Anda di halaman 1dari 26

Dalam merencanakan instalasi pengolahan air minum diperlukan informasi mengenai

kebutuhan air minum di wilayah perencanaan. Kebutuhan air minum sangat ditentukan oleh
kondisi wilayah perencanaan, pertambahan jumlah penduduk dan tingkat sosial ekonomi
penduduk yang mempengaruhi pola pemakaian air.
Penentuan kebutuhan air minum didasarkan pada beberapa hal yaitu :
Daerah pelayanan
Periode perencanaan
Proyeksi jumlah penduduk, fasilitas umum dan fasilitas sosial selama periode
perencanaan
Pola pemakaian air di suatu wilayah
Daerah Pelayanan
Kebutuhan air minum di wilayah perencanaan sangat tergantung kepada kondisi daerah
pelayanan yang menjadi tujuan perencanaan. Daerah pelayanan yang ditentukan dalam
perencanaan ini adalah wilayah Kecamatan X dengan pertimbangan :
Daerah yang kekurangan air bersih
Daerah dengan kepadatan penduduk tinggi
Daerah yang telah menerima pelayanan air bersih tetapi belum maksimal
Aspek teknis seperti topografi yang menentukan proses distribusi
Aspek ekonomi
Daerah-daerah dengan kepadatan penduduk rendah dan komunitas yang sangat rendah tidak
akan memperolah pelayanan karena pertimbangan ekonomis.
Periode Perencanaan
Periode perencanaan merupakan jangka waktu yang diberikan kepada instalasi pengolahan
untuk dapat melayani kebutuhan air masyarakat di wilayah perencanaan. Periode
perencanaan instalasi pengolahan air minum pada umumnya adalah 20-25 tahun. Pada
perencanaan ini ditetapkan 20 tahun sebagai periode perencanaan. Periode perencanaan ini
diambil dengan pertimbangan bahwa perkembangan penduduk di masa mendatang hanya
dapat diprediksi dengan baik untuk periode 20 tahun. Apabila periode perencanaan dilakukan
melebihi 20 tahun maka dikhawatirkan keadaan perkembangan penduduk di masa mendatang
justru sangat berbeda dari apa yang telah diprediksi.
Proyeksi Jumlah Penduduk
Prediksi jumlah penduduk di masa yang akan datang sangat penting dalam memperhitungkan
jumlah kebutuhan air minum di masa yang akan datang. Prediksi ini didasarkan pada laju
perkembangan kota dan kecenderungannya, arahan tata guna lahan serta ketersediaan lahan
untuk menampung perkembangan jumlah penduduk.
Dengan memperhatikan laju perkembangan jumlah penduduk masa lampau, maka metode
statistik merupakan metode yang paling mendekati untuk memperkirakan jumlah penduduk
di masa mendatang. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menganalisa
perkembangan jumlah penduduk di masa mendatang yaitu :
Aritmatika
Geometrik
Linear
Eksponensial
Logaritmik
Metode Aritmatika
Metode ini biasanya disebut juga dengan rata-rata hilang. Metode ini digunakan apabila data
berkala menunjukkan jumlah penambahan yang relatif sama tiap tahun. Hal ini terjadi pada
kota dengan luas wilayah yang kecil, tingkat pertumbuhan ekonomi kota rendah dan
perkembangan kota tidak terlalu pesat. Rumus metode ini adalah :

Dengan:
P
n
= jumlah penduduk tahun ke-n
P
0
= jumlah penduduk awal
r = jumlah pertambahan penduduk tiap tahun
T
n
= tahun yang diproyeksi
T
0
= tahun awal
P
1
= jumlah penduduk tahun ke-1 (yang diketahui)
P
2
= jumlah penduduk tahun terakhir (yang diketahui)
Metode Geometrik
Untuk keperluan proyeksi penduduk, metode ini digunakan bila data jumlah penduduk
menunjukkan peningkatan yang pesat dari waktu ke waktu.
Rumus metode geometrik :

Dengan:
P
n
= jumlah penduduk tahun yang diproyeksi
P
0
= jumlah penduduk tahun awal
r = rata-rata angka pertumbuhan penduduk tiap tahun
n = jangka waktu
Metode Regresi Linear
Metode regresi linear dilakukan dengan menggunakan persamaan :

Metode Eksponensial
Metode eksponensial dilakukan dengan menggunakan persamaan :

Metode Logaritmik
Metode logaritmik dilakukan dengan menggunakan persamaan :

Dasar Pemilihan Metode Proyeksi Penduduk
Untuk menentukan metode paling tepat yang akan digunakan dalam perencanaan, diperlukan
perhitungan faktor korelasi, standar deviasi dan keadaan perkembangan kota di masa yang
akan datang. Koefisien korelasi dan standar deviasi diperoleh dari hasil analisa dan
perhitungan data kependudukan yang ada dengan data penduduk dari perhitungan metode
proyeksi yang digunakan.
Korelasi, r, dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Kriteria korelasi adalah sebagai berikut:
r < 0, korelasi kuat, tetapi bernilai negatif dan hubungan diantara keduanya
berbanding terbalik.
r = 0, kedua data tidak memiliki hubungan.
r > 1, terdapat hubungan positif dan diperoleh korelasi yang kuat, diantara kedua
variabel memiliki hubungan yang berbanding lurus.
Standar deviasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Metode proyeksi yang dipilih adalah metode dengan nilai standar deviasi terendah dan
koefisien korelasi paling besar. Pola perkembangan kota sesuai dengan fungsi kota di masa
mendatang juga dijadikan acuan dalam menentukan metode proyeksi. Pada umumnya fungsi
sebuah kota dapat menunjukkan kecenderungan pertambahan penduduk di masa mendatang.
Pemilihan Proyeksi Jumlah Penduduk
Dengan menggunakan lima metode yang telah dijelaskan sebelumnya maka diperoleh hasil
proyeksi jumlah penduduk hingga tahun 2023 yang ditunjukkan oleh Tabel 1.
Tabel 1. Analisa Statistik Jumlah Penduduk di Kecamatan X

Berdasarkan Tabel 1 dapat ditentukan salah satu metode yang digunakan sebagai acuan
untuk proyeksi penduduk adalah metode eksponensial karena menunjukkan nilai korelasi
yang kuat dan standar deviasi paling kecil. Hasil proyeksi penduduk selama periode
perencanaan ditunjukkan oleh Tabel 2 dan Gambar 1.

Gambar 1. Proyeksi Penduduk di Kecamatan X
Tabel 2. Proyeksi Jumlah Penduduk di Kecamatan X

Selain dengan menggunakan hasil analisa regresi, proyeksi penduduk juga dilakukan dengan
mempertimbangkan Rencana Umum Tata Ruang dan Wilayah yang telah ditetapkan untuk
wilayah perencanaan. Berdasarkan RTRW Kabupaten X diketahui bahwa jumlah lahan yang
dapat digunakan sebagai tempat tinggal/perumahan akan mempengaruhi daya tampung
penduduk di suatu wilayah. Ada beberapa asumsi yang digunakan untuk menentukan jumlah
penduduk maksimal yang dapat ditampung oleh suatu wilayah yaitu :
Jumlah jiwa per umpi adalah 3-4 orang.
Rumah terbagi menjadi 3 kavling yaitu besar (180 m
2
), sedang (120 m
2
) dan kecil (60
m
2
).
Komposisi jumlah kebutuhan menurut tipe rumah didasarkan pada 1 : 3 : 6.
Luas kebutuhan lahan perumahan belum termasuk kebutuhan lahan untuk fasilitas
umum dan prasarana penunjang, sebagai acuan digunakan perbandingan 60 : 40.
RTRW Kabupaten X menyebutkan bahwa luas lahan yang digunakan sebagai acuan dalam
proyeksi penduduk adalah lahan dengan persyaratan sesuai untuk kegiatan perkotaan. Lahan
ini tidak meliputi wilayah air permukaan, lahan-lahan kritis serta lahan-lahan dengan
kemiringan lebih dari 15%. Jadi, lahan yang ditinjau tidak seluruh luas lahan secara
administratif.
Menurut data dari RTRW Kab. X, lahan perkotaan di daerah X memiliki luas sebesar 31.11
km2. Berdasarkan luas ini maka lahan yang dapat digunakan sebagai perumahan adalah 18.67
km2. Dengan menggunakan asumsi yang telah ditetapkan oleh RTRW Kabupaten X maka :
Total luas lahan yang dapat digunakan untuk setiap tipe rumah.

Jumlah rumah yang dapat dibangun untuk setiap lahan peruntukan.

Total rumah yang ada di lahan perkotaan adalah 243748 rumah. Dengan asumsi jumlah jiwa
per umpi adalah 4 orang maka total penduduk maksimal yang dapat ditampung oleh wilayah
perencanaan adalah 974992 jiwa.
Berdasarkan hasil analisa regresi, jumlah penduduk pada akhir periode perencanaan adalah
384996 jiwa. Jumlah penduduk ini tidak melebihi jumlah penduduk maksimal yang dapat
ditampung oleh wilayah perkotaan daerah perencanaan berdasarkan RTRW sehingga hasil
proyeksi dengan menggunakan analisa regresi eksponensial dapat digunakan. Pola
pertumbuhan penduduk yang mengikuti pola eksponensial yaitu peningkatan jumlah
penduduk yang sangat pesat, sangat sesuai dengan fungsi Kecamatan X sebagai kota
penyangga kehidupan metropolis kota X. Dengan daya tampung penduduk yang masih tinggi
maka di masa mendatang diperkirakan akan terjadi peningkatan jumlah penduduk dengan
sangat pesat.
Proyeksi Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial
Proyeksi fasilitas umum dan fasilitas sosial digunakan untuk menentukan kebutuhan air non
domestik. Proyeksi dilakukan dengan mengacu kepada karakteristik wilayah perencanaan,
RUTR yang telah ditetapkan dan standar penduduk pendukung untuk setiap fasilitas umum
dan fasilitas sosial yang telah ditetapkan oleh Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan
Umum.
Fasilitas Pendidikan
Secara umum fasilitas pendidikan telah mencukupi kebutuhan dan penyebarannya cukup
merata karena semua desa telah memiliki SD. Penambahan SD tidak diprioritaskan karena
pemenuhan kebutuhan akan SD diperkirakan masih dapat ditampung dengan meningkatkan
jumlah ruang di SD yang sudah ada. Jumlah fasilitas TK, SLTP dan SMU harus ditingkatkan.
Dengan peningkatan jumlah penduduk maka diperkirakan pada 10 tahun mendatang akan
dibangun sebuah perguruan tinggi skala kecil karena wilayah ini tidak dijadikan sebagai pusat
pendidikan. Hasil proyeksi fasilitas pendidikan ditunjukkan oleh Tabel 3.
Tabel 3 Proyeksi Fasilitas Pendidikan di Kecamatan X

Fasilitas Peribadatan
Fasilitas peribadatan sudah cukup menyebar dan memenuhi kebutuhan. Penambahan fasilitas
perlu dilakukan akibat tuntutan pertambahan jumlah penduduk. Fasilitas yang perlu
dikembangkan adalah mesjid yang menjadi pusat orientasi penduduk kota. Jumlah penganut
agama Kristen yang cukup banyak menuntut diperlukan adanya pembangunan gereja pada
lima tahun pertama. Fasilitas pura dan vihara tidak menjadi sasaran pembangunan karena
jumlah penganut agama Hindu dan Budha tidak terlalu banyak. Hasil proyeksi fasilitas
peribadatan ditunjukkan oleh Tabel 4.
Tabel 4 Proyeksi Fasilitas Peribadatan di Kecamatan X

Fasilitas Kesehatan
Fasilitas ini dikembangkan dengan pertimbangan utama tingkat pelayanan yang maksimal
dengan mendekati daerah perumahan penduduk. Fasilitas yang ada belum mencukupi
terutama balai pengobatan dan apotek. Rumah sakit perlu dibangun karena jumlah penduduk
telah melebihi 150000 jiwa. Hasil proyeksi fasilitas kesehatan ditunjukkan oleh Tabel 5.
Tabel 5. Proyeksi Fasilitas Kesehatan di Kecamatan X

Fasilitas Perdagangan dan Jasa
Kegiatan perdagangan tumbuh di sekitar jalan utama sehingga menyebabkan kemacetan.
Kondisi ini menyebabkan perlu dibentuk pusat bisnis baru. Kebijaksanaan pemerintah
tentang kota X sebagai kota satelit menuntut harus dapat menjadi pusat perdagangan regional.
Dengan dijadikannya Kecamatan X sebagai pusat perdagangan dan industri maka akan
meningkatkan kegiatan ekonomi sehingga jumlah fasilitas dagang dan jasa akan meningkat
pula. Hasil proyeksi fasilitas perdagangan dan jasa ditunjukkan oleh Tabel 6.
Tabel 6. Proyeksi Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Kecamatan X

Fasilitas Umum dan Rekreasi
Fasilitas umum seperti kantor pos hanya terdiri dari satu unit dengan wilayah pelayanan
meliputi seluruh Kecamatan X. Kondisi ini tidak mampu memenuhi kebutuhan penduduk,
oleh karena itu diperlukan penambahan unit ini terutama di daerah dengan kepadatan
penduduk yang cukup tinggi selain ibukota kecamatan.
Kecamatan X merupakan tempat singgah dari jalur wisata yang berada di daerah X Selatan.
Hal ini merupakan potensi yang baik untuk meningkatkan sarana yang berhubungan dengan
pariwisata dan rekreasi seperti hotel dan restoran. Untuk memenuhi kebutuhan hiburan maka
perlu dibangun sebuah bioskop lokal. Hasil proyeksi fasilitas umum dan rekreasi ditunjukkan
oleh Tabel 7.
Tabel 7. Proyeksi Fasilitas Umum dan Rekreasi di Kecamatan X

Fasilitas Olahraga
Kondisi eksisting belum mencukupi kebutuhan karena sarana yang ada tidak dapat
menampung aktivitas penduduk. Direncanakan akan dibangun sebuah GOR. Hasil proyeksi
fasilitas olahraga ditunjukkan oleh Tabel 8.
Tabel 8. Proyeksi Fasilitas Olahraga di Kecamatan X

Kegiatan Industri
Pola pengembangan kegiatan industri didasarkan kepada fungsi Kecamatan X sebagai kota
satelit dan pusat kegiatan industri terutama industri tekstil. Hal ini menyebabkan akan terjadi
peningkatan kegiatan industri baik besar, sedang maupun kecil/rumah tangga. Peningkatan ini
diiringi pula dengan peningkatan jumlah tenaga kerja. Hasil proyeksi kegiatan industri
ditunjukkan oleh Tabel 9.
Tabel 9. Proyeksi Kegiatan Industri di Kecamatan X

Proyeksi Kebutuhan Air Minum
Proyeksi kebutuhan air minum dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang
dapat menunjang atau menyebabkan pertambahan kebutuhan air minum. Faktor-faktor
tersebut adalah :
Pertambahan jumlah penduduk
Tingkat sosial ekonomi penduduk
Keadaan iklim daerah setempat
Rencana daerah pelayanan dan perluasannya
Untuk memperkirakan kebutuhan air minum kota maka dapat diklasifikasikan beberapa jenis
pemakaian air yaitu adalah :
Pemakaian untuk kebutuhan domestik/rumah tangga
Pemakaian untuk kebutuhan nondomestik
Pemakaian untuk keperluan perkotaan
Standar Kebutuhan Air Minum
Untuk menentukan besarnya kebutuhan air minum maka dapat digunakan standar kebutuhan
air. Ada berbagai macam standar kebutuhan seperti standar yang telah ditetapkan oleh Ditjen
Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum dalam Petunjuk Teknis Tata Cara Rancangan
Teknik Bidang Air Minum. Standar kebutuhan air minum ditunjukkan oleh Tabel 10.
Tabel 10. Standar Kebutuhan Air Minum (PU Cipta Karya, 1998)

Untuk menentukan jumlah konsumsi air dapat juga digunakan pedoman perencanaan
penentuan jumlah konsumsi air yang diberikan oleh Iwaco-Waseco seperti ditunjukkan oleh
Tabel 11.
Tabel 11. Pedoman Perencanaan Jumlah Konsumsi Air (dalam L/org/hari) (Iwaco-
Waseco, 1990)

Kebutuhan Air Domestik
Kebutuhan air domestik ialah pemakaian air untuk aktivitas di lingkungan rumah tangga.
Penyediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dihitung berdasarkan :
Jumlah penduduk
Persentase jumlah penduduk yang akan dilayani
Cara pelayanan air
Konsumsi pemakaian air
Berdasarkan cara pelayanan air minum maka kebutuhan air domestik terbagi menjadi dua
jenis yaitu :
Sambungan Rumah
Hidran Umum
Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah
Sambungan rumah adalah jenis sambungan pelanggan yang menyediakan air langsung ke
rumah-rumah dengan menggunakan sambungan pipa-pipa distribusi air melalui water meter
dan instalasi pipa yang dipasang di dalam rumah. Pelayanan air minum dengan menggunakan
sambungan rumah ditujukan bagi warga yang telah menempati rumah permanen. Golongan
masyarakat ini akan sanggup membayar air untuk mendapatkan air bersih demi kesehatan.
Biasanya yang termasuk golongan ini adalah golongan ekonomi kelas menengah hingga atas.
Selama periode perencanaan, diperkirakan jumlah rumah permanen akan meningkat sesuai
dengan fungsi kota yaitu sebagai pusat industri dan permukiman. Fungsi kota ini berpengaruh
kepada perekonomian masyarakat yang diperkirakan akan meningkat seiring berjalannya
waktu. Proyeksi kebutuhan air untuk sambungan rumah ditunjukkan oleh Tabel 12.
Tabel 12. Proyeksi Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah di Kecamatan X

Kebutuhan Air untuk Hidran Umum
Hidran umum adalah jenis sambungan yang menyediakan air melalui kran yang dipasang di
suatu tempat tertentu agar mudah dipergunakan oleh masyarakat umum untuk mencukupi
kebutuhan mandi, cuci dan minum. Pelayanan air minum ini ditujukan bagi masyarakat
dengan golongan ekonomi bawah atau menempati rumah non permanen yaitu rumah yang
terbuat dari bambu atau kayu. Golongan ini berpenghasilan rendah dan lebih mengutamakan
penggunaan air tanah yang bebas biaya sehingga tingkat penggunaan air dengan sumber air
permukaan akan menjadi sangat rendah karena memerlukan biaya.
Jumlah penduduk yang menempati rumah non permanen di masa mendatang akan mengalami
penurunan karena diperkirakan akan terjadi peningkatan kondisi perekonomian masyarakat.
Proyeksi kebutuhan air untuk hidran umum ditunjukkan oleh Tabel 13.
Tabel 13. Proyeksi Kebutuhan Air untuk Hidran Umum di Kecamatan X

Kebutuhan Air Non Domestik
Kebutuhan air non domestik merupakan kebutuhan air yang digunakan oleh berbagai fasilitas
penunjang kegiatan masyarakat seperti :
Fasilitas Pendidikan
Fasilitas Peribadatan
Fasilitas Kesehatan
Fasilitas Perdagangan dan Jasa
Fasilitas Umum dan Rekreasi
Fasilitas Olahraga
Kegiatan industri
Jumlah kebutuhan air non domestik selama periode perencanaan ditunjukkan oleh Tabel 14.
Tabel 14. Proyeksi Kebutuhan Air Non Domestik di Kecamatan X

Kebutuhan Air untuk Keperluan Kota
Kebutuhan air untuk keperluan perkotaan terbagi menjadi dua bagian yaitu untuk :
Hidran Kebakaran
Hidran kebakaran adalah hidran yang digunakan untuk mengambil air jika terjadi kebakaran.
Menurut Al-Layla, kebutuhan air untuk hidran kebakaran dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :

Dengan:
Q = debit kebutuhan (L/menit)
P = populasi dalam ribuan
Pada perencanaan ini ditentukan bahwa kebutuhan air untuk hidran kebakaran adalah 10 %
dari total kebutuhan air.
Tata Kota
Kebutuhan air untuk tata kota meliputi kebutuhan air bagi pemeliharaan taman-taman di
wilayah perencanaan. Jumlah air yang disediakan adalah 5% dari total kebutuhan air.
Rekapitulasi Kebutuhan Air di Wilayah Perencanaan
Berdasarkan perhitungan kebutuhan air untuk berbagai keperluan maka total kebutuhan air di
wilayah perencanaan dapat diketahui dan ditunjukkan oleh Tabel 15.
Tabel 15. Rekapitulasi Kebutuhan Air di Kecamatan X

Tingkat Pelayanan
Periode perencanaan selama 20 tahun terbagi menjadi dua tahap dan setiap tahap berlangsung
selama 10 tahun. Tingkat pelayanan air minum di setiap tahap berbeda-beda dan di setiap
tahap terjadi peningkatan pelayanan. Kondisi topografi dan tingkat kepadatan penduduk yang
berada di wilayah perencanaan menyebabkan keterbatasan dalam pelayanan penyediaan air
minum. Berdasarkan faktor-faktor yang menentukan daerah pelayanan maka tingkat
pelayanan tiap tahap perencanaan adalah sebagai berikut :
Tahap I (2004-2013) : 40 %
Tahap II (2014-2023) : 50 %
Tingkat Kehilangan Air
Kehilangan air adalah besarnya selisih air yang diproduksi dengan air yang didistribusikan.
Nilai ini perlu diperhitungkan dalam pengolahan air karena dijadikan pedoman untuk melihat
performance dari suatu instalasi pengolahan air minum. Semakin besar tingkat kehilangan air
maka semakin buruk pula performance dari instalasi pengolahan. Penyediaan air minum
dengan jaringan besar biasanya memiliki tingkat kehilangan air yang besar dan sebaliknya.
Penyebab kehilangan air terbagi menjadi dua macam yaitu :
Fisik. Kehilangan air disebabkan oleh jaringan pipa yang sudah rusak, tua dan bocor,
kerusakan meter air dan pengaliran air tidak tercatat oleh meter air.
Administrasi. Kehilangan air disebabkan oleh keberadaan sambungan ilegal dan
ketidakakuratan dalam pencatatan administrasif.
Tingkat kehilangan air pada perencanaan ini untuk setiap tahap diperkirakan sebagai berikut
:
Tahap I : 30 %
Tahap II : 25 %
Fluktuasi Kebutuhan Air
Dalam perencanaan suatu sistem penyediaan air bersih, dikenal istilah fluktuasi pemakaian
air. Data tentang fluktuasi pemakaian air bersih ini merupakan data yang sangat penting. Hal
ini dikarenakan kapasitas sistem harus mencukupi untuk mengatasi kebutuhan air saat hari
maksimum maupun pada jam puncak. Data fluktuasi pemakaian air bersih juga dapat
digunakan untuk menghitung kapasitas dari bak penampung atau reservoir.
Fluktuasi pemakaian ini dapat dibedakan menjadi dua (2) jenis yaitu fluktuasi pemakaian
pada waktu hari maksimum dan pada saat jam puncak. Fluktuasi pemakaian air bersih di tiap
daerah dapat berbeda-beda dipengaruhi oleh beberapa hal. Diantaranya adalah:
Kebiasaan konsumen dalam penggunaan air.
Tingkat sosial ekonomi di daerah pelayanan.
Untuk menghitung kebutuhan air bersih, diperlukan pula angka faktor pengali tertentu yaitu
faktor maksimum harian (f
m
) dan faktor jam puncak (f
p
) sehingga akan diperoleh kebutuhan
air maksimum dan kebutuhan air puncak.
Faktor Hari Maksimum (f
m
)
Yang dimaksud dalam fluktuasi hari maksimum adalah fluktuasi yang dapat terjadi dari hari
ke hari yang bervariasi namun terdapat satu hari dimana pemakaian air lebih besar dibanding
hari lainnya dalam satu tahun tadi. Kebutuhan air maksimum harian dihitung dari kebutuhan
rata-rata dikalikan dengan faktor maksimum harian. Faktor ini merupakan perbandingan
antara pemakaian pada hari terbesar dengan pemakaian air rata-rata selama satu tahun.
Besarnya kebutuhan air pada hari maksimum dapat dipengaruhi oleh:
Tingkat ekonomi dan kondisi sosial budaya. Tingkat ekonomi masyarakat
berpengaruh terhadap pola penggunaan air. Semakin tinggi tingkat ekonomi
masyarakat maka pemakaian air juga akan bertambah besar dan semakin beragam
tingkat sosial budaya masyarakat begitu pula dengan pemakaian airnya yang menjadi
semakin besar.
Iklim. Iklim akan berpengaruh terhadap fluktuasi pemakaian air. Seperti pada
umumnya daerah di Indonesia, Kota X juga dipengaruhi oleh dua musim dan
perbedaan temperatur yang tidak terlalu besar. Namun demikian tetap terdapat
perbedaan pola penggunaan air diantara kedua musim tersebut dimana pada musim
kemarau terjadi kecenderungan pemakaian air yang lebih besar daripada musim
hujan.
Faktor Jam Puncak (f
p
)
Jam puncak merupakan jam dimana terjadi pemakaian air terbanyak dalam 24 jam. Faktor
jam puncak (f
p
) mempunyai nilai yang berbanding terbalik dengan jumlah penduduk.
Semakin tinggi jumlah penduduk maka besarnya faktor jam puncak akan semakin kecil. Hal
ini terjadi karena dengan bertambahnya jumlah penduduk maka aktivitas penduduk tersebut
pun akan semakin beragam sehingga fluktuasi pemakaian akan semakin kecil pula.
Faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kebutuhan jam puncak adalah perkembangan dari
kota yang bersangkutan. Perkembangan yang terjadi dapat menentukan karakteristik kota.
Namun secara garis besar, untuk kota besar nilai fp akan sebesar 1,3, kota sedang sekitar 1,5,
dan untuk kota kecil adalah 2.
Tabel 16. Nilai Faktor Maksimum dan Faktor Puncak untuk Beberapa Kategori Kota

Berdasarkan Tabel 16 maka nilai f
m
dan f
p
pada perencanaan ini adalah 1.1 dan 1.5.
Rekapitulasi Kebutuhan Air Terlayani
Dalam usaha penyediaan air minum, kebutuhan air minum di wilayah perencanaan tidak
dapat dilayani secara keseluruhan. Berdasarkan tingkat pelayanan, kebocoran dan nilai
fluktuasi yang direncanakan maka dapat diketahui jumlah kebutuhan air terlayani. Nilai ini
ditunjukkan oleh Tabel 17.
Tabel 17. Rekapitulasi Kebutuhan Air Terlayani di Kecamatan X

Perhitungan
Standar Kebutuhan Air Minum
Kebutuhan air minum dihitung dengan mengacu kepada standar kebutuhan air minum yang
telah berlaku dan pola penggunaan air di wilayah perencanaan. Berbagai standar kebutuhan
air diberikan pada Tabel 1, 2 dan 3.
Tabel 1. Standar Pemakaian Air menurut PPSAB, Jawa Barat

Tabel 2. Standar Pemakaian Air Menurut PU Cipta Karya

Tabel 3. Pedoman Perencanaan Jumlah Konsumsi Air (dalam L/org/hari) (Iwaco-
Waseco)

Kebutuhan Air Domestik
Kebutuhan air domestik meliputi kebutuhan air untuk sambungan rumah dan hidran umum.
Standar kebutuhan air untuk sambungan rumah dan hidran umum mengacu kepada jumlah
kebutuhan eksisting dari PDAM Kab. Bandung yaitu :
Sambungan Rumah: 100 L/orang/hari
Hidran Umum: 30 L/orang/hari
Perhitungan kebutuhan air domestik diberikan oleh Tabel 4 dan 5.
Tabel 4. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah

Tabel 5. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Hidran Umum

Kebutuhan Air Non Domestik
Kebutuhan air non domestik meliputi kebutuhan air untuk berbagai fasilitas umum dan sosial
yang berada di wilayah perencanaan selama periode perencanaan.
Fasilitas Pendidikan
Kebutuhan air untuk fasilitas pendidikan ditentukan dengan menggunakan standar kebutuhan
setiap tingkat pendidikan yaitu :
TK : 10 L/murid/hari
SD : 10 L/murid/hari
SLTP: 10 L/murid/hari
SMU: 10 L/murid/hari
Perguruan Tinggi: 10 L/murid/hari
Perhitungan kebutuhan air fasilitas pendidikan diberikan oleh Tabel 6.
Tabel 6. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Pendidikan

Fasilitas Peribadatan
Kebutuhan air untuk fasilitas peribadatan ditentukan dengan menggunakan standar kebutuhan
setiap tempat peribadatan yaitu :
Mesjid: 1500 L/unit/hari
Mushala: 750 L/unit/hari
Gereja: 500 L/unit/hari
Pura: 200 L/unit/hari
Vihara: 200 L/unit/hari
Pesantren: 5000 L/unit/hari
Perhitungan kebutuhan air fasilitas peribadatan diberikan oleh Tabel 7.
Tabel 7. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Peribadatan

Fasilitas Kesehatan
Kebutuhan air untuk fasilitas kesehatan ditentukan dengan menggunakan standar kebutuhan
setiap fasilitas kesehatan yaitu :
Rumah sakit: 200 L/tempat tidur/hari
Pukesmas: 2000 L/unit/hari
Puskesmas Pembantu: 1000 L/unit/hari
BKIA/RS Bersalin: 750 L/unit/hari
Balai Pengobatan: 1500 L/unit/hari
Apotek: 100 L/unit/hari
Perhitungan kebutuhan air fasilitas kesehatan diberikan oleh Tabel 8.
Tabel 8. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Kesehatan

Fasilitas Perdagangan dan Jasa
Kebutuhan air untuk fasilitas perdagangan dan jasa ditentukan dengan menggunakan standar
kebutuhan setiap fasilitas perdagangan dan jasa yaitu :
Warung/Toko: 8 L/unit/hari
Bank: 250 L/unit/hari
Pasar: 3000 L/unit/hari
Koperasi: 750 L/unit/hari
Asuransi: 1100 L/unit/hari
Terminal: 4500 L/unit/hari
Supermarket: 2000 L/unit/hari
Restoran: 100 L/kursi/hari
Perhitungan kebutuhan air fasilitas perdagangan dan jasa diberikan oleh Tabel 9.
Tabel 9. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Perdagangan dan Jasa

Fasilitas Umum dan Rekreasi
Kebutuhan air untuk fasilitas umum dan rekreasi ditentukan dengan menggunakan standar
kebutuhan setiap fasilitas umum dan rekreasi yaitu :
Balai Pertemuan: 2000 L/unit/hari
Kantor Pos: 2000 L/unit/hari
Kantor Polisi: 2000 L/unit/hari
Bioskop: 2000 L/unit/hari
Hotel/Penginapan: 150 L/tempat tidur/hari
Perhitungan kebutuhan air fasilitas umum dan rekreasi diberikan oleh Tabel 10.
Tabel 10. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Umum dan Rekreasi

Fasilitas Olahraga
Kebutuhan air untuk fasilitas olahraga ditentukan dengan menggunakan standar kebutuhan
setiap fasilitas olahraga yaitu :
GOR: 1500 L/unit/hari
Kolam renang: 1200 L/unit/hari
Perhitungan kebutuhan air fasilitas olahraga diberikan oleh Tabel 11.
Tabel 11. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Olahraga

Kegiatan Industri
Kebutuhan air untuk kegiatan industri ditentukan dengan menggunakan standar kebutuhan
setiap kegiatan indutri yaitu :
Industri besar dan sedang: 10 L/pegawai/hari
Industri rumah tangga: 10 L/pegawai/hari
Perhitungan kebutuhan air kegiatan industri diberikan oleh Tabel 12.
Tabel 12. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Kegiatan Industri

Rekapitulasi Kebutuhan Air Non Domestik
Jumlah dari kebutuhan air non domestik selama periode perencanaan dapat diketahui pada
Tabel 13.
Tabel 13. Rekapitulasi Kebutuhan Air Non Domestik


http://jujubandung.wordpress.com/2012/06/02/kebutuhan-air-minum-di-wilayah-perencanaan-
studi-kasus/