Anda di halaman 1dari 20

0

LAPORAN KASUS
EPISODE DEPRESIF BERAT TANPA GEJALA PSIKOTIK





PEMBIMBING
dr. Galianti, SpKJ


PENYUSUN
Mohd Rodzi bin Rashid
030.08.279


KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT JIWA DR SOEHARTO HEERDJAN
PERIODE 2 JUNI 2014 28 JUNI 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
1

STATUS PSIKIATRI
I. IDENTITAS PASIEN
1. No. Rekam Medik : xxxxxx
2. Nama Lengkap : Ny. N
3. Umur : 30 tahun
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Status perkahwinan : Menikah
6. Pendidikan terakhir : SMP
7. Pekerjaan : Tidak bekerja
8. Agama : Islam
9. Alamat : Jakarta
10. Ruang perawatan : PICU Wanita
11. Rujukan/Datang sendiri/ Keluarga : Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya
Riwayat Perawatan :
Pasien baru pertama kali di rawat di rumah sakit.

II. RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis dan alloanamnesis
Tanggal 9 Juni 2014 pada jam 1730 di UGD
Autoanamnesis
Tanggal 11 Juni 2014 pada jam 1000 di Ruang PICU Wanita

A. Keluhan Utama
Pasien dibawa oleh dinas social (kepala panti sosial) ke UGD RSJSH pada
tanggal 9 Juni 2014 dengan keluhan ingin terjun dari lantai 2 bangunan Panti Sosial
Bina Insan Bangun Daya kurang lebih 8 jam SMRS.




2

B. Riwayat Gangguan Sekarang

Pasien dibawa oleh dinas sosial (kepala panti sosial) ke UGD RSJSH pada
tanggal 9 Juni 2014 dengan keluhan ingin terjun dari lantai 2 bangunan Panti Sosial
Bina Insan Bangun Daya kurang lebih 8 jam SMRS. Menurut kepala panti, pasien
coba untuk terjun dari lantai 2 bangunan panti tersebut namun sempat di tahan oleh
petugas panti
Melalui alloanamnesis dengan kepala panti, pasien sempat tinggal di Panti
Bina Insan Bangun Daya kurang lebih 2 minggu yang lalu. Pasien dibawa ke panti
oleh masyarakat karenacobaan bunuh diri ke dalam sumur. Menurut kepala panti,
pasien sering menangis sejak 2 minggu di panti tersebut.
Melalui autoanamnesis, pasien mengeluh ingin bunuh diri karena sedih
dengan tindakan suaminya yang menikah siri dengan teman pasien sendiri 4 minggu
yang lalu. Suami pasien tinggal di pekan baru dan menikah dengan temannya di
pekan baru. Sebelumnya suaminya pernah menyatakan niat untuk menikah lagi,
namun pasien tidak mengizinkan. Suaminya kemudian menikah tanpa sepengetahuan
pasien. Setelah mengetahui tentang hal tersebut, pasien kembali lagi ke Jakarta untuk
bekerja sebagai babysitter di daerah Tangerang. Pasien merasa sedih dengan tindakan
suaminya. Pasien mengaku sulit untuk tidur pada malam hari. Pasien mempunyai
hobi membaca, namun sekarang tidak dilakukan lagi sejak 2 minggu terakhir. Pasien
juga mengaku sering mengelamun memikirkan masalah rumah tangganya. Makanan
yang diberikan sewaktu di panti tidak dihabiskan karena nafsu makannya berkurang.
Sebelum dibawa ke panti, pasien sempat melakukan 3 kali percobaan bunuh diri ke
dalam sumur dan ditabrak kendaraan namun sempat diselamatkan warga. Pasien
mengaku tindakan tersebut salah namun sudah pasrah karena memikirkan masalah
rumah tangga.
Pasien menyangkal adanya bisikan, penglihatan atau penciuman yang
menganggu pasien dan tidak dapat diketahui oleh orang lain. Pasien mengaku bahwa
kondisi pasien baik sebelum suaminya menikah.


3

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya

i. Gangguan psikiatrik
Pasien tidak pernah dirawat sebelumnya.

ii. Riwayat gangguan medik
Pasien menyangkal adanya riwayat penyakit medis sebelumnya dan tidak
pernah dirawat di rumah sakit

iii. Riwayat penggunaan zat psikoaktif
Pasien menyangkal adanya riwayat merokok, minum alcohol dan NAPZA

iv. Riwayat gangguan sebelumnya
Tidak didapatkan riwayat gangguan sebelumnya

D. Riwayat Kehidupan Peribadi
i. Riwayat prenatal dan perinatal
Menurut pasien, kondisi ibu pasien sewaktu mengandungkan pasien adalah
baik. Pasien lahir cukup bulan dan spontan.

ii. Riwayat perkembangan kepribadian
a. Masa kanak-kanak (0 11 tahun)
Pasien melewati masa kecil dengan normal layaknya anak-anak pada
umumnya.

b. Masa remaja (12 18 tahun)
Pasien melewati masa remaja dengan normal layaknya anak-anak pada
umumnya.



4

c. Masa dewasa (> 18 tahun)
Pasien melewati masa dewasa normal layaknya orang dewasa umumnya.

iii. Riwayat pendidikan
Pasien tamat SMP dan tidak menyambung sekolah karena masalah biaya

iv. Riwayat pekerjaan
Pasien bekerja sebagai babysitter di daerah Tangerang namun sudah tidak
bekerja karena memikirkan masalah suaminya

v. Kehidupan beragama
Pasien memberitahu bahwa pasien sering meninggalkan solat sebelum dan
selepas kejadian.

vi. Kehidupan sosial dan perkahwinan
Pasien menikah dengan suaminya setelah sering kali langganan angkot untuk
ke tempat kerja. Pasien menikah dengan suami selama 8 tahun dan
mempunyai dua orang anak. Kedua anak pasien sekarang berada bersama
orang tua.









5

E. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak pertama dari pasangan Tn. S dan Ny. M. Pasien
merupakan anak pertama dari 6 bersaudara.

Keterangan :
: Laki-laki : Perempuan
: Pasien : Pernikahan
: Keturunan
1. Bapa Pasien Tn. S, umur 58 tahun
2. Ibu Pasien Ny. M, umur 50 tahun
3. Pasien, umur 30 tahun
4. Adik laki-laki pasien
5. Adik perempuan pasien
6. Adik perempuan pasien
7. Adik laki-laki pasien
8. Adik laki-laki pasien
9. Suami pasien
10. Anak perempuan pasien
11. Anak perempuan pasien



6

F. Situasi Kehidupan Spasienial Ekonomi Sekarang
Pasien tinggal bersama dengan kedua orang tuanya di rumah kontrakan. Kehidupan
mereka sekeluarga dirasakan berkecukupan. Pasien tidak mempunyai pekerjaan buat
masa sekarang.

III. STATUS MENTAL

i. Kedaan umum : Pasien tampak sakit ringan
ii. Kesadaran : Compos mentis
iii. Tanda Vital :
Tekanan darah - 100/70 mmHg
Nadi - 78 x/menit
Pernapasan - 20 x/menit
Suhu - 36.5
o
C

A. Deskripsi Umum

1. Penampilan Umum
Pasien seorang perempuan, berusia 30 tahun, berpenampilan fisik sesuai usianya, postur
tubuh tidak terlalu tinggi ataupun pendek, berkulit sawo matang dan kelihatan murung.
Pada saat wawancara pasien mengenakan celana panjang berwarna hitam dan baju
kemeja lengan pendek berwarna biru. Kebersihan dan perawatan diri kurang baik,
berpakaian sederhana.

2. Perilaku dan Aktivitas Motorik
a. Sebelum wawancara
Pasien tidur di tempat tidur dengan keadaan diikat kaki dan tangan.




7

b. Selama wawan cara
Pasien diam dihadapan pemeriksa. Kontak mata ada antara pasien dan pemeriksa.
Apabila diajukan pertanyaan, pasien menjawab spontan namun pasien tampak
sedih. Hampir semua pertanyaan dijawab dengan baik. Sekiranya pasien
menjawab soalan, suaranya agak perlahan.

c. Sesudah wawancara
Pasien tetap diam di tempat tidur.

3. Sikap terhadap pemeriksa
Kooperatif dan bersahabat.

4. Pembicaraan
Lancar, pasien menjawab hampir kesemua pertanyaan yang diajukan. Bicara pasien tidak
spontan, intonasi jelas dan nada suara agak perlahan. Sekiranya pasien menjawab
pertanyaan yang diajukan, jawaban pasien konsisten, tidak ada asosiasi longgar,loncat
piker dan inkoheren. Tidak ada hendaya atau gangguan berbicara.

B. Alam Perasaan (Empasieni)
1. Suasana perasaan (mood) : Hipotim
2. Afek/Ekspresi Afektif : Menumpul
3. Afek serasi/ tidak serasi : Serasi

C. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi : Tidak ada
2. Ilusi : Tidak ada
3. Depersonalisasi : Tidak ada
4. Derealisasi : Tidak ada



8

D. Sensorium dan Kognitif (Fungsi Intelektual)
1. Taraf pendidikan : SMP
2. Pengetahuan umum : Baik (pasien mengetahui Presiden RI sekarang
adalah SBY)
3. Kecerdasan : Rata-rata
4. Konsentrasi dan perhatian : Tidak mudah dialihkan
5. Orientasi
a. Waktu
Baik (Pasien dapat membedakan siang dan malam)

b. Tempat
Baik (Pasien mengetahui dirinya sekarang berada di rumah sakit)

c. Orang
Baik (Pasien mengetahui sedang diwawancara oleh dokter muda)

d. Situasi
Baik (Pasien mengetahui situasi sekitar, saat wawancara berlangsung)

6. Daya ingat
a. Jangka panjang
Baik (Pasien tahu alamat tempat tinggalnya)
b. Jangka pendek
Baik (Pada saat wawancara di ruang PICU wanita, Pasien masih ingat dokter
muda yang mewawancarai dirinya sewaktu di UGD)
c. Segera
Baik (Pasien dapat mengingat lauk yang dimakannya waktu sarapan pagi, dan
dapat mengingat 3 benda yang disuruh hafal)


9

7. Pikiran abstrak : Baik (Pasien dapat membedakan antara bola dan
jeruk)

8. Visupasienpatial : Baik (Pasien dapat menggambar jam dan
menggambar seperti contoh)

9. Bakat kreatif : Data tidak didapatkan

10. Kemampuan menolong diri sendiri : Baik (Pasien dapat makan, mandi, dan
berpakaian sendiri)

E. Proses Pikir
1. Arus pikir
a. Produktifitas : Terbatas
b. Kontinuitas : Alogia
c. Hendaya bahasa : Tidak ada

2. Isi pikir
a. Preokupasi dalam pikiran : Tidak ada
b. Waham
i. Waham bizzare : Tidak ada
ii. Waham kejar : Tidak ada
iii. Waham kebesaran : Tidak ada
iv. Waham dikendalikan : Tidak ada
v. Waham rujukan : Tidak ada
c. Obsesi : Tidak ada
d. Fobia : Tidak ada
e. Gagasan rujukan : Tidak ada
f. Gagasan Pengaruh : Tidak ada


10

F. Pengendalian Impuls
Baik. Selama wawancara pasien bersikap tenang, kooperatif dan tidak menunjukkan
gejala yang agresif.

G. Daya Nilai
a. Daya Nilai Spasienial
Baik (Diberikan situasi dimana sekiranya pasien menemukan dompet ditempat awam,
apa yang akan dilakukan pasien terhadap dompet tersebut. Pasien memberitahu akan
memberikan dompet tersebut ke polisi)

b. Uji Daya Nilai
Baik (Pasien mengatakan bahwa tindakan bunuh diri adalah tidak baik)

c. Daya Nilai Realitias
Tidak terganggu (Hal ini dikatakan tidak terganggu karena pasien tidak mempunyai
gejala waham dan halusinasi)

H. Tilikan
Derajat 6 : Pasien mengetahui bahwa pasien sakit dan membutuhkan perawatan dan
pengobatan

I. Reliabilitas
Dapat dipercaya





11

IV. STATUS FISIK
A. Status Internus
1. Keadaan umum : Tampak sakit ringan
2. Kesadaran : Comppasien mentis
3. Tensi : 100/70 mmHg
4. Nadi : 78 x/menit
5. Suhu : 36.5
o
C
6. Frekuensi pernafasan : 20 x/menit
7. Bentuk tubuh : Normal
8. Kulit : Sawo matang, turgor baik
9. Kepala : Normocefali, rambut hitam, lurus, distribusi
merata
10. Mata : konjungtiva anemis (-/-), pupil bulat isokor (+/+),
reflek cahaya langsung (+/+), refleks cahaya tidak langsung (+/+)
11. Hidung : bentuk normal, septal deviasi (-)
12. Telinga : Sekret (-/-)
13. Mulut : Sianosis (-)
14. Leher : Kelejar tiroid dan KGB tidak teraba membesar
15. Sistem kardiovaskular : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
16. Sistem respiratorius : Suara nafas vesikuler (-/-), ronkhi (-/-), wheezing
(-/-)
17. Sistem gastrointestinal : Bising usus normal, nyeri tekan (-)
18. Sistem muskulpasienkeletal : Ekstremitas atas dan bawah akral hangat
19. Sistem urogenital : Tidak dilakukan

B. Status Neurologis
1. Saraf kranialis (I-XII) : Baik
2. Gejala ransang meningeal : Tidak dilakukan
3. Refleks fisiologis : Tidak dilakukan
4. Refleks patologis : Tidak dilakukan
5. Motorik : Baik
12

6. Sensibilitas : Tidak dilakukan
7. Fungsi luhur : Baik
8. Gangguan khusus : Tidak ada

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah rutin dan foto rontgen thorax.

Hasil Laboratorium (tanggal 4 Oktober 2013)
Hemoglobin : 12.5 g/dl
Eritrosit : 4.3 juta/mm3
Leukosit : 5600 mm3
LED : 21 mm/1jam
Basofil : 0%
Eusinofil : 8%
Batang : 3%
Segmen : 59%
Limfosit : 24%
Monosit : 6%
Trombosit : 240000 U/L
Hematokrit : 37 g%
GDS : 115 mg/dl
SGOT : 17 U/L
SGPT : 21 U/L
Ureum : 13 mg/dl
Kreatinin : 0.8 mg/dl






13

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Seorang pasien perempuan berusia 30 tahun, sudah menikah dan mempunyai
2 orang anak, tidak bekerja, pendidikan terakhir SMP, mempunyai ide dan tindakan
bunuh diri, nafsu makan berkurang, sulit tidur, tidak berminat terhadap hobi dan
pekerjaan sebelumnya (anhedonia dan anenergi), tampak murung, dan sering
termenung . Bicara tenang dan spontan. Mood hipotim. Afek menurun dan serasi.
Tidak terdapat halusinasi, depersonalisasi maupun derealisasi pada gangguan
persepsi. Pada proses pikir, arus pikir terbatas dan kontinuitas adalah alogia dimana
pasien berbicara dalam jumlah yang sedikit dan miskin ide. Pada isi pikir, tidak
terdapat waham. Tilikannya derajat 6. Pada pemeriksaan status generalis tidak
ditemukan kelainan, hasil labotorium juga dalam batas normal


VII. FORMULIR DIAGNPASIENTIK
Aksis I
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini :
i. Termasuk gangguan jiwa karena adanya hendaya dan disfungsi serta gejala
kejiwaan berupa :
Mood yang depresif
Anhedonia
Anenergi
Tidur terganggu
Nafsu makan berkurang
Ide dan tindakan bunuh diri
Konsentrasi dan perhatian berkurang

ii. Gangguan ini sebagai Gangguan Mental Non Organik (GMNO) karena tidak
adanya :
Gangguan kesadaran
Gangguan defisit kognitif
Faktor organik spesifik
14


iii. GMNO ini termasuk dalam gangguan mood karena adanya gejala berupa :
Disforik
Ide dan tindakan bunuh diri

Menurut PPDGJ III, gejala-gejala yang dialami pasien termasuk dalam
kategori Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik.

Pembahasan :
Berdasarkan anamnesis didapatkan 3 gejala utama depresi yaitu disforik,
anhedonia dan anenergi dan tambahan 4 gejala lain yaitu nafsu makan
berkurang, gangguan tidur, konsentrasi berkurang dan ide serta tindakan
bunuh diri. Sesuai dengan kriteria, gejala pasien muncul lebih dari 2 minggu
serta pasien tidak mampu meneruskan kegiatan social atau urusan rumah
tangga.

Aksis II
- Tidak terdapat gangguan keperibadian dan retardasi mental.

Aksis III
- Tidak terdapat kelainan medis
Aksis IV
Terdapat masalah dalam ekonomi keluarga karena pasien tidak mempunyai
pekerjaan.
Aksis V
GAF 1-10 (gejala berat (serious), disabilitas berat).
Persistent danger of severely hurting self or others (e.g., recurrent violence)
OR persistent inability to maintain minimal personal hygiene
OR serious suicidal act with clear expectation of death


15

VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : F 32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
Aksis II : -
Aksis III : -
Aksis IV : Masalah pekerjaan dan masalah psikososial
Aksis V : GAF 1-10

IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam
Dubia ad bonam (Tidak ada tanda-tanda Pasien menderita gangguan mental
organik)

Quo ad functionam
Dubia ad bonam (pasien dapat menilai realitas dan mengetahui ide serta
tindakan bunuh diri adalah tidak baik)

Quo ad sanationam
Dubia ad bonam (pasien mempunyai tanggungjawab terhadap anak dan
mempunyai keluarga yang mendukung pasien.)

X. DAFTAR PROBLEM
Organobiologi
Tidak ada
Psikologik
Tidak ada
Spasieniobudaya
Penyebab stressor akibat masalah keluarga




16

XI. TERAPI
NON FARMAKOLOGI
1. Perawatan di Rumah Sakit
Pasien diindikasikan untuk dirawat di rumah sakit karena terdapat resiko bunuh
diri. Berdasarkan Kaplan-Sadock Sinopsis Psikiatri menyatakan indikasi jelas
untuk perawatan di rumah sakit adalah perlunya prosedur diagnostic, risiko bunuh
diri atau membunuh dan penurunan jelas kemampuan pasien untuk mendapatkan
makanan atau tempat berlindung. Riwayat gejala yang berkembang dengan cepat
dan hancurnya sistem pendukung pasien juga merupakan indikasi untuk
perawatan di rumah sakit.
2. Terapi Psikososial
a. Terapi kognitif
Tujuan terapi kognitif adalah menghilang episode depresif dan mencegah
rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif;
mengembangkan cara berpikir alternative, fleksibel dan positif; dan melatih
kembali respons dan perilaku yang baru.
b. Terapi interpersonal
Prinsip terapi adalah dengan memusatkan pada satu atau dua masalah
interpersonal sekarang dengan menggunakan dua anggapan: pertama, masalah
interpersonal sekarang kemungkinan memiliki akar pada hubungan awal yang
disfungsional. Kedua, masalah interpersonal sekarang kemungkinan terlibat
dalam mencetuskan atau memperberat gejala depresif sekarang. Program terapi
interpersonal biasanya terdiri dari 12 sampai 16 session mingguan.
c. Terapi perilaku
Terapi perilaku didasarkan pada hipotesis bahwa pola perilaku maladaptive
menyebabkan seseorang mendapatkan sedikit umpan balik positif dari masyarakat
dan kemungkinan penolakan palsu. Dengan memusatkan pada perilaku
maladaptive di dalam terapi, pasien belajar berfungsi di dunia dengan cara
tertentu dimana mereka mendapatkan dorongan positif.


17

d. Terapi keluarga
Terapi keluarga umumnya tidak dipandang sebagai terapi primer untuk
pengobatan gangguan depresif berat, tetapi semakin banyaknya bukti menyatakan
bahwa membantu seorang pasien dengan gangguan mood menurunkan stress dan
menerima stress dapat menurunkan kemungkinan relaps. Terapi keluarga
diindikasikan jika gangguan membahayakan perkahwinan atau fungsi keluarga
pasien atau jika gangguan mood adalah diperkembangkan atau dipertahankan oleh
situasi keluarga.

FARMAKOLOGI
1. Risperidone 2 x 2mg
Risperidone merupakan obat anti psikpasienis golongan atipikal disamping
berafinitas terhadap dopamine D2 receptors juga terhadap serotonin 5 HT2
receptors, dan merupakan antagonis kuat.
1,2
Walaupun dikatakan antagonis D2
kuat, kekuatannya jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan haloperidol.
Akibatnya, efek samping ekstra piramidalnya lebih rendah bila dibanding dengan
haloperidol. Aktivitasnya melawan gejala negatif dikaitkan dengan aktivitasnya
terhadap 5HT2 yang juga tinggi.
1

2. Trihexyphenidyl (THP) 2 x 2 mg
THP digunakan untuk mengobati simptom dari penyakit Parkinson atau
pergerakan involuntari (sindrom ekstra piramidal) yang merupakan efek samping
dari obat anti psikotik. THP ini merupakan golongan antikolinergik yang bekerja
memblok asetilkolin. Ini akan mengurangkan kaku, berkeringat berlebihan,
penghasilan air liur berlebihan dan ini akan membantu memperbaiki upaya orang
dengan penyakit Parkinson untuk berjalan. Namun, paling penting bagi penting
apabila adanya penggunaan obat anti psikotik adalah untuk mengurangkan efek
ekstra piramidal seperti kekakuan/rigiditas
.3
THP tidak boleh diberikan sebagai
profilaksis dan hanya boleh diberikan sesudah timbulnya gejala ekstra piramidal.
Namun, THP dapat diberikan pada pasien laki-laki yang mengalami malnutrisi.

18

3. Lorazepam (merlopam) 1 x 2 mg
Lorazepam termasuk dalam golongan benzodiazepin yang bekerja pada sistem
saraf pusat dan berfungsi untuk memberikan efek penenang. Obat ini bekerja pada
dengan cara meningkatkan efek dari GABA (gamma-aminobutyric acid A).
4
Mayoritas neurotransmiter yang melakukan inhibisi di otak adalah asam amino
GABA. Secara selektif reseptor GABA membiarkan ion klorida masuk ke dalam
sel, sehingga terjadi hiperpolarisasi neuron dan menghambat pelepasan transmisi
neuronal. Secara umum obat-obat antiansietas bekerja di reseptor GABA.
Benzodiazepin menghasilkan efek terapi degan cara pengikatan spesifik terhadap
reseptor GABA. Pada pasien ini, diberikan lorazepam karena pasien mempunyai
keluhan sulit untuk tidur.
1


4. Fluoxetine HCL (antiprestin) 1x20mg
National Institute of Care and Clinical Excellence (NICE) merekomendasikan
pengobatan antidepresan dengan SSRI dalam kombinasi dengan intervensi
psikososial sebagai pengobatan lini kedua untuk depresi ringan jangka pendek,
dan sebagai pengobatan lini pertama untuk depresi berat dan sedang, serta depresi
ringan yang berulang atau lama. The American Psychiatric Association juga
memilih Fluoxetine sebagai terapi antidepresi pilihan lini pertama untuk
pengobatan depresi, terutama ketika ada "sejarah respon positif sebelum
pemakaian obat antidepresan, kehadiran gejala sedang sampai berat, tidur atau
nafsu makan gangguan signifikan, agitasi, keinginan pasien, dan antisipasi
kebutuhan untuk terapi pemeliharaan.

19

DAFTAR PUSTAKA:

1. Kusumawardhani A, Husain A, Adikusumo A, Damping C, Brilliantina D,
Lubis B, et all. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universita Indonesia.
Buka Ajar Psikiatri. Jakarta 2010.
2. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi ketiga
2007.
3. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri, ilmu pengetahuan
perilaku psikiatri klinis. Binapura Aksara Publisher, Tangerang 2010.
4. WebMD. Trihexyphenidyl. Diunduh dari http://www.webmd.com/drugs/drug-
8720-trihexyphenidyl+oral.aspx. 14 Oktober 2013.
5. WebMD. Lorazepam. Diunduh dari http://www.webmd.com/drugs/mono-
5244-LORAZEPAM+-
+ORAL.aspx?drugid=8892&drugname=lorazepam+Oral. 14 Oktober 2013.

Anda mungkin juga menyukai