Anda di halaman 1dari 42

REFERAT

ANESTESI UMUM INTRAVENA


Pembimbing :
dr.Rd. Hari Trimulianto , Sp.An
Disusun oleh :
Zainal Abidin
030.08.2!
"E#ANITERAAN "$INI" I$MU ANESTESI
RSU% "&'A
#ERI&%E (3 'anuari )(* +,bruari 20(-
+A"U$TAS "E%&"TERAN UNIVERSITAS TRISA"TI
.A. I
#EN%AHU$UAN
Anestesia berarti pembiusan, kata ini berasal dari bahasa Yunani an- "tidak, tanpa"
dan aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa". Istilah anestesi digunakan pertama kali
oleh li!er "endel #olmes $r pada tahun %&'(. Anestesi umum adalah tindakan
meniadakan n)eri se*ara sentral disertai dengan hilangn)a kesadaran dan bersi+at pulih
kembali ,re!ersible-.
.omponen anestesi )ang ideal ,trias anestesi- terdiri dari : hipnotik, analgesia dan
relaksasi otot. Praktek anestesi umum /uga termasuk mengendalikan pernapasan dengan
pemantauan +ungsi0+ungsi !ital tubuh selama prosedur anestesi. Tahapann)a men*akup
premedikasi, induksi, maintenan*e, dan pemulihan. 1etode anestesi umum dapat dilakukan
dengan 2 *ara: antara lain se*aara parenteral melalui intra!ena dan intramuskular, perrektal
,biasan)a untuk anak0anak- dan inhalasi. Yang akan sa)a bahas adalah mengenai anestesi
umum intra!ena.
Anestesi umum intra!ena adalah obat anestesi )ang diberikan melalui /alur intra!ena,
baik untuk tu/uan hipnotik, analgetik ataupun pelumpuh otot. Anestesi )ang ideal akan
beker/a se*ara *epat dan baik serta mengembalikan kesadaran dengan *epat segera sesudah
pemberian dihentikan. $elain itu batas keamanan pemakaian harus *ukup lebar dengan e+ek
samping )ang sangat minimal. Tidak satupun obat anestesi dapat memberikan e+ek )ang
diharapkan tanpa e+ek samping, bila diberikan se*ara tunggal. .ombinasi beberapa obat
mungkin akan saling berpotensi atau e+ek salah satu obat dapat menutupi pengaruh obat )ang
lain.
Anestesi umum intra!ena ini penting untuk kita ketahui karena selain dapat digunakan
dalam pembedahan dikamar operasi, /uga dapat menenangkan pasien dalam keadaan ga3at
darurat. leh karena itu sebagai dokter umum, sebaikn)a kita mengetahu tentang anestessi
umum intra!ena.
2
.A. II
#EM.AHASAN
II.( ANESTESI UMUM INTRAVENA
Anestesi umum intra!ena adalah anestesi )ang diberikan melalui /alur intra!ena, baik
untuk tu/uan hipnotik, analgetik ataupun pelumpuh otot. Tahapan tindakan )ang dilakukan
untuk anestesi umum intra!ena antara lain %- penilaian dan persiapan pra anestesi meliputi
anamnesis, pemeriksaan +isik, pemeriksaan laboratorium, klasi+ikasi status +isik, masukan
oral, dan premedikasi. 4- induksi obat anestesi intra!ena beserta pemeliharaan dan 2-
pemulihan. bat anestesi intra!ena setelah berada di dalam !ena, obat0obat ini akan
diedarkan ke seluruh /aringan tubuh melalui sirkulasi sistemik. bat anestesi )ang ideal
memiliki si+at: %- hipnotik dengan onset *epat serta mengembalikan kesadaran dengan *epat
segera sesudah pemberian dihentikan5 4- analgetik5 2- amnesia5 '- memiliki antagonis5 6-
*epat dieliminasi5 (- depresi kardio!askular dan perna+asan tidak ada atau minimal5 7-
+armakokinetik tidak dipengaruhi atau minimal terhadap dis+ungsi organ.
,%-
Indikasi anestesi intra!ena antara lain untuk: %- induksi anestesia5 4- induksi dan
pemeliharaan anestesi pada pembedahan singkat5 2- menambahkan e+ek hipnosis pada
anestesi inhalasi dan anestesi regional5 '- menambahkan sedasi pada tindakan medik
,%-
8ara pemberian dapat berupa : %- suntikan intra!ena tunggal untuk induksi anestesi
atau pada operasi0operasi singkat han)a obat ini sa/a )ang dipakai5 4- suntikan berulang
untuk prosedur )ang tidak memerlukan anestesi inhalasi dengan dosis ulangan lebih ke*il dari
dosis permulaan, 2- 1elalui in+us, untuk menambah da)a anestesi inhalasi.
,4-
Tingkat pemberian obat tiap ndi!idu sangat ber!ariasi dalam respon mereka terhadap
dosis obat )ang diberikan atau konsentrasi, dan oleh karena itu penting untuk titrasi untuk
tingkat obat )ang memadai untuk setiap pasien. bat konsentrasi )ang diperlukan untuk
memberikan anestesi )ang memadai /uga ber!ariasi sesuai dengan /enis operasi ,misaln)a,
permukaan bedah dibandingkan pembedahan perut bagian atas-. Akhir pembedahan
3
membutuhkan kadar obat )ang lebih rendah, dan karenan)a titrasi sering melibatkan
penurunan bi/aksana la/u in+us men/elang akhir operasi untuk mem+asilitasi pemulihan )ang
*epat.
,%-,4-
$etelah dosis muatan, tingkat in+us a3aln)a tinggi untuk men/elaskan redistribusi
harus digunakan dan kemudian dititrasi dengan tingkat in+us terendah )ang akan
mempertahankan anestesi )ang memadai atau sedasi. 9ila menggunakan opiat sebagai bagian
dari teknik nitrous0narkotika atau anestesi /antung, skema dosis )ang ter*antum di ba3ah
anestesi )ang digunakan. .etika *andu tersebut digabungkan sebagai bagian dari anestesi
seimbang, dosis )ang ter*antum untuk analgesia diperlukan.
,%-,4-
:ika la/u in+us terbukti tidak men*ukupi untuk mempertahankan anestesi )ang
memadai, baik suntikan tambahan ,bolus- dosis dan peningkatan in+us diperlukan untuk
se*ara *epat untuk meningkatkan konsentrasi obat. 9erbagai inter!ensi /uga membutuhkan
konsentrasi obat )ang lebih besar, biasan)a untuk periode singkat ,misaln)a, laringoskopi,
intubasi endotrakeal, sa)atan kulit- leh karena itu, skema in+us harus disesuaikan untuk
memberikan konsentrasi pun*akn)a selama periode singkat stimulasi intens. Tingkat obat
)ang memadai untuk intubasi endotrakeal sering di*apai dengan dosis pemberian a3al, tapi
untuk prosedur seperti sa)atan kulit, dosis bolus lan/ut mungkin diperlukan.
,%-,4-
II.2 #ENI$AIAN %AN #ERSIA#AN #RA ANESTESI
Persiapan prabedah )ang kurang memadai merupakan +aktor ter/adin)a ke*elakaan
dalam anestesi. $ebelum pasien dibedah sebaikn)a dilakukan kun/ungan pasien terlebih
dahulu sehingga pada 3aktu pasien dibedah pasien dalam keadaan bugar. Tu/uan dari
kun/ungan tersebut adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi, mengurangi bia)a
operasi dan meningkatkan kualitas pela)anan kesehatan.
,2-
II.2.( #,nilaian pra b,da/
II.2.(.A Anamn,0i0
Ri3a)at tentang apakah pasien pernah mendapat anestesi sebelumn)a
sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal0hal )ang perlu mendapat
perhatian khusus, misaln)a alergi, mual0muntah, n)eri otot, gatal0gatal atau sesak
na+as pas*a bedah, sehingga dapat diran*ang anestesi berikutn)a dengan lebih baik.
4
9eberapa peneliti mengan/urkan obat )ang kiran)a menimbulkan masalah dimasa
lampau sebaikn)a /angan digunakan ulang, misaln)a halotan /angan digunakan ulang
dalam 3aktu tiga bulan, suksinilkolin )ang menimbulkan apnoe berkepan/angan /uga
/angan diulang. .ebiasaan merokok sebaikn)a dihentikan %04 hari sebelumn)a.
,2-
II.2.(.. #,m,ri10aan 2i0i1
Pemeriksaan gigi0geligi, tindakan buka mulut, lidah relati+ besar sangat
penting untuk diketahui apakah akan men)ulitkan tindakan laringoskopi intubasi.
;eher pendek dan kaku /uga akan men)ulitkan laringoskopi intubasi. Pemeriksaan
rutin se*ara sistemik tentang keadaan umum tentu tidak boleh dile3atkan seperti
inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua s)stem organ tubuh pasien.
,2-
II.2.(.3 #,m,ri10aan laboratorium
</i laboratorium hendakn)a atas indikasi )ang tepat sesuai dengan dugaan
pen)akit )ang sedang di*urigai. Pemeriksaan )ang dilakukan meliputi pemeriksaan
darah ke*il ,#b, lekosit, masa perdarahan dan masa pembekuan- dan urinalisis. Pada
usia pasien diatas 6= tahun ada an/uran pemeriksaan E.> dan +oto thoraks.
,2-
II.2.(.% ",bu4aran untu1 an,0t,0ia
Pembedahan elekti+ boleh ditunda tanpa batas 3aktu untuk men)iapkan agar
pasien dalam keadaan bugar, sebalikn)a pada operasi sito penundaan )ang tidak perlu
harus dihindari.
,2-
II.2.(.E "la0i2i1a0i 0tatu0 2i0i1
.lasi+ikasi )ang la?im digunakan untuk menilai kebugaran +isik seseorang
adalah )ang berasal dari The American Society of Anesthesiologists (ASA).
5
.lasi+ikasi +isik ini bukan alat prakiraan resiko anestesia, karena dampaksamping
anestesia tidak dapat dipisahkan dari dampak samping pembedahan.
,4-,2-
.elas I : Pasien sehat organik, +isiologik, psikiatrik, biokimia.
.elas II : Pasien dengan pen)akit sistemik ringan atau sedang.
.elas III : Pasien dengan pen)akit sistemik sedang atau berat, sehingga
akti!itas rutin terbatas.
.elas I@ : Pasien dengan pen)akit sistemik sedang atau berat tak dapat
melakukan akti!itas rutin dan pen)akitn)a merupakan an*aman kehidupann)a
setiap saat.
.elas @ : Pasien sekarat )ang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan
hidupn)a tidak akan lebih dari 4' /am.
.elas @I : Pasien )ang mati batang otak dan akan diambil organn)a untuk
transplantasi.
II.2.(.+ Ma0u1an oral
Re+leks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran )ang terdapat dalam /alan napas merupakan risiko utama pada
pasien0pasien )ang men/alani anestesia. <ntuk meminimalkan risiko tersebut, semua
pasien )ang di/ad3alkan untuk operasi elekti+ dengan anestesia harus dipantangkan
dari masukan oral ,puasa- selama periode tertentu sebelum induksi anestesia.
,2-
Pada pasien de3asa umumn)a puasa (0& /am, anak ke*il '0( /am dan pada
ba)i 20' /am. 1akanan tak berlemak diperbolehkan 6 /am sebeluminduksi anestesia.
1inuman bening, air putih teh manis sampai 2 /am dan untuk keperluan minum obat
air putih dalam /umlah terbatas boleh % /am sebelum induksi anestesia.
,2-
II.2.(.5 #r,m,di1a0i
$ebelum pasien diberi obat anestesi, langkah selan/utn)a adalah dilakukan
6
pr,m,di1a0i )aitu pemberian obat sebelum induksi anestesi diberi dengan tu/uan
untuk melan*arkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi diantaran)a:
%. 1enimbulkan rasa n)aman bagi pasien
a. 1enghilangkan rasa kha3atir melalui:
i. .un/ungan pre anestesi
ii. Pengertian masalah )ang dihadapi
iii. .e)akinan akan keberhasilan operasi
b. 1emberikan ketenangan ,sedati!e-
*. 1embuat amnesia
d. 1engurangi rasa sakit ,analgesi* nonAnarkotik-
e. 1en*egah mual dan muntah
4. 1emudahkan atau memperlan*ar induksi
+. Pemberian hipnotik sedati!e atau narkotik
2. 1engurangi /umlah obat0obat anestesi
g. Pemberian hipnotik sedati!e atau narkotik
'. 1enekan re+leks0re+leks )ang tidak diinginkan ,muntahAliur-
6. 1engurangi sekresi kelen/ar sali!a dan lambung
h. Pemberian antikolinergik atropine, primperan, rantin, #4 antagonis
(. 1engurangi rasa sakit.
,4-,2-
6a1tu dan 7ara p,mb,rian pr,m,di1a0i:
Pemberian obat se*ara subkutan tidak akan e+ekti+ dalam % /am, se*ara
intramus*ular minimum harus ditunggu '= menit. Pada kasus )ang sangat darurat
dengan 3aktu tindakan pembedahan )ang tidak pasti obat0obat dapat diberikan
7
se*ara intra!ena, obat akan e+ekti+ dalam 2 0 6 menit. bat akan sangat e+ekti+
sebelum induksi. 9ila pembedahan belum dimulai dalam 3aktu % /am dian/urkan
pemberian premedikasi intramus*ular, subkutan tidak dian/urkan. $emua obat
premedikasi bila diberikan se*ara intra!ena dapat men)ebabkan sedikit hipotensi
ke*uali atropine dan hiosin. #al ini dapat dikurangi dengan pemberian se*ara
perlahan0lahan dan dien*erkan.
,2-
bat0obat )ang sering digunakan:
(. Anal4,0i1 nar1oti1
a. Mor2in , amp %** B %= mg-, dosis =,% mgAkg99
1or+in adalah alkaloid golongan
+enantren. 1or+in memiliki
gugus # +enolik dan gugus #
alkoholik. Atom hidrogen
pada kedua gugus itu dapat diganti
oleh berbagai gugus membentuk
berbagai alkaloid opium.
,%-,'-
+arma1o1in,ti1: mor+in
diabsorbsi diusus. $etelah pemberian dosis tunggal, sebagian mor+in
mengalami kon/ugasi dengan asam glukoronat dihepar, sebagian keluar dalam
bentuk bebas dan %= C tidak diketahui nasibn)a. 1or+in melintasi sa3ar uri
dan mempengaruhi /anin. Eksresi mor+in terutama melalui gin/al, sebagian
ke*il ditin/a dan keringat.
,%- ,'-
+arma1odinami1: mor+in memiliki e+ek analgetik dan narkose
terhadap susunan sara+ pusat. E+ek analgetik terutama ditimbulkan akibat ker/a
opioid pada reseptor D, selain itu /uga memiliki a+initas )ang lemah terhadap
terhadap reseptor E dan reseptor F. Reseptor D, F, dan E ban)ak didapatkan
pada kornu dorsalis medula spinalis. Reseptor didapatkan baik pada sara+ )ang
mentransmisi n)eri dimedula spinalis maupun pada a+eren primer )ang
8
melerai n)eri. Agonis opioid melalu reseptor D, E, dan F pada u/ung prasinaps
a+eren primer nosisepti+ mengurangi pelepasan transmiter, dan selan/utn)a
menghambat sara+ )ang mentransmisi n)eri di kornu dorsalis medula spinalis,
selain itu D agonis menimbulkan e+ek inhibisi pas*asinaps melalui reseptor D
di otak. Ter/adi perubahan reaksi terhadap stimulus n)eri itu. Pasien
mengatakan bah3a n)eri masih ada tetapi ia tidak menderita lagi. E+ek
narkose, mor+in dosis ke*il ,60%=mg- menimbulkan eu+oria pada pasien )ang
menderita n)eri, sedih, gelisah sebalikn)a pada orang normal akan
menimbulkan dis+oria berupa perasaan kuatir atau takut. 1or+in menimbulkan
rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi sukar ber+ikir, apatis dan akti!itas
motorik berkurang. 1iosis )ang ditimbulkan mor+in akibat ker/an)a pada
reseptor D dan F oleh perangsangan pada segmen otonom inti sara+
okulomotorius. 1iosis dapat dila3an dengan atropin. Pada intoksikasi mor+in
didapatkan pin point pupils. Depresi na+as ter/adi berdasarkan e+ek langsung
terhadap pusat na+as dibatang otak, ter/adi penurunan +rekuensi na+as, !olume
semenit dan tidal eG*hange, akibat P
84
dalam darah dan udara al!eolar
meningkat dan kadar
4
dalam darah menurun. .epekaaan pusat na+as
terhadap 8
4
berkurang. .adar 8
4
6C tidak lagi menimbulkan peninggiian
!entilasi pulmonal. 1or+in dan deri!atn)a menghambat re+leks batuk, tetapi
tidak sekuat kodein. 1ual dan muntah, e+ek emetik ter/adi berdasarkan
stimulasi langsung pada Emetic chemoreseptor trigger zone (CTZ) di area
postrema medula oblongata bukan oleh stimulasi pusat emetik sendiri.
,%- ,'-
1or+in bere+ek langsung ke saluran *erna bukan memalui $$P. 1or+in
menghambat sekresi #8l se*ara lemah, men)ebabkan pergerakan lambung
berkurang, sehingga pergerakan isi lambung ke duodenum diperlambat.
1or+in /uga mengurangi sekresi empedu dan pankreas, dan memperlambat
pen*ernaan makanan diusus halus. Diusus besar mor+in mengurangi atau
menghilangkan gerakan propulsi usus besar, meninggikan tonus usus besar
dan men)ebabkan spasme usus besar akibatan)a penerusan isi kolon men/adi
lambat dan tin/a men/adi keras. 1or+in men)ebabkan peningkatan tekanan
dalam duktus koledokus daan e+ek ini dapat menetap dalam 4 /am keadaan ini
disertai dengan perasaan tidak enak di epigastrium sampai n)eri kolik berat.
Dosis terapi mor+in tidak berpengaruh ke kardio!askular, perubahan
9
kardio!askular ter/adi akibat e+ek depresi pada pusat !agus dan pusat
!asomotor )ang baru ter/adi pada dosis toksik. Yang mungkin dialami pasien
adalah hipotensi orthostatik dan dapat /atuh pingsan akibat !asodilatasi peri+er
)ang ter/adi karena e+ek langsung terhadap pembuluh darah ke*il. 1or+in
merendahkan tonus uterus pada masa haid dan men)ebabkan uterus lebih
tahan terhadap renggangan oleh karena itulah mor+in digunakan untuk obat
dismenore. .arena pelepasan histamin, men)ebabkan pelebaran pembuluh
darah kulit sehingga kulit tampak merah dan terasa panas, berkeringat, dan
kadang gatal0gatal. $etelah pemberian mor+in !olume urin berkurang,
disebabkan merendahn)a la/u +iltrasi glomerulus, alir aliran gin/al dan
penglepasan AD#.
,%- ,'-
%o0i0 dan 0,diaan. )ang biasa digunakan ialah garam #8l, garam
sul+at, atau +os+at alkaloid mor+in, dengan sediaan % amp %=mgAml. dosis )ang
digunakan =,% mgA.g99. E+ekti!itas mor+in peroral han)a %A(0%A6 kali mor+in
subkutan. Pemberian (= mg mor+in per oral memberi e+ek analgetik sedikit
lebih lemah dan masa ker/a lebih pan/ang dari pada pemberian & mg mor+in
I1.
,%- ,2-,'-
E2,1 0ampin4. 1or+in men)ebabkan idiosinkrasi dan alergi )aitu
men)ebabkan mual dan munta terutama pada 3anita, urtikaria, eksantem,
dermatitis kontak, pruritus dan bersin. Pada intoksikasi akut, pasien akan
tertidur sopor atau koma /ika intoksikasi *ukup berat. Frekuensi na+as
terlambat, 40'GAmenit, perna+asan 8he)ne $tokes, sianotik, muka merah agak
kebiruan, sampai ter/adi s)ok, dan pin point pupils.
,%- ,'-,6-

b. #,tidin , amp 4** B %== mg-, dosis %04 mgAkg99
Petidin atau meperidin merupakan deri!at
+enilpiperidin. $e*ara kimia adalah etil0%metil0
'0+enilpiperidin0'0karboksilat.
+arma1o1in,ti18 kadar pun*ak dalam plasma
biasan)a di*apai dalam '6 menit dan kadar )ang
di*apai sangat ber!ariasi antar indi!idu. $etelah
10
pemberian lintas oral, sekitar 6=C obat mengalami metabolisme lintas pertama
dan kadar maksimal dalam plasma ter*apai dalam %04 /am, setelah pemberian
se*ara I@, kadar dalam plasma menurun se*ara *epat dalam %04 /am pertama,
kemudian penurunan berlangsung dengan lambat. .urang lebih (C petidin
terikat dengan protein dalam plasma. Petidin dimetabolisme didalam hati,
dihidrolisis men/adi asam meperidinat )ang selan/utn)a mengalami kon/ugasi.
1asa paruhn)a H 2 /am. Pada pasien sirosis hati bioa!aibilitasn)a meningkat
men/adi &=C. Dan masa paruhn)a meman/ang.
,%- ,'-
+arma1odinami1: petidin atau meperidin beker/a pada reseptor D.
Pada susunan sara+ pusat petidin menimbulkan analgesia, sedasi, eu+oria,
depresi na+as, dan e+ek sentral lain. E+ek analgesia petidin mulai timbul %6
menit setelah pemberian oral dan men*apai pun*ak dalam 4 /am. E+ek
analgetik lebih *epat timbul dengan pemberian se*ara subkutan dan I1 sekitar
%= menit, men*apai pun*ak dalam % /am dan masa ker/an)a 206 /am.
E+ekti+itaspetidin 760%==mg parenteral kurang lebih sama dengan %=mg
mor+in. 9ioa!aibilitas peroral '=0(=C, maka bila diberikan per parenteral
diberikan setengahn)a. $edasi, eu+oria dan eksitasi, pemberian petidin kepada
pasien )ang n)eri atau *emas akan menimbulkan eu+oria. Dosis toksik petidin
menimbulkan perangsangan $$P, berupa tremor, kedutan otot, dan kon!ulsi.
Petidin depresi na+as dengan menurunkan kepekaan pusat na+as terhadap 8
4
dan mempengaruhi pusat )ang mengatur irama na+as dalam pons. Petidin
menurunkan tidal !olume, sedangkan +rekuensi na+as kurang dipengaruhi.
$ebalikn)a mor+in terutama menimbulkan penurunan +rekuensi na+as.
.ardio!askular, pemberian petidin pada pasien berbaring tidak mempengaruhi
kardio!askular. 9ila berobat /alan dapat men)ebabkan sinkop akibat
penurunan tekanan darah akibat depresi na+as )ang men)ebabkan peningkatan
kadar 8
4
, mengakibatkan dilatasi pembuluh darah otak sehingga timbul
kenaikan tekanan *airan *erebrospinal. Petidin tidak menimbulkan konstipasi
sekuat mor+in. <terus, dosis terapi petidin )ang diberikan se3aktu partus tidak
memperlambat kelangsungan partus dan tidak mengubah kontraksi uterus, dan
/uga tidak mengganggu kontraksi atau in!olusi uterus pas*apersalinan dan
tidak menambah +rekuensi perdarahan pas*a persalinan.
,%- ,'-
%o0i0. 1eperidin #8l tersedia dalam bentuk tablet 6=mg dan %==mg
11
dan ampul 4mlA%==mg. pemberian petidin biasan)a peroral atau I1.
Pemberian I@ menimbulkan reaksi lebih sering dan lebih berat. Pemberian 6=0
%==mgpetidin se*ara parenteral menghilangkan n)eri sedang atau hebat pada
sebagian besar pasien.
,%- ,2- ,'-
E2,1 0ampin4. 9erupa pusing, berkeringat, eu+oria, mulut kering,
mual, muntah, perasaan lemah, gangguan penglihatan, palpitasi, dis+oria,
sinkop dan sedasi. Pada pasien dengan pen)akit hati dan orangtua, dosis obat
harus dikurangi karena ter/adin)a perubahan disposisi obat. 9ila obat
diberikan bersama antipsikosis, hipnotik sedati+, dan obat0obat lain penekan
$$P, dosis obat /uga harus dikurangi.
,%- ,'- ,6-
*. +,ntan9l , +l %=** B 6== mg-, dosis %02IgrAkg99
Fentanil merupakan obat dari golongan opioid )ang ban)ak digunakan
dalam anestesi, kekuatann)a %== J mor+in.

Dalam dosis ke*il ,%IgAkg99, I@-
+entanil memiliki onset dan durasi ker/a )ang singkat ,4=02= menit- dan
menimbulkan e+ek sedasi sedang. Dalam dosis besar ,6=0%6=IgAkg99, I@-
didapatkan sedasi )ang dalam serta
penurunan kesadaran, dan kadang
didapatkan kekakuan otot dada.
,%- ,'-
+arma1o1in,ti1. Farmakokinetik
+entanil ber!ariasi pada tiap indi!idu.
$etelah pemberian melalui bolus intra!ena, konsentrasi plasma turun dengan
*epat ,3aktu paruh distribusi sekitar %2 menit-. "aktu paruh berkisar antara 20
' /am dan dapat meman/ang hingga 70& /am pada beberapa pasien.
,6-
$etelah
suntikan intra!ena ambilan dan distribusin)a hampir sama dengan mor+in
tetapi +raksi terbesar dirusak oleh paru ketika pertama kali mele3atin)a.
Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan K0dealkilasi dan hidroksilasi,
metabolit dapat didapatkan di darah dalam %04 menit setelah pemberian. $isa
metabolisme dieksresikan di urin dalam beberapa hari.
,%- ,'- ,(=
+arma1odinami1. Fentanil beker/a pada reseptor spesi+ik di otak dan
medulla spinalis untuk menurunkan rasa n)eri dan respons emosional terhadap
12
n)eri. $istem kardio!askuler. .ardio!askular *enderung tidak mengalami
perubahan signi+ikan setelah pemberian +entanil, namun kadang dalam dosis
besar dapat men)ebabkan bradikardi )ang memerlukan terapi atropin. $istem
perna+asan. $eperti analgesik opioid )ang lain, +entanil mendepresi perna+asan
bergantung dosis pemberiann)a. E+ek depresi perna+asan berlangsung lebih
lama dari e+ek analgesikn)a.
,%- ,'- ,(-
%o0i0. Fentanil dosis %02IgAkg99 memiliki e+ek analgetik )ang han)a
berlangsung 2= menit, karena itu han)a digunakan dalam pembedahan dan
tidak untuk pas*a bedah.

Dosis besar 6=0%6=IgAkg99 digunakan untuk induksi
dan pemeliharaan anestesi dengan kombinasi dengan ben?odia?epine dan
anestetik inhalasi dosis rendah pada bedah /antung selain itu /uga dapat
men*egah peningkatan kadar gula, katekolamin plasma, AD#, rennin,
aldosteron dan kortisol.
,%- ,'-
E2,1 0ampin4. E+ek )ang kurang disukai akibat pemberian +entanil adalah
kekakuan otot punggung )ang sebenarn)a dapat di*egah dengan pemberian
pelumpuh otot.
,%- ,'- ,(-
2. Anal4,0i1 non nar1oti1
bat abakgesik antipiretik serta obat antiin+lamasi nonsteroid ,AIK$-, untuk
memudahkan mari kita kelompokan /enisn)a berdasarkan selekti+itasn)s.
Antaralain5
d. .etorolak
.etorolak merupakan
antigonis poten dengan
e+ek antiin+lamasi
sedang. Absorbsi oral
dan intramuskular
berlangsung *epat men*apai
pun*ak dalam 2=06= menit. 9iaa!ailabilitas oral &=C dan hampir seluruhn)a
terikat protein. .etorolak I1 sebagai analgesik pas*a bedah memeperlihatkan
13
e+ekti!itas sebanding mor+inApetidin dosis umum5 masa ker/a lebih pan/ang
dan e+ek samping lebih ringan. Dosis I1 2=0(=mg, I@ %602= mg. e+ek
sampingn)a berupa n)eri ditempat suntikan, gangguan saluran *erna, kantuk,
pusing , dan sakit kepala ter/adi kira0kira 4 kali pla*ebo. .arena ketorolak
sangat selekti+ menghambat 8J0%, maka obat ini tidak dilan/ur dipakai lebih
dari 6 hari karena kemungkinan tukak lambung.
,%- ,'-
e. Asam me+enamat
Asam me+enamat digunakan sebagai analgesik terikat sangat kuat pada protein
plasma. 9eker/a menghambat siklooksigenase. Digunakan untuk kerusakan
/aringan lunak, n)eri muskuloskeletal, dan disminorea. Asam me+enamat
diabsorpsi peroral, kadar pun*akn)a 40' /am, 3aktu paruhn)a 40' /am dan
6=C diekskresikan melalui urin. E+ek samping pada saluran *erna sering
timbul misal dispepsia, diare sampai diare berdarah dan ge/ala iritasi lain
terhadap mukosa lambung. Dosisn)a 402 kali 46=06==mg sehari. Di Amerika
obat ini tidak diberikan pada anak0anak dan ibu hamil dan pemberian tidak
lebuh dari 7 hari.
,%- ,'-
+. Katrium diklo+enak
Katrium diklo+enak termasuk
dalam klasi+ikasi
selekti!itas penghambat 8J,
termasuk kelompok
pre+erential 8J 4 inhibitor.
Diklo+ena* dapat mengurangi
konsentrasi ara*hidonat bebas intraseluller didalam lekosit,. Absorbsi obat
melalui saluran *erna berlangsung *epat dan lengkap. bat ini terikat protein
plasma LLC dan mengalami e+ek metabolisme lintas pertama ,+irst pass-
sebesar '=06=C. "alaupu 3aktu paruhn)a singkat )akni %02 /am, natrium
diklo+enak diakumulasi di *ariran sino!ial )ang men/elaskan e+ek terapi di
sendi /auh lebih pan/ang dari 3aktu paruh obat tersebut. E+ek sampingn)a
mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala /uga peningkatan $>T, $>PT.
Pemakaian selama kehamilan tidak dian/urkan. Dosis orang de3asa %==0%6=
mg sehari terbagi 4020'.
,%- ,'-
14
a. Tramadol
Analog kodein sintetik merupakan agonis reseptor D )ang lemah.
$ebagian dari e+ek analgetikn)a ditimbulkan oleh inhibisi ambilan
norepine+rin dan serotonin. Tramadol sama e+ekti+n)a dengan mor+in dan
petidin untuk n)eri ringan sampai sedang, tetapi untuk n)eri berat atau kronik
lbih lemah. <ntuk n)eri persalinan tramadol sama e+ekti+ dengan petidin dan
kurang men)ebabkan depresi na+as pada neonatus.
Preparat tramadol merupakan *ampuran rasemik, )ang lebih e+ekti+
dari masing0masing enansiomern)a. Enansiomer ,M- berikatan dengan reseptor
D dan menghambat ambilan serotonin. Enansiomer ,0- menghambat ambilan
norepine+rin dan merangsang reseptor N
4
0adrenergik.
Tramadol mengalami metabolisme di hati dan ekskresi oleh gin/al,
dengan masa paruh eliminasi ( /am unutk tramadol dan 7,6 /am untuk
metabolit akti+n)a. Analgesia timbul % /am setelah penggunaan se*ara oral.
1en*apai pun*ak 402 /am dan lama analgesia sekitar ( /am. Dosis maksimum
perhari '==mg.
E+ek samping )ang umum mual, muntah, pusing, mulut kering, sedasi,
dan skit kepala. Depresi perna+asan nampakn)a kurang dibanding mor+in.
3. Hipnoti1
a. .etamin , +l %=** B %== mg-, dosis %04 mgAkg99
b. Pentotal ,amp %** B %=== mg-, dosis '0( mgAkg99
-. S,dati2
*. Dia?epamA!aliumAstesolid , amp 4** B %=mg-, dosis =,% mgAkg99
d. 1ida?olamAdormi*um ,amp 6**A2** B %6 mg-,dosis =,%mgAkg99
>olongan ben?odia?epin )ang sering digunakan adalah adalah
Dia?epam ,!alium-, ;ora?epam ,Ati!an- dan 1ida?olam ,1ilo?-. Dia?epam
dan lora?epam tidak larut dalam air. Dia?epam tersedia dalam sediaan emulsi
15
lemak ,Dia?emuls-, sedangkan mida?olam merupakan ben?odia?epin )ang
larut air )ang tersedia dalam larutan dengan P# 2,6.
>olongan ben?odia?epine beker/a sebagai hipnotik, sedati!e, amnestik,
antikon!ulsan, pelumpuh otot )ang beker/a sentral. 9en?odia?epine beker/a
pada reseptor >A9A
A
. A+initas pada reseptor >A9A
A
berurutan seperti
berikut lora?epam O mida?olam O dia?epam. Reseptor spesi+ik
ben?odia?epine akan berikatan pada komponen gamma )ang terdapat pada
reseptor >A9A.
,%- ,'-
+arma1o1in,ti1. .etiga ma*am obat golongan ben?odia?epines )ang
ban)ak digunakan dalam anestesi diklasi+ikasikan sebagai berikut: %.-
1ida?olam ,short-lasting-5 4.- lora?epam ,intermediate-lasting-5 2.- dia?epam
,long-acting-, berdasarkan metabolism dan bersihan dari plasma. Rasio
bersihan mida?olam berkisar antara (0%% mlAkgAmenit, sedangkan lora?epam
=.&0%.& mlAkgAmenit dan dia?epam =.40=.6 mlAkgAmenit. "alaupun terminasi
ker/a dari obat ini terutama dipengaruhi oleh redistribusi obat dari $$P ke
/aringan lain setelah penggunaan untuk anestesi, pemberian berulang, atau
in+use berkelan/utan, kadar mida?olam dalam darah turun lebih *epat
dibandingkan )ang lain karena bersihan hati )ang lebih besar.
,7-
#asil
metabolisme dari ben?odia?epines men/adi penting. Dia?epam membentuk 4
ma*am metabolit akti+ )aitu, oGa?epam dan desmeth)ldia?epam )ang
memperkuat dan memperpan/ang e+ek obat. 1ida?olam mengalami
biotrans+ormasi men/adi h)droG)mida?olam )ang memiliki potensi 4=02=C
dari mida?olam. 1etabolit0metabolit ini diekskresikan melalui urin dan dapat
men)ebabkan sedasi )ang dalam pada pasien dengan gangguan gin/al. Pada
pasien )ang sehat, h)droG)mida?olam lebih *epat diekskresikan dibanding
16
Midazolam
mida?olam.
,%- ,' -,6-
Faktor )ang mempengaruhi +armakokinetik dari ben?odia?epine antara
lain usia, /enis kelamin, ras, induksi en?im, gangguan hepar P gin/al.
Dia?epam sensiti!e terhadap hal0hal tersebut di atas terutama usia, usia )ang
bertambah mengurangi ke*epatan bersihan dia?epam dari tubuh se*ara
signi+ikan, hal ini /uga didapatkan pada mida?olam namun dalam dera/at )ang
lebih rendah. .ebiasaan merokok sebalikn)a memper*epat klirens dia?epam.
.lirens mida?olam tidak dipengaruhi kebiasaan merokok tetapi konsumsi
al*ohol, pada pasien dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol klirens
mida?olam akan mengalami per*epatan Farmakokinetik lora?epam tidak
dipengaruhi usia, /enis kelamin ataupun gangguan gin/al. .etiga obat ini
dipengaruhi oleh obesitas. @olume distribusi meningkat akibat perpindahan
dari plasma ke /aringan adipose. "alaupun tidak mempengaruhi klirens,
namun 3aktu paruh men/adi lebih pan/ang, sehingga pemulihan akan
didapatkan lebih lambat pada pasien dengan obesitas.
,%- ,'-
1ida?olam dan dia?epam memiliki onset )ang lebih *epat )aitu 2=0(=
detik dibanding lora?epam ,(=0%4= detik-. "aktu paruh mida?olam berkisar
antara 402 menit, 4 kali lebih pan/ang dibanding dia?epam, namun kekuatan
lora?epam ( kali lipat dari dia?epam.
,(-
$ama seperti onset, durasi ker/a /uga
bergantung kelarutan dalam lemak dan kadar dalam darah. Redistribusi
mida?olam dan dia?epam lebih *epat dibanding lora?epam )ang kemungkinan
diakibatkan dari kelarutan dalam lemak lora?epam )ang lebih rendah.
$ehingga durasi ker/a lora?epam lebih pan/ang dibanding dia?epam dan
mida?olam.
,%- ,'-
+arma1odinami1. 9en?odia?epine menimbulkan e+ek amnesia, anti
ke/ang, hipnotik, relaksasi otot dan sedasi tanpa e+ek analgetik. 9ergantung
dari dosisn)a, /uga menurunkan kebutuhan oksigen otak dan aliran darah ke
otak serta la/u metabolism otak. 1ida?olam dan dia?epam bergantung dari
dosisn)a /uga memiliki e+ek proteksi dari hipoksia serebral. E+ek perlindungan
mida?olam didapatkan lebih n)ata dari dia?epam. $istem kardio!askuler.
Perubahan )ang mungkin paling /elas adalah penurunan tekanan darah )ang
ringan akaibat penurunan resistensi !askular sistemik. E+ek ini didapatkan
17
sedikit lebih n)ata pada pemberian mida?olam namun perubahan tekanan
darah ini kurang lebih sama seperti pemberian thiopental. 9ahkan dosis
=.4mgAkg99 dilaporkan aman untuk induksi pada pasien dengan stenosis
aorta. 9en?odia?epine tidak mempengaruhi mekanisme re+leks homeostatik,
oleh karena itu hemodinamik relati+ stabil. $istem perna+asan. $eperti
keban)akan obat anestesi intra!ena lainn)a, obat golongan ben?odia?epine
/uga mendepresi pusat perna+asan, menurunkan +rekuensi na+as serta !olume
tidal. Pun*ak depresi perna+asan setelah pemberian mida?olam ,=.%20=.4
mgAkg- ter/adi dalam 2 menit dan berlangsung kurang lebih selama (=0%4=
menit. "aktu pemberian /uga mempengaruhi onset depresi perna+asan,
semakin *epat obat diberikan, semakin *epat ter/adi depresi perna+asan.
Depresi perna+asan setelah pemberian mida?olam akan tampak lebih n)ata dan
berlangsung lebih lama pada pasien PP.. pioid dan ben?odia?epine se*ara
sinergis memperkuat depresi perna+asan 3alaupun beker/a melalui mekanisme
)ang berbeda.
,(-
$istem otot rangka. 9eker/a di tingkat supraspinal dan spinal,
menimbulkan penurunan tonus otot rangka, sehingga sering digunakan pada
pasien )ang menderita kekakuan otot rangka.
,%- ,'-
%o0i0. 9en?odia?epin digunakan untuk tu/uan sedasi sebagai
premedikasi, selama pemberian regional atau anestesi lo*al, ataupun setelah
operasi. $elain itu /uga untuk mengurangi ke*emasan, e+ek amnesia dan
peningkatan ambang batas ke/ang, untuk keperluan ini ben?odia?epine
diberikan se*ara titrasi. Dosis untuk induksi )ang dian/urkan adalah =.=60=.%6
mgAkg99 untuk mida?olam dengan dosis ulangan =.=6mgAkg99 bila
diperlukan, =.20=.6mgAkg99 untuk dia?epam dengan dosis ulangan
=.%mgAkg99 bila diperlukan, dan =.% mgAkg99 untuk lora?epam dengan dosis
ulangan =.=4mgAkg99 bila diperlukan. <ntuk mendapatkan e+ek sedasi dosis
berulang )ang dian/urkan untuk mida?olam adalah =.60%mg, 4mg untuk
dia?epam, dan =.46mg untuk lora?epam.
,%- ,'-
E2,1 0ampin4. 1ida?olam dapat men)ebabkan depresi perna+asan /ika
digunakan sebagai sedasi. ;ora?epam dan dia?epam dapat men)ebabkan
iritasi pada !ena dan trombophlebitis. 9en?odia?epine turut memperpan/ang
3aktu sedasi dan amnesia pada pasien. E+ek 9en?odia?epines dapat di re!erse
dengan +luma?enil ,AneGate, Roma?i*on- =.%0=.4 mg I@ prn to % mg, dan =.6 0
18
% m*gAkgAmenit.
,%- ,'-
*. Anti1olin,r4i1
e. $ul+as atropine ,anti kolinergik- ,amp %** B =,46 mg-,dosis =,==% mgAkg99
Atropin sebagai prototipe antimuskarinik. 9ertu/uan menurunkan sekresi
kelen/ar sali!a, keringat, dan lendir di mulut serta menurunkan e+ek
parasimpatolitik A para!asopagolitik sehingga menurunkan risiko timbuln)a
re+leks !agal. ,
,%- ,'-
+arma1odinami1. Atropin dalam dosis ke*il memperlihatkan e+ek
merangsang disusunan sara+ pusat dan pada dosis toksik memperlihatkan e+ek
depresi setelah melampaui +ase eksitasi )ang berlebihan, depresi pusat tertentu
memberikan e+ek antitremor dan e+ek ini berguna sebagai antiparkinson,
atropin merangsang K. @agus sehingga den)ut /antung berkurang.
1emberikan e+ek kelen/ar eksokrin sehingga ter/adi hambatan sali!a.
Perangsangan respirasi ter/adi akibat dilatasi bronkus, tetapi dalam hal depresi
respirasi oleh sebab tertentu, atropin tidak berguna merangsang respirasi tapi
mengurangi sekresi hidung, mulut, +aring dan bronkus. .ardio!askular.
Pengaruh atropin terhadap /antung bersi+at bi+asik dengan dosis =.460=.6mg,
+rekuensi /antung berkurang. Pada dosis toksis ter/adi dilatasi kapiler pada
bagian muka dan leher akibat !asodilatasi, )ang merupakan kompensasi kulit
untuk melepas panas. Pada mata menghambat 1 *onstri*tor pupilae dan
*iliaris memberikan e+ek midriasis sehingga ter/adi +oto+obia dan siklplegia.
Pada pen*ernaan, menghambat peristaltik ususAlambng sehingga digunakan
untuk antispasmodik.
,%- ,'-
%o0i0. diberikan /ika anestesi dilakukan dengan anestetika dengan e+ek
hipersekresi, misal: dietileter atau ketamin. $ediaann)a amp %** B =,46
mg-,dosis =,==% mgAkg99. Dosis lebih 4 mg biasan)a han)a digunakan pada
kera*unan insektisida organo+os+at ter/adi hambatan K !agus sehingga ter/adi
takikardia.
E2,1 0ampin4: proses pembuangan panas akan terganggu, terutama pada
anak0anak sehingga ter/adi +ebris dan dehidrasi.

Pada anak mudah ter/adi
kera*unan, ge/ala timbul %604= menit dimulai dengan pusing, mulut kering,
19
tidak bisa menelan , sukar bi*ar a dan perasaan haus sekali karena air liur tidak
ada, penglihatan kabur, midriasis , gallop rh)thm. Anti dotumn)a ialah
+isotigmin salisilat 40'mg $. dapat menghilangkan ge/ala $$P dan e+ek
anhidrosis
,%- ,'-
Antikolinergik secara luas digunakan saat anestesi inhalasi; diroduksi
secret !ang "erle"ihan oleh saluran na#as dan ada "aha!a "radikardi
intraoerati#$ %ndikasi khusus antikolinergik se"elum oerasi adalah se"agai
&1' antisialogogue dan &2' sedasi dan amnesia$ (alauun )uga memiliki e#ek
se"agai *agolitik dan mengurangi sekresi cairan lam"ung+ namun tidak
disetu)ui enggunaann!a ada reoerati#$
Anti0ialo4o4u,. Antikolinergik telah digunakan se*ara selekti+
mengeringkan saluran na+as atas bila diinginkan. $ebagai *ontoh, saat intubasi
endotrakeal. Antisialogogue sangan penting pada operasi intraoral dan pada
pemeriksaan /alan na+as seperti bronkoskopi.
S,dati2 dan amn,0ia. .edua s*opolamine dan atropine dapat menembuas
sa3ar darah otak namun s*opolamine adalah )ang selalu dipakai sebagai
sedati+ terutama bila dikombinasi dengan mor+in. Tidak seperti lora?epam atau
dia?epam, tidak semua pasien dapat bere+ek amnesia oleh pemberian
s*opolamine.
A10i :a4oliti1. Aksi !agolitik dari antikolinergik diperoleh melalui
blokade e+ek aset)lkolin pada $A node. Atropin lebih potensial dibanding
gl)kopirolat dan s*opolamine. Aksi !agolitik ini berguna men*egah re+leks
bradikardi selama operasi. 9radikardi bisa ter/adi akibat traksi otot
ekstraorbital, otot abdomen, stimulasi sinus *arotis, atau setelah pemberian
berulang suksin)lkolin. Atropine dan gl)kopirolat diberikan intra!ena.
El,:a0i 1adar pH 7airan 4a0t,r. Dosis tinggi antikolinergik sering
diperlukan untuk mengubah kadar p#. Kamun demikian, saat preoperati!e
antikolinergik tidak dibenarkan untuk menurunkan sekresi #
M
lambung.
. Anti ,m,ti7
a. &ndan7,ntron
20
Antagonis 6#T
2
)ang sangat selekti+ )ang dapat menekan mual dan muntah
karena sitostatika. 1ekanisme ker/an)a diduga dilangsungkan dengan
mengantagoniskan reseptor 60#T )ang terdapat pada chemoreceptor zone di
area posttrema otak dan mungkin /uga pada a+eren !agal saluran *erna. Pada
pemberian oral obat ini diabsorpsi se*ara *epat. .adar maksimum ter*apai
setelah %0%.6 /am terikat protein plasma seban)ak 7=07(C dan 3ktu paruhn)a
2 /am. Dosisn)a =.%0=,4 mgA.g99.
,%- ,'-
b. Sim,tidin dan Ranitidin
+arma1o1in,ti1: bioa!aibilitas simetidin sekitar 7=C sama dengan
setelah pemberian I@ atau I1. Ikatan protein plasman)a han)a 4=C. Absorpsi
simetidin diperlambat dengan makanan, sehingga diberikan bersama atau
segera setelah makan dengan maksud untuk memperpan/ang e+ek pada periode
pas*amakan. Absorpsi simetdidin terutama ter/adi pada menit ke (=0L=.
$imetidin masuk ke $$P. $ekitar 6=0&=C dari dosisI@, dan '=C oral,
simetidin diekskresikan dalam bentuk asal dalam urin. 1asa paruh
eliminasin)a sekitar 4/am.
,%- ,'-
9ioa!aibilitas ranitidin )ang diberikan se*ara oral sekitar 6=C dan
meningkat pada pasien pen)akit hati. 1asa paruhn)a kira0kira %,702 /am pada
orang de3asa, dan meman/ang pada orangtua dan pada pasien pen)akit gagal
gin/al. .adar pun*ak dalam plasma di*apai dalam %02/am setelah penggunaan
%6=mg ranitidin oral dan )ang terikat protein pasma %6C. 1etabolisme lintas
pertaman)a di hepar. Diekskresikan terutama digin/al sisan)a pada tin/a.
,%- ,'-
+arma1odinami1. $imetidin dan ranitidin menghambat reseptor #
4
se*ara selekti+ dan re!ersible. Perangsangan reseptor #
4
akan merangsang
sekresi asam lambung sehingga pemberian simetidin atau ranitidin sekresin)a
dihambat. $imetidin dan ranitidin /uga mengganggu !olurme dan kadar
pepsin *airan lambung.
,%- ,'-
%o0i0. Anatagonis reseptor #
4
satu kali sehari pada malam hari
diberikan untuk mengatasi ge/ala akut tukak lambung. <ntuk premedikasi
biasan)a digunakan ranitidin 6=0%6=mg.
E2,1 0ampin4. K)eri kepala, pusing, malaise, mialgia, mual, diare,
21
konstipasi, ruam kulit, pruritus. .ehilangan libido dan impoten.
,%- ,'-
II.3 &.AT)&.AT IN%U"SI ANESTESI INTRAVENA
bat anestesi intra!ena dapat digolongkan dalam 4 golongan: %.- bat )ang terutama
digunakan untuk induksi anestesi, *ontohn)a golongan barbiturat, eugenol, dan steroid5 4.-
obat )ang digunakan baik sendiri maupun kombinasi untuk mendapat keadaan seperti pada
neuroleptanalgesia ,*ontohn)a: droperidol-, anestesi dissosiasi ,*ontohn)a: ketamin-,
sedati!e ,*ontohn)a: dia?epam-. Dari berma*am0ma*am obat anesthesia intra!ena, han)a
beberapa sa/a )ang sering digunakan, )akni golongan: barbiturat, ketamin, dan dia?epam.
,4-
II.3.( #R&#&+&$
Propo+ol adalah salah satu dari kelompok deri!at
+enol )ang ban)ak digunakan sebagai anastesia intra!ena.
Pertama kali digunakan dalam praktek anestesi pada tahun
%L77 sebagai obat induksi. Propo+ol dikemas dalam *airan
emulsi ber3arna putih susu bersi+at isotonik dengan
kepekatan %C ,%mlB%= mg-.
,7-
Propo+ol dengan *epat dimetabolisme di hati melalui kon/ugasi ke glukuronat
dan sul+at untuk menghasilkan sen)a3a larut dalam air, )ang diekskresikan oleh
gin/al. .urang dari %C propo+ol diekskresikan tidak berubah dalam urin, dan han)a
4C diekskresikan dalam tin/a.
,%- ,'-,7-
+arma1o1in,ti1. "aktu paruh 4'074 /am. Dosis induksi *epat menimbulkan
sedasi ,2=0'6 detik- dengan durasi berkisar antara 4=076 menit tergantung dosis dan
redistribusi dari sistem sara+ pusat.
,'-
$ebagian besar propo+ol terikat dengan albumin
,L(0L7C-. $etelah pemberian bolus intra!ena, konsentrasi dalam plasma berkurang
dengan *epat dalam %= menit pertama ,3aktu paruh %02 menit- kemudian diikuti
bersihan lebih lambat dalam 20' /am ,3aktu paruh 4=02= menit-. .edua +ase ini
menun/ukkan distribusi dari plasma dan ambilan oleh /aringan )ang *epat.
,6-,7-
1etabolisme ter/adi di hepar melalui kon/ugasi oleh kon/ugasi oleh
22
glukoronida dan sul+at untuk membentuk metabolit inakti+ )ang larut air )ang
kemudian diekskresi melalui urin
,(-
. Eliminasi propo+ol sensiti+ terhadap perubahan
aliran darah hepar namun tidak dipengaruhi oleh ikatan protein ataupun akti!itas
en?im. Propo+ol diketahui menghambat metabolisme obat oleh sitokrom p'6= oleh
karena itu dapat men)ebabkan perlambatan klirens dan durasi )ang meman/ang pada
pemberian bersama dengan +entan)l, al+entanil dan propanolol.
,'-,6-,7-
+arma1odinami1. $istem sara+ pusat. Dosis induksi men)ebabkan pasien
kehilangan kesadaran dengan *epat akibat ambilan obat lipo+ilik )ang *epat oleh $$P,
dimana dalam dosis )ang ke*il dapat menimbulkan e+ek sedasi, tanpa disetai e+ek
analgetik. Pada pemberian dosis induksi ,4mgAkg99- pemulihan kesadaran
berlangsung *epat. Dapat men)ebabkan perubahan mood tapi tidak sehebat
thiopental. Propo+ol dapat men)ebabkan penurunan aliran darah ke otak dan
konsumsi oksigen otak sehingga dapat menurunkan tekanan intrakranial dan tekanan
intraokular seban)ak 26C.
,4-,2-,6-

$istem kardio!askuler. Induksi bolus 404,6 mgAkg dapat men)ebabkan depresi
pada /antung dan pembuluh darah dimana tekanan dapat turun. #al ini disebabkan
oleh e+ek dari propo+ol )ang menurunkan resistensi !askular sistemik seban)ak 2=C.
Kamun penurunan tekanan darah biasan)a tidak disertai peningkatan den)ut nadi.
Perna+asan spontan ,dibanding na+as kendali- serta pemberian drip melalui in+us
,dibandingkan dengan pemberian melalui bolus- mengurangi depresi /antung.
$edangkan usia berbanding lurus dengan e+ek depresi /antung.
,'-,6-,7-
$istem perna+asan. Apnoe paling ban)ak didapatkan pada pemberian propo+ol
dibanding obat intra!ena lainn)a. <mumn)a berlangsung selama 2= detik, namun
dapat meman/ang dengan pemberian opioid sebagai premedikasi atau sebelum induksi
dengan propo+ol. Dapat menurunkan +rekuensi perna+asan dan !olume tidal. E+ek ini
biasan)a bersi+at sementara namun dapat meman/ang pada penggunaan dosis )ang
melebihi dari rekomendasi atau saat digunakan bersamaan dengan respiratory
depressants.
,'-,6-,7-
%o0i0. Propo+ol digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anastesia
umum, pada pasien de3asa dan pasien anak 0 anak usia lebih dari 2 tahun.
,'-
Dosis
)ang dian/urkan untuk induksi pada pasien lebih dari 2 tahun dan kurang dari 66
tahun adalah 404.6 mgAkg99 dan untuk pasien lebih dari 66 tahun, pasien lemah atau
23
dengan A$A IIIAI@: %0%.6 mgAkg99. <ntuk pemeliharaan dosis )ang dian/urkan pada
pasien lebih dari 2 tahun dan kurang dari 66 tahun adalah =.%0=.4 mgAmenitAkg99 dan
untuk pasien lebih dari 66 tahun, pasien lemah atau dengan A$A IIIAI@: =.=60=.%
mgAmenitAkg99.
,'-
Dosis )ang dian/urkan )ang dapat menimbulkan sedasi adalah =.%0
=.%6 mgAkg99 sebagai dosis inisial dengan dosis pemeliharaan )ang dian/urkan pada
pasien lebih dari 2 tahun dan kurang dari 66 tahun adalah =.=460=.=76
mgAmenitAkg99 dan untuk pasien lebih dari 66 tahun, pasien lemah atau dengan A$A
IIIAI@: =.=40=.=( mgAmenitAkg99.
,'-
Propo+ol, bila digunakan untuk induksi anestesi dalam prosedur singkat, hasil
dalam pemulihan se*ara signi+ikan lebih *epat dan pengembalian sebelumn)a +ungsi
psikomotor dibandingkan dengan thiopental atau methoheGital, terlepas dari anestesi
)ang digunakan untuk pemeliharaan anestesi. .e/adian mual dan muntah saat
propo+ol digunakan untuk induksi /uga n)ata kurang dari setelah penggunaan anestesi
I@ lainn)a, mungkin karena si+at antiemetik propo+ol.
,2-
Propo+ol mendukung
perkembangan bakteri, sehingga harus berada dalam lingkungan )ang steril dan
hindari pro+o+ol dalam kondisi sudah terbuka lebih dari ( /am untuk men*egah
kontaminasi dari bakteri.
,'-,6-
E2,1 0ampin4. $untikan intra!ena sering men)ebabkan n)eri, sehingga
beberapa detik sebelumn)a dapat diberikan lidokain %04mgAkg99 intra!ena
,2-
.
9iasan)a ter/adi saat pen)untikan dilakukan di dorsum Palmaris. Insidens n)eri lebih
sedikit didapatkan pada pen)untikan di !ena )ang lebih besar di +ossa ante*ubiti.
,6-
.
9radikardi serta hipotensi kadang didapatkan setelah pen)untikan propo+ol, namun
dapat diatasi dengan pen)untikkan obat antimuskarinik, misaln)a: atropin. E+ek
samping eksitatorik seperti m)o*lonus, opisthotonus serta kon!ulsi kadang
dihubungkan dengan pemberian propo+ol dan dapat ter/adi pada masa pemulihan.
Resiko kon!ulsi dan onset )ang melambat ditemu/an pada pemberian propo+ol pada
pasien epilepsi.
,'-,6-,7-
II.3.2 TI&#ENTA$
Tiopental
,pentotal, tiopenton-
24
dikemas dalam bentuk tepung atau bubuk ber3arna kuning, berbau belerang, biasan)a
dalam ampul 6== mg atau %=== mg. $ebelum digunakan dilarutkan dalam akuades
steril sampai kepekatan 4.6C ,% mlB 46 mg-. Thiopental han)a boleh digunakan
untuk intra!ena. Pen)untikan dilakukan perlahan0lahan dihabiskan dalam 2=0(= detik.
,2-
.euntungan thiopental antara lain: %.- Induksi mudah dan *epat5 4.- tidak ada
delirium5 2.- kesadaran *epat pulih5 '.- tidak ada iritasi mukosa /alan na+as.
$edangkan kekurangan dari penggunaan thiopental antara lain: %.- depresi perna+asan5
4.- depresi kardio!askular5 2.- ke*endurangan te/radin)a spasme laring5 '.- relaksasi
otot perut kurang5 6.- tidak memiliki e+ek analgesik
.,%-,'-
+arma1o1in,ti1. "aktu paruh thiopental berkisar antara 20( /am dengan
onset berkisar antara 2=0(= detik dan durasi ker/a obat 4=02= menit.
,7-
Thiopental di
dalam darah 7=C diikat oleh albumin, sisan)a 2=C dalam bentuk bebas, sehingga
pada pasien dengan albumin rendah, dosis rendah harus dikurangi. 9ergantung dosis
dan ke*epatan suntikan, thiopental akan men)ebabkan pasien berada dalam keadaan
sedasi, hipnotik, anesthesia, atau depresi na+as.
.,%-,'-
1etabolisme thiopental terutama ter/adi di hepar dengan sebagian ke*il
thiopental keluar le3at urin tanpa mengalami perubahan. %=0%6C thiopental dalam
tubuh akan dimetabolisme tiap /am. Pulih sadar )ang *epat setelah thiopental
disebabkan oleh peme*ahan dalam hepar )ang *epat. Dilusi dalam darah dan
redistribusi ke /aringan tubuh )ang lain. leh karena itu thiopental termasuk dalam
obat dengan da)a ker/a sangat singkat ,ultra short acting barbiturate- Thiopental
dalam /umlah ke*il masih dapat ditemukan dalam darah 4' /am setelah pemberian.
leh karena itu dapat membaha)akan bagi pasien one day care )ang masih harus
mengendarai mobil setelah sadar dari e+ek thiopental.
,4- ,'-
+arma1odinami1. $istem sara+ pusat. $eperti barbiturat )ang lain, thiopental
menimbulkan sedasi, hipnosis, atau tertidur dan depresi perna+asan tergantung dosis
dan ke*epatan pemberian. E+ek analgetik sedikit dan terhadap $$P terlihat adan)a
depresi dan kesadarann)a menurun se*ara progresi+. .ontak dengan lingkungan,
gerakan0gerakan, dan kemampuan men/a3ab pertan)aan pelan0pelan menghilang.
,2- ,'-
.e*epatan ker/a dari thiopental bergantung pada penetrasi obat ke $$P )ang
dipengaruhi oleh kadar obat dalam plasma dan ikatann)a dengan protein plasma.
Akibat perbedaan konsentrasi, konsentrasi obat )ang lebih tinggi di plasma akan
25
men)ebabkan di+usi ke $$P dalam /umlah besar. 7=C thiopental terikat albumin,
sedangkan han)a thiopental bebas )ang dapat menembus blood brain barrier karena
itu ikatan dengan protein plasma dan ke*epatan onset obat berbanding terbalik.
,(-
Tiopental menurukan kebutuhan oksigen otak sehingga per+usi ke otak /uga berkurang
)ang ditandai dengan peningkatan resistensi !askular otak, penurunan aliran darah ke
otak dan penurunan tekanan intrakranial.
,6-
$istem kardio!askuler. Thiopental mendepresi pusat !asomotor dan
kontraktilitas miokard )ang mengakibatkan !asodilatasi, sehingga dapat menurunkan
*urah /antung dan tekanan darah. E+ek ini tergantung dosis dan lebih n)ata pada
pasien dengan pen)akit kardio!askular atau )ang menerima pengobatan )ang
mempengaruhi simpatis.
.,%-,'- ,6-
$istem perna+asan. E+ek utama ialah depresi perna+asan karena e+ek langsung
ke pusat perna+asan dan penurunan sensiti!itas terhadap kadar 8
4
sehingga P8
4
akan meningkat dan p# darah akan naik. E+ek ini akan bertambah /elas apabila
sebelumn)a diberikan opioid atau obat depresan )ang lain.
,2-
%o0i0. Dosis )ang dian/urkan untuk induksi )ang lambat 40(mgAkg99,
sedangkan untuk induksi )ang *epat 20' mgAkg99 dibagi dalam 40' dosis. <ntuk
pasien bedah sara+ dengan peningkatan tekanan intra*ranial %.602.6 mgAkg99 dengan
!entilator mekanik )ang mendukung dan pada pasien dengan gangguan +ungsi gin/al
dengan >FR kurang dari %=mlAmenit dapat diberikan 76C dari dosis normal dengan
inter!al )ang sama dengan dosis normal.
,'-,6-
Tiopental dapat digunakan untuk: %.- induksi pada anestesi umum5 4.- operasi
atau tindakan )ang singkat, *ontohn)a: reposisi +raktur, insisi, /ahit luka, tindakan
ginekologi ke*i seperti *urettage5 2.- sedasi pada analgesi regional5 '.- mengatasi
ke/ang0ke/ang pada eklampsia, tetanus, epilepsi, dan lain0lain.
,2-
E2,1 0ampin4. ;arutan ini sangat alkalis dengan P# %=0%%, sehingga suntikan
keluar !ena akan menimbulkan rasa sakit, bengkak, kemerah0merahan, dapat ter/adi
nekrosis. <ntuk menghindari e+ek ini sebaikn)a memakai larutan 4.6C. sedangkan
in/eksi intraarteri akan men)ebabkan rasa terbakar, ter/adi spasme arteri dan
kemungkinan thrombosis.
.,%-,'-
26
II.3.3 "ETAMIN
.etamin adalah suatu "rapid acting non-barbiturate general anesthetic".
Pertama kali diperkenalkan
oleh Domino and 8arsen pada
tahun %L(6.
,4-
.etamin kurang
digemari untuk induksi
anesthesia karena sering
menimbulkan takikardi, hipertensi, hipersali!asi, n)eri kepala, pas*a anesthesia dapat
menimbulkan mual muntah, pandangan kabur dan mimpi buruk.
,2-
9lok terhadap
reseptor opiat dalam otak dan medulla spinalis )ang memberikan e+ek analgesik,
sedangkan interaksi terhadap reseptor metilaspartat dapat men)ebakan anastesi umum
dan /uga e+ek analgesik.
.,%-,'-
+arma1o1in,ti1. nset ker/a ketamin pada pemberian intra!ena lebih *epat
dibandingkan pemberian intramuskular. nset pada pemberian intra!ena adalah 2=
detik sedangkan dengan pemberian intramuskular membutuhkan 3aktu 20' menit,
tetapi durasi ker/a /uga didapatkan lebih singkat pada pemberian intra!ena ,60%=
menit- dibandingkan pemberian intramuskular ,%4046 menit-.
.,%-,'-
1etabolisme ter/adi di hepar dengan bantuan sitokrom P'6= di reti*ulum
endoplasma halus men/adi norketamine )ang masih memiliki e+ek hipnotis namun
2=C lebih lemah dibanding ketamine, )ang kemudian mengalami kon/ugasi oleh
glukoronida men/adi sen)a3a larut air untuk selan/utn)a diekskresikan melalui urin.
,6-
+arma1odinami1 $istem sara+ pusat. .etamine memiliki e+ek analgetik )ang
kuat akan tetapi e+ek hipnotikn)a kurang ,tidur ringan- disertai anestesia disosiasi.
Apabila diberikan intra!ena maka dalam 3aktu 2= detik pasien akan mengalami
perubahan tingkat kesadaran )ang disertai tanda khas pada mata berupa kelopak mata
terbuka spontan, dilatasi pupil dan nistagmus. $elain itu kadang0kadang di/umpai
gerakan )ang tidak disadari ,*atalepti* appearan*e-, seperti gerakan mengun)ah,
menelan, tremor dan ke/ang. Pada pasien )ang diberikan ketamin /uga mengalami
amnesia anterograde. Itu merupakan e+ek anestesi dissosiati+ )ang merupakan tanda
khas setelah pemberian .etamin. $ering mengakibatkan mimpi buruk dan halusinasi
27
pada periode pemulihan sehingga pasien mengalami agitasi. $elain itu, ketamin
men)ebabkan peningkatan aliran darah ke otak, konsumsi oksigen otak, dan tekanan
intrakranial.
.,%-,'-
Pulih sadar kira0kira ter*apai dalam %=0%6 menit tetapi sulit menentukan
saatn)a )ang tepat seperti haln)a sulit menentukan permulaan ker/an)a. .ontak
penuh dengan lingkungan dapat ber!ariasi dari beberapa menit setelah permulaan
tanda0tanda sadar sampai % /am. $ering mengakibatkan mimpi buruk, disorientasi
tempat dan 3aktu, halusinasi dan men)ebabkan gaduh, gelisah, tidak terkendali.
.,%-,'-
$istem kardio!askuler. Tekanan darah akan naik baik sistolik maupun
diastolik. .enaikan rata0rata antara 4=046C dari tekanan darah semula men*apai
maksimum beberapa menit setelah suntikan dan akan turun kembali dalam %6 menit
kemudian. Den)ut /antung /uga meningkat. E+ek ini disebabkan adan)a akti!itas sara+
simpatis )ang meningkat dan depresi baroreseptor. E+ek ini dapat di*egah dengan
pemberian premedikasi opioid, hiosine. Kamun aritmia /arang ter/adi.
.,%-,'-
$istem perna+asan. Depresi perna+asan ke*il sekali dan han)a sementara,
ke*uali dosis terlalu besar dan adan)a obat0obat depressan sebagai premedikasi.
.etamin men)ebabkan dilatasi bronkus dan bersi+at antagonis terhadap e+ek
konstriksi bronkus oleh histamin, sehingga baik untuk penderita asma dan untuk
mengurangi spasme bronkus pada anesthesia umum )ang masih ringan.
.,%-,'-
%o0i0. Dosis )ang dian/urkan untuk induksi pada pasien de3asa adalah %0
'mgAkg99 atau %04mgAkg99 dengan lama ker/a %604= menit, sedangkan melalui
in+us dengan ke*epatan =.6mgAkg99Amenit, sedangkan untuk anak0anak terdapat
ban)ak rekomendasi. 1enurut 1a*e, et al ,4=='- dosis induksi adalah %04 mgAkg99
sedangkan menurut #arriet ;ane, =.460=.6 mgAkg99. Dengan dosis tambahan
setengah dari dosis a3al sesuai kebutuhan.
,6-
<ntuk sedasi dan analgesik dosis )ang
dian/urkan adalah =.40=.& mgAkg99 intra!ena dan untuk men*egah n)eri dosis )ang
dian/urkan adalah =.%60=.46 mgAkg99 intra!ena.
,6-
.etamin dapat diberikan bersama
dengan dia?epam atau mida?olam dengan dosis =.%mgAkg99 intra!ena dan untuk
mengurangi sal!ias dapat diberikan sul+as atropine =.=%mgAkg99.
,2-
Indi1a0i. .etamin dipakai baik sebagai obat tunggal maupun sebagai induksi
pada anestesi umum : %.- untuk prosedur dimana pengendalian /alan na+as sulit,
28
misaln)a pada koreksi /aringan sikatriks daerah leher5 4.- untuk prosedur diagnosti*
pada bedah sara+ atau radiologi ,radiogra+i-5 2.- tindakan ortopedi, misaln)a reposisi5
'.- pada pasien dengan resiko tinggi karena ketamin )ang tidak mendepresi +ungsi
!ital5 6.- untuk tindakan operasi ke*il5 (.- di tempat dimana alat0alat anestesi tidak
ada5 7.- pasien asma.
.,%-,'-
"ontra Indi1a0i. .etamin tidak dian/urkan untuk digunakan pada: %.- Pasien
hipertensi dengan tekanan darah sistolik %(=mm#g dan diastoli* %==mm#g5 4.-
Pasien dengan ri3a)at 8@D5 2.- pasien dengan de*ompensatio *ordis. Penggunaan
ketamin /uga harus hati0hati pada pasien dengan ri3a)at kelainan /i3a P operasi0
operasi pada daerah +aring karena re+leG masih baik.
E2,1 0ampin4. Di masa pemulihan pada 2=C pasien didapatkan mimpi buruk
sampai halusinasi !isual )ang kadang berlan/ut hingga 4' /am pas*a pemberian.
Kamun e+ek samping ini dapat dihindari dengan pemberian opioid atau
ben?odia?epine sebagai premedikasi.
.,%-,'-
II.- #EME$IHARAAN ANESTESI ;MAINTAINAN3E<
Dapat diker/akan se*ara intra!ena ,anestesi intra!ena total- atau dengan
inhalasi atau dengan *ampuran intra!ena inhalasi. Rumatan anestesi menga*u pada
29
trias anestesi )aitu tidur rinan ,h)pnosis- sekedar tidak sadar, analgesia *ukup,
diusahakan agar pasien selama dibedah tidak menimbulkan n)eri dan relaksasi otot
lurik )ang *ukup. Rumatan intra!ena biasan)a menggunakan opioid dosis tinggi,
+entanil %=06= IgAkg99. Dosis tinggi opioid men)ebabkan pasien tidur dengan
analgesia *ukup, sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh otot. Rumatan
intra!ena dapat /uga menggunakan opioid dosis biasa, tetapi pasien ditidurkan dengan
in+use propo+ol '0%4 mgAkg99A/am. 9edah lama dengan anestesi total intra!ena,
pelumpuh otot dan !entilator. <ntuk mengembangkan paru digunakan inhalasi dengan
udara M
4
atau K
4
M
4.
Rumatan inhalasi biasan)a menggunakan *ampuran K4
dan 4 dengan perbandingan 2:% ditambah halotan =,604 !olC atau en+luran 40'C
atau iso+luran 40' !olC atau se!o+luran 40'C bergantung apakah pasien bernapas
spontan, dibantu atau dikendalikan.
II.* TE"NI" ANESTESI UMUM INTRAVENA
Teknik Anestesi <mum Intra!ena.:
Persiapan pasien
Persiapan alat ,$TATI8$-
Persiapan obat: ,premedikasi, induksi, maintain*e-
9erikan premedikasi
Induksi
#,r0iapan #a0i,n
Anamnesa
Ri3a)at pen)akit sistemik )ang diderita dahulu dan sekarang, meliputi: %- Respirasi, ri3a)at
pen)akit saluran napas atas, asma, batuk, in+luen?a, 4- .ardio!askular,ri3a)at pen)akit
/antung, hipertensi, n)eri dada, dll. 2- $istem endokrin : Diabetes 1elitus, #epatitis.
Ri3a)at pen)akit keluarga, )aitu adan)a anggota keluarga )ang menderita pen)akit sistemik
30
seperti T98, Diabetes 1elitus, Asthma.
Ri3a)at pengobatan atau pemakaian obat0obatan )ang ada hubungann)a interaksi dengan
obat anestesi )ang digunakan seperti obat anti hipertensi, anti koagulan, anti kon!ulsan dan
anti diabetikum.
Ri3a)at alergi dan reaksi obat.
Ri3a)at anestesi dan pembedahan
Ri3a)at kebiasaan5 suka berolahraga, peminum alkohol, pemakai narkoba.
Pemeriksaan +isik
Pemeriksaan keadaan gigi geligi, tindakan buka mulut, lidah relati+ besar atau
tidak, leher pendek dan kaku )ang bisa men)ulitkan intubasi. Dan dilan/utkan ke
pemeriksaan bagian lain dari inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua sistem organ
tubuh pasien.
Pemeriksaan ;aboratorium: darah, urinalisa, ekg, +oto rontgen thoraG, usg, dll.
.lasi+ikasi status penderita dengan A$A.
.esimpulan
Instruksi: pasang I@ line, pemeriksaan penun/ang, dan puasa.
#,r0iapan Alat
Persiapan alat terdiri dari $TATI8$ : $*ope : laringoskop )ang terdiri dari blade dan lampu,
stetoskop5 Tube : ETT )ang nonkingking tiga nomor5 Air3a) : pipaoroparing dan pipa
nasoparing5 Tape : plaster untuk +iksasi ETT5 Intradu*er : mandrin5 8onne*tor : penghubung
pipa dengan mesin anestesi5 $u*tion. $elain )ang tersebut di atas, terdapat alat anestesi dan
monitor sebagai perangkat utama. Disiapkan pula trakeotomi set bilamana ter/adi keadaan
darurat..
#,r0iapan obat
31
%.Premedikasi.
Analgesik: +entan)lA petidinAmor+in
$edati+: mida?olam,A dia?epamA deh)droben?odia?epin
#ipnotik: ketaminA pentotal
Antikolinergik: $A
Anti emetik: ondan*etronA ranitidin,
4. Induksi: propo+olA pentotalA ketamin
#,mb,rian pr,m,di1a0i
Premedikasi dapat dilakukan diruangan maupun di ruang ., melalui oral ,e+ek ter*apai %0
4/am-, Intramuskular ,e+ek ter*apai 2=0'=menit-, dan Intra!ena ,e+ek ter*apai 402menit-
Premedikasi digunakan sesuai tu/uan5
<ntuk menenangkan pasien ,sedasi- berikan 1ida?olam ,=,% mgA.g99- A Dia?epam
,=,% mgA.g99- A D9P =,% mgA.g99.
<ntuk mengurangi n)eri ,analgetik- digunakan +entan)l %02 m*gA.g99 A petidin %04
mgA.g99 A mor+in =,% mgA.g99
9ila tensin)a meningkat dapat diberikan 8lonidin #8l ,8atapress-
9ila mual muntah dapat diberikan ondan*entronA ranitidinA simetidin.
Indu10i
Induksi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar men/adi tidak sadar. Induksi
32
intra!ena adalah induksi )g suntikan ke intra!ena, disuntikan perlah0lahan dengan ke*epatan
antara 2=0(= detik.. bat pilihann)a.
Propo+ol ,404,6 mgA.g99- A ketamin ,%04 mgA.g99- A pentotal ,'0(mgA.g99- A golongan
ben?odiasepin5 dia?epam ,=,=60=,4 mgA.g99- A mida?olam ,=,%60=,2 mgA.g99-.
8ek re+leks bulu mata untuk penilaian adekuat obat tersebut.
.emudian berikan oksigen
<ntuk dosis pemeliharaan dapat diberikan %A40%A2 dari dosis induksi, dapat pula dikombinasi
dengan gas anestesi, seperti K4= atau dengan obat anestesi inhalasi iso+luran, en+luran, dan
/uga se!o+luran. Dengan perbandingan 2=:7= A 6=:6= A 2:4.
#E$UM#UH &T&T ;MUS3$E RE$A=ANT<
Mu07l, r,la>ant
$angat berman+aat pada anestesi umum
;aringoskopi dan intubasi men/adi lebih mudah dan menghindari luka
33
1us*le relaGation sangat bberman+aat selama pembedahan dan *ontrol !entilasi
Mu07l, r,la>ant 9an4 id,al
Kon depolari?ation
nset *epat, durasi *epat
Re*o!er) *epat, potensi )ang tinggi
Tidak akumulasi, metabolite tidak akti+
E+ek kardio!askular tidak ada
Tidak histamine release
Dinetralkan dengan antikolinesterase
T,rminolo49 mu07l, r,la>ant
ED 6= : dosis )ang dapat men)ebabkan paralisis 6=C kekuatan otot
ED L= : dosis )ang dapat men)ebabkan paralisis L=C kekuatan otot
nset : inter!al antara mulai in/eksi sampai timbul e+ek maksimal
Akibat rangsang ter/adi depolarisasi pada terminal sara+. In+luks ion kalsium memi*u
keluarn)a asetilkolin sebagai transmitter sara+. Asetilkolin sara+ akan men)ebrang dan
melekat pada reseptor nikotinik0kolinergik di otot. :ika /umlahn)a *ukup ban)ak, maka akan
ter/adi depolarisasi dan lorong ion terbuka, ion natrium dan kalsium masuk dan ion kalium
keluar, ter/adilah kontraksi otot. Asetilkolin *epat di hidrolisa oleh asetilkolin0esterase
,kolin0esterase- khusus atau murni- men/adi asetil dan kolin, sehingga lorong tertutup
kembali ter/adilah repolarisasi.
#,mba4ian p,lumpu/ otot
(. #,lumpu/ otot d,polari0a0i
Pelumpuh otot depolarisasi ,nonkompetiti+, leptokurare- beker/a seperti asetilkolin,
tetapi di *elah sara+ otot tidak dirusak oleh kolinesterase, sehingga *ukup lama berada di
*elah sinaptik, sehingga ter/adilah depolarisasi )ang ditandai oleh +asikulasi )ang disusul
relaksasi otot lurik .
Termasuk golongan pelumpuh otot depolarisasi adalah suksinilkolin ,diasetilkolin-
34
dan dekametonium.
a. Suksinilkolin
mekanisme ker/a
obat pen)ekat neuromus*ular depolarisasi, suksinilkolin melekat pada resptor
nikotinik dan beker/a mirip asetilkolin untuk mendepolarisasi sambungan. Tidak seperti
asetilkolin )ang segera dirusak oleh asetilkolinesterase, mak obat depolarisasi ini kadarn)a
tetap tinggi dalam *elah sinaptik dan tetap melekat pada reseptor dalam /angka 3aktu )ang
relati!e lama, dan terus menerus mema*u reseptor.
bat depolarisasi ini mula0mula membuka kanal natrium )ang berhubungan dengan
ressptor nikotinik, )ang men)ebabkan depolarisasi reseptor ,Fase I-. .eadaan ini
menimbulkan suatu gerakan berkerut sesekali pada otot ,+asikulasi-. Ikatan )ang berlan/ut
dari obat ini melumpuhkan reseptor sehingga tidak mampu lagi mentranmisi impuls lebih
lan/ut. $etleah beberapa saat,maka depolarisasi ini /ustru menimbulkan repolarisasi bertahap
seiring dengan menutupn)a kanal natrium atau tersekat. .eadaan ini tidak emmungkinkan
,tahan- terhadap depolarisasi ,+ase II- dan ter/adi kelumpuhan +leksid.
E+ek
$esuai )ang ter/adi pada pen)ekat kompetiti+, otot0otot pernapasan lumpuh
belakangan. $uksinilkolin menga3ali e+ekn)a dengan +asikulasi otot se*ara singkat,
kemudian dilan/utkan dengan lumpuh beberapa menit. bat ini tidak men)ebabkan
pen)ekatan ganglion, ke*uali pada dosis tinggi. Dalam keadaan normal, lama ker/a
suksinilkolin sangat singkat sekali, karena obat ini *epat sekali dirusak oleh kolinesterase
dalam plasma.
Penggunaan terapi
.arena mula ker/an)a *epat dan lama ker/a singkat, suksinilkolin berguna untuk
intubasi endotrakeal *epat dibutuhkan selama indukasi anestesi ,ker/a *epat sangat penting
untuk emn*egah aspirasi kandungan lambung selama intubasi-. bat ini /uga digunakan
se5a,a terapi s)ok elektrokon!ulsi+ ,E8T-.
Dosis rata0rata untuk intubasi pada orang de3asa 460%==mg. %mgAkg. In+use
%(IgAkgAmenit. E+ek ter/adin)a %=02= detik.
Dosis %,=0%,6 mgAkg i! akan menghasilkan onset paralise skeletal )ang *epat ,2=0(=
detik- dengan durasi 60%= menit.
35
Farmakokinetik
$uksinilkolin disuntikkan intra!ena. .er/an)a )ang sangat singkat ,beberapa menit
sa/a- disebabkan oleh hidrolisis *epat kolinesterase dalam plasma. leh karena itu, obat ini
biasan)a diberikan dalam bentuk in+use terus menerus.
E+ek samping
#ipertermia
Pemberian suksinilkolin terkadang men)ebabkan hipertermia sangat berat ,dengan ge/ala
kaku otot dan panas tubuh sangat tinggi-, pada keadaan demikian harus diobati dengan
mendinginkan segera tubuh pasien dengan pemberian dantrolen )ang menghambat pelepasan
8aMM dari reti*ulum sarkoplasmik sel otot, )ang berarti mengurangi produksi panas dan
melepaskan tonus otot
Apnea
Pasien )ang dasar genetikn)a berkaitan dengan de+isiensi kolinsterase plasma atau adan)a
bentuk atipikal dari en?im tersebut sering ter/adi apnea karena kelumpuhan otot dia+ragma.
K)eri otot pas*a pemberian
K)eri otot dapat dikurangi dengan memberikan pelumpuh otot nondepolarisasi dosis ke*il
sebelumn)a. 1ialgia ter/adi sampai L=C, selain itu dapat ter/adi mioglobinuria, terutama
pada otot leher, punggung, dan abdomen.
Peningkatan tekanan intaokular
Peningkatan tekanan intra*ranial
Peningkatan tekanan intragastrik
Peningkatan kadar kalium plasma
Artimia /antung ,berupa aritmia atau !entri*ular premature beat-
Pemberian $A atau dosis subparalisis dari 9K1 nondepolari?ing %02 menit
sebelum pemberian $8# akan menurunkan respon /antung ini.
$ali!asi ,e+ek muskarinik-
Alergi, ana+ilaksis ,e+ek muskarinik-
36
2. #,lumpu/ otot non)d,polari0a0i
Pelumpuh otot nondepolarisasi ,inhibitor kompetiti+, takikurare- berikatan dengan
reseptor nikotinik0kolinergik, tetapi tidak men)ebabkan depolarisasi, han)a menghalangi
asetil0kolin menempatin)a, sehingga asetilkolin tak dapat beker/a.
E+ek
E+ek pada motor End Plate
1en*egah absorbsi asetilkolin kedalam reseptor kolinergik maka man*egah ter/adin)a
perubahan dalam endplate )ang berarti men*egah ter/adin)a tonus dan kontaksi otot.
Respirasi
Paralise otot pernapasan dimulai dari otot dinding dada lalu di+ragma adalah otot terakhir
)ang mengalami paralise
$irkulasi
1ungkin bisa ter/adi hipotensi dengan tubokurarin , hipertensi dengan pan*uronium,
takikardia dengan gallamine, dan ruam kulit dengan atra*urium.
>I
$pingter kardia pada lambung mungkin tidak benar0benar rileks dan masih memiliki
kekuatan gerakan sebesar 46 *m mm#g
Alergi
9eberapa obat menimbulkan e+ek pembebasan histamine dari tubuh
E+ek sinergis dan relaksan
Pan*uronium bersama atra*urium e+ekn)a saling menguatkan
9erdasarkan susunan molekuln)a, maka pelumpuh otot nondepolarisasi digolongkan
men/adi:
%. bensiliso0kuinolium :d0tubokurarin, metokurin, atrakurium, doksakurium, mi!akurium.
4. steroid : pankuronium, !ekuronium, pipekuronium, ropakuronium, rokuronium
2. eter0+enolik : gallamin
'. nortoksi+erin : alkuronium
$edangkan berdasarkan lama ker/a, pelumpuh otot nondepolarisasi dibagi men/adi ker/a
37
pan/ang, sedang, pendek.
Tabel %. mus*le relaGan
Dosis a3al
,mgAkg-
Dosis rumatan
,mgAkg-
nset
,menit-
Durasi ,menit-E+ek samping
Nond,pol lon4 a7tin4
%. d0tubokurarin
,tubarin-
=,'=0=,(= =,%= 2=0(= #istamine M
hipotensi
4. pankuronium =,=&0=,%4 =,%60=,4= 2=0(= @agolitik,
takikardi,
2. metakurin =,4=0=,'= =,=6 '=0(= #istamine
Mhipotensi
'. pipekuronium =,=60=,%4 =,=%0=,=%6 '=0(= .ardio!askular
satabil
6. doksakurium =,=40=,=& =,==60=,=%= '60(= .ardio!askular
satabil
(. alkurium
,allo+erin-
=,%60=,2= =,=6 '=0(= @agolitik,
takikardi,
Nond,pol int,rm,diat, a7tin4
%. gallamin '0( =,6 2=0(= #istamine
Mhipotensi
4.atrakurium =,60=,( =,% 4,6 4=0'6 Aman untuk
hepar, gin/al
2. !ekuronium =,%0=,4 =,=%60=,=4 4,6 460'6
'. rokuronium =,(0%,= =,%=0=,%6 %0%,6 2=0(=
6. *ista*uronium =,%604,= =,=4 2=0'6 isomer
atrakurium
Nond,pol 0/ort a7tin4
%. mi!akurium =,4=0=,46 =,=6 %=0%6 #istamine M
hipotensi
4. ropa*uronium %,604,= =,20=,6 %602= #istamine M
hipotensi
38
%,pol 0/ort a7tin4
%. suksinilkolin %,= =,60%
4. dekametonium%,= 20%=
Tabel 4. Perbedaan mus*le relaGant depolarisasi dan non depolarisasi
d,polari0a0i Non d,polari0a0i
1enimbulkan +asikulasi otot ,i!- Tidak ada +asikulasi otot pada i!
E+ek meningkat pada antikolinesterase, suhu
tubuh ,hipotermi-, asetilkolin
E+ek meningkat pada pemberian obat non
depol dietileter, halotan, en+luran, iso+luran
,!olatile anestesi-
E+ek menurun dengan obat non depolarisasi
mus*le relaGant, anestesi inhalasi
E+ek menurun pada pemakaian
antikolinesterase suhu tubuh rendah, dep 1R
epine+rin asetilkolin
Tidak ada antagonis, tidak dapat dila3an oleh
neostigmin dan obat antikolinesterase lain
9lok oleh non depol dapat dihilangkan oleh
antikolinesterase ,neostigmin, prostigmin-
nset *epat, durasi *epat nset lama durasi lama
$erabut otot )ang terdepolarisasi tidak
merespon terhadap stimuli . rantai natrium
terblokade terbuka
Diasosiasi *epat )ang konstan pada reseptor,
tidak ada ikatan antara obat dan reseptor
Pemberian berulang atau terus menerus dapat
mengarah kepada blo*kade +ase kedua
Pilihan pelumpuh otot
gangguan +aal gin/al : atrakurium, !ekuronium
gangguan +aal hati :atrakurium
miastenia gra!is : /ika dibutuhkan dosis %A%= atrakurium
bedah singkat : atrakurium, rokuronium, mi!akuronium
kasus obstetri* : semua dapat digunakan, ke*uali gallamin
39
Tanda0tanda kekurangan pelumpuh otot
8egukan ,hi**up-
Dinding perut kaku
Ada tahanan pada in+lasi paru
3. #,na?ar p,lumpu/ otot
Anta4oni0 &.M non d,polari@in4 dru40
Pena3ar pelumpuh otot atau antikolinesterase beker/a pada sambungan sara+0otot
men*egah antikolin0esterase beker/a, sehingga asetilkolin dapat beker/a . antikolinesterase
akan menghambat akti!itas dari asetilkolinesterase sehingga men)ebabkan akumulasi a*h
pada tempat nikotinik dan muskarinik.
Asetilkolisesterase )ang sering digunakan adalah neostigmin ,prostigmin- dosis =,='0
=,=&mgAkg, piridostigmin =,%0=,'mgAkg, dan edrophonium =,60%,=mgAkg. Ph)sostigmine
,eserin- =,=%0=,=2mgAkg han)a untuk penggunaan per0oral.
Pena3ar pelumpuh otot bersi+at muskarinik men)ebabkan hipersali!asi, keringatan.
9radikardi, ke/ang bronkus, hipermotilitas usus dan pandangan kabur, sehingga
pemberiann)a harus disertai oleh obat !agolitik seperti atropine dosis =,=%0=,=4mgAkg atau
glikopirolat =,==60=,=%mgAkg sampai =,40=,2 mg apda de3asa.
40
%A+TAR #USTA"A
De3oto #R, et al. Farmakologi dan Terapi Edisi 6, *etak ulang dengan tambahan, tahun
4=%4. Analgesik opioid dan antagonisn)a. 9alai Penerbit F.<I :akarta 4=%45 4%=0
4%&.
1uhiman, 1uhardi, dr. et al. Anestesiologi. 9agian Anestesiologi dan Terapi Intensi+
Fakultas .edokteran <ni!ersitas Indonesia :akarta5 (607%
;atie+, $aid A, $p.An5 $ur)adi, .artini A, $p.An5 Da*hlan, 1. Rus3an, $p.An. Petun/uk
Praktis Anestesiologi. 9agian Anestesiologi dan Terapi Intensi+ Fakultas .edokteran
<ni!ersitas Indonesia :akarta 4=%=5 '(0'7, &%
8al!e), Korman5 "illiams, Korton. Prin*iples and Pra*ti*e o+ Pharma*olog) +or
Anaesthetists. Fi+th edition. 9la*k3ell Publishing 4==&5 %%=0%4(, 4=704=&
1iller, Ronald D. 1D, et. al. 1illerQs anesthesia. Else!eir 4=%=. 8DR1. A**essed on
' 1aret 4=%2.
Fentan)l. A!ailable at: http:AA333.3ebmd.*omApain0managementA+entan)l. A**essed on
2 1aret 4=%2.
Propo+ol. A!ailable at: http:AAre+eren*e.meds*ape.*omAdrugAdipri!an0propo+ol02'2%==R=.
A**essed on 2 1aret 4=%2
$andham :. Total Intra!ena Anesthesia. 1a) 4==L. A!ailable at
http:AA333.ebme.*o.ukAartsAti!aAindeG.php. a**essed on %= 1aret 4=%2.
41
#ong ;Y, et al. Predi*ti!e per+orman*e o+ SDipri+usorQ T8I s)stem in patients
during upper abdominal surger) under propo+olA+entan)l anesthesia. A!ailable at
http:AA333.n*bi.nlm.nih.go!Apm*Aarti*lesAP18%2L=76&Apd+A:T<$9=(0=='2.pd+.
a**essed on %= 1aret 4=%2.
42