Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Asma merupakan penyakit kronik yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia
dan termasuk 10 besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia. Serangan asma dapat
terjadi ringan sampai berat, menetap dan mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga menurunkan
kualitas hidup.
1
World Health Organization ( W! " memperkirakan pada tahun #00$, %00 juta
orang akan terkena asma dan #$$,000 orang meninggal karena penyakit ini. &eban yang
diakibatkan oleh asma tidak kalah besarnya pada individu usia lanjut, baik dalam prevalens
maupun tingkat keparahannya. &eban asma usia lanjut perlu menjadi perhatian karena usia
harapan hidup yang meningkat diperkirakan penduduk usia ' (0 tahun akan berjumlah dua kali
lipat pada tahun #0#$.
#
Asma pada usia lanjut sering tidak terdiagnosis dan tidak diterapi dengan
baik. Insidens komorbid yang tinggi, sensitivitasnya yang rendah terhadap gejala dan klinis yang
tidak spesi)ik membuat diagnosis dan penatalaksanaan menjadi lebih sulit.
%
Asma mempunyai distribusi bi)asik yaitu prevalens tertinggi penyakit ini terjadi saat usia
anak, usia pertengahan dan de*asa tua.
%
+revalens asma usia lanjut sekitar $-,- pada populasi
umum dan beberapa dari kelompok ini mengalami gejala asma saat usia (0 atau ,0 tahun.
.,$
/uapuluh persen populasi usia lanjut menderita asma dan %0- dari kelompok ini timbul gejala
asma dengan a*itan lambat.
%,.


+ersamaan antara asma dengan penyakit paru obstrukti) kronik
(++!0" pada pasien usia lanjut adalah usia terjadinya hambatan jalan napas yang ireversibel
sehingga membuat keraguan dalam mendiagnosis terutama pasien dengan ri*ayat merokok. 1sia
lanjut merupakan kelompok umur yang 2epat berkembang sehingga prevalens asma pada
kelompok ini menjadi perhatian klinisi dalam memilih strategi tatalaksana yang terbaik.
#,%

3injauan pustaka ini ber)okus kepada aspek tertentu mengenai asma pada kelompok
pasien usia lanjut dengan menekankan pada epidemiologi, )aktor risiko, patologi, karateristik
)ungsional4klinis, diagnosis dan penatalaksanaan.
EPIDEMIOLOGI
Salah satu studi paling a*al mengenai prevalens asma pada usia lanjut telah dilakukan
lebih dari %0 tahun lalu di Wales. Shelldon dkk
dikutip dari #
menemukan bah*a prevalens penyakit
ini adalah $,1- pada pria dan 1,5- pada *anita berusia ',0 tahun. /ata yang lebih terkini
menunjukkan bah*a prevalens asma pada usia lanjut di Inggris berkisar dari #,$- hingga (,$-.
Studi tersebut menekankan bah*a penyakit ini tidak disadari dengan baik oleh pasien, tidak
dikenali dengan baik dan tidak diterapi optimal oleh dokter. +revalensnya telah meningkat dari
*aktu ke *aktu, baik pada laki-laki dan perempuan. +revalens serupa dilaporkan pada Studi
6antung di 0openhagen dan 7stonia. /i negara lain seperti 8inlandia, +eran2is, Italia, dan 3urki,
prevalens yang dilaporkan berkisar dari $,#--10,9-. Sebuah survey di Amerika Serikat tahun
#00$ melaporkan prevalens (,%- untuk asma yang masih diderita pasien sebagai ri*ayat
penyakit sekarang.
#,%,.
+ada survey komunitas dilaporka prevalens asma masa kanak-kanakkitar 5-- 10-
populasi, menurun sekitar $,$- remaja akhir dan meningkat kembali menjadi ,-- 9- masa
de*asa.
.
+ada tahun 195, data dari +usat :asional Statistik kesehatan di Amerika Serikat
menunjukkan angka kejadian asma kelompok usia ($-,. tahun adalah 10,.- dibandingkan
dengan 9,(- kelompok usia .$-(. tahun, (,9- kelompok usia 15-.. tahun dan $,,- remaja
muda. +ada laporan kohort pada individu usia lanjut yang tinggal di ;innesota, sekelompok
pengidap asma diidenti)ikasi dengan a*itan asma setelah usia ($ tahun. Insidens asma yang
spesi)ik usia pada pasien berusia ($-,. tahun adalah 10%4100,000, 514100,000 pada pasien
berusia ,$-5. tahun, dan $54100,000 pada pasien '5$ tahun.
(
PENUAAN
+roses penuaan manusia mempengaruhi berbagai organ dan jaringan yang melibatkan
deteriorasi progresi) dari semua )ungsi tubuh. +enuaan bukan hanya merupakan proses
terprogram yang diatur se2ara langsung oleh gen, namun juga merupakan proses stochastic
setelah maturasi reprodukti) akibat penurunan kapasitas untuk mempertahankan homeostasis
molekuler.
,
Abnormalitas mor)ologis dan )isiologis terlihat pada paru manusia yang menua.
+enurunan )ungsi mukosilier, dilatasi rongga udara, hilangnya elastic recoil, hilangnya serat
elastin, penurunan kapasitas di)usi dan bukti in)lamasi pada saluran pernapasan telahditemukan
pada usia lanjut. +erubahan tersebut memiliki e)ek lebih besar dibandingkan perubahan yang
diinduksi oleh in)lamasi kronik saluran napas dan tidak dapat terjadi tanpa e)ek evolusi proses
airway remodeling.
5
+enuaan juga memiliki e)ek luar biasa pada sistem imun dan sel-sel yang
memiliki peran regulasi pada asma. +enurunan imunitas humoral telah dilaporkan. 1sia lanjut
juga dilaporkan berhubungan dengan kerentanan yang lebih tinggi
terhadap agen in)eksius. 0ejadian spesi)ik ini tergantung pada beberapa )aktor seperti
lingkungan, status nutrisi dan sering terjadinya penyakit kronik multipel.+eran imunosenescence
pada peningkatan kerentanan terhadap agen in)lamasi yang terlibat pada patogenesis asma dan
perubahan struktur saluran napas masih belum jelas.
9,10
Efek Penuaan pada Paru
Individu berusia lebih dari ($ tahun yang bahkan memiliki gaya hidup sehat dapat
kehilangan lebih dari .0- kapasitas mereka sesuai perjalanan *aktu. +erubahan )isiologis paru
yang diakibatkan penuaan ditandai oleh pembesaran rongga udara tanpa disertai destruksi
alveolar, penurunan permukaan pertukaraan gas dan hilangnya jaringan pendukung pada saluran
napas peri)er.
(
+enuaan sendiri dihubungkan dengan perubahan )isiologis penting yang nantinya
akan menyebabkan penurunan per)orma paru. ;odi)ikasi pada mekanika paru, pertukaran gas,
kontrol pernapasan dan responsivitas saluran napas telah dideskripsikan pada usia lanjut dan
berkontribusi pada penentuan karakteristik )enotip asma untuk usia ini. +erubahan )isiologis
terkait usia yang mungkin memiliki implikasi penting dikelompokkan menjadi tiga )enomena
yaitu ( <ambar # "
.,5
1" +enurunan kekuatan otot pernapasan
#" +enurunan elastic recoil paru dan
%" +eningkatan kekakuan dinding dada
+enurunan kekuatan otot pernapasan
(2o. dia)ragma"
+enurunan elastic recoil paru
+eningkatan kekakuan dinding dada
/ilatasi homogen duktus alveolaris 0olapsabilitas saluran napas
Gambar 2. +erubahan )isiologis terkait usia.
/ikutip dari (5"
0ekuatan dia)ragma yang menurun pada usia lanjut kemungkinan disebabkan dari
perubahan pada )ungsi otot rangka. Status nutrisi buruk seringkali terlihat pada usia lanjut dan
dapat menjelaskan gangguan per)orma otot-otot pernapasan. 7nright dkk. menunjukkan bah*a
tekanan inspirasi dan ekspirasi maksimal yang merupakan alat ukur kekuatan otot pernapasan
berhubungan bermakna dengan berat badan dan indeks massa tubuh. Studi ini juga melaporkan
bah*a pada populasi usia lanjut, nilai tekanan inspirasi dan ekspirasi berada di ba*ah batas
klinis terjadinya dis)ungsi otot pernapasan.
1#
0ehilangan kemampuan recoil elastic paru terutama terjadi karena perubahan struktur
elastis paru. +roses penuaan menginduksi remodeling dan bukan penurunan aktual jaringan
penyambung paru dapat lebih jelas terlihat pada rongga alveolar. 8enomena ini menyebabkan
dilatasi homogen duktus alveolaris yang serupa dengan em)isema sehingga menyebabkan
de)inisi salah arah yang disebut =em)isema senilis>. 0alsi)ikasi kartilago kostal dan artikulasi
iga-vertebra yang bersamaan dengan perubahan bentuk toraks terkait dengan osteoporosis
menyebabkan peningkatan kekakuan dinding dada, sehingga menumpulkan kemungkinan terjadi
ekspansi ke luar dan menyebabkan kelenturan dinding dada menurun dengan usia.
5-1#
+enurunan kemampuan recoil elastic dan kekakuan dinding dada yang terjadi sejalan
dengan usia memiliki dampak luar biasa pada volume paru. Sebagai hasilnya terjadi peningkatan
volume residual (?@", kapasitas paru total (3AB" tidak berubah di sepanjang kehidupan,
kapasitas vital (@B" menurun hingga sekitar ,$- dari nilai terbaiknya untuk meningkatkan
kapasitas residual )ungsional (8?B". 0onsekuensi utama terdapat pada )akta bah*a usia lanjut
bernapas dengan volume paru yang lebih tinggi dibandingkan subyek muda, yang membebankan
tambahan terhadap otot-otot perna)asan, penurunan rasio ventilasi4per)usi (@4C rendah"
mengakibatkan penurunan tekanan oksigen arterial dan penurunan kapasitas trans)er karbon
monoksida paru (3AB!".
5
Efek Penuaan pada Respons Imun
Imunosenescence adalah ketidakteraturan )ungsi imun yang berkontribusi terhadap
peningkatan kerentanan terhadap in)eksi pada usia lanjut.
5
+erubahan sistem imun pada penuaan
bersi)at rumit dan pleiotropik, mengarahkan remodeling atau perubahan regulasi dan bukan
de)isiensi imun sederhana. +erubahan terkait usia yang paling dramatik terjadi di dalam
kompartemen sel 3, bagian sistem imun yang melindungi terhadap patogen dan tumor.3idak
terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bah*a perubahan-perubahan tersebut berhubungan
se2ara langsung terhadap in)eksi yang sering terjadi pada usia lanjut.
9,10
Imunitas alamiah sebagai lini pertama pertahanan yang mendahului respon sel & dan 3
yang spesi)ik antigen juga mengalami perubahan sesuai perjalanan usia. &eberapa e)ek imun
yang berhubungan dengan usia terjadi karena perubahan keseluruhan pada organisme seperti
perubahan viskositas membran sel dan kerja seluler proteolitik.
11
In)eksi saluran pernapasan
terutama pneumonia adalah penyebab utama kematian pada orang berusia ($ tahun atau lebih
pada negara berkembang maupun maju. &eberapa )aktor berkontribusi pada penurunan imunitas
sejalan dengan bertambahnya usia. 1sia lanjut lebih rentan terhadap in)eksi pernapasan
*alaupun memiliki kesehatan yang baik. +enurunan kemampuan jaringan lim)oid untuk
menghasilkan respons spesi)ik antigen terhadap mikroorganisme spesi)ik, seperti virus in)luenDa
atau Streptococcus pneumoniae berperan penting dalam meningkatkan kerentanan terjadinya
in)eksi saluran napas pada usia lanjut.
11,1#
Respons Imun pada Asma Usia Lanjut
?espon imun pada usia lanjut pengidap asma belum diinvestigasi se2ara konsisten hingga
saat ini. /isregulasi sistem imun terutama lim)osit 3 adalah kondisi yang dapat memudahkan
saluran napas penderita asma terkena in)eksi viral dan4atau bakterial. +erubahan epitel bronkus
pada usia lanjut berkontribusi terhadap ampli)ikasi respons in)lamasi saluran napas pengidap
asma. +roses in)lamasi berlebihan pada saluran napas dapat dipertahankan oleh peningkatan
in)luks netro)il yang menjadi karakteristik paru yang menua.
+eningkatan aktivasi netro)il dan pelepasan mediator seperti elastase dan radikal bebas memiliki
potensi untuk merusak jaringan saluran napas dan mendukung remodeling (<ambar 1". al ini
menjelaskan mengapa usia lanjut dengan asma jangka panjang memiliki obstruksi saluran napas
lebih berat dibandingkan pada mereka dengan penyakit yang baru didapat.
Gambar ! /is)ungsi lim)osit 3 pada individu asma usia lanjut
/ikutip dari (5"
PA"OLOGI A#MA PADA U#IA LAN$U"
/inding saluran napas pada pasien penderita asma ditandai oleh peningkatan ketebalan
membran basal retikular, peningkatan massa otot polos, hipertro)i kelenjar mukus, dan kongesti
vaskular yang ,menyebabkan penebalan dinding saluran na)as serta penurunan kaliber saluran
napas. Studi-studi histopatologis pengidap asma telah menetapkan bah*a asma merupakan
proses yang melibatkan saluran napas sentral dan peri)er. In)lamasi saluran napas pada asma
merupakan proses multiseluler terutama melibatkan eosino)il, lim)osit B/.E dan sel mast.
#,,-10
+ada asma berat, neutro)ilia dapat lebih jelas dan implikasi yang dapat ditimbulkan telah diteliti
akhir-akhir ini. +ada penelitian yang melibatkan kelompok umur muda (#0-.0 tahun" dan tua
($$-50 tahun" menunjukkan bah*a degranulasi eosino)il peri)er menurun pada kelompok umur
tua, sementara adhesi eosino)il, kemotaksis eosino)il, )ungsi paru dan persentasi eosino)il dalam
sputum bersi)at serupa pada kedua kelompok.
dikutip dari

#

MANI%E#"A#I &LINI#
0erusakan jaringan
dan Airway remodeling
+erubahan )isiologis yang telah disebutkan sebelumnya memiliki dampak bermakna pada
tampilan klinis asma pada usia lanjut dan menjadi relevan pada diagnosis dan terapi penyakit
pada usia ini.
,,9-11
8aktor lain yang berkontribusi pada kompleksitas asma pada usia lanjut
termasuk ketumpulan persepsi beban mekanis dan kimia*i, penurunan responsivitas
kemoreseptor terhadap hipoksia dan kurangnya kesadaran deteriorasi )ungsi saluran napas.
10
Asma pada usia lanjut dapat dibedakan menjadi a*itan 2epat atau lambat. al tersebut
mengidenti)ikasi dua pola yang memiliki beberapa perbedaan klinis dan )ungsional. Atopi lebih
sering terlihat pada pasien dengan asma a*itan 2epat dibandingkan a*itan lambat.
#
Asma a*itan
lambat merupakan kondisi khusus dan diduga bah*a =penuaan> F#-adenoreseptor dapat menjadi
)aktor yang berkontribusi terhadap perkembangan kondisi ini.
1%
3anda utama klinis asma adalah obstruksi saluran napas yang memberikan respons
bronkodilator.
11
+ola ini kurang tipikal pada usia lanjut yang membuat penyakit ini sulit
dibedakan dengan penyakit lainnya seperti ++!0. 8aktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam
mengevaluasi asma pada usia lanjut adalah durasi penyakit.
9-11
+aru tua dipengaruhi oleh )aktor
eksternal terkait durasi, seperti merokok dan stimulus okupasional. Walaupun begitu, 6ika pasien
dibagi menjadi pasien a*itan a*al dan penyakit a*itan lambat, kedua
kelompok tidak dapat dibedakan se2ara klinis. /urasi asma berhubungan dengan derajat
keterbatasan saluran napas dan hiperin)lasi. 0elainan tersebut dapat bersi)at ireversibel
sepanjang perjalanan *aktu dan menggambarkan saluran napas distal dan4atau perubahan
parenkim serta airway remodeling proksimal bagi para penderita asma.
,,10,11
DIAGNO#I#
/iagnosis asma ditegakkan berdasarkan ri*ayat klinis dengan gejala asma, pemeriksaan
)isis dan laboratorium. <ejala asma bersi)at episodik, berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa
berat di dada dan variabilitas yang berhubungan dengan 2ua2a.

?i*ayat klinis, pola kekambuhan
dan eksaserbasi merupakan komponen penting dalam mendiagnosis asma usia lanjut.
1
<ejala
mengi, rasa berat di dada, napas pendek dan batuk yang sering timbul pada usia muda dapat
merupakan mani)estasi penyakit lain pada usia lanjut seperti eksaserbasi periodik pada bronkitis
kronik sama dengan episode angina atau gagal jantung kongesi).
#,10,1$
<ejala yang mendukung
asma usia lanjut adalah terdapatnya ri*ayat rinitis, sinusitis, nasal poliposis, masalah respirasi
sebelum usia 1( tahun. ?oges dkk.
#0
melakukan

peneliti populasi lansia, ri*ayat atopi
merupakan prediktor terkuat untuk asma. asil dari sebuah penelitian pada populasi lansia
mengindikasikan bah*a keberadaan Ig7 serum yang spesi)ik untuk ke2oa diasosiasikan dengan
asma yang lebih berat pada pasien lansia di kota terlihat dalam peningkatan obstruksi saluran
na)as dan hiperin)lasi.

Sesak napas malam hari tidak hanya terjadi pada asma tetapi dapat juga terjadi pada
gagal jantung kiri akibat peningkatan akut tekanan atrium kiri dan tekanan pembuluh darah
pulmoner yang menyebabkan edema paru disertai penyempitan jalan napas yang ditandai sesak
napas dan mengi. <ejala sesak napas pada asma terjadi pagi hari sekitar pukul .-( pagi
sedangkan sesak napas pada gagal jantung terjadi 1-# jam setelah tidur.
#
pemakaian obat yang
men2etuskan sesak napas seperti aspirin, non steroid anti inflammatory drugs (:SAI/" dan beta
bloker serta terdapatnya peningkatan kadar lg7
1,
+emeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis asma usia lanjut
meliputi pemeriksaan spirometri, )oto toraks, elektrokardiogra)i (70<" dan pemeriksaan darah.
Spirometri digunakan untuk mengukur @olume 7kspirasi +aksa detik pertama (@7+
1"

dan
0apasiti @ital +aksa (0@+". +emeriksaan spirometri membutuhkan instruksi operator yang jelas
serta koordinasi pasien. !bstruksi jalan napas terjadi bila

@7+
1
G50-, @7+
1
4 0@+ G,0- dan
reversibilitas setelah inhalasi bronkodilator yaitu @7+
1
' 1$-
atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-1. hari atau kortikosteroid # minggu. 3eknik yang
kurang baik pada pasien usia lanjut disebabkan karena kelemahan otot, obstruksi jalan napas
berat dengan air trapping dan bronkokonstriksi akibat manu)er ekspirasi paksa yang tidak benar
dapat mempengaruhi hasil pengukuran. +emeriksaan spirometri dilakukan pada a*al kunjungan
setelah pengobatan a*al dan pada asma stabil yang dilakukan berkala setiap 1-# tahun sekali.
1,#

+asien usia lanjut sering gagal menunjukkan reversibilitas pas2a inhalasi bronkodilator
sehingga untuk membedakan ++!0 perlu dilakukan uji kortikosteroid dengan prednison
.0mg4perhari selama 1. hari atau inhalasi kortikosteroid selama ( minggu kemudian diukur nilai
@7+
1
serta uji jalan ( menit sebelum dan sesudah terapi.
11
:ilai arus pun2ak ekspirasi (A+7"
diperoleh dari spirometri atau dengan alat peak ekspiratory flow meter (+78meter" yang relati)
mudah digunakan. +engukuran A+7 berguna untuk mendiagnosis asma, pengukuran ini
dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator. :ilai variabilitas lebih dari #0- pada
A+7 pagi dan malam hari menunjukkan terdapatnya obstruksi jalan napas.
1,#
1ji provokasi
bronkus dapat membantu menegakkan diagnosis asma dan dilakukan apabila pasien mempunyai
gejala asma tapi )aal paru normal. +emeriksaan ini mempunyai sensitivitas tinggi tetapi
spesi)isitas rendah sedangkan pada pasien usia lanjut sensitivitas, spesi)isitas dan keamanan
provokasi bronkus belum diteliti se2ara sistematis.
1,#
8oto toraks pasien asma tanpa penyakit penyerta dapat normal dan dapat menyingkirkan
penyakit lain. +emeriksaan eosino)il darah pasien usia lanjut dapat tidak bermakna pada pasien
yang menggunakan kortikosteroid. 0adar eosino)il darah dapat digunakan sebagai prediksi asma
apabila nilainya lebih dari .- atau %00-.00 4 mm
%
tetapi bila normal bukan berarti tidak asma.
3erdapatnya eosino)il pada sputum merupakan karakteristik asma sebaliknya neutro)il pada
sputum merupakan karakteristik bronkitis kronik terutama saat eksaserbasi akut.
#

1ji alergi pasien asma dapat diindenti)ikasikan melalui pemeriksaan uji kulit atau
pengukuran lg7 spesi)ik serum. +emeriksaan ini tidak rutin dilakukan karena alergen kurang
berperan pada asma usia lanjut dibandingkan dengan pasien usia muda ke2uali terdapat ri*ayat
rinitis alergi atau alergi lainnya dan dapat membantu mengetahui )aktor pen2etus sehingga dapat
dilakukan kontrol lingkungan.
#
+eningkatan nilai lg7 pada perokok disebabkan karena perubahan
mekanisme regulasi sintesis lg7 atau peningkatan lg7 spesi)ik yang berhubungan dengan in)eksi
saluran napas.
19
?ogers dkk.
#0
meneliti sensitisasi indoor allergen yang dihubungkan dengan
peningkatan obstruksi jalan napas pasien asma usia lanjut
terhadap ke2oa, tungau debu rumah, ku2ing dan anjing serta didapatkan hasil peningkatan serum
lg7 spesi)ik yang berhubungan dengan peningkatan obstruksi jalan napas, hiperin)lasi dan
memberatnya asma.
DIAGNO#I# 'ANDING
/iagnosis banding asma meliputi ++!0, gagal jantung kongesi), angina pektoris,
obstruksi jalan napas, dis)ungsi pita suara, keganasan, bronkiektasis, aspirasi kronik dan penyakit
tromboemboli.
1,
&eberapa gejala dan tanda klinis dapat membedakan asma dengan ++!0.
0esalahan diagnosis ini disebabkan )aktor usia tua dan keterbatasan aktivitas sebaliknya tidak
terdiagnosisnya asma pada pasien asma karena gejala klinis yang ringan.
%
Studi Salute
Respiratoria nellAnziano (SA?A"
1.
menunjukkan bah*a hanya $0- pasien usia lanjut yang
jelas menderita asma mendapatkan diagnosis yang tepat. Sebaliknya, #0-
sampel studi tersebut melaporkan kesalahan diagnosis ++!0 dan4atau em)isema, bahkan '#,-
penderita asma tidak pernah didiagnosis dengan penyakit respirasi. Silva dkk menilai risio ++!0
antara penderita asma dan non-penderita asma pada periode observasi selama #0 tahun
menemukan bah*a penderita asma memiliki risiko yang 10 kali lebih tinggi untuk menunjukkan
si)at-si)at ++!0, tanpa melihat sejarah merokoknya.
dikutip dari #
&eberapa tanda dan gejala dapat
membedakan asma dan ++!0 seperti terlihat pada tabel 1.
1$
3abel 1. +erbedaan Asma dengan ++!0




/ikutip dari (#1"
+enyakit jantung seperti gagal jantung menunjukkan pola 2ampuran restriksi dan
obstruksi dengan komponen restriksi yang dominan pada gagal jantung. <ambaran klinis gagal
jantung berupa sesak napas sepanjang hari dipengaruhi aktivitas yang tidak membaik dengan
pemberian bronkodilator, edema ekstirimitas ba*ah, distensi vena leher, irama gallop dan pada
)oto toraks tampak kardiomegali disertai gambaran kongesti vaskuler. 7mboli paru dengan gejala
nyeri dada, sesak napas, mengi dan hipoksemia mempunyai gambaran klinis yang sama dengan
RI(A)A" A#MA PPO&
7pisodik mengi Sering, 6arangHbila eksaserbasi
octurnal dyspnea4batuk Sering tidak
&atuk disertai sputum .0- kasus karakteristik bronkitis kronik
<ejala alergi lain Ia 3idak
( rhinitis, konjungti)itis "
;erokok 6arang Sering
?i*ayat asma Ia 3idak
?i*ayat alergi di keluarga Ia 3idak
PEMERI&#AAN %I#I&
;engi Sering 7kspirasi paksa
PEMERI&#AAN PENUN$ANG
8ungsi paru Sama Sama
8oto toraks :ormal iperin)lasi (7m)isema"
BorakanJ (brokitis kronik"
7osino)il Sering 6arang
Skin tes positi) Sering 6arang
3otal serum Ig7 ;eningkat tidak
RE#PON "ERAPI
@7+1 dengan beta#-agonis ;eningkat tidak berubah4 sedikit
gejala membaik gejala tidak membaik
gejala eksaserbasi asma sehingga perlu diperhatikan risiko terjadinya tromboemboli.
1,#
?u))in
dkk.
#1
menggunakan algoritma dalam mendiagnosis asma dan membedakannya dengan ++!0
pada pasien usia lanjut (<ambar %".
Ri*a+at Dia,nosis bandin, utama
Bek <ejala
+ertanyaan diagnostik yang perlu dipertimbangkan
Apakah anda merasa anda bernapas
sama seperti saat masih mudaK
/alam 1# bulan terakhir pernahH
7pisode sulit bernapas
Saat anda )lu terdengar mengi atau
suara siulan dari dalam dada
/alam 1# bulan terakhir pernah
terbangun malam hari karenaH
Sensasi tertekan di dada
:apas pendek4 sesak napas
Serangan batuk
Apakah anda pernah menggunakan
obat hisap (baik milik pribadi maupun orang lain"K
Apakah anda perokok atau mantan
perokokK
Apakah anda memiliki alergi saat
ke2ilK
0egiatan seperti apa yang sering anda
lakukanK
Apa hobi andaK
Asma ++!0
1sia saat a*itan semua usia lebih tua
Alergi sering kadang
A*itan gejala mendadak sering kadang
;engi sering kadang
/ispneu sering kadang
&atuk kadang sering
?i*ayat merokok kadang hampir selalu
+roduksi sputum jarang hampir selalu
Pertimban,an dia,nosis bandin, -ainH
- In)eksi paru - &atuk kronik
- 7dem pulmonal - <agal jantung kongesti
- +enyakit paru interstisial - 0eganasan
- Asma sebagai komorbid - Aspirasi
- Anemia - !bat
Mene,akkan dia,nosis
#pirometri dan Per.obaan terapi
!bstruksipostbronkodilator
(87@148@BG,0-"
3idak Ia
?espon bronkodilator akut
(87@1 meningkat '1#-
dan #00ml"
Ia Ia 3idak
3ida
k
Ia 3idak
?esponsi) terhadap
+er2obaan terapi (2o,
perubahan +78'#0-
Ia 3idak Ia Ia 3idak 3idak
/iagnosis Asma Suspek
Asma
Suspek
Asma ++!0
++!0
+emeriksaan lain yang
dapat dilakukan untuk
menyingkirkan
diagnosis lain
- 8oto toraks
- 70<
- /arah +eri)er
lengkap
- 3es )ungsi paru
Per.obaan "erapi
+ertimbangan
!ontraindikasi relatif untuk steroid oral
/iabetes
ipertensi
<laukoma
3uberkulosis
1lkus peptikum
<angguan mood
Spirometri dan perco"aan terapi pada usia lan#ut
dapat dipengaruhi oleh faktor sosial$ ekonomi
dan gangguan fisik
0ogniti)
@isual
Aural4pendengaran
;uskuloskeletal4koordinasi
+ilihan steroid inhalasi
$00-1000Lg )lutikason propionat4hari,500-
1(00Lg budenisode4hari, atau yang setara
(gunakan semprotan bila tersedia" selama .-5 minggu
+ilihan steroid oral
$0mg prednison oral4hari selama 10-1. hari
dengan atau tanpa steroid inhalasi
6ika terlihat perbaikan, gantikan prednison
dengan steroid inhalasi lalu nilai ulang
+enga*asan dan +enilaian ulang
+enga*asan arus pun2ak respirasi di rumah,
gejala harian, dan kegiatan sehari-hari
3injau kembali gejala dan spirometri bila
memungkinkan
&eberapa kali kunjungan mungkin
diperlukan untuk memastikan diagnosis
Gambar /. Alogaritma dalam mendiagnosis asma pada usia lanjut
/ikutip dari (#1"
PENA"ALA&#ANAAN
+enatalaksanaan asma meliputi sasaran terapeutik jangka pendek dan jangka panjang
sebagaimana yang direkomendasikan oleh ational Heart$ %ung and &lood Institue (:A&I".
Sasaran jangka pendek adalah kontrol gejala yang mun2ul dengan perbaikan )ungsi paru. Sasaran
jangka panjang adalah sasaran yang diarahkan ke pen2egahan penyakit dan pen2egahan
kunjungan instalasi ga*at darurat dan pera*atan inap. Agar sasaran ini ter2apai, empat
komponen pelayanan asma harus diperhatikan yaitu.
1$
1. 1saha penilaian dan pemantauan untuk mendiagnosis dan menilai
karakteristik,keparahan asma dan monitoring
#. 7dukasi untuk kemitraan pada pelayanan asma
%. 0ontrol )aktor lingkungan dan kondisi komorbid yang mempengaruhi asma
.. 3erapi )armakologis
7dukasi pasien dan kerjasama keluarga sangat dibutuhkan dalam penatalaksanaan asma
sehingga tujuan dapat ter2apai. +asien usia lanjut memerlukan in)ormasi tambahan mengenai
pemakaian dan teknik pemberian obat asma seperti ;/I. +emakaian ;/I dapat menyulitkan
pasien karena dengan bertambahnya usia terjadi penurunan kekuatan otot dan artritis sehingga
pemakaian spa2er atau alat inhalasi lain dapat membantu. 7dukasi yang baik dapat meningkatkan
pemahaman, keterampilan, kepuasan, rasa per2aya diri dan kepatuhan pasien sehingga
menurunkan morbiditas dan mortalitas asma usia lanjut.
1,#
0eberhasilan penatalaksanaan asma dapat dilakukan dengan memantau tanda dan gejala
klinis, )ungsi paru, e)ekti)itas pengobatan serta kemampuan menjalani pengobatan se2ara teratur.
+enilaian klinis dilakukan se2ara berkala antara 1-( bulan. +enilaian )ungsi paru pasien asma
usia lanjut dilakukan dengan memeriksa nila @7+
1
atau +78 setiap %-( bulan sekali.
1
+emeriksaan +78 dapat dilakukan dirumah sehingga dapat menilai progresi)itas penyakit.
Indikasi memberatnya asma apabila terdapat asma malam atau dini hari disertai mengi atau
batuk, peningkatan batuk, penggunaan bronkodilator dan penurunan toleransi latihan atau
aktivitas sehari-hari.
#
+en2egahan dan pengontrolan )aktor pen2etus asma usia lanjut sama dengan pasien asma
lainnya meskipun sensitivitas inhalasi alergen pada pasien ini prevalensinya kurang
dibandingkan dengan pasien usia muda. Imunisasi untuk in)eksi pneumococcal
direkomendasikan pada pasien usia lanjut yaitu setiap $-, tahun untuk usia (0 dan ,$ tahun serta
untuk usia lebih dari ,$ tahun dilakukan setiap %-. tahun. Imunisasi in)luenDa juga dapat
dilakukan setiap tahun selain menghindari rokok dan pajanan asap rokok.
#
3ahapan yang di2apai dalam pengobatan asma untuk mengontrol penyakit adalah asma
untuk semua usia dengan perhatian khusus ditujukan pada pasien asma usia lanjut karena
kemungkinan terjadi interaksi obat serta terdapat penyakit lainnya. ;edikasi asma ditujukan
untuk mengatasi dan men2egah obstruksi jalan napas yang terdiri atas pelega dan pengontrol.
/osis obat disesuaikan dengan kemampuan absorsi, metabolisme dan klirens karena )aktor usia.
+erubahan )ungsi hati dan ginjal perlu diperhatikan dan distribusi obat dipengaruhi oleh
perubahan penurunan otot, 2airan tubuh total dan peningkatan lemak.
#
7)ek samping dan
interaksi obat perlu diperhatikan pada pasien asma usia lanjut.
+enggunaan obat agonis beta-# dosis tinggi menyebabkan penurunan kadar kalium
serum. 0ombinasi antikolinergik dengan agosis beta-# kerja singkat memberikan e)ek
bronkodilatasi yang lebih baik dibandingkan tanpa kombinasi.
1,#
+engobatan yang disarankan
untuk asma intermiten adalah inhalasi agonis beta-# sesuai kebutuhan dan menghindari pen2etus.
3erapi pemeliharaan pada asma persisten sedang tanpa ++!0 berupa kortikosteroid inhalasi,
agonis beta-# kerja lama, ipratropium "romide atau teo)ilin lepas lambat dapat ditambahkan
untuk mengontrol asma malam hari. +asien asma dengan ++!0 lebih sering menggunakan
bronkodilator yang di kombinasi dengan ipratropium "romide. al penting yang perlu
diperhatikan pada pasien ini adalah penyakit lain yang memperberat sehingga membatasi
tatalaksana asma.
15
+enatalaksanaan eksaserbasi meliputi oksigenasi, pemberian inhalasi argonis beta-#, kerja
singkat yang dikombinasikan dengan ipratropium "romide dan kortikosteroid sistemik. ;onitor
70< diperlukan apabila pasien mendapat agonis beta-# dosis tinggi yang disertai penyakit
jantung. ?isiko e)ek samping tatalaksana asma meningkat seiring bertambahnya usia sehingga
menyebabkan keterbatasan dalam memilih obat, dosis dan )rekuensi pemberian.
3ujuan terapi asma adalah untuk mengontrol penyakit tanpa steroid sistemik. +enggunaan
kortikosteroid inhalasi jangka panjang telah dihubungkan dengan pro)il keamanan yang baik.
!bat ini tidak berhubungan dengan peningkatan risiko )raktur jika digunakan dalam dosis
standar. Steroid inhalasi dosis tinggi ('1000 m2g per hari" dapat menyebabkan supresi sumbu
hipo)isis-pituitari-adrenal (+A" dan komplikasi sistemik. 7)ek samping lokal seperti suara
parau, dis)onia, batuk, dan kandidosis oral dapat mun2ul, tetapi biasanya dapat di2egah dengan
penggunaan spacer atau holding cham"er.
#
+asien asma usia lanjut yang menggunakan kortikosteroid oral jangka panjang perlu
diantisipasi kemungkinan terjadi osteoporosis terutama pada pasien pas2amenopause yang
menggunakan hormone replacement therapy (?3". +emberian etidronate dengan suplemen
vitamin / dan kalsium menunjukan perbaikan densitas tulang pada pasien ini.
1%
+enggunaan
estrogen dan progesteron pada pasien asma perempuan premenopause terbukti memperlihatkan
perbaikan )ungsi paru. Barlson dkk.
##
meneliti penggunaan ?3 pada pasien pas2amenopause
dihubungkan dengan )ungsi paru, didapatkan hasil nilai @7+
1
lebih tinggi, kejadian obstuksi
lebih sedikit akan tetapi tidak dijelaskan hubungannya dengan kebiasaan merokok dan )aktor
lainnya.

%eukotrien modifier merupakan obat baru yang dapat diberikan se2ara oral. !bat ini
memiliki e)ek bronkodilatasi, menurunkan bronkokonstriksi akibat alergen, sul)ur dioksida dan
latihan serta mempunyai e)ek anti in)lamasi. SuDuki dkk.
15
meneliti pemakaian obat asma pada
pasien usia muda dibandingkan usia lanjut, teo)ilin lepas lambat lebih serting digunakan pada
pasien usia lanjut sedangkan penggunaan antileukotriene atau anti alergi tidak ada perbedaan.
?isiko e)ek samping kortikosteroid sistemik meningkat pada pasien usia lanjut. Wisniversky
dkk.
1,
meneliti ,# pasien usia lanjut (rerata ,, tahun" dengan obstruksi jalan napas yang
mendapat kortikosteroid (prednisolon #,$-1#,$ mg4hari selama .,5 tahun", insidens e)ek samping
yang serius .0- lebih tinggi dibanding kontrol, komplikasi yang sering terjadi yaitu osteoporosis
(1(-" dan hipertensi (1#-".
Imunoglobulin 7 merupakan mediator penting dalam pato)isiologi asma. !maliDumab
merupakan humanized recom"inant lg' anti"ody yaitu anti-lg7 alergen inhalasi dapat
menurunkan eosino)il jalan napas dan )rekuensi eksaserbasi asma. +enurunan eosino)il jalan
napas pada omaDulimab serupa dengan e)ek terapi kortikosteroid pada pasien asma tetapi tidak
menunjukan perbaikan pada hipereaktivitas bronkus non spesi)ik seperti metakolin.
19
+ada uji
klinik seri ke-( )ase III
dikutip dari1(
dari #$.5 penderita asma berat omaliDumab diberikan sebagai
terapi tambahan dalam pemberian #-. kali seminggu selama #5-$# minggu menberikan
perbaikan dari eksaserbasi, gejala, )ungsi paru dan kualitas hidup tetapi hanya sedikit perubahan
pada spirometri.
PROGNO#I#
Asma pada usia lanjut dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas yang bermakna.
;orbiditas pasien asma usia lanjut lebih tinggi dibandingkan usia de*asa muda dan 2enderung
meningkat. Serangan asma akut pada usia lanjut 2epat menjadi )atal dan mempunyai prognosis
yang buruk. Asma yang mun2ul setelah usia $0 tahun memberikan gejala klinis yang lebih berat
dan kurang reversibel dibandingkan asma diderita sejak masa anak. 3erdapatnya sakit jantung
koroner, hipoksemia akibat asma dan e)ek samping obat asma (agonis beta-#, teo)ilin" dapat
mempengaruhi morbiditas pada kelompok ini.
#0

Studi longitudinal menunjukkan remisi asma sering terjadi pada dekade dua kehidupan
dan dapat meningkat hingga (0-,0- tetapi pada golongan usia lebih tua hanya mun2ul pada #0-
kasus. Asma pada lansia dengan gejala yang berat, penyakit lama, )ungsi paru yang telah
berkurang atau memiliki diagnosis ++!0 penyerta lebih jarang mengalami remisi. Studi , tahun
dikutip dari #%
pada #$ orang lansia ( usia ',0tahun" dengan asma dan tidak merokok, tidak satupun
pasien mengalami remisi komplit, tetapi tidak satupun juga yang meninggal akibat asma. /ua
pasien (5-" meninggal karena insu)isiensi pernapasan kronik seperti ++!0 yang diinduksi oleh
rokok, keduanya memiliki dasar perkiraan 87@1- yang rendah saat a*al memasuki studi.
ampir semua pasien tetap bergantung kepada steroid dengan gejala menetap selama *aktu
studi. 3emuan ini mirip dengan yang dipaparkan oleh &urro*s dkk.
#.
pada survey berbasis
komunitas. ;eskipun memiliki gejala berat dan gangguan )isiologis, kebanyakan pasien lansia
dengan asma dapat hidup produkti), akti) dan tidak memiliki tingkat kematian tinggi karena
asma.
#0
&E#IMPULAN
1. Asma sering ditemukan pada seluruh kelompok usia dan mun2ul sebagai masalah
yang bermakna untuk usia lanjut karena sering tidak terdiagnosis dan diterapi dengan
baik.
#. +enuaan memiliki e)ek luar biasa pada )ungsi paru maupun sistem imun,termasuk
sel-sel yang memiliki peran regulasi pada asma.
%. Asma usia lanjut berhubungan dengan klinis yang berat, obstruksi jalan napas kronik
dan terdapatnya )aktor yang mempengaruhi seperti komorbid, gangguan kogniti),
poli)armasi atau gejala respirasi asma yang kurang terdeteksi se2ara dini.
.. +enatalaksanaan se2ara umum sama namun perlu dilihat kasus per kasus dengan
pertimbangan multimorbiditas dan poli)armasi untuk menurunkan risiko e)ek
samping dan memaksimalisasi angka ketaatan terhadap ren2ana terapi jangka
panjang.