tajam menohok bagaikan pesawat tempur
yang menembaki Mira bertubi-tubi. Hati Mira jadi tak menentu.
Dia sungguh takut menghadapi esok.
MIRA bangun dengan wajah sembap karena kurang tidur. Dia
mencoba bemyanyi untuk menenteramk an hati. Tapi bibirnya
tak mampu mengeluarkan suara apa pun. Hatinya betul-betul
gentar. Keberadaan Mama dan pengumuman lomba betul-betul
kombinasi sempurna yang membuat nyalinya ciut.
Setelah mandi, sarapan, dan siap berangkat ke sekolah, Mira
berjalan tanpa semangat. Sesampainya di rumah Kelly, a hanya
mematung di depan pagar, menunggu sahabatnya ke luar.
Mira... masuk dulu, Sayang! terlak mama Kelly dan pintu
rumah. Tante bikin roti bakar enak Iho!
Saya masih kenyang, Tante, sahut Mira. Karena ada Mama,
mau tak mau Mira harus sarapan di rumah. Jika tidak, Mama
pasti mengomel. Mira terpaksa menyantap nasi goreng walau
lidah dan perutnya belum kepingin makan. Masih lebih baiklah,
daripada dia sarapan nasihat Mama. Bisa pusing sepanjang han
kalau pagi-pagi telinganya sudah disembur omelan.
Kelly berlari kecil menghampiri Mira. Hai, Mir sapa Kelly
riang. Ya ampun... tampangmu kusut benar pagi ni. Sudah
mandi belurn sih?
Mira memonyongkan bibir. lh, enak saja! Sudah man- di dong.
Tapi lupa sabunan, ujarnya cuek sambil mel angkah.
Kelly menjejeri langkah Mira. Pandangan Mira tidak fokus.
Beberapa kali dia hampir menabrak orang yang herpapasan
dengannya. Bukannya minta maaf pada orang yang hampir
ditabraknya, Mira malah cemberut (Ian membisu.
Hei, kamu kenapa sih? Butuh obat ketawa? Puyer dosis tinggi
barangkali? Kelly menggoda Mira.
Mira melotot, kemudian menunduk lagi. Entah berapa kdli ujung
sepatunya menyepak kenikil yang dia temui di jalan.
Lama-lama kamu mulai kayak Aol, gumam Kelly.
ldih... sembarangan! Mira sewot mendengar perk ataan
sahabatnya itu.
Mira nyengir. Son... aku kan hanya bercanda. Soaln ya pagi ini
tampangmu masam banget. Trus, kerikil nggak salah kok
disepak-sepak. Kasihan, kan? Kelly lagi-lagi mencoba melucu.
Mira menghela napas. Aku takut sekali, takut gagal hari ini.
Oh... han mi pengumuman lomba, ya? Wah, aku yakin kamu
menang, Mir! Kamu pinter, teliti, pandai merangkai kata. Jadi
aku yakin kamulah pemenaflgflYa. Kalau kamu nggak menang,
pasti jurinya salah baca tuh! Atau jangan.iaflgan ada peserta
yang lebih pintar daripada kamu? Ah, tapi itu nggak mungkin,
kan? cerocos Kelly.
Mira berhenti, kemudian menatap Kelly sehingga sahabatnya itu
jadi salah tingkah.
Hehe, memangnya ada yang salab dengan kata-kataku ya?
tanya Kelly sambil nyengir cemas.
Nggak usah ikut-ikutan menuntut kayak mamaku deh! balas
Mira, lalu Ia kembali berjalan.
Kelly terpaku sesaat, kemudiar mengelar sahabatflYa. Saat
sampai di depan rumah Riku, terlihat cowok itu tersenyum di
depan gerbang sambil memegang koran pagi.
Pagi, Mira! Ada kabar bagus untukmu! kata Riku. Mira
berusaha merebut koran di tangan Riku, tapi cowok itu menang
cepat menghmndari gerakan gesit Mira.
Please deh! seru Mira tak sabar.
Eits, janji dulu, kamu akan mentraktir kami kalau kamu jadi
salah satu juaranya.
Yang namanya juara itu cuma satu! Aku tidak mengenal istilah
juara dua atau tiga. Kalau aku di urutan kedua atau ketiga,
bagiku itu bukan juara!
Riku tercengang. Sungguh? Tapi... yang kedua dan ketiga suatu
saat bisa menjadi yang pertama, Mir! Kegagalan adalah sukses
yang tertunda.
Katakan itu pada mamaku! bentak Mira. Kemudian i merebut
koran dan tangan Riku. Cowok itu menyerah.
Mata Mira melotot, tangannya bergetar hebat hingga koran di
tangannya terjatuh. Sesaat kemudian, air mata mengalir di kedua
pipinya. Mira berlari. Dadanya sesak.
Kelly bengong melihat reaksi sahabatnya. Dia tidak mengira
Mira bisa sangat terpukul seperti itu. Kelly menatap Riku penuh
tanya.
Dia juara dua, kata Riku pelan, lebih menyerupai gumaman.
Oh my God! Dunia bakal kiamat! seru Kelly, kemudian
berlari mengejar Mira.
Mau tak mau Riku ikut berlari. Mereka bagaikan orang yang
tengah berkejaran sehingga membuat penasaran orang-orang di
sekitar mereka. Apalagi sesampainya di sekolah Mira tak juga
mengurangi kecepatan larinya. Ditambah dengan air mata yang
bercucuran di pipi Mira, adegan lari tiga kawanan itu semakin
mencuri perhatian. Tapi Mira tak peduli. Hatinya benar-benar
kalut.
Akhirnya Mira berhenti dan duduk di bangku semen di pinggir
lapangan sepak bola, tempat dia dan Kelly biasa menghabiskan
bekal makanan. Mira termenung. Air mata yang tadi mengucur
deras kini telah kering. Riku dan Kelly duduk mengapit Mira.
Mengapa harus bersedih, Mir? Ratusan karya masuk ke meja
juri dan menjadi pesaingmu. Bahkan, mereka tidak masuk
menjadi pemenang urutan berapa pun. Kamu di urutan kedua.
Kedua dan ratusan karya! Riku memberi penekanan pada
kalimat terakhir. Kamu hebat! Wajar bila Aoi juara satu, karena
sejak kelas tiga SMP dia mengikuti lomba ini, meskipun belum
pernah menang sebelumnya. Namun hari ini, setelah berkali-kali
ikut, dia jadi pemenangnya. Aku yakin kamu baru pertama kali
ml ikut lomba tersebut, dan langsung juara dua. Kamu sangat
hebat, Mm! hibur Riku penuh sem angat.
Mira menatap tajam pada Riku. Jadi... juara satunya Aoi? Si
robot yang menyebalkan itu? Tadi aku hanya melihat namaku,
tidak baca nama lain.
Namanya ada kok. Kamu aja yang nggak memperhatikan.
Riku mengangguk. Yang penting, ini prestasi besar bagi
sekolah kita karena dua siswanya mengharumkan nama
sekolah.
Aku ikut lomba bukan untuk sekolah, tapi untuk Mama! balas
Mira ketus. Dengan kasar dientakkannya tubuhnya ketika
berdiri, kemudian dia beranjak pergi ,tanpa berkata-kata.
Riku dan Kelly bengong kayak kepompong. Bahkan Riku tak
habis pikir, bagaimana bisa seseorang tidak berbahagia saat
dinmnya dinyatakan jadi juara, hanya karena jadi juara kedua?
Riku menggeleng-geleng bingung.
Kenapa sih dia begitu? Dapat juara dua kok justru kayak orang
depresi gitu?
Mamanya menuntut dia menjadi yang pertama, cIilam hal apa
pun. Di kamus mama Mira, nggak ada kilah kedua. Mira teman
yang sangat balk dan men yenangkan, tapi di rumah dia
tertekan, balas Kelly.
Kasihan... apalagi yang jadi juara satu Aol, Mira pisti tambah
kesal. Terlebih dia selalu bersikap buruk pida Aoi karena tidak
menyukai cowok itu, Riku mendesah sedih.
Hmm, pasti akan ada pertempuran sengit nih. Mira lalu ingin
jadi yang pertama, terbaik, dan terdepan. Dia begitu terobsesi
menjadi nomor satu, makanya dia ..sampai kurang gaul gitu.
Heran deh, padahal dia pintar. Kurang apa lagi, coba? Aku aja
yang rada oon gini inasih nyantai... , cerocos Kelly.
Riku tersenyum mendengar ocehan Kelly. Benar kata Mira,
ternyata Kelly memang terlalu banyak bicara alias cerewet!
Jantung Mira berdebar kencang. Kakinya gemetar ketika
melewati pintu masuk rumah. Benar saja, yang dia takutkan jadi
kenyataan.
Kenapa bisa begini, Mira? tanya sebuah suara. Tegas dan
begitu mengintimidasi.
Mira berhenti. Bahkan dia tidak berani menatap mata orang
yang barusan menyapanya.
Mama berdiri tegak di depan Mira. Tangannya mengacungkan
sehelai koran. Mira sudah tahu, Mama pasti memburu koran han
itu demi melihat pengumuman hasil lomba. Begitu tahu Mira
hanya juara kedua, pasti Mama marah.
Siapa Aoi? Dia satu sekolah denganmu, tapi kenapa dia yang
menang? Bukankah Mama sudah menekankan padamu untuk
selalu jadi yang terbaik? Pasti kamu tidak berusaha sungguh-
sungguh sampai bisa kalah dan anak bernama Aoi itu!
Mira membisu. Mendengar marnanya menyebut nama Aoi, hati
Mira geram. Kalau sebelumnya dia hanya sebatas kesal melihat
wajah Aoi yang masam, kali itu dia betul-betul marah pada
cowok itu. Awas saja, akan kubalas sakit hatiku ini!. Jangan
harap kamu bisa hidup tenang, Aoi! batin Mira menyumpah-
nyumpah.
Ingat, Mira, Mama sungguh kecewa padamu. Pokoknya tahun
ini Mama ingin melihat karnu jadi pemenang. Ikut sebanyak-
banyaknya lomba, dan jadilah juara. Tidak ada artinya jika kamu
hanya jadi yang kedua. Buktikan pada Mama kamu memang
anak Mama yang hebat!
Kepala Mira semakin tertunduk. Kata-kata dan suara Mama
menusuk-nusuk gendang telinganya. Kepalanya pusing seketika.
Obsesi Mama untuk menjadikan dirinya juara betul-betul
meneror mentalnya. Ah, Mira sungguh capek!
BERJAM-JAM membenamkan wajah di bantal sambil menangis
betul-betul menguras energi. Dada sesak, mata pedas, dan
suasana hati panas. Menyebalkan!
Aku nggak boleh cengeng! gumam Mira. Daripada suntuk di
rumah, mendingan aku ke rumah Kelly saja.
Mira bangkit dan tempat tidur dan bersiap-siap mandi. Ia
memilih baju berwama ceria: T-shirt garis-garis merah dan
krem, serta celana jins selutut. Sepatu kanvas merah melengkapi
penampilannya. Sporty dan nyaman.
Walau pikiran masih ruwet, Mira bersenandung saat mandi dan
berdandan. Lumayan mengurangi kesedihan. Ah, kalau boleh
jujur, hati Mira masih mendung. Namun, cewek itu tak mau
larut dalam kesedihan.
Mira bergegas ke luar kamar, ingin cepat-cepat sarnpai di rumah
Kelly. Namun, betapa kaget Mira saat membuka pintu rumah.
Kelly dan Riku tengah duduk di bangku teras.
Kalian... ?
Aih... kok segitu kagetnya sih, Mir? Biasa aja, kali! celetuk
Kelly nyengir.
Kami mau mengajakmu jalan-jalan, kata Riku seraya hangkit
dan duduk. Mau, kan? Mira tersenyum lebar. Dia memeluk
Kelly. Kelly, kamu sungguh pengertian. Aku baru saja mau ke
rumahmu, eh kalian justru ke sini.
Oh, ya? Kebetulan banget dong kalau gitu. Yuk buruan,
sopirku menunggu! ajak Riku.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol banyak hal. Rupanya
Kelly dan Riku memang berniat menghibur Mira. Tak henti-
henti keduanya melemparkan lelucon. Mira benar-benar
merasakan hangatnya persahabatan. Apalagi sekarang ada Riku
yang sangat baik dan perh atian pada Mira. Walau baru kenal,
Riku cepat mengakrabinya tanpa canggung. Riku terkesan
dewasa di mata Mira.
Eh... omong-omong, kita mau ke mana? tanya Mira.
Jalan-jalan ke mal, sekalian makan malam, biar kamu nggak
bete dan nggak perlu minum obat pembuat tawa! balas Riku
sambil menoleh pada Mira yang duduk di belakangnya. Mira
tersenyum. Terima kasih ya, Ri!
Yap! balas Riku tersenyum. Hatinya berbunga-bunga karena
dapat kesempatan jalan-jalan bersama Mira.
Tuh, Riku baik banget kan, Mir? bisik Kelly. He-eh, balas
Mira.
Kelly tersenyum-senyum sendiri, kemudian mengajak Riku
ngobrol tentang hobi masing-masing. Mira mencoba jadi
pendengar yang balk. Dalam hati ia bersyukur punya sahabat
yang menopangnya saat ia jatuh. Mira tak lagi merasa sendirian.
Walau mungkin hanya sesaat saja dia bersenang-senang dan
harus kembali berhadapan dengan Mama sepulangnya dari
jalan-jalan, setidaknya Mira terhibur.
Sesampainya di mal, mereka main di game center. Mira tidak
begitu berselera bermain. Temyata tidak mudah membuang
gundah. Mira seperti linglung. Kepalanya celingukan mengamati
tingkah remaja-remaja yang tengah bermain, namun tatapannya
nyaris kosong. Mira merasa sepi di tengah keramaian.
Ayo, Mir, gantian kamu yang main! ajak Riku begitu game
over.
Mira menggeleng. Aku lagi nggak kepingin main, Ri. Aku mau
keliling-keliling dulu, ya. Kamu main lagi aja sama Kelly.
Riku mendesah kecewa, tapi dia mengerti suasana hati Mira.
Maka diberikannya senyum termanisnya buat Mira. Oke, tapi
jangan sampai nyasar, ya. Kalau setengah jam lagi kamu nggak
balik ke sini, aku lapor ke bagian informasi Iho. Namamu bakal
berkumandang ke seantero mal ini. Hihihi.
Ah, biar saja. Biar kondang sekalian! balas Mira sambil
melengos dan berlalu, meninggalkan Riku yang bengong
melihat tingkah cuek Mira.
Mira berjalan-jalan di sekitar arena game center. Pikirannya
masih digelayuti peristiwa seharian tadi: kalah lomba dan
kemarahan Mama. Tak ada hal yang lebih menarik bagi Mira
selain menjadi juara dan kebanggaan Mama. Mira selalu
berpikir, Mama sibuk bekerja di luar kota karena Mira kurang
bisa dibanggakan. Mungkin Mira tak cukup berarti bagi Mama.
Seseorang yang tidak cukup berarti mudah ditinggalkan dan
dilupakan.
Sungguh Mira sangat menyayangi Mama. Makanya dia mati-
matian mencoba menyenangkan hati Mama. Memang terselip
juga perasaan takut pada Mama. Mama keras dalam mendidik
putrinya sehingga Mira sering tertekan. Namun entah mengapa,
Iama-kelamaan obsesi Mama menjadi obsesinya juga. Jauh di
lubuk hati, Mira pun tergila.gila menjadi yang pertama dalam
segala hal. Mungkin itu yang dinamakan faktor genetik. Mira
mewarisi sifat mamanya.
Mira mengangkat bahu. Terus-terusan berpikir tentang hal itu
membuat kepalanya pusing. Baiklah, aku harus mencoba santai.
Mumpung di mal, mendingan aku belanja barang yang kusukai.
Daripada stres tidak jelas, tak ada salahnya bersenang-senang,
pikir Mira. Ia menuju bagian fashion remaja. T-shirt dan jins
pakalan kebangsaan Mira, tapi kali itu dia ingin mencoba
sesuatu yang baru untuk mengusir jenuh.
Kalau aku pakai gaun, bagus nggak ya? batin Mira sambil
tertawa kecil. Hihihi, tak ada salahnya kucoba!
Mira menyambangi bagian gaun remaja. Lucu juga rasanya.
Sebelumnya, jika menemani Kelly membeli baju, Mira dibuat
mati bosan saat sahabatnya itu berulang kali minta pendapatnya.
Bagus yang polkadot atau yang gambar hati? Manis yang pink
atau hijau muda? Aduuuh... cute banget! Jadi pengen beli
semuanya! Seperti itu ocehan Kelly ketika memilih baju. Lebay!
Biasanya Mira geleng-geleng atau malah merutuk gemas.
Kini Mira kebingungan sendiri. Koleksi baju yang kecewek-
cewekan itu lucu-lucu. Variasi model, motif, dan warna sungguh
menarik. Seperti apa penampilan Mira saat mengenakan gaun?
Haha, pasti aneh. Rambut Mira kan cepak. Ditambah
pembawaannya yang tomboi, sudah pasti Mira bakal terlihat
ajaib.
Apa aku coba dulu aja ya? Siapa tahu cocok.
Mira geli sendiri. Namun dibawanya juga dua gaun ke kamar
pas. Satu gaun kerut di bagian dada dan memakai tali bahu, satu
lagi gaun bergaya vintage tanpa lengan dan berkerah runcing.
Mira agak ragu saat berjalan menuju kamar pas. Sesekali ia
menoleh ke sekeliling, takut kepergok Riku dan Kelly, atau
kenalan yang mungkin sedang berkeliaran di mal ini. Maklum,
Mira menganggap dirinya sedang bersikap konyol. Tapi tak
apalah, buat variasi hidup, pikir Mira. Mira mematut diri di
depan cermin. Hahaha, aneh sekali! Ingin rasanya dia tertawa
sampai puas, tapi takut didatangi pramuniaga atau satpam.
Terpaksa dia menahan tawa dengan menggigit bibir. Mumpung
sendirian di kamar ganti, Mira bergaya bak foto model yang
tengah berpose untuk pemotretan sampul majalah. Lagi-lagi,
tawa Mira hampir meledak.
Bertingkah konyol ternyata kadang diperlukan untuk membuat
rileks pikiran. Karena itu, Mira tak ragu-ragu membawa dua
gaun yang telah dicobanya ke meja kasir. Dia bisa mencobanya
lagi di rumah sepulang nanti. Bahkan komplet sambil
berlenggak-lenggok Seperti peragawati di catwalk. Mira
tersenyum sendini memikirkan hal itu.
Hai! Seseorang menepuk punggung Mira.
Mira terlonjak kaget. Kelly dan Riku berdiri di belakangnya.
Ups... buru-buru Mira menyembunyikan tas belanjaan ke
belakang tubuhnya. Usaha yang sia-sia, tentu saja. Untunglah
dua temannya itu datang setelah kasir selesai memasukkan
belanjaan. Eh, belanja apa tuh? Kelly melongok ingin tahu.
Cuma kaus kaki, jawab Mira asal saja.
Beli berapa pasang? Perasaan kok isinya tebal amat? Kelly
menyelidik.
Ah, mau tahu aja! Mira melengos, lalu berjalan cepat.
Mau tak mau Kelly dan Riku ikut berjalan cepat menyusul
Mira.
Eh, jangan lupa, kita makan dulu, kata Riku.
lya, Mir. Udah lapar nih! kata Kelly sambil menjejeri langkah
Mira. Kamu sih, tadi nggak ikutan ngegame. Tumben nggak
menggunakan otakmu untuk mengalahkan lawan dalam
permainan, hehehe. Kamu pasti bosan ya, selalu jadi pemenang
kalau lawan aku? cerocos Kelly.
Mira manyun dan berjalan makin cepat.
lh... sensi amat sih? Kelly heran.
Riku menepuk punggung Kelly. Mira masih kalut. Saat ini dia
tidak butuh kata-kata. Sebaliknya, dia butuh telinga yang siap
mendengarkan jeritan hatinya. Yuk, kita susul dia. Kita beri dia
kesempatan curhat biar hatinya plong.
Kelly mengangguk, lalu buru-buru menyusul Mira. Mereka
menuju food court dan mengambil tempat di pojokan.
Untunglah food court tidak terlalu ramai karena bukan malam
Minggu. Seandainya tadi Mama tidak berangkat lagi ke luar
kota, mana mungkin Mira berani keluar malam sementara
besoknya harus sekolah.
Ayo, pesen yuk! ajak Kelly tidak sabar.
Nanti dulu. Ada teman yang akan bergabung sebentar lagi,
kata Riku. Dia yang akan traktir kita.
Wah, asyiiik! pekik Kelly, sementara Mira hanya mengangkat
bahu dan kembali melamun. Sudah lama menunggu?
Sebuah suara membuyarkan lamunan Mira. Dia mendongak,
menatap si empunya suara. Raut wajahnya langsung berubah
marah begitu melihat siapa yang datang. Aoi. Cowok congkak
itu berdiri tanpa senyum dan tak sedikit pun melihat pada Mira.
Dia langsung menarik kursi kosong dan mendudukmnya. Kursi
itu tepat berada di hadapan Mira.
Aoi tidak sendiri. Dia datang bersama Mei, teman sekelas Aoi
dan Riku. Mei yang cantik dan kerap jadi model sampul majalah
itu sangat ramah. Dengan hangat dia menyapa Mira dan Kelly
sambil menebar senyum.
Nah, ini dia orang yang akan mentraktir kita! seru Riku.
lya, kalian boleh makan apa saja Iho! balas Aoi.
Apa-apaan nih? tanya Mira bingung bercampur geram.
Hmm... ternyata ada kamu di sini. Komentar Aoi jelas
menampakkan ketidaksukaannya. Tapi nggak apa-apa kok,
itung-itung bagi rezeki. Aku mentraktir kalian karena hari ini
aku menang lomba karya ilmiah, jelas Aoi sambil melirik Mira,
seolah menyindir cewek itu.
Aku akan bayar sendiri makananku! Aku nggak mau ditraktir
dia! balas Mira ketus.
Oh, silakan saja. Aku juga malas mengeluarkan uang untuk
cewek ketus kayak kamu! balas Aoi tak kalah sengit.
Lho, Mira kan juga juara. Harusnya kita makan dua kali nih
karena ada dua juara! seru Mei mencoba mencairkan suasana.
Tawanya yang renyah ikut memamerkan sederetan gigi putih
dan rapi. Ah, Mei memang cantik sekali.
Tahun depan aku akan traktir kalian semua di restoran mahal.
Karena saat itu akulah juaranya, balas Mira tak mau kalah.
Heh! Sudah-sudah! Kita berkumpul di sini kan untuk makan!
lerai Riku sambil bangkit. Aoi, kupesankan sekalian ya?
Kelly juga beranjak mengikuti Riku sambil berkata ringan,
Akan kupesankan untukmu juga, Mir!
Aku juga mau cari-cari makanan yang lezat, mumpung ditraktir
Aoi! seru Mei, kemudian ngacir.
Mira dan Aoi tidak berkutik. Mereka duduk berhadapan, namun
sama-sama membuang muka ke arah lain. Keduanya diam dan
cemberut. Suasana jadi dingin dan kaku. Mira menyesal diajak
jalan-jalan oleh Riku dan Kelly. Kalau tahu dia bakal
dipertemukan dengan Aoi, Iebih baik dia di rumah saja. Mira
benar-benar kesal. Maksud hati menghibur diri, kok justru jadi
melihat Aoi merayakan kemenangan? Aaargh... sebal!
Kamu nggak ngasih selamat buat aku? akhimya Aoi buka
suara.
Mira pura-pura tak mendengar, dia sok konsentrasi melihat
pengunjung food court yang lalu-lalang. Aoi tampak bersungut-
sungut, tapi tak mau menyerah.
Memang, jadi pecundang nggak enak. Kalau memang kalah,
kita harus tetap sportif dan mengakui keunggulan lawan,
bukannya jadi pengecut.
Mira menatap tajam Aoi. Kamu menyebalkan!
Yah... aku sadar, bagimu aku menyebalkan. Tapi aku punya
otak yang lebih cerdas daripada otakmu, yang isinya hanya satu,
r, satu, alias IRI. Aoi mencibir.
Lihat saja nanti, saat aku seusiamu, aku akan jauh lebih
berprestasi dibandingkan kamu! Bahkan, sekarang saja aku
sudah satu tingkat di bawahmu. Padahal kita beda angkatan!
balas Mira sombong.
Aoi tersenyum mengejek. Matanya menyipit. Tahu nggak?
Usia kita tuh sama. Aku masuk sekolah kemudaan setahun.
Kamu tahu kenapa? Karena aku terlalu cerdas!
Mira kehabisan kata-kata. Wajahnya pucat pasi, seolah ada yang
menampamya dengan keras di depan umum. Dia hendak
beranjak pergi, tapi Riku dan Kelly keburu datang. Mereka
mencegah Mira. Setengah hati Mira kembali duduk. Walau kesal
tak terkira, dia menghargai usaha Riku dan Kelly yang sudah
mengajaknya jalan-jalan untuk menghiburnya.
Mira, kami sudah pesan makanan. Kalian berbaikan dong. Kita
kan satu sekolah, jadi siapa pun yang menang tidak masalah.
Kalian sudah mengharumkan nama sekolah. Aoi bukan
pesaingmu, Mira, Kelly mencoba menasihati.
Aku menyesal satu sekolah dengan dia! seru Mira ketus.
Kalau aku senang banget satu sekolah denganmu, balas Aoi.
Kini jelas, aku bukan satu-satunya orang yang punya wajah
tanpa senyum. Dengan tampangmu yang seperti itu, jelas-jelas
kamu mengganggu pem andangan orang, sindir Aoi pada Mira.
Kesal bukan kepalang, Mira pergi begitu saja tanpa
memedulikan Kelly yang berusaha mencegahnya. Kelly hampir
saja mengikuti Mira, tapi Riku mencekal lengannya. Sudahlah,
Kel. Biar dia tenang dulu. Biar dia belajar menghadapi
kegagalan dan mengendalikan perasaannya sendiri.
Tapi dia sahabatku!
Sahabat yang baik nggak menjadi beban bagi sahabatnya, tapi
menjadi pendukung, balas Riku. Kelly duduk kembali. Hatinya
tak bisa kesal karena wajah Riku begitu menawan. Yah, Kelly
sangat menyukai Riku. Ia tak ingin wajahnya terlihat jelek di
hadapan Riku.
Memangnya kamu ngomong apa sama Mira tadi? tanya Kelly
pada Aoi.
Aoi mengangkat bahu. Dasar cewek sensi! Ikutan lomba baru
pertama kali bisa langsung juara dua, kok masih merasa kurang?
Kalau mau jadi juara satu, ya harus berjuang lebih keras! Tapi
tetap saja butuh waktu. Aku memulainya jauh lebih awal
daripada dia, wajar kalau aku menang. Di luaran sana, bahkan
ada yang ikut berkali-kali tapi jadi juara harapan pun tidak.
Namanya perlombaan, pasti ada yang menang dan kalah. Kalau
dia nggak siap menerima kekalahan, mendingan nggak usah ikut
lomba deh
Kelly merengut mendengar ceramah Aoi. Bagaimanapun Mira
sahabatnya. Kelly tidak rela Aoi mengatan gatai Mira, walaupun
perkataan Aoi benar. Ada yang kamu nggak tahu, Aoi, desah
Kelly. Mira sebenarnya bisa menerima kekalahan. Tapi tidak
dengan mamanya. Itu makanya dia kalut.
Aoi tersenyum masam. Dalam hati timbul rasa kasihan pada
Mira. Tapi ia telanjur kesal pada kelakuan Mira saat di lapangan
sepak bola waktu itu. Cewek itu menyepelekannya.
Lho, mana Mira? Mei datang dan langsung mengambil tempat
duduk.
Kabur. Nggak usah mikirin dia deh. Dasar cewek bete! balas
Aoi bersungut-sungut.
Ehem... kamu apa-apain dia ya?
Aoi mendelik pada Mei. lya. Aku kerokin punggungnya pakai
palu! jawabnya ketus. Riku dan Kelly ngikik. Mei mengerutkan
kening, bingung karena belum paham apa yang terjadi antara
Mira dan Aoi.
Jadi, bagaimana nih? Nggak apa-apa, Mira kita biarkan pergi?
Tak urung Kelly khawatir juga. Sudahlah, dia kan sudah besar.
Nggak bakalan nyasar. Nanti kita cari Mira setelah kita makan.
Laper banget nih! kata Riku.
Kelly mengangkat bahu dan mulai menyuap makanan ke mulut.
Namun suasana telanjur kaku. Mereka makan tanpa mengobrol
sedikit pun. Mei tidak bertanya lagi, walau sesekali matanya
menyelidiki raut wajah teman-temannya. Mungkin Mei sungkan
pada Aoi. Cowok itu benar-benar bermuka masam. Kalau tidak
kelewat lapar seperti saat itu, mungkin Kelly tidak berselera
makan sama sekali.
Usai makan, Kelly melihat arloji. Hampir jam sembilan nih.
Sebentar lagi mal tutup. Terus, Mira gimana? Kasihan kan dia
kalau harus pulang sendirian?
Halah, susah amat sih! Kamu kan bawa HP. Tinggal ditelepon
aja tuh anak, pastiin ada di mana sekarang, kata Aoi ketus.
Lagian, pulang sendiri juga apa susahnya. Taksi banyak kok.
lh, kamu kok gitu sih? Kelly rada emosi. Kasihan dia kalau
pulang naik taksi sendirian malam-malam. Kalau di jalan
dirampok bagaimana? Atau di.. di... huh! Kelly bergidik
sendiri.
Huss... jangan mikir yang nggak-nggak ah! Mei ikutan
bergidik. Betul kata Aoi, kamu telepon dulu aja. Dia ada di
mana sekarang. Supaya kita nggak susah nyarinya. Mal ini kan
luas. Atau jangan-jangan tadi dia langsung pulang naik taksi.
Oke deh, aku telepon sekarang.
Tangan Kelly merogoh isi tas. Dahinya berkerut. Dia berhenti
sejenak. Wajahnya tampak berpikir. Lalu, kembali dirogohnya
tas cangklong kecil itu. Kelly menggigit bibir. Dia meringis.
HP-ku temyata ketinggalan di rumah, hehehe.
Nggak hafal nomornya? tanya Mei.
Nomor HP-ku sendiri saja aku nggak hafal, jawab Kelly lugu,
membuat Mei dan Riku tertawa. Sementara Aoi hanya
tersenyum sinis.
Terus gimana dong? Riku, kamu punya nomor Mira, kan?
tanya Mei.
Nggak.
Jadi, sekarang kita harus cari Mira dulu nih? tanya Mei
bingung. Masalahnya, aku belum ngerjain PR!
Ya ampun! PR! pekik Kelly panik. Aku juga belum ngerjain
PR matematika! Aduh, bagaimana nih? Aku kan lemot kalau
ngerjain matematika. Satu soal aja mesti mikir setengah jam
lebih. Alamat nggak tidur sampai besok dong! rengek Kelly.
Riku tertawa. Hahaha, ada-ada aja kamu, Kelly. Ya sudah.
Kamu pulang duluan sama Aoi dan Mei aja deh. Biar aku sendiri
yang cari Mira. Tapi ingat, begitu sampai rumah, kamu telepon
Mira untuk memastikan. Siapa tahu dia memang betul sudah di
rumah. Lalu, segera telepon aku, ya. Aku nggak akan berhenti
mencari Mira sebelum dapat konfirmasi darimu. Tapi semoga
saja aku bisa menemukan Mira sebelum kamu sampai di
rumah.
Oke. Aku minta nomor HP-mu dong, pinta Kelly.
Riku menuliskan nomor HP-nya di tisu, lalu menyodorkannya
pada Kelly. Jangan dipakai buat ngelap ingus, ya, selorohnya.
Kelly tertawa kecil. Bagaimana mungkin buat ngelap ingus?
kata Kelly dalam hati. Tisu ini bakal disimpan di bawah bantal,
siapa tahu bisa mimpiin Riku. Kelly senyum-senyum sendiri
memikirkan hal itu.
Hai, malah cengengesan! tegur Mei. Yuk, pulang. Kudu
cepat-cepat ngerjain PR biar besok bisa bangun pagi nih!
Oke deh!
Akhirnya Kelly, Aoi, dan Mei memisahkan diri dan Riku. Riku
sebenarnya bingung mau mencari Mira ke mana. Tapi karena
mal sudah mau tutup, cowok itu memutuskan untuk berdiri di
depan pintu utama. Dia mengamati orang-orang yang mulai
berbondong keluar. Lama Riku mematung dengan mata
jelalatan, namun sosok yang dicarinya tak juga muncul. Hingga
rombongan pegawai mal keluar, Mira belum juga nongol.
Oh, apa aku langsung ke parkiran saja? Jangan-jangan Mira
menunggu di dekat mobil, pikir Riku.
Riku memarkir mobil di luar mal, jadi dia tidak perlu masuk
kembali untuk menuju tempat parkir. Suasana di jalan masih
ramai. Para pegawai bergerombol sambil bercanda ria selagi
menunggu angkutan umum atau jemputan pacar. Begitu juga
para keluarga yang habis berbelanja kebutuhan sehari-hari atau
sekadar refreshing, dan para remaja yang sedang hang-out atau
pacaran. Riku tersenyum melihat sepasang remaja yang tengah
duduk di taman. Mereka asyik ngobrol sambil ngemil kentang
goreng. Sesekali tawa meledak, dan si cewek menghujani tubuh
cowoknya dengan cubitan mesra.
Riku tertegun. Di bangku di sebelah sepasang muda-mudi itu,
seorang gadis berambut pendek tampak duduk melamun.
Mira.
Dengan hati-hati Riku menyapa gadis itu. Mira? Untunglah aku
menemukanmu di sini, sapanya sambil duduk di samping Mira.
Mira menoleh sejenak pada Riku, kemudian kembali berpaling
ke arah semula. Dia masih sedih dan kesal.
Kami mengkhawatirkanmu, tapi sengaja nggak mengikutimu
tadi. Soalnya kamu pasti ingin sendirian.
Kelly mana?
Dia pulang duluan sama Aoi dan Mei. Katanya dia belum
mengerjakan PR matematika.
Anak itu, desis Mira, selalu saja menunda mengerjakan PR
sampai malam terakhir. Ujung-ujungnya, tengah malam atau
dini hari dia kerap meneleponku, meminta jawaban yang benar.
Hah? Sampai segitunya?
Mira tertawa kecil. Ketegangan di wajahnya mulai cair. Benar.
Kelly memang sering bersikap konyol. Tapi, dia baik dan lugu.
Aku senang bersahabat dengannya. Keluarganya pun hangat dan
ramah. Apalagi mamanya, baik sekali. Masakan mama Kelly tak
ada duanya deh! Mira berbicara berapi-api.
Riku tersenyum lebar. Dia senang melihat wajah Mira cerah
kembali. Tapi tak lama kemudian Mira kembali muram.
Seandainya mamaku seperti mama Kelly, gumam Mira.
Ssstt... nggak balk membanding-bandingkan orangtua. Semua
orangtua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Begitu
juga mamamu. Hanya mungkin saja caranya tidak sesuai dengan
keinginanmu.
Mira mengangkat bahu. Aku capek harus selalu jadi yang
nomor satu.
Kalau begitu, ya berhenti aja. Kamu nggak harus selalu
menuruti orangtuamu jika memang membuat jiwamu lelah.
Pelan-pelan, berilah pengertian pada mamamu. Aku yakin
mamamu akan mengerti.
Mira menggeleng sedih. Kamu nggak mengerti mamaku, Ri.
Dia sangat ambisius. Keras. Dan kamu tahu, yang membuat
segalanya menjadi sulit karena..., Mira berhenti sejenak,
menghela napas berat, di dalam diriku ada sifat mamaku.
Walau Ielah, temyata aku menginginkannya, Ri. Menjadi juara,
menjadi nomor satu, menjadi pemimpin. Hal-hal tersebut
menguasal pikiranku. Saat ini aku memikirkan untuk...
Apa yang kamu pikirkan, Mir? Riku tidak sabar ingin tahu.
Menjadi ketua OSIS.
Riku mendesah. Itu tujuanmu murni atau sekadar menjegal Aoi
yang juga mencalonkan diri?
Aoi mencalonkan din jadi ketua OSIS? Mira mendelik
jengkel. Dia lagi... dia lagi...
Riku mengangguk. Kukira kamu sudah tahu. Tapi kamu
mencalonkan diri memang kepingin atau karena mamamu? Atau
lebih konyol lagi, untuk balas dendam pada Aoi? Riku menatap
tajam mata Mira.
Mira mengangkat bahu. Entahlah. Tapi kurasa Mama akan
bangga kalau aku terpilih jadi ketua OSIS.
Jadi, kamu melakukan semua hal karena mamamu? Kapan
kamu melakukan untuk dirimu sendiri? Motivasim u hanya agar
dibanggakan mamamu, bukan karena kamu ingin belajar
berorganisasi dan mengembangkan din. Dangkal sekali, Mira.
Biar saja. Dan sekarang, setelah tahu Aoi mencalonkan diri,
hmm... mungkin kamu benar. Aku ingin balas dendam pada
cowok masam itu!
Itu konyol, Mira!
Mira menunduk. Kata-kata Riku benar dan kebenaran itu sangat
menyakitkan Mira. Tiba-tiba Mira malu pada Riku yang begitu
dewasa dan bijaksana. Tidak seperti remaja pada umumnya,
pemikiran dan sikap Riku jauh lebih dewasa.
Terima kasih, Riku. Aku tahu kata-katamu benar. Tapi aku
belum bisa menerima kekalahan dari Aoi. Aku ingin
membuktikan bahwa aku lebih hebat daripada dia.
Riku mendesah, Kamu ambisius, Mira. Cobalah melakukan
sesuatu karena dirimu, bukan harena hal-hal di luar dirimu.
Kalah atau menang, kamu tetap puas, karena kamu belajar dan
prosesnya, bukan mencari hasil semata.
Mira menerawang jauh, bagaimanapun dia belum bisa menerima
saran Riku. Tidak kali ini. Mira akan berjuang mati-matian
untuk menjadi ketua OSIS. Dia berjanji melakukan itu untuk
kepuasan dirinya, bukan untuk mamanya.
Oke, kita ke mobilku yuk! Sopirku menunggu. Oh iya, ada
baiknya kamu telepon Kelly, supaya dia nggak cemas. Tadi HP-
nya ketinggalan, dan aku memintanya untuk menghubungimu
setibanya di rumah.
Mira mengangguk, kemudian mencoba tersenyum pada Riku,
meski belum berani menatap mata cowok itu yang selalu teduh.
Mira masih malu, karena dininya begitu lemah. Dikeluarkannya
HP dan kantong celana dan dicarinya nomor Kelly. Namun, HP
Mira keburu berbunyi.
Kelly, kata Mira pada Riku. Halo, Kel...
Mira, kamu di mana? Baik-baik saja, kan? Aku khawatir sekali.
Kalo kamu hilang bagaimana? Nanti aku dimarahin mamamu
deh! Eh, kamu sudah sampai wmah keliling-keliling di mal?
Riku belum sih? Atau masih nyariin kamu tuh...
Stop, cereweeet! Aku sudah sama Riku nih! potong Mira.
Mira dan Riku terbahak-bahak Ah, untunglah malam itu
berakhir dengan tawa.
BEBERAPA hari kemudian Mira sudah ceria kembali. Ia
bernyanyi riang dalam perjalanan ke sekolah. Kaki jenjangnya
Iincah melompat dan berlan kecil. Saat mampir ke rumah Kelly,
ia meluangkan waktu untuk mencicipi masakan ibu Kelly. Ia
pun kembali pada kebiasaan lama: mencium pipi tembam
Morati, adik Kelly.
Wah, Tante senang sekali kamu kembali ceria, Mir! Kamu
cantiiik banget kalau tidak cemberut. Ibu Kelly mencubit
gemas pipi Mira sambil tertawa renyah. Wajah Mira bersemu
merah.
Terima kasih, Tante. Emang saya aslinya cantik sih! Mira
mengerling.
lh, genit! Kelly pura-pura mencibir.
Hahaha! Mira tertawa senang. Kami berangkat dulu ya,
Tante. Dah, Morati sayang!
Hati-hati!Mira dan Kelly berlari kecil sambil tertawa-tawa.
Seperti biasa, Riku menanti mereka di jalan.
Pagi semua! sapa Riku.
Pagi, Riku! balas Mira dan Kelly bersamaan. Kemudian
mereka meneruskan perjalanan sambil bersenda gurau. Kelly
berjalan di sisi Riku, sedangkan Mira berjalan sendirian di depan
mereka. Langkah Mira terlalu cepat untuk diimbangi langkah
Kelly. Namun, untuk menjejeri Mira, Riku tak tega pada Kelly,
sekalipun Riku ingin sekali berdampingan dengan Mira.
Terpaksalah posisi jalan ketiganya tetap seperti itu hingga di
sekolah.
Mir..., bisik Kelly saat mereka sampai di kelas.
Hm? Mira duduk bersandar di kursi sambil meluruskan kedua
kaki.
Riku cakep banget ya! Baik, lagi. Rasanya aku jatuh cinta deh
sama dia, kata Kelly sambil menatap langit-langit kelas.
Senyumnya mengembang. Sepertinya dia tengah
membayangkan sesuatu. Mira menatap sahabatnya dengan
perasaan aneh. Mendadak lidahnya kelu. Ia tak tahu harus
berkata apa. Kelly jatuh cinta pada Riku? Kenapa hati Mira jadi
tak keruan rasanya? Apa Mira cemburu? Ah, tapi Mira tidak
mencintai Riku. Mira yakin dirinya hanya mengagumi Riku.
Atau... atau Mira merasa dirinya ditendang keluar dan hati
Kelly, kemudian digantikan sosok Riku? Atau... atau karena
Mira belum pernah merasakan jatuh cinta pada siapa pun dan tak
rela sahabatnya punya pacar duluan? Jadi, siapa yang
dicemburui Mira sebenarnya?
Mir, kok kamu melamun sih? Jangan-jangan... Kelly menatap
curiga pada Mira. Kemudian dia melotot. Oh, Mira! Jangan
bilang kamu juga suka Riku ya! Mira membulatkan mata.
Tangannya berkacak pinggang. Ditatapnya Kelly dengan galak,
lalu disemburkann ya kata-kata, Ck ck ck... sembarangan!
Makan tuh Riku! Kelly nyengir.
Serius, kamu nggak naksir dia? tanyanya memelas. Mira
berdecak sekali lagi.
Lalu, dengan overacting dia berkata, Kelly-ku yang baik, aku
mengagumi Riku. Dia sahabat yang baik bagi kita, bukan? Tapi
itu bukan naksir. Kalau kamu suka dia, tembak secepatnya
sebelum Riku disambar sahabatmu yang cantik dan baik ini!
Mira memeletkan lidah, menggoda Kelly. Kelly ngikik. Mira
tersenyum, kemudian menepuk punggung Kelly. Tenang aja
deh, sobat. Riku milikmu, hehehe.
Tapi, bagaimana cara menembaknya ya? Kelly garuk-garuk
dahi tak jelas.
Ambil senapan. Taruh moncongnya di dada Riku, kemudian
tank pelatuknya. Gampang, kan?
Ah, Miraaaa! Kelly kesal. Aku serius, tauuu!
Yah, mana aku tahu. Aku kan belum pemah nembak cowok!
Hehe, iya ya... Lagi-lagi Kelly menggaruk dahi yang tidak
gatal. Hari itu Kelly menjadi sangat aneh. Saat pelajaran tengah
berlangsung dia sering tersenyum sendiri dan tidak
berkonsentrasi pada materi yang diajarkan guru. Begitu ada
kesempatan bicara dengan Mira, yang dibicarakan Kelly
hanyalah Riku. Riku, Riku, dan Riku, nggak ada yang lain.
Sampai-sampai Mira sesak napas karena udara seakan terpolusi
nama Riku. Huh, menyebalkan kalo sahabat sedang jatuh cinta!
rutuk Mira dalam hati.

***

Kamu sadar nggak sih bahwa kamu beda banget sekarang,
kata Mira saat dia dan Kelly sedang bersantai di kamar Mira
yang luas.
Masa sih? Beda bagaimana? Kelly penasaran.
Sejak kamu jatuh cinta pada Riku, setiap hari kerjamu
melamun terus. Sambil senyum-senyum sendiri, lagi. Kayak
orang nggak waras. Hiiy! Mira mengedikkan bahu, pura-pura
jijik.
lh, yang benar? Kelly meringis.
Iya. Aku sampai mau meledak nih, karena kebanyakan
mendengar nama Riku. Tiap hari sampai berapa juta kali nama
Riku keluar dan mulutmu? Kayak di dunia ini nggak ada nama
lain aja, omel Mira.
Ih, lebay! seru Kelly manyun. Di dunia ini memang banyak
nama lain. Cowok ganteng juga banyak. Tapi yang terganteng
dan terkeren cuma Riku. Riku is the best deh! Kelly ikutan
lebay.
liiihh! Mira terbawa gemes. Kelly terbahak-bahak melihat
tingkah sahabatnya.
Tenang, pren. Aku masih waras kok.
By the way busway, serius nih, kamu suka Riku? Apa sih yang
kamu sukai dan dia? selidik Mira.
lya. Aku jatuh cinta betulan kali ini. Semua yang ada pada dia
aku suka. Aku suka matanya, hidungnya, kulitnya, tubuhnya,
senyumnya, tingkah lakunya, bahasa tubuhnya, cara berpikirnya,
caranya memandang dunia, caranya berpakaian, gerakan alisnya
saat bicara, giginya yang putih, hidungnya yang mancung...
Suka bulu hidungnya sekalian nggak? potong Mira. Kalau
dibiarkan, Kelly bisa nyerocos sampai satu jam penuh.
Oh... iya! Aku juga suka bulu hidungnya yang radar ada nongol
ke luar. Menurutku seksi, tau! Trus kalau dia sedang nyanyi,
badannya rada goyang-goyang gitu deh. lh, keren sekali. Aku
juga suka cara berjalannya. Tiap berangkat sekolah dia berjalan
di sampingku.
Mira buru-buru menutup telinga dengan headset dan
mendengarkan musik. Sepertinya tidak bisa dicegah lagi, Kelly
tak akan berhenti bicara tentang Riku sampai tenggorokannya
serak. Mira! Kamu nggak dengar ya?! Kelly sewot begitu
menyadari sahabatnya itu memakai headset. Tangannya
mencabut headset di telinga Mira.
Habis, kamu ngomongnya nyerocos kayak kereta api sih.
Telingaku sakit dan kepalaku hampir meledak mendengar nama
Riku.
Trus, gimana dong? Aku berbunga-bunga nih. Kayaknya aku
nggak bakalan bisa deh hidup tanpa dia. Aduh... menurutmu dia
akan menerimaku nggak? Mira sampai bengong melihat
kelakuan Kelly.
Ya ampuuun! Sampai segitunya! seru Mira sambil geleng-
geleng.
Yah, mana kita tahu kalau kamu nggak ngomong ke dia?
Makanya buruan tembak! Jadi kamu akan segera tahu dia suka
sama kamu apa nggak!
Kalau aku ditolak gimana? Kan tengsin! Kelly menggigit
bibir.
Ya, terimalah penolakan itu dan tetap bersahabat seperti
sekarang. Gampang, kan?
Gampang menurutmu. Kamu nggak ngerasain sih! Kamu
belum pemah jatuh cinta, kan?
Udah. Aku jatuh cinta pada kucing, dan langsung patah hati
karena Mama nggak ngizinin aku piara kucing! jawab Mira
asal.
Mira! Serius nih! Kelly mulai merajuk. Dia melemparkan
bantal ke arah Mira. Jangan godain mulu, kenapa? Aku
sungguh-sungguh sangat serius sekali banget-banget.
Lebay! sambar Mira sambil menjulurkan lidah.
Aaah! Satu bantal kembali dilempar ke tubuh Mira. Ya udah,
tembak aja kalo udah nggak tahan! Kelly tiba-tiba merenung.
Dia sedang menimbang-nimbang. Mira mendengus kesal. Tiba-
tiba hatinya khawatir. Kalau Kelly jadian sama Riku, nanti dia
kesepian dong?!

***

Di luar dugaan Mira, hari berikutnya sepulang sekolah Kelly
mengajak Riku untuk bertemu di pojok lapangan. Wow! Mira
tidak menyangka Kelly seberani itu. Selama ini dia kira
sarannya pada Kelly untuk nembak Riku hanyalah pepesan
kosong. Mira pikir Kelly tak akan berani. Mira gelisah. Apakah
itu artinya Mira takut kehilangan Kelly? Benarkah Mira belum
sanggup berbagi dengan Riku, karena menjadi nomor dua di hati
Kelly? Atau...? Ah, Mira tidak tahu. Harusnya dia senang bila
Kelly senang. Mengapa perasaannya jadi nggak kewan kayak
begini sih? Duh, sungguh Mira bingung bukan kepalang.
Mira menunggu Kelly di taman sekolah dekat gerbang. Kelly
tentu saja sedang nembak Riku di bawah pohon beringin di
pojok lapangan bola. Apa yang sedang terjadi ya? Kira-kira
Kelly gugup nggak? Terus, Riku nerima atau nolak? Ah... Kelly
memang nekat! Kepala Mira penuh pertanyaan. Dia nggak sabar
ingin segera tahu.
Ngelamun aja! Mira tersentak, tapi tak ingin segera menoleh
ke asal suara, walaupun jelas-jelas suara itu menyapa dirinya.
Mira tahu itu suara Aoi. Cewek itu hanya melirik malas. Terlihat
Aoi tengah berdiri santai sambil menyenderkan sisi tubuhnya
pada tiang lampu taman. Mikirin apa sih? tanya Aoi. Nadanya
terkesan menyindir, bukan bertanya.
Bukan urusanmu!
Kamu nggak rela ya Riku jadi pacar sahabatmu? Aoi
tersenyum sinis. Jangan-jangan, kamu juga suka pada Riku.
Kini Aoi mencibir.
lh! Apa sih maumu? Kamu senang banget ya, bikin aku kesal!
Mira mengentakkan kaki kanannya. Matanya memelototi
Aoi. Kamu juga udah membuatku kesal dengan pencalonanmu
itu! desis Riku sambil menatap tajam Mira. Mira gugup ditatap
seperti itu. Tetapi ia tak ingin terlihat lemah di mata Aoi.
Disingkirkannya segenap perasaan aneh itu. Dia mendongak,
menatap Aoi dengan congkak.
Kenapa? Kamu takut kalah? Kamu nggak mau melihatku jadi
ketua OSIS ya? Hmm... berarti kamu takut bersaing denganku
dong! Mira memasang senyum meremehkan. Aoi mencibir.
Lihat saja nanti, kamu akan menjadi nomor dua lagi, Nona
Jutek! Aoi kemudian pergi. Apa? Nona jutek? Grrhh! Mira
kesal sekali dengan julukan yang diberikan Aoi. Enak saja aku
dipanggil Nona jutek. Huh, dasar Tuan Muka Masarn! Eh, tuan?
Mira meralat pikirannya sendiri. Enak saja dipanggil tuan.
Cowok Muka Masam mungkin tepat bagi cowok menyebalkan
itu. Menyebalkan... yah, julukan yang lebih pas buat dia.
Aku akan jadi ketua, Mister M! teriak Mira. Lihat saja
nanti! Aoi menghentikan langkah. Dia menoleh pada Mira
dengan dahi berkerut.
Apa kamu bilang tadi?
Mister M, alias me-nye-bal-kan! Mira memberi penekanan
pada setiap suku kata. Wajahnya nyengir puas. Aoi melipat
muka sebelum berpaling dan pergi. Bibimya ngedumel nggak
jelas. Mira ngakak. Sungguh puas dan senang hatinya karena
berhasil membuat Aoi kesal. Rasain! Cowok sombong! rutuk
Mira dalam hati. Tawa Mira terhenti saat dia melihat
pemandangan di parkiran. Aoi memasuki mobil Mei. Ooh... jadi
Mei pacar Aoi? Perasaan aneh mampir di hati Mira. Apakah
semua temannya punya pacar? Apakah hanya dia seorang yang
belum punya pacar? Dan sebentar lagi, apakah sahabatnya juga
pacaran dengan Riku? Jika mereka pacaran, pasti mereka lebih
suka berduaan ketimbang bersama dirinya. Hati Mira tiba-tiba
kecut.
ADA apa, Kel? Riku masih tak mengerti, mengapa Kelly
menyeretnya ke lapangan sekolah. Ingin berdua pula, sedangkan
Mira menunggu di taman. Kamu mau minta diajarin main bola,
ya? seloroh Riku.
Kelly menggeleng kaku. Wajahnya tegang sekali. Diseretnya
Riku ke bangku di pinggir lapangan. Duduk di sini yuk, Rik.
Riku menurut. Hatinya mulai dag dig dug, merasa ada yang
tidak beres. Tapi dia memilih tidak mengatakan apa-apa
sebelum Kelly mengucapkan sesuatu.
Rik... aku... aku... Kelly sangat gugup. Wajahnya sudah
semerah udang rebus. Keringat bercucuran di kening, bahkan
telapak tangannya dingin. Duh, kok kakiku gemetar ya? keluh
Kelly dalam hati. Untung saja dia duduk. Kalau berdiri,
mungkin sudah ambruk ke tanah.
Riku menunggu. Ia menatap Kelly penuh perhatian. Riku
prihatin, mengira Kelly sakit.
Ng... Ri, jangan ketawa, dulu ya... Kelly berhenti lagi.
Batinnya merutuk. Sialan! Mau ngomong cinta ternyata rasanya
kayak disidang di depan guru BP dan kepala sekolah!
Apa kamu lihat aku sedang tertawa? tanya Riku karena Kelly
tak juga mengeluarkan kata-kata lanjutan.
Kelly menggeleng. Kemudian dihelanya napas panjang,
dikumpulkannya segenap keberanian, dan dikeluarkannya kata-
kata itu. Begitu cepat meluncur dan bibir Kelly sebelum
kemudian Kelly menutup wajah dengan kedua telapak
tangannya.
Aku cinta kamu.
Diam.
Riku tercengang. Dia mendengar Kelly mengucapkan kata itu,
tapi tak begitu yakin. Selain ucapan Kelly tak jelas, juga karena
sesudahnya Kelly menutupi wajah. Itu tadi betulan tidak? Kelly
menembakku? pikir Riku.
Bagaimana, Ri? tanya Kelly, masih dengan wajah tertutup
telapak tangan.
Ha? Bagaimana apanya? tanya Riku polos.
Perkataanku barusan... Suara Kelly semakin lemah.
Tadi kamu ngomong apa sebenamya? Riku tidak bermaksud
apa-apa, selain ingin mendengar kata-kata itu lebih jelas. Dia
takut tadi salah dengar.
Kelly jadi sebal. Riku tahu nggak sih, tidak mudah
mengucapkan kata-kata keramat itu, kok malah disuruh
ngucapin sekali lagi? Kelly menurunkan tangan dan terlihatlah
wajahnya yang memerah. Dia melirik sebal pada Riku. Masa
nggak dengar sih? Tadi kan aku bicaranya jelas. Kamu pura-
pura nggak dengar, ya? semprotnya.
Riku garuk-garuk kepala. Waduh, keluar galaknya deh! Bukan
begitu, Kel. Aku cuma mau memastikan. Habisnya, begitu
ngomong, kamu langsung tutup mulut. Kan nggak jelas banget
tuh!
Ya udah, yang tadi kamu dengar itu benar. Jawabanmu apa?
Riku bengong. Oh, harus dijawab ya? Perasaan kamu tadi
nggak nanya.
lh... Rikuuuu Aku serius. Kamu harus jawab, mau nggak kamu
jadi pacarku... Kelly terdiam. Wajahnya yang sudah merah
semakin membara. Mendadak dia malu sekali.
Riku menghela napas panjang. Hatinya galau. Dia takut
menyakiti hati Kelly. Tapi bagaimanapun, Riku harus menjawab
sekarang. Dia tidak ingin menggantung Kelly dalam status
nggak jelas. Cewek sering kebanyakan harapan. Makanya Riku
harus tegas. Kel, maaf. Aku dan kamu lebih baik bersahabat
saja seperti sekarang. Aku rasa itu hubungan yang paling indah
dan paling tepat bagi kita, kata Riku lembut.
Kelly terenyak. Rasa sakit menjalar di hatinya. Dia ingin nangis,
tapi gengsi dilihat Riku. Karena itu, dia hanya mengangguk
lemah.
Pulang yuk, Ri, ajak Kelly sedetik kemudian, walau
sebenarnya kakinya berat untuk melangkah. Ternyata, begini
rasanya ditolak cowok. Sakit!

***

Kelly tidak langsung pulang. Dia malu pada mama dan adiknya
karena bisa dipastikan dia tidak bisa menahan tangis
sesampainya di rumah. Dia memilih ke rumah Mira dulu. Di
rumah Mira sepi, jadi Kelly bisa nangis jejeritan sesuka hati.
Di kamar Mira, Kelly telungkup di ranjang. Wajahnya
dibenamkan di bantal. Dadanya naik-turun karena menangis
sesenggukan.
Mira menepuk-nepuk punggung sahabatnya. Kelly terus saja
menangis sehingga Mira tidak tahu harus berkata apa. Segala hal
yang dikatakan Mira pada Kelly seakan tak berarti sama sekali.
Namanya juga orang patah hati. Pasti perasaan sakit hatinya
lebih dominan ketimbang logika. Hingga akhimya tubuh Kelly
bergerak lebih teratur. Gadis itu berbalik, menatap Mira.
Matanya sembap dan merah. Kelly menghapus air mata.
Kamu baik-baik saja? tanya Mira khawatir.
Kelly mengangguk. Rasanya aku nggak mau lagi bertemu Riku
karena malu.
Sudahlah. Kan tadi waktu kita pulang bareng, sikap Riku biasa-
biasa saja, kan? Dia tetap mengajak kita bercanda seperti biasa.
Jadi, nggak akan ada masalah. Kamu dan Riku tetap bisa
berteman seperti sebelumnya.
Tapi, aku takut Riku jijik melihat tingkahku tadi. Huhuhu...
Kelly kembali menangis.
Tingkah yang mana?
Wajah Kelly merona malu. Tadi aku sempat ngomelin dia saat
dia pura-pura nggak dengar waktu kutembak. Mira ingin
tertawa, tapi ditahannya. Dia tak ingin membuat sahabatnya
makin malu.
Oh, Riku pasti mengerti. Itu reaksi wajar kok. Kamu harus
ingat, dia sangat dewasa dan tidak berpikiran sempit seperti kita.
Kan kamu sendiri yang bilang ke aku bahwa Riku dewasa,
bijaksana, blablabla... Mira memerot-merotkan bibir. Tapi dia
menahan diri untuk tidak terus menggoda Kelly karena Kelly
kembali mew ek. Besok kamu harus sekolah, dan lihatlah
betapa dunia masih baik-baik saja. Riku akan tetap menunggu
kita di depan pintu gerbang rumahnya, sambil tersenyum tentu.
Tapi jangan singgung-singgung masalah ini, ya? pinta Kelly
memelas. Aku malu. Hiks!
He hem. Mira mengangguk sambil tersenyum.
Kelly tersenyum, lalu memeluk Mira erat.
Mira lega, Kelly akhirnya bisa tersenyum kembali. Mira yakin
Kelly bakal mampu mengatasi masalah itu sendiri.

***

Ternyata esok harinya Kelly demam. Mungkin karena dia tidak
nafsu makan sementara tenaganya habis untuk menangis. Mira
berangkat ke sekolah sendirian. Pikirannya melayang pada
Kelly. Ah, jatuh cinta ternyata tidak selalu indah. Jatuh cinta
bisa bikin demam!
Lho, sendirian? Mana Kelly?
Suara Riku menyentakkan Mira dan lamunan. Ternyata
langkahnya telah sampal di depan rumah Riku. Untunglah ada
teman jalan. Kalau tidak, Mira bisa jatuh karena berjalan sambil
melamun. Dia demam, mungkin karena kurang istirahat dan
kurang makan. Maklum, setelah kamu tolak, dia susah tidur dan
nggak mau makan. Mira melirik Riku.
Ya ampun, cinta ditolak kan bukan akhir segala
Ya, dan dia bisa terima penolakanmu kok. Kemarin aku sudah
bicara dengannya. Tapi, Riku, kenapa sih kamu menolak Kelly?
Kelly kan manis, riang, dan menyenangkan. Dia cocok buat
kamu Iho.
Sesaat Riku mendesah, kemudian menoleh pada gadis di sisinya.
Aku nggak tertarik padanya. Aku lebih tertarik pada
sahabatnya.
Langkah Mira terhenti. Spontan Riku juga berhenti. Mereka
berdiri berhadapan dan bertatapan. Maksudmu? tanya Mira.
Hem, aku suka kamu, Mir, ucap Riku lembut. Ekspresinya
serius. Tatapannya semakin tajam saja, seolah menagih jawaban
segera dan Mira.
Di luar dugaan Riku, Mira justru ngakak. Gadis berambut
pendek itu melanjutkan langkah panjang-panjang. Riku
terheran-heran dan menyusul pujaan hatinya.
Memangnya kenapa kalau aku suka kamu? Nggak boleh?
Ya nggak boleh dong! Aku kan sahabat Kelly. Nggak mungkin
aku menyukai orang yang disukainya. Itu namanya teman
makan teman!
Kamu benar-benar nggak tertarik padaku sama sekali, Mir?
Riku tetap mengejar Mira dengan pertanyaan. Dia penasaran.
Mira terdiam. Dia berhenti sejenak, kemudian menatap jalanan
yang ramai. Itu rahasia hatiku, kamu nggak berhak tahu,
gumam Mira.
Yang jelas dong jawabanmu, pinta Riku.
Ah, sudahlah. Kita harus buru-buru. Hari ini aku kampanye
nih. Kamu pilih aku jadi ketua OSIS, kan?
Mmm, itu rahasia hatiku, kamu nggak berhak tahu, balas Riku
menirukan Mira.
Mira manyun, lalu berlari kecil.
INI menyebalkan. Lagi-lagi saingan terkuat Mira di ajang
pemilihan ketua OSIS adalah Aoi. Walau termasuk anak yang
kurang populer karena tidak supel, Aoi mampu memikat teman-
teman di sekolah dengan gaya pidatonya yang karismatik.
Penampilannya cool sekali.
Mira kebalikannya. Dia berpidato dan berdebat dengan penuh
energi. Orasinya berapi-api. Setiap Mira pidato, penonton
berteriak heboh. Terutama yang cowok-cowok. Hihi, sejak jadi
kandidat ketua OSIS, Mira mendadak jadi idola baru. Wajah dan
penampilannya boleh saja pas-pasan, tapi cowok-cowok
menyukai cewek cerdas. Ya, penampilan bukanlah yang utama.
Yang penting apa yang ada di dalam hati dan otak.
Pada musim kampanye ini reaksi Mira kian sengit saja bila
bertemu Aoi. Pun sebaliknya. Aoi pasti mengejek Mira saat
mereka berpapasan. Dua anak itu bagai musuh bebuyutan, tak
sekali pun saling melempar senyum.
Akhirnya tiba juga saat penghitungan suara. Kali ini Mira dan
Aoi terpaksa duduk bersebelahan. Jantung Mira rasanya tak
keruan, berloncatan, dan berdetak kencang. Mira takut kalah.
Menjadi wakil Aoi jelas musibah. Dia tak akan sudi menjadi
orang kedua setelah Aoi. Lagi pula, kalau dia jadi wakil Aoi,
jangan-jangan cowok itu akan semakin mempermainkannya.
Pasti Aoi nyuruh-nyuruh melulu. Huh, nggak sudi deh!
Aoi melirik Mira. Selamat jadi wakil ketua OSIS, Nona Jutek,
bisik Aoi, membuat Mira terjaga dan Iamunan.
Lihat saja nanti, kamu yang bakal jadi wakilku, Mister M!
balas Mira sengit.
Aoi hanya tersenyum simpul. Belum pernah anak kelas 10 jadi
ketua OSIS. Anak kelas 10 selalu jadi wakil, jadi jangan terlalu
pede.
Upf! Perkataan Aoi menohok tepat di ulu hati Mira. Mira
tercekat. Benarkah yang Aoi katakan? Mingkinkah dia menjadi
nomor dua? Lagi? Setelah Aoi? Argh... Mira mana mungkin
menerima kenyataan itu.
Perhitungan suara masih berlangsung. Perolehan suara Mira dan
Aoi kejar-kejaran, sementara tiga calon lain jauh tertinggal. Sulit
memprediksi siapa yang bakal bertengger paling atas. Hingga
akhirnya perolehan suara Mira dan Aoi berada persis pada angka
yang sama.
Wah, tinggal satu suara yang tersisa, kata Ferdy, si penghitung
suara sambil mengangkat satu lintingan kertas.
Penonton ramai. Belum pemah ada calon yang sama kuat dalarn
kancah pemilihan ketua OSIS di sekolah mereka. Kini satu suara
itu akan menentukan nama sang ketua: Mira atau Aoi?
Mira sangat tegang, berbeda dengan Aoi yang terkesan cuek.
Mira mengetuk-ngetukkan sepatu di Iantai. Berulang kali dia
menelan ludah. Sementara itu Ferdy memperlambat gerakan
membuka lintingan kertas, itu pun sambil sengaja melirik Mira
dan Aoi secara bergantian. Mmm... semakin tegang dua
kandidat kita ini, seru Ferdy bergaya bak MC profesional. Dia
berlagak mengintip tulisan di kertas.
Mira manyun, Aoi tersenyum basa-basi. Di barisan penonton,
Kelly komat-kamit berdoa. Sekelompok anak tak berhenti
menyebut nama Aoi, iramanya seperti yel-yel. Kubu Mira tak
mau katah, mengumandangkan nama Mira berulang-ulang
dengan nada ritmis.
Baiklah, saya umumkan saja saat ini... Ferdy menghela napas.
Ketua OSIS terpilih adalah... AOI!
Jegerrr! Petir seolah menyambar kepala Mira. Badannya lemas
dan gemetar. Dadanya seolah meledak. Sementara itu, suara
tepukan tangan dan suit-suit membahana. Kontras dengan
kondisi Mira, Aoi tersenyum lebar merayakan kemenangan. Dia
mengangkat kedua tangan.
Sudah kubilang, kamu jadi wakilku, Nona Jutek, bisik Aoi
sarnbil tertawa kecil. Mira meradang. Dia kehilangan kendali
diri. Tak dipedulikannya teman-teman yang ramai di depannya.
Mira berlari ke luar aula. Semua terperangah. Aoi tersentak.
Ferdy memanggil nama Mira menggunakan pengeras suara.
Mira terus berlari sepanjang koridor sekolah. Air matanya
bercucuran deras.
Mir! Mira! Seseorang mengejar Mira sambil meneriakkan
namanya. Ternyata Kelly.
Tinggalkan aku, Kel! Mira menampik tangan Kelly ketika
Kelly hendak menenangkannya. Mira bergegas masuk ke toilet,
membanting pintu, dan mengunci dari dalarn.
Mira menangis di toilet. Dia benar-benar kesal. Lagi-lagi dia
harus menerima kenyataan pahit. Nasib baik tak pernah berpihak
padanya. Mira malu pada diri sendini, pada Aoi, dan pada Riku.
Mira malu pada teman-teman yang selama ini mendukungnya.
Juga pada seisi sekolah yang tadi tumpah ruah di aula untuk
menyaksikan perhitungan suara.
Bayangan Mama kembali datang di pikirannya. Mira takut
Mama akan marah lagi. Mira takut Mama tak lagi
membanggakan dirinya di hadapan teman-teman dan keluarga
besar. Mira ingin sekali lenyap dari dunia. Sungguh, Mira tak
sanggup menerima kegagalannya kali ini. Terlebih, lagi-lagi dia
dikalahkan Aoi.
Dengan setia Kelly menunggu Mira di luar toilet. Biarlah Mira
meluapkan kekesalannya hingga puas.
Akhimya Mira keluar dengan mata merah dan sembap. Tanpa
suara Kelly membimbing Mira ke wastafel dan memutar keran.
Kacau benar aku saat ini, gumam Mira saat melihat
bayangannya di cermin.
Mira, sudahlah... kamu tetap hebat kok. Kamu menjadi wakil
ketua OSIS, mengalahkan puluhan teman seangkatan yang juga
menginginkan jabatan itu. Kamu hebat, Mir! Tahun depan
kamulah ketuanya. Pasti! Kelly mencoba menghibur Mira.
Aku maunya tahun ini. Tapi Aoi... Cowok itu selalu
mengganggu langkahku! teriak Mira gemas.
Usia Aoi setahun lebih tua daripada kita. Wajar saja kalau dia
selangkah lebih maju...
Dia seusia kita, potong Mira. Itu yang membuatku semakin
kesal!
Kelly mendesah sedih. Dia menatap sahabatnya melalui cermin
di atas wastafel. Wajah Mira tampak begitu kecewa. Matanya
yang lebar dan selalu berbinar kini kelihatan redup tak
bercahaya.
Aku mau sendinian, desis Mira.
Kelly mendesah lagi. Dengan berat hati ia tinggalkan sahabatnya
itu. Mira selalu begitu, selalu ingin menyendiri bila punya
masalah. Berbeda dengan Kelly, yang selalu ingin
menumpahkan isi hati lewat kata-kata, secepatnya begitu
masalah menghampirinya.
Aku tunggu di depan pintu, ya, kata Kelly.
Mira tidak menjawab. Dia masih nanar memandang cerrnin.
Sore harinya Riku dan Kelly mengunjungi Mira di rumahnya.
Mira tampak tegar dan ceria. Wah, aku senang sekali melihat
kamu sudah tersenyum kembali, Mir, ucap Kelly lega.
Mira tersenyum masam. Mama pulang. Kalau wajahku ketekuk
kayak remasan kertas, bisa-bisa aku diinterogasi. Kamu jangan
cerita dulu ke Mama tentang kekalahanku ya, Kel. Aku belum
siap menerima omelan Mama.
Kelly mengangguk. Dia iba pada sahabatnya. Mama Mira
memang sangat berbeda dengan mama Kelly. Mama Kelly tak
pernah menuntut apa pun dan Kelly. Apa adanya Kelly sudah
membuat mamanya bangga dan bahagia. Yang penting putrinya
menjadi anak baik, begitu selalu mamanya berpesan.
Bagaimana kalau kita jalan-jalan, Mir? ajak Riku.
Nggak ah! Paling nanti ada Aoi lagi. Sori ya, aku nggak mau
merayakan kemenangan dia! Mira merengut.
Ya ampun, Mir! seru Kelly gemas. Terima kekalahan dong!
Contoh nih, aku yang bisa berteman lagi dengan Riku. Aku
menerima kenyataan dia memang nggak menyukaiku. Ayolah,
Mir! bujuk Kelly.
Aku kesal. Kenapa harus Aoi lagi? Mungkin kalau ketuanya
Riku, aku nggak akan merasa sesakit ini. Aoi gitu Iho!
Tampangnya saja menyebalkan kayak gitu. Bagaimana mungkin
aku bisa kerja sama dengan dia?
Mir, jangan salah sangka. Aoi baik banget Iho. Dia bisa bekerja
sama dengan siapa pun, termasuk kamu, jelas Riku sabar.
Mira mendesah. Hatinya masih kesal. Tapi dia mau juga jalan-
jalan ke taman kota bersama Riku dan Kelly. Tentu saja setelah
Riku meyakinkan Mira bahwa Aoi nggak akan ada di sana.
Gimana, udaranya segar, kan? Jadi pikiranmu ikut segar dan
hatimu terbawa nyaman, kata Riku.
Mereka duduk di tepi danau kecil di tengah taman. Untuk sesaat
mereka hanya diam dan menikmati pemandangan asri. Air
danau beriak lembut, angin berembus sepoi-sepoi. Benar kata
Riku, pikiran Mira menjadi lebih tenang, hatinya pun berangsur
senang.
Aku punya cerita, Riku membuka suara. Dulu waktu kelas
10, aku kalah telak saat adu gol dengan anak kelas 11. Anak itu
berhasil mencetak lima gol, sedangkan aku hanya mampu satu.
Kemudian selama di kelas 10 aku menjadi pesuruhnya. Sakit
banget rasanya. Tapi aku tetap menjalaninya. Hanya saja aku
bersumpah, aku akan menjadi pemain terbaik di kelas 11. Rasa
sakit itu menyemangatiku untuk berjuang dan berlatih lebih
keras. Lihatlah, sekarang aku berhasil. Aku menjadi bintang
lapangan hijau. Tiap bertanding selalu ada gol-gol indah dan
kakiku.
Idiih, kenapa kamu mau menjadi pesuruhnya? tanya Kelly
heran.
Waktu itu kami taruhan. Yang kalah jadi pesuruh yang
menang. Bagaimanapun aku harus konsisten dengan
perkataanku sendiri. Permainan bola butuh sportivitas tinggi.
Kalah ya kalah saja. Harus ditenima dengan lapang dada. Akan
ada saat bagi kemenangan. Maka, aku jalani hukuman
kekalahanku itu. Ada hikmah yang bisa dipetik kok.
Memangnya kamu disuruh ngapain aja? tanya Mira
penasaran.
Apa pun yang dia inginkan. Membawakan pakaian bolanya,
membelikan minuman, rnengambilkan handuk, sampai disuruh
mengerjakan PR. Tapi tiap dia berlatih, aku selalu mengamati
teknik bermainnya. Kuamati dengan saksama. Aku rnempelajari
cara membawa bola dan menendang, posisi kaki, dan gerakan
badan.
Hebat sekali, Riku! Kamu berhasil mengubah masa
hukumanmu menjadi ajang belajar, yang membawamu menjadi
pemain terbaik di sekolah! Kelly menatap Riku kagum.
Ya. Sekarang dia sudah di kelas 12. Dia menjadi sahabat dan
teman bermain bola yang luar biasa untukku.
Kini kalian bersahabat? tanya Mira tak percaya.
lya. Kalian kenal Ruto, kan?
Ya ampun! pekik Kelly. Jadi Ruto, pemain top yang dulu
menghukummu? ldih, aku mau dong kenalan sama Ruto! lya,
aku sering banget lihat kamu dan Ruto berlatih bersama!
Mendadak Kelly kumat gaya lebaynya.
Huh, dasar kamu tergila-gila pemain bola melulu! canda Riku.
Tawanya berderai, membuat wajah Kelly bersemu merah.
Maksudmu... aku juga harus belajar dan Aoi, gitu? tanya Mira
dengan nada datar.
Yap! Kalau kamu mau belajar darinya, tahun depan aku yakin
kamulah yang jadi ketua OSIS. Aoi pasti mengajarimu banyak
hal. Tentu saja kalau kamu mau bersikap rendah hati sedikit,
imbuh Riku.
Mira mengangguk-angguk. Kata-kata Riku benar-benar tepat
mengenai sasaran. Mira semakin mengagumi Riku. Benar kata
Kelly, Riku sangat bijaksana dan dewasa. Mira bertekad menjadi
pribadi yang lebih baik lagi. Tapi benarkah Aoi sebaik yang
dikatakan Riku? Maukah Aoi bekerja sama dengan Mira yang
sejak awal tidak menyukainya? Mira menelan ludah. Dia takut
dirinya bakal menjadi bulan-bulanan Aoi seperti yang dilakukan
Ruto pada Riku.
Mira takut Aoi mengejek dan menyuruhnya ini-itu.
Dirinya bakalan tampak seperti pelayan, bukan wakil OSIS.
Mira dan Aoi telanjur saling benci. Mungkinkah Aoi bisa
menerima Mira?
Ah, Mira sungguh tak bisa menebak.
PELANTIKAN pengurus OSIS berjalan lancar, walau ketua dan
wakilnya tak bertegur sapa sama sekali. Sebetulnya sudah
banyak yang curiga pada ketidakharmonisan Aoi dan Mira. Tapi
gosip belum berkembang. Belum ada yang menanyakan hal
tersebut langsung kepada Mira. Seusai pelantikan, Mira buru-
buru kembali ke kelasnya.
Beberapa hari setelah pelantikan, suatu sore tiba-tiba Aoi
muncul di ambang pintu rumah Mira. Sudah pasti Mira kaget
bukan main. Tapi tampang Aoi tetap sedingin es. Ditambah
dengan kacamata kotak yang bertengger kaku di hidung, wajah
Aoi terlihat seram di mata Mira.
Ngapain kamu ke sini? tanya Mira tak ramah.
Aoi tidak langsung menjawab. Dia melenggang ke bangku teras
dan mendudukinya. Ini kerjaan buat kamu, wakil ketua OSIS,
kata Aoi sambil meletakkan setumpuk kertas di meja.
Kerjaan apa?
Baca aja sendiri. Tapi, tolong kamu jangan pelit. Minta minum
dong. Aku haus banget nih! Mira bengong sesaat, lalu tertawa
dalam hati. Tapi diambilkannya juga minuman dingin untuk
Aoi.
Terima kasih, kata Aoi sambil tersenyum. Setelah menerima
segelas air dingin dari tangan Mira, Aoi meneguknya hingga
tandas.
Tumben senyum, batin Mira. Tapi Mira tak membahas. Dia
sedang malas bertengkar. Tangannya meraih kertas-kertas yang
dibawa Aoi dan membacanya sekilas. Oh, ini kerjaan OSIS
juga?
Ya iyalah! Emang kamu kira kerjaan wakil hanya ngeceng di
mal? Aoi kembali ketus.
Mira mendelik kesal. Ngeceng di mal tapi bareng ketua OSIS
sambil ngerjain tugas sih boleh juga.
Aoi menatap Mira. Yang ditatap pura-pura sibuk membaca.
Oh... jadi kamu sebenarnya kepingin jalan-jalan sama aku?
Naksir aku, ya? Kok nggak bilang dan dulu-dulu sih, Non? Aoi
menggoda Mira.
Naksir otakmu doang. Nggak naksir tampangmu yang
menyebalkan itu. Boro-boro! balas Mira tanpa menatap Aoi.
Aoi mendengus kesal. Kemudian dia menjelaskan tugas-tugas
Mira di OSIS sebagai wakil ketua.
Duh, sibuk juga ya, jadi wakil, keluh Mira.
Emang! sambar Aoi. Kamu baru jadi wakil aja sudah
mengeluh, apalagi kalau jadi ketua. Bisa mati berdiri!
lya... iya. Galak amat sih? Mira mendelik kesal. Trus,
bagaimana cara mengoordmnir teman-teman ini?
Aoi menepuk dahi. Ya ampuuun! Nggak nyangka, ternyata
kamu lemot. Masa kayak gitu aja nggak tahu caranya? Lalu,
kemarin ngotot mau jadi ketua, memang pikirmu kerja ketua
OSIS seperti apa? Aoi geleng-geleng.
Mira cemberut. Ya sudah kalau nggak mau ngajarin. Aku bisa
belajar sendiri kok!
Sekali lagi Aoi geleng-geleng. Akhirnya dia mau juga
menjelaskan kepada Mira mengenai cara kerja, berbicara efektif,
mengevaluasi, serta banyak hal lain yang menyangkut tugas-
tugas Mira di OSIS. Aoi menjelaskannya dengan sabar dan
telaten.
Mira mengangguk-angguk. Kalau masih kurang jelas, Aoi
menjelaskan lagi secara lebih rinci sampai Mira benar-benar
mengerti. Benar kata Riku, sebenarnya Aoi sangat balk. Mira
jadi merasa bersalah karena selama ini galak pada Aoi.
Kerja pertama kita mulai besok, dan itu nggak ada dalam
catatan kita tadi. Kita mengumpulkan dana buat korban Merapi.
Kita akan keliling bersama seksi dana pada jam istirahat pertama
di sekolah, kata Aoi sambil menatap lekat Mira.
Lalu kita ke Yogyakarta menyerahkan bantuan, gitu?
Ya nggak lah! Kita kan bisa transfer ke salah satu stasiun
televisi. Bisa juga lewat PMI, atau lewat lembaga nonprofit.
Banyak cara, Non! Nggak perlu ke Yogya. Ketimbang ngeluarin
uang transpor dan akomodasi di Yogya, mending uangnya
disumbangin aja buat para korban.
Hehe, kok aku jadi oon gini ya? Mira garuk-garuk kepala.
Kalau pintar, kamu udah jadi ketua OSIS.
Aoi tert awa. lya... iya! Mira cemberut.
Besok, berapa pun hasilnya, kita umumkan pada teman-teman
dan guru. Oh iya, khusus untuk anak orang kaya kayak kamu,
minimal nyumbang lima ratus ribu.
Apa?! Senus nih? Mira membelalak.
Nggak usah melotot! Lagian kamu kan wakil ketua OSIS.
Kasih contoh dong ke teman-teman bahwa kamu dermawan.
Heh! Ini bukan rnelotot. Emang dari sononya mataku besar,
tahu! Mira sewot. Yang punya uang kan ortuku. Uang sakuku
tetap aja standar, nggak jauh beda sama remaja kebanyakan.
Lagian, amal kok dipaksa. Suka-suka aku dong, mau nyumbang
berapa! cerocos Mira.
lya... iya, aku cuma bercanda. Gimana soal sumbangan tadi?
Boleh deh. Besok aku nyumbang lima babi!
Aoi membelalak. Lucu sekali tampangnya, sampai-sampai Mira
tertawa geli.
Aku punya beberapa celengen bentuk babi. Gemuk-gemuk
gitu, dan semua penuh karena nggak pernah kubuka. Nah, besok
kita bisa hitung sama-sama isinya. Siapa tahu jumlahnya
lumayan.
Sip! Tapi isinya bukan koin seratusan, kan?
lh, menghina amat sih! lsinya lebih dan satu juta tiap celengen,
tau! Itu celengan gede banget, dan isinya koin seribuan semua!
Serius? Aoi tampak tak percaya. Lima celengan belum
dipecah sama sekali? Aoi terheran-heran. Dia tidak pernah
membiarkan celengannya penuh dan hanya menjadi pajangan.
Aoi selalu memecah celengannya, bahkan sebelum sempat
penuh. Selalu ada kebutuhan mendesak yang membuatnya harus
memakai uang celengan.
Mira mengangguk sekilas. Dia enggan membahas isi
celengannya lagi. Oh ya, rumahmu di mana? tanya Mira
mengalihkan topik.
Jauh banget dan sini. Aku tadi naik bus sampal dekat rumah
Riku, kemudian jalan ke sini.
Lho, kok Riku nggak ikut sekalian ke sini?
Riku mau nganterin mamanya belanja, balas Aoi. Oh, begitu.
Pulangnya bagaimana dong? Kalau balik dulu ke rumah Riku,
dia kan nggak ada?
Aoi tersenyum. Kan aku bisa naik bus dan sini. Tadi aku
mampir di rumah Riku karena aku nggak tahu rumahnu.
Hehe, iya ya. Duh, aku kok mendadak jadi bego begini sih!
Mira garuk-garuk kepala.
Karena berhadapan denganku? Aoi menjulurkan lidah.
ldih! Pede banget sih kamu! pekik Mira sebal. Karena
otakmu dipenuhi ambisi, Non. Makanya jadi orang jangan
terlalu jutek. Nanti cepat tua!
Mira merengut lagi. Aoi memang pintar dan sabar kalau sedang
menjelaskan sesuatu. Tapi kalau sudah menyangkut diriinya
sendiri dan Mira, cowok itu lagi-lagi bersikap judes.
Menyebalkan!
Eh, minta minum lagi dong, pinta Aoi. Mulutku sampai
kering nih, gara-gara harus menjelaskan panjang lebar tugas-
tugasmu tadi.
Mira baru akan mengambilkan minuman ketika terdengar suara
jeritan dan arah dapur. Mira dan Aoi segera berlari ke dapur.
Mbak Nunuk, pembantu rumah tangga Mira, tengah duduk di
lantai. Tangannya memegang telapak kaki kanannya. Wajahnya
terlihat kesakitan.
Kenapa, Mbak? tanya Mira panik.
Tersiram air panas, Non.
Aduh, gimana ini? Mira bingung.
Panggil sopirmu. Kita ke rumah sakit sekarang! kata Aoi
tenang.
Sopirku lagi cuti. Bagaimana ini?
Oke. Tapi mobilmu tidak dibawa sopirmu, kan?
Mira segera mengambil kunci mobil dan menyerahkannya pada
Aoi. Kemudian keduanya memapah Mbak Nunuk berjalan ke
mobil. Mbak Nunuk meningis kesakitan. Mira kian panik.
Ayo, cepet, Aoi!
Sabar. Kalau terburu-buru malah kacau semua. Tenangkan
pikiranmu. Kaki tersiram air panas nggak bakalan menewaskan
Mbak Nunuk! balas Aoi.
Mobil meluncur ke luar rumah. Sepanjang perjalanan Mira
berusaha menenangkan Mbak Nunuk. Tapi dia sendiri justru
berurai air mata. Dia tak tega melihat penderitaan Mbak Nunuk
yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
Aoi tersenyum melihat Mira yang menangis tapi mulutnya tak
henti menghibur Mbak Nunuk.
Heh! Mira cengeng! Kamu sendiri nangis gitu kok menghibur
orang lain!
Makanya buruan dong! balas Mira.
Aoi tertawa. Lewat kaca spion, ia melihat wajah Mira yang jelek
karena menangis. lh, kamu jelek banget kalau menangis!
Nyesel banget aku punya wakil cengeng dan jelek kayak gitu!
ledek Aoi.
Mau nggak mau Mira menghapus air matanya. Ia merasa malu
karena ketahuan lemah dan cengeng. Aoi benar-benar tenang
menghadapi kejadian itu. Cowok itu bahkan masih bisa
bercanda dan menggoda Mira agar tidak terlalu tegang.
Begitu sampai di rumah sakit, Mbak Nunuk Iangsung masuk dan
diperiksa di UGD. Mira duduk menunggu dengan gelisah. Aoi
datang membawakan air mineral untuknya.
Maaf banget ya. Aku merepotkanmu, kata Mira tulus.
Daripada bilang maaf, lebih baik bilang terima kasih.
E-hem, terima kasih, Aoi. Kamu telah membantuku. Aku
nggak tahu apa jadinya andai tadi nggak ada kamu. Aku tahu
apa jadinya...
Mira menoleh. Aoi tertawa ringan.
Kamu pasti akan lari ke jalan dan berteriak-teriak minta
tolong.
Mira tersenyum kecut. Hehe, mungkin. ltu yang paling mudah
kulakukan.
Aoi menatap Mira serius. Orangtuamu selalu pergi tiap hari?
Iya. Mereka sangat sibuk. Kadang berhari-hari mereka nggak
pulang karena ke luar kota. Sekalinya pulang, sehari doang. Itu
pun dihabiskan untuk istirahat. Aku sudah biasa menjalaninya
sejak kecil. Makanya aku dekat sekali sama Mbak Nunuk.
Kamu bahagia?
Mira menatap Aoi. Bahagia yang seperti apa maksudmu?
Yah, apakah kamu senang menjalani hidupmu? Pandangan
Aoi menusuk mata Mira, seolah ingin menyelidik lebih jauh.
Mmm... bagaimana ya? Mira bingung sendiri. Senang nggak
senang, mereka bekerja demi aku juga, kan? Selebihnya sih
memang untuk kebanggaan dan kepuasan hidup mereka sendiri.
Aku paham, suatu saat mungkin aku juga seperti mereka. Lagi
pula aku sudah terbiasa. Jadi nggak masalah.
Aoi tersenyum. Hmm... ternyata kamu cukup dewasa ya?
Kupikir selama ini kamu kolokan, doyannya ngambek dan jutek
ke orang.
Mira tertawa kecil. Aneh. Tiba-tiba saja seluruh tumpukan
kekesalan Mira pada Aoi musnah seketika. Apakah karena Aoi
telah menolongnya? Entahlah. Mira merasa lebih baik berdamai
dengan sang ketua OSIS itu daripada terus-menerus
menganggapnya musuh. Ya, mereka kan harus bekerja sama
mernajukan OSIS. Kalau ketua dan wakilnya saja musuhan,
bagaimana program OSIS bisa berjalan dengan baik?
Setelah diobati, Mbak Nunuk diperbolehkan pulang. Jalanan
macet parah. Mobil Mira maju sedikit demi sedikit, sementara
hari mulal gelap.
Orangtuamu nggak nyariin kamu, Aoi? Biar aku telepon
orangtuamu ya, supaya mereka nggak khawatir?
Nggak usah. Nggak apa-apa kok. Ayah ngasih kepercayaan
penuh ke aku. Jadi nggak apa-apa, kata Aoi sambil terus
konsentrasi mengemudi.
Ibu kamu? Ibu-ibu biasanya panik kalau anaknya nggak
pulang-pulang.
Aku nggak punya ibu. Jadi jangan khawatir, balas Aoi. Air
muka Aoi berubah kaku sehingga Mira tak berani bertanya lagi
tentang keluarga Aoi.
Hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak
ada yang membuka mulut hingga mereka sampai di rurnah Mira.
Hari telah gelap ketika Mira melepas kepergian Aoi. Mereka
saling melempar senyum sebelum Aoi masuk ke taksi. Ah, telah
terjadi gencatan senjata rupanya!
SEMINGGU telah berlalu. Siang itu Mira duduk dengan tegang
di sofa cokelat yang terasa dingin. Jantungnya jumpalitan saking
takutnya. Sementara itu di dekat jendela Aoi menelepon
seseorang. Seorang polisi berkumis tebal mengamati mereka
dari meja kerjanya. Ya, kini mereka berada di kantor polisi.
Rupanya Aoi menyetir sambil melamun sehingga salah jalur.
Mereka ditilang. Celakanya, ternyata Aoi tidak mempunyai
SIM.
Sejam lalu mereka baru saja pulang dan rumah Mei. Cewek
cantik itu didaulat menjadi ketua panitia pentas seni sekolah
yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Berhubung hujan,
Mira berinisiatif membawa mobil untuk menjemput Aoi yang
sedang berada di rumah Riku. Dan situ keduanya menuju rumah
Mei. Eh, pulang dan rumah Mei, mereka malah kena tilang.
Kalau mamanya tahu, Mira pasti disemprot habis-habisan. Itu
yang membuat Mira gemetar. Dibandingkan pada pak polisi,
Mira lebih takut pada mamanya.
Aoi mengempaskan tubuh di sisi Mira. Dia mendesah panjang,
lalu menatap Mira penuh belas kasihan. Maaf ya, Mir.
Masalahnya malah jadi runyam begini.
Ini salahku kok. Mira berbesar hati mengakui kesalahan.
Tapi... siapa yang akan mengeluarkan kita dari sini?
Orangtuaku lagi di luar kota. Kalaupun orangtuaku ada di sini,
aku takut dirnarahi Mama. Mira kian sedih.
Ayahku sedang dalam perjalanan kemari. Tenanglah. Aoi
mencoba tersenyum. Dia merangkul bahu Mira dan menepuk-
nepuk lengan Mira supaya gadis itu merasa tenang.
Mira memang merasa lebih tenang. Perhatian Aoi
menghangatkan hatinya. Mira tidak menyangka Aoi begitu tegar
dan mandiri. Tak tampak sedikit pun ketakutan di wajah Aoi.
Kamu nggak takut, Aoi? tanya Mira.
Aku nggak takut apa pun, Mira, desis Aoi. Hidupku nggak
semulus hidupmu. Aku terbiasa dengan situasi yang nggak
nyaman. Hal seperti ini akan segera berlalu. Jadi, kenapa harus
takut?
Mira tersenyum. Memangnya ayahmu nggak marah?
Tadi juga sudah marah-marah sewaktu aku menelepon. Tapi
dia tetap ayahku, kan? Jadi tentu saja ayahku akan datang
menjemput kita. Lagi pula, aku akan mengganti semua uang
yang Ayah keluarkan untuk menebus kita nanti.
Tapi, bagaimana caranya? Berapa lama kamu harus menabung
uang sakumu sampai bisa membayar uang yang telah
dikeluarkan ayahmu?
Oh, kamu belum tahu ya?
Mira menggeleng. Tahu apa, maksudmu?
Aku mendesain kaus. Pelanggan tetapnya tim sepak bola dan
tim basket sekolah kita. Kaus olahraga tahun lalu juga
karyaku.
Oh ya? Wah... hebat banget! Sungguh, aku sama sekali nggak
tahu kamu berbakat seni.
Aku juga menjual kaus pada teman-teman sekolah lain, para
tetangga, dan kenalan-kenalanku. Semua desainku sendiri,
lanjut Aoi bangga.
Wow! Kamu juga berbakat dagang, ya? Hebat deh, Aoi. Jarang
ada anak seumuran kita yang sudah pintar cari uang, puji Mira
tulus.
Temyata selama ini Mira benar-benar salah menilai Aoi. Mira
jadi menyesal telah memusuhi Aoi. Cowok itu ternyata kreatif
dan gigih.
Makanya kamu harus bersyukur punya orangtua lengkap dan
memberimu semua fasilitas, sehingga nggak susah payah
mencari uang saku sendiri seperti aku. Aoi menatap Mira
dengan pancaran mata bersungguh-sungguh.
Mira tak berani menatap mata Aoi. Ia hanya menunduk sambil
berkata, lya, aku patut bersyukur. Meski mereka jarang sekali
berada di rumah, mereka tetap saja milikku yang sangat
berharga.
Oh, iya. Babi-babimu temyata benar-benar gemuk. Kurasa
kamulah penyumbang terbanyak. Kamu benar-benar tidak
sayang menyerahkan semua tabunganmu?
Ah, sudahlah. Aku nggak pernah memecahkan celengan karena
malas menghitung koinnya, itu saja. Kemarin aku jadi punya
kesempatan mengetahul isi babi-babi itu. Mira tertawa
kecil. Aku ikhlas kok menyerahkan semua tabunganku.
Saudara-saudara kita yang menjadi korban letusan Merapi Iebih
membutuhkannya ketimbang aku.
Aoi tersenyum lebar pada Mira, membuat Mira jadi salah
tingkah.
Menjelang sore, seorang lelaki berambut gondrong dan beruban
memasuki ruangan. Topi kulit bertengger di kepalanya,
sementara tubuhnya terbungkus jaket kulit. Dia menyandang
sebuah tas besar hitam. Dilihat dan tulisan yang tertera di tas
tersebut, sepertinya berisi kamera. Dia ayah Aoi.
Sejenak ayah Aoi menatap Mira dengan pandangan menakutkan.
Mata itu agak merah. Bibir kakunya yang tanpa senyum seakan
melengkapi penampilannya yang tidak bersahabat. Bahkan
terkesan galak. Mira gentar.
Setelah berbicara dengan petugas polisi dan menandatangani
beberapa surat, ayah Aoi menghampiri Mira dan Aoi yang
duduk menunggu di sofa.
Kalian bebas, kata ayah Aoi. Sikap tubuhnya tetap kaku. Dia
berdiri tegak dan tak terllhat tanda-tanda hendak menyapa Mira
dengan lebih ramah.
Terima kasih, Oom. Mira berdiri dan memberanikan diri
mengulurkan tangan, mengajak bersalaman.
Ayah Aoi tak menggubris Mira. Beliau justru memalingkan
wajah, menatap anaknya yang masih duduk di sofa. Aoi, cukup
sekali kamu melakukan kesalahan seperti ini. Kalau sampai
terulang, tanggunglah sendiri. Ayah tidak mau bantu lagi. Kamu
sudah besar. Ingat yang selalu Ayah ajarkan: jangan bergantung
pada orang lain, kamu harus mandiri, apalagi untuk kesalahan
yang kamu lakukan sendiri!
Terima kasih, Yah. Aoi berdiri lalu mengangguk patuh. Aoi
janji, ini yang pertama dan terakhir.
Kini Ayah Aoi menatap Mira. Pandangannya tajam menusuk.
Jangan ajak anak saya mengikuti gaya hidupmu! Dia biasa
hidup sederhana, desisnya.
Mira tersentak. Walau pelan, ucapan ayah Aoi menohok
hatmnya. Tiba-tiba Mira menjadi gentar.
Yah... Aoi terperangah. Dia mencoba menghentikan omongan
ayahnya, tapi mulut lelaki beruban itu tak dapat ditahan.
Jangan jatuh karena perempuan!
Mira pucat pasi. Ia tidak mengerti alasan ayah Aoi
memusuhinya, bahkan pada saat pertama pertemuan mereka.
Please deh, Yah... .
Sudahlah, ayo kita pulang setelah mengantar Nona Kaya ini,
kata ayah Aoi sambil berlalu. Nada bicaranya sangat sinis ketika
menyebut kata Nona Kaya.
Aoi menarik tangan Mira. Mereka mengikuti langkah cepat ayah
Aoi.
Setelah meminta izin pada Mira untuk mengambil alih kemudi,
ayah Aoi menyetir mobil Mira. Aoi menemani ayahnya di
depan, sementara Mira duduk sendirian di belakang. Mira tak
berani berbicara sedikit pun. Dia membeku.
Kalian masih SMA, seharusnya berempati pada jutaan orang
miskin di negeri kita, bukan gaya-gayaan memakai mobil
pemberian orangtua. Kalian bisa memakai angkutan umum atau
naik sepeda. Itu lebih membumi. Apa kalian juga nyaman
terjebak macet di jalanan seperti ini? Ada cara yang sederhana
kok malah cari kerepotan! omel ayah Aoi sambil sesekali
melirik Mira dan spion.
Aoi minta maaf, Yah. Tadi hujan, dan sudah telanjur janji
dengan Mei. Jadi Mira berinisiatif membawa mobil.
Mei lagi... Mei lagi! Mei yang mirip cemara angin yang habis
terbakar itu, kan? Kurus kering, tinggi, sampai ngomong saja
nggak becus karena kehabisan energi.
Sebenarnya Mira ingin tertawa mendengar komentar ayah Aoi
tentang Mel, si foto model itu, tapi ditahannya sekuat tenaga.
Mira jadi tahu ayah Aoi tidak menyukai Mei dan mungkmn
gadis lain yang seperti Mei. Entahlah, mungkin ayah Aoi tidak
menyukai gadis macam apa pun. Buktinya, kepada Mira yang
sangat berbeda tipe dengan Mei, ayah Aoi pun bersikap antipati.
Yah, Mei kan teman Aoi. Biarpun seperti itu, Mei baik kok!
Aoi membela Mei.
Cari teman yang sepadan. Jangan cari teman kaya. Bisa hancur
kamu nanti. Orang kaya hidupnya di awing-awang, tidak seperti
kita, cetus ayah Aoi. Tegas dan dingin.
Deg! Mira makin mengerut di tempat. Seolah tubuhnya
mengecil begitu saja hingga tak kelihatan. Sepertin ya ayah Aoi
tidak menyukai orang kaya, padahal tak semua orang kaya
seperti yang ada dalam pikirannya.
Mobil berhenti di carport rumah Mira yang megah. Aoi dan
ayahnya segera turun, lalu menyerahkan kunci mobil pada Mira.
Saya sudah mengantarmu pulang dengan selamat. Sekarang
kami pulang. Tenma kasih. Salam untuk orangtuamu, kata ayah
Aoi, tetap tanpa senyum.
Saya mohon mampirlah dulu, Oom. Minum teh hangat dulu
dan makan malam. Mbak Nunuk bisa menyiapkannya untuk
Oom dan Aoi. Orangtua saya sedang di luar kota, balas Mira
takut-takut.
Terima kasih. Tapi maaf, kami harus segera pulang. Selamat
malam, kata ayah Aoi, kemudian berlalu.
Aoi tak sempat berkata apa-apa pada Mira, dia langsung
mengejar ayahnya.
Mira masih termangu di sisi mobil, menatap dua punggung yang
kini tak tampak lagi. Mira mendesah sedih, kemudian berbalik,
lalu duduk di teras.
Kenapa ayah Aoi seperti itu? tanya Mira pada dirinya sendiri.
Mira menggeleng-geleng bingung. Sedih juga ada orang yang
sebegitu bencinya pada orang kaya tanpa sebab. Menurut Mira,
ayah Aoi picik sekali karena menyamaratakan semua orang kaya
sebagai orang yang nggak baik. Mira tak mengerti apa yang
dimaksud ayah Aoi, tapi sungguh, dia gelisah setelah bertemu
ayah Aoi yang kaku dan menyeramkan.

***

Aoi!
Mira berlari kecil menghampiri Aoi yang sedang duduk
sendirian di pinggir lapangan sepak bola. Aoi sedang membuka
bekal dan bersiap makan.
Oh... hal, Mira. Aoi menengadah sambil tersenyum. Dia urung
menyuapkan nasi ke dalam mulut.
Mira tersenyum hangat. Entah mengapa, hatinya tenang melihat
Aoi tersenyum. Segera gadis tombol itu menjejeri Aoi.
Kok nggak bawa bekal? tanya Aoi melihat Mira tak membawa
apa pun di tangannya. Aku masih kenyang. Tadi waktu jemput
Kelly, aku ikut sarapan nasi goreng.
Wah, enak ya. Besok ikutan dong! seloroh Aoi. Hehe,
boleeeh. Ibu Kelly pasti senang kalau banyak yang memuji
masakannya. Emang enak banget lho masakan ibu Kelly, Mira
berpromosi.
Baiklah, sekali-sekali aku jemput kamu, trus kita bareng-
bareng jemput Kelly, kata Aoi sambil tertawa.
Mira tersenyum lebar. Temyata, kalau sudah kenal dekat, Aoi
menyenangkan, tidak seperti waktu pertama kali bertemu.
Kebetulan, ada yang ingin Mira tanyakan pada Aoi: tentang
insiden semalam.
Aoi, aku minta maaf tentang kejadian kemarin. Gara-gara pakai
mobilku, kamu dimarahi ayahmu. Dan... ng... ayahmu sepertinya
marah sama aku. Mira meringis. Wajahnya memelas sekali
ketika menatap Aoi.
Ah, itu kesalahanku. Nggak ada hubungannya sama kamu atau
mobilmu. Jadi jangan merasa bersalah begitu. Justru aku yang
harus minta maaf karena kata-kata ayahku semalam. Aoi
menenangkan Mira.
Mira mengangguk. Tiba-tiba dia ingin sekali ke rumah Aoi.
Aoi, boleh nggak sepulang sekolah nanti aku main ke
rumahmu?
Aoi berhenti mengunyah. Dahinya mengernyit memandang
Mira.
Mira menelan ludah dan buru-buru meralat, Eh, nggak. Aku
cuma bercanda. Kalo kamu keberatan, nggak apa-apa kok.
Kamu yakin? potong Aoi. Rumahku di gang kecil perumahan
padat. Di sana panas sekali. Kamu nggak akan betah di
rumahku, balas Aoi.
Mira tersenyum. Nggak apa-apa. Lagi pula ada tugas OSIS
yang harus kita kerjakan bersama, kan? Kita kerjakan di
rumahmu aja, ya?
Aoi mengangguk, meski ragu. Dia memandang mata Mira yang
berbinar senang. Ah, bagaimana pendapat Mira nanti?
Rumahnya dan rumah Mira sangat jauh berbeda. Rumah Aoi
mungkin hanya seluas kamar tidur Mira. Itu pun kamar Mira
sudah pasti lebih bagus.
Setelah makan siang dan istirahat sebentar di rumah, Mira
mengajak Kelly ke rumah Aoi naik angkutan umum. Sepanjang
jalan Kelly terus-terusan mengomel.
lih... gerah banget sih? bisik Kelly di dalam angkot.
Keringatan nih, kalau desak-desakan kayak gini. Lagi pula,
Kelly mendekatkan mulut ke telinga Mira, bapak di sebelahku
bau keringat. Hii...
Mira tertawa kecil. Itu rezekimu, haha.
Kelly cemberut. lh! Kapok deh naik angkot kayak gini. Kamu
sih aneh banget, Mir. Untuk apa di garasimu ada mobil? Untuk
apa punya sopir? Untuk apa kalau nggak kamu gunakan?
Huhuhu... Kelly mulai lebay.
Ssst... diam ah! Nggak enak sama penumpang lain. Kesannya
sombong amat, bisik Mira.
Ah, biarin! Kelly masih merajuk. Kepalaku pusing, tau!
Angkotnya ngerem-ngerem mulu. Mira pura-pura nggak
peduli. Dia sibuk melihat jalanan dari jendela angkot.
Dicocokkannya jalanan dengan denah rumah yang tadi diberi
Aoi. Stop! pekik Mira tiba-tiba.
Ciiittt! Angkot mengerem mendadak, membuat penumpangnya
terguncang. Seisi angkot langsung menatap sebal pada Mira.
Kelly apalagi, dia langsung menyenggol lengan Mira.
Memang rumahnya di sini? tanya Kelly jengkel.
Kayaknya sih, balas Mira sambil buru-buru turun. Kelly
mengikuti di belakang sambil mengomel.
Setelah membayar ongkos angkot, Mira melihat kernbali denah
yang dibuat Aoi untuknya. Aoi yakin Mira tidak akan bisa
menemukan rumahnya, meski denahnya sangat jelas. Tapi Mira
yakin bisa menemukan rumah Aoi tanpa hams menelepon
cowok itu terlebih dahulu. Bagi Mira, anggap saja ini permainan
mencari jejak seperti dalam eskul pramuka.
lya, aku bingung melihat denah ini. Rumit. Banyak sekali
petunjuk gang di sini. Tapi kayaknya kita masuk gang yang itu
aja deh Mira menunjuk salah satu gang di samping pos ronda.
Ya udah. Kalau kamu yakin, kita cepetan ke sana. Panas sekali
di sini nih, Mir. Kulitku bisa gosong! rengek Kelly.
Mereka memasuki gang kecil itu sambil mencari-cari penjual
bensin eceran. Kata Aoi, rumahnya hanya selisih beberapa
rumah saja dari kios bensin eceran itu. Tapi Mira tidak
menemukannya. Ia kebingungan. Berulang kali ia melihat
denah.
Aduh, Mir. Panas. Pusing. Haus. Lengket. Pulang saja yuk!
keluh Kelly sambil mengipasi wajah menggunakan buku.
Aku sudah janji mau ke rumah Aoi kan, Kel! jawab Mira
sambil mendelik sebal. Dia sengaja minta Kelly menemaninya
supaya bisa bekerja sama menemukan rumah Aoi, temyata
keberadaan Kelly justru membuatnya repot.
Yang janji kan kamu, bukan aku! tukas Kelly. Kalau kita
muter-muter terus kayak gini, pasti ada orang yang
memperhatikan. Kalau kita diincar orang jahat lalu diculik,
bagaimana? Aduh... ini kan daerah yang nggak aman, Mir.
Banyak orang jahat! Kelly mulal panik.
Mira semakin kesal. Kamu nakut-nakutin aja sih? Ah, biarin!
Aku nggak mau menyerah. Kita pasti menemukan rumah Aoi!
Kita? Huh, aku mau pulang! Aku nggak tahan dengan
panasnya! kata Kelly, kemudian berbalik dan berjalan tergesa.
Kok kamu gitu sih, Kel?
Aku mau pulang naik taksi. Kalau kamu mau ikut pulang ya
ayo. Tapi kalau masih mau terus mencari rumah Aoi, aku
menyerah! teriak Kelly tanpa menoleh ke belakang. Ia terus
saja berjalan menuju jalan besar.
Mira mendesah sedih sambil memandangi denah. Kelly... kok
nggak setia sih... , gumamnya.
Sudah telanjur pergi jauh, Mira memutuskan akan terus mencari
rumah Aoi. Lingkungan itu asing sekali. Seumur-umur dia
belum pernah berada di gang Sesempit ini, dengan rumah-rumah
kecil yang berdempetan rapat. Sesekali Mira bertanya pada
beberapa orang yang lewat atau berada di depan rumah, tapi tak
ada satu pun yang mengenal Aoi. Mira putus asa. Kulitnya mulal
berkilat banjir keringat. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekat
Mira.
Sontak Mira menoleh dan seketika memucat. Pengendara motor
adalah ayah Aoi!
Tersesat di hutan rimba? sapa ayah Aoi sinis.
Cleguk... Mira menelan ludah. lya, Oom, Mira tersenyum
rikuh. Saya mencari rumah Oom. Ayah Mira menghela napas
berat sambil menatap Mira tajam. Mira memperlihatkan
senyumnya yang paling memelas.
Yuk, naik! Ayah Aoi memberi kode pada Mira untuk naik di
boncengannya, namun kentara sekali, ekspresi wajahnya kurang
senang.
Hati Mira bersorak. Ia langsung nangkring di boncengan motor
ayah Aoi sarnbil mengucapkan terima kasih. Entah berapa kali
motor itu berbelok memasuki gang-gang kecil. Wah... temyata
rumah Aoi masih jauh sekali dan jalan tempat Mira turun angkot
tadi. Berarti setiap hari Aoi jalan kaki beberapa ratus meter saat
pergi dan pulang sekolah. Wow!
Akhirnya tibalah mereka di sebuah rumah kecil.
Mendengar suara motor berhenti, Aoi ke luar rumah. Betapa
terkejutnya Aoi saat melihat Mira datang bersama ayahnya.
Penampilan Mira benar-benar kucel dan lelah.
Ya ampun, Mira! Masuk yuk! ajak Aoi kemudian buru-buru
mengambil air putih untuk Mira. Dalam sekali tenggak, air putih
di gelas tandas. Aoi sampal geleng-geleng.
Lho, katanya sama Kelly? tanya Aoi dengan suara keras. Dia
sengaja melakukan itu supaya ayahnya mendengar.
Kelly pulang karena kepanasan waktu nyari-nyari rumah
kamu, balas Mira, juga dengan suara keras. Ia tahu maksud
Aoi.
Mungkin Aoi nggak enak hati sama ayahnya karena teman
cewek sekolahnya datang sendirian menemuinya. Mira takut
ayah Aoi mengira ia dan Aoi pacaran.
Mira dan Aoi kemudian berdiskusi soal beberapa program kerja
OSIS yang harus segera dijalankan. Mira sesekali mengamati
ayah Aoi yang duduk menghadap laptop di ruang makan. Tak
ada sekat antara ruang makan dengan ruang tamu yang sempit.
Rumah Aoi yang kecil terdiri atas ruang tamu yang dijejali
koleksi buku dan berbagal foto di dinding, dua kamar tidur
bersebelahan, serta ruang makan, dapur, dan kamar mandi di
bagian belakang. Ada sedikit sisa tanah di belakang dapur untuk
menjemur pakalan. Teras depan yang hanya berukuran 2X4
meter disesaki tanaman hias dan tanaman gantung. Tidak ada
ruang keluarga untuk menonton televisi. Bahkan, Mira tidak
menemukan televisi di rumah itu.
Sudah sore, Aoi. Ingat tugasmu! seru ayah Aoi dan ruang
makan. Tatapan ayah Aoi tetap ke layar laptop, tak sedikit pun
dia memandang Aoi dan Mira.
Tugas apa? bisik Mira pada Aoi.
Mmm... masak untuk makan malam. Eh, diskusinya besok lagi
aja, ya? Kan kita juga perlu pendapat teman-teman lain, kata
Aoi agak canggung. Sepertinya dia malu ketahuan harus masak.
Boleh. Mmm... aku bisa bantu kamu masak lho. Aku biasa
masak. Serius! kata Mira sungguh-sungguh.
Aoi menoleh pada ayahnya. Mira boleh membantu kan, Yah?
Mmm... Ayah Aoi hanya berdeham.
Aoi tersenyum. Sepertinya dehaman itu berarti boleh. Aoi
mengajak Mira ke dapur. Saat melewati ayah Aoi, Mira sempat
melihat layar monitor laptopnya. Temyata pria itu sedang
mengedit foto.
Tapi dapumya kecil lho, Mir. Yang kami masak juga bahan-
bahan sederhana. Maklumlah... Ucapan Aoi menggantung. Dia
sibuk mengeluarkan sayuran dari kulkas dan meletakkannya ke
meja keramik di sebelah kompor.
Mira tersenyum. lya, nggak apa-apa. Sini, biar aku yang potong
sayurannya. Sudah dicuci, kan? kata Mira sambil mengambil
pisau dari rak piring.
Sambil memotong-motong sayuran, Mira sesekali melirik ayah
Aoi. Tampang ayah Aoi serius sekali. Merasa sedang
diperhatikan, tiba-tiba ayah Aoi menoleh pada Mira. Gadis itu
tentu kaget, kemudian buru-buru menunduk, bergegas
mengambil sayuran.
Suasana mendadak hening. Tak ada yang membuka mulut.
Mmm... Aoi berdeham. Kamu sering masak, ya? tanya Aoi,
heran melihat betapa cekatannya Mira mengaduk sayuran dalam
wajan di kompor.
lya. Aku suka bantuin Mbak Nunuk kalau teman-teman Mama
datang. Kan kami harus menyiapkan banyak makanan, kata
Mira sambil mematikan api. Tanda masakannya matang.
Wah, kayaknya enak nih! Aoi mengambil sedikit masakan
dengan sendok, lalu mencicipi. Matanya melebar.
Enak?
Jauh Iebih enak daripada tumis buatanku, puji Aoi.
Mira senang sekali. Kemudian dia juga menggoreng tempe.
Setelah selesai, dia menyajikan masakan buatann ya di meja.
Sudah siap nih, Oom, kata Mira takut-takut. Ayah Aoi
menutup laptop. Kemudian dia menatap Mira dengan tajam.
Mira ketakutan. Akankah ia diusir, atau masakannya dicemooh?
Baik. Mari kita makan bersama. Duduklah. Hati Mira
melonjak girang. Terima kasih, Oom. Mira mengambilkan
nasi, yang tampaknya sudah dimasak sejak pagi, untuk Aoi dan
ayahnya dengan riang.
Dia bahagia luar biasa. Perasaan yang sangat aneh menyelusup
ke hatinya. Tahu-tahu Mira merasa dirinya sungguh berharga.
Enak kan, masakan Mira, Yah? tanya Aoi begitu mel ihat
ayahnya makan dengan lahap.
lya, enak sekali. Seperti masakan... mmm... masakan... Ayah
Aoi seolah berusaha mengingat seseorang.
Masakan Ibu seperti ini, Yah?
Bukan... bukan masakan ibumu. Ini rasanya seperti masakan
seseorang dari masa lalu Ayah.
Ayah Aoi termenung beberapa saat. Tapi sudahlah... nggak
penting! katanya buru-buru begitu melihat Aoi dan Mira
menatapnya dengan ekspresi penasaran. Ayah Aoi melanjutkan
makan, hanya kali ini dengan gerakan canggung.
Selesai makan, ayah Aoi menatap wajah Mira. Tapi dia tidak
mengucapkan sepatah kata pun. Sepertinya, dia tengah
mengingat sesuatu.
SEMUA orang dapat melihat betapa ramah dan cerianya Mira
akhir-akhir ini. Mata bulatnya selalu berbinar-binar. Wajah Mira
yang manis terlihat semringah dan ramah karena bibirnya selalu
menyunggingkan senyum. Sungguh, Mira cantik sekali, seakan
hatinya tengah berbung-bunga.
Wah, belakangan ini kamu ceria sekali! seru ibu Kelly ketika
Mira menjemput Kelly.
Terima kasih, Tante, jawab Mira memberikan Senyum manis.
Lagi jatuh cinta, ya? goda ibu Kelly.
Ah, Tante. Nggak kok, Tan! Mira tersipu.
Kelly keluar dari kamar, berseragam rapi. lya tuh, Mira
kayaknya lagi jatuh cinta, ujarnya sambil mengedipkan mata ke
arah ibunya. Jangan-jangan... aha! Jangan-jangan Mira jatuh
cinta pada Aoi deh! Betul kan tebakanku, Mir? Kelly nyengir
pada Mira.
Pikiran Mira melayang. Ia mengingat kembali kebersamaannya
bersama Aoi di rumah sakit, di kantor polisi, dan yang paling
berkesan tentu saja di rumah Aoi saat mereka memasak
bersama. Sekarang Mira dan Aoi sering mengerjakan tugas
OSIS berdua. Mira akui, setiap bersama Aoi, hatinya senang dan
nyaman.
Nah, kamu melamun, kan? Idih... benar nih, kamu jatuh cinta
pada Aol? Mata Kelly melebar. Ekspresinya lucu sekali.
Udah, ah. Yuk berangkat! Mira bangkit, kemudian melakukan
ritual. Dia mencium tangan ibu Kelly, kemudian mencium pipi
Morati. Dah, Tante... Dah, Morati sayang...
Mira, Aoi kan miskin... , kata Kelly hati-hati, saat mereka
bejalan di trotoar.
Memang kenapa kalau miskin? tanya Mira.
Mmm... apa cocok denganmu? Walau gaya hidupmu tidak
mewah, kamu kaya, banyak perbedaan, kan?
Mira mengangkat bahu. Nggak kerasa tuh. Aoi asyik-asyik aja
orangnya. Aku toh bukan tipe orang yang senang
menghamburkan uang. Lagi pula, Aoi mandiri. Pada usia
semuda kita, dia sudah punya penghasilan sendiri.
Tapi katamu, ayahnya galak?
Memang iya sih, tapi nggak masalah juga. Yang penting
buatku, Aoi baik dan otaknya pintar. Aku selalu mengagumi
cowok pintar.
Aiiih... yang lagi jatuh cinta! Kelly geleng-geleng geli.
Akhirnya kamu mengalami sendiri rasanya jatuh cinta. Semoga
kamu nggak ngerasain patah hati jugaseperti aku. Kelly
menggigit bibir. Rupanya dia masih terkenang penolakan Riku.
Hai, Mira... Hai, Kelly... Seperti biasa Riku menunggu mereka
setiap berangkat sekolah. Kamu cerah sekali, Mir.
Riku tersenyum pada Mira. Namun ada yang aneh dengan
senyum Riku. Ya, Riku tahu Mira tengah jatuh cinta pada Aoi.
Aoi sering cerita pada Riku tentang kedekatannya dengan Mira
sekarang. Riku cemburu. Dia menyayangi Mira lebih dan
sekadar sahabat. Dia ingin Mira jadi pacarnya.
Di gerbang sekolah ternyata ada yang menanti kedatangan
mereka. Aoi bersender di pagar besi. Senyumnya mengembang
begitu melihat Mira. Ya, tatapannya fokus pada Mira sebelum
kemudian ia menyapa Kelly dan Riku.
Mira semakin berbunga-bunga. Ah, jatuh cinta memang indah!

***

Mira kembali bertandang ke rumah Aoi pada hari Sabtu.
Biasanya Mira melewatkan akhir pekan di rumah Kelly.
Namun kini dia lebih suka memasak bersama Aoi. Mira senang
Aoi dan ayahnya menyukai masakannya. Sebaliknya, Mira
bahagia bisa menghabiskan waktu bersama cowok pujaannya.
Tumben ayahmu belum pulang jam segini? tanya Mira ketika
sedang menggoreng udang.
Jam kera Ayah nggak teratur. Kebetulan saja waktu itu Ayah
pulang sore. Kerja jadi juru kamera TV sering sampai larut
malam. Itu pun, sehabis kerja, kadang ayah masih hunting
pemandangan bagus atau ngumpul dengan teman-temannya di
bengkel fotografi.
Ayahmu hobi fotografi juga?
lya. Ayah sering memboroskan uangnya untuk hobi yang satu
itu. Salah satunya untuk jalan-jalan mencari gambar bagus.
Oh! Mira manggut-manggut. Eh, kamu kok nggak pernah
cerita tentang ibumu?
Aoi diam sejenak. Ibu berpisah dan Ayah waktu aku masih
bayi. Ibu kuliah lagi di luar negeri atas biaya orangtuanya yang
kaya raya. Pernikahan Ayah dan Ibu memang tidak direstui
keluarga Ibu.
Oh, pantas ayahmu alergi sama orang kaya, sambung Mira
sambil tersenyum kecut.
Oh, itu ceritanya lain. Sebelum menikah dengan Ibu, ayahku
pernah tergila-gila pada seorang perempuan kaya raya. Mereka
pacaran beberapa tahun. Ayah sangat mencintai perempuan itu.
Tapi setelah lulus kuliah, perempuan itu mencampakkan Ayah
dan berpaling pada cowok kaya. Sakit hati Ayah terbawa sampai
Sekarang, terang Aoi. Padahal Ayah sudah menyiapkan
tabungan untuk pernikahan mereka. Ayah stres berat. Hingga
akhirnya Ayah bertemu dengan ibuku dan dalam waktu cepat
mereka menikah. Tapi apa boleh buat, mereka berpisah juga.
Ayah punya kehidupan aneh. Dia suka bepergian dalam waktu
lama, berburu gambar bagus di hutan dan daerah pedalaman,
bahkan pernah sampai ke luar negeri. Sebenarnya penghasilan
Ayah lumayan, tapi uangnya habis untuk hobinya itu. Juga
untuk anak-anak asuhnya...
Anak asuh?
Iya. Sejak kecil aku punya saudara-saudara asuh. Ayah
penyumbang tetap di beberapa panti asuhan. Kami berusaha
nggak egois, Mir. Bagi kami, hidup Sederhana seperti ini cukup.
Ada kelebihan uang kami sumbangkan untuk orang yang masih
kekurangan.
Mira mendesah, rnerasa tak enak hati rnendengar cerita Aoi.
Walau sekarang sikap ayah Aoi sudah mencair, tetap saja Mira
cemas ayah Aoi mendadak tidak menyukainya. Mira terdiam
cukup lama sampai akhirnya dikagetkan kedatangan ayah Aoi.
Eh, ada Mira di sini. Lagi masak apa, Mir? sapa ayah Aoi.
Udang goreng tepung, Oom.
Wow! Aromanya tercium dan luar. Tapi kayaknya Oom nggak
belanja udang deh. Ayah Aoi mengerutkan dahi.
Tadi saya mampir ke supermarket sebelum ke sini.
Oh... Ayah Aoi duduk di wang makan. Dia memperhatikan
gerak-gerik Mira. Ekspresinya lagi-lagi seperti sedang
mengingat-ingat sesuatu atau seseorang.
Ayah mau minum apa? tanya Aoi.
Mmm... Mir, yang segar dan menghangatkan saat udara dingin
begini apa ya? Ayah Aoi malah bertanya pada Mira.
Mmm, apa ya? Mira berpikir sejenak. Aha! Saya akan
buatkan minuman hangat untuk Oom! Tunggu lima belas menit
ya!
Ayah Aoi menganggu-angguk sambil tersenyum samar. Lagi-
lagi dia terlihat seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri atas
sesuatu. Lima belas menit kemudian, saat Aoi menyiapkan
makan malam di meja, Mira menyajikan minuman istimewa
untuk ayah Aoi.
Ini terdiri dari...
Jahe, sereh, sedikit asam, madu, dan gula merah, kata ayah
Aoi memotong keterangan Mira.
Mira kaget, tak menyangka ayah Aoi tahu racikan minuman
yang dibuatnya. Padahal seingat Mira, Mama bilang, minuman
itu memakai resep khusus keluarga Mama.
Ayah Aoi mengambil sendok kecil untuk mencicipi minuman
buatan Mira.
Mmm... persis! desis ayah Aoi sambil menatap Mira.
Mira duduk termangu. Dia heran, dan mana ayah Aoi tahu resep
minuman keluarganya itu? Minuman itu kesukaan Mama dan
Mama selalu membuat sendiri, tidak pemah minta tolong Mbak
Nunuk. Aneh!
Ayah Aoi manyantap makan malam tanpa bicara Sepatah kata
pun. Bahkan dia tidak mengomentari lagi udang tepung yang
dibuat Mira. Aoi ikut diam. Yang terdengar hanya denting
sendok dan pining. Tak ada yang bennisiatif memulai
pembicaraan. Mira merasa tak nyaman dengan situasi tegang
seperti itu.
Usai makan, saat Mira dan Aoi mencuci pining, ayah Aoi tetap
bergeming di kursi makan, menikmati minuman hangatnya
sambil melamun.
Ayahmu kenapa? bisik Mira.
Nggak tahu, jawab Aol, menggeleng.
Abis ini aku Iangsung pulang aja ya.
Aku antar sampai halte.
Mira mengangguk.
Usai mencuci piring dan membersihkan dapur, Mira pamit pada
ayah Aoi. Lelaki itu tak menjawab, hanya mengibaskan tangan.
Sikapnya kembali dingin, seperti pertama kali berjumpa Mira.
Dengan perasaan tak keruan, Mira beringsut undur diri.
Ayahmu kenapa? tanya Mira lagi saat dia dan Aoi sudah di
luar rumah.
Entahlah. Aoi mengangkat bahu. Ayahku memang aneh.
Ada apa dengan minuman buatanku? Ayahmu menikmatinya
sambil melamun. Sepertinya sejak kuberi minuman itu ayahmu
jadi aneh.
Entahlah. Mungkin Ayah teringat seseorang. Aku juga nggak
tahu, Mira.
Mira mendesah sedih. Sepertinya ayahmu betu-lbetul nggak
menyukaiku. Padahal aku senang sekali tadi ayahmu menyapaku
ramah, saat mencium udang masakanku. Ternyata sebentar saja
ayahmu berubah.
Sudahlah, Mir. Sifat ayahku memang unik. Mmm... maaf ya.
Aku mengantarmu sampal halte aja, nggak bisa mengajakmu
jalan-jalan malam Minggu begini.
Mira berhenti sambil menatap Aoi. Kebersamaan kita di
rumahmu itu lebih berarti daripada seribu kali jalan-jalan ke
mal. Aku senang bersamamu, memasak, dan berbincang
denganmu, kata Mira sungguh-sungguh.
Aoi tersenyum lembut. Dia berdiri di hadapan Mira, lalu meraih
kedua tangan cewek itu.
Tanpa Mira duga, Aoi mencium punggung tangan Mira dengan
sepenuh hati. Jantung Mira berdegup kencang. Rasanya bagai
terbang ke langit ketujuh. Selain itu, Mira juga rikuh. Mereka
ada di gang sempit dan bagai sedang melakukan adegan film
romantis. Wajah Mira merona merah. Senang, sekaligus malu.
Aoi menatap wajah Mira yang kemerahan. Terima kasih ya,
Mir. Hidupku jadi berwarna karena kehadiranmu. Aku juga
nggak merasa kesepian lagi karena ada kamu yang bisa
kulamunkan. Kamu mengisi hidupku yang kering dengan
senyum dan kecenaanmu. Kini hidupku betul-betul indah.
Semua karena kamu, Mir.
Mira tersenyum. Aku juga sangat bahagia. Aku senang bisa
bersamamu.
Keduanya tersenyum, kemudian melanjutkan perjalanan sambil
bergandengan tangan. Mira merasa sedih saat sampai di halte.
Itu berarti dia harus segera berpisah dan Aoi. Begitu pun Aoi,
berat sekali melepas Mira pulang. Ingin rasanya Aoi memeluk
Mira dan tak melepaskannya lagi.
Mira...
Mmm... hati-hati, ya... , kata Aoi akhirnya.
Mira mengangguk. Dengan berat hati dia melepas tangan Aoi
saat bus datang. Dengan enggan Mira memasuki bus, duduk di
sisi jendela, kemudian memandang Aoi yang melambaikan
tangan ke arahnya. Entahlah, ada perasaan aneh merayapi
hatinya. Perpisahan yang seharusnya menjadi peristiwa biasa
kali itu terasa menyedihkan.
Sepanjang perjalanan pulang Mira melamun. Hatinya sedih
karena tak sempat bermalam mingguan dengan Aoi dan ngobrol
banyak hal.Begitu pun Aoi. Ia berjalan lesu pulang ke rumah.
Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak, entah apa.

***

Hingga larut malam Mira masih gelisah, tak mampu terpejam
sekejap pun. Jantungnya berdebar kencang, sekalipun posisinya
terbaring. Yang ada di otaknya hanya Aoi. Ingin rasanya dia
berlari kembali ke rumah Aoi, memeluknya, dan mengatakan
betapa dia sangat mencintai cowok itu. Yah, Mira yakin dia
jatuh cinta pada Aoi.
Mira menghubungi nomor HP Aol, tapi HP Aol tidak aktif.
Akhirnya Mira memberanikan diii menelepon rumah Aol.
Halo... Suara di seberang jelas suara ayah Aoi.
Oom, Aoi sudah tidur atau belum?
Ini sudah hampir tengah malam!
Telepon di seberang ditutup dengan kasar, Mira terperangah.
Dia menyesal teiah bertindak bodoh.
Aduh! Mengapa aku nekat nelepon Aoi ya? Ayah Aoi pasti
marah besar! Duh, apa yang salah sih dengan sore tadi? Kok
ayah Aoi bisa berubah seperti itu? Duh... bagaimana dong? Aku
mengacaukan segalanya, keluh Mira. Dia membanting tubuh ke
ranjang, memeluk guling, dan mulal menangis. Hatinya kesal
dan semakin gelisah.
Mira baru pulas setelah jam dua dini hari. Padahal pagi-pagi
sekali Mira janji menjemput Mama di bandara. Sekarang jelas
tidak mungkin. Mira bangun kesiangan. Begitu melihat jam,
waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Mira takut mamanya marah padanya. Buru-buru dia mandi. Dia
tidak sarapan karena nggak keburu. Mama pasti sedang
menunggu di bandara sambil ngomel-ngomel. Mira turun ke
ruang makan untuk pamit pada Mbak Nunuk. Namun, ternyata
mamanya sudah duduk manis di ruang makan sambil membaca
koran.
Mama! pekik Mira.
Mmm, tumben kamu malas? Matahari sudah tinggi baru
bangun, sampai nggak menjemput Mama di bandara, tegur
Mama sambil menurunkan koran. Diageleng-geleng memandang
anaknya.
Mira meringis. Maaf, Ma. Semalam Mira belajar sampal larut
malam, katanya berbohong.
Ya sudah. Sekarang kita sarapan dulu yuk! ajak Mama.
Mbak Nunuk bikin telur dadar kesukaanmu nih.
Mira menghela napas lega. Tumben, mamanya nggak marah-
marah seperti biasa. Sebetulnya Mira heran dengan kebiasaan
mamanya marah-marah di rumah. Emosi Mama berada pada
posisi tegangan tinggi melulu. Mama tak pernah menghabiskan
waktu di rumah untuk santai.
Kapan Papa pulang, Ma?
Wah, Mama juga belum tahu. Mungkin Selasa. Bagaimana
sekolahmu, Mir? Tidak ada kesulitan, kan?
Mmm... menyenangkan kok, Ma. Mira tersenyum.
Mendadak sosok Aoi menghiasi pikirannya. Ya, Aoi yang
membuat sekolah menjadi sangat menyenangkan baginya kini.
Mama menatap Mira curiga. Menyenangkan?
Mira menelan ludah. Glek. Salah jawab deh!
Maksud Mira... ngg... penuh tantangan! Ya, semua siswanya
pintar, jadi Mira harus menyiapkan diri untuk bersaing, ralat
Mira sambil menunjuk kepala.
Mama tersenyuni samar, kemudian meneruskan sarapan.
Mira menghela napas lega. Untunglah Mama tak
memperpanjang. Jantung Mira sempat melompat. Dia takut
mamanya tahu dirinya sedang jatuh cinta. Bisa marah besar deh
Mama, lalu Mama bakal tinggal lama nih untuk mengawasi
semua gerak-gerik Mira.
Bisa jadi Mama ngotot mengantar dan inenjemput Mira sekolah.
Mira tak akan leluasa bergerak bebas, apalagi untuk main
bersama Aoi.
Ma, Mira boleh nggak sore nanti main ke rumah teman?
Siapa? Kelly?
Bukan, teman cowok. Dia ketua OSIS, ada beberapa hal yang
ingin Mira bicarakan dengannya.
Ups. Mira langsung menutup mulut. Kenapa dia kelepasan
ngomong mau ke rumah cowok sih?
Orangtuanya kerja apa? tanya Mama menyelidik.
Mmm... Mira bingung mau menjawab apa.
Dan kelas atas seperti kita? lanjut Mama tanpa menunggu
Mira menjawab pertanyaannya yang pertama.
Mmm... Sekarang Mira garuk-garuk kepala.
Kalau nggak, nggak usah. Jangan bergaul sama kaum bawah.
Hidupmu akan susah. Bagaimanapun uang tetap berperan besar
dalam menciptakan kebahagiaan.Makanya kamu sekolah yang
pintar, supaya kamu bisa kuliah di luar negeri dan kelak jadi
orang sukses.
Mira menatap mamanya dengan sedih. Ma... Mama kok gitu
sih? Mira ingin bergaul dengan semua orang tanpa membedakan
status sosialnya, Ma.
Bergaul boleh. Tapi ingat, kamu tidak boleh jatuh cinta pada
cowok yang tidak jelas status sosialnya. Tidak baik buat masa
depanmu!
Mira mematung, nanar menatap Mama yang masih asyik
sarapan sambil niembaca koran. Kata-kata yang meluncur
dengan nada datar dan mulut mamanya begitu menohok hati
Mira.
Mama mendongak, menatap Mira. Kok malah melamun? SI
ketua OSIS apamu? Bukan pacarrnu, kan?
Kali ini Mama menatap Mira dengan penuh selidik, rnembuat
Mira salah tingkah.
Dia hanya teman kok, jawab Mira lirih.
Mamanya menatapnya tajam. Benar?
Mira mengangguk.
Tapi matamu mengatakan yang sebaliknya. Sore nanti Mama
akan ajak kamu belanja. Kamu boleh membeli apa saja yang
kamu inginkan. Sekarang Mama mauistirahat sebentar, lalu ke
salon. Mau ikut?
Mira melipat wajah. Mamanya selalu mengimingi minginya
barang mewah. Mira sudah hafal hal itu dan dia tidak tertarik.
Tapi Mama juga pantang ditolak. Mira harus selalu menuruti
kemauannya, bahkan dalam hal memberi hadiah pun, Mira
dipaksa menerimanya. Tapi kali mi dada Mira sesak karena
mengingat Aoi. Seandainya Mama tahu keadaan Aoi. Jika saja
Mama melihat rumah Aoi. Kalau Mama kenal ayah Aoi. Sudah
pasti...ya, sudah pasti hubungannya dengan Aoi akan ditentang
habis-habisan.
Gimana? Mau ikut ke salon? desak Mama.
Nggak, Ma, sahut Mira, kemudian berjalan Setengah berlari
naik ke kamarnya. Gadis manis itu melempar tubuh ke kasur dan
menangis sedih.
Ternyata jatuh cinta rasanya sangat nggak enak. Hati selalu
gelisah, rindu, dan ingin bertemu orang yang dicintai. Kalau
jatuh cinta rasanya nggak enak begini!, kenapa semua orang
mau mengalaminya? Jatuh cinta sungguh membuatku aneh,
tertawa sendiri, melamun, berkhayal, dan jantungku selalu
berdebar. Aku sulit tidur dan susah makan. Aku tiba-tiba
menjadi pemalas. Auhhh! Begini ya rasanya jatuh cinta. Lantas,
apakah Aoi juga mengalaminya? Oh God, aku bisa gila kalau
Aoi nggak mencintaiku.
Mira menuliskan rasa hatinya dalarn buku biru. Dia hanya bisa
menulis dan menulis. Dia tak mau berbagi pada siapa pun saat
itu, bahkan pada Kelly sekalipun.
Mira kemudian duduk di balkon kamar, mendengarkan lagu
First Love sambil tersenyum-senyum sendini. Mira merasa link
lagu itu persis dengan yang dialaminya saat itu. Seorang gadis
yang sedang jatuh cinta, tingkahnya mendadak aneh sehingga
semua orang dapat melihat perubahannya. Sepanjang hari hanya
melamun, namun malu untuk menceritakannya.
Mira tersenyum sendiri. Mmm... aku nggak sabar menanti han
esok untuk menyatakan cintaku pada Aoi. Ya ampun, Aoi, aku
harap kamu juga merasakan apa yangkurasakan.
Mira! panggil Mama dan lantai bawah. Mau ikut ke salon
nggak? Kalau mau, buruan slap-slap!
Nggak, Ma! seru Mira kesal karena lamunan indahnya
terputus begitu saja.
Ya, untuk saat ini Mira tidak menginginkan apa pun.
Dia hanya ingin mengkhayalkan Aoi. Rasanya mengasyikkan
merangkai cerita tentang kedekatan mereka, walaupun cuma di
pikiran.
Mira tersenyum. Dia teringat saat Kelly jatuh cinta pada Riku.
Mira menertawakan kekonyolan Kelly, namun sekarang Mira
kena batunya.
Ah, mumpung Mama ke salon, kenapa aku nggak ke rumah Aoi
saja? pikir Mira.
SEORANG bapak berumur enam puluhan menginjak kaki Mira
sehingga Mira yang saat itu hanya memakai sandal meringis.
Namun sebelum bapak tersebut minta maaf, Mira sudah
tersenyum terlebih dahulu padanya. ltulah hebatnya orang jatuh
cinta. Rasa sakit terkalahkan rasa bahagia di hati yang begitu
indah.
Siang itu Mira sedang dalam perjalanan ke rumah Aoi. Udara
panas dan keharusan berdini berdesakan di bus yang penuh
sesak tidak dipedulikannya. Mira rela berkeringat dan
merasakan ketidaknyamanan sesaat demi bertemu pujaan
hatinya. Jantung Mira semakin berdebar begitu mendekati
rumah Aoi. Perasaannya tak keruan, antara takut bertemu ayah
Aoi dan keinginan yang kuat untuk berjumpa Aoi.
Aoi! panggil Mira sambil mengetuk pintu rumah Aoi.
Sunyi. Tak ada sahutan dan dalam.
Aoi! seru Mira sambil mengintip dari sela-sela jendela kaca.
Di dalam terlihat gelap.
Mira mendesah, kemudian duduk di bangku teras untuk melepas
lelah. Aoi tidak di rumah. Bodohnya Mira, karena tak
menghubungi Aoi Iebih dahulu sebelum bertandang. Oh iya...
HP! Mira mengeluarkan HP, lalu mulal menghubungi nomor
Aoi. Berkali-kali Mira mencoba menelepon Aoi, tapi nomor
tersebut tak bisa dihubungi.
Aoi... kamu di mana? Aku kangen sekali, gumam Mira sambil
menatap langit yang baru disadarinya sangat mendung.
Mira mempemiainkan HP di tangannya. Dia gelisah tiada tara.
Dadanya sesak oleh rindu dan kecewa. Seandainya sedang
berada di dalam kamarnya, mungkin Mira sudah menangis
sesenggukan. Apa boleh buat, cairan bening di kelopak mata
harus ditahan sekuatnya. Dia berada di halaman rumah orang.
Malu kalau sampai ada yang melihatnya menangis di situ.
Tiba-tiba bulir-bulir air turun dari langit. Pertama-tama berupa
gerimis, namun menderas dengan cepat. Mira terjebak di teras
Aoi. Dia tak mungkin pulang karena tidak membawa payung.
Terlebih hujan turun disertai angin yang bertiup kencang. Mira
sampai harus berdiri merapat pada pintu agar tidak terkena
semburan air yang terbawa angin.
Aoi, pulang dong, keluh Mira sambil menggosok-gosok kedua
lengan yang terasa dingin. Masih untung dia memakai celana
panjang sehingga kakinya terasa lebih hangat.
Duh, kenapa harus hujan sih? Tadi kan matahari terik sekali,
keluh Mira seraya mendesah sedih. Hujan tak kunjung berhenti.
Berkali-kali Mira melihat arlojinya. Sepuluh menit, setengah
jam, satu jam, satu jam lima belas menit...
Kalau Mama pulang dan tahu aku nggak ada di rumah,
bagaimana? Mira kian gelisah. Meski kedinginan dan dihantui
rasa takut pada mamanya, Mira tetap tak menyesali pilihannya
untuk pergi ke rumah Aoi. Mira bahkan bertekad akan
menunggu sampai Aoi pulang. Mira berjanji akan melupakan
penderitaannya slang itu bila dia berhasil bertemu Aoi dan
melihat wajah tenang serta menatap mata teduhnya. Mira
tersenyum. Membayangkan wajah Aoi menghibur hatinya. Ah,
cinta memang aneh!
Hujan tetap deras, teras Aoi mulal digenangi air. Mira duduk
kembali di bangku sambil mengangkat kedua kaki. Dia tak
menyangka teras tersebut bisa banjir. Ternyata teras Aoi Iebih
rendah daripada jalanan. Air mulal masuk, meski dihalangi
tanggul seadanya. Mira termenung. Dia duduk sambil memeluk
lutut. Hatinya berharap Aoi atau ayahnya segera pulang.
Berkali-kali Mira mencoba menghubungi Aol lagi, namun
teleponnya tak pemah tersambung.
Kira-kira Aoi ke mana ya? Ke pasar? Ke mal? Mengunjungi
saudara? Mengapa belum pulang juga? Ah, Mira, kenapa kamu
jadi bodoh? Ini kan hujan. Aoi pasti menunda pulang! Huh...
Mira mendengus kesal.
Mira mencoba menghibur diri dengan mendengarkan musik dan
HP. Namun, yang terjadi Mira justru menangis saat musik
syahdu menyentuh hatinya. Lama Mira berurai air mata sambil
terisak-isak karena terh anyut lagu-lagu Lawas bertema cinta.
Uh... Aoi, pulang dan hibur aku dong! batin Mira merengek.
Tuuut...!
Hp Mira mati karena kehabisan baterai. Mira. terpaku. Dia tak
tahu harus bagaimana lagi menghibur dirinya sendiri.
Aku benci jatuh cinta. Jatuh cinta membuatku begitu bodoh.
Mengapa aku harus ke rumah Aoi? Mengapa harus mau
menunggu begitu lama dalam kedinginan dan tapar? Jatuh cinta
rnembuatku begitu tolol! Mira merutuki kesialannya. Tapi tak
ada yang bisa dilakukannya selain duduk dan menunggu hujan
reda.
Hujan baru berhenti menjelang sore. Mira betul-betul lapar dan
haus. Dia nekat menurunkan kakinya yang pegal ke dalam air
keruh yang menggenang di teras. Lalu kedua kakinya diayun-
ayunkan.
Kalau pulang sekarang, nanggung. Sebentar lagi pasti Aoi
pulang. Ya, Aoi akan segera pulang. Aku harus sabar menunggu
dan nggak boleh putus asa, Mira menguatkan hati. Huh, kenapa
sih nggak ada penjual makanan yang lewat? Aku lapar sekali.
Ah, aku memang bodoh. Jalanan tergenang banjir begini, siapa
yang mau jualan? Sabaaar. Aoi pasti dalam perjalanan pulang,
lagi-lagi Mira menghibur diri.
Mira mendesah sedih. Kakinya terus bermain air, tak peduli
ujung-ujung jarinya mulai keriput. Akhirnya hati Mira sampal
juga pada titik yang menunjukkan perjuangannya menunggu Aoi
sia-sia belaka. Mira menyerah dan memutuskan pulang. Petang
menjelang. Malam siap memayungi Jakarta dengan kegetapan.
Mira menggigil kedinginan. Sebelum meninggalkan rumah Aoi,
dia menuliskan sebuah pesan, lalu meletakkannya di bangku.
Kemudian Mira melangkah pelan, menerjang banjir yang masih
menggenangi jalan. Hatinya pilu. Air mata deras mengalir di
pipi. Beberapa kali Mira hampir jatuh. Tubuhnya lemah dan
sempoyongan karena lapar. Dia berhasil sampal di pinggir jalan
raya, namun sama sekali tidak berpapasan dengan Aoi di gang.
Pupus sudah harapannya bertemu Aoi saat itu. Mira mencegat
taksi. Dia meringkuk di kursi belakang sambil terus menangis
dan menggigil.
Saya antar Mbak ke dokter saja ya? Sopir taksi terlihat cemas.
Berkali-kali dia melihat Mira dan kaca spion.
Tidak usah, Pak. Terima kasih, balas Mira pelan.
Mbak yakin baik-baik saja?
Iya. Saya cuma kedinginan. Tolong kecilkan AC-nya. Sopir
taksi menuruti permintaan penumpangnya. Kalau bisa dia ingin
memacu taksinya kencang, tapi jalanan macet. Tak ada yang
bisa diperbuat. Mira mencoba bertahan. Dia tak mau kalah oleh
rasa dingin dan lapar. Mira meyakinkan din sendiri bahwa dia
baik-baik saja, hanya hatinya yang sakit. Dia memb ayangkan
pengungsi korban bencana yang jauh Iebih menderita.
Kehilangan keluarga, kehilangan harta, dan tak ada yang bisa
dimakan. Tubuh Mira menjadi Iebih hangat saat membayangkan
betapa beruntungnya dia karena tak kehilangan apa pun.
Bahkan, Mira masih dianugerahi perasaan cinta.
Begitu tiba di rumah, Mira disambut wajah cemas Mama dan
Mbak Nunuk. Belum sernpat menjawab satu pertanyaan pun,
Mira pingsan.
Mira! seru Mama kaget. Segera a menangkap tubuh Mira
yang basah kuyup.
Mbak Nunuk menangis melihat Mira yang ambruk bagai pohon
layu diterjang angin. Berdua Mama, Mbak Nunuk membopong
tubuh ningkih Mira menuju sofa.
Mama mengganti baju Mira, melap dengan handuk bersih, dan
menghangatkan tubuhnya dengan minyak kayu putih. Dokter
keluarga segera dipanggil.
Dokter bilang, Mira hanya kedinginan dan akan segera pulih.
Mama sampai geleng-geleng. Dia begitu ingin menanyai Mira
kenapa bisa seperti itu, tapi masih belum tega melihat kondisi
lemah anaknya.
Begitu Mira siuman, Mbak Nunuk senang bukan main. Dia
memijiti tangan Mira. Melihat itu, Mira tersenyum haru.
Mama mana, Mbak? tanya Mira.
Sedang makan malam dengan Dokter Awan. Non kenapa bisa
sampai kelaparan sih? Non kan bawa uang. Kenapa nggak
jajan?
Mira menghela napas panjang. Dadanya kembali sesak dan
matanya berkaca-kaca. Namun dia tak ingin menangis lagi.
Mbak Nunuk menatapnya, menunggu jawaban dan mulut Mira.
Mama Non tadi khawatir sekali. HP Non nggak bisa dihubungi.
Mbak Kelly dan Mas Riku juga nggak tahu Non pergi ke
mana.
Sudahlah, Mbak. Nggak penting lagi sekarang.
Non, ini Jakarta. Mbak khawatir Non diculik. Lain kali kalau
pergi HP-nya diaktifkan. Hampir saja tadi mama Non lapor
polisi saking cemasnya.
Mira termenung.
Tiba-tiba Mama memasuki kamar dengan wajah datar,
kemudian duduk di tepi ranjang. Mir, ke mana kamu seharian?
Mama hampir mati ketakutan. Mama takut kamu kenapa-napa.
Tolong jawab Mama sejujurnya. Mama janji nggak akan
marah, pinta mamanya.
Mira memiringkan tubuh, kemudian menarik selimut hingga
menutup kepala. Mira menangis tertahan. Dia belum siap
berbicara pada mamanya. Mira tahu mamanya pasti marah.
Nggak mungkin nggak marah kalau tahu Mira jadi seperti itu
gara-gara seorang cowok.
Mama mendesah panjang. Mama janji nggak akan marah, asal
kamu bercerita jujur. Kamu ke mana tadi?
Tubuh Mira berguncang. Tangisnya meledak. Dia tetap menutup
mulut rapat-rapat karena betul-betul tidak mau membagi
kisahnya tentang Aoi.
Mama menyerah, dan tidak lagi membujuk Mira bicara. Dia
meninggalkan Mira dan Mbak Nunuk yang ikut menangis.
Mbak Nunuk tak pernah tahan melihat Mira menangis. Apalagi
kali ini Mira menangis begitu hebat.
Mira mau sendirian, Mbak! pinta Mira dengan suara serak.
Tapi Non makan dulu ya?
Mira mau bobo.
Tapi, Non...
Tinggalkan Mira sekarang, Mbak. Mira kepingin sendiri, kali
itu Mira betul-betul memohon.
Mbak Nunuk tak berdaya. Nasi dan lauk di meja samping
ranjang ditutupnya dengan tudung saji kecil. Nanti makan ya,
Non. Teh angetnya juga diminum biar Non kuat kembali. Mbak
keluar dulu. Kalau ada apa-apa, panggil Mbak aja. Ntar Mbak ke
sini.
Mira tidak menjawab. Dia semakin membenamkan kepala ke
bawah selimut dan kembali menangis.

* * *

Pagi-pagi sekali, meski tubuhnya masih panas dan suaranya
serak, Mira nekat berangkat ke sekolah diantar Pak Bardi, sopir
keluarga Mira. Mama dan Mbak Nunuk tak bisa menahan Mira.
Gadis manis itu tetap keukeuh menganggap dirinya baik-baik
saja. Mira memaksakan diri ke sekolah untuk bertemu Aoi. Dia
sampal lupa menjemput Kelly seperti biasanya.
Nanti saya jemput ya, Non, kata pak Bardi saat Mira turun dan
mobil.
lya, terima kasih, Pak, balas Mira, kemudian berlari tak sabar
untuk menemui Aoi.
Aoi belum datang, Mira menunggu di depan kelas Aoi dengan
sabar, meski terselip kegelisahan di hatinya. Mira!
Sebuah suara mengagetkan Mira. Kelly berdiri di hadapan Mira.
Wajahnya cemas campur dongkol.
Ya ampun, Mira! Kemarin mamamu lebih dan sepuluh kali
meneleponku, nanyain kamu. Kamu ke mana saja?
Nanti aku cerita. Sekarang aku menunggu Aoi.
Memangnya Aoi kenapa?
Mira mengangkat bahu. Dia juga tidak tahu untuk apa
menunggu Aoi: ingin menyatakan perasaannya atau ingin marah
karena sampal pagi ini Aoi tidak juga menghubunginya. Padahal
kemarin Mira meninggalkan pesan di bangku teras Aoi.
Seharusnya Aoi melihat pesan Mira ketika pulang ke rumah.
Mir, kok kamu pucat? kata Kelly sambil meletakkan tangan di
dahi Mira. Ya ampun, kamu panas sekali! Kamu pulang saja
deh, Mir. Aku teleponkan sopirmu ya? Atau mau langsung
pulang sekarang? Aku antar pakal taksi.
Mira menggeleng. Aku mau ketemu Aoi dulu.
Hei, kalian berdua kok ada di sini? Riku datang dan menyapa.
Aku menunggu kalian di jalan, kok nggak lewat-lewat.
Temyata sudah sampai di sini. Ada apa? Mau bertemu siapa di
kelasku?
Mira dan Kelly tidak menjawab. Dua cewek itu terlihat bingung.
Riku merasa ada yang tidak beres saat dia menatap Mira.
Mira? Kamu pucat banget! Oh iya, ke mana seharian kemarin?
Kami ikut cemas karena nggak mendengar kabarmu.
Mira hanya mengangkat bahu dengan lesu. Riku menatap Kelly
dengan pandangan bertanya. Kelly menggeleng. Dia juga tidak
tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Mira menunggu
Aoi, sahut Kelly.
Biasanya Aoi sudah datang jam segini, kata Riku, kemudian
melongok ke kelas. Aneh. Biasanya dia datang paling awal Iho.
Sungguh!
Riku kemudian mengambil HP dan dalam tas. Dia beru saha
menghubungi Aoi. Aneh. HP.nya nggak aktif tuh! Memangnya
ada masalah apa antara kamu dengan Aoi, Mir?
Mira menggeleng. Matanya yang kemerahan terus menatap
lorong depan kelas, berharap Aoi muncul dari kejauhan.
Kelly mendesah. Dia menemani sahabatnya itu menanti Aoi.
Namun hingga bel masuk berbunyl, Aoi tak juga muncul.
Mir, aku masuk kelas dulu, ya. Mungkmn Aoi terlambat. Atau
kalau hari ini dia nggak datang, nanti sepulang sekolah aku antar
kamu ke rumahnya, kata Riku sebelum masuk kelas.
lya... terima kasih, balas Mira.
Mira berjalan lunglai ke kelasnya bagai macan kalah tarung.
Macan yang luka parah dan berdarah-darah, hingga tak mampu
merasakan sakitnya lagi. Di dalam kelas Mira bengong kayak
macan ompong.
Sudahlah, Mir. Aku antar kamu pulang, ya? Kelly prihatin
melihat Mira. Wajah Mira semakin pucat.
Akhirnya Mira mengangguk. Tubuhnya semakin lemah dan
kepalanya berat. Mira butuh tidur. Guru mengizinkan Mira
pulang. Namun sebelum pulang, Mira sengaja melewati kelas
Aoi. Mira melongok ke kelas Aoi. Ternyata orang yang
dicarinya ada di dalam kelas!
Aoi, gumam Mira seraya menuju pintu kelas Aoi.
Mir, mau ngapain? bisik Kelly cemas.
Mira nekat mengetuk pintu kelas Aoi. Lalu Ia minta izin pada
guru kelas Aoi, agar Aoi boleh keluar kelas sebentar. Mira
berbohong pada bu guru bahwa ada tugas OSIS yang harus
dibicarakan dengan Aoi segera.
Aoi keluar kelas dengan wajah tak ramah. Ada apa ya?
tanyanya dengan nada datar.
Kita bicara di ruang OSIS, ya? pinta Mira memelas.
Tanpa menjawab, Aoi berjalan mendahulul menuju ruang OSIS,
dilkuti Mira dan Kelly. Tiba di ruang OSIS, Kelly duduk di
bangku kayu di koridor, sementara Mira dan Aoi masuk ke
ruangan.
Kamu menerima pesanku kemarin?
Pesan? Nggak tuh! balas Aoi tak bersahabat. Sikapnya
mendadak kembali seperti dulu waktu mereka baru kenal.
Oh..., desah Mira kecewa. Melihat sikap Aoi, rasanya Mira
tak sanggup lagi bicara. Tubuhnya terasa lemas dan demamnya
nieninggi.
Aoi diam saja, tak menanyakan keadaan Mira yang tampak
payah. Aoi bahkan tak menatap Mira sedikit pun. Dia
memandangi deretan poster di dinding.
Seharian kemarin aku menunggumu dalam hujan. Dingin,
lapar, dan kakiku terendam banjir. Kamu ke mana saja, Aoi?
Aku mencoba menghubungimu, tapi HP-mu nggak aktif.
Ya salahmu sendiri! desis Aoi.
Mira tak percaya Aoi mengatakan hal itu. Dada Mira begitu
sesak, matanya berkaca-kaca, dan bibirnya kelu. Ada apa
dengan Aoi? Mira tak habis pikir. Hanya dalam waktu kurang
dan 24 jam, sikap cowok itu berubah 180 derajat.
Mira menelan ludah. Matanya basah saat Ia menatap Aoi dengan
hati hancur berkeping-keping. Namun, Aoi terus menatap ke
dinding, tak mau berpaling untuk memandang wajah Mira
barang sebentar.
Aoi... aku sayang banget sama kamu. Kemarin aku datang
untuk mengatakan betapa aku menyukaimu, kata Mira lemah.
Aoi tetap membeku. Mira berdiri susah payah sambil
berpegangan pada meja. Ia melangkah sempoyongan
meninggalkan Aoi. Kelly menyambutnya di luar, kemudian
membantu Mira berjalan.
Aoi membeku di tempatnya, tatapan matanya kosong, namun
matanya basah oleh air mata. Aku juga sangat menyayangimu,
Mira, gumam Aoi pilu.
MIRA tergolek lemah di rumah sakit. Ia terserang tifus. Tapi
bagi Mira, yang paling sakit adalah hatin ya, bukan tubuhnya.
Dia terus berurai air mata. Namun gadis itu tak mau berbicara
pada siapa pun untuk men gurangi bebannya. Tiap kali ditanya,
Mira hanya men angis. Bahkan saat Kelly menjenguknya, belum
sempat sahabatnya itu bertanya, Mira sudah menangis. Mama
Mira sangat mengkhawatirkan kondisi putri tunggalnya itu. Papa
Mira juga tak bisa membujuk anakn ya untuk bercerita. Mira
seolah menyimpan sendiri isi hatinya yang meluap-luap, hingga
meluber dalam bentuk air mata.
Ini tentang Aoi, kan? Kemarin kamu hampir pingsan saat
keluar ruang OSIS. Aku akan menemui Aoi sekarang juga, kata
Kelly geram.
Tolong tanyakan kenapa dia seperti memusuhiku kemarin,
pinta Mira memelas.
Pasti. Aku akan mengorek apa pun yang bisa ku apat darinya,
balas Kelly sebelum pergi.
Di depan rumah sakit Kelly bertemu Riku yang hendak
menjenguk Mira. Kelly menceritakan keadaan Mira.
Mmm... kalau gitu aku antar kamu ke rumah Aoi saja. Mungkin
aku bisa membujuk Aoi bicara, kata Riku.
Kelly tersenyum senang. Terus terang, sebenarnya Kelly tidak
suka harus ke rumah Aoi seorang din. Tapi demi sahabatnya, dia
rela. Untung ada Riku yang menemaninya. Mereka berdua naik
taksi menuju rumah Aoi.
Kelly tak habis pikir, mengapa Mira, si tegar dan tombol itu,
tiba-tiba bisa menjadi sangat lemah dan sensitif.
Menurutmu apa yang terjadi? tanya Riku penasaran.
Entahlah. Kemarin mereka bicara dl ruang OSIS hanya
sebentar. Saat keluar ruangan, Mira tampak begitu terpukul. Dia
terus menangis sampai tiba di rumahnya.
Riku mendesah panjang. Kemarin Aoi bahkan tak masuk kelas
lagi setelah bicara dengan Mira. Aoi cuma mengambil tas saat
istirahat pertama, lalu kabur entah ke mana.
Ada apa kira-kira ya?
Kita akan segera tahu. Nanti, saat kita bertemu Aoi.
Aoi sedang membantu ayahnya mengedit foto sewaktu Kelly
dan Riku datang. Riku mengajak Aoi ke luar supaya mereka
leluasa mengobrol. Aoi terlihat salah tingkah. Dia tahu teman-
temanya datang karena Mira.
Mira diopname, kata Kelly. Apa yang terjadi, Aoi? Kamu
pasti tahu kenapa Mira tiba-tiba ambruk begitu.
Sungguh aku tidak tahu, sahut Aoi, tak berani menatap mata
Kelly.
Kamu bohong. Kamu tahu semuanya!
Aoi mendesah. Aku nggak tahu, Kelly. Kamulah sahabat
dekatnya. Seharusnya kamu tahu apa yang terjadi dengannya.
Tapi akhir-akhir ini kalian sangat dekat. Aku rasa Mira jatuh
cinta sama kamu. Apakah kamu menolak cintanya? tanya Kelly
tegas.
Kamu menolak cinta Mira? Riku ikutan bertanya dengan nada
bingung.
Mira nggak ngomong apa-apa padaku. Jadi aku nggak tahu apa
masalahnya sekarang, jawab Aoi.
Kamu tahu! Kamu tahu, Aoi! Kenapa kamu bohong? teriak
Kelly kehilangan kendali. Dia gemas melihat sikap Aoi.
Ayah Aoi keluar karena suara ribut-ribut itu. Ada apa ini?
Oom! seru Kelly. Mira sakit. Sekarang dia di rumah sakit.
Saya yakin Aoi tahu apa yang terjadi pada Mira! Tapi dia nggak
mau mengatakannya! Air mata Kelly mulai mengalir.
Ayah Aoi mendesah. Dia menatap sedih putra semata
wayangnya. Sementara itu Aoi menunduk dalam-dalam. Hatinya
pilu.
Minggu depan Aoi ikut ibu kandungnya. Dia akan meneruskan
sekolah di luar negeri, terang ayah Aoi.
Kelly dan Riku terpana.
Aoi bergegas masuk. Terdengar suara pintu dibanting dan dalam
rumah. Kelly dan Riku tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Sepertinya Aoi marah.
Mira kehilangan Aoi. Apakah karena itu dia sakit?
Entahlah, balas ayah Aoi sedih, kemudian berbalik dan masuk
ke rumah, meninggalkan Kelly dan Riku di teras.
Riku dan Kelly bengong. Mereka merasa ditolak sehingga
memutuskan pulang. Sepanjang jalan Kelly marah-marah.
Menurut dia, sikap Aoi dan ayahnya san gat tidak bersahabat.
Ada sesuatu yang terjadi pada Aoi dan Mira. Wajah Aoi sangat
sedih. Dan ketika ayahnya bilang Aoi akan pergi jauh, wajah
Aoi bukan hanya sedih, tapi bercampur kecewa. Dia marah
dengan keadaan yang tak diinginkannya, lalu membanting pintu
kamar. Kurasa Aoi juga terluka seperti Mira, Riku
menganalisis kejadian barusan dengan panjang lebar.
Menurutmu begitu?
Ya, aku teman balk Aoi. Dia berhati lembut dan penyayang.
Dia nggak mungkin menyakiti Mira kalau bukan keadaan yang
memaksanya.
Kelly mendesah sedih. Mira begitu terluka. Tapi sebaiknya kita
rahasiakan dulu kepergian Aoi ke luar negeri sampal Mira
sehat.
lya. Sebaiknya dia nggak tahu Aoi akan pergi jauh. Kalau dia
tahu, sakitnya bisa semakin parah.
Kita kembali ke rumah sakit sekarang? tanya Kelly.
Riku mengangguk.
Mereka segera mencari taksi. Dalam perjalanan menuju rumah
sakit kedua sahabat itu hanya membisu. Kisah Mira dan Aoi
memenuhi benak mereka dan membangkitkan rasa iba.
AOI mengemasi beberapa barang ke dalam koper. Dia membuka
buku hariannya, lalu mengeluarkan pesan dari Mira yang dia
temukan hari Minggu lalu. Hatinya bagai tersayat ketika
membuka kertas itu.
Aoi, aku menunggumu sepanjang hari. HP-mu nggak bisa
kuhubungi. Aku bertekad menunggumu hingga kamu pulang,
tapi aku menggigil kedinginan. Aku lapar sekali. Aku nggak mau
membuatmu repot, maka kuberanikan diri pulang menerjang
banjir. Aoi, kumohon, bila kamu telah membaca pesan ini,
hubungi aku, ya. Mira.
Aoi kembali melipat kertas itu, kemudian menyelipkannya ke
dalam buku harian. Sejenak dia mendesah.
Memang sakit sekali, Nak. Tapi Ayah yakin seiring berjalannya
waktu, kimu bisa melupakan Mira. Raihlah dulu masa depanmu.
Mungkin kelak kalian bisa bersatu, kata ayahnya yang telah
berdiri di ambang pintu.
Dengan mata sembap Aoi menatap ayahnya. Bolehkah Aoi
mengucapkan salam terakhir pada Mira, Yah? Aoi ingin
menjenguk Mira. Dia sakit karena Aoi.
Kalau kamu bertemu Mira dan melihat kesedihannya, kamu
akan terikat dengannya dan semakin sulit melupakannya. Tapi
Itu pilihanmu. Ayah tak akan melarangmu.
Aoi mengangguk. Aoi yakin bisa mengatasinya. Besok Aoi
menjenguk Mira.

***

Aoi bangun pagi-pagi sekali. Dia berencana masak. Hanya
bubur, tapi tentu bukan sembarang bubur. Aoi memasak bubur
dengan penuh cinta. Setiap membubuhkan bumbu, Aoi
membarenginya dengan doa. Setiap mengaduk bubur yang
mengepul di panci, Aoi menyertainya dengan harapan. Aoi
berharap Mira segera sembuh, sehat, dan kembati ceria,
walaupun Aoi mungkin takkan melihat wajah ceria Mira selepas
Mira sembuh. Karena Aoi harus segera berangkat...
Aoi mendesah sedih. Sungguh dia sangat sedih.
Aoi memasukkan bubur ayam buatannya ke rantang kecil. Dia
juga menata nugget jamur yang dibuatnya semalarn di rantang
satunya. Selesai sudah. Dua rantang masakan sederhana namun
spesial itu siap diantar untuk gadis yang sedang sakit. Aoi
berharap Mira senang melihatnya datang dan mau menyantap
masakan buatannya dengan lahap.
Aoi gugup sekali saat melangkah di lorong rumah sakit.
Tangannya dingin, dan jantungnya bagai meloncat-loncat. Aoi
sangat mencintai Mira. Pada Mira-lah Aoi merasakan jatuh cinta
pertama kali.
Langkah kaki Aoi terhenti di depan pintu kamar tempat Mira
dirawat. Pintu tidak tertutup rapat. Ada celah sehingga dia bisa
mengintip. Di kamar ada seseorang yang tengah membujuk Mira
makan. Aoi memastikan penglihatannya. Bukan, wanita itu
bukan Mbak Nunuk. Wajahnya cantik dan penampilannya
berkelas. Mama Mira? Ya, itu pasti dia. Wajahnya mirip Mira.
Hanya saja, penampilannya begitu feminin dan rapi, beda
dengan Mira yang tomboi dan sporty.
Tiba-tiba kebencian menerjang dada Aoi. Dia teringat cerita
ayahnya tentang mama Mira. Waktu dia kembali ke rumah
sehabis mengantar Mira menunggu bus pada Sabtu lalu, ayah
Aoi berbagi rahasia, sekaligus ultimatum. Hal itulah yang
membuat Aoi harus pergi meninggalkan Indonesia.
Meninggalkan Mira. Ya, Aoi harus melupakan pujaan hatinya
hanya gara-gara wanita yang telah melahirkan Mira.
Karena peristiwa pahit pada masa lalu, ayah Aoi nekat
menghubungi ibu Aoi yang telah lama putus hubungan karena
tinggal di luar negeri bersama keluarga barunya. Ayah
memutuskan untuk menyerahkan Aoi pada ibunya. Padahal Aoi
sudah lupa rupa ibunya. Dia tak bertemu ibunya sejak umur dua
tahun. Sampai remaja sekarang ini dia tak pernah lagi
berhubungan dengan ibunya. Kini, tiba-tiba saja Aoi harus
tinggal bersama ibunya di tempat yang jauh dan asing.
Aoi berbalik. Dia tidak ingin bertemu mama Mira. Perasaannya
sungguh tak keruan. Aoi rindu Mira, namun benci mama Mira.
Apa boleh buat, Aoi memilih pulang. Sebelum meninggalkan
rumah sakit, Aoi meminta tolong perawat untuk menyerahkan
masakan istimewa yang dibawanya kepada Mira.
Sementara itu mama Mira mulai kehilangan kesabaran karena
Mira tidak mau makan.
Mira, terserah apa maumu! Tapi kalau kamu terus-terusan
begini, kamu bisa kurus kering dan menjadi gila! kata mama
Mira kesal sambil meletakkan piring di meja. Wajah wanita itu
merah penuh amarah.
Tepat pada saat itu, seorang perawat datang membawa rantang.
Bu, ini tadi ada titipan dari teman Mira untuk Mira.
Oh, terima kasih, sahut mama Mira sambil menerima rantang
tersebut.
Mira mengenali rantang khas itu sehingga menjadi bersemangat.
Dengan susah payah dia berusaha duduk.
Lehernya dipanjangkan untuk melongok isi rantang saat
mamanya mulai membukanya. Bubur ayam, dan... masakan apa
ini? gumam Mama. Hati Mira melonjak kegirangan. Itu pasti
nugget jamur. Sini, Ma, biar Mira makan!
Mama Mira meletakkan rantang itu di meja di sisi Mira. Karena
tidak ada mangkuk kosong, maka Mira tidak keberatan makan
langsung dari rantang itu. Dengan lahap dia mulai memakan
bubur ayam. Mamanya sampai terheran-heran.
Mira bahagia sekali. Sekarang dia tahu Aoi sayang padanya. Dia
tahu Aoi peduli padanya, sampai-sampai mau bersusah payah
memasak dan mengantarkan makanan untuk dirinya ke rumah
sakit.
Tanpa Mira ketahul, Aoi sedang mengintipnya diam-diam dan
balik pintu. Aoi tidak jadi pulang. Dia berbalik kembali ke
depan kamar Mira. Kalau saja ada keberanian, ingin rasanya Aoi
menyerbu masuk dan menyuapi Mira. Tapi tidak. Kaki Aoi
seolah lumpuh. Dia hanya sanggup mengintip gadis yang
dicintainya. Itu pun hanya sesaat, sekadar memastikan Mira
menyukai masakannya, kemudian dia pergi.
Mira meletakkan rantang bubur yang sudah licin tandas.
Kemudian, dia mencomot satu nugget jamur. Hmm... enak! Mira
menikmatinya sambil membayangkan kesibukan Aoi saat
membuatnya. Ah, saat-saat berdua di dapur bersama Aoi
sungguh indah dikenang. Mira ingin cepat sembuh dan memasak
kembali dl rumah Aoi. Mulut Mira seolah tak berhenti
mengunyah. Habis nugget pertama, diambilnya nugget kedua
dan dimakanya dengan semangat.
Siapa yang mengirim makanan itu? tanya Mama heran.
Aoi, Ma! sahut Mira. Namun buru-buru ia menutup mulut.
Saking gembira dan enak makan, Mira sampai keceplosan.
Aoi? Pesaingmu itu? tanya Mama heran dengan dahi
berkerut.
Aoi... mmm... Aoi teman dekat Mira kok. Dia baik, Ma.
Dahi Mama kian berkerut. Anak mana sih dia?
Maksud Mama, anak siapa dan berapa banyak kekayaannya,
bukan? tanya Mira sinis. Entah mengapa, tiba-tiba timbul
keberanian pada diri Mira untuk mendebat mamanya. Aoi
bukan orang kaya, tapi dia punya daya juang. Dia juga cerdas
dan kreatif. Ayahnya juru kamera televisi. Hidup mereka
sederhana dan hemat agar mereka dapat menabung untuk
berlibur ke daerah-daerah terpencil di Indonesia setiap tahun,
terang Mira bangga.
Mmm... pasti hidup mereka berantakan.
Nggak, Ma. Mereka sangat bahagia, sindir Mira.
Huh! dengus Mama. Dulu Mama punya ternan seperti itu.
Sukanya berlibur ke daerah pedalaman dan memotret. Aneh.
Hidup kok nggak mikirin uang, tapi hanya memburu kepuasan
dan kesenangan pribadi.
Mira terkejut. Mama pemah bergaul dengan orang macam itu?
Bukannya Mama berteman dengan kalangan atas saja?
Mama menghela napas panjang. Matanya menerawang. Pemah.
Bahkan selama kuliah Mama pacaran dengan orang macam itu,
ujamya Iirih. Tapi, Mama pikir nggak ada gunanya buat Mama
selain Mama jadi ikutan tampil saat dia menggelar pameran
foto. Nada suara Mama berubah sinis.
Oh, ya? Mama nggak pemah bercerita soal pacaran dengan
fotografer. Kok bisa sih? Bukannya selera Mama cowok kaya?
Mira terheran-heran. Dia tidak tahu Mama punya masa lalu
bersama pria selain papanya.
Itu kan masa lalu, Mir. Mama membukanya lagi hanya sekadar
pengingat agar kamu melupakan Aoi. Aoi... siapa nama lengkap
Aoi? Dahi Mama lagi-lagi berkerut, seperti ada yang
berkecamuk di otaknya. Ekspresi wajah Mama sulit ditebak.
Aoi Lucios, Mira menyebut nama panjang Aoi.
Mama terpaku. Wajahnya memucat. Sesaat wanita keras hati itu
terlihat gugup.
Mira terpana. Dia mengamati raut wajah mamanya yang salah
tingkah dan gelisah..
Ma, Mama kenapa?
Mama menggeleng gugup. Ah, nggak. Mama...
Mama kenal Aoi? Ma, kita baru saja menjalin hubungan yang
lebih baik antara ibu dan anak. Mira telah jujur tentang Aoi.
Mira harap Mama juga jujur pada Mira, Mira berkata tegas.
Mmm... Mama Mira terdiam, terlihat seperti menimbang-
nimbang. Namun akhimya dia menyerah. Dia memilih bercerita
tentang masa lalunya pada Mira. Begini... ini sudah lama sekali
kejadiannya. Teman yang Mama ceritakan tadi namanya Oscar.
Dia punya sanggar fotografi yang diberi nama Aku Orang
Indonesia, yang biasa disingkat AOl. Ya, persis seperti nama
temanmu. Dan Mama rasa... Lucios adalah sebuah akronim.
Maksud Mama? Mira mengernyit. Oh... auw! Mira
memekik. Otaknya bekerja cepat hingga menemukan akronim
yang dimaksud. Lucios. Lu untuk Lulu dan Os untuk Oscar?
tebak Mira. Lulu adalah nama mama Mira. Lalu, siapa Ci?
Mama kembali gugup. Tapi, jangan cerita sama Papa, ya?
bisik Mama.
Mira mengangguk. Cl adalah cinta. Mama yang bikin akronim
itu. Lucios adalah panggilan sayang Mama untuk Oscar.
Mira pucat. Jadi... Aoi putra mantan pacar Mama? Mama gadis
kaya raya yang mencampakkan Oom Oscar setamat kuliah itu?
Mama orang yang membuat Oom Oscar terpuruk bertahun-
tahun hingga dia membenci orang kaya? Mira nyerocos
membabi buta. Air matanya berlinang.
Mama menatap Mira dengan pandangan heran. Maksudmu?
Mira heran ketika Oom Oscar tahu resep minuman jahe sereh
itu. Kini Mira mengerti mengapa Oom Oscar melamun saat
menikmati minuman yang Mira buat. Sekaligus Mira paham,
mengapa Oom Oscar sering menatap Mira dengan pandangan
aneh. Karena Mira mengingatkan dirinya pada Mama! seru
Mira, nyaris histeris.
Mir? Mira... Katakan pada Mama, benarkah ayah Aoi adalah
Oscar?
Mira menangis keras-keras. Mira mengerti sekarang, mengapa
Aoi nggak rnau menemui Mira lagi. Pasti ayahnya sudah tahu
lama mengenai Mira, lalu melarang Aoi berhubungan dengan
anak mantan pacarnya.
Mama Mira sesenggukan. Ia merasa bersalah sekali pada Mira.
Semua penderitaan Mira ternyata disebabkan perbuatannya, ibu
kandungnya sendiri. Mama Mira menangis sedih. Bagaimana
mungkin masa lalunya kembali muncul dan terkait dengan kisah
cinta anaknya saat ini?
Mira, tenanglah. Mungkin ada hal lain yang membuat Aoi tidak
bisa menemuimu, hibur Mama.
Mira terus menangis. Mama! Oom Oscar nggak akan pernah
menerima Mira lagi di rumahnya. Aoi mungkin nggak akan mau
bertemu Mira lagi. Mira bisa hancur karena dibenci orang-orang
yang Mira cintai!
Maafkan Mama, Mir. Kata-kata Mama berhenti di situ.
Dengan penuh iba, dia memandangi anak semata wayangnya
yang terus menangis.
Mira tak peduli apa yang dikatakan mamanya. Dia menangis
karena kasihan pada dirinya sendiri, juga pada ayah Aoi dan
Aoi. Pasti Aoi terluka harus pura-pura membenci Mira. Ingin
rasanya saat itu juga Mira berlari ke rumah Aoi, tapi tubuhnya
belum mampu melakukannya.
Aoi... aku rindu kamu! jerit batin Mira dalam tangisnya.
PERAWATAN beberapa hari di rumah sakit memulihkan
kesehatan Mira. Matanya kembali berbinar dan pipinya
memerah segar. Hari itu ia boleh pulang. Kelly dan Riku ikut
menjemput Mira.
Mira memang bertekad cepat sembuh agar bisa segera menemui
Aoi dan ayahnya. Dia berjanji memasak makanan kesukaan
ayah Aoi. Istirahat satu-dua hari di rumah membuat gadis itu
sehat sempurna sehingga bisa kembali ke rutinitasnya, termasuk
ke sekolah.
Mira sangat bersemangat menjalankan idenya. Riku, Kelly,
besok antar aku ke rumah Aoi, ya! pinta Mira saat mereka
sedang bersantai di tepi kolam renang rumah Mira. Dua sahabat
itu sengaja datang menjenguk Mira.
Kelly dan Riku saling pandang. Wajah mereka resah.
Mmm... tunggu tubuhmu benar-benar sehat dulu, Mir.
Bukannya aku nggak mau mengantarmu, tapi aku nggak mau
disalahkan mamamu kalau kamu sakit lagi, Riku memberi
alasan.
lya, Mir. Kalau kamu sudah pulih seperti sediakala, aku akan
mengantarmu ke mana pun kamu mau, imbuh Kelly.
Mira tampak kecewa. Tapi dia bertekad tetap akan ke rumah Aoi
besok pagi. Mira tak peduli badannya masih lemah. Bahkan,
larangan Mama sekalipun akan dia terj ang. Toh besok
mamanya sudah keluar kota lagi. Mira bebas!
Mir, sebenamya apa yang terjadi padamu hari Minggu itu, saat
kamu rnenghilang? tanya Kelly takut-takut.
Aku di rumah Aoi, terjebak hujan lebat. Aoi dan ayahnya
nggak ada, jadi aku menunggunya sampai sore. Kakiku
terendam banjir, tubuhku basah kuyup tersiram hujan. Aku pun
harus menahan lapar karena nggak ada penjual makanan lewat.
Kelly menatap Mira tak percaya. Jadi, saat hujan yang luar
biasa lebat itu, kamu sedang menunggu Aoi di teras rumahnya
sampal malam?
Mira mengangguk.
Ya ampun! Kelly geleng-geleng tak percaya.
Riku mendesah. Dia mencoba mengatasi perasaannya sendiri.
Andai waktu itu Riku yang ditunggu Mira, alangkah bahagia
dirinya. Seketika Rik merasa cemburu.
Yah, perasaan khusus Riku pada Mira belum berubah. Dia
masih menyayangi Mira dan berharap gadis itu mau menjadi
pacarnya.
Jadi kamu demam dan akhimya terserang tifus gara-gara
menunggu Aoi? tanya Riku.
lya, Mira tersenyum kecut. Tapi, setelah kejadian itu Aoi
malah bersikap ketus waktu di sekolah. Padahal sengaja kubela-
belain berangkat ke sekolah untuk menemuinya, meski aku
demam dan pusing tak terkira.
Riku menelan ludah kecewa. Kamu sangat mencintai Aoi,
ya?
lya, jawab Mira mantap. Aku mencintainya, dan baru kali ini
aku jatuh cinta, lanjut Mira sambil tersenyum manis.
Riku dan Kelly saling pandang lagi. Mereka tampak bersedih
melihat Mira begitu bahagia. Sebentar lagi Mira pasti patah hati
bila tahu Aoi akan sekolah di luar negeri.
Mamamu nggak melarangmu berhubungan dengan Aoi?
Maksudku, Aoi kan nggak setara denganmu, kata Kelly.
Nggak. Andal dilarang pun, aku akan nekat. Apa pun yang
terjadi, aku tetap mempertahankan hubunganku dengan Aoi.
Kelly. dan Riku menatap nanar Mira. Terutama Riku. Bagai ada
peluru yang menembus dadanya. Riku dibakar cemburu.

* * *

Semalaman Mira sulit tidur. Benaknya dipenuhi khayalan
tentang pertemuannya dengan Aoi esok hari. Ya, apa pun yang
terjadi, Mira tetap akan ke rumah Aoi. Mira berharap ayah Aoi
akan menerimanya. Mira sibuk merangkai kata-kata indah untuk
mengambil hati ayah Aoi.
Pintu kamar Mira diketuk seseorang. Pasti Mama mau pamitan
karena besok pagi-pagi harus ke luar kota.
Benar saja. Mama yang masuk.
Kamu belum tidur? tanya Mama sambil memegang dahi
Mira.
Belum, sahut Mira tak bersahabat.
Mama minta maaf, Mir.
Mira diam saja.
Mama mendesah sedih. Kamu boleh menjalin hubungan
dengan Aoi bila mereka memaafkan Mama. Kamu boleh
berteman dengan siapa pun, Mama tidak akan menuntut apa pun
padamu. Mama sadar selama ini Mama terlalu keras padamu.
Eh? Mira tak percaya.
Mama menghela napas. Mama menyesal selama ini tidak
menjadi mama yang baik bagimu. Mama hanya pergi sebentar,
lusa Mama pulang.
Mira tak menggubris perkataan mamanya.
Mama mengecup dahi Mira sebelum meninggalkan kamar. Mira
makin tak bisa tidur. Sebenarnya Mira senang sekali mamanya
telah berubah. Namun, Mira masih gelisah mernbayangkan
sikap ayah Aoi padanya. Apakah ayah Aoi bisa memafkan
Mama kemudian merestui hubungannya dengan Aoi?

* * *

Esoknya Mira membakar ikan dan memasak masakan aneh yang
pernah ia buat bersama Aoi. Itu rnasakan kesukaan ayah Aoi,
yang dimakan pertama kali di Timor Leste waktu negeri itu
masih menjadi bagian NKRI. Mbak Nunuk sengaja mencarikan
bahan-bahan tersebut di pasar tradisional.
Bahannya daun singkong dan jantung pisang. Keduanya direbus,
lalu diperas hingga airnya tak bersisa. Bumbunya, kalau Mira
nggak salah ingat, cabai, bawang merah, bawang putih, terasi,
dan kemiri. Mira tak sepenuhnya hafal, tapi semoga saja rasanya
nanti enak.
Mira puas bisa memasak lauk tersebut. Saat mencicipinya, dia
makin senang karena pedasnya sesuai selera ayah Aoi. Untuk
Aoi, Mira sengaja minta Mbak Nunuk membuatkan puding
pandan. Harum sekali.
Nanti saya antar ya, Non. Non masih lemah begitu.
Nggak usah, Mbak. Nanti Mira diantar Pak Bardi kok. Jangan
khawatir. Mobilnya bisa parkir di ujung gang. Mira jalannya
dekat saja.
Ya sudah. Tapi Pak Bardi disuruh menunggu ya, Non. Jadi
pulangnya sama-sama lagi.
Iya, Mbak, sahut Mira sambil menata masakan dan puding di
rantang Aoi, yang dulu dipakai untuk makanan Mira sewaktu di
rumah sakit.
Mira berdandan rapi. Dia ingin tampil cantik, meski badannya
agak kurus dan matanya masih terlihat cekung. Sepanjang
perjalanan Mira tersenyum. Hatinya semarak membayangkan
pertemuannya dengan Aoi. Mira sungguh berharap Aoi akan
senang bertemu dengannya.
Tunggu ya, Pak, kata Mira saat dia turun di ujung gang.
Pak Bardi mengangguk. Hati-hati, Non.
Mira tersenyum, kemudian berlalu pergi. Dia girang dan lega
saat melihat pintu rumah Aoi terbuka.
Permisi... , kata Mira sambil melongok ke dalam.
Hei, Mira! Ayah Aoi yang sedang membaca koran Iangsung
berdiri. Dia menyambut Mira dengan ramah. Ayo masuk!
Mira duduk di ruang makan sambil meletakkan rantang. Ini
saya yang masak, buat Oom dan Aoi.
Wah Terima kasih ya. Apa ini? tanya ayah Aoi sambil
membuka rantang. Matanya berbinar begitu melihat masakan
Mira. Wah, terima kasih, Mira! Sepertinya nikrnat nih! seru
ayah Aoi bersemangat. Dicoleknya sedikit masakan Mira
dengan jari, lalu dicicipinya. Hm... enak sekali!
Aoi mana, Oom? kepala Mira melongok ke dapur. Ayah Aoi
menatap Mira sejenak, kemudian beranjak ke dapur. Ayah Aoi
meminum segelas air putih, lalu kembali ke hadapan Mira. Dia
duduk dengan sikap kaku. Dipandangnya Mira dengan jengah.
Mira... mmm... begini... Lelaki itu diam sejenak. Setelah
menghela napas panjang, dia mulai membuka suara. Aoi
meneruskan sekolah di luar negeri. Dia ikut ibunya.
Apa, Oom? Mira tidak yakin dengan pendengarannya.
Aoi ke luar negeri. Sekolah. Ayah Aoi berkata dengan nada
dingin.
Seolah ada petir menyambar kepala Mira, gadis itu terdiam dan
tubuhnya gemetar. Dia mencoba memproses kalimat yang baru
saja didengarnya dan dadanya terasa sesak karenanya. Ayah Aoi
menatap Mira prihatin.
Tapi... tapi... bukahkah Aoi berpisah dengan ibunya sejak dia
masih kecil? Oom bohong, kan? tanya Mira di tengah isaknya.
Ayah Aoi rnenggeleng.
Oom... Mira kehabisan kata-kata. Dia ingin tak percaya, tapi
ayah Aoi tampak bersungguh-sungguh. Tapi kenapa, Oom?
Kenapa dia pergi? tanya Mira lagi setelah bisa menata
emosinya.
Dia akan meraih masa depan yang lebih baik bila bersama
ibunya. Oorn bukan ayah yang baik buat dia. Oom terlalu sibuk
dengan pekerjaan Oom.
Tapi, tapi... Aoi nggak pemah mengeluh. Aoi sayang Oom.
Bahkan, saya merasakan kehangatan sebuah keluarga saat
berada di sini. Mengapa, Oom? Mengapa Aoi pergi? Itu yang
terbaik, Mira.
Air mata Mira semakin deras mengalir di pipinya. Oom, semua
ini karena saya, kan? Oom nggak mau Aoi dicampakkan orang
kaya? Oom nggak mau putra Oom berhubungan dengan putri
Lulu, perempuan yang telah menyakiti hati Oom. Begitu, kan?
Sejenak ayah Aoi terkejut. Dia tak rnenyangka Mira telah
rnengetahui masa Ialunya bersama rnarnanya.
Mira, tolong mengertilah. Bukan itu alasan Oom mengirim Aoi
pada ibunya. Oom hanya ingin Aoi bersekolah di tempat yang
lebih baik. Oom ingin Aoi jadi orang sukses, tidak seperti
Oom.
Mira terisak. Saya nggak bersalah, Oom. Saya nggak harus
menebus dosa-dosa Mama pada masa lalu. Saya bahkan ingin
sekali menunjukkan pada Oom bahwa saya sayang banget sama
Aoi. Saya nggak akan pernah meninggalkan Aoi seperti Mama
dulu ninggalin Oom. Saya sayang sekali sama Aoi!
Mira, itu hanyalah emosi sesaat. Cinta monyet yang menggebu,
tapi kelak bila terbentur ganasnya hidup, cinta itu akan luntur.
Kamu terlalu muda untuk mengerti kehidupan, Mira.
Mira tak bisa berkata apa-apa lagi. Prasangkanya terbukti: Aoi
tidak boleh menjalin hubungan dengannya karena masa lalu
ayah Aoi dengan mama Mira. Mira menunduk, mencoba
menguasai diri. Matanya tertumbuk pada puding pandan yang
tidak keburu dilihat Aoi. Hati Mira kembali tersayat. Dia
menangis tersedu.
Mira, kamu bisa segera melupakan Aoi. Aoi bukan cowok yang
tepat buatmu, Mir. Kamu gadis yang baik dan pintar. Jadi, mulai
sekarang fokuslah belajar dan lupakan Aoi.
Terima kasih, Oom. Tapi rasanya melupakan seseorang butuh
waktu seumur hidup. Saya akan menyusul Aoi kelak, setelah
lulus SMA. Saya akan kuliah di Australia juga. Oom akan
menariknya kembali ke Indonesia kalau saya menyusul?
tantang Mira. Mata Mira melebar, menatap Ayah Aoi.
Ayah Aoi hanya mendesah panjang. Mira... kamu benar. Oom
memang tidak menyetujui hubungan kalian.
Mira menatap lekat wajah ayah Aoi. Kenapa Oom belum bisa
berdamai dengan masa lalu? Oom masih saja belum bisa
menerima kenyataan. Padahal Oom sudah punya Aoi dan wanita
lain.
Oom tidak mau menjadi besan ibumu. Oom tidak mau bertemu
ibumu. Oom sudah bersumpah bahwa Oom tidak akan pernah
menjalin pertemanan, apalagi persaudaraan, dengan ibumu,
balas ayah Aoi tegas.
Oom egois!
Kamu terlalu muda untuk dapat memahami semuan ya, Mira.
Ibumu bukan hanya mencampakkan Oom, tapi lebih daripada
itu, dia menginjak-injak harga diri Oom. Dia memupus harapan
dan cita-cita Oom. Dia menghancurkan hidup Oom.
Hening.
Mira mencoba memahami rasa sakit yang pernah dirasakan ayah
Aoi. Mungkin kejadian puluhan tahun silam itu begitu buruk dan
membuat ayah Aoi terpuruk. Mira menyeka air mata. Oom,
maafkan kesalahan mama saya. Tapi saya nggak seperti Mama,
ucap Mira berat. Ayah Aoi menatap Mira prihatin, seolah
hatinya sendiri juga teriris sakit. Oom yang minta maaf, karena
Oom begitu egois. Kemarin mamamu menghubungi Oom dan
meminta maaf. Mamamu berharap Oom mengizinkan kamu dan
Aoi bersama-sama. Tapi, luka itu rnasih menganga, Mira.
Saya dan Aoi akan rnenyembuhkannya, Oom. Percayalah. Saya
sangat mencintai putra Oom. Semua ini sudah diatur alam
semesta, supaya Oom berdamai dengan masa lalu Oom dan juga
Mama. Please, izinkan kami tetap bersama, Oom.
Ayah Mira menggeleng. Meski sebenarnya dia juga merasa
bersalah karena telah memisahkan cinta Mira dan Aoi, tapi
baginya, lebih baik menderita sekarang daripada sakit nanti,
ketika cinta Aoi dan Mira telanjur dalam.
Pulanglah, Mira, dan jangan pernah menginjakkan kaki di
rumah Oom lagi, kata ayah Aoi tegas.
Mira menghapus air mata, kemudian beranjak pergi. Dia tahu
ayah Aoi rnelakukan itu untuk menyakiti hatinya. Ayah Aoi
ingmn Mira mernbencinya. Mungkin ayah Aoi menganggap,
rasa benci bisa membantu Mira rnelupakan Aoi.
Tapi tidak! Mira tak rnau dikalahkan rasa benci!

* * *

Berhari-hari Mira dirundung kesedihan dan rasa kecewa yang
mendalam atas keputusan ayah Aoi. Dia juga kesal pada Aoi
yang sarna sekali tidak meninggalkan pesan untuknya. Tapi
pada hari ketujuh, Mira bangkit. Dia bertekad untuk berprestasi
setinggi mungkin hingga bisa kuliah di luar negeri dan bertemu
Aoi.
Harapan untuk bertemu Aoi itulah yang membuat Mira
bersemangat. Waktu pasti akan mempertemukan dan
menyatukan cinta mereka. Mira percaya itu. Mira akan
rnenciptakan kehidupan menyenangkan, yang dulu pernah
diangankan ayah Aoi dan mama Mira, bersama Aoi.
Mira juga memiliki hubungan lebih baik dengan mamanya, yang
kini mengurangi kesibukan hingga bisa mendarnpingi putrinya.
Ternyata selalu hadir keindahan di balik peristiwa pahit. Andai
saja Mira tidak mengalami semua penderitaan akibat cintanya,
dia tak akan mengerti betapa berartinya memiliki cinta yang
tulus.
Mira optimistis takdir akan memperternukannya kernbali dengan
Aoi. Mira tak tahu mengapa bisa seyakin itu. Tapi keyakinan
itulah yang membuatnya mampu menjalani hari-harinya. Dalam
setiap desah napas, tak henti Mira merapal rnantra yang
membuatnya tetap bersemangat: Aoi, I will come to love you.