Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KELOMPOK

Orthodonti I
1
MAKALAH
DISKUSI I
ORTHODONTI I





Dosen Pembimbing : drg.Yenita Alamsyah,M.Kes , drg. Edrizal,Sp.Ort, Drg. Kornialia

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1


UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PADANG
2013
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
2
Lamiran Anggota Kelompok
1. M. Taufiq Handani N 10 036
2. Oka Indra Sakti 002
3. Dini Fitri 004
4. Jeffry Kurniawan 006
5. Muhammad Ridho Saputra 008
6. Akbar Fitrio 010
7. Irma Susanti 012
8. Helni Rahma Yulia 014
9. Mega Rahmawati 016
10. Mega Afriyani 018
11. Muhammar Qadafi 020
12. Risa Nanda 022
13. Niwa Hafrina 024
14. Rezki Alfurqan 026
15. Sovia Herlina 028
16. Fiani Ramayesa 030
17. Idola Putri Mahlinda 032
18. Rizki Andarini 034
19. Abdul Ghani 036
20. Dilla Putri Annesa 038
21. Yona Al Izz Iffah Talca 040
22. Awal Saputra 042
23. Ade Syaifullah Amin 044
24. Ellisa Novi Eldon 046




MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
3
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah S.W.T yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Perkembangan Oklusi , dengan rahmat-Nya
kami sebagai penulis bisa menulis makalah ini, apabila tidak ada rahmat-Nya maka penulisan makalah ini
tidak bisa terlaksana dengan baik.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang telah
membawa kita dari alam kebodohan serta bahkan alam kegelapan dan menuju ke alam yang berilmu
pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini. Dengan adanya pejuang masa depan ini kita dapat
memperoleh ilmu yang memadai pada masa kita sekarang ini.
Serta dalam penulisan makalah ini banyak pihak-pihak yang terkait dalam menulis makalah ini
serta penulis mengucapkan terima kasih banyak terhadap pihak pihak yang terkait antara lain :
1. Dosen pembimbing bidang studi Orthodonti I yang telah memberikan arahan.
2. Teman teman yang telah ikut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini.
Suatu karya tulis tidak ada yang sempurna, karena yang sempurna itu adalah Allah SWT, dengan
hal itu sebagai penulis meminta maaf apabila ada penulisan nama atau hal-hal yang janggal di telinga atau
ucapan penulis yang salah. Semoga makalah yang ditulis ini bisa bermanfaat dengan baik, dan digunakan
apabila diperlukan.


Padang, April 2013

Penulis


MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
4
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 3
DAFTAR ISI 4
BAB I. PENDAHULUAN 5
1. Latar Belakang 5
2. Batasan Masalah 6
3. Tujuan Khusus 6
4. Tujuan Umum 7
5. Manfaat 7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 8
1. Pengertian Oklusi 8
2. Fungsi Oklusi dan Perkembangan Oklusi 9
3. Macam Macam Oklusi 10
BAB III. PERKEMBANGAN OKLUSI PADA PERIODE GIGI GELIGI,
CAMPURAN, PERMANEN 12
1. Periode Gigi Geligi 12
2. Periode Gigi Bercampur 13
3. Periode Gigi Permanen 14

BAB IV. PENUTUP 17
1. Kesimpulan 17
2. Saran 17

DAFTAR PUSTAKA 18



MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
5
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Oklusi adalah perubahan hubungan permukaan gigi geligi pada maksila dan mandibula,
yang terjadi selama pergerakan mandibula dan berakhir dengan kontak penuh dari gigi geligi
pada kedua rahang. Oklusi terjadi karena adanya interaksi antara dental system, skeletal system
dan muscular system. Oklusi gigi geligi bukanlah merupakan keadaan yang statis selama
mandibula bergerak, sehingga ada bermacam-macam bentuk oklusi, misalnya : sentrik, eksentrik,
habitual, supra-infra, mesial distal, lingual. dsb. Dikenal dua macam istilah oklusi yaitu :
1. Oklusi ideal adalah merupakan suatu konsep teoritis oklusi yang sukar atau bahkan
tidak mungkin terdapat pada manusia.
2. Oklusi normal adalah suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada
rahang sama dan rahang yang berlawanan, apabila gigi dikontakan dan kondilus
berada dalam fosa glenoidea.
Selain itu istilah maloklusi, yaitu yang menyangkut hal-hal diluar oklusi normal. Pada oklusi
normal masih memungkinkan adanya beberapa variasi dari oklusi ideal yang secara fungsi
maupun estetik masih dapat diterima/memuaskan. Ada 2 tahap oklusi pada manusia :
1. Perkembangan gigi geligi susu.
2. Perkembangan gigi geligi permanen (rssm.iwarp.com).
Oklusi berasal dari kata occludere yang mempunyai arti mendekatkan dua permukaan yang
berhadapan sampai kedua pemukaan tersebut saling kontak. Secara teoritis, oklusi didefinisikan
sebagai kontak antara gigi-geligi yang saling berhadapan secara langsung (tanpa perantara)
dalam suatu hubungan biologis yang dinamis antara semua komponen sistem stomato-gnatik
terhadap permukaan gigi-geligi yang berkontak dalam keadaan berfungsi berkontak dalam
keadaan berfungsi.
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa oklusi bukanlah merupakan suatu
proses statik yang hanya dapat diketahui bila seseorang penutup mulut sampai gigi geliginya
dalam keadaan kontak. Tetapi, kita harus pula memahami bahwa selain faktor gigi-geligi masih
ada faktor lain yang ikut terlibat dalam proses tersebut. Beberapa ahli menyatakan bahwa oklusi
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
6
dibentuk oleh suatu sistem struktur yang terintegrasi antara sistem otot-otot mastikasi dan sistem
neuromuskuler sendi temporomadibular dan gigi-geligi (Hamzah, Zahseni; dkk).
Dari aspek sejarah perkembangannya, dikenal tiga konsep dasar oklusi yang sejauh ini
diajarkan dalam pendidikan kedokteran gigi.
Pertama, konsep oklusi seimbang (balanced occlusion) yang menyatakan suatu oklusi baik
atau normal, bila hubungan antara kontak geligi bawah dan geligi atas memberikan tekanan yang
seimbang pada kedua rahang, baik dalam kedudukan sentrik maupun eksentrik.
Kedua, konsep oklusi morfologik (morphologic occlusion) yang penganutnya menilai baik-
buruknya oklusi melalui hubungan antar geligi bawah dengan lawannya dirahang atas pada saat
geligi tersebut berkontak.
Ketiga, konsep oklusi dinamik/individual/fungsional (dinamic)/individual/functional
occlusion). Oklusi yang baik atau normal harus dilihat dari segi keserasian antara komponen-
komponen yang berperan dalam proses terjadinya kontak antar geligi tadi. Komponen-komponen
ini antara lain ialah geligi dan jaringan ini antara lain ialah geligi dan jaringan penyangganya,
otot-otot mastikasi dan sistem neuromuskularnya, serta sendi temporo mandibula. Bila semua
struktur tersebut berada dalam keadaan sehat dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik,
maka oklusi tersebut dikatakan normal (Gunadi, Haryanto A; dkk).

1.2 Batasan Masalah

Adapun Batasan masalah yang akan di uraikan adalah sebagai berikut :

1. Pengertian Oklusi
2. Bagaimana Perkembangan Oklusi Gigi Geligi dan Gigi Permanen.

1.3 Tujuan Umum
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
7
Dalam makalah ini penulis mempunyai tujuan umum yang ingin dicapai untuk
kesempurnaan pembahasan makalah ini, adapun tujuan umum dari makalah ini adalah
bagaimana seorang mahasiswa bisa mengetahui secara garis besar tentang perkembangan oklusi.
1.4 Tujuan Khusus
Dalam makalah ini, juga mempunyai tujuan khusus antara lain :
1. Memberikan wawasan dalam perkembangan oklusi.
2. Memberikan pengetahuan tentang ilmu orthodonti tentang bagaimana
perkembangan oklusi gigi permanen dan gigi geligi.

1.5 Manfaat
Adapun manfaat dari dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa mengetahui pengertian oklusi.
2. Mahasiswa mengetahui bagaimana perkembangan oklusi.










MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Oklusi
Menurut Huges dan Meyers (1972), oklusi adalah hubungan permukaan oklusal
pada saat geligi rahang atas dan bawah saling bersentuhan termasuk juga adanya persentuhan
gigi yang berlawanan pada relasi static.
Menurut Thomson (1975) dan Muhleman (1976), oklusi adalah adanya persentuhan gigi
yang membuat seimbangnya mandibula pada waktu menelan makanan.
Menurut Ash dan Ramfjord (1982) , oklusi adalah adanya hubungan oklusi yang meliputi
keadaan oklusi fungsional, oklusi parafungsional, dan oklusi disfungsional yang menyatu dengan
tatanan (sistem ) pengunyahan, ruas ( komponen) gigi dan jaringan penunjangnya, sendi
temporomandibular serta komponen tatanan persarafototan (neuromuskular)
Jadi, secara umum, oklusi adalah adanya perubahan hubungan permukaan gigi geligi
pada maksila dan mandibula, yang terjadi selama pergerakan mandibula dan berakhir dengan
kontak penuh dari gigi geligi pada kedua rahang.
Oklusi terjadi karena adanya interaksi antara dental system, skeletal system dan muscular
system. Oklusi gigi geligi bukanlah merupakan keadaan yang statis selama mandibula bergerak,
sehingga ada bermacam-macam bentuk oklusi, misalnya : centrik, excentrik, habitual, supra-
infra, mesial, distal, lingual dan sebagainya. Oklusi merupakan fenomena kompleks yang terdiri
dari gigi geligi, ligamen periodontal, rahang, sendi temporomandibular, otot dan sistem saraf.
Oklusi mempunyai dua aspek dimana aspek yang pertama dalam statis yang mengarah
kepada bentuk, susunan, artikulasi gigi geligi serta hubungan antara gigi geligi dengan jaringan
penyangga. Aspek yang kedua adalah dinamis yang mengarah kepada fungsi sistem
stomatonagtik yang terdiri dari gigi geligi, jaringan penyangga, sendi temporomandibular, sistem
neuromuskular dan nutrisi.

MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
9
2.2 Fungsi Oklusi dan Perkembangan Oklusi
Oklusi berasal dari kata occludere yang mempunyai arti mendekatkan dua permukaan yang
berhadapan sampai kedua pemukaan tersebut saling kontak. Secara teoritis, oklusi didefinisikan
sebagai kontak antara gigi-geligi yang saling berhadapan secara langsung (tanpa perantara)
dalam suatu hubungan biologis yang dinamis antara semua komponen sistem stomato-gnatik
terhadap permukaan gigi-geligi yang berkontak dalam keadaan berfungsi berkontak dalam
keadaan berfungsi.
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa oklusi bukanlah merupakan suatu
proses statik yang hanya dapat diketahui bila seseorang penutup mulut sampai gigi geliginya
dalam keadaan kontak. Tetapi, kita harus pula memahami bahwa selain faktor gigi-geligi masih
ada faktor lain yang ikut terlibat dalam proses tersebut. Beberapa ahli menyatakan bahwa oklusi
dibentuk oleh suatu sistem struktur yang terintegrasi antara sistem otot-otot mastikasi dan sistem
neuromuskuler sendi temporomadibular dan gigi-geligi (Hamzah, Zahseni; dkk).
Dari aspek sejarah perkembangannya, dikenal tiga konsep dasar oklusi yang sejauh ini diajarkan
dalam pendidikan kedokteran gigi.
Pertama, konsep oklusi seimbang (balanced occlusion) yang menyatakan suatu oklusi baik
atau normal, bila hubungan antara kontak geligi bawah dan geligi atas memberikan tekanan yang
seimbang pada kedua rahang, baik dalam kedudukan sentrik maupun eksentrik.
Kedua, konsep oklusi morfologik (morphologic occlusion) yang penganutnya menilai baik-
buruknya oklusi melalui hubungan antar geligi bawah dengan lawannya dirahang atas pada saat
geligi tersebut berkontak.
Ketiga, konsep oklusi dinamik/individual/fungsional (dinamic)/individual/functional
occlusion). Oklusi yang baik atau normal harus dilihat dari segi keserasian antara komponen-
komponen yang berperan dalam proses terjadinya kontak antar geligi tadi. Komponen-komponen
ini antara lain ialah geligi dan jaringan ini antara lain ialah geligi dan jaringan penyangganya,
otot-otot mastikasi dan sistem neuromuskularnya, serta sendi temporo mandibula. Bila semua
struktur tersebut berada dalam keadaan sehat dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik,
maka oklusi tersebut dikatakan normal (Gunadi, Haryanto A; dkk).
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
10
2.3 Macam Macam Oklusi

Oklusi ideal : Adalah merupakan suatu konsep teoritis oklusi yang sukar atau bahkan tidak
mungkin terjadi pada manusia.
Oklusi fungsional gerakan fungsional dari mandibula shg menyebabkan kontak antar gigi geligi
Oklusi normal : Adalah suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada rahang yang
sama dan rahang yang berlawanan, apabila gigi geligi dikontakkan dan condylus berada dalam
fossa glenoidea.

Oklusi gigi-gigi secara normal dapat dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu
1. Oklusi statik merupakan hubungan gigi geligi rahang atas (RA) dan rahang bawah
(RB) dalam keadaan tertutup atau hubungan daerah kunyah gigi-geligi dalam
keadaan tidak berfungsi (statik), dan.
2. Oklusi dinamik merupakan hubungan antara gigi geligi RA dan RB pada saat
seseorang melakukan gerakan mandibula ke arah lateral (samping) ataupun kedepan
(antero-posterior).
Pada oklusi statik, hubungan cusp fungsional gigi geligi posterior (premolar) berada pada
posisi cusp to marginal ridge dan cusp fungsional gigi molar pada posisi cusp to fossa. Sedang
pada hubungan gigi anterior dapat ditentukan jarak gigit (overjet) dan tinggi gigit (overbite)
dalam satuan milimeter (mm). Jarak gigit (overjet) adalah jarak horizontal antara incisal edge
gigi incisivus RA terhadap bidang labial gigi insisivus pertama RB. Dan tinggi gigit (overbite)
adalah jarak vertikal antara incisal edge RB sampai incisal edge RA.
Oklusi dinamik timbul akibat gerakan mandibula ke lateral, kedepan (anterior) dan
kebelakang (posterior). Oklusi yang terjadi karena pergerakan mandibula ini sering disebut
artikulasi. Pada gerakan ke lateral akan ditemukan sisi kerja (working side) yang ditunjukan
dengan adanya kontak antara cusp bukal RA dan cusp molar RB; dan sisi keseimbangan
(balancing side). Working side dalam oklusi dinamik digunakan sebagai panduan oklusi (oklusal
guidance), bukan pada balancing side.
Kontak gigi geligi karena gerakan mandibula dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
11
1. Intercupal Contact Position (ICP), adalah kontak maksimal antara gigi geligi
dengan antagonisnya.
2. Retruded Contract Position (RCP), adalah kontak maksimal gigi geligi pada saat
mandibula bergerak lebih ke posterior dari ICP, namun RB masih mampu
bergerak secara terbatas ke lateral.
3. Protrusif Contact Position (PCP) adalah kontak gigi geligi anterior pada saat RB
digerakkan ke anterior.
4. Working Side Contact Position (WSCP) adalah kontak gigi geligi pada saat RB
digerakan ke lateral
Selain klasifikasi diatas, secara umum pola oklusi akibat gerakan RB dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Bilateral balanced occlusion, bila gigi geligi posterior pada kerja dan sisi
keseimbangn, keduanya dalam keadaan kontak;
2. Unilateral balanced occlusion. Bila gigi geligi posterior pada sisi kerja kontak
dan sisi keseimbangan tidak kontak;
3. Mutually protected occlusion. Dijumpai kontak ringan pada gigi geligi anterior,
sedang pada gigi posterior tidak kontak;
4. Tidak dapat ditetapkan, bila tidak dapat dikelompokkan dalam klasifikasi diatas
(Hamzah, Zahreni; dkk).







MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
12
BAB III
PERKEMBANGAN OKLUSI PADA PERIODE GIGI GELIGI, CAMPURAN, PERMANEN
3.1 Periode Gigi Sulung
Pertumbuhan dan perkembangan dari gigi geligi seperti halnya organ lainnya telah
dimulai sejak 4 5 bulan dalam kandungan. Pada waktu lahir, maksila dan mandibwula
merupakan tulang yang telah dipenuhi oleh benih-benih gigi dalam berbagai tingkat
perkembangan. Tulang alveolar hanya dilapisi oleh mucoperiosteum yang merupakan bantalan
dari gusi.
Pada saat lahir, tulang maksila dan mandibula terlihat mahkota gigi-gigi sulung telah
terbentuk dan mengalami kalsifikasi, sedangkan benih gigi-gigi tetap masih berupa tonjolan
epitel. Pada umur 6 7 bulan telah terjadi erupsi dari gigi sulung dan pada umur 12 bulan gigi
insisif pada maksila dan mandibula telah erupsi. Pada umur 2 3 tahun semua gigi sulung
telah erupsi dan email gigi-gigi sulung telah terbentuk sempuna.

Gigi Sulung
Rahang Gigi Pembentukan Erupsi Akar lengkap
Atas Insisif pertama 4 bl inutero 7 bl 1 th
Insisif kedua 4 bl inutero 9 bl 2 th
Caninus 5 bl inutero 18 bl 3 th
Molar pertama 5 bl inutero 14 bl 2 th
Molar kedua 6 bl inutero 24 bl 3 th
Bawah Insisif pertama 4 bl inutero 7 bl 1 th
Insisif kedua 4 bl inutero 7 bl 1 th
Caninus 5 bl inutero 16 bl 3 th
Molar pertama 3 bl inutero 12 bl 2 th
Molar kedua 6 bl inutero 20 bl 3 th

Gigi Tetap
Rahang Gigi Mulai Terbentuk Erupsi Akar lengkap
Atas Insisif pertama 3 4 bl 7 8 th 10 tahun
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
13
Insisif kedua 10 12 bl 8 9 th 11 tahun
Caninus 4 5 bl 11 12 th 13 15 th
Premolar pertama 18-21 bl 10 12 th 12 14 th
Premolar kedua 3033 bl 10 12 th 12 14 th
Molar pertama 0 3 bl 6 7 th 9 10 th
Molar kedua 27 36 bl 12 13 th 14 16 th
Molar ketiga 7 9 th 17 21 th 18 25 th
Bawah Insisif pertama 3 4 bl 6 7 th 9 th
Insisif kedua 3 4 bl 7 8 th 10 th
Caninus 4 6 bl 9 10 th 12 14 th
Premolar pertama 18 24 bl 10 12 th 12 13 th
Premolar kedua 24 30 bl 11 12 th 13 14 th
Molar pertama 0 3 bl 6 7 th 9 10 th
Molar kedua 2 3 th 11 13 th 14 15 th
Molar ketiga 8 10 th 17 21 th 18 25 th

3.2 Periode Gigi Campuran
1. Periode transisional pertama
Ditandai oleh kemunculan gigi M permanen dan pergantian insisivus decidui dengan
permanen incisor pada usia 6 tahun. M
1
merupakan penanda (guided) dental arch dengan
permukaan distal m
2
sulung. Hubungan antara permukaan distal upper dan louer m
2

sulung dapat dibagi menjadi 3 tipe :
Flush terminal plane
Bagian distal m
2
atas dan bawah berada pada satu garis vertical. Ini normal pada
gigi sulung, relasi kelas I.
Mesial step terminal plane
Mesial dari m
2
atas , paling sering terjadi selama pertumbuhan mandibula. Dapat
menjadi relasi kelas IIIjika terlalu ke mesial, jika sedikit dapat termasuk kedalam
relasi kelas I.
Distal step terminal plane
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
14
Bagian distal m
2
bawah lebih lebih kedistal dari m
2
atas, oklusi kelas II.
2. Periode Inter-transisional
Pada periode ini mandibula dan maxilla dari gigi decidui dan permanen.
3. Periode transisional kedua
Ditandai oleh pergantian gigi molar decidui dan caninus oleh premolar dan caninus
permanen. Lebar mesio-distal permanen kaninus dan premolar biasanya kurang dari
kaninus dan molar decidui.
3.3 Periode Gigi Tetap
Dari usia 6 tahun keatas, gigi geligi susu akan mulai digantikan oleh gigi geligi tetap.
Insisivus, kaninus, premolar susu akan digantikan oleh insisivus, kaninus, premolar tetap,
ditambah molar tetap yang bererupsi sebagai gigi tambahan.
Gigi-gigi susu dengan gigi tetap penggantinya berbeda ukurannya. Insisivus tetap dan
kaninus biasanya lebih besar daripada gigi susu yang digantikanya,sedangkan premolar biasanya
lebih kecil daripada gigi molar susu yang digantikannya. Hasil penelitian yang dilaporkan oleh
Van der Linden (1983) menunjukkan bahwa perbedaan ukuran secara keseluruhan antara kedua
gigi geligi ini tidaklah terlalu besar, rata-rata adalah 3mm pada gigi atas dan kurang dari 1mm
pada gigi bawah. Meskipun demikian, tidak ada korelasi yang erat antara ukuran gigi geligi susu
dengan gigi geligi tetap penggantinya, khususnya untuk insisivus bawah dan disini umumnya ada
variasi individual yang cukup besar. Disamping itu, ada kebutuhan untuk mengakomodasikan
tiga gigi tambahan, yaitu gigi molar tetap, pada masing-masing kuadran kuadran rahang, dan
kecenderungan bagi gigi untuk bergerak ke depan untuk menyediakan ruangan agar tidak
berjejal.

Pada perkembangan yang ideal, ukuran gigi tetap yang lebih besar bisa diakomodasikan
melalui 2 faktor, yaitu:
1. Gigi geligi susu bercelah
Jika gigi-gigi susu bererupsi dengan insisivus yang tersusun renggang-renggang, akan
kemungkinan yang lebih baik bahwa gigi-gigi tetap tidak akan berjejal ketimbang jika gigi-gigi
susu berurupsi tanpa adanya celah diantara insisivus
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
15
2. Lengkung gigi membesar
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa pembesaran lengkung gigi berkaitan dengan
erupsi gigi. Bertambahnya ukuran semacam itu jelas dengan membesarnya pertumbuhan
rahang ke semua dimensi, khusunya ke dimensi lateral dan antero-posterior.

3.4 Perkembangan ideal dari oklusi gigi geligi tetap
Perkembang oklusi gigi geligi tetap bisa dianggap melalui 3 tahapan berikut ini.
1) Erupsi dari molar pertama dan insisivus tetap
2) Erupsi dari kaninus, premolar, dan molar kedua
3) Erupsi dari molar ketiga
Tahap 1
Tahap pertama dari perkembangan berhubungan dengan penggantian gigi-gigi insivus
susu dan penambahan keempat molar pertama tetap pada susunan gigi geligi. Keadaan ini
biasanya berlangsung pada usia 6-8 tahun. Insisivus tetap akan bererupsi sedikit lebih proklinasi
daripada insisivus susu, dank arena itu membentuk overbite insisal yang l;ebih kecil bila gigi
tersebut berkontak oklusal.proklinasi ini juga berperan dalam menambah ukuran lengkung
rahang.
Erupsi dari molar pertama tetap berlangsung pada perkembangan oklusi gigi tetap,
biasanya pada usia 6 tahun. Gigi ini pada mulanya beroklusi pada posisi dimana permukaan
distal dari molar atas berada pada bidang vertikalyang sama dengan permukaan distal molar
bawah. Nantinya, dengan tanggalnya gigi molar kedua susu, gigi molar eprtama bawah tetap
akan bergeser ke depan lebih jauh pada molar pertama atas tetap, sehingga permukaan molar
pertama bawah tetap sedikt lebih anterior daripada molar atas, dan tonjol antero-bikal dari molar
atas akan beroklusi dengan groove mio-bukal gigi molar bawah.

Tahap 2
Tahap perkembangan oklusi gigi geligi tetap yang keduan berkaitan dengan penggantian
molar susu dan kaninus atas oleh premolar dan kaninus atas tetap, dan penambahan molar kedua.
Tahap ini biasanya berlangsung pada usia 10-13 tahun.
MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
16
Gigi premolar pertama biasanya merupakan gigi yang pertama kali bererupsi pada tahap
ini,dan beroklusi dengan lereng mesial dari permukaan oklusal premolar atas. Gigi premolar
kedua selanjutnya akan bererupsi ke hubungan yang sama, dan pada kira-kira waktu yang sama,
gigi kaninus akan bererupsi ke hubungan oklusi sehingga ujung tonjolnya berada pada bidang
yang sama pada permukaan distal kaninus bawah.
Akhirnya, molar kedua akan bererupsi ke oklusi sama seperti molar pertama. Molar
kedua atas akan tumbuh tinggi pada prosessus alveolaris, tepat dibawah antrum maksila. Pada
awalnya, molar kedua sedikit miring kedistal dan mempunyai jalur erupsi yang lebih panjang
daripada molar kedua bawah. Molar kedua bawah biasanya berkembang pada posisi tegak lurus
atau sedikit miring ke mesial.

Tahap 3
Erupsi dari molar ketiga pada awal kehidupan dewasa melengkapi perkembangan oklusi
dari gigi geligi tetap. Usia dari erupsi gigi molar ketiga yang umumnya adalah 18-25 tahun.
Meskipun gigi ini bisa saja erupsi lebih cepat atau lebih lambat dari batas usia ini.
Gigi molar ketiga berkembang pada posisi yang sama seperti molar kedua dan ketiga atas
berkembang, dibawah sudut posterior-inferior dari antrum maksila, dan biasanya dengan sedikit
inklinasi ke distal. Molar ketiga bawah mempunyai erupsi yang lebih pendek daripada molar
ketiga atas,dan pada awalnya memduduki posisi lebih vertical, atau dengan sedikit inklinasi ke
mesial. Kedua gigi ini bererupsi kehubungan oklusi dalam hubungan yang mirip seperti untuk
molar pertama dan kedua.







MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
17
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Karakteristik yang dijumpai pada masa gigi sulung berupa hubungan molar kedua lurus
(flush terminal plane), anthropoid spacing (primata), dan spacing insisivus. Pada oklusi gigi
campuran terdapat tiga periode, yaitu periode transisional pertama, periode inter-transisional, dan
periode transisional kedua. Pada periode transisional pertama terhadap 3 jenis bidang oklusi,
yaitu flush terminal plane, distal terminal plane, dan mesial terminal plane. Perkembang oklusi
gigi geligi tetap bisa dianggap melalui 3 tahapan, yaitu erupsi dari molar pertama dan insisivus
tetap, erupsi dari kaninus, premolar, dan molar kedua, erupsi dari molar ketiga.

4.2 SARAN

Dalam suatu karya tulis tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan adalah
milikNya, jadi saran penulis untuk pembaca yang ingin menyadur dari makalah ini bisa
dibaca dan memahami terlebih dahulu makalah ini, barulah menyadurnya. Harapan penulis
selanjutnya lebih baik dari pada makalah ini.









MAKALAH KELOMPOK
Orthodonti I
18
DAFTAR PUSTAKA
Bhalajhi, S.I, Orthodontic Art in Science. 3
rd
Ed. 2006. 39-48
http://anggatama.wordpress.com/2010/04/03/oklusi-dan-maloklusi/
http://damasuryairma.blogspot.com/2012/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://ester-surbakti.blogspot.com/2011/10/hidup-di-fkg-di-awal-blok-10.html