Anda di halaman 1dari 21

CASE REPORT SESSION

OTITIS MEDIA AKUT



Disusun oleh :
Oktania Putri K. 12100111037
Ahmad Rifai 12100111007
Sri Mulyati 12100111002

Preseptor :
Endang Suherlan, dr., SpTHT-KL.


BAGIAN ILMU KESEHATAN
TELINGA HIDUNG TENGGOROK-KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
RUMAH SAKIT AL-ISLAM BANDUNG
2013
IDENTITAS PASIEN
Nama : An. D
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 5 tahun
Alamat : Cibiru
Pendidikan : TK
Tanggal Pemeriksaan : 5 Maret 2013

KELUHAN UTAMA
Nyeri kedua telinga

ANAMNESA
Pasien datang ke poli THT RSAI dengan keluhan nyeri kedua telinga. Keluhan
tersebut dirasakan sejak 2 hari yang lalu. Keluhan ini dirasakan tiba-tiba, hilang timbul dan
semakin hari semakin nyeri. Pasien menjadi sulit tidur dan sering rewel.
Menurut orang tua pasien, keluhan disertai dengan perasaan telinga seperti penuh,
demam, batuk dan pilek. Pasien mengalami demam, batuk, dan pilek sejak satu hari
sebelum keluhan nyeri telinga muncul. Pilek ditandai dengan keluar cairan dari kedua
lubang hidung yang berwarna bening, banyak dan tidak berbau serta dahak yang tidak
berdahak.
Keluhan tidak disertai dengan keluarnya cairan dari telinga, gatal dan penurunan
pendengaran, telinga berdengung, sakit kepala maupun trauma di daerah telinga dan kepala.
Untuk keluhan batuk dan pilek, pasien sudah mendapatkan pengobatan dari dokter
umum dan diberi 3 macam obat, namun orangtua pasien tidak ingat obat apa saja yang
diberikan.
Pasien tidak mempunyai riwayat asma, gatal-gatal di kulit, ataupun alergi terhadap
makanan dan obat. Di keluarga pasien tidak ada yang mempunyai keluhan yang sama
dengan pasien maupun riwayat asma, gatal-gatal di kulit, serta alergi makanan ataupun
obat.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : tampak sakit sedang.
Kesadaran : komposmentis
Tanda vital : tidak diperiksa
Status generalis : tidak diperiksa

STATUS LOKALIS TELINGA
Bagian Kelainan
Auris

Dextra Sinstra
Preaurikula
Kelainan
kongenital
Radang
Tumor
Trauma
Nyeri tekan
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Aurikula
Kelainan
kongenital
Radang
Tumor
Trauma
Nyeri tarik
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Retroaurikula
Edema
Hiperemis
Nyeri tekan
Radang
Tumor
Sikatriks
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-








Bagian Kelainan
Auris
Dextra Sinstra
Canalis
Acustikus
Externa
Kelainan kongenital
Kulit
Sekret
Serumen
Edema
Jaringan granulasi
Massa
Cholesteatoma
-
Tenang
-
-
-
-
-
-
-
Tenang
-
-
-
-
-
-
Membrana
Timpani
Warna
Intak
Reflek cahaya

Gambar
Hiperemis
+
+


Hiperemis
+
+














STATUS LOKALIS HIDUNG







Pemeriksaan

Dextra Sinistra
Rhinoskopi anterior
Mukosa
Edema
Hiperemis
Sekret


Krusta
Concha inferior


+
+
+
(jernih, encer, tidak
berbau)
-
hipertrofi

+
+
+
(jernih, encer, tidak
berbau)
-
hipertrofi


Septum

Polip / tumor

Pasase udara





Tidak ada deviasi

Tidak diperiksa

+

Tidak diperiksa

+




STATUS LOKALIS MULUT DAN OROFARING
Bagian Kelainan Keterangan
Mulut
Mukosa mulut
Lidah
Palatum molle
Gigi geligi
Uvula
Halitosis
Tenang
Tidak ada kelainan
Tenang, simetris
Tidak ada kelainan, karies (+)
Di tengah, tenang, ukuran normal
-
Tonsil
Mukosa
Besar
Kripta
Detritus
Tenang
T1/T1
-/-
-/-
Faring
Mukosa
Granula
Post nasal drip
-
-
-

Maksilofasial
Bentuk : simetris
Parese N.kranialis : tidak ada kelainan

RESUME
Anak laki-laki berusia 5 tahun datang ke poli THT RSAI dengan keluhan otalgia
auris dextra sinistra sejak 2 hari SMRS. Otalgia muncul secara tiba-tiba, hilang timbul dan
semakin hari semakin nyeri. Keluhan diawali dengan gejala batuk dan pilek sejak 3 hari
SMRS. Selama keluhan muncul, pasien menjadi sulit tidur dan sering rewel.
Riwayat asma (-), alergi makanan dan obat (-). Kelurga dengan keluhan yang sama
(-), riwayat keluarga asma (-), riwayat keluarga alergi makanan dan obat (-).
Pemeriksaan Fisik:
Tampak sakit sedang
Kesadaran kompos mentis
Status generalis : tidak dilakukan pemeriksaan
Status lokalis:
a. Telinga: Membran timpani auris dekstra & sinistra hiperemis
b. Hidung: Mukosa edema dan hiperemis pada kedua lubang hidung.
Sekret jernih, encer, tidak berbau pada kedua lubang hidung.
Concha inferior hipertrofi pada kedua sisi hidung.

DIAGNOSIS BANDING
1. Otitis media akut stadium hiperemis auris dekstra dan sinistra
2. Otitis media akut stadium oklusi auris dekstra dan sinistra

USULAN PEMERIKSAAN
Hematologi rutin (hemoglobin, leukosit, trombosit, hematokrit).
Hitung jenis leukosit.

DIAGNOSIS KERJA
Otitis media akut stadium hiperemis auris dekstra dan sinistra

PENATALAKSANAAN
A. Umum
Menjaga telinga agar tidak kemasukan air (jangan berenang).
Tidak boleh mengorek telinga.
Bila batuk dan pilek segera berobat.
Hindari konsumsi makanan dan minuman dingin.

B. Khusus
Cefadroxil syrup 2x1 cth selama 5 hari.
Paracetamol syrup 3x1 cth selama 3 hari.
Rhinos (loratadine dan pseudoefedrine) syrup 2x1 cth selama 3 hari.

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam























PEMBAHASAN


Otitis Media Akut (peradangan akut telinga tengah)

Definisi
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput permukaan
telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media
berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non
supuratif, yang masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronik.
Otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tiba-
tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan
steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong dan faring,
secara alamiah teradapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga
tengah oleh enzim pelindung, bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii dan
antibodi. Otitis media akut ini terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem pelindung tadi,
sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis
media, pada anak-anak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas,
kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin sering.

Epidemiologi
Banyak terdapat pada anak-anak
Di Indonesia profesi sebagai buruh pabrik, penerjun, penyelam dan profesi lainnya
yang mana pada profesi tersebut tingkat terjadinya trauma pada telinga sangatlah tinggi.

Etiologi
Patogen utama pada OMA adalah bakteri piogenik sebagai penyebabnya yang
tersering yaitu Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, dan Pneumokokus. Kadang-
kadang bakteri penyebabnya yaitu Hemofilus influenza, Escheria coli, Streptokokus
anhemolitikus, Proteus vulgaris, Pseudomonas aerugenosa. Hemofilus influenza merupakan
bakteri yang paling sering kita temukan pada pasien anak berumur dibawah 5 tahun.

Streptococcus pneumonia
Hemophilus influenzae
B. catarrhalis
Streptococcus pyogenes (Grp. A)
Staphylococcus aureus
Others
Mixed infections
No growth
25%
25%
20%
2%
1%
20%
5%
Remainder

Klasifikasi
1. Otitis Media Supuratif
a. Akut
b. Kronis
2. Otitis Media Non Supuratif
a. Otitis Media Serosa Akut dan Kronik
b. Otitis Media Sekretoria
c. Otitis Media Musinosa
d. Otitis Media Efusi
3. Otitis Media Spesifik
a. Otitis Media Tuberkulosa
b. Otitis Media Sifilitika
4. Tipe lain : Otitis Media Adhesiva
Patogenesis :
Faktor pencetus terjadinya otitis media supuratif akut (OMA), yaitu :
1. Infeksi saluran napas atas. Otitis media supuratif akut (OMA) dapat didahului oleh
infeksi saluran napas atas yang terjadi terutama pada pasien anak-anak.
2. Gangguan faktor pertahanan tubuh. Faktor pertahanan tubuh seperti silia dari
mukosa tuba Eustachius, enzim, dan antibodi. Faktor ini akan mencegah masuknya
mikroba ke dalam telinga tengah. Tersumbatnya tuba Eustachius merupakan
pencetus utama terjadinya otitis media supuratif akut (OMA).
3. Usia pasien. Bayi lebih mudah menderita otitis media supuratif akut (OMA) karena
letak tuba Eustachius yang lebih pendek, lebih lebar dan lebih horisontal.



Patogenesis




Stadium OMA
Perubahan mukosa telinga tengah seabagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium,
yaitu :

1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai
oleh retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena
terjadinya absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal
atau hanya berwarna keruh pucat atau terjadi efusi.
Stadium oklusi tuba Eustachius dari otitis media supuratif akut (OMA) sulit kita
bedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan virus dan alergi.
2. Stadium Hiperemis (Pre Supurasi)
Stadium hiperemis, akibat pelebaran pembuluh darah di membran timpani yang
ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret
eksudat serosa yang sulit terlihat.
3. Stadium Supurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain
itu edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur.
Ketiganya menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang
telinga luar.
Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan rasa nyeri di telinga
bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak.
Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan
menimbulkan ruptur membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa
membran timpani. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis
ini disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani karena
penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani serta timbul tromboflebitis
pada vena-vena kecil.
Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan melakukan miringotomi. Bedah
kecil dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari
telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan mudah
menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup kembali. Bahkan membran timpani
bisa tidak menutup kembali jika membran timpani tidak utuh lagi.

4. Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa
nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.
Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya
virulensi kuman. Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu menurun
dan bisa tidur nyenyak.
Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah) tetap
berlangsung selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif
subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan maka
keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (OMSK).


5. Stadium Resolusi
Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi
membran timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini
berlangsung jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman
rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai mengering.
Apabila stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut menjadi otitis media
supuratif kronik (OMSK). Kegagalan stadium ini berupa membran timpani tetap perforasi
dan sekret tetap keluar secara terus-menerus atau hilang timbul.
Otitis media supuratif akut (OMA) dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa
otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa
mengalami perforasi membran timpani.



Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia
anakanak umumnya keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan demam. Biasanya ada
riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. Pada remaja atau orang dewasa
biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penuh. Pada bayi
gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi samapai 39,5
0
C (pada stadium
supurasi), anak gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga
yang sakit. Bila terjadi rupture membrane timpani, maka secret mengalair ke liang telinga,
suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.


Diagnosis
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut :
1. Penyakitnya muncul mendadak (akut)
2. Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di
telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda
berikut:
a. menggembungnya gendang telinga
b. terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga
c. adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga
d. cairan yang keluar dari telinga
3. Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan
adanya salah satu di antara tanda berikut:
a. kemerahan pada gendang telinga
b. nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal

Diagnosis Banding
Diagnosis Banding otitis media akut yaitu :
- Otitis media serosa
- Otitis eksterna


Pemeriksaan Penunjang
1. Otoskop pneumatik untuk melihat membran timpani yang penuh, bengkak dan tidak
tembus cahaya dengan kerusakan mogilitas.
2. Kultur cairan melalui mambran timpani yang pecah untuk mengetahui organisme
penyebab.



Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Otitis Media Akut sangat bergantung pada stadiumnya :
Pada stadium oklusi
o Pemberian obat tetes hidung berupa dekongestan. Pengobatan bertujuan
untuk melebarkan kembali saluran eustachius sehingga tekanan negatif di
telinga tengah hilang.
Dosis :
HCl Ephedrin 0,5% untuk anak < 12 tahun
HCl Ephedrin 1% dalam larutan fisiologis untuk > 12 tahun
dan dewasa
o Pemberian selain itu sumber infeksi harus segera diobati.
Dapat diberi obat dengan golongan penisilin atau eritromisin bila
penyebabnya kuman.
Jika infeksi berulang, kombinasi amoksisilin dan asam
klavulanat
Dewasa : 3x 625 mg/hari
Anak anak : disesuaikan dengan BB dan usia
Sefalosporin II/III oral (sefuroksim, sefiksim, sefadoksil)
Antibiotik diberikan 7-10 hari, jika pemberian tidak adekuat dapat
menyebabkan kekambuhan.

Pada stadium hiperemis
o Pemberian antibiotik, obat tetes hidung dan analgetik (paracetamol atau
ibuprofen).
Pada stadium supurasi
o Pemberian antibiotik.
o Dapat dilakukan miringotomi yakni tindakan perobekan pada sebagian kecil
membran timpani sehingga cairan yang kental dapat keluar sedikit-sedikit
dan tidak menimbulkan lubang yang besar.
Cara kerja : Dilakukan miringotomi (parasintesis) pada kuadran
postero inferior membran timpani dengan menggunakan bius lokal
(Larutan Xylocain 8%).
Pada stadium perforasi
o Pemberian antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
o Pemberian obat cuci telinga H
2
O
2
3% selama 3-5 hari
Biasanya sekret akan menghilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-
10 hari.
Pada stadium resolusi
o Pemberian antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu.
Membran tymphani berangsur normal kembali, tidak ada sekret dan perforasi
tertutup.
Jika menetap makan diperkirakan telah terjadi mastoiditis.

Pencegahan
Resiko terjadinya perforasi pada membran timpani dapat dicegah dengan
menghindari terjadinya infeksi pada telinga tengah. Pada anak anak dapat
diberikan imunisasi terhadap 2 bakteriyang sering menimbulkan infeksi pada telinga
tengah ( Haemophilus influenzae and Streptococcus pneumoniae).
Jangan mengorek orek liang telinga terlalu kasar karena dapat merobek membran
timpani.
Jika ada benda asing yang masuk ke telinga anda, datanglah ke dokter untuk
meminimalisasi kerusakan telinga yang dapat terjadi.
Jauhkan telinga dari bunyi yang sangat keras.
Lindungi telinga dari kerusakan yang tidak diinginkan dengan memakai pelindung
telinga jika terdapat suara yang amat keras.
Menonton televisi dan mendengarkan musik dengan volume yang normal.
Lindungi telinga anda selama penerbangan.
Mengunyah permen ketika pesawat berangkat dan mendarat dapat mencegah
terjadinya perforasi membran timpani selama penerbangan

Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:
1. Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak.
2. Pemberian ASI minimal selama 6 bulan.
3. Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring.
4. Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.

Komplikasi
Komplikasi yang disebabkan oleh Otitis Media Akut Perforasi antara lain adalah :

o Intra cranial
Meningitis.
Subdural Empyema.
Meningitis.
Abses Otak.
Trombosis Sinus Lateralis.
Focal Otitis Encephalitis.







o Extra cranial
Gangguan pendengaran.
Otitis Media Suputarif
Khronis.
Mastoiditis.
Cholesteatoma.
Facial Paralysis.
Tympanosclerosis.
Labyrintis.

Prognosis
Prognosis penyakit ini biasanya baik. Kebanyakan kasus perforasi membran timpani
dapat sembuh dalam 2 bulan tanpa menimbulkan komplikasi. Gangguan pendengaran yang
terjadi biasanya hanya bersifat sementara, walaupun pada beberapa orang gangguan pendengaran
yang terjadi dapat bersifat permanen. Pada kasus infeksi perforasi yang kronis ( dalam jangka
waktu yang lama ) dapat menyebabkan gangguan pendengaran dengan berbagai tingkat dan
biasanya gangguan pendengaran tersebut akan menjadi permanen.


DAFTAR PUSTAKA


1. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telingan Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke
6. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2007. Jakarta.
2. Boies. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Buku Kedokteran EGC.1997. Jakarta.