Anda di halaman 1dari 15

Pernik Sound System

Power Amplifier


Dalam sebuah sistem tata suara power-amplifier memang sangat vital dan mungkin sudah
tidak asing lagi bagi kita untuk mengenalnya sebab memang dari acara hajatan pernikahan,
acara 17-an,sampai konser yang berkelas profesional dengan panggung rigging yang megah
dan sistem tata suara yang mampu menggetarkan jagad dalam arena panggung
membutuhkan beberapa power-amplifier yang tersusun rapi ditempat-tempat tertentu.
Sebenarnya power-amplifier ini terbilang mudah dan juga terbilang susah, nah.pastinya
semua tergantung perangkat yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan satu lagi
tentunya pengetahuan tentang power-amplifier itu sendiri.
Fungsi utama power-amplifier adalah untuk memperkuat sinyal yang masuk ratusan hingga
ribuan kali sesuai dengan kebutuhan sistem speaker yang dikirim. Konon dahulu power
amplifier berbobot cukup berat yang tersusun dalam sebuah rak khusus biasanya terdapat 4
buah atau lebih dengan berat masing-masing sekitar 30-50kg, powerfull, tahan terhadap
penyalahgunaan,mampu bekerja maksimum,dan jelas power semacam ini cukup tahan
banting karena berbobot besar,kuat,dan berat. Namun seiring bertambahnya waktu dan
padat serta ketatnya jadwal acara yang diterima oleh pihak sound company atau pihak rental
sound sistem sehingga power semacam tadi sudah tidak efisien dan saat ini sudah banyak
power-amplifier yang bertubuh ramping dengan bobot yng lebih ringan namun masih memilki
kemampuan yang baik dan powerfull serta sistem pemasangan yang lebih mudah, namun
ingat dalam pro audio power-amp. Bekerja sangat berat sehingga diperlukan
maintenance(perawatan) yang baik serta pemeriksaaan ulang secara reguler.
..Watt RMS pada.ohm ini sering terlihat dalam power-amplifier, sebenarnya ini adalah
power rating atau besarnya daya keluaran yang dihasilkan power-amplifier itu. RMS (Root
Mean Squared) adalah satuan power rating yang kerap digunakan pabrikan power-amplifier
sebagai acuan daya keluaran power amplifier yang dalam perhitungannya menunjukan
kondisi panas maksimum yang dapat ditangani koil suara tanpa terjadi kerusakan.
EIA (electronic Industries Assosiation) berbasis pada kapasitas panas yang berasal dari
sinyal white noise yang bekerja selama 8 jam, yang menyatakan level rata-rata dari sinyal
bukan nilai puncaknya tapi sinyal ini memiliki nilai puncak 3 dB.
Containous Program Power berbasis pada belombang Kompleks hasil simulasi sinyal
musik sesungguhnya,rating ini tidak memilki standar tapi nilai CPP bisanya lebih besar 2 kali
dari RMS.
Peak Power menyatakan nilai daya maksimum(dengan waktu yang sangat singkat) yang
dapat ditangani oleh louspeaker.nilainya jauh lebih tinggi dibanding rating continous atau
rating program atau 4 kali dari RMS. Contoh bila continous (RMS) Atau EIA sebesar 300 watt
maka continous programnya 600 watt dan peak powernya 1200 watt. Peak power
berhubungan dengan nilai level puncak dari sinyal kompleks (musik) dengan waktu kurang
dari sedetik.
Namun kita kerap menemui istilah .watt PMPO (Peak Music Power Out) tapi satuan ini
memiliki nilai yang tidak signifikan sehingga satuan ini hanya dipakai oleh pabrikan hi-fi pada
compo stereo set yang kerap ditemui di rumah kita dan mungkin tidak ditemui pada dunia
proaudio.
Semakin kecil daya yang dikeluarkan berarti tahanan/ hambatan yang digunakan semangkin
tinggi. Satuan yang yang digunakan untuk hambatan pada speaker atau power- amplifier
adalah Ohm. Logikanya power-amplifier dapat melemparkan daya 2 kali lebih besar pada
impedansi 4 ohm ketimbang bekerja pada 8 ohm. Namun perlu dicatat pada impedansi ini
atau bahkan lebih rendah dari ini,maka power akan sangat bekerja lebih keras sehingga
power akan menghasilkan panas yang berlebih dan jika dipaksakan dapat merusak
komponen yang ada pada power amplifier itu sendiri.

Persiapan dan penanganan
1. Letakan power-amplifier Ditempat yang berventilasi udara yang baik dan usahakan
jangan terkena sinar matahari secara langsung sebab Dapat mengakibatkan kelebihan
panas pada Power amplifier yang dapat mengakibatkan rusaknya komponen di dalamnya.
Jauh lebih baik gunakan rak khusus untuk power-amplifier.
2. Hidupkan Mixing console dan efek rack atau prosesor dinamic lainnya sebelum
menghidupkan power-amplifier.
3. Sebelum menghidupkan, knob level dalam keadaan tertutup atau dalam level yang
belum terbuka sama sekali dan pastikan power dalam keadaan mati.
4. Hidupkan satu persatu ( berikan selang waktu setiap akan menyalakan power amp.
Berikutnya, minimal 10 detik) agar tidak terjadi overloud dan membuat power bekerja
optimal dan sempurna sesuai daya yang diembannya .
5. Perhatikan setiap power amplifier pastikan semua kipas bekerja dengan baik.
6. Pekerjakan power amp. sesuai yang direkomendasikan oleh pabrik yang
mengeluarkannya (perhatikan penghubungan speaker,seri atau paralel)
7. Buka knob level perhatikan reaksi bunyi yang dihasilkan jika ada masalah tutup
dan matikan tunggu hingga power benar-benar mati lalu cari permasalahannya. Jika tidak
ada masalah buka sampai level tertinggi biarkan mixer utama dan crossover yang
mengatur kekuatan suara yang akan dilemparnya.

Impedansi speaker dapat dibuat fleksibel dengan penghubungan secara seri maupun peralel
sehingga impedansi power-amplifier tergantung pada impedansi speaker.
Jika secara paralel rumusnya = Impedasi speaker dibagi banyaknya speaker
yang di paralel. contoh 2 buah speaker 8 ohm yang dipasang secara paralel maka
impedasinya akan menjadi 4 ohm.
Sebaliknya jika secara seri rumusnya = Impedasi speaker dikali banyaknya
speaker yang di buat seri. Contoh 2 buah speaker 8 ohm yang dipasang secara
seri maka impedansinya akan menjadi 16 ohm.
Jika terdapat 4 speaker kita dapat mengkombinasikan secara paralel dan seri
sehingga dapat dipekerjakan hanya dengan sebuah power amplifier sekaligus
tanpa membuat power bekerja lebih keras. Contoh 4 buah speaker 8 ohm kita
hubungkan menjadi 2 bagian secara seri sehingga Impedasinya menjadi 16 ohm,
lalu 2 bagian speaker yang masing-masing berimpedansi 16 ohm kita hubungkan
secara paralel sehingga impedansinya menjadi 8 ohm, gimana dengan impedansi
ini jelas tidak membuat power-amplifier bekerja ekstra keras kan. Alright.
baybeh W. Arifin



CROSSOVER ATAU DIGITAL LOUDSPEAKER MANAJEMEN

Pada dasarnya crossover dan digital louspeaker manajemen adalah sama yang merupakan
sirkuit atau perangkat yang bekerja untuk membagi kerja pada sistem speaker hingga lebih
optimal. Karena masing-masing driver berbeda ukuran jelas memiliki respon frekuensi yang
berbeda misal untuk woofer yang memang mampu optimal merespon frekuensi low atau bass
saja. Jelas walaupun bekerja terhadap frekuensi crossover bukanlah Equaliser sebab
crossover hanya Memilah frekuensi untuk disesuaikan dengan masing-masing speaker yang
digunakan. Contohnya begini.dalam sebuah speaker yang menganut sistem speaker 3
way berarti dalam sebuah boks speaker terdapat tiga ukuran driver (15woofer, 10midrange,
dan tweeter) maka crossover akan memilah area frekuensi yang akan dikirim pada setiap
driver, disini ada dua crossover point antara lain 20Hz-120Hz dikirimkan ke woofer, 120Hz -
1.2kHz dikirim ke midrange, dan frekuensi dari 1.2kHz sampai 20 kHz akan diteruskan ke
tweeter jadi jelasnya masing-masing driver hanya bekerja pada kemampuan terbaiknya
dalam merespon frekuensi. Begitu juga untuk sistem speaker 2 way dan selebihnya.

Crossover aktif atau pasif
Secara garis besar cara kerja crossover terbagi dua, yakni :
Crossover Aktif, crossover ini membutuhkan suplay tenaga listrik dan dipasang
sebelum power amplifier. Kelebihan crossover ini kualitas audio yang dihasilkan cukup
baik dan jelas walaupun bekerja pada SPL tinggi. Kekurangan crossover jenis ini
membutuhkan lebih banyak power amplifier pada setiap output (Hi, Mid, Low) dan
dibutuhkan setting crossover yang optimal dari seorang sound engineer yang biasanya di
bantu dengan Alat RTA (Real Time Analyzer).
Crossover Pasif, jelas tidak membutuhkan suplay tenaga listrik untuk membuatnya
bekerja dan dipasang sesudah power amplifier. Kelebihannya unit power amplifier yang
dibutuhkan hanya sedikit. Praktis dan mudah sehingga lebih efisien dalam
pemasangannya serta kualitas audio yang dihasilkan relatif stabil (sebab masing-masing
point crossover sudah fix dan tidak dapat di ubah) namun hanya baik dalam SPL yang
tidak terlalu tinggi inilah kekurangan menggunakan crossover pasif.

Lho bagaimana pengoperasiannya? mungkin kita akan membahas khusus untuk crossover
yang aktif sebab dalam crossover pasif hampir tidak memerlukan setting yang spesial atau
khusus sebab semua program sudah fix dari pabrik yang mengeluarkannya.
Tentukan point crossover, perhatikan speaker yang digunakan (merek dan tipenya)
dan gunakan point crossover yang direkomendasikan pabrikannya. Sebab sound
malah tidak akan menjadi optimal bila salah dalam menentukan point crossover.
Sebaiknya gunakan unit RTA dengan perangkat Pink Noise Generator dan perangkat
ekualiser grafik dan parametrik sebab pemotongan yang dilakukan tidak terlalu
banyak guna mendapatkan settingan yang mendekati flat sehingga sound yang
terdengar lebih natural dan jelas.
Tentukan level masing-masing output crossover tadi. Perhatikan jumlah perbandingan
speaker (woofer, midrange, dan tweeter) gunakan power amplifier yang memadai.
Jika hasil dengan sound flat tersebut terasa kurang hidup mainkan frekuensi sesuai
selera yang diinginkan minimal terasa nyaman didengar layaknya mendengarkan
perangkat audio di rumah dengan sound yang terasa dahsyat. Dan akhirnya selamat
berKreasi Bro!! Lets for the best sound engineer generation.. W. Arifin







Equaliser


Ekualiser Dewa atau Monster yang menakutkan!!!

Dalam pelajaran IPA yang kita pelajari dulu dijelaskan frekuensi yang dapat diterima oleh
telinga manusia berkisar 20-20.000 Hz. Dalam perangkat elektronik yang berhubungan
dengan audio kerap ditemui pengaturan equaliser untuk mengatur frekuensi yang baik
menjadi lebih baik. Nah bagaimana penanganannya? Kira-kira begini. pada dasarnya
equaliser terbagi 3 macam, yakni :

1. Equaliser Grafik (Graphic EQ), ekualiser jenis ini memiliki jangkauan frekuensi yang
detail dan lengkap karena terbagi atas beberapa oktav mulai dari 1 oktaf sampai 1/3
oktaf. Yakni :
Pembagian frekuensi 1 oktav adalah sebagai berikut : (20- 20.000) itu berarti
terbagi dengan 10 oktaf dengan perhitungan mulai dari 20Hz,dan selanjutnya terus
berkelipatan 2 jadi selanjutnya 40Hz, 80Hz, 160Hz, 320Hz, 640Hz, 1.2kHz, 2.5kHz,
5kHz, dan 20kHz. Namun pembagian tadi tidak mutlak seperti itu sebab banyak
pabrikan yang membaginya menurut perhitungannya sendiri misal terbagi menjadi 7
slider sehingga bermula dari frekuensi 160Hz dan berakhir di frekuensi 16kHz.
Frekuensi 2/3 Oktaf : Berarti setiap 2 oktaf dibagi menjadi 3 frekuensi . Contoh
frekuensi ketiga dari 20Hz (2 langkah hitungan katak) yaitu 80Hz maka 80-20=60 dan
untuk mendapatkan nilai rata-ratanya hasilnya di bagi 3 (60/3=20) nah hasil ini
ditambah nilai awal frekuensi, jadi 20Hz, 40Hz, 60Hz, 80Hz, Gimana untuk
selanjutnya.gampang aja untuk mencari frekuensi selanjunya kita tinggal melihat
berapa frekuensi ke-3 dari 80Hz (lihat freq. 1 oktaf) ?..ya 320Hz jadi 320-80=240,dan
dibagi 3 jadi 80 untuk perhitungannya sama 80Hz, 160Hz, 240Hz, 320Hz, Untuk
selanjutnya bisa duong!!..
Frekuensi 1/3 Oktaf : Berarti setiap 1 oktaf di bagi menjadi 3 band frekuensi dan
seperti yang di beritakan di atas hasil akhir itu tidak selalu mutlak dipakai sebab
biasanya sering dibulatkan oleh setiap pabrik yang membuatnya. Misalnya 20Hz,
25Hz, 31.5Hz, 40Hz, 50Hz, 63Hz, 80Hz, 100Hz, 125Hz, 160Hz, ..Dan Seterusnya
Hingga 20kHz.

1. Ekualiser Parametrik, karena ekualiser grapik tidak mampu mencapai jangkauan
frekuensi yang lebih spesifik nah dibuatlah ekualiser parametrik ini. Ekualiser jenis ini
dapat mengatur kelebaran pemotongan (bandwidth) dan frekuensi yang akan disetting
bisa dipilih berdasarkan kebutuhan. Misal pada vokal kita dapat melakukan
pengaturan pada frekuensi 3,5Hz saja tanpa mempengaruhi keseluruhan frekuensi Hi
Mid lainnya.

1. Ekualiser jenis ini umumnya terdapat pada board mixer ( section EQ ) berupa knob
putar, namun pada mixer yang berkelas seperti Yamaha PM4000 atau souncraft
series Five dilengkapi EQ full Parametrik untuk setiap chanelnya jelas ini
memudahkan dalam mengontrol frekuensi yang di inginkan.

Namun ada satu EQ yang khusus digunakan sebagai penjinak feedback beliau
bernamaAutomatic Feedback Removal/Destroyer, jenis EQ ini akan dapat secara
otomatis mencari frekuensi yang menyebabkan feedback pada system , dan secara otomatis
memilih bandwidth yang paling sesuai. Jika secara manual kita harus benar-benar butuh
pengalaman atau setidaknya peka terhadap pada frekuensi mana feedback terjadi sehingga
mudah untuk menjinakannya. Begitu juga dengan masalah ruangan yang mengakibatkan
frekuensi tertentu menjadi dominant, sedang frekuensi lainnya malah hilang. Ini dapat diatasi
dengan Ekualiser sehingga jelas ekualiser adalah jawaban untuk masalah frekuensi.

Dan Satu hal EQ yang terdapat pada mixer monitor bukan untuk mengubah warna suara
tapi untuk menambah Gain Before Feedback/menambah kekerasan hingga saat sebelum
feedback.
Fasilitas yang terdapat pada setiap equaliser :
Slider adalah tombol yang berguna untuk melakukan penambahan atau pengurangan
frekuensi biasanya berupa knob putar dan knob geser.
Level /Gain/ input/Trim/ sens adalah untuk mengatur frekuensi guna mendapatkan
headroom (level terbaik untuk frekuensi).
Lo Cut / Hi Cut adalah untuk membatasi frekuensi yang akan dip roses.
In / Out adalah tombol untuk mengaktifkan atau me-non aktifkan ekualiser.
Range adalah tombol untuk pengaturan nilai maksimal yang mampu dilakukan slider
hingga kekerasan beberapa dB (6-12 dB).

Bagaimana cara pengoperasiannya ?. mungkin yang pertama dilakukan mencari sinyal
atau chanel yang ingin di EQ biarkan dalam keadaan flat lalu dengarkan baik-baik frekuensi
mana yang akan di boost atau di cut dan carilah frekuensi yang di inginkan Dan alat yang
selama ini jadi senjata para sound engineer untuk mengukur frekuensi adalah Real Time
Analizer (RTA) dengan bantuan Pink Noise Generator untuk mengirimkan frekuensi 20Hz-
20.000kHz 1/3 oktaf dengan level yang sama dan saat bunyi di keluar dari speaker utama
maka microfon khusus yang di colokan pada unit RTA akan membaca ulang dan
menampilkannya pada display atau layar peraga RTA disinilah kita dapat melihat frekuensi
mana yang kurang baik sehingga memudahkan dalam pengaturannya.
Ingat Sebelum ini buat setting panggung yang baik, letakan speaker jauh dari microfon atau
pickup guitar atau sebaliknya perhatikan perangkat yang digunakan baik ekualiser
grapik/parametrik,crossover,dan power amplifier serta speaker yang mampu merepro
jangkauan frekuensi minimal 40Hz- 18kHz sebab tanpa ini equalizer yang anda dewa-
dewakan hanya akan menjadi sia-sia atau menjadi monster yang menyeramkan . Ingat kita
hanya merubah yang baik menjadi lebih baik, cobalah untuk selalu berkomunikasi lebih
dengan orang yang berada di panggung baik sesama kru maupun artis yang akan tampil dan
pastikan system monitor sudah baik. Selanjutnya semua terserah anda pokoknya terserah !!!
ingat kita hanya dapat membuat yang baik menjadi lebih baik. Good Luck !!! W.
Arifin
Mixing Console

Mixing Console? Apa Sich !!

Mungkin sebelum mengenal Mixing console lebih dalam,alangkah baiknya kita mengetahui
apa arti dasar sebuah mixer yang digunakan untuk memixing beberapa source (sumber
suara). Mixer secara etimologi (asal usul kata) berasal dari bahasa inggris yaitu Mix,yang
dalam bahasa Indonesia berarti Mencampur, Nah yang dimaksud Mixer dalam dunia
ProAudio adalah Suatu perangkat untuk mencampur berbagai Source (sumber suara) dan
menyeimbangkannya sesuai porsi sound yang di inginkan agar terdengar lebih enak dan
nyaman secara mono atau stereo melalui P.A (Public Address) Atau F.O.H (Front Of House).
Source (sumber suara) berasal dari vokalisasi melalui microfon,Instrumen musik melalui pick
up,playback CD maupun tape deck ataupun DAT. Source yang diolah dalam mixing console
nantinya akan diteruskan ke equaliser,lalu ke Digital Loudspeaker Managemen/crossover
(aktif), dan di kuatkan oleh power amplifier hingga ribuan kali agar dapat terdengar melalui
speaker yang terdengar melalui P.A (Public Address) Atau F.O.H (Front Of House)
Siap untuk berkenalan dengan sebuah Mixing Console atau lebih populer hanya dengan
sebutan Mixer ? Nah mari kita mengetahui satu persatu tombol-tombol dan knob putar serta
bagaimana fungsi dan cara kerjanya,sebab pada dasarnya semua mixer adalah sama,kecuali
nama yang diberikan oleh setiap pabrikan.
Mic/Line
Pada mixer biasanya terdapat 2 input konektor (Balance/XLR dan Unbalance atau lebih akrab
dikenal dangan jack 1/4) Jika mixing console yang kita gunakan tidak cukup besar ini sangat
membantu untuk menggunakan chanel ganda misal untuk playback CD/tapedeck maka kita
dapat menggunakan satu chanel yang terpakai misal pada chanel effect return dengan gain
yang di set rendah pada mic input,dan saat band tidak main kita tinggal menSwitch untuk
mendengarkan playback CD dan jika saat tidak dibutuhkan atau band akan dimulai kita
tinggal menekan kembali tombol itu.
Gain/Input Level/Trim/Sens
Berupa knob putar yang terletak dalam urutan paling atas diantara knob lainnya. Gain
berfungsi untuk menambah atau mengurangi sinyal masuk (input) yang kita inginkan guna
mencapai titik headroom atau titik terbaik dari sinyal. Jadi jelas Gain bukan
pengatur/penambah Volume sound.
48V Phantom
Dapat disebut mic pre amp sebab berfungsi sebagai penyuplai tenaga tambahan untuk mic
(condensor) atau DI box aktif guna membuatnya bekerja. Untuk mixing console yang terdapat
satu tombol Phantom untuk seluruh chanel harus di perhatikan input yang terkonek pada
mixer itu,semua harus pada input balans jika tidak ini akan menimbulkan masalah.
PAD
input sinyal Mulai dari -20 hingga -30 dB (tergantung mixer yang Bila sinyal input yang kita
terima terlalu besar atau overload padahal Gain sudah berada pada titik 0 atau pada Arah
pukul 7. Maka switch PAD dalam bentuk tombol tekan inilah yang dapat kita gunakan untuk
menurunkan digunakan).
REVERSE
Pada mikrofon dengan konektor XLR terdapat tiga pin (terminal), yakni pin 1 ground, pin 2
hot/positif, pin 3 cold/negatif. Jika salah satu pin terbalik (pin2 dan pin 3) maka suara yang
terdengar akan terasa berbeda atau kurang enak misal pada kick drum seharusnya saat kick
di hentak maka konus speaker akan bergerak ke arah depan atau terasa berhembus udara
kearah kita (bukan ke belakang) atau kasus dua buah mic yang sangat berdekatan sehingga
terjadi concelling phase yang mengakibatkan kehilangan suara rendah/sound terdengar
hampa. Disinilah Reverse di gunakan dengan hanya menekan tombol tekan untuk
membalikan phase.
High-Pass Filter
Bila Source (sumber suara) tidak dapat merepro suara dengan jangkauan frekuensi rendah (
80 herzt ke bawah).Misalnya Harmonika, Vokal, akustik guitar, symbal, grand piano, atau
source dengan frekuensi di atas 80 Hz. Aktifkan (In) Hi-pass filter maka frekuensi rendah itu
akan terpotong.
Equaliser Chanel
Setiap musik memiliki warna dan untuk itu kita membutuhkan Equaliser untuk mendapatkan
warna yang di inginkan,tapi jangan sekali-kali me-EQ secara ekstrim sebab dapat
menimbulkan masalah yang sangat kita tidak inginkan. Equaliser sering juga digunakan untuk
menjinakan frekuensi input yang bermasalah misalnya feedback,storing (dengung),overtone
dan sebagainya dengan catatan setting panggung yang baik antara mic,instrumen dan
speaker serta ruangan yang baik pula.
EQ yang FIX, Frekuensinya telah disetting oleh pabrik yang mengeluarkanya sehingga
kita tidak dapat memilih frekuensi yang kita inginkan. Pembagiannya mirip dengan
crossover hanya terdiri :
Low dan Hi ( EQ 2 way)
Low, Mid, dan Hi ( EQ 3 way)
Low, low Mid, Hi Mid, dan Hi (EQ 4 way)
Mem-Boost/Cut akan berpengaruh hingga 12 sampai 15 dB tergantung mixer console yang di
gunakan. Keuntungan EQ ini relatif ekonomis,terhindar kesalahan dalam meEQ karena
kurang berpengalaman, dan menghemat waktu dalam penyetingan. Kekurangan EQ jenis ini
adalah tidak dapat memilih frekuensi yang kita inginkan sebab telah di setting dan ditetapkan
oleh pabriknya.
EQ Sweepable/Semi parametric,Equaliser Tanpa pengaturan bandwidth ini yang
umum terdapat pada mixer,berupa knob putar.
EQ Full Parametric, pada EQ jenis kita dapat melakukan pengaturan untuk setiap
parameter apakah itu parameter frekuensi,parameter bandwidth,ataupun parameter
level dengan kemampuan set up yang lebih fleksibel misal pada Mid range dengan
pengontrolan EQ sistem 3 hingga 4 jalur. Contoh untuk mengatur Vokal (HI MID) kita
dapat melakukan pengaturan pada ferkuensi 3,5 kHz saja tanpa mempengaruhi
keseluruhan HI MID lainnya.
EQ yang terdapat pada mixer monitor bukan untuk mengubah warna suara tapi untuk
menambah Gain Before Feedback/menambah kekerasan hingga saat sebelum feedback.


EQ IN/OUT
Sebuah tombol tekan yang dapat digunakan untuk meng-aktifkan dan me-nonaktifkan EQ
pada setiap chanel. Dan juga dapat digunakan untuk membandingkan sound yang telah di
EQ dengan sound original yang di terima.
AUXILIARY SENDS
Melalui terminal aux out pada panel belakang mixer kita dapat mengirim sinyal ke sistem
monitor, atau ke berbagai macam unit efek yang nantinya kembali pada chanel yang
berbeda. Nah dari tombol ini kita dapat mengatur level sinyal yang di kirim. Pada mixing
console sedikitnya memiliki 1 atau 2 AUX SEND (satu untuk monitor, satu untuk efek). Dan
untuk mixer yang lebih besar memiliki 4,6, atau 8 AUX SEND yang kemudian dibagi menjadi
Pre Fade dan Post Fade.
PRE FADE
Sinyal yang dikirim melalui Pre Fade tidak mengalami pengaruh/proses dari chanel sehingga
ideal di gunakan untuk mengirim sinyal ke monitor section.
POST FADE
Semua sinyal yang dikirim melalui Post Fade telah melalui proses atau pengaruh dari chanel
baik EQ,maupun levelnya. Ini sering digunakan untuk mengirim sinyal ke efek atau ke mixer
lain untuk keperluan broadcast.
PAN/POT ( Panorama Potentiometer )
Jika Pan/Pot berada di posisi tengah Atau arah Jam 12 maka sound yang dikirimkan pada
main speaker berada di posisi L / R namun ini terjadi jika Tombol Main Routing Matrix di
hidupkan atau dalam keadaan In. Dan jika kita menginginkan settingan secara stereo maka
kita tinggal mencari chanel mana yang akan di routing lalu memroute kearah L/kiri atau
R/kanan dengan porsi yang nyaman untuk di dengarkan. Sebab meMix secara stereo lebih
mudah dari pada secara mono. Dengan memisahkan sound satu dengan yang lain maka
clearity atau kejelasan masing-masing sound dapat di maksimalkan .
PFL/ SOLO
Kita dapat mendengarkan Mixing kita melalui headphone dengan menekan PFL (Pre Fade
Listening) atau saat mengecek sinyal gain pada setiap chanel sebelum membuka fader dari
chanel dengan melihat LED indikator chanel. Pada beberapa mixing console tombol SOLO
(dalam keadaan In/hidup) berguna untuk mengirim chanel Ke master L/R. Namun setelah
band akan bermain posisi harus dalam keadaan out.
AUXILIARY MASTER
Aux Master,Effect Master, Monitor Master adalah sama yang berfungsi sebagai Level master
pada semua chanel.
AUXILIARY RETURN
Sinyal yang di kirim ke unit efek (Delay,Reverb,atau sebagainya) akan di kirim kembali ke
mixer untuk di seimbangkan dengan sinyal orisinil dari source tadi. Pengaturan Aux Return
sama dengan yang kita lakukan pada chanel. Periksa Aux send pada chanel jika terjadi
feedback atau noise saat membuka sedikit saja Aux Send dari chanel yang di gunakan
sebagai efek return.
GROUP ASSIGN atau SUBGROUP ASSIGN
Jika pada mixing console tertulis 16/4/2 berarti mixer itu memiliki 16 chanel, 4 group, dan 2
master L/R. Jika hanya tertulis 16/2 maka ia tidak memiliki group. Group assign berfungsi
menentukan kemana sinyal dari chanel akan dikirim apakah ke group atau ke master L/R..
Sebagian besar Group Asisign disertai dengan pan control individual. Menggunakan Group
sangat membantu dalam pengoperasian dalam penampilan secara Live, Sebab kita dapat
meyatukan drum dengan bass, dan kita dapat menaikan level tanpa kembali ke chanel
dengan banyak fader pada drum khususnya secara keseluruhan.
MAIN FADER/MASTER FADER/STEREO FADER
Adalah pusat output Level seluruh sinyal dari chanel- chanel sebelum dikirimkan keluar dari
mixer untuk menuju ke Prosesor yang lain baik berupa Amplifier (Equaliser,crossover,power
amp) dan berakhir pada Transducer (loudspeaker).
Nah mungkin sampai disini setidaknya ada gambaran yang harus dilakukan saat menghadapi
sebuah mixing console dengan catatan telinga masih cukup baik untuk mendengar
!!Hwahaaaa yang jelas semakin bertambahnya pengalaman yang dimiliki akan sangat
semakin membantu. Selamat datang di dunia Pro Audio dan buat yang baik menjadi lebih
baik. W. Arifin

ISTILAH DALAM PRO AUDIO

R.I.M.S. = Resonant Isolated Mounting System yaitu bagaimana
membuat resonansi pada tom atau floor tom tetep tejaga
vibrasinya untuk mendapatkan sound akustik pada sebuah
drum set menjadi maksimal. Ditemukan pada tahun 1980-an
oleh Gary Gauger.
R.T.A = Real Time Analizer yaitu sebuah perangkat yang
digunakanuntuk melihat sinyal yang keluar secara
realtime(seketika) selama proses setting main speaker agar
mendapatkan setting yang flat.
F.O.H = Front of House yaitu posisi/tempat dimana Sound engineer
melakukan tugasnya mengatur suara yang keluar melalui
main speaker.
P.A = Public address yaitu Posisi/tempat dimana biasanya
penonton mendengarkan pertunjukan melalui main seaker.
T.R.S. = Tip(In), Ring(out), Slave(ground) yaitu sebuah konektor
balans yang berbentuk jack .
Feedback = Gangguan pada sinyal biasanya berupa dengung yang
tinggi terjadi karena sinyal yang overloud
Flat Frequensi Respon = Warna suara yang masuk pada loudspeaker sama dangan
warna suara yang keluar dari loudspeaker.
Headroom = Level terbaik dari sinyal yang masuk.
Perbandingan antara level sinyal sesaat dan sinyal
maksimal dari suatu system audio tanpa terjadi
kliping atau distorsi yang signifikan.
Source = Sumber suara HARMONIC CONTENT
Wave Guide = Suatu Bentuk yang berupa terompet atau corong untuk
mendapatkan sudut dispersi pada sistem speaker.
R.M.S = Root Mean Squared yaitu satuan power rating atau besaran daya
yang dikeluarkan power-amplifier.
P.M.P.O = Peak Music Power Out yaitu satuan power rating biasanya digunakan
pada sistem hi-fi compo stereo.
Ohm = Satuan tahanan speaker terhadap sinyal yang datang dari power-
amplifier.
Impedansi = Total tahanan dari aliran arus elektrik dalam sebuah sirkuit yang
diukur dengan Ohm.
EIA = Electronic Industies Association.
Countinous Program Power = Rating daya yang berbasis pada daya dari gelombang
kompleks sinyal musik sesungguhnya.
Peak Power = Nilai level puncak dari sinyal kompleks (musik) dengan waktu kurang
dari sedetik.
SPL = Sound Pressure Level yaitu tingkat tekanan suara
Threshold of Hearing = Kekerasan terlemah yang dapat didengar telinga manusia.

Threshold of Pain = Kekerasan tertinggi yang dapat didengar telinga manusia.
Harmonic Content = Frekuensi-frekuensi yang bergetar mengikuti frekuensi yang
dominan.
Complex Wave = Sumber bunyi yang tidak bergetar sendirian
Hi-Fi = System suara yang sustansinya mengarah pada keakuratan suara
original.
Interpolation = Penambahan pada informasi pada audio untuk efek dikanal surround
dan center melalui proses matriks sehingga system syereo
dapat dihasilkan efek tata suara multikanal.
Infrasonic filter = Tipe hi-pass yang berguna untuk melemahkan frequensi dibawah
20%.
Interconect = Sistem perkabelan sebagai system koneksi dari perangkat satu ke
perangkat lainnya.
Heat sink = komponen berbahan metal yang di design untuk membuang panas
dari perangkat electronic biasanya dibuat bersirip agar
kinerjanya tetap stabil.
Horn = Elemen untuk speaker bertujuan meningkatkan effisiensi dalam
reproduksi suara.
Transmiter = Unit pengirim sinyal
Receiver = Unit penerima sinyal
RFI = Radio frekuensi Interference, bunyi seperti air terjun
atau gangguan sinyal perangkat
radio (Handphone, Walkitalky) saat berada pada speaker
EMI = Electro Magnetic Interference, suara yang tidak konstan
dan sering terputus-putus (dropout)
Clear Line of sight = Tanpa objek penghalang