Anda di halaman 1dari 5

PEMERIKSAAN FISIK SISTEM INTEGUMEN

Anatomi dan Fisiologi Integumen


Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ terberat
dan terbesar dari tubuh. Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai macam
gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme
biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus keratinisasi dan pelepasan
sel-sel kulit ari yang sudah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan
keringat serta pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultra violet
matahari.


Gambar I. Anatomi Integumen

Kulit tersusun dari tida apisan, yaitu: epidermis, dermis, dan jaringan subkutan.
Epidermis
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng
bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Fungsi epidermis adalah
proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel,
pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). Epidermis terdiri atas lima
lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) :
1. Stratum Korneum. Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti.
2. Stratum Lusidum. Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan
telapak tangan.
3. Stratum Granulosum. Mengandung protein kaya akan histidin.
4. Stratum Spinosum. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap
filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan
melindungi terhadap efek abrasi.
5. Stratum Basale (Stratum Germinativum). Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan
bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. pidermis diperbaharui
setiap 28 hari. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit.

Dermis
Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai True Skin. Terdiri
atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan
subkutis. Dermis terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat
jarang, dan lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat. Fungsi dermis adalah struktur
penunjang, suplai nutrisi dan respon inflamasi.
Jaringan Subkutan
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini
terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya.
Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi. Fungsi Subkutis /hipodermis
adalah melekat ke struktur dasar, isolasi panas dan cadangan kalori.

Fungsi Kulit
Brunner dan Suddarth (2002) membagi fungsi kulit ke dalam enam fungsi, yaitu fungsi
perlindungan, fungsi sensibilitas, fungsi keseimbangan air, fungsi pengatur suhu, dan fungsi
prodeksi vitamin.
Perlindungan
Kulit memberikan perlindungan invasi bakteri dan benda asing lainnya. Bagian sternum korneum
epidermis meripakan barrier yang paling efektif terhadap berbagai faktor lingkungan, seperti zat-
zat kimia, sinar matahari, virus, fungus, gigitan serangga, luka karena gesekan angin, dan
trauma. Lapisan dermis kulit memberikan kekuatan mekanis dan keuletan lewat jaringan ikat
fibrosa dan serabut kolagennya. Serabut elastic dan kolagen yang saling berjalin dengan
epidermis memungkinkan kulit untuk berperilaku sebagai satu unit.
Sensibilitas
Fungsi utama reseptor pada kulit adalah untuk mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan yang
ringan dan tekanan. Berbagai ujung saraf bertanggung jawab untuk bereaksi terhadap stimuli
yang berbeda.
Keseimbangan Air
Stratum korneum memiliki kemampuan untuk menyerap air sehingga lapisan tersebut dapat
mencegah kehilangan air dan elektrolit yang berlebihan dari bagian internal tubuh dan
mempertahankan kelembaban dalam jaringan subkutan. Selain itu, kulit juga akan mengalami
evaporasi secara terus-menerus dari permukaan kulit. Evaporasi ini yang dinamakan perspirasi
tidak kasat mata (insensible perspiration) berjumlah kurang-lebih 600 ml per hari untuk orang
dewasa yang normal. Pada penderita demam, kehilangan ini dapat meningkat. Ketika terendam
dalam air, kulit dapat menimbun air tiga sampai empat kali berat normalnya.
Pengatur Suhu
Tubuh secara terus menerus akan menghasilkan panas sebagai proses metabolisme makanan
yang memproduksi energi. Tiga proses fisik yang penting terlibat dalam kehilangan panas dari
tubuh ke lingkungan, yaitu radiasi (perpindahan panas ke banda lain yang suhunya lebih panas),
konduksi (pemindahan panas dari tubh ke benda lain yang lebih dingin), dan konveksi
(pergerakkan massa molekul udara hangat yang meninggalkan tubuh). Dalam kondisi normal,
produk panas dari metabolism akan diimbangi oleh kehilangan panas, dan suhu internal tubuh
akan dipertahankan agar tetap konstan pada suhu kurang-lebih 37oC. Pengeluaran keringat
merupakan proses lainnya yang digunakan tubuh untuk mengatur laju kehiangan panas. Pada
hawa lingkungan yang sangat panas, laju produksi keringat dapat setinggi 1 L/jam. Dalam
keadaan tertentu, misalnya pada stress emosional, perspirasi dapat terjadi secara refleks dan
tidak ada hubungannya dengan keharusan untuk menghilangkan panas dari tubuh.
Produksi Vitamin
Kulit yang terpajan sinar ultraviolet dapat mengubah substansi yang diperlukan untuk
mensintesis vitamin D. Vitamin D merupakan unsur esensial untuk mencegah penyakit riketsia,
suatu keadaan yang terjadi akibat defisiensi vitamin D, kalsium serta fosfor dan yang
menyebabkan deformitas tulang (Morton, 1993 dalam Brunner and Suddarth, 2002).
Fungsi Respons Imun
Hasil-hasil penelitian terakhir (Nicholoff, 1993 dalam Brunner dan Suddarth, 2002) menunjukkan
bahwa beberapa sel dermal (sel-sel Langerhans, IL-1 yang memproduksi keratinosit, dan sub
kelompok limfosit-T) merupakan komponen penting dalam sistem imun.

Pemeriksaan Fisik
Teknik pengkajian penting untuk mengevaluasi integumen yang mencakup teknik inspeksi dan
palpasi.
Inspeksi
1. Warna / adanya perubahan pigmentasi
Warna kulit di setiap bagian seharusnya sama, kecuali jika ada peningkatan vaskularisasi.
Variasi normal warna kulit antara lain:
Variasi normal Deskripsi
1. Tahi lalat Kecoklatan coklat tua, bisa datar atau sedikit menonjol
2. Stretch mark (striae) Keputihan atau pink, dapat disebabkan karena berat yang berlebih atau
kehamilan.
3. Freckles (bintik-bintik di tubuh) Datar dimanapun bagian tubuh.
4. Vitiligo Area kulit tak terpigmentasi, prevalensi lebih pada orang kulit gelap.
5. Tanda lahir Umumnya datar, warnanya bisa kecoklatan, merah, atau coklat.

Warna kulit yang abnormal yaitu kekuningan atau jaudis. Hal ini dapat mengindikasikan
terjadinya kelainan fungsi hati atau hemolisis sel darah merah. Pada orang berkulit gelap,
jaundis terlihat sebagai warna kuning-hijau pada sklera, telapak tangan, dna kaki. Pada orang
berkulit cerah, jaundis terlihat berwarna kuning pada kulit, sklera, bibir, palatum, dan dibawah
lidah.
Warna kulit abnormal lainnya yaitu eritema. Eritema dimanifestasikan sebagai kemerahan pada
orang berkulit cerah dan coklat atau ungu pada orang berkulit gelap. Hal ini mengindikasikan
peningkatan temperatur kulit karena inflamasi (proses vaskularisasi jaringan).

2. Adanya lesi
Lesi pada kulit dideskripsikan dengan warnanya, bentuk, ukuran, dan penampilan umum. Selain
itu batas luka apakah luka datar, menonjol juga harus dicatat.
Tipe Lesi Kulit Deskripsi
Blister Adanya cairan vesikel terisi atau bullae
Bulla Blister lebih dari 1 cm.
komedo Karena dilatasi pori-pori
Crust (kerak) Eksudat kering yang merusak epitel kulit,
Cyst (kista) Semisolid atau masa berisi cairan, enkapsulasi pada lapisan kulit yang lebih dalam.
Deskuamasi Peluruhan atau hilangnya debris pada permukaan kulit.
Erosi Kehilangan epidermis, dapat dikaitakan dengan vesikel, bulae, atau pustula.
Eksoriasi Erosi epidermal n=biasanya karena peregangan kulit.
Fissura Retak pada epidermis biasanya sampai ke dermis
Makula Area datar pada kulit dengan diskolorisasi, diameter kurang dari 5 mm.
Nodul Solid, peningkatan lesi atau masa, diameter 5 mm- 5 cm
Papula Solid, peningkatan lesi dengan diameter kurang dari 5 mm
Plaque Timbul, lesi datar diameter lebih besar dari 5 mm
Pustula Papula berisi eksudat purulen
Scale Debris kulit pada permukaan epidermis
Tumor Masa padat, diameter lebih besar dari 5 cm, biasanya berlanjut ke dermis.
Ulserasi Kehilangan epidermis, berlanjut sampai dermis atau lebih dalam.
berhubungan dengan reaksi makanan dan obat.Urticaria Timbul wheal seperti lesi
Vesikel Lesi terisi sedikit cairan, diameter kurang dari 1 cm
Wheal Transient, timbul, pink, tidak rata dengan edema disekitarnya.
Tabel Jenis-Jenis Lesi

Lesi vaskular mencakup petekie, purpura dan ekimosis (berdasarkan ukurannya).
Petekie
Purpura
Ekimosis

3. Adanya ruam
Munculnya ruam kulit mengindikasikan adanya infeksi atau reaksi obat. Beberapa jenis ruam
dapat dilihat pada tabel diatas. Keberadaan ruam berhubungan dengan perubahan farmako
terapi yang penting untuk membantu identifikasi adanya reaksi hipersensitivitas alergi.
Perkembangan urtikaria terjadi karena adanya reaksi obat atau makanan. Infeksi kulit dapat
disebabkan oleh jamur atau ragi. Misalnya infeksi oleh Candida Albicans yang meninvasi
jaringan yang lebih dalam.


4. Kondisi rambut
Kuantitas, kualitas, distribusi rambut perlu di catat. Kulit kepala seharusnya elastis dan
terdistribusi rambut merata. Alopesia berhubungan dengan adanya kehilangan rambut dan
menyebar, merata, dan lengkap, biasanya dikarenakan terapi obat seperti kemoterapi. Hirsutism
atau meningkatnya pertumbuhan rambut pada wajah, tubuh, atau pubis merupakan salah satu
penemuan abnormal. Hal ini dapat ditemukan pada wanita menopause, gangguan endokrin, dan
terapi obat tertentu (kortikosteroid, androgenik).

5. Kondisi kuku
Kuku seharusnya berwarna pink dengan vaskularisasi yang baik dan dapat dilakukan tes kapilari
refil. Kuku yang membiru dan keunguan dapat mengindikasikan terjadinya sianosis. Jika
warnanya pucat, bisa saja terjadi penurunan aliran darah ke perifer. Ketika ditemukan adanya
clubbing, sudut kuku 180, mengindikasikan adanya hipoksia kronik.
pada sirosis, gagal jantung, dan DM tipe II.Terrys nail
defisiensi zat besi. anemia Kuku berwarna keputihan dengan bagian distal berwarna coklat
kemerahan gelap. Koilonychias

defisiensi zinc. defisiensi protein. adanya spot putih pada kukuadanya garis garis tipis pada
kuku

catat bau badan dan adanya bau pada pernapasan, berhubungan erat dengan kualitas
perawatan diri klien.6. Bau

Palpasi
palpasi kelembutan permukaan kulit. Kulit kasar terjadi pada pasien hipitiroidisme.1. Tekstur
2. Kelembaban
Dideskripsikan dengan kering, berminyak, berkeringat, atau lembab. Kulit berminyak dengan
jerawat dan dengan peningkatan aktivitas kelenjar minyak dna pada penyakit parkinson.
Diaforesis sebagai respon meningkatnya suhu atau melabolisme tubuh. Hiperhidrosis istilah
terhadap perspirasi berlebihan.
3. Temperatur
4. Mobilitas dan turgor
Ketika mengkaji secara terpusat, diatas klavikula, kulit seharusnya mudah untuk dicubit, dan
cepat kembali ke posisi awal. Mobilitas kulit menurun pada scleroderma atau pada pasien
dengan peningkatan edema. Turgor kulit menurun pada pasien dehidrasi.
nonpitting atau pitting edema5. Edema
Nonpitting edema, tidak terdepresi dengan palpasi, terlihat pada pasien dengan respon inflamasi
lokal dan disebabkan oleh kerusakan endotel kapiler. Kulit terlihat merah, keras, dan hangat.
Pitting edema biasanya pada kulit ekstremitas dan dapat menimbulakan depresi ketika dilakukan
palpasi.
Skala (1+ to 4+) Pengukuran Deskripsi Waktu kembali
/4 2 mm Nyaris dapat terdeteksi Segera1
/4 4 mm Pitting Lebih dalam Beberapa detik2
/4 6 mm Pitting dalam 10-20 detik3
4+/4 10 mm Sangat dalam >20 detik
Tabel Skala Pitting Edema

Pengkajian kulit pada lansia
Terjadi kehilangan jaringan lemak bawah kulit dan penurunan vaskularisasi lapisan dermis
memicu penipisan kulit, keriput, kehilangan turgor kulit dan actinic purpura.
Terpapar matahari dalam waktu lama memicu kulit menguning dan menebal dan
perkembangan solar lentigo.
Menurunnya aktivitas kelenjar sebase dan kelenjar keringat memicu pengelupasan kulit dan
kekeringan.
Menurunnya melanin menyebabkan rambut menjadi abu-abu putih.
Menurunnya kadar hormon menyebabkan penipisan rambut kepala.
Penurunan sirkulasi perifer menyebabkan pertumbuhan yang lambat pada kuku dan kuku
menjadi rapuh

Referensi:
Davenport, Joan. Patient Assessment:Integumentary System Chapter 51.
http://connectiondev.lww.com/Products/morton/documents/pdfs/morton_ch51.pdf (diunduh pada
28 November 2010)
__________. Physical Assessment - Chapter 2 Integumentary System.
http://nursinglink.monster.com/training/articles/297-physical-assessment---chapter-2-
integumentary-system