Anda di halaman 1dari 11

OBJEK V

PENENTUAN JUMLAH SEL LEUKOSIT

Tujuan praktikum

:

Mengetahui alat dan bahan yang digunakan untuk menghitung jumlah sel leukosit

Mengetahui cara menentukan jumlah sel leukosit dalam darah

Mengetahui jenis sel leukosit yang terdapat dalam darah

Membedakan setiap jenis sel leukosit antara yang satu dengan yang lain

Tinjauan Pustaka

:

Darah

Darah merupakan cairan yang mengalir dan bersirkulasi ke seluruh tubuhmelalui pembuluh darah dalam sistem kardiovaskular. Darah membawa berbagai kebutuhan hidup bagi semua sel-sel tubuh dan menerima produk buangan hasil metabolisme untuk disekresikan melalui organ ekskresi. Pemeriksaan hematologi pada hewan berfungsi sebagai screening test untuk menilai kesehatan secara umum, kemampuan tubuh melawan infeksi untuk evaluasi status fisiologis hewan dan untuk membantu menegakkan diagnosa Darah tersusun atas sel darah (eritrosit, leukosit dan trombosit) yang bersirkulasi dalam cairan yang disebut plasma. Jika darah diberi antikoagulan dan dilakukan sentrifugasi, maka dapat terlihat darah terdiri dari plasma 55% dan sel 45% yang terdiri dari leukosit, eritrosit dan trombosit. Jumlah leukosit lebih sedikit dibandingkan dengan eritrosit dan trombosit.Menurut Colville dan Bassert fungsi darah adalah sebagai sistem transportasi, sistem regulasi, dan sistem pertahanan. Sumsum tulang merupakan organ tempat dihasilkannya sel darah. Di dalam sumsum tulang terdapat sel yang disebut stem hemopoietik pluripoten yang akan berdiferensiasi menjadi sel induk khusus.Selanjutnya sel ini akanberdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel darah tertentu.

Leukosit Leukosit berasal dari bahasa Yunani yaitu leukos yang berarti putih dan kytos yang berarti sel. Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh yang terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit. Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih, bergerak bebas secara ameboid, berfungsi melawan kuman secara fagositosis, dibentuk oleh jaringan retikulo endothelium disumsum tulang untuk granulosit dan kelenjar limpha untuk agranulosit. Setelah dibentuk, sel-sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan. Fungsi leukosit adalah sebagai pertahanan tubuh untuk melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh.Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap organisme penyerang terutama dengan cara mencernanya, yaitu melalui fagositosis. Fungsi utama limfosit dan sel-sel plasma berhubungan dengan sistem imun yaitu produksi antibody. Kondisi yang berubah setiap saat akan mengakibatkan perubahan fisiologis yang akan berakibat juga pada perubahan nilai hematologi. Sebagai contoh, manusia yang terkena infeksi bakteri secara akut akan memperlihatkan perubahan suhu tubuh. Perubahan ini akibat aktivitas sistem kekebalan tubuh yang bekerja melawan agen penyakit. Jikadilihat dari nilai hematologi, jumlah leukosit dalam darah akan mengalami peningkatan. Respon leukosit muncul pada keadaan fisiologis

normal dan patologis.Manifestasi respon leukosit berupa penurunan atau peningkatan salahsatu atau beberapa jenis sel leukosit.Informasi ini dapat memberikan petunjuk terhadap kehadiran suatu penyakit dan membantu dalam diagnosa penyakit yang diakibatkan oleh agen tertentu .

Diferensiasi Leukosit

Diferensiasi leukosit sangat bermanfaat, tidak hanya untuk mengetahui persentase leukosit tetapi juga memberikan informasi patogenesa suatu abnormalitas.Pemeriksaan preparat ulas darah memberikan informasi lebih lanjut mengenai morfologi sel eritrosit, leukosit, dan trombosit.

Perbandingan jumlah eritrosit, leukosit dan trombosit dalam darah

Sel

Sel/µL (rata-rata)

Kisaran normal

Sel darah putih total

9000

4000-11000

Netrofil

5400

3000-6000

Eosinofil

275

150-300

Basofil

35

00-100

Limfosit

2750

1500-4000

Monosit

540

300-600

Eritrosit pada pria

5,4 x 10 6

 

Eritrosit pada wanita

4,8 x 10 6

 

Trombosit

300.000

200.000-500.000

Berdasarkan ada atau tidaknya granul dalam sitoplasma hasil pewarnaan, leukosit dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu granulosit dan agranulosit. Leukosit granulosit memiliki butir khas dan jelas dalam sitoplasma, sedangkan agranulosit tidak memiliki butir khas dalam sitoplasma.

Neutrofil Neutrofil disebut juga sebagai polimorfonuklear (PMN), karena inti memiliki berbagai jenis bentuk dan bersegmen (Tizard 2000).Neutrofil berupa sel bundar dengan diameter 12 µm, memiliki sitoplasma yang bergranula halus dan di tengah terdapat nukleus bersegmen. Neutrofil matang/dewasa yang berada dalam peredaran darah perifer memiliki bentuk inti yang terdiri dari dua sampai lima segmen, sedangkan neutrofil yang belum matang (neutrofil band) akan memiliki bentuk inti seperti ladam kuda. Menurut Junqueira dan Caneiro, neutrofil dikenal sebagai garis pertahanan pertama (first line of defense). Neutrofil bersama dengan makrofag memiliki kemampuan fagositosis untuk menelan organisme patogen dan sel debris. Neutrofil merupakan sistem imun bawaan, dapat memfagositosis dan membunuh bakteri. Neutrofil akan mengejar organisme patogen dengan gerakan kemotaksis. Kemampuan neutrofil untuk membunuh bakteri berasal dari enzim yang terkandung dalam granul yangdapat menghancurkan bakteri maupun virus yang sedang difagosit.Granul neutrofil tersebut sering disebut dengan lisosom. Neutrofil diproduksi di dalam sumsum tulang bersamaan dengan sel granulosit lainnya, kemudian bersirkulasi atau disimpan dalam depo marginal neutrofil setelah 4-6 hari masa produksi. Neutrofil segera akan mati setelah melakukan fagosit terhadap agen penyakit dan akan dicerna oleh enzim lisosom, kemudian neutrofil akan mengalami autolisis yang akan melepaskan zat-zat degradasi yang masuk ke dalam jaringan limfe. Jaringan limfe akan merespon dengan

mensekresikan histamin dan faktor leukopoietik yang akan merangsang sumsum tulang untuk melepaskan neutrofil muda untuk melawan infeksi. Penyakit yang disebabkan oleh agen bakteri, pada umumnya menyebabkan peningkatan jumlah neutrofil dan akan tampak neutrofil muda. Jumlah neutrofil di dalam darah dipengaruhi oleh tingkat granulopoiesis, laju aliran sel darah dari sumsum tulang, pertukaran antar sel di dalam sirkulasi dan depo marginal, masa hidup dalam sirkulasi dan laju aliran sirkulasi darah menuju jaringan.

Eosinofil Eosinofil merupakan nama yang diberikan oleh Ehrlich yang didasarkan pada afinitas sel terhadap pewarnaan anionik, seperti eosin. Menurut Weiss dan Wardrop (2010), sel ini memiliki kemampuan melawan parasit cacing, dan bersamaan dengan basofil atau sel mast sebagai mediator peradangan dan memiliki potensi untuk merusak jaringan inang.Eosinofil juga penting sebagai imunitas dapatan, bawaan, pembentukan jaringan, dan perkembangan biologi.Eosinofil adalah sel multifungsi yang memegang peranan fisiologis, dan merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif terhadap kompleks antigen dan antibodi. Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan darah dari pembekuan. Kortikosteroid akan menimbulkan penurunan jumlah eosinofil darah dengan cepat. Menurut Junqueira dan Caneiro (2005), eosinofil berdiameter 10-15 µm, inti bergelambir dua, sitoplasma dikelilingi butir-butir asidofil yang cukup besar berukuran 0.5- 1.0 µm, dengan jangka waktu hidup berkisar antara tiga sampai lima hari. Eosinofil berperan aktif dalam mengatur alergi akut dan proses perbarahan, investasi parasit, memfagosit bakteri, memfagosit antigen-antibodi kompleks, memfagosit mikoplasma dan memfagosit ragi.

Basofil

Proses pematangan basofil terjadi di dalam sumsum tulang dalam waktu sekitar 2.5 hari. Basofil akan beredar dalam aliran darah dalam waktu yang singkat (± 6 jam) tetapi dalam jaringan dapat hidup selama 2 minggu. Basofil akan masuk ke dalam jaringan sebagai respon terhadap inflamasi. Menurut Junqueira dan Caneiro (2005), basofil berdiameter 10-12 µm, dengan inti dua gelambir atau bentuk inti tidak beraturan.Granul basofil mengandung heparin, histamin, asam hialuron, kondroitin sulfat, seroton, dan beberapa faktor kemotaktik. Sel mast dan basofil berperan pada beberapa tipe reaksi alergi, karena tipe antibodi yang menyebabkan reaksi alergi, yaitu Immunoglobulin E (IgE) mempunyai kecenderungan khusus untuk melekat pada sel mast dan basofil (Guyton 2008). Bukti keterlibatan basofil dalam reaksi alergi yaitu timbulnya kondisi rinitis, urtikaria, asma, alergi,konjungtivitis, gastritis akibat alergi, dananafilaksis akibat induksi obat atau induksi gigitan serangga.

Monosit Monosit adalah leukosit berukuran terbesar, berdiameter 15-20 µm denganpopulasi berkisar antara 3-9% dari jumlah leukosit total. Sitoplasma monosit berwarna biru abu-abu pucat dan berinti lonjong seperti ginjal atau tapal kuda. Monosit dibentuk di sumsum tulang, dan setelah dewasa akan bermigrasi dari darah ke jaringan perifer. Monosit akan berdiferensiasi menjadi berbagai subtipe jaringan tergantung dari proses inflamasi yang terjadi. Makrofag di jaringan antara lain sel Kupfer, makrofag alveolar, sel mikroglia, dan osteoklas. Fungsi monosit adalah 1) membersihkan sel debris yang dihasilkan dari proses peradangan atau infeksi, 2) memproses beberapa antigen yang menempel pada membran sel limfosit menjadi lebih antigenik sehingga dapat mudah dicerna oleh monosit dan makrofag, 3) menghancurkan zat asing yang masuk ke dalam tubuh.

Limfosit Limfosit adalah leukosit jenis agranulosit yang mempunyai ukuran dan bentuk yang bervariasi.Limfosit merupakan satu-satunya jenis leukosit yang tidak memiliki kemampuan fagositik.Pengamatan pada sediaan ulas yang diwarnai, dapat dibedakan terhadap adanya limfosit besar dan limfosit kecil.Limfosit kecil berdiameter 6-9 µm, inti besar dan kuat mengambil zat warna, dikelilingi sedikit sitoplasma yang berwarna biru pucat.Limfosit besar berdiameter 12-15 µm, memiliki lebih banyak sitoplasma, inti lebih besar dan sedikit lebih pucat dibandingkan dengan limfosit kecil. Limfosit memiliki fungsi utama yaitu memproduksi antibodi sebagai respon terhadap benda asing yang difagosit makrofag (Tizard 2000). Kebanyakan sel limfosit berada pada jaringan limfoid dan akan bersirkulasi kembali secara konstan ke pembuluh darah. Limfosit dapat digolongkan menjadi dua yaitu limfosit B dan limfosit T. Sel limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang berperan dalam respon imunitas humoral untuk memproduksi antibodi, sedangkan limfosit T akan berperan dalam respon imunitas seluler.

Leukositosis Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lain- lain . Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.00030.000/µl. Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000 38.000 /µl. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500 11.000/µl. Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 10.000/µ1. Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/µl. Bila jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan, maka keadaan tersebut disebut leukositosis.Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik.Leukositosis yang fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang, takhikardi paroksismal, partus dan haid.Derajat peningkatan leukosit pada infeksi akut tergantung dari beratnya infeksi, usia, daya tahan tubuh, efisiensi sumsum tulang. Leukositosis yang terjadi sebagai akibat peningkatan yang seimbang dari masing- masing jenis sel, disebut balanced leokocytosis. Keadaan ini jarang terjadi dan dapat dijumpai pada hemokonsentrasi.Yang lebih sering dijumpai adalah leukositosis yang disebabkan peningkatan dari salah satu jenis leukosit sehingga timbul istilah neutrophilic leukocytosis atau netrofilia, lymphocytic leukocytosis atau limfositosis, eosinofilia dan basofilia. Leukositosis yang patologik selalu diikuti oleh peningkatan absolut dari salah satu atau lebih jenis leukosit.

Leukopenia Leukopenia adalah kondisi klinis yang terjadi bila sumsum tulang memproduksi sangat sedikit sel darah putih sehingga tubuh tidak terlindung terhadap banyak bakteri dan agen-agen lain yang mungkin masuk mengenai jaringan. Leukopenia terjadi karena berawal dari berbagai macam penyebab.Diantaranya adalah radiasi sinar X dan sinarɤ. Radiasi sinar X dan sinar ɤ (gamma) yang berlebihan serta penggunaan obat-obatan yang berlebihan, akan menyebabkan kerusakan sumsum tulang. Dengan rusaknya sumsum tulang, maka kemampuan sumsum tulang untuk memproduksi sel darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit) pun menurun (dalam kasus ini dikhususkan leukosit yang mengalami penurunan). Kondisi tersebut akhirnya akan mengakibatkan neutropenia (produksi neutrofil menurun), monositopenia (produksi monosit menurun), dan eosinopenia (produksi eosinofil menurun). Selain itu, jika seseorang mengidap penyakit immunodefisiensi, seperti HIV AIDS, maka virus HIV akan menyerang CD4 yang terdapat di limfosit T dalam sirkulasi perifer. Kondisi ini akan menyebabkan limfosit hancur sehingga

mengalami penurunan jumlah, yang disebut dengan limfopenia.Oleh karena penyebab- penyebab di atas yang berujung pada menurunnya jumlah komponen-komponen leukosi

Alat

:

Objek glass

Mikroskop

Pipet tetes

Kapas

Gunting

Lanset

Alat penghitung

Bahan

:

Darah vena

Methanol

Pewarna giemsa (1:20)

Air suling

Alkohol 70%

Larutan NaCl fisiologis

Prosedur

:

1.

Bersihkan jari manis bagian kiri dengan kapas yang telah dibasahi

2.

Tusuk dengan lanset dengan satu kali tusukan, tetesan pertama dibuang dan satu

tetesan selanjutnya diteteskan pada salah satu ujung dari objek glas.

3.

Ratakan dengan ujung objek glas yang lain dengan membentuk sudut 30 derajat,

lalu tarik dengan cepat dan tekanan sama, sehingga diperoleh lapisan darah yang

rata (metode hapus darah).

4.

Biarkan kering.

5.

Tetesi dengan methanol sehingga membasahi seluruh permukaan darah pada

objek glas, biarkan selama 5 menit.

6.

Tambahkan satu tetes larutan Giemsa (1:20), biarkan selama 20 menit.

7.

Cuci dengan air suling, keringkan dan lihat dibawah mikroskop dengan

pembesaran 1000 kali. Sel yang terlihat adalah sel neutrophil batang, neutrophil

sekmen, monosit, limfosit dan eusinofil.

8.

Hitung sel fagosit dengan total 100 sel, sehingga masing-masing jenis sel

leukosit dapat ditentukan secara persentase.

Hasil pengamatan

:

Hasil pengamatan : Jari ditusuk dengan lanset darah di teteskan di atas objek glas Tetesan darah

Jari ditusuk dengan lanset

Hasil pengamatan : Jari ditusuk dengan lanset darah di teteskan di atas objek glas Tetesan darah
Hasil pengamatan : Jari ditusuk dengan lanset darah di teteskan di atas objek glas Tetesan darah

darah di teteskan di atas objek glas

ditusuk dengan lanset darah di teteskan di atas objek glas Tetesan darah diratakan dengan ujung Objek

Tetesan darah diratakan dengan ujung Objek glas yang lain dengan membentuk sudut 30 0 sehingga diperoleh lapisan yang rata

sudut 30 0 sehingga diperoleh lapisan yang rata Setelah ditetesi dengan methanol dan pewarna giemsa dan
sudut 30 0 sehingga diperoleh lapisan yang rata Setelah ditetesi dengan methanol dan pewarna giemsa dan

Setelah ditetesi dengan methanol dan pewarna giemsa dan dikeringkan, sampel darah diamati pada mikroskop dengan pembesaran 1000 kali.

Pembahasan

:

Pada percobaan menghitung jumlah sel leukosit dalam darah vena dengan metode

apusan dan dilihat dibawah mikroskop, maka didapatkan hasil yang seperti gambar didalam

tabel dibawah ini :

     

% dalam

 

Tipe

Gambar

Diagram

tubuh

Keterangan

manusia

Neutrofil 65% Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil
Neutrofil 65% Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil

65%

Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberkan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah.

Eosinofil 4% Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan
Eosinofil 4% Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan

4%

Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit.

Basofil <1% Basofil terutama bertanggung jawab untuk member reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan
Basofil <1% Basofil terutama bertanggung jawab untuk member reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan

<1%

Basofil terutama bertanggung jawab untuk member reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan.

       

Limfosit lebih umum dalam system limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit:

Sel B: membuat antibodi yang mengikat pathogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibody sebagai layanan sistem 'memori'.)

Limfosit 25%  Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi
Limfosit 25%  Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi

25%

Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV) serta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD8+ (sitotoksik) dapat membunuh sel yang terinfeksi virus.

Sel natural killer: Sel pembunuh alami (natural killer, NK) dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi virus atau telah menjadi kanker.

 
Monosit   6% Monosit membagi fungsi "pembersih vakum" (fagositosis) dari neutrofil, tetapi lebih jauh

6%

Monosit membagi fungsi "pembersih vakum" (fagositosis) dari neutrofil, tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas tambahan: memberikan potongan pathogen kepada sel T sehingga pathogen tersebut dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat membuat tanggapan antibody untuk menjaga.

Makrofa (lihat di Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia meninggalkan aliran darah serta masuk ke
Makrofa (lihat di Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia meninggalkan aliran darah serta masuk ke

(lihat di

Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia meninggalkan aliran darah serta masuk ke dalam jaringan.

g

atas)

Kesimpulan

:

Menghitung leukosit dapat dilakukan dengan metode apusan dan sel leukosit dalam

darah vena dapat dihitung dengan alat haemocytometer.

Setelah darah vena dilihat di bawah mikroskop, maka akan terlihat jenis-jenis sel

leukosit dengan bentuk yang berbeda-beda.

Daftar Pustaka

:

Casolaro V, Spadaro G, Marone G.1990. Human basophil release ability: 6 changes in basophil release ability in patients with allergic rhinitis or bronchial-asthma. Am Rev Respir Dis 142: 1108 1111.

Colville T, Bassert JM. 2008. Clinical Anatomy & Physiology for Veterinary Technician. Missouri: Elsevier.

Dellman HD, Brown EM. 1992. Histologi veteriner. Jakarta: UI Press.

Ganong WF. 2003.

EGC. Terjemahan dari: Review of Medical Physiology.

Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

Guyton AC. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Terjemahan dari: Textbook of Medical Physiology.

Hirsch JG , Hirsch BI. 1980. Paul Ehrlich and the discovery of the eosinophil.The Eosinophil in Health and Disease. New York: Grune and Stratton.

Hoffbrand, AV. 2005. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Jain NC. 1993.Essential of Veterinary Hematology. Philadelphia: Lea and Febiger

Junqueira LC, Caneiro J. 2005. Basic Histology Text & Atlas. USA: The Mc Graw-Hill Companies

Lee WL, Harrison RE, Grinstein S. 2003. Phagocytosis by meutrophils.MicrobInfect 5:1299 1306.

Meyer DJ, Harvey JW. 2004. Veterinary Laboratory Medicine: Interpretation and Diagnosis. St. Louis: Saunders.

Miale JB. 1972. Laboratory Medicina Hematology.St. Louis: The C.V. Mosby Companya

Mills J. 1998. Interpreting blood smears (or What blood smears are trying to tell you!). Aust Vet J 76: 596 600.

Sharma SD. 1986. The macrophage. J Allergy Clin Immunol 6:1 27.

Simmons A. 1976. Technical Hematology. Toronto: J.B. Lippincott Co.

Theml, Harald, et. al. 2004.Color Atlas of Hematology. Germany: Thieme

Tizard I. 2000. Veterinary Immunology An Introduction. Ed ke-6. Philadelphia: WB Saunders Company.

Turgeon, Mary Louise. 2011.Clinical Hematology Theories and Procedures. Maryland:

Lippincott Williams & Wilkins

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan.2009

Weiner OD, Servant G, Welch MD, Mitchison TJ, Sedat JW, Bourne HR. 1999. Spatial control of actin polymerization during neutrophil chemotaxis. NatCell Biol 1: 75 81.

Weiss DJ, Wardrop KJ. 2010. Schalm’s Veterinary Hematology. USA: Blackwell Publishing Ltd.