Anda di halaman 1dari 4

PENCAIRAN GAS

Di lapangan sering dibutuhkan kondisi dengan temperatur yang sangat rendah (di bawah
-100
O
C), seperti pada proses pemisahan gas oksigen dan nitrogen dari udara, pembuatan
hidrogen cair untuk bahan bakar mesin roket, riset tentang superkonduksi dan lain-lain.
Pada sebuah proses pencairan gas, gas harus didinginkan sampai pada temperatur di
bawah temperatur kritisnya. Misal temperatur kritis untuk helium, hidrogen, dan nitrogen
adalah masing-masing 268, -240, dan -147
O
C. Salah satu metode refrigerasi yang
memungkinkan untuk mendapatkan temperatur sangat rendah ini adalah metode Linde-
Hampson seperti pada gambar di bawah.
Di sini gas baru yang akan dicairkan (1) dicampur dengan gas yang tidak berhasil
dicairkan pada tahap sebelumnya (9) sehingga temperaturnya turun sampai titik (2) dan
kemudian bersama-sama masuk ke kompresor bertingkat. Pengkompresian dilakukan
bertingkat sampai titik (3) dengan dilengkapi intercooling. Gas tekanan tinggi kemudian
didinginkan sampai titik (4) dalam after-cooler dengan menggunakan media pendingin dan
didinginkan lebih lanjut sampai titik (5) dalam alat penukar kalor regenerative dengan
membuang kalornya ke gas yang tidak berhasil dicairkan pada tahap sebelumnya dan
akhirnya di-throttled ke titik (6) sehingga berubah menjadi campuran jenuh. Uap dipisahkan
dari gas yang telah berubah menjadi cair untuk kemudian dilewatkan melalui alat penukar
kalor regenerative untuk menjalani tahap berikutnya.

Di antara nilai-nilai koreksi tekanan dalam tetapan van der Waals, H
2
O, amonia dan
karbon dioksida memiliki nilai yang sangat besar, sementara oksigen dan nitrogen dan gas
lain memiliki nilai pertengahan. Nilai untuk helium sangat rendah.
Telah dikenali bahwa pencairan nitrogen dan oksigen sangat sukar. Di abad 19,
ditemukan bahwa gas-gas yang baru ditemukan semacam amonia dicairkan dengan cukup
mudah. Penemuan ini merangsang orang untuk berusaha mencairkan gas lain. Pencairan
oksigen atau nitrogen dengan pendinginan pada tekanan tidak berhasil dilakukan. Gas
semacam ini dianggap sebagai gas permanen yang tidak pernah dapat dicairkan.
Baru kemudian ditemukan adanya tekanan dan temperatur kritis. Hal ini berarti bahwa
seharusnya tidak ada gas permanen. Beberapa gas mudah dicairkan sementara yang lain
tidak. Dalam proses pencairan gas dalam skala industro, digunakan efek Joule-Thomson.
Bila suatu gas dimasukkan dalam wadah yang terisolasi dengan cepat diberi tekan dengan
menekan piston, energi kinetik piston yang bergerak akan meningkatkan energi kinetik
molekul gas, menaikkan temperaturnya (karena prosesnya adiabatik, tidak ada energi kinetik
yang dipindahkan ke dinding, dsb). Proses ini disebut dengan kompresi adiabatik. Bila gas
kemudian dikembangkan dengan cepat melalui lubang kecil, temperatur gas akan menurun.
Proses ini adalah pengembangan adiabatik. Dimungkinkan untuk mendinginkan gas dengan
secara bergantian melakukan pengembangan dan penekanan adiabatik cepat sampai
pencairan.
Sistem Pencairan Gas
1. Parameter Kinerja Sistem
Terdapat tiga fungsi pay off ( perhitungan) yang perlu diperhati-
kan , yaitu:
Kerja yang dibutuhkan per unit massa dari gas yang dikompress :
- W / m
Kerja yang diperlukan per unit massa dari gas yang dicairkan ( W ) :
-W / m
f
Fraksi total antara aliran gas yang dicairkan dengan gas mula-mula :
y = m
f
/ m
Dari tiga hal diperoleh -W /m = -W / m
f
y

Pada sistim pencairan , seharusnya mampu meminimalkan kerja yang
dibutuhkan dan memaximalkan fraksi gas yang dicairkan .
Fungsi pay off akan berbeda untuk gas yang berbeda, oleh karena itu perlu
membedakan sistim yang ada bila menggunakan fluida yang berbeda.
FOM bernilai dari 1 sampai 0 dan memberikan gambaran seberapa jauh sistim
ini mendekati sistim ideal.
Pada sistim real ,yang perlu diperhatikan adalah :
1. kerja kompresor dan ekspander adiabatic
2. kerja kompresor dan ekspander mekanik
3. kerja heat exchanger
4. perubahan tekanan pada pipa dan heat exchanger
5. Perpindahan panas kedalam sistim dari lingkungan

2. Sistim pencairan termodinamika ideal
Sistim ini secara tioritis ideal namun secara praktek tidak ideal,karena sistim
ideal adalah siklus Carnot terbuka dengan tekanan isothermal reversibel dan
ekspansi isentropis reversibel.,dimana pada tekanan isotermal itu diatas 10
7

psia tidak dapat dicapai dalam praktek.

3. Proses suhu rendah
Untuk proses pencairan gas dan menghasilkan suhu rendah penggunaan
ekspansion valve atau joule thomson biasa dilakukan. Dengan
menggunakan hukum thermodinamika I , dan dapat dikatakan bahwa h1 = h2
, jika energi kinetik dan energi potential dari aliran tunak diabaikan. Hal ini
berlaku juga untuk aliran irreversibel namun tidak isentropic.
Untuk gas nyata pada saat terjadi ekspansi dalam valve (penurunan tekanan)
akan ada daerah yang akan mengalami peningkatan suhu namun ada juga
daerah yang mengalami penurunan suhu. Aliran melalui isolasi ekspansion
valve (Joule Thomson) membentuk kurva temperature yang memisahkan
kedua daerah ini disebut kurva inverse.Jadi gas yang melalui exspansion
valve J. Thomson tidak selalu temperaturnya turun.Hal ini merupakan metoda
pertama.
Metode kedua untuk membuat suhu rendah adalah ekspansi adiabatik dengan
menggunakan ekspander. Dalam hal ideal ekspansi akan terjadi secara
reversibel dan adiabatik sehingga terbentuk isentropis.
Selalu ekspansi isentropis akan menghasilkan suhu yang lebih rendah
dibandingkan dengan ekspansi isentalpi (Alat j.thomson) pada suhu awal
yang sama . Hal ini disebabkan adanya kerja internal didalam peralatan.